Mattali

Oleh: Zainul Muttaqin*

Belum genap satu tahun ketika Mattali angkat kaki setelah ribut besar dan istrinya berkata lantang sampai gendang telinga laki-laki paruh baya itu hampir pecah, “Tak Lake Ongghu Bekna Kak[1]. Ceraikan saja aku!” Bagai dirobek harga diri Mattali mendengar istrinya berkata, tinggi suaranya, tepat di depan wajahnya.
Bulan sepenuhnya tenggelam ke dalam pelukan awan. Wajah Mattali menegang. Kerut-kerut di dahinya membentuk garis meliuk-liuk, seperti terombang-ambing. Laki-laki itu mengambil napas dalam-dalam. Tirai jendela disibak oleh tiupan angin. Mattali menelan ludah berkali-kali.

“Apa tidak ada cara lain selain bercerai?” Mattali menekan suaranya.

“Tidak!” Istrinya memandang wajah Mattali. Laki-laki itu mengatur laju napasnya. Dipandanginya wajah istrinya, tampak berharap cepat-cepat Mattali menghilang dari pandangannya.

Belum sempat Mattali mengucap cerai, istrinya berujar, mendahului Mattali, “Kita bisa rujuk setelah kau benar-benar lake[2].” Binar-binar di mata Mattali terpancar selepas istrinya berkata seperti itu. Pelan-pelan ia mulai mengulas senyum.

Jarum jam berhenti tepat di angka dua belas dini hari. Dengan gemetar, terbata-bata, Mattali berujar, “Aku ceraikan kau,” berderai air mata laki-laki paruh baya itu. Markoya menggeleng kepala. Markoya menutup pintu kamar dan membiarkan Mattali berdiri di ruang tamu dengan perasaan tercabik-cabik. Mattali mencangkuli dirinya sendiri.

Duduk di kursi berwarna biru tua, dengan cat yang mulai mengelupas karena usia. Mattali berpikir sesaat. Dia mencari jalan keluar atas persoalan rumit yang tengah menimpanya. Sudah tidak tahu berapa batang rokok yang ia isap. Dengkur Markoya dari dalam kamar mengusik pikirannya, ingin ia seranjang lagi, tapi buru-buru Mattali mengucap istighfar .

Detak jarum jam bergeser begitu lambat dirasakan Mattali. Laki-laki itu mengelus dada. Saat asap rokoknya lenyap, Mattali menampari pipi dan kaki. Nyamuk hutan dari belakang rumah ternyata berusaha menghisap darah laki-laki kekar itu sejak tadi. Puntung rokok di dalam asbak bergelimpangan.

Bangun pagi-pagi sekali Markoya sudah tidak melihat Mattali di ruang tamu, di kursi lapuk itu. Bau keringat Mattali juga tak tercium. Markoya berjalan ke halaman depan rumahnya, menarik napas dalam-dalam, melegakan dada ringkihnya yang semakin menyempit. Kicau burung di atas pohon tarebung[3] mengingatkannya pada Mattali.

Sampai perceraian itu terjadi belum sanggup Mattali memetik bunga indah yang tumbuh di pangkal paha Markoya. Laki-laki itu menjadi tak lake menghadapi istrinya yang bersedia bunga mekar di selangkangannya dipetik oleh Mattali. Berkali-kali Mattali berusaha, berkali-kali pula kesia-siaan itu terjadi pada dirinya. Itulah yang mendasari Markoya minta dicerai kepada Mattali.

Sekalipun Mattali tidak menceritakan perihal rumah tangganya yang tercerai-berai, tapi warga Tang-Batang sudah bisa mengendusnya. Orang-orang memang berusaha mengetahui, maksud Mattali berada di rumah ibunya, sepanjang waktu, sejak satu minggu lalu. Melintas pikiran curiga, tepatnya bertanya-tanya, apa penyebab Mattali menceraikan Markoya, kembang desa yang dulu diperebutkan semua laki-laki?

Berderet ikan-ikan dijemur di halaman. Amis menyeruak. Perempuan-perempuan itu duduk memanjang dengan rambut terlepas digerai sebahu, mereka bergunjing sembari menisik kutu. Diam-diam mereka mencuri pandang pada Mattali. Laki-laki itu duduk di beranda rumah, menghisap batang rokoknya, dengan secangkir kopi di atas meja.

“Karena Mattali tak lake ” kata perempuan gempal setelah sebelumnya melirik ke arah Mattali.

“Jadi gara-gara itu Mattali cerai dengan Markoya.”

“Gara-gara apa lagi kalau bukan itu.”

“Mestinya Mattali sudah siap jamu sebelum menikah. Kalau seperti ini kan malu.”

“Malu sama siapa?”

“Malu sama semua orang.”

“Untung suamiku lake.”

“Ya jelas suamimu lake lah, anakmu sudah tiga. Apalagi aku.” Kelakar tawa meledak di halaman. Mattali menoleh, melihat pada perempuan-perempun itu.

Mendadak degup jantung Mattali melaju lebih cepat. Ia merasa perempuan-perempuan itu tengah mengunjingkan dirinya. Sempat ia bersitatap dengan salah satu perempuan itu, tersenyum mengejek, merendahkan. Gegas Mattali masuk ke dalam. Terlampau sakit hati Mattali. Laki-laki paruh baya itu mengambil napas dalam-dalam, kemudian bersama napas yang ia lepas, tangannya memukul meja hingga cangkir kopi di atasnya bergelinding ke lantai, pecah.

Ingin dimakinya perempuan-perempuan di taneyan lanjang[4] itu. Mendidih darah Mattali. Laki-laki itu meludah, membuang rasa kesal terhadap perempuan-perempuan itu. Ia berdiri di ambang pintu, berpikir ulang, menimbang-nimbang, apa melabrak perempuan-perempuan itu akan menyelesaikan persoalan? Lagi pula, ia tahu, perempuan-perempuan di Tang-Batang gemar berguncing, atau memang demikian perempuan kebanyakan.

Khawatir malah akan dipermalukan di taneyan lanjang itu oleh perempuan-perempuan yang duduk memanjang, menisik rambut, disertai berbagai ragam gunjingan. Mattali mengurungkan niat. Menutup pintu rumahnya kembali. Ia mengatur alur laju napasnya. Asap rokok menyumbat tenggorokannya.

Mattali baru ingat, ternyata Markoya pernah bilang, “kita akan rujuk kalau kamu sudah lake´ ingatan itu mampir dalam tempurung kepalanya tepat ketika laki-laki paruh baya itu berusaha meredam amarah. Dan perempuan-perempuan itu sudah lenyap di taneyan lanjang. Mattali memandang penuh selidik, takut mendadak muncul perempuan-perempuan itu di hadapannya. Bergegas ia melewati taneyan lanjang, tempat perempuan-perempuan itu semula menisik kutu.

Dalam remang sore hari, lepas maghrib Mattali melangkah begitu lekas, melewati gang-gang rumah yang sempit. Ia terus melangkah untuk segera sampai di rumah Matrah, tukang pijat di desa sebelah, juga seorang dukun yang sering dimintai tolong bila berususan dengan kelelakian. Keringat membasuh tubuhnya.

Mattali kian mempercepat langkahnya. Tak menjawab apalagi sekadar menoleh ketika seseorang menyapanya dari teras rumah. “Tak biasanya Mattali acuh seperti itu,” bisik lelaki di teras rumah itu. “Paling-paling karena orang-orang bilang tak lake ia jadi begitu Kak,” sambung istrinya. Pasangan suami-istri itu saling tatap, kemudian secara bersamaan mengangkat kedua bahunya.

Setelah susah payah berjalan kaki, Mattali tiba di halaman rumah Matrah, lelaki yang dikenal bisa mengatasi segala persoalan kelelakian. Seorang lelaki tua, rambutnya hampir putih seluruhnya, memegang tongkat di tangan sebelah kanan berdiri di depan kobhung[5] tempat Matrah biasa menerima tamu-tamunya. Lampu teplok meliuk-liuk, bertahan dari tiupan angin.

“Kamu mau pijat?” Matrah mengajukan pertanyaan. Ia mengambil minyak urut yang diselipkan di tiang kobhung.

“Tidak Ke[6]” Mattali mengulas senyum, disertai gelengan kepala.

“Lalu?” Laki-laki tua itu memburu jawaban dari Mattali.

“Saya tak lake. Beri saya jalan keluar. Karena ini, saya sampai cerai dengan Markoya.” Mendengar penjelasan itu, Matrah mengangguk-anggukan kepala. Matrah keluar sebentar dari dalam kobhung dan kembali dengan membawa beberapa butir telur dalam genggaman tangannya. Mattali mengernyitkan kening, seolah ingin bertanya, apa maksudnya?

“Saya yakin kamu belum jamu telur ini sebelum menikah,” Matrah menunjukkan tiga butir telur kampung ke hadapan Mattali. Laki-laki setengah baya itu menggeleng.

“Dengan telur kampung ini. Insya Allah kamu akan lake.”

“Kenapa tiga butir Ke?” Mattali mengambil telur itu dari genggaman Matrah.

“Saya tidak tahu pasti soal itu. Yang jelas harus berjumlah ganjil. Barangkali karena Tuhan suka yang ganjil-ganjil.”

