28 November 2022
28 November 2022
21.6 C
Malang
ad space

Pemulung Kesedihan; Puisi-puisi Ferry Fansuri

Dibawah Kibaran Daster

Dalam kibaran daster itu
Kau melambai-melambai
Menggoda genit
Mengerlingkan kedipan nakal
Hipnotis diriku untuk datang
Menarik ke dalam bilik syahwatmu

Masih dalam kibaran dastermu
Memperlihatkan lekuk tubuhmu
Merayu untuk memasukinya
Menyeruak dengan berahi
Kau dekatkan bibirmu ke telinga ini

“Maukah kau kuperlihatkan surga dunia sebenarnya?”

Bersamaan daster itu jatuh lunglai tertiup angin

Surabaya, Juni 2017


Juru Bicara Bumi

Jam Weker, Tong sampah
Membisu diam
Burung gagak berkoar-koar
Tanpa makna
Dedaunan bergugur
Berserakan tak berarti
Mereka diam tercampakkan
Mulut mereka terkunci
Siapakah yang bisa memaknai mereka?
Hanya manusia bersyair yang memahami mereka
Itulah gunanya sorang penyair
Dia yang mengerti benda hidup dan mati
Kata-katanya adalah juru bicara planet ini

Pekanbaru, Mei 2017

Rapuh

Pada hari panjang yang lelah
Sepasang tangan merengkuh
Merangkul surga
Senja bertabur pelangi
Ia bagai pelacur tua murahan
Menertawakan saat kita telanjang
Terasa kejam tapi kau tetap kembali
Karena hanya dia menerima
Dirimu yang rapuh

Surabaya, Juni 2017

Mereka Ingin Aku Menjadi Rembulan

Gemuruh badai menggelepar
Hantu-hantu bodoh berkelebatan
Melewati malam dengan pedih
Bersenadung pilu
Memekakkan gendang telinga
Kepak-kepak sayap merpati
Terluka tertusuk nyeri
Manusia-manusia itu berlari
Mengejar mimpi semu
Mereka meminta berubah menjadi matahari
Memohon menjelma bagikan rembulan
Gaduh negara ini membara
Membakar kota asing itu
Tanpa sisa tertiup raib
Jejak tersapu angin mamiri
Tertelan lenyap dalam perut bumi
Ada petir dijantung ini
Ingin menyalak keluar

Akan kutunjukkan siapa diriku yang sebenarnya

Surabaya, Juni 2017


Pemulung Kesedihan

Apakah itu kebahagian?
Kau tak dapat merasakannnya
Semua tak sama dan semu
Tiap zaman memiliki kadar bahagianya sendiri-sendiri
Perihal itu bisa kau temukan itu dipojok kota itu
Berserakan tercecer
Kita adalah pemulung kesedihan
Memunguti sisa-sisa kejayaan
Menampung airmata kesepian
Menyimpan duka lara
Menyemai benih pedih
Sudahlah
Jangan kau ceritakan gelisah itu lagi
Diam dan mati kau disana

Surabaya, Juni 2017

Amnesia

Kulupakan itu semua
Layaknya amnesia
Tidak ada kebencian, marah atau sendu senda itu
Tanpa balas dendam, iri dengki atau muntahan emosi
Sudah lupakan saja apa yang terjadi
Tak ada guna jua bagiku
Biarpun itu disana
Lebur jadi satu
Kosong
Hampa
Lenyap tak berbekas ditelan bumi


Dumai, Mei 2017


Bersiul di tengah badai

Sesungguhnya ujian adalah waktu
Dalam tiap malam kuterus memohon padaMu
Untuk kau kuatkan pundak ini
Bukan kau ringankan bebanku
Karena sekarang dan esok
Gemuruh ombak tetap nyata
Biarkan aku bersiul di tengah badai itu

Dumai, Mei 2017


*Ferry Fansuri, lahir di Surabaya, alumnus Fakultas Sastra jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Karya tunggalnya yang telah terbit adalah “Aku Melahirkan Suamiku” Leutikaprio (2017). Tulisannya tersebar di berbagai media massa.

Jam Tua; Puisi – puisi Julaiha S

Ilustrasi. (Anja Arowana)

Ode Suara dari Telepon

Dia berteriak memecahkan dinding telinga
isi teriakan rindu
sebagaimana pelabuhan yang turut kedinginan
tanpa para kapal berlabuh di sana
suara-suara itu mirip panggilan kematian
perlahan membeku

Barangkali dia ingin bercerita panjang
persoalan lintas jejak dan pahatan masa sulit
mengelupasi kulit dadamu
di sana kehidupan tumbuh dan malam menjadi
waktu paling sibuk untuk bekerja

Kita terus saja menganti kata
berbalas pesan dari degung suara
tak banyak tanda terucap
namun ritual selalu diselesaikan
dengan baik, ketika lampu matamu
mendadak padam

Kompensasi, 2017

 

Ode Suara Tengah Malam

Aku paham bagaimana kita mengemas malam
dengan tanda-tanda yang pakem di tubuh
tulisan tulisan angin seperti burung membawa kabar
dan pesannya memaksa kita membongkar isi bajumu

Setiap kali kami menyelesaikan kegelisahan
maka muncul kegelisahan baru yang lebih tajam
ketakutan mencacah simpul waktu
datang satu persatu membawa
rasa hangat dan kumpulan bara

Bagaimana bekas bibirmu begitu
lembut menggulumi dada
di sana tumbuh pertanyaan berapi
kenangan berlalu menjadi abu.
sesungguhnya kisah tidak sebenar tahu
asal mula pertemuan

Kota sunyi cinta dikuasai angin
kau telah selesai memenangkan hasrat.

