01 December 2022
01 December 2022
22.5 C
Malang
ad space

Korupsi dan Pusaran Kelembagaan

Oleh: Iqbal F. Randa*

Setelah ramai hak angket sejumlah anggota DPR RI kepada KPK, wacana pemberantasan korupsi di Indonesia masih terus bergulir. Bukan perihal maraknya kepala daerah yang tertangkap tangan akhir-akhir ini, namun lagi-lagi tentang gaduhnya semangat pemberantasan korupsi dalam pusaran kelembagaan.

Usulan Kepolisian Republik Indonesia untuk membentuk Detasemen Khusus Tindak Pidana Korupsi – yang kemudian disingkat Densus Tipikor—menjadi tanya besar di tengah sengkarut antar kelembagaan dalam pemberantas korupsi yang sebelumnya sudah banyak terjadi.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menjelaskan, melalui hadirnya Densus Tipikor, harapanya institusi kepolisian dapat banyak membantu kinerja pemberantasan korupsi yang selama ini dilakukan oleh KPK, khsusunya pada level daerah.
Kehadiran Densus Tipikor tak pelak menjadi polemik. Pro-kontra bermunculan, baik dari masyarakat maupun pucuk pimpinan negara sendiri. Di lain sisi, Presiden mempersilakan Polri mengkaji rencana itu, namun di sisi berikutnya Jusuf Kalla sebagai Wakil Presiden berpendapat bila pembentukan Densus Tipikor tak perlu.

Ada banyak alasan yang disorot kenapa Densus Tipikor berbuah polemik di masyarakat. Total rencana anggaran yang menyentuh hingga angka Rp 2,6 triliun disebut-sebut sebagai alasan paling mencolok. Selain itu, ada juga yang mengangap bila pemberantasan korupsi saat ini sudah cukup dilakukan oleh KPK maupun lembaga yudikatif yang telah ada yaitu Kejaksaan dan Polri.

Kita bisa menganggap bila rencana kehadiran Densus Tipikor merupakan sebuah gagasan atas semangat para elit khususnya institusi Kepolisian untuk melawan tindak korupsi yang sudah banyak menggerogoti bangsa ini. Namun tentu, niat baik mesti dibenturkan dengan pertanyaan paling mendasar: seberapa efektif nantinya lembaga itu akan membantu menghentikan tindak korupsi jika pada pengalaman yang telah ada usaha pemberantasan korupsi justru kerap mandek dan digempur oleh sengketa atas nama kelembagaan?

Sengkarut Kelembagaan

Kegaduhan antar institusi perihal wacana korupsi sudah beberapa kali terjadi. Barangkali kita ingat kasus KPK versus Polri atau yang lebih dikenal dengan drama berseri Cicak versus Buaya. Istilah itu muncul pertama dari ucapan Jenderal Purnawirawan Polisi, Susno Duadji dalam kasus yang menyangkut dirinya pada tahun 2009.

Dalam sejarah Indonesia, lembaga pemberantasan korupsi juga banyak hidup dengan umur yang tak cukup lama. Beberapa di antaranya, Badan Pengawas Kegiatan Apartur Negara (Bapekan) yang didirikan pada era Presiden Soekarno, Panitia Rootling Aparatur Negara (Paran) tahun 1959 atau Tim Pemberantasan Korupsi (TPR) pada Orde Baru. Kebanyakan dari lembaga itu harus berakhir akibat konflik kelembagaan yang terjadi dan tak jarang juga karena intervensi dari penguasa.

Dalam rencana pembentukan Densus Tipikor oleh Polri ini, kita dapat mengambil pelajaran bahwa yang menjadi perhatian sebenarnya bukan hanya pada besaran anggaran yang dibutuhkan dalam pembentukan Densus, namun juga relasi kelembagaan yang nantinya muncul antara KPK dengan Densus itu sendiri.

Sulit untuk tidak mengatakan bila kehadiran Densus nantinya berpotensi memicu kembali ketegangan antar lembaga penegak hukum lain khususnya dalam pemberantasan korupsi yakni KPK. Klaim antar siapa paling berhak akan bergulir menjadi bola panas di ranah publik. Sengketa opini pun tak terelakan lagi. Alih-alih meningkatkan kualitas pemberantasan korupsi oleh negara, agenda pemberantasan korupsi akan kembali terjebak oleh pertikain yang tak penting.

Dalam perspektif demokrasi, kehadiran institusi memang sangatlah penting. Setidaknnya, melalui Hanif (2017) dapat diketahui bila demokrasi dimulai dari serangkaian prinsip atas idealitas yang regulatif dan tatanan institusional yang dengannya prinsip-prinsip itu direalisasikan. Namun ancaman institusi acap kali muncul pada aktor politik yang ada di dalamnya. Kegagalan internalisasi nilai oleh aktor dalam institusi berpeluang mengaburkan arah orientasi sehingga membuat lembaga larut dalam wacana-wacana lain di luar prinsip tugasnya.

Di luar masalah KPK dengan Kepolisian, serangan terhadap intitusi pemberantasan Korupsi juga sering terjadi, baik secara intitusi maupun personal. Pengajuan hak angket sejumlah anggota DPR RI, penyerangan komisioner KPK Novel Baswedan, dan pelaporan pimpinan KPK atas tuduhan kriminal adalah serentetan kejadian yang banyak menggiring opini publik: jika institusi KPK tengah dilemahkan. Dengan adanya itu, Munculnya wacana pembentukan Densus Tipikor akhirnya mengarah pada anggapan bila nantinya KPK akan digantikan oleh lembaga baru ini.

Pendekatan Budaya

Agenda pemberantasan korupsi memang sudah semestinya ditopang dengan hadirnya institusi yang kuat. Namun berharap korupsi dapat diatasi dengan hanya ‘memperbanyak’ institusi juga terasa naif. Korupsi merupakan sesuatu hal yang kompleks. Ada banyak hal yang memungkinkan seseorang atau kelompok melakukan tindakan koruptif. Salah satunya adalah persoalan budaya yang ada beredar di masyarakat.

Secara kelembagaan, optimalisasi pemberantasan korupsi dalam banyak hal begitu tergantung dari seberapa tinggi konsitensi para penegakan hukum terhadap laku korupsi, komitmen menegakan hukum serta disiplin para penegak hukum. Hal itu lah yang semestinya diperkuat.

Namun hal yang tak kalah penting adalah menumbuhkan kesadaran kritis pada masyarakat. Setidaknya pengawasan terhadap laku koruptif pejabat publik dapat dengan mudah dilakukan pada skala lingkungan yang paling dekat.
Hal itu dapat tercipta bila pengoptimalan agenda pemberantasan korupsi tak berhenti pada wacana kelembagaan, tapi juga mendorong agenda-agenda strategis melalui pendekatan kebudayaan. Hal ini bukan tanpa alasan. Keterbatasan sumber daya manusia, proses hukum yang membutuhkan waktu yang lama seringkali menjadi alasan penindakan kasus korupsi berjalan secara tidak efektif.

Melalui penguatan pendidikan politik, penyebaran nilai-niali anti korupsi pada ruang-ruang publik secara massif dapat lebih menjadi agenda prioritas negara dalam upaya mencegah sekaligus memberantas tindak korupsi. Hal itu sekaligus juga sebagai upaya meningkatkan partispasi masyarakat dalam mengawasi hadirnya tindakan korupsi, ketimbang menghadirkan lembaga baru yang ujung-ujungnya gaduh dan riuh melulu.

* Iqbal F. Randa Tinggal di Malang, saat ini bergiat di Center for Critical Society on Media

DICARI: PARA PENONTON YANG BERBUDAYA

“Ini perhelatan budaya, kami mempersiapkan dan bekerjakeras menyelenggarakan acara ini dengan semangat, nilai-nilai dan cara-cara yang berbudaya, jika anda ingin menontonnya, menikmati acaranya, berinteraksi, belajar, dan atau mengambil makna daripadanya, jadilah penonton yang berbudaya dan layak dihormati”

Oleh: Tatok (Kristanto Budiprabowo)

Para penonton

Kehadiran penonton adalah bagian penting dalam sebuah pertunjukan. Ada beragam model penonton, diantaranya adalah: yang pertama, penonton yang dekat, langsung, dan berinteraksi dengan suasana yang diciptakan oleh sebuah pertunjukan. Penonton ini kadang bisa nampak sangat fanatik mencintai apa yang ditontonnya, kadang mengenal para pemain pertunjukan secara personal, dan mengekspresikan diri dalam semangat yang ditampilkan oleh sebuah pertunjukan.

Yang kedua adalah penonton yang pasif, apatis, kadang sinis menjaga jarak. Penonton ini lebih memilih menikmati dirinya sendiri dan keasyikannya sendiri sembari berada di keramaian sebuah pertunjukan. Apapaun yang terjadi dalam pertunjukan itu tidak penting. Bahkan susah untuk menanyakan pada mereka apa yang disukai dalam pertunjukan tersebut.

Yang ketiga, ini biasanya sedikit saja, adalah kelompok penonton yang justru berusaha menjadi orang yang ingin ditonton, ingin menjadi pusat perhatian dalam pertunjukan. Bahkan para pemainpun berusaha mengarahkan pertunjukan bagi orang-orang ini. Penonton diarahkan sedemikian rupa bahwa pertunjukan hanyalah sarana agar para penonton menonton penonton khusus ini. Aneh memang. Tapi begitulah seringkali orang penting didudukkan dan mendudukkan diri dalam sebuah pertunjukan.

