Begini Kondisi Air Kolam Renang Gajayana Usai Diperiksa Labkesda

Kepala Laboratorium Kesehatan Daerah Kota Malang, Agus Widodo, SKM M.Mkes. (Lisdya Shelly)
Kepala Laboratorium Kesehatan Daerah Kota Malang, Agus Widodo, SKM M.Mkes. (Lisdya Shelly)

MALANGVOICE – Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) yang berada di naungan Dinas Kesehatan Kota Malang, beberapa kali memeriksa air kolam Gajayana yang sempat bermasalah beberapa waktu lalu.

“Terkait masalah air kolam renang hasil kesepakatan itu kolam renang sudah diperbaiki. Setelah perbaikan kemarin mereka memeriksakan lagi ke sini (Labkesda),” ujar Kepala Laboratorium Kesehatan Daerah Kota Malang, Agus Widodo.

Dikatakan Agus, pihak pengurus kolam kembali mendatangi Labkesda untuk memeriksa air kolamnya. Dan yang terakhir, hasilnya cukup bagus, namun masih perlu perbaikan lagi.

“Terakhir itu cukup bagus. Cuma yang kemarin kejernihannya mungkin yang masih kurang,” ungkap Agus.

“Tapi sekarang sepertinya masih ditutup sementara, sembari menunggu airnya benar-benar bersih,” tandasnya.

Kurangnya kejernihan air tersebut, menurut Agus, kemungkinannya adalah disebabkan terlalu lama air itu tidak difilterisasi.

Seperti yang telah diberitakan MVoice beberapa waktu lalu, air kolam renang Gajayana ternyata sudah sembilan tahun tidak pernah diganti. Hal ini diungkapkan langsung oleh Kepala UPT Gajayana, Syakhuddin.

Dikatakannya, sejak dibuka kolam renang Gajayana pertama kali pada tahun 2009, Udin mengeluarkan statement yang mengejutkan. Ia menegaskan jika selama sembilan tahun tersebut air kolam sama sekali belum diganti.

“Belum (pernah). Kami kasih kaporit untuk bakteri, itu aja,” tegasnya.

“Kami pakai mesin sirkulasi air kalau habis kami tambah. Jadi filterisasi air ya lewat mesin itu, kalau airnya kurang kami beli dari PDAM,” tambahnya.

Alasan tidak digantinya air kolam tersebut karena biaya pergantian yang cukup besar. Udin menjelaskan, untuk mengisi satu kolam kolam renang, tangki air yang diperlukan sebanyak 600 tangki dengan ukuran lima ribu liter.

“Satu tangki itu biasanya seratus ribu. Waktu itu pernah kami konsultasikan ditahun 2009, katanya untuk pergantian butuh dana sekitar Rp 250 juta lebih,” pungkasnya. (Hmz/Ulm)