Kompensasi, 2017

 

Ode Gelisah

Setelah sepi merajai luka-luka di tubuh
aku semakin perih pada pengkhianatan
orang-orang berkumpul dan berdansa
di bawah sinar rembulan
mengatakan diri sebagai perjaka terbaik.
tangisan malam tingkap dalam bait-bait puisi
sungai mataku mengering
setelahnya aku terdampar dalam lautan tak bernama.

Seperti biasa, mereka selalu bermain petak umpat
ada siasat yang dikemas baik
menyumpal perempuan lainnya
atau barangkali perempuan-perempuan itu
mengambil kesempatan untuk menanak kecantikan
dan menelajangi diri

Sebagaimana kesakitan ini mengeraki dadaku
angin tak pernah singgah
kabar silih berganti menjamah
tubuh terbakar sepi tanpa arah

di ruang gelisah, jangan limpahi aku
dengan pertanyaan-pertanyaan
atas nama restu

Kompensasi, 2017

 

Dari Balik Jendela, Angin Memelukku

Dari balik jendela, angin lebih leluasa
menyeka serat kepalamu
dedaun merapikan diri.
Lampu kamar meredup
menyimak gejolak rindu
yang fakir digugur waktu.

Dari balik jendela, angin menerima pagi
kata-kata keluar dari matamu
memenuhi jalanan kota
seisi hati diterka-terka waktu
perjalanan mengutuk cerita
berlimpah gelisah dari dadamu
puisi tumbuh di kertas tak bernoda.

Dua simpul senyum bertautan
ricik ingatan lebih rutin mencipta puisi
kesedihan tak mampu ditakar waktu.

Kompensasi, 2017

 

Terbakar Sunyi

Esok, aku tiba di stasiun
menyambut tubuhmu, penuh ingatan
catatan-catatan waktu tumpah
melumuri tubuhku.

Ketika malam padat gulita
seluruh langit terbakar sunyi
rembulan mencair dari kamar

Mimpi tumbuh dari akar malam
rindu masih hujan di stasiun.

Kita pulang, ceritakan padaku
bagaimana sunyi membakar dirimu

Kompensasi, 2017

 

Jam Tua

Aku tergesa, mencari jelmaan puisi
kata-kata menyusuri belantara makna
menggulung denyut dada.
angka di jam tua perlahan
memutar, ingatan lupa waktu

Detik-detik mendarat di badan malam
mengemas rasa dingin.
bayangan berpindah pindah
mengerumuni kegelisahan yang matang

Kompensasi, 2017

 

*Julaiha S, perempuan kelahiran Medan, 11 Juni 1993. Sejumlah tulisan telah dimuat di media cetak dan online yakni; Harian Waspada, Medan Bisnis, Analisa, Mimbar Umum, Sumut Pos, Serambi Indonesia, Riau Hari Ini, Lampung Post, Sinar Harapan, Banjarmasin Post, Jurnal Masterpoem Indonesia, Media Indonesia, Indopost, Suara NTB, Riau Pos, Pikiran Rakyat, LINIKINI.ID, Harian Rakyat Sumbar dan beberapa antologi puisi. Alumni Program Penulisan Mastera: Puisi 2017. Saat ini, ia tercatat sebagai alumni Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Medan. Ia telah melahirkan buku puisi tunggalnya berjudul Mula-Mula Kita Pergi Selanjutnya Tersesat. (Obelia Publisher, 2016)

Solitude; Puisi – puisi Vito Prasetyo

Tali-Tali Rapuh

Kini merekat sudah tali-tali rapuh
saat persimpangan mencari jalan
dan segala dusta terus mengiringinya
kepergian untuk mencari alam lain
saat wajah itu bersimbah airmata
Dedaunan luruh
Tanah pun kering
Kamar-kamar lirih menyimpan makna
di antara para penunggu jiwa
melihat bayang wajah sudah tak berwujud

Kini semua ingin menerka makna
yang ditinggalkan, saat hidup masih merepih mimpi
– dan anak-anak itu
berlalu-lalang menghitung bakti
semua buta akan catatan Tuhan
karena disana tercatat penuh misteri
Tali-tali rapuh itu
sudah teramat usang mengukur waktu
selain bersiap untuk menyulam dengan temali baru
agar bayangan itu tersenyum penuh makna
walaupun harus menerobos ruang waktu
dan hanya singgah pada mimpi-mimpi anak-anak itu

(2017)

Sisa Catatan Perang

Pagi buta – rerumputan diam
desing peluru telah tertidur
Di ujung kaki langit timur
merah membara masih membakar
tangisan masih menyayat
diantara jasad bergelimpangan
penuh darah, penuh luka
jiwa pun menangisi jasad-jasad itu
deru napas tercekam bersembunyi diantara puing kota

Perang tak pernah membuat manusia puas
Ingin rasanya kutikam malam
agar orang-orang tertidur pulas
membasahi mimpi mereka dengan kabut malam
dan sinar siang biarlah mengembara di belahan lain

Tercabik mimpi – kemana damai ini pergi
bagai petir menyambar, merobek jiwa tenang
sesungguhnya siapa yang pantas disebut pahlawan
sementara manusia masih saja menelanjangi diri
dengan keserakahan dan kemurkaannya

Ingin kubangkitkan kembali beberapa jasad
dan bertanya kepada mereka
tetapi mataku tak sanggup membaca ghaib
terlalu banyak kekotoran melekat di pelupuk
jarak waktuku pun terlalu jauh
tak mampu membentangkan catatan sejarah
mungkin sebagian catatan itu telah terhapus
sebaiknya kita bisa menahan diri
untuk tidak tergesa-gesa memutarnya (catatan itu)
sebelum doa-doa tersampaikan buat mereka