Yang keempat, sebagai akibat dari makin canggihnya teknologi, adalah penonton jarak jauh lewat media televisi atau streaming jaringan internet. Penonton seperti ini kadang yang paling keras membuat analisa baik buruknya sebuah pertunjukan berlangsung. Semacam sindrom kolonialisme pendidikan; penelitian obyektif adalah yang dilakukan dengan cara mengambil jarak. Begitulah kadang di kalangan penonton jenis inilah sebuah pertunjukan bisa menjadi isu dan perbincangan sosial yang berkepanjangan.

Belajar dari suporter Arema

Yang banyak tidak diketahui orang di dunia sepakbola adalah adanya hubungan yang saling menguntungkan antara penonton sepak bola dengan keseluruhan sistem managemen tim dan bahkan berabagai kompetisi sepakbola yang ada. Keempat jenis penonton diatas, dalam dunia suporter sepakbola adalah asset-asset penting yang dikelola dengan sangat sistematis sehingga hubungan saling memuaskan itu memberi makna pada pesan-pesan peradaban.

Arema dengan slogan “Salam Satu Jiwa” nya adalah contoh yang paling original dalam gerakan akar rumput untuk menghubungkan kecintaan masyarakat tidak hanya pada tim sepakbola kesayangannya melainkan juga pada makna nilai-nilai hidup yang berbudaya dan berperadaban. Kecantikan permaian, kemenangan dalam kompetisi, dan transparansi managemen tim selalu penting, namun dibalik itu ada gelora massa untuk menyadari jadi diri sebagai sebuah kesatuan kebersamaan bagi kejayaan.

Upaya-upaya pengorganisasian yang dibangun secara formal, kebebasan tiap-tiap orang untuk menciptakan komunitas-komunitas dengan segala kreatifitas ekspresinya, dan keleluasaan memanfaatkan segala atribut bagi kepentingan bersama, adalah realitas yang patut disyukuri yang menghadirkan arema bukan hanya sekedar sepakbola. Dia bisa juga soal bakso, soal cwimie, soal pecel dan es campur, soal dagang kaos, soal media, soal nusik dan lagu, dan bahkan soal-soal yang lebih fundamental semacam relasi interpersonal menghadapi keragaman sosial yang ada secara filosophis, sosiologis dan bahkan politis.

Arema way adalah pesan damai dalam kegembiraan bersama dan kebanggaan bersatu jiwa. Maka tidak perlu heran jika pertandingan tim arema selalu menjadi hal yang menarik dan mendapatkan apresiasi dari para penonton dengan beragam evaluasi. Karena dibalik kegembiraan kemenangan atau kekecewaan kekalahan tim kesayangannya, tiap-tiap penonton menemukan ruang refleksi mendasarnya, yaitu “salam satu jiwa”.

Penonton seni tradisi Malangan

Mengapa gelora kecintaan para penonton seperti yang terjadi pada pertandingan sepakbola tidak terjadi pada ekspresi-ekspresi seni budaya lainnya, terutama ekspresi seni tradisional yang semua orang menyadari adalah bagian dari hidup arema? Bukankah penonton tetaplah penonton apapun pertunjukan yang ditampilkannya; entah itu pertandingan sepakbola atau pertandingan bantengan, jaranan, patrol, atau kompetisi musik, tari, teater tertentu?

Menjawab hal ini jelas tidaklah mudah. Kalaupun hendak diadakan survey, dia akan menghadapi persolan-persoalan mendasar hingga pada kecenderungan memaknai hidup masyarakat yang ada di dalamnya. Jadi pertanyaan di atas sebenarnya adalah pertanyaan eksistensial yang akan memperlihatkan keaslian wajah arek-arek malang – arema dalam kesadaran budhi dan dayanya. Pendek kata, hal itu akan mempertanyakan budaya penonton dan budaya pertunjukan yang ada di Malangraya ini serta usahanya mempraktekkan nilai-nilai hidup di dalamnya.

Arema adalah bagian penting dari budaya Malangraya untuk Indonesia. Sesungguhnya tiap perhelatan yang melibatkan penonton, termasuk pertandingan sepakbola adalah perhelatan budaya yang mencerminkan kehidupan manusia-manusia yang terlibat di dalamnya.

Dalam asumsi saya pribadi, sudah waktunya bagi masyarakat Malangraya – arema – untuk membebaskan diri dari resistensi masa lalu yang memposisikan segala bentuk perhelatan – selain sepakbola – sebagi ajang propaganda dan indogtrinasi politis.

Kita sudah hidup di era pasca reformasi, era dimana segala bentuk ekspresi budaya telah terbebas dari cengkeraman dan ancaman tunduk pada kemauan kekuasaan. Jika arema sebagai suporter sepakbola telah menjadi pioner pembebasan diri dari hal itu, tentu terbuka peluang bagi gelora penonton yang sama pada segala jenis pertunjukan seni budaya yang ada di Malangraya.

Bagaimana itu bisa dimulai? Mari kita tanyakan pada semua orang yang terlibat dalam dunia seni dan budaya. Kalau perlu mengajak mereka belajar pada arema. Belajar membangun semangat “salam satu jiwa”.

Dulu bangga menjadi arek Karuman, sekarang bangga menjadi Arema

Haji Yang Tertunda Bersama Nabi (1)

Anwar Hudijono

Oleh: Anwar Hudijono

Di tengah pelaksanaan ibadah haji “bermasalah” di tengah pandemi Covid-19 ini tahun 2021, Anwar Hudijono, penulis yang tinggal di Sidoarjo mengajak pembaca untuk “bernostalgia” pada saat mengikuti haji pertama Rasulullah SAW setelah tinggal di Madinah sekitar 6 tahun.

Kisah Nabi bukanlah dongeng. Bukan fiksi. Bukan naskah sinetron. Sejarah Nabi adalah sumber pengajaran. Sumber hikmah. Sebagai pedoman dan peringatan umatnya.

Bagian pertama

Begitu Rasulullah mengumumkan kepada kaum muslimin bahwa tahun ini akan menunaikan haji ke Baitullah di Mekah, kita benar-benar gembira. Rasa bahagia ini tak bisa dinarasikan. Selain rindu Baitullah, kita golongan Muhajirin ini juga rindu sanak kerabat. Kengen rumah dan harta yang kita tinggal begitu saja ketika hijrah.

Sejak kita hijrah dari Mekah, kita terus menghadapi tugas berat. Perang Badar, Perang Uhud, Perang Ahzab. Kita menghadapi aksi-aksi kaum Yahudi Madinah yang tak henti-hentinya mencoba menggunting dalam lipatan. Gerakan rahasia konspirasi rahasia Yahudi – kaum Musyrik Quraisy untuk menghancurkan Islam. Ditambah manuver-manuver kaum munafikin Madinah yang terus mencoba memudarkan cahaya Islam.

Hari ini di bulan Zulkaedah tahun ke 6 Hijrah kita berangkat haji di antara 1.400 jamaah. Terdiri dari kita kaum Muhajirin termasuk Abu Bakar Ash-Sidiq, Umar binn Khattab, Usman bin Affan. Juga sahabat-sahabat kaum Anshar, dan sejumlah kafilah Arab yang belum masuk Islam.

Kesertaan kafilah belum Islam ini merupakan strategi Rasulullah agar agama Islam lebih terpandang di mata orang-orang Arab yang yang belum beriman. Kesertaan mereka juga jadi bukti bahwa umat Islam benar-benar niat haji. Tidak untuk perang. Hal ini akan melemahkan posisi kaum Qurais di mata bangsa lain jika sampai melarang karena berarti sebuah pelanggaran besar terhadap adat istiadat seuruh bangsa Arab. Haji adalah milik semua umat manusia.

Haji adalah memenuhi panggilan Nabi Ibrahim yang merenovasi Ka’bah bersama putranya, Ismail. Haji adalah sebuah contoh simbolis dari filsafat penciptaan Adam. Haji adalah evolusi manusia menuju Allah.

Pakaian Ihram

Sekarang kafilah haji berangkat bersama-sama. Dipimpin Rasulullah. Manusia kekasih Allah. Suri teladan terbaik. Pembawa rahmat bagi seluruh alam. Nabi mengajak istrinya, Ummu Salama.

Kita menyakiskan, Nabi kita mengenakan pakaian ihram yang berwarna putih. Pertanda bahwa kepergiannya untuk berziarah dan mengagungkan Baitullah. Bukan untuk perang.

“Teman-teman kita patuhi Rasulullah. Kita bulatkan niat haji. Untuk itu jangan ada di antara kita yang membawa senjata.”

Semua mengikutinya. Tidak ada yang membawa senjata kecuali pedang bersarung yang biasa dibawa orang-orang Arab ketika bepergian.

Arakan-arakan jamaah diawali oleh unta Nabi, Al Qashwa. Nabi membawa 70 ekor unta untuk kurban. Setelah menempuh perjalanan sepanjang 7 mil sampailah kita di Dzul Hulaifa. Kita menyiapkan kurban. Mengucapkan talbiah. Maka bergemalah talbiah dari jamaah seolah-olah menguncang bumi, meruntuhkan bukit-bukit pasir, menyeruak di antara batu-batu padang gurun.

Labbaikallahumma labbaik
Labbaika la syarika laka labbaik
Innal hamda wan-nikmata laka
wal mulk la syarikalak

Kafir Qurais Melarang

Berita tentang Nabi dan rombongannya telah sampai di kaum kafir Quraisy. Mereka sebenarnya sangat khawatir Nabi akan melakukan tipu muslihat agar bisa masuk Mekah. Mereka sadar jika sampai melarang, akan dikecam masyarakat di seluruh Arab dan bangsa lain. Karena ini bulan Zulkaedah yang merupakan bulan Haji, bulan yang diharamkan untuk perang.

