29 January 2023
29 January 2023
22.1 C
Malang
ad space

Haji Yang Tertunda Bersama Nabi (1)

Anwar Hudijono

Oleh: Anwar Hudijono

Di tengah pelaksanaan ibadah haji “bermasalah” di tengah pandemi Covid-19 ini tahun 2021, Anwar Hudijono, penulis yang tinggal di Sidoarjo mengajak pembaca untuk “bernostalgia” pada saat mengikuti haji pertama Rasulullah SAW setelah tinggal di Madinah sekitar 6 tahun.

Kisah Nabi bukanlah dongeng. Bukan fiksi. Bukan naskah sinetron. Sejarah Nabi adalah sumber pengajaran. Sumber hikmah. Sebagai pedoman dan peringatan umatnya.

Bagian pertama

Begitu Rasulullah mengumumkan kepada kaum muslimin bahwa tahun ini akan menunaikan haji ke Baitullah di Mekah, kita benar-benar gembira. Rasa bahagia ini tak bisa dinarasikan. Selain rindu Baitullah, kita golongan Muhajirin ini juga rindu sanak kerabat. Kengen rumah dan harta yang kita tinggal begitu saja ketika hijrah.

Sejak kita hijrah dari Mekah, kita terus menghadapi tugas berat. Perang Badar, Perang Uhud, Perang Ahzab. Kita menghadapi aksi-aksi kaum Yahudi Madinah yang tak henti-hentinya mencoba menggunting dalam lipatan. Gerakan rahasia konspirasi rahasia Yahudi – kaum Musyrik Quraisy untuk menghancurkan Islam. Ditambah manuver-manuver kaum munafikin Madinah yang terus mencoba memudarkan cahaya Islam.

Hari ini di bulan Zulkaedah tahun ke 6 Hijrah kita berangkat haji di antara 1.400 jamaah. Terdiri dari kita kaum Muhajirin termasuk Abu Bakar Ash-Sidiq, Umar binn Khattab, Usman bin Affan. Juga sahabat-sahabat kaum Anshar, dan sejumlah kafilah Arab yang belum masuk Islam.

Kesertaan kafilah belum Islam ini merupakan strategi Rasulullah agar agama Islam lebih terpandang di mata orang-orang Arab yang yang belum beriman. Kesertaan mereka juga jadi bukti bahwa umat Islam benar-benar niat haji. Tidak untuk perang. Hal ini akan melemahkan posisi kaum Qurais di mata bangsa lain jika sampai melarang karena berarti sebuah pelanggaran besar terhadap adat istiadat seuruh bangsa Arab. Haji adalah milik semua umat manusia.

Haji adalah memenuhi panggilan Nabi Ibrahim yang merenovasi Ka’bah bersama putranya, Ismail. Haji adalah sebuah contoh simbolis dari filsafat penciptaan Adam. Haji adalah evolusi manusia menuju Allah.

Pakaian Ihram

Sekarang kafilah haji berangkat bersama-sama. Dipimpin Rasulullah. Manusia kekasih Allah. Suri teladan terbaik. Pembawa rahmat bagi seluruh alam. Nabi mengajak istrinya, Ummu Salama.

Kita menyakiskan, Nabi kita mengenakan pakaian ihram yang berwarna putih. Pertanda bahwa kepergiannya untuk berziarah dan mengagungkan Baitullah. Bukan untuk perang.

“Teman-teman kita patuhi Rasulullah. Kita bulatkan niat haji. Untuk itu jangan ada di antara kita yang membawa senjata.”

Semua mengikutinya. Tidak ada yang membawa senjata kecuali pedang bersarung yang biasa dibawa orang-orang Arab ketika bepergian.

Arakan-arakan jamaah diawali oleh unta Nabi, Al Qashwa. Nabi membawa 70 ekor unta untuk kurban. Setelah menempuh perjalanan sepanjang 7 mil sampailah kita di Dzul Hulaifa. Kita menyiapkan kurban. Mengucapkan talbiah. Maka bergemalah talbiah dari jamaah seolah-olah menguncang bumi, meruntuhkan bukit-bukit pasir, menyeruak di antara batu-batu padang gurun.

Labbaikallahumma labbaik
Labbaika la syarika laka labbaik
Innal hamda wan-nikmata laka
wal mulk la syarikalak

Kafir Qurais Melarang

Berita tentang Nabi dan rombongannya telah sampai di kaum kafir Quraisy. Mereka sebenarnya sangat khawatir Nabi akan melakukan tipu muslihat agar bisa masuk Mekah. Mereka sadar jika sampai melarang, akan dikecam masyarakat di seluruh Arab dan bangsa lain. Karena ini bulan Zulkaedah yang merupakan bulan Haji, bulan yang diharamkan untuk perang.

Tapi Quraisy sudah gelap hati. Mereka nekad melarang. Untuk itu dikirimlah pasukan elite kavaleri sebanyak 200 tentara yang dipimpin Khalid bin Walid dan Ikrima bin Abu Jahal. Mereka bergerak mencegat Nabi di Dhu Tuwa terus bergerak lebih ke depan sampai di Kira’l-Ghamim.

Rombongan Nabi sudah sampai di daerah Usfan. Kita melihat Nabi bertemu dengan seorang suku Banu Ka’b. Orang itu menyampaikan informasi kepada Nabi bahwa pasukan Quraisy yang berpakaian kulit macan sudah bersumpah akan melarang Nabi melewati Kira’al-Ghanim alias melarang Nabi masuk Mekah.

Kita mendengar dengan seksama tatkala Nabi bersabda, “O.. kasihan Quraisy. Mereka sudah lumpuh karena peperangan. Apa salahnya jika mereka membiarkan saya dan orang-orang Arab lain itu.

“Kalau mereka membinasakan saya, itulah yang mereka harapkan. Dan kalau Tuhan memberi kemenangan kepada saya, mereka akan masuk Islam secara beramai-ramai. Tetapi jika itupun belum mereka lakukan, mereka pasti akan berperang. Sebab mereka mempunyai kekuatan. Quraisy mengira apa.

“Saya akan terus berjuang. Demi Allah. Atas dasar yang diutuskan Allah kepada saya sampai nanti Allah memberi kemenangan atau sampai leher ini putus terpenggal,” kata Nabi.

Anwar Hudijono

Referensi:
Muhammad Husain Heikal, Sejarah Hidup Muhammad, Tintamas Indonesia 1978.
Dr Ali Shariati, Haji, Penerbit Pustaka Bandung 1995.

Rompi Hitam & Gagap Reformasi Birokrasi Kota Malang.

Dito Arief Nurakhmadi
(Alumni FIA UB – Alumni Tugu 1A)

Beberapa waktu belakangan ini cukup menarik wacana yang dilontarkan oleh Walikota Malang, Drs. H Sutiaji terkait pengenaan Rompi Hitam untuk ASN yang kinerjanya buruk, yang secara teknis bahkan akan diatur melalui Peraturan Walikota sebagai payung hukum.
Sebuah gagasan yang menarik tentunya, mengingat tahun 2020 sesuai dengan dokumen RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) memang telah dicanangkan oleh Pemkot Malang pemberlakuan tunjangan kinerja daerah (TKD) bagi para ASN, dimana pemberlakuan reward dan punishment mulai diberlakukan, serta komitmen menghilangkan komponen belanja pegawai dalam alokasi belanja langsung di APBD Kota Malang.
Beberapa gagasan inovatif dalam tata kelola birokrasi Pemkot Malang pun sudah dilakukan melalui mekanisme Lelang Jabatan dan Lelang Kinerja yang konon Kota Malang menjadi satu-satunya daerah yang pertama menerapkan mekanisme (Lelang Kinerja) tersebut. Namun pertanyaannya kemudian, sejauh mana gagasan gagasan tersebut telah secara efektif memberikan dampak dan hasil terhadap peningkatan kinerja dan pelayanan publik Kota Malang setelah hampir 1 tahun berjalan ??
Pertanyaan lain yang mengemuka adalah apa saja kemudian kriteria dan standart dalam lelang kinerja dan penentuan lelang jabatan yang dilakukan, karena semenjak gagasan tersebut disampaikan di November 2018 kemarin, publik belum tahu ukuran-ukuran tersebut. Publik hanya tahu setelah digaung-gaungkan bahwa gagasan Lelang Kinerja Pemkot Malang telah berhasil memperoleh penghargaan Government Award 2019 Sindo Weekly (MNC Group/Swasta) kategori inovasi birokrasi di bulan Mei 2019 kemarin.
Menyoal ukuran lelang kinerja, perangkat daerah dalam lingkup Pemkot Malang, memiliki karakteristik yang berbeda-beda, memiliki tupoksi (tugas pokok dan fungsi) yang berbeda dan memiliki kebijakan pengelolaan anggaran (APBD) yang tentunya berbeda-beda, sesuai dengan prioritas pembangunan dan arah kebijakan Kepala Daerah yang tercantum dalam RPJP, RPJMD maupun RKPD. Sehingga akan menjadi tidak proporsional bilamana ukuran-ukuran kinerja antar OPD tidak sesuai dengan “nyawa’ yang mereka miliki. Ukuran kinerja yang terkait pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan tentu berbeda dengan ukuran kinerja layanan administrasi pemerintahan, kependudukan, pengentasan masalah sosial ataupun masalah penegakan perda. Belum lagi ukuran kinerja bagi perangkat daerah yang berhubungan dengan PAD (Pendapatan Asli Daerah) dan pengelolaan BUMD.
Salah satu problem mendasar perangkat daerah Kota Malang adalah dalam hal perencanaan, sehingga kemampuan serapan anggaran dan inovasi dalam perencanaan program yang efektif, efisien dan berdampak belum banyak dirasakan oleh Publik. Saya kira peningkatan Kompetensi SDM harus menjadi perhatian serius. Penerapan kebijakan Merit Sistem yang sering dilontarkan Walikota harus benar-benar dilaksanakan dengan konsisten. Karena Berdasarkan Peraturan Presiden No.81 Tahun 2010 Tentang Grand Design Reformasi Birokrasi 2010-2025, terdapat 10 Prinsip dalam melaksanakan Reformasi Birokrasi, diantaranya adalah Terukur dan Konsisten.
Maka saya pikir, memaknai gagasan Rompi Hitam cukup dimaknai sebagai Lips Service Kepala Daerah ke publik dan ungkapan meden-medeni kepada bawahannya, yang menurut saya tidak perlu gagap dalam merespon fenomena reformasi birokrasi yang lambat di lingkup Pemkot Malang.

