Rak Buku dari Plastik; Puisi-puisi Tjak S. Parlan

Ilustrasi. (Anja Aronawa)

Tempat yang Terlalu Sempit untuk Bersedih

“Sudah bukan saatnya
kita berumah di kamar,” kataku.

Aku tahu, itu bukan perihal yang ingin kau dengar.
Kamu juga tahu, itu jenis pembicaraan yang paling sering
ingin kuhindari. Tapi hari ini, drama itu telah dimulai.

Buku-buku itu selalu menyita banyak waktu dan tempat.
Sementara, anak kita butuh lapangan bola, langit
cerah yang luas juga burung-burung origami
yang beterbangan di dalam rumah.

Tapi rumah adalah jarak, yang hanya bisa
ditempuh dengan cita-cita. Rumah bukan hari ini
—ia adalah sesuatu yang sering kita sebut
dengan mata berkunang-kunang sebagai nanti.

“Aku harus mulai memikirkan
tempat kerja di luar,” kataku.

Untuk ke sekian kali, kamu mendengar yang
seperti ini. Tapi mungkin benar, bahwa
masih banyak hal di luar yang menunggu didengar.
Sementara di kamar, kita belum kelar mengurusi
rasa lapar.

Tapi aku—juga kamu— tak akan menggigil,
oleh kering-dinginnya angin yang diembuskan
dari masa paceklik. Ini mungkin pancaroba, tak ada
waktu untuk merasa paling jatuh dan sia-sia.

Aku bahkan mulai ragu, bawa kita masih bisa bersedih
di tempat yang terlalu sempit untuk bersedih ini.

Pagesangan, 7 Mei 2017

 

Februari

Februari terdampar di bandar-bandar kecil,
seperti para kekasih yang rindu
dan tak kunjung bertemu.

Februari adalah pertemuan di sebuah rel kereta
yang lurus menjauh dalam lambaian tangan
di belakang rumahmu.

Februari adalah sebuah tikungan
yang memaksamu membunyikan bel sepeda
dan menoleh sedikit pada kenangan.

Februari adalah hujan yang tahan lama,
yang membuatmu menjadi kekasih sekaleng bir
dan kaca jendela.

Februari adalah rhinitis akut— atau semua itu—
yang menjauhkanmu dari segala cium.

Februari adalah penyamun yang tersesat di rumahmu
saat kau tertidur, dan menjarah
semua mainan anakmu.

Februari adalah kalender tua basah
yang lupa kau buang seluruh tanggal merah
di tempat sampah.

Februari adalah rencana-rencana
yang tergelincir di jalanan hujan
yang kerap terhapus para pejalan.

Pagesangan, 18 Pebruari 2017

 

Tengah Malam

Kita tersudut di tengah malam,
ketika itu. Anak kita sakit, dan sepenuhnya kita lupa
cara bercinta. Kita lupa mencatat
panggilan-panggilan darurat: panggilan taksi,
rekening pribadi, telepon rumah tetangga,
nomor kontak kawan dekat.

Kita lupa membalas SMS selamat ulang tahun itu.

Saat kau melangkah ke dapur, aku tahu
ada kalanya kita tak bisa mengandalkan bawang merah—
yang kerap membuat mata teduhmu berair dan membawa-bawa
aroma pasar ke dalam kamar—
atau paracetamol yang membeku di kotak obat: penghalau demam
bagi pemegang kartu BPJS itu.

Tapi kita tak punya kartu. Kecuali alamat sementara, kita tak punya
apa-apa yang penting untuk dicatatkan pada negara. Negara
tak butuh apa-apa dari kita—
negara adalah rezim yang paling mandiri.

Kita tersudut di tengah malam,
ketika itu. Anak kita yang bertahan dan lelah menangis,
tertidur dalam kantung matamu yang hangat
dan berat.

Lalu pukul empat dini hari, sebuah SMS masuk—
pesan pendek yang selama berbulan-bulan aku sembunyikan,
baik darimu, dari puisi, dari keadaan.

“Tak bisa tidur, Bung? Tak kau terima saja tawaran itu?

Aku terbayang ruang ICU, kantor polisi, jeruji besi,
kue ulang tahun, mobil mainan, sebuah brosur rumah bersubsidi.
Aku menatapmu, aku menatap ‘kekasih’ kecil kita
yang tertidur. Aku membalas sebuah pesan:

“Aku ikut. Aku jalankan.”

Sebelum tertidur, aku menghapus SMS itu darimu,
dari puisi, dari keadaan.

Pagesangan, 17 Pebruari 2017

 

Rak Buku dari Plastik

Rak buku dari plastik itu, terbebani
oleh janji para penyair yang ingin
menerbitkan buku:

oleh hasutan yang kerap diembuskan
dari sebuah toko buku
yang hening.

 

Bantal

Tak ada satu pun tempat yang pernah
disinggahi mimpi di sini.
Hanya sisa keramas:
helai-helai waktu yang tanggal
setiap pagi.

 

Hari Libur

Besok hari libur. Hari tenang
bagi sebuah keluarga sederhana.

Keluarga sederhana itu membeli sebuah koran
hari Minggu dan mulai membacanya:
(1) tak ada yang perlu dikhawatirkan
perihal kegaduhan itu, (2) musim kawin para
pemimpin, musim pemilihan rakyat jelata,
(3) kapan terakhir kali kamu piknik?

Menjelang siang, ketika orang-orang baru pulang
dari gereja, keluarga sederhana itu bertandang
ke museum kota.

“Di sini,” kata seorang penjaga, “tanda tangan
di buku tamu ini. Apa lagi yang bisa kami tawarkan?”

Keluarga sederhana itu menggeleng.
“Tak ada,” katanya, “kami hanya ingin menjenguk
sejarah yang lamban.”

Pagesangan, 19 Pebruari 2017

 

*Tjak S. Parlan, lahir di Banyuwangi, 10 November 1975, kini bermukim di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Cerpen dan puisinya telah dikabarkan di sejumlah media, antara lain Koran Tempo, Media Indonesia, Femina, Lampung Post, Republika, Haluan Padang, Padang Ekspres, Pikiran Rakyat, Sinar Harapan, Sumut Pos, Bali Post dan lain-lain. Diundang menghadiri Temu Sastrawan Indonesia IV (Ternate, Oktober 2011) dan Jambi International Poet Gathering (Jambi, Desember 2012).

Puisi Mengorak Pendidikan

Oleh: Beni Setia

Bagi Tengsoe Tjahjono–alumni IKIP Malang (sekarang Universitas Negeri Malang atau UM, red), dosen di IKIP Surabaya (Unesa), dosen tamu Hankok Universitas, Korea Selatan, serta penyair–, terutamanya di dalam kumpulan puisi Felix Mencuci Piring (Malang: Pelangi Sastra, Kafe Pustaka, dan UM, 2016), pendidikan dan pembentukan karakter itu hal terutama. Bahkan jadi obsesi. Semua idealisasi itu, dan bagaimana imanensi riilnya pada realitas aktual yang cuma bermutu KW dioplos dalam puisi-puisi di kumpulan itu. Meski ujud Felix ditiru (mimesis) dari sosok riil Felix K. Nesi (penyair alumnus Universitas Merdeka Malang, red), seperti diakuinya pada Ucapan Terima Kasih–dilampirkan di awal buku.

