VIDEO: Serunya Berpetualang di Dunia Game VR Jatim Park 3

Zona Game VR di Jatim Park 3 (Aziz R)
Zona Game VR di Jatim Park 3 (Aziz R)

MALANGVOICE – Saat berkunjung ke Dino Mall Jatim Park 3, rugi tidak mencoba zona Virtual (VR) Arena. Zona ini hadir cocok untuk gamers dengan permainan yang memiliki teknologi canggih.

Tepatnya berada di Dino Mall lantai dua. Dalam VR Arena itu terdapat empat pilihan permainan dengan keseruan berbeda-beda. Seperti mix reality experience, permainan pilihan tentang berburu monster yakni tentang sword gladiator dan atomic VR.

Dalam bermain pengunjung harus menggunakan peralatan seperti kacamata dan remote controller. Anda aka berduel satu lawan satu layaknya gladiator di arena laga. Menariknya, pengunjung juga dapat menyimpan video saat bermain.

“Kalau zona mix reality ini pengunjung bisa dapat rekaman video saat bermain dalam game tersebut. Gamers ini seolah bermain nyata,” ungkap Penanggung Jawab VR Arena, Gilang Permata.

Kemudian ada VR Bridge, sambil menggunakan kacamata dan stik pada dua tangan, pengunjung ditugaskan dengan misi menyelamatkan kucing terjebak pada sebuah gedung. Untuk menyelamatkan kucing ini tidak mudah. Sebab harus melintasi sebuh papan kecil untuk menjemput dan mengembalikan kucing pada tempat yang aman.

Lalu ada game XD yang mengharuskan pemainya masuk dalam mobil tank. Pengunjung juga diharuskan mengenakan kacamatan 3D dan membawa pistol. Di ruangan kedap suara, Anda akan dihadapkan pada peperangan melawan sekumpulan mumi. Permainan ini untuk usia 18 ke atas. Sedangkan 18 tahun ke bawah pengunjung akan diajak menyusuri hutan dengan mobil tank tersebut.

“Selain itu kita juga ada virtual shooter experience dan virtual jetpack simulator,” tutupnya.(Der/Ak)

Ribuan Wisatawan Padati Sumber Sira

Wisata Sumber Sira
Wisata Sumber Sira

MALANGVOICE – Wisata alam Sumber Sira yang berlokasi di Desa Putukrejo, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang dipadati ribuan wisatawan.

Ribuan wisatawan sudah memadati sumber yang unik dengan ganggang air tawarnya ini sejak pagi.

Lokasi wisata ini tampak padat. Ada juga wisatawan yang memanfaatkannya dengan bersantai di pinggir kolam sumber sembari menikmati bekal makan mereka.

Salah satu pengunjung Dian menjelaskan, dia sengaja datang sejak pagi agar bisa menikmati wisata alam ini lebih lama. Dia datang bersama dengan tiga temannya.

“Saya datang pagi sekitar pukul 09.00. Inginnya bersantai lebih lama, tapi sejak pagi sudah padat,” kata Dian.

Pengelola wisata, Abdul Rosyid Asadullah menjelaskan sejak liburan Natal seminggu lalu, tempat yang dia kelola didatangi ribuan orang.

“Sehari perkiraan dikunjungi 3 ribu pengunjung,” kata dia.

Rosyid memerkirakan, hari ini 5 ribu pengunjung mendatangi Sumber Sira.

“Sekarang saja sudah mencapai 4 ribu,” tandas dia.

Bukan Mobil Biasa, Ini ‘Buick 1910 Tonneau’ di Museum Angkut

Buick 1910 Tonneau di Museum Angkut (Foto: Ayun)

MALANGVOICE – Museum Angkut di Kota Batu memang jadi destinasi menarik. Kini museum makin keren dengan adanya mobil merk ‘Buick 1910 Tonneau’. Mobil itu merupakan mobil keluaran General Motors – Amerika tahun 1900 an.

Operasional Manager Museum Angkut, Endang A Shobirin mengatakan jika mobil ini awal masuk ke Museum Angkut sekitar tahun 2013 dan berhasil dihidupkan di tahun 2016.