Musibah Kubro Sepak Bola, Mengapa Mesti Terjadi?

Menko PMK Muhadjir Effendy menjenguk korban musibah kubro Stadion Kanjuruhan Malang yang dirawat di RS Kepanjen Malang, Ahad (2/10).

Oleh Anwar Hudijono*

Mata dunia saat ini dengan pandangan tajam, nanar dan menyala tertuju ke Indonesia. Tepatnya di Stadion Kanjuruhan yang terletak sekitar 17 kilometer arah selatan Kota Malang.

Pasalnya, di sinilah pada hari Sabtu, 1 Oktober 2022 terjadi musibah kubro, tragedi terbesar dalam sejarah sepak bola dunia. Hampir 200 nyawa melayang, ratusan orang menderita luka-luka, sebagian dalam kondisi kritis menyusul situasi anarkis penonton.

Musibah kubro ini melampaui tragedi terbesar sebelumnya yaitu kerusuhan Stadion Heysel Brussels, 29 Mei 1985 akibat dinding stadion roboh menyusul bentrokan suporter fanatik Liverpool, Inggris dengan Juventus, Italia. Sebanyak 39 nyawa melayang dan 600 luka-luka. Sebanyak 14 suporter dihukum karena pembunuhan.

Baca Juga: Tragedi Kanjuruhan, Manajemen Arema Buka Crisis Center

Musibah kubro Kanjuruhan terjadi dalam pertandingan tuan rumah Arema FC melawan musuh bebuyutannya, Persebaya Surabaya. Pertandingan ini tidak disaksikan suporter Persebaya untuk mengantisipasi bentrokan seperti yang sudah sering terjadi sejak Arema bermarkas di Stadion Gajayana Kota Malang.

Anarkisme pecah ketika pertandingan berakhir 2-3 untuk kemenangan Persebaya. Tiba-tiba penonton seperti banjir bandang dari jebolnya bendungan turun dari tribun membanjiri lapangan hijau. Para pemain, wasit dan kru pertandingan berhasil menyelamatkan diri masuk ke dalam ruang ganti.

Kobaran emosi akibat kekalahan berubah menjadi kepanikan penonton setelah aparat keamanan menyemprotkan gas air mata. Semprotan tidak hanya diarahkan ke arah penonton yang merangsak di lapangan hijau melainkan juga ke arah penonton di tribun.

Baca Juga: PSSI Terjunkan Tim Investigasi Soal Tragedi Kanjuruhan, Arema Terancam Sanksi Berat

Secara psikologis semprotan air mata itu membuat orang takut. Karena takut dan berusaha menjauhi otomatis melakukan dengan tergesa-gesa, bahkan berusaha berlari. Soalnya laju semprotan itu mesti lebih cepat daripada langkah kaki. Apalagi kalau nyemprotnya sambil nggeget untu (menggertakkan gigi).

Nah, semprotan gas air mata inilah yang yang menjadi “primadona” sorotan nitizen. Mengapa aparat mesti menggunakan gas air mata? Bukankah itu tidak sesuai dengan aturan otoritas sepak bola dunia (FIFA)? Kita tunggu polisi menjelaskan ke nitizen. Biasanya polisi itu selalu punya jawaban.

Sementara sistem konstruksi tribun itu memang tidak memungkinkan untuk bergerak cepat. Jalannya hanya cukup satu orang berbaris. Orang yang panik, ketakutan dan tergesa-gesa cenderung kehilangan akal sehat. Disertai sesak napas.

Baca Juga: Kronologi Tragedi Kanjuruhan yang Tewaskan Ratusan Suporter versi Kapolda Jatim

Seandainya penonton tidak melebihi kapasitas tribun pun dalam situasi demikian sulit dihindari apalagi jika sampai melebihi kapasitas. Sangat mungkin terjadi saling dorong, saling desak, saling ringsek, tak peduli orang lain jatuh atau sakit. Situasinya seperti gabah diinteri (ditampi).

Sebenarnya varian masalah Stadion Kanjuruhan itu lebih sederhana daripada Heysel. Tidak ada ada bentrokan suporter kedua tim karena Bonek, suporter Persebaya tidak diijinkan menyaksikan pertandingan. Ini mestinya membuat pengamanan jauh lebih ringan. Coba kalau suporter Persebaya diijinkan, pengamanan terbuka dan tertutup sudah harus dilakukan sejak perbatasan Malang sejauh sekitar 50 km.

Dalam kerusuhan ini tidak ada faktor infrasruktur seperti tembok stadion roboh, fasilitas terbakar. Varian utamanya kan suporter Arema merangsak masuk lapangan hijau sesaat pertandingan usai. Modus semacam itu sebenarnya sudah sangat sering terjadi. Bahkan terjadi di saat pertandingan berlangsung.

Selama ini jika terjadi hal demikian tidak terlalu sulit mengatasinya. Jika tokoh-tokoh Arema kultural seperti Ovan Tobing, Suyitno, Edy Rumpoko berteriak di pengeras suara meminta mereka tertib balik ke tribun, biasanya patuh. Eksistensi tokoh kultural itu tidak bisa digantikan pejabat, politisi. Nah, pada saat kejadian Sabtu itu apakah tokoh kultural semacam itu tidak ada?

Musibah kubro sudah terjadi. Dalam kerangka akuntabilitas publik, masalah ini harus diinvestigasi, diselidiki secara menyeluruh. Yang lebih baik, pemerintah membentuk tim independen dari pelbagai elemen masyarakat dan lembaga yang punya otoritas. Dengan begitu lebih membuat masyarakat percaya. Karena saat ini meyakinkan masyarakat itu seperti menjerang air dengan kompor di lantai sementara cereknya di bubungan rumah.

Untuk para korban musibah kubro Stadion Kanjuruhan, saya menyampaikan duka cita yang mendalam. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Rabbi a’lam (Tuhan Maha Tahu).***

*Anwar Hudijono, wartawan senior tinggal di Sidoarjo. Peraih PWI Jatim Award untuk kategori Tokoh Pers Daerah 2022.(end)

I’tikaf di Jaman Now itu Mengurangi Medsos (1)

Anwar Hudijono. (istimewa)

Oleh: Anwar Hudijono

Kalau puasa Ramadhan itu diibaratkan rumah, maka keberadaan I’tikaf itu pasaknya. Fungsinya untuk memperkuat konstruksi rumah. Kalau rumah tanpa pasak akan mudah goyah, bahkan roboh.

Para ahli fiqih klasik mendefinisikan I’tikaf itu kira-kira begini: suatu aktivitas berdiam di masjid dengan niat hanya untuk melakukan ibadah. Tujuannya untuk menjaga agar ibadah puasa Ramadhan yang dijalani tidak sampai ternoda oleh maksiat dan mungkarat. Agar puasanya tidak hanya mendapatkan haus dan lapar alias sia-sia. Tapi menjadi puasa yang imanan wa ihtisaban (dinafasi iman dan kesadaran).