(2017)

Aksara Diam di Parangtritis

Pantai Parangtritis telah marah padaku
tatkala kucumbu bibir pantai
segala penat kutumpahkan
dekil tubuhku hanyut tersapu ombak
bahkan kusemburkan airnya
untuk melukis sebuah wajah
// Nyai Roro Kidul atau Nyai Blorong
angin menabrak pikiranku
senyum itu berubah murka
karena aku memang jalang
hanya menulis satu bait di sandarannya
sementara gelombang ombak
membawa sejuta aksara diam

(2017)

Aksara yang Tertinggal

Saat dahaga tertelan ludah
seperti gerimis tanpa jejak
Langkahku hampa tanpa gerakmu
senantiasa menyentuh jemari
mengharap nalar mulai terpadu hidup

Seperti burung berkicau
hinggap di telapak daun
disitu makna alam terjalin
menyentuh ujung nalar kita
dan kita bangkit mengukir makna aksara

Sekian lama pikiran telah terpendam
mungkin,
menanti napas dalam hidup baru
tapi rindu telah menusuk jiwa
menikam dengan goresan tinta
Lalu, esok kita bentangkan semua aksara
menata dalam makna yang belum usai
hingga berbuah menjadi buah tulisan penuh makna

Malang – 2017

Sepasang Merpati

Aku jatuh kedalam jurang
bebatuan menghantam tubuhku
sepasang merpati datang menghampiri
sayap-sayapnya patah
merepih pada pepohonan tumbang
mataku lirih menatap tubuh merpati
merpati itu menangis melihat jasadku

(2017)

Solitude

Ibu, di langit masih tersisa sebuah sajak
belum sempat kutulis untukmu
aku yakin Tuhan masih menjaga sajak itu
walau mungkin ada beberapa bait
yang tidak diinginkan Tuhan untuk kuberikan untukmu
saat ini masih terpasung kelambu suci
tertidur dalam kesendiriannya dan diam

Kadang aku bertanya tanpa pernah ada jawabannya
Solitude,
sebuah kata hanya untuk mengingkari diri
tentang sebuah cinta tulus telah terputus waktu
ketika Ibu mengasuhku dalam dekapannya
hingga ia harus mengembalikan pada Sang Ilahi
sementara jalanku masih tersandung dan belum sempurna

Kini, aku merasa seperti seorang diri
tetapi mungkin ibuku pun, seorang diri disana
catatan tentang dirinya berserakan dalam hidupku
ada yang belum sempat kurajut dalam mimpi
waktu pun terus beranjak meninggalkan jejak napas
dan dalam napas itu
aku menulis tentang sisa kerinduan
tak pernah terungkap saat masih bersama Ibu
kususun dalam bait-bait fajar
tapi tak akan mungkin pernah terbaca oleh ibuku
hingga nanti, Tuhan-lah yang membacakan untuknya(Ibu)

(2017)

Sajak untuk Penyair

Lembayung merangkak pelan
batas cakrawala menengadah langit
ada larik pelangi tertulis
disitu ada bait sajak menangis
kala senja mulai menghampiri
merobek garis putih awan

// W.S. Rendra duduk membaca puisi

sepasang camar menulis garis di angkasa
mengitari pusara diam

Ombak merepih pantai
butiran pasir menghanyutkan cinta
bercerita tentang gemuruh negeri
tersimpan catatan-catatan suci
Ada petir menyambar, gamelan tertabuh
sayup-sayup senandung sajak memecah
lewat gulungan ombak, menembus waktu
tempayan siang dan bejana malam terkuak
sekian abad telah terbelenggu

// Kanjeng – Sunan Kalijaga, Sunan Muria menulis titah aksara

anak-cucu mengiris ombak
memakunya dengan benang kusut

Mereka” itu telah terbaring
diam hening tanpa suara
pada sudut-sudut malam, mungkin bangkit
masuk kedalam jiwa-jiwa “kita”
mengapa kita harus mengunci pintu malam?

– Di Sebuah Pusara –
(2017)

Saat Waktu Berbicara

disini, di penghentian akhir
engkau menyapaku
garis hitam bergulung pilu, menyiksa ragamu
bagai ombak menyapu laut
biduk kita rebah, tertelan ikan-ikan lapar
elang pun mengepakkan sayap mengirim isyarat
akankah sebuah waktu menjemput kematian
saat aku, engkau atau siapa saja
masih terpaku menatap langit!?

(2017)

*VITO PRASETYO, dilahirkan di Makassar(Ujung Pandang), 24 Februari 1964 — Agama: Islam — Bertempat tinggal di Malang – Pernah kuliah di IKIP Makassar, Bergiat di penulisan sastra sejak 1983, dan peminat Budaya. Sedang mempersiapkan Buku Kumpulan Puisi “Biarkanlah Langit Berbicara” (2016 – 2017) &
Buku Kumpulan Puisi “Sajak Kematian” (2017)

Pada Satu Tamasya Akhir Tahun; Puisi-puisi Beni Setia

HUMANIZEPOEM

bagai hentakan bola baja pada dinding
beton: aku bergetar

debum bangunan diruntuhkan. gempa
bumi lokal pada skala 7 richer

letupan nuklir terpusat. setara 6,5 kali
ledakan bom nagasaki-hiroshima

ini bukan peperangan. bukan soal apa aku
apa kamu. ini penyatuan dari pemisahan

kerigat. pertautan. zigot

2016

GERBANG SPIRITUALISTIK

terjaga lewat tengah malam. kepla sakit

jumbai syaraf dijerat. dikencangkan
dengan tarikan tali tambang. perih

“mungkin kurang oksigen,” katamu,
“mungkin terlampau banyak vodka,”

terlalu banyak ingin serta melulu
terhadang. debu di bingkai pintu

dan terjaga setiap masjid mulai
memutar kaset ayat al-quran

sakit–kurang berdzkir

2016

MANUSIA SIBERNASI

saya menciptakan diri sendiri, dari bau mulut
yang berdebat, dari tabrakan omong kosong
yang berbelit serta meneteteskan liur–materi
tidak terpakai yang berseliweran di angkasa.

