Banyu Anjlok, Destinasi Wisata Penuh Adrenalin

MALANGVOICE – Mengisi liburan akhir pekan bersama keluarga dan kerabat, ada baiknya berkunjung ke Objek wisata Banyu Anjlok di Desa Lenggoksono, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang.

Destinasi wisata yang baru dibuka setahun lalu tersebut menjadi magnet bagi wisatawan. Tidak kurang 400-450 orang setiap harinya berkunjung dan menikmati keelokan pantai tersebut.

Lokasinya terlihat asri, bersih dan alami. Pemandangannya juga tidak kalah dengan tempat wisata lainnya. Khusus pecinta selfie, layak dan patut mencobanya.

Dinamakan banyu anjlok karena air dari sumber pegunungan yang mengalir ke air terjun banyu anjlok setinggi 10 meter, terhubung langsung ke pantai. Biasanya air terjun tersebut mengalir deras di musim penghujan, karena kemarau debit airnya berkurang.

Untuk sampai ke wisata penuh adrenalin tersebut, butuh waktu sekitar 2,5 jam dari Kota Malang, bagi pengguna roda dua, dan jika menggunakan mobil bisa lebih panjang perjalannya.

Sesampainya di Desa Lenggoksono, pengunjung dipatok tiket masuk Rp 5 ribu per orang. Dari tempat loket, masih harus menempuh perjalanan 3,5 km. Itupun harus berkendara melewati jalan setapak, terjal naik-turun. Butuh keberanian lebih bagi orang baru karena samping kanan-kiri langsung dihadapkan dengan jurang.

Jika tidak, pengunjung dapat menyewa jasa ojek yang dipatok Rp 25 ribu per orang. Bila takut ketinggian, bisa pula menggunakan perahu untuk sampai tujuan, hanya butuh 7 menit ke lokasi air terjun dan pantai banyu anjlok.

Setiap orang dipatok harga Rp 50 ribu. Besaran biaya itu bisa mendatangi tiga tempat sekaligus yakni, banyu anjlok, pantai bolu-bolu dan sport snorkeling. Tiap sport diberi waktu 30 menit.

Salah satu pemilik perahu, Waskito, mengakui, mulai dibukanya wisata banyu anjlok memberi dampak positif bagi warga desa. Pasalnya, warga yang mayoritas petani kopi dan cengkeh bisa mendapatkan berkah dan penghasilan lebih.

Dikatakan, setiap hari libur ada 32 perahu yang siap mengantar pengunjung ke lokasi wisata. Transportasi laut ini lebih mudah dan cepat.

Setiap perahu terisi 10 orang lengkap mengenakan pelampung keselamatan.

“Kalau tidak fasih naik sepeda, jangan coba-coba lewati jalan setapak berbukit. Apalagi, di musim penghujan,” katanya.

Melayani wisatawan menjadi pekerjaan sampingan nelayan sekitar. Penghasilannya cukup menggiurkan, untuk hari libur tiap nelayan mampu meraup keuntungan Rp 450 ribu, sudah termasuk potongan ke kas desa dan operasional.

Hal senada diungkapkan Sanusi. Menurutnya, belum ada kejelasan pengelolaan wisata baru ini. Apakah dikelola langsung pemerintah daerah atau pemerintah desa.

“Fasilitas menuju tempat wisata jauh dari layak, di lokasi wisata juga belum tersedia kamar mandi, dan fasilitas lainnya. Padahal, antusias pengunjung cukup besar,” akunya.

Dalam waktu dekat, akan ada lokasi baru yakni Taman Glendang yang juga bisa dibuat snorkeling.

“Sekarang yang dibuat snorkeling di pantai kletaan, semoga tambahan sport ini bisa semakin banyak pengunjung yang ke sini,” harapnya.

Makan Mie Aceh Sambil Ngopi, Chutnea House Tempatnya

MALANGVOICE – Pecinta kopi Kota Malang kini dimanja dengan kehadiran berbagai kedai yang menjamur. Namun, beberapa di​antaranya hadir dengan konsep dan sajian khas, sebagai cara bersaing dalam dunia bisnis yang menjanjikan ​itu.​

Salah satu yang berani tampil beda ​adalah Chutnea House, Cloths and Keudekupi​,​ di Jalan Brigjen Slamet Riyadi 76/01. ​Dari nama​nya​, aroma Aceh sangat terasa ditampilkan sang pemilik. ​Sebutan ‘Keudekupi’ ​memang diambil dari bahasa Aceh​,​ yang artinya kedai kopi​.​

Mengambil konsep garment industrie​,​ kedai ini merupakan salah satu alternatif tempat ngopi yang nyaman​,​ dengan pernak-pernik yang tertata rapi.
​M​enu khas cita rasa Aceh, dengan berbagai varian, seperti Mie Aceh serta nasi goreng dengan bumbu racikan yang khas, Chutnea ​pun​ menjadi alternatif baru di industri kedai kopi.