Tapi Quraisy sudah gelap hati. Mereka nekad melarang. Untuk itu dikirimlah pasukan elite kavaleri sebanyak 200 tentara yang dipimpin Khalid bin Walid dan Ikrima bin Abu Jahal. Mereka bergerak mencegat Nabi di Dhu Tuwa terus bergerak lebih ke depan sampai di Kira’l-Ghamim.

Rombongan Nabi sudah sampai di daerah Usfan. Kita melihat Nabi bertemu dengan seorang suku Banu Ka’b. Orang itu menyampaikan informasi kepada Nabi bahwa pasukan Quraisy yang berpakaian kulit macan sudah bersumpah akan melarang Nabi melewati Kira’al-Ghanim alias melarang Nabi masuk Mekah.

Kita mendengar dengan seksama tatkala Nabi bersabda, “O.. kasihan Quraisy. Mereka sudah lumpuh karena peperangan. Apa salahnya jika mereka membiarkan saya dan orang-orang Arab lain itu.

“Kalau mereka membinasakan saya, itulah yang mereka harapkan. Dan kalau Tuhan memberi kemenangan kepada saya, mereka akan masuk Islam secara beramai-ramai. Tetapi jika itupun belum mereka lakukan, mereka pasti akan berperang. Sebab mereka mempunyai kekuatan. Quraisy mengira apa.

“Saya akan terus berjuang. Demi Allah. Atas dasar yang diutuskan Allah kepada saya sampai nanti Allah memberi kemenangan atau sampai leher ini putus terpenggal,” kata Nabi.

Anwar Hudijono

Referensi:
Muhammad Husain Heikal, Sejarah Hidup Muhammad, Tintamas Indonesia 1978.
Dr Ali Shariati, Haji, Penerbit Pustaka Bandung 1995.

Babak Akhir yang Menentukan (1)

Anwar Hudijono. (Istimewa)

Oleh: Anwar Hudijono

Hari-hari terakhir menjalani ibadah puasa Ramadhan itu layaknya mengikuti lomba memasukkan benang ke dalam lobang jarum. Waktunya sangat terbatas. Suasananya gerah dan gemuruh. Riuh-rendah. Membuat tidak mudah untuk fokus.

Jika jarumnya jarum karung yang lobangnya besar sementara benangnya benang jahit, akan lebih mudah. Tapi jika jarumnya jarum jahit tapi yang dimasukkan benang bol, ini jelas sangat sulit karena sangat pas ukuran benang dengan lobang jarum.

Saat-saat ujung benang hendak dimasukkan lobang jarum harus benar-benar fokus, tenang. Terlalu tegang juga bisa gagal. Terlalu lemah juga tidak bisa masuk. Apalagi emosi. Marah-marah. Ngamuk. Bahkan saat ujung benang sudah menyentuh lobang jarum, bisa ambyar oleh hembusan nafas kita sendiri.

Rasulullah Muhammad SAW sudah memberi contoh kepada umatnya, pada sepuluh hari terakhir puasa lebih banyak itikaf di dalam masjid. Di antara tujuannya adalah agar bisa fokus beribadah. Mencegah naiknya dorongan hawa nafsu. Mencegah tarikan-tarikan eksternal yang bisa merusak puasa.

Itikafnya Rasulullah itu bukan semata memberi contoh mengejar Lailatul Qadar. Buktinya pada siang hari pun beliau banyak di masjid. Padahal Lailatul Qadr itu diturunkan malam hari.

Jika semata untuk mendapat Lailatul Qadar tidak harus di masjid. Sebab Lailatul Qadar itu bukan soal tempat turun, melainkan soal ibadah. Jadi di manapun beribadah pada malam Lailatul Qadar akan mendapatkannya.

Lailatul Qadar yang diturunkan pada 10 hari terakhir Ramadhan itu semacam iming-iming bonus super besar. (Dinilai sepadan dengan beribadah 1.000 bulan atau 83,4 tahun). Agar umat Islam lebih semangat fokus menjaga puasanya hingga puasanya berakhir husnul khatimah.

Masjid pasti lebih kondusif untuk melakukan aktivitas batin di banding tempat lain seperti rumah, apalagi tempat-tempat publik dan bisnis seperti mal, pusat hiburan. Batin akan lebih fokus untuk beribadah karena memang itu fungsi utama masjid. Di masjid mendorong kesibukan batin berupa dzikrullah, mengingat Allah. Baik dengan shalat, menelaah Al Quran, bertasbih.

Nah, di jaman now, eksistensi masjid sebagai tempat paling kondusif untuk fokus ibadah mulai terancam. Apalagi jika menyediakan internet gratis. Tarikan yang bisa merusak puasa justru saat ini sangat mudah melalui jagat virtual. Salah satu contoh, mau baca Quran melalui aplikasi di HP. Sebelum baca, nyelononglah iklan snack video dengan konten cewek goyang-goyang. Mumet gak jadi ngaji. Ambyar.

Di masjid tapi lebih banyak medsosan daripada shalat. Lebih banyak baca status dan komen daripada baca Quran. Jari jemari lebih sibuk memencet tombol HP daripada memutar tasbih. (Yang baca ini kok ketawa, pertanda pernah pengalaman).

Menuju Allah

Mengapa harus fokus? Karena hakikat puasa itu perjalanan menuju Allah. Perjalan hakiki dalam garis lurus sangkan paraning dumadi (asal muasal dan tempat kembali semua mahluk). Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun (Sesungguhnya milik Allah dan kepada Allah pula dikembalikan).

Bergerak menuju Allah hingga sampai manunggal dengan Allah, wahdatul wujud (manungaling kawula-Gusti). Menyatunya hamba dengan Tuhan. Bukan manunggal secara fisikal karena itu mustahil. Sebab Allah bukan mahluk. Dan Allah itu muhalalfatu lil hawadis (berbeda dengan mahluk). Kemanunggalannya bersifat esensial. Jika dibuat analog itu kira-kita mirip kemanunggalan api dengan panas.

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (Quran:50:16).

Fokus dalam berpuasa ini sekaligus latihan agar tetap fokus saat menghadapi sakaratul maut. Saat sakaratul maut itu akan datang godaan setan dari seluruh penjuru bumi agar kandidat jenazah berpaling dari Allah justru pada saat-saat terakhir. Sehingga tidak ada waktu lagi untuk bertobat.

Sampai-sampai orang di sekitarhya dianjurkan untuk melakukan talkin atau tuntunan membaca kalimah tauhid La ilaha illallah. Karena babak itulah yang menentukan seseorang masuk surga atau masuk neraka.

Rabbi a’lam (Tuhan Maha Tahu)

Anwar Hudijono,
Kolumnis tinggal di Sidoarjo

Berharap Koalisi Besar (JoBang), Bukti Incumbent Tidak Percaya Diri

Oleh: Dito Arief N. S.AP, M.AP

Pilkada Kabupaten Malang Tahun 2020 sudah tinggal menghitung bulan, tidak terasa sudah kurang dari 8 Bulan pelaksanaan Pilkada langsung serentak edisi keempat, semenjak dimulainya kebijakan Pilkada langsung serentak dengan hadirnya Undang – Undang Pilkada, yaitu UU No.1 Tahun 2015 Tentang Penetapan PP No.1 Tahun 2014 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota, yang kemudian dirubah menjadi UU No.8 Tahun 2015 dan kemudian dirubah kembali menjadi UU No.10 Tahun 2016. Namun bila melihat suasana Politik di Kabupaten Malang, tampaknya masih jauh dari gegap gempita layaknya daerah-daerah yang akan melaksanakan pesta demokrasi pemilihan kepala daerah.

Semarak Pilkada di sejumlah daerah di Jatim, seperti Surabaya, Lamongan, Sumenep, dan Jember sudah mulai hangat dan terasa, namun tampaknya tidak dengan Kabupaten Malang. Memang sudah mengemuka nama – nama yang bermunculan seperti Bupati incumben H.M Sanusi, 3 anggota DPRD Jatim Dapil Malang Raya, yaitu Ketua Fraksi PDIP Jatim Sri Untari Anggota Fraksi Golkar DPRD Jatim Siadi, dan anggota Fraksi Nasdem Jatim Jajuk Rendra Kresna, kemudian ada 2 Tokoh NU yaitu Ketua PCNU Kabupaten Malang dr. Umar Usman dan Rektor UNIRA Hasan Abadi, Sekda Kabupaten Malang Didik Budi Muljono, istri mantan Bupati 2 periode Tyas Sujud Pribadi, Politisi Nasdem M. Geng Wahyudi, hingga pengusaha yang menjadi kandidat jalur perseorangan Heri Cahyono yang bahkan telah menemukan pasangannya yaitu Advocat senior Gunadi Handoko sebagai Bakal Calon Wakil Bupatinya.
Namun munculnya nama-nama tersebut belum cukup kongkret untuk membuat dinamika politik Kabupaten Malang menjadi bergairah. Secara matematis, Kabupaten Malang merupakan daerah yang wajib dimenangkan oleh semua Partai Politik. Dengan jumlah DPT terbesar kedua di Jatim setelah Surabaya dengan 1,9 Juta pemilih, tentu sangat strategis dalam memberikan kontribusi suara secara regional dan nasional bagi perolehan suara Partai Politik.