“Mobil ini menjadi koleksi tertua disini. Mobil ini diproduksi pertama pada 1904 dengan mesin katup overhead. Dan masuk ke Museum Angkut pada tahun 2013,” ujarnya saat ditemui MVoice.

Diketahui mobil ini dulunya digunakan masyarakat Eropa dan Amerika golongan bangsawan. Karena tergolong mahal dengan kategori mobil touring.

Meski terkesan mobil kuno,q mobil ini ternyata sudah menjadi mobil canggih di zamannya. Menggunakan mesin empat silinder dengan katup overhead push-rod dan didukung 2.400 CC. Tak hanya itu saja, mobil berbahan bakar premium ini mampu menghasilkan 24 – 40 tenaga kuda dengan kecepatan mencapai 60 km per jam.

Hal unik lagi dari mobil ini ternyata lampu depan di sisi kiri dan kanannya menggunakan lampu minyak layaknya lampu delman zaman dahulu. Selain itu ada 2 lampu yang menggunakan bahan karbit.

“Jadi kita menyalakan lampunya cukup dengan menggunakan korek api gas pada katup dalam lampunya hingga menyala,” pungkasnya.

Launching mobil kuno ini sengaja dilakukan di perayaan ulang tahun Museum Angkut yang ke – 5. Dan juga sekaligus menandai transformasi besar-besaran Museum Angkut sebagai wahana wisata sekaligus edukasi kepada pengunjung.(Der/Aka)

5 Destinasi ‘Tersembunyi’ di Raja Ampat

Pulau Misool. (Rajaampatparadise)

MALANGVOICE – Indonesia memiliki banyak destinasi wisata yang tersebar di seluruh wilayah, terutama bagian timur. Salah satunya Raja Ampat.

Terletak di Papua Barat, Raja Ampat dikenal memiliki keindahan alam luar biasa. Tak ayal, tempat tersebut jadi idaman wisata banyak orang.

MVoice merangkum lokasi yang perlu dikunjungi selama berada di Raja Ampat, apa saja?

Pulau Misool

Pulau Misool tidak sepopuler Pulau Wayag atau Waigeo. Letaknya memang cukup jauh, bahkan paling jauh dari Sorong. Membutuhkan waktu sekitar 5 jam dengan menumpang speedboat untuk menjangkaunya.

Pulau Misool menyimpan sejumlah objek wisata tersembunyi. Di antaranya Yapap dan Love Pool, Danau Lenmakana, dan Harfart Peak. Yapap dan Love Pool adalah sebuah laguna berhiaskan formasi pulau-pulau karst.

Pulau Mansuar

Keindahan Pulau Mansuar sudah terasa sejak dalam perjalanan dari Waisai. Ketika sampai, hamparan pulau perawan dengan pantai-pantai berpasir putih dan air laut yang jernih tersaji di depan mata.
Jika ingin merasakan sensasi tinggal jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Anda tak akan menemukan satupun bangunan modern di sini. Hanya ada dermaga, resort, dan perkampungan penduduk yang pasti akan menyambut dengan hangat.

Hidden Bay

Dalam Bahasa Indonesia, Hidden Bay berarti teluk yang tersembunyi, dan memang begitulah kenyataannya. Jalan masuknya melalui sungai yang diapit hutan mangrove di kedua sisinya. Lokasi ini menjadi spot diving dan snorkeling baru favorit wisatawan, ditumbuhi beragam jenis koral dan vegetasi laut lainnya.

Teluk Hidden Bay terletak di Distrik Waigeo Barat. Pulau-pulau karst bercokol nyaman, tersebar di perairan teluk ini. Anda bisa menikmatinya tanpa perlu turun dari perahu.

Kalibiru

Kalibiru merupakan sebuah sungai di pedalaman hutan dekat Kampung Warsandim, kawasan Teluk Mayalibit. Lokasinya bisa dijangkau dengan 1 jam perjalanan speedboat dari Waisai. Kemudian dilanjutkan berjalan kaki selama 30 menit melewati medan cukup berat.

Nama Kalibiru menggambarkan kejernihan air di sungai, sampai-sampai tampak berwarna kebiruan dari atas. Saking bening dan tenangnya, dasar sungai terlihat jelas dengan mata telanjang.

