Titi Mongso Goro-Goro (Patahan Sejarah)

Oleh: Cokro Wibowo Sumarsono *

Dalam jagad pewayangan digambarkan dengan jelas melalui janturan Ki Dalang bahwa akan tiba sebuah masa (titi mongso) sulit dan gelap gulita dalam berkehidupan. Sebuah titi mongso yang harus dilalui oleh sebuah bangsa sebelum memasuki jaman kencono (jaman keemasan).

Masa gelap tersebut dinamakan dengan istilah goro-goro, yang ditandai dengan beberapa pertanda alam secara beruntun sebagai berikut, yaitu :
‘Akeh udan salah mongso, guntur gludhug bledheg sesamberan, peteng ndhedhet lelimengan. Gunung jugrug sinartan lindhu, padhas gempal, tebing longsor, lesus pindha pinusus. Jawah deres angin garudha ugi banjir bandhang’.

Artinya :
‘Banyak hujan yang salah musim (waktunya panas tetap hujan), guntur dan guruh sambar menyambar, mengakibatkan gelap gulita tanpa cahaya (gelap mata). Gunung meletus yang disertai dengan gempa bumi, tanah-tanah keras pada rontok, tebing banyak yang longsor dan puting beliung beriringan. Hujan deras disertai dengan badai taufan serta banjir bandang di mana-mana’.

Selain itu disebutkan pula tanda-tanda lainnya yaitu :
‘Brahmana wis sirna tapane, satriya sirna kaprawirane, bebasan kali ilang kedhunge. Sepuh anem salang tunjak numbuk bentus, rebut ing ngarsa luru boga tanpo wigih ringa-ringa. Temah telas tilasing kamanungsan, tilar kapribaden, tebih ing katresnan, datan asih mring sesami, datan metang sangsaraning liyan, angger kasembadan kang sinedya’.

Artinya :
‘Orang-orang yang dituakan sudah tidak menjalankan fungsinya lagi sebagai pengayom sedangkan para ksatriya telah kehilangan jiwa patriotnya. Seperti sungai yang kehilangan palungnya (karena tertutup limbah dan sedimentasi sampah). Tua ataupun muda saling menghujat dan menghajar, saling berebut menjadi pemimpin terdepan, berburu rente dengan tanpa malu-malu lagi. Telah lenyap peri kemanusiaan, kepribadian bangsa ditinggalkan, menjauhi kasih sayang antar sesama manusia. Tak pernah menghiraukan kesengsaraan orang lain, yang penting terwujud keinginan pribadinya’.

Gambaran pujangga kuno tersebut banyak yang terjadi pada saat ini. Liberalisasi politik dan ekonomi telah menciptakan budaya liberal secara massif dan sistemik. Ajang silaturahmi dikalahkan dengan media sosial, gotong royong dirontokkan dengan menjamurnya individualisme. Kekeluargaan diganti dengan permusuhan, tradisi kritik oto kritik berubah menjadi hasut dan bully membully. Politik persatuan telah bergeser menjadi politik adu domba dan pecah belah antar anak bangsa.

Semua mengurus pemerintahan, sedikit saja yang mengurus negara. Hiruk pikuk selalu terjadi dalam pemilihan umum (demokrasi prosedural) sementara sedikit saja yang berminat dengan demokrasi substansial.

Perbedaan antara negara dan pemerintahan perlu ditegaskan, agar jelas program buat rakyat atau konstituen. Perbedaan antara anggaran publik dan anggaran aparatur juga perlu diluruskan. Agar belanja aparatur tidak lebih besar daripada belanja untuk publik. Hak asasi juga harus diiringi dengan kewajiban asasi. Kritik juga seiring dengan solusi.

Goro-goro merupakan patahan sejarah, sebuah masa pergolakan yang dipengaruhi oleh anasir unsur alam dan ketidakseimbangan peri kemanusiaan.
Goro- goro merupakan patahan sejarah, jikalau kita lengah akan diterkam habis oleh predator yang siaga mengintai di tapal batas.

Goro-goro merupakan patahan sejarah, yang harus kita lalui dengan tabah, demi masa keemasan menuju negeri adil makmur seperti yang dicitakan pendiri bangsa.

Kencangkan ikat pinggang, perkuat kemandirian, siapkan mental dan logistik guna hadapi peristiwa besar yang bakal terjadi.
Tetap setia di garis massa!

*Cokro Wibowo Sumarsono, Mantan Sekretaris Jenedral Presidium GMNI dan Ketua DPP Gerakan Pemuda Desa Mandiri (Garda Sandi).

Menghadapi Ancaman Ekonomi dari Kepikunan

Oleh: Dr Yuniar Sunarko SpKJ *

Berbagai keberhasilan di bidang kesehatan membuat lebih banyak orang di Indonesia hidup lebih panjang. Di satu sisi, tentu ini sesuatu yang sangat menggembirakan, karena warga senior dengan berbagai kemampuan dan pengalamannya dapat menjadi kontributor dalam pembangunan.

Namun bagai keeping uang bermata dua, kita juga harus menerima konsekuensi bahwa berbagai penyakit degeneratif juga meningkat seiring bertambah panjangnya usia harapan hidup. Demensia (kepikunan) adalah salah satu di antaranya.

Di seluruh dunia saat ini terdapat sekitar 900 juta orang berusia lebih dari 60 tahun, dan jumlah tersebut akan terus meningkat. Dalam World Azheimer’s Report 2015 yang dilansir oleh Alzheimer Disease International dinyatakan bahwa antara tahun 2015-2050 di negara berpenghasilan tinggi akan terdapat peningkatan jumlah warga senior sebesar 56%, sementara di negara berpenghasilan menengah diperkirakan peningkatan berada di kisaran 138 – 185%.

Sementara di negara berpenghasilan rendah – di mana sumberdaya untuk mengantisipasi berbagai konsekuensi penuaan populasi sangat terbatas – penduduk berusia lanjut diperkirakan akan meningkat sebesar 239% dalam periode tersebut. Kelompok negara yang disebut terakhir ini memikul beban ganda (double burden), di mana masalah kesehatan ibu dan akan serta penyakit infeksi masih menuntut perhatian besar sementara masalah penyakit degeneratif terus meningkat berlipat kali.

Diperkirakan 46,8 juta orang mengalami Demensia di seluruh dunia, dan 58% di antaranya berada di negara berpenghasilan menengah ke bawah. Angka tersebut akan meningkat dua kali lipat setiap 20 tahun. Saat ini setiap 3 detik – bersamaan dengan setiap tarikan nafas kita – di seluruh dunia bertambah satu pasien yang dididagnosis Demensia.

Setelah selesai mencermati angka-angka yang disajikan di atas, mari kita mulai memahami bahwa dampak Demensia dapat dilihat pada tiga tingkatan yang saling berhubungan, yaitu Orang Dengan Demensia (ODD), keluarganya, dan masyarakat luas. Sementara Demensia berkaitan dengan menurunnya usia harapan hidup, yang lebih memerlukan perhatian adalah kualitas hidup ODD sendiri dan keluarganya.

Dibandingkan pendampingan pada penyakit lain, ODD memerlukan lebih banyak bantuan. Pada tahap lanjut, mereka memerlukan bantuan di hampir semua aspek kehidupannya : makan, toileting, berpakaian, berpindah tempat, menjaga diri, dan sebagainya. Tentu ini bukan kualitas hidup yang diinginkan oleh semua orang yang berharap dianugerahi umur panjang.

