Seusai Pertunjukan Teater; Puisi-puisi Denny Mizhar

Rumah Kosong

Rumah Kosong, bagiku menakutkan serupa belantara
Tak berpenghuni, mencekam menelurkan mitos-mitos
Tempat singgah burung hantu dan setan gentayangan
Membuat enggan siapapun datang kecuali pemberani

Kulaknat kau, kesepian. Gelap dan singup
Bagai lelaki tua, sendiri di pertengahan usia
Kudengar gelisah dari jiwa yang merana
Bermandi air mata duka dan luka

Oh, kau perempuan-perempuan
Bergembiralah di malam penuh tawa
Meninggalkan kesedihan-kesedihan

Kerawanan dan ketakutan, bersemayam
Kerapuhan dan setan-setan yang datang
Menelanjangi hari-hari yang suwung

Tetapi gelap, kosong dan kesedihan
Adalah lautan yang perlu dijelajahi
Dengan ketabahan dan keberanian

Mungkin di situ ada rahasia
Yang perlu dibaca

Malang, 2017

 

 

Seusai Pertunjukan Teater

Kita masih bertanya tentang pertunjukan teater yang telah usai.
Tentang sutradara yang menjajah kepala kita akan tafsir yang kita dedah

Pipa-pipa informasi buntu. Koran-koran mencetak huruf-huruf yang salah.
Kita murung di bangku belakang yang kosong. Menggali ingatan yang kosong.

Di pintu keluar, kita masih bertanya. Untuk apa berkesenian kalau hanya untuk senang-senang semata, sedang di tempat jauh, anak-anak ingin tersenyum di atas panggung dengan jiwa yang merdeka.

Malang, 2017

 

 

Menunggumu
:Setya

Malam tadi kusapa rembulan
Saat angin memelukku dalam diam
Dan esoknya kurasakan gaduh
Di awal hari yang hilang

Mungkin ada yang menunggumu
Di bangku yang lumutan dan karatan
Ditemani daun-daun remuk diterpa kelam
Ratusan sepi membuatnya membeku

Kesetiaan itu bunga kaktus tumbuh di musim hujan
Dan ketabahan tak bisa di hitung dengan angka
Air mata adalah pelabuhan bagi luka
Meriwayatkan kisah-kisah duka

Pada penantian yang mengkarang
Tak goyang dihantam debur ombak waktu
Meski diam dan terkikis laju jarum jam
Tak bakal putus asa dan goyang

Malang, 2017

 

 

Bercermin

Aku ingin berjalan ke tampat yang jauh
menemui diriku

Malang, 2017

 

 

Kepada Puisi

Kepada puisi. Ada yang ingin kusampaikan padamu.

Aku tak bisa menulis sesuatu yang indah, sebab hidup selalu dibuat pusing oleh penghasilan yang kerap goyah.

Kepada puisi. Ada yang ingin kusampaikan padamu.

Aku tidak bisa menulis tentang para koruptor yang bermain teater komedi di panggung Indonesia. Sebab aku tak sempat menontonnya, memikirkan hutang-hutang saja menghabiskan waktu dan usia.
Kepada puisi. Ada yang ingin kusampaikan padamu.

Aku tidak bisa menulis tentang kekuasaan yang serakah dan menjadikan kemiskinan tak pernah purna, sebab aku sudah miskin sedari mula.

Kepada puisi. Ada yang ingin kusampaikan padamu.

Aku tidak bisa menulis tentang alam yang tak imbang disebabkan pemilik modal yang rakus tak berkesudahan, sebab aku tak punya rumah dan lahan untuk menanam bunga-bungaan, pohonan serta buah-buahan.

Kepada puisi. Ada yang ingin kusampaikan padamu.

Aku hanya menulis di sela-sela minum kopi: Dari sruputan ke sruputan ada ingatan tentang tetes keringat petani yang berpenghasilan rendah, rasa syukur pada Tuhan dan ada kamu yang kutunggu dengan cinta.

Malang, 2017

 

 

*Denny Mizhar, Penulis tinggal di Kota Malang. Saat ini aktif di Komunitas Pelangi Sastra Malang, mengelola penerbitan Indie Penerbit Pelangi Sastra dan Toko Buku Alternatif Griya Buku Pelangi Sastra Malang selain itu hari-harinya disibukkan dengan membantu mengelola kegiatan literasi di Kafe Pustaka-Perpustakaan Universitas Negeri Malang.

Taksa Sebuah Nama; Puisi-puisi Astrajingga Asmasubrata

Ilustrasi. (Anja Aronawa)

YERUSALEM KITA

: kepada pemeluk agama

Yerusalem kita
Selalu semacam khazanah
Yang suwung, diruwat
Dan dirawat dengan darah

Serta air mata yang mengalir
Sepanjang Gaza — kehancuran
Yang purna, memuat takdir
Jauh sebelum adanya sabda

Sebuah kitab, atau semacam
Buku panduan perang
Yang damai dan sentosa —
Di dalamnya duka bersukacita

Lantaran maut adalah surga
Bagi Yerusalem kita, atau
Barangkali, inilah fakta bahwa
Semesta mewariskan iman

Kepada yang tak percaya:
Samsara, Yerusalem kita!

(dusunmaja, 2017)

 

 

ZURIAH

Tak ada amsal
Dalam gejolak-sepi itu
Selain sejumlah cuma
Perihal gairah yang padam

Satu-dua luka lebam
Masa silam, dan kaudapati
Dirimu pasi menyimak
Bayangan seorang perempuan

Yang juga semacam kecam
Segala yang terlepas
Akan kembali tergenggam
Sebagai nyala sepasang mata

Yang kaulihat seperti sabda
Terakhir, sebelum gejolak-sepi itu
Menggetarkan dawai mimpimu
Serupa nada-nada kosong

Dari segenap hirap dan ratap
Saat kausingkap kelir kenangan
Dan segalanya tampak lain
Dalam masgul mungkin, barangkali

Lantaran ini bukan percintaan
Tapi sebuah tikam!