Peta politik yang tersaji hari ini di Kabupaten Malang, menurut penulis merupakan desain yang diciptakan oleh mantan Bupati Rendra Kresna, terlepas dari kasus hukum yang menimpa beliau, analisa dan forecasting yang beliau lakukan di Pilkada tahun 2015 lalu dengan memilih H.M Sanusi sebagai pasangan Wakil Bupati merupakan langkah berani untuk bisa menciptakan kondisi dan dinamika politik hari ini. Beliau rela untuk lebih berdarah-darah “sendirian” melawan penantangnya Dewanti Rumpoko – Masrifah Hadi yang memiliki mesin politik, jaringan dan finansial yang kuat ketika itu. Hasilnya perolehan suara Rendra – Sanusi sebagai petahana yang diusung Koalisi Raksasa “hanya” sebesar 605.817 Suara atau 51,62%, berbanding perolehan suara Dewanti Rumpoko – Masrifah hadi sebesar 521.928 suara atau 44,47% yang hanya diusung tunggal oleh PDIP, sehingga selisih keduanya hanya sebesar 7,14%. Perolehan suara Rendra – Sanusi di Pilkada 2015 yang besarnya tidak jauh berbeda dengan perolehan suara pada Pilkada Kabupaten Malang 2010, sebesar 672.511 Suara (Rendra – Subhan), sebagian besar merupakan suara loyalis dan militan voters Rendra Kresna secara pribadi.

Dengan peta politik hari ini, tidak ada kandidat yang menjadi dominan dengan elektabilitas dan popularitasnya, bahkan untuk Bupati incumbent, H.M Sanusi sekalipun. Secara personal, yang diuntungkan dengan kondisi hari ini adalah kandidat yang telah memiliki ceruk dan segmen pemilih tersendiri atau diterima sebagai representasi dari segmen politik identitas dan paternalistik yang ada di Kabupaten Malang. Secara institusi dan jejaring, yang diuntungkan dengan kondisi hari ini adalah Partai yang memiliki soliditas, militansi, jejaring yang kuat dan pemilih loyal, sehingga memudahkan untuk mendeliver pesan elektoral dari kandidat kepada masyarakat secara langsung.
Faktor logistik atau pendanaan tentunya juga menjadi variabel penting dengan dinamika politik Kabupaten Malang hari ini, luas kabupaten malang yang demikian besar, dengan 33 Kecamatan, 390 Desa, 4.280 TPS, dengan jumlah pemilih yang mencapai 1,9 Juta tentunya membutuhkan energi besar dan logistik besar untuk bisa mengcover itu semua.

Dinamika Politik Kabupaten Malang hari ini mengingatkan penulis dengan yang terjadi pada perjalanan Pilkada Kabupaten Trenggalek 2015 silam, incumbent (Wakil Bupati) pada saat itu Abdul Kholiq (Ketua DPC PKB) berada diatas angin untuk maju dalam Pilkada, karena hingga H-1 tahun Pilkada belum ada kandidat kuat yang benar-benar siap menjadi penantang incumben. Bahkan di H – 8 bulan Pilkada, yaitu pada bulan April 2015, Wabup Incumbent Abdul Kholiq dengan Percaya Diri mendeklarasikan duet pasangan JoBang (Ijo Abang) PKB – PDIP dengan menggandeng Srikandi PDIP dari Malang, Sri Rahayu sebagai Bacawabup, dengan didukung beberapa Partai Politik lainnya.

Namun seketika peta politik berubah dengan munculnya sosok Emil Dardak yang menyatakan akan maju dalam Pilkada Trenggalek sebagai daerah tanah kelahirannya. Ketika itu pesona Emil Dardak yang kemudian berpasangan dengan M. Nur Arifin (Bupati Trenggalek saat ini) mampu menjadi magnet bagi Partai – Partai Politik di Trenggalek. Koalisi besar yang pada awalnya mengerucut ke Abdul Kholiq sebagai Wabup Incumbent, berbalik arah mendukung Emil Dardak – M. Nur Arifin yang dimotori PDIP yang pada akhirnya berhasil memenangkan Pilkada Kabupaten Trenggalek dengan perolehan suara telak 76,07 % melawan Incumbent yang hanya memperoleh 23,93%.

Kekalahan incumbent (Wabup Trenggalek) yang sempat diatas angin, sesungguhnya terjadi karena pengenalan dan dukungan publik masih rendah terhadap incumbent, serta terjadinya kekosongan figur pemimpin alternatif. Kondisi tersebut sempat coba diatasi di awal dengan berupaya menggagas Koalisi JoBang agar menguatkan elektabilitas incumbent yang masih rendah. Syukurnya PDIP dan Partai lainnya cepat menyadari dan segera beralih ke figur alternatif yang muncul, yaitu Emil Dardak yang belakangan bahkan berhasil naik pangkat menjadi Wakil Gubernur Jawa Timur mendampingi Khofifah Indar Parawansa dalam Pilgub Jatim 2018.

Dengan dinamika politik yang mirip dengan Pilkada Kabupaten Trenggalek di tahun 2015, penulis menilai partai – partai besar di Kabupaten Malang, khususnya PDIP dapat mengambil pengalaman dan success story dari Pilkada Trenggalek 2015, apalagi dengan memiliki sosok yang kuat yang didukung internal Partai. Peta Politik Kabupaten Malang yang tersaji hari ini mestinya tidak perlu “memaksakan” Koalisi JoBang untuk sekedar bisa memenangkan Pilkada Kabupaten Malang yang telah 2 periode terlewatkan. Dan bila dipaksakan, penulis ragu mantan Bupati Rendra Kresna sebagai kreator Peta Politik Kabupaten Malang hari ini akan merestui Koalisi tersebut terjadi, dan sangat dimungkinkan malah akan membuka pintu hadirnya sosok “Emil Dardak” lain di Pilkada Kabupaten Malang 2020 yang diusung oleh Koalisi Alternatif.

*)Dito Arief N. S.AP, M.AP
Peneliti SIGI Lingkaran Survei Indonesia (SIGI LSI Denny J.A)
Peneliti Evaluasi Kebijakan Pilkada Serentak Tahun 2015 di Kabupaten Malang.

Wartawan Senior Max Margono Tutup Usia

Max Margono semasa hidup dengan Monica Pontiar, istri trrcintanya. (Dok. Keluarga/ Mvoice)

Oleh: Anwar Hudijono*

Wartawan senior harian Kompas Max Margono (79) tutup usia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto Jakarta, Rabu (18/5/2022) sekitar pukul 07.25.

Almarhum menjalani rawat inap di RSPAD sejak 12 Mei setelah sempat dirawat di RS Gading Pluit Jakarta sejak 5 Mei karena mengalami stroke hemoragik post kraniotomi dekompresi. Dia meninggalkan seorang istri, Monica Pontiar dan 7 orang anak.

Menurut rencana jenazah Max Margono akan dimakamkan di TPU Pondok Rangon Jakarta. Adapun waktunya masih belum definitif. Saat ini jenazah disemayamkan di ruang VVIP.G Dasar RSPAD.

Ucapan duka cita mengalir dari pelbagai kalangan. Termasuk Menteri Koordinator Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy yang memiliki hubungan dekat.

Max Margono meniti karier jurnalistik hanya di surat kabar harian Kompas sejak pertengahan tahun 1968 sampai pensiun tahun 2008.

Masa dinasnya banyak dihabiskan di Jatim sampai menjadi Kepala Biro Kompas Jatim. Pada pertengahan dekade 1990-an dia dipindah ke kantor pusat Jakarta menjabat sebagai Redaktur Daerah.

Dia pernah mendapat tugas dari Kompas bersama Valens Goa Doy untuk mendirikan Pers Daerah (Persda), sebuah perusahaan anak Kompas yang menangani koran-koran di daerah. Di antaranya mendirikan Sriwijaya Post Palembang, Serambi Indonesia Banda Aceh.

Pada tahun 1989 ia bersama antara lain Valens, Anwar Hudijono, Basuki Subianto, AR Suyatna merevitalisasi tabloid mingguan Surya menjadi koran harian. Ia dipercaya menjadi redaktur pelaksana.

Di antara ciri kepribadian almarhum yang paling terkesan baik di kalangan insan pers maupun masyarakat adalah santun, lemah lembut, sabar, rendah hati dan akrab dengan siapapun. Ibarat ikan yang tanpa tulang dan duri (wong tanpo balung eri).

Spektrum pergaulannya sangat luas. Max adalah mantan frater Katolik Sarekat Jesuit yang dekat dengan kalangan kiai. Dia termasuk yang menunggui ketika Rais Aam PBNU KH Bisri Syansuri wafat.

Sangat dekat dengan KH R Asad Syamsul Arifin, pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Situbondo maupun Rais Aam PBNU KH Achmad Sidiq. Dia juga dekat dengan tokoh Muhammadiyah seperti A Malik Fadjar, Prof dr Sam Soeharto.

Di kalangan jurnalis seangkatannya seperti almarhum Anshary Thayib, Peter A Rohi, Hadiaman Santoso, Ali Salim, Erol Jonathan, Dahlan Iskan, Max dikenal sebagai wartawan yang memiliki lobi kuat di kalangan militer. Jenderal Widjojo Suyono (alm) adalah salah satu teman dekatnya.

Berkat lobinya inilah nyawa Valens Doy berhasil diselamatkan semasa Operasi Seroja Timor Timur. Saat itu tulisan-tulisan Valens dinilai kritis terhadap ABRI (sekarang TNI). Max antara lain melobi Benny Moerdani (kemudian menjadi Panglima TNI).

Ia sangat kokoh menjaga integritas kewartawanannya. Pernah suatu saat Gubernur Jatim Moh. Noer hendak memberi dia rumah. Mungkin tahu saat itu Max tinggal di rumah kontrakan di kampung Kalibutuh yang langganan banjir.

Kendati demikian Max tidak bersedia menerima. Demikian pula tawaran materi apapun ditolaknya. Sikapnya yang steril terhadap “amplop” membuat dia dihormati narasumber.

Tetapi ketika membela eksistensi dan kehormatan wartawan, Max sangat gigih dan tak kenal takut. Seperti kasus “lemak babi” Dr Tri Susanto, dosen Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya di tahun 1980-an.