Sementara bagi keluarga / caregiver – nya, kelelahan bertubi-tubi yang timbul selama mendampingi ODD menambah berat beban sehari-hari mereka sendiri. Anggota keluarga yang 24 jam melakukan pendampingan tentu lama kelamaan akan tiba pada titik terbawah kekuatan fisik dan mentalnya.

Konsekuensi lebih lanjutnya adalah penurunan produktivitas dan kualitas pekerjaan keluarga/ caregiver di luar kegiatan pendampingan ODD, karena setiap hari mereka akan berangkat kuliah atau bekerja dalam kondisi tidak prima. Ini disebut Informal Care Cost, yang belum pernah dapat dihitung secara pasti, namun diperkirakan proporsinya sebesar 40% dari beban ekonomi akibat Demensia.

Global cost akibat Demensia di Amerika Serikat meningkat dari US$ 600 miliar pada tahun 2010 menjadi US$ 818 miliar atau 1,09% dari GDP pada tahun 2015. Angka pasti untuk Indonesia belum diperoleh, namun pasti tidak terlalu jauh dari angka tersebut, atau bahkan lebih besar.

Bagaimanakah kita dapat menjawab tantangan ekonomi akibat Demensia ini? Negara-negara yang tergabung dalam G7 telah merilis Global Action Against Dementia. Aksi yang meliputi awareness raising (peningkatan kesadaran), komunitas ramah Demensia/ lansia, serta peningkatan kualitas pelayanan ini direkomendasikan untuk diikuti pula oleh negara- negara G20 – di mana Indonesia termasuk di dalamnya – karena peningkatan beban ekonomi akibat Demensia lebih tinggi di kelompok ini.

Dengan segala sumberdaya yang kita miliki sekarang, kita harus mulai bahu membahu merancang strategi untuk meminimalkan dampak ekonomi akibat transisi demografi ini. Kita mulai dari sekarang untuk memasyarakatkan gaya hidup sehat sejak dini agar tidak menambah populasi penyandang Demensia di masa depan. Bersediakah Anda?

*Dr Yuniar Sunarko SpK, Psikiater di RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang dan anggota ALZI (Alzheimer Indonesia)-Malang Chapter.

Undangan Nentam…

ikon paitun gundul

Srengenge pas endas, warunge Mak Ti wis emar. Paitun ndik pojokan, ngenem ae ambek ndekep opo iku, ketoke koyok undangan, ngrungokno clometane bekakas-bekakas iku. Bendhot cik bantere lambene.
“Paitun ae oleh undangan. Lha ente kok kadit Nang?”

“Paling kliru ngetik iku,” onok sing nyaut. Mak Ti ketoke mbelani Paitun.

“Ojok ngremehno wong remeh koen rek. Masiyo ngono Paitun lak ngetop tah timbang awakmu?”

“Terus ngado opo Paitun? Iki sing duwe gawe yo wong top lho Mak Ti,” Bendhot ngetet ae. Mak Ti male pidato.

“Wong ngundang Paitun iku wis ero le. Paitun iku lho gak tau teko. Paitun yo tau diri. Paling engkuk lek wis tamu sepi, ate buyar, lha biasane Paitun kaet moro. Iku kebiasaane Paitun. Lek Paitun gak moro, wong-wong sing bingung, mesti ngongkon uwong, iki berkate Paitun terno, golekono sampek ketemu. Lho temenan iki!”

Paitun kroso ndase rodok gedhe. Lapo Mak Ti crito barang, batine Paitun.

Dilluk engkas onok Pandi tuku oker. Wong-wong langsung cep. Lha kok onok sing plaurmen takok.

“Pak Rawi mantu, sampeyan diundang de?” Sakjane Pandi males, tapi yo njawab ae.

“Lek aku yo mesti diundang. Lek ente-ente ngene iki paling yo kadit,” pandi sengak omongane.

“Ngado nopo de?” Sik plaur ae sing takon. Gae Pandi iki kesempatan.

“Ngene yo, sopo jenengmu? Lek diundang ambek wong sing menurut aku terhormat dan punya pengaruh, yo iki itungan bisnis le. Piro nomere sepatumu?” Pandi ngwasno Bendhot, Bendhot iso gak enak. Pandi orasi.

“Lek sing ngundang sogeh, ayak, yo kadone kudu imbang, Mosok aku ngado mek tekes? Iku lak sunatanmu biyen. Iki seje. Aku ngado paling yo… minimal 5 juta lah…” Pandi tambah ndadi. Kabeh mingkem setengah njahe. Dadak Slathem dengan tenangnya berkomentar. Nanang wis kroso.

“Iso gawe ngotrak hamurmu rong tahun, Ndhot.” Jare Slathem.

“Congormu Them!” Bendhot njahe. Ndilalah Paitun ngadeg, negekekno undangan nang Mak Ti, ambek setengah ngode njaluk diwacakno. Makti itreng karepe Paitun.

“Iki undangan tekok Pak Rawi, Tun. Minggu ngarep, Seloso, ndik hotel.” Paitun mesam-mesem, ambik njaluk undangane maneh, terus didekep. Pandi kaget. Paitun atawek ambek nuding-nuding nang Pandi. Batine, prasane koen thok tah sing diundang. Pandi ngaleh ambek mbureng. Kabeh atawek ngakak.

“Wong atase kado ae disiarno. Radio le’e.” Bendhot mbales ambek cekikikan. Nanang kait wani ngablak.

“Sakjane lho, lek sing duwe gawe wis ayak, yo ojok buwuh akeh-akeh, lak podho karo nguyai segoro ta. Lek iso, justru lek sing duwe gawe iku pas-pasan, talarem, kadit raijo, lha iku buwuhono sing akeh,” jare Nanang. Paitun rikim, tibae bekenyek ini onok pintere, dungaren.
“Jaman saiki le, seje. Sembarang maleh onok motipe. Opo maneh lek petinggi duwe gawe, kabeh geden-gedenan buwuh. Wedi lek engkuk marine gak direken.” jare Mak Ti ambek ngudhek ipok. Slathem nggarai maneh.

“Opo maneh lek petinggine petinggi yo Mak? Slathem mlethes.

“Maksude ente opo, Them?! Mbulet ae.” Bendhot gregeten.

“Ente sembarang lambat, Ndhot. Petinggi iku lak onok bose. Lha prasamu Pandi iku dadi koyok ngene pekoro sopo? Sing ngebosi Pandi iku Pak Rawi. Ngono lho thess…ente iki yoopo. Takoo Mak Ti.” Jare Slathem ambek kemlinthi.

Mak Ti mek mesem. Bendhot rodok mbureng. Lek howone wis gak kane, Paitun biasane nyengkre. Ngenem-ngenem eskip liwat pinggir geber warunge Mak Ti.

Paitun ngaso ndik buk alun-alun. Undangane diwasno ae. Male iling jare make biyen. Panganan ndik resepsi duwe gawe iku nduk yo, kurang apik, soale sing diundang iku wong-wong sing sugih, sing malah sering mangan enak. Ora tau ngundang wong mlarat sing keluwen, sing mangan bendino ae angel. Tapi lek diundang yo tekoo nduk.

Pesene make koyok mbengung ndik kuping. Paitun sik ngwasno ae undangan iku. Wernone onok emas-emase, pitae yo werno emas pisan, sinare kelap-kelip mantul, bareng karo kelap-kelipe air mancur Alun-alun.

MEA 2016, Mampukah UMKM Bersaing?

Oleh: Ahmad Fairozi *

Jelang pergantian 2015 menuju 2016, Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) pun tinggal menghitung hari. Hal itu patut menjadi kegelisahan bersama sebagai bagian dari MEA. Mampukah hasil produk Usaha Mikro Kecil dan Menegah (UMKM) kita bersaing dengan hasil produk luar negeri yang segera membanjiri pasar?

