Ada Cinta Hajar di Balik Ibadah Kurban (1)

Anwar Hudijono

Oleh: Anwar Hudijono

Dan sungguh sulit dinalar, bagaimana seorang anak tidak takut sama sekali ketika hendak disembelih. Meski oleh ayahnya sendiri. Malah meminta ayahnya tidak ragu-ragu untuk melakukan.

Bisa jadi yang kita bayangkan, anak itu akan menangis histeris. Lari lintang pukang. Bisa-bisa malah menganggap ayahnya sudah kerasukan setan atau miring.

Anak itu adalah Ismail. Leluhur Nabi Muhammad SAW. Sikap Ismail itu diabadikan di dalam Quran surah As Shaffat 102.

“Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, insya Allah engkau mendapatiku termasuk orang yang sabar.”

Ismail sangat sadar bahwa perintah Allah itu ujian. Mati adalah salah satu bentuk ujian. Ujian harus disikapi dengan ihlas dan sabar. Ismail sama sekali tidak ada rasa ragu, takut sebesar biji wijen sekalipun. Semua itu karena cintanya kepada Allah. Dan cinta itu butuh pengorbanan.
Bagaimana anak seusia itu sudah memiliki samudera cinta kepada Allah? Tak pelak lagi semua itu karena ibunya, Hajar yang menyemaikan benih cinta itu. Membiakkannya. Ya, Hajar-lah orangnya. Dan Hajar-lah Sang Cinta itu sendiri.

Karena harus menjadi simbol cinta, maka Hajar tidak divisualisasikan dalam “drama” ibadah kurban.

Ceruk padang gurun

Hajar adalah simbol pemilik cinta yang kaffah (total) kepada Allah. Hanya karena cintanya kepada Allah sehingga dia rela ketika suaminya, Ibrahim meninggalkannya di ceruk padang gurun yang panas dan gersang. Dikelilingi bukit-bukit batu karang yang keras dan garang. Sendirian bersama bayinya, Ismail yang masih digendong.

Padahal bisa saja dia menolak. Ibrahim sebagai suami yang arif bijaksana tidak mungkin memaksanya. Menganiaya dia. Berbuat semena-mena. Ibrahim adalah termasuk golongan orang-orang yang saleh.

Karena cintanya Hajar kepada Allah, Ibrahim tidak ragu-ragu meninggal istrinya itu. Hajar akan berada di dekat kekasih sejati dan abadi yaitu Allah. Yang selalu menjaganya. Mengasihinya. Dan Dia sangat dekat.

“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”. (Quran: Qaf 16).

Ketika Ismail kehausan, sementara air tidak ada. Hajar meletakkan Ismail di samping Baitullah. Dipasrahkan kepada Allah agar mendapatkan cinta-Nya, sekaligus menyemaikan cinta kepada Allah. Dia tidak menggendong Ismail mencari air menjelajahi kawasan antara Bukit Shafa dan Marwah.

Dan Allah pun memeliharanya. Merengkuhnya dengan penuh kasih. Praktis Hajar membesarkan Ismail sepenuhnya dalam bingkai cintanya kepada Allah. Dan pasti Allah besar balasan cinta-Nya.

Ibrahim mencintai Allah.
Maka rela menyerahkan Hajar dan anaknya kepada Allah.
Bukan kejam dan tak berperikemanusiaan.
Hajar mencintai Allah.
Maka rela ditinggal bersama anaknya oleh Ibrahim.
Bukan terpaksa dan tak berdaya.
Hajar mencintai Allah
Maka rela memasrahkan bayi Ismail kepada Allah
Allah mencintai mereka
Maka menjadikan mereka termasuk golongan shalihin

Cinta Hajar kepada Allah diabadikan dalam bangunan berbentuk cekungan di samping Ka’bah. Disebut Hajar Ismail. Cekungan itu melambangkan relung samudera hati yang paling dalam tanpa tepi.

Bangunan itu tidak menyatu dengan Ka’bah karena kemanunggalan cinta itu bukan arti fisik. Allah mustahil menyatu secara fisik dengan manusia karena Allah bukan mahluk dan Allah berbeda dengan mahluk untuk semua hal (muhalalfatu lil hawadis). Wahdatul wujud itu manunggalnya cinta.

Di antara Hajar Ismail dengan Ka’bah itu ada ruangan . Di situlah gelombang ekektronagnetik yang menyatukan. Yang tidak kelihatan itu sebenarnya ada. Cahaya Allah menyinari hari orang-orang yang beriman. Cahaya itu mesti tidak kelihatan tapi wujud.

Bacalah Quran Surah Kahfi pada hari Jumat, maka Allah akan bentangkan cahaya dari ujung kakimu sampai ke Ka’bah kemudian naik ke langit. Cahaya itu hanya bagi mereka yang meyakini.

Siapa yang mencintai Allah secara kaffah? Hajar
Apa saksi kecintaannya? Rela berkorban segalanya, termasuk nyawa sendiri.
Siapa yang dibalas cintanya oleh Allah? Hajar
Hajar siapa? Hajarnya Ismail. Ibundanya Ismail.
(Bukan Hajar anak Firaun atau Hajar budak kulit hitam yang jadi bahan polemik kalangan ahli sejarah. Polemik itu tidak relevan. Tapi memang manusia suka berbantah-bantah, dan suka sensasi. Allah tidak menentukan derajat manusia dari keturunan, ras, status sosial, suku, kebangsaan dsb. Tapi berdasar takwanya).

“Sungguh yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.” (Quran: Al Hujurat 13).

Dan Allah sudah menentukan Hajar adalah manusia mulia. Dr Ali Shariati mengatakan, hanya Hajar yang jazadnya boleh dimakamkan di samping Ka’bah.

Demi cintanya kepada Allah, maka Ibrahim – Hajar – Ismail sepakat menyerahkan nyawa Ismalil sebagai syahid (saksi) kepada Allah.
Kapan? 10 Dzulhijah
Di mana? Mina

“Rabbi habli minas-shalihin (Ya Tuhan anugrahkan kepadaku (anak) yang termasuk orang yang saleh). (Quran: As-shaffat 100).

Rabbi a’lam (Tuhan lebih dan paling mengetahui)

Catatan penting: Jangan langsung like and share tulisan ini. Telitilah. Ini jaman disinformasi. Tidak jelas mana hoax mana info benar. Mana asli mana palsu. Monggo ngaji Quran surah Al Hujurat ayat 6. Peringatan Allah sangat jelas.

Anwar Hudijono, penulis tinggal di Sidoarjo. Dari berbagai sumber.

Sidoarjo, 26 Juli 2021

Haji Yang Tertunda Bersama Nabi (5 Tamat)

Anwar Hudijono

Oleh: Anwar Hudijono

Bersama 2.000 muslimin yang langsung dipimpin Nabi Muhammad SAW, kita menunaikan umrah qadla (umrah pengganti). Sebagai pengganti umrah/haji yang gagal tahun lalu. Berarti ini terjadi pada tahun 7 Hijrah.

Kita memasuki Mekah dengan leluasa. Quraisy hanya mengawasi kita dari Jabal Abu Qubais, gunung di samping Baitullah.

Labbaika .. labbaika.. .

Begitu suara kaum muslimin menggema seolah menggetarkan Baitullah. Bukit-bukit batu karang di sekelilingnya seolah mau runtuh. Bahkan langit pun seolah terguncang.

Kita mengikuti semua apa yang dilakukan Nabi. Manusia kekasih Allah ini menyelubungkan dan menyandangkan kain jubahnya di badan dengan membiarkan lengan kanan terbuka.

Kita mengikuti Nabi mengucap, “Allahumma irham imra’an arahum al-yauma min nafsihi quwwatan.” (Ya Allah berikanlah rahmat kepada orang yang hari ini telah memperlihatkan kemampuan dirinya).

Kita tetap mengikuti apapun tindakan Rasulullah. Menyentuh Hajar Aswad terus berlari-lari kecil keliling Ka’bah. Sesampai di rukun yamani (sudut selatan Ka’bah) Rasulullah menyentuhnya. Setelah tiga kali dengan lari-lari kecil selanjutnya dilakukan dengan jalan kaki biasa.

Semua dilakukan dengan khusyuk. Fokus. Penuh semangat. Air mata yang membanjir adalah air mata bahagia. Air mata syukur atas nikmat yang tiada tara.

Rumah syirik

Setelah selesai, kita baru menyadari bahwa Baitullah telah ternodai oleh kekafiran. Rumah Allah ini dijubeli berhala-berhala berupa patung-patung beraneka bentuk. Ada Latta, Uzza, Manat, Hubal, Na’ila, Isaf, dan sebagainya.

Kita semua menangis. Semua marah. Larut dalam ombak lautan emosi yang bergulung-gulung. Mengapa rumah tauhid jadi rumah syirik. Mengapa berhala-berhala Namrudz yang dulu dihancurkan Ibrahim kini malah memenuhi Masjidilharam. Pengikut Namrudz kini menjadikan Baitullah seperti kuil Babilon. Mereka bukan mengangungkan asmaul husna (nama-nama baik Allah) tetapi mereka mendendangkan nyanyian setan. Melolongkan mantra-mantra sihir.

Al Quran menjelaskan: “Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidilharam kamu samakan dengan orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang dzalim”. (Quran: At Taubah 19).

Allah juga menegaskan di Quran: Al Anfal 34-35.
“Dan mengapa Allah tidak menghukum mereka padahal mereka menghalang-halangi (orang) untuk (mendatangi) Masjidilharam dan mereka bukankah orang-orang yang berhak menguasainya? Orang yang berhak menguasai (nya) hanyalah orang-orang yang bertakwa, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

“Dan shalat mereka di sekitar Baitullah itu, tidak lain hanyalah siulan dan tepuk tangan. Maka rasakan azab disebabkan kekafiranmu itu.”

