Tuan Tukang Cerita

Ilustrasi. (Anja Arowana)

Cerpen Oleh: Mudiuddin
mahasiswa IDIA Prenduan, anggota AJMI
…..

Api itu terus berkobar, melalap semua yang disentuhnya. Di dalam sana hanya seorang kakek yang duduk bersantai seakan-akan api itu tidak ada sama sekali di hadapannya. Di luar orang hanyalah sebagai saksi mata atas kobaran api itu. Ya, mereka hanya menyaksikan bagaimana api begitu menikmati rumah itu. Bahkan tidak ada seorang pun yang berpura-pura memegang gayung yang diisi ar untuk menyiram api itu, tidak juga dengan menghubungi pemadam kebakaran. Semua hanya diam menyaksikan.
“Tidak adakah yang bisa memadamkan api itu? Setidaknya untuk menyelamatkan orang di dalamnya.” Cletuk salah seorang di kerumunan itu.
“Di dalam hanyalah seorang kakek-kakek, siapalah yang mau menyelamatkannya. Toh dia juga sudah bau tanah. Itung-itung itu akan mempermudahkannya, anggap saja itu sekali jalan menuju surga.” Timpal seseorang.
“Mau di selamatkan juga dia akan mati, siapa yang akan mengurus mayatnya. Yang akan memandikannya, meyiapkan kayu bakar, dan upacara pembakaran mayatnya. Catatan keluarga saja tidak jelas.” Timpal lagi salah seorang dari kerumunan itu.
“Biarlah dia menjadi abu bersama rumahnya itu, kalau sudah padam apinya kita tinggal ambil abunya sedikit saja dan kita taburkan di pantai sebagai upacara terakhirnya. Tapi siapa yang akan melakukannya?” Timpal lagi dari yang lain.
Kakek di dalam rumah itu begitu tenang, ia tersenyum. Sama sekali tak mengharap ada orang yang datang menerobos api untuk menolongnya. Ya, siapa pula yang akan menolongnya. Ia sudah tahu itu, seperti apa yang di katakan orang-orang di luar. Biarkan saja menjadi abu.
***
Tuan tukang cerita itu menghentikan ceritanya, orang-orang di sekitarnya masih memandangi berharap tuan tukang cerita masih meneruskan ceritanya. Sebagian sedang memasang muka geram karena masih tidak bisa lepas dari cerita dari tuan tukang cerita, sebagian lagi berlinang air mata. Selalu saja begitu. Mereka yang mendengarkan tuan tukang cerita bercerita selalu mengharapkan cerita itu masih terus berlanjut. Orang sudah tua itu yang kerap kali dipanggil tuan tukang cerita selalu bisa membuat orang ingin mendengarkan ceritanya. Tuan tukang cerita mengembalikan raut mukanya seperti biasa.
“Hallo… Tuan-tuan, Nyonya-nyonya, dan anak-anak. Ceritanya sudah selesai, sampai kapan kalian akan terus menatapku dengan tatapan aneh itu?” Tuan tukang cerita terkekeh-kekeh, bibirnya sedikit terlipat ke dalam. Bisa dimaklumi usianya sudah tua.
“Bagaimana akhir dari ceritanya?” Tanya salah sorang dari para pendengar.
“Ini adalah akhir dari ceritanya anakku.” Balas tuan tukang cerita.
“Bagaimana dengan kakek tua itu?”
“Kalian bisa mengira-ngiranya sendiri.” Tuan tukang cerita itu kembali terkekeh dan bibirnya sedikit terlipat ke dalam.
“Ah… Tuan tukang cerita selalu saja seperti itu.” Keluh mereka yang menjadi pendengar cerita dari tuan tukang cerita.
“Inilah kebebasan dalam bercerita anakku, kita tidak pernah tahu akhir dari cerita. Kita mungkin cukup mereka-rekanya saja, tak lebih. Selama masih ada kehidupan cerita tidak akan benar-benar selesai.”
“Tapi…” Tuan tukang cerita menjeda perkataannya dengan menunjukkan wajah penyesalan.
“Tapi apa tuan tukang cerita?”
“Tapi siapa yang akan mengisi mangkuk ini!” Tuan tukang cerita kembali dengan tertawanya yang terkekeh, semua orang juga ikut tertawa paham maksud tuan tukang cerita. Orang-orang itu kemudian bergiliran mengisi mangkuk di hadapan tuan tukang cerita dengan beberapa koin atau lembaran uang.
“Mau pesan makanan kakek tua?” Seseorang menghampiri tuan tukang cerita menawarkan makanan.
“Kau selalu tahu anakku.” Ia kembali terkekeh.
“Siapkan satu untuk kakek tua kita ini.” Teriak orang itu.
***
Sudah seperti sore biasanya, tuan tukang cerita itu datang ke sebuah kedai makan yang biasa dikunjungi. Bukan untuk memesan makan atau hanya sekedar minum. Bukan. Tapi untuk berbagi cerita pada orang-orang yang ingin mendengarkannya. Meskipun begitu, penjaga ataupun pemilik kedai itu tidak merasa terganggu ataupun rugi. Mereka menganggap Tuan tukang cerita itu sebagai penglaris bagi kedai makannya. Ya, begitulah kata mereka. Tak pernah sebelum ini kedai itu serame sekarang. Meskipun pada awalnya orang-orang hanya ingin mendengarkan cerita si tuan tukang cerita itu. Pada akhirnya mereka merasa kurang jika hanya mendengarkan cerita, mereka akan membeli minuman atau makanan ringan sebagai pelangkap. Terkadang usai mendengarkan mereka memilih untuk memesan makan sebelum pulang.
Seperti sore biasanya, kadatangan tuan tukang cerita selalu di nanti. Dengan baju yang sedikit kumuh yang tak pernah diganti, tapi tak tercium bau tak sedap sedikit darinya. Ia datang dan duduk di kursi yang biasa ia tempati. Sekarang ia begitu diterima tidak seperti pertama ia datang di desa itu dan mampir ke kedai itu. Ya, belum sempat melangkahkan kaki kanannya ke dalam kedai ia langsung di cegat oleh pemilik kedai dan mengusirnya. Pun demikian dengan orang lain yang hanya melihat. Hanya seorang anak ingusan yang mendekatinya dan memperhatikannya yang menggerutukan sesuatu dengan pelan.
“Ada apa Nak?” Anak itu hanya memandanginya tanpa menjawab “ oh kau tidak mau bicara.”
“Mau mendengar cerita?” Anak itu mengangguk dan tuan tukang cerita menceritakannya sesuatu. Tentang seorang kakek yang mencari kematian dan tak kunjung ia bertemu dengan kematian. Ia selalu mencari ke manapun di tempat seluruh dunia, ia pernah sengaja sedikit menggoreskan pisau di lengan kirinya tapi itu tak pernah berhasil, hanya sekedar mengantarkannya ke rumah sakit. Menyewa seorang algojo untuk membunuhnya masih tidak berhasil. Sengaja membaringkan diri di rel kereta ketika kereta sedang melintas masih tidak berhasil juga. Entah kenapa waktu itu kereta tiba-tiba keluar dari rel dan berbaring tepat di samping kakek itu. Pada akhirnya ia menyerah dan memilih untuk diam di rumah menunggu kematian menjemputnya. Itu juga masih sia-sia, karena kematian tak juga menjemput.
Tuan tukang cerita yang pertama kali bercerita di tempat itu menghentikan ceritanya. Anak itu masih melihatnya dan orang-orang yang tanpa sengaja ikut mendengarkan di hadapannya. Kemudian ia mengeluarkan mangkuk dari tas kecil yang ia bawa di punggungnya.
“Anak-anak, cerita bersambung. Sekarang biarkan mangkuk ini juga merasakan beberapa koin atau lembar dari uang kalian.” Ucap tuan tukang cerita kemudian sedikit terkekeh.
“Tapi Tuan, cerita yang anda sampaikan seperti belum selesai.”
“Bukan seperti anakku, tapi memang belum selesai. Jika kalian ingin cerita ini berlanjut datanglah ke mari atau ke kedai di seberang jalan itu. Sekarang isi dulu mangkuk ini, saya memaksa. Kalau tidak”
“Kenapa Tuan.”
“Kalau tidak, aku terpaksa berpuasa lagi.” Orang itu tertawa lalu menaruh apa yang diminta tuan tukang cerita dan pergi.
Orang-orang sudah menunggunya, ia terkekeh dan meletakkan tongkatnya “sudah berapa lama kalian menunggu?”
“Seperti biasa.” Tuan tukang cerita mengangguk kepala.
“Bagaimana, ada yang bisa melanjutkan ceritanya? Bagaimana keadaan kakek tua itu, hah.”
“Aku tidak akan bercerita kali ini, kemarin adalah yang terakhir. Heheheh.” Lanjutnya.
“Lantas bagaimana tentang kakek tua itu, apakah dia mati?”
“Berpikirlah sedikit kreatif dalam mereka-reka.”
“Jika ia masih hidup?”
“Boleh anakku, tapi bagaimana ia masih hidup? Heheheh.”
“Entahlah, mungkin ketika api sudah padam kakek itu masih sempat tertolong.”
“Tidak anakku, tidak ada yang menolongnya. Bukankah sudah kuceritakan yang kemarin, tidak ada yang menolong setelahnyapun tidak ada. Bagaimana ia bisa masih hidup, tidak ada yang tahu. Kehidupan terlalu membencinya, sehingga tak memberi ruang kematian kepadanya.”
“Lantas apa yang dilakukan kakek itu?”
“Ia kembali berjalan, berkeliling mencari kematian. Ia yakin akan bertemu dengannya di suatu tempat. Sampai sekarang pun ia masih mencari, terkadang mengambil rehat di suatu tempat kemudian melanjutkannya perjalanan.” Tuan tukang cerita menghela nafas “boleh aku meminta makanan dan minuman, kali ini aku tak akan mengeluarkan mangkuk untuk kalian isi. Aku hanya minta itu.”
Seseorang mengantarkan makanan dan minuman untuknya “Kuharap aku tidak akan menikmati semua ini lagi!”
“Kenapa Tuan, apakah makanannya tidak enak?”
“Bukan apa-apa.” Tuan tukang cerita menghabiskan semua kemudian pergi. Punggung bungkuknya tidak lagi terlihat setelah keluar dari kedai. Ia sudah cukup rehat di desa itu, ia kembali mencari apa yang dia inginkan. Dan orang-orang, kembali ke pekerjaan masing-masing. Tidak ada lagi yang mendengarkan cerita, dan kedia juga seperti semula, sepi tanpa pengunjung.
***
“Apakah tuan tukang cerita masih berkeliling dan membacakan cerita, Ma?”
“Tentu Nak, ia masih berkeliling tapi bukan untuk bercerita. Itu ia lakukan ketika berehat saja, setelah itu ia akan mencari.” Ibu itu mengelus kepala putranya.
“Kenapa ia ingin sekali bertemu dengan kematian, padahal setiap orang ingin hidup lebih lama.”
“Entahlah Nak, hanya ia yang tahu.” Ibu itu mengecup kening putranya, menyelimutinya dan lampu dimatikan. Putranya mulai tertidur dengan bayang-bayang ia akan bertemu dengan tuan tuang cerita untuk menceritakannya sebuah cerita.
Prenduan, 09 September 2018.