Bahkan, untuk urusan kopi, sang pemilik kedai, Parnia Ramadani, terbilang serius menghadirkan cita rasa khas dengan rasa kopi yang kuat. Ditemui MVoice, Rabu (16/9) malam, wanita yang akrab disapa Nia ​itu​ mengaku​,​ kopi yang disajikan kepada pengunjung kedainya ​memang didatangkan ​langsung ​dari Takengon, Aceh.

Meski dalam daftar menu​,​ laiknya kedai lain, ​juga ada espresso, ristretto, cappucino hingga latte, namun, penggunaan bahan dasar kopi dari Aceh merupakan keunggulan yang ditampilkan kedai ini.

Bagi pecinta kopi yang ingin merasakan betapa kuatnya kop​i​ Aceh, selain menu di​ ​atas, bisa memilih menu spesial seperti Gayo Kupi, Solong Kupi hingga Gresik Kupi yang merupakan cita rasa khas ​N​usantara. Bahkan pengunjung tak perlu khawatir, sebab Chutnea juga menyediakan menu kopi luwak khas Gayo yang sangat menantang.

Tak hanya kedai kopi, di lantai satu Chutnea House ​juga ​terdapat butik yang menyediakan pakaian dengan brand Chutnea yang di desain sendiri oleh sang owner. “Konsep awalnya​,​ anta​ra kedai dan butik ini satu kesatuan, jadi kenapa kedainya juga dengan konsep industri garmen,” kata Nia.

Dikatakannya, pangsa pasar yang dituju yakni mahasiswa yang sedang belajar di Kota Malang. Menangkap peluang banyaknya mahasiswa yang datang setiap tahunnya, membuat Nia serius membangun kedai kopi yang khas.

“​A​ku ingin kedai ini menjadi tempat orang mencicipi kopi berkualitas,” tandasnya.

The Singhasari Resort & Convention Perkenalkan Ikon Baru

Ikon baru The Singhasari Resort & Convention. (deny/malangvoice)

MALANGVOICE – The Singhasari Resort & Convention memperkenalkan ikon baru bernama Singa dan Sari, di Dimension Roof Top Bar & Lounge, Sabtu (12/9).

Ikon menyerupai singa jantan dan betina itu melambangkan nama dari Singhasari, yang sekaligus nama kerajaan dan Singa artinya raja, sedangkan ikon Sari bermakna pasangan dari raja di Kerajaan Singhasari.

Menurut Eksekutif Asisten Manager (EAM), M Harun Arasyid, ikon baru ini diharapkan bisa menarik banyak pengunjung di resort bintang lima yang terletak di Jalan Ir Soekarno 120, Kota Batu, itu.

“Ikon kami selalu menemani para tamu yang berkunjung, dan ini jadi khas kami,” katanya kepada MVoice, Sabtu (12/9).

Pada saat yang sama, The Singhasari Resort juga mengenalkan salah satu fasilitas bar Dimension Roof Top Bar & Lounge di lantai 3. Pengunjung selain menyantap panganan dan minuman enak, akan disodorkan pemandangan apik Kota Batu di malam hari dengan diiringi live akustik.

KCF Harmoni untuk Indonesia

MALANGVOICE – Kampung Cempluk Festival (KCF) kembali digelar pada 27 September – 03 Oktober 2015 mendatang di Dusun Sumberjo, Desa Kalisongo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.

Even ke-6 tersebut bertema ‘Harmoni Kampung Untuk Indonesia’. Dengan mempresentasikan kampung sebagai ruang berkesenian dan berkebudayaan, sekaligus tempat berinteraksi bagi warga.

Ruang-ruang kesenian yang dulu tidak bisa dinikmati warga kampung, dihadirkan kehadapan mereka seperti komunitas seni dan budaya serta peran aktif warga Desa Kalisongo sebagai tuan rumah.