berabad-abad

menjelma seorang: aku. serta seperti semua si
omong kosong, aku sosok yang berkepala bo-
long dan berotak kopong. bergaung dan berdesing

2016

PADA SATU TAMASYA AKHIR TAHUN

jangan percaya pada omongan mereka

katanya, katanya bos besar, saya tak boleh
ikut. bohong itu–akan saya cek langsung

: saya akan cek langsung. interlokal

mungkin mereka ingin saya tak ikut piknik,
dan ingin kerabatnya yang ikut–gratisan

mereka bilang bos besar melarang saya ikut
piknik. bohong itu–konyol

mungkin mereka tahu saya akan membawa
dagangan dan menjajakannya dalam bus

itu

kelicikan bsnis terselubung. mereka iri!
tak tahu cari kesempatan di kesempitan

kalian jagan mau ditipu, kalian jangan
dengar omogan mereka

2016

VARIASI ATAS TEMA-TEMA
ARWAH DI MASA DEPAN

1.
usia pelan menggiring ruh
memasuki masa lalu,serta
dinobati dan diberi kostum,
dikekalkan di dalam peran
yang dilakoni selama hidup

seratus tahu kemudian
anak cucu memutuskan lagi
tanpa bisa membela diri
mutlak dianggap cuma dorna bukan kresna
tecatat. tak bisa menggelak lagi

2.
: di masa depan arwah menjawab
semua pertanyaan-Nya jawaban jujur, dengan kesaksian si anggota tubuh

3.
banyak keinginan tetap tinggal
sebagai keinginan. melulu jadi
hanya luka hanya perih
(hanya yang terus dikenangkan
hanya keinginan yang kekal arwah keingin penasaran)

4.
kulit dan daging yang melapuk.
belatung yang tumbuh pada yang membusukpada yang kosong. klongsong

Beni setia

*Beni Setia, pengarang yang karyanya sudah tersebar di berbagai media massa.

Puisi Romantika Jogjakarta Karya Anggun Y Prastica

Ilustasi (pinterest)

– Sepenggal Kisah Tentang Jogjakarta –

Dalam ingatan yang kuingat di kota ini hanyalah dirimu,
Tak ada yang lain yang bisa kunikmati selain hembusan nafasmu ,
Ada desah nafasmu wahai kekasih, yang terhirup dengan begitu lembut
Menghangatkan dada di sepanjang perjalanan sendu di kota ini
Dulu kita saling menanggalkan adanya rasa sayang yang terjadi diantara kita
Tugu Jogja, Taman Sari, Pantai Parang Tritis, Pantai Depok dan Bukit Paralayang itu hanya menjadi sekelumit keindahan negeri Jogja yang seakan menjadi saksi kisah kasih untuk bertemu rindu
Kusongsong matahari pagi dengan tatapanmu di tatapku,
Langkahku kini terasa begitu ringan, tubuh rasanya ingin terbang melayang
Menapaki jejak jejak dengan langkah penuh kegembiraan
Jengkal demi jengkal kulalui dengan penuh suka cita
Erang dan desah, geliat dan gelinjang seakan mewarnai sajak kasmaran yang menggelora dalam dada,
Setiap tempat yang kudatangi di sini adalah dirimu
Setiap arah di sini, adalah parasmu
Kunikmati lagi cinta dengan kebahagiaan yang kian membara
Kuhayati lagi perasaan yang menggelora dengan begitu lepas
Dirimu ada di sini, dalam diriku
Hanya dirimu yang kuingat di kota ini, Jogjakarta

– Melankolis Kota Jogjakarta –

Jogja itu bagaikan candu, candu yang haus akan di rindu
Rindu yang datang selalu menggebu dan masuk ke dalam ruang rindu
Menggebu untuk kembali pada keramahan kota gudeg, Jogjakarta
Dimana datang sebuah kerinduan yang datang bersemanyam
Jogja selalu memanggil dan merengek untuk kembali di singgahi
Riuh suasana Tugu Jogja membuat rindu yang tercipta semakin membuncah
Membuat hati setiap orang yang pernah mencicipi riuh kota ini meradang kerinduan
Entah sebuah rindu yang datang tergesa-gesa yang membuat ingin kembali sekali lagi ke kota ini
Rindu yang makin hari makin mengikis waktu senggang ingin bertemu dengan seseorang
Matur Sembah Nuwun untuk keramahannya
Tempat yang selalu Istimewa, Jogjakarta
——

Anggun Yulan Prastica, lahir di Pasuruan, 20 Januari 1996, baru saja menyelesaikan pendidikan S-1 pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Budi Utomo Malang.
Email : Anggunyulan96@gmail.com

Seusai Pertunjukan Teater; Puisi-puisi Denny Mizhar

Rumah Kosong

Rumah Kosong, bagiku menakutkan serupa belantara
Tak berpenghuni, mencekam menelurkan mitos-mitos
Tempat singgah burung hantu dan setan gentayangan
Membuat enggan siapapun datang kecuali pemberani

Kulaknat kau, kesepian. Gelap dan singup
Bagai lelaki tua, sendiri di pertengahan usia
Kudengar gelisah dari jiwa yang merana
Bermandi air mata duka dan luka