Mattali

Oleh: Zainul Muttaqin*

Belum genap satu tahun ketika Mattali angkat kaki setelah ribut besar dan istrinya berkata lantang sampai gendang telinga laki-laki paruh baya itu hampir pecah, “Tak Lake Ongghu Bekna Kak[1]. Ceraikan saja aku!” Bagai dirobek harga diri Mattali mendengar istrinya berkata, tinggi suaranya, tepat di depan wajahnya.
Bulan sepenuhnya tenggelam ke dalam pelukan awan. Wajah Mattali menegang. Kerut-kerut di dahinya membentuk garis meliuk-liuk, seperti terombang-ambing. Laki-laki itu mengambil napas dalam-dalam. Tirai jendela disibak oleh tiupan angin. Mattali menelan ludah berkali-kali.

“Apa tidak ada cara lain selain bercerai?” Mattali menekan suaranya.

“Tidak!” Istrinya memandang wajah Mattali. Laki-laki itu mengatur laju napasnya. Dipandanginya wajah istrinya, tampak berharap cepat-cepat Mattali menghilang dari pandangannya.

Belum sempat Mattali mengucap cerai, istrinya berujar, mendahului Mattali, “Kita bisa rujuk setelah kau benar-benar lake[2].” Binar-binar di mata Mattali terpancar selepas istrinya berkata seperti itu. Pelan-pelan ia mulai mengulas senyum.

Jarum jam berhenti tepat di angka dua belas dini hari. Dengan gemetar, terbata-bata, Mattali berujar, “Aku ceraikan kau,” berderai air mata laki-laki paruh baya itu. Markoya menggeleng kepala. Markoya menutup pintu kamar dan membiarkan Mattali berdiri di ruang tamu dengan perasaan tercabik-cabik. Mattali mencangkuli dirinya sendiri.

Duduk di kursi berwarna biru tua, dengan cat yang mulai mengelupas karena usia. Mattali berpikir sesaat. Dia mencari jalan keluar atas persoalan rumit yang tengah menimpanya. Sudah tidak tahu berapa batang rokok yang ia isap. Dengkur Markoya dari dalam kamar mengusik pikirannya, ingin ia seranjang lagi, tapi buru-buru Mattali mengucap istighfar .

Detak jarum jam bergeser begitu lambat dirasakan Mattali. Laki-laki itu mengelus dada. Saat asap rokoknya lenyap, Mattali menampari pipi dan kaki. Nyamuk hutan dari belakang rumah ternyata berusaha menghisap darah laki-laki kekar itu sejak tadi. Puntung rokok di dalam asbak bergelimpangan.

Bangun pagi-pagi sekali Markoya sudah tidak melihat Mattali di ruang tamu, di kursi lapuk itu. Bau keringat Mattali juga tak tercium. Markoya berjalan ke halaman depan rumahnya, menarik napas dalam-dalam, melegakan dada ringkihnya yang semakin menyempit. Kicau burung di atas pohon tarebung[3] mengingatkannya pada Mattali.

Sampai perceraian itu terjadi belum sanggup Mattali memetik bunga indah yang tumbuh di pangkal paha Markoya. Laki-laki itu menjadi tak lake menghadapi istrinya yang bersedia bunga mekar di selangkangannya dipetik oleh Mattali. Berkali-kali Mattali berusaha, berkali-kali pula kesia-siaan itu terjadi pada dirinya. Itulah yang mendasari Markoya minta dicerai kepada Mattali.

Sekalipun Mattali tidak menceritakan perihal rumah tangganya yang tercerai-berai, tapi warga Tang-Batang sudah bisa mengendusnya. Orang-orang memang berusaha mengetahui, maksud Mattali berada di rumah ibunya, sepanjang waktu, sejak satu minggu lalu. Melintas pikiran curiga, tepatnya bertanya-tanya, apa penyebab Mattali menceraikan Markoya, kembang desa yang dulu diperebutkan semua laki-laki?

Berderet ikan-ikan dijemur di halaman. Amis menyeruak. Perempuan-perempuan itu duduk memanjang dengan rambut terlepas digerai sebahu, mereka bergunjing sembari menisik kutu. Diam-diam mereka mencuri pandang pada Mattali. Laki-laki itu duduk di beranda rumah, menghisap batang rokoknya, dengan secangkir kopi di atas meja.

“Karena Mattali tak lake ” kata perempuan gempal setelah sebelumnya melirik ke arah Mattali.

“Jadi gara-gara itu Mattali cerai dengan Markoya.”

“Gara-gara apa lagi kalau bukan itu.”

“Mestinya Mattali sudah siap jamu sebelum menikah. Kalau seperti ini kan malu.”

“Malu sama siapa?”

“Malu sama semua orang.”

“Untung suamiku lake.”

“Ya jelas suamimu lake lah, anakmu sudah tiga. Apalagi aku.” Kelakar tawa meledak di halaman. Mattali menoleh, melihat pada perempuan-perempun itu.

Mendadak degup jantung Mattali melaju lebih cepat. Ia merasa perempuan-perempuan itu tengah mengunjingkan dirinya. Sempat ia bersitatap dengan salah satu perempuan itu, tersenyum mengejek, merendahkan. Gegas Mattali masuk ke dalam. Terlampau sakit hati Mattali. Laki-laki paruh baya itu mengambil napas dalam-dalam, kemudian bersama napas yang ia lepas, tangannya memukul meja hingga cangkir kopi di atasnya bergelinding ke lantai, pecah.

Ingin dimakinya perempuan-perempuan di taneyan lanjang[4] itu. Mendidih darah Mattali. Laki-laki itu meludah, membuang rasa kesal terhadap perempuan-perempuan itu. Ia berdiri di ambang pintu, berpikir ulang, menimbang-nimbang, apa melabrak perempuan-perempuan itu akan menyelesaikan persoalan? Lagi pula, ia tahu, perempuan-perempuan di Tang-Batang gemar berguncing, atau memang demikian perempuan kebanyakan.

Khawatir malah akan dipermalukan di taneyan lanjang itu oleh perempuan-perempuan yang duduk memanjang, menisik rambut, disertai berbagai ragam gunjingan. Mattali mengurungkan niat. Menutup pintu rumahnya kembali. Ia mengatur alur laju napasnya. Asap rokok menyumbat tenggorokannya.

Mattali baru ingat, ternyata Markoya pernah bilang, “kita akan rujuk kalau kamu sudah lake´ ingatan itu mampir dalam tempurung kepalanya tepat ketika laki-laki paruh baya itu berusaha meredam amarah. Dan perempuan-perempuan itu sudah lenyap di taneyan lanjang. Mattali memandang penuh selidik, takut mendadak muncul perempuan-perempuan itu di hadapannya. Bergegas ia melewati taneyan lanjang, tempat perempuan-perempuan itu semula menisik kutu.

Dalam remang sore hari, lepas maghrib Mattali melangkah begitu lekas, melewati gang-gang rumah yang sempit. Ia terus melangkah untuk segera sampai di rumah Matrah, tukang pijat di desa sebelah, juga seorang dukun yang sering dimintai tolong bila berususan dengan kelelakian. Keringat membasuh tubuhnya.

Mattali kian mempercepat langkahnya. Tak menjawab apalagi sekadar menoleh ketika seseorang menyapanya dari teras rumah. “Tak biasanya Mattali acuh seperti itu,” bisik lelaki di teras rumah itu. “Paling-paling karena orang-orang bilang tak lake ia jadi begitu Kak,” sambung istrinya. Pasangan suami-istri itu saling tatap, kemudian secara bersamaan mengangkat kedua bahunya.

Setelah susah payah berjalan kaki, Mattali tiba di halaman rumah Matrah, lelaki yang dikenal bisa mengatasi segala persoalan kelelakian. Seorang lelaki tua, rambutnya hampir putih seluruhnya, memegang tongkat di tangan sebelah kanan berdiri di depan kobhung[5] tempat Matrah biasa menerima tamu-tamunya. Lampu teplok meliuk-liuk, bertahan dari tiupan angin.

“Kamu mau pijat?” Matrah mengajukan pertanyaan. Ia mengambil minyak urut yang diselipkan di tiang kobhung.

“Tidak Ke[6]” Mattali mengulas senyum, disertai gelengan kepala.

“Lalu?” Laki-laki tua itu memburu jawaban dari Mattali.

“Saya tak lake. Beri saya jalan keluar. Karena ini, saya sampai cerai dengan Markoya.” Mendengar penjelasan itu, Matrah mengangguk-anggukan kepala. Matrah keluar sebentar dari dalam kobhung dan kembali dengan membawa beberapa butir telur dalam genggaman tangannya. Mattali mengernyitkan kening, seolah ingin bertanya, apa maksudnya?

“Saya yakin kamu belum jamu telur ini sebelum menikah,” Matrah menunjukkan tiga butir telur kampung ke hadapan Mattali. Laki-laki setengah baya itu menggeleng.

“Dengan telur kampung ini. Insya Allah kamu akan lake.”

“Kenapa tiga butir Ke?” Mattali mengambil telur itu dari genggaman Matrah.

“Saya tidak tahu pasti soal itu. Yang jelas harus berjumlah ganjil. Barangkali karena Tuhan suka yang ganjil-ganjil.”

“Apa ada campuran lain selain telur ini Ke?” Mattali tidak sabar ingin membuktikan khasiat telur ayam kampung. Laki-laki itu menyesal, kenapa dulu, sebelum menikah ia tak bertanya perihal ini. Mana mungkin Mattali sempat bertanya tentang apa-apa yang perlu dipersiapkan sebelum menikah. Pernikahannya dengan Markoya terjadi secara mendadak, berlangsung cepat begitu saja, tanpa persiapan.

“Nanti saya beri tahu,” Mattali mengangguk. Beberapa menit kemudian, Matrah berbisik di telinga Mattali, mengatakan telur ayam yang digunakan untuk jamu adalah telur ayam kampung dan dengan jumlah ganjil juga dicampur bahan-bahan lain. Mattali membayangkan wajah Markoya, ia yakin Markoya akan terpuaskan di atas ranjang.
“Karena telur kampung itu, anak saya dua belas. Sekarang ini, saya juga punya cucu belasan.” Tawa Matrah meledak disusul derai tawa Mattali.

Tiga minggu setelah Mattali minum jamu dicampur telur tiga butir, sebagaimana anjuran Ke Matrah, birahi laki-laki itu meronta-ronta, minta digesek batang kemaluannya. “Saya sudah lake.” Gumam Mattali dengan binar-binar kebanggaan di matanya. Tanpa pikir panjang, ia berkunjung ke rumah Markoyah, berniat rujuk, siap membuktikan khasiat tiga butir telur pada perempuan cantik, rebutan lelaki kampung itu.

Mattali berdiri dengan mulut ternganga, wajahnya berubah seperti selembar kain kafan, begitu melihat Markoya digandeng laki-laki keluar dari dalam rumah. Matanya terpaku pada laki-laki yang mengalungkan tangan pada bahu Markoya. Berusaha meredam golak di dadanya, Mattali menelan ludah.

“Saya sudah menikah, kita tak bisa rujuk. Dia benar-benar lake tidak sepertimu!” kata Markoya sembari tersenyum memandang laki-laki di sampingnya, suaminya itu.

