Senja, Puisi-puisi Novy Noorhayati Syahfida

ilustrasi (Anja/Mvoice)

Di Meja Nomor 3

kita pernah gagal memaknai senja
namun, ketabahan senantiasa bertahan menanti titik jumpa
antara keinginan dan doa-doa
kita tak pernah jemu bertukar kabar
memulai percakapan demi percakapan yang paling debar

mengulanginya kelak pada satu pertemuan
meski harus melipat sederet kecemasan
sesekali, menyusuri jalan kenangan
sambil merangkai pertanyaan; melupakan atau tetap bertahan
kemudian menyimpannya di dada kiri diam-diam

Meruya, 25.10.2018

Di Luar Jendela

hujan menetes satu satu
di ujung kelokan, kanak-kanak berlari tanpa sepatu
tak ada yang sanggup berpaling dari musim
sekalipun rayuan kemarau telah kau kirim
dalam lipatan-lipatan doa yang paling intim

Kedoya-Ciledug, 23 Oktober 2018

Dia Meneguk Secangkir Teh Hangat

dia meneguk secangkir teh malam itu
hangatnya sampai di ujung pintu
muara kedatangan sekaligus kepergian
dari sepasang ingatan yang berkeliaran

secangkir teh tawar tanpa pemanis
seperti cerita yang tak habis-habis
pahit dan getir selalu nyaris bersamaan
terkadang mewarnai sederet pertemuan

di sela jadwal yang begitu padat
dan lalu lintas yang melaju cepat

tik tok jarum jam tak pernah mau melambat
diam-diam waktu menunjuk pukul 9 tepat!

dia meneguk secangkir the
dan malam pun semakin meleleh

Tangerang, 17.10.2018

Kulupakan Namamu

demikianlah…
akhirnya kau pergi ke ujung entah
dan aku menarik diri, kehilangan arah
beranda pun sepi tanpa gairah
tanpa air mata dan tawa yang pecah

tak ada lagi mabuk, atau sekedar lupa ingatan
ketika pemahaman demi pemahaman
terbang berhamburan
jatuh dalam lubang atas nama kesetiaan
dan kita, tidak pernah berusaha meyakinkan

satu sama lain. demikianlah, aku pun memilih menjauh
meninggalkan sauh

Tangerang, 1 Mei 2018 (E)

Senja

gemerlap lampu dalam sepotong senja
mengiringi segala yang tergesa
betapa waktu ingin segera
kembali pada larung doa-doa
menggenapi kenangan pada garis peta

Tol Cikampek, 3 September


*Novy Noorhayati Syahfida lahir pada tanggal 12 November di Jakarta. Alumni Fakultas Ekonomi dengan Program Studi Manajemen dari Universitas Pasundan Bandung ini mulai menulis puisi sejak usia 11 tahun. Puisi-puisinya telah dipublikasikan di berbagai media cetak, media online, dan juga di lebih dari 90 buku antologi bersama. Namanya juga tercantum dalam Profil Perempuan Pengarang & Penulis Indonesia (Kosa Kata Kita, 2012). Tiga buku kumpulan puisi tunggalnya yang berjudul Atas Nama Cinta (Shell-Jagat Tempurung, 2012), Kuukir Senja dari Balik Jendela (Oase Qalbu, 2013) dan Labirin (Metabook, 2015) telah terbit. Saat ini bekerja di sebuah perusahaan kontraktor dan menetap di Tangerang.

Garis Tepi; Puisi-puisi Ana Widiawati

Ilustrasi. (Anja Arowana)

Garis Tepi

Dari garis tepi
pada kertas-kertas yang kucuri
dari seorang penyair disesap sunyi
kutulis bebait sepi
bersama pagi menggigil yang berkongsi
dengan angin bulan Juni
kemudian lebur
oleh rindu yang diam-diam
kuselipkan di cuping telingamu
seusai persentuhan kita yang menggemparkan
dan sebelum kau gugur
bersama dedaunan yang limbung

Banyuwangi, 2 Agustus 2017

Meja Makan

Berpijak
pada jejak-jejak
yang tertinggal di meja makan bersama kerak-kerak
ingatan yang terkuak
ketika remah-remah roti berserakan di piringmu yang retak
dan piringku sesak
oleh nasi yang kautanak
secangkir kopi kehilangan seduh hangat
dan secangkir teh menguar coklat tak nikmat
dan kita dicincang-cincang waktu yang berdetak
kemudian meja makan itu menjelma perseteruan diam-diam
kita bungkam
di meja makan yang suram

Malang, 20 September 2017

Kunang-Kunang di Matamu

“Kelak, kau akan tahu.”
begitu kalimat ibu
yang merayap di malam-malam senyap
yang merangkak di pagi-pagi kedap

“Kau akan bertemu wajah kehidupan yang utuh.”
begitu tutur ibu
ketika kutuang resah dan keluh
di pangkuannya
luruh

“Kau akan memaknai segala gurat dan kerut.”
begitu kata ibu
tentang nestapa-nestapa
dan masa
yang berguliran layaknya air mata
dari muara bahagia atau
luka

“Kau akan menemukan sabda-sabda tak bertuan.”
begitu ungkap ibu
menyinggung sabda-sabda yang kehilangan
tuan-tuannya
sabda-sabda itu berserakan
diabaikan
dihinakan
dikutuk-kutuk
banyak mulut
“Mungkin akan gelap, sesak, dan kau muak.”
begitu lirih ibu
aku semakin mengerat
menyusup dalam ke ketiaknya
keresahan itu mendesak-desak
diam-diam ketakutan memuncak

“Tetapi kulihat masih ada kunang-kunang di matamu.”
pungkas ibu
seakan semilir angin di semusim kering
merinding
dan kecamuk itu menyingsing.