(dusunmaja, 2017)

 

 

DEJA VU

: buat acep zamzam noor

ia pun gusar;
menyusur samudera
siang yang matang
— matahari jalang? —
perahu diterjang gelombang
angin asin menampar wajah
“duhai penempuh batin
apa yang tersembunyi
dari seketika, selain
decak terpana
sunyi yang mungkin?”
— ngungun –
di samudera lain
kata demi kata menukik
ke balik tirta
sajak pun beriak-riak
penuh oleh kesumat
— atau laknat? —
meliuk di lengkung teluk
kalbu begitu kutuk
karam
ke dalam diri!

(dusunmaja, 2017)

 

 

SYAIR-SYAIR PESISIR

1.
kau dan aku kini landai pantai
debur itu dipacu deru angin
di bawahnya terumbu menari-nari
ikan menghindari bentangan jaring
kau dan aku kini gejolak lautan
dilayari tongkang para nelayan
mendaras hidup dengan menerjang
gelombang yang menyimpan harapan
kau dan aku kini batuan karang
teguh digempur air pasang
tak pernah menolak kedatangan
atau kepergian semisal kenangan

2.
kisah kita kini apatah hati penuh kasih
jika dilingkup cinta dan rindu yang ngungun
seperti serpihan bayang rembulan dibantun
debur demi debur yang bertabur buih
kisah kita kini sebuah tongkang tua
yang tergopoh mengangkut nasib baik
menuju dermaga yang sabar menunggu
seperti hati ibu untuk tualang anak-anaknya
kisah kita kini disadari tinggal kenangan
tergagap seperti camar digusah air pasang
setelahnya udara berbau garam mengasinkan
pikiran dan perasaan dengan sepi yang usang

(dusunmaja, 2017)

 

 

SAJEN RAYA

nasib masih semacam taman bunga
sejumlah wangi kesunyian menyeruak
dan di tengahnya beriak sebuah telaga
memantulkan rona wajah kami yang lain

bertahun-tahun tak pernah jera tunaikan
hasrat menghidupi diri dengan kerja
sebagai titah yang telah digariskan tuhan
kami cuma diminta tak henti berupaya

tiada guna berlama-lama merutuki takdir
sebab ketika azan pertama berkumandang
segala yang berwatak kesedihan memudar
seperti pengakuan daun sebelum ranggas

dan selagi angin hari depan berembus pelan
kami petik kenanga, kantil, serta cempaka
untuk ditabur di telaga sebagai sajen raya
agar kami semakin mengenali wajah asing ini

(dusunmaja, 2017)

 

 

TAKSA SEBUAH NAMA

malam ini jadi lain
lampu di beranda
tiba-tiba padam
langit pun kelam
seperti kenangan
akan punggung
yang menjauh
lalu menghilang
di tikungan
riuh cengkerik dan
gemerisik daun garing
dimainkan angin
seperti bisik tertahan
sebelum lambaikan tangan
yang membikin
malam ini semakin lain
dalam ingatan
pada segelas kopi
yang mendingin
tinggal ampas
pemandangan kosong
di beranda
meninggalkan taksa
di gerowong dada
yang mungkin
sebuah duka?

(dusunmaja, 2017)

 

 

SUMUR TUA SEBUAH KENANGAN

kita dipertemukan sebuah sumur tua
tak ada kata-kata terucap sebagai sapa
cuma kerekan tali timba dan jatuhan air
menimbulkan bunyi yang melingsir sunyi

sebagai siapa kita di sumur tua itu:
jejaka yang ragu mengajak berbicara atau
dara yang malu menampakkan wajahnya
barangkali cinta semacam dahaga terberkati?

(dusunmaja, 2017)

 

 

SIMPANG

sebentar yang lalu
kau datang kemudian pulang;
di tubuhku bersarang pelukan
yang telah mendingin
saat bayangmu menghilang
dalam pandangan di jauh malam
dan kata-kata yang kupunya
melesap senyap ke inti gelap

aku pun mengingat
kali pertama kita berjumpa:
lidahku kelu pada sayu matamu
dan kesiur angin penghujan
meningkahi reranting kersen
hingga sinar lampu jalan berkedip
seperti bintang jatuh
kau dan aku kompak menunduk
seolah sedang merapal doa

tapi sepulangmu
aku menyaru seorang bocah
terjangkit pilek dan demam
tubuhku gemetar
dari mulutku keluar gumaman
(yang mungkin terdengar
semacam geraman?)
dan pelukan telah mendingin itu
malih menjadi sebutir embun
selalu ragu bertahan di pucuk rumpun

(dusunmaja, 2017)

 

 

PADA MULANYA ADALAH TANYA

: buat gilang perdana

“Apa yang tersembunyi di balik seketika?”
Tiba-tiba selembar kertas bertanya
Pada sebuah pena
Dalam genggaman penyair kita;
Kata-kata datang dan pergi
Seperti kerinduan tak bertuan
Dan waktu menorehkan jejak biru
“Permisi, tak ada suatu apa di situ!”
Sekarang segalanya menjadi gamang:
Sajak adalah kehendak yang setia
Pada sejumlah duga dan hanya
Sajak menyimpan gelap
Yang menghindar dari cahaya
Setiap kali mata penyair kita terpejam
Bayang-bayang memanjang
Setelahnya lengang mengambang
Dan selembar kertas lainnya ikut bertanya
Pada pena lainnya
“Kapan saat yang tepat untuk berhenti?”

(dusunmaja, 2017)

*Astrajingga Asmasubrata, kelahiran Cirebon tahun 1990. Bekerja sebagai tukang cat melamik – duko – politur di Jakarta Timur. Penggerak Malam Puisi Jakarta. Buku puisi yang telah terbit adalah Ritus Khayali. Sedang menyelesaikan buku puisi terbarunya yang berjudul M I R Y A M.