Even KCF mampu memberi sumbangan besar pada ekonomi warga sekitar. Banyak warga beralih menjadi pedagang di pinggir jalan dengan menjual jajanan masa lampau.

Salah satu penggagas KCF, Redy Eko Prastyo mengatakan, KCF ke-6 bakal menghadirkan kesenian dari Pacitan, selain kesenian asli dari kampung Kalisongo. “Seni rontek akan mengiasi KCF tahun ini. Ini membuktikan banyak seniman yang memperhatikan KCF,” katanya.

Dalam even itu, lanjut Redy, konsep sama seperti tahun lalu yakni menggunakan tiga pangung dan mematikan lampu depan rumah serta jalan sehingga memaksimalkan lampu cempluk.

Tiga panggung tersebut diambil dalam tokoh pewayangan, antara lain Bapang, Kelono, dan Panji Asmoro Bangun.

Tiap panggung akan menghadirkan atraksi kesenian, cempluk bersastra (puisi), cempluk berbunyi (seni kontemporer) , cempluk bernyanyi (band dan akustik) dan cempluk bergerak (seni tari).-

Mengkritik Pemerintah Lewat Lukisan

Lukisan Pancawarna Akik Nusantara Karya M Sukri (deny/malangvoice)

MALANGVOICE – Seniman lukis Asta Citra Perupa Malang (ACPM) kembali memamerkan karyanya di Maxone Hotel. Dengan tema ‘Bahana Pekik Kemerdekaan’, sang pelukis kebanyaknya mengkritisi pemerintahan.

Seperti pada lukisan Pancawarna Akik Nusantara karya M Sukri. Dia menggambar sesosok pria yang sedang jongkok, dengan pakaian sederhana menghadap batu akik raksaksa dan dikelilingi daun pisang.

“Emban itu wadah suatu amanat penderitaan rakyat. Kritikan aja, Indonesia saat ini sedang krisis kepemimpinan,” kata pria 70 tahun itu.

Sosok yang ia gambarkan dilukisannya memang sangat mirip dengan Presiden RI saat ini, Joko Widodo. Sedangkan pensil merah putih yang dibawa, melambangkan perjuangan.

“Daun pisang itu saya gambarkan sebagai rakyat, ya intinya kami hanya bisa ‘bersuara’ lewat lukisan,” jelasnya.

Selain lukisan Sukri, ada 69 lukisan lain yang dipajang. Ketua panitia sekaligus Ketua ACPM, Bambang, mengatakan, pada pameran ini sebenarnya fokus utama adalah mengangkat budaya Kota Malang, khususnya seni lukis.

“Disamping meningkatkan kreatifitas pelukis, kami juga berusaha memberi kontribusi bagi Malang,” katanya pada MVoice.

Semua lukisan ditata apik di lantai satu dan dua, dipajang hingga 31 Agustus mendatang.

Lukisan Karya M Sukri (deny/malangvoice)

Gelar Joko Galing Bercerita Kesewenangan Pimpinan

Salah satu adegan seni budaya ketoprak yang digelar di TKBJ Jawa Timur di Malang. (hamzah/malangvoice)

MALANGVOICE – Invasi budaya pop di Indonesia sedikit banyak telah merongrong kehidupan seni dan budaya lokal yang sejak lama berusaha dipertahankan para leluhur. Karenanya, menumbuh kembangkan kesenian dan budaya, merupakan kewajiban seluruh stake holder termasuk jajaran pemerintahan.

Apresiasi positif harus dialamatkan kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur yang sedia menghidupkan kembali budaya lokal dengan berbagai cara. Beberapa pagelaran budaya lokal, seperti ketoprak, ludruk hingga wayang orang berhasil disuguhkan di tengah masyarakat Kota Malang sepanjang tahun 2015.

Bertempat di Taman Krida Budaya Jawa Timur (TKBJ), pertunjukan yang sudah dimulai pada awal tahun ini ternyata mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Pantauan MVoice, Sabtu (29/8) di lokasi, penonton datang berjubel untuk menyaksikan sisa-sisa kejayaan budaya lokal itu.

Warga baik kalangan muda dan tua, terlihat antusias menonton suguhan Ketoprak THR Surabaya dengan lakon Joko Galing. Bercerita mengenai upaya kudeta dan kesewenang-wenangan kerajaan kepada rakyatnya, lakon ketoprak ini cukup memikat penonton.

Dikemas apik dengan memadukan iringan musik gending serta pencahayaan panggung yang atraktif, akting para aktor ketoprak ini di atas panggung, tampak hidup dan mampu mengaduk emosional penonton yang ada.

