Crane Jatuh di Masjidil Haram, CJH Batu Selamat

Crane yang jatuh di Masjidil Haram (istimewa)

MALANGVOICE – Kabar duka datang dari Makkah. Sebuah crane jatuh di tempat thawaf Masjidil Haram, hingga menyebabkan dua jamaah asal Indonesia wafat pada Jumat (11/9) sore waktu setempat.

Dari catatan nama korban yang ada, tidak ditemukan jemaah asal Kota Batu dan Malang Raya. “Alhamdulillah, CJH asal Kota Batu dalam kondisi baik-baik saja,” ungkap Kasi Bimas Islam, Moh Rosyad, saat dihubungi melalui selulernya.

Waktu kejadian, tutur Rosyad, CJH Kota Batu juga sedang melaksanakan Shalat Magrib di Masjidil Haram. Maka dari itu ia bersyukur bila jamaah Kota Batu masih diberi kesehatan dan keselamatan.

Adapun Jamaah Haji Indonesia yang wafat berasal dari kloter 09/MES embarkasi Medan bernana Masnauli Hasibuan dan kloter 2/JKS embarkasi Jakarta bernama Siti Rasmi Darmini asal Jawa Barat.

“Info dari Kapuskes Haji Kemenag RI, jumlah korban luka dari Jamaah haji Indonesia berjumlah 35 orang,” tambah Rosyad.

Ia melanjutkan, jamaah yang dirawat di BPIH Makkah ada 7 orang, di RSAS ada 18 orang, dan jamaah luka yang dirawat di sektor ada 8 orang. “Warga Kots Batu tidak usah khawatir,” pesannya.

Berikut Daftar Korban Kecelakaan Jamaah Haji Indonesia.

Daftar Korban

Aji: Jangan Pergi Dulu, Otsuka…

Aji Prasetyo

MALANGVOICE – Ketua Aliansi Peduli Hutan Kota Malabar, Aji Prasetyo, meminta kepada PT Amerta Indah Otsuka agar tidak begitu saja meninggalkan revitalisasi hutan kota. Sebab, memilih mundur dari semua permasalahan bukanlah solusi yang baik.

“Otsuka jangan mundur dulu, itu tidak menyelesaikan masalah,” kata Aji kepada MVoice, Sabtu (12/9).

Dijelaskan, sebenarnya aliansi tidak pernah menolak revitalisasi hutan kota. Yang mereka beratkan adalah konsep dan site plan yang dirasa jauh dari nilai ekologis.

“Sebenarnya semua bisa dibicarakan, selama konsep revitalisasi di rel yang benar, tentu kita sangat mendukung. Namun, sayangnya sampai CSR dicabut, tidak ada komunikasi dari Pemkot soal menyamakan persepsi soal revitalisasi,” beber Aji.

Komikus ternama itu menambahkan, saat ini hal yang perlu dilakukan, usai Otsuka mundur, adalah mencabut semua seng yang ada di sana.

“Kembalikan seperti semula, seharusnya Pemkot dan Otsuka bertanggung jawab atas apa yang terjadi di Malabar, karena akad itu terjadi antara dua pihak,” tandasnya.

Ratusan Pelayat Tunggu Kedatangan Jenazah Mudjiono di Samaan

Pelayat tengah menunggu kedatangan jenazah Mudjiono. (deny/malangvoice)

MALANGVOICE – Selain di rumah duka Jalan Ijen No 1 Kota Malang, ratusan pelayat almarhum Mudjiono Mudjito juga sudah berkumpul menunggu kedatangan jenazah di TPU Samaan, Sabtu (12/9), sejak pagi tadi.

Ratusan pelayat bahkan sudah mengelilingi liang lahat untuk mengawal peristirahatan terakhir mantan tokoh real estate dan Persema itu.

Salah satu rekan almarhum, Sugeng, mengaku sudah menunggu di TPU Samaan sejak pukul 09.00 WIB.

“Saya takut ketinggalan, makanya langsung ke sini,” katanya kepada MVoice, beberapa menit lalu.

Jenazah Mudjiono dibawa dari rumah duka menggunakan mobil ambulan, diiringi pelayat lain.

