Minum Air Kloset agar Lekas Sehat

Ilustrasi. (Anja Arowana)

Oleh Surya Gemilang*

“Sebaiknya Anda minum air kloset agar lekas sehat,” balas dokter itu setelah kuucapkan keluhanku. Sinting bukan main, kan?!

Barangkali Sijit, teman baikku, tidak kalah sintingnya karena telah merekomendasikanku untuk pergi ke dokter sinting itu.

“Kau sialan, Jit!” hardikku melalui ponsel sepulangnya aku dari tempat praktik si Dokter Sinting. “Kau bilang dokter itu dapat diandalkan! Rupa-rupanya dokter itu sinting!”

“Lho? Sinting bagaimana?” tanya Sijit.

“Masa aku disuruh minum air kloset agar lekas sehat?!”

“Kalau memang begitu suruhannya, ikuti saja.”

“Ikuti saja?! Kau sinting sebagaimana dokter itu, ya?!

“Dengarkan aku baik-baik, Babah.” Sijit berhenti sebentar. “Waktu salah seorang saudaraku sakit gede, tak ada seorang dokter pun yang bisa menangani penyakitnya, kecuali dokter yang kau anggap sinting itu. Kau tahu dia menyuruh saudaraku minum apa? Dia menyuruhnya untuk minum kopi campur telur mentah! Dan, saudaraku langsung sembuh begitu menuruti suruhan dokter itu!”

“Itu, kan, hanya kopi campur telur mentah, Jit! Bukan a-i-r k-l-o-s-e-t!”

***

Rasa sakit yang ganjil itu hinggap di perutku sejak sebulan yang lalu. Semula, kupikir aku maag. Maka, kuminumlah obat maag, tapi rasa sakit di perutku tak kunjung membaik. Hari demi hari, sejak rasa sakit itu muncul, perutku terus membesar—sedikit demi sedikit saja, sehingga tak langsung kusadari hal itu. Kala rasa sakit di perutku semakin mengganggu, aku memutuskan untuk tidak ngantor sampai rasa sakit itu lenyap—entah kapan. (Toh, meski tak bekerja, uang tetap menghujani rekeningku.)

Sebelum mendatangi si Dokter Sinting, tak kurang dari sepuluh orang Dokter Normal yang telah kudatangi, dan mereka semua tidak tahu penyakit macam apa yang hinggap di perutku. Sempat aku berpikir bahwa aku disantet. Tapi, bukankah tukang santet dan semacamnya sudah pada punah di tahun 2040 ini?

***

Pagi ini—sehari setelah kudatangi si Dokter Sinting—begitu membuka mata, kudapati perutku sudah sebesar perut seorang wanita yang kandungannya berusia delapan bulan! Padahal, kemarin, ukuran perutku masih sekitar setengah dari ukuran perutku yang sekarang. Otomatis, baju-bajuku jadi pada tidak muat, sehingga aku mesti telanjang dari pinggang ke atas. Langkahku pun terasa berat. Perutku semakin sakit.

Masa, sih, aku mesti minum air kloset?! pikirku.

***

Entah kenapa kekasihku, Babah, tak bisa dihubungi pagi ini. Oleh karena itulah aku memutuskan untuk pergi ke rumahnya. Di depan gerbang rumah mewah tempatnya tinggal, aku bertemu dengan Sijit. “Kekasihmu tak bisa kuhubungi, dan itu membuatku khawatir,” jawab Sijit ketika kutanyai maksud kehadirannya kemari.

Kami pun masuk ke rumah Babah—pembantunya yang sudah pantas disebut “nenek” itu yang membukakan pintu—dan terbelalak begitu sampai di kamarnya.

“Ya ampun, Babah!” pekikku dan Sijit bersamaan.

Kekasihku tergeletak lemas di kasur, tanpa memakai baju. Wajahnya pucat, sepucat mayat—tapi ia masih hidup—dan perutnya … Ya ampun!

“Kenapa kau tidak berinisiatif untuk mencarikan dokter buat majikanmu?” ucapku pada si Pembantu yang sudah tua, setengah membentak.

Si Pembantu tertunduk. “Maunya, sih, begitu, Nona. Tapi Tuan Babah melarang saya.”

“Aku sudah bosan bertemu dengan dokter!” sambung Babah, suaranya parau. “Mereka semua tidak berguna!”

Sijit berdeham. “Apa kau sudah minum air kloset?”

(Aku sudah dengar soal “minum air kloset” itu dari Babah kemarin, via video call.)

“Bah! Kau jangan sinting, Jit! Pasti ada solusi yang lebih baik untuk menyembuhkan penyakitku ini!”

Heninglah beberapa jenak.

Si Pembantu memberi isyarat minta diri, dan Babah mengangguk, lantas pergi dari kamar ini.

Sijit tiba-tiba tampak menahan tawa. “Barangkali, perutmu itu terus membesar secara ganjil karena rekeningmu terus menggendut secara sama ganjilnya!” Tawa Sijit lantas pecah. “Makanya, jangan kaucurangi bosmu sendiri!”

Babah mengerang sebelum berkata, “Sialan betul kau! Mentang-mentang kini aku kesakitan, dan rasanya hampir mati, kau malah mengingatkanku akan dosa-dosaku sendiri!”

Sijit tergelak lagi, kemudian berkata kepadaku, “Nah! Benar, kan, apa kataku? Kekasihmu ini kotor!”

“Aku tidak peduli pada kotor-bersih dirinya,” balasku, dengan wajah memerah.

Sijit mendecak-decakkan lidah. “Wah … wah … Cinta dan uang sama-sama bisa bikin bodoh.”

“Mending kau pergi saja, Jit!” hardikku.

Wajah teman baik kekasihku itu sontak masam. Ia lalu berlalu dari kamar ini, tanpa kata-kata, sehingga tersisalah aku dan Babah.

“Biarlah dia pergi,” kata Babah lirih. “Kita tak memerlukannya.”

Tak terlalu lama kemudian, Sijit kembali ke kamar ini dengan segelas air di tangannya. Aku langsung tahu air apa itu sebab aromanya yang rada-rada tengik tercium jelas di hidungku.

“Kau mau meminumkan air kloset kepadanya?!” kataku.

“Jangan gila, Sijit!” Babah memekik parau. “Kau tidak boleh meminumkanku air kloset!”

Dengan gerakan cepat, aku pun merebut gelas itu dari tangan Sijit. Dan Sijit merebut gelas itu dari tanganku. Dan aku merebut gelas itu dari tangan Sijit. Dan Sijit … Selagi kami saling memperebutkan gelas tersebut, kulihat Babah bangkit perlahan-lahan, dengan susah sungguh, lantas meninju rahang Sijit dari samping dengan teramat keras hingga teman baiknya itu pingsan.

***

Jika Sudah Menjadi Muslim, Jangan Sia-sia… (end)

Rita Arin. (Istimewa)

Oleh: Rita Arin

Berangkat Umroh Berkah Kerja di Wardah
Aku dan suami kemudian bangkit. Kami memulai dari awal lagi. Perlahan kehidupan kami mulai membaik. Aku membeli barang sedikit demi sedikit. Alhamdulillah, akhirnya kami bisa beli kendaraan lagi. Ketika keadaan sedikit membaik, tiba-tiba aku ditawari menjadi Beauty Promotor (BP).

“Beauty Promotor itu apa, pak? Kerjaannya apa?” tanyaku.

“Tugasmu, mempromosikan produk Wardah untuk wilayah yang lebih luas. Bisa ke instansi dan kantor-kantor yang ada,” kata Pak Novi, pimpinanku.

Aku terhenyak. Selama ini aku selalu bergantung pada suami untuk pergi dan pulang kerja. Jika aku ditempatkan di BP dan pekerjaannya seperti disampaikan Pak Novi, tentu aku tak mungkin bergantung terus kepada suamiku.

