01 December 2022
01 December 2022
22.5 C
Malang
ad space

Di Tengah Covid, Pesantren Menjaga Budaya Belajar (bagian 2)

Anwar Hudijono. (Istimewa)

Oleh: Anwar Hudijono

Ketika pertama kali Covid-19 muncul, seperti masyarakat pada umumnya, ada kalangan pesantren yang sempat kaget dan panik. Itu manusiawilah. Nabi Musa saja sempat takut dan panik ketika baru melihat ular-ular tukang sihirnya Firaun.

Tapi setelah mendapat petunjuk Allah bahwa ular-ular itu hanya tipuan, halusinasi, tidak nyata, Musa tenang. Dan meneruskan jihadnya menyampaikan risalah Allah kepada Firaun. Dan Musa menang.

Malah ada seorang kiai sepuh di daerah Nganjuk yang sejak awal bersikap tenang. Seperti tenangnya gunung tatkala diterpa angin. Menyatakan Covid-19 tidak ada. Blak-blakan saja saya semula menganggap Mbah Kiai ini sekadar anti-mainstream. Kurang informasi. Gagal paham.
Tapi lama-lama saya jadi mikir, jangan-jangan maksud kalimat “Covid-19 tidak ada” ini antara Mbah Kiai dengan saya berbeda. Jangan-jangan karena instrumen yang digunakan Mbah Kiai berbeda dengan yang saya pakai. Mbah Kiai melihat Covid ini dengan mata batin (bashirah), sementara saya ini memahami dengan mata handphone.

Saya mulai mikir, jangan-jangan justru saya ini yang gagal paham bin keblinger karena terlalu banyak membaca, melihat informasi tentang Covid-19. Ini bukan era informasi tapi disinformasi. Jangan-jangan yang saya baca, lihat dengarkan melalui medsos, media mainstream itu disinformasi. Yang saya anggap benar sebenarnya palsu. Dan yang saya anggap palsu justru benar. Campuran hoax dan fakta. Tidak jelas mana yang benar dan mana yang palsu. Sudah bercampur baur yang hak dan yang batil. Dalam istilah fiqih disebut syubhat. Kira-kira artinya remang-remang.

Saya mulai mikir lagi Hadits Rasulullah: “Sungguh demi Allah. Ada sesorang mendatangi dalam keadaan mengira bahwasanya dia itu beriman. Namun, pada akhirnya malah menjadi pengikutnya disebabkan syubhat-syubhat yang dia (Dajjal) sampaikan. (HR Ahmad). (A’udzubika min syarri masihid-dajjal.)

Ingat Mbah Kiai ini saya jadi ingat Nabi Hidlir. (Bukan bermaksud menjustifikasi Mbah Kiai ini seperti Hidlir). Hidlir tinggal sendirian di pertemuan dua samudera. Tidak pernah ke kota. Tapi dia mengetahui pemilik rumah reyot yaitu dua orang anak yatim anak orang saleh. Di dalam tanag di bawah rumah itu tersimpan harta karun. Musa yang menggunakan mata eksternal tidak mengetahuinya.

Hidlir tidak pernah bergaul dengan para nelayan, tetapi paham betul ada penguasa dzalim yang hendak merampas perahu para nelayan itu. (Pelajaran dari Allah itu implisit di dalam kisah Musa-Hidlir yang tertuang di dalam Quran, Kahfi 60-82).

Mbah Kiai ini mungkin memang tidak gaul luas. Mungkin juga gak androidan. Dia ahli tarekat. Insya Allah dzikir mengalir bersama desah nafasnya. (Nyuwun pengapunten Mbah Kiai. Saya sudah keminter, sok pintar dan sok tahu. Musa dulu juga sok keminter kepada Hidlir hahaha.)

Ujian dari Allah

Ketakutan kalangan pesantren tidak berlangsung lama. Ibarat orang diterjang banjir, setelah sempat tergagap beberapa bentar mereka segera memegang akar yang kuat untuk menyelamatkan diri. Akar itu adalah Quran dan Hadits. Kesimpulannya, Covid-19 ini ujian dari Allah. Untuk menyeleksi hamba-Nya.

“Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.” (Quran, Al Muluk 2).

Covid-19 ini bisa saja tidak bersifat natural seperti angin yang merobohkan rumah. Tapi, hasil konspirasi setan (jin dan manusia) – misalnya dengan melalukan rekayasa genetika atau semacam senjata biologi. Tetapi tetap saja bisa terjadi atas ijin Allah. Bi idznillah. Tanpa ijin Allah semuanya mustahil terjadi. Dan Allah menggunakannya untuk menguji manusia.

Referensinya adalah Nabi Ayub diuji Allah dengan mengijinkan setan menginfeksikan penyakit ke tubuh Ayub. Efeknya penyakitnya jauh lebih dahsyat dibanding Covid-19. Betapa tidak, hampir seluruh tubuh Ayub berborok yang bernanah, dirubung set.

Ada lagi. Setan membunuh anak-anak Ayub. Iblis membakar pertanian Ayub sampai kekurangan pangan. Jatuh miskin. Belum cukup? Masih ditambah istrinya ngambek. Lengkap pol ujian untuk Ayub.

“Dan ingatlah ketika hamba Kami Ayyub ketika dia menyeru Tuhannya, sesungguhnya aku diganggu setan dengan penderitaan dan bencana”. (Quran, Shad 41).

Dalam ayat itu Ayub jelas menyebut setan. Dan setan itu terdiri dari dua golongan yaitu jin dan manusia. Jin dan setan bisa saja berkonspirasi menganiaya Ayub.
Ayub lulus dari ujian yang sangat berat itu. Dan Allah menghargai dengan karunia yang sangat besar.

“Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan Kami lipatgandakan jumlah mereka, sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang berpikiran sehat”. (Quran, Shad 43).

Warga pesantren sudah mafhum betul, setiap menghadapi ujian itu yang jadi pegangan pokok antara lain Quran Surah Al Baqarah 152 – 157. Ujian itu bisa berupa ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa (sakit, mati), dan buah-buahan.

Dimulai dengan rasa syukur. Bersikap sabar dan shalat. Yakin Allah bersama orang yang sabar. Jika mati ketika menghadapi ujian, maka termasuk jihad fi sabilillah. Ending dari sabar dan shalat itu akan mendapat ampunan dan rahmat dari Allah. Dengan begitu termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.

Penyelenggaraan pendidikan di pesantren itu memiliki paradigma, asas dasar yang sangat kokoh yaitu sebagai jihad fi sabilillah. Menyiapkan generasi berilmu. Cerdas. Ulul albab. Ilmu yang dikembangkan ilmu yang barokah. Hanya orang berilmu yang bisa memahami ayat-ayat Allah. Bukan ilmu yang diperlakukan seperti komoditas.

Model virtual

Sistem pembelajaran pesantren sudah memiliki pedoman, khasanah sendiri dan teruji. Di antaranya tak bisa diganti dengan model pembelajaran virtual. Pendidikan pesantren sangat mengutamakan pembentukan sikap. Karakter. Ahlak. Sampai-sampai kitab Ta’lim al Muta’alim diajarkan sekitar dua tahun.

Pembentukan sikap tidak bisa dilakukan secara virtual. Melainkan harus dalam praktek kehidupan sehari-hari. Melalui pembiasaan. Seperti pembiasaan Shalat jamaah, shalat tahajud, baca Quran, silaturahmi. Kedekatan personal santri dengan kiai. Jalinan hubungan batin yang intens.

Maka proses pembelajaran di pesantren berlangsung 24 jam. Di situlah letak perannya sebagai penjaga dan pengembang budaya belajar.

Praktis pesantren sudah kembali berpikiran sehat. Hidup normal. Dan ternyata thayib-thayib (baik-baik) saja. Kalau ada yang terinfeksi Covid-19 ya diobati seperti halnya penyakit lain. Sakit itu protapnya kalau tidak sembuh ya mati. Gak ada yang luar biasa.

Jika ada yang mati tetap dipandandang peristiwa biasa. Sudah takdir Allah. Tidak kena Covid pun orang pasti mati. Orang tidur di kasur empuk di rumah saja juga bisa mati. Lagi makan pecel di warung juga bisa mati setelah ada truk yang nyelonong nabrak.

Soal di-branding mati tanpa ditunggui keluarga, pemakamannya secara khusus dan terkesan mengerikan, akan dijawab orang mati itu pasti sendirian. Anak istrinya juga gak mau mengikuti. Orang mau mati juga gak pernah mikir ada keluarga apa tidak. Merasakan sakaratul maut saja sudah luar biasa sakitnya, boro-boro mikir partai, keluarga.

Kesabaran mereka itu seperti lautan. Diprovokasi, dijejali hoax, dipropaganda, didisinformasi tetap tak berubah.

Langkah pesantren ini, insya Allah sudah mengilhami banyak penyelenggara sekolah. Diam-diam sudah banyak sekolah melakukan tatap muka. Wisuda sekolah pun dilakukan sembunyi-sembunyi. Ada yang pakai sistem drive thru. Sudah membuat festival. Dan itu bagus. Dan aman-aman saja.

Penyelenggara sekolah, kepala sekolah para guru sebenarnya sudah mampu melepaskan diri dari cenkeraman Covid-19. Tapi masih ada yang mencekeram mereka yaitu pihak otoritas. Bisa itu yayasan dan organisasi yang menaungi. Juga otoritas lain (sampai di sini saya lupa dan mrinding).

Kadang pendidikan itu berada di bawah orotitas subyek yang tidak paham pendidikan. Lebih peduli urusan uang dibanding sumber daya manusia. Yang paling tragis itu jika otoritas lebih percaya bahkan menghamba kepada artificial intelligent (AI) dibanding kemanusiaan. Dan kita tahu siapa operator terbesar AI global ini.
Astaghfirullahal adhim.

Rabbana atina min ladunka rahmah wa hayyiklana min amrina rosada. Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.” (Quran, Kahfi 10).
Rabbi a’lam (Tuhan lebih tahu).

Anwar Hudijono,
penulis tinggal di Sidoarjo.