Kasi Pengembangan Seni dan Budaya, UPT Taman Budaya Jawa Timur, Widodo SSM, MM, mengatakan, menghadirkan kembali pertunjukkan seni dan budaya lokal masyarakat selain merupakan upaya menjaga dari kepunahan akibat tuntutan zaman.

“Dulu tahun 1990-an kita mengenal ketoprak Siswo Budoyo yang sempat digandrungi masyarakat, kini hal itu semakin ditinggalkan,” kata Siswono, kepada MVoice.

Padahal, nilai filosofis dan pesan yang ada dalam cerita ketoprak, ludruk, wayang orang, dan sebagainya, justru sangat pas dengan kondisi masyarakat Indonesia bila dibanding cerita impor dari luar negeri.

“Cerita ini lahir masyarakat dan hidup di masyarakat, jadi cerita ludruk atau ketoprak, sangat bisa diterima dengan baik sebenarnya,” beber dia.

Selain itu, dijelaskan, menghidupkan kembali seni dan budaya, sangat berhubungan erat dengan kehidupan pariwisata. Wisatawan, utamanya dari mancanegara selain tertarik dengan pesona alam, juga tertarik dengan kesenian lokal.

“Kalau kita mau hidupkan seni seperti ini, akan berdampak pada dunia pariwisata dimana imbasnya akan ada pada dunia perekonomiam,” tegasnya.

Oleh sebab itu, komitmen menghidupkan kembali budaya lokal, merupakan usaha strategis dengan efek domino yang positif di berbagai sektor lini.-

Hotel Tugu Raih Penghargaan Internasional

Salah satu Stage di Hotel Tugu Malang.

MALANGVOICE – Hotel Tugu Malang berhasil meraih Certificate of Excellence Award Hall of Fame dari Tripadvisors.com, sebuah situs perjalanan terbesar dengan 60 juta pengguna di 45 negara di dunia.

Marketing Hotel Tugu, Ika Dewi dalam rilis resminya kepada MVoice mengatakan, penghargaan bergengsi ini hanya diberikan kepada peraih Certificate of Excellence Award selama lima tahun berturut-turut, yaitu 2011-2015.

“Dari data yang kami miliki hanya 2 persen hotel di dunia yang mendapat penghargaan khusus ini,” kata Ika Dewi, Kamis (27/8) malam.

Di Indonesia sendiri tercatat hanya 280 pelaku bisnis hospitally, dan tidak mudah untuk menjaga konsistensi mutu, dan penghargaan yang telah diraih.

“Ini menandakan kredibilitas layanan dari jaringan Hotel Tugu yang diakui oleh pelanggan setianya,” tegasnya.

Memiliki konsep boutique hotel dengan ciri khas personal service, jaringan Hotel Tugu telah beberapa kali mendapatkan penghargaan serupa, seperti 2014 Award of Excellence dari Booking.com, dan Fantastic Customer Score Review dari Agoda.com.

Berbagai predikat telah diraih oleh jaringan Hotel Tugu, seperti One of the Most Impressive Hotel dari Millionaire Living Belanda, World’s Very Best Hotels and Resorts dari Forbes Traveller, Haute Spots dari Harpers Bazaar, World’s Best of The Best dari Robb Report untuk The Luxury Lifestyle Inggris, Top 100 Most Beautiful Hotels of the World dari L’Officiel Voyage, Havens of History dari Asia Spa, The 10 Best Asian Hotels dari Stern, Jerman, Indonesian Charm dari Tatler Indonesia, Tranquil Paradise dari TIME Asia, Sampling of Paradise dari Architectural Digest US dan Italia, dan lainnta.

“Hotel Tugu Malang mendokumentasikan sejarah dan tradisi Indonesia dalam bentuk barang antik dan karya seni bernilai tinggi,” tandasnya.-

Jangan Kaget Jika Disapa Harimau dan Ular Sanca

Keceriaan nampak terpancar di wajah para siswa saat dikunjungi oleh tim edukasi Taman Safari Indonesia II pada Sabtu (22/08). (istimewa)

MALANGVOICE – Taman Safari Indonesia (TSI) II, nama ini sudah tak asing di telinga para wisatawan. Lokasinya di Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, TSI II merupakan taman wisata yang mengandalkan berbagai macam satwa.