Malang 20 September 2017

Jendela

Meja, kursi, buku
temaram lampu
dan mataku memujamu
dari sela-sela tirai biru
dari jendela
yang akan runtuh
dan engkau masih berdiri di depan pintu
dengan setangkup bunga layu, wajah sendu,
dan menunggu
suara tapak sepatu
atau ketukan pintu
dan aku tetap memujamu
dari jendela
yang tak nampak di matamu

Malang, 20 September 2017

Puisi-Puisi di Rumah

Kita menghabiskan puisi-puisi di rumah
menyerap ruhnya sambil berdekapan mesra
diselingi cekikik-cekikik manja
melupa pada meja makan yang jarang mengepulkan
asap nasi, lodeh, kopi, atau aroma sambal teri
mendadak kita pura-pura
dapur kita baik-baik saja
bersandiwara rumah kita terang oleh bohlam-bohlam lampu
lima belas ribuan
berlagak seolah kamar kita empuk dan hangat

Kita menamatkan berbait puisi-puisi di rumah
menawar getir hari ini dan esok hari
dengan menyesap majas-majas dan imaji-imaji
sebab tiada lagi ruang untuk menuangkan sedih
di rumah yang hanya cukup untuk berpuisi ini

Kita pun melahirkan puisi-puisi di rumah
dari sentuhan-sentuhan yang sedikit hambar dan bergetar
tapi tetap menyejukkan
lebih meneduhkan ketimbang membincangkan
kesedihan, keruwetan, kegelisahan
yang tak tertampung di rumah ini

Kau membisik, “Mari merawat puisi-puisi di rumah ini.”
dan aku mengamini

Malang, 20 September 2017

*Ana Widiawati lahir di Banyuwangi 21 tahun silam. Bermukim di Malang dan sedang menempuh pendidikan di jurusan Hubungan Internasional Universitas Brawijaya. Masih aktif di Lembaga Pers Mahasiswa Perspektif (LPM Perspektif). Karya-karya cerpen dan puisinya pernah nangkring di Solo Pos, Radar Banyuwangi, dan buku-buku antologi.

LAJUR-LAJUR KESEPIAN, Puisi-puisi FAJRUS SHIDDIQ

Ilustrasi (Anja A)

LAJUR-LAJUR KESEPIAN

Diantara lajur-lajur sepi aku laju sendiri
Berteman angin sangu cemas
Langkah demi langkah napak teka-teki
Sementara wajah zaman terus berhias

Bahasa ambigu meluap-luap dinding kamar
Ratapi hari esok di awang samar
Saban hari sebagai apa aku pura-pura nyamar
Jadi pemain sandiwara setiap lembar

Hidup itu apa?
Hanya sekedar ingin tahu, bukan!
Dari zat dan nous disebut tuhan
Dari atom dan ruang hampa;
Kekal atau tidak, sufi tak pernah mengerti apa
Sebab selama kita ada
Kematian tak bersama
Ketika ia datang
Kita sudah tak lagi ada

Hidup itu apa, bukan?
Setiap dada lahir dari sepi
kembali pada sepi

2016

MANTAN VIII

Kau dan aku
Sebut saja itu berpura-pura
Akupun benar-benar merebutmu
Setelah kau dahulu merayu

Sebut saja itu tak sengaja
Akupun benar-benar larut
Setelah kau dahulu mencumbu

Kuanggap itu mimpi
Dimalam yang tak terlalu lama heningnya
Dan kaupun pergi
Menghilang dibalik duri-duri

HARAP MAKLUM

Tayangan virtual dua insan belia/ katanya sepasang kekasih, mendarat di grup message. Itu undangan mantenan.

”Ini undangan online,” kata seorang pelukis. buwuh online
”Santapan juga online?,” tanya profesor

/Selamat memasuki musim pengantin digital/

Anggota grup message terkekeh
Hahahahahaha…
Si calon manten itu hanya tersenyum – mengintip semua pesan dari balik layar ponselnya

Undangan macam ini lumrah hari ini
Jasa perancang uleman jadi laku. laris manis.
Ada yang bilang hemat kertas. biar pohonan rindang.
papyrus rimbun. tusam rampak.
/katak naong. burung teduh

Sambung kasih cukup ketik saja
Ini juga jadi di teluk lahirnya silah
Yang katanya benci bisa musnah oleh tasofah
Rukun bertetangga, tak perlu lagi berkuda. salam di udara

Tapi kawan kita sudah kebelet nikah!
Lagi pula repot pilih jas dan kebaya
Doakan saja sakinah mawaddah wa rahmah

Harap maklum.

Desember 2018

FAJRUS SHIDDIQ, Aktif berpuisi sejak nyantri di Ponpes Al-Amien Prenduan. Alumnus Pendidikan Bahasa Arab Universitas Negeri Malang (UM). Sekarang tinggal di Malang. Puisinya terbit di berbagai antologi bersama, koran dan media online. Kumpulan puisinya “COPET SIAL” akan segera diterbitkan. Saat ini menggeluti seni teater bersama Sanggar Seni & Budaya Al-Karomi UM (Teater Bahasa Arab).

Waktu Silam, Puisi-puisi Efa Nofiana

WAKTU SILAM

Jalan Basah.
Jalan dipersimpangan sana masih sama, seperti pertama kali kau jejakkan kakimu. Kita
beriringan langkah menyusuri jalanan basah selepas hujan reda. Selekas adzan maghrib
berkumandang dari surau-surau disekitarnya.

Gang sempit.
Gang diujung sana masih seperti yang kau tau. Sempit.. sepi.. dengan deretan rumah yang
layaknya kota-kota padat penghuni. Ku yakin dimemorimu masih tersisa.

Rumah berlantai ganda.
Rumah yang paling ujung di gang itu juga masih sama. Rumah berlantai ganda menghadap
arah terbenamnya surya. Dengan cat putih dan pintu coklat. Untuk melepasnya aku masih
belum rela. Yahh, aku masih tinggal disana.

Ruangan dasar.
Ruangan didalamnya pun masih sama. Dengan meja kaca dan sofa hijau tua motif bunga-
bunga. Sebuah televisi lama disebelah tangga. Diantaranya ada lorong menuju dapur minimalis yang apa adanya.