Mengapa masjid menjadi pilihan I’tikaf? Biasanya pra ahli fiqih klasik menjawab begitulah Rasulullah melakukan. Tapi apakah Rasulullah hanya melakukan I’tikaf di masjid? Bukankah Rasulullah mengisi malam-malamnya dengan beribadah di rumah degan qiyamul Ramadhan, tadarus bersama Jibril, berdzikir. Apa itu bukan I’tikaf?

Demikian pula ketika Rasulullah menyendiri beribadah hampir sepanjang malam di padang Badar menjelang Perang Badar di bulan Ramadhan tidak termasuk I’tikaf?

Pertanyaan apakah I’tikaf harus di masjid ini relevan dengan kondisi saat kehidupan global dilanda ujian Covid-19. Banyak masjid tutup. Membatasi jam buka. Mengurangi kapasitas jamaah. Bahkan pemerintah membatasi jamaah masjid dari tingkat umat ke tingkat komunitas. Artinya masjid hanya boleh menerima warga muslim di sekitarnya atau jamaah tetap belaka. Lama-lama tata jamaah masjid jadi mirip tempat ibadah lain.

Di musim Covid-19 ini dianjurkan stay at home. Bahkan shalat pun dianjurkan di rumah. Menghindari kerumunan, dan jaga jarak sosial.

Padahal biasanya di malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir Ramadhan, umat ramai-ramai I’tikaf di masjid untuk meraih lailatul qadr. Sampai masjid penuh sesak. Artinya sulit jaga jarak dan kerumunan.

Seyogyanya ara ahli fiqih kontemporer segera melakukan ijtihad atau apapun istilahnya tentang ini. Hal ini perlu agar umat selamat dari tuduhan sebagai biang kerok penyebaran Covid-19. Bahkan ramai-ramai dipidana karena melanggar prokes.

Sekali lagi monggo para fuqaha kontemporer menjelaskannya. Semoga jawabannya bukan: adharuratu tubihul mahdlurat (keadaan darurat itu membolehkan tindakan yang bersifat darurat). Kalau jawabannya begitu mah biasa saja. Harus jawaban yang keren banget gitu lo.

Sebab ada trend menjadikan istilah darurat Covid-19 sebagai alasan yang tidak benar dan rasional. Boleh berbuat tidak adil karena alasan Covid-19. Boleh nyolong uang rakyat karena Covid-19. Boleh semena-mena demi Covid-19. Wis .. angel .. angel.

Saya tidak memiliki kapasitas dan kredibilitas menjawabnya. Kalau cuma bertanya kan tidak apa-apa. Kerjaan orang awam itu ya bertanya, atau sami’na wa atha’na kepada para ulama ahlinya. Tidak usah kemenyek berijtihad sendiri. Nanti malah melenceng jadi ruwaibidhah, orang bodoh yang mau sok pintar lantas mencampuri yang bukan ranah intelektualitasnya.

Memang di jaman now ini ada yang terbalik. Orang bodoh merasa pintar. Orang pintar pindah jadi bodoh. Contohnya orang bergelar akademik tinggi, memilih nggedabrus di medsos daripada membuat kajian analisis di media massa. Apalagi menulis buku. Guru besar turun derajat jadi buzzer. Tapi itu tidak di Indonesia lo. Adanya di negara Ngastina sana.

Hawa Nafsu

Jika merunut pandangan para ahli fiqih klasik, misi utama I’tikaf itu di samping mengumpulkan ganjaran sebanyak-banyaknya, mendekatkan diri kepada Allah, juga sebagai tindakan melindungi puasa agar tidak ternoda, apalagi rusak, bahkan batal. I’tikaf itu memperkuat batin.

Intinya, I’tikaf itu kan proses mengurangi dan mencegah rangsangan-rangsangan dari luar yang dapat menaikkan intensitas hawa nafsu individual seperti marah, iri dan dengki, rasan-rasan alias ghibah, mencela, keinginan liar, ujub (mengagumi diri sendiri), pamer alias riak, seksual dan sebagainya. Juga hawa nafsu dalam konteks sosial seperti serakah kekuasaan (melik nggendhong lali), korupsi, menindas, merusak lingkungan, memproduksi maupun mengkonsumsi riba, tidak adil dan sebagainya.

Mirip-miriplah dengan tirakat dalam tradisi Jawa yaitu mepek babahan hawa sanga. Artinya, mengendalikan sembilan lobang pada tubuh manuia. Sembilan lobang itu menjadi jalan liar hawa nafsu. Yaitu, mulut satu, mata dua, hidung dua, telinga dua. Selebihnya saya lupa.

Dan substansi puasa Ramadhan sendiri adalah mengendalikan hawa nafsu. Haus dan lapar serta seksual itu hanya bagian kecil hawa nafsu. Itu unsur hawa nafsu hewaniah. Yan berat itu hawa nafsu asli manusia yaitu fasad (berbuat kerusakan): despotisme politik, materialisme ekonomi, dan liberalisme sosial. Ketiganya disebut trilogy fasad.

Ditambah hawa nafsu syaithaniyah yaitu pengingkaran terhadap hukum-hukum dan ketentuan Tuhan. Jika jalan Tuhan itu minal dhulumat ila an-nur (dari gelap menuju terang), hawa nafsu syaithainiyah ini min an-nur ilal dhulumat (dari terang menuju gelap).

Mengapa hawa nafsu harus dikendalikan? Jawabnya ada di Quran surah Sad (38): 26. “…. Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan Hari Perhitungan.”

Rabbi a’lam (Tuhan lebih tahu).

Anwar Hudijono,
Kolumnis tinggal di Sidoarjo.

Mekanik Moral Semakin Berat

Oleh: Naim M.Pd

Kita sebagai insan pendidik memiliki tanggung jawab yang sangat besar, tanggung jawab selain mentransfer pengetahuan (knowledge), moral (ahlak) juga sikap (attitude) kepada peserta didik agar kelak mereka menjadi generasi penerus bangsa yang unggul dan berkarakter baik, sehingga dengan generasi yang unggul dan memiliki karakter yang baik “generasi old” merasa tidak khawatir tentang masa depan bangsa ini, faktanya memang cukup miris, membuat pemerharti dan pegiat pendidikan menangis, karena merasa gagal dalam mendidik moral yang selama ini telah ditanamkan pada peserta didiknya.

Kekhawatiran para pendidik mengenai moral generasi penerus dan masa depan bangsa ini sangat mendasar, betapa tidak beberapa tahun terakhir banyak anggota legislatif, yudikatif bahkan eksekutif yang melakukan tindakan melawan hukum, beberapa diantaranya ialah (1) kasus korupsi Jiwasraya, (2) kasus korupsi Asabri, (3) kasus korupsi pembelian gas bumi Sumsel, (4) kasus korupsi Djoko Tjandra dan jaksa Pinangki, (5) kasus korupsi berjamaah yang dilakukan angota DPR Kota Malang, (6) kasus korupsi Bupati Penajam Paser Utara, dan yang terbaru dan sangat mengejutkan masyarakat Indonesia adalah (7) korupsi minyak goreng dan masih banyak lagi.

Dalam situasi begini, bisa-bisanya pejabat negara tega melakukan tindakan korupsi dan implikasinya jelas sangat dirasakan oleh masyarakat Indonesia, bahkan ada beberapa warga yang meninggal gara-gara mengantri untuk mendapatkan minyak goreng.

Dengan kasus korupsi di atas, jelas menambah cerita panjang tentang kebobrokan moral pejabat di Negara Indonesia, kalau kita flashback ke belakang seakan-akan tindakan pidana korupsi ini tidak akan pernah ada habisnya dari negeri Indonesia ini, mereka tidak pernah jera dan parahnya lagi mereka tidak merasa malu ketika ditetapkan tersangka, mereka masih bisa tersenyum seolah mereka bangga dengan perbuatannya.

Fenomena di atas menyadarkan para pendidik, betapa beratnya menjadi mekanik moral di Indonesia, sejujurnya nilai-nilai moral, memiliki budaya rasa malu, sifat jujur yang telah ditanamkan sejak anak-anak atau bahkan sejak berada dalam kandungan juga telah dilakukan oleh para orangtua, namun semua itu terasa sirna dan sia-sia saja ketika melihat tingkah laku para pejabat negara mengeyampingkan moral dan budaya malunya demi memperkaya diri dengan merampas dan mengorbankan rakyat kecil sebagai tumbal keserakahan mereka.

Dari sini para pendidik akhirnya juga sadar, bahwa untuk memperbaiki moral demi masa depan yang gemilang itu tidak hanya cukup dengan mendepankan moral generasi bangsa, namun harus diimbangi dengan seperangkat hukum yang mengikat kepada semua rakyat Indonesia dan tentu saja aplikasi dari seperangkat hukum itu tidak tebang pilih, tidak memandang si kaya dengan si miskin, rakyat kecil dengan pejabat, rakyat yang buta huruf dengan pejabat yang pakar hukum maupun yang lainnya. siapa dan apapun jabatannya maka harus diperlakukan sama, karena jika ada perbedaan perlakuan sedikit saja bagi pelaku tindak kejahatan maka bisa dipastikan kejahatan di atas muka bumi ini tidak akan pernah tuntas.