Laguna Pulau Rufas

Masih di Distrik Waigeo Barat, kali ini menuju Desa Pam untuk mengunjungi Laguna di Pulau Rufas. Laguna Pulau Rufas adalah sebuah taman laut dangkal dikelilingi tebing karst. Perairannya tenang, lengkap dengan spot-spot pantai berpasir putih di beberapa sisinya.
Sampai sekarang belum banyak agen perjalanan yang menyediakan paket wisata ke beberapa destinasi di atas. Tapi Anda bisa merencanakan perjalanan sendiri tanpa bantuan agen travel. Mulailah dengan menyusun itinerary dan menyiapkan anggaran.

Cek harga tiket pesawat dari kota Anda menuju Sorong sebelum mencari tahu tarif menyeberang ke Raja Ampat. Sebagai referensi, harga tiket pesawat Sriwijaya mulai dari Rp 2 juta-an. Jadi, sudah siap jalan-jalan? (Der/Aka)

The Shalimar Bidik Tamu Eropa

Suasana di balkon lantai dua The Shalimar Hotel yang bisa diakses melalui hall atau langsung dari resto.

MALANGVOICE – The Shalimar Hotel (dulu Graha Cakra) tampil baru dengan mengusung status hotel butik bintang lima. Menawarkan 44 kamar bergaya kolonial Eropa, hotel yang tengah menggelar promo diskon 30 persen saat soft opening hingga 10 Februari tersebut mencoba membidik turis mancanegara.

“Yang pasti turis Eropa, kemudian Inggris. Dan ada pasar baru lagi yang ingin kami garap yaitu turis Amerika,” jelas Direktur The Shalimar Boutique Hotel, Lily Jessica Tjokrosetio saat ditemui wartawan usai seremonial soft opening The Shalimar Hotel hari ini (10/12/2015).

Corporate Business Development Manager The Shalimar Hotel, Iwan Gunawan menambahkan, di tahun pertama pembukaan The Shalimar, manajemen menargetkan okupansi rata-rata di angka 70 persen. Jika mengacu pada hotel terdahulu, okupansi kamar disumbangkan oleh tamu asing sebanyak 60 persen dan lokal 40 persen.

Karyawan The Shalimar Hotel menyiapkan snack untuk tamu di area swimming pool. Di ruang ini, juga bisa dipakai tamu untuk menikmati tea time.
Karyawan The Shalimar Hotel menyiapkan snack untuk tamu di area swimming pool. Di ruang ini, juga bisa dipakai tamu untuk menikmati tea time.

“Karena itulah, kita perkuat jaringan dengan travel agent. Selain memaintenance yang sudah ada, kita juga menambah jaringan baru. Setidaknya ada empat agen perjalanan baru yang bekerjasama dengan kita,” kata dia.

Selain membidik tamu wisatawan, The Shalimar Hotel juga memberikan fasilitas tambahan untuk kegiatan meeting. Selain meeting room berkapasitas 12 orang, ada juga hall berkapasitas 250 orang di lantai dua yang dilengkapi dengan teras terbuka, sehingga tamu bisa menikmati suasana Kota Malang.

“Untuk teras yang berada di balkon ini, kami buka untuk umum. Karena itulah ada akses tangga langsung. Tujuannya, tamu resto yang ingin menikmati makanan dengan suasana lain, bisa besantap di balkon,” jelas Guest Relation Office The Shalimar Hotel, Setyowati.

Gelar Joko Galing Bercerita Kesewenangan Pimpinan

Salah satu adegan seni budaya ketoprak yang digelar di TKBJ Jawa Timur di Malang. (hamzah/malangvoice)

MALANGVOICE – Invasi budaya pop di Indonesia sedikit banyak telah merongrong kehidupan seni dan budaya lokal yang sejak lama berusaha dipertahankan para leluhur. Karenanya, menumbuh kembangkan kesenian dan budaya, merupakan kewajiban seluruh stake holder termasuk jajaran pemerintahan.

Apresiasi positif harus dialamatkan kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur yang sedia menghidupkan kembali budaya lokal dengan berbagai cara. Beberapa pagelaran budaya lokal, seperti ketoprak, ludruk hingga wayang orang berhasil disuguhkan di tengah masyarakat Kota Malang sepanjang tahun 2015.