Mudjiono Mudjito salah satu tokoh di Kota Malang, selain sukses memberi gelar pada persepakbolaan di Malang, pria yang genap berusia 64 tahun pada Senin (7/9) lalu itu termasuk salah satu pengembang Perumahan Griyasanta dan sejumlah perumahan lain di Malang.

Konser Bon Jovi Sukses, d’Kross Serap Banyak Ilmu

Menyak di depan panggung Konser Bon Jovi, 4 jam sebelum pertunjukan dimulai, dan suasana di sekitar area pertunjukkan. (istimewa)

MALANGVOICE – Konser Bon Jovi benar-benar menjadi magnet, tidak hanya bagi penikmat dan pecinta music, tapi juga pengulik aspek lainnya, seperti pengorganisasian kegiatan, stage, sound, lighting dan sebagainya.

Ilmu-ilmu penting itulah yang dibidik Menyak, pencabik bass kelompok musik asal Malang, d’Kross. Menurut dia, banyak aspek penting yang pantas diaplikasikan pada penyelenggaraan musik di Malang.

Banyak hal yang secara detil ia amati. Bersama sejumlah personel d’Kross, Menyak memang sudah berada di Jakarta sejak beberapa hari menjelang konser. Manajemen ticketing hingga pasca konser dia pelajari semua.

“Jadi tidak hanya aspek teknis. Aspek non teknis, seperti pengelolaan penjualan merchandize di lokasi penyelenggaraan konser, semua tergorganisasi secara rapi. Itu semua kami amati,” katanya, beberapa menit lalu.

Pengorganisasian acara yang bagus itu, sambung Menyak, menjadikan suasana di arena konser begitu nyaman, meski ribuan pecinta Bon Jovi hadir dari berbagai penjuru Tanah Air.

“Saya jauh-jauh dari Malang memang ingin melihat tata panggung, lighting dan sound. Ini penting untuk tambahan wawasan bagi personel d’Kross. Semua harus dicontoh,” tukasnya sumringah.

Pentas Bon Jovi sendiri dimulai pukul 20.30, diawali tampilnya band pembuka, Sam Tsui, ditandai mengalunnya lagu kebangsaan Indonesia Raya.
“Pertunjukan berlangsung lancar, suasana asyik, karena bisa ketemu fans Bon Jovi dari seluruh Indonesia. Bayangkan, konser seakbar itu bisa berjalan tertib, sehingga ada rasa nyaman bagi penikmat music, termasuk ada imbauan menjaga kebersihan. Ini harus ditularkan di Malang,” tuturnya.

Jenazah Mujiono Disalatkan

Jenazah Mudjianto Mudjito disalatkan (deny/malangvoice)

MALANGVOICE – Jenazah salah satu tokoh Kota Malang, Mudjiono Mudjito, disalatkan di rumah duka di Jalan Ijen No 1, Kota Malang, Sabtu (12/9).

Sanak saudara dan kerabat dekat mantan manajer Persema itu secara bergiliran menyalatkan almarhum. Di antara makmum, terlihat Media Officer Arema Cronus, Sudarmaji, ikut secara khusyuk menyolatkan almarhum.

Anak kandung Mudjiono Mudjito, Adat Prawira Bima, mengatakan, setelah disalatkan, jenazah sang ayah diberangkatkan menuju pemakamkan TPU Samaan, pukul 10.00 WIB setelah disemayamkan selama satu hari untuk menunggu kedatangan anak dan saudaranya.

“Di sana (Samaan) memang banyak anggota keluarga kami dimakamkan, jadi kami pilih di sana,” katanya kepada MVoice, beberapa menit lalu.

Seperti diberitakan, pria kelahiran 1951 itu meninggal pada Jumat (11/9), karena sakit jantung. Sempat dibawa ke IGD RSSA Kota Malang, namun nyawanya tidak tertolong.

Choma Gencarkan Sambang Tokoh dan Nawak Ewed

MALANGVOICE – Pasangan calon bupati dan wakil bupati Malang dari jalur perseorangan, Nurcholis-M Mufidz, fokus pendekatan dan sosialisasi kepada tokoh dan kerabat.