Manusia riil, yang memukaunya, sehingga mengilhami untuk menelurkan penulisan puisi yang tak diacu serta diarahkan teori–lihat puisi ‘Puisi untuk Felix’ (hlm. 1), yang diletakkannya di awal, sekaligus menjadi penanda dari gaya dan pola kreasi. Kembali lugu, semata bermodalkan jujur dengan diri sendiri, meski kejujuran itu lebih merujuk ke apa-apa yang diketahui dan ada bawah sadar, dalam acuan Fenomenologi, dengan tidak disengaja muncul serta membentuk referensi. Teks murni itu–selain hanya Felix sejati yang diapresiasi–perlahan menjadi lapisan subyektivitas dan membentuk sosok lain dari Felix, sisi rekaan tidak riil pada fakta seorang Felix (K. Nesi).

Acuan itu diakuinya dalam Kata Pengantar yang ditulisnya, ‘Senyawa Tragedi, Komedi, dan Agama’ (hlm. vii-xi), dan pengakuan itu justru mengingatkan pada realita Felix yang lain. Ujud Felix the Cat, kartun yang dikembangkan oleh Pat Sullivan serta Otto Messner, sosok si kucing hitam yang pernah jadi cerita popular dan menghibur di TV. Yang mengingatkan pada beraneka cerita naïf, unik, tidak terbayang sebelumnya, dan sekaligus jenaka. Menghibur–lucu, konyol, dan menyodorkan makna sublim dari hal bersipat hiburan. Transedensi dari balutan sampiran lucu dan konyol.

***

Felix pada puisi-puisi Tengsoe–tiap puisi merupakan episode otonom, mandiri meski terkadang memiliki kaitan interteks–jadi tokoh paradoks di dalam kotak cerita. Jadi tidak terlalu mengherankan ketika ditemukan hiperbola Felix (sebagai) si kepala sekolah yang tak pernah korupsi–nyatanya: penguasaan mutlak akun BOS dari Negara, serta legitimasi mencairkannya lewat Anggaran Pedapatan dan Belanja Sekolah, jadi potensi untuk korupsi. Bahkan otoritas dan legitimasi akan akun itu telah jadi impian (finansial) setiap guru, sehingga pada berambisi ingin menjadi kepala sekolah, meski akan menjadikannya phobia pada pers dan LSM. Tapi itu jenakanya.

Atau penandaan kuat akan dan tentang perilaku otokrasi mutlak–seperti terlihat dalam puisi ‘Felix dan Dua Temannya’–, yang menekankan laku semau gue seorang pemimpin yang bisa improvisasi memerah-hitamkan anak buah dan masyarakat. Atau kuatnya aspek polisional, lewat tindakan pengawasan intel, sehingga kontrol bisa ada di mana-mana dan di setiap saat–dalam puisi ‘Felix dan Cincin Batu Akik’. Tindakan diktatorial yang disilembutkan dengan epheumisme, berbalut retorika, sehingga fakta penguasaan atas guru dan murid diungkap sebagai sekadar menekankan pengendalian atas mimpi murid–lihat ‘Puisi untuk Felix’.

Itu merujuk gaya khas the smiling general, dari masa yang serba terkendali dan dikontrol era Orba–mungkin keberanian ini terkait erat dengan fakta Tengsoe menulis puisi-puisi Felix Mencuci Piring di Korea Selatan, dan bukan di Surabaya atau Malang. Meski masih kritis pada situasi Indonesia terkini pada puisi ‘Salju Pertama’, Meditasi Kimchi, (Malang: Pelangi Sastra, Kafe Pustaka, UNM, 2016, hlm. 48). Penandaan akan situasi tertekan, kondisi sosial-politik canggung dan serba salah karena terlalu banyak interes pribadi partai politik seperti mendapatkan jalan ke luar: lari memasuki dunia si angan-angan konyol, jenaka, dan menghibur–tapi penuh bayangan murung.

Karena itu, setelah merujuk fakta riil Felix (K. Nesi), pelan (ia) mengembangkan imajinasi penuh cemooh dan penjenakaan ala Pat Sullivan dan Otto Messner–terbang dengan Felix the Cat, sambil membayangkan Yesus itu sahabat (Felix) seperti puisi ‘Felix Ingin Jadi Kepala Sekolah’, atau malahan punya gereja dan liturgi sendiri dalam puisi ‘Felix Mendefinisikan Puisi’. Sehingga diksi ‘(jadi) kepala sekola’ itu diekstrimkan, dijenakakan secara terbalik sehingga terlihat konyol. Kenapa? Karena keinginan jadi kepala sekolah mengacu alasan posesif penguasaan atas dana BOS dalam fatamorgana finansial, sebab–meski berasal dari pinjaman–percaya itu uang setiap orang.

***

Itu titik keprihatinan Tengsoe–degradasi mutu guru. Itu mungkin karena, pada dasarnya, ia bukan akademisi sastra murni ataupun penyair, tapi guru. Lebih tepatnya, pengajar (dosen) dari mahasiswa calon guru. Jadi tak heran kalau ia agak kagok ketika IKIP jadi Universitas, tak lagi Institut yang menekankan pembentukan aspek karakter pendidik, dengan menekankan pedaegogi, bukan sastra murni. Meski (aspek) penyair membuatnya terobsesi kesusastraan, si yang menolak penguasaan sastra secara ilmiah, lebih memilih praktek langsung bersastra. Sehingga sastra itu lebih si keahlian bukan pengetahuan–lihat puisi ‘Puisi untuk Felix’ dan ‘Felix mendefinisikan Puisi’.

Aspek itu membuatnya tiba dalam kesimpulan: puisi tak bisa membuatmu kaya /
puisi hanya membuatmu banyak teman / perkara koran membayar mahal / temanmu nraktir nasi padang / atau nasib buruk ia mencintamu / itu dampak. syukuri tapi jangan diharapkan
(puisi ‘Felix Mendefinisikan Puisi’). Karena itu, Tengsoe menyindir kepenyairan satu corak pengabdian, sebab roti (ekaristi) itu tidak cocok dengan perut Indonesia yang kecanduan nasi. Ditulisnya: mata Maria meletikkan api / membakat dapur / mengabukan hati / aku tak butuh puisi / aku butuh nasi / dan puisi pun diremas / mengabu oleh api” (puisi ‘Felix, Maria Magdalena, dan Puisi’).

Tidak mengherankan kalau aspek kepenyairan mendorong sosok Felix menjadi yang terkadang suka mengirim SMS: minta ditraktir makan–lihat puisi ‘Felix Selalu Lupa Sarapan’. Tragis sekali.

***

*Beni Setia, pengarang yang karyanya sudah tersebar di berbagai media massa.

Titi Mongso Goro-Goro (Patahan Sejarah)

Oleh: Cokro Wibowo Sumarsono *

Dalam jagad pewayangan digambarkan dengan jelas melalui janturan Ki Dalang bahwa akan tiba sebuah masa (titi mongso) sulit dan gelap gulita dalam berkehidupan. Sebuah titi mongso yang harus dilalui oleh sebuah bangsa sebelum memasuki jaman kencono (jaman keemasan).

Masa gelap tersebut dinamakan dengan istilah goro-goro, yang ditandai dengan beberapa pertanda alam secara beruntun sebagai berikut, yaitu :
‘Akeh udan salah mongso, guntur gludhug bledheg sesamberan, peteng ndhedhet lelimengan. Gunung jugrug sinartan lindhu, padhas gempal, tebing longsor, lesus pindha pinusus. Jawah deres angin garudha ugi banjir bandhang’.