Oh, kau perempuan-perempuan
Bergembiralah di malam penuh tawa
Meninggalkan kesedihan-kesedihan

Kerawanan dan ketakutan, bersemayam
Kerapuhan dan setan-setan yang datang
Menelanjangi hari-hari yang suwung

Tetapi gelap, kosong dan kesedihan
Adalah lautan yang perlu dijelajahi
Dengan ketabahan dan keberanian

Mungkin di situ ada rahasia
Yang perlu dibaca

Malang, 2017

 

 

Seusai Pertunjukan Teater

Kita masih bertanya tentang pertunjukan teater yang telah usai.
Tentang sutradara yang menjajah kepala kita akan tafsir yang kita dedah

Pipa-pipa informasi buntu. Koran-koran mencetak huruf-huruf yang salah.
Kita murung di bangku belakang yang kosong. Menggali ingatan yang kosong.

Di pintu keluar, kita masih bertanya. Untuk apa berkesenian kalau hanya untuk senang-senang semata, sedang di tempat jauh, anak-anak ingin tersenyum di atas panggung dengan jiwa yang merdeka.

Malang, 2017

 

 

Menunggumu
:Setya

Malam tadi kusapa rembulan
Saat angin memelukku dalam diam
Dan esoknya kurasakan gaduh
Di awal hari yang hilang

Mungkin ada yang menunggumu
Di bangku yang lumutan dan karatan
Ditemani daun-daun remuk diterpa kelam
Ratusan sepi membuatnya membeku

Kesetiaan itu bunga kaktus tumbuh di musim hujan
Dan ketabahan tak bisa di hitung dengan angka
Air mata adalah pelabuhan bagi luka
Meriwayatkan kisah-kisah duka

Pada penantian yang mengkarang
Tak goyang dihantam debur ombak waktu
Meski diam dan terkikis laju jarum jam
Tak bakal putus asa dan goyang

Malang, 2017

 

 

Bercermin

Aku ingin berjalan ke tampat yang jauh
menemui diriku

Malang, 2017

 

 

Kepada Puisi

Kepada puisi. Ada yang ingin kusampaikan padamu.

Aku tak bisa menulis sesuatu yang indah, sebab hidup selalu dibuat pusing oleh penghasilan yang kerap goyah.

Kepada puisi. Ada yang ingin kusampaikan padamu.

Aku tidak bisa menulis tentang para koruptor yang bermain teater komedi di panggung Indonesia. Sebab aku tak sempat menontonnya, memikirkan hutang-hutang saja menghabiskan waktu dan usia.
Kepada puisi. Ada yang ingin kusampaikan padamu.

Aku tidak bisa menulis tentang kekuasaan yang serakah dan menjadikan kemiskinan tak pernah purna, sebab aku sudah miskin sedari mula.

Kepada puisi. Ada yang ingin kusampaikan padamu.

Aku tidak bisa menulis tentang alam yang tak imbang disebabkan pemilik modal yang rakus tak berkesudahan, sebab aku tak punya rumah dan lahan untuk menanam bunga-bungaan, pohonan serta buah-buahan.

Kepada puisi. Ada yang ingin kusampaikan padamu.

Aku hanya menulis di sela-sela minum kopi: Dari sruputan ke sruputan ada ingatan tentang tetes keringat petani yang berpenghasilan rendah, rasa syukur pada Tuhan dan ada kamu yang kutunggu dengan cinta.

Malang, 2017

 

 

*Denny Mizhar, Penulis tinggal di Kota Malang. Saat ini aktif di Komunitas Pelangi Sastra Malang, mengelola penerbitan Indie Penerbit Pelangi Sastra dan Toko Buku Alternatif Griya Buku Pelangi Sastra Malang selain itu hari-harinya disibukkan dengan membantu mengelola kegiatan literasi di Kafe Pustaka-Perpustakaan Universitas Negeri Malang.

Senja, Puisi-puisi Novy Noorhayati Syahfida

ilustrasi (Anja/Mvoice)

Di Meja Nomor 3

kita pernah gagal memaknai senja
namun, ketabahan senantiasa bertahan menanti titik jumpa
antara keinginan dan doa-doa
kita tak pernah jemu bertukar kabar
memulai percakapan demi percakapan yang paling debar

mengulanginya kelak pada satu pertemuan
meski harus melipat sederet kecemasan
sesekali, menyusuri jalan kenangan
sambil merangkai pertanyaan; melupakan atau tetap bertahan
kemudian menyimpannya di dada kiri diam-diam

Meruya, 25.10.2018

Di Luar Jendela

hujan menetes satu satu
di ujung kelokan, kanak-kanak berlari tanpa sepatu
tak ada yang sanggup berpaling dari musim
sekalipun rayuan kemarau telah kau kirim
dalam lipatan-lipatan doa yang paling intim

Kedoya-Ciledug, 23 Oktober 2018

Dia Meneguk Secangkir Teh Hangat

dia meneguk secangkir teh malam itu
hangatnya sampai di ujung pintu
muara kedatangan sekaligus kepergian
dari sepasang ingatan yang berkeliaran

secangkir teh tawar tanpa pemanis
seperti cerita yang tak habis-habis
pahit dan getir selalu nyaris bersamaan
terkadang mewarnai sederet pertemuan

di sela jadwal yang begitu padat
dan lalu lintas yang melaju cepat

tik tok jarum jam tak pernah mau melambat
diam-diam waktu menunjuk pukul 9 tepat!