Langkah itu dinliai efektif, mengingat masa kampanye cukup panjang. “Malah ada yang kaget saya bilang maju di pilbup, ada juga yang nanya punya modal berapa,” kata Cabup Nurcholis, saat dihubungi MVoice, beberapa menit lalu.

Sebagai nawak ewed, lanjut dia, penting menyampaikan tujuan dan visi misi. Sebab, sekalipun kerabat belum, tentu menjatuhkan pilihan kepadanya, jika visi misinya tidak jelas.

Dikatakan juga, sejak mencalonkan diri sebagai cabup dan cawabup, banyak kalangan menilainya sebagai calon boneka.

Namun sejak ditetapkan dan mendapat nomor urut, anggapan itu mulai bergeser, dari calon boneka menjadi calon kuda hitam.

“Dari teman nanti bisa disampaikan ke sekitarnya, media juga sangat membantu. Sebagian warga paham pencalonan saya ya dari media,” ungkapnya bangga.

Sampai saat ini, banyak warga, tokoh dan pengusaha mau menyumbang secara sukarela. Ada yang Rp 500 ribu, bahkan Rp 1 juta.

“Saat ini sudah sekitar Rp 10 juta terkumpul, sebagian lain masih akan nyusul lagi,” paparnya.

Pasar Dinoyo Diharap Segera Beroperasi

Pasar Dinoyo

MALANGVOICE – Polemik pembangunan Pasar Dinoyo hingga kini belum tuntas. Sejumlah pihak yang mengatasnamakan pedagang, mengaku belum menemukan kejelasan ihwal harga lapak serta operasional pasar.

Kepala Dinas Pasar, Wahyu Setiyanto, berharap pedagang bisa menempati pasar segera mungkin. Pasalnya saat ini sedang dilakukan penambahan pernak pernik beberapa kios.

“Kalau secara fisik sudah oke, tapi ada beberapa hal, termasuk pernak pernik yang masih kurang itu,” kata Wahyu.

Dikatakan juga, permasalahan fisik bangunan harus tuntas seratus persen, sebelum pedagang menghuni lapak di sana. “Permasalahannya harus selesai, tapi kami berharap itu bisa dilakukan secepatnya,” harapnya.

Terkait masalah harga lapak, dia mengaku, sebagian besar pedagang sebenarnya tidak mempermasalahkan harga dan skema yang ditawarkan investor.

“Hanya beberapa kelompok saja yang masih keberatan, dan itu masih kami coba komunikasikam,” imbuhnya.

Smentara Ketua Komisi B DPRD Kota Malang, Abdul Hakim, berharap agar masalah Pasar Dinoyo tidak berlarut larut. “Dewan berharap bisa selesai secepatnya,” pintanya.

Keluarga Bachdim Bagikan Nasi Bungkus di Jalanan

MALANGVOICE – Keluarga besar Irfan Bachdim membagikan nasi bungkus kepada gelandangan dan pengemis di sekitar Pasar Besar Malang, Jumat (11/9) malam ini.

Ayah Irfan Bachdim, Nouval Bachdim memimpin rombongan keluarganya membagi-bagikan makanan yang diangkut menggunakan becak.

Dalam pembagian itu, Nauval mengajak serta anak yatim yang diasuh panti asuhan milik keluarga Bachdim di Jalan Markisa, Kota Malang.

Namun, Irfan Bachdim tidak ikut dalam kegiatan itu. “Irfan masih di Jepang. Dia belum kembali ke Indonesia,” kata Nouval Bachdim.

Menurut Nouval, kegiatan bagi-bagi makanan ini rutin dilakukan jika dia dan istrinya berkesempatan pulang ke Indonesia.

Dalam kepulangan kali ini, Nouval juga berencana menggelar pertandingan eksebisi, Senin (14/9) mendatang di Lapangan Kusuma Agrowisata Batu.

Laga itu mempertandingkan tim bentukan yang terdiri dari anak-anak kurang mampu. “Ada oleh-oleh dari salah satu klub di Belanda, nanti kami berikan ke mereka. Untuk membentuk tim itu kami sudah minta bantuan ke Pak Haris Thofly (pemerhati sepak bola), dia carikan anak untuk main,” imbuh Nouval.-

Manfaatkan Idul Kurban, Kabul Untung Jutaan Perhari

Kabul memberi makan kambing jualannya seharga Rp 4,5 juta. (fathul)

MALANGVOICE – Jualan kambing menjelang Hari Raya Idul Adha memang menguntungkan. Apalagi jika di daerah tersebut tidak ada peternak dan tidak ada saingan penjual lainnya.