Artinya :
‘Banyak hujan yang salah musim (waktunya panas tetap hujan), guntur dan guruh sambar menyambar, mengakibatkan gelap gulita tanpa cahaya (gelap mata). Gunung meletus yang disertai dengan gempa bumi, tanah-tanah keras pada rontok, tebing banyak yang longsor dan puting beliung beriringan. Hujan deras disertai dengan badai taufan serta banjir bandang di mana-mana’.

Selain itu disebutkan pula tanda-tanda lainnya yaitu :
‘Brahmana wis sirna tapane, satriya sirna kaprawirane, bebasan kali ilang kedhunge. Sepuh anem salang tunjak numbuk bentus, rebut ing ngarsa luru boga tanpo wigih ringa-ringa. Temah telas tilasing kamanungsan, tilar kapribaden, tebih ing katresnan, datan asih mring sesami, datan metang sangsaraning liyan, angger kasembadan kang sinedya’.

Artinya :
‘Orang-orang yang dituakan sudah tidak menjalankan fungsinya lagi sebagai pengayom sedangkan para ksatriya telah kehilangan jiwa patriotnya. Seperti sungai yang kehilangan palungnya (karena tertutup limbah dan sedimentasi sampah). Tua ataupun muda saling menghujat dan menghajar, saling berebut menjadi pemimpin terdepan, berburu rente dengan tanpa malu-malu lagi. Telah lenyap peri kemanusiaan, kepribadian bangsa ditinggalkan, menjauhi kasih sayang antar sesama manusia. Tak pernah menghiraukan kesengsaraan orang lain, yang penting terwujud keinginan pribadinya’.

Gambaran pujangga kuno tersebut banyak yang terjadi pada saat ini. Liberalisasi politik dan ekonomi telah menciptakan budaya liberal secara massif dan sistemik. Ajang silaturahmi dikalahkan dengan media sosial, gotong royong dirontokkan dengan menjamurnya individualisme. Kekeluargaan diganti dengan permusuhan, tradisi kritik oto kritik berubah menjadi hasut dan bully membully. Politik persatuan telah bergeser menjadi politik adu domba dan pecah belah antar anak bangsa.

Semua mengurus pemerintahan, sedikit saja yang mengurus negara. Hiruk pikuk selalu terjadi dalam pemilihan umum (demokrasi prosedural) sementara sedikit saja yang berminat dengan demokrasi substansial.

Perbedaan antara negara dan pemerintahan perlu ditegaskan, agar jelas program buat rakyat atau konstituen. Perbedaan antara anggaran publik dan anggaran aparatur juga perlu diluruskan. Agar belanja aparatur tidak lebih besar daripada belanja untuk publik. Hak asasi juga harus diiringi dengan kewajiban asasi. Kritik juga seiring dengan solusi.

Goro-goro merupakan patahan sejarah, sebuah masa pergolakan yang dipengaruhi oleh anasir unsur alam dan ketidakseimbangan peri kemanusiaan.
Goro- goro merupakan patahan sejarah, jikalau kita lengah akan diterkam habis oleh predator yang siaga mengintai di tapal batas.

Goro-goro merupakan patahan sejarah, yang harus kita lalui dengan tabah, demi masa keemasan menuju negeri adil makmur seperti yang dicitakan pendiri bangsa.

Kencangkan ikat pinggang, perkuat kemandirian, siapkan mental dan logistik guna hadapi peristiwa besar yang bakal terjadi.
Tetap setia di garis massa!

*Cokro Wibowo Sumarsono, Mantan Sekretaris Jenedral Presidium GMNI dan Ketua DPP Gerakan Pemuda Desa Mandiri (Garda Sandi).

Geger Genjik Ibukota…

Oleh: Cokro Wibowo Sumarsono*

Hingar bingar pemilihan Adipati baru Kotapraja Indraprasta terdengar di seantero jagad pewayangan. Suaranya membahana masuk ke desa-desa dan kota-kota di wilayah negeri Amarta. Menerabas rimba raya kediaman para raksasa, ditya dan bhuta. Bahkan beritanya telah menjadi perbincangan serius para punakawan di desa Karang Kadhempel, nun jauh dari pusat Ibukota negeri Amarta, Indraprasta.

Perbincangan tersebut mengarah pada perpecahan tiga kubu pendukung, kubu Cepot, kubu Mbilung dan kubu Cenguris. Cepot mendukung Raden Antareja, perwira muda Angkatan Darat Amarta. Dengan argumentasi bahwa Antareja adalah sosok kuat masa depan Amarta. Ibukota akan aman jika perwira Angkatan Darat yang memimpin. Antareja merupakan simbol ‘kekuatan’.

Mbilung berpendapat lain, ibukota harus dipimpin sosok pemberani yang menerabas standar birokrasi, agar pelayanan masyarakat tidak berbelit. Pilihan itu jatuh pada Raden Wisanggeni, satriya muda yang tak bisa berbahasa halus. Selalu pakai bahasa ngoko ke siapapun, bahkan kepada para Dewa sekalipun. Wisanggeni merupakan simbol ‘keberanian’.

Lain Cepot, lain Mbilung, lain pula dengan Cenguris. Dia menginginkan figur pendidik guna mencerdaskan warga ibukota. Pilihan itu jatuh pada Raden Abimanyu, intelektual muda yang menguasai ilmu sastra. Abimanyu merupakan simbol ‘kecerdasan’.

Diskusi kecil di warung Mbok Cangik tersebut makin lama makin seru, makin lama makin panas dan sensitif. Menyinggung asal usul masing-masing kandidat Adipati, tak terkecuali program berbusa-busa para kandidat. Menyita perhatian warga desa di sekitarnya yang menyebabkan warung kopi di pinggir Pasar Wage itu makin ramai dan semakin meluber pengunjungnya.

Pak Tani melemparkan doran gagang paculnya, memilih mengikuti diskusi yang makin memanas. Bakul-bakul di pasar memilih menutup dagangannya, guna ikut menyimak diskusi yang makin mengarah ke debat kusir tersebut. Bocah-bocah angon bahkan rela meninggalkan kambing, domba, kerbau dan sapinya merumput sendiri. Agar tak ketinggalan info terkini percaturan politik Ibukota negeri.

Hari itu denyut nadi ekonomi desa Karang Kadhempel benar-benar terhenti, berlanjut hingga hari-hari berikutnya. Sawah ladang tak terurus, pasar ilang kumandhange, kebo sapi mulih nyang kandange dewe-dewe. Karena semua warga memilih mengikuti diskusi di warung Mbok Cangik demi belajar menjadi politisi, meskipun ‘politisi kampung’.

Hingga suatu saat datanglah si Bagong dari perjalan panjangnya ke Ibukota.
Bagong: “Dulur-dulur, saya kemarin baru saja ngopi bareng dengan Raden Antareja, Raden Wisanggeni dan Raden Abimanyu. Ternyata mereka semua itu lucu-lucu lho, jauh lebih lucu dari Cepot, Mbilung ataupun Cenguris”.

Mbilung: “Ah…masak sih Gong, jangan mbanyol kamu. Kita ini sudah beberapa minggu gontok-gontokan untuk mendukung jago kita masing-masing. Bicaralah yang lebih jelas lagi Gong, biar kita tahu perkembangan aktual di ibukota”.