Baca Juga:Jika Sudah Menjadi Muslim, Jangan Sia-sia… (I)

Tawaran itu aku rembukkan dengan suami. Keputusannya, aku ke kantor pusat dan bertemu supervisorku, Mbak Eva. Aku kemudian harus melalui tahap interview dengan Buk Marry. Aku mendengar kabar dari kawan-kawan lain, jika tak bisa menjawab pertanyaan Bu Marry, bisa dipastikan yang bersangkutan akan gagal.

Lama aku diinterview Bu Marry, namun kepadaku tak pernah diajukan pertanyaan seputar produk. Beliau lebih banyak bertanya sekitar keseharianku. Interview selesai. Aku dinyatakan lulus. Aku heran, ternyata bertemu dan interview dengan Bu Marry tidak seperti ketakutan yang berkembang selama ini.

Aku lulus sebagai BP. Setiap hari aku harus bolak-balik Depok dan Swadarma Raya. Aku tak mungkin mengandalkan suami saja. Akhirnya aku memutuskan membeli sepeda motor lagi.

Menjadi BP ternyata benar-benar menyenangkan. Banyak pengalaman yang kudapati. Aku bertemu banyak orang. Berbagai kalangan. Bertemu banyak orang-orang penting. Aku benar-benar menikmati bekerja di Wardah.

Ketika aku melahirkan anak kedua,  aku mendapatkan tunjangan melahirkan. Rezekiku terus bertambah. Aku dan suami tak henti-hentinya berdoa. Allah telah mengabulkan doa-doa kami, malahan melebihI dari apa yang kami minta.

Saat aku dalam perjalanan untuk bazar di Kementerian Kelautan dan Perikanan, aku mendapatkan kabar yang mengejutkan. Tahun ini, 2019, aku mendapat jatah umroh gratis dari perusahaan, PT Paragon Technology and Innovation.

“Apakah aku mimpi?” Tanyaku dalam isak tangis yang tak bisa kutahan.

Aku sempat tak percaya. Tapi orang yang memberikan kabar via telepon kantor pusat menyampaikan, bahwa diriku tidak sedang bermimpi. Aku kemudian diyakinkan.

Katanya, dalam waktu dekat semua berkas dan panduan keberangkatanku akan dikirimkan. Aku tak menduga, bisa secepat ini ke Tanah Suci. Beribadah di Masjid Nawabi dan Masjidil Haram. Bersujud di depan Ka’bah, tempat yang selalu dirindukan umat Islam.

Aku memang pernah mendengar, setiap karyawan yang bekerja minimal tujuh tahun, diberangkatkan umroh bagi yang muslim. Bagi non muslim, diberangkatkan wisata religi, sesuai agama masing-masing.

Program ini sudah berjalan di perusahaan sejak 2017. Rata-rata setiap tahun memberangkatkan sedikitnya 500 orang karyawan. Aku tak pernah menghitung dan membayangkannya sama sekali.

Aku sampaikan kabar bahagia ini kepada suamiku. Ia ikut meneteskan air mata. Katanya, Allah sangat sayang padaku, sehingga aku diberi rezeki berlimpah.

“Tapi aku belum mengerti Islam secara menyeluruh. Membaca Al-Qur’an pun aku masih terbata-bata. Apa aku pantas ke Tanah Suci?” Tanyaku.

Suamimu mendorong dan memberikan semangat. Ia benar-benar mengerti apa yang kurasakan. Ia terus membimbingku. Aku pun memantapkan hati dan niat.

Perlahan aku mulai mempersiapkan segala kebutuhan satu persatu. Aku berdoa sepanjang waktu, semoga Allah memberikan kemudahan dan kelancaran semua persiapan hingga ibadahku.

Sebelum berangkat, aku  menggelar pengajian di rumah.  Aku mengundang ustad agar aku diberi pemahaman selama ibadah di Tanah Suci. 

Aku dengar dari banyak orang, apa yang biasa kita lakukan selama ini akan diperlihatkan di Tanah Suci.  Jika kita  berbuat salah maka akan diperlihatkan di sana.  Sempat timbul rasa takut, tapi aku mantapkan hatiku bahwa  aku berniat untuk ibadah. Aku memohon ampun kepada Allah.

Saat aku berangkat menuju Jakarta, tempat semua jamaah umroh Paragon Technology and Innovation, berkumpul, ada rasa berbeda mengalir dalam tubuhku.

Sehari sebelum berangkat, aku melaksanakan manasik. Saat itu  mulai berkenalan dengan teman-teman satu kloterku dari berbagai daerah. Alhamdulilah aku dapat teman baru.

Rabu, 15 Januari 2020, aku berangkat dengan diantar kedua anakku,  suamiku, bapak dan ibu mertuaku. Mereka melepas kepergianku. Aku tak kuasa membendung air mata yang menetes.

Kupeluk erat anakku; Jingga Zilvia Ardhan (9 thn) dan Axel Juro Reynand Ardhan (4 thn). Kupeluk erat keduanya. Aku pasrah dan ikhlas meninggalkan kedua anakku. Aku benar-benar ingin fokus ibadah.

Ada rasa itu semakin menggelegar ketika rombongan kami sudah bergerak menuju Madinah. Aku tak kuasa menahan tangis. Aku menangis  haru karena  bisa sampai  ke titik ini. Aku  memantapkan hati dan pasrah terhadap semua yang akan terjadi. Aku pasrah akan semuanya agar ibadahku  lancar.

Di saat pesawat mendarat di Bandara Internasional Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMMA) Madinah, aku semakin tak kuasa menahan tetesan air mata. Aku benar-benar telah menginjakkan kaki di Tanah Suci.

Tiga hari rombongan kami menetap di Madinah. Aku sekamar dengan Mbak Esa, Mbak Sari dan Dita dari DC Bogor. Tiga hari kami ke masjid dan balik ke hotel bersama. kami salat, mengaji dan menunaikan ibadah-ibadah sunat.

Kami memaksimalkan waktu yang ada untuk ibadah sebaik-baiknya. Aku juga bersyukur, flu yang sempat menyerang diriku sebelum berangkat, ternyata sesampai di Madinah sembuh.

Tiga hari di Madinah, perjalanan diteruskan ke Makkah. Ibadah umroh dimulai. Madinah – Makkah ditempuh selama enam jam. Ketika meninggalkan Madinah, kami semua sudah berpakaian untuk umroh. Jemaah lelaki telah berpakaian ihram.

Setiba di Makkah, sekitar pukul sembilan malam. Kami menjamak salat Magrib di waktu Isya. Setelah itu, langsung melaksanakan rangkaian ibadah umroh.

Diawali dengan Tawaf, mengelilingi Ka’bah.
Saat pertama melihat Ka’bah, tiba-tiba saja air mataku berderai. Aku menangis. Aku tak pernah membayangkan bisa melihat Ka’bah secara langsung.

Apakah aku sedang mimpi? Tiba-tiba saja aku seakan berbisik kepada  Allah; Ya, Allah, jika aku sedang mimpi, jangan bangunkan aku, Ya Allah.

Kuusap mata berkali-kali. Kucubit lengan. Sakit. Aku tidak sedang bermimpi. Ini benar-benar nyata. Aku memohon ampun atas dosa-dosaku, bermohon agar diampunkan dosa-dosa keluargaku dan memohon agar aku bisa kembali ke sini bersama suami dan anak-anakku.

Aku menjalani dan menikmati ibadah di Masjidil Haram. Aku benar-benar menikmatinya. Selama di Masjidil Haram aku mencari tempat terbaik,  aku beribadah  di depan Ka’bah. Aku juga memohon kepada Allah agar dosa-dosa orang tuaku diampuni, sekali pun keduanya beda agama denganku. Bagaimana pun juga, beliau adalah orangtuaku.