Intinya Tri Susanto melakukan penelitian biskuit, termasuk produksi perusahaan besar di Surabaya. Ia menemukan ada kandungan lemak babi di dalam bahan biskuit itu. Kasus ini dibuka oleh J Widodo, wartawan sebuah harian terbitan Surabaya.

Kodam V/Brawijaya yang menangani kasus itu. Widodo dan Tri Susanto diperiksa “habis-habisan” oleh pihak Kodam V (era itu ABRI sangat berkuasa karena memiliki Dwifungsi). Hal ini membuat dunia pers tiarap.

Max melihat tindakan Kodam V sudah melampaui batas. Bisa mematikan kebebasan dan wibawa akademik perguruan tinggi, maupun independensi pers.

Ketika yang lain tiarap, Max justru membuat liputan besar-besaran. Sampai akhirnya dia sendiri berurusan dengan ABRI. Tapi dia berhasil meyakinkan kalangan pimpinan ABRI bahwa tindakannya harus dikoreksi.

Integritasnya yang sangat kuat inilah membuat pimpinan Kompas Jakob Oetama mempercayai bahwa semua aset Kompas dan Gramedia di Jawa Timur yang bernilai miliaran atas namanya. Padahal kalau saja mau “nakal” bisa saja dia ambil alih aset tersebut.

Di masa pensiun almarhum banyak tinggal di Jakarta karena ingin dekat dengan anak perempuannya, Maria Eva yang merupakan satu-satunya anak perempuan dari 7 bersaudara.(***)

*wartawan senior tinggal di Sidoarjo

I’tikaf di Jaman Now itu Mengurangi Medsos (2-Habis)

Anwar Hudijono. (istimewa)

Oleh: Anwar Hudijono

Jika I’tikaf itu secara substantif sebagai proses mengurangi dan mencegah rangsangan-rangsangan dari luar karena dapat menaikkan intensitas hawa nafsu, yang dapat merusak dan membatalkan puasa, maka di jaman now adalah mengurangi media sosial (medsos).

Blak-balakan saja saya tidak berani seperti Jaron Zepel Lanier, yang dengan gagah berani berkata lantang, “Stop medsosan. Hapus akun medsosmu.” Dia menulis buku Ten Arguments For Deleting Your Social Media Account (Sepuluh Argumen untuk Menghapus Akun Media Sosial Anda Saat Ini).

Jaron jelas bukan tokoh kaleng-kaleng. Dia punya kompetensi untuk bicara itu. Dia ahli filsafat komputer Amerika. Dia seniman visual dan musisi. Dia menulis buku berdasar riset.
Dan dia konsekuen dengan sikapnya. Dia tutup seluruh akun medsosnya. Dia konsisten melakukan kampanye tutup medsos, termasuk di film /Social Dilemma yang disiarkan Netflix.

Sikap dia itu kalau di Al Quran ditegaskan di Surah Shaff (61) ayat 2-3: “Wahai orang-orang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci oleh Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

Ada 10 alasan Jaron. 1. Anda (pengguna medsos) kehilangan keinginan bebas Anda. 2. Berhenti dari medsos adalah cara paling tepat sasaran untuk melawan kegilaan jaman kita (jaman edan dalam istilah pujangga agung Jawa Ronggowarsito). 3. Medsos membuat Anda menjadi bangsat. 4. Medsos merongrong kebenaran.

Selanjutnya dikatakan, 5. Medsos membuat apa yang Anda katakan menjadi tidak berarti. (Betapa tidak, posting konten bagus cuma diberi emoji). 6. Medsos menghancurkan kapasitas empati Anda. (Postingan berita kematian hanya dipasang emojicon atau kopi paste dari atasnya). 7. Medsos membuat Anda tidak bahagia. 8.Medsos tidak ingin Anda memiliki martabat ekonomi. 9. Medsos membuat politik menjadi hal yang mustahil (tidak mungkin). Dan 10. Medsos membenci jiwa Anda.

Medsos telah mengubah kehidupan global dari era informasi ke era disinformasi. Tristan Harris, mantan Disainer Estetika Google dengan tegas mengatakan, medsos begitu mudah menghilangkan fakta. Ada banyak keluhan, skandal, polarisasi, pencurian data, hoaks, fakenews (berita palsu).

Radikalisme
Jaron tidak sendirian. Semakin hari semakin banyak pendukungnya. Apalagi setelah Pemilu Presiden Amerika tahun 2020 di mana medsos menjadi pihak yang sangat menentukan hasil Pilpres. Medsos menjadi pembakar pemilu yang dinilai paling brutal dan kelam dalam sejarah Amerika. Mencabik-cabik demokrasi yang palingg dibanggakan AS.

Medsos juga menjadi tertuduh sebagai pemicu radikalisme supremasi kulit putih. Polarisasi sosial yang kian tajam. Entah polarisasi atas dasar ras, agama, etnik, sosial-ekonomi. Merenbaknya dismorfis snapchat.

Medsos dianggap sebagai biang kerok anjloknya kualitas kesehatan jiwa rakyat Amerika. Jutaan generasi Z (lahir setelah tahun 1996) menjadi generasi yang rapuh, tertekan dan cemas. Jutaan di antara mereka ada yang menyayat nadinya. Ada yang bunuh diri. ABG-ABG kehilangan identitasnya. Rumah sakit semakin dipenuhi pasien yang menderita akibat dampak medsos.
“Amerika kini sedang di ambang kehancuran oleh medsos,” kata seorang inteljen senior Rusia dalam film Red Sparrow.

“Rasisme, diskriminasi, intoleransi kini sedang menggerogoti Amerika dari dalam,” kata tokoh dalam film American History X.

Tesis demikian sekarang bukan hanya di film. Sebagian masyarakat Amerika mulai gamang akan masa depan negaranya. Masa depan bangsanya. Amerika sedang berproses seperti pohon besar yang digerogoti rayap dari dalam. Semakin hari rayapnya semakin beranak-pinak.

Narkoba

Saya tidak berani segarang Jaron yang menyatakan tutup akun medsosmu sekarang juga. Saya hanya berani bilang mari kurangi bermedsos. Karena saya sikik-sikik juga masih menggunakan medsos. Alasan yang saya pakai ya seperti para pedoyan medsos umumnya. Misalnya, untuk sayhello saudara dan temanlah, guyon-guyonlah, selinganlah, hiburanlah.

Saya masih menggunakan medsos dengan kesadaran penuh bahwa saya ini sebenarnya sedang dijual oleh developer medsos. Bisnis medsos itu menjual penggunanya. Yang menjadi pelanggan adalah pengiklan. Dengan begitu semakin lama saya menggunakan medsos semakin besar keuntungan yang dikantongi developer. Para developer medsos itu ibaratnya sedang membangun gunung roti.

Maka developer akan berbuat segala cara agar saya berlama-lama di medsos. Ketagihan. Tidak percaya? Coba buka YouTube. Misalnya cari pertarungan tinju Muhammad Ali vs George Foreman. Konten itu akan muncul. Di bawahnya sudah muncul tawaran Ali vs Sonny Liston. Ada lagi Foreman vs Joe Friezer. Tidak itu saja, akan muncul pula tawaran konten lain seperti music, UFC, degelan, komik, kluliner. Jika diterus-teruskan bisa sampai mati tidak akan kehabisan konten.

Itu artinya pengguna sedang masuk jeratan mesin algoritme medsos.

“Orang mengira algoritme itu dirancang untuk memberikan yang mereka inginkan. Tidak. Algoritme itu sebenarnya mencari beberapa perangkap yang sangat kuat. Mencari perangkap mana yang sesuai dengan minat kita,” kata Guillaume Chaslot, pakar teknologi medsos.

Saya sadar penuh, ketika saya main medsos itu saya sedang memasuki dunia manipulasi. Yang like itu juga bukan keluar dari hati nurani. Video yang cantik-cantik itu adalah editan. Di video kayak Gisel, tapi begitu kopidarat seperti Gimin. Yang nyebar konten seolah untuk kebaikan dan kemaslahatan masyarakat, padahal ternyata yang dicari subscribe, like dan viewer.

Manipulasi

Saya sadar saat bermedsosan itu saya seperti menonton aksi pesulap. Yang mampu mengubah sapu tangan menjadi kelinci. Yang mengikat gadis dengan rantai tapi di dalam kotak gadis bisa melepas dan berganti baju. Yang bisa menghilangkan Tugu Monas. Tentu saja semua itu manipulasi. Tipuan. Hipnotisme. Cuma konyolnya, kita ini senang dimanipulasi. Bahkan menikmatinya. Ajuuur…

Saya sadar begitu main medsos itu saya seperti incip-incip narkoba. Semakin banyak semakin asyik dan nikmat. Lama-lama kecanduan. Di dunia ini hanya dua produsen yang menyebut konsumennya dengan istilah “pengguna” yaitu medsos dan narkoba.

“Medsos adalah narkoba,” kata Dr Anna Lembke dari Stanford University, AS. Maksudnya, kita punya perintah biologis dasar untuk berhubungan dengan orang lain. Hal itu secara langsung mempengaruhi pelepasan dapomin dalam “jalur kenikmatan”.

Jiwa yang sudah bermukim di “jalur kenikmatan” medsos adalah menjadikan medsos itu bagian integral lahir-batinnya. Medsos lebih dekat dan penting daripada ayah-ibunya, saudaranya, suami atau istrinya, tuhannya, urat lehernya.

Mau tidur buka medsos. Ngelilir buka medsos. Bangun tidur langsung klik medsos. Bahkan medsos itu pun sampai menjilma di mimpi, ngelindur. Tiba-tiba ketawa. Tiba-tiba jungkir balik, nggigit bantal.