“Siapa dia?” Mattali menekan suaranya.

“Dia anak Ke Matrah. Dua hari lalu kami menikah.” Jantung Mattali terasa akan lepas dari tangkainya begitu Markoya menyebut nama Matrah. Huh! Gigi Mattali bergemerutuk. Ia melenggang pulang membawa kesedihan. Terus bergegas lekas langkah Mattali, dan ia seolah begitu berhasrat mencincang tubuh Matrah, lelaki tua yang baru saja mengajarinya cara meramu butir telur ganjil agar menjadi lake.

Pulau Garam, 2017

Catatan:
[1] Tak Lake Ongghu Bekna Kak : sungguh tidak jantan kamu Mas (ucapan ini dimaksudkan kepada lelaki yang tidak dapat memuaskan istrinya di ranjang).
[2] Lake: jantan, merujuk pada kelelakian, juga bisa dimaknai laki-laki.
[3] Tarebung: pohon siwalan
[4] Taneyan lanjang : halaman panjang
[5] Kobhung : berbentuk bangunan berkolong dengan kontruksi kayu jati, atap emperan di depannya terdapat lantai kolong yang lebih rendah dari lantai utamanya, dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Hampir semua bangunan di Madura memiliki kobhung. Letaknya rata-rata di sebelah barat. Kobhung berfungsi sebagai tempat peristirahatan, berkumpulnya kerluarga dan kerabat, juga sebagai tempat menerima tamu dan beribadah keluarga. Kobhung ini juga sebagai tempat pewaris nilai-nilai tradisi luhur masyarakat Madura.
[6] Ke: kakek

*)Zainul Muttaqin Lahir di Garincang, Batang-batang Laok. Batang-Batang, Sumenep Madura 18 November 1991. Menyelesaikan studi Tadris Bahasa Inggris di STAIN Pamekasan. Cerpen dan Puisinya dimuat pelbagai media nasional dan lokal.

Reuni

Isuk uput-uput, warunge Mak Ti dinggeni ebese ojobe Endik, digawe lawetan ketan mendhol.  Antri lek kate nakam, laris pol, biasane jam wolu wis siba. Pekoro ketan mendhol, nakam model opo ae dilakoni. Onok sing mangan ambik ndhodhok, onok sing klesetan ndik terase bedake Wak Adenan.

Sing kanyab yo nakam ambek methakol ndik brompit. Durung sing nyeleh lungguh ndik kaceb.  Lek onok sing kate ngaceb yo terpaksa handip ambik moloh-moloh.  Paitun seneng tail wong-wong iku, ambek ndepis nakam cedek koraan.

Dino iki gak sepiro emar.  Gak suwe onok libom minggir.  Suarane dang dung dang dung gemblodak musike gak jelas. Onok lek wong omil mudun ambek modele koyok mari mbyak-mbyakan, mari kubam lek e sewengi, padahal ketoke wis umur kabeh. Wadow eman sing nggawe jas ketoke mari hantum.  Pesen ketan, kopi, mendhol disaut ae clemat-clemut sampek dipaido ambek Lek Rokim.

“Mas, ojok dientekno mendhole, lha engkuk langgananku liane lak gak uman,” jare Lek Rokim ambek gregeten.  Ketoke sing situk dikandani mlorok ae.  Gak suwe onok sing oket nggawe brompit lawas, suarane knalpote gak karu-karuan, iku brompit opo selepan, sik sula suarane mesin jait.

“Ente suwene, nang di ae Jon?” nawake nokat.

“Aku lali, kadung uklam ate mrene, dadak aku lali lek nggowo brompit. Kadung mlaku adoh … wes ayas kelab nang parkiran, karek brompitku thok, dilanggit ambek tukang parkire, diait! Khatik lawange dirante, wis maleh ngrayab wong kacepan tak kon ngewangi ngangkat,” jare ambek gobyos, praene koyok mari halak neam, ambek atame harem. Kabeh ngakak, Lek Rokim kekel.

“Lek Kim ayas ipok, sing sangar.  Mendhole siba yo?” jare Jon ambek njagrag brompite gak iso-iso.

“Awakmu mari lapo Jon? Iso gak karu-karuan ngono,” jare Lek Rokim sik ambek ngentekno ngguyu. Jon ketoke njae.

“Iki … luwak-luwak iki liane ngejak reuni ae.  Mosok ben ulan reuni.”  Nawak-nawake mek ngenem ae. Jon terus ngroweng.

“Iki terakhir yo rek. Kadit reuni-reunian.  Mosok kaet biyen pancetae.  Foya-foya, astep … gak jelas.  Acarane mek jor-joran ayak.  Ente enak Med, kibrap kanyab, sukses ente.  Tapi itungane yo kadit. Lha ngene iki, ente mulai SMA sampek kewut yo pancetae, yo gak waras-waras. Koen yo ngono Kris, jare halokese es telu, dadi pejabat, lhok en … pantesa koyok ngene iki, hantum ndik parkiran.  Gak isin ta.  Ayas ngroweng iki guduk pekoro opo.  Ente-ente nawak ayas, brathes. “ jare Jon.

Paitun rodok kaget. Padahal biyen Jon korak pol, arek-arek iki ganok apa-apane.  Lek Rokim ngungib, ethok-ethok  sibuk ngelapi lepek. Ketane Jon sik wutuh, mendhole gak diothek blas. Jon tambah ndandi.

“Koen pisan oo ngono Yok!  Ente senengane ngacarakno gendhakan. Prasamu aku kadit itreng ta.  Meh ben ulan ente nggae acara di Jogja, Arabayus, Atrakad, ndek Ilab, kadang nang singgapur opo hongkong.  Sing kegiatan sosialah, jalan sehat, opo sing kadit mbok acarakno.  Ero aku. Iku mek ketoke.  Wong tibae mek gawe ngacarakno gendhakan arek-arek.  Ente ate ngaling? Onok sing crito nang ayas. Kenyataane lak ngono se?” Jon ketoke tambah muntab, tail sing dijak omong dadak tambah keturon kabeh mengkurep ndik mejone warung. Mek Yoyok sing nyelek todes oker ambek grogi dipenthelengi Jon.

Jon ngadeg ate ngaleh.  Yoyok sik ketenggengen.

“Lek Kim, orip? Tak rayabe ae.  Engkuk lek bekakas-bekakas iki gak tangi-tangi, guyangen ae ambek banyu koraan iku, Ndi pesenanku maeng?” jare Jon ambek ngaleh terus nyangking kresek bek bungkusan ketan. Yoyok gak dipamiti.

Mari sarapan ketan, Paitun uklam ambek sik heran mikir Jon. Ndik enggok-enggokan Paitun gak sengojo ngwasno plange panti asuhan ndik ngarepe gang.  Wah, tak reuni pisan wis batine Paitun.  Suwe gak mrono, Paitun biyen gelek rudit kono, koyok hamure ewed.  Omah lawas tinggalane londo. Clengak-clenguk ndik ngarepe lawang, Paitun kaget.

“Lhoo… Tun, mlebuo. Yoopo Tun kok gak tau mrene,” tibae suarane Bu Tin.  Asline jenenge Prihatiningsih, ondor wis kaet jaman biyen, tapi sik sumringah, praene ketok lek bekase nom-nomane sinam. Jare wongwong bojone ilang ndik Timtim.  Paitun ublem, koyok helom rasane.

Sampek ruang tengah, atine tratap ndelok arek licek-licek kembul mangan ketan. Bu Tin metu omongan.

“Yon gene iki Tun, alhamdulillah onok sing digae sarapan.  Digawakno Jon maeng.”

Durung mari trenyuh atine, sak klerapan, tekok cendelo, ndik gange omah ketok Jon mberesi noto blonjoan ambek sayuran ijo sik seger ndik gronjong kayu mlagrang brompite.

“De, budhal sik yo!” Jon pamit ambek nyetater brompite.

“Yo le, tak dungakno rejekimu akeh yo,” Bu Tin nyauti.

“Alhamdulilah Tun, untung direwangi Jon.  Aku wis tuwek, jathuko yoopo aku ngrumat arek-arek iki.  Sak jeke bojone mati, kenek tipes, Jon brobah Tun.  Anake mek situk, wedok.  Melok bojone, dtugasno ndik Sulawesi,” Bu Tin crito dowo.

Ambek ngrungokno Bu Tin, Paitun ambek mbrebes mili kedelengen tekok njero ndelok lawang ngarep, ndik njobo sinare srengege isuk koyok slambu nyorot-nyorot ijone sayur mayur sing nggrumbul digonceng Jon. Koyok ijone atine Jon.

GETHUK

GETHUK

kae-kae rembulane… yen disawang kok ngawe-awe

koyo-koyo ngiling ake, konco kabeh ojok turu sore-sore…

Hmmm… sopo nyetel lagune Waljinah iku, batine Paitun. Merdu hare. Diurut ambek Paitun, tekan endi suarane radio iku. O, lha iku opo, golongane omplong nglumpuk ndik warunge De Patimah. Lhuk… ngipok sanap, loooo… yo kolem ae. Asaib, Bendhot congore pancet ae.

“Lhaa iki opo rembulane… rembulan grimpis rawuh. Lho… kok tambah krowak wkwkwk…,” jare Bendhot ambek gaya Arafiq, setengah ndhodhok, komprange suwek, sepatune jenggel tapi lerekane dhedhel, tungkake rodhok njepat. Oala, repot mungsuh boipung iku, lawas pisan. Babah, aco ae, batine paitun ambek langsung ublem lungguh dingklik cidek pawon.

“Kopi a, Tun. Sik cek umep. Koen wis ero a, mariki onok pilian erwe. Arek-arek elek iki maeng rasan-rasan, Tun. Gak trimo jare, mosok wedok nyalon ketua erwe. Masiyo aku wedhok ngene, lek nandangi koen ae le… le… sik kuat. Tak gibeng munyer koen, Ndhot… ” jare De Patimah ambik gaya ngejeb.

“Lheee, sik ta de. Lek jaman sampeyan tak akoni. Kodew saiki… sepurane, kulite sulum-sulum, tangane alus-alus. Lha engkuk gelem ta kolem kerja bakti, onok uler opo cacing ae iso gutap menek genteng barang. Osi-osi akeh macake timbang idreke. Durung biaya klambine, nang salon osi isuk sore.

Mosok iso alise menclek thithik ae… Durung giwange, mas-mas ane. Kene lak durung ero, asline yoopo, judes opo kadit, iso masak opo kadit. Lak ngono a, Mbing, ya?” jare Bendhot setengah nggudo De Patimah. Wonge mek plethat-plethot, ambek nggoreng tahu. Jarno ae, batine Paitun. Suwe-suwe Bendhot iso ditapuk sothil. Hadak Mbak Riana ublem ate golek nakaman ketoke, tibake kadit, nempil endhog. Lhuk, emar iki mariki.

“Yohh…. tibakeh moroh mek isone nyeplok, ndadar, opoh nggodog enhog. Teter edhog ae lak iso bonongen ta rakyat koyok awake deweh iki… wkwkwk… kuk…” jare Bambing keselek. Lho… ooo tibake genthong iku mojok nendes selonjor ambik nggiling jemblem. Kapok a keselek.