Ingatan.
Aku masih suka duduk sendiri disana. Meratapi banyak hal yang masih belum bisa ku sudahi.
Aku pernah menyuguhkan secangkir teh dan bukan kopi. Segenap setia dan sepenuh hati. Kita bercakap ringan ditemani sisa tetesan hujan diluar tadi. Ah, diruang kepalaku semua itu abadi.

Sejak bertahun-tahun lamanya segalanya masih sama. Jalan dipersimpangan sana selalu basah jika hujan. Gang diujung itu masih sepi dan sempit. Rumah yang paling ujung pun tak berubah sama sekali. Dan ruangan didalamnya pun masih seperti saat kau duduk disampingku kali pertama. Disana aku masih setia mengarsipkan segalanya.

Mungkin itu salah satu sebabnya aku masih belum rela meninggalkannya. Sebab disetiap sudut kota kau selalu menggoreskan cerita.
.
Purwokerto, 2019

MENGGARIS CAKRAWALA

Tertawa saja jika kau senang
Semua orang pasti akan tahu
Aku sudah tak peduli dengan itu
Biarkan aku bahagia dengan duniaku
Dunia yang kulihat
Dengan mata, hati dan nurani
Hari ini dan esok sama saja,
Pasti berjalan apa adanya
Pagi nanti pasti terang,
Teriak saja biar senang
Berlarilah semaumu,
Kejar saja semua itu
Tepislah jika kau tak suka,
Buang saja semuanya
Enyaahh kau payahh,
Biarkan aku tetap bernyanyi
Tanyakan saja pada hatimu
Mengapa lembayung jingga menggaris cakrawala
Sakit hanya pahit sementara,
Meski luka selalu ada
Lenyap saja kau dalam pengap
Biarkan bintang-bintang tertidur dalam hatimu

Sumpiuh, 2019

MIMPI

Aku terluka dalam hatimu
Mengapa aku harus menyelam, bila akhirnya aku tenggelam??
Aku terlupa ketika waktu menarik ulur ingatanku
Mengapa aku harus mengenal, bila akhirnya aku pun tak bisa melupakanmu??

Aku memeluk malam dengan hati yang tentram
Damai duniaku,
Meskipun masih saja bayang-bayangmu datang kepadaku
Aku melupakan sesuatu
Jikalau kau tau, apa mungkin memberitahuku??

Aku terjebak hujan risik, setelah siang yang begitu terik
Sore senja berganti gelap
Mimpi kecilku turut lenyap
Ketika maha cahaya tertelan senyap
Semuanya turut larut dalam pengap

Aku melupakan sesuatu
Jikalau kau ingat tolong beritahu aku
Aku lupa waktu
Aku masih bernyanyi saat sandiwara matahari mulai berhenti
Bahkan aku pun lupa
Jikalau aku tengah terlelap saat ini

Sumpiuh, 2019

*Efa Nofiana. Tinggal di RT 04/02 Nusadadi. Sebuah desa terpencil di Kecamatan Sumpiuh. Anak pertama dari 5 bersaudara ini lahir di Banyumas, 26 Februari 1999. Ia adalah penyuka senja dan pecandu aksara yang sering kali kehabisan kata-kata. Merangkaikan huruf demi huruf adalah caranya bercerita. Itulah alasan
mengapa ia suka menulis. Bahwa dengan menulis ia dapat bercerita tanpa berbicara. Baginya, jika kata hati adalah layar yang ceritakan perasaan. Maka aksara adalah suara jiwa yang diucap dengan pena. Dan saat ini masih ingin terus bercerita lewat jalinan konsonan vokal yang terus diolah dalam pikiran hingga dituangkan untuk menghasilkan untaian-untaian yang mampu dinikmati di lembar-lembar buku suatu hari nanti.

Taksa Sebuah Nama; Puisi-puisi Astrajingga Asmasubrata

Ilustrasi. (Anja Aronawa)

YERUSALEM KITA

: kepada pemeluk agama

Yerusalem kita
Selalu semacam khazanah
Yang suwung, diruwat
Dan dirawat dengan darah

Serta air mata yang mengalir
Sepanjang Gaza — kehancuran
Yang purna, memuat takdir
Jauh sebelum adanya sabda

Sebuah kitab, atau semacam
Buku panduan perang
Yang damai dan sentosa —
Di dalamnya duka bersukacita

Lantaran maut adalah surga
Bagi Yerusalem kita, atau
Barangkali, inilah fakta bahwa
Semesta mewariskan iman

Kepada yang tak percaya:
Samsara, Yerusalem kita!

(dusunmaja, 2017)

 

 

ZURIAH

Tak ada amsal
Dalam gejolak-sepi itu
Selain sejumlah cuma
Perihal gairah yang padam

Satu-dua luka lebam
Masa silam, dan kaudapati
Dirimu pasi menyimak
Bayangan seorang perempuan

Yang juga semacam kecam
Segala yang terlepas
Akan kembali tergenggam
Sebagai nyala sepasang mata

Yang kaulihat seperti sabda
Terakhir, sebelum gejolak-sepi itu
Menggetarkan dawai mimpimu
Serupa nada-nada kosong

Dari segenap hirap dan ratap
Saat kausingkap kelir kenangan
Dan segalanya tampak lain
Dalam masgul mungkin, barangkali

Lantaran ini bukan percintaan
Tapi sebuah tikam!

(dusunmaja, 2017)

 

 

DEJA VU

: buat acep zamzam noor

ia pun gusar;
menyusur samudera
siang yang matang
— matahari jalang? —
perahu diterjang gelombang
angin asin menampar wajah
“duhai penempuh batin
apa yang tersembunyi
dari seketika, selain
decak terpana
sunyi yang mungkin?”
— ngungun –
di samudera lain
kata demi kata menukik
ke balik tirta
sajak pun beriak-riak
penuh oleh kesumat
— atau laknat? —
meliuk di lengkung teluk
kalbu begitu kutuk
karam
ke dalam diri!