Saking emosinya, Abdullah bin Ruwahah, seorang sahabat sejati Nabi, sampai mengucapkan kata yang emosional. Bisa memancing perang dengan Quraisy. Tapi secepatnya Umar meredam.

Kita melihat Rasul dengan sangat bijaksana dan penuh kasih mendekatinya Ibnu Ruwahah.

“Sabarlah, Ibnu Ruwahah. Atau ucapkan sajalah kalimat: La ilaha illa Allah wahdad, wanashara abdah, wa’a’azza jundah, wakhazhalal’-ah-zaba wahdah.” (Tiada tuhan selain Allah Yang Esa, yang telah menolong hamba-Nya, memperkuat tentara-Nya dan menghancurkan sendiri musuh yang bersekutu).

Kita semua bertekad akan mensucikan kembali Baitullah. Membersihkannya dari syirik. Hanya menjadikan sebagai tempat menyembah Allah. Yang mengelola Baitullah pun orang yang bertaqwa.

Fathul Mekah

Doa kita dikabulkan. Janji Allah adalah haq (benar). Allah tidak pernah menyalahi janji. Setahun kemudian kita datang dengan 10.000 orang yang siap perang. Jumlah pasukan yang tidak pernah dimiliki orang Arab sebelumnya. Mekah kita bebaskan. Baitullah kita sucikan. Dalam sejarah Islam disebut Fathul Mekah (Terbukanya Mekah).

Fathul Mekah sudah usai. Hati kita bergetar ketika mengingat dan merenungi ayat-ayat Quran surah At Taubah 19, An Anfal 34-35 di atas. Mungkin dulu Ibrahim, Ismail dan beberapa generasi setelahnya tidak pernah memperkirakan Baitullah akan jadi tempat menyembah berhala-berhala. Jatuh ke tangan pengelola kafir. Menjadi tempat tujuan bisnis semata sedang haji dan umrah hanya untuk sambilan.

Tapi entah sejak kapan Baituillah tertutup oleh kekafiran laksana matahari yang tertutup oleh malam yang gelap pekat. Entah siapa yang memulai pujian-pujian kalimah thayyibah berganti dengan nyanyian setan dan dengungan mantra-mantra sihir.

Setelah Fathul Mekah apakah mungkin kasus Baitullah tercemar terulang? Ka’bah tertutup kepalsuan? Tauhid dicampuri syirik, khurafat dan tahayul? Kembali dijubeli dengan berhala-berhala neo Latta, Uzza, Manat, Hubal, Isaf, Na’ila?

Miris. Kita bayangkan kelak jumlah umat Islam di dunia meningkat pesat. Kemampuan umrah dan haji semakin tinggi. Maka umrah dan haji akan menjadi pusat perputaran uang dalam jumlah yang sangat besar. Hal ini bisa mengundang Qorun-Qorun untuk menjadikan bisnis yang potensial, obyek untuk membesarkan gunung rotinya.
Umrah dan haji digeser menjadi wisata. Aktivitas menyalurkan hedonisme. Alat pencitraan. Mengejar gelar kehormatan dunia. Mereka membawa “tuhan uang” ke dalam Baitullah. Mereka mengilahikan hawa nafsu menggantikan lillahi ta’ala (untuk Allah semata).

Tiga cabang

Pasti Qorun tidak akan sendiri. Pasti akan disertai Firaun dan Haman. Mereka pada dasarnya satu tubuh tiga cabang. Mereka persekutuan abadi. Satu yang tiga, tiga yang satu.Bisa disimbolkan segitiga sama sisi. Meski dibolak-balik sehingga menyerupai bintang segi enam tetapi tetap substansinya.

“Pergilah kamu mendapatkan naungan yang mempunyai tiga cabang.” (Quran: Al Mursalat 30).

Siapa yang punya tiga cabang itu? Itulah setan besar. Big-bos penghuni neraka. Yang kita lempari di Mina sertiap musim haji dalam wujud simbolik Jumrah Ula, Jumrah Tsani dan Jumrah Aqaba.

Bisa saja setan besar ini akan menjilma dalam alam virtual. Alam maya. Sebagai sistem ideologi. Firaun akan muncul sebagai despotisme. Qorun sebagai kapitalisme. Dan Haman sebagai liberalisme.

Despostisme menjadikan umrah dan haji alat kekuasaan yang menindas. Memecah belah umat dengan membentuk klaster-klaster haji. Ada haji vvip, vip, ekonomi, haji jalan kaki, umrah/haji plus, plus-plus. Menjadi alat politik kekuasaan yang dhalim.

Liberalisme Haman yang sangat cerdas akan menciptakan piranti sihir yang dipadukan dengan sains. Jika jaman Musa hanya menggunakan seutas buhul (tali), yang itu pun sudah menggetarkan Musa. Di Jaman Rasulullah ada istri Abu Lahab yang menggunakan seutas buhul di kalung yang mampu membakar kedengkian Quraisy terhadap Nabi.

Bisa saja Neo Haman menciptakan jutaan buhul berbahan besi dan tembaga. Sejak jaman Daud mereka berusaha menguasai besi tapi dikalahkan Daud. Nabi Sulaiman menguasai tembaga yang mengalir sehingga setan tak mampu merebutnya. (Quran: As-Saba’ 12).

Buhul Haman ini menghubungkan kekuatan sihir yang bergerak sangat cepat turun dari langit ke bumi dan dari bumi naik ke langit. Mungkin kelak disebut internet yang bergerak antara server di perut bumi atau bawah laut dan yang di atas disebut satelit. Mungkin lo. Selebihnya Rabbi a’lam. Tapi yang jelas namanya bukan kentongan, simbukan atau bagong.

Bisa saja akan muncul dengan alat yang menjadikan setiap jamaah umrah dan haji tanpa sadar membawa konten maksiat dan mungkarat, materi najis, pesan kekafiran ke dalam Baitullah. Piranti yang bisa menyanyikan lagu setan di dalam Baitullah sehingga merusak ibadah orang lain. Dari piranti itu di Baitullah bisa menyebar hoax, fitnah, memecah belah ukhuwah.

(Mungkin di awal abad ke-21 disebut gadget, android, telepon pintar dsb. Adapun sistem pengaturnya disebut artificial intelligent). Mungkin lo. Sekali lagi mungkin. Yang pasti namanya bukan bakiak atau cilok.

“Wa min syarrin naffastati fil uqod (Dan dari kejahatan penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya).” (Quran: Al Falaq 4).

Haman akan bekerja sama dengan setan-setan ahli bangunan yang dulu ditaklukkan Sulaiman. Mereka akan membangun kuil-kuil Namrud dan Firaun yang megah menjulang tinggi untuk menutup Masjidilharam. Akan menciptakan matahari dunia yang kemilau cahaya bisa dilihat dari jarak 25 kilometer untuk menyuramkan cahaya Allah.

Tobat akbar

Oh.. betapa sedihnya. Padahal haji adalah persaksian bahwa manusia itu sama. Hanya takwa yang membedakan di hadapan Allah. Haji adalah bentuk syiar Islam internasional. Diikuti umat Islam di seluruh dunia. Bukan ibadah lokal atau regional.

Haji adalah wujud persaudaran umat Islam tanpa sekat-sekat jabatan, ras, kebangsaan, kekayaan. Umrah dan haji adalah refleksi kesahajaan, ketawakalan Ibrahim, Hajar, Ismail. Umrah dan haji adalah simbol penciptaan manusia. Dari Allah dan pasti akan dikembalikan kepada Allah. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Kita segera tersadar dari lamunan. Kontan ingat Surah An Nasr yang mengabadikan Fathul Mekah.
“Fasabbih bi hamdi rabbika wastaghfirhu innahu kana tawwaba.”(Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan memohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima Tobat).

Sudah saatnya kaum muslimin melakukan tobat akbar secara global sejalan dengan eksistensi haji sebagai ibadah akbar dan global.Tobat, istighfar itulah kunci memperoleh pertolongan dan rahmat Allah.

“Rabbi adhilni mudkhala sidqi wa akhrijni mukhraja sidqi waj-alli min ladunka sulthanan-nashira. Wa qul jaal haqqu wa hazaqal bathil innal bathila kana zahuqan (Ya Tuhanku, masukkan aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkan (pula) aku ke tempat yang benar dan berikankah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat menolong (ku). Dan katakanlah, kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap. Sungguh yang batil itu pasti lenyap. (Quran: Al Isra 80-81).

Rabbi a’lam (Tuhan lebih dan paling tahu).

Astaghfirullah. Barokallahu li walakum.(*)

Referensi:
• Muhammad Husain Heikal, Sejarah Hidup Muhammad, Tintamas Indonesia 1978.
• Dr Ali Shariati, Haji, Penerbit Pustaka Bandung 1995.

• Sumber-sumber lain.

Anwar Hudijono
Sidoarjo, 15 Juli 2021

Haji Yang Tertunda Bersama Nabi (4)

Anwar Hudijono. (istimewa)

Oleh: Anwar Hudijono

Gagal melaksanakan haji adalah ujian terbesar. Kita merasa amat sangat berat sekali. Langkah kita dari Hudaibiya kembali ke Medinah tersendat-sendat seolah menyeret gunung. Nafas tersengal-sengal menanggung beban psikis yang sangat berat. Selaksa perasaan tak menentu beraduk-aduk dan mencengkeram.

Belum begitu jauh meninggalkan Hudaibiya, Allah menurunkan wahyu kepada Rasulullah.

“Sungguh, Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. Agar Allah memberikan ampunan kepadamu (Muhammad) atas dosa yang lalu dan yang akan datang, serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan menunjukimu ke jalan yang lurus. Dan agar Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).” (Quran: Al Fath 1-3).

Kita menjadi sangat bahagia. Hati berbunga-bunga. Sekarang kita yakin bahwa Perjanjian Hudaibiya adalah langkah benar Rasulullah. Strategi yang tidak tertandingi. Ini adalah tahap yang sangat penting dalam sejarah Islam.