Senja, Puisi-puisi Novy Noorhayati Syahfida

ilustrasi (Anja/Mvoice)

Di Meja Nomor 3

kita pernah gagal memaknai senja
namun, ketabahan senantiasa bertahan menanti titik jumpa
antara keinginan dan doa-doa
kita tak pernah jemu bertukar kabar
memulai percakapan demi percakapan yang paling debar

mengulanginya kelak pada satu pertemuan
meski harus melipat sederet kecemasan
sesekali, menyusuri jalan kenangan
sambil merangkai pertanyaan; melupakan atau tetap bertahan
kemudian menyimpannya di dada kiri diam-diam

Meruya, 25.10.2018

Di Luar Jendela

hujan menetes satu satu
di ujung kelokan, kanak-kanak berlari tanpa sepatu
tak ada yang sanggup berpaling dari musim
sekalipun rayuan kemarau telah kau kirim
dalam lipatan-lipatan doa yang paling intim

Kedoya-Ciledug, 23 Oktober 2018

Dia Meneguk Secangkir Teh Hangat

dia meneguk secangkir teh malam itu
hangatnya sampai di ujung pintu
muara kedatangan sekaligus kepergian
dari sepasang ingatan yang berkeliaran

secangkir teh tawar tanpa pemanis
seperti cerita yang tak habis-habis
pahit dan getir selalu nyaris bersamaan
terkadang mewarnai sederet pertemuan

di sela jadwal yang begitu padat
dan lalu lintas yang melaju cepat

tik tok jarum jam tak pernah mau melambat
diam-diam waktu menunjuk pukul 9 tepat!

dia meneguk secangkir the
dan malam pun semakin meleleh

Tangerang, 17.10.2018

Kulupakan Namamu

demikianlah…
akhirnya kau pergi ke ujung entah
dan aku menarik diri, kehilangan arah
beranda pun sepi tanpa gairah
tanpa air mata dan tawa yang pecah

tak ada lagi mabuk, atau sekedar lupa ingatan
ketika pemahaman demi pemahaman
terbang berhamburan
jatuh dalam lubang atas nama kesetiaan
dan kita, tidak pernah berusaha meyakinkan

satu sama lain. demikianlah, aku pun memilih menjauh
meninggalkan sauh

Tangerang, 1 Mei 2018 (E)

Senja

gemerlap lampu dalam sepotong senja
mengiringi segala yang tergesa
betapa waktu ingin segera
kembali pada larung doa-doa
menggenapi kenangan pada garis peta

Tol Cikampek, 3 September


*Novy Noorhayati Syahfida lahir pada tanggal 12 November di Jakarta. Alumni Fakultas Ekonomi dengan Program Studi Manajemen dari Universitas Pasundan Bandung ini mulai menulis puisi sejak usia 11 tahun. Puisi-puisinya telah dipublikasikan di berbagai media cetak, media online, dan juga di lebih dari 90 buku antologi bersama. Namanya juga tercantum dalam Profil Perempuan Pengarang & Penulis Indonesia (Kosa Kata Kita, 2012). Tiga buku kumpulan puisi tunggalnya yang berjudul Atas Nama Cinta (Shell-Jagat Tempurung, 2012), Kuukir Senja dari Balik Jendela (Oase Qalbu, 2013) dan Labirin (Metabook, 2015) telah terbit. Saat ini bekerja di sebuah perusahaan kontraktor dan menetap di Tangerang.

Jam Tua; Puisi – puisi Julaiha S

Ilustrasi. (Anja Arowana)

Ode Suara dari Telepon

Dia berteriak memecahkan dinding telinga
isi teriakan rindu
sebagaimana pelabuhan yang turut kedinginan
tanpa para kapal berlabuh di sana
suara-suara itu mirip panggilan kematian
perlahan membeku

Barangkali dia ingin bercerita panjang
persoalan lintas jejak dan pahatan masa sulit
mengelupasi kulit dadamu
di sana kehidupan tumbuh dan malam menjadi
waktu paling sibuk untuk bekerja

Kita terus saja menganti kata
berbalas pesan dari degung suara
tak banyak tanda terucap
namun ritual selalu diselesaikan
dengan baik, ketika lampu matamu
mendadak padam

Kompensasi, 2017

 

Ode Suara Tengah Malam

Aku paham bagaimana kita mengemas malam
dengan tanda-tanda yang pakem di tubuh
tulisan tulisan angin seperti burung membawa kabar
dan pesannya memaksa kita membongkar isi bajumu

Setiap kali kami menyelesaikan kegelisahan
maka muncul kegelisahan baru yang lebih tajam
ketakutan mencacah simpul waktu
datang satu persatu membawa
rasa hangat dan kumpulan bara

Bagaimana bekas bibirmu begitu
lembut menggulumi dada
di sana tumbuh pertanyaan berapi
kenangan berlalu menjadi abu.
sesungguhnya kisah tidak sebenar tahu
asal mula pertemuan

Kota sunyi cinta dikuasai angin
kau telah selesai memenangkan hasrat.

Kompensasi, 2017

 

Ode Gelisah

Setelah sepi merajai luka-luka di tubuh
aku semakin perih pada pengkhianatan
orang-orang berkumpul dan berdansa
di bawah sinar rembulan
mengatakan diri sebagai perjaka terbaik.
tangisan malam tingkap dalam bait-bait puisi
sungai mataku mengering
setelahnya aku terdampar dalam lautan tak bernama.

Seperti biasa, mereka selalu bermain petak umpat
ada siasat yang dikemas baik
menyumpal perempuan lainnya
atau barangkali perempuan-perempuan itu
mengambil kesempatan untuk menanak kecantikan
dan menelajangi diri

Sebagaimana kesakitan ini mengeraki dadaku
angin tak pernah singgah
kabar silih berganti menjamah
tubuh terbakar sepi tanpa arah

di ruang gelisah, jangan limpahi aku
dengan pertanyaan-pertanyaan
atas nama restu

Kompensasi, 2017

 

Dari Balik Jendela, Angin Memelukku

Dari balik jendela, angin lebih leluasa
menyeka serat kepalamu
dedaun merapikan diri.
Lampu kamar meredup
menyimak gejolak rindu
yang fakir digugur waktu.

Dari balik jendela, angin menerima pagi
kata-kata keluar dari matamu
memenuhi jalanan kota
seisi hati diterka-terka waktu
perjalanan mengutuk cerita
berlimpah gelisah dari dadamu
puisi tumbuh di kertas tak bernoda.