dia meneguk secangkir the
dan malam pun semakin meleleh

Tangerang, 17.10.2018

Kulupakan Namamu

demikianlah…
akhirnya kau pergi ke ujung entah
dan aku menarik diri, kehilangan arah
beranda pun sepi tanpa gairah
tanpa air mata dan tawa yang pecah

tak ada lagi mabuk, atau sekedar lupa ingatan
ketika pemahaman demi pemahaman
terbang berhamburan
jatuh dalam lubang atas nama kesetiaan
dan kita, tidak pernah berusaha meyakinkan

satu sama lain. demikianlah, aku pun memilih menjauh
meninggalkan sauh

Tangerang, 1 Mei 2018 (E)

Senja

gemerlap lampu dalam sepotong senja
mengiringi segala yang tergesa
betapa waktu ingin segera
kembali pada larung doa-doa
menggenapi kenangan pada garis peta

Tol Cikampek, 3 September


*Novy Noorhayati Syahfida lahir pada tanggal 12 November di Jakarta. Alumni Fakultas Ekonomi dengan Program Studi Manajemen dari Universitas Pasundan Bandung ini mulai menulis puisi sejak usia 11 tahun. Puisi-puisinya telah dipublikasikan di berbagai media cetak, media online, dan juga di lebih dari 90 buku antologi bersama. Namanya juga tercantum dalam Profil Perempuan Pengarang & Penulis Indonesia (Kosa Kata Kita, 2012). Tiga buku kumpulan puisi tunggalnya yang berjudul Atas Nama Cinta (Shell-Jagat Tempurung, 2012), Kuukir Senja dari Balik Jendela (Oase Qalbu, 2013) dan Labirin (Metabook, 2015) telah terbit. Saat ini bekerja di sebuah perusahaan kontraktor dan menetap di Tangerang.

Rak Buku dari Plastik; Puisi-puisi Tjak S. Parlan

Ilustrasi. (Anja Aronawa)

Tempat yang Terlalu Sempit untuk Bersedih

“Sudah bukan saatnya
kita berumah di kamar,” kataku.

Aku tahu, itu bukan perihal yang ingin kau dengar.
Kamu juga tahu, itu jenis pembicaraan yang paling sering
ingin kuhindari. Tapi hari ini, drama itu telah dimulai.

Buku-buku itu selalu menyita banyak waktu dan tempat.
Sementara, anak kita butuh lapangan bola, langit
cerah yang luas juga burung-burung origami
yang beterbangan di dalam rumah.

Tapi rumah adalah jarak, yang hanya bisa
ditempuh dengan cita-cita. Rumah bukan hari ini
—ia adalah sesuatu yang sering kita sebut
dengan mata berkunang-kunang sebagai nanti.

“Aku harus mulai memikirkan
tempat kerja di luar,” kataku.

Untuk ke sekian kali, kamu mendengar yang
seperti ini. Tapi mungkin benar, bahwa
masih banyak hal di luar yang menunggu didengar.
Sementara di kamar, kita belum kelar mengurusi
rasa lapar.

Tapi aku—juga kamu— tak akan menggigil,
oleh kering-dinginnya angin yang diembuskan
dari masa paceklik. Ini mungkin pancaroba, tak ada
waktu untuk merasa paling jatuh dan sia-sia.

Aku bahkan mulai ragu, bawa kita masih bisa bersedih
di tempat yang terlalu sempit untuk bersedih ini.

Pagesangan, 7 Mei 2017

 

Februari

Februari terdampar di bandar-bandar kecil,
seperti para kekasih yang rindu
dan tak kunjung bertemu.

Februari adalah pertemuan di sebuah rel kereta
yang lurus menjauh dalam lambaian tangan
di belakang rumahmu.

Februari adalah sebuah tikungan
yang memaksamu membunyikan bel sepeda
dan menoleh sedikit pada kenangan.

Februari adalah hujan yang tahan lama,
yang membuatmu menjadi kekasih sekaleng bir
dan kaca jendela.

Februari adalah rhinitis akut— atau semua itu—
yang menjauhkanmu dari segala cium.

Februari adalah penyamun yang tersesat di rumahmu
saat kau tertidur, dan menjarah
semua mainan anakmu.

Februari adalah kalender tua basah
yang lupa kau buang seluruh tanggal merah
di tempat sampah.

Februari adalah rencana-rencana
yang tergelincir di jalanan hujan
yang kerap terhapus para pejalan.

Pagesangan, 18 Pebruari 2017

 

Tengah Malam

Kita tersudut di tengah malam,
ketika itu. Anak kita sakit, dan sepenuhnya kita lupa
cara bercinta. Kita lupa mencatat
panggilan-panggilan darurat: panggilan taksi,
rekening pribadi, telepon rumah tetangga,
nomor kontak kawan dekat.

Kita lupa membalas SMS selamat ulang tahun itu.

Saat kau melangkah ke dapur, aku tahu
ada kalanya kita tak bisa mengandalkan bawang merah—
yang kerap membuat mata teduhmu berair dan membawa-bawa
aroma pasar ke dalam kamar—
atau paracetamol yang membeku di kotak obat: penghalau demam
bagi pemegang kartu BPJS itu.

Tapi kita tak punya kartu. Kecuali alamat sementara, kita tak punya
apa-apa yang penting untuk dicatatkan pada negara. Negara
tak butuh apa-apa dari kita—
negara adalah rezim yang paling mandiri.

Kita tersudut di tengah malam,
ketika itu. Anak kita yang bertahan dan lelah menangis,
tertidur dalam kantung matamu yang hangat
dan berat.

Lalu pukul empat dini hari, sebuah SMS masuk—
pesan pendek yang selama berbulan-bulan aku sembunyikan,
baik darimu, dari puisi, dari keadaan.

“Tak bisa tidur, Bung? Tak kau terima saja tawaran itu?

