Pekoro Gendero

ikon paitun gundulWis suwe gak mampir kampunge Wakid, mumpung pas liwat, mampir. Soale biasane lek ingeb akeh sing jagongan ndik pos. Lha tenan, wong-wong podo nglumpuk koyok mbako enak.

“Lhoo rek, lhok’en iku genaro endi, gak kesasar ta?” Onok sing mulai njeplak.
“Paling nglindur, lali kelab hamure, wkwkwk…” Mboh lambene sopo mene nyocot.

Pancet ae, olob lawas. koyok gak ketemu tahunan. Noyug gak jelas, rodok ingeb omongan mulai rodok jelas. Bianto (tapi arek-arek lek nyeluk Bionta) sing crito. Ngene…

Sak jeke warga kampung kono rodok makmur, yo onok sing berubah , tapi yo akeh sing gak. Onok sing gaya uripe berubah, onok pisan sing kelakuane tambah gak asik. Hobine wong-wong saiki panas-panasan.

Gak soal dunyo gak soal kelakuan. Wingenane pekoro tujubelasan. Pandi iki yo nawak lawas, tapi tibake yo kelakuane sik tetep lawas pisan, sampek dadi rasan-rasan wong-wong pekoro ndik ngarep omahe gak dipasang gendero.

Wis dirasane koyok golek ter-teran. Onok sing ngomong montore telu, sugih, tapi gak iso tuku cagak gendero. Sing kera partai komentar rodok kemeruh, jare iku ngono wis sibah nasionalismene. Omongan ebes-ebes kodew tambah koyok ambune klothok digoreng.

Sing jarene ngrentengi kodewan, sing jare ojobe Pandi camilane mas-masan, onok sing ngilokno jithoke jeru, wis pokoke ajur Pandi. Onok sik ngawut, jare Pandi dewe ae kongkon dadi cagak gendero, kera e lak kuru, duwur (lek ndek sekolahan biyen celukane ‘genter’). Ngono ketambahan gak nyumbang tujubelasan, alasan ben tahun panitia laporane gak jelas. Gak cerdas blas.

Lha kok Pandi krungu, itreng lek dadi omongan. Pandi sanap, wong-wong kerja bakti diparani. (Kaet iki Pandi teko kerja bakti, tapi ate ngamuk, nggawe kaos kutang lawas pisan).

“Ente kabeh gak asik. Pak RT, yok opo iki, ayas kurang opo nang RT. Koen yo ngono Mbang, aku itreng ente pinter politik tapi ente kadit nes nggowo-nggowo nasionalisme. Indab yo ngono (Bandi maksude) aku lak titip cagak gendero, ndi sampek saiki, paling ojire mbok gawe ceki. Maleh ayas sing kenek. Koen ancene sanjipak. Deloken yo, atase cagak gendero ae, tak tukokno sak kampung!”

Pandi ngaleh ambek ngroweng. Tibae kaos kutange mburine bedah. Wis wong-wong atawek kabeh. Menene kampung emar. Pandi nekakno pring cagak gendero nggowo pikep, onok lek 15 cagak.

“Kantun niki pak pringe.” Jare ripuse.
“Wis dumen pisan, kelilingno nang wong-wong iku. Cek ero Pandi iku sopo, atase pring ae!”
“Yotrone pak?”
“Tak bayar tak bayar. Mbok pikir ayas gak iso rayab. Dumno sik, mariki tak rayab, ya?”

Oleh sak jam, ripus pikep mbalik laporan.
“Mboten enten sing purun pak. Tirose pun enten kabeh. Tirose tiang-tiang, mosok omah siji genderone loro, ate gendheng ta, ngoten tirose tiang-tiang.”
“Lha terus tak gawe opo?
“Nggeh mboten semerep pak, sing penting sak niki pelunasane.”
“Koen rame ae, gak tak tukoni meneh mbesuk.”
“Sak niki sak niki pak, mbesuk nggeh mbesuk”

Pandi ngungib. Karepe ngomong sula nang ripus iku.
“Ngene ae mari, cek podho gak rugine, yo opo lek aku tuku separo ae.”
“Lha kulo lak rugi, adoh-adoh. Damel nopo.”
“Yo laweten maneh opo gawe en gendero ndik hamur ente, ya?

Ripus pikep mbesengut.
“Omah siji gendero loro, ate gendheng ta.”

Pandi sanap.
“Koen podho ambek wong-wong iku!”
Ripus iku ndang cepet-cepet nampani ojir sing diisaki Pandi.

Isuke kampung regeg. Warda kaget. Emar maneh. Kabeh grudukan nang hamure Pandi, koyok ate nang ekspo. Latar hamure Pandi dideki cagak sak genderone kabehe limolas. Pandi malangkerik ngarepe lawang nggawe kaos bedah, sampek kalah Paitun.

Quo Vadis Toko Modern Ilegal di Kota Malang

Oleh: Soetopo Dewangga *

GEMURUH suara Pemkot Malang pada detik–detik menjelang akhir 2015 dalam merespon keresahan masyarakat, yang salah satunya disuarakan Aliansi Anti Toko Moderen Illegal Kota Malang, terkait menjamurnya toko moderen yang menurut temuan Aliansi keberadaannya Illegal, direspon gegap gempita oleh Wali Kota Malang, yang antara lain menyampaikan akan inspeksi mendadak (Sidak) dalam bentuk Opsgab (operasi gabungan), dan bagi yang melanggar pasti disanksi, bahkan yang tak berizin di-police line.

Opsgab yang dilaksanakan pada 30 Desember dengan melibatkan beberapa SKPD terkait, telah menemukan beberapa toko moderen yang menurut Kepala BP2T, ada yang tidak bisa menunjukkan surat izin dalam bentuk SIUP maupun HO dan atau beberapa di antaranya SIUP dan HO nya sudah mati. Padahal SIUP dan HO hanyalah salah satu di antara persyaratan lain bagi pemilik usaha toko moderen untuk memperoleh IUTM ( Izin Usaha Toko Moderen ).

Atas temuan itu, ternyata Pemerintah Kota Malang tidak memberi sanksi apapun, bahkan janji memberi tanda police line pun hanya sebagi ungkapan bombastis yang tidak ada dalam tindakan nyata.

Dalam beberapa bulan terakhir, kita semua dibuat tercengang dengan penampilan akrobatik SKPD terkait took modern di Kota Malang, terutama menyangkut terkait tata kelola toko moderen.
Kasus Perda No 1 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Pusat Perbelanjaan,
Toko Moderen dan Pemberdayaan Pasar Tradisional, cacat tanggal penandatanganannya oleh Wali Kota Malang, sehingga Perda itu justru menjadi simbol carut-marut dan amburadulnya sistem penegakkan Perda Kota Malang terkait tata kelola toko moderen, disusul dengan Opsgab yang tak berhujung pangkal.

Sementara itu Pemerintah Kota Malang dengan tegasnya melakukan penindakan pada pedagang asongan di Alun–alun, PKL di kawasan Pasar Besar dan terakhir penertiban parkir liar, menjadi pemandangan kontras betapa dewi keadilan dengan mudahnya menebas hak-hak wong cilik secara serampangan, yang sesungguhnya memiliki derajat kesamaan dalam pelanggaran terhadap Peraturan daerah .

Akibatnya, masyarakat menilai secara tidak langsung bahwa penegakkan Perda bukan lagi menjadi bastion of justice (benteng keadilan), melainkan bassinet of justice (keranjang keadilan) yang mudah dininabobokan dan diayun sesuai kehendak penguasa.

Menyitir metode ‘moral reading’ dari Ronald Dworkin, Satjipto Rahardjo (2008) telah mengkonstruksikan negara hukum Indonesia sebagai suatu negara dengan nurani atau negara yang memiliki kepedulian (a state with conscience and compassion). Artinya, common sense dan legal sense yang berselaras dengan legal and moral ethics sejatinya menempati status penting dalam sistem penegakkan hukum di Indonesia.

Maka dari sudut subyeknya, penguasa harus membuka hati dan pikirannya terhadap perkembangan masyarakat, berdasar ketentuan hukum positif yang berlaku, agar dapat terhindar dari jebakan bahwa hukum tanpa ketegasan justru seringkali menghalangi lahirnya keadilan itu sendiri.

Berdasar data yang diungkap Kepala BP2T Kota Malang, bahwa jumlah toko moderen sebanyak 265 unit, terdiri dari 223 sudah diverifikasi dan 42 dimungkinkan tidak berizin, serta dinyatakan semuanya illegal oleh Aliansi, maka titik-titik kanker sudah diketemukan, dan melakukan operasi caesar dengan pisau yang tepat layak segera dilakukan, serta langkah seanjutnya adalah menata ulang sesuai peraturan perundangan berlaku.

Seyogyanya momentum ini dimanfaatkan sebagai renaissance ( kebangkitan ) nurani Pemkot Malang, sebagai wujud nyata komitmen dan kemauan politik dari Pemkot Malang dan DPRD. Sudah barang tentu masyarakat amat merindukan teladan hukum, sehingga prasyarat kejujuran, ketegasan, dan keberanian dalam menegakkan Perda dengan moral dan nurani, menjadi syarat minimal dari pencarian keadilan bagi masayarakat.

