Cafe Mayo, Citarasa Istimewa Harga Mahasiswa

MALANGVOICE – Semakin banyak dan berkembang bisnis cafe di Malang, tidak menyulitkan warga mencari cafe yang asik untuk didatangi.

Seperti, Mayo, cafe di Jalan Jalan Puncak Borobudur, Ruko Center Point 8-B, adalah tempat cocok bagi yang suka nongkrong dan berwisata kuliner.

IMG-20151011-WA0002

Dengan pelayanan ramah dan profesional, pengunjung disodori pelbagai menu makanan dan minuman yang dijamin memanjakan lidah. Seperti Crepes Chicken Mushrooms, dan Crepes Sosis Spinach’s, keduanya menggunakan mayones lembut dan ditutup dengan roti tipis renyah.

IMG-20151005-WA0046

Sebagai cafe yang membidik kalangan mahasiswa dan pelajar, Mayo juga menyiapkan makanan istimewa tapi murah, yakni Chicken Gordon Bleu. Paduan ayam empuk dibalut roti dan kentang yang dihaluskan terpisah kemudian ditambah bayam dengan bumbu khas menambah cita rasa makanan Perancis itu.

IMG-20151011-WA0004

 

Menurut pemilik Mayo, Reza Dwi D, (23), ia memulai bisnis itu karena hobi kuliner. Bersama ibu, Untari Jarwati, (52), kemudian membangun Mayo pada akhir 2012 silam. “Daripada keliling cari makanan lain, mending bikin sendiri. Ibu juga bisa melampiaskan hobi masak di sini,” kata mahasiswa tingkat akhir di PTN Kota Malang.

IMG-20151011-WA0005-1

Hal itu terbukti, satu menu racikan sendiri adalah Marinara, semacam spaghetti yang dibuat menyesuaikan lidah jawa dan Itali menggunakan resep keluarga, dengan kombinasi seafood dan pengunjung bisa memilih level kepedasan sendiri.

Reza menambahkan, cafe yang memiliki konsep minimalis itu juga mempunyai menu andalan ice cream, ia menggunakan alat pencetak cone atau kerupuk ice cream sendiri, alhasil rasa berbeda dengan cone pada umumnya.

IMG_20151005_185113-1

Cafe yang buka pukul 11.00 – 22.00 WIB itu memiliki fasilitas untuk pengunjung, ada Wifi, Nobar tiap weekend dan akustik. Di lantai dua, juga terdapat ruang bersantai keluarga yang luas, bisa juga dipesan untuk acara khusus.

Nuswantara Artnival 2015 Tampilkan Atraksi Budaya Semua Provinsi

Ketua Yayasan Svaraseni Nusantara, Rachmatika Maharani (kanan). (Muhammad Choirul)

MALANGVOICE – Berawal dari keinginan melestarikan kebudayaan Nusantara, Yayasan Svaraseni Nusantara menggagas kegiatan bertajuk Nuswantara Artnival 2015.

Acara dijadwalkan berlangsung 27 – 29 November 2015, di Lapangan Agrokusuma Wisata, Batu, mengambil tema ‘Suara Semesta’.

Ketua Yayasan, Rachmatika Maharani, mengatakan, ajang kali ini melibatkan partisipasi seluruh provinsi di Indonesia, berkumpul, bertukar informasi, dan memperkenalkan berbagai produk budaya setempat.

“Rencananya ini jadi agenda tahunan. Tema Suara Semesta bermakna suara keindahan yang dihasilkan inspirasi semesra sebagai produk budaya dan identitas daerah, khususnya masyarakat tradisional,” kata Maharani, sapaan akrabnya.

Dikatakannya, Nuswantara Artnival berusaha memunculkan kembali kesenian tradisional kuno yang jarang dipublikasikan pada khalayak umum.