“Apa ada campuran lain selain telur ini Ke?” Mattali tidak sabar ingin membuktikan khasiat telur ayam kampung. Laki-laki itu menyesal, kenapa dulu, sebelum menikah ia tak bertanya perihal ini. Mana mungkin Mattali sempat bertanya tentang apa-apa yang perlu dipersiapkan sebelum menikah. Pernikahannya dengan Markoya terjadi secara mendadak, berlangsung cepat begitu saja, tanpa persiapan.

“Nanti saya beri tahu,” Mattali mengangguk. Beberapa menit kemudian, Matrah berbisik di telinga Mattali, mengatakan telur ayam yang digunakan untuk jamu adalah telur ayam kampung dan dengan jumlah ganjil juga dicampur bahan-bahan lain. Mattali membayangkan wajah Markoya, ia yakin Markoya akan terpuaskan di atas ranjang.
“Karena telur kampung itu, anak saya dua belas. Sekarang ini, saya juga punya cucu belasan.” Tawa Matrah meledak disusul derai tawa Mattali.

Tiga minggu setelah Mattali minum jamu dicampur telur tiga butir, sebagaimana anjuran Ke Matrah, birahi laki-laki itu meronta-ronta, minta digesek batang kemaluannya. “Saya sudah lake.” Gumam Mattali dengan binar-binar kebanggaan di matanya. Tanpa pikir panjang, ia berkunjung ke rumah Markoyah, berniat rujuk, siap membuktikan khasiat tiga butir telur pada perempuan cantik, rebutan lelaki kampung itu.

Mattali berdiri dengan mulut ternganga, wajahnya berubah seperti selembar kain kafan, begitu melihat Markoya digandeng laki-laki keluar dari dalam rumah. Matanya terpaku pada laki-laki yang mengalungkan tangan pada bahu Markoya. Berusaha meredam golak di dadanya, Mattali menelan ludah.

“Saya sudah menikah, kita tak bisa rujuk. Dia benar-benar lake tidak sepertimu!” kata Markoya sembari tersenyum memandang laki-laki di sampingnya, suaminya itu.

“Siapa dia?” Mattali menekan suaranya.

“Dia anak Ke Matrah. Dua hari lalu kami menikah.” Jantung Mattali terasa akan lepas dari tangkainya begitu Markoya menyebut nama Matrah. Huh! Gigi Mattali bergemerutuk. Ia melenggang pulang membawa kesedihan. Terus bergegas lekas langkah Mattali, dan ia seolah begitu berhasrat mencincang tubuh Matrah, lelaki tua yang baru saja mengajarinya cara meramu butir telur ganjil agar menjadi lake.

Pulau Garam, 2017

Catatan:
[1] Tak Lake Ongghu Bekna Kak : sungguh tidak jantan kamu Mas (ucapan ini dimaksudkan kepada lelaki yang tidak dapat memuaskan istrinya di ranjang).
[2] Lake: jantan, merujuk pada kelelakian, juga bisa dimaknai laki-laki.
[3] Tarebung: pohon siwalan
[4] Taneyan lanjang : halaman panjang
[5] Kobhung : berbentuk bangunan berkolong dengan kontruksi kayu jati, atap emperan di depannya terdapat lantai kolong yang lebih rendah dari lantai utamanya, dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Hampir semua bangunan di Madura memiliki kobhung. Letaknya rata-rata di sebelah barat. Kobhung berfungsi sebagai tempat peristirahatan, berkumpulnya kerluarga dan kerabat, juga sebagai tempat menerima tamu dan beribadah keluarga. Kobhung ini juga sebagai tempat pewaris nilai-nilai tradisi luhur masyarakat Madura.
[6] Ke: kakek

*)Zainul Muttaqin Lahir di Garincang, Batang-batang Laok. Batang-Batang, Sumenep Madura 18 November 1991. Menyelesaikan studi Tadris Bahasa Inggris di STAIN Pamekasan. Cerpen dan Puisinya dimuat pelbagai media nasional dan lokal.

Ra, Berkunjunglah Ke Gondanglegi Sore Hari. Puisi-puisi Mochammad S.

Ra, Berkunjunglah Ke Gondanglegi Sore Hari
Aku percaya Gondanglegi tak akan habis begitu saja sebagaimana yang kau sangka

Sejak hari masih dini, Pasar di pertigaan besar sudah meriuhkan dialek-dialek Madura

Kegaduhan orang-orang berlalu lalang tetap terpekak abai pada kelurusan jalan hidup mereka

Meski sebentar lagi mikrolet oren akan semakin ditinggalkan dan hanya sepi yang tersisa untuk diantar kemana-mana

Walau romantisme kondektur dan bocah-bocah sekolah sudah tak bisa dinikmati cuma-cuma

Tetap saja aku yakin jika kehangatan tanah air kecil ini tak akan dingin begitu saja

Ra, berkunjunglah kemari sore hari

Ku dengar kota sudah membesarkan segala mu dan sebagai orang desa aku tak akan merayu-rayu bolos mengaji lagi

Aku juga kelewat sungkan mengulangi balapan lari kearah bantalan lori

Atau beradu cepat membariskan paku dudur dan logam kuning kerapan sapi

Toh, lindasan kereta-kereta tebu sudah tak pernah kembali

Truk pemakan aspal kini lebih disayangi Pabrik Rajawali

Namun tetap saja kau perlu menyambangi masa kecil yang enggan dewasa -yang belum dilindungi rusuk sesiapa- ini

Maka kunjungilah Gondanglegi kala sore hari, Ra

Akan ku lagukan syair harian ditempat ku berlindung dari rindu yang bertambah
purna, sepi yang nyata fana, dan cinta yang tergesa-gesa

Semoga suara ini membasahkan kenangan kita, membahasakan nada-nada yang asing di telinga kota, doa-doa penghangat Gondanglegi saat senja

kalamun qodimun la yu mallu samauhu, tanazzaha an qouli wa fi’li waniyati. bihi asytafi minkulli dain wa nuruhu, dalilun li qolbi ‘inda jahli wa khairoti. fa ya robbi matti’ni bisirri khurufihi. wanawwir bihi qolbi wasam’i wa muqlati. wa sahhil alayya khifdohu tsumma darsahu. bijahin nabi wal ali tsumma shokhabati
Albar,3/9/18

Menyaksikan Cinta Sekeras Batu Dilapuk Rindu
Dalam waktu dekat langit akan jatuh

Kota dan kata-kata yang mengangkuh adalah pilar yang rapuh

Ia pamit beli kaporit sekalipun sadar hanya aroma kalianlah satu-satunya pembening dadanya yang keruh

Sudah simpan saja sesal mu yang saling susul itu

Ia cuma memeperagakan gaya bercanda ala tuhan

Malang, 27 januari 2018

Di Watu Kelir
Di watu kelir

Sementara Gamelan dimainkan, Jiwa yang nihil merasa terpanggil

Kidung menuntun dimana seharusnya jejak ditapak
. Di tepian tali arus kali muncar atau di rentang cairan api bantal

Di watu kelir

Pagelaran terus berjalan

Kisah pasrah sebongkah waktu atas sentuhan dalang peradaban

Lakon bergantian di hadirkan

Ditancap berjajar diantara renik radiolaria dan rijang

Di sisi lain watu kelir

Ku lihat bayangan mu menari syahdu di muka air, mengikuti tembang mencari hilir

Bagaimana jadinya ujung cerita bila peran mu urung jadi nyata?

Oo rahasia, makna yang menolak disingkap masa

Yugjo, 4 april 2018

Mengantar Puisi Untuk Kekasih
Kau memuji langit dan ia selalu tahu apa yang kau perlu

Kemarin ia adalah dermaga yang sepi untuk gundah yang kau tambatkan

Lalu riak tenang kasihnya mengantarkan doa dan dosa mu berlayar mencari kedamaian

Sekarang ia embun jatuh dipucuksujudmu

Ubun-ubun mu yang kosong jadi penuh

Lapar yang melingkar tak membuat beningnya keruh.

Ada kesederhanaan yang ia rangkai dari kerumitan-kerumitan surga

Kelak langit akan kau angkat saudara

Itu terjadi setelah sunyi menyulap hal-hal kecil jadi kebesaran untuk apa saja

Itu akan terjadi saat puisi ini sampai di pemberhentian terakhirnya, ufuk kalbumu

Warung I, 26 februari 2018
Jika Kita Adalah Jarum Merah, Ra

Jika kita adalah jarum merah, Ra

Seumpama bocah TK berkejaran mengambili angka

Mengitari waktu yang melulu jatuh di dinding beranda

Hanya pada jarak utuh kita beradu sua

Karena poros yang membagi, maka berputarlah rindu disana

Bukan

Aku tak hendak mengeluhi tuhan

Ku rasa ini bukan ujian

Yang jadi persoalan bukan mengejar detik-detik mu, Ra

Itu kemustahilan belaka

Anugrah yang tak ingin ku cegah adalah kita berdetak untuk setiap nafas yang sama

Albar, 8/10/18

Mochammad S.
Penjaga Warung Kopi Albar Kota Malang.
Jl.Mertojoyo Selatan 22b Merjosari Lowokwaru Kota Malang

SEPUR-SEPURAN

Ndik pertelon Kauman Paitun ngaso ndik emperan markase Bik Samini. Klesetan, anyep lemeke, grimis kepyur pisan. Tapi gakpo po, udan iku lak barokah. Lho, lapo Bambing riwa-riwi koyok setriko ambik ndase ditutupi koran, nggoleki opo kumbahan mamel iku. Kringete sampek gobyos, imblake ngeplek karo ambekane ngongsloh. Umbam kringete koyok trasek.