Sebaliknya, jika terbukti atau setidak-tidaknya terindikasi adanya praktik penyimpangan atas Perda di atas kekuasaan manapun, maka sudah selayaknya segera dibersihkan. Dalam konteks ini, ibarat ikan membusuk mulai dari kepala hingga ke ekor, maka tindakan yang pantas dilakukan adalah dengan memotong dan membuangnya (Imperium, 2007).

Masalah pelik dihadapi, ketika nurani seseorang tertutup kabut tebal akibat ‘keterlanjurannya’ terlibat atas sandiwara Prosedur dan Tupoksi (Tugas Pokok dan Fungsi). Satu hal yang tidak kalah pentingnya, bahwa carut marut tata kelola toko moderen di Kota Malang telah jatuh di meja publik melalui pemberitaan media massa, sehingga tabir kelam penegakkan Perda Toko Moderen di Kota Malang dapat tersingkap.

Quo Vadis (ke arah mana) tata kelola toko moderen di Kota Malang masih membutuhkan perjuangan dalam menegakkan keadilan berdasar moralitas dan hati nurani yang tulus memang terasa berat dan tiada henti. Akan tetapi, keyakinan atas pencapaiannya tidak boleh pernah goyah atau redup sedikitpun.

Tentunya di masa yang akan datang kita berharap, tak perlu lagi kita mengais-ngais untuk sekedar mencari sebongkah nurani di tengah-tengah ilalang keadilan.

Sesuai kajian yang dilakukan Aliansi Anti Toko Moderen Illegal Kota Malang, menujukkan bahwa operasional toko modern di Kota Malang adalah bentuk nyata pembiaran praktek usaha perdagangan ilegal oleh Pemerintah Kota Malang, terbukti tidak satupun tempat usaha toko modern yang dialasi izin IUTM ( Izin Usaha Toko Moderen ) sebagaimana disyaratkan dalam pasal 25 ayat 1 Perda No 8 Tahun 2010.

*Soetopo Dewangga, Koordinator Aliansi Anti Toko Moderen Illegal Kota Malang.

Jenang Sapar…

ikon paitun gundulHowo panas koyok ganok enteke. Ndik latare air mancur Alun-Alun, Paitun klesetan ngedem awak, nayamul oleh semriwinge kepyure unyab. Koyok ndik pantai wis, tapi duduk pantai banyu anjlok, iki banyu nyiprat. Adah… kanae apais sing clometan iku.

“Onok ikan duyuung… ikan duyung… nggendong kucing!”

Wis a, temenan, sak Alun-alun tail kabeh, arek cilik-cilik mblayu marani. Sing nggrumbul ndelok tandak bedhese Pak Untung, iso kolem semburat marani ayas. Boimin Tahu gak kaop lambene koyok wajan.

“Iku duduk ikan duyung le… iku iwak klothok diseweki… kak kak kak….,” Boimin kekel. Blekok iku… lek ngguyu koyok luwak.

Lhuk… Pak Untung sak sedebe mendelik nang ayas, Hadah… sedebe atame harem ngamuk ate marani, iral ae ayas, timbang dikrawuki. Ayas
mblayu ngetepeng, lha kok tambah ditabuhi ambek Pak Untung. Wong sak Alun-alun surak-surak. Saking kekele, Boimin karepe cekelan pikulan, tapi pikulane ucul, mbleset, njlungub raine ublem pas pancine petis.

Gentenan, wong-wong genti nyuraki Boimin, ngono yo ditabuhi terus ambek Pak Untung. Sedebe keplas wedi ndelok Boimin, gingkang ngamplok sak kayane nang bose.

Awak aman wis, ambekan karek seprapat hare. Nang warunge Mak Ti ae, ngelak… ewul pol pisan. Koen lek ero hedol e hmm… mblendrang thes.

Waduh onok opo iki, emar pol. Kanyab umbul-umbul, genaro grudukan. Warunge Mak Ti bek uwong, dengklek e entek, tapi kursi plastik pathing slengkrah. Sing marung gnarone dempal-dempal koyoke gak wani lungguh kursi plastik. Slimpe thithik iso nggeblak kalem.

Waduhh… lha kok buntut wolu thok sing nglumpuk. Kok muncul ngene iki, lha iku… Nomba, Eko, Mul, lhuu… Indab… Dra’ub, Solikin, Bengeb, meh kabeh onok. Gak ewul ngono eskip awak, batine Paitun. Bah wis. Paitun kalem-kalem ublem liwat mburi.

“Sik repot iki Tun, koen rene lek luwe thok ae. Mbok ngrewangi,” Jai rame ae. Atase anak angkat ae nyocot. Mboh biyen Mak Ti nemu ndik ndi, ndik Kali Kasin paling. Metesek, gayae koyok ahli waris ae. Untune koyok ruji.

“Koen gak ro ta Tun. Ndik kampung sebelah onok pilihan Tun. Kene katut ruwet. Aku maleh bukak sampek bengi-bengi Tun, Lek luwe njupuko dewe ae yo… ganok sing ngladeni,” jare Mak Ti. Jai langsung mlorok, raine koyok sablukan.

Oo… mangkane gerombolan buntut wolu kok lengkap. Paitun ungak-ungak tekan mburi mejo. Mul ketoke mbureng, bolone disrangap kabeh.

“Ojok dibaleni kelakuan ngono iku rek. Mosok wingenane ente nggowo gnaro agit, gayae surbanan, jare iso ngongkon jin ngrewangi nyoblos barang. Khayal. Durung mari ngomong sing utas dijegug ambik Dra’ub. Nawake sing aud langsung ngetepeng, koncone mlungker dilanggit,” jare Mul.

“Kin, koen yo ngawur. Ente yaolo pol. Nggawe acara ngundang wong sak RT jare gawe temu warga. Jaluk ojir gawe operasional. Tibake opo? Asline dadak nyunatno anake. Temu warga apane, nyirik sak buwuhane… Genjik iku,” Eko wadul. Solikin gak trimo.

“Ente kadit nes Ko. Deloken jithokmu. Ayas ero, ente ngawab sembako rong pikep. Jare mbok dum-dumno. Nyatane opo? Gak sampek seminggu kidamu bukak lawetan sembako. Saya tahu Om…,” jare Solikin. Eko abang ireng raine. Mul koyoke ate nengahi.

“Wis, saiki ngene. Ente-ente kabeh iso ditoto opo gak? Lek kadit… yo mlaku dewe-dewe ae. Iki idrekan rek. Bah sing menang apais, sing kalah sopo, iku urusan mburi. Sing penting kanan kiri oke. Lha gendheng ta ate mbelani salah siji. Sing penting ojir co! Tapi yo ojok dinakam dewe. Digawe kembul. Ngono lho pren,” Mul tipis lambene, batine Paitun.

Nom-nomane biyen, Mul idrekane ancen dadi combe ndik Alun-alun. Yo combene wong dodol obat, combene wong dodol nomer.

“Calone pilihan kampung halabes odis agit ta?” Bandi takok.

“Onok calon sing naisak, Sam. Wis bondo cupet, oleh wakil tukang gendam. Nguput terus ojir jare gawe sosialisasi. Time curiga, disanggong hamure. Tibae pegaweane ben bengi mek melekan nggedabrus ambek bolo-bolone. Menene tangine awan jam utas. Gak idrek tibae. Idreke ndek pabrik odol, odol-odol kesake aramaut. Ngono lek oket jas-jasan, ngakune araduse wong top, tapi dasi ae nyeleh kancane. Ngomonge ente lek ero, sula… wong-wong iso percoyo hare. Jait.” Dra’ub crito.

“Sing urusan wingi wis beres, Sam. Bingkisan karo ubo rampe dan lain sebagainya wis tak atasi. Diewangi Bengep ambek Nomba,” Bandi laporan. Kaose Bandi mbois hare, onok gambare tangan nggowo panah, tulisane opo iku… Robin Hood… oo duduk, eala tibae tulisane Rokim Hood.

Solikin kober ae nyathek lambene.

“Temenana? Benera Mbon jare Indab?”

Nomba manthuk. Bengep tolah-toleh ngglendem. Solikin ngetet ae.

“Engkuk bas masmu mben bukak toko sarung.”

Pas ngomong ambek mlengos, dadak Solikin ngwasno ayas. Paitun telat ate ndlesep.

“Lho Paitun, nawak lawas… wis oleh dum-duman Tun? Oo… tapi ganok hare dum-duman sewek. Njaluko Bandi ae… stok sarunge sik akeh,” Solikin nyemoni Bandi.

Bandi mblethat emosine. Nyaut kursi plastik ate diuncalno nang Solikin. Untung didangdangi Eko. Waduh kesroh iki. Warunge Mak Ti osi-osi mbledhos. Jai mek ndlongob. Lek koyok ngene tak ngaleh sik ae ayas, batine Paitun ambek ndredeg terus utem. Onok opo-opone ayas osi kecokot.

“Ojok kesroh ndik kene. Lapo ae. Ayo buyar…buyar!” Mul mbengok metu kerenge. Kabeh klewas-klewes nyengkre.

Paitun nyepetno uklam. Tekan ngarep hamure Bu Wiwik, ketok wong-wong, Nanang, Endik, Juwari, Bianto nglumpuk, ketoke nakam-nakam. Mosok slametan. Slametan opo kok sore.

“Lha iku Paitun. Mrinio Tun. Iki lho, Bu Wiwik nggawe jenang Sapar. Kane Tun, onok grendule!” Bambing metu genae. Wanyok lek onok nakaman umbam ae.