Haji Yang Tertunda Bersama Nabi (3)

Anwar Hudijono

Oleh: Anwar Hudijono

Sekembalinya Utsman bin Affan ke Hudaibiya, dilakukanlah perundingan antara Nabi dengan Quraisy. Dalam proses perundingan itu menunjukkan bahwa Nabi seorang diplomat, negosiator ulung. Beliau sabar, ulet, sangat cermat, visioner. Tidak hanya mengkalkulasi jangka pendek tetapi juga jangka panjang. Ibarat main catur, Nabi tidak hanya menyiapkan opsi delapan langkah ke depan seperti juara dunia, tapi menyiapkan opsi 700 langkah ke depan atau lebih.

Tim perunding Quraisy dipimpin Suhail bin Amr, seorang negosiator pilih tanding, bukan kaleng-kaleng. Quraisy menggunakan strategi pressing dengan target meraih keuntungan mutlak. Quraisy tetap menyiapkan opsi perang jika tidak menang mutlak pada perundingan.

Nabi menggunakan strategi longgar tapi semua terkalkulasi dengan detail. Kira-kira kalau dalam perang klasik itu disebut strategi perang Cakrabyuha. Dibiarkan lawan melakukan pfressing masuk ke lingkarannya. Begitu sudah di dalam diputar dan digilas. Tentu saja strategi demikian harus dilandasi kesabaran dan kecerdasan.

Sebagian kaum muslimin mulai ada yang tidak sabar. Maunya pilih opsi tunggal, tetap lanjut ziarah sekalipun dengan konsekuensi perang jika Quraisy tetap bersikeras menolak mereka ziarah ke Baitullah.

Abu Bakar As Shidiq merupakan prototipe yang mendukung perundingan untuk mencapai perdamaian. Menyerahkan sepenuhnya kepada Nabi. Sedang Umar bin Khattab merupakan prototipe pihak yang ingin jalan terus dengan konsekuensi hidup mulia atau mati syahid. Di kubu prototipe Umar ini juga ada yang lebih keras lagi yaitu yang sugih kendel bondho wani (kaya keberanian modal berani) tapi kurang perhitungan.

Umar menemui Abu Bakar membahas soal perundingan.
“Wahai Abu Bakar, bukankah kita ini muslimin,” kata Umar.
“Ya benar,” jawab Abu Bakar.
“Mengapa kita mau direndahkan dalam soal agama kita,” kata Umar.
“Umar, duduklah di tempatmu. Bukankah dia Rasululullah,” jawab Abu Bakar.

Umar tidak puas atas jabawan Abu Bakar. Maka dia pun menemui Nabi mengutarakan hal yang sama.

“Saya hamba Allah dan Rasul-Nya. Saya tidak akan melanggar perintah-Nya, dan Dia tidak akan menyesatkan saya,” jawab Nabi.

Nabi benar-benar menjunjukkan kesabaran tingkat langit, baik menghadapi Quraisy maupun umat muslimin. Sampai pada penulisan nakah perjanjian pun Nabi tetap sabar.

Suhail menolak kata bismillahir-rahmanir-rahim, dan kata Muhammad Rasulullah di dalam draft naskah perjanjian. Nabi dengan kalkulasinya sendiri bersedia mengganti dengan kata bismikallahumma (atas nama-Mu ya Allah). Muhammad Rasulullah diganti Muhammad bin Abdullah.

Perundingan itu berakhir dengan disahkannya dokumen Perjanjian Hudaibiya. Nabi dan Quraisy sepakat damai.

Terpecah-pecah

Sikap kaum muslimin terpecah-pecah. Banyak yang manut apa keputusan Nabi. Tapi juga ada yang merasa tidak puas dengan argumen masing-masing. Ya begitulah manusia. Pepatah Minang mengatakan lain lubuk lain pula ikannya. Artinya lain orang lain pula pikirannya. Petitih Jawa menyebut (maaf ini untuk 17 tahun plus): seje silit seje anggit.

Jadi di jaman Nabi pun sudah banyak orang yang keminter. Betapa tidak seolah merasa lebih pintar dari Nabi. Maka tidak perlu heran jika sekarang tambah nemen. Sampai disebut jaman sawo dipangan uler alias wong bodo rumangso pinter. Bahkan ditambah uler mangan sawo: wong pinter pilih dadi bodo.

Contohnya menyandang gelar akademis tertinggi malah pilih dadi buzzer. Wis ta angel .. angel ..

Contoh lagi, orang akademis tapi model berdebatnya model debat kusir. Adu kencang-kencangan urat leher. Banter-banteran ngomong. Kencang-kencangan nyemburkan ludah. Tajam-tajaman mendelik. Konyolnya lagi mau ditanggap untuk eyel-eyelan. Bukan mencari kebenaran ilmiah tapi mencari tepuk sorak.

Di jaman sawo dipangan uler dan uler mangan sawo, umat Islam sudah diingatkan di Al Quran surah Al Hujurat ayat 1-2 . Yang intinya jangan mendului Allah dan Rasul-Nya. Jangan bersuara lebih keras – merasa lebih pintar – dari Nabi.

(Monggo dipelajari secara seksama. Bahkan keseluruan surah itu mengandung pengajaran tentang komunikasi publik di akhir jaman seperti ayat 6 dan 7, 10-12. Daripada sibuk ngemedsos melulu, coba sisihkan waktu untuk mempelajari Quran. Sikik-sikik gak apa-apa. Insya Allah barokah).

Pertanda Umrah

Kita masih Hudaibiya. Ada kegelisahan yang menyeruak di kalangan kaum muslimin. Kita juga sedikit gelisah.

Kita melihat Nabi shalat dua rakaat. Beliau mulai menyembelih hewan kurbannya. Nabi mencukur rambutnya sebagai pertanda umrah sudah dimulai. Kaum muslimin mengikuti. Tapi banyak yang hanya menggunting rambutnya (sedikit).

Lantas Nabi berdoa, “Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada mereka yang mencukur rambut.”

Yang hanya menggunting sedikit rambutnya gelisah. Mengapa yang disebut hanya yang mencukur rambut.

“Ya Rasulullah mengapa yang disebut dalam doa hanya yang mencukur rambut.”

“Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada mereka yang mencukur rambut,” kata Nabi lagi.

Yang menggunting rambut semakin gelisah. Akhirnya Rasulullah juga menyebut “Juga yang menggunting rambut.”

“Mengapa yang doa yang diucapkan hanya untuk yang mencukur rambut?” tanya kaum muslimin.

“Karena mereka sudah tidak ragu-ragu,” jawab Nabi.

Kita bersama seluruh kafilah Nabi akhirnya meninggalkan Hudaibiya. Sebagian kaum muslimin masih diliput tanda tanya tentang Perjanjian Hudaibiya. Apa untungnya bagi kaum muslimin? Mengapa kita menyerahkan harga diri dinistakan kaum Quraisy? (Bersambung)

Referensi:
Muhammad Husain Heikal, Sejarah Hidup Muhammad, Tintamas Indonesia 1978.
Dr Ali Shariati, Haji, Penerbit Pustaka Bandung 1995.

Di Tengah Covid, Pesantren Menjaga Budaya Belajar (bagian 1)

Anwar Hudijono. (istimewa)

Oleh: Anwar Hudijono

Belum lama ini saya ngobrol dengan seorang pakar pendidikan. Dia adalah guru besar. Sangat mumpuni teori. Juga sudah terbukti menjadi penyelenggara pendidikan yang hebat. Saya tidak bisa sebut namanya karena memang diskusinya bersifat informal.

Dan saya juga harus menjaga ketenangannya. Karena saat ini tidak mudah menjadi orang yang bersikap benar. Berkata benar. Bertindak benar. Orang yang menyampaikan kebenaran justru akan dibuli, dicaci maki, dianggap bodoh, dibilang ngawur, asal njeplak, diposisikan yang salah.

Yang menuduh demikian yang sebenarnya justru bodoh, ngawur, asal mengo. Ini jaman sawo dipangan uler, wong bodo ngaku pinter. (Nah, jangan-jangan saya termasuk sawo dipangan uler, bahkan sawo bosok maneh). Jaman kewalik.

Saripatinya, dia melihat di tengah pandemi Covid-19 ini, pondok pesantren, sekolah Islam berasrama atau Islamic Boarding School (IBS), dan lembaga-lembaga pendidikan yang tetap melakukan proses belajar secara tatap muka sangat berhak disebut sebagai pejuang penjaga budaya belajar. Orang-orang yang berjuang untuk menyelamatkan budaya belajar.

Dampak negatif Covid-19 memang luar biasa. Salah satunya adalah terancamnya budaya belajar. Para pemangku kepentingan pendidikan mulai pelajar, guru, penyelenggara dan sebagainya kemungkinan bisa kehilangan gairah dan arah pendidikan.

Mulanya takut terinfeksi Covid-19. Terus bingung mau bagaimana. Terus bersikap biasa: ya sudah mau apa toh masih ada Covid. Dan akhirnya normal tanpa kegiatan belajar membelajarkan. Atau belajar tapi sekadar memenuhi syarat wajib. Sekadar topeng kalau proses belajar membelajarkan masih ada.

Lama-lama malah menjadi enjoy. Menikmati. Para pelajar enak karena tidak repot-repot bangun pagi, berangkat sekolah. Orang tua juga tidak repot menyediakan sangu, atau antar-jemput anaknya. Para guru juga enjoy karena tidak repot menyiapkan model satuan belajar (MSP). Tidak pusing menghadapi murid yang bermacam-macam tingkahnya. Tidak repot harus di sekolah sekian jam sehingga bisa lebih mengurus anak. Penyelenggara sekolah juga enjoy karena ada dana yang bisa dihemat.

Kegiatan proses belajar tatap muka nyaris lumpuh. Jika toh dicoba dipaksakan, ada suasana kebatinan yang mengganjal seperti ketakutan ada yang OTG (orang tanpa gejala). Jika ada yang sekadar batuk meski cuma karena tersedak, atau sambat agak pusing, langsung dicurigai kena Covid-19. Lantas wajib swab antigen. Jika masih negatif harus PCR. Berapa duit harus keluar?