Penulis tidak berlebihan jika mengatakan hukum di Indonesia itu tumpul ke atas dan tajam ke bawah, semua orang pasti tahu jika orang yan beruang hukumannya pasti lebih ringan dibandingkan denan masyarakat kecil, dari segi fasilitas yang diberikan oleh lembaga permasyarakatan pun juga berbeda antara pelaku korupsi dengan pelaku pencurian kayu yang dilakukan oleh masyarakat kecil. Para koruptor bebas menikmati berbagai fasilitas mewah dalam penjara, bahkan ada yang mengatakan wajar saja pelaku korupsi di Indonesia tidak pernah tuntas, karena saat masuk penjara pun mereka seolah-olah hanya pindah kamar tidur, secara hukum mereka memang status tahanan namun para koruptor tetap bebas tertawa dengan segala fasilitas yang mewah.
kalau saja ketegasan para penegak hukum di Indonesia tidak dapat dibeli tentu saja ada efek jera pada mereka, sehingga mereka akan takut untuk melakukan kejahatan yang serupa dan bagi pejabat yang lain akan berfikir banyak kali jika akan melakukan kejahatan seperti yang dilakukan para pendahulunya. Jika itu benar-benar terjadi maka tugas para pendidik moral kepada generasi bangsa ini tentu lebih ringan karena mendapat dukungan penuh khususnya dari penegak hukum.

Namun demikian, perjuangan pendidik moral akan terus berusaha dan berjuang untuk membumikan “moral dan budaya malu” agar moral tidak punah dari peradaban manusia, karena jika moral telah punah maka negara itu sudah berada diambang kehancuran, karena jika moral tidak ada maka yang berlaku ialah hukum rimba, siapa yang kuat maka dia yang berkuasa, dan saat ini sudah ada tanda-tanda menuju kearah itu. Untuk itu para mekanik moral jangan pernah menyerah untuk terus belajar dan berjuang agar kelak orang-orang yang bermoral ini bisa menggantikan pejabat yang saat ini tidak memiliki moral.

Profil penulis
Naim, M.Pd (dosen Pendidikan Ekonomi Universitas PGRI Kanjuruhan Malang)
Dewan Pertimbangan HMPS Pend. Ekonomi Universitas PGRI Kanjuruhan Malang.
Sekjen Yayasan Putra Khatulistiwa Malang (YPKM).
Sekretaris IARMI Dewan Pimpinan Kota Malang.
Owner Konveksi Wira@lhamd Malang.

Diet Pada Penyakit Ginjal Kronik

Ilustrasi saat ginjal terasa sakit

Oleh: DR. Etik Sulistyowati, SST, SGz,MKes*

Peringatan World Kidney Day merupakan sebuah kampanye global untuk menyadarkan tentang pentingnya ginjal bagi kesehatan.

Ginjal merupakan salah satu organ penting bagi tubuh yang harus selalu dijaga kesehatannya.

Penyakit ginjal dapat disebabkan karena adanya gangguan fungsi ginjal yang dapat terjadi ketika tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan, serta elektrolit sehingga menyebabkan retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah.

Satu di antara penyakit ginjal kronis adalah penyakit gagal ginjal. Penyakit gagal ginjal adalah suatu penyakit dimana fungsi organ ginjal mengalami penurunan hingga akhirnya sama sekali tidak mampu bekerja dalam hal penyaringan pembuangan elektrolit tubuh, menjaga keseimbangan cairan dan zat kimia tubuh, seperti sodium dan kalium di dalam darah atau produksi urin.

Menurut Price dan Wilson (2012), berdasarkan perjalanan klinis, gagal ginjal dapat dibagi menjadi 3 stadium, yaitu Stadium I (penurunan cadangan ginjal), Stadium II (insufisiensi ginjal), dan Stadium III (gagal ginjal stadium akhir atau uremia).

Beberapa gejala dari penyakit ginjal sendiri yaitu terdapat keluhan mual, muntah, dan tidak nafsu makan. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 12,5% pasien mengeluhkan mual, sedangkan sisanya tidak mual.

Sebanyak 8 pasien (7,7%) mengalami muntah, sementara 96 pasien (92,3%) tidak mengalami muntah. Sebanyak 14 pasien (13,5%) tidak nafsu makan (anoreksia) dan 90 pasien (86,5%) tidak mengeluhkan anoreksia.

DR. Etik Sulistyowati, SST, SGz,MKes Dosen Jurusan Gizi Potekkes Malang.(mvoice/ist)

Hal yang perlu dilakukan untuk mencegah penyakit ginjal kronis adalah sebagai berikut:
• Melakukan pengendalian tekanan darah
• Melakukan kontrol diabetes
• Menghindari agen nefrotoksik
• Melakukan diet (menghindari diet protein tinggi> 1,3 /kg/hari) dan asupan garam yang rendah (natrium <90 mmol atau <2 g/hari)
• Modifikasi gaya hidup

Nah, sebagai seorang Ahli Gizi kita mengenal Diet Rendah Protein untuk penderita penyakit ginjal.

Apa Diet Rendah Protein itu? Apa setiap penderita penyakit ginjal harus mendapatkan diet rendah protein?

Tidak semua penderita ginjal harus mendapatkan diet rendah protein. Diet rendah protein diberikan kepada penderita penyakit ginjal yang dengan diet konvensional.

Jika penderita penyakit ginjal sudah dengan terapi pengganti (missal dengan hemodialis atau dialisis peritoneal) maka dietnya berganti menjadi Diet Tinggi Protein

Diet Rendah Protein
Diet rendah protein adalah pola makan yang membatasi protein dari makanan atau konsumsi sehari-hari. Pada diet ini, asupan proteinnya lebih rendah dari kebutuhan normal.

Diet rendah protein diberikan kepada seseorang yang mengalami penurunan fungsi ginjal menahun atau penyakit gagal ginjal kronis.

Pasien gagal ginjal memang harus menjaga pola makannya dengan cukup ketat.

Hal tersebut disebabkan banyak makanan yang mungkin bergizi untuk orang yang tidak mengidap gagal ginjal justru bisa memperparah kondisi penyakit ini.

Tujuan diet ini menurut Kementerian Kesehatan RI yaitu:
• mencukupi kebutuhan zat gizi agar sesuai dengan fungsi ginjal,
• mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit,
• memperlambat penurunan fungsi ginjal lebih lanjut, serta
• menjaga stamina agar pasien dapat beraktivitas normal.

Mengapa pasien gagal ginjal harus membatasi asupan protein?
Membatasi asupan protein pada pasien gagal ginjal bukanlah tanpa sebab. Protein yang Anda konsumsi akan dicerna dan dipecah menjadi asam amino oleh tubuh dengan bantuan enzim sistem pencernaan.

Proses pencernaan protein akan dimulai dari lambung lalu berlanjut ke usus. Asam amino yang dicerna oleh tubuh akan lantas dibawa oleh aliran darah dan dikirim ke seluruh bagian tubuh yang membutuhkan.

Tubuh sendiri membutuhkan jumlah asam amino berbeda tergantung jenisnya. Protein yang selesai dicerna akan diproses oleh ginjal dan dibuang jika tidak diperlukan lagi.

Zat pembuangan hasil pencernaan protein yang dikeluarkan oleh ginjal yaitu urea pada urine (air kencing). Semakin banyak protein dicerna tubuh, semakin banyak pula asam amino yang disaring oleh ginjal dan membuat ginjal bekerja lebih keras.

Hal tersebut akan berbahaya bagi pasien gagal ginjal kronis yang ginjalnya sudah tidak bisa berfungsi dengan baik. Inilah alasannya kenapa pasien gagal ginjal harus membatasi asupan protein.

Macam Diet Rendah Protein
Dari buku Penuntun Diet dan Terapi Gizi, persagi, AsDi yang diterbitkan oleh EGC, macam diet Rendah Protein , dibedakan menjadi:
1. Diet Rendah Protein I
Diet rendah protein I mengandung 30 gram protein per hari. Diberikan kepada pasien dengan berat badan 50 kg.

2. Diet Rendah Protein II
Diet rendah protein II mengandung 35 gram protein per hari. Diberikan kepada pasien dengan berat badan 60 kg.

3. Diet Rendah Protein III
Diet rendah protein III mengandung 40 gram protein per hari. Diberikan kepada pasien dengan berat badan 65 kg.

Dengan mengurangi asupan protein dapat meringankan beban kerja hati dan ginjal. Selain itu, diet ini dapat membantu meningkatkan metabolisme protein dan mencegah penumpukan urea dalam aliran darah. Beberapa penelitian mengaitkan kadar urea yang tinggi dalam darah dengan risiko diabetes tipe-2 dan gagal jantung.