Dua simpul senyum bertautan
ricik ingatan lebih rutin mencipta puisi
kesedihan tak mampu ditakar waktu.

Kompensasi, 2017

 

Terbakar Sunyi

Esok, aku tiba di stasiun
menyambut tubuhmu, penuh ingatan
catatan-catatan waktu tumpah
melumuri tubuhku.

Ketika malam padat gulita
seluruh langit terbakar sunyi
rembulan mencair dari kamar

Mimpi tumbuh dari akar malam
rindu masih hujan di stasiun.

Kita pulang, ceritakan padaku
bagaimana sunyi membakar dirimu

Kompensasi, 2017

 

Jam Tua

Aku tergesa, mencari jelmaan puisi
kata-kata menyusuri belantara makna
menggulung denyut dada.
angka di jam tua perlahan
memutar, ingatan lupa waktu

Detik-detik mendarat di badan malam
mengemas rasa dingin.
bayangan berpindah pindah
mengerumuni kegelisahan yang matang

Kompensasi, 2017

 

*Julaiha S, perempuan kelahiran Medan, 11 Juni 1993. Sejumlah tulisan telah dimuat di media cetak dan online yakni; Harian Waspada, Medan Bisnis, Analisa, Mimbar Umum, Sumut Pos, Serambi Indonesia, Riau Hari Ini, Lampung Post, Sinar Harapan, Banjarmasin Post, Jurnal Masterpoem Indonesia, Media Indonesia, Indopost, Suara NTB, Riau Pos, Pikiran Rakyat, LINIKINI.ID, Harian Rakyat Sumbar dan beberapa antologi puisi. Alumni Program Penulisan Mastera: Puisi 2017. Saat ini, ia tercatat sebagai alumni Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Medan. Ia telah melahirkan buku puisi tunggalnya berjudul Mula-Mula Kita Pergi Selanjutnya Tersesat. (Obelia Publisher, 2016)

Pemulung Kesedihan; Puisi-puisi Ferry Fansuri

Dibawah Kibaran Daster

Dalam kibaran daster itu
Kau melambai-melambai
Menggoda genit
Mengerlingkan kedipan nakal
Hipnotis diriku untuk datang
Menarik ke dalam bilik syahwatmu

Masih dalam kibaran dastermu
Memperlihatkan lekuk tubuhmu
Merayu untuk memasukinya
Menyeruak dengan berahi
Kau dekatkan bibirmu ke telinga ini

“Maukah kau kuperlihatkan surga dunia sebenarnya?”

Bersamaan daster itu jatuh lunglai tertiup angin

Surabaya, Juni 2017


Juru Bicara Bumi

Jam Weker, Tong sampah
Membisu diam
Burung gagak berkoar-koar
Tanpa makna
Dedaunan bergugur
Berserakan tak berarti
Mereka diam tercampakkan
Mulut mereka terkunci
Siapakah yang bisa memaknai mereka?
Hanya manusia bersyair yang memahami mereka
Itulah gunanya sorang penyair
Dia yang mengerti benda hidup dan mati
Kata-katanya adalah juru bicara planet ini

Pekanbaru, Mei 2017

Rapuh

Pada hari panjang yang lelah
Sepasang tangan merengkuh
Merangkul surga
Senja bertabur pelangi
Ia bagai pelacur tua murahan
Menertawakan saat kita telanjang
Terasa kejam tapi kau tetap kembali
Karena hanya dia menerima
Dirimu yang rapuh

Surabaya, Juni 2017

Mereka Ingin Aku Menjadi Rembulan

Gemuruh badai menggelepar
Hantu-hantu bodoh berkelebatan
Melewati malam dengan pedih
Bersenadung pilu
Memekakkan gendang telinga
Kepak-kepak sayap merpati
Terluka tertusuk nyeri
Manusia-manusia itu berlari
Mengejar mimpi semu
Mereka meminta berubah menjadi matahari
Memohon menjelma bagikan rembulan
Gaduh negara ini membara
Membakar kota asing itu
Tanpa sisa tertiup raib
Jejak tersapu angin mamiri
Tertelan lenyap dalam perut bumi
Ada petir dijantung ini
Ingin menyalak keluar

Akan kutunjukkan siapa diriku yang sebenarnya

Surabaya, Juni 2017


Pemulung Kesedihan

Apakah itu kebahagian?
Kau tak dapat merasakannnya
Semua tak sama dan semu
Tiap zaman memiliki kadar bahagianya sendiri-sendiri
Perihal itu bisa kau temukan itu dipojok kota itu
Berserakan tercecer
Kita adalah pemulung kesedihan
Memunguti sisa-sisa kejayaan
Menampung airmata kesepian
Menyimpan duka lara
Menyemai benih pedih
Sudahlah
Jangan kau ceritakan gelisah itu lagi
Diam dan mati kau disana

Surabaya, Juni 2017

Amnesia

Kulupakan itu semua
Layaknya amnesia
Tidak ada kebencian, marah atau sendu senda itu
Tanpa balas dendam, iri dengki atau muntahan emosi
Sudah lupakan saja apa yang terjadi
Tak ada guna jua bagiku
Biarpun itu disana
Lebur jadi satu
Kosong
Hampa
Lenyap tak berbekas ditelan bumi


Dumai, Mei 2017


Bersiul di tengah badai

Sesungguhnya ujian adalah waktu
Dalam tiap malam kuterus memohon padaMu
Untuk kau kuatkan pundak ini
Bukan kau ringankan bebanku
Karena sekarang dan esok
Gemuruh ombak tetap nyata
Biarkan aku bersiul di tengah badai itu

Dumai, Mei 2017


*Ferry Fansuri, lahir di Surabaya, alumnus Fakultas Sastra jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Karya tunggalnya yang telah terbit adalah “Aku Melahirkan Suamiku” Leutikaprio (2017). Tulisannya tersebar di berbagai media massa.