Masak sambil medsosan. Rapat medsosan. Di toilet medsosan. Makan medsosan. Kumpul keluarga semuanya asyik dengan medsosan sendiri-sendiri. Fisiknya saja yang berdekatan tapi jiwanya berjauhan. Ayahnya yang nyetir mobil, anak dan ibunya asyik medosan sendiri-sendiri. Ayahnya jadi seperti driver online.

Mengajar sambil medsosan. Akhirnya dibalas muridnya, saat gurunya nerocos di depan kelas sampai mulut berbusa-busa dan mata mendelik-delik, muridnya medsosan. Nyuntik sambil medsosan. Akhirnya bukan jarum yang dicubleskan tapi pulpen. Niatnya I’tikaf di masjid, kelihatan nggetu, ternyata medsosan. Wis angel… angel…

Setiap saat buka-tutup Hp. Melakukannya sudah tanpa sadar. Tidak ada tanda apapun hp dibuka. Sudah seperti orang bekedip. Otomatis bergerak. Apa ada orang berkedip didisain dulu, dijadwal. (Sing ngguyu mesti tau ketoro pengalaman hahahaha).

Ramadhan ini hendaknya bisa menjadi momentum memulai mengurangi buka tutup Hp. Pergi ke masjid, tinggal Hp di rumah. Rapat tanpa bawa Hp. Kurangi medsosan dengan niat mencari kegiatan yang lebih baik. Yang lebih produktif. Jika medsos menggelapkan hati dan melumpuhkan spiritualitas, ganti dengan kegiatan yang membuat hati terang, jiwa yang bersih. Niat mepek babahan hawa sanga. Niatkan sebagai I’tikaf untuk menjaga kemurinan puasa kita.

Pembaca oh pembaca.. Terus terang saya mulai berpikir jangan-jangan medsos ini merupakan strategi Dajjal. Mudah-mudahan ada petunjuk mendalaminya. Rabbi a’lam.

Ya Allah dengan rahmat-Mu, lindungilah kami dari fitnah (ujian) medsos.

Rabbana atina min ladunka rahmah wa hayyiklana min amrina rasada. (Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami. (Quran surah Kahfi ayat 10).* * *

Anwar Hudijono
kolumnis tinggal di Sidoarjo
23 April 2021.

Jika Sudah Menjadi Muslim, Jangan Sia-sia… (I)

Rita Arin. (Istimewa)

Oleh: Rita Arin

Tak pernah terlintas sedikit pun, mualaf yang baru belajar tentang Islam, tiba-tiba dapat panggilan menunaikan umroh ke Tanah Suci. Aku tak pernah membayangkan, umrohku dibiayai kantor. Allah memang memiliki rahasia yang tak seorangpun bisa memprediksinya.

Namaku Rita Arin. Aku bisa dipanggil Arin. Aku  bungsu dari empat bersaudara. Tinggal di  Grobogan, Jawa tengah. Ayahku  lpegawai PT KAI, di sebuah stasiun kereta. Ibuku  seorang ibu rumah tangga. Beliau membantu ekonomi keluarga dengan  berdagang keperluan yang dibutuhkan tetangga.

Aku dari kecil beragama Katolik. Aku tak mengerti mengapa hanya keluargaku yang beragama Katolik, sementara keluarga besar ibu semuanya muslim. Aku tak mengenal lebih dalam keluarga ayah. Kata ayah, keluarga beliau sudah lama meninggal dunia. Hanya ada keponakan, itu pun kami jarang bertemu.

Perbedaan agama di keluargaku dengan keluarga ibu, ketika aku kecil, tak membuatku bingung. Aku senang-senang saja. Saat perayaan Natal, aku merayakannya. Saat Idul Fitri, aku juga merayakan. Di masa kanak-kanak itu, aku merasa senang saja karena bisa merayakan dua hari raya.

Saat aku kelas III SD, ayahku meninggal dunia. Begitu cepat ayah meninggalkan kami. Sejak itu, aku dibesarkan ibu. Di rumah, aku  seperti anak semata wayang.

Kakakku tertua sudah menikah dan merantau ke Jakarta. Kakakku kedua, merantau ke Jakarta dan akan menikah. Kakakku ketiga, satu-satunya laki-laki, sekolah di SLB. Ia menetap di asrama sejak kecil karena terlahir down sindrome.

Ibu selalu berusaha memberikan yang terbaik untukku. Perubahan terjadi di saat aku kelas III SMA. Ibu menderita stroke ringan. Sejak itu, terasa ada perubahan dalam keseharianku. Ibu tak bisa lagi berjualan. Perekonomian kami hanya mengandalkan uang pensiun ayah.

Aku terus berjuang untuk menggapai prestasi, agar bisa menyenangkan ibu. Aku selalu dapat ranking III. Aku ingin melanjutkan kuliah, tapi keinginan itu pupus karena kondisi ibu terus memburuk.

Jika aku kuliah, maka uang pensiunan ayah akan habis untuk biaya kuliahku. Aku juga tak mau terlalu berharap menunggu kiriman kakak karena mereka juga punya kewajiban terhadap keluarganya.

Alami Musibah Beruntun
Berbekal nilai UN-ku yang memuaskan, akhirnya aku memutuskan pindah ke Jakarta bersama ibu dan abangku yang di SLB. Kami berharap bisa dekat dengan kakakku, sehingga kami bisa merawat ibu bersama.

Sesampai di Jakarta, aku bingung terhadap masa depanku. Apa yang harus aku lakukan di Jakarta?

Kakakku menyarankan agar aku bekerja dulu. Jika kuliah, akan memberatkan. Aku akhirnya diterima di PT Sanyo di kawasan Cimanggis. Aku bisa masuk ke sana dibantu saudara kakak iparku.

Awalnya aku merasa lelah bekerja di sana, sebab bekerja di pabrik bekerja secara shift. Kadang masuk malam, pulangnya pagi.

Aku tepis rasa lelah itu dengan harapan setiap bulan. Aku menerima gaji yang tergolong besar. Aku akhirnya menikmati pekerjaan dan gaji yang lumayan. Tanpa aku sadari, ternyata keseharianku sangat boros. Aku tak pernah berpikir untuk menabung. Gaya hidupku mengikuti trend.

Aku lupa untuk melanjutkan cita-cita untuk kuliah. Hari-hariku, selain pergi kerja, aku ada di salon, mall, restauran. Begitu setiap hari. aku lupa memikirkan masa depan.

Kakakku mengingatkan agar aku menabung. Jika tak bisa menabung uang, bisa dibeli sepeda motor. Aku turuti nasehat kakakku tersebut. Ketika cicilan motorku memasuki angsuran ke 12, ternyata kontrakku tidak diperpanjang, berawal dari tidak hadirnya aku ke pabrik selama seminggu karena terserang tifus.

Kerja di perusahaan Jepang ini, sistemnya menggunakan point. Jika tidak masuk, sekali pun alasannya sakit, selalu diberi point. Semakin banyak point yang didapat, semakin buruk penilaian kinerja.

Sejak kontrak tidak diperpanjang, aku mulai menghadapi kesulitan. Kucari kerja ke sana kemari, tapi aku selalu ditolak. Aku bingung bagaimana cara mencicil sepeda motor.

Aku takut menyampaikan kepada kakakku. Aku takut mereka marah karena aku tak bisa mengelola uang secara benar ketika masih kerja dulu. Belum sempat aku menemukan jawaban untuk membayar cicilan motor, ternyata motorku dicuri orang di parkiran. Aku panik, bingung.

Mimpi Nangis di Sajadah
Musibah berikutnya kembali menghinggapiku. Aku juga harus berpisah dengan lelaki yang sangat aku cinta. Aku sebenarnya berharap, ia menjadi jodohku, tapi ia pergi begitu saja. Aku yakin, ia meninggalkanku karena perbedaan agama yang kami anut.

Entah kenapa, sejak kejadian itu, aku kehilangan arah. Aku panik dan kalut. Tapi aku tetap bisa menjaga diri. Aku tak mau terjurumus ke jurang kehidupan yang lebih buruk. Bagiku, kemiskinan bukan alasan untuk menghalalkan secara cara.

Suatu malam, aku bermimpi. Aneh sekali. Sangat aneh bagiku. Aku bermimpi menangis di sajadah dengan menggunakan mukena. Aku bingung, ada apa dengan mimpiku?

Kudatangi sahabatku di Bogor. Aku mencoba menenangkan diri di rumahnya. Aku kemudian menceritakan mimpi yang kualami. Aku mantapkan hatiku untuk minta bantuannya memanggilkan seorang ustad. Malam itu, aku mengucapkan dua kalimah syahadat, di musala, disaksikan sejumlah orang.

Ketika aku pulang, kuceritakan semuanya kepada  kakak keduaku. Ia merespon sangat baik, apalagi kedua kakakku juga sudah menjadi mualaf.  Kakak pertamaku masih Nasrani. Ibu juga mendukung. Beliau tidak menentang keputusanku.

Sejak saat itu, aku memulai lembaran hidup baru. Aku mulai pakai hijab. Urusan kerja, aku akan terus berusaha sekuat tenaga. Urusan jodoh, aku sudah punya putusan; tak akan pacaran, kecuali lelaki tersebut serius untuk menikahiku. Kendati baru kenal dan ia mengajak nikah, insya allah, aku siap menerimanya.

Allah mengabulkan doaku. Aku bertemu dan berkenalan dengan seorang lelaki. Ia begitu gigih mendekatiku. Aku ragu karena baru mengenalnya, tapi aku tak kehilangan akal. Kuberanikan bertanya kepadanya, apakah mau segera menikahiku?