Mirisnya, hingga hari ini UMKM kita belum menjadi prioritas pemerintah, khususnya pemerintah daerah untuk mendorong agar mampu meningkatkan produksi kreatifnya, padahal dukungan yang teramat sangat dibutuhkan para pelaku UMKM menjadi sangat penting, selain dukungan finansial, juga penting dukungan pemasaran hasil produksi kreatif UMKM, mengingat persaingan dalam MEA pada tahun 2016 akan sangat ketat.
Melihat kenyataannya, UMKM hingga saat ini dibeberapa daerah belum difasilitasi secara baik oleh pemerintah, hal demikian berakibat pada lambatnya perkembangan industri kreatif yang berada dalam naungan UMKM. Sangat disayangkan jika hingga detik ini UMKM masih luput dari perhatian pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah.

Hal di atas disebabkan beberapa faktor, di antaranya, banyaknya masalah dalam tubuh UMKM itu sendiri, yang pada dasarnya menjadi tugas pemerintah untuk mendata dan menertibkannya, misalnya masih ditemukannya UMKM yang masuk angin, pada kenyataannya UMKM itu tidak ada alias sudah mati. Nah, hal semacam ini sering terjadi, yang dimungkinkan dapat berdampak berupa kerugian bagi UMKM lain yang memang benar-benar ada sebagai pelaku usaha kecil dan menengah masyarakat.

Disamping itu, hasil produksi dari industri kreatif UMKM belum mampu dipasarkan dengan baik, karena terkendala biaya promosi dan distribusi, nah, disinilah tugas serta peran pemerintah sangat diperlukan untuk membantu UMKM mendistribusikan dan mempromosikan hasil produksinya untuk dapat dikenal masyarakat secara umum dan mampu memberikan incam bagi pelaku UMKM itu sendiri.

Lemahnya data dan dukungan berupa promosi hasil produk industri kreatif UMKM menyebabkan sulitnya bergaining produk UMKM di kancah perdagangan lokal, regional maupun nasional, cukup miris memang jika melihat keadaan yang demikian, dengan semakin dekatnya MEA yang akan diberlakukan sejak tahun depan, tentunya hanya tinggal menghitung hari saja, namun UMKM dan kita sebagai bagian dari MEA masih belum sepenuhnya siap menghadapinya.

Malang Raya Pusat Perekonomian

Melihat potensi wilayah Malang Raya sebagai pusat pariwisata dan pendidikan, seharusnya pemerintah daerah masing-masing wilayah sangat giat dalam mendorong dan memfasilitasi UMKM yang ada, sehingga pelaku UMKM yang berada pada tiga wilayah strategis di wilayah Malang Raya itu mampu menumbuhkan industri kreatifnya sebagai bagian dari persiapan kompetisi produksi industri kreatif yang terhimpun dalam sebuah UMKM.

Kota Batu misalnya, Pemerintah Kota Batu wajib mendorong agar pelaku UMKM dapat memproduksi oleh-oleh khas Kota Batu, dikarenakan Kota Batu didaulat menjadi sentra pariwisata. Potensi inilah yang belum mampu dimaksimalkan oleh pemerintah sejauh ini, sehingga pusat oleh-oleh yang berada di Kota Batu, rata-rata tidak menjual produk hasil UMKM yang berdomisili di Kota Batu, itulah menjadi alasan hingga hari ini UMKM belum mampu memaksimalkan hasil produk kreatifnya dalam dunia industri dan perdagangan.

Demikian juga di Kota dan Kabupaten Malang, tidak jauh berbeda dengan Kota Batu dalam memperhatikan nasib pelaku UMKM. Banyak diantara pelaku UMKM sulit berkembang, dikarenakan peran strategis pemerintah kurang memberikan manfaat terhadap pelaku UMKM selama ini, akibatnya, banyak UMKM yang tidak mampu mengembangkan produk kreatifnya, sehingga sulit bersaing dengan produk UMKM lain dan tentunya produk luar negeri nantinya.

Misalnya, sudah seberapa banyak pelaku UMKM mendapatkan Hak Cipta dan Hak Kekayaan Industri (Haki) dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia? Masih sangat sedikit produk hasil UMKM yang memiliki Haki, jika demikian, dimana peran pemerintah untuk mendorong dan memfasilitasi pera pelaku UMKM? Seharusnya dan sudah semestinya pemerintah yang bertanggungjawab terkait hal tersebut.

Penting digiatkan kembali oleh pemerintah pusat maupun daerah untuk mendorong dan membantu mempromosikan hasil industri kreatif produk UMKM, meski terkesan lambat dan hampir ketinggalan, inovasi tetap diperlukan oleh berbagai pihak, termasuk pemerintah dan para pelaku UMKM.

Selalu ada kesempatan untuk memperbaiki keadaan, itulah mengapa pemerintah dan para pelaku UMKM harus lebih giat lagi untuk menghadapi persaingan dalam MEA tahun 2016 mendatang, disamping juga produk hasil UMKM didorong untuk memiliki Haki, agar hak cipta dan hak kekayaan industri dapat dilestraikan ditengah persaingan yang ketat nantinya.

*Ahmad Fairozi, Divisi Data dan Program Good Governance Activator Alliance (GGAA) East Java.

Politik Pencitraan adalah Politik Kepalsuan

Oleh: Caping Maskarah Safril *

KONSEP politik yang bermoral pun mengajarkan untuk berhindar dari kebohongan dan kepalsuan. Politik memang sering merupakan pesta janji. Ketika janji itu sulit untuk ditepati, politik kebohonganlah yang sering terjadi. Politikus sering mencari alat-alat pembenaran untuk membingkai kebohongannya; mengesankan ketepatan janjinya. Inilah teori politik pencitraan yang keliru.

Namun, terkadang, kita berjanji tidak mengukur kemampuan, karena janji kita berpamrih. Banyak politikus berjanji karena ingin dipilih, sehingga janjinya muluk-muluk, terkadang tidak realistis.

Bagi politikus, ingkar janji tidak hanya dosa, tetapi melorotnya citra. Ketepatan janji adalah salah satu strategi politik pencitraan. Namun, untuk memenuhi strategi itu, terkadang bohong dilakukan. Padahal politik pembohongan kontraproduktif dengan politik pencitraan.

Hampir setiap permasalahan yang timbul selalu mendapat respon dari pemerinta dalam waktu yang cukup singkat. Tidak ada satupun masalah yang menyita perhatian banyak orang yang berhasil lewat dari jangkaun perhatian kepala negara.

Semua persoalan itu kemudian dibungkus rapi dengan berbagai pandangan dan argumen yang tidak jarang membuat masyarakat terlena akan sikap responsive kepala negara.

Hanya sayangnya, sikap responsive itu nampaknya hanya sekadar lips service belaka. Presiden seolah begitu respect dengan beban dan penderitaan banyak pihak. Namun realita yang ada justru tidak menunjukkan adanya langkah konkrit yang dapat merubah keadaan menjadi lebih baik. Justru yang muncul kemudian adalah sikap pembiaran dan terkesan lepas tangan. Seolah fungsi kepala negara hanya sekadar memberi komentar tanpa diikuti dengan tindakan dan langkah konkrit dalam mengurai berbagai persoalan yang ada.

Terlalu banyak contoh kasus yang dapat dimunculkan ke permukaan untuk membenarkan sikap pemerintahan saat ini yang penuh dengan tipu daya.