“Arek-arek sempel, Tun. Awak dipesi. Uklam mulai stasiun sampek mrene, gak onok hadak. Deloken ae, osi ta owik arek-arek iku,” jare Bambing ambek terus ngeprat. Lhuk, yo ditutno ae wanyok, mesti emar kampung.

Ndik pos sepi. Ngimbab ambik abang-ireng ngungib nggoleki gerombolane. Paling ndik warunge De Patimah, filinge Paitun. Rikim sediluk, Bambing gak lidok marani warunge De Patimah. Temenan, geng londem tibake nglumpuk. Ketoke podo ngempet ngguyu pas Ngimbab oket. De Patimah sampek nutupi raine ambek sewek. Bendhot gutap singitan ndik isor mejo kompor.

“Klentheng endi? Des iku! Ndhot… metuo koen, lapo singitan. Ireng… elek… singitan isor kompor. Langus thok lambemu!” jare Bambing ngamuk. Bendhot terpaksa utem, ambek sik ngempet ngguyu.

“Opo Mbing. Sing jelas ente. Lapo murang-muring,” jare Bendhot gaya ngeles.

“Gara-gara koen mos… termos. Senengange mulosoroh kancaneh,” Bambing sing menggos-menggos. Endik karepe mernahno ate nglungguhno Bambing, tapi kenek pisan.

“Ate lapoh koen? Podo aeh… ente Ndik, nggedabrus.. radioh rusak. Lak ente se sing wingi critoh jaremu saiki onok sepur cilik sing riwa-riwi ndik ndhuwur. Isuk uput-uput ladub ayas. Lha awak lak yo kepingin tah numpakih. Ayas mubeng nggoleki, ndih iki… Liane ketemu kacebe Pi’i ae, mulek. Ngaceb laris tibake, juwet ikuh…,” jarene. Kabeh osi nggenggek kemekel gak osi ngrasakno. Bambing tambah mbureng, tapi suwe-suwe trus mesem, kroso lek dibikin. ambik nggablog geger e Endik.

“Ayas wingi lak sik crito se Mbing, lha laopo ente terus ladub ewed. Lak salahmu dewe ta. Mangkane ta ojok biasa ninggal konco. Ente mambu sembarang, ladub ae. Terus… karepmu opo lek onok sepur mini iku? Iku ril e ndik ndhuwur lho Mbing, Kadit osi ente mudun sak enak e,” jare Endik model ngudang.

“Mubengo ambek kacebe Pi’i lak iso ta Mbing, onok opo-opo paling mek beset opo kecekluk… wkwkwk…,” Bendhot njarak.

“Mari rong ubengan, Pi’i malik, awak soroh… gara-gara juwet iku awak isoh urusan silup. Maksudku ngeneh lho… sopo jenengmu? Wkwkwkw… Karepkuh, awak tak numpak mubeng ngonoh. Lek onok halteneh gak mudun sik. Lak wuasik tah… tail tekan nduwur. Ndelok kutho tekan ndhuwur… Engkuk liwat alun-alun, ketok Paitun koyok pemean riwa-riwi. Awak mbayangnoh lek pas liwat ndhuwure kampunge dewe. Lhuuuw, Mbak Tini klepon pas korah-korah, merduuuhh… Bendhot pas leyeh-leyeh ndik pos, paling koyok getas sing ketan ireng… wwkwkw. Koen Ndik, isoh koyok gombal gak kanggoh. Lek sampeyan De, paling tekan ndhuwur koyok kinangan… ha ha ha,” jare Bambing nggegek. Durung mingkem Bambing disawat serbet ambek De Patimah, ditekek tekan mburi ambek Bendhot, wetenge dicewel ambik Endik, ambek mlungker sik kekel ae luwak iku, dingklik sampek njombat-njombat. Et… Jon molai serius.

“Ngene lho yo. Ndik kene nggawe sembarang koyoke grusa-grusu. Lek aku yo gak setuju. Goleh masalah anyar iku jenenge. Kudune lak didelok sik, kuthone awake dewe iki pemandangane apik, langite resik, yo kudu dijogo iku. Ojok karepe moderen, tapi ngrusak lingkungan. Prasane gampang ta. Opo wis diitung yoan, engkuk bas-bas mateni rejekine wong liyo. Manfaat ambek mudhorote kudu dipikir temenan. Saiki bayangno, yoopo nasibe Pi’i kaceb, Mul ojek, ambek angkutan liane. Macete dalan kudu dipikirno bareng, guduk ngarang proyek anyar gawe nyirik, om,,” jare Jon gayae nuturi.

“Kuthone awake dewe iki ate diapakno se, gak jelas blas. Kuthone awake dewe iki terkenal kutho enak, kutho mbois. Tapi mboise asli, kane, gak mbois mekso, Mangkane ta rek, lek milih pemimpin sing juelasss…” jare Bendhot ambek joget sula.

Pak Nardi sing ket maeng mek ngguyu sampek mbrebes mili, akhire yo komentar.

“Kuthone awake dewe iki kutho bersejarah. Kutho pusaka arane. Yoopo yo, iki gak muluk-muluk aku lek ngomong. Awakmu kabeh lak ero sing jenenge peradaban. Lek gak ngerti rungokno ae wis. Nah, masalahe, lek pemimpine awake dewe iku tepak, berarti ero, dia akan menyumbang sesuatu yang baik untuk kemajuan peradaban kuthone awake dewe. Tapi lek sing mimpin gak ero, apes awake dewe, peradaban iso diorat-arit. Looo… gak main-main. Mangkane kudune pemimpin iku kudu duwe ilmu, yo tanggung jawab ate diapakno kuthone dewe iki. Lek ngawut yo ajur peradaban kutho iki, “jare Pak Nardi. Kabeh iso mek ndlomong. De Patimah ketoke susah, sewek maneh dilapno mripate. Kewut hobine mbrebes mili. Wonge ngwasno aku.

Durung mari Pak Nardi ngomong, dhuerr… bledheg murup. Osi njumbul kabeh. Wisa, gutap pamitan helom kabeh. Lapo Bendhot bisik-bisik nang gerombolane.

Tibake wong papat iku, cekel-cekelan pundak, hadak sepur-sepuran ambek nyanyi, liwat ngarepe Mbak Tini klepon.

naik kereta api… Tin… Tin… Tin…

Pyorrr…. Kapok a ambek Mbak Tini disiram banyu koraan. Wong papat klumus, ngaleh ambek regeg dewe.(dur)

CENIL KLOPONE

Lek mulai udan ngene iki jare wong-wong akeh rejeki. Tak mripit ae alon-alon, lha yoopo, pas ngiyup hadak kepikiran lopis ambek cenile Mbak Tini. Wonge sinam, najaj e kane. Macak opo ae sarik genarone. Halabese warunge Bude Patimah. Podo, yo sarik pisan, tapi ngabyukan. Ndik kono yo kanyab wong jagongan ngipok.

Lhuk, lakok emar, antri hare. Wis gak popo, tak nan mburine ae, ngenteni sabar, Ambek tail-tail sing ukut. Ayas ndepis wanyik ero ae.

“Nang di ae, Tun, Suwe gak mrene rek. Sepurane ngenteni, akeh sing antri,” jarene. Awak oyi ae. Sitrag mosok ate ngroweng. Iku sopo nding warunge De Patimah rame ae, kok tau krungu suarane. Ooo… mangkane, blek e krupuk nglumpuk pisan ndik kono. Emar pekoro opo iku.

“Sakjane ngene. Kudune pak RW sak durunge mutusno opoae, kan kudu ndelok sik sembarang. Lek terus ngene iki, maleh kabeh isine bengkerengan. Kapan iko penumpang wis mulai nayamul, hadak saiki tambah soro. Ojok nyalahno lek arek-arek terus demo,” jare sing srongebe ketel.

“Suwe-suwe osi kukut dew… Kono enak uripe, awak sik nyekolahno arek papat hare. Ngono iku kok gak mikir yo? Ooh engkuk wargaku yoopo,.. Cobak de’e kongkon dadi kene, cek tau…,” jare situke maneh sing lakenan. Lapo Bambing kolem ae. Lhok en nangdi di kaos kutangan. Keleke osi koyok barongan.

“Lek ayas yahh… Nangdih ae ndak masalah. Ate numpak angkot, ngohjek, terus opo ikuh? Gohjek a…? Podoh ae. Masiyoh onok cikar yo numpak cikar… Lek ngaceb ndelok sik, sing mancal sopoh. Lek Pi’i kadit. Ayas tau numpak kacebe Pi’i, ndik dun-dunan iko, kacebe njombat… numplek. Awak mencelat ndlosor, raikuh babras kabeh. Pi’i isoh mencelat ublem got. Arek sempel iku, nyetir ngawuttt… ngganthengku kalong wis malean.” jare Ngimbab crito sak gayae. Kabeh iso kekel.

“Ente lek ngablak ganok hubungane blas, Mbing. Masiyo gak brabas ancen asline raimu koyok watu,” jare Bendhot. Bambing osi melok kekel hare.

