Quo Vadis Toko Modern Ilegal di Kota Malang

Oleh: Soetopo Dewangga *

GEMURUH suara Pemkot Malang pada detik–detik menjelang akhir 2015 dalam merespon keresahan masyarakat, yang salah satunya disuarakan Aliansi Anti Toko Moderen Illegal Kota Malang, terkait menjamurnya toko moderen yang menurut temuan Aliansi keberadaannya Illegal, direspon gegap gempita oleh Wali Kota Malang, yang antara lain menyampaikan akan inspeksi mendadak (Sidak) dalam bentuk Opsgab (operasi gabungan), dan bagi yang melanggar pasti disanksi, bahkan yang tak berizin di-police line.

Opsgab yang dilaksanakan pada 30 Desember dengan melibatkan beberapa SKPD terkait, telah menemukan beberapa toko moderen yang menurut Kepala BP2T, ada yang tidak bisa menunjukkan surat izin dalam bentuk SIUP maupun HO dan atau beberapa di antaranya SIUP dan HO nya sudah mati. Padahal SIUP dan HO hanyalah salah satu di antara persyaratan lain bagi pemilik usaha toko moderen untuk memperoleh IUTM ( Izin Usaha Toko Moderen ).

Atas temuan itu, ternyata Pemerintah Kota Malang tidak memberi sanksi apapun, bahkan janji memberi tanda police line pun hanya sebagi ungkapan bombastis yang tidak ada dalam tindakan nyata.

Dalam beberapa bulan terakhir, kita semua dibuat tercengang dengan penampilan akrobatik SKPD terkait took modern di Kota Malang, terutama menyangkut terkait tata kelola toko moderen.
Kasus Perda No 1 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Pusat Perbelanjaan,
Toko Moderen dan Pemberdayaan Pasar Tradisional, cacat tanggal penandatanganannya oleh Wali Kota Malang, sehingga Perda itu justru menjadi simbol carut-marut dan amburadulnya sistem penegakkan Perda Kota Malang terkait tata kelola toko moderen, disusul dengan Opsgab yang tak berhujung pangkal.

Sementara itu Pemerintah Kota Malang dengan tegasnya melakukan penindakan pada pedagang asongan di Alun–alun, PKL di kawasan Pasar Besar dan terakhir penertiban parkir liar, menjadi pemandangan kontras betapa dewi keadilan dengan mudahnya menebas hak-hak wong cilik secara serampangan, yang sesungguhnya memiliki derajat kesamaan dalam pelanggaran terhadap Peraturan daerah .

Akibatnya, masyarakat menilai secara tidak langsung bahwa penegakkan Perda bukan lagi menjadi bastion of justice (benteng keadilan), melainkan bassinet of justice (keranjang keadilan) yang mudah dininabobokan dan diayun sesuai kehendak penguasa.

Menyitir metode ‘moral reading’ dari Ronald Dworkin, Satjipto Rahardjo (2008) telah mengkonstruksikan negara hukum Indonesia sebagai suatu negara dengan nurani atau negara yang memiliki kepedulian (a state with conscience and compassion). Artinya, common sense dan legal sense yang berselaras dengan legal and moral ethics sejatinya menempati status penting dalam sistem penegakkan hukum di Indonesia.

Maka dari sudut subyeknya, penguasa harus membuka hati dan pikirannya terhadap perkembangan masyarakat, berdasar ketentuan hukum positif yang berlaku, agar dapat terhindar dari jebakan bahwa hukum tanpa ketegasan justru seringkali menghalangi lahirnya keadilan itu sendiri.

Berdasar data yang diungkap Kepala BP2T Kota Malang, bahwa jumlah toko moderen sebanyak 265 unit, terdiri dari 223 sudah diverifikasi dan 42 dimungkinkan tidak berizin, serta dinyatakan semuanya illegal oleh Aliansi, maka titik-titik kanker sudah diketemukan, dan melakukan operasi caesar dengan pisau yang tepat layak segera dilakukan, serta langkah seanjutnya adalah menata ulang sesuai peraturan perundangan berlaku.

Seyogyanya momentum ini dimanfaatkan sebagai renaissance ( kebangkitan ) nurani Pemkot Malang, sebagai wujud nyata komitmen dan kemauan politik dari Pemkot Malang dan DPRD. Sudah barang tentu masyarakat amat merindukan teladan hukum, sehingga prasyarat kejujuran, ketegasan, dan keberanian dalam menegakkan Perda dengan moral dan nurani, menjadi syarat minimal dari pencarian keadilan bagi masayarakat.

Sebaliknya, jika terbukti atau setidak-tidaknya terindikasi adanya praktik penyimpangan atas Perda di atas kekuasaan manapun, maka sudah selayaknya segera dibersihkan. Dalam konteks ini, ibarat ikan membusuk mulai dari kepala hingga ke ekor, maka tindakan yang pantas dilakukan adalah dengan memotong dan membuangnya (Imperium, 2007).

Masalah pelik dihadapi, ketika nurani seseorang tertutup kabut tebal akibat ‘keterlanjurannya’ terlibat atas sandiwara Prosedur dan Tupoksi (Tugas Pokok dan Fungsi). Satu hal yang tidak kalah pentingnya, bahwa carut marut tata kelola toko moderen di Kota Malang telah jatuh di meja publik melalui pemberitaan media massa, sehingga tabir kelam penegakkan Perda Toko Moderen di Kota Malang dapat tersingkap.

Quo Vadis (ke arah mana) tata kelola toko moderen di Kota Malang masih membutuhkan perjuangan dalam menegakkan keadilan berdasar moralitas dan hati nurani yang tulus memang terasa berat dan tiada henti. Akan tetapi, keyakinan atas pencapaiannya tidak boleh pernah goyah atau redup sedikitpun.

Tentunya di masa yang akan datang kita berharap, tak perlu lagi kita mengais-ngais untuk sekedar mencari sebongkah nurani di tengah-tengah ilalang keadilan.

Sesuai kajian yang dilakukan Aliansi Anti Toko Moderen Illegal Kota Malang, menujukkan bahwa operasional toko modern di Kota Malang adalah bentuk nyata pembiaran praktek usaha perdagangan ilegal oleh Pemerintah Kota Malang, terbukti tidak satupun tempat usaha toko modern yang dialasi izin IUTM ( Izin Usaha Toko Moderen ) sebagaimana disyaratkan dalam pasal 25 ayat 1 Perda No 8 Tahun 2010.

*Soetopo Dewangga, Koordinator Aliansi Anti Toko Moderen Illegal Kota Malang.

Jenang Sapar…

ikon paitun gundulHowo panas koyok ganok enteke. Ndik latare air mancur Alun-Alun, Paitun klesetan ngedem awak, nayamul oleh semriwinge kepyure unyab. Koyok ndik pantai wis, tapi duduk pantai banyu anjlok, iki banyu nyiprat. Adah… kanae apais sing clometan iku.

“Onok ikan duyuung… ikan duyung… nggendong kucing!”

Wis a, temenan, sak Alun-alun tail kabeh, arek cilik-cilik mblayu marani. Sing nggrumbul ndelok tandak bedhese Pak Untung, iso kolem semburat marani ayas. Boimin Tahu gak kaop lambene koyok wajan.

“Iku duduk ikan duyung le… iku iwak klothok diseweki… kak kak kak….,” Boimin kekel. Blekok iku… lek ngguyu koyok luwak.

Lhuk… Pak Untung sak sedebe mendelik nang ayas, Hadah… sedebe atame harem ngamuk ate marani, iral ae ayas, timbang dikrawuki. Ayas
mblayu ngetepeng, lha kok tambah ditabuhi ambek Pak Untung. Wong sak Alun-alun surak-surak. Saking kekele, Boimin karepe cekelan pikulan, tapi pikulane ucul, mbleset, njlungub raine ublem pas pancine petis.

Gentenan, wong-wong genti nyuraki Boimin, ngono yo ditabuhi terus ambek Pak Untung. Sedebe keplas wedi ndelok Boimin, gingkang ngamplok sak kayane nang bose.

Awak aman wis, ambekan karek seprapat hare. Nang warunge Mak Ti ae, ngelak… ewul pol pisan. Koen lek ero hedol e hmm… mblendrang thes.

Waduh onok opo iki, emar pol. Kanyab umbul-umbul, genaro grudukan. Warunge Mak Ti bek uwong, dengklek e entek, tapi kursi plastik pathing slengkrah. Sing marung gnarone dempal-dempal koyoke gak wani lungguh kursi plastik. Slimpe thithik iso nggeblak kalem.