Lihat saja misalnya upaya pemberantasan korupsi yang hampir dalam setiap momen selalu didengung-dengungkan pemerintah. Kita memang mengapreasiasi langkah aparat penegak hukum dalam membuka tabir kejahatan, khususnya masalah korupsi yang sudah banyak diangkat ke permukaan.

Mafia peradilan, mafia pajak, mafia migas, mafia kepolisian, mafia-mafia lainnya adalah beberapa kasus yang mendapat sorotan tajam saat ini. Dalam perkembangannya, kasus-kasus yang demikian sudah lumayan marak yang dimejahijaukan. Namun sayangnya, dalam proses penuntasannya justru digantung ditengah jalan. Hampir belum ditemukan kasus-kasus yang sudah mendapat penuntasan secara riil.

Mencermati perkembangan politik yang diusung pemerintah saat ini, justru yang menonjol adalah budaya pencitraan diri dan membangun pamor serta popularitas di balik kebohongan dan tipu muslihat. Aroma pencitraan itu begitu tercium dengan jelas ketika berbagai program yang didengungkan justru tidak ada yang berhasil mencapai titik kesuksesan. Pemerintah hanya lihai dalam beretorika, tetapi dalam tatanan implementasi justru mandul dan tidak mampu memberikan harapan kepada publik.

Pendek kata, karena politik pencitraan hanya menonjolkan tampilan luar, maka dengan mudah pun ia akan tersingkap. Selain hukum waktu yang akan berbicara, hembusan angin kritis dari rakyat pun bisa menyingkapnya.-

*Caping Maskarah Safril, Ketua Asosiasi Pedagang Kali Lima Indonesia Kabupaten Malang. Tinggal di Jalan Bandulan 6 Sukun, Malang.

Mattali

Oleh: Zainul Muttaqin*

Belum genap satu tahun ketika Mattali angkat kaki setelah ribut besar dan istrinya berkata lantang sampai gendang telinga laki-laki paruh baya itu hampir pecah, “Tak Lake Ongghu Bekna Kak[1]. Ceraikan saja aku!” Bagai dirobek harga diri Mattali mendengar istrinya berkata, tinggi suaranya, tepat di depan wajahnya.
Bulan sepenuhnya tenggelam ke dalam pelukan awan. Wajah Mattali menegang. Kerut-kerut di dahinya membentuk garis meliuk-liuk, seperti terombang-ambing. Laki-laki itu mengambil napas dalam-dalam. Tirai jendela disibak oleh tiupan angin. Mattali menelan ludah berkali-kali.

“Apa tidak ada cara lain selain bercerai?” Mattali menekan suaranya.

“Tidak!” Istrinya memandang wajah Mattali. Laki-laki itu mengatur laju napasnya. Dipandanginya wajah istrinya, tampak berharap cepat-cepat Mattali menghilang dari pandangannya.

Belum sempat Mattali mengucap cerai, istrinya berujar, mendahului Mattali, “Kita bisa rujuk setelah kau benar-benar lake[2].” Binar-binar di mata Mattali terpancar selepas istrinya berkata seperti itu. Pelan-pelan ia mulai mengulas senyum.

Jarum jam berhenti tepat di angka dua belas dini hari. Dengan gemetar, terbata-bata, Mattali berujar, “Aku ceraikan kau,” berderai air mata laki-laki paruh baya itu. Markoya menggeleng kepala. Markoya menutup pintu kamar dan membiarkan Mattali berdiri di ruang tamu dengan perasaan tercabik-cabik. Mattali mencangkuli dirinya sendiri.

Duduk di kursi berwarna biru tua, dengan cat yang mulai mengelupas karena usia. Mattali berpikir sesaat. Dia mencari jalan keluar atas persoalan rumit yang tengah menimpanya. Sudah tidak tahu berapa batang rokok yang ia isap. Dengkur Markoya dari dalam kamar mengusik pikirannya, ingin ia seranjang lagi, tapi buru-buru Mattali mengucap istighfar .

Detak jarum jam bergeser begitu lambat dirasakan Mattali. Laki-laki itu mengelus dada. Saat asap rokoknya lenyap, Mattali menampari pipi dan kaki. Nyamuk hutan dari belakang rumah ternyata berusaha menghisap darah laki-laki kekar itu sejak tadi. Puntung rokok di dalam asbak bergelimpangan.

Bangun pagi-pagi sekali Markoya sudah tidak melihat Mattali di ruang tamu, di kursi lapuk itu. Bau keringat Mattali juga tak tercium. Markoya berjalan ke halaman depan rumahnya, menarik napas dalam-dalam, melegakan dada ringkihnya yang semakin menyempit. Kicau burung di atas pohon tarebung[3] mengingatkannya pada Mattali.

Sampai perceraian itu terjadi belum sanggup Mattali memetik bunga indah yang tumbuh di pangkal paha Markoya. Laki-laki itu menjadi tak lake menghadapi istrinya yang bersedia bunga mekar di selangkangannya dipetik oleh Mattali. Berkali-kali Mattali berusaha, berkali-kali pula kesia-siaan itu terjadi pada dirinya. Itulah yang mendasari Markoya minta dicerai kepada Mattali.

Sekalipun Mattali tidak menceritakan perihal rumah tangganya yang tercerai-berai, tapi warga Tang-Batang sudah bisa mengendusnya. Orang-orang memang berusaha mengetahui, maksud Mattali berada di rumah ibunya, sepanjang waktu, sejak satu minggu lalu. Melintas pikiran curiga, tepatnya bertanya-tanya, apa penyebab Mattali menceraikan Markoya, kembang desa yang dulu diperebutkan semua laki-laki?

Berderet ikan-ikan dijemur di halaman. Amis menyeruak. Perempuan-perempuan itu duduk memanjang dengan rambut terlepas digerai sebahu, mereka bergunjing sembari menisik kutu. Diam-diam mereka mencuri pandang pada Mattali. Laki-laki itu duduk di beranda rumah, menghisap batang rokoknya, dengan secangkir kopi di atas meja.

“Karena Mattali tak lake ” kata perempuan gempal setelah sebelumnya melirik ke arah Mattali.

“Jadi gara-gara itu Mattali cerai dengan Markoya.”

“Gara-gara apa lagi kalau bukan itu.”

“Mestinya Mattali sudah siap jamu sebelum menikah. Kalau seperti ini kan malu.”

“Malu sama siapa?”

“Malu sama semua orang.”

“Untung suamiku lake.”

“Ya jelas suamimu lake lah, anakmu sudah tiga. Apalagi aku.” Kelakar tawa meledak di halaman. Mattali menoleh, melihat pada perempuan-perempun itu.

Mendadak degup jantung Mattali melaju lebih cepat. Ia merasa perempuan-perempuan itu tengah mengunjingkan dirinya. Sempat ia bersitatap dengan salah satu perempuan itu, tersenyum mengejek, merendahkan. Gegas Mattali masuk ke dalam. Terlampau sakit hati Mattali. Laki-laki paruh baya itu mengambil napas dalam-dalam, kemudian bersama napas yang ia lepas, tangannya memukul meja hingga cangkir kopi di atasnya bergelinding ke lantai, pecah.

Ingin dimakinya perempuan-perempuan di taneyan lanjang[4] itu. Mendidih darah Mattali. Laki-laki itu meludah, membuang rasa kesal terhadap perempuan-perempuan itu. Ia berdiri di ambang pintu, berpikir ulang, menimbang-nimbang, apa melabrak perempuan-perempuan itu akan menyelesaikan persoalan? Lagi pula, ia tahu, perempuan-perempuan di Tang-Batang gemar berguncing, atau memang demikian perempuan kebanyakan.