Paitun nggumun, tibae sik onok sing iling jenang Sapar. Wong-wong sederhana koyok ngene iki sing tambah iso moco urip. Paitun iling nasehate jenate hame Bu Tin panti.

Mbah Sujono biyen crito, lek wulan Sapar ngene ini onok sing diarani dino Rebo Wekasan. Dino sing bek karo braolo, ewonan musibah iso kedaden. Waduh, lak emben rikime Paitun. Kabeh iku iso ditamengi, jare Mbah Sujono. Kudu turah ibadah, kudu kathah sedekah, ambek kudu sak akeh-akehe nglakoni apik karo tonggo lan lio liane.

Paitun nyiduki jenang Sapar ndik piringe, ngecapi ambek ndredeg. Paitun rikim, lha iyo mosok wong-wong sing pinter iku, dum-dum sembarang kalir opo niate wis bener yo. Kok lek onok perlune kait dum-dum. Lek ilingku, sedekah iku yo kadit hutub balen. Lha ancene lak wis kewajibane, terus ate goroh model opo, kadit osi ente ngaling.

Sakjane paitun kepingin suwe jagongan ambek wong-wong. Jenange kane, bayem rine, ayem atine. Tapi sikil kudu ndang uklam dienteni dalan.
Ndik pojokan gang, gak sengojo Paitun papakan Mul ambek Bandi. Benderan gak ngreken ayas.

“Ndi, aturen yo. Sarung ambek liane amanno sik. Mben dicairno ae. Ojok ero arek-arek. Tak enteni ndik hamur yo,” jare Mul ati-ati terus mlencar.
Gerimis mulai kepyur padahal srengege sik padang. Paitun niat kadit ngiyup, yakin karo seweke sing wis grimpis, sewek sing njogo awake mulai lair sampek mati engkuk.

Refleksi 17 Agustus 1945 dan Salam Satu Jiwa Arema

Refleksi 17 Agustus 1945 dan Salam Satu Jiwa Arema
Refleksi 17 Agustus 1945 dan Salam Satu Jiwa Arema

Oleh: Ir Bambang Sumarto *

Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 menjadi momen sangat penting bagi bangsa. Karena pada saat itulah bangsa ini mulai menapaki kehidupan berbangsa dan bernegara, bebas lepas dari belenggu pendudukan bangsa luar, dan berdiri tegak di tanah sendiri.

Kemerdekaan yang dikumandangkan Bung Karno dan Bung Hatta pada hari Jumat, pukul 10.00 di Jalan Pegangsaan Timur Jakarta, itu sebagai momentum mengisi kevakuman pemerintahan setelah awal Agustus 1945

Jepang yang saat itu masih menduduki dan menjajah wilayah Indonesia, menyerah di tangan sekutu. Meski kalah perang, tentara jepang di wilayah pendudukan Indonesia masih bersenjata lengkap. Amunisi dan persenjaatan militer serta armada tempur masih mondar-mandir. Tak ada yang berani melucuti, apalagi melawan.

Maka, para tokoh pada saat itu, terutama generasi tua di bawah kepimpinan Bung Karno, berpikir panjang untuk mendapatkan momentum kemerdekaan tanpa ada pertumpahan darah dengan Jepang, dan generasi tua ini lebih sabar untuk menentukan saat yang tepat untuk itu.

Berbeda dengan generasi muda yang menggebu-gebu dan bersemangat segera merdeka. Apalagi ada momentum tepat, sehingga di bawah pimpinan Caherul Saleh, generasi muda ‘mengamankan’ tokoh utama bangsa, yakni Bung Karno dan Bung Hatta, ke sebuah desa kecil bernama Rengasdengklok, Karawang, pada 16 Agustus 1945. Mereka mendesak agar dua tokoh bangsa itu segera memproklamasikan Kemerdekaan RI.

Peredebatan pada malam Jumat di bulan Ramadhan itu pun berlangsung a lot. Bung Karno masih keukeuh bahwa kemerdekaan RI harus sejalan dengan persetujuan Jepang yang telah berjanji akan memberikan kemerdekaan, dibuktikan dengan pembentukan BPUPKI dan PPKI.

Tidak mudah bagi para pemuda saat itu meluluhkan hati Bung Karno, hingga dini hari. Pada dini hari itu juga Bung Karno dan Bung Hatta kembali ke Jakarta untuk menemui pimpinan Angkatan Darat Jepang, lalu menyampaikan keinginan Bangsa Indonesia untuk merdeka. Namun Jepang tidak memberi izin Soekarno untuk mengumunkan proklamasi kemerdekaan, karena kondisi RI masih stastus quo, sebelum kedatangan sekutu. Kenyataan ini akhirnya membuat generasi tua kecewa berat, dan Jepang dinilai telah ingkar janji.

Maka, pada sekitar pukul 02.00, golongan tua dan muda berkumpul di rumah Laksamana Tadashi  Maeda, seorang perwira AL Jepang yang mendukung kemerdekaan RI. Bertempat di Jalan Imam Bonjol No 1 Menteng Jakarta Pusat, naskah proklamasi akhirnya dibuat, ditulis sendiri oleh tangan Bung Karno.

Sementara itu, tokoh muda Sukarni mengusulkan agar Bung Karno dan Bung Hatta yang menandatangani teks Proklamasi itu, atas nama Bangsa Indonesia.Selanjutnya teks proklamasi diketik oleh Sayuti Melik, dan akhirnya dibacakan oleh Bung Karno pada 17 Agustus 1945, tepat pukul 10.00, di Jalan Pegangsaan Timur No 56 Jakarta.

Inilah suri tauladan yang harus kita ingat dari perjalan seorang pemimpin besar, Bung Karno, walau dalam kondisi apapun, musyawarah, komunikasi dan koordinasi, menjadi bagian sangat penting bagi perjalanan bangsa dan negara, karena apapun persoalan yang terjadi dalam meyelesaikan persoalan bangsa,hendaknya kita selalu mengedepankan musyawarah.

Untuk mennyelesaikan persoalan bangsa yang saat itu menghadapi situasi sangat penting, Bung Karno tetap mengajak musyawarah, komunikasi, dan koordinasi dengan para tokoh muda, bahkan dengan penjajah sekalipun, untuk membicarakan Kemerdekaan RI, dengan orientas tanpa pertumpahan darah, yang sangat merugikan rakyat.

Suri tauladan itulah yang patut ditauladani pemimpin-pemimpin kita, baik pemimpin nasional, pempimpin daerah propinsi, maupun pemimpin derah kota dankabupaten, agar dalam menyelesaikan maupun membahas persoalan-persoalan penting, tetap dilakukan dengan mendengarkan suara hati rakyat, karena apapun yang dilakukan pemerintah, semuanya untuk kesejahteraan rakyat.

Bagi kita generasi penerus yang mengisi kemerdekaan ini, yang hidup di Kota Malang, yang merupakan bagian kecil dari Bangsa Indonesia, ada baiknya juga mentauladani jiwa besar Bung Karno.

Segala persoalan yang ada di Kota Malang yang kita cintai ini, hendaknya juga dilakukan dengan musyawarah, komunikasi dan Koordinasi yang baik dengan semua pihak.

Terutama dalam menyelesaikan masalah-masalah yang terkait dengan kepentingan dan kesejahteraan rakyat.

Di Kota Malang masih banyak persoalan yang jadi pekerjaan rumah, yang harus dipikirkan bersama, seperti masalah kemacetan lalu lintas, banjir, pendidikan, kesehatan, kemiskinan dan lain-lain, yang harus jadi perhatian serius Pemerintahan Kota Malang dan DPRD Kota Malang.

Dengan semangat Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Pemerintahan Kota Malang dan DPRD hendaknya lebih serius membahas pekerjaan rumah yang masih banyak dan harus dilakukan dengan musyawarah, komunikasi dan koordinasi yang baik, agar tugas dan tanggung jawab mensejahterakan rakyat Kota Malang bisa tercapai, walau secara bertahap.

Selain itu Pemerintahan Kota Malang juga harus berupaya memperbaiki segala sendi kehidupan, disamping ekonomi juga karakter bangsa yang mulai luntur. Percuma jika ekonominya kuat tapi banyak koruptor, banyak kejahatan, banyak kedholiman dan kemunafikan. Bangsa ini akan kuat jika karakter bangsa kembali pada dasar Negara Pancasila.

Sebagai Arek Malang, saya bangga dan sangat mengapresiasi terhadap apa yang sudah dilakukan Arema dengan yel-yel yang dahsyat, seperti SALAM SATU JIWA, AREMA! Ini wujud tan dari bangsa ini yang harus bersatu dalam perbedaan, dan meski berbeda tapi tetap dalam persatuan.

Maka, 71 Tahun Kemerdekaan Indonesia adalah momentum untuk mewujudkan karakter bangsa yang kuat, dan ekonomi daerah maupun nasional yang tangguh. Sehingga bisa membuat masyarakat adil dan sejahtera, baik jasmani maupun rohani, serta mewujudkan Pemerintahan Kota Malang yang bermartabat, yang pada ujungnya menjadikan bangsa  Indonesia sebagai bangsa yang bermartabat dan disegani bangsa lain di dunia.

Salam Satu Jiwa… Arema…!

Dirgahayu Bangsaku Tercinta

*Ir Bambang Sumarto, Sekretaris Fraksi Partai Golkar dan Ketua Komisi C DPRD Kota Malang.