Aku terkejut. Aku mendapatkan jawaban yang sangat mengejutkanku. Ia mengatakan, segera melamarku. Aku justru bingung, apakah aku harus menikah secepat ini? Aku belum mengenal dia. Apakah ia orang baik-baik? Aku hanya bisa berdoa dalam setiap salat agar diberikan jalan dan keputusan terbaik.

Beberapa bulan kemudian, aku resmi dilamar. Kami pun menikah secara sederhana. Aku memutuskan untuk tetap berhijab. Aku kemudian belajar mengaji. Tak lama kemudian, aku hamil dan melahirkan.

Allah punya rencana besar untuk keluarga kecilku. Setelah anak pertama lahir, aku harus kehilangan ibunda tercinta. Ibuku meninggal dunia di saat kami bahagia menerima kehadiran anak pertamaku. Aku kehilangan orang yang selama ini menerima keluh-kesahku. Orang kehilangan orang yang sangat mencintaiku dan sangat aku cintai.

Bekerja Ikhlas
Tak lama kemudian, aku minta izin pada suami. Aku akan bekerja. Berapa pun gaji yang kudapatkan, setidaknya dapat membantu menambah pendapatan keluarga. Setidaknya bayi mungil kami dapat mengkonsumsi susu karena ASI-ku tak mencukupi.

Aku dapat kabar ada restaurant di sebuah mall di Pejaten buka lowongan. Aku mendaftar ke sana.  Aku tak tahu apakah bisa diterima atau tidak. Selain tidak memiliki pengalaman, aku juga membawa bayi saat wawancara. Alhamdulillah, aku diterima dengan gaji Rp 800 ribu sebulan. Jauh di bawah gajiku saat di PT Sanyo.

Kujalani pekerjaan tersebut dengan ikhlas.
Ketika restaurant buka cabang di Depok, aku mengajukan untuk pindah. Kataku, lokasi di Depok tak jauh dari rumahku. Permintaanku dipenuhi. Ketika itu pula supervisor menunjukku menjadi kasir.
“Pak,  Arin belum pernah jadi kasir. Kerja di restaurant pun baru. Arin takut tak bisa,” kataku.

“Tak ada yang tak bisa, jika kamu mau belajar. Saya akan bantu,” katanya.
Ketika restaurant itu dibuka, aku bukan lagi menjadi seorang waiters, atau yang mengantarkan makanan. Aku sudah duduk manis di kursi seorang kasir. Kerjanya tak terlalu capek. Gaji pun naik dari sebelumnya.

Tiga tahun berlalu. Aku menikmati pekerjaan dengan semangat yang mengebu-gebu, namun sesuatu menggodaku. Aku bertemu teman kerjaku di Sanyo dulu. Ia tampak lebih cantik dan anggun. Ia terlihat lebih cantik dengan hijab dan seragamnya. Aku penasaran. Aku mencari tahu lebih jauh tentangnya. Ternyata ia bekerja di Wardah. Ketika itu, ia seorang Beauty Advisor (BA) atau SPG-nya Wardah.

Bermodal alamat kantor Wardah, aku diantar suami untuk melamar. Entah memang sudah rezeki yang ditakdirkan Allah, prosesnya sangat mudah. Beberapa hari kemudian aku diterima. Saat itu pula aku mengundurkan diri dari restaurant.

Jumat, 2 November 2012, menjadi hari pertamaku bekerja di Wardah. Aku ditempatkan di sebuah apotek di Depok.

Seminggu aku bekerja, aku ditimpa musibah. Sekitar pukul 01.00 WIB, rumah kontrakan yang aku tempati, terbakar. Api menjalar dari rumah sebelah yang sudah dijamah si Jago Merah.

Aku langsung membangunkan suami, anakku dan tetangga. Alhamdulillah, kami selamat tapi semua harta benda tak bisa diselamatkan, kecuali surat-surat berharga. Baju pun hanya yang melekat di badan.

Aku bagaikan disampar petir. Semua ludes. Kami akhirnya memutuskan tinggal sementara di rumah mertuaku. Aku kabarkan semua kepada team leader-ku, sembari minta izin untuk beberapa hari. Aku diminta mengirimkan foto keadaan rumahku yang terbakar. Aku kirimkan.

Beberapa hari kemudian aku dapat kabar, belum bisa menerima bantuan karena aku baru sepekan bekerja. Aku menerimanya dengan lapang dada, namun aku menyampaikan agar dapat seragam baru karena seragamku sudah terbakar.

Aku, anakku, dan suamiku menggunakan baju bekas yang diberikan saudara dan tetangga. Air mataku mangalir setiap ada orang datang membawakan baju, makanan dan uang. Semua aku terima karena kondisiku benar-benar sangat sulit.

Mualaf Karyawati PT Paragon Technology and Innovation

Bola Rivalitas dan Imajinasi Highlander

Yunan Syaifullah. (istimewa)

Oleh: Yunan Syaifullah

Rivalitas adalah luka dan duka. Demi keunggulan dan kepentingan, rivalitas bisa terjadi. Menyembuhkan luka. Menghapus duka. Keduanya tidak harus dengan amarah.
Keduanya bisa dikurangi kadarnya. Bahkan disembuhkan melalui imajinasi untuk menutupi luka dan duka. Dalam berbagai peristiwa, imajinasi seseorang bisa muncul dan terbangun berlatar kesulitan dan derita.

Bangunan imajinasi itulah yang bisa melahirkan berbagai mimpi dan harapan. Imajinasi, mimpi dan harapan yang berjumpa itulah akan terlahir era baru yang diharapkan, yang kita kenal dengan masa depan.

Sepak bola adalah masa depan. Sepak bola juga memiliki masa lalu. Tidak semua masa lalu berwarna cerah, gemerlap dan menjadi cerita bahagia. Masa lalu juga memiliki warna yang suram, gelap dan mencemaskan. Warna masa lalu itu pula yang membentuk sejarah sepak bola dimanapun.

Skotlandia dan Inggris memiliki sejarah masa lalu yang melahirkan luka dan duka akibat rivalitas yang tak pernah selesai.
Kedua Negara itu adalah sebagai saksi dan pelaku sejarah tertua dunia dengan tim nasionalnya. Kedua Negara sudah mengawali debut dan sekaligus rivalitas sepak bola semenjak tahun 1872. Apabila tahun itu dicatat, maka sudah 149 tahun keduanya dalam pusaran rivalitas dengan 114 kali pertandingan yang dimainkan. Inggris meraih 48 kali meraih kemenangan. Skotlandia 41 kali. Hasil berimbang 25 kali. Kemenangan Skotlandia sejumlah 41 kali tidak pernah dicatat dalam sejarah dunia. Kemenangan 48 kali, Inggris yang lebih banyak ditengok oleh sejarah dunia.

Rivalitas keduanya yang tercatat sejarah, yakni pada tragedy Juni 1977. Pertandingan Inggris dengan Skotlandia yang berakhir dengan kekacauan, tiang gawang yang dirobohkan, supporter menyerbu dan memasuki lapangan. Inggris sebagai tuan rumah. Skotlandia sebagai tamu. Hasilnya kemenangan untuk tim tamu, yakni Skotlandia dengan skor tipis 1-2.

Rivalitas keduanya seolah menjadi derbi klasik yang selalu melahirkan berbagai cerita menarik. Tidak hanya hasil pertandingan. Namun, cerita di luar lapangan hijau yang tidak ada hubungannya dengan sepak bola memberikan andil bobot kedalaman derbi klasik keduanya.

Ribuan bahkan jutaan mata yang tertuju satu titik: Wembley Stadium. Baik sebagai penonton langsung maupun yang berada jauh dari titik tersebut memiliki aura yang sama. Baik itu, mereka yang duduk dan fokus di depan televisi yang menyaksikan siaran langsung. Sebagian orang, ada yang rela dan mengaktifkan layar monitor i-pad atau laptop untuk menyimak laga klasik melalui saluran streaming. Kemacetan terurai. Jalanan sepi. Kemacetan hanya terjadi pada 3 titik yang di dekat stadion, saluran frekwensi televisi, dan saluran streaming.

Meski dilatari rivalitas, prestise, dan harga diri, sesungguhnya kedua Negara mampu direkatkan. Sepak bola mampu menghipnotis saluran kehidupan. Sepak bola mampu menyatukan perbedaan atas nama fanatisme. Itulah fragmentasi bola. Meminjam istilah Franklin Foer (2004), Memahami Kehidupan Lewat Sepak Bola.

Sepak bola tidak hanya masalah di lapangan. Karena itu, tidak salah seorang Franklin Broer hingga mengatakan dibalik sepak bola ada kehidupan menarik yang bisa diamati dan dijadikan pelajaran secara serius.

Sepak Bola selalu diwarnai fragmentasi kehidupan yang terkadang tidak berhubungan langsung dengan masalah teknis di lapangan. Ahli strategi, seni berperang dalam Cina Klasik Jendral Sun-Tzu, meninggalkan pesan berarti bagi siapapun takkala memaknai berkompetisi mengatakan bahwa jangan pernah takut dengan 1000 musuh yang menghadang. Tapi takutlah dan perhatikan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki musuh.

Rivalitas Skotlandia dan Inggris dalam sepak bola, sesungguhnya diawali dari perseteruan kedua warga di berbagai bidang kehidupan, baik politik, sosial, ekonomi, budaya, pendidikan, dan masih banyak faktor lainnya.
Rivalitas adalah kepentingan. Berimbas dan masuk kedalam lapangan hijau. Bahkan keduanya sudah menganggap sebagai musuh lama (auld enemy) bila keduanya harus bertemu, untuk saling mematikan.