(dusunmaja, 2017)

 

 

SYAIR-SYAIR PESISIR

1.
kau dan aku kini landai pantai
debur itu dipacu deru angin
di bawahnya terumbu menari-nari
ikan menghindari bentangan jaring
kau dan aku kini gejolak lautan
dilayari tongkang para nelayan
mendaras hidup dengan menerjang
gelombang yang menyimpan harapan
kau dan aku kini batuan karang
teguh digempur air pasang
tak pernah menolak kedatangan
atau kepergian semisal kenangan

2.
kisah kita kini apatah hati penuh kasih
jika dilingkup cinta dan rindu yang ngungun
seperti serpihan bayang rembulan dibantun
debur demi debur yang bertabur buih
kisah kita kini sebuah tongkang tua
yang tergopoh mengangkut nasib baik
menuju dermaga yang sabar menunggu
seperti hati ibu untuk tualang anak-anaknya
kisah kita kini disadari tinggal kenangan
tergagap seperti camar digusah air pasang
setelahnya udara berbau garam mengasinkan
pikiran dan perasaan dengan sepi yang usang

(dusunmaja, 2017)

 

 

SAJEN RAYA

nasib masih semacam taman bunga
sejumlah wangi kesunyian menyeruak
dan di tengahnya beriak sebuah telaga
memantulkan rona wajah kami yang lain

bertahun-tahun tak pernah jera tunaikan
hasrat menghidupi diri dengan kerja
sebagai titah yang telah digariskan tuhan
kami cuma diminta tak henti berupaya

tiada guna berlama-lama merutuki takdir
sebab ketika azan pertama berkumandang
segala yang berwatak kesedihan memudar
seperti pengakuan daun sebelum ranggas

dan selagi angin hari depan berembus pelan
kami petik kenanga, kantil, serta cempaka
untuk ditabur di telaga sebagai sajen raya
agar kami semakin mengenali wajah asing ini

(dusunmaja, 2017)

 

 

TAKSA SEBUAH NAMA

malam ini jadi lain
lampu di beranda
tiba-tiba padam
langit pun kelam
seperti kenangan
akan punggung
yang menjauh
lalu menghilang
di tikungan
riuh cengkerik dan
gemerisik daun garing
dimainkan angin
seperti bisik tertahan
sebelum lambaikan tangan
yang membikin
malam ini semakin lain
dalam ingatan
pada segelas kopi
yang mendingin
tinggal ampas
pemandangan kosong
di beranda
meninggalkan taksa
di gerowong dada
yang mungkin
sebuah duka?

(dusunmaja, 2017)

 

 

SUMUR TUA SEBUAH KENANGAN

kita dipertemukan sebuah sumur tua
tak ada kata-kata terucap sebagai sapa
cuma kerekan tali timba dan jatuhan air
menimbulkan bunyi yang melingsir sunyi

sebagai siapa kita di sumur tua itu:
jejaka yang ragu mengajak berbicara atau
dara yang malu menampakkan wajahnya
barangkali cinta semacam dahaga terberkati?

(dusunmaja, 2017)

 

 

SIMPANG

sebentar yang lalu
kau datang kemudian pulang;
di tubuhku bersarang pelukan
yang telah mendingin
saat bayangmu menghilang
dalam pandangan di jauh malam
dan kata-kata yang kupunya
melesap senyap ke inti gelap

aku pun mengingat
kali pertama kita berjumpa:
lidahku kelu pada sayu matamu
dan kesiur angin penghujan
meningkahi reranting kersen
hingga sinar lampu jalan berkedip
seperti bintang jatuh
kau dan aku kompak menunduk
seolah sedang merapal doa

tapi sepulangmu
aku menyaru seorang bocah
terjangkit pilek dan demam
tubuhku gemetar
dari mulutku keluar gumaman
(yang mungkin terdengar
semacam geraman?)
dan pelukan telah mendingin itu
malih menjadi sebutir embun
selalu ragu bertahan di pucuk rumpun

(dusunmaja, 2017)

 

 

PADA MULANYA ADALAH TANYA

: buat gilang perdana

“Apa yang tersembunyi di balik seketika?”
Tiba-tiba selembar kertas bertanya
Pada sebuah pena
Dalam genggaman penyair kita;
Kata-kata datang dan pergi
Seperti kerinduan tak bertuan
Dan waktu menorehkan jejak biru
“Permisi, tak ada suatu apa di situ!”
Sekarang segalanya menjadi gamang:
Sajak adalah kehendak yang setia
Pada sejumlah duga dan hanya
Sajak menyimpan gelap
Yang menghindar dari cahaya
Setiap kali mata penyair kita terpejam
Bayang-bayang memanjang
Setelahnya lengang mengambang
Dan selembar kertas lainnya ikut bertanya
Pada pena lainnya
“Kapan saat yang tepat untuk berhenti?”

(dusunmaja, 2017)

*Astrajingga Asmasubrata, kelahiran Cirebon tahun 1990. Bekerja sebagai tukang cat melamik – duko – politur di Jakarta Timur. Penggerak Malam Puisi Jakarta. Buku puisi yang telah terbit adalah Ritus Khayali. Sedang menyelesaikan buku puisi terbarunya yang berjudul M I R Y A M.

Surat Cinta Ketujuh; Puisi-puisi Sengat Ibrahim

Kampung Halaman Bagi Lia
1/
Aku menikmati malam
Dengan secangkir kopi kopasus
Kerlap-kerlip lampu memancar
Di langit-langit warung pincuk
Di luar hujan dan malam menghapus
Semua jejak sampai bumi kembali kudus

Tetapi mampukah hujan dan malam
Menghapus segala kenangan dalam pikiran
Seperti menghapus nama tokoh-tokoh pahlawan
Dari sejarah perjuangan kemerdekaan
Sewaktu pribumi melawan japan?

2/
Aku menyalakan rokok
Sambil tertawa pada pikiranku sendiri
Menenggelamkan sepi pada puisi
Mengingat segala peristiwa yang terjadi
Maupun peristiwa yang gagal terjadi hari ini

Tiba-tiba dunia dalam ponsel berbunyi
Membawa suara Bryan Adam dalam lagu Heaven
Di layar ponsel tertera nama Lia
Aku menolak panggilan telepon darinya
Sebab berbicara di warung kopi
Belum menjadi peristiwa yang biasa di sini.