Ibuk…

ikon paitun gundulAtine Paitun merdu dino iki. Opo maneh lek mari sarapan lecepe Mbak Sum, onok kembang turine, peyeke empuk, mendhole kecing pisan.  Eclem… Soale jarang mendhol kecing. Saiki wong seneng sing krispi jare.  Mendhol kecing ancene gawene diinepno ngenteni sewengi.  Lek kepingin cepet yo kempiten ae, tapi kecute jelas seje.

Ate nyabrang embong kok onok kodew sinam-sinam.  Lapo arek-arek iki.  Lho onok sing marani ayas, ambek mesam-mesem ngekei kembang. Mboh ngomong opo, ambek nguthik kucingku.

“Selamat hari ibu,” jare sing rokan batik.  Gak enak omongane arek iki.  Dikiro ayas ebese kucing le’e.    Ngono yo sik kober takon.

“Sinten jenenge niki,” jarene ambek kcingku diumek ae ndase.  Aku kepekso mesem ambek ndang ngaleh.  Lek tak dudui jenenge iso dowo.  Maringono takon akte kelairan, terus KTP, ulang taune kapan, mbarep opo ragil, wisss… kadit.  Aku dewe ae gak jelas kok, ayas iki biyen lair opo lugur tekan wit.

Iling omongane arek iko maeng, dituntun atine Paitun uklam nang panti asuhane Bu Tin.  Yoopo yoopo Bu Tin wis dianggep ibuke.  Kait ublem pager, lhuw… lha kok emar.  Sik ketenggengen ate mbalik telat.  Gak lidok.

“Waaah… adah tamu agung.  Monggoh… monggoh.  Waduh… bawak kembang ya,” cangkeme Bianto ngablak wis.  Paitun sik ndlomong ae.  Kok iso pas ayas nyekethem kembang tekok arek maeng. Ublem ae wis, lapo ngrungokno keblek-keblek iku.  Slamete Bu Tin marani ayas ambek ketoke semringah.

“Aku mbok gawakno kembang, Tun.  Apike… suwun yo,” jare Bu Tin koyok nemu emas.  Wisa kliru kabeh wis.  Tapi gak popo, ayas melok seneng campur melas ndelok Bu Tin.

“Ayo Tun… iki… ayo.  Sak onoke yo.  Jon iku lho kepingin nylameti aku, Tun.  Ambek nglumpukno konco-konco lawas.  Awakmu yo diundang kok Tun, tapi wingi Endik tak kongkon nggoleki awakmu jare gak kepethuk.  Yo slamet awakmu mrene.  Ayo Tun, mangan lek bareng-bareng ngene iki barokah, Tun,” jare Bu Tin ambek mernah-mernahno. Endik dipeseni, gak kiro njebus.

Ndik ruangan tengah kabeh nglumpuk, lungguh kloso ngiteri tumpeng. Arek-arek panti nakam ambek koyok bahagia.  Jon repot mbagi tumpeng.  Endik wis mojok, ngrakoti pupu.  Lek Nanang gak doyan ketep, senengane trancam ambek tahune orem-orem.  Bendhot seje maneh.  Senengane mek ndog godog ambek sambel goreng, mi, terus peyek teri.

Koki so ilo nakam mi ambek peyek teri.  Kenek Bambing, ogese sak umbruk.  Opo sing gak dinakam, piringe sampek gak ketok.  Urap-urap, mi, sambel goreng, ndog, ingkung, begedel.  Nakam ambek gobyos.  Mari ndandani talang le’e.  Bianto rame ae, liane sing digoleki rempah.  Jarene angel ketemu rempah lek gak onok wong slametan.

Juwari thok sing ogese thithik, tapi iwake ngrentep.  Oala…  repot mungsuh gerombolan ngombab.  Tapi yo gak popo, iling-iling biyen kabeh uripe abot.  Biyen ae lek nakam ndog siji dibagi papat.  Oges ditakis sik, baru terakhir ndog e.

Paitun ngeleg oges alon-alon, atine trenyuh lek iling riwayate wanyik-wanyik iki.  Masio ketoke bedigasan, yo onok sing mbethik, tapi arek-arek iku biyen bekti nang ibuke.  Paitun ero temenan riwayate wong sak kampung iki.

Bambing iku biyen ben sore sampek ingeb ngewangi ibuke lawetan urap-urap ambek senjem.  Sampek kadang nyambi sinau.   Lampune oblik, dadi Bambing lek moco sampek beleken.  Arek saiki enak,  sianu lampune padang.  Tapi anehe arek saiki dadine yo akeh sing pikirane peteng. Ingeb Bambing sik ngewagi ibuke ringkes-ringkes ambek usung-usung. Bambing urip mek ambek ibuke.  Wis suwe ebes kanale itam, tikas suwe kadit ojir gawe berobat.

“Lapo koen ngwasno aku ae?  Panganen Tun, cek umel ente. Ndungo sik, nakam cek dadi daging,” jare Bambing.  Paitun kaget.  Bambing ero ae lek dibatin. Lhok en lek nakam, wis lambene ombo bek pisan moloh-moloh.  Rai kok lambe thok.  Paitun genti noleh ndelok Endik.

Sangking kepingine anak-anake halokes, ibuke Endik biyen lawetan nomer.  Jamane nalo ambek pon surya.  Buntutan sik gak dilarang. Sampek ingeb, Endik ambek kida-kidae ngewangi ibuke nyetat ambek ngitung ojir terus ngeterno setor nang hamure bandare.  Ambek disambi nyinaoni kida-kidae.

Sampek gelek diseneni gurune soale gelek rudit, ngantuk ae ndik halokes.  Gak ngantukan yoopo wong pas iku nakamane ogese oges bulgur, jaman gak enak. Kathik adike papat, omil ambek Endik. Ebes kanale biyen idrek ndik anim, itam kesetrum lugur tekan cagak listrik. Gak abot yoopo urip.  Ojok takok pekoro buku seribu satu mimpi, nglonthok, apal Endik.

Sampek pelajaran berhitung gak tau Endik oleh isore wolu. Cobak arek saiki, opo iku… LKS, halokes helom sore tapi yo sik kursus, liane ojir ae, terus gae opo halokes, gurune montore kipa-kipa.

“Koen ndelok aku koyok ate jaluk nomer ae.  Wolulas iku wis mbok kei nakam ta?” Endik mangap pisan.  Repot lapan tujuh iku, batine Paitun.

Ketok Jon riwa-riwi ngladeni arek-arek panti, Paitun iling jenate ebes kodewne Jon.  Ibuke Jon biyen anake genaro ayak. Sak aken, warisan hame dipek aradus-araduse ibuke.  Ebes kanale kadit nes. Ero ibuke ate talarem  ebes kanale langsung shio kuda.  Gawe urip, ibuke lawetan mlijo cilik-cilikan ndik hamure kontrakan, nggene nylempit ublem kampung.

Ben jam loro bengi, Jon ngeterno kulakan ibuke nang pasar.  Lek onok ojir yo numpak bemo.  Tapi akeh uklame gawe ngirit.  Tekan hamur wis jam setengah papat.  Dulure ebes kodew ne gak jowo kabeh.  Tau Jon ingeb helom ngaji, udan deres, ewul pisan.  Jon ngiyup ndek hamure budene.  Dilut engkas pakde ne ketoke mari slametan, ngawab takreb.

Sik ndik lawang, takrebe ndang-ndang dijupuk kanae digowo ublem.  Ditawani ae kadit.  Gak suwe budene utem, kok ditawani takreb, ngombe ae kadit. Jon dikongkon ndang helom jare soale wis ingeb, padahal  sik udan masio wis gak deres.  Jon ambek ewul, uklam mripit kademen, diluk-diluk mandeg ngiyup, awake njebeber.  Tekok hamur Jon kaget, kok emar onggot.  Ibuke Jon ditimbali ambek Sing Kuoso.  Ancen wis suwe ibuke tikas kabotan pikir.

“Tun, lek nakam sing genah ta.  Mek thithik men.  Koen iso loro lho Tun.  Koen lek luwe opo ate ngaso, lek pas liwat nango kene ae Tun,” jare Jon.  Naisak Jon, wes kelangan ibuke, terus ojobe yo itam kenek tipes.  Lek Juwari ngono ancene gak ero ebese mulai bayek.  Bu Tin sing nemoni bayine Juari ditinggal ndik terase panti.

Timbang riwayate wong-wong iku terus  mbuleng ndik pikiran, Paitun pamit.  Bu Tin jan suwun-suwun setengah mbrebes mili.  Ndik mejo, kembange maeng tak delok wis diadahi vas.

Durung Isyak, Paitun wis ngleset ndik buk alun-alun ngarepe Jamek.  Kanyab temen kodew-kodew poto-potoan, gayane macem-macem. Wong surup-surup ngene kok gak ndik omah wong-wong iku.

Ambek thenger-thenger rikim uripe, krungu pengajian tekok coronge Jamek.

“… Ibu-ibu kita,  termasuk panjenengan ibu-ibu sedoyo … adalah al-ummu madrosatul ula’.  Ibu adalah sekolah pertama.  Sekolah pertama inilah yang akan menentukan nasib anak-anak kita ke depan.  Nopo panjenengan pun gadah bekal?”

Paitun ngelus-ngelus kucinge.