Hal itulah yang dialami oleh Kabul, warga Jalan Wukir Gang 5, Temas, Kota Batu. Ia berjualan kambing persilangan jenis Etawa di Jalan Pattimura, Kota Batu. Dua minggu jualan, 36 kambing habis terjual.

“Saya sudah jualan 30 tahun di sini mas, makanya sudah dikenal. Kalau jualan di Pattimura ini baru 8 kali lebaran haji. Ya lumayan untungnya,” cerita Kabul kepada MVoice, Jumat (11/9).

Ia menceritakan kalau di Kota Batu tidak ada peternak. Suplai kambing miliknya mendatangkan dari Tulungagung. Ia sengaja beli ke peternak di kampung langsung lalu dibawa ke Batu jika stok menipis.

Dalam sehari, rata-rata ia bisa menjual 3 atau 4 ekor kambing jantan. Dengan harga kambing paling rendah Rp 2 juta, maka perhari ia mengantongi uang sebesar Rp 6 juta sampai Rp 8 juta. Padahal sering pula kambingnya laku Rp 4,5 juta perekornya.

Saat ini di tempat jualan dan di rumahnya masih ada 63 ekor kambing siap jual. Dalam beberapa hari ke depan, ia sangat yakin habis sesuai dengan pengalamannya. Bahkan ia sudah menarget jual 200 kambing dalam moment Lebaran Haji ini.

“Kalau nanti lebaran kurang seminggu, kambing ini bisa keluar (terjual -red) perharinya 10 sampai 15 kambing. Makanya 200 kambing saja kurang untuk memenuhi hewan kurban di Batu,” tukas Kabul.

Sehari-hari ia mempekerjakan dua orang untuk menunggu belasan kambing di sana. Dua pekerja ini berjaga 24 jam sehingga bisa menjaring pembeli sebanyak-banyaknya.

Mereka juga bertanggung jawab untuk merawat, memberi makan, dan menjaga kebersihan kandang. Dalam sehari, kambing-kambing ini harus diberi makan “rambanan” dengan harga Rp 50 ribu per-ikat. Sehari, kambing-kambing ini dapat menghabiskan sedikitnya 6 ikat.

“Sekarang yang beli masih masyarakat sekitar, nanti kalau sudah mendekati lebaran orang-orang pemerintahan yang memborong kambing,” tandasnya.-

ProDesa Nilai Tindakan Rendra Sarat Politik

Koordinator Badan Pekerja ProDesa, Ahmad Khoesairi.

MALANGVOICE- Pembagian bingkisan berupa sarung dan baju oleh Bupati Malang, H Rendra Kresna terhadap para mudin dan Kepala KUA se-Kabupaten Malang, Kamis (10/9) disayangkan Koordinator Badan Pekerja ProDesa, Ahmad Khoesairi.

Menurutnya, jika memang murni bagi-bagi untuk rakyat seharusnya tidak menunggu momen kampanye. Tindakan tersebut sarat kepentingan politik.

“Mungkin karena masih berkuasa, jadi bisa seenaknya saja. Sementara pengawasnya melempem,” katanya, beberapa menit lalu.

Dia membandingkan andai saja calon lain melakukan hal tersebut, pasti akan jadi masalah dan berlarut-larut.

Dikatakan, pihaknya menyarankan agar semua calon berpolitik dan berkampanye secara santun. “Pada dasarnya semua calon sama, sama-sama memiliki kekurangan dan kelebihan,” jelasnya.

Selain itu, pesan Khoesairi, semua calon jangan sampai ada politik uang karena merusak demokrasi.

Ditambahkan, politik uang justru semakin membuat rakyat jadi pragmatis dan tidak mendidik sama sekali. “Cikal bakal korupsi adalah money politics, jangan salah jika pejabatnya banyak yang korupsi,” pungkasnya.-

Komunitas