Di antara kemenangan itu adalah Islam sudah diperhitungkan sebagai agama. Nabi berdiri sama tinggi dengan pemimpin Quraisy, tidak lagi dipandang sebagai pemberontak Quraisy. Islam leluasa berdakwah tanpa perlu khawatir diganggu Quraisy.

Kini sudah tidak ada lagi ancaman dari kawasan selatan Medinah. Selama ini Quraisy adalah ancaman terbesar di kawasan itu. Kini kaum muslimin bisa konsentrasi menghadapi musuh di sisi utara yaitu kaum Yahudi.

Permusuhan paling keras

Ya, Yahudi. Inilah musuh Islam terbesar sampai mereka kelak pasti dibinasakan oleh Allah di akhir jaman. Pasti.

“Pasti akan kamu dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang beriman, ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (Quran: Al Maidah 82).

Mereka dikalahkan Islam di Perang Ahzab (Sekutu) atau Perang Khandak tahun 4 Hijrah. Ditambah diusirnya dari Medinah beberapa kelompok Yahudi yaitu Banu Quraidza, Banu Nadzidr dan Banu Qainuga. Mereka diusir karena berkhianat hendak menusuk Islam dari dalam Medinah (peristiwa ini diabadikan di Quran surah Al Hasr). Yahudi kini menghimpun totalitas kekuatan di benteng Khaibar. Benteng termodern dan kuat.

Hanya sekitar dua pekan sepulang dari Hudaibiya, Nabi mengomando menyerbu Khaibar. Hanya mereka yang ikut ke Hudaibiya saja yang maju ke perang ditambah pasukan kavaleri. Tidak akan mendapat ghanimah atau pembagian pampasan perang. Ini benar-benar ujian, suka rela, sekaligus untuk menyalurkan semangat jihad yang masih berkobar di Hudaibiya.

Nabi memprioritaskan Yahudi karena mereka ini lebih kuat dari Quraisy karena mereka memiliki landasan agama. Mereka lebih cerdas. Mereka sangat mungkin akan membentuk konspirasi atau persekutuan jahat dengan penguasa Kristen Romawi, Kisra dari Persia dan kelompok-kelompok anti Islam yang lain.

Sebelumnya Yahudi bersekutu dengan Quraisy di perang Ahzab. Yahudi memang memiliki tabiat konspirasi dalam memusuhi Islam. (Monggo pelajari/ngaji Quran surah Al Maidah 51-83).

Memang tidak semua kaum Yahudi jahat, fasik, dhalim, kafir. Tetapi jumlah yang orang yang baik sangat sedikit sekali. “Dan mereka berkata bahwa hati kami telah tertutup. Tidak! Allah telah melaknat mereka itu karena keingkaran mereka. Tetapi sedikit sekali mereka yang beriman.” (Quran: Al Baqarah 88).

Sindiran Nabi Ya’kub

Sebenarnya bukan hanya Nabi Muhammad dan Islam yang dimusuhi. Semua Nabi dimusuhi, bahkan ada yang dibunuh. Mereka membohongi ayahnya yaitu Nabi Ya’kub. Mereka menganggap Nabi Ya’kub lemah akal. Menyumpahi ayahnya yang meski sudah tahu seorang Nabi.

“Mereka berkata, “Demi Allah, engkau tidak henti-hentinya mengingat Yusuf, sehingga engkau (mengidap penyakit) berat atau engkau termasuk orang-orang yang akan binasa.”

Bayangkan betapa keji dan durhakanya mereka bicara begitu ke ayahnya.

Mereka berusaha membunuh Yusuf. Itu pun masih ditambah menuduh Yusuf itu pencuri. Mereka diselamatkan Nabi Musa dari penindasan Firaun, tapi sebentar saja Musa dikhianati dengan menyembah patung anak sapi. Mereka inilah yang dikutuk Nabi Daud dan Nabi Isa sehingga mengalami pengusiran dan penghancuran dua kali dari negeri mereka.

Mereka menyembah iblis (setan). Mereka itu raja sihir tingkat global. Tapi biasa mereka ini pandai bersilat lidah. Memutar balik kata. Mereka yang tukang sihir tapi mesti menuduh Nabi tukang sihir. Mereka sudah biasa membunuh lantas bersumpah tidak melakukan.

Ya’kub menyindir mereka sebagai serigala. (Quran” Yusuf 13). Artinya bertabiat seperti serigala. Kejam dan menindas. Teror dan horor. Mereka adalah penguasa kegelapan. Mereka beroperasi secara rahasia. Tabiat serigala tidak akan bisa berubah sekalipun bisa saja mengalami evolusi. Sampai ada pepatah, biarpun serigala ganti mantel 100 kali sehari tapi tabiatnya tak berubah.

Allah menegaskan tabiat mereka yang tidak berubah itu dengan stigmasisasi anjing.
“…tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti keinginannya (yang rendah}, maka perumpamannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya dijulurkan lidahnya, dan jika kamu membiarkannya ia menjulurkan lidahnya (juga). (Quran: Al Araf 176).

Mereka mencoba membunuh saudara seayah yaitu Nabi Yusuf. (Awal sejarah kesesatan Yahudi bisa disimak di Quran Surah Yusuf. Surah sebanyak 111 ayat khusus menjelaskan soal itu).

Mereka berkonspirasi dengan penjajah Romawi hendak membunuh Isa bin Maryam. “Katakanlah (Muhammad), “Mengapa kamu dulu membunuh nabi-nabi Allah jika kamu orang-orang beriman?” (Quran: Al Baqarah 91).

Allah menegaskan, “Sangatlah buruk (perbuatan) mereka menjual dirinya dengan mengingkari apa yang diturunkan Allah karena dengki. Bahwa Alllah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka menanggung kemurkaan demi kemurkaan. Dan kepada orang-orang kafir (ditimpakan) azab yang menghinakan.” (Quran: Al Baqarah 90).

(Gambaran umum tentang sejarah, tabiat, dosa, perbuatan Yahudi sudah dijelaskan lengkap di Quran surah Al Baqarah 40 – 104. Monggo dikaji secara seksama. Insya Allah barokah).

Meracun Nabi

Alhamdulillah kaum mulimin menang dalam peperangan itu. Khaibar hancur. Kaum Yahudi diusir kecuali sejumlah orang yang mendapat ampunan dari Nabi.

Tapi dasar Yahudi, sudah diampuni pun masih berkhianat. Zainab binti Harist meracun Nabi dengan racun yang sangat keras lewat makanan yang disuguhkan. Nabi sempat memasukkan ke mulut kemudian memuntahkannya. Tapi dampaknya luar biasa. Sampai menjelang wafat, sakit akibat racun itu masih dirasakan Nabi.

Khaibar sudah dihancurkan. Mereka diusir secara besar-besaran seperti ketika mereka diusir Raja Nebukadnezar, dan Gubernur Titus dari Baitulmakdis. Yahudi yang di Kerajaan Samaria dibantai dan diusir sampai habis oleh Raja Assyur. Mereka juga ada yang dihukum dengan cara diisolasi oleh Zulkarnaen.

Sekalipun mereka sudah dikalahkan sampai remuk redam tapi mereka tidak akan pernah berhenti memerangi Islam. Tak akan surut tipu dayanya untuk menutup cahaya Islam.

“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya”. (Quran: As-Shaf 8).

Rabbi a’lam

“Rabbihkum bil haq, wa rabbunar-rohmanul musta’anu ala ma tashifun”.( Ya Tuhanku, berilah keputusan dengan adil. Dan Tuhan kami Maha Pengasih, tempat memohon segala pertolongan atas semua yang kamu katakan.”). Doa Nabi Muhammad yang diabadikan sebagai penutup Quran Surah Al Anbiya.

Referensi:
Muhammad Husain Heikal, Sejarah Hidup Muhammad, Tintamas Indonesia 1978.
Dr Ali Shariati, Haji, Penerbit Pustaka Bandung 1995.
ID Times
Dan sumber-sumber lain.

Haji Yang Tertunda Bersama Nabi (3)

Anwar Hudijono

Oleh: Anwar Hudijono

Sekembalinya Utsman bin Affan ke Hudaibiya, dilakukanlah perundingan antara Nabi dengan Quraisy. Dalam proses perundingan itu menunjukkan bahwa Nabi seorang diplomat, negosiator ulung. Beliau sabar, ulet, sangat cermat, visioner. Tidak hanya mengkalkulasi jangka pendek tetapi juga jangka panjang. Ibarat main catur, Nabi tidak hanya menyiapkan opsi delapan langkah ke depan seperti juara dunia, tapi menyiapkan opsi 700 langkah ke depan atau lebih.

Tim perunding Quraisy dipimpin Suhail bin Amr, seorang negosiator pilih tanding, bukan kaleng-kaleng. Quraisy menggunakan strategi pressing dengan target meraih keuntungan mutlak. Quraisy tetap menyiapkan opsi perang jika tidak menang mutlak pada perundingan.

Nabi menggunakan strategi longgar tapi semua terkalkulasi dengan detail. Kira-kira kalau dalam perang klasik itu disebut strategi perang Cakrabyuha. Dibiarkan lawan melakukan pfressing masuk ke lingkarannya. Begitu sudah di dalam diputar dan digilas. Tentu saja strategi demikian harus dilandasi kesabaran dan kecerdasan.

Sebagian kaum muslimin mulai ada yang tidak sabar. Maunya pilih opsi tunggal, tetap lanjut ziarah sekalipun dengan konsekuensi perang jika Quraisy tetap bersikeras menolak mereka ziarah ke Baitullah.

Abu Bakar As Shidiq merupakan prototipe yang mendukung perundingan untuk mencapai perdamaian. Menyerahkan sepenuhnya kepada Nabi. Sedang Umar bin Khattab merupakan prototipe pihak yang ingin jalan terus dengan konsekuensi hidup mulia atau mati syahid. Di kubu prototipe Umar ini juga ada yang lebih keras lagi yaitu yang sugih kendel bondho wani (kaya keberanian modal berani) tapi kurang perhitungan.

