30 November 2022
30 November 2022
25.2 C
Malang
ad space

Di Tengah Covid, Pesantren Menjaga Budaya Belajar (bagian 3 Tamat)

Anwar Hudijono. (istimewa)

Oleh: Anwar Hudijono

Warga pesantren sudah mafhum betul, setiap menghadapi ujian itu yang jadi pegangan pokok adalah Al Quran dan Hadits. Di antaranya di Quran Surah Al Baqarah 152 – 157. Ujian itu bisa berupa ketakutan, kelaparan, kekurangan harta atau miskin, jiwa (sakit, mati), dan buah-buahan atau pangan.

Dimulai dengan rasa syukur dan jangan ingkar kepada Allah. Fadzkuruni adzkurkum wasykuri wala takfurun. Maka ingatlah kepada Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku. (Ayat 152).

Bersikap sabar dan melakukan shalat. Yakin Allah bersama orang yang sabar. Ending dari sabar dan shalat itu akan mendapat ampunan dan rahmat dari Allah. Dengan begitu termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.

Penyelenggaraan pendidikan di pesantren itu memiliki paradigma, asas atau khittah yang sangat kokoh yaitu sebagai pengamalan jihad fi sabilillah. Menjalankan perintah Allah untuk menyiapkan generasi beriman dan berilmu. Cerdas. Ulul albab. Ilmu yang dikembangkan adalah ilmu yang barokah. Hanya orang berilmu yang bisa memahami ayat-ayat Allah. Maka paketnya adalah iman-ilmu-amal sholeh.

Antitesisnya adalah setan yang suka kebodohan. Membikin manusia bodoh. Agar mudah ditipu. Dijerumuskan ke neraka jahanam.

Setan juga akan menutup orang berilmu dari iman sehingga ilmunya membawa kerusakan. Contohnya Qorun, orang cerdas. Dengan kecerdasannya menjadi kaya. Akhirnya termasuk golongan mufsidin (berbuat kerusakan di bumi).

Sistem pembelajaran pesantren sudah memiliki pedoman, khasanah sendiri dan teruji beradab-abad. Di antaranya tak bisa diganti dengan model pembelajaran virtual. Pendidikan pesantren sangat mengutamakan pembentukan sikap. Karakter. Ahlak. Sampai-sampai kitab Ta’lim al Muta’alim sebagai referensinya diajarkan sekitar dua tahun.

Pembentukan sikap tidak bisa dilakukan secara virtual. Melainkan harus dalam praktek kehidupan sehari-hari. Melalui pembiasaan. Seperti pembiasaan shalat jamaah, shalat tahajud, baca Quran, silaturahmi. Kedekatan personal santri dengan kiai. Jalinan hubungan batin yang intens. Sanftri magang kepada kiai. Santri yunior magang kepada santri senior. Dibingkai dalam jamaah. Tidak ada Islam tanpa jamaah. Tidak ada jamaah tanpa baiat (kesetiaan).

Maka proses pembelajaran di pesantren berlangsung 24 jam. Di situlah letak perannya sebagai penjaga dan pengembang budaya belajar.

Hidup normal

Praktis pesantren sudah kembali berpikiran sehat. Hidup normal. Dan ternyata thayib-thayib (baik-baik) saja. Pesantren tidak kiamat. Tidak jadi sumber bencana Covid-19.

Ingat, dulu setelah kasus Covid di Pesantren Temboro di awal Covid, disusul pesantren lain seperti Gontor, masyarakat pesantren diganyang, diharu-biru. Disalah-salahkan.

Tapi warga pesantren tetap sabar dan tenang-tenang saja. Ikhlas menerima. Dicaci maki, dipersekusi itu sudah konsekuensi ketika mencintai Allah. (Quran, Al Maidah 54).

Kalau ada yang terinfeksi Covid-19 ya diobati seperti halnya penyakit lain. Karena memang begitu petunjuk Islam. Sakit ya diobati. Diobati itu endingnya ada dua, sembuh atau mati. Gak ada yang luar biasa. Tidak ada kamus ending Covid-19 mesti mati. Tidak ada catatan ending bahwa batuk pilek encok wazir mesti berakhir sembuh.

Jika ada yang mati karena Covid-19 tetap dipandang peristiwa biasa. Diterima dengan ikhlas. Sudah takdir Allah. Pembaca Ratib Hadad pasti mafhum akan menerima takdir Allah yang baik maupun yang buruk.

Tidak kena Covid pun orang pasti mati. Orang tidur di kasur empuk di rumah saja juga bisa mati. Makan kerupuk keleleken toplesnya juga bisa mati. Ketiban paku juga bisa mati karena pakunya katutan beton cor. Orang pesantren mafhum sekali bahwa mati itu, baik waktu dan tempat, sudah menjadi takdir Allah.

Tidak peduli dengan narasi kasus Covid yang didramatisasi seperti film horor. Super mengerikan. Bahwa penderita Covid akan dikarantina di rumah sakit sendiri. Sejak berangkat dari rumah bisa tidak akan melihat keluarga lagi selamanya. Pemakamannya di tempat khusus. Dilakukan secara khusus dan penuh mistis.

Narasi atau framing seperti itu akan ditanggapi dengan santai, bahwa orang mau mati juga gak pernah mikir ada keluarga apa tidak. Merasakan sakaratul maut saja sudah luar biasa sakitnya, boro-boro mikir keluarga, apalagi mikir partai dan duit. Orang mati itu pasti sendirian. Anak istri/suami juga gak mau mengikuti.

Orang yang sudah mati juga gak ngurus apa dimakamkan di pemakaman umum atau di pemakaman khusus Covid-19. Memang kalau di pemakaman khusus pertanyaan kuburnya berbeda? Siksa kuburnya didiskon?

Kesabaran mereka itu seperti lautan. Diprovokasi, dijejali hoax, dipropaganda, didisinformasi tetap tak berubah.

Otoritas

Langkah pesantren ini, insya Allah sudah mengilhami banyak penyelenggara sekolah. Mereka semakin berakal sehat menyikapi Covid. Mempertanyakan yang disiplin prokes seperti Doni Monardo, Anies Baswedan, Khofifah juga kena Covid. Yang di pasar sehari-hari nyaris tanpa prokes tidak apa-apa. Yang sudah vaksin bisa terinfeksi. Terus apa?

Kok seperti gak pernah ada berita mall, café, sarana dugem jadi sarang Covid. Kalau ada sekolah atau pesantren yang kena, dunia maya seperti mau runtuh. Orang yang tidak percaya Covid terinfeksi jadi berita dahsyat. Orang yang percaya Covid dan terinfeksi senyap dari pemberitaan.

Diam-diam sudah banyak sekolah melakukan tatap muka. Wisuda sekolah pun dilakukan sembunyi-sembunyi. Ada yang pakai sistem drive thru. Sudah membuat festival. Dan itu bagus. Dan aman-aman saja.

Para guru sangat mafhum bahwa pendidikan tidak identik dengan sekolah. Sekolah tidak identik dengan kelas. Kelas tidak identik dengan sepetak ruang dengan papan tulis dan meja-kursi. Belajar biasa di mana saja. Jadwal bisa diatur. Di situlah mereka berkreasi untuk keluar dari ancaman matinya budaya belajar.

Penyelenggara sekolah, kepala sekolah para guru sebenarnya sudah mampu melepaskan diri dari cenkeraman Covid-19. Tapi masih ada yang mencekeram mereka yaitu pihak otoritas. Bisa itu yayasan, organisasi yang menaungi. Juga otoritas lain. Nah, siapa otoritas lain itu? Di sini saya juga bertakon-takon.

Konon sebenarnya sudah banyak yayasan dan organisasi yang sudah lepas dari cengkeraman paranoid pandemi Covid-19. Tapi mereka masih bersikap hati-hati dan bijaksana. Khususnya kalangan muslim. Sebab bisa muncul fitnah yang tak kalah dahsyat bahwa umat Islam itu melawan pemerintah. Tidak mau taat. Nah, akan menciptakan pandemi fobia Islam. Bisa menjadi pemantik dahsyat kerusakan sosial, bahkan negara.

Di banyak belahan dunia, kini dunia pendidikan banyak berharap kearifan otoritas. Sayangnya, kadang pendidikan itu justru berada di bawah orotitas subyek yang tidak paham pendidikan. Lebih peduli urusan uang dibanding sumber daya manusia. Yang paling tragis itu jika otoritas lebih percaya bahkan menghamba kepada artificial intelligent (AI) dibanding kemanusiaan.

Dan siapakah operator terbesar artificial intelligent global ini? Jangan tanya saya. Karena paling-paling akan saya jawab, “Embuuuh hahahaa.”

Teliti dulu

Di akhir tulisan ini, saya mohon pembaca tidak begitu saja setuju, like dan share tulisan ini. Hati-hati. Teliti dulu. Apalagi ini tulisan orang yang sangat awam.

Ini era disinformasi. Di ranah publik sudah tidak jelas mana hoax dan mana yang benar. Mana info palsu dan mana yang ori. Campur baur tidak keruan. Orang-orangnya pun juga tidak jelas mana yang fasik mana yang baik.

Kita harus belajar cerdas dan bijaksana menyikapi setiap informasi. Untuk itu, ikutilah petunjuk Allah dalam Quran surah Al Hujurat 6: “Wahai orang yang beriman jika orang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan) yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu”.

Astaghfirullahal adhim.

Rabbana atina min ladunka rahmah wa hayyiklana min amrina rosada. Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.” (Quran, Kahfi 10).

Rabbi a’lam (Tuhan lebih tahu).

Anwar Hudijono,
penulis tinggal di Sidoarjo.

Di Tengah Covid, Pesantren Menjaga Budaya Belajar (bagian 1)

Anwar Hudijono. (istimewa)

Oleh: Anwar Hudijono

Belum lama ini saya ngobrol dengan seorang pakar pendidikan. Dia adalah guru besar. Sangat mumpuni teori. Juga sudah terbukti menjadi penyelenggara pendidikan yang hebat. Saya tidak bisa sebut namanya karena memang diskusinya bersifat informal.

Dan saya juga harus menjaga ketenangannya. Karena saat ini tidak mudah menjadi orang yang bersikap benar. Berkata benar. Bertindak benar. Orang yang menyampaikan kebenaran justru akan dibuli, dicaci maki, dianggap bodoh, dibilang ngawur, asal njeplak, diposisikan yang salah.

Yang menuduh demikian yang sebenarnya justru bodoh, ngawur, asal mengo. Ini jaman sawo dipangan uler, wong bodo ngaku pinter. (Nah, jangan-jangan saya termasuk sawo dipangan uler, bahkan sawo bosok maneh). Jaman kewalik.

Saripatinya, dia melihat di tengah pandemi Covid-19 ini, pondok pesantren, sekolah Islam berasrama atau Islamic Boarding School (IBS), dan lembaga-lembaga pendidikan yang tetap melakukan proses belajar secara tatap muka sangat berhak disebut sebagai pejuang penjaga budaya belajar. Orang-orang yang berjuang untuk menyelamatkan budaya belajar.

Dampak negatif Covid-19 memang luar biasa. Salah satunya adalah terancamnya budaya belajar. Para pemangku kepentingan pendidikan mulai pelajar, guru, penyelenggara dan sebagainya kemungkinan bisa kehilangan gairah dan arah pendidikan.

Mulanya takut terinfeksi Covid-19. Terus bingung mau bagaimana. Terus bersikap biasa: ya sudah mau apa toh masih ada Covid. Dan akhirnya normal tanpa kegiatan belajar membelajarkan. Atau belajar tapi sekadar memenuhi syarat wajib. Sekadar topeng kalau proses belajar membelajarkan masih ada.