“Ngene lho yo. Kera-kera ini sambat pekoro onok onlen-onlen iku lho. Kok moro-moro onok. Begitu tewur ngene iki, sakjane yo podho kagete. Sakjane ganok sing salah, Situke kroso terancam sandang pangane, lah situke yo gak halas wong onok peluang njambut gawe. Rejeki ancene sing ngekei Gusti Allah, kabeh oleh… sopoae. Cumak terus RW ne sing kadit nes. Kudune, ate ngetokno sembarang ijin, iku kudu ndelok-ndelok sik. Diperikso sik ta, sak piro mudarate, sak piro manfaate. Pemimpin kudu ati-ati, untung rugine gawe wargane kudu dirunding temenan. Nyerek yo nyerek tapi ojok tutup mata. Lek wis kejadian ngene iki, mecungul ae kadit,” jare Jon ambek.

“Tutup matah… Jon…Jon, sing jelas ngonoh lho… sanjipak… kik..kik..kik…” Ngimban nyamplak ae. Wisa, gegere didudul Jon.

“Masalahe koyok awak-awakan iki lak nguber setoran ta. Wis sembarang laham,” jare sing lakenan.

“Wanyok yoh nguber setoran om… Erweh yo seser… kik…kik…kik,” jare Bambing tambah kemekel. Liane osi gak iso ngrasakno kelakuane bledus iku. Jon mulai rodok mesem. Bendhot ledome metuek pisan.

“Iki mek rasan-rasane wong akeh ya. Ente-ente kabeh yo kudu iso nrimo. Kanyab warga sambat jare pelayanan sampeyan kadit sip, kadang pekoro tarip opo ngoper penumpang sak enake, Kadang kera halokes diinggati. Wis macem-macem unine, wong suarane warga. Iku yo kudu diakoni, iku rubahen. Sing numpak cek kroso kane, krasan, aman. Lak ngonoa, pren?” jare Bendhot. Bambing ate nggarap langsung dicekethem gulune ambik Bendhot.

“Yo iku kan gak kabeh, sam. Siji loro paling,” jare sing srongebe meles. ambek nyureni brengose terus, tapi yo sik njepat ae. Endik kadit genomo blas, yoopo wong umek ambek nowar.

“Sing perusahaan taksi iku yo ngono, yoopo karyawane cek gak gutap? Yo ndang nggaweo sing koyok onlen-onlen iku. Jaman moderen iku banter mlayune. Asli. Waktune iso entek gawe eker-ekeran ae,” Jon nutugno. Liane mek manthuk-manthuk, mbuh ngerti mbuh ngantuk.

“Kabyuken ae po’o,” hadak De Patimah nyaut.

“Ojok kolem-kolem sampeyan, de. Jare belajar sabar. Sik ta… Perusahaan sing nggawe onlen-onlen yo ngono. Yo ojok rikim ithab thok. Ublem omahe wong, terus moro-moro macul sawahe wong. Tapi yo yoopo, wong diijine sing nduwur-nduwur. Angel wis lek pekoro ithab-ithaban. Lek wani, lek lanang, yo bukak-bukaan. Wania Pak RW ngundang warga nang Balai RW, terus njelasno ijin opo unine kotrake yoopo. Terus biyen dasare opo ngekei ijin, setorane yoopo. Wani? Entenono linggis ngambang,” jare Jon.

Wadah, lek mulai serem ngene ndang tak entekno ae cenil iki. Lupise yo merdu hare. Kesusu-susu sampek ate kloloten.
“Nakamo sing enak, Tun. Koen ojok melok-melok. Tak gibeng lho lek gak mbok entekno. Aku biyen yo ngono, rodok nggeges. Deloken toko-toko roti tlecekan, iko. Wong dodol jajan model opo ae. Aku aco ae, Tun. Rejeki onok sing ngatur. Rombongku tak gae resik, pangananku tak gawe tambah enak. Adahe deloken, lho tak gawe moderen, mbois ya?. Aku tau saiki lek ngedoli ambek mrengut? No… no way… kadit, saiki kudu mesam-mesem…ngguya-ngguyu…,” Jare Mbak Tini gayae koyok penyanyi lawas. Paitun ngempet ngguyu ambek mbatin, yo pinter dakocan iki. Lambene gaya cenil dicakot. Hadak Bambing mbengok tekok warung halabes.

“Cenil kloponeh… ngetan lupisehhh..,” Untune osi koyok cecek-cecekan. Rambute koyok horog-horog. Des iku.(Idur/Yei)

Generasi Milenial dan Peristiwa 1965

Penulis Eki Robbi Kusuma

*Pemerhati Sejarah dan Mahasiswa Sejarah Pascasarjana Universitas Negeri Malang*

Peristiwa 1965 merupakan sebuah pembicaraan yang masih sangat sensitif, baik diruang publik maupun akademik. Hegemoni tafsir dan wacana yang begitu kuat menjadi masalah untuk generasi sekarang menemukan perspektif yang komprehensif memandang peristiwa paling berdarah di negeri ini. Tulisan ini tidak akan membahas detail dan masuk dalam perdebatan siapa benar dan siapa salah yang sampai saat ini belum menemukan penyelesaian yang memuaskan, karena akan mengurangi esensi dalam belajar sejarah yakni agar kita bijaksana.

Setiap generasi akan menafsirkan sejarah sesuai jamannya, kata Hegel. Setidaknya pernyataan tersebut dapat dijadikan bahan merenung terkait bagaimana generasi milenial melihat peristiwa 1965. Di tengah gelombang tsunami informasi saat ini, tidak sulit untuk menemukan sumber-sumber baik buku maupun jurnal serta tulisan yang dapat dipertanggungjawabkan isinya yang membahas mengenai peristiwa tersebut.

Persoalannya, apakah generasi milenial yang melek teknologi dan gadget-able setiap hari ini ter-literasi dengan baik? Atau malah iliterasi. Selanjutnya, bagaimana mereka memandang peristiwa 1965 yang notabene merupakan masalah yang multidimensional sehingga untuk menguraikannya membutuhkan energi yang tidak sedikit. Namun, apa urgensinya mempelajari peristiwa tersebut? Lebih umum belajar sejarah.

Budaya Literasi

Hal pertama menyoal literasi, Ane Permatasari menjelaskan perihal literasi dapat diartikan melekteknologi, melek informasi, berpikir kritis, peka terhadap lingkungan, bahkan juga peka terhadap politik. Seorang dikatakan literat jika ia sudah bisa memahami sesuatu karena membaca informasi yang tepat dan melakukan sesuatu berdasarkan pemahamannya terhadap isi bacaan tersebut. Walaupun Literasi memiliki banyak dimensi, dan di tahun 2015 pemerintah sudah mulai mencanangkan Gerakan Literasi Nasional tetapi dalam hal ini berakar pada literasi baca tulis.

Persoalannya kemudian, dipaparkan Surangga sensus Badan Pusat Statistik (BPS) di 2006 menunjukkan 85,9 persen masyarakat memilih menonton televisi daripada mendengarkan radio (40,3 persen) dan membaca koran (23,5 persen). Masyarakat Indonesia belum terbiasa melakukan sesuatu berdasarkan pemahaman dari membaca. Masyarakat Indonesia belum dapat mengaktualisasikan diri melalui tulisan. Membaca dan menulis belum menjadi budaya dan tradisi bangsa Indonesia. Masyarakat lebih familiar dengan media visual (menonton), verbal (lisan) atau mendengar dibandingkan membaca, apalagi menulis.

Permatasari menambahkan UNESCO mencatat indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, pada setiap 1.000 orang, hanya ada satu orang yang punya minat membaca. Masyarakat di Indonesia rata-rata membaca nol sampai satu buku per tahun. Kondisi ini lebih rendah dibandingkan penduduk di negara-negara anggota ASEAN, selain Indonesia, yang membaca dua sampai tiga buku dalam setahun. Angka tersebut kian timpang saat disandingkan dengan warga Amerika Serikat yang terbiasa membaca 10-20 buku per tahun. Saat bersamaan, warga Jepang membaca 10-15 buku setahun.

Dengan data tersebut, seharusnya cukup menggambarkan bagaimana budaya literasi pada umumnya masyarakat Indonesia. Minimnya dan mirisnya budaya ini akan menjadi masalah pelik ketika dikaitkan dengan pembelajaran sejarah yang pondasinya adalah membaca. Dengan tingkat budaya literasi yang rendah, tidak dipungkiri jika milenial dalam melihat peristiwa 1965 amat bergantung pada prasangka-prasangka yang berkembang dan pewarisan ingatan generasi sebelumnya.

Milenial dan Peristiwa 1965

Siapa Generasi Millenial ? Ali menjelaskan Setelah perang dunia ke 2, kelompok demografis (cohort) dibedakan menjadi 4 generasi yaitu generasi baby boomer, generasi X (Gen-Xer), generasi millennials dan generasi Z. Generasi baby boomer adalah generasi yang lahir setelah perang dunia kedua (saat ini berusia 51 hingga 70 tahun). Disebut generasi baby boomer karena di era tersebut kelahiran bayi sangat tinggi. Generasi X adalah generasi yang lahir pada tahun 1965 hingga 1980 (saat ini berusia 35 hingga 50 tahun). Generasi millennials adalah generasi yang lahir antara tahun 1981-2000, atau yang saat ini berusia 15 tahun hingga 34 tahun. Generasi Millennials (juga dikenal sebagai Generasi Millenial atau Generasi Y) adalah kelompok demografis setelah Generasi X, sedangkan generasi Z merupakan generasi yang lahir setelah tahun 2000 hingga saat ini.