Masih segar dalam ingatanku pesan ibu saat kuberitahu bahwa aku sudah mualaf, “Jika memang sudah menjadi muslim, jangan sampai sia-sia… Jadilah muslim yang senantiasa menjalankan syariat Islam,” kata ibu kepadaku.

Pesan ibu bukan tanpa alasan. Ketika aku Nasrani yang hanya sekali seminggu ke gereja, aku sering lalai. Pesan ibu menjadi wasiat bagiku. Aku akan jalankan semua pesan tersebut. Aku harus melaksanakan salat lima waktu tepat waktu dan menjalankan syariat yang diperintahkan Allah.

Ketika ustad pembimbing kami, Ustad Muhammad Azzam dan Ustad Hakim mengabarkan, Rabu, 22 Januari 2020, pukul dua dinihari semua sudah di lobi hotel untuk Tawaf Wada’, aku tersentak.

Berarti sudah empat hari kami di Makkah. Empat hari pula aku beribadah di Masjidil Haram. Sebentar saja rasanya.

Air mata perpisahan ini tak kuasa menetes saat itu melaksanakan Tawaf Wada. Aku berharap akan bisa kembali lagi bersama keluarga. Aku yakin, Allah pasti sayang padaku dan akan mengabulkan doaku. 

Saat berpisah dengan teman-teman satu kloter di Bandara Soekarno-Hatta, kami semua berharap bisa bersama lagi. Impian kami, suatu saat kami bisa bersama kembali. Suatu saat, kami dan keluarga kami diberi kesempatan beribadah di Tanah Suci.

Entah kenapa, hingga beberapa hari setelah sampai di rumah, aku  masih bermimpi Tawaf di depan Ka’bah.

Terima kasih, Bu Nurhayati Subakat dan Pak Subakat. Semoga ibu dan bapak senantiasa diberi kesehatan dan keberkahan. Semoga Paragon Technology and Innovation semakin berkembang.

Sebelumnya…

Mualaf Karyawati PT Paragon Technology and Innovation

Nobar Debat Pamungkas

Oleh : SUGENG WINARNO

Ada fenomena menarik saat debat capres dan cawapres berlangsung. Salah satunya adalah acara nonton bareng (nobar) yang digelar di berbagai tempat. Nobar banyak dilakukan oleh tim sukses dan para relawan masing-masing pasangan. Nobar debat dilakukan di café-café, lapangan, atau beberapa tempat ngumpul, nongkrong, dan ngopi. Ada yang meramu acara nobar dengan analisis para pakar dan dikemas dengan sajian hiburan yang memikat.
Debat putaran terakhir yang berlangsung pada Sabtu, 13 April 2019 merupakan debat terakhir. Masing-masing kandidat mengeluarkan jurus pemungkasnya. Debat yang sekaligus mengakhiri masa kampanye pemilu 2019 mengangkat tema ekonomi, kesejahteraan sosial, keuangan, investasi dan industri. Debat pilpres pamungkas akan dipandu oleh moderator Balques Manisang dan Tomy Ristanto dan disiarkan oleh sejumlah televisi nasional dan beberapa portal online.
Masyarakat penasaran ingin melihat bagaimana para kandidat capres-cawapres menyampaikan gagasanya atas sejumlah isu panas. Persoalan seputar pencapaian bidang ekonomi, gencarnya pembangunan infrastruktur, angka kemiskinan dan kesejahteraan, daya beli masyarakat, lapangan kerja, strategi revolusi industri 4.0, dan sejumlah persoalan bangsa serius lainnya. Adu visi misi, konsep, dan gagasan capres-cawapres menjadi tontonan menarik bagi masyarakat sebelum datang mencoblos pada 17 April mendatang.

Bentuk Partisipasi Politik
Fenomena munculnya nobar ini bisa diartikan sebagai salah satu bentuk partisipasi masyarakat calon pemilih untuk mencari informasi sebagai referensi mereka dalam menentukan pilihan. Acara debat memang ditujukan untuk memberi referensi kepada para calon pemilih yang masih mengambang (swing voters). Sementara bagi mereka yang sudah punya pilihan (strong voters) tentu acara debat tak akan banyak punya efek.
Hasil jajak pendapat Kompas yang dilakukan pada 13-14 Maret 2019 menunjukkan bahwa tiga perempat responden berminat menonton debat. Beberapa alasan orang menyaksikan debat adalah untuk memahami visi misi cawapres dan kualitas cawapres dalam berdebat. Antusias masyarakat menonton debat bisa juga sebagai indikator mereka tak cuek pada politik. Ketertarikan masyarakat menyaksikan debat semoga berimplikasi pada partisipasi nyata mereka untuk datang saat pencoblosan berlangsung.
Acara debat capres-cawapres baik yang disaksikan masyarakat lewat televisi di rumah masing-masing maupun dalam acara nobar menjadi bagian dari proses demokrasi yang perlu diapresiasi. Geliat dan antusias masyarakat dalam proses pencarian pemimpin bangsa ini semoga menemukan sosok yang benar-benar menjadi harapan rakyat. Semua pihak tentu berharap melalui debat bukan sekedar tebar pesona dan janji-janji palsu.
Merubah persepsi seseorang tentang kedua sosok capres-cawapres yang berkontestasi dalam pilpres 2019 memang tak gampang. Debat esensinya bisa menjadi referensi mereka yang masih galau dan belum menentukan pilihannya dalam pilpres mendatang. Namun hanya lewat debat berkualitas yang mampu membangun persepsi calon pemilih. Kalau debat yang tersaji hanya serupa debat kusir, maka ajang debat hanya akan jadi arena saling serang.
Semua masyarakat yang menyaksikan acara debat dan rangkaian kampanye politik yang lain tentu bisa menilai. Ajang kampanye dan acara debat memang tak mampu menyajikan secara utuh sosok sang kontestan. Tentu masih banyak sisi-sisi dari sang kandidat, terutama sisi buruk yang tak mampu terungkap lewat acara debat. Apalagi tak jarang dalam debat kebanyakan masing-masing akan bertahan dengan argumen bahwa hanya ide atau gagasannya yang paling benar, yang lain keliru.

Bukan Pepesan Kosong
Politik itu adalah urusan harapan (hope). Bisa kita simak saat kampanye politik lalu. Hampir semua kandidat menjual harapan, mimpi-mimpi dan ilusi. Sang kandidat membangun narasi-narasi yang sangat menjanjikan. Sebuah perbaikan, sebuah penyempurnaan atas segala kekurangan, dan sejumlah prestasi atau rencana baik ke depan. Semua dilakukan sang kandidat demi meraih persepsi baik dan simpati masyarakat.
Demikian halnya dalam debat. Tak ada yang bisa menjamin atas semua harapan yang dijanjikan sang calon akan berbuah manis. Bisa saja kondisi berbeda saat sang kandidat sudah menjabat. Jangan-jangan janji-janji itu tinggal janji, harapan-harapan yang disampaikan saat debat itu hanya pepesan kosong. Saat debat bisa saja menggunakan logika berfikir yang penting saat ini, urusan nanti bisa dipikir kemudian.
Memberi harapan palsu tak ubahnya seperti orang dengan sengaja menipu. Sudah tahu kalau harapan yang disampaikan itu susah atau tak mungkin terwujud namun tetap saja dikemukakan sebagai janji. Sementara disisi lain, saat sang kandidat kelak sudah menjabat masyarakat juga melupakan janji-janji politik mereka. Tak ada kontrak politik saat kampanye atau debat yang bisa dituntut kelak.
Situasi ini menuntut masyarakat dapat berfikir jernih. Masyarakat harus sadar bahwa aneka narasi yang disampaikan saat debat itu bisa sangat tendensius. Ada udang di balik batu, alias ada maksud yang tersembunyi. Masyarakat dituntut jeli melihat gelagat kurang baik dalam perang opini saat debat. Kalau kita berkaca pada pemilu-pemilu sebelumnya, tak sedikit janji-janji politik yang pada akhirnya juga tak ditepati sang politisi terpilih. Ada saja sejumlah alibi yang digunakan untuk mendapat pemakluman atas gagalnya merealisasi janji-janji itu.
Masyarakat dituntut tak gampang terlena. Semua orang yang lagi ada maunya pasti akan bermanis mulut. Untuk itu semua harus kritis dan cerdas menilai. Melalui debat pamungkas mungkin bisa menjadi referensi bagi sejumlah calon pemilih untuk menentukan pilihan politiknya. Kalau ternyata debat tak membawa dampak apa-apa maka cobalah tetap memilih dengan menggunakan hati nurani. Yakinlah, hati nurani tak akan pernah keliru. Selamat mencoblos pilpres dan pileg.