3/
Akhirnya kami mengobrol di ruangan Whatsapp
Lia memang pintar menyusun bahasa menjadi benda pusaka
Yang menyimapan kesaktian luar biasa
Seperti keris Koko-macan kepunyaan paman di Madura
Yang selalu diwarangi kembang tujuh rupa
Setiap malam jumat klewon

Beberapa saat setelah Lia tahu
Kalau bahasa cinta yang kukirim terasa kaku
Lia terus-menerus mengirimiku pesan icon kepala
Kepala yang bermulut hanya bisa dipakai untuk tertawa
Aku ikut tertawa pada icon kepala berwarna kuning itu
Dan membalas dengan pesan i love you.

4/
Pembicaraan kami terbuat dari segala peristiwa
Yang mudah menjadi penting juga genting, semisal:
Jawab dengan cepat apa saja
Yang Lia ketahui tentang kampung halaman?

Lia menjawab;
Segala sesuatu yang tak pernah selesai berbica dalam dada
Padahal dia tak pernah belajar bagaimana caranya berbicara
Atau segala jalan bercabang yang hanya menuju kata pulang
Seperti kepulangan Akang dari perantauan tapi entah kapan.

Lalu, Lia bertanya balik dengan pertanyaan yang sama
Aku menjawab dengan lebih ringkas dan cepat darinya;
Lia-lah kampung halaman bagi Akang.
Setelah itu percakapan kami
Menyusun tubuhnya dalam puisi
Seperti para pahlawan 45 menyusun ini negeri
Yang menjadi lumbung bagi segala macam korupsi.

Minggu malam, 26 November 2017, Yogyakarta

Surat Cinta Pertama

Lia, cinta adalah indentitas kedua bagi manusia setelah agama
Aku memilihmu sebagai penyempurna bagi keduanya.

Sabtu dini hari, 25 November 2017, Yogyakarta

Surat Cinta Kedua

Lia, aku suka melakukan pekerjaan
Yang tak pernah selesai seperti mencintaimu.

Sabtu dini hari 25 November 2017, Yogyakarta

Surat Cinta Ketiga

Lia, setelah mengenalmu aku menjadi seseorang
Yang terlalu percaya pada kesedihan.

Sabtu dini hari 25 November 2017, Yogyakarta

Surat Cinta Keempat

Lia, aku masih takut pulang
Sebab orang-orang di rumah tidak pernah menanyakan
Apa yang telah kulakukan bersama puisi di kota perantauan
Itu bagiku sama saja dengan penghinaan

Lia, aku masih takut pulang sayang
Sebab takut adalah cara lelaki mencintai seseorang.

Sabtu dini hari 25 November 2017, Yogyakarta

Surat Cinta Kelima

Lia, jika aku menulis puisi cinta
Kemudian kau baca berulang-ulang
Tapi tidak kunjung paham
Berarti kau bukan orang
Yang kumaksud dalam tulisan.

Sabtu dini hari 25 November 2017, Yogyakarta

Surat Cinta Keenam

Lia, kata-kata adalah sumpah juga sampah yang akan selalu gagal punah
Selama makhluk yang merasa punya perasaan tuhan ciptakan.

Sabtu dini hari 25 November 2017, Yogyakarta

Surat Cinta Ketujuh

Lia, seperti sebuah musik yang tak pernah lelah diputar
Aku menunggumu di tepi siang yang lengang
Di sebuah kota yang musimnya tak ditentukan
Hujan dan matahari tetapi oleh mesin

Aku berlindung pada sepi tapi sepi sudah tak tercipta lagi
Setelah kau tak di sini.

Sabtu dini hari 25 November 2017, Yogyakarta

*Sengat Ibrahim, Pemangku Adat Literasi & Taman Baca Masyarakat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY). Lahir di Sumenep Madura, 22 Mei 1997. Menulis puisi dan cerita pendek, tinggal di Yogyakarta. Buku puisi pertamanya diterbitkan oleh penerbit Basa-Basi berjudul: Bertuhan pada Bahasa. Sekarang sedang sibuk menyiapkan buku kumpulan puisi kedua bertajuk: Dialog Bolong.

Perempuan Itu; Puisi-puisi Ana Widiawati

Puisi-Puisimu

Aku adalah puisimu-puisimu

yang patah

dan kau

penyair yang lelah

pasrah

Demi Tanah Terpijak

Demi tanah terpijak

semoga kami tidak tergagap menatap sajak-sajak

yang direnggut dari pucuk gunung itu dengan congkak

semoga kami tetap berdiri pada segaris kalimat perlawanan yang tegak

bersama kecemasan-kecamasan nurani

yang menggigil

melihat tuan menghamba pada gumpalan materi

sementara kami terus menghidupi meja makan dengan padi

yang tertanam di pangkuan bumi

membasuh lelah dengan air yang seharusnya aman dalam dekapan ibu pertiwi

O, tuan, tanah kami

mau sedalam apa tuan mengoyaknya?

demi emas-emas yang menumbuhkan cemas

Tuan, maukah meruang bersama suara-suara kami?

yang berserakan kehilangan naungan

terpinggirkan

tuan, sebelum semua tenggelam dan kelam

sebelum senja menandakan peniadaan

sebelum esok adalah pungkasnya harapan

sebelum tanah kami kehilangan napas-napas kehidupan

mau sampai kapan tuan membungkam?

mau sampai kapan menyumpal telinga dengan kemewahan-kemewahan?

semoga tuan sadar

selama ini tuan hanya memuja bokong dunia yang fana

mengejar uang dan segala keriuhannya

ah, gila!

*Menjaga ingatan tentang Gunung Tumpang Pitu beserta pertambangan emasnya dan tanah kelahiranku yang dikoyak-koyak tuan berkuasa. Semoga perlawanan tidak mati dan tetap abadi.