Gerhana; Puisi-puisi Saiful Bahri

Gerhana

Semesta tercipta musim rindu tanpa rembulan
Jejak kaki ini –teriak lantang menyusuri jalan-jalan

Meringkus riang setenang bunga sajak terang
Menghindari remang sedalam gelora sabda karang

Ia sunyi, sepi tak bertepi. gerhana menular kenangan penuh khianat
Sinar merambat hitam pekat, tertututup pagar-pagar berkeringat penat

Aku ingin engkau disini, meniti angin sedingin kelam
Temani hasrat, temani mataku tenggelam lelap disudut malam.

Bungduwak, 2017

Akulah Laki-Laki Petualang

Tubuhku
Berlayar menyusuri lautan
Rinai melintasi hutan-hutan
Akulah laki-laki petualang
Susut pada tubir jalang itu
Menukik silau ambang bisu.

Akulah laki-laki petualang
Mengakar dilembah matamu,
Hinggap terbayang-bayang
Kuinjak-injak rumput ilalang
Kucabut, kutendang, lalu kubuang

Hanya serpihan ranum senyummu
Yang senantiasa melekat dalam ilusi
Hingga aku menulis bibirmu menjadi puisi

Sumenep, Agustus 2017.

Bulan Meraung Enggan Kusanjung

Wajah ranum mengajakku senyum ” ikut aku menikmati pameran-pameran kelabu”
Ia kedinginan –memikul kenangan –yang sirna ditelan malam penuh debu-debu rindu
Lampu-lampu berpijar, orang-orang rinai menaburkan kilau senyuman
Ya, di pameran itulah tempatku bercengkrama dengan bulan
Sejenak aku bertanya, memastikan apa yang ia iginkan
Kenapa tubuhmu? Kenapa engkau terhimpit malu dipundi-pundi pohon
Kuajak bulan berjalan. Takut tersesat” katanya.
Kuajak bulan bersemedi. “Takut kelaparan” jawabnya.
Mestinya, rembulan menemaniku beli baju dan kerudung
Pameran apaan ini? Sementara bulan meraung bingung enggan kusanjung

Gapura, 10 September 2017

Bising Rindu

Malam ini, cahaya remang bermandikan nada-nada syahdu.
malam ini pula –mulai kudengar rajutan suara bising rindu,
sehabis senja ditelan waktu. Apa engkau tidak tau ?

Aku tersaruk-saruk, berteriak-teriak, melompat-lompat,
mengintai nafasku terjerat erat ditubuh detak suara angin yang membisu.
menyaksikan alunan-alunan lagu seirama rindu didadaku.

Malam ini, mataku terasa perih menyaksikan alunan lagu rindu.
Sementara perihal waktu takkan syahdu, pun rindu takkan melaju
Jikalau dekap tanpa cumbu. Lalu kapan bait-bait rindu ada senyummu.

Mataku lindap menjilat semesta –menggais tanah penuh aroma
Hingga kutemukan bising rindu diterpa hujan tak bermakna.

Malam ini, jejak jarak merambat cepat, menuju pulau-pulau
tempat dimana burung-burung hidup riang bergandengan tangan.
Sesaat aku ingin seperti burung, terbang melintasi gunung tanpa kabung.

:Kerinduan akan tumbuh kedamaian, berbunga mekar dilamar suara keindahan.
Tunggu waktu yang menentukan, hinggap pada kerlap-kerlip cahaya pelaminan.

Bungduwak, 2017

Nasionalisme

Sunrise kali ini tercipta musim hujan yang ‘kan merayuku disudut waktu
Sungai-sungai tersanjung hiruk-pikuk sejuk, tetap saja mengalir tiada semu
Ia sajakku yang menjejak cerita penuh cinta –melekat erat ditubuh garuda; hingga menyusut meliut-liut direlung sukma dalam jiwa.

Sunsite tiba-tiba memelukku, menciumku dalam kecupan bisu.
Sesaat beranjak hilang, hinggap di pohon-pohon telanjang petang,
Aku sangat cinta Indonesia raya semesta raga, tempatku menulis puisi-puisi jiwa
Menukik senja, meringkus kawah pada kilauan Bhenika Tunggal Ika
Oh Pancasila, aku cinta ladang-ladang luas, seluas tanah Indonesia raya.

Seperti kulihat panorama-panorama, sampai kiamatpun jiwa ini takkan ada cinta dusta,
antara aku dan Indonesia… antara aku dan Indonesia… antara aku dan Indonesia, kucinta Indonesia.

Sumenep, 2017

Elegi Embun di Ubun Pagi

Lingsir waktu masih sanggup mengalirkan sejuta sukma kilauan embun, yang senantiasa hinggap dan tertimbun diubun-ubun.
Kudengar rinai burung-burung bernyanyi –pertanda suasana t’lah terurai irama pagi. Kerap menyerap pada jalan-jalan sawah, merubah remang pada gigil-gigil basah.
:Aku pasrah melawan sisa-sisa kecewa; tanpa berurusan dengan rasa sesadis cinta

Sumenep, 2017


*SAIFUL BAHRI, Penulis Lahir di Sumenep-Madura, Pada Tanggal O5 Februari 1995. Selain menulis, ia juga seorang aktivis di kajian sastra, dan “Teater Kosong Bungduwak”, Perkumpulan dispensasi Gat’s (Gapura Timur Solidarity), Fok@da (Forum komunikasi alumni Al-Huda), sekaligus perkumpulan (Pemuda Purnama). Disela-sela kesibukannya ia belajar menulis Puisi, Cerpen, Essai, Opini, dll. Puisinya antara lain dimuat di Riau Pos (2017), Bangka Pos (2017), Palembang Ekspres (2017), Radar Madura (2017), Radar Surabaya (2017). Radar Jember (2017), Radar Banyuwangi (2017), Radar Bojonegoro 2017 Kedaulatan Rakyat (2017), dan Solo Pos (2017)

Garis Tepi; Puisi-puisi Ana Widiawati

Ilustrasi. (Anja Arowana)