TSI II ini, saat ini tak hanya sebagai tujuan wisatawan. Tetapi taman wisata di lereng gunung Arjuno tersebut, menjadi lokasi pendidikan murid sekolah negeri maupun swasta. Rombongan murid sekolah yang datang di TSI II, merupakan program yang dikenalkan manajemen dengan sebutan Taman Safari Indonesia II Goes to School.

Tiga satwa seperti ular sanca kembang, burung macau dan harimau benggala hasil pengembangbiakan Taman Safari Indonesia 2 pun secara khusus dihadirkan untuk memberikan edukasi kepada siswa sekolah.

Tak hanya mengenalkan pentingnya pelestarian satwa, tetapi tim safari goes to school juga memberikan edukasi khusus tentang keunikan satwa-satwa tersebut di alam liar.

Tim edukasi Taman Safari Indonesia II, Saifullah mengatakan, perkenalan satwa sangat penting terlebih kepada hewan yang kelangsungan hidupnya di alam bebas terancam.

“Harimau Benggala adalah sub spesies harimau yang pertama kali ditemukan di anak benua India. Saat ini kelangsungannya mulai terancam akibat perburuan liar dan perdagangan gelap,” ungkapnya dalam siaran pers yang diterima MVoice, Sabtu (22/8).

Sebagaimana dilaporkan kantor berita BBC baru-baru ini, populasi harimau benggala yang mendiami hutan Sudarban Bangladesh memang terus menurun. Bahkan pada Juli lalu, jumlahnya menurun drastis dari 440 ekor menjadi 100 ekor.

BBC juga melaporkan, saat ini diperkirakan terdapat sekitar 2.300 Harimau Benggala yang hidup di hutan, sebagian besar di India dan Bangladesh namun ada juga yang hidup di Nepal, Bhutan, Cina, dan Myanmar dalam jumlah sedikt.

Pelestarian dan pengembangbiakan Harimau Benggala yang dilakukan Taman Safari Indonesia 2 ini tentu menjadi langkah yang positif untuk menjaganya dari ancaman kepunahan.

Karenanya, melalui program goes to school ini, Taman safari Indonesia II secara aktif mengkampanyekan program-program pelestarian satwa. Tak hanya satwa endemik asli Indonesia, tapi juga satwa-satwa dari seluruh dunia.

“Kami tentu tidak sendiri. Didukung BKSDA (Balai Pelestarian Sumber Daya alam) dan sekolah-sekolah yang akan kami kunjungi, program ini kami harapkan menjadi semacam embrio untuk menciptakan kesadaran masyarakat Indonesia tentang pelestarian satwa. Kami fokus ke sekolah-sekolah karena dari sini lah semua sumber ilmu pengetahuan dimulai terutama untuk generasi baru masa depan,” tutup Saifullah.-

Jalan Menyelamatkan Tradisi Bangsa

Abdurrasid, saat bercerita di depan toko alat seni Bantengan. (fathul/malangvoice)

MALANGVOICE – Jika yang lain peduli tradisi karena maksud tertentu, maka berbeda dengan Abdurrasid. Ia sangat peduli terhadap tradisi dan seni karena panggilan hati.

Ia menjadikan dagangan benda seni, khususnya Bantengan, sebagai sumber hidup. Dengan demikian, ia akan terus menerus bisa menjaga kesenian tradisionil meski yang lain mundur.

“Saya prihatin karena banyak seniman yang ingin mencari alat bantengan tapi tidak dapat. Nah di sini saya jual semuanya,” kata mantan pemain ludruk ini kepada MVoice, Sabtu (22/8).

Toko alat seni yang berada di Jalan Teratai, Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji, Kota ini berdiri sejak tahun 1974 dan menyediakan berbagai macam keperluan seni Bantengan.

Seperti kuda lumping, topeng banteng, termasuk gongseng. Bukan itu saja, Abdurrasid juga menjual berbagai alat Bantengan yang dapat digunakan mainan untuk anak-anak.

Dengan berbagai macam alat yang disediakannya itu, pembeli bisa datang dari seluruh penjuru Jawa Timur. Namun kebanyakan adalah kelompok seni dari Batu, Malang, dan Pasuruan.

Meskipun tidak setiap hari laku, lelaki yang sudah tidak ingat tahun lahirnya ini tetap menjual peralatan dengan harga lumayan murah, yakni mulai Rp 5000 hingga paling mahal Rp 450 ribu.