Jika mengacu pada teori-teori konflik maka millenials sebenarnya masih begitu dekat dengan ingatan peristiwa tersebut karena milenialls dapat dikatakan generasi pertama dari generasi yang mengalami peristiwa 1965. Konflik yang dialami oleh generasi sebelum milenial akan dipersepsikan pada generasi milenial ditambah dengan internalisasi wacana-wacana yang kuat dari rezim yang berkuasa untuk mempertahankan legitimasi. Hanya saja, kedekatan itu tidak seolah-olah membuat milenials benar-benar merasakan, atau menganggap konflik itu benar-benar nyata dan mewariskan konflik tersebut.

Generasi milenial sendiri, jika kita cermati pun dapat dikelompokkan lagi berdasarkan rentang generasi 80-an, 90-an dan mungkin 2000-an. Kategori tersebut hanya untuk memudahkan bagaimana memahami cara pandang milenial terhadap peristiwa 1965. Menurut Ali Generasi Millennial merupakan generasi yang unik, dan berbeda dengan dengan generasi lain. Hal ini banyak dipengaruhi oleh munculnya smartphone, meluasnya internet dan munculnya jejaring sosial media (social media). Ketiga hal tersebut banyak mempengaruhi pola pikir, nilai-nilai dan perilaku yang dianut. Generasi Millenial adalah generasi yang “melek teknologi”. Munculnya teknologi (gadget dan internet), perubahan geografis dan perubahan daya beli secara berlahan tapi pasti telah mengubah perilaku dan nilai nilai yang dianut oleh manusia. Urban middle-class millennials adalah masyarakat yang memiliki perilaku dan nilai-nilai yang unik yang disebabkan oleh melekatnya tiga entitas tersebut. Masyarakat urban middle-class millennials merupakan masyarakat muda terbuka (open minded), individualis, dan masyarakat multikultur sehingga memunculkan budaya-budaya baru

Kata kuncinya ada pada masyarakat muda yang terbuka. Keterbukaan ini adalah pintu masuk untuk melihat peristiwa 1965 secara lebih objektif. Tujuannya tidak lain agar bangsa ini memahami dirinya sendiri dengan mempelajari sejarah bangsanya. Terkhusus peristiwa 1965 yang menjadi genosida politik dan tragedi kemanusiaan paling besar sepanjang sejarah bangsa ini yang masih tertutup kabut.

Iqra Anugrah berpendapat bahwa perlu melihat tragedi 1965 dalam rangkaian kekerasan massal yang lain: genosida di Rwanda, pendudukan dan kelaparan paksa di Timor Leste, pembantaian di Kamboja, dan bahkan holocaust Nazi di Jerman. Dari perspektif tersebut, terang sudah bahwa tragedi 1965 juga merupakan bagian dari sejarah kelam pembantaian di berbagai tempat di dunia – kecuali jikalau orang Kiri dianggap sebagai setengah manusia, binatang, atau seorang jalang.

Walaupun ada upaya-upaya politisisasi kembali terhadap peristiwa tersebut tetapi hal itu malah membawa milenials mencari kebenaran peristiwa-peristiwa tersebut. Jika tidak diarahkan dengan baik maka yang terjadi bisa saja seperti adopsi simbol-simbol nazisme oleh generasi muda. Hitler dan Nazi-isme yang diadopsi sebagai symbol perlawanan terhadap Yahudi saat ini dan kegagahan Jerman sehingga muncul keinginan menirunya tanpa pengetahuan yang mumpuni dalam melihat sejarah.

Tidak terkecuali peristiwa 1965, maukah kita menelusuri kompleksitas sebuah tragedi kemanusiaan yang dilakukakan oleh komponen-komponen masyarakat dan disponsori oleh negara yang skalanya cukup besar dan luas ke berbagai bidang kehidupan. Asvi Warman Adam dalam pidato pengukuhannya sebagai profesor riset di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Kamis pagi 26 Juli 2018 menjelaskan Tiga periode perdebatan historiografi G30S/1965. Periode pertama menurut Asvi meliputi periode perdebatan di seputar siapa dalang peristiwa G30S 1965 yang terjadi pada kurun 1965-1968, periode kedua terjadi penulisan sejarah resmi oleh pemerintah Soeharto yang dimulai sejak 1968 sampai 1998. Pada periode ini pula upaya menghilangkan peran Sukarno dalam sejarah terjadi. Periode ketiga terjadi semenjak berhentinya Soeharto sebagai presiden pada 21 Mei 1998. Asvi menyebut periode ketiga ini sebagai periode pelurusan sejarah.

Awal tahun 2000 ketika Gus Dur menjabat sebagai Presiden pernah mengajukan ide pencabutan Tap MPRS yang melarang Partai Komunis Indoneia (PKI) dan penyebaran Komunisme/ Marxisme/ Leninisme, yakni Tap MPRS No. XXV/MPRS/1966 yang akhirnya menuai protes keras saat itu. Dua alasan pokok atas ide pencabutan Tap MPRS tersebut. Pertama, tidak ada lembaga yang bisa melarang ideologi, karena ideologi berada di dalam pikiran manusia. Kedua, kebenaran sejarah tentang keterlibatan PKI dalam pembunuhan terhadap enam perwira tinggi Angkatan Darat pada tanggal 30 September 1965, sebagaimana diklaim oleh rezim Soeharto (dan sebagaimana secara sosial diyakini sebagai satu-satunya kebenaran), perlu diperiksa ulang. Namun, dari kedua alasan itu, tidak satu pun yang dijadikan sasaran kecaman dalam aksi-aksi protes tersebut. Argumen utama penolakan ide pencabutan Tap MPRS yang melarang PKI dan ajaran komunisme di Indonesia adalah bahwa komunisme bertentangan dengan Pancasila, di mana sila pertama berbunyi “Ketuhanan yang Maha Esa”

Milenial mungkin memiliki budaya literasi yang kurang tetapi keterbukaannya terhadap infomasi akan membawa generasi ini lebih objektif melihat peristiwa 1965. Tidak dapat dipungkiri bahwa perdebatan siapa dalang dibalik peristiwa tersebut masih menjadi perbincangan hangat, tetapi jika dicermati secara holistik tidak ada aktor tunggal dalam peristiwa tersebut. Disamping itu sejarah tidaklah hitam dan putih, setiap kelompok memiliki kecacatannya masing-masing dan sudah seyogyanya tidak memengaruhi keseluruhan sumbangsihnya terhadap bangsa dan negara. Mari membaca, jangan hanya berprasangka.

Bancakan…

ikon paitun gundulLangit sik klawu, padahal sik awan. Paitun njagong ndik markase Bik Samini. Emperan cidek penginepan, nggene kodew-kodew kewut lek awan ngaso selonjor. Wong-wong sing uripe dinakam zaman, sak aken gak jelas kana araduse. Mangan kembul oges rong bungkus. Paitun kolem sak puluk rong puluk, gak tego tail.

Durung tentu bendinone ibuk-ibuk iki nakam ping pindo. Sing nyenengno lek rimpam ndik kene, cukup gak cukup onok nakaman sembarang digawe kembul. Gerimis rasane koyok singan, mbrebes mili ndelok bolo-bolo iki cik senenge iso nakam. Mumpung durung katut melas ngrasakno, Paitun pamitan.

Sak njaluke sikil uklam, Paitun lesek karepe dewe. Enake ngaso ae, sing cidek yo nrabas Urek-urek nang warunge Mak Tin. Lek Seloso ngene iki biasane njangan bung, lek Kemis manisah. Lek Minggu yo karek sing nget-ngetan thok, krupuk wis kanyab sing ayem. Hadah, lha kok emar. Lapo brengkesan undur-undur ndik kene kabeh. Mak Tin ngawe ayas. Aco ae langsung ublem, gaya kadit lanek ae. Nggedabrus opo ae wong-wong iku.

“Howone kampung ancene seje. Arek-arek enom ketoke aktip sak iki. Lek ente pas liwat, deloken, ndik embong deretan hamure Nanang iku gelek onok acara, koyok serasehan, onok musike barang. Ndik hamure Pak Ranu, ngarep taman iko yo gelek remaja nglumpuk koyok rapat,” jare Bendhot.

“Yo apik tah lek kanyab kegiatan. Ayas pas nang Narko, ndik ngarepe hamure yo emar. Mboh mbahas opo, onok deklamasine barang ambek gitar-gitaran,” jare Bambing, ngomong ambek nggiling ae situk iku, batine Paitun.

“Tapi jare Narko, tau kanae sing kodew crito. Arek iku lak aktip kolem-kolem kegiatan. Jare yo onok sing ketoke gak tepak, maksute sakjane gak cocok karo budayane kene. Kanae Narko iku lak cerdas, mungkin suwe-suwe yo kroso,” Bendhot nerusno crito.

Mulai thethekan iki, oleh ae lek kulakan perkoro. Liane male katut wis. Jakete ambune koyok pindang, batine Paitun. Temenan, gak kaop Bianto lambene berengen.

“Ayas tau krunguh beritah. Sama keamanan RW kan terus dipantoh. Sepertinyah ada yang nyetel. Katanyah… guduk ayas,” jare Bianto. Pipine iso koyok miler.

Paitun kudu ngguyu, radio lek e disetel barang. Irunge koyok potensio. Bianto iki umpomo dikongkon ndodok ndik Urek-urek, paling ditowo wong soale dikiro radio lawas. Untune lek mrenges persis cethekane radio lawas, ombo jejer-jejer.