Waduhh… lha kok buntut wolu thok sing nglumpuk. Kok muncul ngene iki, lha iku… Nomba, Eko, Mul, lhuu… Indab… Dra’ub, Solikin, Bengeb, meh kabeh onok. Gak ewul ngono eskip awak, batine Paitun. Bah wis. Paitun kalem-kalem ublem liwat mburi.

“Sik repot iki Tun, koen rene lek luwe thok ae. Mbok ngrewangi,” Jai rame ae. Atase anak angkat ae nyocot. Mboh biyen Mak Ti nemu ndik ndi, ndik Kali Kasin paling. Metesek, gayae koyok ahli waris ae. Untune koyok ruji.

“Koen gak ro ta Tun. Ndik kampung sebelah onok pilihan Tun. Kene katut ruwet. Aku maleh bukak sampek bengi-bengi Tun, Lek luwe njupuko dewe ae yo… ganok sing ngladeni,” jare Mak Ti. Jai langsung mlorok, raine koyok sablukan.

Oo… mangkane gerombolan buntut wolu kok lengkap. Paitun ungak-ungak tekan mburi mejo. Mul ketoke mbureng, bolone disrangap kabeh.

“Ojok dibaleni kelakuan ngono iku rek. Mosok wingenane ente nggowo gnaro agit, gayae surbanan, jare iso ngongkon jin ngrewangi nyoblos barang. Khayal. Durung mari ngomong sing utas dijegug ambik Dra’ub. Nawake sing aud langsung ngetepeng, koncone mlungker dilanggit,” jare Mul.

“Kin, koen yo ngawur. Ente yaolo pol. Nggawe acara ngundang wong sak RT jare gawe temu warga. Jaluk ojir gawe operasional. Tibake opo? Asline dadak nyunatno anake. Temu warga apane, nyirik sak buwuhane… Genjik iku,” Eko wadul. Solikin gak trimo.

“Ente kadit nes Ko. Deloken jithokmu. Ayas ero, ente ngawab sembako rong pikep. Jare mbok dum-dumno. Nyatane opo? Gak sampek seminggu kidamu bukak lawetan sembako. Saya tahu Om…,” jare Solikin. Eko abang ireng raine. Mul koyoke ate nengahi.

“Wis, saiki ngene. Ente-ente kabeh iso ditoto opo gak? Lek kadit… yo mlaku dewe-dewe ae. Iki idrekan rek. Bah sing menang apais, sing kalah sopo, iku urusan mburi. Sing penting kanan kiri oke. Lha gendheng ta ate mbelani salah siji. Sing penting ojir co! Tapi yo ojok dinakam dewe. Digawe kembul. Ngono lho pren,” Mul tipis lambene, batine Paitun.

Nom-nomane biyen, Mul idrekane ancen dadi combe ndik Alun-alun. Yo combene wong dodol obat, combene wong dodol nomer.

“Calone pilihan kampung halabes odis agit ta?” Bandi takok.

“Onok calon sing naisak, Sam. Wis bondo cupet, oleh wakil tukang gendam. Nguput terus ojir jare gawe sosialisasi. Time curiga, disanggong hamure. Tibae pegaweane ben bengi mek melekan nggedabrus ambek bolo-bolone. Menene tangine awan jam utas. Gak idrek tibae. Idreke ndek pabrik odol, odol-odol kesake aramaut. Ngono lek oket jas-jasan, ngakune araduse wong top, tapi dasi ae nyeleh kancane. Ngomonge ente lek ero, sula… wong-wong iso percoyo hare. Jait.” Dra’ub crito.

“Sing urusan wingi wis beres, Sam. Bingkisan karo ubo rampe dan lain sebagainya wis tak atasi. Diewangi Bengep ambek Nomba,” Bandi laporan. Kaose Bandi mbois hare, onok gambare tangan nggowo panah, tulisane opo iku… Robin Hood… oo duduk, eala tibae tulisane Rokim Hood.

Solikin kober ae nyathek lambene.

“Temenana? Benera Mbon jare Indab?”

Nomba manthuk. Bengep tolah-toleh ngglendem. Solikin ngetet ae.

“Engkuk bas masmu mben bukak toko sarung.”

Pas ngomong ambek mlengos, dadak Solikin ngwasno ayas. Paitun telat ate ndlesep.

“Lho Paitun, nawak lawas… wis oleh dum-duman Tun? Oo… tapi ganok hare dum-duman sewek. Njaluko Bandi ae… stok sarunge sik akeh,” Solikin nyemoni Bandi.

Bandi mblethat emosine. Nyaut kursi plastik ate diuncalno nang Solikin. Untung didangdangi Eko. Waduh kesroh iki. Warunge Mak Ti osi-osi mbledhos. Jai mek ndlongob. Lek koyok ngene tak ngaleh sik ae ayas, batine Paitun ambek ndredeg terus utem. Onok opo-opone ayas osi kecokot.

“Ojok kesroh ndik kene. Lapo ae. Ayo buyar…buyar!” Mul mbengok metu kerenge. Kabeh klewas-klewes nyengkre.

Paitun nyepetno uklam. Tekan ngarep hamure Bu Wiwik, ketok wong-wong, Nanang, Endik, Juwari, Bianto nglumpuk, ketoke nakam-nakam. Mosok slametan. Slametan opo kok sore.

“Lha iku Paitun. Mrinio Tun. Iki lho, Bu Wiwik nggawe jenang Sapar. Kane Tun, onok grendule!” Bambing metu genae. Wanyok lek onok nakaman umbam ae.

Paitun nggumun, tibae sik onok sing iling jenang Sapar. Wong-wong sederhana koyok ngene iki sing tambah iso moco urip. Paitun iling nasehate jenate hame Bu Tin panti.

Mbah Sujono biyen crito, lek wulan Sapar ngene ini onok sing diarani dino Rebo Wekasan. Dino sing bek karo braolo, ewonan musibah iso kedaden. Waduh, lak emben rikime Paitun. Kabeh iku iso ditamengi, jare Mbah Sujono. Kudu turah ibadah, kudu kathah sedekah, ambek kudu sak akeh-akehe nglakoni apik karo tonggo lan lio liane.

Paitun nyiduki jenang Sapar ndik piringe, ngecapi ambek ndredeg. Paitun rikim, lha iyo mosok wong-wong sing pinter iku, dum-dum sembarang kalir opo niate wis bener yo. Kok lek onok perlune kait dum-dum. Lek ilingku, sedekah iku yo kadit hutub balen. Lha ancene lak wis kewajibane, terus ate goroh model opo, kadit osi ente ngaling.

Sakjane paitun kepingin suwe jagongan ambek wong-wong. Jenange kane, bayem rine, ayem atine. Tapi sikil kudu ndang uklam dienteni dalan.
Ndik pojokan gang, gak sengojo Paitun papakan Mul ambek Bandi. Benderan gak ngreken ayas.

“Ndi, aturen yo. Sarung ambek liane amanno sik. Mben dicairno ae. Ojok ero arek-arek. Tak enteni ndik hamur yo,” jare Mul ati-ati terus mlencar.
Gerimis mulai kepyur padahal srengege sik padang. Paitun niat kadit ngiyup, yakin karo seweke sing wis grimpis, sewek sing njogo awake mulai lair sampek mati engkuk.

Refleksi 17 Agustus 1945 dan Salam Satu Jiwa Arema

Refleksi 17 Agustus 1945 dan Salam Satu Jiwa Arema
Refleksi 17 Agustus 1945 dan Salam Satu Jiwa Arema

Oleh: Ir Bambang Sumarto *

Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 menjadi momen sangat penting bagi bangsa. Karena pada saat itulah bangsa ini mulai menapaki kehidupan berbangsa dan bernegara, bebas lepas dari belenggu pendudukan bangsa luar, dan berdiri tegak di tanah sendiri.

Kemerdekaan yang dikumandangkan Bung Karno dan Bung Hatta pada hari Jumat, pukul 10.00 di Jalan Pegangsaan Timur Jakarta, itu sebagai momentum mengisi kevakuman pemerintahan setelah awal Agustus 1945

Jepang yang saat itu masih menduduki dan menjajah wilayah Indonesia, menyerah di tangan sekutu. Meski kalah perang, tentara jepang di wilayah pendudukan Indonesia masih bersenjata lengkap. Amunisi dan persenjaatan militer serta armada tempur masih mondar-mandir. Tak ada yang berani melucuti, apalagi melawan.