Selain menampilkan pertunjukan seni tradisional dari berbagai daerah, acara ini menyajikan pameran seni rupa instalasi, parade film Nusantara, sarasehan dan workshop, serta pertunjukkan lain yang menarik diikuti.

“Ini wadah apresiasi dan informasi bagi masyarakat luas berupa pertunjukan, merujuk pada pendataan dan pendokumentasian sebagai arsip kesenian tradisional original,” papar wanita berparas jelita itu.-

Libur Akhir Pekan, Nikmati Segarnya Air Sumber Maron

Pengunjung di Sumber Maron.(miski)

MALANGVOICE – Menikmati hari libur bersama keluarga dan kerabat, tidak perlu merogoh biaya tinggi. Sumber Maron di Desa Karangsuko, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang, salah satunya destinasi yang layak dikunjungi.

Wisata pemandian dengan aliran air alami dari sumber, bisa dinikmati semua kalangan. Mulai anak-anak, remaja hingga orang tua.
Sumber Maron2
Selain menikmati dinginnya air sumber, pengunjung bisa menikmati sensasi derasnya air yang terhubung langsung ke sungai. Ada pula flying fox bagi pecinta adrenalin.

Sederet warung milik warga sekitar pun hisa memanjakan lidah wisatawan. Mulai camilan ringan hingga masakan khas warga sekitar.

Di hari libur, lebih 2000 pengunjung memadati wisata yang juga dimanfaatkan untuk pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH).

Salah satu penjaga keamanan, Paisan, mengakui banyaknya pengunjung tidak hanya datang dari warga sekitar Malang Raya. Ada juga wisatawan dari Surabaya, Jember, dan Bandung.

“Pengunjung terpikat dengan airnya yang jernih dan dingin. Ditambah beberapa wahana lainnya,” kata dia kepada MVoice.

Sumber Maron mulai dibuka untuk wisata air sejak tahun 2011. Pengunjung ditarik tiket Rp 2000 ribu per orang. Namun, karena ada masalah di tingkat desa, akhirnya sebulan terakhir digratiskan.

Dinamakan Sumber Maron, menurut Paisan, cerita turun temurun dari seorang petualang melintas di sekitar sini di zaman penjajahan. Merasa haus, ia lantas mendatangi warga untuk meminta air.

“Masih ada kaitannya dengan Sumber Sirah. Di sekitar air sumber yang mengalir terdapat semacam kendi, separuh terpendam di tanah separuh lainnya berada di luar,” ceritanya.

Sempat warga berinisiatif memindah kendi tersebut ketika pembangunan pipa PLTMH. Namun, justru pecah dan warga kesurupan. ”Saat itu warga sepakat kendinya dibiarkan, masih ada mistisnya mas,” lanjut ia bercerita.-

Wow, Ada Coklat Rasa Apel di Chocopel

Outlet Chocopel di Kota Batu. (fathul/malangvoice)

MALANGVOICE – Coklat dikombinasi dengan buah apel khas Kota Batu, itulah ide dari outlet coklat apel “Chocopel” yang ada di Jalan M. Sahar, Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu.

Manajer Produksi Chocopel, Asih, mengatakan outlet coklat apel yang dikelolanya bukan hanya menjual produk, tetapi juga memproduksinya sehingga kualitasnya terjamin.

Pabrik coklat apel sendiri sudah berdiri sejak tahun 2013. Baru pada awal tahun 2015, outlet Chocopel dibuka dan langsung diserbu pembeli.

Menurutnya, pemilik Chocopel, Hadiyan Izzaturrahman, merupakan sosok enterpreneur sukses. Meskipun baru membangun, namun Chocopel sudah membuka 40 outlet di Malang Raya. Jadi penggemar coklat rasa apel, atau apel rasa coklat, tidak usah datang ke Batu untuk menikmatinya, tapi cukup di kotanya masing-masing.