“Iku rungokno.  Ngerti a koen?” jare Paitun ambek mesem-mesem, ngguyu uripe dewe.

Kajur Londo…

Paitun Gundul Kajur Londo

ikon paitun gundulIling pesene mak, mari rikim-rikim Paitun oket nang nentam. Ndik gerbange lehot, Paitun awang-awangen ate ublem. Tail ketoke satpam emar, otot-ototan karo genaro-genaro lites. Koyoke wong-wong iku kadit ngawab undangan. Satpam ngotot gak oleh ublem, padahal tamu liane kanyab sing utem ate helom.

Satpame sik enom, rupane ndelok Paitun gak omes blas. Paitun ate diusir. Tekok kadoan onok sing mbengok, ketoke koyok bodigat.
“Wheee, jarno Paitun iku. Kongkon mlebu ae,” jarene.
Satpam nom iku bingung, “Ojok bes, lha engkuk lak diseneni bos ta lek wanyik ublem.”
“Ngawut ae ente, kongkon ublem ae. Yo ente sing dipecat lek Paitun mbok kongkon nyengkre. Sing mantu ambek sing duwe hotel iki lanek Paitun, di baidi, sopo jenengmu? Ngawut ae! Tun, mlebuo Tun!” Jare bodigat iku. Lho, tibae Ober, sam e Bambing. Sak dulur podho methele, tapi Ober sing gelem idrek.

“Ibuk maeng wis pesen, be’e awakmu teko. Ayo tak terno, liwat kene, ojok liwat kono, wong-wong iso podo gilo,” Lambene Ober bedu ambek Bambing.
Sik untup-untup ndik lawang, Paitun jumbul. Oala, dadak bekenyek-bekenyek wis ndik kono, mbyak-mbyakan. Bambing, Bendhot, Slathem, yo asaib ambek gerombolan setengah wong setengah mejikjer liane iku. Athow… prewangane gang gawat ndik kene kabeh. Ajur.
“Ini dia si jail-jali, ayo Tun kita astep!” Congore Bendhot jeplak. Wis liane koyok diilingno.

“Iki Tun, mreneo, iki lho enak Tun, bakmine seje, akeh iwake. Ageh njupuko! Seje Tun. Lek acara ndek kampung, bakmine gubis ambek sawi thok, iwake kos Tun.” Bu Wiwik ngomong ambek moloh-moloh, suarane treble thok halak sone nentam. Bambing piringe bek, rawon banjir. Gake, Bambing iku kok liane nowar ae sing dinakam wong nakaman liane kanyab. Tahlil nowar, rapat RW nowar, sunatan nowar, mangkane irunge Bambing koyok kluwek. Mbak Tin mek mesam-mesem ambek mendelik nang ayas, kadit muni blas, mestiae wong nggiling ae, kesereten diterusno ae, begedele hedeg diuntal ae, harah kono ngungib golek aqua, Slathem mojok, ngedep podheng, njolo ager-ager gak mari-mari.

“Ini baru seep… Tun. Iki namanya kajur londo Tun. Kita orang perlu sekali-kali kayak tuan-tuan yaa?” Bionta ketail ndesite. Masio ayas yo ero, batine Paitun, rujak londo hadak, iku lak salad, soale ayas wis tau diudang nakam model opo ae. Ndik halabese, ojobe Bionta ketoke gak omes tail kanale, ngroweng.
“Lhoken, ojok isin-isini. Terusno, losen
. Engkuk ndik omah lek sambat wetenge loro, deloken sampeyan. Ojok nggraras-nggragas poo. Kalah blender.” Bionta keselek. Bambing nguplek pancine nowar.
“Mbing, njoloa. Liane lak akeh se Mbing. Kok liane rawon ae. Jarno, gak suwe perot koen Mbing.” Bu Wiwik ngrowengi Bambing. Padahal dee kaet maeng yo bakmi ae. Bendhot mari nakam kanyab sik ungak-ungak nang panganan ndik mejo pip.
“Them, ayo nyobak sing ikoa? Them! Ooo… lhoken sing diumek podheng ae, teteren es Them, mene ngiklik ente!” Bionta ate ngadek kolem Bendhot, dicethol ojobe, gak odis.

Paitun wis gak selera. Alon-alon nyengkre. Ndik gerbang lehot ate utem, Ober bengok-bengok.
“Tunn! Berkatmu Tun! Suvenire tak peke yo, koen gae opo.” Ober oket ambek ngisakno kresek takreb.

Paitun nutugno uklame. Gak adoh tekok lehot, ndik trotoar latare toko, Paitun tail arek wedok licek lungguh kerdus, ndulang adike ambek koyoke nakam oges luru. Pitung jangka, onok ebes kodew kewut nendes rombong ketoke ndredeg keluwen. Paitun kelab, rodok ngungib, takrebe mek utas. Akhire, sing dus jajan diisakno nang arek-arek licek iku, ogese dilungno nang ebes kodew maeng. Paitun gak wani suwe ngwasno moto beninge arek-arek licek iku.

Paitun ngetutno getun atine, lampu-lampu sak dowone trotoar koyok-koyok gak iso madangi sumpeke. Yok opo yo, akeh sing uripe ngglundung, ndlosor, sembarang larang, ojir ganok ajine, tapi sik kanyab sing terus astep, mbyak-mbyakan, mbanyu mili, batine Paitun ambek mbrebes mili. Sak dowone trotoar, Paitun ndungo sak kuate mengkis-mengkise ambekane.

PILKADA: PRESTASI ATAU PRESTISE DEMOKRASI?

Oleh: Caping Maskarah Safril *

Mengawali tulisan ini adalah penjelasan tentang judul di atas. Berdasarkan teori politik yang ada, bahwa demokrasi sebagai sistem pemerintahan atau negara disebut yang terbaik karena dengan demokrasi peluang untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat lebih tinggi kemungkinannya (dibandingkan sistem yang lain) yang didasarkan atas terciptanya wahana dan mekanisme partisipasi aktif rakyat dalam menentukan kebijakan pemerintahan negara.

Dengan demikian yang dimaksud dengan prestasi demokrasi adalah keberhasilan pemerintahan (negara) dalam meningkatkan atau mewujudkan kesejahteraan kehidupan rakyat. Sebaliknya yang dimaksud prestise demokrasi adalah penerapan sistem dan atau pelaksanaan demokrasi yang tidak dapat menghasilkan peningkatan kesejahteraan rakyat, karena demokrasi sekedar lips service atau pernyataan, slogan, kalaupun dilaksanakan hanya bersifat prosedural saja; hanya untuk gengsi elite saja dan sebaliknya merugikan rakyat.

Pelaksanaan demokrasi di Indonesia yang berupa pemilihan umum dan pemilihan langsung (selanjutnya ditulis pilkada) kepala daerah baik untuk tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, jika dilihat dari jumlah pelaksanaannya, kiranya layak mengantarkan Indonesia tercatat dalam guinnes book of record, sebab sampai hari ini tidak kurang dari 350 pemilihan langsung telah dilaksanakan dalam empat tahun ini. Tetapi jikalau hal itu terjadi yaitu pencatatan dalam guinnes book of record belum tentu menimbulkan dampak yang positif bagi Indonesia, karena yang dapat masuk atau dicatat dalam guinnes book of record tidak semuanya bermakna positif bagi kemanusiaan.

Sederhananya sebut saja bahwa yang ada dalam guinnes book of record itu sekedar kronik belaka. Tetapi penulis sama sekali tidak bermaksud menyatakan pilkada di Indonesia sebagai kronik belaka, tetapi sebaliknya penulis menjadikan pilkada sebagai ukuran kualitas demokrasi, dus kualitas Indonesia. Untuk keperluan itu paparan tentang pilkada diusahakan selengkap mungkin selengkap dimensi Indonesia.

Seperti diketahui, bahwa pilkada dilaksanakan sebagai ikutan atau kelanjutan dari pemilihan langsung presiden dan wakil presiden oleh rakyat setelah dilakukan amandemen UUD 1945 (catatan: amandemen UUD 1945 dilakukan empat kali sejak 1999 – 2002) dan itu dikatakan sebagai bagian tak terpisahkan dari reformasi Indonesia. Sebelum reformasi terjadi, pemilihan presiden dan wakil presiden dilakukan oleh MPR RI serta pemilihan kepala daerah dilakukan oleh DPRD sesuai UU yang berlaku, dan itu dipahami sebagai demokrasi tidak langsung atau demokrasi perwakilan seperti yang dimaksudkan sila keempat Pancasila.

Perlu diketengahkan satu catatan, bahwa pada saat proses amandemen UUD 1945 khususnya yang berkaitan dengan pemilihan langsung presiden oleh rakyat. Pada saat itu Fraksi PDI Perjuangan sesungguhnya masih keberatan, sebab menurut FPDI Perjuangan rakyat belum siap melakukan hal itu, dengan kata lain sesungguhnya rakyat awam ditinjau dari kualitas pendidikan dan ekonomi belum memiliki syarat yang lengkap untuk menentukan langsung presidennya. Tentunya pernyataan fraksi PDI Perjuangan tersebut juga berlaku bagi pelaksanaan pilkada.