“Sampeyan nyemoni tah? Ojok ngremehno wong wedok sampeyan. Paling ditinggal telung dino ae sampeyan iso seser koyok kekean,” jare Mbak Riana. Mbak Riana ancen ngono iku, lek ngomong los kathik lincip. Kabeh iso kemekel.

“Iku lho masiyo wedok yo sekolae yo dhuwur. Sampeyan, opo? Esde ae paling biyen mbayar lengo gas,” jare Mbak Riana ambek kudu ngguyu.

“Gak Na, arek iku biyen mbayar bothok. Biyen sekolae ngodok iku, mangkane deloken sampek saiki sikile bubulen,” jare De Patimah kontan nyemes nemu stan. Bambing iso nggegek hare.

“Ndhot… mulai pisik guyoneh Ndhot, pisik… Yoopoh om… om,” jare Bendhot prengesan. Mbak Riana sik gak trimo. Jon ate nyaut malih kadit odis.

“Jagomu sopo se? Wong lanang-lanang sing lawas-lawas iku a? Podho dene iku. Aluk wong iki sik sekolah. Dalan jenglong gak karu-karuan, wis pokoke sembarang koyoke gak jelas karepe. Sak mono suwene mbangun opo… deloken kampung iki. Tapi lek dikandani wong-wong jare pengkuh, njaean. Ngomongo taman age? Tak akoni apik ancene. Tapi, putune Bu Cip sing ndik luar negeri iku, pas teko mrene tau crito. Gak iso lek mek niru thok. Iyo, ndik luar negeri kono, srengege diluk, udan ganok, lalu lintase gak was wes. Ndik kene dingklik jejer turut embong, sopo ate panasan ambek udan-udan, ate mepe karak le’e. Wayahe lak dikei yup-yupan. Seneng lek onok warga disrempet montor pekoro ate mepe karak? Lek Paitun ngono menter…” jare Mbak Riana ambek kekel. Lhee… malih awak-awakan kenek. Repot pensiunan penyanyi iki. Mbak Riana iki biyen penyanyi, tapi akeh diurake timbang dikeplokine. Lek nyanyi enak, cumak kene sing gak osi ngrungokno. Lapo nyandak-nyandak ayas barang.

“Maringonoh… lek ingeb gaweh pangku-pangkuan, ibuk-ibukan hadak wkwkwk… ” jare Ngimbab ambek terus ngeles soale disawat serbet ambik Mbak Riana. Ngono serbete yo langsung dikalungno koyok anduk. De Patimah kekel sampek lali, ndlandapan mateni kompor, ngenget jangan sampek meh sat duduhe. Mblendrang wis, merdu, batine Paitun. Wonge ngwasno ayas, kroso paling.

“Kudune, ancen lek golek pemimpin iku sing watek e jelas. Kudu mikirno yoopo warga kampung iki cek nyaman urip ndik kampung iki. Dalane korengen, lhok en, banjir gak mari-mari. Maksude, mbok mikir sing penting-penting sik ngono lho. Bingung ngetop ae… Kudune lak ero. Mikir… om. Ojok warga dijejeli dorpres ae. Bendino macet iku lak yo kudu dipikirno. Diceluk kabeh, dijak rundingan yoopo carane ngatasi masalah-masalah sing penting dhisik. Kadit bendino wong lungguh taman, yo gak kabeh, tapi sobo embong lak sak wayah-wayah. Trus… slender sing tuku laham iku, em em an, dilkuk lak memet ta gawe nyaponi dalan sing udune njebrot kabeh, ” jare Jon metuwek. Kabeh meneng, et… golek bahan paling.

“Lek aku kok sir sing iko se. Rasan-rasane onggot, rodok iso dijagakno. Jarene… tembung jare…” jare Bendhot ambek umek saleg ipoke. Paitun ngguyu mbatin, mangkane wanyok kok ireng, lha kopi karek lethek ae sik dietet diombe. Wisa, lethek e numplek nang irunge. Gak enthos. De Patimah langsung mlorok.

“Jare sopo, selama ndik erwe, ayas gak tau ero lapo. Podo ae, selama iki ketoke busung. Situke pencolat-pencolot, gak jelas. Gandengane yo ngono, pirang periode dadi petinggi yo … koyoke gak lapo-lapo. Gak mletik blas. Kanyab sing gak ero. Masiyo ketail kalem ngono jare kera-kera, mekitik, gayae jare yoopo ngono, meksoan,” jare Endik.
Paitun kaget, lhuk wajan mbeluk. Gosong wis. De Patimah spaneng, warunge mbuleng.

“Wisss… buyaro rek, nggedabrus ngrasani wong gak mari-mari. Kemeruh kabeh. Buyar…buyar! Kene… kene… prei bon… ojok kakean alasan, ayo!” jare De Patimah ambek malangkerik narget.

Hadak Bambing moro gutap mencolot utem. Dingklik e osi malik hare.
“Jiait, lali aku mapak ojob. Ajurrr… De, aku melok Jon. Rayab en sik, pren,” jare Bambing merat eskip. Jon mek getem-getem.

Lho, ngono ndik ngarepe Mbak Tini klepon, halabese warung De Patimah sik kober ae Bambing nggudho Mbak Tini.
“Gethuk asale soko teloh… lek wis gathuk ojok nggolek pekoroh…” jare Bambing dimanis-manisno.

Sak ketoke, Mbak Tini nyaut klepon disawatno, plek… osi pas pipine Bambing. Ngono yo terus diemplok ambik iral. Repot mungsuh rantang iku. (dur)

Ra, Berkunjunglah Ke Gondanglegi Sore Hari. Puisi-puisi Mochammad S.

Ra, Berkunjunglah Ke Gondanglegi Sore Hari
Aku percaya Gondanglegi tak akan habis begitu saja sebagaimana yang kau sangka

Sejak hari masih dini, Pasar di pertigaan besar sudah meriuhkan dialek-dialek Madura

Kegaduhan orang-orang berlalu lalang tetap terpekak abai pada kelurusan jalan hidup mereka

Meski sebentar lagi mikrolet oren akan semakin ditinggalkan dan hanya sepi yang tersisa untuk diantar kemana-mana

Walau romantisme kondektur dan bocah-bocah sekolah sudah tak bisa dinikmati cuma-cuma

Tetap saja aku yakin jika kehangatan tanah air kecil ini tak akan dingin begitu saja

Ra, berkunjunglah kemari sore hari

Ku dengar kota sudah membesarkan segala mu dan sebagai orang desa aku tak akan merayu-rayu bolos mengaji lagi

Aku juga kelewat sungkan mengulangi balapan lari kearah bantalan lori

Atau beradu cepat membariskan paku dudur dan logam kuning kerapan sapi

Toh, lindasan kereta-kereta tebu sudah tak pernah kembali

Truk pemakan aspal kini lebih disayangi Pabrik Rajawali

Namun tetap saja kau perlu menyambangi masa kecil yang enggan dewasa -yang belum dilindungi rusuk sesiapa- ini

Maka kunjungilah Gondanglegi kala sore hari, Ra

Akan ku lagukan syair harian ditempat ku berlindung dari rindu yang bertambah
purna, sepi yang nyata fana, dan cinta yang tergesa-gesa

Semoga suara ini membasahkan kenangan kita, membahasakan nada-nada yang asing di telinga kota, doa-doa penghangat Gondanglegi saat senja

kalamun qodimun la yu mallu samauhu, tanazzaha an qouli wa fi’li waniyati. bihi asytafi minkulli dain wa nuruhu, dalilun li qolbi ‘inda jahli wa khairoti. fa ya robbi matti’ni bisirri khurufihi. wanawwir bihi qolbi wasam’i wa muqlati. wa sahhil alayya khifdohu tsumma darsahu. bijahin nabi wal ali tsumma shokhabati
Albar,3/9/18

Menyaksikan Cinta Sekeras Batu Dilapuk Rindu
Dalam waktu dekat langit akan jatuh

Kota dan kata-kata yang mengangkuh adalah pilar yang rapuh

Ia pamit beli kaporit sekalipun sadar hanya aroma kalianlah satu-satunya pembening dadanya yang keruh

Sudah simpan saja sesal mu yang saling susul itu

Ia cuma memeperagakan gaya bercanda ala tuhan

Malang, 27 januari 2018

Di Watu Kelir
Di watu kelir

Sementara Gamelan dimainkan, Jiwa yang nihil merasa terpanggil

Kidung menuntun dimana seharusnya jejak ditapak
. Di tepian tali arus kali muncar atau di rentang cairan api bantal

Di watu kelir

Pagelaran terus berjalan

Kisah pasrah sebongkah waktu atas sentuhan dalang peradaban

Lakon bergantian di hadirkan

Ditancap berjajar diantara renik radiolaria dan rijang

Di sisi lain watu kelir

Ku lihat bayangan mu menari syahdu di muka air, mengikuti tembang mencari hilir

Bagaimana jadinya ujung cerita bila peran mu urung jadi nyata?

Oo rahasia, makna yang menolak disingkap masa

Yugjo, 4 april 2018

Mengantar Puisi Untuk Kekasih
Kau memuji langit dan ia selalu tahu apa yang kau perlu

Kemarin ia adalah dermaga yang sepi untuk gundah yang kau tambatkan

Lalu riak tenang kasihnya mengantarkan doa dan dosa mu berlayar mencari kedamaian

Sekarang ia embun jatuh dipucuksujudmu

Ubun-ubun mu yang kosong jadi penuh

Lapar yang melingkar tak membuat beningnya keruh.

Ada kesederhanaan yang ia rangkai dari kerumitan-kerumitan surga

Kelak langit akan kau angkat saudara

Itu terjadi setelah sunyi menyulap hal-hal kecil jadi kebesaran untuk apa saja

Itu akan terjadi saat puisi ini sampai di pemberhentian terakhirnya, ufuk kalbumu

Warung I, 26 februari 2018
Jika Kita Adalah Jarum Merah, Ra

Jika kita adalah jarum merah, Ra

Seumpama bocah TK berkejaran mengambili angka

Mengitari waktu yang melulu jatuh di dinding beranda

Hanya pada jarak utuh kita beradu sua

Karena poros yang membagi, maka berputarlah rindu disana

Bukan

Aku tak hendak mengeluhi tuhan

Ku rasa ini bukan ujian

Yang jadi persoalan bukan mengejar detik-detik mu, Ra

Itu kemustahilan belaka

Anugrah yang tak ingin ku cegah adalah kita berdetak untuk setiap nafas yang sama

Albar, 8/10/18

Mochammad S.
Penjaga Warung Kopi Albar Kota Malang.
Jl.Mertojoyo Selatan 22b Merjosari Lowokwaru Kota Malang

Perempuan – perempuan

Ilustrasi. (Anja Arowana)

Oleh: Kartika Demia

Ketika Alene van Nijenroode berdiri di pucuk jendela dengan cucuran air mata, Gritje mencoba meraih tangannya, mengajaknya kembali. Gadis bergaun silk duchess sewarna gading itu putus asa, jemari kakinya gemetar berdiri melawan angin dari lantai tiga. Bagai menginjak pucuk duri yang bisa runtuh kapan saja.