(*) SUGENG WINARNO, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang

Biar Hilang Ditelan Bumi

Oleh: Ken Hanggara

Aku berharap di sekitar sini, suatu hari nanti, terjadi gempa bumi, sehingga kerak bumi retak dan menelan Jeni ke dalamnya. Aku benar-benar berharap kejadian buruk itu terjadi, meski mencintainya.

Sebenarnya sejak lama aku mencintai Jeni, tapi kurasa dia tak terlalu suka padaku. Dia selalu mengabaikanku di depan orang-orang dan memaksaku merahasiakan seluruh hubungan kami. Tentu saja, ‘seluruh’ seharusnya kurang tepat, tetapi karena Jeni punya penyakit, kadangkala aku harus berperan menjadi sosok yang lain.

Jadi, dalam hubungan kami, bukan hanya ada sosok diriku saja dalam tubuh yang kini kutumpangi nyawa. Jeni menganggapku sebagai benda seperti boneka yang mampu memikul berbagai jenis jiwa di dalamnya.

Suatu hari, Jeni berkata, “Jiwamu ganti jadi jiwanya anjing!”

Maka, kuturuti permintaan itu. Aku tidak akan heran atau ragu, sebab tidak jarang juga Jeni memintaku berperan sebagai setan jahat, dan semua ini kukira berkenaan oleh sensasi yang bakal dia dapat dalam persetubuhan kami.

Pentingnya Cara Berfikir Hukum dalam Menganalisa Isu Hukum

Ferry Anggriawan S.H, M.H
Ferry Anggriawan S.H, M.H

Oleh Ferry Anggriawan S.H, M.H

Kasus pembunuhan begal yang terjadi di Kabupaten Malang oleh tersangka berinisial ZA bukannya ditanggapi secara kritis, melainkan ditampilkan dalam bentuk sensasi

yang jauh dari inti permasalahan. Beberapa media memberitakan kasus ini melalui judul-judul yang jauh dari substansi permasalahan, seperti; “pembunuh begal di Malang demi membela pacar, ternyata juga punya istri”, ini bukan masalah pembunuh sudah beristri atau belum, tetapi ini adalah masalah hukum terkait pembunuhan bukan dibawa kedalam subtansi permasalahan melainkan pikiran pembaca dibiaskan dengan isu-isu yang jauh dari permasalahan hukum.
Cara berfikir hukum adalah mengolah bahan hukum-hukum positif dengan
menggunakan logika.Berfikir dengan menggunakan logika atau berfikir secara logis adalah befikir dengan menggunakan konsep, pengertian, doktrin, yang dibuat oleh hukum.Kasus pembunuhan begal yang dilakukan oleh ZA hendaknya dikritisi
dengan cara berfikir hukum yaitu dengan pasal yang berkaitan dalam kasus tersebut kemudian dengan pengertian dan doktrin yang sesuai dengan logika hukum.
Dakwaan Jaksa Penuntut Umum menggunakan 4 pasal berlapis salah satumya adalah
Pasal 340 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal seumur hidup disayangkan
oleh tim Kuasa Hukum ZA, karena ZA dalam keadaan terpaksa melakukan perlawanan, begitu juga Penuntut Umum juga mempunyai alasan kenapa pembunuhan tersebut dikategorikan pembunuhan berencana sesuai dengan pasal 340 KUHP, adalah
karena pisau telah dibawa oleh ZA ketika berangkat dari rumah dan sebelum kejadian pembunuhan terjadi.
Secara hukum positif pembelaan yang dilakukan oleh tersangka ZA dapat
dikategorikan dalam noodweer (pembelaan terpaksa) yang diatur dalam Pasal 49
KUHP. Beberapa unsur yang harus dipenuhi agar seseorang dapat dikategorikan dalam pembelaan terpaksa adalah membela diri sendiri atau orang lain, kehormatan,
kesusilaan, harta sendiri atau orang lain, karena adanya serangan atau ancaman serangan yang sangat dekat, dan perbuatan tersebut melawan hukum. Adapun domain terkait pembelaan terpaksa adalah pembelaan harus seimbang dengan serangan atau ancaman dan serangan tidak boleh melampaui batas (asas subsidioritas). Ada beberapa unsur yang telah terpenuhi bahwa ZA melakukan perbuatan tersebut
dapat dikategorikan sebagai pembelaan terpaksa yaitu; melindungi diri dan orang lain, melindungi harta sendiri dan orang lain, melindungi karena adanya ancaman yang sangat dekat dan adanya perbuatan melawan hukum yang ditujukan kepadanya. Di sisi lain ada perbuatan ZA yang dijadikan oleh Jaksa Penuntut Umum sebagai dakwaan melalui Pasal 340 KUHP tentang perencanaan pembunuhan,mengingat ZA sebelum kejadian perampokan dan ancaman pemerkosaan, ZA terlebih dahulu
membawa pisau sebelum pembelaan yang berakibat pembunuhan terjadi.
Hukum adalah seni berinterpretasi, semua berhak menyatakan dirinya benar atau
menyatakan kebenaran subjektifnya, tetapi disatu sisi orang lain juga berhak menyatakan kebenaran subjektifnya. Kuasa Hukum ZA mempunyai argumen hukum yang siap didialektikakan dipersidangan dengan argumen hukum dan saksi yang disiapkan oleh Jaksa Penuntut Umum. Harapan kedepannya adalah semoga Putusan Pengadilan terkait kasus ini mempunyai nilai keadilan bagi keduabelah pihak dan nilai kemanfaatan bagi kita semua.
Melalui kasus ini hendaknya kita lebih cermat dalam menganalisa isu hukum, karena isu hukum tidak pernah jauh dari logika hukum dan hukum positif yang berada di Indonesia. Janganlah kamu masuk dalam suatu perkara kecuali kamu tidak memiliki ilmu didalamnya, begitupun janganlah menganalisa suatu isu hukum tanpa melalui ilmu hukum dan cara berfikir hukum.

Ferry Anggriawan S.H, M.H
Dosen Fakultas Hukum Universitas Merdeka Malang

Gugur Muda – Berryminor, Dedikasikan Lagu untuk Lima Korban Demonstrasi

Musisi Malang, Berryminor. (Istimewa)
Musisi Malang, Berryminor. (Istimewa)

MALANGVOICE – Musisi Malang, Berryminor merilis single pertamanya berjudul Gugur Muda. Lagu ini didedikasikan untuk lima korban tewas saat gelombang aksi demonstrasi bertajuk Reformasi Dikorupsi di berbagai daerah, 23, 24 dan 30 September 2019 lalu.

Pemilik nama lengkap Fahzlurr Berri Almustapha ini tak bisa menutupi keresahannya. Terutama saat membaca berita tentang para korban meninggal diduga akibat kekerasan oleh aparat saat demonstrasi melalui layar handphone miliknya, ditemui MVoice, Minggu (20/10).