Lama-lama malah menjadi enjoy. Menikmati. Para pelajar enak karena tidak repot-repot bangun pagi, berangkat sekolah. Orang tua juga tidak repot menyediakan sangu, atau antar-jemput anaknya. Para guru juga enjoy karena tidak repot menyiapkan model satuan belajar (MSP). Tidak pusing menghadapi murid yang bermacam-macam tingkahnya. Tidak repot harus di sekolah sekian jam sehingga bisa lebih mengurus anak. Penyelenggara sekolah juga enjoy karena ada dana yang bisa dihemat.

Kegiatan proses belajar tatap muka nyaris lumpuh. Jika toh dicoba dipaksakan, ada suasana kebatinan yang mengganjal seperti ketakutan ada yang OTG (orang tanpa gejala). Jika ada yang sekadar batuk meski cuma karena tersedak, atau sambat agak pusing, langsung dicurigai kena Covid-19. Lantas wajib swab antigen. Jika masih negatif harus PCR. Berapa duit harus keluar?

Dalam suasana psikologis berbau paranoid demikian, tidak mendukung sama sekali proses pembelajaran bisa efektif. Para guru sangat mafhum, proses belajar harus berlangsung dalam suasana bahagia. Gembira. Semangat. Saling percaya.

Pembodohan

Dalam sistem belajar virtual nyaris tidak dimungkinkan mencakup afektif (sikap), psikomotoris (ketrampilan). Hanya mencakup kognitif (pengetahuan). Tapi itupun sama sekali tidak efektif. Seorang kepala SMA di Sidoarjo dalam suatu wisuda mengakui dengan jujur, proses belajar secara virtual ini tidak efektif.

Banyak aspek teknis yang membuat sistem virtual tidak efektif. Tidak sedikit murid yang tidak punya laptop. Kalau punya pun belum tentu bisa untuk zoom. Kendala internet lemot. Kendala listrik mati. Waktu belajar yang sangat pendek.

Akhirnya apa? Pelajar malah larut dalam konten-konten kepalsuan medsos. Bantuan pulsa bukan untuk belajar, tapi untuk tiktokan, medsosan, ngegame.

Kendala-kendala teknis ini lantas ditolerir dengan tetap memberi nilai rapor minimal sesuai standar KKM. Murid tetap diluluskan. Intinya, proses penilaian tidak memenuhi asas validitas, jujur dan obyektif. Belum lagi nilai asal-asalan bahkan abal-abalan yang menyangkut sikap dan ketrampilan.

Lantas apa yang terjadi? Lembaga pendidikan berpotensi bisa menjadi pusat persemaian kebohongan.

Apa lagi? Lembaga pendidikan berpotensi jadi pengembang-biakan kebodohan. Ini ironis.

Lantas apa lagi? Lembaga pendidikan berpotensi jadi lahan subur kemalasan.

Astaghfirullahal adhim.
Rabbi a’lam (Tuhan lebih tahu).

Anwar Hudijono,
penulis tinggal di Sidoarjo.

Mimpi Sang Penakluk

Yunan Syaifullah

Oleh: Yunan Syaifullah

Burak Yilmaz, kapten Turki, seolah menjelma dan membayangkan dirinya adalah sosok Muhammad Al Fatih, Pangeran Muda Turki yang dikenal dengan Sang Penakluk dalam sejarah Otsmania klasik takkala memasuki Stadion Olympico Roma untuk menghadapi Italia dalam laga perdana Euro 2021.
Sang kapten, meski tak lagi muda, usianya sudah 35 tahun, laga dengan Italia dimaknai sebagai laga hidup mati. Bukan masalah kemenangan yang tertanam dalam pikirannya. Namun laga itu sudah dianggap sebagai laga harga diri sebagai bangsa Turki.

Sultan Mehmed II, nama aslinya Muhammad Al Fatih, Pangeran Muda Turki yang memimpin dan menaklukan Konstantinopel kala itu berada pada usia 25 tahun.

Takluknya Konstantinopel dan Sang Penakluk telah menjadi cerita suksses bagi bangsa Turki yang telah menjiwai seluruh rakyat Turki di kemudian hari. Termasuk bagi pesepak bola Turki dan Tim Nasional Turki.

Sang Penakluk memberikan pelajaran berarti tentang cita-cita dan kedaulatan. Keduanya bagi Sultan Mehmet II adalah harga diri. Jatuhnya Konstantimopel adalah jatuhnya hegemoni —dari sesuatu yang besar secara ekonomi dan politik. Begitu Konstantinopel jatuh, tak lama lagi terlahir negeri Otsmania, kelak kita kenal sebagai Turki, sebagai sinar baru bagi masyarakat Otsmania dalam berbangsa dan bernegara.

Praktek hegemoni bangsa Romawi — mewakili bangsa yang besar secara ekonomi politik terhadap bangsa dan Negara kecil menjadi api kebencian dan amarah Sultan Mehmet II untuk diperangi.
Turki seolah diposisikan sebagai bangsa dan Negara kecil, yang layak menjadi korban eksploitasi bangsa besar.

Sejarah Sang Penakluk, kemudian hari yang menjadi api semangat bagi bangsa Turki untuk membuat sejarah peradaban dunia.

Semangat dan cita-cita itulah yang tertanam dan ditunjukkan Tim nasional Turki.

Dalam percaturan sepak bola dunia, Turki bukan menjadi halaman sejarah dunia yang ditengok. Sepak Bola Turki dianggap negara kecil yang tidak memiliki kekuatan dan daya saing dalam soal sepak bola.

Industri sepak bola dimiliki negara-negara pewaris Konstantinopel hingga saat ini.
Realitas yang selalu tidak berpihak kepada Sepak Bola Turki. Kondisi hal itu bukan malah mematikan dan menyurutkan Sepak Bola Turki. Senantiasa diposisikan yang lemah (underdog) dalam kurun waktu lama. Dunia terkaget dan harus mengakui kehebatan Turki takkala Piala Dunia 2002 yang mampu menempati posisi ketiga.

Semenjak 2002, Turki tidak lagi diremehkan dalam perhelatan sepak bola dunia. Negara manapun ketika berjumpanya harus berpikir serius.
Bagi pesepak bola Turki, pertandingan dengan siapapun senantiasa dimaknai sebagai pertarungan harga diri sebagai bangsa. Dirinya bermain sepak bola bukan untuk kepentingan pribadinya. Namun dirinya adalah cermin bangsa. Sebuah bangsa yang terbangun karena harga diri.

Karena itu, Burak Yilmaz, sang kapten Turki meski telah berusia 35 tahun rela memberikan segalanya yang terbaik untuk negaranya. Demi harga diri bangsa.

Cita-cita, harga diri dan Semangat Sang Penakluk berkumpul menjadi satu sebagai mimpi kolektif untuk mengulangi cerita sukses Piala Dunia 2002. Kendati Pasukan Tim Nasional Turki 2021 yang diturunkan adalah sebagian besar sudah melewati usia emas.

Sepak bola sesungguhnya tidak berdiri tunggal dengan masalah dan aspek sosial lainnya. Karena itu, mimpi dan semangat Burak Yilmaz dalam laga tersebut menarik dipelajari. Sepak bola bukan masalah lapangan hijau.
Lapangan hijau ternyata bisa dan mampu melahirkan benih nasionalisme.
Parade nasionalisme di lapangan hijau menjadi perhatian dan perbincangan menarik dari banyak kalangan. Tidak hanya penonton dan penikmat bola. Terlebih, secara masif, pekikan nasionalisme itu ditayangkan secara live dan terus menerus. Tidak hanya, siaran langsung pertandingan bola di salah satu stasiun televisi. Tetapi juga masuk dalam postingan yang tertib dan teratur di media sosial, seperti Instagram dan Facebook.

Pekikan nasionalisme yang diproduksi secara terus menerus di berbagai kanal televisi dan media sosial, secara tidak langsung mempengaruhi persepsi dan memori para insan bola untuk dipaksa memperbincangkan. Baik itu dengan nalar kritisnya maupun skeptis.

Realita hal itu menjadi wajar dan logis. Apabila dikaitkan dengan data statistik pengguna Instagram dunia pada periode 2018 telah menyentuh angka 800 juta orang. Peringkat tertinggi, di Amerika Serikat yakni 110 juta pengguna. Nomor dua tertinggi adalah Brazil sebesar 57 juta pengguna. Menariknya, peringkat ketiga justru diraih dan ditempati Indonesia, yakni sebesar 55 juta pengguna. (databoks.katadata.co.id, 2019)

Media sosial adalah ruang yang bisa dan mampu untuk mendekatkan yang jauh menjadi lebih dekat. Intensitas komunikasi dan distribusi informasi makin dipermudah dan tinggi.

Tidak sedikit dari total populasi pengguna Instagram, kasus di Indonesia, bukan hanya pengguna perorangan tetapi juga korporasi. Termasuk para penonton bola, pemain bola, para insan bola dan korporasi yang berhubungan langsung dan tidak langsung dari lapangan hijau.
Pekikan nasionalisme dari lapangan hijau dalam waktu singkat dan cepat menjadi perbincangan menarik pecinta bola.

Menariknya, pekikan nasionalisme dari lapangan hijau yang kini sedang berlangsung dalam Euro 2021 itu telah mengarah dan menyembul menjadi heroisme baru untuk menggugurkan trauma dan kebencian yang diarahkan kedalam lapangan hijau.
Sepak bola, harus diakui, telah menjadi kecintaan bagi banyak kalangan. Sepak bola bahkan telah dan mampu menjelma menjadi ideologi untuk kemanusiaan.

Di sisi lain, sepak bola, juga mampu melahirkan kegilaan. Praktek kegilaan itulah yang menghasilkan konflik kepentingan yang tidak berujung. Kepentingan yang tidak mampu dipenuhi bisa jadi menimbulkan kebencian yang tidak pernah selesai.

Meski, hari ini, kegilaan dan konflik kepentingan dalam lapangan hijau jauh berkurang karena adanya globalisasi ekonomi yang telah menyentuh lapangan hijau.

Tehnologi yang dibawa serta globalisasi ekonomi kini mengubah wajah sepak bola. Seluruh pihak bisa mengkritisi dan mengamati dengan lebih rinci dan detail segala sesuatu yang berhubungan dengan sepak bola.

Migrasi pemain sepak bola dari negara kecil dan terbelakang menuju ke negara yang menjadi raksasa bola, makin mudah dan tinggi tingkatnya. Bahkan menjadi idola baru di lapangan hijau di negara tujuan. Seperti George Weah dan masih banyak lainnya.

Sepak bola membuat setiap orang mudah merasa antusias. Kompetisi sepak bola adalah tempat untuk bermimpi indahnya bagi seluruh komponen bola. Mulai dari pemain, penonton, wasit hingga korporasi.

Akan tetapi, yang perlu dipahami dalam memahami mimpi itu adalah terjadinya pertautan kultural yang tidak mudah. Meski bila berhasil menggabungkan pertautan kultural itu bisa menjadi kekuatan luar biasa.

Seorang João Ramos do Nascimento, yang dijuluki Dondinho, adalah pesepakbola Brasil yang bermain sebagai penyerang tengah. Dia adalah ayah, mentor dan pelatih dari legenda Brazil, Pelé pernah berujar pada sang Anak, mimpi pesepak bola bisa jatuh bila dalam diri pesepak bola tidak memiliki keyakinan dan semangat untuk maju dalam merebut mimpi.