Dalam suasana psikologis berbau paranoid demikian, tidak mendukung sama sekali proses pembelajaran bisa efektif. Para guru sangat mafhum, proses belajar harus berlangsung dalam suasana bahagia. Gembira. Semangat. Saling percaya.

Pembodohan

Dalam sistem belajar virtual nyaris tidak dimungkinkan mencakup afektif (sikap), psikomotoris (ketrampilan). Hanya mencakup kognitif (pengetahuan). Tapi itupun sama sekali tidak efektif. Seorang kepala SMA di Sidoarjo dalam suatu wisuda mengakui dengan jujur, proses belajar secara virtual ini tidak efektif.

Banyak aspek teknis yang membuat sistem virtual tidak efektif. Tidak sedikit murid yang tidak punya laptop. Kalau punya pun belum tentu bisa untuk zoom. Kendala internet lemot. Kendala listrik mati. Waktu belajar yang sangat pendek.

Akhirnya apa? Pelajar malah larut dalam konten-konten kepalsuan medsos. Bantuan pulsa bukan untuk belajar, tapi untuk tiktokan, medsosan, ngegame.

Kendala-kendala teknis ini lantas ditolerir dengan tetap memberi nilai rapor minimal sesuai standar KKM. Murid tetap diluluskan. Intinya, proses penilaian tidak memenuhi asas validitas, jujur dan obyektif. Belum lagi nilai asal-asalan bahkan abal-abalan yang menyangkut sikap dan ketrampilan.

Lantas apa yang terjadi? Lembaga pendidikan berpotensi bisa menjadi pusat persemaian kebohongan.

Apa lagi? Lembaga pendidikan berpotensi jadi pengembang-biakan kebodohan. Ini ironis.

Lantas apa lagi? Lembaga pendidikan berpotensi jadi lahan subur kemalasan.

Astaghfirullahal adhim.
Rabbi a’lam (Tuhan lebih tahu).

Anwar Hudijono,
penulis tinggal di Sidoarjo.

Malam Diciduk, Pagi Dipulangkan, Siang Ditersangkakan

MALANGVOICE- Sungguh malang nian nasib Mohamad Agung Hidayatulloh. Rabu, 14/9 sekitar 18.30 petang Agung si penjual es diciduk aparat Polri dari rumahnya dibawa ke Mapolsek Dagangan Polres Madiun.

Setelah dua hari diperiksa, kemarin sekira 09.00 pagi dipulang, tapi pukul 14.30 siang menjelang sore dijadikan tersangka terkait Bjorka. Lucu bukan !

Karuan saja hal ini membuat pasangan suami istri, Jumanto dan Suprihatin resah dan gelisah. Menurut, Jumanto, anaknya siang itu setelah menunaikan ibadah sholat Jumat pamit ke kantor Polisi.

Baca Juga: Kebakaran Pabrik Kertas dan Plastik, Belasan Armada Damkar Dikerahkan

“Katanya mau mengambil HP. Tapi, tidak kembali pulang lagi,” ujar bapak tiga anak itu dengan lugunya.

Yang menjadi pertanyaan publik atas apa yang dialami pemuda warga Dusun Mawatsari Desa Banjarsari Kulon Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun ini tak logis.

Pertanyaannya, kalau memang Agung terbukti terkait dengan peretas Bjorka apakah Polisi mempunyai dua alat bukti?

Baca Juga: Abel Camara Belum Dipastikan Tampil Penuh Lawan Persik Kediri

Jangan sampai motto yang dicanangkan Kapolri, Kepolisian bertindak Akuntabel, Profesional dan Presisi, justru terabaikan atas apa yang dialami Agung pemuda lulusan MA itu. Hanya prestise aparat terkait Bjorka.

Menurut jubir humas Mabes Polri Kombespol Ade Yaya, Agung diduga menjadi bagian dari kelompok Bjorka. Melalui kanal di _Telegram_ Agung telah mengunggah beberapa info yang bersumber dari forum _Breached._ “Tersangka (Agung) pernah melakukan _posting_ (unggahan) di channel @Bjorkanism tiga kali, ” jelas Ade dalam jumpa pers kemarin.

Terkait ditersangkakannya Agung, Andi M Rezaldi Kepala Divisi Hukum _Kontras,_ meminta Ombudsman RI dan Komnas HAM mengawasi proses hukum yang dilakukan timsus terhadap Agung. Sebab, bisa jadi timsus berkerja tidak profesional.

Baca Juga: Jokowi Perintahkan Pemda Gunakan Mobil Listrik, Ini Tanggapan Wali Kota Malang

“Karena ada desakan publik, saya khawatir timsus ini bekerja teburu-buru dan tidak hati-hati,” jelas Andi M Rezaldi.

Andi menyatakan _Kontras_ siap mendampingi Agung untuk menjalani proses hukum. Menurut Andi, pihaknya khawatir Agung menjadi korban salah tangkap atau korban rekayasa kasus seperti banyak terjadi yang sudah sudah di beberapa daerah.

“Kalau merujuk keterangan pihak keluarga Agung, rasanya mustahil Agung memiliki peranan dalam peretasan yang dilakukan Bjorka selama ini,” ujar Andi.

Baca Juga: 8 Profesi yang Cocok bagi Anda yang Hobi Membaca

Terlepas dari semua itu, publik berharap penanganan proses hukum atas pemuda Dusun Mawatsari ini, dilakukan transparan. Sesuai motto Polri bekerja Akuntabel, Profesional dan Presisi. Karena Polri adalah melindungi dan pengayom masyarakat. Bukan sebaliknya. *(fim)*

Mudik dalam Spiritualisme Masyarakat Jawa (bagian ke-2 dari 3 tulisan)

Anwar Hudijono. (istimewa)

Oleh Anwar Hudijono

Spiritualisme mudik itu berada pada pertemuan dua arus yang sangat kuat seperti bertemunya arus dua lautan (majma’al bahrain). Arus penarik berasal dari subyek yang berada di tempat asal atau yang dimudiki, dengan arus pendorong berasal dari subyek perantau atau yang mau mudik.

Pertemuan dua arus itu berada pada simpul hakikat silaturahmi. Istilah yang diciptakan leluhur masyarakat Jawa adalah nglumpukne balung pisah (mengumpulkan tulang-tulang yang terpisah). Tentu saja ini simbolis.

Semua berasal dari satu konstruksi tulang-tulang yang disebut keluarga, kerabat, batih. Kemudian bagian konstruksi itu terpisah-pisah secara fisikal untuk mengaktualisasi ketermasing-masingannya.

Konstruksi ini harus dipelihara. Keterpisahan fisikal atau jasmaniah jangan sampai menjadikan keterpisahan batiniah. Jangan dibiarkan terserak sendirian. Konstruksi keluarga ini merupakan bagian terkecil dari konstruksi universal yang disebut ukhuwah basyariyah (ikatan sesama manusia). Karena hakikatnya manusia itu satu konstruksi dengan segala keanekaragamannya.

“Wahai manusia. Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan beretnis-etnis agar kamu mengenal.” (Quran: 49:13).

Leluhur Jawa menjadikan Idul Fitri sebagai momentum emas untuk melakukan rekonstruksi keluarga. Pilihan ini tidak asal-asalan seperti belok ke warung saat lapar. Tapi, pilihan ini memiliki landasan kearifan yang kuat. Yaitu selaras dan berintegrasi dengan nilai-nilai dasar Idul Fitri.

Nilai dasar Idul Fitri itu adalah setiap individu bisa kembali ke fitrah (kembali kepada kesucian – kullu maulidin yuladu alal fitrah/ Setiap kelahiran itu dalam keadaan suci tanpa membawa dosa). Setelah dosa-dosanya dilebur selama Ramadhan. Setelah mereguk segala rahmat Allah selama Ramadhan. Setelah dengan puasanya mampu membuat setan terbelenggu (tak mampu mempedayai). Setelah puasanya memiliki kekuatan membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu neraka.

Pintu surga itu banyak. Menunjukkan bahwa masuk ke surga itu memang berat. Butuh perjuangan yang berliku-liku. Banyak godaan. Banyak jebakan penyesatan. Maka ke surga disebut naik. Sedang pintu neraka cukup satu. Lebar lagi. Ke neraka itu mudah. Tak butuh perjuangan dan kerja keras. Maka proses masuk ke neraka disebut kecemplung. Artinya begitu mudahnya. (Membaca gini jadi mrinding).

Fitrah sosial

Fitrah manusia itu juga mahluk sosial. Bangunan sosial terkecil itu adalah batih, keluarga inti. Yaitu ayah, ibu dan anak. Kemudian diperluas lagi dengan lingkaran keluarga kakek, nenek, paman, tante, sepupu, saudara. Diperluas lagi tunggal buyut, tunggal canggah dan seterusnya.

Jika bangunan sosial itu dengan ikatan agama Islam disebut jamaah, ikhwah. Innamal mukminuna ihwatun, sesungguhnya kaum mukmin itu bersaudara (Quran: 48:10).

Iblis, setan, Dajjal tidak merasa hepi jika manusia berada dalam bingkai keluarga, kerabat, jamaah, ihwah. Maka mereka membuat strategi individualisme untuk menghacurkannya. Agar manusia menjadi individu-individu yang terserak bagaikan titik-titik embun di dedaunan yang akan segera kering manakala matahari menyala. Sedang keluarga, jamaah itu seperti sungai besar yang isinya kumpulan titik-titik embun.

Orang yang sudah terperangkap pada invidualisme akan merasakan betapa sesatnya ideologi itu manakala di ujung ajal. Mari kita coba renungkan pengakuan Steve Jobs, orang pernah menjadi orang terkaya dunia. Menjadi sosok idola publik global. Inspirator kehidupan.

Hidupnya dihabiskan untuk menumpuk uang. Menggunungkan materi. Mengejar populritas dan pujian. Ternyata individualisme, materialisme telah membuat dirinya sebagai orang yang sangat menderita. Penderitaanya justru berpusat pada keluarga yang berantakan.