Bagong: “Serius, saya kemarin baru nonton kethoprak dengan mereka bertiga, mereka santai-santai aja kok. Kenapa kalian yang malah ribut ?
Memangnya sosok yang terpilih jadi Adipati di Indraprasta akan berdampak pada desa kita?
Kita ini wong ndeso, orang kampung. Kita urus sawah ladang kita biar jagung pohungnya ledhung-ledhung, lombok terongnya robyong-robyong dan uwi gembilinya sakkendhi-kendhi. Urusan ibukota biar dirampungkan orang-orang sana. Kalau semua orang desa ngurusi ibukota, desa akan terbengkalai, gak bisa panen nanti. Kalau panen gagal orang kota akan kelaparan, wong beras dan dagingnya dari sampean semua”.

Cenguris: “Lha terus kita harus bagaimana Gong ?”

Bagong: “Ya harus kita balik. Jangan seantero negeri Amarta heboh gara-gara pencalonan tiga orang penggemar kethoprak itu. Jangan sampai persatuan kita koyak gara-gara demokrasi yang kebablasan. Sudah mengarah ke pasar bebas ini, semua sebebas-bebasnya menghasut, mencerca, mengolok dan menjegal. Harus kita lawan. Kita ini satu bangsa lho, satu sejarah perjuangan. Desa harus mandiri, tak tergantung pada ibukota. Kedaulatan pangan harus jadi panglima, jangan isu pasar bebas yang jadi panglima. Pergunakan waktu sebaik mungkin untuk bekerja dan berdoa, didiklah anakmu, jangan ngerumpi saja.

Mbilung: “Iya Gong. Gara-gara dukung mendukung yang berlebihan, saya kemarin gak diundang saat Cenguris hajatan selametan. Kohesi sosial kita jadi renggang.

Bagong: “Di sinilah kontradiksi pokoknya, di sinilah perbedaan mendasar antara demokrasi perwakilan yang menjadikan musyawarah sebagai jalan keluar dengan demokrasi pasar bebas yang super bebas. Semua tidak diselesaikan dengan musyawarah guna mencapai mufakat, namun sebebas-bebasnya menyerang orang, mencokot kawan lawan, menghinakan tokoh panutan dan lain-lain. Jauh dari kata ‘beradab’, jauh dari sesanti memayu hayuning bawana.
Wis bubar…bubaarrr…ayo macul…ayo nandur…!

Akhirnya kesadaran menyeruak di pikiran warga desa Karang Kadhempel. Semua kembali ke sawah dan pategalan, kembali mengurus ternak di kandang dan ikan di blumbang.

Cokro Wibowo Sumarsono
Cokro Wibowo Sumarsono

*) Mantan Sekretaris Jenedral Presidium GMNI dan Ketua DPP Gerakan Pemuda Desa Mandiri (Garda Sandi)

Pemulung Kesedihan; Puisi-puisi Ferry Fansuri

Dibawah Kibaran Daster

Dalam kibaran daster itu
Kau melambai-melambai
Menggoda genit
Mengerlingkan kedipan nakal
Hipnotis diriku untuk datang
Menarik ke dalam bilik syahwatmu

Masih dalam kibaran dastermu
Memperlihatkan lekuk tubuhmu
Merayu untuk memasukinya
Menyeruak dengan berahi
Kau dekatkan bibirmu ke telinga ini

“Maukah kau kuperlihatkan surga dunia sebenarnya?”

Bersamaan daster itu jatuh lunglai tertiup angin

Surabaya, Juni 2017


Juru Bicara Bumi

Jam Weker, Tong sampah
Membisu diam
Burung gagak berkoar-koar
Tanpa makna
Dedaunan bergugur
Berserakan tak berarti
Mereka diam tercampakkan
Mulut mereka terkunci
Siapakah yang bisa memaknai mereka?
Hanya manusia bersyair yang memahami mereka
Itulah gunanya sorang penyair
Dia yang mengerti benda hidup dan mati
Kata-katanya adalah juru bicara planet ini

Pekanbaru, Mei 2017

Rapuh

Pada hari panjang yang lelah
Sepasang tangan merengkuh
Merangkul surga
Senja bertabur pelangi
Ia bagai pelacur tua murahan
Menertawakan saat kita telanjang
Terasa kejam tapi kau tetap kembali
Karena hanya dia menerima
Dirimu yang rapuh

Surabaya, Juni 2017

Mereka Ingin Aku Menjadi Rembulan

Gemuruh badai menggelepar
Hantu-hantu bodoh berkelebatan
Melewati malam dengan pedih
Bersenadung pilu
Memekakkan gendang telinga
Kepak-kepak sayap merpati
Terluka tertusuk nyeri
Manusia-manusia itu berlari
Mengejar mimpi semu
Mereka meminta berubah menjadi matahari
Memohon menjelma bagikan rembulan
Gaduh negara ini membara
Membakar kota asing itu
Tanpa sisa tertiup raib
Jejak tersapu angin mamiri
Tertelan lenyap dalam perut bumi
Ada petir dijantung ini
Ingin menyalak keluar

Akan kutunjukkan siapa diriku yang sebenarnya

Surabaya, Juni 2017


Pemulung Kesedihan

Apakah itu kebahagian?
Kau tak dapat merasakannnya
Semua tak sama dan semu
Tiap zaman memiliki kadar bahagianya sendiri-sendiri
Perihal itu bisa kau temukan itu dipojok kota itu
Berserakan tercecer
Kita adalah pemulung kesedihan
Memunguti sisa-sisa kejayaan
Menampung airmata kesepian
Menyimpan duka lara
Menyemai benih pedih
Sudahlah
Jangan kau ceritakan gelisah itu lagi
Diam dan mati kau disana

Surabaya, Juni 2017

Amnesia

Kulupakan itu semua
Layaknya amnesia
Tidak ada kebencian, marah atau sendu senda itu
Tanpa balas dendam, iri dengki atau muntahan emosi
Sudah lupakan saja apa yang terjadi
Tak ada guna jua bagiku
Biarpun itu disana
Lebur jadi satu
Kosong
Hampa
Lenyap tak berbekas ditelan bumi


Dumai, Mei 2017


Bersiul di tengah badai

Sesungguhnya ujian adalah waktu
Dalam tiap malam kuterus memohon padaMu
Untuk kau kuatkan pundak ini
Bukan kau ringankan bebanku
Karena sekarang dan esok
Gemuruh ombak tetap nyata
Biarkan aku bersiul di tengah badai itu

Dumai, Mei 2017


*Ferry Fansuri, lahir di Surabaya, alumnus Fakultas Sastra jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Karya tunggalnya yang telah terbit adalah “Aku Melahirkan Suamiku” Leutikaprio (2017). Tulisannya tersebar di berbagai media massa.

Menyoal Kemiskinan Anak

Oleh: Muhammad Husein Heikal *

Saya tak begitu terkejut ketika Badan Pusat Statistik (BPS) kembali merilis data kemiskinan terbaru per Maret 2017 sebesar 27,77 juta jiwa (10,64 persen) dari total penduduk. Akan tetapi, keterkejutan saya menetas begitu membaca data yang menunjukkan bahwa dari 27,77 juta jiwa itu hampir separuh (40,22 persen) di antaranya adalah anak-anak!