Pilkada dilaksanakan selain dari tinjauan umum adalah untuk peningkatan partisipasi rakyat dalam demokrasi, pada sisi tertentu juga diharapkan dapat memantapkan pelaksanaan otonomi daerah. Hal ini didasarkan atas pra andaian bahwa kepala daerah yang dipilih langsung oleh rakyat memahami secara mendalam aspirasi rakyat di daerahnya, serta dari segi legitimasi, kepala daerah memiliki kedudukan yang kuat, sehingga tidak akan mudah dipermainkan oleh DPRD yang juga berposisi sebagai wakil rakyat, karena sama-sama dipilih langsung oleh rakyat.

Demikianlah pilkada pada segi normative menjanjikan sejumlah kelebihan dalam arti untuk kepentingan rakyat dibandingkan pemilihan kepala daerah oleh DPRD, namun apakah juga demikian pada praktiknya (praktisisnya)?.

Sebelum langsung menyoroti manfaat praktis bagi rakyat dalam arti peningkatan kesejahteraan rakyat dari pilkada, sejenak penulis memaparkan manfaat yang diperoleh rakyat yang berupa peningkatan kesejahteraan rakyat dari pemilihan presiden yang langsung dilakukan oleh rakyat pada tahun 2004 sebagai hulu pilkada.

Pemilihan umum Presiden RI tahun 2014 dimenangkan oleh Joko Widodo – Jusuf Kalla (JWJK) yang didukung oleh partai PDI-P, Nasdem, PKB, Hanura, dsb (disebut juga Koalisi Indonesia Hebat/KIH) yang mengalahkan Prabowo – Hata Rajasa yang didukung Gerindra, Golkar, PPP, PAN, PKS, dan sebagainya (disebut Koalisi Merah Putih/KMP). Beberapa waktu kabinet Indonesia Hebat yang dipimpin JKW-JK berjalan, PDI-P melaksanakan kongres dan terpilihnya Megawati sebagai Ketua Umum DPP PDI-P. Jika pada waktu pilpres Golkar bersama yang lain dalam KMP, setelah kalah dalam pilpres logikanya harusnya Golkar sebagai oposisi bersama Gerindra, PAN, PKS, PPP terhadap Kabinet Indonesia Hebat. Tetapi dengan pecahnya Partai Golkar menjadi dua kubu, maka dengan enteng dan tanpa malu salah satu kubu berubah posisi menjadi pendukung Kabinet Indonesia Hebat.

Dari kasus ini yang penulis perlu munculkan adalah Aliansi antar partai yang terjadi bukanlah aliansi strategis apalagi aliansi ideologis, melainkan aliansi taktis bahkan pragmatis yang berorientasi pada kekuasaan bukan program untuk mensejahterakan rakyat. Demikian juga sulit untuk menetapkan bahwa semua partai yang dulu mengusung JKW-JK adalah pendukung Kabinet Indonesia Hebat beserta program kerjanya dan sebaliknya partai-partai pengusung Prabowo-Hata Rajasa sebagai partai oposisi terhadap JKW-JK.

Ketidakjelasan konstelasi aliansi parpol pendukung JKW-JK dan sebaliknya juga berdampak pada ketidakjelasan program kerja yang dilaksanakan JKW- JK, maka yang muncul adalah program-program instan dan pragmatis.

Oleh karena itulah cukup wajar jika sampai hampir setahun pemerintahan JKW- JK kesejahteraan rakyat tidak meningkat, sebaliknya angka pengangguran dan kemiskinan semakin bertambah, bahan pokok kehidupan semakin mahal dan sering terjadi kelangkaan; satu hal lagi yang perlu disebut adalah korupsi malah semakin merajalela, sekalipun hal ini tidak mesti terkait langsung dengan JKW-JK tetapi tetap perlu disebut berdasar atas dominannya sikap menerabas, dan prakmatisme politik yang ada.

Masih dari momentum pilpres 2014 satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah kuatnya politik pencitraan Joko Widodo serta modal, dengan kata lain adalah popularitas dan uang. Tentang popularitas dan uang tetap berkelanjutan sampai saat ini, bahkan semakin meluas karena juga diikuti oleh pihak-pihak lainnya yang berkepentingan pada kursi kekuasaan, termasuk dalam proses pilkada. Hal lain yang juga muncul dalam pilpres 2014 adalah Misi dan Visi Calon atau kandidat.

Jika pada tingkat nasional konstelasi aliansi antar parpol demikian prakmatis, maka pada proses pilkada pragmatisme politik sangat tinggi, bahkan cenderung liar. Sepertinya tidak ada blue print atau cetak biru bagi setiap parpol, termasuk dalam pembentukan aliansi dengan partai lainnya. Maka terjadilah aliansi oleh satu parpol yang berbeda-beda antara tingkat nasional, provinsi, kota/kabupaten. Bahkan untuk tingkatan yang sama seperti tingkat propinsi atau kota/kabupaten yang berbeda dapat terbentuk aliansi satu parpol dengan parpol yang lain berbeda-beda, yang langsung atau tidak langsung ditentukan oleh popularitas dan modal kandidat.

Tentunya hal ini membingungkan bagi para ahli politik (akademisi) maupun bagi pelaku politik yang memiliki komitmen ideologi partai. Tetapi sebaliknya menyenangkan bagi pemain politik di parpol maupun luar parpol yang pragmatis demi mengejar kekuasaan dan kekayaan.

Hal lain yang perlu disebutkan dalam hubungannya dengan pilkada adalah kondisi masyarakat Indonesia dewasa ini yang terhimpit beban ekonomi serta terpuruk ditinjau dari sisi kemanusiaan dan kebudayaan. Oleh karenanya yang muncul adalah sikap instan dan prakmatis.

Hal ini jika dirunut ke belakang dapat disebut sebagai hasil pengekangan dan pembodohan selama era Orde Baru dan dimantabkan oleh tumbuh suburnya eforia selama era reformasi. Ringkasnya kondisi masyarakat Indonesia dewasa ini dapat disebut mengalami anomali nilai kemanusiaan. Kalaupun ada upaya pencerdasan dan atau pemberdayaan masyarakat oleh kelompok tertentu, maka proses pencerdasan dan atau pemberdayaan berjalan tersendat-sendat bahkan menguap, karena kegiatannya sendiri lebih mendepankan pendekatan proyek yang serba formal dan birokratis; akhirnya pencerdasan atau pemberdayaan lebih sekedar wacana dari pada realita, dan hasil yang dicapai dari kegiatan tersebut tidak melahirkan orang yang cerdas dan berbudidaya unggul melainkan cenderung menghasilkan orang-orang pintar belaka.

Karena kondisi anomali pada masyarakat Indonesia itu, maka dominasi unsur popularitas dan modal dalam pilkada demikian kental. Sementara soal kapasitas, kredibelitas, integritas, dan acceptabilitas calon menjadi ukuran belakangan. Demikian juga tentang misi dan visi calon yang ikut pilkada dapat disusun oleh mereka yang menjadi tim suksesnya atau siapa saja, toh rakyat tidak banyak peduli tentang misi dan visi calon dalam pilkada.

Pelaksanaan otonomi daerah dalam sistem pemerintahan Indonesia memberikan ruang yang lebar dan longgar bagi daerah untuk berkembang sesuai kondisi, potensi dan aspirasi yang dimilikinya dalam bingkai NKRI yang memiliki sesanti Bhinneka Tunggal Ika. Artinya keunikan daerah pada berbagai segi boleh dan dapat dipertahankan bahkan dilestarikan. Namun arus umum globalisasi lebih dominan daripada peduli pada keunikan yang ada di daerah. Makanya Misi dan Visi para calon pasangan kepala dan wakil kepala daerah cenderung seragam dan bersifat normatif semata. Jarang nampak untuk tidak menyebut nihil munculnya misi dan visi calon yang unik dalam segi kebudayaan sebagai upaya mengangkat dan mengembangkan kearifan (budaya) lokal dan terukur sebagai ukuran pencapaian program yang akan dilaksanakannya, sebab semuanya cenderung menggunakan pendekatan ekonomi belaka.

Lebih daripada uraian di atas, dengan melihat pengalaman serta hasil dari pilpres 2004 serta pilkada di berbagai daerah lain bahwa janji-janji kampanye para pemenang pilpres dan pilkada itu, kenyataannya janji tinggalah janji semata, artinya program yang dijanjikan selama kampanye tidak banyak dilaksanakan oleh pemenangnya, dan akibatnya yang memetik manfaat dari hasil pilkada hanyalah segelintir orang, yaitu pemenang itu sendiri beserta kelompok atau kroni-kroninya; sementara rakyat tidak mendapatkan nilai tambah yang berupa peningkatan kesejahteraan dalam kehidupannya.

Oleh karena itulah cukup wajar, jika golput cukup besar prosentase dalam setiap pilkada, bahkan cenderung meningkat jumlahnya. Dari pilkada yang terakhir dilaksanakan yaitu pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Golput adalah pemenangnya, yaitu sebesar 41,6 prosen dari seluruh pemilik hak pilih (lebih 10 juta dari 24 juta hak pilih), sementara pasangan pemenang resmi pilkada hanya mendapatkan 40 prosen dari yang menggunakan hak pilih yaitu sejumlah kurang lebih enam juta suara. Apapun alasannya (kesadaran politik rakyat, administrasi pilkada, atau faktor teknis pemilih) hal itu membuktikan bahwa pilkada bukanlah prioritas rakyat dalam upaya meningkatkan kesejahteraan kehidupannya.