“Kabahagiaan batiniah sejati tidak datang dari hal-hal materi dunia ini. Pada saat saya berbaring di atas ranjang rumah sakit dan mengingat seluruh hidup saya, saya menyadari bahwa semua kekayaan dan pengakuan telah memudar dan tidak berarti dalam menghadapi kematian yang segera akan datang. Tidak ada yang lebih berharga lebih dari keluarga,” katanya.

Pengakuan ini menjadi contoh peringatan Al Quran di Surah An Nur (24) ayat 39: “Dan orang-orang kafir, perbuatan mereka seperti fatamorgana di tanah datar. Yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi apabila didatangi ternyata tidak ada apa-apa.”

Harta yang paling berharga

Adalah keluarga

Istana yang paling indah

Adalah keluarga

Puisi yang paling bermakna

Adalah keluarga

Mutiara tiada tara

Adalah keluarga

(Sound Track Film Keluarga Cemara).

Betapa tinggi nilai keluarga. Di dalam keluarga itu tersimpan potensi ganjaran yang sangat besar. Maka tanggung jawab terhadap mereka juga besar. Sampai-sampai Allah secara khusus memerintahkan: “Wahai orang-orang beriman. Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (Quran: 66: 6).

Dan inti konstruksi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah adalah tenteram, damai, bahagia di dunia dan tetap bersama di dalam surga. Jika anak kumpul orang tuanya. Lantas orang itu sebagai anak juga kumpul dengan orang tuanya dan seterusnya maka keluarga itu menjadi keluarga besar ahlul jannah, penghuni surga.
Rabbi a’lam (Tuhan lebih tahu).

Anwar Hudijono
Kolumnis tinggal di Sidoarjo.

Dimensi Revolusi Diri Ibadah Haji

Anwar Hudijono
Anwar Hudijono

Oleh Anwar Hudijono*

Seluruh proses ibadah haji berlangsung hanya beberapa hari. Tetapi pada waktu yang sangat singkat itu merupakan momentum proses revolusi mental yang dahsyat. Spektakuler. Muaranya untuk menghadirkan perubahan yang lebih baik. Mengaktualisasi fitrah manusia.

Revolusi diri pada ibadah haji ini merupakan bagian esensi evolusi manusia menuju Allah. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, sesungguhnya milik Allah dan sesungguhnya kepada Allah dikembalikan. Sangkan paraning dumadi (asal dan arah pergerakan kembali semua mahluk). Jadi haji itu menyegarkan kembali terhadap pengetahuan dan kesadaran hakikat penciptaan.

Doktrin itu tercermin dalam seluruh skenario haji. Bermula dari Kabah sebagai simbol Allah. Hidup bergerak menuju arafah (pengetahuan), masyaril haram (kesadaran), Mina (cinta) dan kembali ke Kabah. Dengan kembali kepada Allah maka Allah menjadi lebih dekat dari urat leher hamba-Nya.

Kenapa harus berubah? Sering tanpa disadari manusia menjalani kehidupan yang tidak seharusnya. Istilah Dr Ali Syariati dalam bukunya yang terkenal, Haji (Penerbit Pustaka 1995), hanya aksi pendular yang tanpa makna. Bersifat siklistis yang sia-sia. Pagi berganti sore. Malam berganti siang. Tidur diakhiri dengan bangun,bangun diakhiri dengan tidur. Begitu berulang-ulang.

Manusia sangat sibuk mencukupi kebutuhannya yang tidak pernah merasa tercukupi. Manusia asyik dengan berakting di dalam permainan dunia seperti kotak gabus di atas tarian ombak samudera tanpa arah tujuan. “Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan.” (Quran, Al Ankabut 64).

Apalagi kehidupan di ujung akhir zaman ini. Mata eksternal (fisik) begitu dimanja dengan medsos, kesenangan realitas palsu. Seolah waktu berjalan sangat cepat. Nyaris tiada waktu untuk bersabar dan khusyuk. Tak ada waktu merevitalisasi nafsu mutmainnah (kejiwaan yang tenang). “Wa kanal insanu ajula, dan memang manusia itu bersifat tergesa-gesa”. (Quran Al Isra 11). Tanpa sadar bahwa tergesa-gesa itu dekat dengan setan.

Akhirnya hidup hanya untuk hidup. Hidup yang demikian pada dasarnya boleh dibilang mati. Orang Jawa menyebutnya mati sajeroning urip (mati di dalam kehidupan). Secara fisik hidup, tetapi jiwanya sudah mati. Spritualitasnya kering kerontang. Unsur kemanusiaannya punah. Secara substansi manusia berubah menjadi “jazad”, seolah hidup padahal mati. Seperti jazad buatan Samiri (Quran, Thaha 88).

Terminologi jazad (juga tertera di surah As Shad 34. Menurut eskatolog Islam, Syekh Imran Hosein adalah Dajjal. Dajjal yang akan menjadi sumber fitnah-fitnah terbesar dalam sejarah kehidupan manusia. Salah satu misi Dajjal menghancurkan fitrah manusia.

Artificial intelligence

Ahli filsafat Shandell seperti dikutip Ali Syariati mengatakan, bahaya paling besar yang dihadapi umat manusia pada zaman sekarang bukan ledakan bom atom tetapi perubahan fitrah (sifat asasi)-nya. Unsur kemanusiaan di dalam dirinya sedang mengalami kehancuran sebegitu rupa sehingga pada saat ini tercipta sebuah ras non-manusiawi.

Inilah mesin berbentu manusia yang bukan ciptaan Tuhan dan bukan pula ciptaan alam. Manusia menjadi hamba yang tidak mengenal tuannya. Pada zaman now kira-kira manusia tidak ubahnya mesin artifical intelligence.

“Mereka memiliki hati tetapi tidak dipergunakannya untuk menghayati (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka memiliki telinga (tetapi) tidak dipergunakan mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.” (Quran, Al Araf 179).

“Sesungguhnya mahluk bergerak yang bernyawa yang paling buruk dalam pandangan Allah ialah orang-orang kafir karena mereka tidak beriman.” (Quran, Al Anfal 55).

Seperti hujan

Maka, masa ibadah haji yang sangat pendek itu hendaknya menjadi seperti hujan yang turun meski hanya beberapa bentar untuk menghidupkan bumi.

“Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira, mendului kedatangan rahmat-Nya (hujan) sehingga apabila angin itu membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu. Kemudian Kami tumbuhkan dengan hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.” (Quran, Al Araf 57).

Harus ada prakondisi bumi yang bisa menyerap air hujan. Maka berangkat haji harus disiapkan kondisi jiwa raga. Bekal yang memadai. Bekal pengetahuan tentang haji. Ibadah tanpa dilandasi pengetahuan seperti orang buta berjalan di belantara.

Berangkat dengan dana yang halal. Berangkat haji dengan uang hasil korupsi, riba, menggunakan uang rakyat dengan memanfaatkan jabatan adalah sia-sia. Tidak ubahnya mencuci kain mori putih dengan air polutan. Tidak ada bedanya dengan menangkap air hujan dengan batu yang licin. Basah sebentar setelah itu kering kembali. Dan bekal terbaik adalah takwa.

“Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal.” (Quran, Al Baqarah 197).

Rahmat haji akan mengubah jiwa yang mati hidup kembali. Yang kurang subur menjadi lebih subur. Spritualitas yang gelap pekat akan kembali terang bercahaya. Al Araf 58 membuat analog kehidupan yang mendapat rahmat Allah itu seperti tanah yang subur.

“Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan izin Tuhan. Dan tanah yang buruk, tanaman-tanamannya tumbuh merana. Demikianlah Kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kebesaran Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.”

Paramater apakah bumi itu menjadi subur oleh hujan itu akan dilihat dalam jangka panjang. Berlangsung secara evolusif. Apakah mampu menumbuhkan tanaman dengan baik. Lantas tanaman itu bermanfaat bagi umat manusia dan semua mahluk Allah.

Intinya tanda-tanda haji mabrur itu akan terlihat dalam kehidupan seorang haji dalam proses kehidupan jangka panjang sampai akhir hayatnya menjadi manusia yang beriman dan beramal saleh.

Allah pasti akan menunjukkan tanda-tanda itu sebagai pembeda mana haji mabrur mana haji money laundring, haji status, haji selfie, haji jabatan, haji kamuflase bahkan haji maudlu (palsu). Allah tidak menyukai perbuatan yang mencampuradukkan yang benar dan yang batil.

Kita doakan agar semua jamaah haji tahun 2022 ini menjadi haji mabrur. Amin.

Astaghfirullah. Rabbi a’lam.

*Anwar Hudijono, Wartawan Senior tinggal di Sidoarjo.

Mengenang Prof Azyumardi Azra

Prof Dr Azyumardi Azra. (Mvoice/muhammadiyah.or.id)

Catatan Hendry Ch Bangun*

Secara fisik, saya baru mengenal Prof Azyumardi Azra sekitar 4 bulan, tetapi hubungan kami serasa sudah berbelas atau puluhan tahun.

Ya persisnya saya bertemu Gurubesar UIN Jakarta ini, saya kenal secara langsung pada 18 Mei 2022 di Hotel Aryaduta Jakarta saat acara serah terima pengurus Dewan Pers 2019-2022 ke Dewan Pers 2022-2025.

Sebelum itu, setelah terpilih memang saya menjalin komunikasi, namun terbatas pada komunikasi teks WA, seperti mengucapkan selamat bekerja dan Selamat Idul Fitri. Setelah bersalaman saat menemuinya di ruang acara, saya sempat ngobrol juga dengan beliau saat makan malam, kami duduk bersebelahan.

Baca Juga: Payung Rajut Warga Temas Dinobatkan Pemenang Kategori Kreatif Fespin 2022

Kami cepat akrab karena memang sebenarnya ada titik temu. Kami sama-sama sudah aktif di pers mahasiswa semasa kuliah, saya di UI, almarhum di UIN. Malam itu, ketika menyebut nama-nama aktivis pers kampus, nyambung. Mantan Rektor UIN ini adalah penulis tetap di Harian Kompas sejak puluhan tahun, sementara saya menjadi wartawan di sana oleh karena dia mengatakan sering membaca laporan olahraga saya.