“Kumohon, jangan melompat. Kau harus memikirkan anakmu,” Gritje memandang perut Alene yang membulat sempurna. Dari balik bahu-bahu yang mengerumuni ruangan itu, di barisan belakang tampak seorang perempuan mengelus perut yang sama besarnya, matanya buram oleh selaput air mata yang membayang.

“Karena anak inilah aku ingin mati!” Teriakan Alene itu mampu membuat Gritje mundur selangkah, membuat wanita paruh baya itu diam. Para perempuan yang mengerumuninya, memanggil-manggil namanya untuk segera kembali kepada mereka. Bibir Alene bergetar, “Lebih baik aku mati daripada melahirkan anak dari keparat itu!”

Sedetik setelah gadis itu berteriak, sebuah letusan terdengar. Para perempuan itu sadar bahwa sebuah peluru tiba-tiba menembus kepala Alene. Serta merta tubuhnya jatuh dan terhempas ke tanah. Dari bawah sana, berdiri angkuh Mayor Sabarudin dengan senapannya, “Siapa lagi yang mau mati?”

***

Sebelumnya gedung itu adalah villa bupati Belanda, terletak di dataran tinggi Tretes dengan pemandangan seluruh penjuru Kota Mojokerto yang dapat terlihat dari sana. Saat Sabarudin menjabat sebagai Kompol Tentara Keamanan Rakyat tentu punya wewenang untuk menghabisi keluarga si bupati. Lelaki keturunan Aceh itu menyulapnya menjadi wisma bagi harem-haremnya. Pada ruangan berkorden kain brokat, cat putih menyaput seluruh dinding, dengan beberapa jongos pribumi dan tentu saja pasukan Sabarudin selalu siaga menjaga tempat itu agar tak ada yang dapat keluar barang sejengkal pun.

Malam itu tentu saja lebih kelam dari sebelum-sebelumnya. Para none Belanda masih berkabung. Gritje menyulam mantel dari benang wol warna merah, di sisinya gadis cilik berumur dua belas tahun duduk khusyuk memandangnya bekerja. “Apakah kau masih takut?” sang ibu bertanya.

Gadis itu tak menjawab, lekas Gritje meraihnya. “Lihat, Ibu membuatkan mantel untukmu.” Senyum wanita itu mengembang meyakinkan anaknya bahwa semua akan baik-baik saja.

Saat itu seorang perempuan dengan rambut sewarna tembaga langsung berdiri, “Kalian masih bisa tersenyum?” mata perempuan itu menyala-nyala. “Setelah kematian Alene, dan kau bilang semua akan baik-baik saja?!”

“Marien, aku mohon …”

“Cukup Gritje! Aku sudah muak.”

Ada emosi yang meluap-luap dari wajah Marien, kulit pucatnya seketika memerah marah. Bayangan suaminya ditembak mati oleh Sabarudin masih terngiang di kepala. Apa yang dimilikinya semua dirampas. Kariernya sebagai dokter yang bermukim di sudut Kota Yogyakarta kini berupa kenang. Setiap kali Sabarudin selesai menidurinya, perempuan itu selalu menggosok semua tubuhnya hingga merah. Tubuhnya seolah-olah berubah sangat kotor dan hina. Ia ingin mati saja. “Ada benarnya apa yang dilakukan Alene,” ucapnya lirih lalu duduk menyembunyikan matanya yang berkaca.

Ucapan itu membuat Gritje menatapnya nanar, ibu itu lantas memeluk sang anak. Dalam benaknya ia membenarkan semua ucapan Marien. Takdir mereka sebagai budak nafsu bagi mantan Shodancho itu tak dapat terelakkan. Gritje mengantarkan anaknya ke ranjang, menyadari wajah si anak yang semakin tirus – tak ada kebahagiaan. “Ibu, kapan kita pulang?”

Dengan kecupan di kening yang seketika menghangatkan rona si kecil, sang ibu berkata seperti setiap malam-malam sebelumnya, “Tidurlah. Besok kita pulang.”

***

Esoknya sebuah keributan terjadi di wisma harem. Perempuan dengan perut besar berumur sembilan bulan tampak mengaduh kesakitan. Air ketuban telah pecah, membuat panik siapapun yang melihatnya. Wajah Gritje tegang dan segera mencari Marien. “Ibu, aku melihat Marien di dekat dapur.” Si gadis menyadari ibunya yang kelimpungan.

Sekonyong-konyong Gritje berlari menyongsong dokter itu. Dilihatnya Marien minum teh di antara meja dapur, saat itu ada seorang perempuan Jawa sedang mencuci piring. Gritje tak melihat mereka bercakap atau apa, tak menggubris pula apa yang sebenarnya dilakukan Marien di sana. Dengan napas satu-satu, Gritje berkata bahwa seseorang akan segera melahirkan. Namun dokter itu bergeming, tak kuasa menambah satu nyawa lagi di rumah ini. Dalam pikirnya, semua itu hanya akan menambah kesedihan, kehampaan saat semua kebebasan terampas. “Dokter Marien van Aelst?” Gritje menekankan suaranya.

Sejenak Marien menutup mata, lalu iris abunya berkilat memandang Gritje, “Baiklah.”

Para perempuan itu seolah mewujud satu keluarga, memaksa menjadi harem yang setia bagi Mayor Sabarudin. Beberapa masih mengharap kebebasan, seperti perempuan yang berjuang melahirkan anaknya kini. Dalam kesakitan yang ia rasakan, ia mengingat ayah dan ibunya di tanah kelahiran. Sebagai pengajar di Hollandsche Indische, wajahnya sangat rupawan hingga bisa mengalahkan paras ayu putri bupati Sidoarjo yang gagal dinikahi Sabarudin. Benar saja lelaki itu bangga bisa menghamilinya. Serupa memperoleh kemenangan karena kekalahannya mendapatkan putri bupati. Raut congkak Sabarudin ia turunkan pada wajah bayi yang dilahirkan si none Belanda. Seorang bayi perempuan bermata biru lahir ke dunia. Mewarisi alis dan rahang keras milik Sabarudin. Gritje bernapas lega dan segera memandikan bayi berlumur darah dalam gendongan.

Nyatanya, sebagai seorang dokter, Marien tak bisa membiarkan itu terjadi. Tak bisa benar-benar membiarkan seorang perempuan hampir meregang nyawa karena sakit oleh sembilan bulan. Lalu mendadak anak buah Sabarudin datang memanggil namanya dan membuyarkan lamunan. Marien yang belum sempat membasuh tangan dipaksa keluar. Perempuan itu dibawa menuju kamar utama, kamar di mana Sabarudin menunggunya. Di saat-saat tertentu sang mayor biasa mengunjungi tempat ini.

Sebuah ruangan paling besar dari yang lainnya. Paling kokoh jika dipandang. Dengan aroma bunga dari rangkaian mawar dan kembang sepatu di setiap sudut ruang. Gorden putih berenda yang merumbai-rumbai. Dan lampu kristal yang sama klasiknya dengan lukisan-lukisan yang terpajang di dinding. Marien berdiri diam di tengah ruang setelah anak buah Sabarudin menutup pintu. Dari situ Marien tahu apa yang setelahnya akan terjadi.

“Aku rindu padamu.” Ada bau alkohol yang menguar dari mulut pria itu. Matanya jalang menatap lekuk dada Marien yang seolah menantangnya.

Tanpa berkata apa, Marien menatapnya nyalang.

Sabarudin menangkap bercak darah di tangan Marien. “Bersihkan dirimu dulu.” Dengan satu jentikan jari saja, dua orang perempuan pribumi segera membawa Marien ke jeding. Membersihkannya dari darah dan kotoran. Lalu Marien sadar, sampai kapan pun tubuhnya tidak akan benar-benar bisa bersih sekarang. Kotor. Sekotor pikiran si mayor saat itu. Sehina apa yang Sabarudin lakukan padanya setiap waktu. Marien semakin mengamini untuk membenci dirinya sendiri. Lalu angan-angan itu semakin menajam di kepalanya. Sesuatu yang telah ia pikirkan sedari siang saat di dapur. Saat ia mengamati pembantu pribumi yang sibuk di sana. Marien melihat setiap detilnya. Lalu ia kembali ke kamar dengan aroma Sabarudin yang membekas pada tubuhnya. Bau yang membuatnya mual. Ia membayangkan akan mencebur ke lautan alkohol agar tubuhnya steril kembali. Lantas ia meratapi tubuhnya yang ia gosok berulang kali sampai merah di kamar mandi. Dengan keran mengucur deras menyamarkan air matanya.

Esoknya saat matahari menyala nyalang di atas kepala, para perempuan itu melihat asap yang membumbung di halaman. Sebuah jeritan terdengar, dua tubuh menggelepar. Sabarudin menemukan penyusup di daerah kekuasaannya. Dua pemuda Ambon ia tangkap. Lalu tanpa bertanya babibu langsung dibakarnya.

Gritje menutup mata anaknya, melarang melihat kekejaman yang dibuat Sabarudin. Masih mencium samar bau bensin, ketika pintu ruangan harem mendadak terbuka, berdirilah sang mayor di sana. “Aku ingin sesuatu yang lain.” Wajahnya serupa setan yang bisa menggilas nyawa mereka kapan saja. Ia lalu berjalan mengitari perempuan-perempuan itu. Tak ada yang berani memandang matanya kecuali Marien yang menatapnya lurus. Sorot kebencian menyala-nyala.

Langkah Sabarudin berhenti di depan bocah perempuan yang dipeluk Gritje. Lelaki itu meraih tangan gadis kecil yang langsung ditepis oleh ibunya. “Jangan sentuh dia!”

Segera senapan dikeluarkan, membidik tepat pada kening si ibu dan DOR! Tak sempat berkata, sosok yang melindungi anaknya itu terjerembab. Si anak menangis dan berubah menjadi jeritan ketika Sabarudin membawanya pergi. Begitulah Sabarudin dengan kemauannya. Mereka tidak bisa melakukan apapun, perempuan-perempuan itu. Dan tak satu pun menyadari mata Marien yang semakin berkilat.

Ketika matahari telah lenyap, dan berganti malam. Marien mengendap-endap ke dapur. Tempo hari dengan alasan sakit kepala dan secangkir teh hangat yang dipinta ia mengamati tempat itu. Wanita pribumi yang melayaninya tak menaruh curiga saat ia sibuk mengisi kompor dengan minyak tanah. Marien kini dengan jelas dapat mencium bau itu. Dua jeriken besar ia bawa keluar.

Di sisi lain, Sabarudin meninggalkan kerajan haremnya. Menuju Gondomanan bersama sepuluh anak buah kepercayaan. Ketika melewati pepohonan randu pada jalanan menurun melewati bukit-bukit kecil di sekitar Tretes, ia berpapasan dengan salah satu tangan kanannya yang mendadak menghentikan laju truknya. Pada sang mayor ia bicara, pemimpin Laskar Minyak akan segera memenggal kepala Sabarudin jika tidak membebaskan perempuan-perempuan itu.

Sabarudin sekonyong-konyong mengumpat, menggelontorkan satu pelurunya ke angkasa karena kesal, “Tak ada yang bisa merampas harem-haremku, sekalipun Tuhan.” Bersama sepasukan setianya ia meneruskan perjalanan. Meninggalkan bukit, mengabaikan ancaman yang dibawa kaki tangannya. Ia tak tahu pemandangan ganjil di ujung bukit yang ia tinggalkan. Penampakan nyala api di sebuah wisma. Asap membumbung tinggi dari kerajaan haremnya.