Aku terbayang ruang ICU, kantor polisi, jeruji besi,
kue ulang tahun, mobil mainan, sebuah brosur rumah bersubsidi.
Aku menatapmu, aku menatap ‘kekasih’ kecil kita
yang tertidur. Aku membalas sebuah pesan:

“Aku ikut. Aku jalankan.”

Sebelum tertidur, aku menghapus SMS itu darimu,
dari puisi, dari keadaan.

Pagesangan, 17 Pebruari 2017

 

Rak Buku dari Plastik

Rak buku dari plastik itu, terbebani
oleh janji para penyair yang ingin
menerbitkan buku:

oleh hasutan yang kerap diembuskan
dari sebuah toko buku
yang hening.

 

Bantal

Tak ada satu pun tempat yang pernah
disinggahi mimpi di sini.
Hanya sisa keramas:
helai-helai waktu yang tanggal
setiap pagi.

 

Hari Libur

Besok hari libur. Hari tenang
bagi sebuah keluarga sederhana.

Keluarga sederhana itu membeli sebuah koran
hari Minggu dan mulai membacanya:
(1) tak ada yang perlu dikhawatirkan
perihal kegaduhan itu, (2) musim kawin para
pemimpin, musim pemilihan rakyat jelata,
(3) kapan terakhir kali kamu piknik?

Menjelang siang, ketika orang-orang baru pulang
dari gereja, keluarga sederhana itu bertandang
ke museum kota.

“Di sini,” kata seorang penjaga, “tanda tangan
di buku tamu ini. Apa lagi yang bisa kami tawarkan?”

Keluarga sederhana itu menggeleng.
“Tak ada,” katanya, “kami hanya ingin menjenguk
sejarah yang lamban.”

Pagesangan, 19 Pebruari 2017

 

*Tjak S. Parlan, lahir di Banyuwangi, 10 November 1975, kini bermukim di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Cerpen dan puisinya telah dikabarkan di sejumlah media, antara lain Koran Tempo, Media Indonesia, Femina, Lampung Post, Republika, Haluan Padang, Padang Ekspres, Pikiran Rakyat, Sinar Harapan, Sumut Pos, Bali Post dan lain-lain. Diundang menghadiri Temu Sastrawan Indonesia IV (Ternate, Oktober 2011) dan Jambi International Poet Gathering (Jambi, Desember 2012).

LAJUR-LAJUR KESEPIAN, Puisi-puisi FAJRUS SHIDDIQ

Ilustrasi (Anja A)

LAJUR-LAJUR KESEPIAN

Diantara lajur-lajur sepi aku laju sendiri
Berteman angin sangu cemas
Langkah demi langkah napak teka-teki
Sementara wajah zaman terus berhias

Bahasa ambigu meluap-luap dinding kamar
Ratapi hari esok di awang samar
Saban hari sebagai apa aku pura-pura nyamar
Jadi pemain sandiwara setiap lembar

Hidup itu apa?
Hanya sekedar ingin tahu, bukan!
Dari zat dan nous disebut tuhan
Dari atom dan ruang hampa;
Kekal atau tidak, sufi tak pernah mengerti apa
Sebab selama kita ada
Kematian tak bersama
Ketika ia datang
Kita sudah tak lagi ada

Hidup itu apa, bukan?
Setiap dada lahir dari sepi
kembali pada sepi

2016

MANTAN VIII

Kau dan aku
Sebut saja itu berpura-pura
Akupun benar-benar merebutmu
Setelah kau dahulu merayu

Sebut saja itu tak sengaja
Akupun benar-benar larut
Setelah kau dahulu mencumbu

Kuanggap itu mimpi
Dimalam yang tak terlalu lama heningnya
Dan kaupun pergi
Menghilang dibalik duri-duri

HARAP MAKLUM

Tayangan virtual dua insan belia/ katanya sepasang kekasih, mendarat di grup message. Itu undangan mantenan.

”Ini undangan online,” kata seorang pelukis. buwuh online
”Santapan juga online?,” tanya profesor

/Selamat memasuki musim pengantin digital/

Anggota grup message terkekeh
Hahahahahaha…
Si calon manten itu hanya tersenyum – mengintip semua pesan dari balik layar ponselnya

Undangan macam ini lumrah hari ini
Jasa perancang uleman jadi laku. laris manis.
Ada yang bilang hemat kertas. biar pohonan rindang.
papyrus rimbun. tusam rampak.
/katak naong. burung teduh

Sambung kasih cukup ketik saja
Ini juga jadi di teluk lahirnya silah
Yang katanya benci bisa musnah oleh tasofah
Rukun bertetangga, tak perlu lagi berkuda. salam di udara

Tapi kawan kita sudah kebelet nikah!
Lagi pula repot pilih jas dan kebaya
Doakan saja sakinah mawaddah wa rahmah

Harap maklum.

Desember 2018

FAJRUS SHIDDIQ, Aktif berpuisi sejak nyantri di Ponpes Al-Amien Prenduan. Alumnus Pendidikan Bahasa Arab Universitas Negeri Malang (UM). Sekarang tinggal di Malang. Puisinya terbit di berbagai antologi bersama, koran dan media online. Kumpulan puisinya “COPET SIAL” akan segera diterbitkan. Saat ini menggeluti seni teater bersama Sanggar Seni & Budaya Al-Karomi UM (Teater Bahasa Arab).