Khawatir malah akan dipermalukan di taneyan lanjang itu oleh perempuan-perempuan yang duduk memanjang, menisik rambut, disertai berbagai ragam gunjingan. Mattali mengurungkan niat. Menutup pintu rumahnya kembali. Ia mengatur alur laju napasnya. Asap rokok menyumbat tenggorokannya.

Mattali baru ingat, ternyata Markoya pernah bilang, “kita akan rujuk kalau kamu sudah lake´ ingatan itu mampir dalam tempurung kepalanya tepat ketika laki-laki paruh baya itu berusaha meredam amarah. Dan perempuan-perempuan itu sudah lenyap di taneyan lanjang. Mattali memandang penuh selidik, takut mendadak muncul perempuan-perempuan itu di hadapannya. Bergegas ia melewati taneyan lanjang, tempat perempuan-perempuan itu semula menisik kutu.

Dalam remang sore hari, lepas maghrib Mattali melangkah begitu lekas, melewati gang-gang rumah yang sempit. Ia terus melangkah untuk segera sampai di rumah Matrah, tukang pijat di desa sebelah, juga seorang dukun yang sering dimintai tolong bila berususan dengan kelelakian. Keringat membasuh tubuhnya.

Mattali kian mempercepat langkahnya. Tak menjawab apalagi sekadar menoleh ketika seseorang menyapanya dari teras rumah. “Tak biasanya Mattali acuh seperti itu,” bisik lelaki di teras rumah itu. “Paling-paling karena orang-orang bilang tak lake ia jadi begitu Kak,” sambung istrinya. Pasangan suami-istri itu saling tatap, kemudian secara bersamaan mengangkat kedua bahunya.

Setelah susah payah berjalan kaki, Mattali tiba di halaman rumah Matrah, lelaki yang dikenal bisa mengatasi segala persoalan kelelakian. Seorang lelaki tua, rambutnya hampir putih seluruhnya, memegang tongkat di tangan sebelah kanan berdiri di depan kobhung[5] tempat Matrah biasa menerima tamu-tamunya. Lampu teplok meliuk-liuk, bertahan dari tiupan angin.

“Kamu mau pijat?” Matrah mengajukan pertanyaan. Ia mengambil minyak urut yang diselipkan di tiang kobhung.

“Tidak Ke[6]” Mattali mengulas senyum, disertai gelengan kepala.

“Lalu?” Laki-laki tua itu memburu jawaban dari Mattali.

“Saya tak lake. Beri saya jalan keluar. Karena ini, saya sampai cerai dengan Markoya.” Mendengar penjelasan itu, Matrah mengangguk-anggukan kepala. Matrah keluar sebentar dari dalam kobhung dan kembali dengan membawa beberapa butir telur dalam genggaman tangannya. Mattali mengernyitkan kening, seolah ingin bertanya, apa maksudnya?

“Saya yakin kamu belum jamu telur ini sebelum menikah,” Matrah menunjukkan tiga butir telur kampung ke hadapan Mattali. Laki-laki setengah baya itu menggeleng.

“Dengan telur kampung ini. Insya Allah kamu akan lake.”

“Kenapa tiga butir Ke?” Mattali mengambil telur itu dari genggaman Matrah.

“Saya tidak tahu pasti soal itu. Yang jelas harus berjumlah ganjil. Barangkali karena Tuhan suka yang ganjil-ganjil.”

“Apa ada campuran lain selain telur ini Ke?” Mattali tidak sabar ingin membuktikan khasiat telur ayam kampung. Laki-laki itu menyesal, kenapa dulu, sebelum menikah ia tak bertanya perihal ini. Mana mungkin Mattali sempat bertanya tentang apa-apa yang perlu dipersiapkan sebelum menikah. Pernikahannya dengan Markoya terjadi secara mendadak, berlangsung cepat begitu saja, tanpa persiapan.

“Nanti saya beri tahu,” Mattali mengangguk. Beberapa menit kemudian, Matrah berbisik di telinga Mattali, mengatakan telur ayam yang digunakan untuk jamu adalah telur ayam kampung dan dengan jumlah ganjil juga dicampur bahan-bahan lain. Mattali membayangkan wajah Markoya, ia yakin Markoya akan terpuaskan di atas ranjang.
“Karena telur kampung itu, anak saya dua belas. Sekarang ini, saya juga punya cucu belasan.” Tawa Matrah meledak disusul derai tawa Mattali.

Tiga minggu setelah Mattali minum jamu dicampur telur tiga butir, sebagaimana anjuran Ke Matrah, birahi laki-laki itu meronta-ronta, minta digesek batang kemaluannya. “Saya sudah lake.” Gumam Mattali dengan binar-binar kebanggaan di matanya. Tanpa pikir panjang, ia berkunjung ke rumah Markoyah, berniat rujuk, siap membuktikan khasiat tiga butir telur pada perempuan cantik, rebutan lelaki kampung itu.

Mattali berdiri dengan mulut ternganga, wajahnya berubah seperti selembar kain kafan, begitu melihat Markoya digandeng laki-laki keluar dari dalam rumah. Matanya terpaku pada laki-laki yang mengalungkan tangan pada bahu Markoya. Berusaha meredam golak di dadanya, Mattali menelan ludah.

“Saya sudah menikah, kita tak bisa rujuk. Dia benar-benar lake tidak sepertimu!” kata Markoya sembari tersenyum memandang laki-laki di sampingnya, suaminya itu.

“Siapa dia?” Mattali menekan suaranya.

“Dia anak Ke Matrah. Dua hari lalu kami menikah.” Jantung Mattali terasa akan lepas dari tangkainya begitu Markoya menyebut nama Matrah. Huh! Gigi Mattali bergemerutuk. Ia melenggang pulang membawa kesedihan. Terus bergegas lekas langkah Mattali, dan ia seolah begitu berhasrat mencincang tubuh Matrah, lelaki tua yang baru saja mengajarinya cara meramu butir telur ganjil agar menjadi lake.

Pulau Garam, 2017

Catatan:
[1] Tak Lake Ongghu Bekna Kak : sungguh tidak jantan kamu Mas (ucapan ini dimaksudkan kepada lelaki yang tidak dapat memuaskan istrinya di ranjang).
[2] Lake: jantan, merujuk pada kelelakian, juga bisa dimaknai laki-laki.
[3] Tarebung: pohon siwalan
[4] Taneyan lanjang : halaman panjang
[5] Kobhung : berbentuk bangunan berkolong dengan kontruksi kayu jati, atap emperan di depannya terdapat lantai kolong yang lebih rendah dari lantai utamanya, dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Hampir semua bangunan di Madura memiliki kobhung. Letaknya rata-rata di sebelah barat. Kobhung berfungsi sebagai tempat peristirahatan, berkumpulnya kerluarga dan kerabat, juga sebagai tempat menerima tamu dan beribadah keluarga. Kobhung ini juga sebagai tempat pewaris nilai-nilai tradisi luhur masyarakat Madura.
[6] Ke: kakek

*)Zainul Muttaqin Lahir di Garincang, Batang-batang Laok. Batang-Batang, Sumenep Madura 18 November 1991. Menyelesaikan studi Tadris Bahasa Inggris di STAIN Pamekasan. Cerpen dan Puisinya dimuat pelbagai media nasional dan lokal.

Buto Kaliren

Howone kutho ketoke sik kurang merdu. Ancen adhem, tapi koyok sik onok kroso angete sekem. Paitun suwe gak dolen nang Gang Gawat. Kupinge wis keri suwe kadit denger nggedabruse gerombolan bekakas. Mlebu gang, ndik pojokan bedak e Bu Cip, Paitun ngendeg uklam, apais nggandang cik merdune. Lhuk, iki lak lagune jaman ayas sik licek.