Bagaimana cara diet rendah protein?
Anjuran pola diet ini bisa bervariasi tergantung dari kondisi kesehatan pasien secara umum, jenis gangguan ginjal yang dialami, obat-obatan yang sedang dikonsumsi, dan banyak lagi faktor lainnya.

Sebab itu, lebih tepat bila pasien berkonsultasi langsung dengan dokter, dokter spesialis penyakit dalam, atau ahli gizi agar dijelaskan seperti apa pengaturan pola diet yang tepat sesuai dengan kondisi pasien.

Makanan berikut ini dikategorikan sehat dan aman untuk pasien gagal ginjal:
• Buah rendah protein: apel, pisang, pir, anggur, dan lain-lain
• Sayur rendah protein: tomat, asparagus, brokoli, dan sayuran hijau lain
• Sumber karbohidrat: nasi, roti, makaroni.
• Lemak sehat: alpukat, minyak zaitun, dan minyak kelapa

Sebaliknya, berikut adalah makanan yang sebaiknya dihindari oleh pasien gagal ginjal karena berprotein tinggi:
• Daging ayam dan sapi
• Ikan
• Telur
• Produk susu dan olahannya seperti keju dan yogurt
• Kacang kedelai dan olahannya seperti tempe dan tahu
• Kacang-kacangan seperti almond dan kenari
• Biji-bijian seperti chia seed, flaxseed, dan hemp seed.

Di bawah ini contoh menu makanan rendah protein yang dapat Anda sajikan untuk pasien gagal ginjal, menu rendah protein ini disusun oleh ahli gizi dalam menyajikan makanan untuk pasien gagal ginjal.

Sarapan:
• Nasi putih
• Tumis ayam paprika
• Cah sawi putih
• Snack buah melon
Makan siang:
• Kentang ongklok
• Fish barbeque
• Corn soup
Makan malam:
• Nasi putih
• Garang asem ikan
• Tumis labu siam

Tidak semua pasien penyekit ginjal harus diet rendah protein. Jika pasien sudah dengan terapi pengganti misal hemodiaisis dan adekuat hemodialisisnya, pasien bisa mengkonsumsi protein dalam jumlah lebih tinggi.

Anjuran protein cukup tinggi yaitu 1-1,2 gram/Kg berat badan. Sumber protein berasal dari 50% hewani (daging, ayam, ikan, telur) dan 50% nabati (tahu, tempe). Garam merupakan sumber utama sodium/natrium. Waspada terhadap natrium yang ada di makanan kaleng dan makanan awetan

Pengaturan zat gizi makro pada diet Hemodialisis(HD)
▪ Energi
Ketika fungsi ginjal menurun, asupan energi pun cenderung menurun. Kebutuhan energi pada penderita GGK sebesar 30-35 kkal/kgBB/hari.
▪ Protein
Pada diet hemodialisis menurut pedoman NKF K/DOQI sebesar 1,0-1,2 gram protein/kgBB dapat diperoleh dari protein dengan nilai biologis tinggi seperti telur, susu, hati sapi, daging sapi, dan kedelai. Pengidap GGK dengan uremia mengalami kelainan dalam pengecapan rasa makanan sehingga dapat ditambahkan bumbu pada pengolahan protein.
▪ Lemak
Pengidap GGK yang menjalani terapi HD biasanya memiliki LDL normal, HDL rendah, dan peningkatan level trigliserida sehingga untuk kebutuhan lemak dapat mengikuti pedoman dari diet Therapeutic Lifestyle Changes (TLC) yaitu dengan mengonsumsi lemak 25% dari energi, lemak jenuh <7% dari energi, PUFA <10% dari energi, MUFA <20% dari energi, dan kolesterol <200 mg/hari. Pembatasan tersebut disebabkan risiko penyakit arteri koroner cenderung meningkat pada HD.
▪ Karbohidrat
Pemilihan karbohidrat kompleks dipertimbangkan karena waktu cernanya yang lebih lama dan kenaikan glukosa darah yang lebih lambat saat setelah dikonsumsi dibandingkan dengan efek konsumsi karbohidrat sederhana. Serat pada penyakit ginjal memiliki peran khusus untuk menurunkan kadar plasma urea tanpa harus mengurangi konsumsi protein dengan cara mengurangi produksi amonia oleh mikroba usus besar sehingga produk urea yang diproduksi hati lebih sedikit.
▪ Cairan
Kebutuhan cairan pada pasien HD bersifat individual dihitung dengan cara Insensibel Water Loss (IWL) 15 ml/kgBB (705ml) + jumlah output urin. Pada pasien HD perlu adanya pembatasan cairan karena cairan yang terlalu banyak dapat menyebabkan perubahan volume darah secara tiba-tiba dan hipotensi selama terapi HD.

Pengaturan zat gizi mikro pada diet HD
▪ Kalium
Konsumsi kalium pada pengidap GGK dengan HD dibatasi yaitu 2-3 gram/hari karena apabila terjadi hiperkalemia dapat menimbulkan aritmia fatal. Dengan pembatasan tersebut, maka pengidap GGK dengan HD dianjurkan mengonsumsi makanan rendah kalium seperti apel, anggur, jeruk mandarin, pir, stroberi, semangka, kubis, kembang kol, terong, selada, dan jamur.

▪ Natrium
Natrium merupakan kontributor utama yang menentukan besar atau tidaknya osmolalitas serum dan dapat meningkat pada pengidap dengan HD dikarenakan asupan natrium yang berlebih dan dapat berujung pada komplikasi kardiovaskuler akut dan kronis, sehingga perlu pembatasan natrium sekitar <1500 m g/hari. Selain itu, asupan natrium berlebih dapat meningkatkan rasa haus, menyebabkan hipertensi, dan meningkatkan osmolalitas yang berujung pada perubahan GFR.

▪ Fosfor
Hiperfosfatemia adalah salah satu komponen dari GGK, bahkan prevalensinya pada pasien HD cukup tinggi yaitu sebesar 50% yang disebabkan oleh diet tinggi protein yang dijalani dan adanya gangguan metabolisme mineral yang berhubungan dengan penurunan fungsi GFR. Hiperfosfatemia dapat meningkatkan risiko kematian karena meningkatkan risiko penyakit kardiovaskuler, sehingga perlu adanya pembatasan konsumsi fosfor sebesar <800 mg/hari.

▪ Asam folat
Asam folat diberikan pada pasien GGK yang memerlukan hemodialisis karena saat proses hemodialisis, pasien akan kehilangan vitamin larut air melalui membran dialisis. Pemberian asam folat sebesar 2-5 mg/hari untuk menghambat penurunan laju filtrasi glomerolus. Selain itu asam folat mampu memulihkan dan memelihara hematopoiesis yang normal.

Bahan Makanan yang Dianjurkan dan Dibatasi serta Cara Pengolahannya
Diet hemodialisis perlu memperhatikan bahan makanan apa saja yang perlu dibatasi dan terkait cara pengolahan yang aman untuk pasien HD.

Bahan Makanan yang Dianjurkan
1. Sumber Karbohidrat: nasi, bihun, mie, makaroni, jagng, roti, kwethiau, kentang, tepung-tepungan, madu, sirup, permen, dan gula.
2. Sumber Protein Hewani: telur, susu, daging, ikan, ayam.
3. Bahan Makanan Pengganti Protein Hewani Hasil olahan kacang kedele yaitu tempe, tahu, susu kacang kedele, dapat dipakai sebagai pengganti protein hewani untuk pasien yang menyukai sebagai variasi menu atau untuk pasien vegetarian asalkan kebutuhan protein tetap diperhitungkan.
4. Sumber Lemak: minyak kelapa, minyak jagung, minyak kedele, margarine rendah garam, mentega.
5. Sumber Vitamin dan Mineral
6. Semua sayur dan buah, kecuali jika pasien mengalami hiperkalemi perlu menghindari buah dan sayur tinggi kalium dan perlu pengelolaan khusus yaitu dengan cara merendam sayur dan buah dalam air hangat selama 2 jam, setelah itu air rendaman dibuang, sayur/buah dicuci kembali dengan air yang mengalir dan untuk buah dapat dimasak menjadi stup buah/coktail buah.

Bahan Makanan yang Dibatasi
1. Hindari sayur dan buah tinggi kalium jika pasien mengalami hiperkalemi. Bahan makanan tinggi kalium diantaranya adalah bayam, gambas, daun singkong, leci, daun pepaya, kelapa muda, pisang, durian, dan nangka.
2. Hindari/batasi makanan tinggi natrium jika pasien hipertensi, udema dan asites. Bahan makanan tinggi natrium diantaranya adalah garam, vetsin, penyedap rasa/kaldu kering, makanan yang diawetkan, dikalengkan dan diasinkan.