Bertempat di Taman Krida Budaya Jawa Timur (TKBJ), pertunjukan yang sudah dimulai pada awal tahun ini ternyata mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Pantauan MVoice, Sabtu (29/8) di lokasi, penonton datang berjubel untuk menyaksikan sisa-sisa kejayaan budaya lokal itu.

Warga baik kalangan muda dan tua, terlihat antusias menonton suguhan Ketoprak THR Surabaya dengan lakon Joko Galing. Bercerita mengenai upaya kudeta dan kesewenang-wenangan kerajaan kepada rakyatnya, lakon ketoprak ini cukup memikat penonton.

Dikemas apik dengan memadukan iringan musik gending serta pencahayaan panggung yang atraktif, akting para aktor ketoprak ini di atas panggung, tampak hidup dan mampu mengaduk emosional penonton yang ada.

Kasi Pengembangan Seni dan Budaya, UPT Taman Budaya Jawa Timur, Widodo SSM, MM, mengatakan, menghadirkan kembali pertunjukkan seni dan budaya lokal masyarakat selain merupakan upaya menjaga dari kepunahan akibat tuntutan zaman.

“Dulu tahun 1990-an kita mengenal ketoprak Siswo Budoyo yang sempat digandrungi masyarakat, kini hal itu semakin ditinggalkan,” kata Siswono, kepada MVoice.

Padahal, nilai filosofis dan pesan yang ada dalam cerita ketoprak, ludruk, wayang orang, dan sebagainya, justru sangat pas dengan kondisi masyarakat Indonesia bila dibanding cerita impor dari luar negeri.

“Cerita ini lahir masyarakat dan hidup di masyarakat, jadi cerita ludruk atau ketoprak, sangat bisa diterima dengan baik sebenarnya,” beber dia.

Selain itu, dijelaskan, menghidupkan kembali seni dan budaya, sangat berhubungan erat dengan kehidupan pariwisata. Wisatawan, utamanya dari mancanegara selain tertarik dengan pesona alam, juga tertarik dengan kesenian lokal.

“Kalau kita mau hidupkan seni seperti ini, akan berdampak pada dunia pariwisata dimana imbasnya akan ada pada dunia perekonomiam,” tegasnya.

Oleh sebab itu, komitmen menghidupkan kembali budaya lokal, merupakan usaha strategis dengan efek domino yang positif di berbagai sektor lini.-

Ingin Snorkling? Ke Kletakan Saja!

Teluk Kletakan yang sering menjadi spot snorkling. (Tika)
Teluk Kletakan yang sering menjadi spot snorkling. (Tika)

MALANGVOICE-Berbahagialah yang tinggal di kawasan Kabupaten Malang atau di sekitarnya. Pasalnya, kawasan itu memiliki eksotisme pantai yang seolah tidak berkesudahan.

Kali ini MVoice akan mengajak netizen menengok keindahan Teluk Kletakan. Menuju Teluk Kletakan ini para traveler harus menapaki Pantai Lenggoksono, Dusun Lenggoksono, Desa Purwodadi, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang.

Jika ditempuh dari Kota Malang, butuh antara 3 hingga 3,5 jam perjalanan.

Begitu sampai di Lenggoksono, kita bisa menggunakan jasa perahu bercadik untuk mengantar menuju Teluk Kletakan, dengan biaya sekitar Rp 50 ribu.

Ada apa di Teluk Kletakan? Teluk Kletakan merupakan salah satu spot Snorkling terbaik. Terletak di perairan dengan kedalaman sekitar lima meter, dengan pemandangan yang memanjakan mata.

Paduan serasi antara warna laut biru tua, langit biru mida dan venue yang dikelilingi batuan besar serta ombak yang bersahabat.

Begitu mencoba snorkling, pemandangan alam bawah laut segera tersaji. Gugusan terumbu karang dengan aneka bentuk dan warna seolah menyambut kedatangan.

Ikan-ikan kecil aneka bentuk dan warna berenang kesana kemari seolah memamerkan pesonanya.

“Coba diberi remahan roti. Mereka pasti akan langsung berkumpul,” jelas Slamet, tukang perahu yang juga menjadi pemandu jalan.