Umar menemui Abu Bakar membahas soal perundingan.
“Wahai Abu Bakar, bukankah kita ini muslimin,” kata Umar.
“Ya benar,” jawab Abu Bakar.
“Mengapa kita mau direndahkan dalam soal agama kita,” kata Umar.
“Umar, duduklah di tempatmu. Bukankah dia Rasululullah,” jawab Abu Bakar.

Umar tidak puas atas jabawan Abu Bakar. Maka dia pun menemui Nabi mengutarakan hal yang sama.

“Saya hamba Allah dan Rasul-Nya. Saya tidak akan melanggar perintah-Nya, dan Dia tidak akan menyesatkan saya,” jawab Nabi.

Nabi benar-benar menjunjukkan kesabaran tingkat langit, baik menghadapi Quraisy maupun umat muslimin. Sampai pada penulisan nakah perjanjian pun Nabi tetap sabar.

Suhail menolak kata bismillahir-rahmanir-rahim, dan kata Muhammad Rasulullah di dalam draft naskah perjanjian. Nabi dengan kalkulasinya sendiri bersedia mengganti dengan kata bismikallahumma (atas nama-Mu ya Allah). Muhammad Rasulullah diganti Muhammad bin Abdullah.

Perundingan itu berakhir dengan disahkannya dokumen Perjanjian Hudaibiya. Nabi dan Quraisy sepakat damai.

Terpecah-pecah

Sikap kaum muslimin terpecah-pecah. Banyak yang manut apa keputusan Nabi. Tapi juga ada yang merasa tidak puas dengan argumen masing-masing. Ya begitulah manusia. Pepatah Minang mengatakan lain lubuk lain pula ikannya. Artinya lain orang lain pula pikirannya. Petitih Jawa menyebut (maaf ini untuk 17 tahun plus): seje silit seje anggit.

Jadi di jaman Nabi pun sudah banyak orang yang keminter. Betapa tidak seolah merasa lebih pintar dari Nabi. Maka tidak perlu heran jika sekarang tambah nemen. Sampai disebut jaman sawo dipangan uler alias wong bodo rumangso pinter. Bahkan ditambah uler mangan sawo: wong pinter pilih dadi bodo.

Contohnya menyandang gelar akademis tertinggi malah pilih dadi buzzer. Wis ta angel .. angel ..

Contoh lagi, orang akademis tapi model berdebatnya model debat kusir. Adu kencang-kencangan urat leher. Banter-banteran ngomong. Kencang-kencangan nyemburkan ludah. Tajam-tajaman mendelik. Konyolnya lagi mau ditanggap untuk eyel-eyelan. Bukan mencari kebenaran ilmiah tapi mencari tepuk sorak.

Di jaman sawo dipangan uler dan uler mangan sawo, umat Islam sudah diingatkan di Al Quran surah Al Hujurat ayat 1-2 . Yang intinya jangan mendului Allah dan Rasul-Nya. Jangan bersuara lebih keras – merasa lebih pintar – dari Nabi.

(Monggo dipelajari secara seksama. Bahkan keseluruan surah itu mengandung pengajaran tentang komunikasi publik di akhir jaman seperti ayat 6 dan 7, 10-12. Daripada sibuk ngemedsos melulu, coba sisihkan waktu untuk mempelajari Quran. Sikik-sikik gak apa-apa. Insya Allah barokah).

Pertanda Umrah

Kita masih Hudaibiya. Ada kegelisahan yang menyeruak di kalangan kaum muslimin. Kita juga sedikit gelisah.

Kita melihat Nabi shalat dua rakaat. Beliau mulai menyembelih hewan kurbannya. Nabi mencukur rambutnya sebagai pertanda umrah sudah dimulai. Kaum muslimin mengikuti. Tapi banyak yang hanya menggunting rambutnya (sedikit).

Lantas Nabi berdoa, “Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada mereka yang mencukur rambut.”

Yang hanya menggunting sedikit rambutnya gelisah. Mengapa yang disebut hanya yang mencukur rambut.

“Ya Rasulullah mengapa yang disebut dalam doa hanya yang mencukur rambut.”

“Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada mereka yang mencukur rambut,” kata Nabi lagi.

Yang menggunting rambut semakin gelisah. Akhirnya Rasulullah juga menyebut “Juga yang menggunting rambut.”

“Mengapa yang doa yang diucapkan hanya untuk yang mencukur rambut?” tanya kaum muslimin.

“Karena mereka sudah tidak ragu-ragu,” jawab Nabi.

Kita bersama seluruh kafilah Nabi akhirnya meninggalkan Hudaibiya. Sebagian kaum muslimin masih diliput tanda tanya tentang Perjanjian Hudaibiya. Apa untungnya bagi kaum muslimin? Mengapa kita menyerahkan harga diri dinistakan kaum Quraisy? (Bersambung)

Referensi:
Muhammad Husain Heikal, Sejarah Hidup Muhammad, Tintamas Indonesia 1978.
Dr Ali Shariati, Haji, Penerbit Pustaka Bandung 1995.

Haji Yang Tertunda Bersama Nabi (2)

Anwar Hudijono. (Istimewa)


Oleh: Anwar Hudijono

Pasukan Quraisy sudah terlihat. Kita tidak gentar. Di antara kita malah sudah ada yang menghunus pedang siap mempertahankan diri. Kita tinggal menunggu aba—aba komando dari Nabi. Kita sami’na wa atha’na, mendengar dan patuh.

Nabi tetap tenang. Takut? Tentu tidak. Tapi Nabi konsisten dengan niat menunaikan haji. Bukan niat untuk berperang. Sementara Quraisy memang ingin pecah perang. Nabi tak mau masuk perangkap mereka. Tak mau menari di bawah genderang Quraisy.

Nabi memutuskan mencari jalan lain. Kita mengikuti beliau. Medan jalannya sangat berat. Melalui tebing batu karang yang curam. Kaum muslimin tidak ada yang mengeluh. Semua rasa payah tertutup oleh semangat yang tinggi dan ikhlas.

Tiba-tiba Al Qashwa berhenti dan berlutut. Muslimin menduga unta kesayangan Nabi ini kelelahan.

“Tidak. Dia ditahan oleh yang menahan gajah dulu dari Mekah. Setiap ada ajakan dari Quraisy dengan tujuan mengadakan hubungan kekeluargaan, tentu saya sambut,” sabda Nabi.

Kita tiba di Hudaibiya, daerah sebelah bawah Mekah. Nabi memerintahkan kita turun.

Di antara jamaah ada yang bertanya, “Ya Rasulullah, kalau pun kita turun di lembah ini tidak ada air.”

Kita melihat Nabi mengeluarkan anak panah dari tabungnya (bukan panah untuk perang). Menugaskan seorang sahabatnya agar memanah ke dasar sumur-sumur yang kering. Begitu dipanahkan, memancarlah air yang berlimpah. Kita semua lega.

Quraisy bingung

Quraisy bingung menghadapi langkah Nabi. Pasukan Khalid ditarik untuk disiagakan di Mekah. Quraisy mengutus Budail bin Warqa dari suku Khuza’a menemui Nabi. Kepada Budail Nabi menjelaskan tujuannya. Hanya ingin umrah atau haji. Tidak ingin berperang.

Budail melaporkan apa adanya ke Quraisy. Tapi dia malah dicurigai. Tak puas, kemudian Quraisy mengutus Hulais, pimpinan suku Ahabisy.

Saat Hulais tiba, Nabi menyuruh kita melepaskan hewan-hewan kurban agar terlihat oleh Hulais. Begitu melihat hewan kurban itu, hati Hulais yang memiliki dasar kegamaan jadi tergetar.

Dia kembali ke Quraisy dan meyakinkan bahwa tidak ada alasan yang benar untuk melarang Nabi ke Baitullah. Lagi-lagi Quraisy malah marah ke Hulais. Dan Hulais mengingatkan bahwa persekutuannya dengan Quraisy bukan untuk merintangi orang yang mau ziarah ke Baitullah.

Selanjutnya Quraisy mengutus Urwa bin Mas’ud Ath-Thaqafi. Ya Urwa menemui Nabi. Pendapat Urwa sama dengan delegasi sebelumnya.

“Saudara-saudara, saya pernah ketemu Kaisar Persia Kisra dan Negus. Tapi baru kali ini aku melihat hubungan seorang raja dengan rakyatnya seperti Muhammad dengan sahabat-sahabatnya. Ketika dia mau wudlu, mereka segera bergegas. Jika ada rambutnya yang rontok mereka mengambil dan menyimpannya. Pikirkanlah kembali baik-baik,” kata Urwa di hadapan majelis Quraisy.

Ikrar Baitul Ridzwan

Lama sekali Quraisy tidak mengirim delegasi. Giliran Nabi yang mengutus delegasi. Tetapi di tengah jalan, unta utusan Nabi ditikam. Bahkan utusan itu mau dibunuh tapi bisa diselamatkan Ahabisy.

Quraisy terus melakukan provokasi. Pada malam hari sebanyak 40 orang dari mereka melempari kemah kaum muslimin. Mereka ditangkap. Tapi Nabi memaafkan dan melepaskan mereka.

Nabi hendak mengutus Umar bin Khattab untuk menemui para pembesar Quraisy. “Ya Rasulullah saya khawatir Quraisy akan mengadakan tindakan kepada saya mengingat sudah tidak ada Bani Khattab yang melindungi saya. Quraisy tahu bagaimana permusuhan dan tindakan tegas saya kepada mereka. Saya menyarankan orang yang lebih baik dari saya yaitu Ustman bin Affan,” kata Umar.