Cara Pengolahan
1. Semua sayuran harus dimasak dan tidak dianjurkan dimakan dalam keadaan mentah (lalapan)
2. Bila harus membatasi garam, gunakanlah lebih banyak bumbu-bumbu seperti gula dan bumbu dapur lain
3. Untuk mengurangi kadar kalium dalam bahan makanan sebaiknya dipotong-potong kecil terlebih dahulu, kemudian direndam dalam air hangat minimal selama 2 jam Air perendaman dibuang dan bahan makanan dicuci dalam air mengalir selama beberapa menit. Setelah itu masaklah (terutama sayuran dan umbi-umbian)
4. Untuk membatasi banyaknya cairan dalam makanan masakan lebih baik dibuat dalam bentuk tidak berkuah seperti ditumis, dipanggang, dikukus, dibakar, dan digoreng
5. Cairan lebih baik diberikan dalam bentuk minuman segar
Contoh Menu Hemodialisis

Pasien HD perlu mengkonsumsi makanan dalam porsi kecil sering (small frequent feeding). Berikut contoh rekomendasi menu diet hemodialisis 1 hari yang teridiri dari 3x makanan utama dan 3x selingan dengan total energi 1500 kkal, protein 61 gram, lemak 47 gram, karbohidrat 219 gram, serat 24 gram, kalium 2 gram, natrium 450 miligram, dan fosfor 700 miligram.

Referensi
Aisara, S., Azmi, S. and Yanni, M., 2018. Gambaran Klinis Penderita Penyakit Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Jurnal Kesehatan Andalas, [online] Available at: [Accessed 6 March 2021].
Eprints.poltekkesjogja.ac.id. 2021. [online] Available at: [Accessed 6 March 2021].
Kwek, J. L., & Kee, T. (2020). Annals of the Academy of Medicine, Singapore, 2021. World Kidney Day 2020: Advances in Preventive Nephrology. Pp.175-179.(*)

*Dosen Jurusan Gizi Poltekkes Malang

Carut Marut Tata Kelola Toko Modern Menghilangkan Potensi PAD Pemkot Malang

Oleh: Soetopo Dewangga *

Pembiaran Operasioanl Toko Modern di Kota Malang yang Ilegal berpotensi pada hilangya Penerimaan Asli Daerah ( PAD ) yang cukup besar, meliputi restribusi, pengelolaan parkir dan pajak reklame.

Berdasarkan Peraturan Daerah No 1 Tahun 2011 tentang Restribusi Jasa Umum, yang dimaksud dengan Retribusi Daerah yang selanjutnya disebut Retribusi adalah pungutan Daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.

Sedangkan Obyek Retribusi Jasa Umum adalah pelayanan yang disediakan oleh Pemerintah Daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan.

Selanjutnya pribadi atau badan berkewajiban menyerahkan Surat Setoran Retribusi Daerah yang disebut SSRD sebagai bukti pembayaran atau penyetoran retribusi yang telah dilakukan dengan menggunakan formulir atau telah dilakukan dengan cara lain ke kas daerah melalui tempat pembayaran yang ditunjuk oleh Kepala Daerah.

Struktur dan besarnya tarif restribusi berdasar pasal 18 Perda No 11 Tahun 2011 untuk kategori toko modern, sebagai contoh Golongan III dengan NJOP diatas Rp 500 juta sampai Rp 1 miliar sebesar RP 75.000 setiap bulan. Dengan jumlah toko modern Kota Malang sebanyak 223 unit, kalau diambil rata–rata Golongan III, maka pemasukan tiap bulan dari Restribusi Toko Modern sebesar Rp 16.725.000, dan dalam satu tahun sebesar Rp 200.700.000.
Ketika Operasional Toko Modern tidak berdasarkan pada alas hak yang jelas, bahkan ada indikasi melanggar aturan ketentuan yang ada, maka pertanyaanya adalah, bagaimana Pemerintah Kota Malang dapat memungut restribusi Toko Modern secara transparan dan terukur?
Potensi kehilangan PAD yang ke dua adalah pemasukan dari sarana parkir yang gratis di toko modern. Peraturan Daerah Kota Malang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pengelolaan Tempat Parkir (Lembaran Daerah Kota Malang Tahun 2009 Nomor 2 Seri E); bahwa, Tempat Khusus Parkir adalah tempat yang secara khusus disediakan, dimiliki dan/atau dikelola oleh Pemerintah Daerah atau orang atau badan yang meliputi pelataran/lingkungan parkir, taman parkir dan/atau gedung parkir dan sejenisnya yang dipergunakan untuk tempat parkir.

Jenis–jenis tempat parkir sebagaimana diatur dalam Bab V pasal 8 Perda No 4 tahun 2009 terdiri dari; a. Tempat parkir umum; b. Tempat parkir khusus yang dimiliki atau dikelola oleh orang atau Pemerintah,Pemerintah Propinsi, maupun Pemerintah Daerah; c. Tempat parkir kegiatan insidental; d. Tempat khusus parkir yang dimiliki atau dikelola oleh orang atau badan.

Ketentuan pungutan sebagaimana diatur dalam pasal 16 dan pasal 17 Perda No 4 tahun 2009 tentang Pengelolaan tempat parkir secara nyata tidak ada tempat parkir gratis atau tidak dipungut biaya parkir. Namun dalam praktek hampir semua toko modern di kota malang parkirnya gratis. Jikalau dalam satu hari di toko modern ada terparkir 20 (dua puluh) sepeda motor dan 5 (lima) mobil, maka dalam satu hari potensi kehilangan pemasukan uang parkir sebesar Rp 30.000 dengan asumsi tarif parkir sepeda motor sebesar Rp 1000 dan tarif parkir mobil sebesar Rp 2000.
Dalam satu bulan ( 30 hari kerja ) satu unit toko modern seharusnya ada pemasukan parkir sebesar Rp 900.000, dalam satu tahun Rp 10.800.000. Ketika jumlah toko modern Kota Malang sebanyak 223 unit, jikalau separoh dari jumlah toko modern menyediakan parkir gratis maka total potensi kehilangan pemasukan parkir dengan contoh di atas mencapai sebesar Rp 1.204.320.000.
Tempat Parkir gratis di toko modern dengan tulisan Kendaraan hilang bukan tanggungjawab pengelola juga merugikan bagi konsumen, karena seolah kendaraan yang hilang adalah kelalaian konsumen. Hal ini bertentangan dengan pasal 19 ayat 2, Perda No 4 tahun 2009 yang menyatakan bahwa; Setiap petugas parkir yang karena kesengajaan sehingga menyebabkan hilangnya kendaraan yang di parkir dapat di tuntut hukuman pidana dengan delik aduan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.

Bahkan, dengan tegas dalam BAB XI Perda No 8 tahun 2009 tentang ketentuan pidana pasal 20, ayat 1 menyatakan bahwa; Pelanggaran terhadap ketentuan dalam Pasal 12, diancam pidana kurungan selama lamanya 3 (tiga) bulan atau denda setinggi-tingginya Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).

Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Malang Nomor 16 Tahun 2010 tentang Pajak Daerah (Lembaran Daerah Kota Malang Tahun 2010 Nomor 2 Seri B, Tambahan Lembaran Daerah Kota Malang Nomor 12); maka potensi kehilangan PAD yang ketiga adalah dari Pajak Reklame, berdasarkan Peraturan wali kota Nomor 32 Tahun 2013 tentang perubahan atas peraturan Walikota Malang Nomor 20 Tahun 2013 tentang tata cara pembayaran, penyetoran, tempat pembayaran, angsuran dan penundaan pembayaran pajak daerah, pasal (47) ayat (5) menyatakan bahwa, Pajak Reklame disetor oleh Penyelenggara Reklame/Pemegang Merk ke Kas Daerah melalui tempat pembayaran pada Dinas Pendapatan Daerah saat menyelenggarakan reklame.

Dalam lampiran Perwali tersebut tertera tentang tarif reklame untuk jenis neon box dengan tarif pajak reklame tetap dengan masa pajk 1 (satu) tahun, jenis klasifikasi jalan A sebesar Rp 750.000, klasifikasi jalan B sebesar Rp 705.000, klasifikasi jalan C sebesar Rp 660.000 dan klasifikasi jalan C sebesar Rp 615.000. Jika kita ambil contoh titik tengah dengan klasifikasi jalan C sebesar Rp 660.000, maka potensi pemasukan reklame neon box dari toko modern sebesar Rp 147.180.000.
Toko Modern di Kota Malang juga sering memproduksi selebaran, leaflet/brosur berwarna yang dalam lampiran Perwali No 32 tahun 2013, untuk satu kali penyelanggaraan dengan jumlah 12.000 lembar, tarif pajak reklame sebesar Rp 2.400.