Ini berarti bahwa sekarang ini, ada 11,26 juta anak hidup dalam realitas kemiskinan yang –mau tak mau– harus mereka hadapi. Mereka ini adalah anak-anak yang luput dari perhatian dan bahkan terabaikan, baik dari orang tua, keluarga, masyarakat serta tak luput adalah negara. Masih bisa kita baca isi UUD 1945 Pasal 43 ayat (1) yang menyebutkan bahwa: Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Selain itu, masih terngiang dalam kepala kita bunyi sila terakhir Pancasila yang mendengungkan: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dasar-dasar ini menjelaskan bahwa, seluruh rakyat Indonesia, baik tua (Lansia) maupun muda (anak-anak), pria ataupun wanita berhak mendapatkan kehidupan yang layak, setara dan sejahtera.

Deklarasi Geneva tentang Hak-hak Anak pada 1924 menyatakan bahwa anak harus diberi sarana yang diperlukan untuk perkembangannya. Selain itu, anak juga harus dilindungi, diasuh, dan diperlakukan sesuai kebutuhannya. Deklarasi Hak-hak Anak pada November 1959 menyebutkan prinsip-prinsip terkait hak-hak anak yang harus dipenuhi. Prinsip-prinsip itu antara lain anak berhak mendapatkan perlindungan khusus, jaminan sosial dan pendidikan, serta anak harus dilindungi dari segala bentuk eksploitasi dan diskriminasi.

Deklarasi Hak-hak Anak ini menjadi dasar Konvensi Hak-hak Anak yang disetujui oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 20 November 1989. Anak miskin secara moneter adalah anak berusia 0-17 tahun yang tinggal di rumah tangga miskin, yaitu rumah tangga dengan rata-rata pengeluaran per kapita per bulan berada di bawah garis kemiskinan.

Dapat kita baca garis kemiskinan pada periode Maret 2017 yang ditetapkan mencatatkan kenaikan sekitar 3,45 persen menjadi Rp 374.478 per kapita per bulan. Padahal enam bulan sebelumnya, September 2016 garis kemiskinan berada di level Rp 361.990 per kapita per bulan. Garis kemiskinan dapat diartikan sebagai sebuah indikator yang dijadikan patokan pemerintah dalam memberi label apakah penduduk itu tergolong miskin atau tidak. Secara implisit dipahami bahwa saat ini penduduk dinyatakan miskin apabila pengeluarannya hanya sebesar Rp 374.478 per kapita per bulan.

Angka kemiskinan anak-anak ini merupakan sebuah keniscayaan yang mengejutkan. Berdasarkan pembagian wilayah, hampir separuh anak-anak miskin Indonesia ini dari jumlah ini hidup di Pulau Jawa, yaitu 47,39 persen. Disusul oleh kawasan Indonesia bagian timur, baru kemudian disusul Indonesia bagian barat. Memang di kota-kota besar, tak usahlah dulu bicara soal Jakarta, seperti di Medan saja misalnya, tak terlalu sulit bagi kita menemukan para gelandangan maupun anak-anak yang terlantar. Di beberapa persimpangan lampu merah tak jarang kita temukan pengamen dan peminta-minta (beberapa di antaranya anak-anak) yang menadahkan tangannya, berharap belas kasihan dari orang-orang yang melintas.

Lain lagi cerita diseputaran kawasan kampus USU (Universitas Sumatera Utara). Ketika kita duduk di kantin area Perpustakaan, tiba-tiba nanti ada saja anak-anak (biasanya kakak-beradik) yang dengan memasang raut wajah menyedihkan mengadahkan tangannya. Tidak hanya itu saja, masih banyak anak-anak lainnya yang berkeliaran menjadi peminta-minta di kota Medan.

Inilah sebuah realita kemiskinan yang dapat kita saksikan secara nyata di hadapan mata kita. Betapa memiriskan! Anak-anak yang seharusnya hidup dalam lingkungan berkecukupan harus menerima kemiskinan yang menimpanya. Anak-anak yang hidup dalam pusaran kemiskinan ini berdampak pada seringnya terjadi perampasan hak-hak dasar anak. Hak-hak secara material, spiritual, serta emosional tidak terpenuhi sebagai kebutuhan utama sekaligus bekal hidupnya.

Pada Selasa (25/7) lalu di Jakarta, diluncurkan buku Analisis Kemiskinan Anak dan Deprivasi Hak-hak Dasar Anak di Indonesia. Buku ini lahir atas kerja sama BPS dengan The United Nations Children’s Fund (UNICEF). Kepala BPS Suhariyanto dalam sambutannya dalam peluncuran buku ini menyampaikan, bahwa memahami karakteristik anak-anak dalam kemiskinan merupakan langkah awal yang sangat penting dan harus dipertimbangkan oleh pemerintah sebelum mengembangkan intervensi yang paling efektif untuk mengurangi kemiskinan anak.

Sebab kemiskinan adalah salah satu akar penyebab terhambatnya anak-anak untuk tumbuh dan berkembang sesuai potensi maksimal mereka. Tumbuh dalam kemiskinan berdampak pada kesehatan dan gizi anak-anak, pencapaian pendidikan dan kesejahteraan psiko-sosial anak. Maka, dampaknya anak berpeluang kecil menjadi mandiri secara ekonomi serta berhasil dipasar tenaga kerja dimasa mendatang, saat telah dewasa nanti.

Saya jadi teringat ketika beberapa waktu lalu, secara tak sengaja saya mendengar cerita dua ibu yang menarik perhatian saya. “Saya heran lihat anak-anak sekarang, kok suka sekali ya pelajaran hitung-hitungan (matematika, statistik, ekonometrik). Padahal kalau masa kita dulu, kan itu pelajaran yang paling dibenci, ya?”

“Iya ya, anak saya juga begitu. Mungkin ya, karena sekarang itu gizi mereka cukup hingga otaknya tak melar menghitung-hitung angka yang buat pening itu. Kalau zaman saya dulu, telur bebek didadar oleh ibu saya, untuk dimakan bersama delapan saudara saya lainnya. Cemana lagi kek gitu mau mengerjakan soal matematika pula disekolah. Ha-haa..”

Percakapan yang diakhiri tawa itu adalah sebuah ironisme. Tentu anak-anak yang memiliki gizi cukup, atau bahkan berlebih pada anak-anak orang kaya yang tinggal di kawasan kompleks. Gizi yang baik, makanan empat sehat lima sempurna yang terhidang setiap hari tentu akan mendongkrak perkembangan otak mereka. Lantas bagaimana dengan anak-anak yang tidak serapan pagi sebelum sekolah? Bukan karena tidak sempat serapan, akan tetapi yang mau dijadikan serapan sama-sekali tidak ada.

Selanjutnya, saya terperangah atas apa yang dituliskan Retno Listyarti bahwa setiap hari lebih dari 41.000 perempuan menikah di bawah usia 18 tahun (Kompas, 25/7). Bahkan menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) perkawinan anak di Indonesia menempati peringkat ketujuh di dunia, untuk kategori absolut perkawinan usia anak tertinggi yang menanggung beban perkawinan usia anak.

Perkawinan di bawah umur ini terjadi disebabkan oleh faktor utama –yang tak lain tak bukan– lemahnya kemampuan ekonomi. Maka solusi yang dianggap terbaik mengatasi problema kemiskinan yang menerpa anak ini ialah menikah. Namun, ketidakmatangan usia ini tak jarang membuat perkawinan anak ini berakhir dengan perceraian. Parahnya lagi, bila sempat hamil di usia belia, keselamatan diri anak juga terancam. Atau bila selamat dari proses melahirkan, anak yang lahir itu bakal menuai kehidupan yang sama, merong-rong dalam tirai-tirai kemiskinan yang menerpa.