Garis Tepi

Dari garis tepi
pada kertas-kertas yang kucuri
dari seorang penyair disesap sunyi
kutulis bebait sepi
bersama pagi menggigil yang berkongsi
dengan angin bulan Juni
kemudian lebur
oleh rindu yang diam-diam
kuselipkan di cuping telingamu
seusai persentuhan kita yang menggemparkan
dan sebelum kau gugur
bersama dedaunan yang limbung

Banyuwangi, 2 Agustus 2017

Meja Makan

Berpijak
pada jejak-jejak
yang tertinggal di meja makan bersama kerak-kerak
ingatan yang terkuak
ketika remah-remah roti berserakan di piringmu yang retak
dan piringku sesak
oleh nasi yang kautanak
secangkir kopi kehilangan seduh hangat
dan secangkir teh menguar coklat tak nikmat
dan kita dicincang-cincang waktu yang berdetak
kemudian meja makan itu menjelma perseteruan diam-diam
kita bungkam
di meja makan yang suram

Malang, 20 September 2017

Kunang-Kunang di Matamu

“Kelak, kau akan tahu.”
begitu kalimat ibu
yang merayap di malam-malam senyap
yang merangkak di pagi-pagi kedap

“Kau akan bertemu wajah kehidupan yang utuh.”
begitu tutur ibu
ketika kutuang resah dan keluh
di pangkuannya
luruh

“Kau akan memaknai segala gurat dan kerut.”
begitu kata ibu
tentang nestapa-nestapa
dan masa
yang berguliran layaknya air mata
dari muara bahagia atau
luka

“Kau akan menemukan sabda-sabda tak bertuan.”
begitu ungkap ibu
menyinggung sabda-sabda yang kehilangan
tuan-tuannya
sabda-sabda itu berserakan
diabaikan
dihinakan
dikutuk-kutuk
banyak mulut
“Mungkin akan gelap, sesak, dan kau muak.”
begitu lirih ibu
aku semakin mengerat
menyusup dalam ke ketiaknya
keresahan itu mendesak-desak
diam-diam ketakutan memuncak

“Tetapi kulihat masih ada kunang-kunang di matamu.”
pungkas ibu
seakan semilir angin di semusim kering
merinding
dan kecamuk itu menyingsing.

Malang 20 September 2017

Jendela

Meja, kursi, buku
temaram lampu
dan mataku memujamu
dari sela-sela tirai biru
dari jendela
yang akan runtuh
dan engkau masih berdiri di depan pintu
dengan setangkup bunga layu, wajah sendu,
dan menunggu
suara tapak sepatu
atau ketukan pintu
dan aku tetap memujamu
dari jendela
yang tak nampak di matamu

Malang, 20 September 2017

Puisi-Puisi di Rumah

Kita menghabiskan puisi-puisi di rumah
menyerap ruhnya sambil berdekapan mesra
diselingi cekikik-cekikik manja
melupa pada meja makan yang jarang mengepulkan
asap nasi, lodeh, kopi, atau aroma sambal teri
mendadak kita pura-pura
dapur kita baik-baik saja
bersandiwara rumah kita terang oleh bohlam-bohlam lampu
lima belas ribuan
berlagak seolah kamar kita empuk dan hangat

Kita menamatkan berbait puisi-puisi di rumah
menawar getir hari ini dan esok hari
dengan menyesap majas-majas dan imaji-imaji
sebab tiada lagi ruang untuk menuangkan sedih
di rumah yang hanya cukup untuk berpuisi ini

Kita pun melahirkan puisi-puisi di rumah
dari sentuhan-sentuhan yang sedikit hambar dan bergetar
tapi tetap menyejukkan
lebih meneduhkan ketimbang membincangkan
kesedihan, keruwetan, kegelisahan
yang tak tertampung di rumah ini

Kau membisik, “Mari merawat puisi-puisi di rumah ini.”
dan aku mengamini

Malang, 20 September 2017

*Ana Widiawati lahir di Banyuwangi 21 tahun silam. Bermukim di Malang dan sedang menempuh pendidikan di jurusan Hubungan Internasional Universitas Brawijaya. Masih aktif di Lembaga Pers Mahasiswa Perspektif (LPM Perspektif). Karya-karya cerpen dan puisinya pernah nangkring di Solo Pos, Radar Banyuwangi, dan buku-buku antologi.

Surat Cinta Ketujuh; Puisi-puisi Sengat Ibrahim

Kampung Halaman Bagi Lia
1/
Aku menikmati malam
Dengan secangkir kopi kopasus
Kerlap-kerlip lampu memancar
Di langit-langit warung pincuk
Di luar hujan dan malam menghapus
Semua jejak sampai bumi kembali kudus

Tetapi mampukah hujan dan malam
Menghapus segala kenangan dalam pikiran
Seperti menghapus nama tokoh-tokoh pahlawan
Dari sejarah perjuangan kemerdekaan
Sewaktu pribumi melawan japan?

2/
Aku menyalakan rokok
Sambil tertawa pada pikiranku sendiri
Menenggelamkan sepi pada puisi
Mengingat segala peristiwa yang terjadi
Maupun peristiwa yang gagal terjadi hari ini

Tiba-tiba dunia dalam ponsel berbunyi
Membawa suara Bryan Adam dalam lagu Heaven
Di layar ponsel tertera nama Lia
Aku menolak panggilan telepon darinya
Sebab berbicara di warung kopi
Belum menjadi peristiwa yang biasa di sini.

3/
Akhirnya kami mengobrol di ruangan Whatsapp
Lia memang pintar menyusun bahasa menjadi benda pusaka
Yang menyimapan kesaktian luar biasa
Seperti keris Koko-macan kepunyaan paman di Madura
Yang selalu diwarangi kembang tujuh rupa
Setiap malam jumat klewon

Beberapa saat setelah Lia tahu
Kalau bahasa cinta yang kukirim terasa kaku
Lia terus-menerus mengirimiku pesan icon kepala
Kepala yang bermulut hanya bisa dipakai untuk tertawa
Aku ikut tertawa pada icon kepala berwarna kuning itu
Dan membalas dengan pesan i love you.

4/
Pembicaraan kami terbuat dari segala peristiwa
Yang mudah menjadi penting juga genting, semisal:
Jawab dengan cepat apa saja
Yang Lia ketahui tentang kampung halaman?