Gerhana; Puisi-puisi Saiful Bahri

Gerhana

Semesta tercipta musim rindu tanpa rembulan
Jejak kaki ini –teriak lantang menyusuri jalan-jalan

Meringkus riang setenang bunga sajak terang
Menghindari remang sedalam gelora sabda karang

Ia sunyi, sepi tak bertepi. gerhana menular kenangan penuh khianat
Sinar merambat hitam pekat, tertututup pagar-pagar berkeringat penat

Aku ingin engkau disini, meniti angin sedingin kelam
Temani hasrat, temani mataku tenggelam lelap disudut malam.

Bungduwak, 2017

Akulah Laki-Laki Petualang

Tubuhku
Berlayar menyusuri lautan
Rinai melintasi hutan-hutan
Akulah laki-laki petualang
Susut pada tubir jalang itu
Menukik silau ambang bisu.

Akulah laki-laki petualang
Mengakar dilembah matamu,
Hinggap terbayang-bayang
Kuinjak-injak rumput ilalang
Kucabut, kutendang, lalu kubuang

Hanya serpihan ranum senyummu
Yang senantiasa melekat dalam ilusi
Hingga aku menulis bibirmu menjadi puisi

Sumenep, Agustus 2017.

Bulan Meraung Enggan Kusanjung

Wajah ranum mengajakku senyum ” ikut aku menikmati pameran-pameran kelabu”
Ia kedinginan –memikul kenangan –yang sirna ditelan malam penuh debu-debu rindu
Lampu-lampu berpijar, orang-orang rinai menaburkan kilau senyuman
Ya, di pameran itulah tempatku bercengkrama dengan bulan
Sejenak aku bertanya, memastikan apa yang ia iginkan
Kenapa tubuhmu? Kenapa engkau terhimpit malu dipundi-pundi pohon
Kuajak bulan berjalan. Takut tersesat” katanya.
Kuajak bulan bersemedi. “Takut kelaparan” jawabnya.
Mestinya, rembulan menemaniku beli baju dan kerudung
Pameran apaan ini? Sementara bulan meraung bingung enggan kusanjung

Gapura, 10 September 2017

Bising Rindu

Malam ini, cahaya remang bermandikan nada-nada syahdu.
malam ini pula –mulai kudengar rajutan suara bising rindu,
sehabis senja ditelan waktu. Apa engkau tidak tau ?

Aku tersaruk-saruk, berteriak-teriak, melompat-lompat,
mengintai nafasku terjerat erat ditubuh detak suara angin yang membisu.
menyaksikan alunan-alunan lagu seirama rindu didadaku.

Malam ini, mataku terasa perih menyaksikan alunan lagu rindu.
Sementara perihal waktu takkan syahdu, pun rindu takkan melaju
Jikalau dekap tanpa cumbu. Lalu kapan bait-bait rindu ada senyummu.

Mataku lindap menjilat semesta –menggais tanah penuh aroma
Hingga kutemukan bising rindu diterpa hujan tak bermakna.

Malam ini, jejak jarak merambat cepat, menuju pulau-pulau
tempat dimana burung-burung hidup riang bergandengan tangan.
Sesaat aku ingin seperti burung, terbang melintasi gunung tanpa kabung.

:Kerinduan akan tumbuh kedamaian, berbunga mekar dilamar suara keindahan.
Tunggu waktu yang menentukan, hinggap pada kerlap-kerlip cahaya pelaminan.

Bungduwak, 2017

Nasionalisme

Sunrise kali ini tercipta musim hujan yang ‘kan merayuku disudut waktu
Sungai-sungai tersanjung hiruk-pikuk sejuk, tetap saja mengalir tiada semu
Ia sajakku yang menjejak cerita penuh cinta –melekat erat ditubuh garuda; hingga menyusut meliut-liut direlung sukma dalam jiwa.

Sunsite tiba-tiba memelukku, menciumku dalam kecupan bisu.
Sesaat beranjak hilang, hinggap di pohon-pohon telanjang petang,
Aku sangat cinta Indonesia raya semesta raga, tempatku menulis puisi-puisi jiwa
Menukik senja, meringkus kawah pada kilauan Bhenika Tunggal Ika
Oh Pancasila, aku cinta ladang-ladang luas, seluas tanah Indonesia raya.

Seperti kulihat panorama-panorama, sampai kiamatpun jiwa ini takkan ada cinta dusta,
antara aku dan Indonesia… antara aku dan Indonesia… antara aku dan Indonesia, kucinta Indonesia.

Sumenep, 2017

Elegi Embun di Ubun Pagi

Lingsir waktu masih sanggup mengalirkan sejuta sukma kilauan embun, yang senantiasa hinggap dan tertimbun diubun-ubun.
Kudengar rinai burung-burung bernyanyi –pertanda suasana t’lah terurai irama pagi. Kerap menyerap pada jalan-jalan sawah, merubah remang pada gigil-gigil basah.
:Aku pasrah melawan sisa-sisa kecewa; tanpa berurusan dengan rasa sesadis cinta

Sumenep, 2017


*SAIFUL BAHRI, Penulis Lahir di Sumenep-Madura, Pada Tanggal O5 Februari 1995. Selain menulis, ia juga seorang aktivis di kajian sastra, dan “Teater Kosong Bungduwak”, Perkumpulan dispensasi Gat’s (Gapura Timur Solidarity), Fok@da (Forum komunikasi alumni Al-Huda), sekaligus perkumpulan (Pemuda Purnama). Disela-sela kesibukannya ia belajar menulis Puisi, Cerpen, Essai, Opini, dll. Puisinya antara lain dimuat di Riau Pos (2017), Bangka Pos (2017), Palembang Ekspres (2017), Radar Madura (2017), Radar Surabaya (2017). Radar Jember (2017), Radar Banyuwangi (2017), Radar Bojonegoro 2017 Kedaulatan Rakyat (2017), dan Solo Pos (2017)