*Muhammad Husein Heikal, kolumnis kelahiran Medan, 11 Januari 1997. Berbagai tulisannya termuat Investor Daily, The Jakarta Post, Utusan Malaysia, Kompas, Media Indonesia, Republika, Koran Sindo, Koran Jakarta, Analisa, Waspada, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Lampung Post, Riau Pos, Haluan, berbagai media online. Saat ini menjadi salah seorang analis di Economic Action (EconAct) Indonesia.

Refleksi 56 Tahun PMII; Memahami Arah Gerakan PMII ke Depan

Oleh: Amran Umar *

MALANGVOICE – 17 April 1960, tepatnya 56 tahun yang lalu, dunia mencatat, di Surabaya lahir sebuah organisasi kepemudaan yang menaungi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, bernama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Tujuan awal berdirinya PMII waktu itu, pada 1960 partai-partai besar mempunyai angkatan muda, khususnya di kalangan mahasiswa, seperti GMNI, HMI, Masyumi dan lain sebagainya. Tetapi NU yang memiliki basis massa terbesar, justru tidak memiliki. Sehingga muncullah ide dari setiap daerah untuk mendirikan organisasi kemahasiswaan bernama PMII (KH Nuril Huda, Pendiri PMII).

Dalam perjalanannya, PMII melewati banyak tantangan, terutama pada awal berdirinya, mulai penolakan dari kalangan internal NU maupun dari luar NU, serta independensi PMII pada 1972 di Lawang, Malang, Jawa Timur, yang selanjutnya sering disebut sebagai Deklarasi Murnajati, dimana secara struktural PMII lepas dari Banom NU.

Mulai saat itu PMII berkembang sangat pesat, ketika itu dipimpin sahabat Zamroni, yang dalam waktu bersamaan beliau juga menjabat sebagai presidium Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Dari berbagai tantangan di atas hingga peran PMII ikut meruntuhkan kekuasaan Orde Baru pada 1998, organisasi ini mampu melewati semuanya, walau tidak berjalan mulus.
Hingga saat ini PMII memiliki 220-an cabang yang tersebar di seluruh Indonesia, dan bisa dikatakan menjadi organisasi dengan jumlah kader terbanyak.

Arah Gerakan PMII
Dengan jumlah kader yang begitu banyak, PMII memiliki tanggung jawab dan tugas besar bagi bangsa, karena PMII harus mampu mengawal segala kebijakan yang ada, serta menjadi garda terdepan dalam menangkal gerakan radikalisme di kalangan mahasiswa khususnya, dan masyarakat Indonesia umumnya.

Lalu bagaimana dengan PMII saat ini, Apakah sudah mampu menjawab tantangan zaman? Bagaimana kondisi kadernya di seluruh Tanah Air? Itu semua merupakan pertanyaan yang harus dijawab para kader PMII saat ini. Bahwa PMII berdiri dengan tujuan sangat mulia, sebagaimana tertuang dalam AD/ART, yakni terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmu, dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.

Kader PMII saat ini harus mampu mengatasi segala bentuk permasalahan yang terjadi di masyarakat, sehingga harus menguasai berbagai hal dalam pandangan arah gerakanya, di antaranya:
Kecerdasan Intelektual (IQ). Hal ini sangat penting, baik untuk kepribadian kader maupun masyarakat luas, karena yang dikedepankan rasionalitas. Dalam hal ini kader harus mampu bertindak terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkunganya secara efektif. Artinya, ketika seseorang sudah menjadi kader PMII, maka dia harus mampu memberikan yang lebih. Contoh kecil, misalnya di dalam kelas, kader PMII harus tampil beda, di mana IPK nya harus lebih tinggi dari lainya.

Kecerdasan Emosional (EQ). Harus diakui, PMII merupakan organisasi kemahasiswaan yang mengedepankan intelektualitas, yang mampu mengontrol emosinya dalam situasi dan kondisi apapun., sehingga kecerdasan emosional itu dapat mengasah kemampuan untuk meredam emosi dan mengarahkanya kepada hal-hal yang bermanfaat. Sebab, tujuan akhir dari mahasiswa adalah memberikan kontribusi positif bagi masyarakat luas.

Kecerdasan Spiritual (SQ). Selain menguasai IQ dan EQ, kader PMII juga harus menguasai kecerdasan spiritual. Kecerdasan ini digunakan untuk menyelesaikan masalah kaidah dan nilai-nilai, yang akan membawa seseorang kader mencapai kebahagian hakiki, mampu menyeimbangkan antara tugas sebagai mahasiswa, keluarga, dan tentu Yang Maha Kuasa. Artinya, ke depan, arah gerakan PMII tak hanya menyelesaikan berbagai masalah pada tataran sosial masyarakat saja, tapi juga ideologi serta menebar kedamaian bahwa perbedaan itu indah.

Dari berbagai penjelasan di atas, jelaslah bahwa kader PMII harus mampu menyelesaikan persoalan yang ada di masyarakat, menjadi garda terdepan membela kaum tertindas, bersinergi dengan segala elemen masyarakat untuk bersatu padu menjaga NKRI ini, serta harus mampu menjadi aktifis di dalam kelasnya, yakni menjadi pembeda secara intelektual dengan mahasiswa lainya.

Secara kontektual, di usia yang ke-56 tahun ini, PMII harus menciptakan kader yang berintelektual serta profesional, bukan hanya menjadikan kader sebagai kader demonstran, tapi diimbangi dengan kapasitas keilmuan yang matang, yang mampu menjawab tantangan zaman.

Selamat Hari Lahir PMII yang ke-56, semoga tambah jaya, pembela bangsa penegak agama, tangan terkepal dan maju kemuka!

*Amran Umar, Ketua Komisariat PMII Unisma.

Kembalikan Jati Diri Kota Malang

Oleh: Edi Rudianto SSy SH *

Maraknya lampionisasi di segenap penjuru dan sudut Kota Malang memantik alam bawah sadar jiwa kebangsaan kita. Sebuah Kota yang mempunyai sejarah panjang dalam proses peradabannya, yang bahkan telah beberapa kali mencapai titik puncak tatanan sosial kemasyarakatan.

Sebagai bukti tak terbantahkan adalah lahir dan berkembangnya Kerajaan Kanjuruhan pada abad 7-8 M, serta Kerajaan Singosari pada 12-13 M, yang seakan hanya menjadi sebuah kota tanpa peradaban dan nir jati diri.

Arus besar globalisasi memang sulit kita taklukkan, sebab ada masalah mendasar dalam mindset mental dan karakter jiwa bangsa. Kekayaan budaya bangsa yang melimpah seakan tercampakkan di tong sampah, yang seakan sengaja disediakan oleh aparatur birokrasi negara.

Tingginya ragam hias ornamen candi serta berbagai peninggalan purbakala yang tersebar di Malang hanya sebagai pelengkap gambar dalam buku sejarah anak didik kita. Mendunianya wiracarita Panji yang telah dilestarikan di Thailand, Malasyia, Singapura, Kamboja, dan Vietnam, adalah bukti riil offensive budaya era Kerajaan Singosari yang ternyata bertepuk sebelah tangan di negeri sendiri.

Maraknya bantengan yang merupakan seni asli masyarakat Jawa pedesaan dalam mengenang perlawanan panjang terhadap imperialisme dan kolonialisme Belanda serta Jepang, seolah dibiarkan berkembang sendiri tanpa campur tangan pemerintah yang seharusnya mengayomi masyarakat seni budaya.