Lia menjawab;
Segala sesuatu yang tak pernah selesai berbica dalam dada
Padahal dia tak pernah belajar bagaimana caranya berbicara
Atau segala jalan bercabang yang hanya menuju kata pulang
Seperti kepulangan Akang dari perantauan tapi entah kapan.

Lalu, Lia bertanya balik dengan pertanyaan yang sama
Aku menjawab dengan lebih ringkas dan cepat darinya;
Lia-lah kampung halaman bagi Akang.
Setelah itu percakapan kami
Menyusun tubuhnya dalam puisi
Seperti para pahlawan 45 menyusun ini negeri
Yang menjadi lumbung bagi segala macam korupsi.

Minggu malam, 26 November 2017, Yogyakarta

Surat Cinta Pertama

Lia, cinta adalah indentitas kedua bagi manusia setelah agama
Aku memilihmu sebagai penyempurna bagi keduanya.

Sabtu dini hari, 25 November 2017, Yogyakarta

Surat Cinta Kedua

Lia, aku suka melakukan pekerjaan
Yang tak pernah selesai seperti mencintaimu.

Sabtu dini hari 25 November 2017, Yogyakarta

Surat Cinta Ketiga

Lia, setelah mengenalmu aku menjadi seseorang
Yang terlalu percaya pada kesedihan.

Sabtu dini hari 25 November 2017, Yogyakarta

Surat Cinta Keempat

Lia, aku masih takut pulang
Sebab orang-orang di rumah tidak pernah menanyakan
Apa yang telah kulakukan bersama puisi di kota perantauan
Itu bagiku sama saja dengan penghinaan

Lia, aku masih takut pulang sayang
Sebab takut adalah cara lelaki mencintai seseorang.

Sabtu dini hari 25 November 2017, Yogyakarta

Surat Cinta Kelima

Lia, jika aku menulis puisi cinta
Kemudian kau baca berulang-ulang
Tapi tidak kunjung paham
Berarti kau bukan orang
Yang kumaksud dalam tulisan.

Sabtu dini hari 25 November 2017, Yogyakarta

Surat Cinta Keenam

Lia, kata-kata adalah sumpah juga sampah yang akan selalu gagal punah
Selama makhluk yang merasa punya perasaan tuhan ciptakan.

Sabtu dini hari 25 November 2017, Yogyakarta

Surat Cinta Ketujuh

Lia, seperti sebuah musik yang tak pernah lelah diputar
Aku menunggumu di tepi siang yang lengang
Di sebuah kota yang musimnya tak ditentukan
Hujan dan matahari tetapi oleh mesin

Aku berlindung pada sepi tapi sepi sudah tak tercipta lagi
Setelah kau tak di sini.

Sabtu dini hari 25 November 2017, Yogyakarta

*Sengat Ibrahim, Pemangku Adat Literasi & Taman Baca Masyarakat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY). Lahir di Sumenep Madura, 22 Mei 1997. Menulis puisi dan cerita pendek, tinggal di Yogyakarta. Buku puisi pertamanya diterbitkan oleh penerbit Basa-Basi berjudul: Bertuhan pada Bahasa. Sekarang sedang sibuk menyiapkan buku kumpulan puisi kedua bertajuk: Dialog Bolong.

Perempuan Itu; Puisi-puisi Ana Widiawati

Puisi-Puisimu

Aku adalah puisimu-puisimu

yang patah

dan kau

penyair yang lelah

pasrah

Demi Tanah Terpijak

Demi tanah terpijak

semoga kami tidak tergagap menatap sajak-sajak

yang direnggut dari pucuk gunung itu dengan congkak

semoga kami tetap berdiri pada segaris kalimat perlawanan yang tegak

bersama kecemasan-kecamasan nurani

yang menggigil

melihat tuan menghamba pada gumpalan materi

sementara kami terus menghidupi meja makan dengan padi

yang tertanam di pangkuan bumi

membasuh lelah dengan air yang seharusnya aman dalam dekapan ibu pertiwi

O, tuan, tanah kami

mau sedalam apa tuan mengoyaknya?

demi emas-emas yang menumbuhkan cemas

Tuan, maukah meruang bersama suara-suara kami?

yang berserakan kehilangan naungan

terpinggirkan

tuan, sebelum semua tenggelam dan kelam

sebelum senja menandakan peniadaan

sebelum esok adalah pungkasnya harapan

sebelum tanah kami kehilangan napas-napas kehidupan

mau sampai kapan tuan membungkam?

mau sampai kapan menyumpal telinga dengan kemewahan-kemewahan?

semoga tuan sadar

selama ini tuan hanya memuja bokong dunia yang fana

mengejar uang dan segala keriuhannya

ah, gila!

*Menjaga ingatan tentang Gunung Tumpang Pitu beserta pertambangan emasnya dan tanah kelahiranku yang dikoyak-koyak tuan berkuasa. Semoga perlawanan tidak mati dan tetap abadi.