Lepetan, lepetan angudhari
Anguculi janur kuning aningseti
Seti bali lungo dandan
Methika kembang sikatan…

Kait ate ndhodhok ngrungokno, gak sido wis. Kaceb e Pi’I liwat, Riadi Hansip sing numpak, bengak-bengok ae lambene koyok radio lawas.

“Tun, TO koen… nangdi ae. Digoleki wong akeh hadak eskip. I.. Pi’i… lhok en Paitun, dungaren pupurane mbeluk. Wkwkwk… Iko lho Tun, nango pos… lhuk listik e rek, bibirnya mirahhh… hahaha…” Riadi nggarap dilos. Listik… lipsetik… goblik Riadi.

Pi’I nyetir kaceb ambek kekel sampek kaceb s sliyat-sliyut. Kapok a, ban e sing kiwo ublem got. Rasakno…malik a wis… wkwkw… Riadi pucet. Pi’i mecethat, wong awake sak biting. Sukurr… langgit ae wis timbang dipaido.

Ndik pos tibak e emar temenan. Waduh, Bambing tail ayas koyok ndelok berkat. Wisa.

“Lhooo… lakonnyah dateng. Suweh ora jamuh, jamuh godong paitan wkwkwkw… “ jare Bambing. Paitan pathakmu iku, batine Paitun. Irunge tambah koyok klampok.

“Tak tail tekan keneh maeng tak pikir lak kesemek ta ente, Tun. Pupuraneh koyok dempul… wkwkwk…karek nyepet… bemo le’e” jare Bambing nggegek.

“Wis ta Mbing. Tun sepurane yo,” jare Jon saaken. Paitun mubeng nyalami wong-wong. Wayahe Bambing diliwati. Tambah kekel hadak brengkesan iku, ambek nggudo kucinge Paitun. Kucinge bencine setengah mati lek nang Bambing.

“Wis ero ta awakmu, Tun. Pilian erwe wis mari. Koen kesuwen gak beredar iku opo. Iki maeng arek-arek mbahas erwe sing anyar. Wis, lungguho sing anteng, iku ipok e. Rungokno ae ya. Ojok kathik kolem omong. Soale antara dehem ambek ngomong, koen gak tau jelas, tambah iso salah paham. Tertib ya? Wis Cak Mian tutugno,” jare Bendhot. Bendhot tang tinggal suwe, gak putih-putih arek iki, batine Paitun. Areke mlorok.

“Mang tekok endi. Sik. O yo. Tak terusno. Masyarakat kene sakjane kan duwe angen-angen. Pemimpin iku lek iso yo duwe ilmu kabudayan. Atau kalau tidak, ya minimal punya wawasan kebudayaan sing bener. Lek wong Jowo yo kudune ero budoyo Jowo, opo thithik-thithik yo ngertilah… Kudune lak ero sing jenenge Hastabrata. Iki kitab kepemimpinan. Kok Hastabrata, cobak engkuk takonono erwe mu sing anyar, ero ta kenek opo Gatutkoco kok kait oket pas Abimanyu wis itam. Opo pekoro patine Bhisma. Kematiane Bhisma di tangan Arjuno opo Srikandi. Takono sing gampang ae paling kadit itreng. Iki ayas kadit ngremehno lho, tapi kenyataane,” jare Samian kementhus.

“Sampek sak mono yo?” jare Endik koyok yok yok o.

“Ente ngono, Ndik. Wong Jowo potokopi. Koyok ayas ngene iki lho, podho… kok iso gak itreng blass… wkwkwk,” jare Bendhot ambik njulekno Bambing.

“Lek ayas yoh… ngertilah sak iprit. Cumak lalih,” jare Bambing nggedabrus. Genti dijungkrakno ambek Endik.

“Masalahe kan ngene. Pemimpin lek gak duwe sangu bab kebudayan, kan repot. Terus yoopo lek ate njogo opo noto seni opo budaya ndik kampung kene. Iso gak kerumat, iso diglethakno, opo lek gak mek awu-awu cek dianggep peduli seni budaya. Kancane kliru pisan wkwkwkw…,” jare Samian.

“Lek ayas krunguh sambateh wong-wong, iki wis suweh, tapi saiki jareh tambah nemen. Iku lho, jare kakean makelar seni, makelar budayah. Mbuh opo meneh arek-arek lrek ngaranih. Kanyab buto kaliren nggrumbul koyok tumo ndi bale erwe. Repote maneh, wong-wong model ngono ikuh sing dipercoyoh. Sing soroh kan yo sing seniman temenan. Trus yoopoh…’ Bambing sambat.

“Pemimpin iku sakjane kan koyok dalang. Lek paham balungan e cerito, yo mesti pinter lek noto sanggit. Njawil roso. Saiki ledome nguwawur pol lek nyanggit, lak nggarakno ngungib tah,” jare Samian.

Iki ae wis ngungib hare ayas, batine Paitun. Entek ipok agit saleg, Paitun pamitan. Grup bekakas ketoke yo ate rayub pisan.

Tekan ngarep bedak e Bu Cip, lho sing nggandang sik lanjut hare. Nongkrong ae ndik buk ngrungokno ambek ngaso. Merdu.

Nyoh sego, nyoh sego… nyoh sego nyoh cethinge
nyoh lawuh nyoh lawuh… nyoh lawuh nyoh wadhahe
nyoh sambel nyoh sambel… nyoh sambel nyoh coweke

Lho kowe kok dibanda, njupuk apa? Njupuk krikil
Ndi krikile? wis tak edol
Ndi duwite? tak nggo tuku beras
Ndi berase? wis tak liwet
Ndi segane? wis tak maem
Kower mau wis tak kek’i maem,
lha yen ngono kowe kayak buta

Paitun mesam-mesem, ambik mbatin. Oala, saiki buto-buto ewul, gak sing lawas gak sing anyar, tambah tewur sliweran umek ndik bale erwe. (idur)

Nyenyek Tun…

logo paitun gundulRodok iyup, ate sore, kroso ewul. Enake mampir warunge Mak Ti ae, ngono batine Paitun. Tibae Mak Ti tutup. Ate liwat Gang Gawat, Paitun ragu-ragu, mosok bendino kuping dijejeli suarane keblek-keblek iku ae.

Sak klerap Paitun iling. Lak suwe gak rimpam nang hamure Mas Sunari. Ambek ngumbah kuping, ngrungokno sing sula-sula, mesisan ndelok kodew-kodew muda-mudi latihan mbeso, nari.

Paitun ublem gang halabes. Tekan ngarep hamure Mas Sunari tibae ipes, dapako unine gending, manuke Samian ngoceh ae, yo lek enak, menco wis kewut pisan, unine koyok bebek tikas. Tau biyen, Samian idrek tanggapan luar kota seminggu, dadak manuke ambek ojobe dicantholno ndik buri cidek jeding. Helom idrekan, Samian ngamuk, manuke unine dadak mek “ekgh… ekgh” persis unine wong ngeden.

Ojobe diumbah ambik Samian. Samian iku wong seni, duwe sanggar dewe, tapi gelek dijak neam panggung ambek Mas Sunari. Paitun rikim diluk, akhire rimpam nang sanggare Samian. Lhuw, onok Bambing (sakjane jenenge Bambang) mboh ambek wong-wong kono kok diceluk Bambing. Kait amping-amping ndik lawang pagere Samian, Paitun kaget, Bambing pancetae cucuke. Endik tibae yo ndik kene, ketoke uthek mbenakno salon.