Nabi setuju. Maka berangkatlah Utsman bin Affan yang juga menantu Nabi ini. Di Mekah Utsman melakukan negosiasi dengan penggede Quraisy seperti Abu Sufyan. Negosiasi berjalan sangat alot. Quraisy bersumpah tidak akan mengijinkan Nabi masuk Mekah dengan kekerasan tahun ini.

Umat muslimin gelisah. Kita juga resah. Memikirkan nasib Utsman. Karena sejak berangkat tidak ada kabar. Kaum muslimin khawatir Quraisy membunuhnya meskipun semua agama di Arab melarang membunuh di bukan suci dan di daerah Mekah. Mekah adalah milik semua. Kita mafhum Quraisy itu seperti serigala. Sadis, kejam.

Nabi memanggil para sahabat. Di bawah sebuah pohon kita bersama kaum mukminin berikrar siap berkorban jiwa raga untuk membalas setiap pengkhianatan Quraisy. Ikrar itu disebut Baitul Ridzwan. Dari alam bawah sadar, setiap kita memegang gagang pedang dengan niat meraih kemenangan atau mati di medan juang sebagai syahid.

Turunlah wahyu Allah. Kita mendengar dengan seksama ketika wahyu itu dibacakan junjungan kita Rasulullah.

“Sungguh, Allah telah meridhai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon. Dia mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka, lalu Dia memberikan ketenangan atas mereka dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat”. (Quran: Al Fath 18).

Demi mendengar wahyu itu, tanpa terasa air kita menetes. Dada kita menjadi longgar seperti terlepas dari himpitan batu sebesar gajah abuh.

Anwar Hudijono

Referensi:
Muhammad Husain Heikal, Sejarah Hidup Muhammad, Tintamas Indonesia 1978.
Dr Ali Shariati, Haji, Penerbit Pustaka Bandung 1995.

Haji Yang Tertunda Bersama Nabi (1)

Anwar Hudijono

Oleh: Anwar Hudijono

Di tengah pelaksanaan ibadah haji “bermasalah” di tengah pandemi Covid-19 ini tahun 2021, Anwar Hudijono, penulis yang tinggal di Sidoarjo mengajak pembaca untuk “bernostalgia” pada saat mengikuti haji pertama Rasulullah SAW setelah tinggal di Madinah sekitar 6 tahun.

Kisah Nabi bukanlah dongeng. Bukan fiksi. Bukan naskah sinetron. Sejarah Nabi adalah sumber pengajaran. Sumber hikmah. Sebagai pedoman dan peringatan umatnya.

Bagian pertama

Begitu Rasulullah mengumumkan kepada kaum muslimin bahwa tahun ini akan menunaikan haji ke Baitullah di Mekah, kita benar-benar gembira. Rasa bahagia ini tak bisa dinarasikan. Selain rindu Baitullah, kita golongan Muhajirin ini juga rindu sanak kerabat. Kengen rumah dan harta yang kita tinggal begitu saja ketika hijrah.

Sejak kita hijrah dari Mekah, kita terus menghadapi tugas berat. Perang Badar, Perang Uhud, Perang Ahzab. Kita menghadapi aksi-aksi kaum Yahudi Madinah yang tak henti-hentinya mencoba menggunting dalam lipatan. Gerakan rahasia konspirasi rahasia Yahudi – kaum Musyrik Quraisy untuk menghancurkan Islam. Ditambah manuver-manuver kaum munafikin Madinah yang terus mencoba memudarkan cahaya Islam.

Hari ini di bulan Zulkaedah tahun ke 6 Hijrah kita berangkat haji di antara 1.400 jamaah. Terdiri dari kita kaum Muhajirin termasuk Abu Bakar Ash-Sidiq, Umar binn Khattab, Usman bin Affan. Juga sahabat-sahabat kaum Anshar, dan sejumlah kafilah Arab yang belum masuk Islam.

Kesertaan kafilah belum Islam ini merupakan strategi Rasulullah agar agama Islam lebih terpandang di mata orang-orang Arab yang yang belum beriman. Kesertaan mereka juga jadi bukti bahwa umat Islam benar-benar niat haji. Tidak untuk perang. Hal ini akan melemahkan posisi kaum Qurais di mata bangsa lain jika sampai melarang karena berarti sebuah pelanggaran besar terhadap adat istiadat seuruh bangsa Arab. Haji adalah milik semua umat manusia.

Haji adalah memenuhi panggilan Nabi Ibrahim yang merenovasi Ka’bah bersama putranya, Ismail. Haji adalah sebuah contoh simbolis dari filsafat penciptaan Adam. Haji adalah evolusi manusia menuju Allah.

Pakaian Ihram

Sekarang kafilah haji berangkat bersama-sama. Dipimpin Rasulullah. Manusia kekasih Allah. Suri teladan terbaik. Pembawa rahmat bagi seluruh alam. Nabi mengajak istrinya, Ummu Salama.

Kita menyakiskan, Nabi kita mengenakan pakaian ihram yang berwarna putih. Pertanda bahwa kepergiannya untuk berziarah dan mengagungkan Baitullah. Bukan untuk perang.

“Teman-teman kita patuhi Rasulullah. Kita bulatkan niat haji. Untuk itu jangan ada di antara kita yang membawa senjata.”

Semua mengikutinya. Tidak ada yang membawa senjata kecuali pedang bersarung yang biasa dibawa orang-orang Arab ketika bepergian.

Arakan-arakan jamaah diawali oleh unta Nabi, Al Qashwa. Nabi membawa 70 ekor unta untuk kurban. Setelah menempuh perjalanan sepanjang 7 mil sampailah kita di Dzul Hulaifa. Kita menyiapkan kurban. Mengucapkan talbiah. Maka bergemalah talbiah dari jamaah seolah-olah menguncang bumi, meruntuhkan bukit-bukit pasir, menyeruak di antara batu-batu padang gurun.

Labbaikallahumma labbaik
Labbaika la syarika laka labbaik
Innal hamda wan-nikmata laka
wal mulk la syarikalak

Kafir Qurais Melarang

Berita tentang Nabi dan rombongannya telah sampai di kaum kafir Quraisy. Mereka sebenarnya sangat khawatir Nabi akan melakukan tipu muslihat agar bisa masuk Mekah. Mereka sadar jika sampai melarang, akan dikecam masyarakat di seluruh Arab dan bangsa lain. Karena ini bulan Zulkaedah yang merupakan bulan Haji, bulan yang diharamkan untuk perang.

Tapi Quraisy sudah gelap hati. Mereka nekad melarang. Untuk itu dikirimlah pasukan elite kavaleri sebanyak 200 tentara yang dipimpin Khalid bin Walid dan Ikrima bin Abu Jahal. Mereka bergerak mencegat Nabi di Dhu Tuwa terus bergerak lebih ke depan sampai di Kira’l-Ghamim.

Rombongan Nabi sudah sampai di daerah Usfan. Kita melihat Nabi bertemu dengan seorang suku Banu Ka’b. Orang itu menyampaikan informasi kepada Nabi bahwa pasukan Quraisy yang berpakaian kulit macan sudah bersumpah akan melarang Nabi melewati Kira’al-Ghanim alias melarang Nabi masuk Mekah.

Kita mendengar dengan seksama tatkala Nabi bersabda, “O.. kasihan Quraisy. Mereka sudah lumpuh karena peperangan. Apa salahnya jika mereka membiarkan saya dan orang-orang Arab lain itu.

“Kalau mereka membinasakan saya, itulah yang mereka harapkan. Dan kalau Tuhan memberi kemenangan kepada saya, mereka akan masuk Islam secara beramai-ramai. Tetapi jika itupun belum mereka lakukan, mereka pasti akan berperang. Sebab mereka mempunyai kekuatan. Quraisy mengira apa.

“Saya akan terus berjuang. Demi Allah. Atas dasar yang diutuskan Allah kepada saya sampai nanti Allah memberi kemenangan atau sampai leher ini putus terpenggal,” kata Nabi.

Anwar Hudijono

Referensi:
Muhammad Husain Heikal, Sejarah Hidup Muhammad, Tintamas Indonesia 1978.
Dr Ali Shariati, Haji, Penerbit Pustaka Bandung 1995.

Jelang Laga Final Euro 2020: Laga Para Aristokrat Bola

Yunan Syaifullah. (Istimewa)

Oleh: Yunan Syaifullah

BELENGGU dan kebekuan masa lalu seolah menjadi pemicu lahirnya generasi pemberontak. Generasi baru itu memiliki pengetahuan layaknya cendekia. Namun lebih dekat menjadi aristokrat.
Italia dan Inggris memiliki masa lalu yang menyakitkan. Keduanya pernah gagal lolos dalam Piala Dunia. Meski keduanya kiblat sepak bola dunia. Baik dari sisi sejarah maupun industrinya.

Kebekuan masa lalu memberikan pelajaran berharga bagi kedua Negara itu. Kegagalan masa lalu justru mampu melahirkan aristokrat baru di dunia bola.

Roberto Bagio, Paolo Maldini atau Andrea Pirlo adalah masa lalu. Sederet aristokrat bola Italia yang bisa disebut. Ataukah, David Beckham, Paul Gascoigne, Gary Lineker adalah aristokrat bola Inggris di masa lalu.

Aristokrat bola di masa lalu bermain bola dengan kejeniusan dan kecendekiaan yang dimiliki. Namun bukan sebagai pemberontak. Kalah menang bagi mereka dinilai akibat kurang jeniusnya bermain bola dari sisi pengetahuan dan lainnya.

Belenggu masa lalu yang menyakitkan itu terbukti mampu memadamkan daya nalar bola dibutuhkan daya dobrak pemikiran, untuk menggapai masa pencerahan (Aufklarung)
Aufklarung Bola membutuhkan intelektual pemberontak. Seorang intelektual, dirinya sekaligus cendikiawan senantiasa melakukan pemberontakan kepada kekuasaan, sebab keilmuan selalu berkembang dengan melakukan falsifikasi. Tidak jarang pemberontakan dalam dunia ilmu adalah refleksi dari pemberontakan atas kekuasaan, modal dan kebudayaan.