Cerita ini bisa kita peroleh dalam film biopic yang berjudul Pele: Birth of a Legend (2016)

Pojok Pustaka, 12/06/2021

Yunan Syaifullah
Penikmat Bola, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang

Politik Moral Ustad Aburrahim Nur

Anwar Hudijono

Oleh: Anwar Hudijono

Gawat! Proses kelahiran Partai Amanat Nasional (PAN) Jawa Timur ibarat bayi mengalami blooding. Pendarahan. Risikonya bayi lahir cacat. Minimal mengidap penyakit bawaan yang bisa membuat pertumbuhan bayi enggrik-enggriken. Sakit-sakitan.

Penyebab utamanya, mereka yang menangangi proses kelahiran itu bertengkar sendiri. Mereka orang-orang terbaik. Tetapi ternyata untuk mengkompromikan orang-orang terbaik itu tidak mudah. Ibarat mencampur tembakau enak dengan soto enak. Hasilnya malah tidak enak.
Maka haruslah dicari tokoh yang bisa menyelamatkan kelahiran PAN Jatim. Persyaratannya banyak. Memiliki power yang disegani para pihak yang bertikai. Yang mampu meredam konflik yang sudah meledak. Bisa merangkul semua pihak, termasuk yang bertikai, untuk saiyek saekoproyo (bekerja bersama-sama) membesarkan PAN. Harus memiliki massa yang besar karena partai itu intinya adalah jumlah pendukung.

Ternyata untuk menemukan figur demikian sangat sulit ibarat mencari sebatang pohon ciplukan di antara rerimbunan padang perdu. Sampai beberapa lama tidak ditemukan. Sementara waktu semakin dekat dengan pemilu 1999. Padahal sebagai partai baru, PAN jelas membutuhkan persiapan yang panjang.

Akhirnya figur yang dicari-cari itu ketemu. Dialah Ustad Abdurrahim Nur. Konon menurut sahibul kabar, yang menemukan Ketua Umum DPP PAN Amien Rais sendiri. Amien pula yang meminang.
Kalau saja bukan Amien yang meminang, perkiraan saya, Ustad Rahim langsung menolak. Partai politik itu bukan makomnya. Bukan tempatnya. Dia sudah niat mewakafkan jiwa-raganya untuk Muhammadiyah. Saat itu menjadi Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur. Totalitas berkhidmat sebagai dosen di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya. Mengasuh Yayasan Nurul Azhar Porong, Sidoarjo yang mengelola masjid, Panti Asuhan Yatim Piatu Nurul Azhar. Menjaga umat dengan mengasuh pengajian Fajar Sodiq.

Masalahnya, yang meminta Amien Rais. Hubungannya dengan Amien selama ini sangat baik. Bukan sekadar hubungan struktural Amien sebagai Ketua PP Muhammadiyah sedang Ustad Rahim sebagai Ketua PWM Jatim, tetapi hubungan itu sampai tingkat personal. Hal ini membuat ewuh pakewuh. Dilematis. Oleh karena itu, cukup lama waktu yang dibutuhkan untuk memutuskan pinangan Amien tersebut.

Bukan politisi
Ustad Rahim bukan politisi. Tidak pernah terjun di dunia politik praktis. Tetapi cukup memahami seluk beluk perkembangan politik. Salah satu jalur untuk mengikuti perkembangan politik adalah putranya, Muhammad Mirdasy, seorang politisi tulen. Ibarat emas gitu benar-benar 24 karat. Bukan hanya 18 karat, apalagi emas sepuhan. Mirdasy pernah jadi anggota DPRD Jawa Timur dari PPP.

Ustad Rahim itu memandang politik itu dalam kaidah assyiasatu min furuin syar’i (politik itu cabangnya syariah). Dengan demikian cara ia memandang sangat normatif. Politik dalam konteks baik dan buruk, manfaat dan madlarat, pantas dan tidak pantas, boleh dan tidak boleh, halal dan haram. Tidak ada yang sama-samar atau subhat. Karena subhat itu wilayah yang dibawa Dajjal. Bergerak di bidang politik itu bagian dari dakwah amar ma’ruf nahi mungkar.

Sementara politik kepartaian itu memiliki ukuran-ukuran lain. Memandang politik itu dalam konteks menang dan kalah, untung-rugi, mendapat atau menyetor. Berkiprah di politik kepartaian itu sering kali layaknya berjudi. Bisa pulang sebagai pahlawan dengan membawa pampasan. Bisa pulang ngeslong alias kalah habis-habisan. Malah bisa-bisa tidak berani pulang. Tidur di pasar bantalan gubis.

Politik kepataian itu banyak wilayah subhatnya. Seolah semua dikemas dalam jargon pengabdian. Entah pengabdian kepada partai, rakyat, bangsa dan negara. Tetapi konten sebenarnya untuk mendapat kekuasaan, uang, popularitas, puji-pujian, bahkan entit-entitan.

Intinya, politik kepartaian itu sering kali lekang dari norma-norma. Menghalalkan segala cara. Pagi teman, sore bisa jadi lawan. Berlaku kaidah, tidak ada teman sejati. Yang ada hanya kepentingan diri. Bisa saja penampilan bak malaikat, tetapi di dalam hatinya menyimpan setan. Bukan idealisme yang mengikat tetapi kepentingan praktis. Maka politik menjadi sangat transaksional. Politik menjadi arena petualangan. Politik menjadi pentas badut-badut, pecundang dan pemenang.

Apakah dirinya mampu mempertemukan politik normatif dengan trends politik kepartaian? Ini kabarnya juga menjadi salah satu faktor mengapa cukup lama tidak segera menjawab permohonan Amien Rais.

Trauma Masyumi
Kabar Ustad Rahim dipinang Amien Rais menyeruak santer di kalangan umat Muhammadiyah. Terjadilah polarisasi umat. Ada yang menolak, ada yang setuju, ada yang hati-hati.
Yang menolak pun dengan alasan sendiri-sendiri. Ada kelompok Muhammadiyah konservatif. Mereka masih trauma politik ketika Muhammadiyah bersinggungan dengan politik kepartaian. Yang ternyata hanya merugikan Muhammadiyah.

Contohnya, ketika Muhammadiyah menjadi anggota istimewa Masyumi, terjadilah eksodus besar-besaran dari warga Muhammadiyah yang bukan pendukung Masyumi. Yang paling banyak dari kalangan Partai Nasionalis Indonesia (PNI).
Pada jaman Orde Baru, Muhammadiyah terlibat dalam pendirian Partai Muslimin Indonesia (Parmusi). Ternyata tokoh-tokoh Muhammadiyah seperti Lukman Harun dan Djarnawi Hadikusumo disingkirkan secara menyakitkan. Muhammadiyah hanya dijadikan legitimasi oleh Orde Baru. Hanya dijadikan tumbal agar seolah di Indonesia ada demokrasi.

Kalangan partai juga juga yang menolak Ustad Rahim memimpin PAN Jatim karena khawatir warga Muhammadiyah yang menyebar di banyak partai akan berduyun-duyun mengikuti jejak Ustad Rahim. Dengan begitu partai akan kehilangan asetnya.
Ada juga kelompok yang menolak karena Ustad Rahim tidak memiliki pengalaman di partai politik. Padahal sebuah partai baru harus dipimpin orang yang pengalaman. Karena akan bersaing dengan partai-partai yang sudah mapan, dan partai-partai baru dipimpin orang-orang lama.

Yang bersikap mendukung umumnya karena Ustad Rahim diyakini bisa menjadi figur pemersatu kelompok-kelompok yang berkonflik. Ustad Rahim memiliki potensi menjadi vote getter, pendulang suara warga Muhammadiyah.

Ustad Aburrahim Nur. (Istimewa)

Reformasi
Pada akhirnya Ustad Rahim bersedia memimpin PAN Jatim. Saya tidak tahu persis apa yang mendorong dia bersedia. Hanya saya perkirakan karena sejalan dengan arus besar di tingkat Pimpinan Pusat Muhammadiyah, baik bersifat institusional maupun personal.

Arus pemikiran yang berkembang di PP bahwa Amien Rais ketika memimpin gerakan reformasi Indonesia tidak lepas dari posisinya sebagai Ketua PP Muhammadiyah. Dukungan Muhammadiyah terhadap reformasi Amien dalam kerangka high politics, politik moral, politik nilai. Untuk menegakkan keadilan. Untuk membawa Indonesia lebih baik dan lebih maju. Tanpa Muhammadiyah di belakangnya, power politik Amien Rais kecil.

Pada saat itu reformasi berada di persimpangan jalan. Pertama, bisa atret, kembali ke masa Orde Baru. Karena sebenarnya kekuatan Orde Baru masih digdaya. Kekuatan lama sudah terlalu menikmati hasil korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang menjadi watak Orde Baru. Mereka tidak ingin kehilangan kenikmatan. Ibaratnya tidak mau melepeh permen yang sudah dikulum.

Kedua, banyaknya begal politik. Artinya, banyak kekuatan yang ingin membegal reformasi untuk dipergunakan menjalankan agendanya sendiri. Mereka menyelinap seolah-olah reformis. Padahal mereka justru akan membunuh ruh reformasi. Jika reformasi ibarat bus umum, mereka menjadi penumpang tapi diam-diam secara julig dan pengecut ingin merebut kemudi bus untuk dibawa ke tujuannya sendiri.

Kekuatan Orde Baru dan para begal politik ini sangat mungkin untuk berkolaborasi. Karena sebenarnya, mereka sama-sama tidak ingin agenda reformasi itu berjalan sukses. Jika reformasi lancar jaya, mereka sama-sama akan tergilas.
Boleh dibilang yang paham betul ruh reformasi itu ya Amien Rais. Tapi kini posisi Amien Rais benar-benar kinepung wakul binoyo mangap, dikepung ancaman yang sangat membahayakan. Bukan hanya dari kekuatan lama dan begal politik, kekuatan politik internasional juga tidak mendukungnya karena mencurigai Amien akan membesarkan Islam. Sementara dunia sudah dikendalikan kekuatan fobia Islam.

Maka kalau Muhammadiyah sampai membiarkan Amien, sama saja dengan dzalim. Membiarkan kader terbaiknya di tepi pantai sementara ancaman di laut berupa tsunami sudah mengincar. Dari darat ada macan dan serigala siap menerkam. Dari tepian pantai ada buaya-buaya yang ganas siap mencabik-cabik.

Secara cerdas, dukungan itu direaliasi dalam bentuk dukungan dari para pemimpin Muhammadiyah yang bersifat personal. Institusi Muhammadiyah mendukung secara informal. Sementara Muhammadiyah secara formal institusional tetap menjaga jarak dengan partai politik. Politik Muhammadiyah tetap high politics. Bukan low politics. Bukan politik praktis. Bukan politik kepartaian.

Saya kira, sekali lagi, landasan paling kuat Ustad Rahim bersedia memimpin PAN Jatim karena sikap takzimnya ke Muhammadiyah.

Kader Muhammadiyah
Ustad Rahim menjadikan kader-kader Muhammadiyah sebagai core PAN Jatim. Ia memilih Wahyudi menjadi sekretaris PAN Jatim. Wahyudi adalah sekretaris PWM. Banyak kader muda Muhammadiyah yang masuk di jajaran pengurus. Seperti Kuswiyanto, Suli Daim, Masfuk, Tamhid, Sugeng, Sulthon Amin, Suyoto. Saya yang di PWM berada di kepengurusan jajaran paling bawah alias hanya bolo dupak, didapuk menjadi Koordinator Humas PAN Jatim.