Produk chocopel, lanjut Asih, sebenarnya ada delapan varian rasa . Seperti greentea, stawberry, milk apel, dark apel, original cacao, dan milk oreo. Semuanya dijual mulai harga Rp 10 ribu sampai Rp 28 ribu. Cukup murah bukan?

Kini, selain ingin melebarkan sayap usaha dengan membuka outlet baru, Chocopel juga sudah merambah ke bisnis online. Diakui Asih, penjualan online juga terus meningkat meskipun minimal pembelian saat ini sebesar Rp 250 ribu sekali kirim.

Khusus penjualan Chocopel online, hanya melayani ke luar kota. Jika ada pemesanan di dalam kota maka akan disarankan untuk membeli di Outlet Chocopel terdekat.-

Tenyate, Makan Sate Sembari Bersedekah…

Kedai Tenyate

MALANGVOICE – Ada yang beda di kedai sate Tenyate di Jalan Terusan Bondowoso No 44, Kota Malang.

Dengan menu andalan sate buntel dari daging kambing empuk dan nikmat, Tenyate mempunyai paket sedekah bagi pelanggan, terutama tiap hari Jumat, dengan label ‘Jumat Berbagi’.

tenyate2Digawangi empat pemilik, Ayu Heni, Dea Satika, M Emron, dan Tri Wahyuni, mereka mempunyai ide bersedekah itu untuk membantu orang kurang mampu di Kota Malang.

tenyate3Dengan melahap menu spesial sate ayam tiap Jumat, pelanggan dipersilakan membayar seikhlasnya. Selanjutnya dana yang terkumpul hari itu semuanya diserahkan kepada yang berhak.

“Jadi langsung kami serahkan ke masjid sekitar, anak yatim dekat rumah, dan kemarin kami berikan untuk transport rombongan pengajian,” tutur Ayu, salah satu pemilik.

tenyate4Kedai yang baru buka pada 24 Agustus lalu itu memang banyak dikunjungi masyarakat saat hari Jumat. Program Jumat Berbagi itu sendiri bisa menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang arti berbagi dan bersedekah.

“Pelanggan bersedekah, kami juga. Berbagi tidak hanya materi, tapi bisa berbagi senang, kenyang, dan manfaat,” lanjutnya.

Kedai yang buka mulai pukul 11.00 hingga 23.00 WIB itu juga memiliki tempat nyaman untuk bersantap segala jenis sate dan minuman. Kedepan Ayu berencana menambah beberapa varian sate baru di Tenyate.

“Karena basic kami adalah sate, sebisa mungkin kami ciptakan menu baru yang tak jauh-jauh dari sate dan minuman, jadi bisa banyak pilihan,” tutupnya.

Hobi Kopi Asli Indonesia, Datang ke Coffee Toffee

Coffee Toffee Malang. (deny/malangvoice)

MALANGVOICE – Coffee Toffee, brand kopi lokal asli Indonesia berdiri sejak 11 November 2006 di Surabaya, kini memiliki gerai di Kota Malang.

Terletak di Jalan Jakarta No 58, gerai itu cukup luas untuk tempat nongkrongnya anak muda atau menggelar acara bersama komunitas.

Di bagian luar, meja tertata apik dengan pemandangan Taman Kunang-kunang. Sedangkan di dalam, terasa mewah dan klasik dengan beberapa interior dari kayu, tentunya kedua tempat itu sangat nyaman sambil menikmati suguhan andalan kopi asli Indonesia, coklat dan beragam menu lain.

Coffee Toffee Malang. (deny/malangvoice)
Coffee Toffee Malang. (deny/malangvoice)

Lima kopi andalan Coffee Toffee antara lain, Bali Batukaru, Sumatera Gayo, Toraja Kalosi, Java Mocha, dan Sumatera Linthong yang berkualitas tinggi.

Coffee Toffee Malang. (deny/malangvoice)
Coffee Toffee Malang. (deny/malangvoice)

Menurut Public Relations & Promotion PT Coffee Toffee Indonesia, Mika Affandy, dengan menghadirkan kopi asli Indonesia, tidak hanya mendukung petani kopi namun juga memberi kebanggaan dengan produk kopi Indonesia.