Maka, para tokoh pada saat itu, terutama generasi tua di bawah kepimpinan Bung Karno, berpikir panjang untuk mendapatkan momentum kemerdekaan tanpa ada pertumpahan darah dengan Jepang, dan generasi tua ini lebih sabar untuk menentukan saat yang tepat untuk itu.

Berbeda dengan generasi muda yang menggebu-gebu dan bersemangat segera merdeka. Apalagi ada momentum tepat, sehingga di bawah pimpinan Caherul Saleh, generasi muda ‘mengamankan’ tokoh utama bangsa, yakni Bung Karno dan Bung Hatta, ke sebuah desa kecil bernama Rengasdengklok, Karawang, pada 16 Agustus 1945. Mereka mendesak agar dua tokoh bangsa itu segera memproklamasikan Kemerdekaan RI.

Peredebatan pada malam Jumat di bulan Ramadhan itu pun berlangsung a lot. Bung Karno masih keukeuh bahwa kemerdekaan RI harus sejalan dengan persetujuan Jepang yang telah berjanji akan memberikan kemerdekaan, dibuktikan dengan pembentukan BPUPKI dan PPKI.

Tidak mudah bagi para pemuda saat itu meluluhkan hati Bung Karno, hingga dini hari. Pada dini hari itu juga Bung Karno dan Bung Hatta kembali ke Jakarta untuk menemui pimpinan Angkatan Darat Jepang, lalu menyampaikan keinginan Bangsa Indonesia untuk merdeka. Namun Jepang tidak memberi izin Soekarno untuk mengumunkan proklamasi kemerdekaan, karena kondisi RI masih stastus quo, sebelum kedatangan sekutu. Kenyataan ini akhirnya membuat generasi tua kecewa berat, dan Jepang dinilai telah ingkar janji.

Maka, pada sekitar pukul 02.00, golongan tua dan muda berkumpul di rumah Laksamana Tadashi  Maeda, seorang perwira AL Jepang yang mendukung kemerdekaan RI. Bertempat di Jalan Imam Bonjol No 1 Menteng Jakarta Pusat, naskah proklamasi akhirnya dibuat, ditulis sendiri oleh tangan Bung Karno.

Sementara itu, tokoh muda Sukarni mengusulkan agar Bung Karno dan Bung Hatta yang menandatangani teks Proklamasi itu, atas nama Bangsa Indonesia.Selanjutnya teks proklamasi diketik oleh Sayuti Melik, dan akhirnya dibacakan oleh Bung Karno pada 17 Agustus 1945, tepat pukul 10.00, di Jalan Pegangsaan Timur No 56 Jakarta.

Inilah suri tauladan yang harus kita ingat dari perjalan seorang pemimpin besar, Bung Karno, walau dalam kondisi apapun, musyawarah, komunikasi dan koordinasi, menjadi bagian sangat penting bagi perjalanan bangsa dan negara, karena apapun persoalan yang terjadi dalam meyelesaikan persoalan bangsa,hendaknya kita selalu mengedepankan musyawarah.

Untuk mennyelesaikan persoalan bangsa yang saat itu menghadapi situasi sangat penting, Bung Karno tetap mengajak musyawarah, komunikasi, dan koordinasi dengan para tokoh muda, bahkan dengan penjajah sekalipun, untuk membicarakan Kemerdekaan RI, dengan orientas tanpa pertumpahan darah, yang sangat merugikan rakyat.

Suri tauladan itulah yang patut ditauladani pemimpin-pemimpin kita, baik pemimpin nasional, pempimpin daerah propinsi, maupun pemimpin derah kota dankabupaten, agar dalam menyelesaikan maupun membahas persoalan-persoalan penting, tetap dilakukan dengan mendengarkan suara hati rakyat, karena apapun yang dilakukan pemerintah, semuanya untuk kesejahteraan rakyat.

Bagi kita generasi penerus yang mengisi kemerdekaan ini, yang hidup di Kota Malang, yang merupakan bagian kecil dari Bangsa Indonesia, ada baiknya juga mentauladani jiwa besar Bung Karno.

Segala persoalan yang ada di Kota Malang yang kita cintai ini, hendaknya juga dilakukan dengan musyawarah, komunikasi dan Koordinasi yang baik dengan semua pihak.

Terutama dalam menyelesaikan masalah-masalah yang terkait dengan kepentingan dan kesejahteraan rakyat.

Di Kota Malang masih banyak persoalan yang jadi pekerjaan rumah, yang harus dipikirkan bersama, seperti masalah kemacetan lalu lintas, banjir, pendidikan, kesehatan, kemiskinan dan lain-lain, yang harus jadi perhatian serius Pemerintahan Kota Malang dan DPRD Kota Malang.

Dengan semangat Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Pemerintahan Kota Malang dan DPRD hendaknya lebih serius membahas pekerjaan rumah yang masih banyak dan harus dilakukan dengan musyawarah, komunikasi dan koordinasi yang baik, agar tugas dan tanggung jawab mensejahterakan rakyat Kota Malang bisa tercapai, walau secara bertahap.

Selain itu Pemerintahan Kota Malang juga harus berupaya memperbaiki segala sendi kehidupan, disamping ekonomi juga karakter bangsa yang mulai luntur. Percuma jika ekonominya kuat tapi banyak koruptor, banyak kejahatan, banyak kedholiman dan kemunafikan. Bangsa ini akan kuat jika karakter bangsa kembali pada dasar Negara Pancasila.

Sebagai Arek Malang, saya bangga dan sangat mengapresiasi terhadap apa yang sudah dilakukan Arema dengan yel-yel yang dahsyat, seperti SALAM SATU JIWA, AREMA! Ini wujud tan dari bangsa ini yang harus bersatu dalam perbedaan, dan meski berbeda tapi tetap dalam persatuan.

Maka, 71 Tahun Kemerdekaan Indonesia adalah momentum untuk mewujudkan karakter bangsa yang kuat, dan ekonomi daerah maupun nasional yang tangguh. Sehingga bisa membuat masyarakat adil dan sejahtera, baik jasmani maupun rohani, serta mewujudkan Pemerintahan Kota Malang yang bermartabat, yang pada ujungnya menjadikan bangsa  Indonesia sebagai bangsa yang bermartabat dan disegani bangsa lain di dunia.

Salam Satu Jiwa… Arema…!

Dirgahayu Bangsaku Tercinta

*Ir Bambang Sumarto, Sekretaris Fraksi Partai Golkar dan Ketua Komisi C DPRD Kota Malang.

Ibuk…

ikon paitun gundulAtine Paitun merdu dino iki. Opo maneh lek mari sarapan lecepe Mbak Sum, onok kembang turine, peyeke empuk, mendhole kecing pisan.  Eclem… Soale jarang mendhol kecing. Saiki wong seneng sing krispi jare.  Mendhol kecing ancene gawene diinepno ngenteni sewengi.  Lek kepingin cepet yo kempiten ae, tapi kecute jelas seje.

Ate nyabrang embong kok onok kodew sinam-sinam.  Lapo arek-arek iki.  Lho onok sing marani ayas, ambek mesam-mesem ngekei kembang. Mboh ngomong opo, ambek nguthik kucingku.

“Selamat hari ibu,” jare sing rokan batik.  Gak enak omongane arek iki.  Dikiro ayas ebese kucing le’e.    Ngono yo sik kober takon.

“Sinten jenenge niki,” jarene ambek kcingku diumek ae ndase.  Aku kepekso mesem ambek ndang ngaleh.  Lek tak dudui jenenge iso dowo.  Maringono takon akte kelairan, terus KTP, ulang taune kapan, mbarep opo ragil, wisss… kadit.  Aku dewe ae gak jelas kok, ayas iki biyen lair opo lugur tekan wit.

Iling omongane arek iko maeng, dituntun atine Paitun uklam nang panti asuhane Bu Tin.  Yoopo yoopo Bu Tin wis dianggep ibuke.  Kait ublem pager, lhuw… lha kok emar.  Sik ketenggengen ate mbalik telat.  Gak lidok.

“Waaah… adah tamu agung.  Monggoh… monggoh.  Waduh… bawak kembang ya,” cangkeme Bianto ngablak wis.  Paitun sik ndlomong ae.  Kok iso pas ayas nyekethem kembang tekok arek maeng. Ublem ae wis, lapo ngrungokno keblek-keblek iku.  Slamete Bu Tin marani ayas ambek ketoke semringah.