Dengan kebanggaan dan percaya diri luar biasa, Walikota Malang menginstruksikan kepada segenap jajaran SKPD untuk memasang puluhan ribu lampion beraksara asing di kala kita mempunyai peninggalan adiluhung aksara Jawa. Sebagai bentuk penerjemahan sepihak dari motto Kota Malang, yaitu kota kreatif yang berwawasan global.

Jangankan para seniman, masyarakat awam pun paham bahwa pemasangan lampion bukanlah hal yang bersifat kreatif seperti yang diharapkan warga Kota Malang tercinta. Lampionisasi adalah sekedar budaya copy paste negeri para naga.

Lampionisasi adalah bentuk perang asimetris gaya baru yang diterapkan negara-negara adikuasa. Jangan sampai kita menjual harkat dan martabat jati diri bangsa, demi mengejar investasi modal kaum naga.

Maka dari itu kita harus kembali kepada semangat berkepribadian dalam budaya. Kemandirian ekonomi hanya akan dapat tercapai jika kita telah tuntas dalam kemandirian budaya.

Salam Satu Jiwa, Arema!

*Edi Rudianto SSy SH, Sekretaris Jenderal DPP Garda Sandi (Gerakan Pemuda Desa Mandiri).

Gendheng Kuadrat!

ikon paitun gundulBiasane lek wis suwe uklam, sikile sanap, Paitun nang kali batese Gang Gawat ambek kampung halabes. Ngekum sikil diluk anyes wis. Lho, lha kok emar temen wong-wong nggrumbul ndik pinggir kali. Lomba balapan nglangi ta. Ambek penasaran Paitun marani.

Papakan ambek Riadi keamanan RW.

“Onok bayi dibuak maneh, Tun. Wis…wis, kanyab wong gak duwe wedi saiki. Koen ate lapo? Aku tak lapor sik,” jare Riadi gopoh ambek getem-getem. Lha masio aku ate salto, ate jup… opo’o. Biasa ae, Di. Gak ngreken Riadi, Paitun ndang-ndang kepingin tail.

Paitun nrombol kupengan wong-wong, ngungak. Aduh… sak akene bayeke. Lanang, ngganteng pisan. Kok iso arek disio-sio koyok ngono. Paling sing mbuak iku setengah wong setengah kerdus. Gak duwe ati, dodone isine usus thok, uteke begedel. Orip ngono tak jaluk, lek oleh. Lhok en ta, bayeke yo resik, dirumat ambek wong-wong seragaman diublemno ambulan. Montor ambulan wes ngaleh, liane wis rayub, yo pancet ae onok sing tambah jagongan. Apais lek gak gerombolane blek e kong guan iku.

“Lha iyo kok geblek men wong tuane. Ayas sing pirang-pirang tahun kepingin nggendong anak, hadak iki dibuak-buak. Adane mbuak resek ae. Jathuko umpomo orip, temenan tak jaluk bayek maeng,” jare Bendhot nelongso praene. Wanyik ancene ibar ping agit, ambik sing saiki yo durung diparingi anak. Masiyo ayas yo meleg, batine Paitun.

“Sek tas lak yo onok kejadian arek bayek dicemplungno got. Sak iki jamane tambah gak karu-karuan. Nates saiki tambah ayahab. Setane liwat… sak srittt…. mblendhing wis. Sriitt… metunthung wis… Lek rong srit, yo opo? Lek sing diliwati rong kecamatan? Hara…’ jare Endik ambik gayane nirokno wong diliwati nates.

Paitun tail iso rodok isin. Nggilani Endik. Ente gak perlu nates, Ndik. Kanae omil hare. Apane wong jaelangkunge Endik dewe, gendhang-gendhong ae thethekan iku.

Jon mbureng ae. Wis wareg Jon ngrasakno nasibe arek-arek panti, dipulosoro mulai bayek, , procot lair diculno cul ndik ndunyo, nyenyep kademen sampek biru.

“Dusone gak karu-karuan iku. Urip sampek ketam, diuber-uber ambek dusone, diketoki terus ambek anake. Ayas lek ngenem-ngenem tail arek-arek panti, naisak pol. Umpomo ketemon ayas, wong sing mbuak bayek opo arek licek, deloken koen,” jare Jon ambek ambekan gedhe.

“Ate mbok apaknoh, Jon?” Bambing kober ae takon ambek mulai tratap-tratap.

“Yo dilungguhno sik. Terus tak kongkon ote-ote, tak imblaki koyok bayek. Tak pupuri sing mblekuk, ambek kudu ngemut dot. Terus tak jak dolen, terakhir tak jungrakno nang laut… ,” jare Jon ambek gaya ngamuk, tapi marine atame ngedipi Paitun.

Paitun ngempet ngguyu, Bambing iso nggreweli. Bendhot filing ero, ngegongi pisan.

“Kadit, Jon. Ojok lebokno laut, kok kane? Jungrakno nang got ae. Sing got e ngrepes, jeru, sing ngembeng kathik umbame badek. Maringono dienteni…bkukuthuk… blukhutuk… cek kapok. Lek perlu hape mu isenono suarane bayek berok-berok,” jare Bendhot macak dendam ambek gayane ndelep-ndelepno endas.

Bambing dadak tambah keweden. Endik koyok oleh operan.

“Lha tugasmu Mbing, ambek ayas… tenang…. Marine ente sing ngedusi. Lek wis resik, dipupuri maneh, terus awakmu bagian nyerahno. Ayas sing ngetutno, tak kawal ente. Lak ngonoa pren?” jare Endik.

Rikipe Bambing iki ayahab, onok sing krungu, dileket lak iso kecokot.

“Kok male ngene se rek. Ndak bisah! Ojok ngonoh, Jon. Kene ndak perluh terlibat. Ini bukan urusan kitah. Jarno cek diurus sing berwajib karo RW. Sing mbuaki bayek iku ngonoh wong ndlodog. Gendhenge kuadrat. Koen-koen ojok kolem-kolem ndlodog. Jarno ae wis. Luputo tekok ukuman duniah, gak kiro isoh iral tekan ukumane Sing Kuoso. Saya ndak mau kitah main hakim deweh. Kadit. Ate sempel tah!” jare Bambing ambek raine pucet.

Gak kuat ngempet ngguyu, male ngekek kabeh. Paitun kekel sampek ate kepoyo. Kok yo tepak pas kucinge gulung-gulung ngasin. Bambing iso njahe pol.

“Oo…wedus kabeh. Guyonmu kriminil, Jon. Nggarakno bludrek ae,” jare Bambing lemes. Ngono osi langsung nggoleki awak-awakan.

“Kamuh yah? Kongkalikong ambek wedus-wedus iki. Liat sajah, koen slimpe… tak buak kucingmuh,” Bambing jahe.

Paitun ndang-ndang nyaut kucinge. Slamete Riadi oket, gobyos ambekane ngos-ngosan.

“Lho, nangdi ambulane,” Riadi takon ambek lholhak-lholhok.

Telat le…le… Sangar tapi lambat. Riadi mbureng dipaido entek ngamek.

“Sik ta. Ayas maeng ate laporan. Ngenteni suwe harene. Lha tibae rapate pekoro setape RW ate dilukir, diganti. Pak Pandi eker-ekeran ambik Pak RW. Tak langgit ae mrene.” alasane Riadi.