“Ojok ngeres sik ente. Gak kabeh ngono. Ababmu aturen ta lek ngablak. Ente ayahab, Ot. Saiki usum, masyarakat tewur yo gara-gara wong koyok ente. Gak ngerti urusane maringono ngomong pathing pecothot, kemeruh pisan. Male kanyab wong salah paham. Ati-ati pren ente lek ate ngobral abab, ngawut ae…” Samian ketoke gregeten. Kukule kanyab wanyik, pipine osi koyok samiler.

Pak Nardi sing kait maeng nggethu nakam ketan ketoke ate nengahi. Wanyik iki wis kewut, untune siba hadak senengane ketan. Lek nakam ketan male nggiring, lek wis tepak kaet dilek ambek rodok mendelik. Iku ae ambek disurung ngombe ipoke.

“Sik… sik… ngene lho dik. Zamane saiki lak zaman terbuka. Orang boleh berkumpul, berpendapat, melok mikir urusan umum. Sampeyan delok ta, gak usah adoh-adoh, ndik kampung kene ae. Sing diarani kumpulan, komunitas … opo ae istilahe, cik akehe… muncul koyok jamur lek udan. Iya apa ndak?”

Lek Pak Nardi sing pidato, liane cendelone mingkem. Bianto thok sing sik kethok untune, padahal wis mekso mingkem. Pak Nardi pidato, kudu nyimak. Lek gak iso dipaido ente.

“Lha… saiki sing penting masyarakat dewe. Masyarakat kudu pinter, kudu kritis… yo ambek melok memantau. Kan nanti kelihatan, iku misine opo, iko tujuane opo, terus juga dilihat mau dibawa kemana generasi muda kita. Lek gak, lhooo…iso-iso anak-anake dewe digawe bancakan, digawe kembul ambek sing duwe-duwe kepentingan. Iyo lek pas sing dieloki jelas. Pak RW ambek pengurus liane harus peka
soal ini. Ojok bangun fisik thok. Gawe opo kampunge apik lek atine wargane nggreges, isine mek suudon, ngarani, didu, gak nyaman, kuatir thok. Iyo opo gak?” jare Pak Nardi.

Bendhot iso kliru manthuk nang mburi, ketoke ngantuk pol. Bambing ngelapi lambene, pancetae ndlendeng. Samian ngowos. Ayas methakol ae nakam ambek jangan bung., mblendrang hare. Sak karepmu, Di.

“Saya kapan itu ketemu warga, ngobrol-ngobrol. Semua ndak keberatan, ya cuma kalau bisa jangan sampeklah kegiatan-kegiatan itu tidak sesuai dengan budaya kita, terus dicecer paham-paham sing gak jelas, ambek aktivitas-aktivitas sing mbingungno keyakinane masyarakat. Carane ancene alus. Sing gak ngerti ae iso mbelani. Yo tugase awake dewe kabeh njogo kampung, mageri, lek kegiatane bener, manfaate jelas gawe warga, gak ditumpaki kepentingan, ya kita kan mendukung,” Pak Nardi ngomong terus.

Krungu tumpak-tumpakan, Paitun mripit liwat lawang mburi. Lek gak ndang nyengkre awak-awakan suwe-suwe osi ditumpaki kepentingan pisan, Paitun rikim. Tekok ngarep balai RW Paitun mandeg, kok emar pisan. Ambek munduk-munduk Paitun moro, nginceng tekan cendelo. Lhuk, ndik mejo panganan sak arat-arat.

Hadak bancaan, wakehe, padahal wonge mek piro. Waduh lha kok diparani Riadi, keamanan RW paling kereng hare. Genarone kendep tapi raja tega. Kepergok thok, iso ngompol ente. Ganok omonge, plak-plek ae. Ndik embong-embong sopo gak wedi ambek Riadi, disapu kabeh.

“Ket maeng koen tak delok inceng-inceng. Lapo ae. Iki, tak bungkusno koen. Ojok rame ae. Sing iki titip pisan. Kekno nang Bik Samini. Ampirno lo?” jare Riadi setengah mbisiki ambek ngisaki kresek.

Tiwas grogi ayas. Gak nglindur ta arek iku.

Kartini di Tengah Covid-19, Refleksi Masa Perjuangan Kaum Perempuan

Oleh: Eulrasia Kristi

Selamat Hari Karitini (21 April 1879 sampai 21 April 2020). Selamat merayakan kehidupan sebagai perempuan-perempuan pemberi hidup, khususnya untuk semua perempuan yang saat ini sedang berjuang antara menolong orang lain di ambang batas kehidupan dengan melindungi diri sendiri. Semoga kalian selalu diberikan hati yang besar, semangat yang tidak pernah usang, dan harapan yang selalu mengiringi langkah juang.

Dalam merefleksikan semangat perjuangan Kartini tentunya kita patut memberikan apresiasi dan penghargaan terhadap perempuan-perempuan yang saat ini menjadi garda terdepan pejuang melawan pandemi covid-19, yaitu para tenaga kesehatan. Keteguhan dan ketegaran yang diwarikaskan oleh seorang Kartini dalam perjuangannya menjadi sebuah pemaknaan kontekstual yang dilanjutkan oleh perempuan-perempuan yang berprofesi sebagai tenaga kesehatan terkhususnya di Indonesia pada saat ini.

Memiliki keteguhan yang kuat terhadap tugas dan panggilan, bukan hanya sebatas pada sebuah profesi. Tetapi misi panggilan atas nama kemanusiaan serta ketegaran hati untuk tetap setia pada konsekuensi yang akan diterima. Beberapa konsekuensi yang harus dialami mereka adalah tidak bertemu keluarga, melawan rasa khawatir dan takut, penolakan akibat stigma di masyarakat, serta nyawa mereka sendiri.

Berdasarkan data World Health Organization (WHO) pada tahun 2019, jumlah perempuan sebagai tenaga kesehatan secara global mencapai 70 persen dari total keseluruhan tenaga kesehatan. Di Asia Tenggara, mayoritas tenaga kesehatan adalah perempuan, terdapat 79 persen perempuan yang berprofesi sebagai perawat dan 61 persen sebagai dokter.

Di Indonesia, berdasarkan data Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) per April 2017 tercatat jumlah perawat sebanyak 359.339 orang yang terdiri dari 29 persen atau sebanyak 103.013 orang perawat laki-laki dan 71 persen atau sebanyak 256.326 merupakan perempuan. Jika dipresentasikan berdasarkan jenis fasilitas pelayanan kesehatan, perawat yang bekerja dirumah sakit adalah sebesar 58,26 persen dan 29,46 persen pada puskesmas (Kemeterian Kesehatan 2017).

Meningkatnya jumlah pasien yang terkena virus corona sampai saat ini tentunya tidak sebanding dengan jumlah perawat atau tenaga kesehatan yang tersedia. Rasio perawat terhadap 100.000 penduduk Indonesia pada tahun 2014 sebesar 94,07. Pada tahun 2015, angka ini menurun menjadi 87,65 perawat per 100.000 penduduk, serta pada tahun 2016 adalah 113,40 per 100.000 penduduk.
Rasio ini masih jauh dari yang ditetapkan dalam Rencana Strategis Kementerian Kesehatan tahun 2015-2019 sebesar 180 perawat per 100.000 penduduk (Kementerian Kesehatan 2017).

Hal inilah yang menjadi kendala dalam pemutusan mata rantai penangan covid-19 yang bukan hanya dirasakan oleh Indonesia, tetapi juga seluruh dunia. Permasalah kekurangan tenaga kesehatan dengan sendirinya mengakibatkan beban jam kerja melampaui batas normal bagi tenaga kesehatan terutama bagi yang perempuan. Disamping itu, dampak psikologis, ekonomi dan stigma sosial, kesehatan dan keselamatan juga merupakan faktor paling penting. Berdasarkan catatan Ikatan Dokter Indonesia (IDI), hingga 6 April terdapat 24 dokter meninggal karena Corona. Tujuh orang diantaranya merupakan perempuan.

Sampai saat ini, terdapat persoalan mendasar terkait kebutuhan terhadap Alat Pelindung Diri (APD) bagi tenaga kesehatan di berbagai rumah sakit. Diketahui APD untuk tenaga kesehatan masih kurangan dan sangat langka. Tenaga medis mulai kekurangan APD untuk tangani pasien terkena virus corona.

Melonjaknya angka pasien nyaris tak seimbang dengan kesiapan pemerintah dalam menyediakan APD, seperti yang terjadi pada Rumah Sakit Umum Pusat Dr Sardjito Yogyakarta (Tempo 2020). PPNI juga menyebutkan bahwa masih dibutuhkannya ribuan alat pelindung diri (APD) bagi anggotanya yang bertugas di 34 rumah sakit rujukan Covid-19 di Jawa Barat. Kebutuhan APD tersebut dianggap mendesak keberadaannya, mengingat perawat sebagai petugas medis yang kontak langsung dengan pasien.

Seperti yang telah tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 8 Tahun 2010, bahwa APD merupakan prosedur utama dalam kegiatan pelayanan kesehatan untuk mengantisipasi risiko keselamatan dan kesehatan kerja para petugas. Sehingga penyediaan APD merupakan kewajiban perusahaan pemilik fasilitas kesehatan.

Untuk itu sangat diharapkan peran pemerintah dapat mengatur tentang persoalan ketersediaan APD dan juga mekanisme harga yang berlaku di pasaran. Sehingga harga APD tidak melonjak tinggi. Pemerintah juga diharapkan dapat memberikan perhatian dengan sebaik-baiknya terhadap pejuang garis terdepan melawan Covid-19 untuk memastikan kebutuhan alat kesehatan dan keselamatan yang tetap terjamin.