Kalau sudah demikian maka semua bisa menjawab pertanyaan pada judul tulisan ini, yaitu Pilkada apakah prestise atau prestasi demokrasi di Indonesia? Dan bagaimana pilkada Jawa Timur dan atau pilkada Kabupaten Malang bulan Desember 2015 nanti?, Jawabnya ada dikehendak rakyat atau pada kebutuhan masing-masing pemilih.-

*Caping Maskarah Safril, Ketua Asosiasi Pedagang Kali Lima Indonesia Kabupaten Malang. Tinggal di Jalan Bandulan 6 Sukun, Malang.

Cavillatio Tata Kelola Toko Modern di Kota Malang

Oleh: Soetopo Dewangga *

Cavillatio merupakan bahasa latin yang artinya ‘alasan yang dicari-cari’. Cavillatio tata kelola toko modern Kota Malang, tak lain alasan yang dicari-cari tentang niat baik tata kelola toko modern oleh penyelenggara Negara, dalam hal ini Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BP2T) dan Dinas Perindustrian Perdagangan Kota Malang.

Pernyataan Kepala BP2T beberapa waktu lalu di media, antara lain ….. “selagi aturan digodok, pihaknya belum bisa berbuat banyak, kalau ada yang mengajukan perpanjangan izin operasional, kami masih layani sampai sewa lahan di tempat mereka habis.”

Pernyataan itu merupakan reproduksi kebohongan pada publik atas aturan baku operasional toko modern di Kota Malang, yaitu Perda No 8 Tahun 2010 pasal 25 ayat 1, yang menyatakan, Pelaku usaha yang akan melakukan kegiatan usaha di bidang Toko Modern, wajib memiliki IUTM untuk Minimarket, Supermarket, Department Store, Hypermarket dan Perkulakan.

Sementara izin yang dikeluarkan BP2T atas operasional toko modern hanya HO dan Amdal lalin (sebagaimana terungkap dalam hearing bersama DPRD,BP2T, Disperindag, Pemuda Demokrat dan Aliansi Masyarakat Peduli UMKM, Selasa, 6 Oktober 2015). Sebuah kejanggalan ketika BP2T masih akan melayani izin sampai sewa lahan mereka habis, lalu apa hubungan sewa lahan dengan izin operasional toko modern, yang syarat mutlaknya adalah IUTM.

Ada pertanyaan menggelitik, bisakah seorang penyewa mengajukan advice planning (AP)? Karena mayoritas tempat usaha toko modern tidak sesuai dengan peruntukan berdasarkan tata ruang wilayah? Bisakah seorang penyewa mengajukan Izin Mendirikan Bangunan (IMB), karena mengajukan AP dan IMB melekat atas kepemilikan hak?

Pernyataan ini justru mengundang pertanyaan balik, jangan–jangan tempat usaha toko modern tidak memiliki IMB, karena mayoritas pemilik usaha hanyalah penyewa lahan. Maka verifikasi faktual sebagai alat ukur untuk memastikan bahwa tempat usaha toko modern itu legal atau tidak, dilihat dari salah satu prasyarat IMB.

BP2T bukannya tidak paham terhadap syarat mutlak atas pasal 25 ayat 1 Perda Nomor 8 Tahun 2010, sesungguhnya publik tidak perlu mengajari bebek untuk berenang, tetapi yang lebih penting bahwa publik meyakini, publik memastikan bahwa bebek itu pasti bisa berenang. Ibarat Seorang Muslim yang akan menunaikan ibadah sholat, maka harus wudlu, agar sholatnya sah. Maka wudlu menjadi syarat mutlak untuk menjalankan ibadah sholat. Dan IUTM adalah syarat mutlak operasionalnya toko modern, dan jika tidak dipenuhi, oprasionalnya jelas illegal.

Sementara itu pernyatan Kepala Dinas Perindustrian dan perdagangan Kota Malang, Tri Widyani (20 Oktober 2015), di media yang sama, menyatakan, “selama ini belum ada perda atau perwali yang spesifik mengatur toko modern. Kami akan membuat peraturannya dulu, harus ada perda atau perwali yang mengatur, ini sedang kami kaji”.

Ungkapan itu berbanding lurus dengan pernyataan Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian, Sugiantoro, lima tahun lalu, tepatnya pada 10 September 2010, yang menyatakan bahwa pihaknya tidak bisa membatasi pendirian toko swalayan karena dalam Perda No 12 Tahun 2001 tentang pengaturan usaha dan distribusi bidang industri dan perdagangan tak disebutkan tentang aturan pengoperasian toko modern. Untuk itu Perindag akan mengusulkan revisi Perda No 12 Tahun 2001, karena tidak relevan untuk diterapkan sekarang.

Ini bentuk nyata repetisi seorang pejabat pelayan publik yang cenderung mereproduksi kebohongan, lima tahun yang lalu Perindag akan mengkaji dan mengusulkan adanya Perda yang sudah tidak relevan, dan saat ini pun masih akan menggodok lagi, karena Perda dan Perwali yang ada belum cukup operasional untuk menata toko modern.

Seharusnya pejabat publik menyadari betul bahwa sifat mutatis mutandis Bab VI Pasal 12 ayat 1.c Perpres 117 tahun 2007, Jo Bab V pasal 10 ayat C Permendag 53 tahun 2008, Jo Bab VII Pasal 24 ayat 2.c , Pasal 26 ayat 2 Permendag No 70 tahun 2013, Jo BAB v Pasal 11 ayat 1- 5 Perda Propinsi Jawa Timur No 3 Tahun 2008 dan Jo Pasal 25 ayat 1 Perda No 8 tahun 2010, sudah sangat memadai untuk mengalasi operasionalnya toko modern di Kota Malang. Ini wujud nyata perlawanan aturan yang dilakukan si pembuat aturan itu sendiri dalam praktek pemberian layanannya.

Sudah saatnya BP2T dan Perindag Kota Malang berhenti cavillatio, dan menghindari prasangka buruk dari publik atas layanan yang diberikan yang jelas–jelas dan terang benderang bertentangan dengan regulasi yang ada. Segera bikin roadmap, tata toko modern di Kota Malang sesuai dengan aturan–aturan, yang sesungguhnya cukup memadai untuk memberikan perlindungan pada UMKM.

*Soetopo Dewangga, Ketua Cabang Pemuda Demokrat Indonesia Kota Malang dan Koordinator Paguyuban Toko Tradisional.

Kidang Talun, Mil Kethemil…

ikon paitun gundulIsuk segere koyok ngene srengenge mek inceng-inceng, sik onok mendhung ngruwel nutupi, lha kok saiki ketoke ate singitan maneh, batine Paitun ambek uklam nok embong ngarep pasar. Kok krungu rengen-rengeng wong nyanyi, tapi suarane njlembret koyok bebek tikas.

“Aku duwe pitik cilik wulune blirik. Cucuk kuning jengger abang, tarung mesti menang. Sopo wani karo aku, karo pitikku…”

Oo … suarane Bandi sing lawetan ketep ndik emperan. Ketoke ipes lawetane mangkane nyanyi. Wedhus iku, sliyat-sliyut lambene, nantang tapi pitike sing dijokno.

Onok Bu Cip ambek Lek Jum kok mruput men, mborong koyoke.

“Tun, lhok en… sik korep. Kulakan meneh aku Tun. Tokoku ate tak bek’i, cek lengkap koyok biyen,” jare Bu Cip ambek gumbira. Sopo sing takok, rikipe Paitun. Masio korep lak sinam ta awak, timbang ente wis kewut, nglempit. Mek halak sewek ayas.

“Engkuk sore mampiro yo. Bu Cip slametan,” jare Lek Jum. Lhuw…kane, oleh takreb iki. Bu Cip biasae lek slametan rodok gunggungan masakane. Masio ganok hiasane, mesti pepek iwake, sampek acar kuning onok.

Sore mendhung sik durung nyengkre ae, Paitun uklam kalem ublem gang ate nang hamure Bu Cip. Wis kanyab sing oket. Gang Gawat pasukane lengkap. Lapo kok onok Boimin Tahu barang. Lha kok nggrumbul ndik ngarep. Ndelok praene genaro-genaro kok mbureng kabeh. Ambek malang kerik, Bu Cip cik cerawake sampek krungu tekan kadoan.

“Karepe yok opo! Koen ojok mencla-mencle, Ndhot! Jaremu wingi toko-toko mini ngapret iku wis digropyok, lha tibae kok pancet. Terus yoopo?” jare Bu Cip ambek mendelik nang Bendhot.

“Kulo ngge mboten semerep De. Wingi kulo lak ngetut aken tiang-tiang. Enten Pak RW, Pak Pandi, rombongan tiang kathah, termasuk petinggi kale seksi keamanan. Jelas kok, wong tokone nggeh ditempleki cap-capan. Njenengan tanglet ta ten Juwari. Yo Ri?” jare Bendhot nggenahno tapi ngeles. Wong Juari iku areke gak bek, yo njegideg ae. Bendhot gregeten Juari ngglendhem ae.

“Aku maeng ambek Bu Cip ndelok dewe lho rek. Ancene onok setiker ditemplekno, tapi kok tetap bukak, hayo!” Lek Jum hadak tambah manasi.

Samian senden ndik kursi plastik, umek ambek praene njahe. Mentheng-mentheng. Kadung macak, ketoke ditanggap ambek Bu Cip. Raine kadung digambari, iso koyok kates diukir ndik kuade. Mek nggawe rompi ote-ote, wis kademen. Biasane Samian yo ngrangkep pembawa acara. Paitun ngempet ngguyu.