Seringkali, modal dan kebudayaan mengatur gerak ilmu pengetahuan untuk kepentingannya sendiri. Karena itu, ilmu pengatahuan seperti ilmu sosial tidak jarang menjadi rekayasa sosial untuk kepentingan capital, modal dan kebudayaan tertentu. Karena itu, pemberontakan dalam ilmu pengetahuaqn pada pemberontak pada kekuasaan, modal dan kebudayaan.

Dalam banyak hal, kekuasaan dan modal selaku memiliki ketakutan pada ilmuwan dan termasuk sastrawan. Keduanya tidak membunuh secara langsung pemegang otoritas kekuasaan, modal dan kebudayaan tetapi melalui kata dan kalimat yang keluar dari ilmuwan dan sastrawan bisa membunuh dan menganiaya para pemegang kuasa dan otoritas kekuasaan, modal dan kebudayaan.

Pada titik inilah, mengutip Dhakidae (2006) dalam Ilmu Sosial dan Kekuasaan di Indonesia mengatakan bahwa hampir tidak ada yang lebih menakutkan modal, kekuasaan dan kebudayaan daripada kata dan kalimat yang itu keluar dari cendekia.

Intelektual, seringkali tidak menyebut dirinya sebagai cendekiawan. Hal ini memiliki alasan bahwa sebutan cendekiawan hanya diberikan oleh orang lain untuk orang lain lagi, dan bukan penamaan diri sendiri.

Seorang Hary Kane, Raheem Sterling, Luke Shaw, Giorgio Chiellini ataukah Federico Chiesa tak menyebut dirinya adalah intelektual bola. Bahkan cendekia bola. Tetapi dalam dirinya adalah aristokrat bola yang memiliki benih sebagai pemberontak.

Karena itu, lapangan hijau bagai buku cerita yang tak pernah habis untuk diceritakan kembali. Andai ditulis kembali cerita itu tak cukup satu, dua halaman.

Seperti halnya aritokrat bola lapangan hijau, tak pernah ada habisnya untuk diceritakan. Bahkan, selalu bisa berlanjut dengan berbagai episode dan sudut pandang. Mulai dari, sisi lain nama, wajah,, sikap dan lainya.

Sepak bola mampu menyebarkan benih keterbukaan, kepedulian dan rasa memiliki antar pelaku maupun penikmatnya. Kondisi hal ini, sedikit banyak mampu membentuk karakter social suatu masyarakat.

Tidak salah bila kemudian hari ada ungkapan, Italia dan Inggris adalah masa depan, dan akan selalu hidup di masa depan tentang sepak bola.
Derbi klasik memang diwarnai banyak kisah menarik. Menjadi rugi untuk tidak disimak. Tidak hanya semata soal bola yang dimainkan di lapangan. Namun juga masalah di luar lapangan yang tidak berhubungan langsung dengan bola mampu memberikan andil tentang dinamika pertandingan.

Ribuan bahkan jutaan mata yang tertuju satu titik: Stadion Wembley London. sebagai saksi sejarah untuk memastikan pemberontakan para aristokrat bola dalam perang masa depan bola di laga Final Euro 2020.

Bisa jadi perang para pemberontakan dari aristokrat bola disertai berbagai kecemasan dan ketakutan yang menghinggapi banyak kalangan berkaitan dengan masalah pinggir lapangan. Masalah friksi dan konflik antar pendukung karena faktor sejarah masa lalu.

Masa lalu menyembul dan menjadi “heroism” baru untuk menggugurkan trauma dan kebencian yang ditujukan pada dunia bola bagi bangsanya.
Parade nasionalisme dalam laga final Euro 2020 menjadi perhatian dan perbincangan menarik dari banyak kalangan. Tidak hanya pelaku dunia sepak bola namun juga banyak pihak saling terkait.
Terlebih, secara masif, pekikan nasionalisme dengan segala rentetan polemik sebelum laga final itu ditayangkan secara terus menerus melalui media sosial, seperti Instagram, Twitter dan Facebook.

Pekikan nasionalisme yang diproduksi secara terus menerus di berbagai kanal televisi dan media sosial, secara tidak langsung mempengaruhi persepsi dan memori para aristokrat bola untuk dipaksa membuktikan perang di lapangan hijau dengan penuh harga diri dan martabat. Baik itu dengan nalar kritisnya maupun skeptis.

Kendati perang di lapangan hijau itu memungkinkan lahirnya krisis di lapangan hijau. Karena itu, krisis apapun bentuknya membawa pelajaran penting dan menarik bagi pengembangan pemikiran dan keilmuan. Terlebih akibat krisis yang dibawa serta dalam hal impak maupun dampaknya.

Dalam sepak bola, gol adalah pintu juara. Gol pembuka itulah, akhirnya bisa menyingkap tabir kecemasan dan ketakutan diri pemain kedua kesebelasan.

Semua pihak berharap Final Euro 2020 benar-benar ditutup senyum dan bahagia kolektif melalui permainan para aristokrat bola secara terhormat.
Para aristokrat bola itu apakah juara secara terhormat ataukah kalah terhormat!

Ringkasnya, hasil akhir dari laga Final Euro 2020 adalah perubahan dan kemajuan yang berujung pada kesejahteraan di dunia sepak bola.
Sepak bola diakui selalu dipenuhi dengan teka-teki. Namun, siapa sebenarnya yang dapat merebut hati publik bola di seluruh wilayah dan negara? Jawabannya tidak lain adalah Negara yang memenangkan peperangan laga Final Euro 2020.
Sepak bola memang ada kalah dan menang. Ketika, mengalami kekalahan ataupun masa-masa sulit dan penuh tekanan, seperti yang terjadi akhir-akhir ini menjelang kepastian juara tidak perlu dijadikan alasan untuk tidak bergembira.

Kegembiraan itu memang membawa pikiran dan perasaan santai. Faktor ini yang menjadi bukti: prestasi.

Publik bola tentunya tidak ingin langit yang membiru ini berubah menjadi kelam. Publik bola telah berusaha sekuat mungkin menjaga langit itu tetap berwarna biru dengan caranya masing-masing. Karena, birunya harapan telah menyatu padu untuk satu keinginan dan harapan.

Yunan Syaifullah
Penikmat Bola, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang

Di Tengah Covid, Pesantren Menjaga Budaya Belajar (bagian 3 Tamat)

Anwar Hudijono. (istimewa)

Oleh: Anwar Hudijono

Warga pesantren sudah mafhum betul, setiap menghadapi ujian itu yang jadi pegangan pokok adalah Al Quran dan Hadits. Di antaranya di Quran Surah Al Baqarah 152 – 157. Ujian itu bisa berupa ketakutan, kelaparan, kekurangan harta atau miskin, jiwa (sakit, mati), dan buah-buahan atau pangan.

Dimulai dengan rasa syukur dan jangan ingkar kepada Allah. Fadzkuruni adzkurkum wasykuri wala takfurun. Maka ingatlah kepada Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku. (Ayat 152).

Bersikap sabar dan melakukan shalat. Yakin Allah bersama orang yang sabar. Ending dari sabar dan shalat itu akan mendapat ampunan dan rahmat dari Allah. Dengan begitu termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.

Penyelenggaraan pendidikan di pesantren itu memiliki paradigma, asas atau khittah yang sangat kokoh yaitu sebagai pengamalan jihad fi sabilillah. Menjalankan perintah Allah untuk menyiapkan generasi beriman dan berilmu. Cerdas. Ulul albab. Ilmu yang dikembangkan adalah ilmu yang barokah. Hanya orang berilmu yang bisa memahami ayat-ayat Allah. Maka paketnya adalah iman-ilmu-amal sholeh.

Antitesisnya adalah setan yang suka kebodohan. Membikin manusia bodoh. Agar mudah ditipu. Dijerumuskan ke neraka jahanam.

Setan juga akan menutup orang berilmu dari iman sehingga ilmunya membawa kerusakan. Contohnya Qorun, orang cerdas. Dengan kecerdasannya menjadi kaya. Akhirnya termasuk golongan mufsidin (berbuat kerusakan di bumi).

Sistem pembelajaran pesantren sudah memiliki pedoman, khasanah sendiri dan teruji beradab-abad. Di antaranya tak bisa diganti dengan model pembelajaran virtual. Pendidikan pesantren sangat mengutamakan pembentukan sikap. Karakter. Ahlak. Sampai-sampai kitab Ta’lim al Muta’alim sebagai referensinya diajarkan sekitar dua tahun.

Pembentukan sikap tidak bisa dilakukan secara virtual. Melainkan harus dalam praktek kehidupan sehari-hari. Melalui pembiasaan. Seperti pembiasaan shalat jamaah, shalat tahajud, baca Quran, silaturahmi. Kedekatan personal santri dengan kiai. Jalinan hubungan batin yang intens. Sanftri magang kepada kiai. Santri yunior magang kepada santri senior. Dibingkai dalam jamaah. Tidak ada Islam tanpa jamaah. Tidak ada jamaah tanpa baiat (kesetiaan).

Maka proses pembelajaran di pesantren berlangsung 24 jam. Di situlah letak perannya sebagai penjaga dan pengembang budaya belajar.

Hidup normal

Praktis pesantren sudah kembali berpikiran sehat. Hidup normal. Dan ternyata thayib-thayib (baik-baik) saja. Pesantren tidak kiamat. Tidak jadi sumber bencana Covid-19.

Ingat, dulu setelah kasus Covid di Pesantren Temboro di awal Covid, disusul pesantren lain seperti Gontor, masyarakat pesantren diganyang, diharu-biru. Disalah-salahkan.

Tapi warga pesantren tetap sabar dan tenang-tenang saja. Ikhlas menerima. Dicaci maki, dipersekusi itu sudah konsekuensi ketika mencintai Allah. (Quran, Al Maidah 54).