*Kartika Demia, kelahiran Malang kini menetap di Madura. Beberapa karyanya dimuat di; Malang Pos, Flores Sastra, Panchake magazine dan Harian Rakyat Sultra. Saat ini aktif di komunitas sastra Dimensi Kata.

Selamat Datang 2020 – Tahun Pilkada Serentak Edisi Keempat

Oleh: Dito Arief N. S.AP, M.AP

Tahun 2020 sudah di depan mata, setelah melewati gegap gempita tahun politik legislatif dan Pilpres di tahun 2019, masyarakat Indonesia di sejumlah daerah akan kembali mengalami tahun politik Pilkada edisi ke-empat semenjak dilaksanakan secara serentak mulai tahun 2015 silam. Hadirnya Undang – Undang Pilkada langsung serentak, dimulai dengan UU No.1 Tahun 2015 Tentang Penetapan PP No.1 Tahun 2014 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota, yang kemudian dirubah menjadi UU No.8 Tahun 2015 dan kemudian dirubah kembali menjadi UU No.10 Tahun 2016, maka tahun 2020 mendatang menjadi Edisi ke 4 pelaksanaan Pilkada langsung diselenggarakan secara serentak, setelah sebelumnya dilaksanakan di tahun 2015, 2017 dan 2018.

Untuk pelaksanaan Pilkada serentak edisi ke 4 tahun 2020 mendatang, terdapat 270 daerah Propinsi/Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia, yang melaksanakan, yaitu Propinsi/Kabupaten/Kota yang juga melaksanakan di edisi pertama 5 tahun yang lalu (2015). Perbedaannya adalah bila ditahun 2015 lalu regulasi yang mengatur adalah Undang – Undang No.8 Tahun 2015, maka di Pilkada tahun 2020 regulasi yang digunakan adalah Undang – Undang No.10 Tahun 2016 yang merupakan hasil evaluasi dan perbaikan dari pelaksanaan Pilkada serentak tahun 2015. Salah satu daerah di Indonesia yang melaksanakan Pilkada di tahun 2020 mendatang adalah Kabupaten Malang di Propinsi Jawa Timur. Bersama dengan 18 Kabupaten/Kota lain di Propinsi Jawa Timur, Pilkada Kabupaten Malang akan dilaksanakan secara serentak pada tanggal 23 September tahun 2020.

Mereview pelaksanaan Pilkada Kabupaten Malang di dua edisi sebelumnya, yaitu tahun 2010 dan 2015, dinamika politik dan pelaksanaan tahapan Pilkada berlangsung dengan dinamis yang keduanya bahkan berujung pada gugatan sengketa hasil pemilihan di Mahkamah Konstitusi, meskipun pada akhirnya sama-sama ditolak oleh Mahkamah Konstitusi, namun cukup menggambarkan ketatnya persaingan dan dinamika politik di Kabupaten Malang di dua edisi Pilkada tersebut.

Pilkada Kabupaten Malang tahun 2010 pada awalnya diikuti oleh 5 bakal pasangan calon, 3 yang diusung dari Parpol, sedangkan 2 bakal calon diusung melalui jalur perseorangan (independen), hingga pada akhirnya 2 bakal pasangan calon dari independen yaitu “Martiani Setyaningtyas – Bibit Suprapto” dan “Sutikno – Rizal Safani” kandas karena tidak memenuhi persyaratan jumlah dukungan sebanyak 82.031 dukungan KTP (3% dari jumlah DPT). Sedangkan 3 pasangan calon yang diusung parpol dinyatakan lolos memenuhi dukungan minimal 7,5 Kursi (15% Jumlah Kursi DPRD) yaitu pasangan Rendra Kresna – Subhan yang diusung 20 Kursi (Golkar,Demokrat,PKS), pasangan M. Geng Wahyudi – Abdul Rahman yang diusung 21 Kursi (PDIP-PKB) dan pasangan Agus Wahyu Arifin – Abdul Mujib yang diusung 8 Kursi (Gerindra-Hanura-PKNU).

Pada Pilkada Kabupaten Malang tahun 2015 dengan syarat ketentuan yang lebih ketat yang diatur dalam Undang – Undang No.8 Tahun 2015, terdapat 3 bakal pasangan calon yaitu 1 bakal pasangan calon dari independen, dan 2 pasangan calon dari partai politik. Berdasarkan verifikasi KPU, ketiga bakal pasangan calon tersebut dinyatakan lolos yaitu pasangan kejutan “Nurcholis – M. Mufid” dari jalur perseorangan yang memiliki 204.464 dukungan KTP dari 157.904 dukungan KTP minimal yang dipersyaratkan (6,5 % dari DPT), sedangkan pasangan Rendra Kresna – Sanusi didukung oleh 34 Kursi (Golkar, PKB, Nasdem, Gerindra, Demokrat, PPP), dan terakhir pasangan Dewanti Rumpoko – Masrifah Hadi didukung oleh 13 Kursi dari PDIP sebagai Parpol pengusung tunggal. Kedua pasangan calon yang diusung oleh Parpol telah memenuhi persyaratan dukungan minimal sebanyak 10 Kursi (20% jumlah Kursi DPRD).

Pilkada Kabupaten Malang tahun 2010 dimenangkan pasangan Rendra Kresna – Subhan dengan perolehan sebanyak 672.511 Suara (62,04%), sedangkan pada Pilkada Kabupaten Malang tahun 2015 dimenangkan kembali oleh incumbent, pasangan Rendra Kresna yang kali ini menggandeng H.M Sanusi sebagai Wabupnya, dengan perolehan sebanyak 605.817 Suara (51,62%). Yang menarik adalah tingkat partisipasi masyarakat yang menggunakan Hak Pilih pada 3 Pilkada terakhir di Kabupaten Malang cenderung menurun, pada Pilkada tahun 2005 partisipasi pemilih sebesar 68,23%, pada Pilkada Tahun 2010 sebesar 59,58% dan pada Pilkada tahun 2015 sebesar 58,39%. Jumlah TPS pada Pilkada Tahun 2010 sebanyak 4.046 TPS sedangkan pada tahun 2015 menurun menjadi 3.672 TPS dengan penambahan jumlah pemilih di setiap TPS nya. Tingkat partisipasi yang cenderung menurun tersebut tidak linear dengan naiknya anggaran Pilkada Kabupaten Malang dalam 2 edisi terakhir, yaitu sebesar 22,1 Miliar di Tahun 2010 dan 39,3 Miliar di Tahun 2015.

Naiknya anggaran Pilkada di Tahun 2015 sebagian besar diperuntukan untuk mengcover kegiatan kampanye pasangan calon yang memang difasilitasi oleh KPU sesuai dengan amanat Undang – Undang Pilkada. Produksi bahan kampanye, alat peraga kampanye dan pemasangannya, kampanye di media massa hingga debat terbuka menjadi fasilitas yang diberikan kepada kontestan mulai Pilkada serentak edisi pertama tahun 2015 dengan tujuan efisiensi dan menekan biaya kampanye pasangan calon.

Penyelenggara pemilihan dan pengawas pemilihan dalam Pilkada Kabupaten Malang tahun 2015 memiliki peran yang strategis dalam dinamika pelaksanaan tahapan – tahapan Pilkada, banyaknya jumlah kecamatan (33 Kecamatan) dan desa/kelurahan (390 Desa/Kelurahan) se-Kabupaten Malang berkorelasi terhadap jumlah penyelenggara yang sangat banyak yaitu : 165 orang PPK, 99 orang Panwascam, 1.170 orang PPS, 390 orang PPL, 25.704 orang KPPS dan 3.672 orang PTPS serta 3.672 petugas pemuktahiran data pemilih (PPDP). Maka tidak heran rekruitmen penyelenggara dan pengawas cukup banyak konflik kepentingan yang terjadi. Dengan kondisi yang sama, Pilkada Kabupaten Malang Tahun 2020 akan melibatkan sejumlah tersebut sebagai pelaksana tahapan-tahapan Pilkada sesuai dengan ketentuan Undang-Undang.

Banyaknya jumlah pelanggaran kampanye oleh pasangan calon menghiasi dinamika Pilkada Kabupaten Malang 2015, namun dengan keterbatasan kewenangan Panwas yang diatur dalam Undang – Undang No.8 Tahun 2015 menyulitkan penindakan pelanggaran yang bersifat pelanggaran pidana, akhinya yang tertindaklanjuti sebatas pelanggaran administrasi yang tentunya minim sanksi. Konflik kepentingan juga menjadi salah satu sebab minimnya tindak lanjut temuan atau laporan adanya pelanggaran di tingkat bawah (kecamatan dan desa). Fenomena banyaknya pelanggaran kampanye dalam Pilkada Kabupaten Malang perlu menjadi pengalaman dan pelajaran, khususnya bagi penyelenggara pemilihan. Meskipun sudah ada perbaikan sejumlah ketentuan dalam Undang – Undang No.10 Tahun 2016, namun masih ada sejumlah kelemahan teknis yang berpotensi menjadi kendala dalam pelaksanaan tahapan Pilkada Kabupaten Malang 2020.

David Easton dalam bukunya “The Political System”, yang memuat mengenai konsep input dan output politik, tuntutan dan dukungan serta umpan-balik terhadap keseluruhan sistem merupakan komponen yang saling berhubungan (Easton, 1988:65). Pilkada merupakan salah satu manifestasi dari pelaksanaan teori sistem tersebut. Tuntutan dan dukungan serta harapan masyarakat diwujudkan dalam proses pelaksanaan tahapan-tahapan Pilkada, yang kemudian menghasilkan output hasil Pilkada, serta adanya mekanisme umpan-balik, melalui proses yang berlangsung. Maka tentunya dengan anggaran Pilkada yang mencapai 85 Miliar untuk KPU dan 27 Miliar untuk Panwas Kabupaten Malang, kita patut berharap di Pilkada Kabupaten Malang 2020 dapat memutus kecenderungan Golput yang semakin besar dalam 3 edisi terakhir Pilkada Kabupaten Malang, sekaligus mewujudkan Pilkada yang adil, jujur, efektif, efisien, edukatif dan partisipatif sesuai dengan tujuan diadakannya Pilkada secara langsung serentak berdasarkan Undang – Undang.

*)Dito Arief N. S.AP, M.AP, Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI Denny J.A), Peneliti Evaluasi Kebijakan Pilkada Serentak Tahun 2015 di Kabupaten Malang (Penelitian Tesis Magister FIA UB)

Komunisme, Ilusi dan Phobia

Oleh: Caping Maskarah Safril *

TIDAK sulit dan tak perlu merujuk hingga bab-bab awal ‘Das Kapital’ untuk menyadari kenyataan global bahwa memasuki milenium ketiga ini, komunisme memang telah memudar.

Ukurannya memang relatif. Rontoknya Uni Sovyet menyusul ditanggalkannya faham-faham pemerintahan komunis di Rumania, Bulgaria, dan Hongaria di akhir 1980-an memperkuat idiom kegagalan ideologi Marx dalam bernegara.