Core ini menjadi sokoguru penting. Ibarat rumah, jika tidak memiliki sokoguru yang kuat akan mudah goyang diterpa gempa, bahkan roboh. Untuk menunjukkan identitas PAN sebagai partai terbuka, demokratis, inklusif, Ustad Rahim banyak memasukkan figur-figur non-Muhammadiyah. Misalnya, KH Lukman Hakim yang berasal dari NU. Syaiful Anam asal HMI. Thimotius Kwanda, dosen Universitas Kristen Petra. Kaisar Victoria, budayawan dan penyiar radio. Susono, pengusaha. Banyak purnawirawan, pengusaha, intelektual.
Pada saat memimpin PAN Jatim, Ustad Rahim cenderung bersikap sangat hati-hati. Ibarat masuk di kolam yang dasarnya berlumpur, Ustad Rahim mau basah tapi tanpa kecipratan lumpur. Maklum politik itu batas antara bersih dan kotor itu nyaris tidak ada. Persis kolam airnya kelihatan bening tapi di dasarnya lumpur. Sedikit saja ada ombak atau gerakan, air dengan cepat berubah kotor.

Untuk itulah ia membatasi atau fokus pada dua peran pokok. Pertama, sebagai figur pemersatu. Kedua, sebagai penjaga moral politik.
Sebenarnya di tubuh kepengurusan DPW PAN yang heterogen, merupakan gabungan banyak unsur, juga rawan friksional. Rawan konflik. Apalagi mendekati pencalonan anggota legislatif, pergerakan politik berubah dari kolaborasi ke kompetisi. Dari kompetisi bergerser ke permusuhan.

Dengan sikapnya yang bijaksana, ngemong, Ustad Rahim bisa mengelola dengan baik potensi konflik dan friksi itu sehingga tidak sampai meledak menjadi perang terbuka. Pasca Ustad Rahim, kepengurusan PAN Jatim tak pernah sepi dirundung konflik. Malah pada Konferwil di Kediri terjadi kekerasan fisik.

Abu Hasan Al Asyari
Politik Ustad Rahim itu tipikal Abu Hasan Al Asyari, sahabat Nabi yang saleh dan terkenal pada Perjanjian Daumatul Jandal untuk menyelesaikan konfrontasi Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abu Sufyan. Mengedepankan moral politik. Dan risiko yang dialami Ustad Rahim boleh dibilang serupa dengan resiko yang dialami Abu Hasan Al Asyari yang juga dikenal sebagai ahli ilmu kalam. Di antaranya, ada kesalahan persepsi terhadap peran sejarahnya.
Untuk itulah Ustad Rahim, menurut kesan saya, sengaja membatasi diri dari lingkup strategi dan manuver politik. Ibarat dalam sebuah permainan, ketika para pemain sudah berlaga di lapangan, Ustad memilih melihat dari luar lapangan.
Langkah itu bisa jadi karena, ya itu tadi, tidak mau kecipratan lumpur. Dia menjaga betul eksistensi keulamaannya. Martabat pribadinya sebagai seorang ilmuwan. Posisinya sebagai pemimpin umat. Ustad selalu menggambarkan pribadi seorang pemimpin umat itu harus sidik (jujur), amanat (dapat dipercaya), tablih (dapat menyampaikan risalah Islam kepada umat), dan fatonah (cerdas).

Terkesan betul bahwa dia tidak ingin peran keulamaan dan pemimpin umat yang sudah ditekuni puluhan tahun ternoda oleh residu politik seperti susu sebelanga yang terpercik wenter.
Menurut saya, Ustad Rahim sangat sadar jika tidak terkontrol dengan baik, peran politiknya itu dapat ibarat hujan deras campur badai yang dapat memporak-porandakan ladang dengan tanaman yang subur.

Berdasar pengalaman saya, jika saya mau melakukan manuver politik, termasuk yang naka-nakal dikit, saya matur Ustad Rahim. Saya tidak berani melangkahinya. Karena saya termasuk santrinya di pengajian Fajar Sodik. Adab santri itu tawadluk ke kiainya. Saya anak buahnya di PWM Jatim. Di samping itu saya hormat atas kealiman dan keulamannya.

Kalau pengurus yang lain biasa saya langkahi. Saya tidak takut kuwalat karena saya yakin mereka itu tidak malati. Biasanya mereka mendukung saja atau diam saja. Tapi mungkin saja di belakang nggerundel, malah misuhi.

Biasanya Ustad Rahim mendengar rencana manuver politik humas yang saya sampaikan. Kemudian dia mengatakan, monggo dilaksanakan jika memang itu baik. Monggo diatur bagaimana baiknya.

Banyak ruginya
Kalau menggunakan kalkulasi politik yang lazim di kepartaian, keberadaan Ustad Rahim memimpin PAN Jatim itu tidak mendapat gains (keuntungan) apa-apa. Malah banyak ruginya. Kalau di dunia bisnis mengalami capital lost. Kobol-kobol.
Orang yang berkiprah menjadi pengurus partai politik itu kan kebanyakan ingin menjadi anggota legislatif. Masuk lembaga eksekutif. Mendapat keuntungan ekonomi. Mengantongi setoran kanan-kiri. Minimal menjadi makelar dalam politik transaksional. Minimal sekali mendapat entit-entitan dana partai.

Ustad tidak mendapat semua itu. Malah duit pribadinya keluar untuk sedekah partai (sering kalau pas rapat diedarkan kotak amal untuk partai).

Tidak ada kelurganya yang menjadi anggota legislatif. Bahkan ketika putranya, Muhammad Mirdasy diisukan hendak pindah dari PPP ke PAN, sudah geger. Banyak pengurus PAN Jatim ramai-ramai menolak. Sudah muncul tuduhan Ustad Rahim akan membangun kerajaan politik di PAN Jatim. Menyiapkan Mirdasy menjadi suksesornya.
Jelas Ustad Rahim rugi karena fitnah itu. Mirdasy juga rugi karena internal PPP meragukan loyalitasnya. Bahkan dicurigai akan mengerdilkan PPP. Membawa umat Muhammadiyah yang di PPP ke PAN.

Akhirnya kariernya di PPP wassalam alias tamat, padahal dia termasuk the rising star, kader muda yang digadang-gadang berkibar di PPP menggantikan seniornya seperti Ahadin Mintaroem. Sementara pintu PAN sudah tertutup untuk dia. Dia harus merangkak lagi mulai nol dengan masuk Partai Hanura, kemudian ke Perindo.

Kasus itu menunjukkan meski Ustad Rahim sudah sangat hati-hati ternyata tetap saja kecipratan lumpur. Terkena residu. Membuat eksistensinya di Muhammadiyah boleh dibilang stagnan. Terlihat dari pemilihan pimpinan PWM Jatim, dia tidak lagi mendapa suara terbanyak. Akhirnya ketua PWM Jatim digantikan Syafiq Mughni yang mendapat dukungan suara lebih banyak.

Kerugian lainnya ketika terjadi aksi menolak pelengseran Presiden Gus Dur. Panti Asuhan Nurul Azhar yang dibina Ustad Rahim dirusak oleh massa pendukung Gus Dur di Jatim.

Ustad Rahim menganggap berkiprah di PAN sebagai bagian dari berkhidmat di Muhammadiyah cukup satu periode saja. Semua risiko yang sudah dialami, dia terima dengan ikhlas. Perjuangan selalu ada risikonya. Ia menolak dicalonkan lagi untuk menjadi ketua DPW PAN Jatim.

Ia sterilkan diri dari kegiatan kepartaian. Kembali ke maqomnya menjadi ulama. Ngemong dan mendidik umat. Merawat anak yatim. Ngopeni masjid. Peran ini yang dia wariskan kepada keluarga dan umat untuk dilestarikan, pada saat dia kembali ke rahmat Allah pada tanggal 29 Mei 2007.

Anwar Hudijono, Kolumnis tinggal di Sidoarjo
29 Mei 2021

Eiit.. Jangan Simpan Senjata Kita

Anwar Hudijono

Oleh: Anwar Hudijono

Hore.. kita menang. Pada tanggal 1 Syawal musuh sudah bertekuk lutut. Itulah hasil berperang habis-habisan selama sebulan full di bulan Ramadhan. Perang melawan hawa nafsu.

“Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad melawan dirinya sendiri dan hawa nafsunya”. (Hadits dari Ibnu An Najar).

Boleh-boleh saja gembira karena menang perang. Tapi awas jangan sampai mabuk kemenangan. Jangan lengah. Ingat, musuh sebatas knock down. Belum mati. Dia bisa bangkit kembali. Dan dia adalah musuh abadi manusia. Yaitu setan.

Tatkala seseorang berpuasa secara imanan wa ihtisaban (iman dan kesadaran mendapat ridha Allah) maka setan tidak akan mampu berbuat apa-apa terhadap orang yang puasa tersebut. Ibaratnya seluruh tangan dan kakinya terbelenggu.

Tapi ketika selesai puasa Ramadhan, maka pada saat yang bersamaan secara otomatis belenggu itu mengendor. Bahkan lepas sama sekali. Setan kembali bangkit. Dia akan menyerang kita dengan sejuta wajah. Sejuta strategi. Sejuta senjata. Sejuta taktik. Sejuta bala bantuan. Sejuta persekongkolan.

Setan pasti akan berdaya-upaya secara terus menerus, tanpa lelah dan bosan, menjebol tembok pertahanan kita. Yang kita bangun untuk mengendalikan hawa nafsu.

“Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sungguh, orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat karena mereka melupakan Hari Perhitungan”. (Quran 38:26).
Caranya? Setan akan terus membisikkan kejahatan. Memprovokasi kita. Menebar bujuk rayu. Meng-upload janji-janji yang menggiurkan.

“Dari kejahatan (bisikan) setan yang tersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. Dari (golongan) jin dan manusia”. (Quran 114: 4-6).

Totalitas cinta

Kemenangan kita adalah kembali ke fitrah, prinsip dasar penciptaan manusia. Setiap manusia berasal dari ruh Allah. Ruh yang ditiupkan oleh Allah. Saat masih menjadi ruh Allah itulah manusia sudah menyampaikan kesaksian bertauhid kepada Allah.

“Bukankah Aku ini Tuhanmu. Mereka menjawab, betul, kami bersaksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.”

Fitrah berarti manusia yang bertauhid. Hanya menjadikan Allah satu-satunya Rab. Satu-satunya Ilahi. Hanya Allah satu-satunya arah perjalanan. Allah tempat totalitas cinta.

Tahun lalu. Juga tahun-tahun sebelumnya. Guratan sejarah kita. Setiap 1 Syawal kita mencapai kemenangan sejati itu. Tapi kemudian setan berhasil melobangi tembok pertahanan kita. Makin lama makin besar.

Lantas sedikit demi sedikit wajah kita berpaling dari Allah. Berpaling kepada uang. Kekayaan. Kekuasaan. Jabatan. Popularitas. Puji-pujian. Anak istri. Kesenangan duniawi.

Tanpa kita sadari, mungkin, kita telah menjadi budak hawa nafsu kita. Tanpa merasa kita secara substansial telah berubah menjadi serigala yang melambangkan penindasan dan kekejaman.

Secara fisik kita manusia tetapi jiwa kita telah menjadi tikus yang melambangkan kelicikan.
Kita menjadi anjing yang melambangkan tipu daya.
Kita menjadi kambing atau domba yang melambangkan penghambaan. Menghamba terhadap sesama manusia.

Atau kita telah menjadi jazad, mesin, robot artificial intelligent yang memiliki kemampuan hebat tetapi tanpa hati.

“Dan sungguh akan Kami isi neraka jahanam banyak kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah). Dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakan melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah). Dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah. (Quran 7:179).