“Saya tidak buat sendiri karena alat-alat ini buatan Nganjuk, Kediri, dan Malang sini juga. Kita juga sediakan mainan anak-anak karena mereka kurang mengenal budayanya sendiri,” sambung atlit Pencak Silat ini.

Dengan niat menjaga tradisi hingga ke anak-anak, Abdurrasid akhirnya memajang Bantengan mainan di bagian paling depan tokonya. Ia berhadap anak-anak yang lewat di depan tokonya bisa tertarik.

Ia sendiri miris dengan acara-acara anak di televisi yang tidak mengenalkan budaya bangsa sama sekali. Bahkan, lebih sering televisi yang ditonton anak-anak tidak mendidik.

“Mau bagaimana lagi, yang penting niat saya baik, berjualan sambil kenalkan budaya. Kalau televisi ya uang saja yang dikejar,” tutup lelaki berisia 70-an ini.-

Tanpa Identitas dan Ungkapan Menipisnya Idealisme Berseni

Pengunjung saat memperhatikan salah satu karya instalasi berjudul Tanpa Identitas (Fathul/MalangVoice).

MALANGVOICE – Jiwa seni tidak melulu dimiliki mahasiswa jurusan seni atau sastra. Terbukti, mahasiswa Sekolah Tinggi Teknik Malang (STTM) juga mampu menghadirkan pameran instalasi bertajuk ’70th Indonesiaku’.

Pameran yang diselenggarakan sejak Minggu (16/8) malam, di Galeri Raos, Jalan Panglima Sudirman Kota Batu, itu menampilkan 10 tema yang kesemuanya bernuansa Indonesia.

Bukan hanya pameran, para mahasiswa yang tergabung dalam Komunitas Insitek Pro (Interior, Arsitek, Desain, dan Produk) ini juga menggalang dana untuk penderita hydrocephalus Kediri, Angger Seno Priambodo.

Salah satu instalasi yang menarik dalam pameran tersebut adalah karya berjudul Tanpa Identitas. Dalam instalasi ini, ada hot pants yang dimasukkan ke sangkar berbendera indonesia.

Dari sangkar tersebut keluar kupu-kupu berkarakter batik yang berterbangan semakin jauh. Lama-lama, kupu-kupu ini berjatuhan dan menjadi kering di tanah.

Menurut Wakil Ketua Insitek Pro, Redy Dwi Hendarto, Tanpa Identitas tersebut menggambarkan bahwa Indonesia sudah terpengaruh budaya luar yang diidentikkan dengan hot pants.

Apalagi, lanjutnya, Bangsa Indonesia juga kebanyakan sudah menjauhi budayanya sehingga semakin lama, budaya indonesia akan mengering lalu mati sebagaimana kupu-kupu batik tersebut.

“Ini adalah cara kami memperingati Kemerdekaan RI. Ingin sekali kami menyebarkan gagasan ini supaya masyarakat Batu dan Malang Raya kembali pada budaya Indonesia,” kata Redy.

Redy juga menjelaskan salah satu instalasi berjudul Merdeka Tanpa Koruptor dengan konsep Shadow Art atau seni bayangan yang menggambarkan seekor tikus yang terkurung dalam penjara.

Selain itu, masih ada beberapa karya instalasi dan lukisan yang dipamerkan oleh Insitek Pro ini, seperti Parkir Area, Kuda Lumping, Pita Hitam, Perjuanganku, Mata-Mata Idola, dan Merdeka atau Dijajah.

“Dalam karya Merdeka atau Dijajah ini kita hadirkan peta indonesia yang hijau, namun seluruh wilayahnya dikuasai secara ekonomi oleh negara lain,” tambah Rudy.

Salah satu pengunjung pameran, Santoso, sangat mengapresiasi pameran yang diselenggarakan oleh para pemuda ini. Menurutnya, siapapun perlu mendukung bila ada pemuda yang bisa berkreasi.

“Ini kan sesuatu kreatifitas yang positif. Di saat yang sama remaja dan pemuda di luar berbuat negatif, mereka malah mampu berkarya dan bisa kita nikmati bersama,” ujarnya.

Redy sendiri menegaskan bahwa respon pengunjung sangat baik. Beberapa dari pengunjung juga bertanya kepada panitia maksud dan tujuan dari karya mereka, meski banyak juga yang sekedar melihat-lihat lalu keluar.

“Selanjutnya kita akan merancang lagi pameran dilokasi yang lain. Sebelumnya kita selalu pameran di kampus sendiri,” tandasnya.

Komunitas