Malang, 16 November 2017

Surat-Surat

Surat-surat yang membusuk di bawah bantal

meneteskan kata-kata

aku menyaksikannya dengan sesak

sementara di luar jendela

purnama mengabarkan waktu tetap bergulir apa adanya

ada ingatan yang merindukan kawan

sengatan-sengatan rasa ketika sepasang dekapan

menggenggam kerut-kerut lelahku

sebelum aku terbenam

surat-surat itu membusuk bersama malam-malam lengang

dan aku membisik pelan

aku ingin pulang

Kita dan Hujan

Telah diamini dan direstui oleh semesta dan kita

kenangan akan selalu dikabarkan ulang oleh hujan

yang datang di bulan Juni seperti sabda Sapardi,

seperti hujan bulan Juli ketika pertama kali aku menamatkan sebait puisi,

seperti anomali ketika hujan datang di bulan-bulan kering dan gersang,

atau seperti hujan di bulan ini,

yang tiba-tiba, deras, dan keras

Hujan akan menyeduh ingatan

dan kita terjebak dalam nostalgia berkepanjangan

dikoyak-dikoyak rindu atau sesal

dan kita tidak pernah mendebat mengapa kehadirannya bersanding dengan kemuraman

kita hanya merasa terbebaskan

menyesap habis-habisan kenangan tanpa adanya penggugat

dan kita merasa aman

sebab hujan tidak akan mengabarkan kenangan ini pada cuping-cuping telinga

dari balik jendela

dari rumah-rumah

atau pada orang-orang berlarian mencari peneduh dan kehangatan

kenangan ini seutuhnya adalah kita

dan hujan tidak akan mengkhianati

ia tahu pada siapa harus membagi

ketika ia jatuh dan membumi

Malang, 5 November 2017

Perempuan Itu

Perempuan itu,

kutemukan sedang menepi dalam semangkuk sup di meja makan malamku

sebelum akhirnya beku

menyisakan remah-remah waktu

dan aku

meruang bersama kegaduhan dan detak-detak yang berantakan

kala perempuan itu melompat dan menyusup ke lembaran koran

berserakan

lalu meneduh di bawah pigura lama dengan foto tanpa gurat rasa

mengembalikan sebagian masa yang sempat tenggelam dan kelam

aku terkapar

kemudian dengan sederhana

dan cara paling terduga

perempuan itu jatuh dalam sebaris kata

yang kupungut dengan lelah dan putus asa

Perempuan itu,

adalah rindu dan sendu

semu

suka berlalu

mengguratku dengan sembilu

biru

Malang, 26 November 2017

* Ana Widiawati lahir di Banyuwangi 21 tahun silam. Bermukim di Malang dan sedang menempuh pendidikan di jurusan Hubungan Internasional Universitas Brawijaya. Masih aktif di Lembaga Pers Mahasiswa Perspektif (LPM Perspektif). Karya-karya cerpen dan puisinya pernah nangkring di Solo Pos, Radar Banyuwangi, dan buku-buku antologi.

Naskah Hitam; Puisi-puisi Achmad Fathoni

Bom Waktu

Suara menjadi batu
Mulutnya membusuk
Tak dipakai bertahun tahun
Tubuhnya lemas tak kunjung subur

Di tengah tengah ranjau ia terbujur kaku
Sekali bersuara, di tendang keluar gedung

Telah ia lihat, barisan kata kata berisi emas
Seharusnya ia pulang dan menceritakannya.
Sayangnya, ia terperangkap ranjau jahanam. Meteor-meteor bisa saja menghancurkannya dalam sekejap

Dari tahun-tahun yang mengurungnya
Suara adalah bom waktu yang melekat di punggungnya
Yang selalu aktif dan mampu menjadikannya terkapar mati.

Naskah Hitam

Matanya
Tatapan matanya membeku
Seorang aktor mati di panggung yang kosong

Kepalanya tergantung
Tak ada belati, tali goni menerkam lehernya

Matanya
Matanya melotot keluar
Dan mati. Kabar itu gempar.

Tubuhnya kurus
Waktu evakuasi telat satu jam
Kotorannya keluar hitam
Air mata. Air mata.
Ia mengeluarkan air mata. Hitam.
Air matanya hitam.

Seorang aktor telah matpanggung menjadi sepi
Deretan sepi itu menguar
Menjadi pertunjukan pertunjukan amal

Seorang aktor telah pergi
Meninggalkan sutradaranya sendiri.
Malam itu. Di luar hitam
Udaranya hitam semuanya menjadi hitam
Oleh naskah hitam
Dibaca sutradara
untuk aktor yang mati
Di panggung pertunjukan yang sepi.

Dahaga Mahasiswa

Dahaga menggerogoti setiap leher mahasiswa
Kaum yang selalu suci di mata kelompoknya sendiri
Anehnya, mereka saling berhubungan dengki
Saling senggol duduk di muka kursi

Apa yang mereka perebutkan?
Spon kursi yang empuk itu atau lantainya yang tinggi
Kata mereka, ini adalah tradisi
Yang perlu di jaga sampai mati

Dulu, ceritanya tak seperti itu
Mahasiswa amburadul di jalan tak saling senggol
Katanya, dulu itu revolusi

Dahaga mana yang tak menggerogoti leher mahasiswa
Katanya, sumpah mereka itu suci
Sumpah yang mana?

Bergotong royong saja butuh situasi
Berbagi saja butuh dana subsidi
Yang mana katamu itu suci
Coba tengok ke dahimu sendiri

Pokoknya aksi. Pokoknya aksi.
Sekarang, aksi tanpa subsidi penunggang kuda, ya tak akan jadi

Sajak Kehilangan

Jauh jam menunjuk angka kehilangan
Detik detik dihitung tak menemukan ujung

Saku celana seorang sarjana bolong
Koin-koin berjatuhan
Telinga sarjana lain mendengar

Saling tatap. Saling tatap.

Angka dihitung mundur
Itu koin siapa. Itu milik siapa.

Perebutan koin terjadi.
Perebutan harga diri dimulai
Adu mulut.
Mata melotot. Tangan mengepal mengeras

Ini milik siapa?

Semua orang diam, sarjana itu melonglong.
Keadaan semakin mencekam
Koin itu hilang. Koin itu hilang.
Semua hilang. Kesadaran hilang.
Tuhan dan cinta kasihnya hilang.

Sajak Pertanyaan

Ini seragamku Tuhan.
Setelah kubayar lunas pembayaran untuk gedung rektor yang baru itu.

Bolehkan aku bertanya Tuhan?
Berapa banyak uang yang dihabiskan untuk membangun gedung rektor yang baru itu?

Tuhan, kenapa gedung rektor selalu lebih megah ketimbang gedung kuliah?
Lihat atap-atapnya itu, indah bukan? ada pelanginya.

Tuhan, kenapa parkir mobil lebih luas ketimbang tamannya?

Maaf Tuhan, harus bertanya banyak. Rektor sedang sibuk.

*Achmad Fathoni, lahir di Bojonegoro dan saat ini berdomisili di Malang. Pegiat Pelangi Sastra Malang.

Komunitas