Sepak bola Skotlandia harus diakui kalah gemerlap dibanding Inggris. Namun, Skotlandia bermain sepak bola dengan kekuatan mitologi Highlander. Highlander telah menjadi cerita dan imajinasi bagi Negara Skotlandia.

Imajinasi Highlander adalah salah satu kekuatan Skotlandia. Imajinasi itu sekaligus kelemahan bagi Skotlandia karena cara bermainnya sudah diketahui Inggris. Mengingat sebagian besar pemain utama Skotlandia juga bermain di liga Inggris.
Jauh sebelumnya laga klasik dipertandingkan. Laga klasik diliputi dengan berbagai kecemasan dan ketakutan yang menghinggapi banyak kalangan berkaitan dengan masalah pinggir lapangan. Masalah friksi dan konflik antar pendukung karena faktor sejarah masa lalu.

Kecemasan dan keraguan diantara para pemain, bertanding dengan seolah bukan sebagai patriot bola. Meski bertanding dengan keras dan penuh intrik. Khususnya yang ditunjukkan pemain Inggris.

Pemain, Pelatih, Official dan bahkan penonton tertunduk lemas, tidak bergairah dan kecewa. Kekuatan tersisa dari para patriot bola adalah jiwa kstaria. Jiwa inilah yang menjadi keunggulan dalam olah raga apapun, termasuk sepak bola. Patriot bola hanya memiliki dua pilihan. Siap menang dan juara. Siap kalah dan terhormat. Itulah ksatria-nya seorang Patriot Bola.
Beda halnya, dengan Skotlandia masuk lapangan dengan membawa imajinasi. Seolah melupakan memori kelam pada tragedy Juni 1977. Skotlandia ingin mengulang memori sukses 1967 takkala kali pertama dalam sejarah salah satu klubnya Celtic menjadi jawara Liga Champions.

Terbukti, laga klasik hasil akhirnya adalah seri. Hasil akhir itu bagi Skotlandia adalah kemenangan. Sedangkan, Inggris adalah kerugian.

Imajinasi bisa tumbuh dari siapapun dan dari manapun. Tidak membedakan status dan kelas. Imajinasi adalah asasi yang mestinya dihormati dan dihargai.
Sesungguhnya, lapangan hijau dimanapun, adalah locus yang selalu mampu menyemai benih-benih imajinasi kemanusiaan tentang banyak hal.

Masa lampau jangan menjadi rintangan dan membuat gelap masa depan sepak bola, ujar Raheem Sterling.

Yunan Syaifullah
Penikmat Bola, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang

Revisi Perilaku Politik Rakyat, Sebuah Keharusan

Oleh: Drs Bambang GW *

Tidak dalam waktu lama lagi rakyat kabupaten Malang akan punya hajatan demokrasi di panggung politik suksesi pimpinan kepala daerah. Dengan banyak sekali pengalaman politik yang ada sebenarnya bisa menjadi modal untuk membuat proses demokrasi akan bisa lebih berkualitas.

Hal inilah yang seharusnya akan dapat menjadi acuan politik rakyat untuk bisa memoles proses demokrasi menjadi areal terindah dalam melahirkan kepemimpinan sehingga regenerasi kepemimpinan akan terjaga kualitas kebangsaan dan kenegaraannya.

Dengan demikian Pilkada 2015 menjadi momen politik strategis bagi peningkatan kualitas demokrasi pada setiap etape-etape yang harus dilewati untuk menuju terminal terakhir demokrasi yaitu terciptanya tatanan masyarakat yang adil dan sejahtera dalam sistem pemerintahan kabupaten Malang yang mapan.

Pentas telah digelar dengan berbagai peran ditampilkan oleh aktor-aktor kandidat baik calon bupato maupun calon wakil bupati serta para petinggi partai untuk memainkan karakternya sebaik mungkin di hadapan rakyat yang hanya dianggap sekedar sebagai penonton akting mereka.

Dengan harapan para aktor dapat menjadi tokoh yang masuk kategori favorit bagi penontonnya, sehingga mereka akan berusaha semaksimal mungkin dengan sejuta aksinya tampil menjadi tokoh protagonis bagi rakyat, mulai dari menyulap dirinya untuk bisa dengan tiba-tiba menjadi sinterklas di hadapan rakyat dengan membagi-bagi sesuatu secara material, mengubah kostum keseharian karakternya menjadi seolah-olah penyelamat persoalan rakyat, mengganti performancenya agak perlente agar bisa dianggap punya nilai sedikit di atas rakyat, dan sebagainya. Hal itu mereka perankan untuk menyesuaikan selera rakyat yang lagi terkena virus pragmatisme dan konsumenisme.

Selama gambaran di atas masih laten ada pada perilaku politik rakyat, maka selama ini benar adanya kalau rakyat hanya jadi objek politik dan komoditas politik bagi mereka yang membawa beban kepentingan ambisi berkuasa atas rakyat.

Bahkan lebih ironis lagi rakyat hanya dijadikan kuda tunggangan yang bisa sewaktu-waktu dimobilisasi kemana pun untuk bisa dipamerkan pada lawan politik dan diklaim menjadi kekuatan dukungan politik serta dijadikan bahan klaim diri siapa yg lebih pantas bisa dianggap wakil atas rakyat yang telah dimobilisasinya. Hanya dengan materi yang mereka punya dan dibagikan pada rakyat dengan berbagai bungkus itulah mereka seolah-olah telah mampu merasakan problematika rakyat.

Hal-hal di ataslah yang semestinya bisa menjadi bahan revisi perilaku politik rakyat apabila kita punya kehendak agar demokrasi yang lagi berproses di negeri ini semakin berkualitas karena setiap etape proses demokrasi pasti bermuara pada rakyat. Apalagi apapun yang akan dilakukan oleh pemeran-pemeran politik pasti dalam rangka membujuk, merayu bahkan menipu rakyat agar bisa menjadi objek yang dapat memilih dirinya.

Rakyatlah yang menjadi input paling hakiki bagi proses demokrasi karena apapun realitas politik ujung-ujungnya rakyatlah yang akan menjadi penentu lahirnya pemimpin di negeri ini. Ketika rakyat hanya mempunyai ukuran materi pada setiap penampilan mereka maka jangan pernah disalahkan siapapun kalau lahir kepemimpinan yang hanya berorientasi materi tanpa pernah serius berbicara tentang problematika kerakyatan yang sedang melanda negeri ini.

Kedaulatan rakyat yang menjadi pijakan kokoh demokrasi akan semakin rapuh diinjak-injak oleh siapapun yang memiliki keyakinan bahwa kedaulatan rakyat dapat diganti dengan tarif harga. Perilaku semacam itulah yang telah melahirkan gaya politik transaksional di negeri ini. Kalau ini yang terjadi masihkah pantas disebut demokrasi?

Rakyat harus memiliki kemauan dan kemampuan melakukan revisi terhadap perilaku politiknya selama ini, ketika mimpi demokrasi yang lebih berkualitas dalam setiap etapenya harus terjadi di negeri ini. Terminal terakhir demokrasi yang berujud keadilan dan kesejahteraan rakyat sebenarnya bukan hanya mimpi kosong di siang bolong, apabila rakyat tidak lagi terjebak dalam ruang-ruang permainan semu yang bersifat materialistis dan emosional.

Jangan Salah Pilih dan Jangan Pilih yang Salah!
Slogan tersebut seolah sederhana tetapi memuat pesan yang cukup serius untuk kita cermati secara arif dan cerdas. Banyak teori mengatakan bahwa salah satu syarat demokrasi yang harus ada adalah kesetaraan pengetahuan rakyat. Dalam konteks ini kenyataan sosial yang ada masih jauh dari tingkat proposional, jenjang pendidikan rakyat masih jauh timpang dari kesetaraan yang dimaksud. Tetapi bukan berarti rakyat tidak memiliki kemampuan untuk berdemokrasi walau kenyataan sosialnya semacam itu.

Dengan berbekal pengetahuan yang dimiliki rakyat sepanjang tidak terjebak pada ruang emosional maka akan terbuka ruang rasional dalam menentukan pilihan. Memunculkan kesadaran diri akan sebuah pilihan politik sudah tidak jamannya lagi hanya berdasarkan warna bendera, tanda gambar, dan kharisma tokoh, tetapi lebih melihat pada kualitas kejuangan personal yang memiliki garis lurus terhadap komitmen kerakyatan dan catatan kejuangan personal selama melakukan komunikasi dan interaksi sosial.
Apalagi hanya sekedar janji-janji politik di atas mimbar sudah harus dicermati secara kritis agar tidak terperangkap dalam kekecewaan politis. Dan rakyat juga harus mulai berani membangun kesimpulan dalam akal sehatnya bahwa ketika politisi melakukan pendekatan dengan menggunakan kekuatan uang maka bisa dipastikan tak akan pernah ada dalam benaknya kepedulian terhadap problematika rakyat, bahkan lebih jauh dari itu harga diri dan martabat kedaulatan rakyat dianggap bisa diperjualbelikan.

Ayolah kita awali perubahan di negeri ini dengan memulai melakukan revisi atas perilaku politik kita. Idealisme tentang demokrasi hanya bisa terwujud dengan membangun pikiran dan perilaku idealis dalam diri rakyat, karena rakyatlah yang akan menentukan kepemimpinan bangsa dan negeri ini. Baik dan tidaknya kualitas demokrasi dalam Pilkada 2015 di kabupaten Malang akan menjadi potret kualitas masyarakat kita. Sudah waktunya rakyat untuk cerdas dalam menentukan kepemimpinan di negeri ini. Semoga!

*Drs Bambang GW, Praktisi dan pengamat politik, tinggal di Malang.