Malang, 16 November 2017

Surat-Surat

Surat-surat yang membusuk di bawah bantal

meneteskan kata-kata

aku menyaksikannya dengan sesak

sementara di luar jendela

purnama mengabarkan waktu tetap bergulir apa adanya

ada ingatan yang merindukan kawan

sengatan-sengatan rasa ketika sepasang dekapan

menggenggam kerut-kerut lelahku

sebelum aku terbenam

surat-surat itu membusuk bersama malam-malam lengang

dan aku membisik pelan

aku ingin pulang

Kita dan Hujan

Telah diamini dan direstui oleh semesta dan kita

kenangan akan selalu dikabarkan ulang oleh hujan

yang datang di bulan Juni seperti sabda Sapardi,

seperti hujan bulan Juli ketika pertama kali aku menamatkan sebait puisi,

seperti anomali ketika hujan datang di bulan-bulan kering dan gersang,

atau seperti hujan di bulan ini,

yang tiba-tiba, deras, dan keras

Hujan akan menyeduh ingatan

dan kita terjebak dalam nostalgia berkepanjangan

dikoyak-dikoyak rindu atau sesal

dan kita tidak pernah mendebat mengapa kehadirannya bersanding dengan kemuraman

kita hanya merasa terbebaskan

menyesap habis-habisan kenangan tanpa adanya penggugat

dan kita merasa aman

sebab hujan tidak akan mengabarkan kenangan ini pada cuping-cuping telinga

dari balik jendela

dari rumah-rumah

atau pada orang-orang berlarian mencari peneduh dan kehangatan

kenangan ini seutuhnya adalah kita

dan hujan tidak akan mengkhianati

ia tahu pada siapa harus membagi

ketika ia jatuh dan membumi

Malang, 5 November 2017

Perempuan Itu

Perempuan itu,

kutemukan sedang menepi dalam semangkuk sup di meja makan malamku

sebelum akhirnya beku

menyisakan remah-remah waktu

dan aku

meruang bersama kegaduhan dan detak-detak yang berantakan

kala perempuan itu melompat dan menyusup ke lembaran koran

berserakan

lalu meneduh di bawah pigura lama dengan foto tanpa gurat rasa

mengembalikan sebagian masa yang sempat tenggelam dan kelam

aku terkapar

kemudian dengan sederhana

dan cara paling terduga

perempuan itu jatuh dalam sebaris kata

yang kupungut dengan lelah dan putus asa

Perempuan itu,

adalah rindu dan sendu

semu

suka berlalu

mengguratku dengan sembilu

biru

Malang, 26 November 2017

* Ana Widiawati lahir di Banyuwangi 21 tahun silam. Bermukim di Malang dan sedang menempuh pendidikan di jurusan Hubungan Internasional Universitas Brawijaya. Masih aktif di Lembaga Pers Mahasiswa Perspektif (LPM Perspektif). Karya-karya cerpen dan puisinya pernah nangkring di Solo Pos, Radar Banyuwangi, dan buku-buku antologi.

Solitude; Puisi – puisi Vito Prasetyo

Tali-Tali Rapuh

Kini merekat sudah tali-tali rapuh
saat persimpangan mencari jalan
dan segala dusta terus mengiringinya
kepergian untuk mencari alam lain
saat wajah itu bersimbah airmata
Dedaunan luruh
Tanah pun kering
Kamar-kamar lirih menyimpan makna
di antara para penunggu jiwa
melihat bayang wajah sudah tak berwujud

Kini semua ingin menerka makna
yang ditinggalkan, saat hidup masih merepih mimpi
– dan anak-anak itu
berlalu-lalang menghitung bakti
semua buta akan catatan Tuhan
karena disana tercatat penuh misteri
Tali-tali rapuh itu
sudah teramat usang mengukur waktu
selain bersiap untuk menyulam dengan temali baru
agar bayangan itu tersenyum penuh makna
walaupun harus menerobos ruang waktu
dan hanya singgah pada mimpi-mimpi anak-anak itu

(2017)

Sisa Catatan Perang

Pagi buta – rerumputan diam
desing peluru telah tertidur
Di ujung kaki langit timur
merah membara masih membakar
tangisan masih menyayat
diantara jasad bergelimpangan
penuh darah, penuh luka
jiwa pun menangisi jasad-jasad itu
deru napas tercekam bersembunyi diantara puing kota

Perang tak pernah membuat manusia puas
Ingin rasanya kutikam malam
agar orang-orang tertidur pulas
membasahi mimpi mereka dengan kabut malam
dan sinar siang biarlah mengembara di belahan lain

Tercabik mimpi – kemana damai ini pergi
bagai petir menyambar, merobek jiwa tenang
sesungguhnya siapa yang pantas disebut pahlawan
sementara manusia masih saja menelanjangi diri
dengan keserakahan dan kemurkaannya

Ingin kubangkitkan kembali beberapa jasad
dan bertanya kepada mereka
tetapi mataku tak sanggup membaca ghaib
terlalu banyak kekotoran melekat di pelupuk
jarak waktuku pun terlalu jauh
tak mampu membentangkan catatan sejarah
mungkin sebagian catatan itu telah terhapus
sebaiknya kita bisa menahan diri
untuk tidak tergesa-gesa memutarnya (catatan itu)
sebelum doa-doa tersampaikan buat mereka

(2017)

Aksara Diam di Parangtritis

Pantai Parangtritis telah marah padaku
tatkala kucumbu bibir pantai
segala penat kutumpahkan
dekil tubuhku hanyut tersapu ombak
bahkan kusemburkan airnya
untuk melukis sebuah wajah
// Nyai Roro Kidul atau Nyai Blorong
angin menabrak pikiranku
senyum itu berubah murka
karena aku memang jalang
hanya menulis satu bait di sandarannya
sementara gelombang ombak
membawa sejuta aksara diam

(2017)

