MALANGVOICE– Taman Rekreasi Selecta menjalankan pembangunan berkelanjutan dalam model ekonomi sirkular. Hal itu terwujud dalam gerakan zero waste (bebas sampah) yang dicetuskan oleh objek wisata legendaris di Kota Batu tersebut.
Mereka tidak lagi mengirim sampah keluar, menuju TPS, TPA ataupun pembuangan sampah lainnya. Dengan menerapkan langkah reuse, reduse dan recycle untuk sampah anorganik. Sedangkan sampah organik, diolah jadi pupuk kompos dan pupuk cair untuk tanaman dan pakan ikan.
Direktur Utama Taman Rekreasi Selecta, Sujud Hariadi menyatakan, dalam satu bulan limbah sampah di Selecta mencapai puluhan ton. Sampah itu berupa sampah organik dan anorganik.
“Untuk melakukan penyelesaian masalah sampah, selama puluhan tahun kami bekerjasama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu. Namun dengan adanya permasalahan di TPA Tlekung, kami mencoba melakukan pemilihan sampah mandiri,” tutur Sujud.
Baca juga:
Gin Gin Cafe Tawarkan Suasana Baru Nikmati Kuliner Sambil Lihat Pemandangan 360 Derajat Kota Malang
Ribuan Pecinta Honda Vario 160 Malang Meriahkan Parade Vario 160
Pj Wahyu Hidayat Cek Langsung Penerima Bantuan Sosial RTLH
Penghuni Rumah Diduga Pabrik Narkoba di Malang Sering Beraktivitas Malam Hari
Sampah organik diolah menjadi pupuk kompos dan lainnya. Kemudian sampah anorganik diambil oleh Desa Tulungrejo untuk dilakukan pengolahan di TPS3R Desa Tulungrejo.
“Tetapi pengolahan oleh Desa Tulungrejo tidak berlangsung lama. Karena sejak April 2024 kami bekerjasama dengan CV Indonesia Manuju Hijau untuk pengelolaan sampah secara mandiri di Selecta,” ujar Sujud.
Pria yang juga menjabat sebagai Ketua PHRI Kota Batu itu menceritakan, diawal pengelolaan sampah secara mandiri ini tidaklah berjalan mulus. Divisi Hotel Selecta mengeluh keras karena ada bau air lindi. Namun seiring berjalannya waktu, pengelolaan sampah secara mandiri berhasil dilakukan.
“Dalam pengelolaan sampah ini, kami gunakan alat sederhana. Hingga akhirnya tidak ada lagi sampah yang keluar dari Selecta. Semua sampah selesai kami olah secara mandiri,” imbuhnya.
Kepala Disbudpar Jatim, Evy Afianasari mengapresiasi Selecta yang telah berhasil menyelesaikan masalah sampah secara mandiri. Sebab selama ini sampah masih menjadi pekerjaan rumah yang belum teratasi. Baik di wisata darat maupun wisata laut.
“Seiring bertambahnya penduduk saya yakin sampah juga akan ikut bertambah. Namun hari ini, Selecta telah membranding dirinya dengan wisata bebas sampah pertama di Indonesia,” tuturnya.
Dari keberhasilan menyelesaikan sampah secara mandiri itu. Evi berencana akan menjadikan Selecta sebagai percontohan untuk desa-desa wisata di Jatim.
“Saya harap destinasi wisata tidak hanya bertahan, tapi terus berkembang kedepannya. Kami akan belajar ke Selecta, lalu mereplikasi apa yang yang dilakukan Selecta untuk desa-desa wisata,” katanya.
Dengan keberhasilan itu, Selecta menjadi tempat wisata zero waste. Launching secara resmi dilakukan oleh Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekarf RI.
Sementara itu, Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekarf RI, Hariyanto menyampaikan, dengan adanya hal tersebut pihaknya semakin yakin bahwa penanganan kepariwisataan dan ekonomi kreatif, akan tergaransi dan berkelanjutan dengan melibatkan berbagai pihak terutama masyarakat.
“Sekarang di Selecta memberikan pencerahan kepada kita smua, termasuk kami di Kemenparekarf. Betapa penanganan pariwisata yang melibatkan masyarakat, dipraktikkan di Selecta dengan baik, utamanya dalam penanganan sampah,” katanya.
Menurut Yanto, penanganan permasalahan sampah akan terus menjadi isu aktual. Bukan hanya di Indonesia tapi juga di dunia Internasional. Sekali salah menangani permasalahan sampah, maka akan keluar image kurang baik.
“Ini jadi tantangan tersendiri, jangan hanya dilihat dari kacamata negatif. Di Selecta telah melakukan pengelolaan sampah secara bijak, sehingga dapat dimanfaatkan kembali untuk memenuhi kebutuhannya,” ujarnya.
Dengan adanya hal tersebut, Yanto berharap Selecta dapat menginspirasi destinasi maupun pengelola wisata lain di Indonesia. Dimana Selecta tidak hanya menginisiasi, namun juga mempraktikkan.
“Ini jadi contoh sukses yang bisa jadi inspirasi untuk daerah-daerah lain. Kami ingin pada saatnya nanti, Selecta menjadi benchmark. Apalagi secara keseluruhan, wisata di Kota Batu sudah melegenda. Semua unsur dalam kepariwisataan sudah terpenuhi,” tutupnya.(der)