Disamping itu, kitapun tidak dapat melupakan perempuan-perempuan dibalik tersedianya kebutuhan APD bagi tenaga medis. Mereka perempuan yang masih bekerja di dalam ancaman dampak Covid-19 demi untuk keselamatan pasien dan perempuan lain, adalah salah satu bentuk kontribusi paling nyata bagi kartini masa kini.

Terdapat sekitar 60 persen UMKM di Indonesia yang memproduksi masker, baju pelindung, dan hand sanitizer juga diperankan oleh perempuan. Berdasarkan rilis Kementerian Koperasi dan UKM, telah dilakukannya kerjasama dan membantu distribusi penjualan produk para Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang memproduksi Alat Pelindung Diri. Di Yogyakarta terdapat UMKM yang beralih produksi ke pembuatan masker yang dikerjakan oleh seluruh tenaga kerja yang adalah perempuan.

Tidak lupa teruntuk perempuan-perempuan pengambil kebijakan yang melakoni peran pucuk pimpinan sebagai pejabat publik seperti Menteri, Gubernur, Walikota dan Bupati guna penanganan dampak Covid-19, dalam melakukan kebijakan-kebijakan strategis untuk mengatasi persoalan siklus perputaran ekonomi daerah, kesejahteraan masyrakat, permasalahan kesehatan dan sosial dan dampak lainnya.

Para perempuan pekerja kreatif seperti influencer yang memberikan kontribusi mereka melalui kampanye positif melalui media sosial bagi masyarakat Indonesia seperti tetap stay at home, penggunaan masker, galang donasi untuk membantu tanaga kesehatan maupun masyarakat yang terkena dampak Covid. Perempuan pekerja sosial yang menggerakan lembaga-lembaga bantuan sosial serta para jurnalis yang senantiasa bertugas meliput di tengah wabah Covid. Begitu juga para pengusaha yang mengubah skema produksi untuk membantu kebutuhan APD para tenaga medis, seperti perancang busana Anne Avantie yang memproduksi dan menyumbangakan APD secara gratis (www.kompas.tv). Hal itu merupakan bentuk pemaknaan paling konstekstual terhadap perjuangan Kartini diikuti oleh perempuan Indonesia saat ini.

Untuk perempuan tenaga kesehatan, pengambil keputusan, para pekerja formal dan informal, ibu rumah tangga, perempuan aktivis mahasiswa, pekerja kreatif, jurnalis, pengusaha serta semua perempuan Indonesia, selamat memaknai kembali perjuangan Kartini dengan pengorbanan paling tulus yang dilakukan oleh kalian semua pada saat ini. Semangat perjuangan mengiringi kita sampai keadaan kembali membaik menjadikan Indonesia kuat dalam menghadapi ancaman pandemi covid-19. Kehidupan selalu membutuhkan energi positif para perempuan penjaga kehidupan. Selamat merayakan, Selamat berjuang. Kebaikan mengikuti.

*) Eulrasia Kristi, Mahasiswi Semester 4 Jurusan Ilmu Komunikasi (Konsentrasi Jurnalistik) Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang.

Penyakit Hukum Peraturan Presiden No 64 Tahun 2020 dan Masyarakat Sebagai Tumbalnya

Oleh: Ferry Anggriawan SH., MH

Diundangkannya Peraturan Presiden No 64 Tahun 2020 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden No 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan oleh Presiden Joko Widodo beserta Kementerian Hukum dan HAM, Yasonna H. Laoly tertanggal 6 Mei 2020, ibarat hujan yang diharapkan pada musim kemarau panjang, tetapi ia datang dengan banjir bandang yang menyirami, sekaligus menyapu dan menghancurkan harapan tersebut.

Sebagian harapan juga dialami penulis ketika sebulan yang lalu datang ke Kantor BPJS Kota Malang untuk mengurus administrasi terkait perubahan data, sekaligus menanyakan reaksi BPJS pasca Putusan Mahkamah Agung No 7P/HUM/2020 yang mengabulkan keberatan uji materiil dari pemohon Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) terkait pembatalan kenaikan tarif iuran BPJS baik kelas 1,2 dan 3 sontak saya menanyakan hal tersebut “mas kapan iuran mulai diturunkan?, kan sudah diputus sama MA kemarin! Dengan tenang customer service menjawab “nunggu Perpresnya keluar mas ya”.

Ditengah krisis kesehatan karena adanya pandemi covid 19 yang berdampak pada melemahnya perekonomian di Indonesia, Peraturan Presiden yang diharapkan itu datang dengan tujuan berbeda yang justru mencederai hukum dan keadilan. Seolah tidak ada respect terhadap Putusan Mahkamah Agung No 7P/HUM/2020. Peraturan Presiden yang diharapakan dapat menyesuaikan dengan Putusan MA tersebut, justru bertentangan dengan tetap menaikkan iuran tersebut melalui Pasal 34 ayat 7 Peraturan Presiden No 64 Tahun 2020. Presiden memang mempunyai kewenangan dalam hal ini, tetapi secara etika hukum, ini adalah abuse of power yang mengakibatkan penyakit hukum di Indonesia.

Penyakit hukum adalah penyakit yang diderita oleh hukum itu sendiri, yang menyebabkan hukum tidak dapat dilaksanakan sesuai dengan fungsinya secara optimal. Penyakit hukum itu dapat menimpa “substansinya”, “strukturnya” dan “kultur hukum”-nya. Setelah melihat pertimbangan hakim MA dalam Putusan MA tersebut, kenaikan tarif yang diakibatkan karena defisit Dana Bantuan Sosial, disebabkan karena adanya kesalahan dan kecurangan dalam pengelolaan dan pelaksanaan program jaminan sosial oleh BPJS, tetapi yang menanggung beban kesalahan dan kerugian tersebut adalah rakyat dengan dijadikan tumbal untuk membayar iuran dua kali lipat dari sebelumnya, untuk menutupi defisit keuangan tersebut. Ini adalah penyakit hukum “struktural” dalam BPJS.

Penyakit hukum “substansi”-nya, terletak pada tetap dinaikkannya iuran BPJS melalui Pasal 34 ayat 7 Peraturan Presiden No 64 Tahun 2020 yang secara otomatis memberikan kekuatan hukum dalam penerapannya. Jika kita cermati, fungsi Pepres itu sendiri adalah melaksanakan perintah perundang-undangan yang lebih tinggi. Ratio decidendi (alasan putusan) Hakim MA melalui Putusan No 7P/HUM/2020 menyatakan bahwa kenaikan tarif tersebut bertentangan dengan Pasal 2 Undang-Undang No 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Kesehatan Nasional dan Pasal 2 Undang-Undang No 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial. Dalam teori jenjang norma Peraturan dibawahnya tidak boleh bertentangan dengan peraturan yang berada di atasnya, berarti Peraturan Presiden tidak boleh bertentangan dengan Undang-Undang, karena Perpres berada dibawah Undang-Undang. Fakta hukum yang terjadi Pasal 34 ayat 7 Peraturan Presiden No 64 Tahun 2020 tetap diundangkan oleh Presiden Jokowi, meskipun secara konsep hukum bertentangan dengan norma hukum yang ada di atasnya.

Res Judicata Pro Veritate Habetur”artinya apa yang diputus hakim harus dianggap benar. Putusan Hakim MA melalui Putusan Mahkamah Agung No 7P/HUM/2020 seharusnya dianggap benar dan diterapkan dalam produk hukum pemerintah melalui Perpres terkait masalah iuran BPJS, tetapi budaya hukum Pemerintah berkata lain, nilai-nilai kebenaran yang sudah diuji di pengadilan, tidak dianggap benar oleh pemerintah, bahkan dihilangkan dari aturan pelaksananya. Ini adalah penyakit hukum pemerintah dari segi “kultur”-nya.

BPJS adalah instrumen Pemerintah untuk mencapai tujuan bernegara melalui jaminan kesehatan yang berkualitas tanpa diskriminasi dengan bersama menjaga kesinambungan financial yang diharapkan menjadi solusi, menjamin penyembuhan penyakit-penyakit yang diderita oleh warga negara Indonesia. Tetapi Presiden harus melihat lebih jauh daripada itu, karena masih ada penyakit-penyakit hukum yang diidap oleh BPJS itu sendiri dan itu termasuk tugas anda untuk menyembuhkannya.

*)Ferry Anggriawan SH., MH, dosen di Fakultas Hukum Universitas Merdeka Malang

Dari Lintas Generasi Ditengah Covid-19, Hijrah Ke Dunia Digital

Oleh: Asra Bulla Junga Jara., S.I.Kom

Percepatan teknologi di era revolusi industri 4.0 menjadi sebuah keharusan sejarah. Jika pada awalnya istilah ini identik dengan generasi milenial, maka sekarang generasi sebelumnya juga harus terbiasa. Teknologi melalui handphone (HP) menjadi fenomena yang harus dipelajari dan dijalankan masyarakat baik tua dan muda dalam kehidupan sehari-hari. Dibantu teknologi, informasi dan edukasi menjadi semakin mudah, cepat dan praktis sehingga membantu manusia dalam aktivitas kesehariannya.