Coffee Toffee Malang. (deny/malangvoice)
Coffee Toffee Malang. (deny/malangvoice)

“Dengan semangat kampanye ‘Yes I Drink Indonesian Coffee’ kami mengajak semua warga Malang turut serta menyuarakan kebanggaan pada kopi asli Indonesia,” paparnya, saat grand opening, Sabtu (26/9).

Saat grand opening, Coffee Toffee mengikutsertakan beberapa komunitas band, graffiti, hingga model, ada pula bazaar, games, dan kuis berhadiah jutaan rupiah.

Ditambahkan Mika, Coffee Toffee memang menargetkan para komunitas di Malang. Buktinya, setiap komunitas akan diberi kartu VIP dengan beberapa keuntungan, selain fasilitas tempat hingga diskon 15 persen.

“Komunitas di Malang sering bingung kala mengadakan even atau kegiatan, karenanya kami ingin memfasilitasi mereka, banyak program agar komunitas mereka berkembang di sini,” lanjutnya.

Coffee Toffee Malang. (deny/malangvoice)
Coffee Toffee Malang. (deny/malangvoice)

Cara mendapatkan kartu VIP sangat mudah, komunitas hanya mendaftar secara gratis di gerai Coffee Toffee. Bagi pengunjung lain juga bisa mendapat kartu itu hanya dengan pembelian minimal seratus ribu dan mendapat kartu reguler dengan diskon 10 persen.

Gerai ke-7 dari 151 Coffee Toffee seluruh Indonesia itu, buka mulai pukul 11.00 hingga 02.00 setiap hari.-

 

Banyu Anjlok, Destinasi Wisata Penuh Adrenalin

MALANGVOICE – Mengisi liburan akhir pekan bersama keluarga dan kerabat, ada baiknya berkunjung ke Objek wisata Banyu Anjlok di Desa Lenggoksono, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang.

Destinasi wisata yang baru dibuka setahun lalu tersebut menjadi magnet bagi wisatawan. Tidak kurang 400-450 orang setiap harinya berkunjung dan menikmati keelokan pantai tersebut.

Lokasinya terlihat asri, bersih dan alami. Pemandangannya juga tidak kalah dengan tempat wisata lainnya. Khusus pecinta selfie, layak dan patut mencobanya.

Dinamakan banyu anjlok karena air dari sumber pegunungan yang mengalir ke air terjun banyu anjlok setinggi 10 meter, terhubung langsung ke pantai. Biasanya air terjun tersebut mengalir deras di musim penghujan, karena kemarau debit airnya berkurang.

Untuk sampai ke wisata penuh adrenalin tersebut, butuh waktu sekitar 2,5 jam dari Kota Malang, bagi pengguna roda dua, dan jika menggunakan mobil bisa lebih panjang perjalannya.

Sesampainya di Desa Lenggoksono, pengunjung dipatok tiket masuk Rp 5 ribu per orang. Dari tempat loket, masih harus menempuh perjalanan 3,5 km. Itupun harus berkendara melewati jalan setapak, terjal naik-turun. Butuh keberanian lebih bagi orang baru karena samping kanan-kiri langsung dihadapkan dengan jurang.

Jika tidak, pengunjung dapat menyewa jasa ojek yang dipatok Rp 25 ribu per orang. Bila takut ketinggian, bisa pula menggunakan perahu untuk sampai tujuan, hanya butuh 7 menit ke lokasi air terjun dan pantai banyu anjlok.

Setiap orang dipatok harga Rp 50 ribu. Besaran biaya itu bisa mendatangi tiga tempat sekaligus yakni, banyu anjlok, pantai bolu-bolu dan sport snorkeling. Tiap sport diberi waktu 30 menit.