Ia mengatakan, lagu berjudul Gugur Muda merupakan single pertamanya dan didedikasikan untuk Bagus Putra Mahendra, Akbar Alamsyah dan Maulana Suryadi, demonstran yang meninggal usai aksi berujung ricuh dengan polisi di Jakarta. Lalu, Imawan Randi dan Muhammad Yusuf Kardawi, mahasiswa Universitas Haluoleo di Kendari. Lagu ini bisa diakses di YouTube Berry Minor atau di kanal Berry Minor

“Gugur Muda merupakan surat kecil untuk korban kekerasan demonstrasi reformasi dikorupsi. Saya mencoba menyuarakan keresahan di dalam lagu ini,” kata pria akrab disapa Berry ini.

Gugur Muda, lanjut dia, musik beraliran electronic naratif yang juga menceritakan tentang bentuk simpatinya terhadap korban kekerasan demonstrasi #reformasidikorupsi lainnya yang berjumlah ratusan di berbagai kota di Indonesia, sebut saja Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Kendari, Malang, Surabaya dan berbagai daerah lainnya.

Alumnus Universitas Negeri Malang ini memandang, masih belum ada titik terang mengenai pelaku kekerasan tersebut. Hingga merenggut lima nyawa demonstran.

“Dan ribuan orang lain yang tertangkap mulai dari tanggal 24-30 september 2019,” ujarnya.

Lagu Gugur Muda berdurasi lima menit ini juga menceritakan tentang penderitaan ayah, ibu yang menjadi seorang buruh dan seorang petani.
Pria kelahiran Kota Malang 27 tahun silam ini berharap agar persoalan tersebut segera diselesaikan secara adil menurut aturan hukum yang berlaku.

“Dan saya berdoa untuk kelima korban meninggal dunia semoga diberi ketenangan,” tutup pria juga pernah tergabung dalam band Malang, A Strong Boy ini. (Der/Ulm)

Kartu Pra Kerja: Bukan Solusi di Masa Pandemi

Dinda Putri Wahyuningtias

Program kartu Pra Kerja tidak habis-habisnya menjadi perhatian masyarakat. Program pemerintah yang bertujuan untuk mengurangi angka pengangguran ini terbukti menuai banyak polemik.

Pemerintah berharap kartu sakti tersebut dapat meringankan beban masyarakat di masa pandemi. Namun, kecurigaan masyarakat terus berembus kencang seiring dengan berlanjutnya program ini.

Polemik yang datang bukannya tidak berdasar, namun malah sumber polemik tersebutlah yang sangat mudah ditemukan. Dengan adanya program yang mengahbiskan 20 triliun rupiah tersebut, apakah dapat menghasilkan dampak positif yang sepadan? Kematangan konsep program hingga keseriusan pemerintah menjalankan program menentukan bahwa program belum mampu menjawab kebutuhan masyarakat di masa pandemi.

Di saat seseorang berhasil lolos menjadi peserta program, pelatihan kerja akan diberikan secara daring. Peserta akan dirujuk ke portal-portal pembelanjaran yang dipercaya pemerintah untuk memberikan pelatihan kepada masyarakat. Tidak hanya itu, peserta juga mendapatkan uang intensif secara berkala dalam empat bulan sebesar 2.4 juta. Namun, program yang bertujuan mulia ini mampukah memberikan efek positif yang nyata kepada masyarakat?

Bermacam-Macam Polemik
Sebelum polemik yang sudah umum mulai bermunculan, baiknya dikaji dahulu apakah program ini tepat dilakukan pada masa pandemi. Terlepas program ini sebagai perwujudan penetapan janji pemerintah kepada masyarakat. Apakah memang masa pandemi dijadikan waktu yang tepat sehingga program dapat menghasilkan hasil yang maksimal?

Jika masyarakat diberikan pelatihan yang mampu membawa mereka dari belenggu pengangguran dan meningkatkan kompentensi diri tentu saja hal tersebut memberikan dampak positif . Namun, masa pandemi membuat beberapa tatanan kehidupan menjadi berubah. Dari pembatasan ruang gerak hingga kontak fisik.

Badan Pusat Statistik menjabarkan bahwa pandemi membuat setidaknya 50% perusahaan mencabut iklan lowongan pekerjaan mereka. Jumlah dari seluruh iklan lowongan pekerjaan yang tersebar pun turun sampai 70%.

Penurunan angka lowongan pekerjaan sejak pandemi memang wajar, mengingat pemilik bisnis tidak ingin makin merugi. Program yang melahirkan calon pekerja dengan kemampuan yang sudah di upgrade ini, akan tetap mengalami kesulitan waktu mereka melamar nanti. Jika lowongan saja tidak banyak tersedia, maka calon pekerja otomatis juga kurang dibutuhkan.
Dari sisi konsep sendiri, pelatiahan yang diberikan secara daring bukanlah ide orisinil pemerintah. Sebenarnya pelatihan secara daring sudah ada dan dapat diakses secara gratis. Beberapa website bukan buatan pemerintah sudah banyak tersebar di internet jauh sebelum program diluncurkan.

Website prakerja.org adalah website buatan Andri W.Kusuma yang kecewa dengan program kartu pra kerja. Website tersebut tidak membebani pengunjung dengan pembayaran uang sepeserpun. Iklan dan donasi yang didapat juga digunakan sebagai biaya operasional website tersebut.

Pemerintah memang mebadrol penyedia konten selama pelatihan program sebagai mitra kerja mereka sampai ratusan juta rupiah. Padahal pada kenyataanya jasa, dan esensi program sebenarnya bisa didapatkan secara gratis di platform lain.

Uang intensif yang telah dijanjikan juga mengalami masalah. Walaupun tidak semua peserta tidak mengalami masalah tersebut, setidaknya 34.000 belum mendapat pencairan dana uang intensif. Masalah teknis yang terjadi karena penutupan rekening atau ketidak samaan nomor induk kependudukan dari peserta. Masalah ini terjadi di bulan pertama pencairan dana intensif.

Lalu bulan kedua pencairan uang intensif juga terhambat karena evaluasi yang dilaksanakan pemerintah. Dijanjikan bahwa pencairan uang intensif bulan kedua akan diberikan setelah proses evaluasi selesai. Uang intensif sendiri adalah janji dari pemerintah dan juga peserta sudah melewati bulan kedua pelatihan. Jadi, uang intensif tersebut sudah menjadi hak peserta. Proses evaluasi sehaursnya bukanlah sebuah hambatan.

Namun yang terjadi pada peserta sepertinya berbeda dengan internal program. Direktur pengurus program diberi besaran gaji yang cukup besar. Gaji sebesar Rp.77,5 juta dinialai besar namun wajar dinilai dari proyek program sendiri yang memang besar. Dengan imbalan sebesar itu, diharapkan sistem program yang memang memanfaatkan teknologi ini mampu diakses masyarakat dengan mudah. Dengan nominal sebesar itu pun, diharapkan dapat menghindarkan pejabat dari praktek korupsi.

Pemerintah juga sudah menggaris bawahi bahwa kartu pra kerja dapat menyongsong masyarakat untuk beradaptasi di dunia yang semakin canggih. Era globalisasi memang menuntut masyarakat modern mudah beradaptasi dengan segala perubahan yang cepat. Ditambah Indonesia yang harus menyesuaikan diri di Era Industry 4.0.
Pelatihan yang diberikan seperti online trading, tata rias dan masih banyak lagi tidak selaras dengan perwujudan penyesuaian Indonesia di era globalisasi. Mengingat era globalisasi membuat semua sektor industri mau tidak mau memanfaatkan teknologi. Jadi, kartu pra kerja sendiri tidak memberikan masyarakat bekal untuk menyesuaikan diri di era globalisasi.