Kami seperti dalam satu keluarga pers dan almarhum memang pernah juga aktif sebagai wartawan di Panji Masyarakat yang termasuk media top di zamannya.

Nama Azyumardi Azra tidak asing di telinga karena tulisannya banyak, begitu buku-buku yang dia terbitkan, serta termasuk orang yang konsisten dalam pendirian mengenai kehidupan berbangsa dan bernegara yang harus demokratis. Dia bercerita ke saya ketika bertamu ke rumahnya pada 19 Mei 2022, bahwa dia dikontak Menteri Pendidikan di era Presiden BJ Habibie.

Baca Juga: Polres Malang Luncurkan Dua Mobil Pelayanan Publik

“Bagus tulisan Anda di Kompas, teruskan. Hanya sedikit yang sekarang berani berpandangan kritis terhadap kondisi di Tanah Air,” katanya mengutip Wardiman Djojonegoro. “Saya bilang, saya akan konsisten, saya tidak takut untuk besikap karena itu demi kebaikan negara kita,” tambah beliau.

Prof Azyumardi mengundang ke rumah untuk memberi briefing tentang Dewan Pers, agar dia faham seluk beluk, tugas pokok, anggaran, sistem pengelolaan, dan juga kedudukan lembaga ini di dalam UU Pers, agenda Raker dengan Komisi I DPR RI dll. Hampir dua jam kami bicara, dan saya sampaikan apapun yang ditanya, dari hal yang serius sampai hal remeh-temeh. Termasuk waktu itu yang aktual adalah adanya judicial review atas Pasal 15 UU Pers yang dilakukan sekelompok orang, apa yang sudah dilakukan Dewan Pers dan perkembangan mutakhirnya.

Pertemuan begitu cepat karena kami ngobrol dengan enak, dan di akhir pembicaraan dia ingin agar saya tidak bosan kalau dia bertanya lagi seandainya ada yang ingin diketahuinya.

Baca Juga: Merugi Rp25 Miliar Akibat Kebakaran, Damkar Pernah Ingatkan Pentingnya Hydrant di Pabrik Kertas

Saya menyatakan siap karena saya juga ingin perpindahan tongkat kepengurusan berlangsung mulus dan program kerja bisa segera terlaksana.

Di awal pertemuan, beliau langsung menyampaikan, bagaimana kira-kira dunia baru yang akan dia geluti ini.

“Saya nggak berhenti-henti diwawancara, sejak semalam,” katanya. Tidak hanya untuk media siber dan media cetak, Prof Azyumardi Azra pun harus melayani wawancara podcast dan stasiun televisi.

Baca Juga: Pesantren Queen Zam Zam Sukseskan Aksi Tanam 10 Juta Pohon, KH Mashudi Nawawi: Tidak Ada Bantuan Pemerintah

“Ya, itulah yang antara lain yang menghabiskan waktu Prof dan harus dilayani. Setiap hal yang menjadi berita di media, bisa langsung ditanyakan ke Dewan Pers,” kata saya.

***

Terakhir saya bertemu Prof Azyumardi Azra di Bali, saat pelatihan Ahli Pers 31 Agustus-2 September lalu. Saat bertemu dia langsung berkata, “Bagaimana Alesso?,” maksudnya anak bungsu saya Alesandro yang kuliah di UIN Jakarta. “Masih masa orientasi, Prof,” jawab saya.

Saya memang pernah bercerita, anak kami yang lulusan Pesantren di Makassar, bercita-cita kuliah di UIN, entah di Yogyakarta atau Jakarta, tapi akhirnya diterima di Jakarta, tempat almarhum aktif mengajar S2 sampai akhir hayatnya.

Baca Juga: Percepatan dan Maksimalkan Pelayanan, Perumda Tugu Tirta Siapkan SPAM 3

Kami berpisah di restoran setelah sarapan diserta diskusi ringan bersama antara lain Yosep Adi Prasetyo dan Ketua PWI Kaltim, Endro karena beda pesawat, beliau pesawat siang, saya sore. “Salam sama istri ya Pak,” katanya. Ya kebetulan memang waktu pernikahan putri dari rekan Asep Setiawan di Masjid Raya Bintaro, Prof Azyumardi dan istri, berbincang-bincang dengan saya dan istri agak lama, sehabis akad nikah. Istri beliau dan istri saya cepat akrab.

Memang aktivitas Prof Azyumardi Azra di Dewan Pers begitu dilantik tergolong tinggi, sebagai bukti dari tanggung jawab mengemban jabatan. Semua acara praktis diikuti, yang tentu melelahkan. Yang menjadi keprihatinan almarhum adalah tentang akan segera disahkannya RUU KUHP padahal masih banyak pasal atau ayat yang berpotensi mengekang bahkan menjerat pers dan wartawan kalau tidak dikoreksi.

Ketua Dewan Pers beserta anggota intensif melobi ke fraksi-fraksi di DPR, setelah sebelumny menyampaikan catatan perbaikan di Menko Polhukam Mahfud MD.

Ketika ada acara Evaluasi Survei IKP di Yogya, beliau sempat kelelahan gara-gara pesawat yang membawa kami dari Jakarta ke New Yogyakarta tertunda keberangkatannya. Saat mendarat, terpaksa menunggu belasan menit untuk dapat angkutan.

Perjalanan ke kota juga memakan waktu lama karena adanya perbaikan jalan sehingga ada buka tutup. Malangnya lagi, karena hari Minggu dan Jalan Malioboro ditutup, supir yang tidak berpengalaman menurunkan kami di ujung jalan arah Tugu. Dari situ terpaksa disambung becak. Melelahkan.

Keesokan harinya, di ruangan acara, dia bertanya ke saya.

“Pak Hendry, ini apa saya harus mengikuti semua acara ya. Capek juga kalau semua harus saya datangi,” katanya setengah mengeluh.

“Silakan diwakilkan, Pak. Saya dulu sering diberi tugas Ketua apalagi kalau sifatnya internal,” kata saya. “Bapak pilih yang dianggap perlu saja.”

Khususnya setelah pertengahan tahun, program kerja mulai dilaksanakan dengan intensif dan setiap komisi mengadakan acara yang telah ditetapkan.

Survei IKP dengan FGD-nya, Uji Kompetensi Wartawan, dilakukan di 34 provinsi, lalu ada juga Verifikasi Faktual, dan berbagai macam yang dilakukan di luar Jakarta. Maka jumlah 9 anggota Dewan Pers, karena minimal harus ada yang hadir untuk memimpin atau membuka acara tersebut, terasa kurang. Sebab umumnya juga masih bekerja di perusahaan atau lembaga masing-masing dan hanya bekerja paruh waktu di Dewan Pers.

Bagi mereka yang biasa aktif di organisasi wartawan dan organisasi perusahaan pers atau yang sudah terbiasa terlibat dalam kegiatan Dewan Pers, entah sebagai anggota Kelompok Kerja, atau Gugus Tugas, atau kepanitiaan, atau sebagai Tenaga Ahli, intensitas pekerjaan ini mungkin sudah tidak masalah, tubuh sudah dapat menyesuaikan diri. Bagi yang belum memang melelahkan, karena pekerjaan full timer sementara status hanya part timer.

***

Kesan saya, Prof Azyumardi Azra adalah orang yang sangat berdedikasi dan egaliter, selain tentu seorang intelektual yang mengagumkan dan memiliki kredibilitas tinggi. Sederhana, apa adanya, dan tidak peduli dengan statusnya. Santai saja. Cepat akrab dengan siapa saja dan integritasnya kukuh terjaga. Satu hal yang pasti tentang Dewan Pers, dia ingin koleganya mampu menjaga martabat dan kewibawan lembaga tanpa cacat, menjaga jarak dengan kekuasaan, independen, dan berfikir kritis.

Dalam pertemuan kami yang tidak banyak, mungkin hanya 10 kali selama dia menjabat Ketua Dewan Pers mulai 18 Mei lalu, banyak hal yang dia kroscek ke saya, agar dia tidak salah dalam menilai seseorang.

Saya menyampaikan apa adanya versi saya dan menyilakan beliau untuk menguji informasi agar berimbang, sebab saya juga selama di Dewan Pers ingin lembaga ini dihargai siapapun karena pengurusnya orang yang terpercaya. Dan itu hanya bisa terjadi apabila para anggota mampu berperan sesuai harapan masyarakat pers dan masyarakat umum, atau sering dikelakarkan “Dewanya Pers”.

Semangatnya yang tinggi untuk menjaga kemerdekaan pers tercermin dari bagaimana dia ikut secara personal melakukan pendekatan ke wakil-wakil partai di DPR, kepada pejabat negara terkait. Dia tidak setengah-setengah.

Begitu pula diadakan syukuran pada awal September, setelah Dewan Pers menang dalam judicial review atas Pasal 15 UU no 40/1999 tentang yang dilakukan sekelompok orang. Itu menjadi passion dia yang luar biasa, karena mungkin sejalan dengan posisinya sebagai intelektual yang selalu bersikap kritis dan ingin negara ini betul-betul berlandaskan demokrasi.

Almarhum adalah Ketua Dewan Pers tersingkat dalam sejarah, hanya menjabat 124 hari, mulai 18 Mei dan selesai 18 September 2022. Tetapi sumbangsihnya begitu besar karena Dewan Pers lalu menjadi lembaga yang “naik daun” ketika RUU KUHP menjadi pembicaraan karena waktu itu sempat ditargetkan diundangkan pada 17 Agustus 2022. Dia memberi arti dengan komitmen yang jelas atas kemerdekaan pers, dengan caranya yang khas.
Ketika mendengar Profesor Azyumardi dikabarkan sesak nafas sesaat akan mendatar di Bandara Kuala Lumpur dan langsung dilarikan ke rumah sakit, saya berdoa agar dapat sembuh dan pulih seperti sedia kala. Dewan Pers masih membutuhkan sentuhan tangan dan pikirannya.