Di perbatasan

Nah, jangan lengah. Karena sebenarnya hidup di dunia ini hanya semacam berada di perbatasan. Sebelum melangkah kepada kehidupan yang sesungguhnya yaitu kehidupan abadi di akhirat.
Kunci saat berada di perbatasan adalah takwa.
“Wahai orang-orang beriman. Bersabarlah kamu. Dan kuatlah kesabaranmu. Dan tetaplah bersiap-siaga. Bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung”. (Quran 3: 200).

Mencapai fitrah berarti juga meneguhkan jati diri manusia tauhid. Sosok itu tercermin pada surah Al-Ihlas. Agar kita bisa mempertahankan, menjaga jati diri sebagai manusia tauhid, maka jangan tidak lupa selalu mohon perlindungan Allah. Karena manusia itu lemah. Manusia itu mudah lengah. Sementara setan akan terus berupaya menyesatkan kita.

Disimbolisasi dengan setelah surah Al-Ihlas (112), disusul dengan Surah Al-Falaq (113) dan Surah An-Nas (114).

Jangan lengah sekejap pun. Selalu siagakan seluruh senjata kita. Shalat itu senjata. Sodaqoh itu senjata. Zakat itu juga senjata. Puasa sunah itu juga senjata dahsyat. Shalat jamaah itu juga senjata. Baca Quran itu itu juga senjata. Mengikuti sunah rasulullah itu senjata. Membina silaturahmi itu juga senjata.

Menghormati tamu dan tetangga itu juga senjata. Menutup aurat itusenjata. Menjauhi hal yang subhat (tidak jelas) juga senjata. Berbauat baik untuk manusia lain itu senjata. Kumpul dengan orang saleh itu juga senjata. Berjihad di jalan Allah juga senjata. Dan lain-lain.

Siagakan semuanya. Pastikan semuanya di kuasa kita. Jangan ada satu pun yang disembunyikan, apalagi dibuang.

Janganlah kita mengulang guratan sejarah kita. Bersyukur, selama ini kita bisa bertemu Ramadhan sehingga ada waktu melakukan perbaikan total. Masalahnya, bagaimana jika tidak lagi ketemu Ramadhan?

Allahumma ya muqallibal qulub. Tsabbit qulubana ala dinik. (Ya Allah yang membolak-balikkan hati manusia. Kukuhkan hati kami pada agama-Mu.
Rabbi a’lam (Tuhan Maha Tahu).

Anwar Hudijono,
Kolumnis tinggal di Sidoarjo.
17 Mei 2021

Jika Sudah Menjadi Muslim, Jangan Sia-sia… (I)

Rita Arin. (Istimewa)

Oleh: Rita Arin

Tak pernah terlintas sedikit pun, mualaf yang baru belajar tentang Islam, tiba-tiba dapat panggilan menunaikan umroh ke Tanah Suci. Aku tak pernah membayangkan, umrohku dibiayai kantor. Allah memang memiliki rahasia yang tak seorangpun bisa memprediksinya.

Namaku Rita Arin. Aku bisa dipanggil Arin. Aku  bungsu dari empat bersaudara. Tinggal di  Grobogan, Jawa tengah. Ayahku  lpegawai PT KAI, di sebuah stasiun kereta. Ibuku  seorang ibu rumah tangga. Beliau membantu ekonomi keluarga dengan  berdagang keperluan yang dibutuhkan tetangga.

Aku dari kecil beragama Katolik. Aku tak mengerti mengapa hanya keluargaku yang beragama Katolik, sementara keluarga besar ibu semuanya muslim. Aku tak mengenal lebih dalam keluarga ayah. Kata ayah, keluarga beliau sudah lama meninggal dunia. Hanya ada keponakan, itu pun kami jarang bertemu.

Perbedaan agama di keluargaku dengan keluarga ibu, ketika aku kecil, tak membuatku bingung. Aku senang-senang saja. Saat perayaan Natal, aku merayakannya. Saat Idul Fitri, aku juga merayakan. Di masa kanak-kanak itu, aku merasa senang saja karena bisa merayakan dua hari raya.

Saat aku kelas III SD, ayahku meninggal dunia. Begitu cepat ayah meninggalkan kami. Sejak itu, aku dibesarkan ibu. Di rumah, aku  seperti anak semata wayang.

Kakakku tertua sudah menikah dan merantau ke Jakarta. Kakakku kedua, merantau ke Jakarta dan akan menikah. Kakakku ketiga, satu-satunya laki-laki, sekolah di SLB. Ia menetap di asrama sejak kecil karena terlahir down sindrome.

Ibu selalu berusaha memberikan yang terbaik untukku. Perubahan terjadi di saat aku kelas III SMA. Ibu menderita stroke ringan. Sejak itu, terasa ada perubahan dalam keseharianku. Ibu tak bisa lagi berjualan. Perekonomian kami hanya mengandalkan uang pensiun ayah.

Aku terus berjuang untuk menggapai prestasi, agar bisa menyenangkan ibu. Aku selalu dapat ranking III. Aku ingin melanjutkan kuliah, tapi keinginan itu pupus karena kondisi ibu terus memburuk.

Jika aku kuliah, maka uang pensiunan ayah akan habis untuk biaya kuliahku. Aku juga tak mau terlalu berharap menunggu kiriman kakak karena mereka juga punya kewajiban terhadap keluarganya.

Alami Musibah Beruntun
Berbekal nilai UN-ku yang memuaskan, akhirnya aku memutuskan pindah ke Jakarta bersama ibu dan abangku yang di SLB. Kami berharap bisa dekat dengan kakakku, sehingga kami bisa merawat ibu bersama.

Sesampai di Jakarta, aku bingung terhadap masa depanku. Apa yang harus aku lakukan di Jakarta?

Kakakku menyarankan agar aku bekerja dulu. Jika kuliah, akan memberatkan. Aku akhirnya diterima di PT Sanyo di kawasan Cimanggis. Aku bisa masuk ke sana dibantu saudara kakak iparku.

Awalnya aku merasa lelah bekerja di sana, sebab bekerja di pabrik bekerja secara shift. Kadang masuk malam, pulangnya pagi.

Aku tepis rasa lelah itu dengan harapan setiap bulan. Aku menerima gaji yang tergolong besar. Aku akhirnya menikmati pekerjaan dan gaji yang lumayan. Tanpa aku sadari, ternyata keseharianku sangat boros. Aku tak pernah berpikir untuk menabung. Gaya hidupku mengikuti trend.

Aku lupa untuk melanjutkan cita-cita untuk kuliah. Hari-hariku, selain pergi kerja, aku ada di salon, mall, restauran. Begitu setiap hari. aku lupa memikirkan masa depan.

Kakakku mengingatkan agar aku menabung. Jika tak bisa menabung uang, bisa dibeli sepeda motor. Aku turuti nasehat kakakku tersebut. Ketika cicilan motorku memasuki angsuran ke 12, ternyata kontrakku tidak diperpanjang, berawal dari tidak hadirnya aku ke pabrik selama seminggu karena terserang tifus.

Kerja di perusahaan Jepang ini, sistemnya menggunakan point. Jika tidak masuk, sekali pun alasannya sakit, selalu diberi point. Semakin banyak point yang didapat, semakin buruk penilaian kinerja.

Sejak kontrak tidak diperpanjang, aku mulai menghadapi kesulitan. Kucari kerja ke sana kemari, tapi aku selalu ditolak. Aku bingung bagaimana cara mencicil sepeda motor.

Aku takut menyampaikan kepada kakakku. Aku takut mereka marah karena aku tak bisa mengelola uang secara benar ketika masih kerja dulu. Belum sempat aku menemukan jawaban untuk membayar cicilan motor, ternyata motorku dicuri orang di parkiran. Aku panik, bingung.

Mimpi Nangis di Sajadah
Musibah berikutnya kembali menghinggapiku. Aku juga harus berpisah dengan lelaki yang sangat aku cinta. Aku sebenarnya berharap, ia menjadi jodohku, tapi ia pergi begitu saja. Aku yakin, ia meninggalkanku karena perbedaan agama yang kami anut.

Entah kenapa, sejak kejadian itu, aku kehilangan arah. Aku panik dan kalut. Tapi aku tetap bisa menjaga diri. Aku tak mau terjurumus ke jurang kehidupan yang lebih buruk. Bagiku, kemiskinan bukan alasan untuk menghalalkan secara cara.

Suatu malam, aku bermimpi. Aneh sekali. Sangat aneh bagiku. Aku bermimpi menangis di sajadah dengan menggunakan mukena. Aku bingung, ada apa dengan mimpiku?

Kudatangi sahabatku di Bogor. Aku mencoba menenangkan diri di rumahnya. Aku kemudian menceritakan mimpi yang kualami. Aku mantapkan hatiku untuk minta bantuannya memanggilkan seorang ustad. Malam itu, aku mengucapkan dua kalimah syahadat, di musala, disaksikan sejumlah orang.

Ketika aku pulang, kuceritakan semuanya kepada  kakak keduaku. Ia merespon sangat baik, apalagi kedua kakakku juga sudah menjadi mualaf.  Kakak pertamaku masih Nasrani. Ibu juga mendukung. Beliau tidak menentang keputusanku.

Sejak saat itu, aku memulai lembaran hidup baru. Aku mulai pakai hijab. Urusan kerja, aku akan terus berusaha sekuat tenaga. Urusan jodoh, aku sudah punya putusan; tak akan pacaran, kecuali lelaki tersebut serius untuk menikahiku. Kendati baru kenal dan ia mengajak nikah, insya allah, aku siap menerimanya.

Allah mengabulkan doaku. Aku bertemu dan berkenalan dengan seorang lelaki. Ia begitu gigih mendekatiku. Aku ragu karena baru mengenalnya, tapi aku tak kehilangan akal. Kuberanikan bertanya kepadanya, apakah mau segera menikahiku?

Aku terkejut. Aku mendapatkan jawaban yang sangat mengejutkanku. Ia mengatakan, segera melamarku. Aku justru bingung, apakah aku harus menikah secepat ini? Aku belum mengenal dia. Apakah ia orang baik-baik? Aku hanya bisa berdoa dalam setiap salat agar diberikan jalan dan keputusan terbaik.

Beberapa bulan kemudian, aku resmi dilamar. Kami pun menikah secara sederhana. Aku memutuskan untuk tetap berhijab. Aku kemudian belajar mengaji. Tak lama kemudian, aku hamil dan melahirkan.

Allah punya rencana besar untuk keluarga kecilku. Setelah anak pertama lahir, aku harus kehilangan ibunda tercinta. Ibuku meninggal dunia di saat kami bahagia menerima kehadiran anak pertamaku. Aku kehilangan orang yang selama ini menerima keluh-kesahku. Orang kehilangan orang yang sangat mencintaiku dan sangat aku cintai.

Bekerja Ikhlas
Tak lama kemudian, aku minta izin pada suami. Aku akan bekerja. Berapa pun gaji yang kudapatkan, setidaknya dapat membantu menambah pendapatan keluarga. Setidaknya bayi mungil kami dapat mengkonsumsi susu karena ASI-ku tak mencukupi.

Aku dapat kabar ada restaurant di sebuah mall di Pejaten buka lowongan. Aku mendaftar ke sana.  Aku tak tahu apakah bisa diterima atau tidak. Selain tidak memiliki pengalaman, aku juga membawa bayi saat wawancara. Alhamdulillah, aku diterima dengan gaji Rp 800 ribu sebulan. Jauh di bawah gajiku saat di PT Sanyo.

Kujalani pekerjaan tersebut dengan ikhlas.
Ketika restaurant buka cabang di Depok, aku mengajukan untuk pindah. Kataku, lokasi di Depok tak jauh dari rumahku. Permintaanku dipenuhi. Ketika itu pula supervisor menunjukku menjadi kasir.
“Pak,  Arin belum pernah jadi kasir. Kerja di restaurant pun baru. Arin takut tak bisa,” kataku.

“Tak ada yang tak bisa, jika kamu mau belajar. Saya akan bantu,” katanya.
Ketika restaurant itu dibuka, aku bukan lagi menjadi seorang waiters, atau yang mengantarkan makanan. Aku sudah duduk manis di kursi seorang kasir. Kerjanya tak terlalu capek. Gaji pun naik dari sebelumnya.

Tiga tahun berlalu. Aku menikmati pekerjaan dengan semangat yang mengebu-gebu, namun sesuatu menggodaku. Aku bertemu teman kerjaku di Sanyo dulu. Ia tampak lebih cantik dan anggun. Ia terlihat lebih cantik dengan hijab dan seragamnya. Aku penasaran. Aku mencari tahu lebih jauh tentangnya. Ternyata ia bekerja di Wardah. Ketika itu, ia seorang Beauty Advisor (BA) atau SPG-nya Wardah.

Bermodal alamat kantor Wardah, aku diantar suami untuk melamar. Entah memang sudah rezeki yang ditakdirkan Allah, prosesnya sangat mudah. Beberapa hari kemudian aku diterima. Saat itu pula aku mengundurkan diri dari restaurant.

Jumat, 2 November 2012, menjadi hari pertamaku bekerja di Wardah. Aku ditempatkan di sebuah apotek di Depok.

Seminggu aku bekerja, aku ditimpa musibah. Sekitar pukul 01.00 WIB, rumah kontrakan yang aku tempati, terbakar. Api menjalar dari rumah sebelah yang sudah dijamah si Jago Merah.

Aku langsung membangunkan suami, anakku dan tetangga. Alhamdulillah, kami selamat tapi semua harta benda tak bisa diselamatkan, kecuali surat-surat berharga. Baju pun hanya yang melekat di badan.

Aku bagaikan disampar petir. Semua ludes. Kami akhirnya memutuskan tinggal sementara di rumah mertuaku. Aku kabarkan semua kepada team leader-ku, sembari minta izin untuk beberapa hari. Aku diminta mengirimkan foto keadaan rumahku yang terbakar. Aku kirimkan.

Beberapa hari kemudian aku dapat kabar, belum bisa menerima bantuan karena aku baru sepekan bekerja. Aku menerimanya dengan lapang dada, namun aku menyampaikan agar dapat seragam baru karena seragamku sudah terbakar.

Aku, anakku, dan suamiku menggunakan baju bekas yang diberikan saudara dan tetangga. Air mataku mangalir setiap ada orang datang membawakan baju, makanan dan uang. Semua aku terima karena kondisiku benar-benar sangat sulit.

Mualaf Karyawati PT Paragon Technology and Innovation

Babak Akhir yang Menentukan (1)

Anwar Hudijono. (Istimewa)

Oleh: Anwar Hudijono

Hari-hari terakhir menjalani ibadah puasa Ramadhan itu layaknya mengikuti lomba memasukkan benang ke dalam lobang jarum. Waktunya sangat terbatas. Suasananya gerah dan gemuruh. Riuh-rendah. Membuat tidak mudah untuk fokus.

Jika jarumnya jarum karung yang lobangnya besar sementara benangnya benang jahit, akan lebih mudah. Tapi jika jarumnya jarum jahit tapi yang dimasukkan benang bol, ini jelas sangat sulit karena sangat pas ukuran benang dengan lobang jarum.

Saat-saat ujung benang hendak dimasukkan lobang jarum harus benar-benar fokus, tenang. Terlalu tegang juga bisa gagal. Terlalu lemah juga tidak bisa masuk. Apalagi emosi. Marah-marah. Ngamuk. Bahkan saat ujung benang sudah menyentuh lobang jarum, bisa ambyar oleh hembusan nafas kita sendiri.

Rasulullah Muhammad SAW sudah memberi contoh kepada umatnya, pada sepuluh hari terakhir puasa lebih banyak itikaf di dalam masjid. Di antara tujuannya adalah agar bisa fokus beribadah. Mencegah naiknya dorongan hawa nafsu. Mencegah tarikan-tarikan eksternal yang bisa merusak puasa.

Itikafnya Rasulullah itu bukan semata memberi contoh mengejar Lailatul Qadar. Buktinya pada siang hari pun beliau banyak di masjid. Padahal Lailatul Qadr itu diturunkan malam hari.

Jika semata untuk mendapat Lailatul Qadar tidak harus di masjid. Sebab Lailatul Qadar itu bukan soal tempat turun, melainkan soal ibadah. Jadi di manapun beribadah pada malam Lailatul Qadar akan mendapatkannya.

Lailatul Qadar yang diturunkan pada 10 hari terakhir Ramadhan itu semacam iming-iming bonus super besar. (Dinilai sepadan dengan beribadah 1.000 bulan atau 83,4 tahun). Agar umat Islam lebih semangat fokus menjaga puasanya hingga puasanya berakhir husnul khatimah.

Masjid pasti lebih kondusif untuk melakukan aktivitas batin di banding tempat lain seperti rumah, apalagi tempat-tempat publik dan bisnis seperti mal, pusat hiburan. Batin akan lebih fokus untuk beribadah karena memang itu fungsi utama masjid. Di masjid mendorong kesibukan batin berupa dzikrullah, mengingat Allah. Baik dengan shalat, menelaah Al Quran, bertasbih.

Nah, di jaman now, eksistensi masjid sebagai tempat paling kondusif untuk fokus ibadah mulai terancam. Apalagi jika menyediakan internet gratis. Tarikan yang bisa merusak puasa justru saat ini sangat mudah melalui jagat virtual. Salah satu contoh, mau baca Quran melalui aplikasi di HP. Sebelum baca, nyelononglah iklan snack video dengan konten cewek goyang-goyang. Mumet gak jadi ngaji. Ambyar.

Di masjid tapi lebih banyak medsosan daripada shalat. Lebih banyak baca status dan komen daripada baca Quran. Jari jemari lebih sibuk memencet tombol HP daripada memutar tasbih. (Yang baca ini kok ketawa, pertanda pernah pengalaman).

Menuju Allah

Mengapa harus fokus? Karena hakikat puasa itu perjalanan menuju Allah. Perjalan hakiki dalam garis lurus sangkan paraning dumadi (asal muasal dan tempat kembali semua mahluk). Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun (Sesungguhnya milik Allah dan kepada Allah pula dikembalikan).

Bergerak menuju Allah hingga sampai manunggal dengan Allah, wahdatul wujud (manungaling kawula-Gusti). Menyatunya hamba dengan Tuhan. Bukan manunggal secara fisikal karena itu mustahil. Sebab Allah bukan mahluk. Dan Allah itu muhalalfatu lil hawadis (berbeda dengan mahluk). Kemanunggalannya bersifat esensial. Jika dibuat analog itu kira-kita mirip kemanunggalan api dengan panas.

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (Quran:50:16).

Fokus dalam berpuasa ini sekaligus latihan agar tetap fokus saat menghadapi sakaratul maut. Saat sakaratul maut itu akan datang godaan setan dari seluruh penjuru bumi agar kandidat jenazah berpaling dari Allah justru pada saat-saat terakhir. Sehingga tidak ada waktu lagi untuk bertobat.

Sampai-sampai orang di sekitarhya dianjurkan untuk melakukan talkin atau tuntunan membaca kalimah tauhid La ilaha illallah. Karena babak itulah yang menentukan seseorang masuk surga atau masuk neraka.

Rabbi a’lam (Tuhan Maha Tahu)

Anwar Hudijono,
Kolumnis tinggal di Sidoarjo

Mudik dalam Spiritualisme Masyarakat Jawa (3-Tamat)

Anwar Hudijono. (Istimewa)

Oleh: Anwar Hudijono

Siapapun yang mendisain konsep mudik yang menjadi tradisi masyarakat Jawa ini, pastilah manusia jenius. Memiliki tingkat kearifan yang tinggi. Bukan hanya ketajamannya melihat fenomena sosial pada masa konsep itu disusun, tetapi juga memiliki pemikiran yang visioner.
Lebih dari itu, dia atau mereka adalah manusia yang memiliki bashirah (mata batin) yang tajam seperti matahari. Sehingga mampu melihat apa yang akan terjadi masa depan sehingga mampu menyiapkan langkah-langkah antisipasi.

Bashirah itu suatu keutamaan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang terkinasih.

Misalnya, Rasulullah Muhammad yang sudah tahu bahwa di masa depan Kerajaan Persia akan jatuh ke tangan umat Islam. Pemerintahan Khosru Yasdazird akan disobek-sobek tentara Islam seperti Khosru menyobek-nyobek surat Rasulullah.

Demikian pula ketika Hidlir mengatakan bahwa ada harta yang tersimpan di bawah rumah anak yatim piatu. Dia pasti bukan melihat dengan mata eksternal. Atau dengan alat yang canggih. Tetapi dengan bashirah.

Demikian pula ketika dia memutuskan membunuh seorang anak karena dia tahu anak itu akan durhaka kepada orangtuanya yang saleh. Memaksa orangtuanya menjadi kafir. Drama itu dikisahkan di Quran surah Kahfi.

Dengan bashirah Rasulullah Sulaiman melihat ada jazad yang tergeletak di singgasananya. Bukan melihat dengan mata eksternal. Bashirahnya pula yang langsung membuat kesimpulan, itulah mahluk yang berambisi hendak menguasai dunia dari Yerusalem. Mahluk yang mengerikan. Mengerikan bukan dalam bentuk wujud fisik, tetapi perbuatannya.

Untuk itulah Sulaiman mengangkat tangannya, seraya berdoa: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkan kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapapun setelahku. Sungguh, Engkau Yang Maha Pemberi.” (Quran: 38:35).

Siapa mahluk yang disebut jazad itu? Merujuk pandangan ekskalog Islam Syekh Imran Hossein adalah Al Masih Ad Dajjjal. Atau Dajjal.
Bashirah bukan ilmu terawangan para dukun. Ramalan ahlu nujum atau tukang sihir. Tukang ngramesi angka. Tukang ngotak-atik gambar. Kalau mereka ini dibisiki jin. Dan pasti hasil terawangan mereka itu sesat dan menyesatkan.

Kurang piknik

Lantas siapa penyusun konsep mudik itu? Saya tidak tahu. Hanya saya kira dia sekapasitas dengan Pujangga Agung Tanah Jawa Ronggowarsito. Dengan buku Serat Kalatidha, Ronggowarsito yang semasa mudanya bernama Raden Bagus Burhan dan nyantri di Pondok Pesantren Tegalsari, Ponorogo, secara tajam melihat persoalan manusia di jamannya. Sekaligus mampu melihat yang terjadi di masa depan.

Kalau mencermati skene-skene dan anatomi dramatikal di dalam peristiwa mudik akan kita dapati betapa arif dan visionernya penyusun konsep mudik Idul Fitri ini.

Misalnya, di dalam silaturahmi terdapat adegan memohon maaf dan memafkan. Saling memaafkan. Memang ada yang sinis mengatakan, mengapa mau mohon maaf saja saat Idul Fitri. Kan bisa dilakukan sewaktu-waktu.