Sudah matikah komunisme? Tentu saja tidak. Sebagaimana bentuk-bentuk ideologi lainnya, komunisme akan tetap ada. Lalu bagi kita, masih relevankah komunisme itu dijadikan phobia sebagaimana yang telah tertanam dalam puluhan tahun kita bernegara, bermasyarakat. PKI boleh-boleh saja dilarang mengingat catatan ‘pelanggaran pidananya’, tapi melarang PKI karena garis politiknya yang komunis, tampaknya sudah saatnya untuk diperdebatkan.

Selama puluhan tahun, komunis adalah musuh negara nomor satu. Tak peduli seseorang itu mengerti atau tidak, dia bisa dicap komunis asal bersuara beda dengan penguasa. Atau, bahkan seseorang yang tak pernah sedikit pun tahu tentang komunis bisa ditandai KTP-nya hanya lantaran punya sejarah keturunan aktivis PKI. Semua diminta untuk mewaspadai komunisme, semua pun bisa diancam pasal-pasal anti komunisme. Padahal, sampai kini pun, coba tanyakan kepada orang sekitar kita, apa yang diketahuinya tentang komunis dan komunisme.

Kebanyakan atau mungkin semua jawaban atas pertanyaan tentang komunis, bagi kita adalah semua yang pernah diriwayatkan tentang PKI, tentang kekejaman atau kekejian di sekitar pembantaian dan penyiksaan manusia, dan lebih banyak lagi tentang penafian kehidupan beragama. Pendek kata, pengetahuan kebanyakan kita saat ini; PKI adalah komunis dan komunis adalah PKI.

Pertanyaan berikutnya, sudah tepatkah pengartian tersebut? Tak perlu lama untuk menemukan jawabannya yang pas, tidak!

Apa yang patut dikhawatirkan pada para tua renta yang sebagian mungkin tidak pernah tahu soal peristiwa di sekitar G-30-S tersebut. Kalaupun ada yang terlibat, sepanjang menyangkut pelanggaran pidana, pantas dijatuhi sanksi hukum, itupun bila masanya sudah tidak kadaluwarsa. Tetapi membayangkan kedatangan kembali mereka akan jadi ancaman nasional atau menjatuhkan pemerintahan, terlebih kemudian membentuk negara komunis, pada saat ini, jaman ini, itu sama dengan mengkerdilkan pikiran sendiri dan lebih parah lagi, justru menunjukkan ketidak tahuan, yang berarti adalah keterbelakangan bangsa.

Lantaran ketidak tahuan kita itulah, tanpa sadar, selama puluhan tahun setelah komunisme dinyatakan dilarang, kita mengarungi kehidupan bermasyarakat dan bernegara tak beda jauh dengan apa yang pernah diterapkan di sebagian negara komunis. Memang kita tidak perlu antri beras atau roti. Tapi sebut saja dengan dibentuknya berbagai organisasi kemasyarakatan, mulai dari pegawai negeri, termasuk isteri-isterinya, sampai yang profesional setingkat dokter pun jadi suatu keharusan.

Berbagai asosiasi pengusaha, mulai dari pengrajin hingga eksportir, dan sebagainya. Semua bermuara ke pemerintahan pusat. Lalu apa beda dengan doktrin sistem sel partai-partai komunis berkuasa. Lebih aneh lagi, saat selama beberapa tahun terakhir pemerintahan Soeharto, bagaimana rakyat dicekoki tayangan wajib film ‘Pemberontakan G-30S-PKI’ — yang sisi faktual sejarahnya perlu diragukan — pada setiap malam 30 September dijadikan sebagai salah satu ‘acuan’ untuk memerangi komunisme. Bukankah itu cara-cara indoktrinasi ala komunis. Apakah ini pertanda kebenaran dari postulat hukum kritik, “siapa yang paling bersemangat untuk mengkritik sesuatu secepat itu pula ia masuk pada apa yang dikritiknya,” setali tiga uang beda bungkus.

Bahwa Pancasila dijadikan dasar negara RI, bukan negara berasas agama apalagi komunis semua setuju dan bukan lagi saatnya untuk diperdebatkan. Namun bila karena itu perlu memberangus semua yang berbau komunisme, sepertinya sudah berlebihan. Justru, untuk mencegah ancaman komunisme itulah, saatnya rakyat terbuka untuk menilai secara kritis namun lebih dewasa terhadap apa yang selama ini dicap sebagai musuh bangsa. Caranya, tak lain dengan secara bertahap membuka ajaran tentang komunis dan ideologi-ideologi lain di kampus-kampus perguruan tinggi, bila perlu dimulai sejak dari bangku SLTA. Perkaya pustaka tentang kajian-kajian strategis, maupun perbandingan terhadap komunisme atau ideologi-ideologi lain. Hanya melalui itulah benteng terhadap ideologi apapun di luar yang disepakati bangsa sejak awalnya, dapat dibangun.

Namun, pertanyaan yang wajar muncul di benak kebanyakan orang saat ini, bagaimana bila ternyata komunisme menarik simpati sejumlah pendukung kemudian berkembang. Sebelum terjawab, pertanyaan itu tentunya harus berlaku setara pula dengan setiap ideologi di luar Pancasila. Jawabannya, bila selama ini kita menyatakan sebagai bangsa yang telah teruji, kenapa takut. Hanya saja, perlu disadari bahwa komunisme atau ideologi apapun, termasuk Pancasila, dalam kehidupan bernegara yang demokratis, akan berkembang bila pranata-pranata sosial dalam masyarakatnya menunjang.

Untuk menghadang meluasnya komunisme, jelas-jelas slogan atau orasi agama apapun takkan cukup. Kemiskinan dan keterbelakangan adalah kondisi khas yang memungkinkan berkembangnya ideologi kreasi Karl Marx dan Frederich Engels itu. Kedua faktor krusial itu sangat mungkin tercipta dalam kondisi merebaknya penindasan terhadap hak-hak rakyat. Berbagai ketidak adilan hukum dan ekonomi yang lebih memihak penguasa atau sekelompok kecil masyarakat, akan menjadikan jargon ‘sama-rata sama-rasa’ sebagai suatu tujuan yang menggiurkan dan menggelorakan semangat perubahan.

Komunisme bukannya telah mati, tapi telah berubah, sejalan dengan perubahan-perubahan yang dialami pula oleh ideologi lainnya.

Cuba, pada 2015 ini memasuki masanya menanggalkan ciri khas sebagai satu-satunya negara di dunia yang menyatakan diri sebagai negara komunis. Bahkan Cina sekalipun mampu mengemas ajaran-ajaran Mao yang cenderung Stalinisme itu, kini nyaris setara kapitalisnya dengan Korea Selatan. Sementara Vietnam tak mampu membendung ekspansi masuknya perusahaan-perusahaan raksasa multinasional dunia, yang dalam waktu singkat membentuk kelas-kelas masyarakat bermobil mewah dengan yang tetap berkelas sepeda. Sementara, negara yang menyatakan murni ‘sosialis-komunis’, Korea Utara, semakin dikucilkan.

Karena itu, bila Karl Marx, masih hidup, bisa jadi dia akan meninjau kembali apa yang pernah diserukannya, yang sempat jadi moto perjuangan kaum buruh komunis di awal-awal kebangkitan masyarakat proletar; ‘kaum buruh sedunia, bersatulah’, untuk diralat menjadi ‘kaum buruh sedunia.., maafkanlah saya’.

Karena itu, menempatkan komunisme dengan rujukan sepihak sejarah PKI, sebagai musuh bangsa saat ini bukan hanya ketinggalan kereta, tetapi juga sangat naif. Disintegrasi adalah musuh yang lebih nyata dan ancaman yang jauh lebih besar ketimbang bakal wajib dikereknya bendera palu arit di halaman-halaman rumah kita. Jadi, bila ingin menentang komunis, pelajarilah komunisme. Janggal rasanya kalau harus memusuhi sesuatu yang kita tidak tahu, atau lebih celakanya, tidak boleh tahu.-

*Caping Maskarah Safril, Ketua Asosiasi Pedagang Kaki Lima (APKLI) Kabupaten Malang tinggal di Jalan Bandulan 6, Kecamatan Sukun, Kota Malang.

KULAKAN

Ilustrasi. (Anja Arowana)

Saking kesele, mambengi Paitun keturon ndik ambene pos. Srengenge kait anget, ate sare henem, hadak kuping brebeken, lambene sopo sik isuk uput-uput ngene wis nyumet kompor. Koyok oges sak kepel dirubung tumes, ebes-ebes kodew wis nggrumbul ngupengi mlijo. Oala, mulai jaman kolobendu yo wis ngono iku bendino, blonjo ambek dibumboni rasan-rasaan. Terus, ojok kaget lek kari-karine gelek regeg. Kadang blonjone kadit sepiro, tempe, tahu ambek micin, tapi sing jenenge kulakan omongan… mbok… gratis tis, barter pisan. Sik dasteran, durung suda, siaran… Bayangno ae.

Mangkane gang iki dijenengi wong-wong Gang Gawat. Tukarane petang dino, rukune telung dino. Mek lek riyoyo rukune osi rong minggu, iku ae ngenem-ngenem sik kasak-kusuk. Pekoro semprit iso dadi semprot. Pekoro kupat osi dadi mblethat.

Wak Pan, mlijo iku yo podho dene. Filinge Paitun kadit kane iki.

“Wak Pan, sampeyan pirang ndino gak lawetan rek? Nggarai soro wong ae,” onok sing ngroweng.

Wak Pan clingak-clinguk. Ate gnomo koyok ngungib. Lek pas ngono, Wak Pan iki tak sawang-sawang osi koyok timun ketindian klopo. Lhok en, sadele apedese sampek ngrupuk rambak.

“Lapo sampeyan kok koyok aneh ngono?” Bu Wiwik curiga. “Gak buk, gak enak aku lek crito.” jare Wak Pan ambek tail tolah-toleh, koyok sedeb ketulup.

“Onok opo, sopo Wak Pan? Mbak Ipul ta? Ganok wonge, wis limang dino nang Suroboyo. Opo’o se?” jare Bu Wiwik rodok kemero.

“Aku ket wingenane gak dodol, soale kentekan ojir buk, gak iso kulakan.”

“Kok iso se? Awakmu paling sik main kertu ae. Kok liane bakaran, yo kobong dompetmu. Lerenono talah…” mbak Tin nyaut setengah maido.

“Gak kate buk, wis suwe leren aku. Ganok wong sugih pekoro main,” jare Wak Pan ambek gaya menesal.

“Masalahe guduk iku, Tin. Crito ae gak popo Wak Pan. Ojok rasan-rasan tapi,” jare Bu Wiwik.

“Lha yo opo, wong iku liane ban-bon ae, lek ditagih mbulet, alasane onok ae. Blonjone daging, urang, pokoke iwak-iwakan thok. Tak kongkon njupuk sayur ae, aku tambah dipaido… prasamu aku marmut yo…jarene. Maleh kulakan macet, buk” jare Wak Pan setengah melas.

Koyok nguyahi segoro, sambate Wak Pan mbledhos ndik Gang Gawat. Mbak Riani langsung koyok spiker aktip.