Tetapi Allah Sang Pemilik Kehidupan, memiliki rencana lebih baik sehingga beliau berpulang pada hari Minggu pukul 12.30 waktu Semenanjung atau 11.30 WIB. Selamat jalan Prof, jasa baikmu akan selalu kami kenang. Innalilahi Wa Innailaihi Rojiun.

Ciputat, 18 September 2022

* Hendry CH Bangun,
– Wartawan senior
– Mantan Wakil Ketua Dewan Pers

Menumbuhkan Tunas Generasi Emas

Skuad PSSI-16. (MVoice/pssi.org)

Oleh Anwar Hudijono

Terima kasih Skuad Garuda Asia. Terima kasih Bima Sakti. Terima kasih pula PSSI. Ketiganya memegang kuci sukses Timnas U-16 yang dijuluki Garuda Asia meraih gelar juara Piala AFF U-16 2022, setelah di final yang berlangsung di Stadion Maguwoharjo Yogyakarta, Jumat (12/8/2022) membekuk Vietnam 1-0. Gol tunggal itu dicetak Kafiatur Rizky.

Sukses ini laksana seteguk air di tengah kehausan. Bukankah sudah sangat lama penggemar bola Tanah Air merindukan gelar juara.

Adalah Bima Sakti Sukiman, pelatih muda yang sukses menukangi tim ini dengan strategi yang diilhami shalat jamaah. Dalam salat jamaah itu ada pakem (aturan) wajib. Misalnya, imam (pemimpin) itu hanya satu. Imam tidak boleh dikudeta. Barisan (shaf) harus lurus rapat. Tidak boleh meninggalkan jamaah kecuali batal. Makmum tidak boleh menudului imam. Dalam shalat itu seluruh tahapan ada aturan mainnya.Tidak boleh karena terburu-buru lantas melewati tahapan.

Bima Sakti membina mental disiplin sangat ketat bahwa setiap pemain wajib ikut shalat jamaah. Kalau tidak ikut jamaah kena denda Rp100.000. Jika masbuk (telat dan ketinggalan rakaat) dendanya Rp 50.000. Disiplin adalah salah satu kunci sukses sebuah tim.

Dengan salat jamaah ini membina kekompakan. Bergerak dalam satu komando sang imam. Tidak boleh kok makmum melakukan improvisasi dengan nyanyi atau duduk-duduk dulu. Apalagi ngopi-ngopi. Pada akhirnya disiplin, kompak, membentuk satu pasukan yang kokoh.

Anwar Hudijono. (MVoice/dok)

Bisa jadi, Bima Sakti yang sejak jadi pemain terkenal saleh seperti pemain Liverpool asal Mesir, Mohamed Salah, ini sudah memahami Quran surah As Shaf 4.

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”

Bima Sakti bisa jadi menerjemahkan ayat ini untuk sepak bola. Dan itu sangat tepat. Ayat itu secara tekstual memang bicara tentang pasukan perang. Tetapi secara kontekstual bisa diterjemahkan dalam aspek kehidupan lain seperti manajemen, organisasi, juga sepak bola.

Syarat mutlak
Tentu saja strategi Bima Sakti tidak akan cukup efektif jika tidak diterima pemain secara utuh lahir batin. Ini syarat mutlak. Sangat miriplah dengan pedoman proses belajar membelajarkan yang diterangkan kitab Ta’lim al Muta’allim.

Pertama-tama pemain sangat tawadlu (tunduk dan patuh) kepada Bima. Hal ini bisa terjadi jika ada kepercayaan, trust. Dan Bima Sakti harus menjaga trust itu juga dengan memberi teladan.

Tak bisa dipandang sebelah mata adalah peran PSSI yang all out dalam mendukung Garuda Asia ini. PSSI berani memberi kesempatan pelatih muda seperti Bima Sakti. Memberi dukungan all aout. Pada saat TC kekurangan ofisial, PSSI langsung menambah. Saat kekurangan tenaga kesehatan, termasuk pemijat, langsung memenuhi.

Penanganan secara all out ini termasuk kunci penting untuk menggapai sukses. Tidak bisa mengharap tim mempersembahkan gelar juara dengan penanganan yang mediokritas alias setengah-setengah. Tidak bisa lagi menggunakan visualisasi profesionalisme tetapi di dalamnya amatiran.

Dan penanganan secara all out ini harus dijadikan referensi atau bahkan credo untuk menumbuhkan tunas-tunas muda ini menjadi generasi emas Indonesia. Ke depan mereka ini didambakan dapat mempersembahkan emas untuk level Asia. Bukan lagi cuma di SEA Games. Kalau cuma emas di SEA Games itu mah tidak seksi.

Bahkan sudah harus berani pasang target lolos ke Piala Dunia. Masyarakat sudah sangat rindu melihat tim kebanggaannya tampil di Piala Dunia.Mosok setiap event final Piala Dunia, Indonesia hanya dikenal sebagai pemegang rekor dunia nobar.

Penanganan yang all out, terprogram dan konsisten ini juga untuk menepis mitos bahwa prestasi anak-anak Indonesia itu mentok di usia 16 tahun. Tapi setelah itu cenderung macet atau bahkan langsir (mundur).

Suatu contoh Indonesia pernah menjadi juara Pelajar Asia. Publik mengharap pemain-pemain seperti Frank Sinatra Huwae, Noah Marien, Theodorus Bitbit menjadi tunas untuk Indonesia emas. Tapi sayang pemain-pemain asuhan pelatih asal Jerman Bukard Pape ini gagal menjadi generasi emas.

Negara-negara raksasa sepak bola seperti Brasil, Argentina, Jerman, Portugas, Spanyol menjaga tunas dengan penanganan yang saksama. Seperti bisanya mereka akan menjadi tulang punggung timnas senior. Portugal dengan kapten Ronaldo meraih juara Piala Eropa berintikan pemain-pemain yunior yang mempersembahkan emas Piala Dunia Yunior. Skuad Brasil di Piala Dunia 2022 ini juga sekitar 40 persen pemain Golde Team belia.

Sekarang Indonesia sudah memiliki (menambah) skuad tunas untuk menjadi Indonesia emas. Jagalah mereka. Tumbuhkan dan tumbuhkan!(end)

Salam Satu Jiwa Arema itu Kekuatan Sekaligus Titik Rawan

Anwar Hudijono
Anwar Hudijono. (MVoice/ist)

Oleh Anwar Hudijono*

Aremania memiliki salam yang khas. Yaitu “Salam Satu Jiwa”. Jika subyek pertama menyampaikan “salam satu jiwa”, maka subyek kedua menjawab Arema. Galibnya disertai dengan mengangkat tangan mengepal.

Salam ini bukan kaleng-kaleng. Apalagi asal njeplak. Salam ini memiliki akar historis yang sangat kuat. Sekaligus memiliki kandungan makna atau pesan isoteris yang sangat dalam.

Akar historisnya adalah ajaran adiluhung (luhur) Jawa dalam membangun komunitas, paseduluran (persaudaraan), kolektivitas -kolegialisme. Yaitu sabaya mukti sabaya pati. Artinya bahagia bersama mati (menderita) juga bersama.

Baca Juga: Iqbal Ceritakan Perjuangannya Selamat dari Kelamnya Tragedi Kanjuruhan

Sabaya mukti sabaya pati itu jika divisualkan semacam tali ijuk yang sangat kuat. Tali ijuk itu di samping tidak mudah diputus juga memiliki nilai magis mampu mengikat orang yang memiliki ngelmu welut putih. Orang yang memililiki ngelmu welut putih akan dengan mudah melepaskan diri dari ikatan rantai kapal sekalipun.

Untungnya orang sekarang jarang sekali yang memiliki ngelmu welut putih. Yang banyak justru memiliki ngelmu welut endhas ireng alias licik, licin, lihai, liat, dan li li yang lain.

Sabaya mukti sabaya pati ini merupakan kekuatan yang sangat dahsyat ketika ditransformasikan dalam kebaikan, perjuangan, gerakan heroisme. Contohnya, ketika Wong Agung Wilis memimpin perjuangan melawan pemerintah penjajah Belanda di Blambangan (Banyuwangi). Mengobarkan perang Puputan Bayu tahun 1771.

Baca Juga: Aremania Asal Probolinggo Takut Pulang, Ini Penjelasan Psikolog RSUD Kanjuruhan

Ruh sabaya mukti sabaya pati menggerakkan seluruh rakyat Blambangan, laki-laki perempuan terlibat perang sampai titik darah penghabisan. Tercatat 70 ribu rakyat gugur.

Ruh sabaya mukti menggerakkan rakyat terlibat dalam Perang Jawa atau Perang Diponegoro. Boleh dibilang hampir seluruh Jawa terbakar oleh api peperangan. Sampai-sampai kas negara Belanda kosong karena terserap habis untuk membiayai perang. Cuma setelah perang,Belanda cari pulihan dengan memeras rakyat melalui pajak dan program tanam paksa. (Politik golek pulihan ini kemudian menginspirasi lulusan pemilu baik pileg maupun pilkada).

Perang Surabaya 10 November 1945 juga digerakkan ruh sabaya mukti sabaya mati. Nilai itu dinarasikan dengan “Merdeka atau Mati”. Artinya kalau mau bahagia bersama harus merdeka, maka harus berjuang bersama-sama kendati harus berkalang tanah dan darah tertumpah.

Baca Juga: Tersangka Pembunuhan di Villa Songgoriti Terindikasi ODGJ

Masyarakat Pinggiran
Jadi, jika divisualkan “ salam satu jiwa” itu juga tali ijuk yang mengikat Arema . Historisnya kan begini. Sebelum tahun 1990-an, masyarakat Malang, khususnya anak-anak mudanya itu terpecah-pecah dalam kelompok komunitas. Saat itu disebut geng.

Geng-geng itu berbasis utama kalangan masyarakat periferal (pinggiran). Kurang pendidikan. Miskin. Begerak di sektor informal, bahkan pengangguran. Mereka memiliki keberanian yang tinggi. Jiwa jagoan.