Perlu Banyak Perbaikan

Gelombang 4 kartu pra kerja sempat ditunda dengan tujuan pemerintah mampu memperbaiki mekanisme program dengan melakukan evaluasi. Penundaan yang dilakukan adalah sebagai wujud nyata bahwa program perlu banyak sekali perbaikan. Keresahan masyarakat memang benar adanya sampai-sampai pemerintah harus berhenti sejenak untuk berpikir dan berdiskusi.

Kontroversial yang terus terjadi juga hasil dari masa lalu terkait kasus yang menyerang kepercayaan masyarakat. Masyarakat seperti trauma oleh program yang sudah-sudah, dimana program hanya dijadikan sebagai alat korupsi oleh oknum-oknum tertentu. Namun, sekarang trauma itu tak sengaja muncul lagi dengan timbul nya kecurigaan-kecurigaan masyarakat yang berdasar.

Di masa serba kesusahan seperti ini, urgensi lah yang harus didahulukan. Jika program yang memberikan manfaat kepada masyarakat dengan tidak maksiamal, akibatnya masyarakat juga tidak mampu terpenuhi kebutuhannya.

Dibandingkan bantuan semi sosial seperti program ini, masyarakat sangat perlu bantuan yang langsung bisa dirasakan oleh masyarakat. Masyarakat juga harus terus bertahan dan bergelut dengan keadaan, sehingga pemerintah sangat diharapkan bantuannya. Terlepas dari semua kontroversial sengit yang terjadi, sebagai masyarakat kita harus terus mengawal jalannya program untuk kebaikan Indonesia sendiri.

*) Dinda Putri Wahyuningtias
Universitas Sampoerna

Perempuan – perempuan

Ilustrasi. (Anja Arowana)

Oleh: Kartika Demia

Ketika Alene van Nijenroode berdiri di pucuk jendela dengan cucuran air mata, Gritje mencoba meraih tangannya, mengajaknya kembali. Gadis bergaun silk duchess sewarna gading itu putus asa, jemari kakinya gemetar berdiri melawan angin dari lantai tiga. Bagai menginjak pucuk duri yang bisa runtuh kapan saja.

“Kumohon, jangan melompat. Kau harus memikirkan anakmu,” Gritje memandang perut Alene yang membulat sempurna. Dari balik bahu-bahu yang mengerumuni ruangan itu, di barisan belakang tampak seorang perempuan mengelus perut yang sama besarnya, matanya buram oleh selaput air mata yang membayang.

“Karena anak inilah aku ingin mati!” Teriakan Alene itu mampu membuat Gritje mundur selangkah, membuat wanita paruh baya itu diam. Para perempuan yang mengerumuninya, memanggil-manggil namanya untuk segera kembali kepada mereka. Bibir Alene bergetar, “Lebih baik aku mati daripada melahirkan anak dari keparat itu!”

Sedetik setelah gadis itu berteriak, sebuah letusan terdengar. Para perempuan itu sadar bahwa sebuah peluru tiba-tiba menembus kepala Alene. Serta merta tubuhnya jatuh dan terhempas ke tanah. Dari bawah sana, berdiri angkuh Mayor Sabarudin dengan senapannya, “Siapa lagi yang mau mati?”

***

Sebelumnya gedung itu adalah villa bupati Belanda, terletak di dataran tinggi Tretes dengan pemandangan seluruh penjuru Kota Mojokerto yang dapat terlihat dari sana. Saat Sabarudin menjabat sebagai Kompol Tentara Keamanan Rakyat tentu punya wewenang untuk menghabisi keluarga si bupati. Lelaki keturunan Aceh itu menyulapnya menjadi wisma bagi harem-haremnya. Pada ruangan berkorden kain brokat, cat putih menyaput seluruh dinding, dengan beberapa jongos pribumi dan tentu saja pasukan Sabarudin selalu siaga menjaga tempat itu agar tak ada yang dapat keluar barang sejengkal pun.

Malam itu tentu saja lebih kelam dari sebelum-sebelumnya. Para none Belanda masih berkabung. Gritje menyulam mantel dari benang wol warna merah, di sisinya gadis cilik berumur dua belas tahun duduk khusyuk memandangnya bekerja. “Apakah kau masih takut?” sang ibu bertanya.

Gadis itu tak menjawab, lekas Gritje meraihnya. “Lihat, Ibu membuatkan mantel untukmu.” Senyum wanita itu mengembang meyakinkan anaknya bahwa semua akan baik-baik saja.

Saat itu seorang perempuan dengan rambut sewarna tembaga langsung berdiri, “Kalian masih bisa tersenyum?” mata perempuan itu menyala-nyala. “Setelah kematian Alene, dan kau bilang semua akan baik-baik saja?!”

“Marien, aku mohon …”

“Cukup Gritje! Aku sudah muak.”

Ada emosi yang meluap-luap dari wajah Marien, kulit pucatnya seketika memerah marah. Bayangan suaminya ditembak mati oleh Sabarudin masih terngiang di kepala. Apa yang dimilikinya semua dirampas. Kariernya sebagai dokter yang bermukim di sudut Kota Yogyakarta kini berupa kenang. Setiap kali Sabarudin selesai menidurinya, perempuan itu selalu menggosok semua tubuhnya hingga merah. Tubuhnya seolah-olah berubah sangat kotor dan hina. Ia ingin mati saja. “Ada benarnya apa yang dilakukan Alene,” ucapnya lirih lalu duduk menyembunyikan matanya yang berkaca.

Ucapan itu membuat Gritje menatapnya nanar, ibu itu lantas memeluk sang anak. Dalam benaknya ia membenarkan semua ucapan Marien. Takdir mereka sebagai budak nafsu bagi mantan Shodancho itu tak dapat terelakkan. Gritje mengantarkan anaknya ke ranjang, menyadari wajah si anak yang semakin tirus – tak ada kebahagiaan. “Ibu, kapan kita pulang?”

Dengan kecupan di kening yang seketika menghangatkan rona si kecil, sang ibu berkata seperti setiap malam-malam sebelumnya, “Tidurlah. Besok kita pulang.”

***

Esoknya sebuah keributan terjadi di wisma harem. Perempuan dengan perut besar berumur sembilan bulan tampak mengaduh kesakitan. Air ketuban telah pecah, membuat panik siapapun yang melihatnya. Wajah Gritje tegang dan segera mencari Marien. “Ibu, aku melihat Marien di dekat dapur.” Si gadis menyadari ibunya yang kelimpungan.

Sekonyong-konyong Gritje berlari menyongsong dokter itu. Dilihatnya Marien minum teh di antara meja dapur, saat itu ada seorang perempuan Jawa sedang mencuci piring. Gritje tak melihat mereka bercakap atau apa, tak menggubris pula apa yang sebenarnya dilakukan Marien di sana. Dengan napas satu-satu, Gritje berkata bahwa seseorang akan segera melahirkan. Namun dokter itu bergeming, tak kuasa menambah satu nyawa lagi di rumah ini. Dalam pikirnya, semua itu hanya akan menambah kesedihan, kehampaan saat semua kebebasan terampas. “Dokter Marien van Aelst?” Gritje menekankan suaranya.

Sejenak Marien menutup mata, lalu iris abunya berkilat memandang Gritje, “Baiklah.”

Para perempuan itu seolah mewujud satu keluarga, memaksa menjadi harem yang setia bagi Mayor Sabarudin. Beberapa masih mengharap kebebasan, seperti perempuan yang berjuang melahirkan anaknya kini. Dalam kesakitan yang ia rasakan, ia mengingat ayah dan ibunya di tanah kelahiran. Sebagai pengajar di Hollandsche Indische, wajahnya sangat rupawan hingga bisa mengalahkan paras ayu putri bupati Sidoarjo yang gagal dinikahi Sabarudin. Benar saja lelaki itu bangga bisa menghamilinya. Serupa memperoleh kemenangan karena kekalahannya mendapatkan putri bupati. Raut congkak Sabarudin ia turunkan pada wajah bayi yang dilahirkan si none Belanda. Seorang bayi perempuan bermata biru lahir ke dunia. Mewarisi alis dan rahang keras milik Sabarudin. Gritje bernapas lega dan segera memandikan bayi berlumur darah dalam gendongan.

Nyatanya, sebagai seorang dokter, Marien tak bisa membiarkan itu terjadi. Tak bisa benar-benar membiarkan seorang perempuan hampir meregang nyawa karena sakit oleh sembilan bulan. Lalu mendadak anak buah Sabarudin datang memanggil namanya dan membuyarkan lamunan. Marien yang belum sempat membasuh tangan dipaksa keluar. Perempuan itu dibawa menuju kamar utama, kamar di mana Sabarudin menunggunya. Di saat-saat tertentu sang mayor biasa mengunjungi tempat ini.

Sebuah ruangan paling besar dari yang lainnya. Paling kokoh jika dipandang. Dengan aroma bunga dari rangkaian mawar dan kembang sepatu di setiap sudut ruang. Gorden putih berenda yang merumbai-rumbai. Dan lampu kristal yang sama klasiknya dengan lukisan-lukisan yang terpajang di dinding. Marien berdiri diam di tengah ruang setelah anak buah Sabarudin menutup pintu. Dari situ Marien tahu apa yang setelahnya akan terjadi.

“Aku rindu padamu.” Ada bau alkohol yang menguar dari mulut pria itu. Matanya jalang menatap lekuk dada Marien yang seolah menantangnya.

Tanpa berkata apa, Marien menatapnya nyalang.

Sabarudin menangkap bercak darah di tangan Marien. “Bersihkan dirimu dulu.” Dengan satu jentikan jari saja, dua orang perempuan pribumi segera membawa Marien ke jeding. Membersihkannya dari darah dan kotoran. Lalu Marien sadar, sampai kapan pun tubuhnya tidak akan benar-benar bisa bersih sekarang. Kotor. Sekotor pikiran si mayor saat itu. Sehina apa yang Sabarudin lakukan padanya setiap waktu. Marien semakin mengamini untuk membenci dirinya sendiri. Lalu angan-angan itu semakin menajam di kepalanya. Sesuatu yang telah ia pikirkan sedari siang saat di dapur. Saat ia mengamati pembantu pribumi yang sibuk di sana. Marien melihat setiap detilnya. Lalu ia kembali ke kamar dengan aroma Sabarudin yang membekas pada tubuhnya. Bau yang membuatnya mual. Ia membayangkan akan mencebur ke lautan alkohol agar tubuhnya steril kembali. Lantas ia meratapi tubuhnya yang ia gosok berulang kali sampai merah di kamar mandi. Dengan keran mengucur deras menyamarkan air matanya.

Esoknya saat matahari menyala nyalang di atas kepala, para perempuan itu melihat asap yang membumbung di halaman. Sebuah jeritan terdengar, dua tubuh menggelepar. Sabarudin menemukan penyusup di daerah kekuasaannya. Dua pemuda Ambon ia tangkap. Lalu tanpa bertanya babibu langsung dibakarnya.

Gritje menutup mata anaknya, melarang melihat kekejaman yang dibuat Sabarudin. Masih mencium samar bau bensin, ketika pintu ruangan harem mendadak terbuka, berdirilah sang mayor di sana. “Aku ingin sesuatu yang lain.” Wajahnya serupa setan yang bisa menggilas nyawa mereka kapan saja. Ia lalu berjalan mengitari perempuan-perempuan itu. Tak ada yang berani memandang matanya kecuali Marien yang menatapnya lurus. Sorot kebencian menyala-nyala.

Langkah Sabarudin berhenti di depan bocah perempuan yang dipeluk Gritje. Lelaki itu meraih tangan gadis kecil yang langsung ditepis oleh ibunya. “Jangan sentuh dia!”

Segera senapan dikeluarkan, membidik tepat pada kening si ibu dan DOR! Tak sempat berkata, sosok yang melindungi anaknya itu terjerembab. Si anak menangis dan berubah menjadi jeritan ketika Sabarudin membawanya pergi. Begitulah Sabarudin dengan kemauannya. Mereka tidak bisa melakukan apapun, perempuan-perempuan itu. Dan tak satu pun menyadari mata Marien yang semakin berkilat.

Ketika matahari telah lenyap, dan berganti malam. Marien mengendap-endap ke dapur. Tempo hari dengan alasan sakit kepala dan secangkir teh hangat yang dipinta ia mengamati tempat itu. Wanita pribumi yang melayaninya tak menaruh curiga saat ia sibuk mengisi kompor dengan minyak tanah. Marien kini dengan jelas dapat mencium bau itu. Dua jeriken besar ia bawa keluar.

Di sisi lain, Sabarudin meninggalkan kerajan haremnya. Menuju Gondomanan bersama sepuluh anak buah kepercayaan. Ketika melewati pepohonan randu pada jalanan menurun melewati bukit-bukit kecil di sekitar Tretes, ia berpapasan dengan salah satu tangan kanannya yang mendadak menghentikan laju truknya. Pada sang mayor ia bicara, pemimpin Laskar Minyak akan segera memenggal kepala Sabarudin jika tidak membebaskan perempuan-perempuan itu.

Sabarudin sekonyong-konyong mengumpat, menggelontorkan satu pelurunya ke angkasa karena kesal, “Tak ada yang bisa merampas harem-haremku, sekalipun Tuhan.” Bersama sepasukan setianya ia meneruskan perjalanan. Meninggalkan bukit, mengabaikan ancaman yang dibawa kaki tangannya. Ia tak tahu pemandangan ganjil di ujung bukit yang ia tinggalkan. Penampakan nyala api di sebuah wisma. Asap membumbung tinggi dari kerajaan haremnya.

*Kartika Demia, kelahiran Malang kini menetap di Madura. Beberapa karyanya dimuat di; Malang Pos, Flores Sastra, Panchake magazine dan Harian Rakyat Sultra. Saat ini aktif di komunitas sastra Dimensi Kata.

Rikip Telepon Pinter

ikon paitun gundulSEMINGGU iki Paitun ketok melbu metu kampung. Paitun uklam ambik endase ndingkluk koyok onok sing dirikip.
Onggot-onggote kadit itreng opo sing lagi dirikip Paitun. Kadang kodew iki ngguyu ewed, tapi moro-moro yo ngenem, raine yo ketok nesu.

Asline Paitun kadit tau ketok nesu. Ben dino ketok ngguya ngguyu dek teras hamure.

Yo gak salah lek onggote akeh sing kaget delok Paitun Gondol kok moro-moro ketok nesu.

Cak Paimo sing hamure dempet mbik hamure Paitun yo naisak delok onggote nesu. Paimo nyobak nyopo Paitun sing lungguh ndoprok dek teras hamure.
Paimo sing umure luwih enom teko Paitun takon, ”Lek Ton, kenopo kok ketok lemes?’ Paimo sengojo takon lemes, jogo-jogo supoyo Paiton kadit tambah ndadi nesune.

”Oyi, Mo. Ayas lagi ngrikip ambik jaman saiki,” jawab Paitun. Ati Paimo kaget krunggu jawaban Paitun. Masalahe, kadit biasane Paitun rikip jaman. Opo maneh rikip negoro, kadit kerikip dek endase Paitun.

Urip Paitun ben dinone mek kluyuran mbik ngguya ngguyu. Masio ngunu, Paitun seneng ngudang kera licek kanae onggot-onggote. Mangkane, dek kampunge akeh sing seneng ambik Paitun sing urip sakonoke.

”Kenopo ambik jaman saiki, Lik Tun?” takon Paimo.