“Lhoo…lho…lho, gelange, kalunge, ngrentep koyok bintang pelem, tapi nang mlijo ae ngebon. Ngono lek crito nang aku jare tas tuku bedhak ndik pasar gedhe. Nggedabrus tibae.”.

Mbak Tin tambah koyok corong TOA.

“Lha kok sampeyan kaet ero. Wong iku mblebes. Wingenane nang omahku, crito berlian, model-model rok anyar, nglencer nang luar, bareng mburi-mburine kate utang. Waaa yo kadit ae. Sedino rong dino tak balekno jare. Mboten, kadit, maap… maap…”

“Mlijo yo disasak ae, oala…” liane ngebleki omongan.

“Nang ndi-ndi wanyik iku ngakune pengusaha. Onok montor parkir dinyang. Onok omah kosong ditakok-takokno, ngawut ae, wong sing duwe omah ilo mek sambang morotuone. Kiro-kiro mek pos ambek Paitun thok iku sing gak dinyang,” jare Mbak Riani lek ngomong koyok bren.

Lho, lapo jebus awak-awakan, batine Paitun. Ente wani orip. Suarane koyok panci dithuthuki. Iling tujuh belasan biyen, penyanyi sing gak tau dikeploki yo mek Riani thok. Ben e sing ngiringi osi regeg ewed hare. Lha yoopo, nyanyi ta playon Riani iku.

“Alaa… pengusaha opooo… Ngusahakno kancane ngglundung le’e,” jare Mbak Tin nambahi micin.

Tapi kabeh lali, lek ndik kono onok plek e Mbak Ipul.

“Sampeyan gak oleh ngono, aku gak mbelani, Mbak Ipul iku yo sa’aken. Ojobe jare katut wedokan. Jatahe maleh gak iso dijagakno,” Bu Anna mbelane Mbak Ipul.

“Iyo, tapi uripe koyok artis, mestine lak priatin ta. Wong lek crito jare bayarane ujube jut-jut an kok. Cobak lek bojoku macem-macem, yo tak coret tekan daftar lauk-pauk, ” jare Riani jawab ae.

Bu Anna rodok panas, genti nyantap Wak Pan.

“Koen yo ngono, lapo diomong-omongno barang. Mlijo iku dodol blonjoan, duduk dodol omongan!”

“Iku ngono ancene bolone, Wak Pan.” Mbak Tin ngroweng.

Bu Anna tambah umep. Wak Pan praene tambah koyok timun diacar.

“Sopo bolo-boloan! Ngomong sukur mlethos ae. Hobi kok kulakan. Lambe koyok gak tau sekolah ae.”

Dadak moro-moro Bu Riani jupuk kenthang disawatno nang Bu Anna. Bu Anna kaget mbales, nggrangeh pupune ketep diuncalno nang Bu Wiwik. Lhuk… lha kok kabeh kolem rebutan blonjoan gawe sawat-sawatan, bayem, daging, tempe, sak nyekele disawatno. Isuk-isuk Gang Gawat mbledhos, emar ibuk-ibuk kasti.

Untung Jumali lawetan krupuk liwat, terus gupuh nyeluk Pak RT. Gak suwe Pak RT oket ambek mbureng, durung suda pisan. Kabeh diseneni dikongkon helom.

“Isuk-isuk wis rame. Koyok ganok pegawean liane. Gak ngurusi anak sampeyan ate budhal sekolah ta? Kok liane geger ae. Sik isuk wis kulakan omongan,” Pak RT njahe ambik malangkerik.

Wong-wong semburat plencing. Koyok tikus rapat onok kucing oket. Dadak Wak Pan sambat nang Pak RT.

“Lha dagangan kulo yok nopo pak?”

“Yo embuh … lha maeng yo opo kok iso ngene? Ngene ae, engkuk bengi mrinio, digenahno.”

“Mangkane ta… ojok dodol omongan. Pancet ae…” jare Jumali ambek ngaleh.

Paitun ngempet ngguyu tail Wak Pan, ndik bathuke onok bekase tomat njebrot.

Taksa Sebuah Nama; Puisi-puisi Astrajingga Asmasubrata

Ilustrasi. (Anja Aronawa)

YERUSALEM KITA

: kepada pemeluk agama

Yerusalem kita
Selalu semacam khazanah
Yang suwung, diruwat
Dan dirawat dengan darah

Serta air mata yang mengalir
Sepanjang Gaza — kehancuran
Yang purna, memuat takdir
Jauh sebelum adanya sabda

Sebuah kitab, atau semacam
Buku panduan perang
Yang damai dan sentosa —
Di dalamnya duka bersukacita

Lantaran maut adalah surga
Bagi Yerusalem kita, atau
Barangkali, inilah fakta bahwa
Semesta mewariskan iman

Kepada yang tak percaya:
Samsara, Yerusalem kita!

(dusunmaja, 2017)

 

 

ZURIAH

Tak ada amsal
Dalam gejolak-sepi itu
Selain sejumlah cuma
Perihal gairah yang padam

Satu-dua luka lebam
Masa silam, dan kaudapati
Dirimu pasi menyimak
Bayangan seorang perempuan

Yang juga semacam kecam
Segala yang terlepas
Akan kembali tergenggam
Sebagai nyala sepasang mata

Yang kaulihat seperti sabda
Terakhir, sebelum gejolak-sepi itu
Menggetarkan dawai mimpimu
Serupa nada-nada kosong

Dari segenap hirap dan ratap
Saat kausingkap kelir kenangan
Dan segalanya tampak lain
Dalam masgul mungkin, barangkali

Lantaran ini bukan percintaan
Tapi sebuah tikam!

(dusunmaja, 2017)

 

 

DEJA VU

: buat acep zamzam noor

ia pun gusar;
menyusur samudera
siang yang matang
— matahari jalang? —
perahu diterjang gelombang
angin asin menampar wajah
“duhai penempuh batin
apa yang tersembunyi
dari seketika, selain
decak terpana
sunyi yang mungkin?”
— ngungun –
di samudera lain
kata demi kata menukik
ke balik tirta
sajak pun beriak-riak
penuh oleh kesumat
— atau laknat? —
meliuk di lengkung teluk
kalbu begitu kutuk
karam
ke dalam diri!

(dusunmaja, 2017)

 

 

SYAIR-SYAIR PESISIR

1.
kau dan aku kini landai pantai
debur itu dipacu deru angin
di bawahnya terumbu menari-nari
ikan menghindari bentangan jaring
kau dan aku kini gejolak lautan
dilayari tongkang para nelayan
mendaras hidup dengan menerjang
gelombang yang menyimpan harapan
kau dan aku kini batuan karang
teguh digempur air pasang
tak pernah menolak kedatangan
atau kepergian semisal kenangan

2.
kisah kita kini apatah hati penuh kasih
jika dilingkup cinta dan rindu yang ngungun
seperti serpihan bayang rembulan dibantun
debur demi debur yang bertabur buih
kisah kita kini sebuah tongkang tua
yang tergopoh mengangkut nasib baik
menuju dermaga yang sabar menunggu
seperti hati ibu untuk tualang anak-anaknya
kisah kita kini disadari tinggal kenangan
tergagap seperti camar digusah air pasang
setelahnya udara berbau garam mengasinkan
pikiran dan perasaan dengan sepi yang usang

(dusunmaja, 2017)

 

 

SAJEN RAYA

nasib masih semacam taman bunga
sejumlah wangi kesunyian menyeruak
dan di tengahnya beriak sebuah telaga
memantulkan rona wajah kami yang lain

bertahun-tahun tak pernah jera tunaikan
hasrat menghidupi diri dengan kerja
sebagai titah yang telah digariskan tuhan
kami cuma diminta tak henti berupaya

tiada guna berlama-lama merutuki takdir
sebab ketika azan pertama berkumandang
segala yang berwatak kesedihan memudar
seperti pengakuan daun sebelum ranggas

dan selagi angin hari depan berembus pelan
kami petik kenanga, kantil, serta cempaka
untuk ditabur di telaga sebagai sajen raya
agar kami semakin mengenali wajah asing ini

(dusunmaja, 2017)

 

 

TAKSA SEBUAH NAMA

malam ini jadi lain
lampu di beranda
tiba-tiba padam
langit pun kelam
seperti kenangan
akan punggung
yang menjauh
lalu menghilang
di tikungan
riuh cengkerik dan
gemerisik daun garing
dimainkan angin
seperti bisik tertahan
sebelum lambaikan tangan
yang membikin
malam ini semakin lain
dalam ingatan
pada segelas kopi
yang mendingin
tinggal ampas
pemandangan kosong
di beranda
meninggalkan taksa
di gerowong dada
yang mungkin
sebuah duka?

(dusunmaja, 2017)

 

 

SUMUR TUA SEBUAH KENANGAN

kita dipertemukan sebuah sumur tua
tak ada kata-kata terucap sebagai sapa
cuma kerekan tali timba dan jatuhan air
menimbulkan bunyi yang melingsir sunyi

sebagai siapa kita di sumur tua itu:
jejaka yang ragu mengajak berbicara atau
dara yang malu menampakkan wajahnya
barangkali cinta semacam dahaga terberkati?

(dusunmaja, 2017)

 

 

SIMPANG

sebentar yang lalu
kau datang kemudian pulang;
di tubuhku bersarang pelukan
yang telah mendingin
saat bayangmu menghilang
dalam pandangan di jauh malam
dan kata-kata yang kupunya
melesap senyap ke inti gelap

aku pun mengingat
kali pertama kita berjumpa:
lidahku kelu pada sayu matamu
dan kesiur angin penghujan
meningkahi reranting kersen
hingga sinar lampu jalan berkedip
seperti bintang jatuh
kau dan aku kompak menunduk
seolah sedang merapal doa

tapi sepulangmu
aku menyaru seorang bocah
terjangkit pilek dan demam
tubuhku gemetar
dari mulutku keluar gumaman
(yang mungkin terdengar
semacam geraman?)
dan pelukan telah mendingin itu
malih menjadi sebutir embun
selalu ragu bertahan di pucuk rumpun

(dusunmaja, 2017)

 

 

PADA MULANYA ADALAH TANYA

: buat gilang perdana

“Apa yang tersembunyi di balik seketika?”
Tiba-tiba selembar kertas bertanya
Pada sebuah pena
Dalam genggaman penyair kita;
Kata-kata datang dan pergi
Seperti kerinduan tak bertuan
Dan waktu menorehkan jejak biru
“Permisi, tak ada suatu apa di situ!”
Sekarang segalanya menjadi gamang:
Sajak adalah kehendak yang setia
Pada sejumlah duga dan hanya
Sajak menyimpan gelap
Yang menghindar dari cahaya
Setiap kali mata penyair kita terpejam
Bayang-bayang memanjang
Setelahnya lengang mengambang
Dan selembar kertas lainnya ikut bertanya
Pada pena lainnya
“Kapan saat yang tepat untuk berhenti?”

(dusunmaja, 2017)

*Astrajingga Asmasubrata, kelahiran Cirebon tahun 1990. Bekerja sebagai tukang cat melamik – duko – politur di Jakarta Timur. Penggerak Malam Puisi Jakarta. Buku puisi yang telah terbit adalah Ritus Khayali. Sedang menyelesaikan buku puisi terbarunya yang berjudul M I R Y A M.