Dari uraian di atas dan terkait dengan tulisan sebelumnya tentang carut marutnya tata kelola toko modern di kota malang, maka seharusnya Pemerintah Kota Malang segera menyusun Peraturan Daerah Khusus tentang Tata Kelola Toko modern dan perlindungan terhadap toko tradisional/ pasar tradisional sehingga tercipta iklim usaha yang kondusif yang berkeadilan. (Bersambung)

*Soetopo Dewangga, Ketua Pemuda Demokrat Indonesia Kota Malang.

Piala Dunia Qatar 2022, Sepakbola Identitas, dan Buzzerokrasi

Anwar Hudijono.(Mvoice/dok pribadi)

Oleh Anwar Hudijono*

Maroko harus mengakui keunggulan gurunya, Perancis di semifinal Piala Dunia Qatar 2022 setelah kalah 0-3. Kekalahan bukan berarti kehilangan segala-galanya. Maroko masih meraih gains (keuntungan) berupa citra sebagai tim sepak bola berkeadaban.

Lihatlah saat menang tidak jumawa, apalagi merendahkan dan menghina lawan. Saat kalah tidak ngamuk . Menang kalah tetap melakukan sujud syukur di lapangan. Mencerminkan sikap narimo ing pandum (menerima apapun pemberian) Tuhan. Karena mereka meyakini semua yang terjadi di atas bumi itu bi idznillah (atas izin Allah).

Di tengah gegap gempita pesta pora sepak bola dunia, Maroko mengingatkan bahwa di belahan dunia lain masih ada tangis pilu rakyat Palestina yang menyayat hati karena penindasan, penjajahan dan aksi terorisme oleh Israel.

Baca Juga:
Cabor IODI Harapkan Ketua KONI Kota Malang Punya Pengalaman Bidang Olahraga

Ketua Cabor ESI Beri Saran Jelang Musorkot KONI Kota Malang

Arema Tidak Siapkan Strategi Khusus Lawan Persita

Mengingatkan bahwa dunia harus berkeadilan. Barat selama ini tidak adil. Mereka sangat keras meneriakkan hak asasi manusia (HAM) tapi pada sisi lain tutup mata atas tindakan pembasmian etnis yang terjadi di Palestina. Barat meneriakkan perdamaian, tetapi di sisi lain terus merojoki Ukrania dengan utangan senjata untuk melawan Rusia.

Barat kencang meneriakkan perdamaian dunia tapi pada sisi lain mengobrak abrik Suriah. Menyerpih-nyerpih Yugoslavia hingga sekarang belum selesai. Mereka mengangkangi Irak, Libya. Membiarkan Israel memproduksi nuklir dan senjata pemusnah massal lain, sementara terus menghardik-hardik dan menfitnah Iran. “Barat munafik,” kata Presiden FIFA Gianni Infantino.

Maroko mencerahkan. Maroko mengingatkan. Maroko melakukan ajakan kebaikan dan mencegah kemungkaran (amar makruf nahi mungkar). Maroko memberi contoh bagaimana menjunjung tinggi sportivitas.

Baca Juga:
Penyandang Disabilitas Diedukasi #Cari_Aman Berkendara Bareng MPM Honda

Kapolresta Malang Kota Jadi Chef Dadakan, Masak Spesial untuk Anggota Purnabakti

Imigrasi Malang Deportasi 8 WNA, Didominasi Overstay

Maroko terkesan mengimplementasikan ajaran – minimal sejalan dengan – Albert Camus, filosuf Perancis, menjadikan sepak bola sebagai sumber nilai sportivitas. “Kalau mau mendapatkan sportivitas, belajarlah kepada sepakbola,” kata Camus yang mengawali kariernya sebagai filusuf justru dari sepakbola.

Seperti ditulis Wikipedia, sportivitas adalah nilai etis yang dijunjung sebagai prinsip bagi setiap insan olahraga untuk mengacu pada perilaku penghormatan, pengakuan dan toleransi hak-hak sesama insan olahraga yang menciptakan persaingan positif tanpa merugikan pihak lain atau tanpa berlaku curang, baik di dalam pertandingan maupun di luar pertandingan.

Lihat saja, bagaimana para pemain Maroko menyalami bahkan memeluk pemain Perancis yang mengalahkannya. Suporternya memang sedih tapi sebentar juga sudah ikhlas menerima kekalahan. Tidak seperti suporter Belgia yang ngamuk bakar-bakar. Kalau cuma bakar tales, suwek, ikan gak masalah. Yang dibakar mobil, toko.

Sepakbola Identitas
Untungnya Qatar tidak termasuk negara buzzerokrasi, suatu sistem negara atau masyarakat yang dikendalikan oleh para buzzer. Sehingga peragaan sportivisme, sepakbola beradab, bahkan sepakbola dakwah Maroko tidak dijuluki “sepakbola identitas” yang diframing secara negatif.

Coba di negara buzzerokrasi, Maroko pasti akan langsung dihujat, dicaci maki, dibully, digayang, diharu-biru. Dibuat keder, kecut dan tersipu-sipu.

Kalau ditanya apa itu sepakbola identitas? Para buzzer pasti tidak akan mau menjawab. Entah pura-pura budek atau akan balik bertanya, “Lu siapa?”. Karena para buzzer itu memang tidak punya target ilmiah. Targetnya itu muntahan ucapannya bisa membuat orang lain sakit, marah, emosi atau takut. Buzzer itu tak beda antara ngomong dengan muntah dan meludah.

Target para buzzer bukan otak melainkan untuk menggelapkan hati orang lain karena buzzer sendiri bertindak dari gelapnya hati.

Kalau ditanya mengapa hanya Maroko yang disebut sepakbola identitas yang diframing secara negatif? Meskipun di Qatar setiap tim sepakbola membawa dan menjunjukkan identitas masing-masing. Para buzzer bisa dipastikan akan diam. Pura-pura budek.

Yang demikian itu modus yang dipakai para buzzer memframing Islamphobia dengan istilah radikal, intoleran, teror. Teror pun juga macam-macam. Dang kadang teror asin, dang kadang teror penyet sambal trasi.

Para buzzer itu akan bungkam jika sudah diajak masuk pada kawasan ilmiah. Tetapi mereka akan terus berteriak-teriak. Mereka itu seperti burung gagak. Meskipun suaranya memekakkan telinga, tetap saja berkaok-kaok. Diamnya hanya saat asyik makan bangkai.

Rabbi a’lam (Tuhan Maha Tahu)(*)

Anwar Hudijono, wartawan senior tinggal di Sidoarjo
15 Desember 2022

Mudik dalam Spiritualisme Masyarakat Jawa (1)

Anwar Hudijono

Oleh: Anwar Hudijono

Dipermaklumkan jika ada di antara warga masyarakat Jawa yang didera rasa sedih yang sangat mendalam tidak bisa mudik Idul Fitri karena adanya larangan pemerintah. Saking sedihnya sampai stres. Tidak doyan makan. Tidak bisa tidur. Akhirnya daya tahan tubuhnya turun.

Saat daya tahan tubuh merosot itulah justru rentan terhadap Covid-19. Karena Covid-19 itu aslinya dungu. Dia tidak melakukan seleksi orang mudik apa bukan. Tidak bisa membedakan orang stress apa orang gembira.

Bagi masyarakat Jawa mudik itu buka kepulangan biasa. Bukan layaknya perjalanan piknik. Bukan sejenis perjalanan dinas. Beda dengan tuoring.

Episode mudik itu memiliki landasan spiritualisme yang sangat kuat dan menggenerasi. Artinya tertanam dari generasi ke generasi. Sejak dulu ya begitulah adanya. Layaknya memakai sarung ya begitu adanya. Tidak ada sarungan dengan suwelan di belakang. Seperti cara minum kopi. Sejak nenek moyang ya disruput. Tidak ada minum kopi digelogok seperti minum air putih di kendi.

Maka, mohon dipermaklumkan jika ada yang sampai nekad mudik jauh sebelum larangan berlaku 6-17 Mei 2021. Ada yang nekad kucing-kucingan dengan petugas negara. Kucing-kucingan tapi melewati jalur tikus. Ada yang nekad bersembunyi di balik terpal truk sehingga mirip dengan gelondongan jerami.

Kalau saja ada yang menyewakan genderuwo yang bisa membawa mudik tanpa kepergok petugas, kemungkinan laris manis. Kecuali jika ada genderuwo petugas juga. Hal ini menjadi tidak mudah. Kecuali mengikuti aturan main tak tertulis bahwa sesama genderuwo harus salam temple alias cincai. Podo ngertine.

Beginilah penjelasannya. Mudik itu merupakan momentum mengingatkan dan membangkitkan kembali kesadaran hakikat penciptaan. Sangkan paraning dumadi (asal muasal mahluk). Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, sesungguhnya milik Allah dan akan dikembalikan kepada-Nya.