“Lhooo Cak Min, kekasih ente datang menghampiri… wkwkwk!” Pancetae cangkeme ludruk iku batine Paitun ambek sik rodok dredeg pekoro kaget. Samian mek mencep. Tibae genaro aud iki maeng sekak ta.

Yahh beginilah Tun. Lha yoopo, idrekan ipes. Aluk sekak timbang nggeblak, ya?
Onok genaro oket, Londo (asline jenenge Jo, tapi celukane Londo, soale lek main drama tujubelasan didadekno londo, ancene praene blasteran, mboh blasteran Jowo ambek gendruwes le’e). Koyoke Londo ate ngabari.

“Cak Mian, sampeyan melok ta nang Atrakad? Jarene kesenian kampunge ewed diundang pentas nang Atrakad.”

“Ayas gak ro i Ndo. Ente jare apais?” Samian ngungib.

“Kanaku dikongkon Bu Ayuk, Seksi Seni Budaya RW, dipilih melok rombongan duta seni jare. Ayas yo yoopo, male kolem tewur hare. Nggolekno sangu, terus perlengkapane, durung lio liane.”

“Ngono iku lho, kok gak kene-kene iki sing dikongkon nangani. Lha terus model pembinaane yoopo.” Samian rodok emosi. Paitun mulai umbam masalah.

Endik sing ket maeng ngenem, salone wis muni dadak melok muni.

“Ayas wingi pas mbenakno son e Jianto, wong-wong pas tepak kumpul ndik sanggare Jianto. Kabeh rame pekoro iku. Krunguku, sanggar-sanggar seni ndik lingkungane dewe saiki wis ate ketam kabeh.”

Bambing dadak koyok tumbu ole tutup.

“Oyi ancene. Ente-ente ini lak wis ero ta. Iki rahasia tapi ente-ente perlu ero. Seksi Seni Budaya RW iku pinter thes. Iku anggarane jelas, bantuane yo hedeg. Tapi… carane yoopo cek ithab, yo golek sing harum, lek perlu sing gak rayab. Lek gak ngono yo diperintahno nang warga opo sekolahan-sekolahan ndik kene, opo liane. Kane thess… Sanggar-sanggar yo ngaplo… nyenyek tun…”

“Ayas sakjane itreng. Cumak lek arek-arek gak kompak yo yoopo. Mestine sanggar kabeh kumpul, genomo sing kane, lek perlu ngadep RW. RW yo cek ero seni dan budaya iku penting. Tau tah wong-wong pengurus RW iku nontok seni sampek kateg? Gak kiro. Paling oket dilut, awu-awu… cek dianggep peduli, maringono eskip,” Samian ngroweng.

Paitun tambah umbam gak kane omongan iki. Karepe ngumbah kuping, lha kok mbleset. Tapi gak popo, batine Paitun, aku tambah ero lek onok kenyataan koyok ngene. Aku biyen paling seneng nontok ludruk, tari-tarian, wayang wong, wayang kulit, seni-seni iku pokoke.

Saiki angel, kok ngono, ulang tahune Malang sing ditanggap gak jelas, wayange sing ditanggap guduk wayange wong Malang, senine wong njobo kabeh. Padahal ndik Malang gak kurang dalang. Tukang mbeso yo akeh. Seni asli liane yo akeh, apik-apik. Iyo yo, kok iso yo. Paitun nggleleng priatin. Londo katut kolem ngroweng.

“Aradusku onok sing ndik Atrakad, idrek ndik iku lho nggene tampil seni-seni sak Indonesia. Iku yo tau crito. Rombongan lek tekok Malang jare mbanyol. Arek-arek seni sing ate tampil iku bingung nyiapno pentas, bingung iku iku, jendral petisi, dadak wong-wong pengurus sing ngetutno, sing kudune ngewangi, nyupot, dadak tambah keplas, ngungib nglencere, blonjo.”

“Lha lapo kolem ae wong-wong iku. Entek-enteki transpot ae. Biyen jare Seksi Seni Budaya RW ate diganti wong sing genah, itreng Tibae pancet, kadit nes. Wayahe lak golek genaro sing peduli, iso ngrumat seni budaya. Gak rikim ithab thok ae. Gak socing blas.” Bambing nyantap.
“Yoopo lek ate ngganti. Pak RW ae ngelu, soale Bu Ayuk iku lak plek ambik Pandi. Podo sanjipake. Lek jare Bendhot, pren… pren… wkwkwk.” Londo noyug. Paitun rikim, heng koena mbulet ae.

“Skak…!” Bambing bengok. Samian gak trimo.

“Ente nganem lek pas slimpene nawak ae, wisss… nyenyek tun!”

Langit semburat werno maghrib. Paitun ngaleh tekok sanggare Samian. Nggremet henam turut embong ambik ngwasno ayang-ayange dewe ambik ayang-ayange wit-witan sing mbeso, menari-nari ndik aspalan dalan.

Refleksi 17 Agustus 1945 dan Salam Satu Jiwa Arema

Refleksi 17 Agustus 1945 dan Salam Satu Jiwa Arema
Refleksi 17 Agustus 1945 dan Salam Satu Jiwa Arema

Oleh: Ir Bambang Sumarto *

Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 menjadi momen sangat penting bagi bangsa. Karena pada saat itulah bangsa ini mulai menapaki kehidupan berbangsa dan bernegara, bebas lepas dari belenggu pendudukan bangsa luar, dan berdiri tegak di tanah sendiri.

Kemerdekaan yang dikumandangkan Bung Karno dan Bung Hatta pada hari Jumat, pukul 10.00 di Jalan Pegangsaan Timur Jakarta, itu sebagai momentum mengisi kevakuman pemerintahan setelah awal Agustus 1945

Jepang yang saat itu masih menduduki dan menjajah wilayah Indonesia, menyerah di tangan sekutu. Meski kalah perang, tentara jepang di wilayah pendudukan Indonesia masih bersenjata lengkap. Amunisi dan persenjaatan militer serta armada tempur masih mondar-mandir. Tak ada yang berani melucuti, apalagi melawan.

Maka, para tokoh pada saat itu, terutama generasi tua di bawah kepimpinan Bung Karno, berpikir panjang untuk mendapatkan momentum kemerdekaan tanpa ada pertumpahan darah dengan Jepang, dan generasi tua ini lebih sabar untuk menentukan saat yang tepat untuk itu.

Berbeda dengan generasi muda yang menggebu-gebu dan bersemangat segera merdeka. Apalagi ada momentum tepat, sehingga di bawah pimpinan Caherul Saleh, generasi muda ‘mengamankan’ tokoh utama bangsa, yakni Bung Karno dan Bung Hatta, ke sebuah desa kecil bernama Rengasdengklok, Karawang, pada 16 Agustus 1945. Mereka mendesak agar dua tokoh bangsa itu segera memproklamasikan Kemerdekaan RI.

Peredebatan pada malam Jumat di bulan Ramadhan itu pun berlangsung a lot. Bung Karno masih keukeuh bahwa kemerdekaan RI harus sejalan dengan persetujuan Jepang yang telah berjanji akan memberikan kemerdekaan, dibuktikan dengan pembentukan BPUPKI dan PPKI.

Tidak mudah bagi para pemuda saat itu meluluhkan hati Bung Karno, hingga dini hari. Pada dini hari itu juga Bung Karno dan Bung Hatta kembali ke Jakarta untuk menemui pimpinan Angkatan Darat Jepang, lalu menyampaikan keinginan Bangsa Indonesia untuk merdeka. Namun Jepang tidak memberi izin Soekarno untuk mengumunkan proklamasi kemerdekaan, karena kondisi RI masih stastus quo, sebelum kedatangan sekutu. Kenyataan ini akhirnya membuat generasi tua kecewa berat, dan Jepang dinilai telah ingkar janji.