Aksara yang Tertinggal

Saat dahaga tertelan ludah
seperti gerimis tanpa jejak
Langkahku hampa tanpa gerakmu
senantiasa menyentuh jemari
mengharap nalar mulai terpadu hidup

Seperti burung berkicau
hinggap di telapak daun
disitu makna alam terjalin
menyentuh ujung nalar kita
dan kita bangkit mengukir makna aksara

Sekian lama pikiran telah terpendam
mungkin,
menanti napas dalam hidup baru
tapi rindu telah menusuk jiwa
menikam dengan goresan tinta
Lalu, esok kita bentangkan semua aksara
menata dalam makna yang belum usai
hingga berbuah menjadi buah tulisan penuh makna

Malang – 2017

Sepasang Merpati

Aku jatuh kedalam jurang
bebatuan menghantam tubuhku
sepasang merpati datang menghampiri
sayap-sayapnya patah
merepih pada pepohonan tumbang
mataku lirih menatap tubuh merpati
merpati itu menangis melihat jasadku

(2017)

Solitude

Ibu, di langit masih tersisa sebuah sajak
belum sempat kutulis untukmu
aku yakin Tuhan masih menjaga sajak itu
walau mungkin ada beberapa bait
yang tidak diinginkan Tuhan untuk kuberikan untukmu
saat ini masih terpasung kelambu suci
tertidur dalam kesendiriannya dan diam

Kadang aku bertanya tanpa pernah ada jawabannya
Solitude,
sebuah kata hanya untuk mengingkari diri
tentang sebuah cinta tulus telah terputus waktu
ketika Ibu mengasuhku dalam dekapannya
hingga ia harus mengembalikan pada Sang Ilahi
sementara jalanku masih tersandung dan belum sempurna

Kini, aku merasa seperti seorang diri
tetapi mungkin ibuku pun, seorang diri disana
catatan tentang dirinya berserakan dalam hidupku
ada yang belum sempat kurajut dalam mimpi
waktu pun terus beranjak meninggalkan jejak napas
dan dalam napas itu
aku menulis tentang sisa kerinduan
tak pernah terungkap saat masih bersama Ibu
kususun dalam bait-bait fajar
tapi tak akan mungkin pernah terbaca oleh ibuku
hingga nanti, Tuhan-lah yang membacakan untuknya(Ibu)

(2017)

Sajak untuk Penyair

Lembayung merangkak pelan
batas cakrawala menengadah langit
ada larik pelangi tertulis
disitu ada bait sajak menangis
kala senja mulai menghampiri
merobek garis putih awan

// W.S. Rendra duduk membaca puisi

sepasang camar menulis garis di angkasa
mengitari pusara diam

Ombak merepih pantai
butiran pasir menghanyutkan cinta
bercerita tentang gemuruh negeri
tersimpan catatan-catatan suci
Ada petir menyambar, gamelan tertabuh
sayup-sayup senandung sajak memecah
lewat gulungan ombak, menembus waktu
tempayan siang dan bejana malam terkuak
sekian abad telah terbelenggu

// Kanjeng – Sunan Kalijaga, Sunan Muria menulis titah aksara

anak-cucu mengiris ombak
memakunya dengan benang kusut

Mereka” itu telah terbaring
diam hening tanpa suara
pada sudut-sudut malam, mungkin bangkit
masuk kedalam jiwa-jiwa “kita”
mengapa kita harus mengunci pintu malam?

– Di Sebuah Pusara –
(2017)

Saat Waktu Berbicara

disini, di penghentian akhir
engkau menyapaku
garis hitam bergulung pilu, menyiksa ragamu
bagai ombak menyapu laut
biduk kita rebah, tertelan ikan-ikan lapar
elang pun mengepakkan sayap mengirim isyarat
akankah sebuah waktu menjemput kematian
saat aku, engkau atau siapa saja
masih terpaku menatap langit!?

(2017)

*VITO PRASETYO, dilahirkan di Makassar(Ujung Pandang), 24 Februari 1964 — Agama: Islam — Bertempat tinggal di Malang – Pernah kuliah di IKIP Makassar, Bergiat di penulisan sastra sejak 1983, dan peminat Budaya. Sedang mempersiapkan Buku Kumpulan Puisi “Biarkanlah Langit Berbicara” (2016 – 2017) &
Buku Kumpulan Puisi “Sajak Kematian” (2017)

Ekstase; Sajak-Sajak Sengat Ibrahim

Mythology Kang Ching Wie
-Kepada I Dewa Made Mustika

sang kesatria sri jayapangus bersabda
dari punggung gunung batur, menguar suaranya
menembus riuh bunyi semesta, melubangi dada:

“duhai dewi lihatlah langit jingga
alangkah warnanya mekar penuh pesona
aku melihat wajahmu lebih mempesona
sudikah kiranya engkau menyebutkan nama?”

entah pertemuan itu sebuah rencana dewa
atau memang nasib memanggil kita
pada mulanya adalah bahasa mata
pada akhirnya sebuah petaka
dalam mengakhiri cerita.

sri jaya, apakah setiap cerita membutuhkan celaka?
apakah setiap yang punya denyut mengenal sia-sia?
benarkah setiap laku hidup menyimpan tindak salah?
tidakkah dewa-dewa memiliki perasaan bersalah?

di punggung gunung batur, kita menuai cerita
dari pura ke pura kita semai hakikat rasa
maka terpujilah setiap cerita
seluruh asa menguar bebunga.

sri jaya, kita telah membangun istana
di kelilingi berbenteng-benteng menara
sebagai upacara menolak datangnya mara bahaya
setiap sudutnya pria-pria kekar berdiri menjaga.

alangkah malang kita, musuh datang secara tiba-tiba
mereka muncul dengan buas melalui perut kita
ngelabui, mengajari kita menjadi manusia rakus
menindas, memeras bahkan merampas harta rakyat.

dari sinilah segalanya dimulai
dan alangkah tolol kita terlambat kembali ke asal
serupa air sungai mengalir ke hilir ke selir muara
hulu ditinggal menuju laut kemudian benua.