Mencicipi Sajian Ketan ‘Legenda’ yang Tak Lekang Waktu di Kota Batu

Kedai pos ketan legenda yang berada di di Jalan Kartini, Kelurahan Sisir, Kota Batu (Ayun/MVoice)
Kedai pos ketan legenda yang berada di di Jalan Kartini, Kelurahan Sisir, Kota Batu (Ayun/MVoice)

MALANGVOICE – Kota Batu memang punya segudang pesona. Saat berkunjung ke kota ini, ada banyak tempat wisata menarik yang bisa kamu eksplor. Mulai dari wisata alam, wisata buatan hingga wisata pertanian.

Tak hanya itu saja, tempat wisata kuliner dengan cita rasa lezat yang melegenda pun juga bisa kamu coba saat berkunjung ke kota yang mendapat julukan de Kleine Swizterland.

Bicara soal kuliner legenda di Batu, tentu tak lepas dari hidangan yang satu ini. Nah, Pos Ketan yang melegenda ini berada di Jalan Kartini, Kelurahan Sisir, Kota Batu.

Berdiri sejak tahun 1967, Pos Ketan Legenda kini memiliki puluhan varian toping. Mulai dari rasa original yang terdiri dari parutan kelapa, bubuk kedelai dan gula jawa, rasa keju susu, hingga rasa duren yang disajikan bersama buah duren asli.

Khotiul Jannah, pengunjung asal Pasuruan mengungkapkan belum ke Kota Batu jika belum mencicipi legitnya sajian ketan di kota dingin ini.

“Tekstur ketannya memang begitu pulen dan terasa meleleh di dalam mulut. Ini menjadi alasan saya kuliner ke Kota Batu. Karena ketan di sini beda dengan lainnya. Meski dibiarkan seharian teksturnya tak keras,” ujarnya.

Sugeng Hadi generasi kedua penerus bisnis Pos Ketan Legenda mengatakan usaha ketan ini pertama kali dirintis oleh neneknya, Siami.

“Resep itu seperti yang dijual oleh nenek sejak 57 tahun silam, hingga ketan kini identik dengan Kota Batu,” ungkapnya saat diwawancarai MVoice.

Pos Ketan Legenda juga mampu menjaga konsistensi rasa sejak 1967. Menurut Sugeng tak ada kiat khusus untuk memasak ketan.

“Paling penting pilih ketan yang berkualitas baik. Kami pilih ketan dari Thailand yang kualitasnya paling baik. Ini lebih mudah diolah dan awet daripada ketan lokal,” imbuhnya.

Untuk penambahan legenda pada nama Pos Ketan diberikan lantaran ketan ini memang melegenda di kalangan pelanggan setia. Warung ketan telah hadir sejak 52 tahun lalu dan masih ramai hingga saat ini.

Pos Ketan Legenda juga dikenal dengan waktu operasional panjang yakni sejak pukul 16.00-03.00 WIB.

Sementara, Plt. Kepala Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu, Imam Suryono mengatakan kuliner merupakan aset andalan untuk menjual dan meningkatkan perekonomian di suatu daerah.

“Banyak daerah dikenal karena kulinernya. Kuliner memberikan pula manfaat ekonomi secara langsung bagi masyarakat,” tuturnya.

Nah, untuk mencicipi kenikmatan ketan legendaris ini, kamu cukup merogoh kocek sebesar Rp 6 ribu hingga Rp 16 ribu saja tergantung dengan varian rasa dan topping yang ingin dipilih.

Legitnya ketan Kota Batu menjadi destinasi kuliner yang sayang jika dilewatkan saat berada di kota dingin ini.(Der/Aka)

Ayunan Warna-Warni Coban Talun Siap Manjakan Wisatawan

Wahana baru 1.000 ayunan wana wisata Coban Talun, Dusun Wonorejo, Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji, siap menyambut wisatawan libur lebaran. (ist)

MALANGVOICE – Menyambut kunjungan wisata libur Lebaran atau Idul Fitri 1438 Hijriyah, beberapa tempat wisata telah siap 100 persen. Wana Wisata Coban Talun Dusun Wonorejo, Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji ini misalnya.

Pengelola wisata yang dinaungi KPH Perhutani Malang ini menambah wahana baru, yakni wahana 1.000 Ayunan dan Goa Jepang.