Mereka adalah efek (korban) dari proses pembangunan yang berorientasi trickle down effect (menetes ke bawah). Kapitalistik. Jika proses pembangunan itu ibarat arus sungai, nah kaum periferal itu buih yang terapung-apung di atasnya.

Pada dekade 1970-an eksislah komunitas atau geng seperti Argom (Armada Gombal) yang berbasis di Mergosono, Anker (Anak Keras) di Jodipan, Persatuan Residivis Malang (Prem) di Celaket. Komunitas-komunitas ini mengalami politisasi dalam arti diserap oleh partai politik menjadi aparatusnya. Misalnya Tamin, Hariadi, Ghozi ke PPP. Mariso Udin, Bhirowo ke Golkar.

Pada saat musim penembakan misterius (petrus) awal 1980-an, banyak pentolannya yang raib. Geng-geng atau komunitas tiarap dan diam seperti orong-orong terinjak kaki orang.

Tidak lama. Pertengahan dekade 1980-an mulai muncul. Bahkan layaknya jamur di musim hujan. Basisnya tetap massa periferal, kurang terdidik, miskin. Pentolannya masih berumur belasan tahun karena yang tua-tua sudah raib atau pensiun.

Komunitas itu tidak hanya berbasis geografis di Malang, melainkan meluas sampai daerah lain. Di manapun saja berada, arek-arek Malang berani menunjukkan identitasnya dengan menyebut Arema akronim dari Arek Malang. Penguasa Blok M Jakarta itu Arema.

Muncullah komunitas-komunitas seperti Van Halen alias V(F)ederasi Anak Nakal Halangan Enteng yang berbasis di Claket, Saga (Sumbersari Anak Ganas), SAS (Sarang Anak Setan). Nama-nama ini mengambil nama grup musik rock karena saat itu Malang menjadi barometer musik rock Indonesia. Musisi rock baru disebut sejati jika lolos ujian arek Malang (Arema).

Ada juga geng berbau rasisme seperti RAC (Remaja Anti Cina), Raja (Remaja Anti Jawa). Ada Arpanja (Arek Panjaitan) berbasis di Betek, Aregrek (Arek –belakang- Geereja Kayu Tangan), Geng Inggris berbasis di Sukun, Armada Nakal (Arnak). Ada juga Ermera. Nama ini mengambil sebuah daerah di Timor Leste. Di situ banyak pasukan Batalyon 512 yang menjadi korban Perang Timor Timur.

Tinju

Fenomena ini memprihatinkan para tokoh masyarakat. Mereka khawatir musim petrus berulang. Juga perkembangan komunitas atau geng-geng ini tidak sejalan dengan gerakan pembangunan masyarakat yang waktu populer dengan istilah masyarakat madani. Istilah yang diperkenalkan oleh cendekiawan muslim Nurcholish Madjid. Masyarakat madani artinya masyarakat yang berkeadaban. Di situ ada tatanan keadilan.

Adalah Walikota Malang 1973-1983 Sugiyono adalah salah satu tokoh yang paling peduli dengan Arema. Ia mendapat gelar Ebes dari Arema. Ebes adalah bahasa slank Arema yang berarti bapak. Sugiyono dinilai sebagai pengayom, panutan Arema.

Banyak solusi yang dilakukan Ebes Sugiyono. Di antara mendorong berdirinya sasana tinju. Tinju itu tempat menyalurkan dan membina potensi keberanian, kejagoanan Arema. Sugiyono sendiri mendirikan Sasana Gajayana yang dengan pelatih legendaris Abu Dhori yang menelorkan juara seperti Juhari (OPBF), Solikin, Kid Hasan, Little Holmes.

Ada sasana Arema yang didirikan Tjipto Murti dengan pelatihnya Wa Sui yang menelorkan juara seperti Monod, Little Pono. Sasana Swunggaling Malang dengan manajer Petrus Setyadi Laksono yang menelorkan juara OPBF Wongso Suseno, Wongso Indrajid, Suwarno Perico alias No Pecel, Hengky Gun.

Disusul sasana Javanoea pimpinan Eddy Rumpoko dengan pelatih Mufid yang melahirkan juara WBF Nur Huda. Sasana Satria Yuda pimpinan Luky Acub Zainal dengan pelatih Ingger Kailola. Edy Sugiarto mendirikan sasana Alamanda yang melahirkan juara Mulyanto, Hudi.

Abu Dhori kemudian melepaskan diri dari Gajayana dengan mendirikan Dhori Gymnasium. Ia melatih tidak hanya pentinju Malang ia juga melatih petinju Papua yang dikirim Sugiyono yang saat itu menjabat sebagai Wakil Gubernur Papua (Irja) seperti Yudas Mofu, John Hamadi.

Selain tinju, Ebes juga mengembangkan sepak bola yaitu Persema. Dengan pemain seperti Maryanto, Suparman, Sutrisno, Cilak, Hary Ratu, Hartoyo, Gusnul Yakin, Aji Santoso sempat masuk Divisi Utama. Setelah tidak ada Ebes di Malang, Persema kurang bisa menyerap Aremania karena ada perbedaan paradigmatik.
Manajemen Persema menggunakan paradigma birokratis, sementara Arema itu menggunakan paradigma partisipatif. Pada masa itu terjadi semacam dikhotomi state (negara) dengan society (masyarakat). Karena saat itu, mengikuti pendapat ilmuwan politik David E Apter, ideologi negara dijadikan agama politik (pilitical religion)

Ebes Sugiyono

Adalah Ebes Sugiyono bersama mantan Wagub Papua Acub Zainal dan Siwo PWI Malang seperti Abas Prabowo, Anwar Hudijono, Heroe Yogie, Agus Purbianto, Suyitno, Wiharjono, Sentot Setiyono, Mondry. Pengusaha Derek Sutrisno, penyiar Radion Senaputra Ovan Tobing. Dua tokoh muda Arema Eddy Rumpoko dan Lucky Acub Zainal.

Mereka memprakarsai pendirian klub Arema FC . Apalagi saat itu PSSI juga menggencarkan sebak bola profesional. Pelatih pertama yang direkrut gak tanggung-tanggung yaitu Sinyo Aliandoe yang pernah menukangi PSSI Pra Piala Dunia. Pemainnya seperti Mahdi Haris, Effendy Azis, Dony Latuperissa, Panus Korwa, Mecky Tata, Dominggus Nowenik, Karman Kamaludin, Aji Santoso.

Jadi Arema FC itu didirikan untuk mewadahi aspirasi berbasis paradigma partisipatif Arema (Arek Malang). Nama Arema FC dianggap lebih pas daripada nama Armada FC. Arema FC itu mempersatukan elemen-elemen komunitas Arek Malang. Menjadi buhul pengikat solidaritas Arek Malang.

Maka sejak awal, keyakyatan itu menjadi karekter Arema FC. Klub profesional tetapi karakternya bukan semata bisnis untuk mengeruk cwan tetapi untuk persatuan komunitas. Mengembangkan paradigma partisipatif. Maka jangan heran kalau Aremania selalu minta dilibatkan dalam proses keputusan manajemen Arema maupun stakeholder yang lain. Aremania terhadap Arema FC itu benar-benar melu angrungkebi lan melu andarbeni (ikut membangun dan ikut memiliki).

Aremania selalu menjaga karakter kerakyatan yang egalitarian. Independen. Pasti akan menolak ketika hendak digiring ke emosional-primordialisme sempit yang bisa memecah belah. Siapapun yang mencoba mengkooptasi Aremania untuk kepentingan politik pasti akan terpental.

Aremania tumbuh dan berkembang secara fenomenal. Luar biasa. Aremania menjadi leader dalam aksi teatrikal di stadion. Menjadi inspirasi suporter di seluruh Indonesia. Martabatnya tinggi di mata dunia dan Indonesia.

Terbakar dan musnah

Kerakyatan, independen, egalitarian ini boleh dibilang sebagai tradisi agung Aremania. Inilah tradisi yang baik. Tradisi yang baik itu kalau di Al Quran dianalogkan dengan, “Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan izin Tuhannya. (Al Araf 58).

Salah satu buah Aremania sebagai tanaman yang baik itu adalah kekompakan, paseduluran, soliditas dan solidaritas (sabaya mukti sabaya pati) yang kuat . Sebuah kelompok yang dibingkai soliditas dan solidaritas itu kira-kira seperti yang dianalogkan Al Quran surah As Shaf ayat 4: “… dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang terusun kokoh”.

Tapi soliditas dan solidaritas ini akan menjadi titik rawan jika dipergunakan oleh tangan yang jahat dan mungkar. Di tangan manusia jahanam. Seperti halnya bumi. Pada dasarnya bumi itu diciptakan dengan baik dan untuk kembaikan semua mahluk. Tapi bisa menjadi rusak dan malapetaka jika di tangan orang yang jahat. Maka Allah wanti-wanti:

“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-yang berbuat kebaikan.”(Quran Al Araf 56).

Menggunakan soliditas dan solidaritas Aremania untuk kerusakan (fasad) itu gampang. Misalnya, pancing mereka marah. Ketika ada kawannya yang tanpa salah apa-apa dianiaya, digayang, digebuki, diperlakukan seperti binatang, bahkan lebih hina-dina dari kecoa, pasti soliditas dan solidaritas (sabaya mukti sabaya pati) mereka akan bangkit dengan melakukan pembelaan bersama-sama.

Nah, saat itulah menjadi titik yang paling rawan. Pembelaan bersama itu bisa menjadikan mereka seperti kawanan belalang yang mendatangi api obor. Terbakar dan musnah dalam sekejap. Setelah itu “manusia” akan mencari-cari dalih pokoknya belalang harus jadi yang salah.

“Manusia”? Ya manusia. Tapi ingat manusia itu bisa lebih hina dari belalang.
“Dan sungguh , akan Kami isi neraka jahanam banyak kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tapi) tidak dipergunakan untuk melihat, mereka mempunyai telinga Itapi) tidak dioergunakan untuk mendengar. Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Meeka itulah orang-orang yang lengah.” (Quran, Al Araf 179).