Salah satu pemilik perahu, Waskito, mengakui, mulai dibukanya wisata banyu anjlok memberi dampak positif bagi warga desa. Pasalnya, warga yang mayoritas petani kopi dan cengkeh bisa mendapatkan berkah dan penghasilan lebih.

Dikatakan, setiap hari libur ada 32 perahu yang siap mengantar pengunjung ke lokasi wisata. Transportasi laut ini lebih mudah dan cepat.

Setiap perahu terisi 10 orang lengkap mengenakan pelampung keselamatan.

“Kalau tidak fasih naik sepeda, jangan coba-coba lewati jalan setapak berbukit. Apalagi, di musim penghujan,” katanya.

Melayani wisatawan menjadi pekerjaan sampingan nelayan sekitar. Penghasilannya cukup menggiurkan, untuk hari libur tiap nelayan mampu meraup keuntungan Rp 450 ribu, sudah termasuk potongan ke kas desa dan operasional.

Hal senada diungkapkan Sanusi. Menurutnya, belum ada kejelasan pengelolaan wisata baru ini. Apakah dikelola langsung pemerintah daerah atau pemerintah desa.

“Fasilitas menuju tempat wisata jauh dari layak, di lokasi wisata juga belum tersedia kamar mandi, dan fasilitas lainnya. Padahal, antusias pengunjung cukup besar,” akunya.

Dalam waktu dekat, akan ada lokasi baru yakni Taman Glendang yang juga bisa dibuat snorkeling.

“Sekarang yang dibuat snorkeling di pantai kletaan, semoga tambahan sport ini bisa semakin banyak pengunjung yang ke sini,” harapnya.

Makan Mie Aceh Sambil Ngopi, Chutnea House Tempatnya

MALANGVOICE – Pecinta kopi Kota Malang kini dimanja dengan kehadiran berbagai kedai yang menjamur. Namun, beberapa di​antaranya hadir dengan konsep dan sajian khas, sebagai cara bersaing dalam dunia bisnis yang menjanjikan ​itu.​

Salah satu yang berani tampil beda ​adalah Chutnea House, Cloths and Keudekupi​,​ di Jalan Brigjen Slamet Riyadi 76/01. ​Dari nama​nya​, aroma Aceh sangat terasa ditampilkan sang pemilik. ​Sebutan ‘Keudekupi’ ​memang diambil dari bahasa Aceh​,​ yang artinya kedai kopi​.​

Mengambil konsep garment industrie​,​ kedai ini merupakan salah satu alternatif tempat ngopi yang nyaman​,​ dengan pernak-pernik yang tertata rapi.
​M​enu khas cita rasa Aceh, dengan berbagai varian, seperti Mie Aceh serta nasi goreng dengan bumbu racikan yang khas, Chutnea ​pun​ menjadi alternatif baru di industri kedai kopi.

Bahkan, untuk urusan kopi, sang pemilik kedai, Parnia Ramadani, terbilang serius menghadirkan cita rasa khas dengan rasa kopi yang kuat. Ditemui MVoice, Rabu (16/9) malam, wanita yang akrab disapa Nia ​itu​ mengaku​,​ kopi yang disajikan kepada pengunjung kedainya ​memang didatangkan ​langsung ​dari Takengon, Aceh.

Meski dalam daftar menu​,​ laiknya kedai lain, ​juga ada espresso, ristretto, cappucino hingga latte, namun, penggunaan bahan dasar kopi dari Aceh merupakan keunggulan yang ditampilkan kedai ini.

Bagi pecinta kopi yang ingin merasakan betapa kuatnya kop​i​ Aceh, selain menu di​ ​atas, bisa memilih menu spesial seperti Gayo Kupi, Solong Kupi hingga Gresik Kupi yang merupakan cita rasa khas ​N​usantara. Bahkan pengunjung tak perlu khawatir, sebab Chutnea juga menyediakan menu kopi luwak khas Gayo yang sangat menantang.