Cabean, Yogyakarta 2017

 

Ekstase

izinkan aku menjadi doa
melindungimu secara tiba-tiba.

bila mataku rabun
aku tak mau melihatmu melalui kaca mata
sebab Yang Sempurna selalu sebatas rencana.

aku ingin hidup di luar jam kerja
menitipkan segala pada yang tak bermula.

bila aku tak tahu apa-apa
maka aku lebih senang memilih tertawa
karna aku sangat ingin hidup tanpa tergoda.

aku suka berjalan tanpa melihat apa-apa
atau tidak dilihat siapa-siapa.

seperti sajak cinta
yang tak pernah tahu tercipta kepada siapa
tapi pembaca merasa ia tercipta untuk dirinya.

Cabean, Yogyakarta 2017

 

Kereta Akhir Pekan I
Mengenang Kematian Ali Fikri

“adakah yang berpijak dalam waktu tanpa mengenal ibu?”

di hari sabtu
selalu ada yang meminta di tunggu
dari musim batu samapai musim tilu
kau memilih menjadi penunggang rindu.

besi-besi dingin tapi lupa cara menggigil
kursi-kursi gemetar isyarat maut memanggil.

dari satu kereta ke kereta lain
kau berjalan pada mungkin.

di luar kereta
pohon-pohon berjalan
gunung-gunung pada melambai
seolah mereka mengatakan selamat tinggal
pada kau yang suka menempuh perjalan jauh
dan senang melalaikan kepegalan tubuh.

di tubuh kereta
tiba-tiba segalanya pecah serupa kaca
seluruh suara menjelma doa
dan kau dikutuk pada semoga.

Cabean, Yogyakarta 2017

 

Kereta Akhir Pekan 2

di malam minggu
setelah kereta itu mengalami kecelakaan
saat orang-orang sibuk merayakan jadwal kencan.

mereka mengatakan selamat tinggal
seolah tak sadar kalau mereka sedang berjalan
berjalanan mencari muasal.

: bahwa mengutuhkan diri menjadi manusia
sejatinya harus merasakan tiada.

Cabean, Yogyakarta 2017

 

Simposium Kenangan

         “dalam benak segalannya menegenal mungkin”

sebuah sosok mengirim suara dalam mimpi
berkali-kali hadir dengan wajah sembunyi.

ia selalu datang tanpa sedikitpun bicara
saolah sengaja mencari sesuatu yang tak ada.

Cabean, Yogyakarta 2017

*Sengat Ibrahim, penulis muda kelahiran Sumenep Madura, 22 Mei 1997. Pemangku Adat Literasi & Taman Baca Masyarakat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY). Sekarang tinggal di Yogyakarta. Karya-karyanya pernah dimuat di koran; Medeia Indonesia, Republika, Suara Merdeka, Koran Tempo, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Merapi, Radar Surabaya, Banjarmasin Post, Harian Rakyat Sultra dan LiniFiksi.Com

Pada Satu Tamasya Akhir Tahun; Puisi-puisi Beni Setia

HUMANIZEPOEM

bagai hentakan bola baja pada dinding
beton: aku bergetar

debum bangunan diruntuhkan. gempa
bumi lokal pada skala 7 richer

letupan nuklir terpusat. setara 6,5 kali
ledakan bom nagasaki-hiroshima

ini bukan peperangan. bukan soal apa aku
apa kamu. ini penyatuan dari pemisahan

kerigat. pertautan. zigot

2016

GERBANG SPIRITUALISTIK

terjaga lewat tengah malam. kepla sakit

jumbai syaraf dijerat. dikencangkan
dengan tarikan tali tambang. perih

“mungkin kurang oksigen,” katamu,
“mungkin terlampau banyak vodka,”

terlalu banyak ingin serta melulu
terhadang. debu di bingkai pintu

dan terjaga setiap masjid mulai
memutar kaset ayat al-quran

sakit–kurang berdzkir

2016

MANUSIA SIBERNASI

saya menciptakan diri sendiri, dari bau mulut
yang berdebat, dari tabrakan omong kosong
yang berbelit serta meneteteskan liur–materi
tidak terpakai yang berseliweran di angkasa.

berabad-abad

menjelma seorang: aku. serta seperti semua si
omong kosong, aku sosok yang berkepala bo-
long dan berotak kopong. bergaung dan berdesing

2016

PADA SATU TAMASYA AKHIR TAHUN

jangan percaya pada omongan mereka

katanya, katanya bos besar, saya tak boleh
ikut. bohong itu–akan saya cek langsung

: saya akan cek langsung. interlokal

mungkin mereka ingin saya tak ikut piknik,
dan ingin kerabatnya yang ikut–gratisan

mereka bilang bos besar melarang saya ikut
piknik. bohong itu–konyol

mungkin mereka tahu saya akan membawa
dagangan dan menjajakannya dalam bus

itu

kelicikan bsnis terselubung. mereka iri!
tak tahu cari kesempatan di kesempitan

kalian jagan mau ditipu, kalian jangan
dengar omogan mereka

2016

VARIASI ATAS TEMA-TEMA
ARWAH DI MASA DEPAN

1.
usia pelan menggiring ruh
memasuki masa lalu,serta
dinobati dan diberi kostum,
dikekalkan di dalam peran
yang dilakoni selama hidup

seratus tahu kemudian
anak cucu memutuskan lagi
tanpa bisa membela diri
mutlak dianggap cuma dorna bukan kresna
tecatat. tak bisa menggelak lagi

2.
: di masa depan arwah menjawab
semua pertanyaan-Nya jawaban jujur, dengan kesaksian si anggota tubuh

3.
banyak keinginan tetap tinggal
sebagai keinginan. melulu jadi
hanya luka hanya perih
(hanya yang terus dikenangkan
hanya keinginan yang kekal arwah keingin penasaran)

4.
kulit dan daging yang melapuk.
belatung yang tumbuh pada yang membusukpada yang kosong. klongsong

Beni setia

*Beni Setia, pengarang yang karyanya sudah tersebar di berbagai media massa.

Komunitas