Wahana 1.000 Ayunan berada tak jauh dari lokasi air terjun atau Coban Talun. Sesuai namanya, pengelola memasang ayunan. Jumlahnya memang belum sampai 1.000. Namun, dari penampilannya, cukup memanjakan bagi pecinta foto. Sebab, selain menyuguhkan pemandangan pepohonan pinus, warna-warni ayunannya sangat menarik perhatian. ”Ayunan ini sebelummya sudah ada tapi tidak terawat. Sekarang kami perbaiki dengan konsep baru,” kata Koordinator Wisata Coban Talun, Samsul Huda.

Tiket masuk, lanjut Samsul, dipatok Rp 5.000 per pengunjung. Wahana ini diakuinya sudah dibuka seminggu sebelum libur lebaran. Tercatat sudah ada 300 pengunjung yang mencoba wahana baru tersebut. ”Saat hari libur jumlahnya (kunjungan) terus meningkat,” urainya.

Samsul menambahkan, untuk wahana Goa Jepang, pengunjung harus menempuh perjalanan sejauh 500 meter. Namun, tidak perlu khawatir, karena pihaknya sudah memperbaiki akses jalan. Sepanjang perjalanan, pengunjung akan disuguhkan hamparan hijau persawahan yang indah.

”Goa ini sudah ada dan diketahui warga sekitar. Sesuai namanya, di zaman peperangan, goa ini kabarnya dimanfaatkan tentara Jepang untuk bersembunyi,” pungkasnya.

Masjid Jami’ Daarul Muttaqiin, Padukan Kultur Sunan Kali Jaga-Cheng Ho

Masjid Jami’ Daarul Muttaqiin yang terletak di Jalan Sekar, Desa Pandanrejo, Kota Batu
Masjid Jami’ Daarul Muttaqiin yang terletak di Jalan Sekar, Desa Pandanrejo, Kota Batu (ayun)

MALANGVOICE – Konstruksi Masjid Jami’ Daarul Muttaqiin tergolong langka. Umumnya, model bangunan masjid terinspirasi dari satu tokoh yang berjasa kala itu. Namun, masjid di Jalan Sekar, Desa Pandanrejo, Kota Batu itu memadukan kultur dua tokoh yakni, Sunan Kalijaga dan Cheng Ho.

Masjid Jami’ Daarul Muttaqiin tidak sekadar menjadi tempat ibadah. Tapi, juga menjadi pusat berbagai kegiatan, seperti kegiatan belajar mengajar, juga ekonomi.

Ketua takmir Masjid Warnan Tarnidi menceritakan, masjid tersebut dibangun kali pertama sekitar 1957 lalu. Keberadaannya tidak seperti saat ini yang sudah beberapa kali direnovasi.

”Dulu masih kurang bagus dan kecil. Tapi, selalu dijadikan pusat kegiatan masyarakat,” ujarnya kemarin.

Masjid yang dibangun di lahan seluas 320 meter itu sudah kali ketiga direnovasi. Renovasi pertama pada 1968 silam. Kemudian renovasi kedua pada 1984.

”Renovasi yang terakhir ini pada 2014. Dan hingga sekarang tidak ada perubahan lagi,” ungkap Tarnidi yang juga komite di SMKN 2 Kota Batu itu.

Dari tiga kali renovasi itu pun tentu diakuinya mengalami perubahan total. Meski begitu, dalam setiap perubahannya tidak pernah melupakan filosofi dan sejarahnya. Tetap terilhami dari bangunan tempat ibadah masa Sunan Kalijaga dan Cheng Ho.

”Kami padukan dua unsur itu. Karena menurut kami, dua orang itu (Sunan Kalijaga dan Cheng Ho) sangat berjasa dalam perkembangan Islam di Indonesia,” ungkapnya.

Sunan Kalijaga merupakan wali yang berperan penting dalam masuknya Islam di tanah Jawa. Sedangkan adanya ornamen Tiongkok dikarenakan para Wali Sanga diyakini memiliki darah keturunan China daratan. ”Itulah yang ingin kami tularkan di bangunan ini. Agar mengalir dalam setiap sisi bangunan,” tuturnya.

Perpaduan dua tokoh dalam bangunan masjid tersebut bertujuan mengingatkan kembali sosok Sunan Kalijaga dan Cheng Ho kepada masyarakat.(Der/Aka)

Komunitas