(Tulisan sampai di sini. Saya tidak mengatakan musibah kubro Stadion Kanjuruhan itu pararel dengan Puputan Bayu, Perang Jawa, Perang Surabaya. Wis ramesono dewe).(*)

Rabbi a’lam

*Anwar Hudijono, wartawan senior, peraih PWI Jatim Award 2022 untuk kategori Tokoh Pers Daerah.

Muktamar Muhammadiyah di Gerbang Krisis di atas Krisis

Anwar Hudijono

Oleh Anwar Hudijono*

MALANGVOICE – Siapapun yang terpilih menjadi pengurus Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah hasil Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah di Solo, 18-20 November 2022 akan memikul tugas yang sangat berat.

Salah satu di antaranya adalah menggendong umat Muhammadiyah yang berjumlah puluhan juta menghadapi era krisis di atas krisis yang tanda-tandanya sudah mulai terbaca. Presiden Jokowi memberikan warning tahun 2023 itu era gelap.

Krisis di atas krisis itu artinya pelbagai masalah global datang secara bergelombang, saling bertindihan, ingkel-ingkelan, dan akhirnya terakumulasi.

Baca Juga: PB Porwanas XIII Tegaskan Tugas LO Melalui Bimtek

Baca Juga: Pasang WiFi Gratis di 551 RW, Diskominfo Pemkot Malang Dorong Masyarakat Internet dengan Baik

Baca Juga: Mantan Manajer Kompetisi AFC Siap Bantu Pemulihan Tim Singo Edan

Layaknya proses tenggelamnya kapal Titanic yang legendaris. Diawali dengan kapal menabrak gunung es, lambung pecah, air mulai masuk kapal, kapal miring.

Penumpangnya bingung lari lintang pukang tanpa arah. Polah mereka seperti gabah ditampi. Orang tua lupa anaknya, dan anak lupa orang tuanya. Masing-masing berusaha menyelamatkan diri sendiri. Akhirnya kapal itu perlahan tapi pasti tenggelam dan teronggok di dasar lautan.

Era krisis di atas krisis di awali dengan krisis Covid-19 di tahun 2019 yang menimpa seluruh dunia. Nyaris tidak ada sejengkal tanah pun yang bebas dari Covid-19. Covid-19 belum selesai disusul dengan krisis ekonomi. Kegemilangan perjalanan ekonomi dunia sekitar 30 tahun terakhir segera diakhiri dengan resesi, stagflasi. Ditumpang-tindihi krisis energi, krisis iklim berupa kemarau panjang mencekam, banjir bandang yang berdampak pada gagal panen, kebakaran hutan, krisis air, berbiaknya hama dan penyakit tanaman.

Baca Juga: Tujuh Fraksi DPRD Kota Batu Belum Setor Nama Pj Wali Kota

Bacw Juga: Anak-anak Difabel Kabupaten Malang Raih Prestasi di Pepaperda Jatim 2022

Baca Juga Pembongkaran Pasar Besar Somasi Wali Kota Batu

Hampir semua jenis krisis memecahkan rekor. Krisis kemarau yang melanda Eropa adalah yang terburuk dalam 500 tahun terakhir. Laju inflasi di pusat-pusat ekonomi dunia seperti Amerika, Eropa yang terburuk memecahkan rekor 40 tahun terakhir. Kehidupan dunia maju, Eropa khususnya dibalik. Energi kembali ke abad pertengahan berupa penggunaan batu bara.

Krisis pangan melanda dunia sehingga kelaparan seolah menjilma menjadi Pedang Damocles yang memenggal. Belum lagi dunia dicekam ketakutan terjadinya perang nuklir yang diprediksikan akan membuat dunia gelap. Perang senjata biologis berupa virus mematikan. Perang geologis dengan menciptakan tsunami, membocori atmosfir, melakukan perusakan iklim.

Dalam bahasa eskatologi Islam adalah terjadinya malhamah, perang terbesar dalam sejarah manusia. Malhamah bisa jadi bukan saja perang secara militer tetapi perang secara hibrida meliputi semua sektor kehidupan manusia. Tanda-tandanya sudah ada seperti perusakan iklim, berbiaknya macam-macam virus.

Baca Juga: Megathrust Korupsi Kabupaten Malang Berlanjut, JC Datangi KPK

Baca Juga: Festival Pusaka Nusantara, Merawat Ingatan pada Kemahiran Metalurgi Nenek Moyang

Baca Juga: Operasi Pasar Sasar Merjosari, Sediakan 1.143 Paket Sembako dan Subsidi Rp75 Ribu

Krisis di atas krisis yang menjadi manusia tidak tahu mau berbuat apa seolah berada di dalam kegelapan yang sangat pekat. Manusia berjalan di dalam lorong goa panjang yang gelap. Di lorong gelap panjang itu hanya satu yang menyelamatkan, “Rabbana atina min ladunkan rahmah wa hayyiklana min amrina rasada, wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.” (Quran, Al Kahfi 10)

Nabi Ayub
Bagi umat Islam, sudah ada pedoman dalam memahami era krisis di atas krisis itu dengan mengambil ibrah, pelajaran dari kisah Rasulullah Ayub yang antara lain tertera di dalam Quran surah Al Anbiya 83-84 dan surah Shad 41-44.
“Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan kami lipatgandakan jumlah mereka. sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang berpikiran sehat.” (Quran, Shad 43).

Jadi kisah ini adalah pelajaran bagi kaum beriman. Apalagi tanda-tandanya krisis di atas krisis saat ini seperti yang terjadi pada Ayub. Misalnya, sama-sama di era ketika sains dan teknologi dikuasai golongan persekutuan jin dan manusia. Ketika dunia tidak di bawah kendali kaum beriman. Atau bahkan dunia di bawah kendali atau hegemoni Dajjal.

Baca Juga: RUPS Luar Biasa PT LIB, Arema Tetap Konsekuen Jalani Sanksi

Baca Juga: Pemkot Malang Terima WTP 11 Kali Berturut-turut, Bung Edi: Ini Wujud Kerja Keras Seluruh Elemen

Baca Juga: Presiden PKS Tawari Korban Tragedi Kanjuruhan Beasiswa Penuh

Nabi Ayub mengalami krisis keretakan rumah tangga. Pelbagai bencana menimpanya. Anak-anaknya meninggal. Pertaniannya gagal total. Hartanya ludes. Krisis ekonomi. Ia menderita sakit parah yang panjang.

Kisah Ayub baik di Surah Al Anbiya maupun surah Shad ditempatkan satu rangkaian dengan kisah Nabi Sulaiman. (Al Anbiya 78-82, dan Shad 30-40, An Naml 15- 44 dan Saba 12-14). Sulaiman adalah contoh imperium dunia. Simbol era puncak sains dan tekonologi yang diberi contoh dengan pemindahan istana Balqis dalam sekejap mata (Quran An Naml 40).

Dia menguasai darat, laut dan udara. Memiliki tentara manusia, jin dan binatang. Memiliki kekuasaan yang sangat dahsyat sehingga bisa mengultimatum Negara Saba, menyerahkan diri (tunduk) atau diserang.

Sulaiman diberi oleh Allah kekuasaan untuk menundukkan setan-setan (dari golongan jin dan manusia). Bisa juga setan yang merupakan persekutuan jin dan manusia (Quran, Al Baqarah 102) berkemampuan hebat untuk dipekerjakan. Sulaiman juga menundukkan subyek yang dibelenggu. (Quran, Shad 38).

Dibelenggu
Siapa subyek yang dibelenggu itu?
Untuk menjawab pertanyaan itu harus menengok Quran surah Al Maidah 64. “Dan orang-orang Yahudi berkata, “Tangan Allah terbelenggu”. Sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan oleh apa yang mereka katakan itu.”

Di antara yang tangannya dibelenggu adalah pemimpin mereka. Quran memang tidak menyebut nama subyek pemimpin mereka itu. Nama subyek itu dijelaskan dalam Hadits riwayat Abu Dawud tentang Tamin Ad Dari. Yaitu Dajjal.

Di ujung akhir zaman, Dajjal akan dilepas dan dikeluarkan dengan dua misi yitu menyebar fitnah (ujian) terbesar dalam sejarah umat manusia sampai kiamat. Menjadi Nabi Isa palsu. Jadi jelaslah bahwa pemimpin umat Yahudi itu Dajjal.

Setan-setan itu sebenarnya terpaksa dan tersiksa harus bekerja di bawah duli Sulaiman. “Maka ketika Kami telah menetapkan kematian atasnya (Suliman) tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka ketika dia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa sekiranya mereka mengetahui yang gaib tentu mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan.” (Quran, Saba 14).

Setelah Sulaiman wafat para setan itu terbebas. Dengan keahliannya, para setan itu kembali ke tabiat aslinya yaitu melakukan perusakan di atas bumi. Melawan semua kehendak Allah. Ayub adalah contoh bagaimana para setan melakukan “balas dendam” atas penderitaannya selama di bawah kekuasaan Sulaiman.

Maka Ayub pun menegaskan, semua krisis di atas krisis yang menimpanya adalah perbuatan setan. “Dan ingatlah akan hamba Kami Ayub ketika dia menyeru Tuhannya, “Sesungguhnya aku diganggu setan dengan penderitaan dan bencana.”(Quran, Shad 41).

Pelajaran dari kisah Ayub bahwa krisis di atas krisis adalah ujian (fitnah) terbesar umat manusia. Dan Rasulullah Muhammad bersabda, tidak ada fitnah (ujian) yang lebih besar dari fitnahnya Dajjal. Krisis di atas krisis adalah rekayasa setan (persekutuan jin dan manusia). Intinya agar semua manusia menjadi pengikut Dajjal.

Maka di masa Dajjal sudah dilepas, memegang ajaran agama itu seperti menggenggam bara api. “Agama menjadi tertekan, ilmu pengetahuan dijauhi.” (Hadits musnad Imam Ahmad bin Hambal).
Lantas bagaimana sikap orang beriman menghadapi krisis di atas krisis?

Tirulah Ayub. “Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sungguh dia sangat taat (kepada Allah). (Quran, Shad 44).

Rabbi a’lam

*Anwar Hudijono, wartawan senior tinggal di Sidoarjo