Sekilas pendapat itu menarik dan benar. Tapi ya cuma seperti riak air di atas batu kali. Tidak mendalam. Menyikapi pendapat demikian, biarkan saja. Mungkin lagi caper alias cari perhatian. Anggap saja yang ngomong begitu kurang piknik.

Saling memaafkan di momentum Idul Fitri itu untuk menyempurnakan episode kembali ke fitrah manusia. Karena ada dosa sesama manusia itu baru terhapus manakala sudah mendapat maaf dari orang yang didosai. Misalnya, Slamet berdosa kepada Kirun. Jika tidak mendapat maaf, maka pahala Slamet akan dikurangi untuk diberikan kepada Kirun sebesar dosa Slamet tersebut. Gimana ngitungnya? Innalla syari’ul hisab (Sesugguhnya Allah sangat cepat dalam menghitung).Kalau sudah dimaafkan Kirun maka dosanya terhapus.

Dengan demikian diharapkan selain dosanya mendapat ampunan dari Allah, juga dosanya sesama manusia terhapus semua. Dengan demikian benar-benar kembali ke fitrah secara kaffah, total.
Memang ini tidak mudah. Terutama yang kebanyakan ngrasani Jokowi, Prabowo, Habib Riziek, Amien Rais, Megawati, SBY, Gisel, Moeldoko, Anies Baswedan, Ahok, Sahrini dan sebagainya. (Makanya kurangi ngrasani atau ghibah. Berat..berat).

Lahir-batin

Contoh lain adalah lafal ucapan pada saat bertemu silaturahmi. Kalimatnya begini: “Nyuwun pangapunten sedaya kalepatan kula lahir tumusing batos.” Atau lebih sederhana: “Nyuwun pangapunten lahir-batin”. (Mohon maaf lahir-batin).

Redaksi kalimat ini khas Jawa. Dan itu hanya digunakan saat Idul Fitri. Yang umum di seluruh dunia ini cukup: Mohon maaf atas semua kesalahan saya. Atau, mohon maaf.

Dulu sering menjadi bahan diskusi, juga guyonan. Mengapa harus pakai “lahir-batin”. Mohon maaf saja kan cukup. (Untungnya tidak ada yang kemelipen mengatakan itu bid’ah).

Pertanyaan itu baru pada jaman now ini terjawab. Kalimat “lahir-batin” merupakan “penyangkalan” terhadap arus global yang akan mendangkalkan batin, spiritualisme. Bahkan membutakan.

Dalam konteks pendangkalan dan pelecehan spiritualisme dalam tradisi mudik dimulai dengan tuduhan bahwa mudik itu tidak efisien. Boros. Absurd. Ajang pamer kesuksesan di kota. Munafik karena di kota menjadi babu tapi kalau pulang ke desa bergaya juragan. Tidak akan efek ekonomi ke desa. Dan sebagainya.

Yang mengatakan demikian biarkan saja. Terhadap orang semacam ini sulit dibedakan antara ngomong dan gumoh. Mereka seperti mengukur dalamnya laut dengan sebatang lidi. Mereka layaknya melihat gajah dengan mikroskup. Yang terlihat hanya gelap.

Anggap saja si dia kurang ngopi. Berdebat dengan orang demikian hanya akan basah oleh semburan ludahnya. Sing waras ngalah gitu low.

Membenci jiwa

Babak selanjutnya, silaturahmi jabat tangan, saling bersaut-tutur diganti dengan kartu Lebaran. Berikutnya diganti dengan sms. Di jaman digital ini cukup diganti dengan meme, teks, emoji, audio, video. Masih mending video call. Mohon maaf langsung dirangkap secara massal. Satu pesan untuk satu grup WA. Satu pesan di medsos untuk manusia seluruh dunia. Kesannya sekadar iseng. Biar ramai gicu.

Silaturahmi Idul Fitri melalui medsos itu seperti gabah tanpa beras. Seperti meneguk gelas tanpa ada airnya. Bak kacang yang cuma kulitnya. Bak kolor tanpa celananya.

Dunia medos adalah dunia manipulasi. Palsu. Sering tidak sambung antara yang terungkap dengan yang tersimpan. Yang lahir dengan yang di batin. Semua dangkal. Maka pencarian konten di medsos disebut berselancar (surfing) karena hanya di permukaan, cepat dan segera berlalu.

“Medsos membenci jiwa kita,” kata Jaron Zepel Lanier, ahli filsafat komputer Amerika . Selanjutnya dia dalam bukunya yang mendunia, Ten Arguments For Deleting Your Social Media, menulis, medsos adalah bagian jaman edan. Medsos menghancurkan rasa empati Anda.

Lihat saja, ucapan duka cita entah dengan meme, teks, emoji, audio, video tanpa menyentuh relung hati. Menyatakan like (suka) tanpa lahir dari perasaan sebenarnya. Memaki, membully tanpa merasa berdosa dan bertenggang rasa.

Dengan demikian mudik dalam sepiritualisme masyarakat Jawa juga merupakan bagian dari kearifan menjaga mata batin manusia dari kebutaan. “Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi sehingga hati (akal) mereka dapat memahami. Telinga mereka dapat mendengar. Sebenarnya bukan mata eksternal yang buta, tetapi yang buta ialah hati. (Quran: 22: 46).

Aktivitas mudik kini lumpuh oleh Covid-19. Tapi bukan hanya mudik, semua aktivitas ritual keagamaan maupun aktivitas spiritualisme juga terseok-seok bin gontai bin loyo bin seyek-seyek mirip jalannya mentok ambeien.

Ritual haji disetop. Umrah dibatasi. Shalat jamaah cidera karena shafnya tidak boleh rapat. Shalat Tarawih, Shalat Jumat agar dipercepat seolah dipaksa mengikuti kehidupan digital yang semakin cepat. Penyelenggaran peringatan keagamaan bisa dipidana. Salaman dilarang. Apalagi cium tangan untuk ngalap berkah, sama sekali dianggap sangat berbahaya.

Saya sependapat dengan Syek Imran Hossein, pakar eskatologi Islam, bahwa Covid-19 adalah strategi Dajjal menjalankan salah satu misinya yaitu memberikan ujian, cobaan (fitnah) terbesar kepada umat manusia. Dajjal menunjukkan kehebatannya.

Jika benar begitu kuncinya adalah yang disabdakan Rasulullah Muhammad. “Jika aku masih hidup, maka aku akan melindungi kalian dari Dajjal. Jika aku sudah meninggal maka Allah yang akan melindungi kalian.”

Rabbi a’lam (Tuhan lebih tahu).

Anwar Hudijono,
Kolumnis tinggal di Sidoarjo

Mudik dalam Spiritualisme Masyarakat Jawa (1)

Anwar Hudijono

Oleh: Anwar Hudijono

Dipermaklumkan jika ada di antara warga masyarakat Jawa yang didera rasa sedih yang sangat mendalam tidak bisa mudik Idul Fitri karena adanya larangan pemerintah. Saking sedihnya sampai stres. Tidak doyan makan. Tidak bisa tidur. Akhirnya daya tahan tubuhnya turun.

Saat daya tahan tubuh merosot itulah justru rentan terhadap Covid-19. Karena Covid-19 itu aslinya dungu. Dia tidak melakukan seleksi orang mudik apa bukan. Tidak bisa membedakan orang stress apa orang gembira.

Bagi masyarakat Jawa mudik itu buka kepulangan biasa. Bukan layaknya perjalanan piknik. Bukan sejenis perjalanan dinas. Beda dengan tuoring.

Episode mudik itu memiliki landasan spiritualisme yang sangat kuat dan menggenerasi. Artinya tertanam dari generasi ke generasi. Sejak dulu ya begitulah adanya. Layaknya memakai sarung ya begitu adanya. Tidak ada sarungan dengan suwelan di belakang. Seperti cara minum kopi. Sejak nenek moyang ya disruput. Tidak ada minum kopi digelogok seperti minum air putih di kendi.

Maka, mohon dipermaklumkan jika ada yang sampai nekad mudik jauh sebelum larangan berlaku 6-17 Mei 2021. Ada yang nekad kucing-kucingan dengan petugas negara. Kucing-kucingan tapi melewati jalur tikus. Ada yang nekad bersembunyi di balik terpal truk sehingga mirip dengan gelondongan jerami.

Kalau saja ada yang menyewakan genderuwo yang bisa membawa mudik tanpa kepergok petugas, kemungkinan laris manis. Kecuali jika ada genderuwo petugas juga. Hal ini menjadi tidak mudah. Kecuali mengikuti aturan main tak tertulis bahwa sesama genderuwo harus salam temple alias cincai. Podo ngertine.

Beginilah penjelasannya. Mudik itu merupakan momentum mengingatkan dan membangkitkan kembali kesadaran hakikat penciptaan. Sangkan paraning dumadi (asal muasal mahluk). Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, sesungguhnya milik Allah dan akan dikembalikan kepada-Nya.

Jadi orang-orang di perantauan ini ibarat orang yang hidup di dunia. Kalau dibalik, hidup di dunia ini sebenarnya hanya perantauan. Asalnya dari surga. Karena mengikuti jejak leluhur kita Nabi Adam lantas diturunkan ke bumi. Tapi di bumi ini hanya sementara. Pasti akan dikembalikan ke surga jika catatan hasil perjuangan di perantauan ini baik. Pulang membawa iman dan amal shaleh.

Kalau catatannya buruk ya dibakar neraka. Diberi minum nanah yang mendidih. Diberi makan buah zakum yang membakar isi perut.

Berjuanglah di perantauan. Siapkan bekal yang memadai untuk mudik. Kalau mudik Idul Fitri tentu saja bekalnya uang, pakaian, kue kaleng, dan sebagainya.

Sedang mudik kepada Allah bekal terbaik yaitu taqwa. “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang berakal.” (QS 2: 197).

Agar mudik Idul Fitri bisa mudah, lancar selamat sampai tujuan patuhilah peraturan, rambu-rambu sepanjang perjalanan. Agar mudik kepada Allah selamat dan penuh suka cita maka patuhilah peraturan dan rambu-rambu Allah.

Hanya sementara

Mengapa leluhur Jawa menggunakan momentum Idul Fitri ini untuk mengingatkan falsafah sangkan paraning dumadi? Karena ada kecenderungan, manusia itu lupa bahwa dunia itu hanya sementara, koyo wong mampir ngombe (seperti orang yang singgah minum).

Lupa bahwa semua akan dikembalikan ke asalnya. Saking cintanya dunia sampai lupa akhirat, meski sudah diberi tahu bahwa kehidupan akhirat itu lebih baik dan kekal, wa lal akhiratu khairu wa abqa. (QS 87:17).

Saking asyiknya dengan kesibukan urusan dunia sampai lengah bahwa kesenangan dunia ini hanya mainan dan lelucon. “Wa ma hadhihil hayatut dunya illa lahwun wa laibun. Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan.” (QS 29:64).

Lupa bahwa jika ajal menjemput, itu bisa terjadi kapan saja, di mana saja, dengan cara apa saja. Saat tidur enak-enak mati karena tertimpa paku yang menancap di belandar. Lagi asyik medsosan mati. Sialnya saking asyiknya medsosan sambil ketawa-ketiwi sendiri lupa sembahyang.

Maka para sesepuh Jawa selalu mengingatkan bahwa semua manusia bakal mulih mring mula mulanira (kembali ke asal muasalnya). Yaitu Allah.

Jaman dulu, orang Jawa menyebut orang yang mati dengan istilah “mulih”. Artinya orang yang mati itu justru sedang menempuh perjalanan kepada kehidupan abadi kembali kepada Allah.