Tak hanya kedai kopi, di lantai satu Chutnea House ​juga ​terdapat butik yang menyediakan pakaian dengan brand Chutnea yang di desain sendiri oleh sang owner. “Konsep awalnya​,​ anta​ra kedai dan butik ini satu kesatuan, jadi kenapa kedainya juga dengan konsep industri garmen,” kata Nia.

Dikatakannya, pangsa pasar yang dituju yakni mahasiswa yang sedang belajar di Kota Malang. Menangkap peluang banyaknya mahasiswa yang datang setiap tahunnya, membuat Nia serius membangun kedai kopi yang khas.

“​A​ku ingin kedai ini menjadi tempat orang mencicipi kopi berkualitas,” tandasnya.

The Singhasari Resort & Convention Perkenalkan Ikon Baru

Ikon baru The Singhasari Resort & Convention. (deny/malangvoice)

MALANGVOICE – The Singhasari Resort & Convention memperkenalkan ikon baru bernama Singa dan Sari, di Dimension Roof Top Bar & Lounge, Sabtu (12/9).

Ikon menyerupai singa jantan dan betina itu melambangkan nama dari Singhasari, yang sekaligus nama kerajaan dan Singa artinya raja, sedangkan ikon Sari bermakna pasangan dari raja di Kerajaan Singhasari.

Menurut Eksekutif Asisten Manager (EAM), M Harun Arasyid, ikon baru ini diharapkan bisa menarik banyak pengunjung di resort bintang lima yang terletak di Jalan Ir Soekarno 120, Kota Batu, itu.

“Ikon kami selalu menemani para tamu yang berkunjung, dan ini jadi khas kami,” katanya kepada MVoice, Sabtu (12/9).

Pada saat yang sama, The Singhasari Resort juga mengenalkan salah satu fasilitas bar Dimension Roof Top Bar & Lounge di lantai 3. Pengunjung selain menyantap panganan dan minuman enak, akan disodorkan pemandangan apik Kota Batu di malam hari dengan diiringi live akustik.

KCF Harmoni untuk Indonesia

MALANGVOICE – Kampung Cempluk Festival (KCF) kembali digelar pada 27 September – 03 Oktober 2015 mendatang di Dusun Sumberjo, Desa Kalisongo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.

Even ke-6 tersebut bertema ‘Harmoni Kampung Untuk Indonesia’. Dengan mempresentasikan kampung sebagai ruang berkesenian dan berkebudayaan, sekaligus tempat berinteraksi bagi warga.

Ruang-ruang kesenian yang dulu tidak bisa dinikmati warga kampung, dihadirkan kehadapan mereka seperti komunitas seni dan budaya serta peran aktif warga Desa Kalisongo sebagai tuan rumah.

Even KCF mampu memberi sumbangan besar pada ekonomi warga sekitar. Banyak warga beralih menjadi pedagang di pinggir jalan dengan menjual jajanan masa lampau.

Salah satu penggagas KCF, Redy Eko Prastyo mengatakan, KCF ke-6 bakal menghadirkan kesenian dari Pacitan, selain kesenian asli dari kampung Kalisongo. “Seni rontek akan mengiasi KCF tahun ini. Ini membuktikan banyak seniman yang memperhatikan KCF,” katanya.

Dalam even itu, lanjut Redy, konsep sama seperti tahun lalu yakni menggunakan tiga pangung dan mematikan lampu depan rumah serta jalan sehingga memaksimalkan lampu cempluk.

Tiga panggung tersebut diambil dalam tokoh pewayangan, antara lain Bapang, Kelono, dan Panji Asmoro Bangun.

Tiap panggung akan menghadirkan atraksi kesenian, cempluk bersastra (puisi), cempluk berbunyi (seni kontemporer) , cempluk bernyanyi (band dan akustik) dan cempluk bergerak (seni tari).-

Komunitas