Ditakoni ngunu, moto Paitun rodok mendelik. Paimo yo rodok ndredek wedi lek moro-moro Paitun tambah nesu.
”Umak kadit itreng ta, kok balik nakoni ayas, Mo, ” jare Paitun. ”Ayas iki bingung yok opo carane ndelok isine barang iki, ” jare Paitun ambik ngetokno kotak teko jeroh tas kulite sing wis bulak iku.

”Iki loh, Mo, ” jare Paitun ambik nduduhi kotak nang Paimo.

Ndelok kotak otom Paimo yo katut mendelik. ”Sampean oleh teko endi barang iku, Lik Tun. Iku jenenge gadget alias telepon pinter, ” jare Paimo.

”Ayas dikeki genaro tapi ayas kadit lanek. Ayas yo kadit itreng jenenge. Genarone awake licek, kocomotoan. Mari ngekeki barang iku terus dipeseni lek pingin dekok beritane ngalam kongkon moco dek www.malangvoice.com, ” jare Patun mbik nyrocos.

”Oooalaaa, Lik Tun. Jaman saiki yo kok sik ono genaro kipa gelem ngekeki telepon pinter nang sampean, ” jare Paimo ambik narik ambekane.

”Lah opo iku sing dimaksud wewewe malang pois dot com, Mo? ” Paitun ganti takon. ”Sik, Lik Tun. Tak setinge trus tak bukake malangpois iku, ” jawab Paimo.
HP anyar mari diutak-atik, ambik Paimo diduduhno otome Paitun. Ndelok gambar sing ono dek telepon pinter, otom Paitun tambah mendelik. Lambehe kecapan, ambekane kembang kempis, ambik tangane ngrebut telepon pinter, ”Kok kipa yo, Mo.”

”Lek umak pingin delok berita opo ae sing ono dek malang raya iki, ga usah repot, Lik Tun. Moco dek www.malangvoice.com wis muncul gambar sak berita sak ngalam. Wis, ngerti ta, Lik Tun,”
Endase Paitun mantuk-mantuk delok layare telepon pinter ambik ndlujur uklam ublem nang hamure.

”Ooalaaa, Tun.. Tun.., ” jare Paimo ambik kukur-kukur butake.**

 

Carut Marut Tata Kelola Toko Modern dan Ancaman Kematian UMKM Perdagangan Tradisional

Oleh: Soetopo Dewangga *

Kekuatan pertumbuhan ekonomi bangsa Indonesia terletak pada sektor UMKM/ perdagangan tradisional yang secara nyata menjadi penyokong pertumbuhan ekonomi saat krisis ekonomi 1998 dan 2008.

Namun perkembangan jaringan toko modern di Kota Malang semakin tidak terkendali, dengan dampak negatif berupa pelemahan kapasitas dan akses hak-hak ekonomi toko tradisional yang merupakan bagian dari usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM toko tradisional).

Berdasar informasi yang disampaikan Indri Ardoyo, Kepala Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BP2T) Kota Malang pada sejumlah media, jumlah minimarket (Alfamart dan Indomart) saat ini ada 223 unit.

Dengan luas wilayah Kota Malang 110,06 km2 dan jumlah toko modern sebanyak 223 unit, maka rata–rata dalam radius 493,54 meter ada toko modern yang lain. Tata kelola toko modern seperti ini menunjukkan tidak adanya perlindungan terhadap toko tradisional, di era liberalisasi dan masifnya ekspansi jaringan toko modern hingga ke tingkat daerah, hingga mempengaruhi preferensi konsumen untuk beralih dari kebiasaan berbelanja di toko tradisional yang bersifat usaha perseorangan dan rumah tangga ke gerai-gerai toko modern yang dekat, lengkap dan lebih tertata pola pelayanan dengan fasilitas tambahannya seperti parkir gratis dan ruangan berpendingin.

Dalam sejarah perkembangan UMKM, sesungguhnya toko tradisional menempati posisi sangat penting dalam kehidupan masyarakat, karena selain sebagai aset ekonomi negara, juga aset budaya dalam sistem sosial kemasyarakatan.

Pelemahan UMKM toko tradisional, secara otomatis juga berdampak pada pelemahan ekonomi dan budaya masyarakat. Dari data sepintas di atas pemerintah baik pusat maupun daerah tidak melindungi secara efektif hak dan kepentingan UMKM toko tradisional ketika harus menghadapi penetrasi bisnis jaringan toko modern baik yang nasional maupun internasional.

Hukum dan kebijakan yang sudah dikeluarkan tidak dapat berjalan dengan efektif untuk menciptakan persaingan pasar yang sehat dan berkeadilan. Pemerintah Kota Malang belum secara maksimal mendayagunakan kewenangan hukum yang dimilikinya, merevitalisasi kebijakan dan struktur kelembagaannya, serta mendistribusikan sumber daya yang dimilikinya untuk secara efektif melindungi dan memberdayakan toko tradisional sebagai salah satu bentuk kewajiban kewajiban negara terhadap warganya.

Toko tradisional merupakan industri perdagangan tingkat mikro yang secara hukum seharusnya mendapatkan perlindungan berdasarkan;

1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang UMKM,

2. Perpres no.5 th. 1999 tetang larangan praktek monopoli dan persaingan usaha,

3. Peraturan Presiden Nomor 112 Nomor 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern,

4. Peraturan Mentri Perdagangan RI no 53 tahun 2008 tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar tradisional, pusat pembelanjaan dan toko modern,

5. Perda Propinsi Jawa Timur No.3 tahun 2008 ttg perlindungan pemberdayaan pasar tradisional dan penataan pasar modern di prop. Jawa timur, dan,

6. Peraturan Daerah Kota Malang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Usaha Perindustrian dan Perdagangan.

Berdasar ketentuan di atas maka Pemberdayaan dan perlindungan UMKM toko tradisional secara normatif menjadi tanggung jawab pemerintah dan pemeirntah daerah mencakup aspek pendanaan, sarana dan prasarana, informasi usaha, kemitraan, perizinan usaha, kesempatan berusaha, promosi dagang, dan dukungan kelembagaan.

Tetapi implementasi dari berbagai peraturan di atas ternyata sumberdaya yang dimiliki oleh Pemerintah Kota Malang belum teroptimalisasi untuk mengelola perlindungan toko tradisional dengan indikasi berupa pembiaran praktek ekspansi toko moderen yang melanggar norma hukum dan telah menggerus potensi pasar yang dimiliki oleh toko tradisional.

Struktur hukum, kebijakan maupun kelembagaan di tingkat lokal Kota Malang juga belum menjadi cerminan dari tata kelola perlindungan toko tradisional karena masih bersifat umum, bias, dan secara penegakan hukum juga tidak dilengkapi dengan instrumen yang dapat berfungsi secara efektif dan proaktif.

Memang tidak ada larangan atas kehadiran toko modern termasuk ritel modern (minimarket berjaringan) tetapi Pemerintah Kota Malang memiliki kewenangan untuk mengatur jumlah dan letak dari ritel modern tersebut (minimarket berjaringan) agar tidak mematikan toko tradisional / toko-toko klontong yang dikelola secara tradisional serta menyerap banyak tenaga kerja.

Pemerintah Kota Malang seharusnya mendorong peran serta masyarakat untuk terlibat langsung dalam sektor ritel modern dengan melibatkan pihak perbankan dalam memberikan pinjaman KUR kepada toko-toko tradisional agar dapat dikembangkan menjadi toko modern lokal.

Dengan keterlibatan masyarakat maka sektor ritel modern bukan hanya didominasi oleh perusahaan dengan modal besar tetapi menyebar dengan keterlibatan pelaku usaha lokal berskala kecil. Dengan demikian jikalaupun masyarakat beralih ke toko modern (minimarket berjaringan) tidak akan membawa pengaruh yang besar karena industri-industri kecil pun jalan. ( bersambung )

*Soetopo Dewangga, Ketua Cabang Pemuda Demokrat Indonesia Kota Malang.