Kalau sekarang macam-macamlah sebutan untuk orang mati. Ada yang disebut sedo artinya tugase wis bakdo (tugasnya sebagai khalifah/pengatur di bumi sudah selesai). Istilah ini oleh masyarakat ditujukan kepada orang-orang yang dianggap baik semasa hidupnya seperti ulama, guru, kolumnis, wartawan dsb.

Ada juga yang disebut matek. Artinya nikmate wis entek (nikmatnya sudah habis). Sebutan itu ditujukan kepada jenazah yang semasa hidupnya hanya untuk mendapat kenikmatan dunia. Pokoknya apapun dilakukan yang penting dirinya hepi. Tidak peduli orang lain. Tidak peduli menerjang hukum dan moral. Nah, sejak berstatus jenazah, tidak bisa lagi dugem, mabuk, korupsi, nilep pajak dsb.

Yang paling seram itu jika disebut bongko. Artinya diobong neng neroko (dibakar di neraka). Sebutan ini karena saking jengkelnya masyarakat terhadap jenazah tersebut. Bisa jadi dia semasa hidupnya jadi ulat masyarakat seperti koruptor, politisi busuk, bromocorah, pemerkosa, rentenir dan sejenisnya.

Rabbi a’lam (Tuhan lebih tahu).

Anwar Hudijono
Kolumnis tinggal di Sidoarjo.

I’tikaf di Jaman Now itu Mengurangi Medsos (2-Habis)

Anwar Hudijono. (istimewa)

Oleh: Anwar Hudijono

Jika I’tikaf itu secara substantif sebagai proses mengurangi dan mencegah rangsangan-rangsangan dari luar karena dapat menaikkan intensitas hawa nafsu, yang dapat merusak dan membatalkan puasa, maka di jaman now adalah mengurangi media sosial (medsos).

Blak-balakan saja saya tidak berani seperti Jaron Zepel Lanier, yang dengan gagah berani berkata lantang, “Stop medsosan. Hapus akun medsosmu.” Dia menulis buku Ten Arguments For Deleting Your Social Media Account (Sepuluh Argumen untuk Menghapus Akun Media Sosial Anda Saat Ini).

Jaron jelas bukan tokoh kaleng-kaleng. Dia punya kompetensi untuk bicara itu. Dia ahli filsafat komputer Amerika. Dia seniman visual dan musisi. Dia menulis buku berdasar riset.
Dan dia konsekuen dengan sikapnya. Dia tutup seluruh akun medsosnya. Dia konsisten melakukan kampanye tutup medsos, termasuk di film /Social Dilemma yang disiarkan Netflix.

Sikap dia itu kalau di Al Quran ditegaskan di Surah Shaff (61) ayat 2-3: “Wahai orang-orang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci oleh Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

Ada 10 alasan Jaron. 1. Anda (pengguna medsos) kehilangan keinginan bebas Anda. 2. Berhenti dari medsos adalah cara paling tepat sasaran untuk melawan kegilaan jaman kita (jaman edan dalam istilah pujangga agung Jawa Ronggowarsito). 3. Medsos membuat Anda menjadi bangsat. 4. Medsos merongrong kebenaran.

Selanjutnya dikatakan, 5. Medsos membuat apa yang Anda katakan menjadi tidak berarti. (Betapa tidak, posting konten bagus cuma diberi emoji). 6. Medsos menghancurkan kapasitas empati Anda. (Postingan berita kematian hanya dipasang emojicon atau kopi paste dari atasnya). 7. Medsos membuat Anda tidak bahagia. 8.Medsos tidak ingin Anda memiliki martabat ekonomi. 9. Medsos membuat politik menjadi hal yang mustahil (tidak mungkin). Dan 10. Medsos membenci jiwa Anda.

Medsos telah mengubah kehidupan global dari era informasi ke era disinformasi. Tristan Harris, mantan Disainer Estetika Google dengan tegas mengatakan, medsos begitu mudah menghilangkan fakta. Ada banyak keluhan, skandal, polarisasi, pencurian data, hoaks, fakenews (berita palsu).

Radikalisme
Jaron tidak sendirian. Semakin hari semakin banyak pendukungnya. Apalagi setelah Pemilu Presiden Amerika tahun 2020 di mana medsos menjadi pihak yang sangat menentukan hasil Pilpres. Medsos menjadi pembakar pemilu yang dinilai paling brutal dan kelam dalam sejarah Amerika. Mencabik-cabik demokrasi yang palingg dibanggakan AS.

Medsos juga menjadi tertuduh sebagai pemicu radikalisme supremasi kulit putih. Polarisasi sosial yang kian tajam. Entah polarisasi atas dasar ras, agama, etnik, sosial-ekonomi. Merenbaknya dismorfis snapchat.

Medsos dianggap sebagai biang kerok anjloknya kualitas kesehatan jiwa rakyat Amerika. Jutaan generasi Z (lahir setelah tahun 1996) menjadi generasi yang rapuh, tertekan dan cemas. Jutaan di antara mereka ada yang menyayat nadinya. Ada yang bunuh diri. ABG-ABG kehilangan identitasnya. Rumah sakit semakin dipenuhi pasien yang menderita akibat dampak medsos.
“Amerika kini sedang di ambang kehancuran oleh medsos,” kata seorang inteljen senior Rusia dalam film Red Sparrow.

“Rasisme, diskriminasi, intoleransi kini sedang menggerogoti Amerika dari dalam,” kata tokoh dalam film American History X.

Tesis demikian sekarang bukan hanya di film. Sebagian masyarakat Amerika mulai gamang akan masa depan negaranya. Masa depan bangsanya. Amerika sedang berproses seperti pohon besar yang digerogoti rayap dari dalam. Semakin hari rayapnya semakin beranak-pinak.

Narkoba

Saya tidak berani segarang Jaron yang menyatakan tutup akun medsosmu sekarang juga. Saya hanya berani bilang mari kurangi bermedsos. Karena saya sikik-sikik juga masih menggunakan medsos. Alasan yang saya pakai ya seperti para pedoyan medsos umumnya. Misalnya, untuk sayhello saudara dan temanlah, guyon-guyonlah, selinganlah, hiburanlah.

Saya masih menggunakan medsos dengan kesadaran penuh bahwa saya ini sebenarnya sedang dijual oleh developer medsos. Bisnis medsos itu menjual penggunanya. Yang menjadi pelanggan adalah pengiklan. Dengan begitu semakin lama saya menggunakan medsos semakin besar keuntungan yang dikantongi developer. Para developer medsos itu ibaratnya sedang membangun gunung roti.

Maka developer akan berbuat segala cara agar saya berlama-lama di medsos. Ketagihan. Tidak percaya? Coba buka YouTube. Misalnya cari pertarungan tinju Muhammad Ali vs George Foreman. Konten itu akan muncul. Di bawahnya sudah muncul tawaran Ali vs Sonny Liston. Ada lagi Foreman vs Joe Friezer. Tidak itu saja, akan muncul pula tawaran konten lain seperti music, UFC, degelan, komik, kluliner. Jika diterus-teruskan bisa sampai mati tidak akan kehabisan konten.

Itu artinya pengguna sedang masuk jeratan mesin algoritme medsos.

“Orang mengira algoritme itu dirancang untuk memberikan yang mereka inginkan. Tidak. Algoritme itu sebenarnya mencari beberapa perangkap yang sangat kuat. Mencari perangkap mana yang sesuai dengan minat kita,” kata Guillaume Chaslot, pakar teknologi medsos.

Saya sadar penuh, ketika saya main medsos itu saya sedang memasuki dunia manipulasi. Yang like itu juga bukan keluar dari hati nurani. Video yang cantik-cantik itu adalah editan. Di video kayak Gisel, tapi begitu kopidarat seperti Gimin. Yang nyebar konten seolah untuk kebaikan dan kemaslahatan masyarakat, padahal ternyata yang dicari subscribe, like dan viewer.

Manipulasi

Saya sadar saat bermedsosan itu saya seperti menonton aksi pesulap. Yang mampu mengubah sapu tangan menjadi kelinci. Yang mengikat gadis dengan rantai tapi di dalam kotak gadis bisa melepas dan berganti baju. Yang bisa menghilangkan Tugu Monas. Tentu saja semua itu manipulasi. Tipuan. Hipnotisme. Cuma konyolnya, kita ini senang dimanipulasi. Bahkan menikmatinya. Ajuuur…

Saya sadar begitu main medsos itu saya seperti incip-incip narkoba. Semakin banyak semakin asyik dan nikmat. Lama-lama kecanduan. Di dunia ini hanya dua produsen yang menyebut konsumennya dengan istilah “pengguna” yaitu medsos dan narkoba.

“Medsos adalah narkoba,” kata Dr Anna Lembke dari Stanford University, AS. Maksudnya, kita punya perintah biologis dasar untuk berhubungan dengan orang lain. Hal itu secara langsung mempengaruhi pelepasan dapomin dalam “jalur kenikmatan”.

Jiwa yang sudah bermukim di “jalur kenikmatan” medsos adalah menjadikan medsos itu bagian integral lahir-batinnya. Medsos lebih dekat dan penting daripada ayah-ibunya, saudaranya, suami atau istrinya, tuhannya, urat lehernya.

Mau tidur buka medsos. Ngelilir buka medsos. Bangun tidur langsung klik medsos. Bahkan medsos itu pun sampai menjilma di mimpi, ngelindur. Tiba-tiba ketawa. Tiba-tiba jungkir balik, nggigit bantal.

Masak sambil medsosan. Rapat medsosan. Di toilet medsosan. Makan medsosan. Kumpul keluarga semuanya asyik dengan medsosan sendiri-sendiri. Fisiknya saja yang berdekatan tapi jiwanya berjauhan. Ayahnya yang nyetir mobil, anak dan ibunya asyik medosan sendiri-sendiri. Ayahnya jadi seperti driver online.

Mengajar sambil medsosan. Akhirnya dibalas muridnya, saat gurunya nerocos di depan kelas sampai mulut berbusa-busa dan mata mendelik-delik, muridnya medsosan. Nyuntik sambil medsosan. Akhirnya bukan jarum yang dicubleskan tapi pulpen. Niatnya I’tikaf di masjid, kelihatan nggetu, ternyata medsosan. Wis angel… angel…

Setiap saat buka-tutup Hp. Melakukannya sudah tanpa sadar. Tidak ada tanda apapun hp dibuka. Sudah seperti orang bekedip. Otomatis bergerak. Apa ada orang berkedip didisain dulu, dijadwal. (Sing ngguyu mesti tau ketoro pengalaman hahahaha).

Ramadhan ini hendaknya bisa menjadi momentum memulai mengurangi buka tutup Hp. Pergi ke masjid, tinggal Hp di rumah. Rapat tanpa bawa Hp. Kurangi medsosan dengan niat mencari kegiatan yang lebih baik. Yang lebih produktif. Jika medsos menggelapkan hati dan melumpuhkan spiritualitas, ganti dengan kegiatan yang membuat hati terang, jiwa yang bersih. Niat mepek babahan hawa sanga. Niatkan sebagai I’tikaf untuk menjaga kemurinan puasa kita.

Pembaca oh pembaca.. Terus terang saya mulai berpikir jangan-jangan medsos ini merupakan strategi Dajjal. Mudah-mudahan ada petunjuk mendalaminya. Rabbi a’lam.

Ya Allah dengan rahmat-Mu, lindungilah kami dari fitnah (ujian) medsos.

Rabbana atina min ladunka rahmah wa hayyiklana min amrina rasada. (Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami. (Quran surah Kahfi ayat 10).* * *

Anwar Hudijono
kolumnis tinggal di Sidoarjo
23 April 2021.