Tapi apakah ideal seperti itu kebermanfaatan teknologi bagi kehidupan manusia? Dalam sebuah diskusi online lewat apilikasi zoom yang saya ikuti dalam beberapa hari lalu, seorang narasumber menyebut istilah “Hijrah Digital”. Sebuah kalimat yang semakin dirasakan oleh kita belakangan ini terutama setelah fenomena Covid-19 hadir di Indonesia pada awal Maret tahun 2020. Setelah ditemukan kasus warga di Indonesia yang positif Covid-19, seketika fenomena digital mulai dipertimbangkan untuk dipakai masyarakat secara luas. Adanya wabah Covid-19 menjadi jalan manusia Indonesia memasuki gerbang hijrah digital sepenuhnya.

Disebut sepenuhnya, sebab sebelumnya fenomena digital terpisahkan antar generasi. Pada generasi pra milenial, perilaku digital ditandai terbatas bisa memiliki handphone (HP) untuk berkomunikasi, komputer buat bekerja, kurang aktif menggunakan fasilitas pembelajaran berbasis media sosial yang semuanya disebabkan keterbatasan menggunakan teknologi. Sebaliknya, generasi millenial aktif bekerja dan belajar dengan memakai media sosial baik WhatsApp, Line, Twitter dan sejenisnya. Sekarang, ketika Covid-19 menyebar, orang dipaksa belajar dan bekerja di rumah, maka hijrah digital menjadi sebuah keharusan bagi semua kalangan baik generasi pra milenial dan milenial.

Pasca penyebaran Covid-19, pemerintah mulai aktif mengajak masyarakat untuk belajar, bekerja dan beribadah di rumah. Fasilitas pembelajaran online seperti zoom, google meet, live instagram dan aplikasi pembelajaran daring bermunculan. Masyarakat diarahkan belajar melalui aplikasi digital seperti ruang guru, Indonesia dan lainnya, sehingga perlahan hijrah digital lintas generasi dimulai. Generasi pra millenial “dipaksa” bersentuhan dan bertemu dengan milenial yang umumnya sudah akrab dan melekat dengan dunia digital dalam kehidupan sehari-harinya.

Tetapi perlu diingat konsep hijrah digital menyisakan dua persoalan. Pertama, umumnya generasi pra millenial tidak selalu mudah untuk mau belajar, adaptasi dan berhijrah dari pemakaian teknologi dan sebagiannya kemampuan manual, masuk ke dunia serba digital. Bagaimanapun harus diakui, fenomena digital belum sepenuhnya dapat diterima seluruh masyarakat Indonesia. Untuk generasi pra millenial, mereka umumnya sudah terbiasa belajar dan bekerja dengan dunia nyaman. Adanya teknologi membuat mereka harus beradaptasi dengan semua kecanggihan teknologi yang tentu membutuhkan waktu dan proses yang tidak mudah.

Sebagai contoh, sebelum Covid-19 masuk ke Indonesia, masih banyak penolakan terhadap penggunaan teknologi dalam instansi pendidikan. Ada pengajar yang terbiasa berceramah dan gagap membuat power point, memakai spidol kemudian menuliskan materi di papan tulis, absensi secara manual memanggil mahasiswa satu-persatu dan belum mampu membuat email. Ketika ada fasilitas aplikasi pembelajaran daring, penolakan datang dengan berbagai alasan yang berujung sikap enggan terhadap perubahan khususnya teknologi.

Tetapi sekarang, saat kondisi Covid-19 melanda Indonesia dan pemerintah “memaksa” masyarakat belajar, bekerja dan beribadah di rumah. Mau tidak mau, generasi pra millenial harus bersentuhan langsung dengan dunia digital. Sebagai pengajar, mereka harus terbiasakan menggunakan aplikasi pembelajaran daring dan fasilitasi pembelajaran online yang beragam bentuknya. Jika kapasitasnya sebagai orang tua, generasi pra millenial harus beradaptasi dengan teknologi untuk belajar bersama anaknya di rumah. Dalam kapasitas sebagai pekerja, dirinya harus terbiasakan rapat dan bekerja secara online.

Kedua, kembali pada pertanyaan awal, seberapa jauh idealitas kebermanfaatan teknologi dalam kehidupan manusia? Sebab mengingat aktivitas online baik belajar dan bekerja menyisakan tingkat keamanan teknologi yang sangat rawan. Beberapa waktu lalu misalnya ramai diberitakan zoom sebagai salah satu fasilitas pembelajaran online diketahui membocorkan data pengguna. Padahal kita mengetahui bersama, pasca pemberlakuan work from home aplikasi zoom banyak diminati kalangan masyarakat Indonesia. Mulai dari kegiatan diskusi, rapat online dan pekerjaan yang membutuhkan pengganti tatap muka menggunakan zoom.

Ada yang berkilah menggunakan zoom sebagai fasilitas belajar, bukan pekerjaan yang penting sehingga tidak takut datanya bocor. Tapi jangan dilupakan bahwa sikap mengabaikan dan meremehkan atas kerawanan kebocoran data pengguna akan berpotensi mengganggu kehidupan pribadi seseorang. Data anda bisa dipakai perusahaan teknologi untuk segala keperluan yang tidak diketahui pengguna dan berpotensi merugikan kehidupan Anda. Selain itu, hasil rapat online yang rawan mengalami kebocoran akan membuat perusahaan teknologi mengetahui informasi penting yang berkembang dalam sebuah negara maupun sebuah perusahaan.

Tapi menghadapi fenomena hijrah digital, kita memang harus mengakui itu sebuah keharusan sejarah yang tidak dapat dipungkiri sudah berada di depan mata dan Anda harus menjalaninya. Bagaikan rumus ampuh perubahan, semua di sekitar Anda akan berubah termasuk perubahan itu sendiri. Sekarang tugas generasi pra millenial membiasakan hidup dengan serba digital, beradaptasi dengan teknologi dan berusaha membaca serta mengikuti perkembangan teknologi. Sedangkan persoalan keamanan data pribadi, dibutuhkan perhatian bersama seperti misalnya mendorong pemerintah dan parlemen secepatnya mengesahkan produk konstitusi mengenai perlindungan keamanan data pribadi di era dunia teknologi yang semakin berkembang cepat dan menghasilkan disrupsi yang luar biasa dampaknya kepada kehidupan manusia.

*) Asra Bulla Junga Jara., S.I.Kom, Alumni S1 Ilmu Komunikasi Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri) Malang, Jurusan Ilmu Komunikasi (Konsentrasi Jurnalistik)

Pada Satu Tamasya Akhir Tahun; Puisi-puisi Beni Setia

HUMANIZEPOEM

bagai hentakan bola baja pada dinding
beton: aku bergetar

debum bangunan diruntuhkan. gempa
bumi lokal pada skala 7 richer

letupan nuklir terpusat. setara 6,5 kali
ledakan bom nagasaki-hiroshima

ini bukan peperangan. bukan soal apa aku
apa kamu. ini penyatuan dari pemisahan

kerigat. pertautan. zigot

2016

GERBANG SPIRITUALISTIK

terjaga lewat tengah malam. kepla sakit

jumbai syaraf dijerat. dikencangkan
dengan tarikan tali tambang. perih

“mungkin kurang oksigen,” katamu,
“mungkin terlampau banyak vodka,”

terlalu banyak ingin serta melulu
terhadang. debu di bingkai pintu

dan terjaga setiap masjid mulai
memutar kaset ayat al-quran

sakit–kurang berdzkir

2016

MANUSIA SIBERNASI

saya menciptakan diri sendiri, dari bau mulut
yang berdebat, dari tabrakan omong kosong
yang berbelit serta meneteteskan liur–materi
tidak terpakai yang berseliweran di angkasa.

berabad-abad

menjelma seorang: aku. serta seperti semua si
omong kosong, aku sosok yang berkepala bo-
long dan berotak kopong. bergaung dan berdesing

2016

PADA SATU TAMASYA AKHIR TAHUN

jangan percaya pada omongan mereka

katanya, katanya bos besar, saya tak boleh
ikut. bohong itu–akan saya cek langsung

: saya akan cek langsung. interlokal

mungkin mereka ingin saya tak ikut piknik,
dan ingin kerabatnya yang ikut–gratisan

mereka bilang bos besar melarang saya ikut
piknik. bohong itu–konyol

mungkin mereka tahu saya akan membawa
dagangan dan menjajakannya dalam bus

itu

kelicikan bsnis terselubung. mereka iri!
tak tahu cari kesempatan di kesempitan

kalian jagan mau ditipu, kalian jangan
dengar omogan mereka

2016

VARIASI ATAS TEMA-TEMA
ARWAH DI MASA DEPAN

1.
usia pelan menggiring ruh
memasuki masa lalu,serta
dinobati dan diberi kostum,
dikekalkan di dalam peran
yang dilakoni selama hidup

seratus tahu kemudian
anak cucu memutuskan lagi
tanpa bisa membela diri
mutlak dianggap cuma dorna bukan kresna
tecatat. tak bisa menggelak lagi

2.
: di masa depan arwah menjawab
semua pertanyaan-Nya jawaban jujur, dengan kesaksian si anggota tubuh

3.
banyak keinginan tetap tinggal
sebagai keinginan. melulu jadi
hanya luka hanya perih
(hanya yang terus dikenangkan
hanya keinginan yang kekal arwah keingin penasaran)

4.
kulit dan daging yang melapuk.
belatung yang tumbuh pada yang membusukpada yang kosong. klongsong

Beni setia

*Beni Setia, pengarang yang karyanya sudah tersebar di berbagai media massa.