Maka, pada sekitar pukul 02.00, golongan tua dan muda berkumpul di rumah Laksamana Tadashi  Maeda, seorang perwira AL Jepang yang mendukung kemerdekaan RI. Bertempat di Jalan Imam Bonjol No 1 Menteng Jakarta Pusat, naskah proklamasi akhirnya dibuat, ditulis sendiri oleh tangan Bung Karno.

Sementara itu, tokoh muda Sukarni mengusulkan agar Bung Karno dan Bung Hatta yang menandatangani teks Proklamasi itu, atas nama Bangsa Indonesia.Selanjutnya teks proklamasi diketik oleh Sayuti Melik, dan akhirnya dibacakan oleh Bung Karno pada 17 Agustus 1945, tepat pukul 10.00, di Jalan Pegangsaan Timur No 56 Jakarta.

Inilah suri tauladan yang harus kita ingat dari perjalan seorang pemimpin besar, Bung Karno, walau dalam kondisi apapun, musyawarah, komunikasi dan koordinasi, menjadi bagian sangat penting bagi perjalanan bangsa dan negara, karena apapun persoalan yang terjadi dalam meyelesaikan persoalan bangsa,hendaknya kita selalu mengedepankan musyawarah.

Untuk mennyelesaikan persoalan bangsa yang saat itu menghadapi situasi sangat penting, Bung Karno tetap mengajak musyawarah, komunikasi, dan koordinasi dengan para tokoh muda, bahkan dengan penjajah sekalipun, untuk membicarakan Kemerdekaan RI, dengan orientas tanpa pertumpahan darah, yang sangat merugikan rakyat.

Suri tauladan itulah yang patut ditauladani pemimpin-pemimpin kita, baik pemimpin nasional, pempimpin daerah propinsi, maupun pemimpin derah kota dankabupaten, agar dalam menyelesaikan maupun membahas persoalan-persoalan penting, tetap dilakukan dengan mendengarkan suara hati rakyat, karena apapun yang dilakukan pemerintah, semuanya untuk kesejahteraan rakyat.

Bagi kita generasi penerus yang mengisi kemerdekaan ini, yang hidup di Kota Malang, yang merupakan bagian kecil dari Bangsa Indonesia, ada baiknya juga mentauladani jiwa besar Bung Karno.

Segala persoalan yang ada di Kota Malang yang kita cintai ini, hendaknya juga dilakukan dengan musyawarah, komunikasi dan Koordinasi yang baik dengan semua pihak.

Terutama dalam menyelesaikan masalah-masalah yang terkait dengan kepentingan dan kesejahteraan rakyat.

Di Kota Malang masih banyak persoalan yang jadi pekerjaan rumah, yang harus dipikirkan bersama, seperti masalah kemacetan lalu lintas, banjir, pendidikan, kesehatan, kemiskinan dan lain-lain, yang harus jadi perhatian serius Pemerintahan Kota Malang dan DPRD Kota Malang.

Dengan semangat Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Pemerintahan Kota Malang dan DPRD hendaknya lebih serius membahas pekerjaan rumah yang masih banyak dan harus dilakukan dengan musyawarah, komunikasi dan koordinasi yang baik, agar tugas dan tanggung jawab mensejahterakan rakyat Kota Malang bisa tercapai, walau secara bertahap.

Selain itu Pemerintahan Kota Malang juga harus berupaya memperbaiki segala sendi kehidupan, disamping ekonomi juga karakter bangsa yang mulai luntur. Percuma jika ekonominya kuat tapi banyak koruptor, banyak kejahatan, banyak kedholiman dan kemunafikan. Bangsa ini akan kuat jika karakter bangsa kembali pada dasar Negara Pancasila.

Sebagai Arek Malang, saya bangga dan sangat mengapresiasi terhadap apa yang sudah dilakukan Arema dengan yel-yel yang dahsyat, seperti SALAM SATU JIWA, AREMA! Ini wujud tan dari bangsa ini yang harus bersatu dalam perbedaan, dan meski berbeda tapi tetap dalam persatuan.

Maka, 71 Tahun Kemerdekaan Indonesia adalah momentum untuk mewujudkan karakter bangsa yang kuat, dan ekonomi daerah maupun nasional yang tangguh. Sehingga bisa membuat masyarakat adil dan sejahtera, baik jasmani maupun rohani, serta mewujudkan Pemerintahan Kota Malang yang bermartabat, yang pada ujungnya menjadikan bangsa  Indonesia sebagai bangsa yang bermartabat dan disegani bangsa lain di dunia.

Salam Satu Jiwa… Arema…!

Dirgahayu Bangsaku Tercinta

*Ir Bambang Sumarto, Sekretaris Fraksi Partai Golkar dan Ketua Komisi C DPRD Kota Malang.

Gugur Muda – Berryminor, Dedikasikan Lagu untuk Lima Korban Demonstrasi

Musisi Malang, Berryminor. (Istimewa)
Musisi Malang, Berryminor. (Istimewa)

MALANGVOICE – Musisi Malang, Berryminor merilis single pertamanya berjudul Gugur Muda. Lagu ini didedikasikan untuk lima korban tewas saat gelombang aksi demonstrasi bertajuk Reformasi Dikorupsi di berbagai daerah, 23, 24 dan 30 September 2019 lalu.

Pemilik nama lengkap Fahzlurr Berri Almustapha ini tak bisa menutupi keresahannya. Terutama saat membaca berita tentang para korban meninggal diduga akibat kekerasan oleh aparat saat demonstrasi melalui layar handphone miliknya, ditemui MVoice, Minggu (20/10).

Ia mengatakan, lagu berjudul Gugur Muda merupakan single pertamanya dan didedikasikan untuk Bagus Putra Mahendra, Akbar Alamsyah dan Maulana Suryadi, demonstran yang meninggal usai aksi berujung ricuh dengan polisi di Jakarta. Lalu, Imawan Randi dan Muhammad Yusuf Kardawi, mahasiswa Universitas Haluoleo di Kendari. Lagu ini bisa diakses di YouTube Berry Minor atau di kanal https://m.youtube.com/watch?feature=youtu.be&v=z6n4wlgB-aY

“Gugur Muda merupakan surat kecil untuk korban kekerasan demonstrasi reformasi dikorupsi. Saya mencoba menyuarakan keresahan di dalam lagu ini,” kata pria akrab disapa Berry ini.

Gugur Muda, lanjut dia, musik beraliran electronic naratif yang juga menceritakan tentang bentuk simpatinya terhadap korban kekerasan demonstrasi #reformasidikorupsi lainnya yang berjumlah ratusan di berbagai kota di Indonesia, sebut saja Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Kendari, Malang, Surabaya dan berbagai daerah lainnya.

Alumnus Universitas Negeri Malang ini memandang, masih belum ada titik terang mengenai pelaku kekerasan tersebut. Hingga merenggut lima nyawa demonstran.

“Dan ribuan orang lain yang tertangkap mulai dari tanggal 24-30 september 2019,” ujarnya.

Lagu Gugur Muda berdurasi lima menit ini juga menceritakan tentang penderitaan ayah, ibu yang menjadi seorang buruh dan seorang petani.
Pria kelahiran Kota Malang 27 tahun silam ini berharap agar persoalan tersebut segera diselesaikan secara adil menurut aturan hukum yang berlaku.

“Dan saya berdoa untuk kelima korban meninggal dunia semoga diberi ketenangan,” tutup pria juga pernah tergabung dalam band Malang, A Strong Boy ini. (Der/Ulm)

Komunitas