“Koen ngwasno awak terus. Deloken koen yo! Maringono koen tak pacaki pisan,” jare Samian ambek nuding ayas. Yok opo bledhus iku, kok osi ayas dadi sasaran.

“Lek Paitun mbok pacaki, iso dadi Srikendat… guduk Sikandi… wha… ha… ha…,” Bambing ngakak lambene koyok longan. Bu Cip muntab.

“Koen ojok nylemur Mbing. Podo ae kelakuanmu. Lak koen se sing wingi ngetet ae ngongkon aku slametan? Sukuran de… sukuran… Lek wis ngene iki… sookoorrr… ,” jare Bu Cip ambek nyetholi pipine Bambing. Areke iso dlandapan gak sempat ngeles.

“Pun murang-muring sik ta De. Sembarang niku lak enten prosedure. Paling nggeh sik diurus. Sabar mawon,” Endik karepe ngerem. Dadak Boimin Tahu ngunggano tensi maneh.

“Prosedur apane. Awak sing lawetan cekether koyok ngene ae diuber-uber. Golek koyo ganok tenange. Lek sing dagang koyok awak-awakan ngene, modal ojir ngepres, ithab sak ipet. Yo gak tau direwangi, po digolekno jalan keluar. Prasamu gak isin ta di urak-urak bendino ambek keamanan kampung. Jare arek-arek lek sambat, awake dewe iki sak jane diakoni gak se sebagai warga kene. Kudune lak adil tah, wong pekoro ijin yo podo gak nyekele,” Sambate Boimin.

“Sampeyan itreng ta prosedur iku opo? Lek jare koncoku tukang gambar, prosedur iku singkatane tekok… pro sedulur. Jarene lho…,” jare Samian karepe mbanyol ambek brengos palsune hulik-hulik. Raine iso koyok waloh kidekan. Dikolek kane, rikipe Paitun. Temenan, mlorok nang ayas.

“Enake ngeten De, engkin ditanglet aken seksi keamanan mawon. Soale ketoke pun dipasrah aken keamanan. Lha wingi niku, kulo, Bambing, kale lare-lare, takon ten Pak RW. Nggeh mboten dijawab, dipleroki thok. Terus lare-lare ten nggriyane Pak Pandi. Tirose medal, padahal ketok ten cendelo tiange ningali tipi,” jare Bendhot karepe ngedukno tensi.

“Wis gak ero aku. Koen kabeh mene kudu nggenahno yo? Takon sing jelas. Aku iki wis tuwek, dipikir aku gak kroso ngono ta. Aku wis tuwuk dislinthung, wis wareg diakali. Mestine lak koen sing enom-enom sing ngusut, kudu wani le lek bener… gak usah ngongkon wong. Wis, ngene ae, slametan iki gawe nylameti koen kabeh. Jum cepakno nduk!” Bu Cip ketoke wis itreng.

Nakam bareng-bareng iso nggarakno barokah. Magrib sik suwe, Paitun pamitan, uklam turut gang, santai ambek rodok kewaregen. Ndik ngarepe hamure Lik Sum, krungu maneh wong nyanyi, ngudang opo nyinaoni putune iku.

“Kidang talun, mangan kacang talun, mil kethemil mil kethemil, si kidang mangan lembayung…”

Oala… kidang ae yo sliyat-sliyut, jare mangan kacang tibae mil kethemil nakam lembayung.

Lokaria…

logo paitun gundulWis ingeb, mari nakam cenil ambek puthu ndik Lek Pah Jagalan, Paitun uklam liwat Pecinan, karepe ate nrabas Kidul Dalem, Buk Gludug, terus nang stasiun. Ndek prapatan Paitun ngaso, sikile kemeng, sikile purik kadit osi dijak kompromi.

Ngglempoh ndik trotoare toko olah raga, ambek rodok nggliyeng, ndelok plange toko-toko ndik pojokan sik onok sing kelap-kelip. Paitun dadak iling, ndik kono biyen lak gedung Flora, terus dadi gedung Wijaya Kusuma. Biyen seneng, hiburane apik-apik. Onok ketoprak Siswo Budoyo, ludruk, akeh wis pokoke. Tapi Paitun paling seneng Lokaria. Paitun ngguyu dewe iling Lokaria. Oyi, Lokaria.

Bayangane Paitun kelab nang zaman biyen. Maleh iling Isye, Abimanyu, Rudi Hartamin, Asmuni, Nurlela, Alukard, apais henem yo, Jujuk, Timbul, Paimo, wis pokoke mbanyol kabeh. Lek wayahe Lokaria neam, direwangi rai gedheg gak popo ndekem ndik ngarep sing jogo karcis, sampek lek wis sing nontok ublem kabeh, akhire dikongkon ublem ambek sing jogo. Kadang-kadang dilebokno Pak Amang, bose Lokaria. Lek pas liwat, terus tail Paitun, langsung dikongkon ngublemno.

Paitun sik iling banyolane.

“Opo buktine lek bumi iku bunder?”

“Gampang. Deloken lek ndik pelabuan. Kapal iku pertama muncul genderone, terus ketok cagake, terus alon-alon, suwe-suwe muncul kapale.”

“Gak iso. Buktine bumi iku bunder gak ngono. Pak Lurah wedi ambek Bu Lurah, Bu Lurah wedi ambek tikus, tikus wedi ambek kucing, kucing wedi ambek Pak Lurah.”

Onok maneh sing pekoro tuku radio. Onok wargane sing wuto, kadit ketok, lapor nang Pak Lurah.

“Pak Lurah, saya nggak terima. Saya kan bilang ke tokonya, saya beli radio transistor merek Philip. Lho lha kok ten nggriyo, kulo setel … tibae sanes radio Philip.”

“Lho, kok ero koen lek iku duduk radio Philip? Wong koen gak ketok? Iki lho jelas mereke… tak wacakno yo, radio transistor Philip. Lho jelas ngene lo.”

“Sanes Pak Lurah, niku sanes radio Philip.”

“Koen iku gak ketok, ngotot ae.’”

“Ngeten lho Pak Lurah. Ten nggriyo pas kulo nyetel radione, unine lha kok ngeten… inilah radio republik Indonesia. Kudunue lak… inilah radio pilip.”

Lek Rudi Hartamin, durung utem panggung, sik nginceng thok anguk-anguk ate ublem panggung, sing nontok wis kekel sik. Praene ae wis mbanyol pol. Lek Abimanyu ngomong idune muncrat-muncrat. Isye yo ngono iku lambene koyok kenalpot. Kanyab sing nontok lek atawek sampek singan-singan.

Lek malem Jumat, mesti lakone serem, nates, gendruwes, drakula, pocongan. Gak koyok saiki, lek saiki lak gendruwone ngesot barang, suster ngesot, nates thithik-thithik ngesot, nates kok kemproh. Sing dadi drakula yo Alukard iku.

Tapi sing serem lek natese sing dadi Paimo. Tapi sak serem-sereme yo sik kekel ae sing nontok. Biyen dibukak ambek diselingi lagu-lagu barang, onok ben sing ngiringi. Sing nyanyi yo Alukard, Nurlela, kadang yo sing main kolem, masio ta lek nyanyi mleyot, pales, tambah mbayol sampek weteng senep.

Paitun yo sik iling. Lek awan, arek-arek Lokaria yo nggrumbule ndik De Yem, Kidul Dalem. Lapo maneh le gak neam. Pokok lek tekok kadoan krungu unine grup wong kroncongan yo berarti ndek De Yem onok acara main kertu. Emar, sembarang dicepakno. Podo ramene ambek kodew-kodew petan ndik gang-gang kono. Pemaine Lokaria, sing primadona opo bintange, lek kos ndik enek wes dianggep koyok rulud.

“Tun, lapo ngguya-ngguyu dewe!”

Paitun kaget. Oo… ancene sempel Ji iku. Saaken arek iku. Ji mulai licek wis dadi tukang parkir, gelek ngisaki ayas oges bungkusan. Mboh jenenge asline apais, eroku jenenge yo mek Ji. Ham e biyen Wak Ba’I ramalek sitrak ndik Flora kono.

Paitun ngadeg, uklam rodok males. Gringgingen pisan. Ngwasno Flora diluk. Biyen ndik ngarepe gerbang disendekno poster gambaran tangan. Judule ambek gambare ganti-ganti ndelok lakone bendino. Beranak Dalam Kubur, Sam Pek Engtay, Gara-gara Pisang Goreng, Pak Lurah Hamil. Saiki akeh gambare tulisan isi pulsa.

Uklam maneh. Dalan kene maleh padang soale kanyab lehot. Lampune lek ingeb ngene asik nylorot werno-werno madangi aspal dalan, madangi kutho. Paitun mbatin, kabeh wis dadi lehot, dadi toko, emol, gedung biskop.

Terus nangdi gedung-gedung sing tak kangeni, sing ayas osi nontok ludruk, ketoprak, iso onok pentas sing koyok Lokaria biyen. Sing iso nguri-nguri seni budoyo, jare Mas Nari. Gedung-gedung sing lampune gak mek madangi aspal ngapiki kutho, tapi gedung sing lampune sinare sula ngwerno ati, madangi roso.

Komunitas