UMM Raih Mandat UNESCO Chair 2026, Retno Marsudi Soroti Krisis Air Dunia di Wisuda ke-121

MALANGVOICE — Di tengah ancaman krisis air global yang kian nyata, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mencatatkan sejarah penting di level internasional. Kampus Putih resmi ditunjuk sebagai pemegang mandat UNESCO Chair on Sustainable Water Ecosystem Sustainability of Indonesia 2026, sebuah pengakuan bergengsi yang menempatkan UMM di garis depan upaya pelestarian ekosistem perairan dunia.

Pengukuhan ini mendapat apresiasi langsung dari Utusan Khusus PBB untuk Isu Air, Retno Lestari Priansari Marsudi. Kehadiran mantan Menteri Luar Negeri RI periode 2014–2024 itu menjadi sorotan dalam Wisuda ke-121 UMM yang digelar Selasa (28/4/2026).

Dalam orasi ilmiahnya, Retno menyampaikan penghargaan tinggi terhadap kontribusi UMM, khususnya dalam riset dan pengabdian masyarakat yang berfokus pada pengelolaan air berkelanjutan.

Sekda Kota Malang Ajak ASN Terapkan Bike to Work, Hemat BBM dan Sehat

“UMM konsisten mendorong pengembangan ekosistem perairan, tidak hanya dari sisi pelestarian, tetapi juga pemberdayaan ekonomi masyarakat. Langkah-langkah kecil yang dilakukan kampus ini menjadi bagian penting dari solusi global,” ujarnya, disambut tepuk tangan ribuan wisudawan dan keluarga.

Retno juga mengingatkan kondisi darurat yang tengah dihadapi dunia terkait krisis air. Ia mengungkapkan bahwa pada 2023, dunia kehilangan sekitar 600 gigaton gletser akibat perubahan iklim. Selain itu, dalam satu dekade terakhir, 80–90 persen bencana alam didominasi banjir.

Pada 2024 saja, banjir berdampak pada 400 juta orang dan menyebabkan kerugian ekonomi hingga 550 miliar dolar AS. Sementara itu, ancaman kekeringan diproyeksikan memaksa 700 juta orang mengungsi pada 2030 dan berpotensi memengaruhi tiga perempat populasi dunia pada 2050.

Tak kalah mengkhawatirkan, sebanyak 2,2 miliar penduduk dunia masih belum memiliki akses terhadap air minum yang aman, yang berdampak pada meningkatnya risiko penyakit akibat sanitasi buruk.

“Krisis air ini juga mengancam ketahanan pangan global, mengingat 70 persen air tawar digunakan untuk sektor pertanian,” tegas Retno.

Melalui mandat UNESCO Chair tersebut, ia berharap UMM dapat terus mengembangkan inovasi di bidang teknologi air, mulai dari efisiensi penggunaan, daur ulang, desalinasi, hingga sistem pendingin hemat air.

Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, menegaskan bahwa arah pengembangan kampus kini tidak hanya berfokus pada capaian akademik. UMM mengintegrasikan pembelajaran berbasis ekosistem melalui program Center of Excellence, dengan pengelolaan air sebagai salah satu prioritas utama.

“Pengelolaan air yang kami kembangkan tidak berhenti pada aspek teknis, tetapi menjadi solusi berkelanjutan yang langsung dirasakan masyarakat. Kolaborasi lintas institusi menjadi kunci untuk menghadirkan akses air yang lebih layak,” jelasnya.

Menurut Nazaruddin, capaian ini menjadi bukti bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis, tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi kebutuhan dasar masyarakat.

Di akhir sambutannya, ia berpesan kepada para wisudawan untuk membawa semangat pelestarian lingkungan ke tengah masyarakat. Mandat UNESCO yang diterima UMM, lanjutnya, bukan sekadar penghargaan, melainkan amanah besar.

“Lulusan UMM harus menjadi agen perubahan yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga peduli terhadap keberlanjutan bumi dan masa depan peradaban,” pungkasnya.(der)

Berita Terkini

Arikel Terkait