“Yok opo wong-wong iku. Kok liane eker-ekeran ae. Mosok gak itreng tah lek kampunge dewe iki akeh perkoro sosial. Ndlodog pisan. Terus lek morale masyarakat dadi ajur mumur, perkoro elek dianggep biasa, yoopo? Ayahab. Merem le’e. Iku lak yo tanggung jawabe?” Jon muntab.

Iki iso dowo, rikime Paitun. Nyengkre ae, iki boyok wis njaluk dieluk ae. Tekan pertelon kaceban, ketok Pi’i leyean liyer-liyer ndik kaceb ambik nyetel radio. Kaceb halabese kosong, kalem-kalem Paitun nendes nepakno boyok, empuk hare. Dungaren Pi’i nyetel pengajian. Ustate mbois ketoke lek ceramah, gak osi merem wis. Ngono Pi’i turune ngleker.

“Dadi pemimpin iku tanggung jawabe gueedee! Besar tanggung jawabnya. Masing-masing kamu adalah pemimpin, dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpin. Seorang raja yang memimpin rakyat adalah pemimpin, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya. Abot nopo mboten? Pun main-main…”

Lhuw, sangar hare, batine Paitun ambek liyer-liyer. Hadak Pi’i tibae kadit rudit.

“Lek ayas dadi pemimpin, kiro-kiro bendino bolak-balik tindien paling,” jarene. Ketoke merem tapi ngoceh ae, sadel iku.

Kadit tindien thok ente, batine Paitun. Iso bendino mbangkrong turu keset barang.

Pilkadi…

logo paitun gundulMari magrib Paitun karepe helom, tapi pas liwat gang gawat, wanyik penasaran, kok ndik ngarepe balai RW emar, kanyab arek enom ndik njobo. Tekan kadoan ketok Nanang ambek sing kewut-kewut jagongan ndik ngarepe pos. Ketoke ngrasani arek-arek sing umek ndik balai RW. Paitun mripit nyedek. Krungu nggremenge wong-wong, jare saiki pilihan ketua muda-mudi (Pilkadi).

Sakjane Paitun wegah, tapi gak popo wis batine, kepingin ro arek enom saiki yoopo. Ilinge, wis suwe pol arek-arek nom iku gak lapo-lapo, ewag acara kampung yo gak, ngewangi kerja bakti yo kadit. Sing kanyab saiki yo nglamak nang sing tuwek.

Adoh ambek biyen Kampung rame ambek kegiatane arek nom-nom, kumpulan muda-mudi sregep mbantu warga. Lek tujubelasan opo hari-hari peringatan, onok ae, sing nggawe drama, onok sing gitar-gitaran ngiringi koncone wedok nyanyi, lek gak salah jenenge pokal grup, onok sing mbeso, onok sing sregep ndekor, onok sing pinter deklamasi. Biyen seneng ndelok latihan operet. Trus biyen onok grupe kentrung anake pak Tris.

Mbanyol grupe. Onok sing ngeceti gapuro, pager ambek badugan pinggire got. Paitun sik iling, lek pas liwat ngono gelek digarapi, tapi sik sopan cangkeme, gak nglarakno ati, kathik yo tepo selirone dhuwur. Kadang dijak nakam bareng-bareng lek kerja bakti, gak mbedak-mbedakno. Warga yo seneng, sing nyumbang maleh kanyab. Lek genjot sak terope yo mesti disumbang jenate pakde Jayusman.

Sone nyewo ndik Pak Kalam Lokwaru, mek ngisi kas, aku ero soale aku tau katut pikepe. Biyen kabeh sembarang koyok ikhlas ngono. Tau, pas karnapal ayas dipacaki ambek arek-arek iku, dikei daster, diwedaki mbeluk, terus ambek ngemut dot. Ancene sempel, tapi bahagia.

“Ente ate kolem rapat a Tun,” Nanang ngaget-ngageti.

“Ojok kolem-kolem Tun, iku urusane arek nom-nom,” saut Londo.

Onok arek nom, ngganteng, ketoke ate utem nang embong, diawe ambek Nanang, tibake jare ate golek oker. Nanang takok.

“Yoopo dik, wis onok hasilea. Sopo sing kepilih?” Nanang sula, metuwek.

“Pun pak.”

“Lho kok cepet, sopo?” Nanang nyerek ae takok.

“Nggeh pak, ketingale nggeh disetel.” Jare arek iku ambek ketok getun. Disetel? Radio lee batine Paitun. Nanang ate ngetet takok, tapi arek iku ketoke ngeles.

“Sekedap pak, kulo pados ses riyin,” jarene ambek ndang eskip. Durung adoh, Londo nyumet kompor.

“Kandani a, ayas wis ngiro. Wingenane ayas lak crito nang ente. Ente kudune kolem, ngawal, tapi sing sula. Jaremu ayas nggedabrus. Wis a?”

“Deloken engkuk, lak pancet ae, programe gak jelassss,” Endik melok nyumet.

Dilut engkas pak RW ketok utem tekan gedung. Praene lungset. Lho… lha kok mrene. Iso tambah emar iki. Durung onok sing takok, pak RW wis crito sik.

“Yoopo iki rek. Mbleset wis. Arek sing sregep, programe jelas. Tambah gak kepilih,” Pak RW sambat.

“Lha sing lintune yok nopo pak RW, lak kathah calone?” Nanang nyathek.

“Calon opo, moro-moro liane mundur. Kalah sebelum berperang, hayo yoopo ngono iku? Iki maeng tak celuk, aku kaet ngerti wong areke crito. Iki rahasia, tapi ente-ente perlu ero. Dadi sore maeng onok tokoh masyarakat mrene. Wis, gak perlu ero jenenge. Arek-arek iku diceluk. jarene, arek-arek iku dikongkon mundur, wis munduro ae le, cek ketuane iku, trus koen-koen engkuk didadekno pengurus. Arek-arek jane ate protes tapi situasine gak enak. Ngono critane. Maeng yo tak seneni, lapo gelem. Tapi wong wis kadung,” Pak RW blak-blakan.

“Tapi sing kepilih niki programe sae ta pak?” Nanang takok.

“Koyoke ndakik-ndakik, bosone dhuwur. Wis embuh, didelok ae engkok prakteke,” jare pak RW. Endik mbek lolhak-lolhok. Londo gayae getun. Kemlinthi Ndo, atase bekas pengurus muda-mudi, oleh gayae thok, ero aku. Lek pas kancane repot, tewur, kadit ngetok, tapi lek wis mari kabeh acara ate dimulai hadoow macak jas-jasan nyambut tamu koyok lakone, rambute kluncum pomed. Endik podhoae, senengane dadi protokol, lek wis nyekel mik ayahab arek iku, kalah toa, nggedowos sampek dipaido sing nontok.

Lek Nanang gak, tau dadi ketua, mek rodok kemalan.

Ngenem-ngenem Paitun mrepet nyedeki balai RW, liwat lompongan halabes, nginceng tekok cendelo. Ladala… iki rapat model opo iki. Kabeh ndingkluk nyekethem telpune. Jare wong sak iki jenenge opo, hape androit. Lek aku eroku yo androk, androkan. Oalaa sing rapat lek lungguh ketail kanyab sing gak androkan.

Paitun helom utem gang. Pas liwat Kayutangan, ndik ngarepe servis radio pojokane Rajabali, Paitun mandheg, ndeloki radio-radio lawas ndik etalase koco. Ndelok radio lawas, Paitun iling jamane ambek make kolem ngrubung radio ngrungokno pidatone pak Karno

“”Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.”

Komunitas