Kalau ada yang terinfeksi Covid-19 ya diobati seperti halnya penyakit lain. Karena memang begitu petunjuk Islam. Sakit ya diobati. Diobati itu endingnya ada dua, sembuh atau mati. Gak ada yang luar biasa. Tidak ada kamus ending Covid-19 mesti mati. Tidak ada catatan ending bahwa batuk pilek encok wazir mesti berakhir sembuh.

Jika ada yang mati karena Covid-19 tetap dipandang peristiwa biasa. Diterima dengan ikhlas. Sudah takdir Allah. Pembaca Ratib Hadad pasti mafhum akan menerima takdir Allah yang baik maupun yang buruk.

Tidak kena Covid pun orang pasti mati. Orang tidur di kasur empuk di rumah saja juga bisa mati. Makan kerupuk keleleken toplesnya juga bisa mati. Ketiban paku juga bisa mati karena pakunya katutan beton cor. Orang pesantren mafhum sekali bahwa mati itu, baik waktu dan tempat, sudah menjadi takdir Allah.

Tidak peduli dengan narasi kasus Covid yang didramatisasi seperti film horor. Super mengerikan. Bahwa penderita Covid akan dikarantina di rumah sakit sendiri. Sejak berangkat dari rumah bisa tidak akan melihat keluarga lagi selamanya. Pemakamannya di tempat khusus. Dilakukan secara khusus dan penuh mistis.

Narasi atau framing seperti itu akan ditanggapi dengan santai, bahwa orang mau mati juga gak pernah mikir ada keluarga apa tidak. Merasakan sakaratul maut saja sudah luar biasa sakitnya, boro-boro mikir keluarga, apalagi mikir partai dan duit. Orang mati itu pasti sendirian. Anak istri/suami juga gak mau mengikuti.

Orang yang sudah mati juga gak ngurus apa dimakamkan di pemakaman umum atau di pemakaman khusus Covid-19. Memang kalau di pemakaman khusus pertanyaan kuburnya berbeda? Siksa kuburnya didiskon?

Kesabaran mereka itu seperti lautan. Diprovokasi, dijejali hoax, dipropaganda, didisinformasi tetap tak berubah.

Otoritas

Langkah pesantren ini, insya Allah sudah mengilhami banyak penyelenggara sekolah. Mereka semakin berakal sehat menyikapi Covid. Mempertanyakan yang disiplin prokes seperti Doni Monardo, Anies Baswedan, Khofifah juga kena Covid. Yang di pasar sehari-hari nyaris tanpa prokes tidak apa-apa. Yang sudah vaksin bisa terinfeksi. Terus apa?

Kok seperti gak pernah ada berita mall, café, sarana dugem jadi sarang Covid. Kalau ada sekolah atau pesantren yang kena, dunia maya seperti mau runtuh. Orang yang tidak percaya Covid terinfeksi jadi berita dahsyat. Orang yang percaya Covid dan terinfeksi senyap dari pemberitaan.

Diam-diam sudah banyak sekolah melakukan tatap muka. Wisuda sekolah pun dilakukan sembunyi-sembunyi. Ada yang pakai sistem drive thru. Sudah membuat festival. Dan itu bagus. Dan aman-aman saja.

Para guru sangat mafhum bahwa pendidikan tidak identik dengan sekolah. Sekolah tidak identik dengan kelas. Kelas tidak identik dengan sepetak ruang dengan papan tulis dan meja-kursi. Belajar biasa di mana saja. Jadwal bisa diatur. Di situlah mereka berkreasi untuk keluar dari ancaman matinya budaya belajar.

Penyelenggara sekolah, kepala sekolah para guru sebenarnya sudah mampu melepaskan diri dari cenkeraman Covid-19. Tapi masih ada yang mencekeram mereka yaitu pihak otoritas. Bisa itu yayasan, organisasi yang menaungi. Juga otoritas lain. Nah, siapa otoritas lain itu? Di sini saya juga bertakon-takon.

Konon sebenarnya sudah banyak yayasan dan organisasi yang sudah lepas dari cengkeraman paranoid pandemi Covid-19. Tapi mereka masih bersikap hati-hati dan bijaksana. Khususnya kalangan muslim. Sebab bisa muncul fitnah yang tak kalah dahsyat bahwa umat Islam itu melawan pemerintah. Tidak mau taat. Nah, akan menciptakan pandemi fobia Islam. Bisa menjadi pemantik dahsyat kerusakan sosial, bahkan negara.

Di banyak belahan dunia, kini dunia pendidikan banyak berharap kearifan otoritas. Sayangnya, kadang pendidikan itu justru berada di bawah orotitas subyek yang tidak paham pendidikan. Lebih peduli urusan uang dibanding sumber daya manusia. Yang paling tragis itu jika otoritas lebih percaya bahkan menghamba kepada artificial intelligent (AI) dibanding kemanusiaan.

Dan siapakah operator terbesar artificial intelligent global ini? Jangan tanya saya. Karena paling-paling akan saya jawab, “Embuuuh hahahaa.”

Teliti dulu

Di akhir tulisan ini, saya mohon pembaca tidak begitu saja setuju, like dan share tulisan ini. Hati-hati. Teliti dulu. Apalagi ini tulisan orang yang sangat awam.

Ini era disinformasi. Di ranah publik sudah tidak jelas mana hoax dan mana yang benar. Mana info palsu dan mana yang ori. Campur baur tidak keruan. Orang-orangnya pun juga tidak jelas mana yang fasik mana yang baik.

Kita harus belajar cerdas dan bijaksana menyikapi setiap informasi. Untuk itu, ikutilah petunjuk Allah dalam Quran surah Al Hujurat 6: “Wahai orang yang beriman jika orang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan) yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu”.

Astaghfirullahal adhim.

Rabbana atina min ladunka rahmah wa hayyiklana min amrina rosada. Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.” (Quran, Kahfi 10).

Rabbi a’lam (Tuhan lebih tahu).

Anwar Hudijono,
penulis tinggal di Sidoarjo.

Di Tengah Covid, Pesantren Menjaga Budaya Belajar (bagian 1)

Anwar Hudijono. (istimewa)

Oleh: Anwar Hudijono

Belum lama ini saya ngobrol dengan seorang pakar pendidikan. Dia adalah guru besar. Sangat mumpuni teori. Juga sudah terbukti menjadi penyelenggara pendidikan yang hebat. Saya tidak bisa sebut namanya karena memang diskusinya bersifat informal.

Dan saya juga harus menjaga ketenangannya. Karena saat ini tidak mudah menjadi orang yang bersikap benar. Berkata benar. Bertindak benar. Orang yang menyampaikan kebenaran justru akan dibuli, dicaci maki, dianggap bodoh, dibilang ngawur, asal njeplak, diposisikan yang salah.

Yang menuduh demikian yang sebenarnya justru bodoh, ngawur, asal mengo. Ini jaman sawo dipangan uler, wong bodo ngaku pinter. (Nah, jangan-jangan saya termasuk sawo dipangan uler, bahkan sawo bosok maneh). Jaman kewalik.

Saripatinya, dia melihat di tengah pandemi Covid-19 ini, pondok pesantren, sekolah Islam berasrama atau Islamic Boarding School (IBS), dan lembaga-lembaga pendidikan yang tetap melakukan proses belajar secara tatap muka sangat berhak disebut sebagai pejuang penjaga budaya belajar. Orang-orang yang berjuang untuk menyelamatkan budaya belajar.

Dampak negatif Covid-19 memang luar biasa. Salah satunya adalah terancamnya budaya belajar. Para pemangku kepentingan pendidikan mulai pelajar, guru, penyelenggara dan sebagainya kemungkinan bisa kehilangan gairah dan arah pendidikan.

Mulanya takut terinfeksi Covid-19. Terus bingung mau bagaimana. Terus bersikap biasa: ya sudah mau apa toh masih ada Covid. Dan akhirnya normal tanpa kegiatan belajar membelajarkan. Atau belajar tapi sekadar memenuhi syarat wajib. Sekadar topeng kalau proses belajar membelajarkan masih ada.

Lama-lama malah menjadi enjoy. Menikmati. Para pelajar enak karena tidak repot-repot bangun pagi, berangkat sekolah. Orang tua juga tidak repot menyediakan sangu, atau antar-jemput anaknya. Para guru juga enjoy karena tidak repot menyiapkan model satuan belajar (MSP). Tidak pusing menghadapi murid yang bermacam-macam tingkahnya. Tidak repot harus di sekolah sekian jam sehingga bisa lebih mengurus anak. Penyelenggara sekolah juga enjoy karena ada dana yang bisa dihemat.

Kegiatan proses belajar tatap muka nyaris lumpuh. Jika toh dicoba dipaksakan, ada suasana kebatinan yang mengganjal seperti ketakutan ada yang OTG (orang tanpa gejala). Jika ada yang sekadar batuk meski cuma karena tersedak, atau sambat agak pusing, langsung dicurigai kena Covid-19. Lantas wajib swab antigen. Jika masih negatif harus PCR. Berapa duit harus keluar?

Dalam suasana psikologis berbau paranoid demikian, tidak mendukung sama sekali proses pembelajaran bisa efektif. Para guru sangat mafhum, proses belajar harus berlangsung dalam suasana bahagia. Gembira. Semangat. Saling percaya.

Pembodohan

Dalam sistem belajar virtual nyaris tidak dimungkinkan mencakup afektif (sikap), psikomotoris (ketrampilan). Hanya mencakup kognitif (pengetahuan). Tapi itupun sama sekali tidak efektif. Seorang kepala SMA di Sidoarjo dalam suatu wisuda mengakui dengan jujur, proses belajar secara virtual ini tidak efektif.

Banyak aspek teknis yang membuat sistem virtual tidak efektif. Tidak sedikit murid yang tidak punya laptop. Kalau punya pun belum tentu bisa untuk zoom. Kendala internet lemot. Kendala listrik mati. Waktu belajar yang sangat pendek.