“Aku mbok gawakno kembang, Tun.  Apike… suwun yo,” jare Bu Tin koyok nemu emas.  Wisa kliru kabeh wis.  Tapi gak popo, ayas melok seneng campur melas ndelok Bu Tin.

“Ayo Tun… iki… ayo.  Sak onoke yo.  Jon iku lho kepingin nylameti aku, Tun.  Ambek nglumpukno konco-konco lawas.  Awakmu yo diundang kok Tun, tapi wingi Endik tak kongkon nggoleki awakmu jare gak kepethuk.  Yo slamet awakmu mrene.  Ayo Tun, mangan lek bareng-bareng ngene iki barokah, Tun,” jare Bu Tin ambek mernah-mernahno. Endik dipeseni, gak kiro njebus.

Ndik ruangan tengah kabeh nglumpuk, lungguh kloso ngiteri tumpeng. Arek-arek panti nakam ambek koyok bahagia.  Jon repot mbagi tumpeng.  Endik wis mojok, ngrakoti pupu.  Lek Nanang gak doyan ketep, senengane trancam ambek tahune orem-orem.  Bendhot seje maneh.  Senengane mek ndog godog ambek sambel goreng, mi, terus peyek teri.

Koki so ilo nakam mi ambek peyek teri.  Kenek Bambing, ogese sak umbruk.  Opo sing gak dinakam, piringe sampek gak ketok.  Urap-urap, mi, sambel goreng, ndog, ingkung, begedel.  Nakam ambek gobyos.  Mari ndandani talang le’e.  Bianto rame ae, liane sing digoleki rempah.  Jarene angel ketemu rempah lek gak onok wong slametan.

Juwari thok sing ogese thithik, tapi iwake ngrentep.  Oala…  repot mungsuh gerombolan ngombab.  Tapi yo gak popo, iling-iling biyen kabeh uripe abot.  Biyen ae lek nakam ndog siji dibagi papat.  Oges ditakis sik, baru terakhir ndog e.

Paitun ngeleg oges alon-alon, atine trenyuh lek iling riwayate wanyik-wanyik iki.  Masio ketoke bedigasan, yo onok sing mbethik, tapi arek-arek iku biyen bekti nang ibuke.  Paitun ero temenan riwayate wong sak kampung iki.

Bambing iku biyen ben sore sampek ingeb ngewangi ibuke lawetan urap-urap ambek senjem.  Sampek kadang nyambi sinau.   Lampune oblik, dadi Bambing lek moco sampek beleken.  Arek saiki enak,  sianu lampune padang.  Tapi anehe arek saiki dadine yo akeh sing pikirane peteng. Ingeb Bambing sik ngewagi ibuke ringkes-ringkes ambek usung-usung. Bambing urip mek ambek ibuke.  Wis suwe ebes kanale itam, tikas suwe kadit ojir gawe berobat.

“Lapo koen ngwasno aku ae?  Panganen Tun, cek umel ente. Ndungo sik, nakam cek dadi daging,” jare Bambing.  Paitun kaget.  Bambing ero ae lek dibatin. Lhok en lek nakam, wis lambene ombo bek pisan moloh-moloh.  Rai kok lambe thok.  Paitun genti noleh ndelok Endik.

Sangking kepingine anak-anake halokes, ibuke Endik biyen lawetan nomer.  Jamane nalo ambek pon surya.  Buntutan sik gak dilarang. Sampek ingeb, Endik ambek kida-kidae ngewangi ibuke nyetat ambek ngitung ojir terus ngeterno setor nang hamure bandare.  Ambek disambi nyinaoni kida-kidae.

Sampek gelek diseneni gurune soale gelek rudit, ngantuk ae ndik halokes.  Gak ngantukan yoopo wong pas iku nakamane ogese oges bulgur, jaman gak enak. Kathik adike papat, omil ambek Endik. Ebes kanale biyen idrek ndik anim, itam kesetrum lugur tekan cagak listrik. Gak abot yoopo urip.  Ojok takok pekoro buku seribu satu mimpi, nglonthok, apal Endik.

Sampek pelajaran berhitung gak tau Endik oleh isore wolu. Cobak arek saiki, opo iku… LKS, halokes helom sore tapi yo sik kursus, liane ojir ae, terus gae opo halokes, gurune montore kipa-kipa.

“Koen ndelok aku koyok ate jaluk nomer ae.  Wolulas iku wis mbok kei nakam ta?” Endik mangap pisan.  Repot lapan tujuh iku, batine Paitun.

Ketok Jon riwa-riwi ngladeni arek-arek panti, Paitun iling jenate ebes kodewne Jon.  Ibuke Jon biyen anake genaro ayak. Sak aken, warisan hame dipek aradus-araduse ibuke.  Ebes kanale kadit nes. Ero ibuke ate talarem  ebes kanale langsung shio kuda.  Gawe urip, ibuke lawetan mlijo cilik-cilikan ndik hamure kontrakan, nggene nylempit ublem kampung.

Ben jam loro bengi, Jon ngeterno kulakan ibuke nang pasar.  Lek onok ojir yo numpak bemo.  Tapi akeh uklame gawe ngirit.  Tekan hamur wis jam setengah papat.  Dulure ebes kodew ne gak jowo kabeh.  Tau Jon ingeb helom ngaji, udan deres, ewul pisan.  Jon ngiyup ndek hamure budene.  Dilut engkas pakde ne ketoke mari slametan, ngawab takreb.

Sik ndik lawang, takrebe ndang-ndang dijupuk kanae digowo ublem.  Ditawani ae kadit.  Gak suwe budene utem, kok ditawani takreb, ngombe ae kadit. Jon dikongkon ndang helom jare soale wis ingeb, padahal  sik udan masio wis gak deres.  Jon ambek ewul, uklam mripit kademen, diluk-diluk mandeg ngiyup, awake njebeber.  Tekok hamur Jon kaget, kok emar onggot.  Ibuke Jon ditimbali ambek Sing Kuoso.  Ancen wis suwe ibuke tikas kabotan pikir.

“Tun, lek nakam sing genah ta.  Mek thithik men.  Koen iso loro lho Tun.  Koen lek luwe opo ate ngaso, lek pas liwat nango kene ae Tun,” jare Jon.  Naisak Jon, wes kelangan ibuke, terus ojobe yo itam kenek tipes.  Lek Juwari ngono ancene gak ero ebese mulai bayek.  Bu Tin sing nemoni bayine Juari ditinggal ndik terase panti.

Timbang riwayate wong-wong iku terus  mbuleng ndik pikiran, Paitun pamit.  Bu Tin jan suwun-suwun setengah mbrebes mili.  Ndik mejo, kembange maeng tak delok wis diadahi vas.

Durung Isyak, Paitun wis ngleset ndik buk alun-alun ngarepe Jamek.  Kanyab temen kodew-kodew poto-potoan, gayane macem-macem. Wong surup-surup ngene kok gak ndik omah wong-wong iku.

Ambek thenger-thenger rikim uripe, krungu pengajian tekok coronge Jamek.

“… Ibu-ibu kita,  termasuk panjenengan ibu-ibu sedoyo … adalah al-ummu madrosatul ula’.  Ibu adalah sekolah pertama.  Sekolah pertama inilah yang akan menentukan nasib anak-anak kita ke depan.  Nopo panjenengan pun gadah bekal?”

Paitun ngelus-ngelus kucinge.

“Iku rungokno.  Ngerti a koen?” jare Paitun ambek mesem-mesem, ngguyu uripe dewe.

Kajur Londo…

Paitun Gundul Kajur Londo

ikon paitun gundulIling pesene mak, mari rikim-rikim Paitun oket nang nentam. Ndik gerbange lehot, Paitun awang-awangen ate ublem. Tail ketoke satpam emar, otot-ototan karo genaro-genaro lites. Koyoke wong-wong iku kadit ngawab undangan. Satpam ngotot gak oleh ublem, padahal tamu liane kanyab sing utem ate helom.

Satpame sik enom, rupane ndelok Paitun gak omes blas. Paitun ate diusir. Tekok kadoan onok sing mbengok, ketoke koyok bodigat.
“Wheee, jarno Paitun iku. Kongkon mlebu ae,” jarene.
Satpam nom iku bingung, “Ojok bes, lha engkuk lak diseneni bos ta lek wanyik ublem.”
“Ngawut ae ente, kongkon ublem ae. Yo ente sing dipecat lek Paitun mbok kongkon nyengkre. Sing mantu ambek sing duwe hotel iki lanek Paitun, di baidi, sopo jenengmu? Ngawut ae! Tun, mlebuo Tun!” Jare bodigat iku. Lho, tibae Ober, sam e Bambing. Sak dulur podho methele, tapi Ober sing gelem idrek.

“Ibuk maeng wis pesen, be’e awakmu teko. Ayo tak terno, liwat kene, ojok liwat kono, wong-wong iso podo gilo,” Lambene Ober bedu ambek Bambing.
Sik untup-untup ndik lawang, Paitun jumbul. Oala, dadak bekenyek-bekenyek wis ndik kono, mbyak-mbyakan. Bambing, Bendhot, Slathem, yo asaib ambek gerombolan setengah wong setengah mejikjer liane iku. Athow… prewangane gang gawat ndik kene kabeh. Ajur.
“Ini dia si jail-jali, ayo Tun kita astep!” Congore Bendhot jeplak. Wis liane koyok diilingno.

“Iki Tun, mreneo, iki lho enak Tun, bakmine seje, akeh iwake. Ageh njupuko! Seje Tun. Lek acara ndek kampung, bakmine gubis ambek sawi thok, iwake kos Tun.” Bu Wiwik ngomong ambek moloh-moloh, suarane treble thok halak sone nentam. Bambing piringe bek, rawon banjir. Gake, Bambing iku kok liane nowar ae sing dinakam wong nakaman liane kanyab. Tahlil nowar, rapat RW nowar, sunatan nowar, mangkane irunge Bambing koyok kluwek. Mbak Tin mek mesam-mesem ambek mendelik nang ayas, kadit muni blas, mestiae wong nggiling ae, kesereten diterusno ae, begedele hedeg diuntal ae, harah kono ngungib golek aqua, Slathem mojok, ngedep podheng, njolo ager-ager gak mari-mari.

“Ini baru seep… Tun. Iki namanya kajur londo Tun. Kita orang perlu sekali-kali kayak tuan-tuan yaa?” Bionta ketail ndesite. Masio ayas yo ero, batine Paitun, rujak londo hadak, iku lak salad, soale ayas wis tau diudang nakam model opo ae. Ndik halabese, ojobe Bionta ketoke gak omes tail kanale, ngroweng.
“Lhoken, ojok isin-isini. Terusno, losen
. Engkuk ndik omah lek sambat wetenge loro, deloken sampeyan. Ojok nggraras-nggragas poo. Kalah blender.” Bionta keselek. Bambing nguplek pancine nowar.
“Mbing, njoloa. Liane lak akeh se Mbing. Kok liane rawon ae. Jarno, gak suwe perot koen Mbing.” Bu Wiwik ngrowengi Bambing. Padahal dee kaet maeng yo bakmi ae. Bendhot mari nakam kanyab sik ungak-ungak nang panganan ndik mejo pip.
“Them, ayo nyobak sing ikoa? Them! Ooo… lhoken sing diumek podheng ae, teteren es Them, mene ngiklik ente!” Bionta ate ngadek kolem Bendhot, dicethol ojobe, gak odis.

Paitun wis gak selera. Alon-alon nyengkre. Ndik gerbang lehot ate utem, Ober bengok-bengok.
“Tunn! Berkatmu Tun! Suvenire tak peke yo, koen gae opo.” Ober oket ambek ngisakno kresek takreb.

Paitun nutugno uklame. Gak adoh tekok lehot, ndik trotoar latare toko, Paitun tail arek wedok licek lungguh kerdus, ndulang adike ambek koyoke nakam oges luru. Pitung jangka, onok ebes kodew kewut nendes rombong ketoke ndredeg keluwen. Paitun kelab, rodok ngungib, takrebe mek utas. Akhire, sing dus jajan diisakno nang arek-arek licek iku, ogese dilungno nang ebes kodew maeng. Paitun gak wani suwe ngwasno moto beninge arek-arek licek iku.

Paitun ngetutno getun atine, lampu-lampu sak dowone trotoar koyok-koyok gak iso madangi sumpeke. Yok opo yo, akeh sing uripe ngglundung, ndlosor, sembarang larang, ojir ganok ajine, tapi sik kanyab sing terus astep, mbyak-mbyakan, mbanyu mili, batine Paitun ambek mbrebes mili. Sak dowone trotoar, Paitun ndungo sak kuate mengkis-mengkise ambekane.

Pekoro Gendero

ikon paitun gundulWis suwe gak mampir kampunge Wakid, mumpung pas liwat, mampir. Soale biasane lek ingeb akeh sing jagongan ndik pos. Lha tenan, wong-wong podo nglumpuk koyok mbako enak.

“Lhoo rek, lhok’en iku genaro endi, gak kesasar ta?” Onok sing mulai njeplak.
“Paling nglindur, lali kelab hamure, wkwkwk…” Mboh lambene sopo mene nyocot.

Pancet ae, olob lawas. koyok gak ketemu tahunan. Noyug gak jelas, rodok ingeb omongan mulai rodok jelas. Bianto (tapi arek-arek lek nyeluk Bionta) sing crito. Ngene…

Sak jeke warga kampung kono rodok makmur, yo onok sing berubah , tapi yo akeh sing gak. Onok sing gaya uripe berubah, onok pisan sing kelakuane tambah gak asik. Hobine wong-wong saiki panas-panasan.

Gak soal dunyo gak soal kelakuan. Wingenane pekoro tujubelasan. Pandi iki yo nawak lawas, tapi tibake yo kelakuane sik tetep lawas pisan, sampek dadi rasan-rasan wong-wong pekoro ndik ngarep omahe gak dipasang gendero.

Wis dirasane koyok golek ter-teran. Onok sing ngomong montore telu, sugih, tapi gak iso tuku cagak gendero. Sing kera partai komentar rodok kemeruh, jare iku ngono wis sibah nasionalismene. Omongan ebes-ebes kodew tambah koyok ambune klothok digoreng.

Sing jarene ngrentengi kodewan, sing jare ojobe Pandi camilane mas-masan, onok sing ngilokno jithoke jeru, wis pokoke ajur Pandi. Onok sik ngawut, jare Pandi dewe ae kongkon dadi cagak gendero, kera e lak kuru, duwur (lek ndek sekolahan biyen celukane ‘genter’). Ngono ketambahan gak nyumbang tujubelasan, alasan ben tahun panitia laporane gak jelas. Gak cerdas blas.

Lha kok Pandi krungu, itreng lek dadi omongan. Pandi sanap, wong-wong kerja bakti diparani. (Kaet iki Pandi teko kerja bakti, tapi ate ngamuk, nggawe kaos kutang lawas pisan).

“Ente kabeh gak asik. Pak RT, yok opo iki, ayas kurang opo nang RT. Koen yo ngono Mbang, aku itreng ente pinter politik tapi ente kadit nes nggowo-nggowo nasionalisme. Indab yo ngono (Bandi maksude) aku lak titip cagak gendero, ndi sampek saiki, paling ojire mbok gawe ceki. Maleh ayas sing kenek. Koen ancene sanjipak. Deloken yo, atase cagak gendero ae, tak tukokno sak kampung!”

Pandi ngaleh ambek ngroweng. Tibae kaos kutange mburine bedah. Wis wong-wong atawek kabeh. Menene kampung emar. Pandi nekakno pring cagak gendero nggowo pikep, onok lek 15 cagak.

“Kantun niki pak pringe.” Jare ripuse.
“Wis dumen pisan, kelilingno nang wong-wong iku. Cek ero Pandi iku sopo, atase pring ae!”
“Yotrone pak?”
“Tak bayar tak bayar. Mbok pikir ayas gak iso rayab. Dumno sik, mariki tak rayab, ya?”

Oleh sak jam, ripus pikep mbalik laporan.
“Mboten enten sing purun pak. Tirose pun enten kabeh. Tirose tiang-tiang, mosok omah siji genderone loro, ate gendheng ta, ngoten tirose tiang-tiang.”
“Lha terus tak gawe opo?
“Nggeh mboten semerep pak, sing penting sak niki pelunasane.”
“Koen rame ae, gak tak tukoni meneh mbesuk.”
“Sak niki sak niki pak, mbesuk nggeh mbesuk”

Pandi ngungib. Karepe ngomong sula nang ripus iku.
“Ngene ae mari, cek podho gak rugine, yo opo lek aku tuku separo ae.”
“Lha kulo lak rugi, adoh-adoh. Damel nopo.”
“Yo laweten maneh opo gawe en gendero ndik hamur ente, ya?

Ripus pikep mbesengut.
“Omah siji gendero loro, ate gendheng ta.”

Pandi sanap.
“Koen podho ambek wong-wong iku!”
Ripus iku ndang cepet-cepet nampani ojir sing diisaki Pandi.

Isuke kampung regeg. Warda kaget. Emar maneh. Kabeh grudukan nang hamure Pandi, koyok ate nang ekspo. Latar hamure Pandi dideki cagak sak genderone kabehe limolas. Pandi malangkerik ngarepe lawang nggawe kaos bedah, sampek kalah Paitun.

Gang Regeg, Gang Gawat…

ikon paitun gundulIsuk-isuk, ebes-ebes kodew wis nggrumbul ngupengi mlijo nang ‘Gang Gawat’.  Yo wis ngono iku bendino, blonjo ambek dibumboni rasan-rasaan.  Terus, gak jarang kari-karine regeg.

Mangkane dalan iku dijenengi wong-wong ‘Gang Gawat’. Tukarane petang dino, rukune telung dino.  Mek lek riyoyo rukune iso rong minggu, iku ae ngenem-ngenem sik kasak-kusuk. Wak Pan, mlijo iku yo podho dene.

 

“Wak Pan, sampeyan pirang ndino gak lawetan? Garai soro wong ae,” onok sing mlethes omongan.

Wak Pan clingak-clinguk.

“Lapo sampeyan?” Bu Wiwik

“Gak buk, gak enak aku lek crito.” jare Wak Pan ambek tail kanan-kiri.

“Onok opo, sopo Wak Pan? Mbak Ipul ta? Ganok wonge, wis limang dino nang Surobyo. Opoo se?”

“Aku ket wingenane gak dodol, soale kentekan ojir buk, gak iso kulakan.”

“Kok iso se,” mbak Tin nyaut.

“Lha yoopo, Mbak Ipu bon, tak tagih alasane onok ae. Blonjone daging, urang, pokoke iwak-iwakan thok. Maleh aku kulakan macet, buk” jare Wak Pan setengah melas.

Koyok nguyahi segoro, rowengane Wak Pan mbledhos ndik Gang Gawat. Bu Wiwik langsung koyok spiker aktip.

“Lhoo…lHo…lho, gelange, kalunge, ngrentep koyok bintang pelem, tapi nang mlijo ae ngebon.  Ngono lek crito nang aku jare tas tuku bedak ndik pasar gedhe. Nggedabrus tibae.”.

Mbak Tin tambah koyok corong TOA.

“Lha kok sampeyan kaet ero.  Wong iku mblebes.  Wingenane nang omahku, crito berlian, model-model rok anyar, bareng mburi-mburine kate utang. Waaa yo kadit ae.

“Mlijo yo dinakam ae, oala…” liane ngebleki omongan.

“Nang ndi-ndi Mbak Ipul iku ngakune pengusaha”

“Alaa, pengusaha opooo, ngusahakno kancane rugi le’e”

Tapi kabeh gak eroh lek ndik kono onok bolone Mbak Ipul.

“Sampeyan gak oleh ngono, aku gak mbelani, Mbak Ipul iku yo sa’aken. Ojobe gak tu moleh. Dadi de’e jungkir walik golek koyo.” Bu Anna mbelane Mbak Ipul.

“Iyo, tapi uripe koyok artis, mestine lak priatin ta.” Onok sing gak terimo.

Bu Anna rodok panas, genti nyantap Wak Pan.

“Koen yo ngono, lapo diomong-omongno barang. Mlijo iku dodol blonjoan, duduk dodol omong!”

“Iku ngono ancene blolone, Wak Pan.” Bu Wiwik ngroweng.

Bu Anna umep.

“Sopo bolo-boloan! Ngomong sukur mlethos ae.”

Dadak moro-moro Bu Wiwik jupuk kentang disawatno nang Bu Anna. Bu Anna kaget mbales, nggrangeh pupune petek diuncalno nang Bu Wiwik.  Gak suwe, kabeh melok rebutan mblonjoan gawe sawat-sawatan, bayem, daging, tempe, sak nyekele disawatno. Isuk-isuk Gang Gawat mbledhos. Untung wong lawetan krupuk liwat, terus nyeluk Pak RT. Kabeh diseneni kongkong helom.

“Isuk-isuk wis emar. Lak maleh telat ta aku nang kantor.” Pak RT ndrememeng.

Dadak Wak Pan sambat nang Pak RT.

“Lha dagangan kulo yok nopo pak?

“Yo embuh … lha maeng yoopo kok iso ngene?”

Wong dodol krupuk ngrowengi Wak Pan.

“Mangkane ta… ojok dodol omongan.”

Pak RT ambek wong dodol krupuk ngguyu kekel ndelok Wak Pan ndepis cidek pos, koyok Paitun nggreges.

Prasane Tamane Ham e Tah?

ikon paitun gundul
Isuk-isuk Paitun wis ndik Gang Gawat, ndik warunge Mak Ti, nakam lecep ambek krupuk puli senengane, soale emoh peyek, iso kesereten. Wis ngono, dihambat ngrungokno rasan-rasane wong-wong sing grumbul marung, tambah iso kloloten peyek. Iki koyoke Pandi sing dirasani. Slathem ketoke sing ngetet ae.

“Ente wis tail ta, onok genakut-genakut ndik tamane kampung ngarepe hamure Pandi?”
“Iku ate diaapakno se, Them?” Nanang nyaut.
“Lha yo iku, iku lak tamane kampung, jare Pandi pagere ate diganti. Lha lapo? Prasane iku tamane hame ta. Wayahe lak rundingan sek ambek warga, yo ambek sesepuh. Kadit hare. Moro diputusi ewed ae.” Slathem tambah mangap. Liane mulai koyok radio.

“Onok ngawute wanyok iku. Taman iku onok sejarahe. Pagere sing lawas lak yo nggawe ojire warga. Yo onok sejarahe. Ente lak elenga, Ndot?”. Bendot mek mrenges.
“Takoko Mak Ti. Asline sampeyan sing eruh mak.” Paitun tail Mak Ti, wong loro was-wasan.
“Yo takoko Paitun. Tun critoo Tun.” Mak Ti ngeles, Paitun ngenemae, wong-wong mulai, batine.
Mak Ti yo rikim, iki lek gak ngomong, iso gak ladub-ladub bekenyek-bekenyek iki.

“Yo lek ro ku, iku biyen critane, wong-wong kene lak mari nang alun-alun bunder, ndelok Pak Karno teko ngresmekno tugu iku lho. Lha pas jagongan bengi, onok sing usul, yoopo mumpung bareng ambek gawene tugu iku awake dewe ndik kampung iki yo nggawe tengeran. Yo akhire menene warga langsung kerja bakti, yo dadi tamane kampung iku saiki. Malah akhire wong-wong bingung dijenengno opo terus.
Akhire Lik Paat , mbahe Nanang iki, usul, yoopo lek dijenengno Taman Proklamasi ae, podo ambek jengenge Tugu Proklamasi sing ndik alun-alun bunder iku. Kabeh setuju. Ro ku yo ngono, wong kaet biyen yo aku sing ngurusi konsumsine.” Mak Ti crito dowo. Paitun mbatin, iyo wong aku biyen mbrebes mili pas Pak Karno ngresmekno tugu alun-alun bunder.

“Mangkane sampek saiki sampeyan nyerek terusss warunge.” Kabeh ngakak. Paitun nyokot mendhol.
“Lha terus ganok sing ngilingno ta Pandi iku?” Nanangk dadak mancing omongan. Bendot mlethes.
“Jare wong-wong yo wis. Pak RW kan nokat nang Pandi. Jare Pandi nang pak RW, aku lho ojir nggak jaluk sampeyan. Pak RW yo rodok tersinggung.”.
Slathem nambahi’
“Kathik ente ro, sing nggarap yo iku-iku ae, pancet ae. Biyen mbenakno got yo iku, maving yo iku, nggawe gerbang yo iku. Rapat RW koyok e kadit direwes,” Nanang ngegongi.

“Sakjane lek warga kene kompak, yo sembarang iso dirunding. Lek kabeh ngenemae yo toper. Iso ndadi Pandi. Padahal urusan liane sik kanyab.”
“Oyi, kampung iki sakjane ojok mabangun fisik thok. Mbangun ati, mbangun pikir, cek kadit regegae.” Bendot gnomone pas tepak. Paitun ngempet ngguyu, batine, atase Bendot ae ngomong ati, arek gak jelas, adus ae mbuh-mbuhan.
“Wis…wis, ngomong opo ae, ojok kesusu ngarani ta, be’e Pandi maksude apik. Dijak apik kok rameae.” Mak Ti mulai gregeten.
“Lho masalahe kan sembarang iku sing penting lak carane Mak Ti. Maksude kipa, tapi lek carane halas,terus wong gak itreng, maleh emar. Lak ngonoa thess…” Bendot komen.
Paitun ngenem-ngenem mrepet ngaleh. Wong-wong kaet sadar.
“Lho, ladub-ladub, lak telat ta awak.” Kabeh semburat.

Paitun uklam ngetutno lakon, ambek mbatin turut dalan, wong-wong saiki wis pinter-pinter, tapi yo kok sik salah paham ae.
Sembarang iso dirembug, diomongno sing kipa. Wong jowo iku kudu nguwongno uwong, Paitun iling omongane ebese.
Tail tugu, Paitun rodok mbrebes mili, de’e sik iling crito, Londo lek ate ngalahno arek Malang, kudu ngebom tugu sik, soale tugu iku lambang semangat perjuangane arek Malang. Pas mari dibom, tugu dibangun maneh. Semangate arek Malang bangkit maneh. Londo merat.

6 Langkah Menuju Pemerintahan Bersih

Oleh: Caping Maskarah Safril *

PENYELENGGARAAN pemerintahan negara yang baik (good governance) menjadi agenda utama di Indonesia dewasa ini. Menarik bahwa penentuan agenda ini didahului oleh krisis finansial 1997 yang meluas menjadi krisis ekonomi. Krisis tersebut telah mendorong arus balik yang luas yang menuntut perbaikan ekonomi negara, penciptaan good corporate governance di sektor swasta, dan perbaikan pemerintahan negara.

Seperti dialami bersama, bangsa Indonesia memulai semua itu dengan mendesak suksesi kepemimpinan nasional dari Presiden Soeharto yang otoriter dan cenderung fasis ke arah pemerintahan yang demokratik kerakyatan.

Tentu saja, suksesi tidak cukup sebagai jawaban atas tuntutan masyarakat. Reformasi politik akhirnya melebar: berkembangnya sistem multi partai, penyelenggaraan pemilihan umum oleh lembaga yang independen, pembentukan lembaga perwakilan yang lebih representatif dan lebih berdaya dalam mengawasi pemerintah (eksekutif), pengurangan dan bahkan penghilangan intervensi militer dalam kehidupan politik dan pemerintahan di luar bidang mereka, peningkatan profesionalisme dan independensi lembaga peradilan, dan lain-lain.

Pendek kata, berbagai pihak (atau sektor) yang terlibat dalam keseluruhan dinamika governance menerima sorotan dan harus diperbaiki, pihak-pihak itu bukan hanya negara (legislatif, yudikatif, dan eksekutif) melainkan juga pihak swasta dan masyarakat sipil (civil society).

Yang terakhir dituntut meningkatkan perannya dalam rangka mengembangkan demokratisasi dan akuntabilitas pemerintahan negara.
Namun governance reform yang kini terpusat pada pihak eksekutif dan administrasi negara, tidak dapat dihindari. Berbagai faktor telah menyebabkannya. Konstitusi Indonesia termasuk a heavy-executive constitution, yang memberikan kekuasaan besar kepada presiden.

Peran pemerintah selama hampir 40-an tahun terakhir juga begitu dominan dalam berbagai aspek kehidupan. Dominasi ini dulunya telah didukung secara sistematis melalui peran birokrasi yang tidak netral-politik karena menganut monoloyalitas kepada Golkar, sistem kepartaian dominan (dominant party system), dan militer.

Dengan pemerintahan negara yang elitis, sedangkan masyarakat sipil masih lemah atau bahkan dibungkam, pemerintah memainkan peran yang strategis di bidang politik, sosial dan ekonomi. Eksekutif pun semakin independen, karena anggaran negara banyak didukung oleh hutang luar negeri. Maka dapat dimengerti bahwa independensi pemerintah tersebut juga merambah ke dunia usaha dan menghasilkan pengusaha pemburu rente (rent-seekers).

Tuntutan reformasi mulai sejak digulirkan 17 tahun yang lalu dalam berbagai slogan seperti anti korupsi, kolusi dan nepotisme menggambarkan kebobrokan sistem pemerintahan negara yang didominasi oleh rezim fasis, dengan aktor-aktor utama kelompok militer, dan dalam sektor swasta yang seharusnya mandiri dan bebas dari intervensi pemerintah. Maka, reformasi pemerintahan negara (governance reform) yang terfokus pada pihak eksekutif dan administrasi negara merupakan salah satu jalur strategis bagi tercapainya good governance. Untuk itu terdapat berbagai strategi pencapaiannya.

Pertama, usaha telah dijalankan untuk menghasilkan pemerintahan yang demokratik dan legitimate. Perkembangan sistem multi partai menjadi saluran bagi masyarakat untuk mendirikan asosiasi politik dan menjatuhkan pilihannya secara bebas. Penyelenggaraan pemilu oleh lembaga yang independen (KPU) dan pemantauan oleh masyarakat sipil (domestik dan international), telah meningkatkan kredibilitas sistem pembentukan legislatif dan eksekutif.

Kedua, seharusnya diperjelas otoritas pemerintahan baru di hadapan birokrasi lama. Tetapi hal ini belum memungkinkan, baik karena ketidakjelasan pengaturan, tidak adanya dukungan legislatif, maupun resistensi birokrasi lama. Masalah-masalah yang muncul dalam penunjukan pejabat-pejabat politik (political appointess), misalnya, mencerminkan bahwa watak Indonesia sebagai beambtenstaat (negara birokrasi) masih menonjol. Dalam sistem politik yang demokratik dan menghasilkan pemerintahan yang legitimate, seharusnya wajar belaka jika pemerintah berhak menentukan jabatan-jabatan tertentu dalam birokrasi negara. Jika tidak, maka pemerintahan yang demokratik akan dibajak oleh sistem birokrasi lama. Upaya memperjelas masalah ini dapat dimulai dengan menghasilkan perundang-undangan tentang lembaga kepresidenan. Dalam pengaturan itu ditentukan tentang otoritas politik, hak-hak dan kewajibannya, dan akuntabilitas.

Ketiga, reformasi administrasi negara. Seperti diketahui bersama, birokrasi di Indonesia merupakan birokrasi yang menggurita. Mereka bukan hanya berada di lingkaran eksekutif seperti Sekretariat Negara, Departemen, Lembaga Non-departemen, dan BUMN, melainkan juga di lembaga perwakilan rakyat dan peradilan. Upaya awal sudah dilakukan, seperti transfer administrasi peradilan umum dari Departemen Kehakiman ke Mahkamah Agung, atau penentuan anggaran sendiri oleh lembaga perwakilan rakyat.

Namun banyak hal masih harus dilakukan dalam reformasi administrasi negara ini. Secara umum reformasi itu mencakup peran atau tugas sistem addministrasi negara antara lain guna melayani masyarakat secara aspiratif daripada melayani kepentingan sendiri melalui kolusi dengan dunia usaha dan nepotisme. Peran lain adalah memberi ruang pada masyarakat dan sektor swasta untuk berkembang dari bawah (bottom-up) dan di daerah (decentralization). Bappenas, Dirjen Sospol Depdagri, Dephankam, misalnya telah mengalaminya.

Aspek lainnya adalah penataan kelembagaan, termasuk melakukan rasionalisasi lembaga dan personil. Hal ini memerlukan peninjauan ulang terhadap keberadaan dan fungsi berbagai macam lembaga sesuai dengan perkembangan sosial, ekonomi dan politik dewasa ini. Termasuk yang harus mengalami reformasi adalah proses dan tata-cara administrasi negara yang tidak berbelit-belit, transparan, memuaskan dan tidak korup.

Keempat, kultur dan etika birokrasi. Kultur keterbukaan, pelayanan yang cepat, dan etika pejabat harus ditingkatkan. Pelayanan yang lamban sudah menjadi ciri birokrasi kita, coba perhatikan layanan KTP, layanan Kesehatan atau layanan publik lainnya. Etika jabatan menyangkut hal-hal seperti larangan perangkapan jabatan, berkolusi, penerimaan uang pelicin dan lain-lain.

Kelima, masalah sumber daya manusia yang memerlukan rekruitmen berdasarkan kualitas dan profesionalisme, peningkatan pelatihan, promosi reguler berdasarkan merit system, dan meningkatnya kesejahteraan (bandingkan antara gaji guru dengan pejabat esselon, juga pegawai negeri sipil-militer dengan pegawai BUMN).

Keenam, pengawasan administrasi negara. Hal ini dapat dilakukan secara preventif maupun represif. Pengawasan preventif melekat pada sistem administrasi negara yang bersangkutan, seperti kejelasan job description, pengawasan oleh atasan, dan secara umum berupa penyelenggaraan pemerintah berdasarkan prinsip-prinsip yang baik, yang harus diikuti atau diwujudkan dalam menghasilkan legislasi. Indonesia belum memiliki ketentuan hukum dalam hal ini. Sedangkan secara represif, pengawasan ini dapat berwatak politis, yaitu melalui DPR dan DPRD, maupun berwatak yudisial melalui peradilan adminastrasi yang terbatas pada keputusan konkret (beschikking).

Memang banyak hal yang harus diperbaiki. Peran legislatif dalam mengutamakan kepentingan publik harus ditingkatkan, bukan sekedar kepentingan partai atau golongan. Pemahaman anggota (yang baru) mengenai administrasi pemerintahan masih harus ditingkatkan pula. Bias birokrasi, kekuasaan, politik dan bisnis yang mewarnai kultur peradilan selama ini, belum sepenuhnya hilang. Sebaliknya, ketidakpatuhan birokrasi dalam menjalankan putusan hakim juga menuntut pemberdayaan putusan peradilan administrasi.

Berbagai strategi lain mungkin saja dipikirkan, diusulkan dan dikembangkan. Tujuannya bukan sekedar melahirkan wacana, konsep-konsep dan program yang reformatif untuk menuju clean and the good governance, melainkan juga untuk mendorong perwujudannya.-

*Caping Maskarah Safril, Ketua Asosiasi Pedagang Kaki Lima (APKLI) Kabupaten Malang, tinggal di Jalan Bandulan 8 Malang.

Nyenyek Tun…

logo paitun gundulRodok iyup, ate sore, kroso ewul. Enake mampir warunge Mak Ti ae, ngono batine Paitun. Tibae Mak Ti tutup. Ate liwat Gang Gawat, Paitun ragu-ragu, mosok bendino kuping dijejeli suarane keblek-keblek iku ae.

Sak klerap Paitun iling. Lak suwe gak rimpam nang hamure Mas Sunari. Ambek ngumbah kuping, ngrungokno sing sula-sula, mesisan ndelok kodew-kodew muda-mudi latihan mbeso, nari.

Paitun ublem gang halabes. Tekan ngarep hamure Mas Sunari tibae ipes, dapako unine gending, manuke Samian ngoceh ae, yo lek enak, menco wis kewut pisan, unine koyok bebek tikas. Tau biyen, Samian idrek tanggapan luar kota seminggu, dadak manuke ambek ojobe dicantholno ndik buri cidek jeding. Helom idrekan, Samian ngamuk, manuke unine dadak mek “ekgh… ekgh” persis unine wong ngeden.

Ojobe diumbah ambik Samian. Samian iku wong seni, duwe sanggar dewe, tapi gelek dijak neam panggung ambek Mas Sunari. Paitun rikim diluk, akhire rimpam nang sanggare Samian. Lhuw, onok Bambing (sakjane jenenge Bambang) mboh ambek wong-wong kono kok diceluk Bambing. Kait amping-amping ndik lawang pagere Samian, Paitun kaget, Bambing pancetae cucuke. Endik tibae yo ndik kene, ketoke uthek mbenakno salon.

“Lhooo Cak Min, kekasih ente datang menghampiri… wkwkwk!” Pancetae cangkeme ludruk iku batine Paitun ambek sik rodok dredeg pekoro kaget. Samian mek mencep. Tibae genaro aud iki maeng sekak ta.

Yahh beginilah Tun. Lha yoopo, idrekan ipes. Aluk sekak timbang nggeblak, ya?
Onok genaro oket, Londo (asline jenenge Jo, tapi celukane Londo, soale lek main drama tujubelasan didadekno londo, ancene praene blasteran, mboh blasteran Jowo ambek gendruwes le’e). Koyoke Londo ate ngabari.

“Cak Mian, sampeyan melok ta nang Atrakad? Jarene kesenian kampunge ewed diundang pentas nang Atrakad.”

“Ayas gak ro i Ndo. Ente jare apais?” Samian ngungib.

“Kanaku dikongkon Bu Ayuk, Seksi Seni Budaya RW, dipilih melok rombongan duta seni jare. Ayas yo yoopo, male kolem tewur hare. Nggolekno sangu, terus perlengkapane, durung lio liane.”

“Ngono iku lho, kok gak kene-kene iki sing dikongkon nangani. Lha terus model pembinaane yoopo.” Samian rodok emosi. Paitun mulai umbam masalah.

Endik sing ket maeng ngenem, salone wis muni dadak melok muni.

“Ayas wingi pas mbenakno son e Jianto, wong-wong pas tepak kumpul ndik sanggare Jianto. Kabeh rame pekoro iku. Krunguku, sanggar-sanggar seni ndik lingkungane dewe saiki wis ate ketam kabeh.”

Bambing dadak koyok tumbu ole tutup.

“Oyi ancene. Ente-ente ini lak wis ero ta. Iki rahasia tapi ente-ente perlu ero. Seksi Seni Budaya RW iku pinter thes. Iku anggarane jelas, bantuane yo hedeg. Tapi… carane yoopo cek ithab, yo golek sing harum, lek perlu sing gak rayab. Lek gak ngono yo diperintahno nang warga opo sekolahan-sekolahan ndik kene, opo liane. Kane thess… Sanggar-sanggar yo ngaplo… nyenyek tun…”

“Ayas sakjane itreng. Cumak lek arek-arek gak kompak yo yoopo. Mestine sanggar kabeh kumpul, genomo sing kane, lek perlu ngadep RW. RW yo cek ero seni dan budaya iku penting. Tau tah wong-wong pengurus RW iku nontok seni sampek kateg? Gak kiro. Paling oket dilut, awu-awu… cek dianggep peduli, maringono eskip,” Samian ngroweng.

Paitun tambah umbam gak kane omongan iki. Karepe ngumbah kuping, lha kok mbleset. Tapi gak popo, batine Paitun, aku tambah ero lek onok kenyataan koyok ngene. Aku biyen paling seneng nontok ludruk, tari-tarian, wayang wong, wayang kulit, seni-seni iku pokoke.

Saiki angel, kok ngono, ulang tahune Malang sing ditanggap gak jelas, wayange sing ditanggap guduk wayange wong Malang, senine wong njobo kabeh. Padahal ndik Malang gak kurang dalang. Tukang mbeso yo akeh. Seni asli liane yo akeh, apik-apik. Iyo yo, kok iso yo. Paitun nggleleng priatin. Londo katut kolem ngroweng.

“Aradusku onok sing ndik Atrakad, idrek ndik iku lho nggene tampil seni-seni sak Indonesia. Iku yo tau crito. Rombongan lek tekok Malang jare mbanyol. Arek-arek seni sing ate tampil iku bingung nyiapno pentas, bingung iku iku, jendral petisi, dadak wong-wong pengurus sing ngetutno, sing kudune ngewangi, nyupot, dadak tambah keplas, ngungib nglencere, blonjo.”

“Lha lapo kolem ae wong-wong iku. Entek-enteki transpot ae. Biyen jare Seksi Seni Budaya RW ate diganti wong sing genah, itreng Tibae pancet, kadit nes. Wayahe lak golek genaro sing peduli, iso ngrumat seni budaya. Gak rikim ithab thok ae. Gak socing blas.” Bambing nyantap.
“Yoopo lek ate ngganti. Pak RW ae ngelu, soale Bu Ayuk iku lak plek ambik Pandi. Podo sanjipake. Lek jare Bendhot, pren… pren… wkwkwk.” Londo noyug. Paitun rikim, heng koena mbulet ae.

“Skak…!” Bambing bengok. Samian gak trimo.

“Ente nganem lek pas slimpene nawak ae, wisss… nyenyek tun!”

Langit semburat werno maghrib. Paitun ngaleh tekok sanggare Samian. Nggremet henam turut embong ambik ngwasno ayang-ayange dewe ambik ayang-ayange wit-witan sing mbeso, menari-nari ndik aspalan dalan.