Jadi orang-orang di perantauan ini ibarat orang yang hidup di dunia. Kalau dibalik, hidup di dunia ini sebenarnya hanya perantauan. Asalnya dari surga. Karena mengikuti jejak leluhur kita Nabi Adam lantas diturunkan ke bumi. Tapi di bumi ini hanya sementara. Pasti akan dikembalikan ke surga jika catatan hasil perjuangan di perantauan ini baik. Pulang membawa iman dan amal shaleh.

Kalau catatannya buruk ya dibakar neraka. Diberi minum nanah yang mendidih. Diberi makan buah zakum yang membakar isi perut.

Berjuanglah di perantauan. Siapkan bekal yang memadai untuk mudik. Kalau mudik Idul Fitri tentu saja bekalnya uang, pakaian, kue kaleng, dan sebagainya.

Sedang mudik kepada Allah bekal terbaik yaitu taqwa. “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang berakal.” (QS 2: 197).

Agar mudik Idul Fitri bisa mudah, lancar selamat sampai tujuan patuhilah peraturan, rambu-rambu sepanjang perjalanan. Agar mudik kepada Allah selamat dan penuh suka cita maka patuhilah peraturan dan rambu-rambu Allah.

Hanya sementara

Mengapa leluhur Jawa menggunakan momentum Idul Fitri ini untuk mengingatkan falsafah sangkan paraning dumadi? Karena ada kecenderungan, manusia itu lupa bahwa dunia itu hanya sementara, koyo wong mampir ngombe (seperti orang yang singgah minum).

Lupa bahwa semua akan dikembalikan ke asalnya. Saking cintanya dunia sampai lupa akhirat, meski sudah diberi tahu bahwa kehidupan akhirat itu lebih baik dan kekal, wa lal akhiratu khairu wa abqa. (QS 87:17).

Saking asyiknya dengan kesibukan urusan dunia sampai lengah bahwa kesenangan dunia ini hanya mainan dan lelucon. “Wa ma hadhihil hayatut dunya illa lahwun wa laibun. Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan.” (QS 29:64).

Lupa bahwa jika ajal menjemput, itu bisa terjadi kapan saja, di mana saja, dengan cara apa saja. Saat tidur enak-enak mati karena tertimpa paku yang menancap di belandar. Lagi asyik medsosan mati. Sialnya saking asyiknya medsosan sambil ketawa-ketiwi sendiri lupa sembahyang.

Maka para sesepuh Jawa selalu mengingatkan bahwa semua manusia bakal mulih mring mula mulanira (kembali ke asal muasalnya). Yaitu Allah.

Jaman dulu, orang Jawa menyebut orang yang mati dengan istilah “mulih”. Artinya orang yang mati itu justru sedang menempuh perjalanan kepada kehidupan abadi kembali kepada Allah.

Kalau sekarang macam-macamlah sebutan untuk orang mati. Ada yang disebut sedo artinya tugase wis bakdo (tugasnya sebagai khalifah/pengatur di bumi sudah selesai). Istilah ini oleh masyarakat ditujukan kepada orang-orang yang dianggap baik semasa hidupnya seperti ulama, guru, kolumnis, wartawan dsb.

Ada juga yang disebut matek. Artinya nikmate wis entek (nikmatnya sudah habis). Sebutan itu ditujukan kepada jenazah yang semasa hidupnya hanya untuk mendapat kenikmatan dunia. Pokoknya apapun dilakukan yang penting dirinya hepi. Tidak peduli orang lain. Tidak peduli menerjang hukum dan moral. Nah, sejak berstatus jenazah, tidak bisa lagi dugem, mabuk, korupsi, nilep pajak dsb.

Yang paling seram itu jika disebut bongko. Artinya diobong neng neroko (dibakar di neraka). Sebutan ini karena saking jengkelnya masyarakat terhadap jenazah tersebut. Bisa jadi dia semasa hidupnya jadi ulat masyarakat seperti koruptor, politisi busuk, bromocorah, pemerkosa, rentenir dan sejenisnya.

Rabbi a’lam (Tuhan lebih tahu).

Anwar Hudijono
Kolumnis tinggal di Sidoarjo.

Babak Akhir yang Menentukan (1)

Anwar Hudijono. (Istimewa)

Oleh: Anwar Hudijono

Hari-hari terakhir menjalani ibadah puasa Ramadhan itu layaknya mengikuti lomba memasukkan benang ke dalam lobang jarum. Waktunya sangat terbatas. Suasananya gerah dan gemuruh. Riuh-rendah. Membuat tidak mudah untuk fokus.

Jika jarumnya jarum karung yang lobangnya besar sementara benangnya benang jahit, akan lebih mudah. Tapi jika jarumnya jarum jahit tapi yang dimasukkan benang bol, ini jelas sangat sulit karena sangat pas ukuran benang dengan lobang jarum.

Saat-saat ujung benang hendak dimasukkan lobang jarum harus benar-benar fokus, tenang. Terlalu tegang juga bisa gagal. Terlalu lemah juga tidak bisa masuk. Apalagi emosi. Marah-marah. Ngamuk. Bahkan saat ujung benang sudah menyentuh lobang jarum, bisa ambyar oleh hembusan nafas kita sendiri.

Rasulullah Muhammad SAW sudah memberi contoh kepada umatnya, pada sepuluh hari terakhir puasa lebih banyak itikaf di dalam masjid. Di antara tujuannya adalah agar bisa fokus beribadah. Mencegah naiknya dorongan hawa nafsu. Mencegah tarikan-tarikan eksternal yang bisa merusak puasa.

Itikafnya Rasulullah itu bukan semata memberi contoh mengejar Lailatul Qadar. Buktinya pada siang hari pun beliau banyak di masjid. Padahal Lailatul Qadr itu diturunkan malam hari.

Jika semata untuk mendapat Lailatul Qadar tidak harus di masjid. Sebab Lailatul Qadar itu bukan soal tempat turun, melainkan soal ibadah. Jadi di manapun beribadah pada malam Lailatul Qadar akan mendapatkannya.

Lailatul Qadar yang diturunkan pada 10 hari terakhir Ramadhan itu semacam iming-iming bonus super besar. (Dinilai sepadan dengan beribadah 1.000 bulan atau 83,4 tahun). Agar umat Islam lebih semangat fokus menjaga puasanya hingga puasanya berakhir husnul khatimah.

Masjid pasti lebih kondusif untuk melakukan aktivitas batin di banding tempat lain seperti rumah, apalagi tempat-tempat publik dan bisnis seperti mal, pusat hiburan. Batin akan lebih fokus untuk beribadah karena memang itu fungsi utama masjid. Di masjid mendorong kesibukan batin berupa dzikrullah, mengingat Allah. Baik dengan shalat, menelaah Al Quran, bertasbih.

Nah, di jaman now, eksistensi masjid sebagai tempat paling kondusif untuk fokus ibadah mulai terancam. Apalagi jika menyediakan internet gratis. Tarikan yang bisa merusak puasa justru saat ini sangat mudah melalui jagat virtual. Salah satu contoh, mau baca Quran melalui aplikasi di HP. Sebelum baca, nyelononglah iklan snack video dengan konten cewek goyang-goyang. Mumet gak jadi ngaji. Ambyar.

Di masjid tapi lebih banyak medsosan daripada shalat. Lebih banyak baca status dan komen daripada baca Quran. Jari jemari lebih sibuk memencet tombol HP daripada memutar tasbih. (Yang baca ini kok ketawa, pertanda pernah pengalaman).

Menuju Allah

Mengapa harus fokus? Karena hakikat puasa itu perjalanan menuju Allah. Perjalan hakiki dalam garis lurus sangkan paraning dumadi (asal muasal dan tempat kembali semua mahluk). Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun (Sesungguhnya milik Allah dan kepada Allah pula dikembalikan).

Bergerak menuju Allah hingga sampai manunggal dengan Allah, wahdatul wujud (manungaling kawula-Gusti). Menyatunya hamba dengan Tuhan. Bukan manunggal secara fisikal karena itu mustahil. Sebab Allah bukan mahluk. Dan Allah itu muhalalfatu lil hawadis (berbeda dengan mahluk). Kemanunggalannya bersifat esensial. Jika dibuat analog itu kira-kita mirip kemanunggalan api dengan panas.

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (Quran:50:16).

Fokus dalam berpuasa ini sekaligus latihan agar tetap fokus saat menghadapi sakaratul maut. Saat sakaratul maut itu akan datang godaan setan dari seluruh penjuru bumi agar kandidat jenazah berpaling dari Allah justru pada saat-saat terakhir. Sehingga tidak ada waktu lagi untuk bertobat.

Sampai-sampai orang di sekitarhya dianjurkan untuk melakukan talkin atau tuntunan membaca kalimah tauhid La ilaha illallah. Karena babak itulah yang menentukan seseorang masuk surga atau masuk neraka.

Rabbi a’lam (Tuhan Maha Tahu)

Anwar Hudijono,
Kolumnis tinggal di Sidoarjo