Akhirnya apa? Pelajar malah larut dalam konten-konten kepalsuan medsos. Bantuan pulsa bukan untuk belajar, tapi untuk tiktokan, medsosan, ngegame.

Kendala-kendala teknis ini lantas ditolerir dengan tetap memberi nilai rapor minimal sesuai standar KKM. Murid tetap diluluskan. Intinya, proses penilaian tidak memenuhi asas validitas, jujur dan obyektif. Belum lagi nilai asal-asalan bahkan abal-abalan yang menyangkut sikap dan ketrampilan.

Lantas apa yang terjadi? Lembaga pendidikan berpotensi bisa menjadi pusat persemaian kebohongan.

Apa lagi? Lembaga pendidikan berpotensi jadi pengembang-biakan kebodohan. Ini ironis.

Lantas apa lagi? Lembaga pendidikan berpotensi jadi lahan subur kemalasan.

Astaghfirullahal adhim.
Rabbi a’lam (Tuhan lebih tahu).

Anwar Hudijono,
penulis tinggal di Sidoarjo.

Mimpi Sang Penakluk

Yunan Syaifullah

Oleh: Yunan Syaifullah

Burak Yilmaz, kapten Turki, seolah menjelma dan membayangkan dirinya adalah sosok Muhammad Al Fatih, Pangeran Muda Turki yang dikenal dengan Sang Penakluk dalam sejarah Otsmania klasik takkala memasuki Stadion Olympico Roma untuk menghadapi Italia dalam laga perdana Euro 2021.
Sang kapten, meski tak lagi muda, usianya sudah 35 tahun, laga dengan Italia dimaknai sebagai laga hidup mati. Bukan masalah kemenangan yang tertanam dalam pikirannya. Namun laga itu sudah dianggap sebagai laga harga diri sebagai bangsa Turki.

Sultan Mehmed II, nama aslinya Muhammad Al Fatih, Pangeran Muda Turki yang memimpin dan menaklukan Konstantinopel kala itu berada pada usia 25 tahun.

Takluknya Konstantinopel dan Sang Penakluk telah menjadi cerita suksses bagi bangsa Turki yang telah menjiwai seluruh rakyat Turki di kemudian hari. Termasuk bagi pesepak bola Turki dan Tim Nasional Turki.

Sang Penakluk memberikan pelajaran berarti tentang cita-cita dan kedaulatan. Keduanya bagi Sultan Mehmet II adalah harga diri. Jatuhnya Konstantimopel adalah jatuhnya hegemoni —dari sesuatu yang besar secara ekonomi dan politik. Begitu Konstantinopel jatuh, tak lama lagi terlahir negeri Otsmania, kelak kita kenal sebagai Turki, sebagai sinar baru bagi masyarakat Otsmania dalam berbangsa dan bernegara.

Praktek hegemoni bangsa Romawi — mewakili bangsa yang besar secara ekonomi politik terhadap bangsa dan Negara kecil menjadi api kebencian dan amarah Sultan Mehmet II untuk diperangi.
Turki seolah diposisikan sebagai bangsa dan Negara kecil, yang layak menjadi korban eksploitasi bangsa besar.

Sejarah Sang Penakluk, kemudian hari yang menjadi api semangat bagi bangsa Turki untuk membuat sejarah peradaban dunia.

Semangat dan cita-cita itulah yang tertanam dan ditunjukkan Tim nasional Turki.

Dalam percaturan sepak bola dunia, Turki bukan menjadi halaman sejarah dunia yang ditengok. Sepak Bola Turki dianggap negara kecil yang tidak memiliki kekuatan dan daya saing dalam soal sepak bola.

Industri sepak bola dimiliki negara-negara pewaris Konstantinopel hingga saat ini.
Realitas yang selalu tidak berpihak kepada Sepak Bola Turki. Kondisi hal itu bukan malah mematikan dan menyurutkan Sepak Bola Turki. Senantiasa diposisikan yang lemah (underdog) dalam kurun waktu lama. Dunia terkaget dan harus mengakui kehebatan Turki takkala Piala Dunia 2002 yang mampu menempati posisi ketiga.

Semenjak 2002, Turki tidak lagi diremehkan dalam perhelatan sepak bola dunia. Negara manapun ketika berjumpanya harus berpikir serius.
Bagi pesepak bola Turki, pertandingan dengan siapapun senantiasa dimaknai sebagai pertarungan harga diri sebagai bangsa. Dirinya bermain sepak bola bukan untuk kepentingan pribadinya. Namun dirinya adalah cermin bangsa. Sebuah bangsa yang terbangun karena harga diri.

Karena itu, Burak Yilmaz, sang kapten Turki meski telah berusia 35 tahun rela memberikan segalanya yang terbaik untuk negaranya. Demi harga diri bangsa.

Cita-cita, harga diri dan Semangat Sang Penakluk berkumpul menjadi satu sebagai mimpi kolektif untuk mengulangi cerita sukses Piala Dunia 2002. Kendati Pasukan Tim Nasional Turki 2021 yang diturunkan adalah sebagian besar sudah melewati usia emas.

Sepak bola sesungguhnya tidak berdiri tunggal dengan masalah dan aspek sosial lainnya. Karena itu, mimpi dan semangat Burak Yilmaz dalam laga tersebut menarik dipelajari. Sepak bola bukan masalah lapangan hijau.
Lapangan hijau ternyata bisa dan mampu melahirkan benih nasionalisme.
Parade nasionalisme di lapangan hijau menjadi perhatian dan perbincangan menarik dari banyak kalangan. Tidak hanya penonton dan penikmat bola. Terlebih, secara masif, pekikan nasionalisme itu ditayangkan secara live dan terus menerus. Tidak hanya, siaran langsung pertandingan bola di salah satu stasiun televisi. Tetapi juga masuk dalam postingan yang tertib dan teratur di media sosial, seperti Instagram dan Facebook.

Pekikan nasionalisme yang diproduksi secara terus menerus di berbagai kanal televisi dan media sosial, secara tidak langsung mempengaruhi persepsi dan memori para insan bola untuk dipaksa memperbincangkan. Baik itu dengan nalar kritisnya maupun skeptis.

Realita hal itu menjadi wajar dan logis. Apabila dikaitkan dengan data statistik pengguna Instagram dunia pada periode 2018 telah menyentuh angka 800 juta orang. Peringkat tertinggi, di Amerika Serikat yakni 110 juta pengguna. Nomor dua tertinggi adalah Brazil sebesar 57 juta pengguna. Menariknya, peringkat ketiga justru diraih dan ditempati Indonesia, yakni sebesar 55 juta pengguna. (databoks.katadata.co.id, 2019)

Media sosial adalah ruang yang bisa dan mampu untuk mendekatkan yang jauh menjadi lebih dekat. Intensitas komunikasi dan distribusi informasi makin dipermudah dan tinggi.

Tidak sedikit dari total populasi pengguna Instagram, kasus di Indonesia, bukan hanya pengguna perorangan tetapi juga korporasi. Termasuk para penonton bola, pemain bola, para insan bola dan korporasi yang berhubungan langsung dan tidak langsung dari lapangan hijau.
Pekikan nasionalisme dari lapangan hijau dalam waktu singkat dan cepat menjadi perbincangan menarik pecinta bola.

Menariknya, pekikan nasionalisme dari lapangan hijau yang kini sedang berlangsung dalam Euro 2021 itu telah mengarah dan menyembul menjadi heroisme baru untuk menggugurkan trauma dan kebencian yang diarahkan kedalam lapangan hijau.
Sepak bola, harus diakui, telah menjadi kecintaan bagi banyak kalangan. Sepak bola bahkan telah dan mampu menjelma menjadi ideologi untuk kemanusiaan.

Di sisi lain, sepak bola, juga mampu melahirkan kegilaan. Praktek kegilaan itulah yang menghasilkan konflik kepentingan yang tidak berujung. Kepentingan yang tidak mampu dipenuhi bisa jadi menimbulkan kebencian yang tidak pernah selesai.

Meski, hari ini, kegilaan dan konflik kepentingan dalam lapangan hijau jauh berkurang karena adanya globalisasi ekonomi yang telah menyentuh lapangan hijau.

Tehnologi yang dibawa serta globalisasi ekonomi kini mengubah wajah sepak bola. Seluruh pihak bisa mengkritisi dan mengamati dengan lebih rinci dan detail segala sesuatu yang berhubungan dengan sepak bola.

Migrasi pemain sepak bola dari negara kecil dan terbelakang menuju ke negara yang menjadi raksasa bola, makin mudah dan tinggi tingkatnya. Bahkan menjadi idola baru di lapangan hijau di negara tujuan. Seperti George Weah dan masih banyak lainnya.

Sepak bola membuat setiap orang mudah merasa antusias. Kompetisi sepak bola adalah tempat untuk bermimpi indahnya bagi seluruh komponen bola. Mulai dari pemain, penonton, wasit hingga korporasi.

Akan tetapi, yang perlu dipahami dalam memahami mimpi itu adalah terjadinya pertautan kultural yang tidak mudah. Meski bila berhasil menggabungkan pertautan kultural itu bisa menjadi kekuatan luar biasa.

Seorang João Ramos do Nascimento, yang dijuluki Dondinho, adalah pesepakbola Brasil yang bermain sebagai penyerang tengah. Dia adalah ayah, mentor dan pelatih dari legenda Brazil, Pelé pernah berujar pada sang Anak, mimpi pesepak bola bisa jatuh bila dalam diri pesepak bola tidak memiliki keyakinan dan semangat untuk maju dalam merebut mimpi.

Cerita ini bisa kita peroleh dalam film biopic yang berjudul Pele: Birth of a Legend (2016)

Pojok Pustaka, 12/06/2021

Yunan Syaifullah
Penikmat Bola, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang