New Normal di tengah Bayang-Bayang Disfungsional Hukum

Ferry Anggriawan SH., MH

Pandemi covid 19 yang telah memborbardir tatanan hidup bangsa Indonesia baik dari segi ekonomi, sosial, politik dan budaya selama 3 bulan terkahir. Hingga sekarang, belum menemukan solusi baku dalam pemecahannya. Harapan kehadiran Pemerintah, sebagai penguasa yg diberikan legitimasi disetiap kebijakannya, adalah cita hukum yang harus ditegakkan melalui ritme tindakan hukum yang tepat. Supaya tindakan-tindakan hukum tersebut, dapat menjadi perisai untuk menjaga kestabilan negara dan dapat dijadikan pedang demi tegaknya supremasi hukum.

Beberapa produk hukum Pemerintah, baik melalui instrumen hukum tertulis maupun tindakan hukum publik (kebijakan) seperti; disahkannya Perpu No 1 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan Untuk Penanganan Covid 19 menjadi Undang-undang oleh DPR, kebijakan beberapa Pemerintah Daerah yang menerapakan PSBB dan ada juga yang sudah melonggarkan, sesuai dengan kebutuhan daerahnya dan yang terbaru adalah konsep new normal sebagai pertimbangan dampak ekonomi akibat pandemi ini. Perubahan status hukum dan arah kebijakan tersebut berimbas kepada Aparatur Negara yang harus selalu siaga berimprovisasi disetiap tindakan hukum, dan masyarakat harus selalu siap beradaptasi dengan hadirnya kebijakan-kebijakan baru tersebut.

Fakta sosial hukum yang terjadi adalah, pertama; telah terjadi gugatan uji materiil yang dilakukan LSM Masyarakat Anti Korupsi (MAKI) ke Mahkamah Konstitusi terkait Pasal 27 Undang-undang tersebut yang mengisyaratkan adanya kekebalan hukum terhadap setiap tindakan dan keputusan yang diambil oleh Pemerintah dalam rangka pelaksanaan kebijakan, melalui tidak adanya ruang gugatan, baik secara pidana atau perdata, bagi pihak-pihak yang kelak merasa dirugikan akibat kebijakan tersebut. Marwah hukum telah dicederai melalui Pasal ini, karena sangat bertentangan dengan asas equality before the law (semua orang dianggap sama dimata hukum). Pengecualian-pengecualian seperti ini yang menyebabkan hukum diterapkan melalui tindakan hukum yang bertentangan dengan nilai-nilai konstitusi.

Kedua; pemaksaan putar balik terhadap 9.960 kendaraan oleh Ditlantas Polda Jawa Timur yang hendak masuk maupun keluar Jawa Timur. Ini adalah bukti bahwa masih banyak masyarakat yang tidak percaya terhadap larangan mudik yang sudah ditetapakan oleh Pemerintah, padahal larangan tersebut mempunyai dasar hukum. Ketidak percayaan hukum yang mengakibatkan gagalnya rekayasa kehidupan bersama dalam penanganan pencegahan penyebaran covid 19 yang membuat hukum kehilangan tajinya dan menjauh dari tujuannya.

Kedua fakta hukum di atas adalah contoh bahwa produk hukum dan kebijakan yang dibuat selama ini, kehilangan sisi pendekatan sosiologi hukumnya. Peraturan Perundang-undangan yang bertentangan dengan nilai Konstitusi dan ketidakpatuhan masyarakat terhadap hukum merupakan perilaku yang mencederai marwah hukum, menghilangkan taring dan taji hukum. Ini merupakan permasalahan serius karena kedua perilaku tersebut merupakan akar disfungsional produk hukum yang selama ini mendasari setiap tindakan hukum Pemerintah. Krisis kepercayaan masyarakat terhadap hukum, harus segera diatasi karena kepercayaan adalah pangkal utama efektif atau tidaknya hukum, sebelum seseorang menaati hukum itu sendiri. Penyelenggaraan hukum yang berubah-berubah arah kebijakannya, diterapkan seperti pagi-sore, tergantung keuntungan, juga merupakan akar penyebab ketidakpercayaan masyarakat kepada hukum yang kelak menimbulkan disfungsional hukum. Fakta hukum di atas adalah pembelajaran yang harus dicarikan solusinya, kemudian diterapkan di era new normal saat ini.

Beberapa persiapan yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kota Malang melalui Perwali yang tengah disiapkan untuk tatanan hidup baru (new normal) yang masih menunggu evaluasi Sekertaris Daerah Jawa Timur dan upaya Komisi III DPRD Kabupaten Kota Malang yang masih menggodok Perda terkait new normal adalah harapan bagi supremasi hukum dan tanggungjawab Pemerintah melalui instrumen hukum, untuk menekan penyebaran covid 19 dan memberikan solusi atas permasalahan-permasalahan baru yang timbul akibat pandemi ini dengan prioritas berjalannya kembali roda ekonomi di Kota Malang dan Kabupaten Malang.

Harapan kedepannya adalah Pemerintah Kota Malang dan Kabupaten Malang melalui Perwali dan Perda Masing-masing, meletakkan hukum sebagaimana fungsinya, yaitu; Pemerintah harus membuat norma hukum yang dapat memberikan solusi atas kran-kran permasalahan baru dan muncul akibat pandemi ini. Hendaknya norma baru menimbulkan unsur timbal-balik dan mempunyai keterikatan terhadap perilaku, baik oleh Masyarakat maupun Pemerintah. Jika keterikan tersebut sudah ada, maka eksistensi Pemerintah telah dirasakan oleh masyarakat, selanjutnya kepercayaan masyarakat terhadap hukum akan timbul, sebagai kausa tajam yang akan menghilangkan bayang-bayang disfungsional hukum disetiap tindakan hukum Pemerintah.

*)Ferry Anggriawan SH., MH
Dosen Fakultas Hukum Universitas Merdeka Malang

Mengenal Daya Juang Sebilah Keris

Oleh: Cokro Wibowo Sumarsono *

Sebagai senjata tajam keris mengandung banyak unsur falsafah kejuangan yang tersembunyi dalam wadahnya (warangka). Sebagai peninggalan bersejarah keris merupakan penanda tingginya peradaban pada masa pembuatannya (tangguh). Sebagai mahakarya, keris adalah bukti nyata derajat teknologi metalurgi berupa seni tempa logam terbaik di muka bumi.

Menggabungkan berbagai unsur logam besi, baja, titanium, timah putih, kuningan, seng, nikel dan lainnya dalam tungku pembakaran serta denting palu godam para empu pembuatnya. Sebagai barang seni keris memuat ribuan pola ragam hias dan desain asli yang menguatkan daya pandang visual.

Dalam dunia keprajuritan (kepahlawanan) keris adalah lambang kekuatan dan keteguhan jiwa yang penuh gemblengan dan tempaan. Sebuah logam tempa berpamor yang mengisyaratkan daya tahan dan ketangguhan pemiliknya (katuranggan).

Mengandung strategi perang yang luwes dengan mengalahkan lawan tanding tanpa sedikitpun merendahkan martabatnya (ngalahne tanpo ngasorake). Berbalik dengan kondisi mutakhir dimana mengalahkan lawan dengan mematikan karakternya sekaligus, tumpas tapis tanpa sisa.

Lamanya proses pembuatan sebilah keris yang ditempa oleh palu godam ribuan kali diiringi dengan panjatan doa dan tirakat (riyadloh) para empu melambangkan proses kesabaran dalam perjuangan yang telah turun-temurun diwariskan. Menyiratkan kepada kita untuk memperkuat kesabaran dan nafas panjang, bergerak dalam pola perjuangan panjang yang jelas dan tidak reaksioner.

Keris tak bisa diduplikasi secara massal dan cepat, selalu terlindungi oleh kesatuan anatominya sendiri tanpa pertolongan hak paten ataupun hak atas kekayaan intelektual sekalipun. Belum pernah ada duplikasi keris sesempurna barang aslinya.

Dalam sebilah keris terdapat anatomi (ricikan) yang menggambarkan bermacam-macam bentuk yang manunggal mewujud dalam satu kesatuan. Mulai dari pesi, gonjo, gunungan, buntut mimi, greneng, thingil, ri pandhan, sraweyan, ron dha, pejetan, bungkul, lambe gajah, gandik, jalen, kembang kacang, janur, tikel alis, sogokan, pudhak sategal, landhep, gusen, poyuhan, gula milir, kruwigan dan adha-adha. Semua berbeda-beda bentuk (bhinneka) namun menyatu dalam satu karakter yang harmonis (tunggal) dan manunggal dalam satu daya juang (ika).

Perbedaan yang manunggal itu memang indah, melahirkan sikap dan tingkah laku yang senantiasa dinamis. Seindah harapan para empu pembuatnya dalam tiap doa yang dipanjatkan. Seindah menyatunya segenap suku-suku bangsa dan puak-puak asli wangsa Nusantara yang bertebaran di atas zamrud katulistiwa.

Sebagai senjata pamungkas, keris hanya dikeluarkan dari warangkanya pada situasi yang mendesak, yakni pada akhir duel pertarungan antara hidup atau mati, setelah senjata-senjata lainnya terlepas dari genggaman. Keris dipertahankan mati-matian agar jiwa tak melayang akibat tikaman lawan tanding.

Bentuk keris yang meliuk tajam, berkelok-kelok (luk) bagai gelombang mengisyaratkan serangan bergelombang yang tak kenal henti. Luk-luk dalam bilahnya melambangkan keluwesan dalam bertindak, namun tetap tegas dalam berprinsip seperti kerasnya bilahan logam keris yang tegak mengacung.

Doktrin perjuangan yang mengatakan konsisten dalam ideologi, kokoh dalam strategi namun fleksibel dalam taktik ternyata sudah digambarkan oleh bilah-bilah keris. Ketajaman di kanan kiri bilah keris yang mengerucut pada ketajaman puncak adalah gambaran dari perjalanan yang berliku-liku dan penuh tantangan, naik turun seperti gelombang demi pencapaian jatidiri dan olah spiritual paripurna.

Dan dengan senjata ini para patriot siap sedia berjuang mempertahankan tiap jengkal bumi pertiwinya. Sadumuk bathuk sanyari bhumi, tak belani taker pati.

Salam tosan aji.

Glugu Tinatar, Landungsari-Malang.

*Cokro Wibowo Sumarsono, Mantan Sekretaris Jenedral Presidium GMNI dan Ketua DPP Gerakan Pemuda Desa Mandiri (Garda Sandi).

Yuk, Diet Media!

Oleh: Ellen M Yasak MA *

Ketika jalan-jalan di public sphere (misalnya: alun-alun, hutan kota, mall), banyak remaja menundukkan kepala, serius pada alat yang ada di genggamannya, dan telinganya disumbat seutas kabel panjang. Gadget! Itu sebutan untuk alat komunikasi multifungsi, yang salah satu bentuknya adalah smartphone.

Saat ini banyak remaja yang seakan tak peduli dengan lingkungan sekitar, karena dunia baru bernama mobile media yang ada dalam smartphone.

Kerisauan saya berawal saat berkunjung ke salah satu daerah di selatan Kabupaten Malang. Di sana hampir setiap anak usia Sekolah Dasar (SD) atau Sekolah Menengah Pertama (SMP), memiliki gadget berupa smartphone. Ini baru di daerah.

Bagaimana dengan masyarakat Indonesia pada umumnya? Jawabannya lebih fantastis. Pengguna smartphone di Indonesia, mengalami peningkatan signifikan dari tahun 2014 ke 2016. Pada tahun 2014, pengguna smartphone di Indonesia berjumlah 38,3 juta. Tahun 2016 ini, sudah berada di angka 69,4 juta pengguna, (Koran.tempo.co).

Artinya, sebagian besar masyarakat kita saat ini sudah menjadi pengguna mobile media aktif. Mobile media adalah aplikasi media yang berada dalam mobile phone (baca: smartphone).

Tahukah anda, bahwa akses manusia terhadap media memiliki batas? Lalu, jenis media apa yang dimaksud? Hampir semua media elektronik memiliki dampak negatif bagi penggunanya. Baik itu televisi, radio, surat kabar, internet, dan lain-lain.

Saat ini penggunaan media, seakan sudah menyatu dengan aktivitas sehari-hari masyarakat. Remaja merupakan golongan usia yang memiliki kesempatan lebih banyak untuk mengakses media.

Mengapa demikian? Anak-anak yang kini beranjak remaja, lahir pada retang tahun 1998 hingga 2000-an. Di tahun tersebut, peralihan teknologi dari analog ke digital terjadi. Dengan demikian, anak-anak ini tumbuh saat kondisi teknologi telah beralih ke digital.

Anak-anak yang tidak melalui masa analog ini, disebut dengan digital native. Mereka yang terlahir sebagai digital native, dapat dengan mudah melakukan segala aktifitas dengan media digital.

Ketika banyak remaja “menunduk” dan tidak bisa melepas gadget dari tangan mereka, peran orangtua seakan tergantikan dengan gadget. Remaja yang dalam sehari menggunakan gadget lebih dari dua jam, mengindikasikan bahwa remaja tersebut sudah dalam taraf addict (kecanduan).

Pada kondisi ini, orangtua harus melakukan kontrol atas penggunaan gadget anak-anaknya. Hal ini harus betul-betul diperhatikan oleh para orangtua, karena efek negatif yang ditimbulkan. Sebuah penelitian dari Ramadhan (2015) meyebutkan, bahwa remaja yang kecanduan selfie (berfoto sendiri) terbukti memiliki kelainan psikis.

Seorang remaja yang menjadi informan penelitian tersebut mengaku, mereka sulit bersosialisasi pada lingkungan nyata dan ingin terlihat trendi dan eksis di media sosial. Bahkan hingga rela berhutang untuk membeli baju model terbaru dan makan di kafe mahal, untuk diunggah di media sosial.

Jika kondisi ini terus terjadi, maka masa depan bangsa akan terancam. Generasi muda yang terlena dengan gadget, bisa terjerumus pada gaya hidup hedonis dan memiliki kepekaan rendah terhadap lingkungan sosialnya.

Apa saja tanda-tanda kecanduan gadget?
-Anak mulai tidak berminat pada aktivitas lain.
-Sehari lebih dari 2 jam menggunakan gadget secara terus menerus.
-Terlihat perubahan tingkah laku, misalnya menjadi pemarah.
-Moodswing atau suasana hati yang mudah berubah.
-Prestasi belajar menurun.
-Mulai malas untuk menjaga kebersihan dan kesehatan diri. (Gustiana,2016)

Gerakan literasi media merupakan harapan ketika banyak remaja kita kecanduan media. Inti dari gerakan ini adalah, mengajak masyarakat untuk lebih cerdas dalam penggunaan media.

Kita diharapkan mampu untuk memilih informasi yang kita butuhkan, dan bukan mengakses media hanya untuk keinginan. Orangtua diharapkan dapat mendampingi dan mengkontrol putra-putrinya dalam penggunaan gadget.

Membatasi penggunaan gadget, merupakan langkah awal untuk menyelamatkan diri kita sendiri dan anak-anak kita dari bahaya kecanduan media.

Berikut ini adalah diagram yang dapat digunakan orangtua untuk memantau penggunaan gadget pada anak-anak berdasarkan usia anak.

Usia 0-2 tahun tidak diajurkan (berdasarkan rekomendasi APA, American Pediatric Association) karena sinar biru yang terpancar melalui layar sentuh berpengaruh pada perkembangan syaraf mata.

Usia 3-5 tahun, hanya dianjurkan 1 jam perhari untuk hiburan seperti mendengarkan lagu, menari, dan bernyayi. Anak usia dibawah 5 tahun membutuhkan stimulasi untuk perkembangan motoriknya sehingga aktivitas bergerak sangat diajurkan.

Usia 6-12 tahun, waktu untuk beraktivitas dengan gadget 1-2 jam perhari untuk hiburan dan sarana belajar dengan pengawasan orangtua.

Usia 13-18 tahun, remaja sudah dapat diberi kepercayaan untuk menggunakan gadget sehari-hari dengan pengawasan penuh dari orangtua.

Keterlibatan orangtua dalam aktivitas sehari-hari anak sangat dibutuhkan, misalnya orangtua meluangkan waktu 15-45 menit sehari untuk family time. Membuat peraturan penggunaan gadget, untuk orangtua dan anak ketika di rumah.

Selain itu, harus ada keterbukaan dalam berkomunikasi dengan anak. Orangtua juga harus terampil menggunakan perangkat digital, misalnya memonitor pertemanan anak di media sosial dengan ikut serta berteman secara virtual.

Menjadi orangtua digital, harus mampu menjadi teladan atau role model untuk anak-anaknya tentang keseimbangan penggunaan gadget. Mulailah cerdas bermedia, dan bersama-sama berdiet media!.

*Ellen M Yasak MA, Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Tribhuwana Tunggadewi dan pendiri Komunitas Mediadiet di Malang.

#malangmacet Tumbal Kebijakan Kayu Tangan Heritage

Ferry Anggriawa S.H., M.H

Oleh: Ferry Anggriawa S.H., M.H

Kebijakan Pemerintah Kota Malang untuk meneruskan proyek Kayu Tangan Heritage yang sempat terhenti akibat pandemi covid 19, merupakan mega proyek besar, bagaimana tidak? Secara fiskal, sokongan dana untuk pengerjaan proyek ini tidak hanya dari APBD Kota Malang Tahun 2019 dengan nominal 1,6 M saja, melainkan juga ada sokongan dana dari APBN sebesar 23 M termasuk untuk wilayah Polehan dan Kauman Heritage yang sudah disepakati baik oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Kota Malang.

Di mata hukum pengeloaan keuangan negara secara fiskal, kucuran dana yang diperoleh sudah berdasarkan hukum, karena telah dituangkan melalui APBN dan APBD. Tindakan hukum yang dilakukan oleh pihak Kepolisian, Dinas Perhubungan dan seluruh Aparatur Negara yang terlibat dalam pelaksanaan dan proses pengerjaan mega proyek ini sudah dipastikan didasarkan pada Surat Tugas/Surat Keputusan yang dikeluarkan oleh Instansi yang bersangkutan.

Secara konsep hukum, perbuatan tersebut adalah perbuatan hukum yang berlandaskan asas legalitas, Tetapi hukum tidak berhenti dikonsep, hukum bukan hanya sesuatu yang diciptakan oleh penguasa kemudian didogmakan kepada masyarakatnya bahwa ini adalah sesuatu yang ideal, tetapi hukum harus sesuai dengan keadaan dan realita masyarakatnya itulah yang dikenal dengan istilah das sollen dan das sein.

Kayu Tangan Heritage adalah satu dari kebijakan publik yang ideal dan dicita-citakan oleh Pemerintah Kota Malang, tetapi proses pelaksanaan kebijakan tersebut telah menumbalkan kepentingan warga Kota Malang yang harus tersita waktunya, dipaksa untuk cerdik mengambil opsi jalan lain supaya tidak bertemu dengan titik kemacetan yang sudah menyebar dibeberapa titik dan dampak ekonomi yang harus diemban bagi pelaku-pelaku ekonomi, baik yang berada wilayah proyek atau sekitaran wilayah tersebut, termasuk Pasar Burung, Ikan Hias dan Bunga Kota Malang pasti menerima imbas dari ditutupnya akses jalan tersebut. Beberapa keresahan dan kemarahan itu tertampung di dunia maya melalui #malangmacet yang menggema di kanal twitter, instagram dan facebook semua menyuarakan hal serupa, karena menjadi tumbal dari kebijakan ini.

Hakikat kebijakan publik adalah serangkaian tindakan yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh Pemerintah yang berorientasi pada tujuan tertentu, guna memecahkan masalah-masalah publik untuk kepentingan publik. Kayu Tangan Heritage adalah salah satu kebijakan publik yang berorientasi pada keindahan kota, bukan memecahkan masalah-masalah publik.
Masalah yang harus diselesaikan dan kepentingan publik yang harus dipenuhi di era pandemi saat ini, bukanlah kota yang indah dengan ornamen-ornamen klasik berestetika sejarah, tetapi tercukupinya kebutuhan ekonomi, terlaksananya rutinitas warga Kota Malang kembali normal dan salah satu syarat itu adalah jalanan yang aman, tertib dan bebas dari kemacetan.

Mega proyek Kayu Tangan Heritage bukan hakikat dari kebijakan publik, #malangmacet, sulitnya akses menuju pelaku-pelaku ekonomi sekitaran wilayah tersebut dan keadaan di jalanan Kota Malang yang semakin tidak kondusif adalah fakta bahwa kebijakan ini adalah kebijakan yang dibuat atas dasar hukum untuk tujuan yang dicita-citakan oleh Pemerintah saja, tetapi harus menumbalkan kepentingan publik dibalik jubah hukum yang mendasarinya.

*) Ferry Anggriawa S.H., M.H
Dosen Fakultas Hukum Universitas Merdeka Malang

Otak dan Stamina Sehat di Usia Lanjut

Oleh: Ayu Bulan Febry KD SKM MM *

Seseorang dikatakan memasuki masa usia lanjut setelah melintasi usia 60 tahun ke atas. Jangan hanya berfikir bahwa waktu tua nanti, hanya sosok yang sakit-sakitan, pikun, dan tubuh yang lemah rentan. Di usia lanjut ini ternyata Anda pun dapat menikmati hari-hari yang menyenangkan, sehat, dan bahagia. Kuncinya siap akan perubahan yang kan Anda alami baik fisik dan mental, atur asupan makanan, rutin kontrol kesehatan, tetap berolahraga, dan selalu tersenyumlah…

Perubahan Fisik dan Mental

Perubahan secara fisik atau mental banyak terjadi ketika seseorang memasuki usia tua. Perubahan yang biasa terjadi adalah timbulnya uban, penglihatan berkurang, tanggalnya gigi, pikun, pendengaran menurun, dan merasa dirinya dikucilkan. Perubahan tersebut secara alami pasti terjadi.

Bila seseorang sudah lansia, akan terjadi perubahan fisik yang perlu mendapat perhatian. Seseorang akan memiliki otot yang kuat pada usia 20 tahun. Kekuatan ini akan menurun ketika menginjak usia 40 tahun. Pada usia 60 tahun, kekuatan otot hanya tinggal setengahnya dibandingkan dengan bertambahnya usia. Upaya untuk memperbaiki fungsi otot dapat ditempuh dengan cara latihan fisik yang tepat dan berkesinambungan.

Peningkatan jumlah lemak pada tubuh orang lansia dipengaruhi oleh penurunan aktivitas fisik yang tidak diimbangi dengan pengurangan asupan makanan. Peningkatan jumlah lemak akan dapat berdampak terhadap timbulnya penyakit. Perubahan fisik lain yang sering dialami oleh lansia adalah gangguan kesehatan gigi seperti kerusakan gusi, karies pada akar gigi, dan tanggalnya beberapa gigi. Kondisi ini mengakibatkan lansia mengalami hambatan dalam proses mengunyah.

Sejalan dengan bertambahnya usia, kemampuan indra penciuman dan perasa juga secara perlahan mulai menurun. Perubahan ini kadang-kadang tidak disadari oleh mereka. Kekurangan beberapa zat gizi seperti seng, tembaga dan beberapa vitamin dapat memicu penurunan kepekaan indra penciuman dan perasa. Kondisi ini mengakibatkan selera makan menurun sehingga dapat menimbulkan kekurangan zat gizi.

Produksi asam lambung dan beberapa enzim pencernaan juga mulai mengalami penurunan. Kondisi ini berpengaruh terhadap penyerapan vitamin dan kalsium dalam usus. Akibatnya akan timbul berbagai penyakit yang berhubungan dengan lambung dan usus seperti tukak lambung, sembelit atau kurang gizi

Beberapa penyakit yang sering timbul pada lansia adalah penyakit jantung dan penyempitan pembuluh darah yang dapat menyebabkan tekanan darah tinggi. Organ ginjal pun sering mengalami kelainan akibat berkurang fungsinya. Sistem endokrin juga mengalami kemunduran sehingga akan timbul penyakit diabetes mellitus.

Pada organ seksual, bisa mengalami kemunduran atau kelemahan fungsi sehingga libido menurun. Selain itu, untuk gerakan usus akan lebih lambat dan cairan lambung untuk memproses makanan berkurang. Akibatnya, penyerapan sari makanan oleh tubuh menurun. Selain itu, kotoran (feses) keluar tanpa terkontrol atau terkendali.

Selain itu sel otak mengalami penurunan sehingga secara keseluruhan akan menurunkan daya ingat dan daya pikir seseorang yang kemudian menjadi demensia (pikun). Jika mental lansia tidak siap menerima kenyataan ini, akan menjadi apatis bahkan depresi menghadapi semua perubahan pada masa tua.

Kebutuhan Gizi Usia Lanjut

Kebutuhan energi menurun pada proses menua. Hal ini disebabkan oleh terjadinya komposisi tubuh, yaitu menurunnya sel-sel otot dan meningkatnya sel-sel lemak yang menyebabkan menurunnya kebutuhan energi untuk menjalankan fungsi tubuh. Kebutuhan energi untuk usia lanjut pria sekitar 2200 kalori dan wanita 1850 kalori per hari.

Protein sebagai sumber energi tidak perlu dikurangi pada usia usia lanjut, karena protein berfungsi sebagai zat pembangun pada proses menua untuk mengganti sel-sel tubuh yang rusak. Tetapi protein tidak boleh dimakan dalam jumlah berlebih karena dapat memberatkan fungsi ginjal. Kebutuhan protein untuk usia lanjut adalah ± 0,8 gr/kg BB per hari.

Asupan lemak bagi usia lanjut tidak melebihi 15% kebutuhan energi. Di usia lanjut sebaiknya menggunakan minyak nabati (asam lemak tak jenuh), dan mengonsumsi ikan yang mengandung asam lemak tak jenuh adalah lebih baik dibandingkan protein hewani lainnya.

Penyakit-penyakit degeneratif sering kali dialami di masa usia lanjut ini seperti diabetes mellitus, jantung, hiperkolesterol, asam urat, hipertensi, dan lain-lain. Untuk itu pengaturan gizi dalam hal pemberian diit sangat diperhatikan dan disesuaikan dengan penyakit yang diderita.

Kiat Fisik dan Otak Sehat di Usia Lanjut

Nah, simak yuk sejumlah kiat supaya sehat di usia lanjut…

1. Kurangilah asupan santan, daging yang berlemak, dan minyak agar kolesterol darah tinggi tinggi, karena santan kelapa dan daging berlemak mengandung kolesterol yang tinggi.

2. Perbanyaklah mengonsumsi makanan berkalsium tinggi seperti susu, ikan, makanan laut, karena pada usia lanjut khususnya ibu-ibu yang menoupouse, sangat perlu mengonsumsi kalsium untuk mengurangi risiko keropos tulang. Dianjurkan susu yang rendah lemak tinggi kalsium, bisa juga susu skim. Selain itu, ikan laut memang memiliki kandungan gizi yang bermanfaat bagi otak. Ikan laut seperti tuna, salmon, makerel, sarden, serta ikan kod mengandung minyak ikan omega-3 yang kaya akan DHA. Sering mengkonsumsi ikan laut akan memperlancar proses pengiriman signal yang menuju otak.

3. Perbanyaklah konsumsi makanan berserat seperti sayur, buah, gandum, oat, agar pencernaan lancar dan tidak sembelit. Pilihlah sayur dan buah yang berwarna hijau, kuning, oranye karena selain memenuhi kebutuhan serat, juga untuk memenuhi kebutuhan vitamin A, C, E yang melindungi sel-sel tubuh termasuk sel otak dari kerusakan.

4. Kurangi konsumsi gula dan makanan yang mengandung karbohidrat tinggi agar gula darahnya normal, khususnya bagi penderita kencing manis.

5. Gunakanlah sedikit minyak untuk menumis dan kurangi makanan yang digoreng. Minyak mengandung kolesterol, dan kolesterol di dalam pembuluh darah dapat menyumbat pembuluh darah sehingga mengakibatkan penyakit jantung.

6. Makananlah cukup sumber zat besi. Sumber zat besi dari hewani (daging yang berwarna merah) dan nabati (sayuran berwarna hijau pekat) untuk mencegah anemia dan baik untuk kesehatan otak.

7. Perbanyaklah mengonsumsi makanan yang diolah dengan dipanggang atau direbus, karena makanan tersebut tidak mengandung kolesterol dan mudah dicerna tubuh.

8. Buatlah masakan agar lunak dan mudah dikunyah, sehingga kesehatan gigi terjaga.

9. Buatlah masakan dengan bumbu yang tidak merangsang seperti pedas atau asam karena dapat mengganggu kesehatan lambung dan alat pencernaan.

10. Kurangi pemakaian garam, yaitu tidak tidak lebih dari 4 gram per hari (1sdt = 5 gram), hal ini ditujukan untuk mengurangi risiko tekanan darah tinggi.

11. Minumlah air karena sangat penting bagi metabolisme tubuh dan mengganti cairan hilang dalam bentuk keringat dan urin.

12. Hindari minuman beralkohol, selain menyebabkan iritasi lambung, minuman berlakohol memiliki kandungan energi yang sangat tinggi yang dapat menyebabkan obesitas/kegemukan.

Menu Sehari-hari Usia Lanjut
Berikut ini adalah contoh menu dalam sehari untuk usia lanjut :

Pagi (±Jam 06.00) : Nasi putih, Soto ayam

Snack (±Jam 10.00) : Susu rendah lemak tinggi kalsium

Siang (±Jam 13.00) : Nasi putih, Rolade daging,Tempe bacem, Rawon jamur kancing,Buah melon Snack (±Jam 16.00) : Kue nagasari

Malam (±Jam 19.00) : Nasi putih, Tengiri kuah kuning , Perkedel tahu, Tumis labu siam, Buah pepaya

*Ayu Bulan Febry KD SKM MM, Penulis buku-buku gizi dan kesehatan, penyuluh kesehatan di Instalasi PKRS RS Jiwa Dr Radjiman Wediodiningrat Lawang.

 

Politik Pencitraan adalah Politik Kepalsuan

Oleh: Caping Maskarah Safril *

KONSEP politik yang bermoral pun mengajarkan untuk berhindar dari kebohongan dan kepalsuan. Politik memang sering merupakan pesta janji. Ketika janji itu sulit untuk ditepati, politik kebohonganlah yang sering terjadi. Politikus sering mencari alat-alat pembenaran untuk membingkai kebohongannya; mengesankan ketepatan janjinya. Inilah teori politik pencitraan yang keliru.

Namun, terkadang, kita berjanji tidak mengukur kemampuan, karena janji kita berpamrih. Banyak politikus berjanji karena ingin dipilih, sehingga janjinya muluk-muluk, terkadang tidak realistis.

Bagi politikus, ingkar janji tidak hanya dosa, tetapi melorotnya citra. Ketepatan janji adalah salah satu strategi politik pencitraan. Namun, untuk memenuhi strategi itu, terkadang bohong dilakukan. Padahal politik pembohongan kontraproduktif dengan politik pencitraan.

Hampir setiap permasalahan yang timbul selalu mendapat respon dari pemerinta dalam waktu yang cukup singkat. Tidak ada satupun masalah yang menyita perhatian banyak orang yang berhasil lewat dari jangkaun perhatian kepala negara.

Semua persoalan itu kemudian dibungkus rapi dengan berbagai pandangan dan argumen yang tidak jarang membuat masyarakat terlena akan sikap responsive kepala negara.

Hanya sayangnya, sikap responsive itu nampaknya hanya sekadar lips service belaka. Presiden seolah begitu respect dengan beban dan penderitaan banyak pihak. Namun realita yang ada justru tidak menunjukkan adanya langkah konkrit yang dapat merubah keadaan menjadi lebih baik. Justru yang muncul kemudian adalah sikap pembiaran dan terkesan lepas tangan. Seolah fungsi kepala negara hanya sekadar memberi komentar tanpa diikuti dengan tindakan dan langkah konkrit dalam mengurai berbagai persoalan yang ada.

Terlalu banyak contoh kasus yang dapat dimunculkan ke permukaan untuk membenarkan sikap pemerintahan saat ini yang penuh dengan tipu daya.

Lihat saja misalnya upaya pemberantasan korupsi yang hampir dalam setiap momen selalu didengung-dengungkan pemerintah. Kita memang mengapreasiasi langkah aparat penegak hukum dalam membuka tabir kejahatan, khususnya masalah korupsi yang sudah banyak diangkat ke permukaan.

Mafia peradilan, mafia pajak, mafia migas, mafia kepolisian, mafia-mafia lainnya adalah beberapa kasus yang mendapat sorotan tajam saat ini. Dalam perkembangannya, kasus-kasus yang demikian sudah lumayan marak yang dimejahijaukan. Namun sayangnya, dalam proses penuntasannya justru digantung ditengah jalan. Hampir belum ditemukan kasus-kasus yang sudah mendapat penuntasan secara riil.

Mencermati perkembangan politik yang diusung pemerintah saat ini, justru yang menonjol adalah budaya pencitraan diri dan membangun pamor serta popularitas di balik kebohongan dan tipu muslihat. Aroma pencitraan itu begitu tercium dengan jelas ketika berbagai program yang didengungkan justru tidak ada yang berhasil mencapai titik kesuksesan. Pemerintah hanya lihai dalam beretorika, tetapi dalam tatanan implementasi justru mandul dan tidak mampu memberikan harapan kepada publik.

Pendek kata, karena politik pencitraan hanya menonjolkan tampilan luar, maka dengan mudah pun ia akan tersingkap. Selain hukum waktu yang akan berbicara, hembusan angin kritis dari rakyat pun bisa menyingkapnya.-

*Caping Maskarah Safril, Ketua Asosiasi Pedagang Kali Lima Indonesia Kabupaten Malang. Tinggal di Jalan Bandulan 6 Sukun, Malang.

Refleksi Pemerintahan HM Anton – Sutiaji Selama 2016

Oleh: Muhammad Anas Muttaqin MSi *

Tahun 2016 segera berakhir dan 2017 akan segera datang. Dalam kurun waktu 12 bulan, banyak catatan yang telah dicapai Pemerintah Kota Malang dalam mengelola berbagai sektor. Diantaranya berbagai inovasi untuk mempercantik Kota Malang lewat revitalisasi Taman Kota, yang sebagian besar diperoleh lewat dana CSR. Maupun berbagai inovasi kampung tematik seperti kampung Jodipan dan gerakan menabung air di Kampung Glintung.

Ada prestasi dan penghargaan yang dicapai selama periode tahunan tersebut, diantaranya dalam hal pelayanan publik dan inovasi. Pembangunan infrastruktur seperti jalan raya juga dinilai lebih baik dari sebelumnya. Namun tak sedikit juga catatan buruk muncul karena kinerja yang dinilai kurang maksimal selama 12 bulan terakhir.

Dari riset dan kajian Lembaga Hasta Komunika, catatan buruk masih dialamatkan kepada beberapa kebijakan Walikota dan SKPD karena sejumlah program yang belum berjalan dengan baik. Hal itu terjadi, karena belum terjadinya sinkronisasi program dengan baik antara konsep, perencanaan, dan implementasi di lapangan.

Lembaga riset dan konsultan ini juga mencatat, ada beberapa persoalan yang dinilai belum tuntas diselesaikan pada tahun 2016 ini, di antaranya:

Polemik Pengelolaan Parkir

Persoalan parkir merupakan salah satu masalah paling serius di Kota Malang. Mulai dari kenaikan tarif parkir, maraknya parkir liar, tidak adanya karcis parkir serta manajemen parkir yang masih kurang baik sehingga berpotensi menyebabkan kebocoran PAD. Bahkan puncaknya adalah ketika muncul petisi online soal parkir yang ditujukan kepada Walikota Malang sehingga memicu sorotan dan perbincangan publik. Sampai akhir tahun ini, persoalan parkir dinilai belum sepenuhnya dapat diatasi oleh Pemkot Malang. Beberapa tindakan masih dinilai reaktif dan formalitas, tanpa memperbaiki sistem secara menyeluruh sehingga keluhan masih banyak dirasakan masyarakat.

Malang Darurat Banjir

Masalah banjir juga menjadi persoalan yang cukup sering dihadapi oleh masyarakat. Setiap musim hujan, beberapa titik di kota Malang tercatat menjadi langganan banjir. Bahkan yang terparah, beberapa bulan lalu sempat terjadi banjir yang cukup parah di beberapa titik seperti di Jalan Galunggung dan jalan Surabaya hingga menyebabkan genangan setinggi dada orang dewasa. Buruknya penataan infrastruktur saluran air dan pembangunan yang menyalahi aturan dinilai menjadi penyebab utama terjadinya banjir tersebut. Diketahui sampai akhir tahun ini, masih banyak wilayah di Kota Malang yang masih kerap dilanda banjir ketika hujan turun.

Jalan Macet dan berlubang

Kepadatan lalu lintas di Kota Malang sudah memasuki fase yang lumayan parah. Kemacetan di beberapa ruas utama Kota Malang terjadi setiap hari. Bahkan banyaknya jalan berlubang turut memperparah kondisi tersebut sehingga rawan menyebabkan kecelakaan. Buruknya pengelolaan angkutan umum di Kota Malang ditengarai menjadi salah satu penyebab kepadatan kendaraan karena masyarakat merasa kurang nyaman memakai jasa angkutan umum. Rekayasa lalu lintas yang kurang maksimal juga menjadi penyebab lain. Butuh kerjasama 3 kepala daerah di Malang Raya dalam mengatasi persoalan tersebut.

Dugaan Korupsi

Persoalan Korupsi selalu menjadi sorotan dalam setiap penyelenggaraan pemerintahan daerah, begitu juga dengan Kota Malang. Beberapa isu tentang dugaan korupsi dinilai masih belum tuntas diselesaikan hingga akhir tahun ini. Diantara dugaan korupsi adalah pengadaan lahan RSUD Kota Malang sebesar Rp 4,3 miliar, dan pengerjaan Jembatan Kedungkandang sebesar Rp 7,9 miliar.

Ada juga dugaan korupsi terkait pengerjaan drainase sebesar Rp 5,8 miliar. Bahkan korupsi di Dinas Pasar Kota Malang sudah sampai pada tahap penetapan tersangka. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dikabarkan juga sudah turun tangan memeriksa beberapa pejabat di eksekutif dan legislatif terkait beberapa dugaan kasus korupsi. Menurut Malang Corruption Watch (MCW), Kota Malang masuk 10 besar kasus korupsi di Jawa Timur.


Polemik Penyelesaian Pasar Dinoyo Dan Pasar Blimbing

Penyelesaian polemik pedagang Pasar Merjosari yang tidak mau dipindah ke Pasar Terpadu Dinoyo ternyata berlanjut dan belum menemukan solusi konkret hingga saat ini. Para pedagang menilai Pasar dinoyo belum layak untuk ditempati dan ada beberapa kesepakatan yang belum dipenuhi oleh investor. Bahkan beberapa saat lalu persoalan tersebut meluas dengan munculnya masalah sampah yang sampai berhari-hari tidak diangkut oleh dinas pasar Kota Malang. Polemik ini diwarnai dengan demonstrasi yang berkali-kali dilakukan oleh paguyuban pedagang pasar. Revitalisasi pasar Blimbing juga menemui persoalan serupa, relokasi pedagang ke pasar penampungan sementara belum menuai hasil hingga saat ini. Pola komunikasi dan diplomasi Pemkot Malang dalam penyelesaian masalah ini turut menuai kritik.

Menjamurnya Toko Modern

Persoalan menjamurnya toko modern di Kota Malang turut mengundang keprihatinan banyak pihak. Banyak masyarakat menilai bahwa kehadiran toko modern membuat pedagang kecil tersingkir. Tercatat sudah 257 toko modern berdiri di Kota Malang hingga pertengahan tahun ini.Puncaknya adalah munculnya Aliansi Anti Toko Modern Ilegal Kota Malang yang menuntut agar pemerintah daerah menutup toko modern yang tidak berijin dan menyalahi aturan. Aliansi juga menuntut pemerintah menata kembali operasional toko modern di kota Malang sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Menjamurnya toko modern dikhawatirkan akan mematikan toko tradisional dan juga memicu permasalahan sosial ekonomi di masyarakat.

Lemahnya City Branding

Branding kota menjadi semakin penting sebagai daya tarik untuk bersaing merebut perhatian konsumen, wisatawan, investor dan pemangku kepentingan lain yang menghasilkan pemasukan untuk daerah. Selama ini branding Kota Malang masih dinilai kurang maksimal baik dari sisi kemasan, strategi dan konsep. Dibutuhkan pengenalan dan keterlibatan masyarakat secara aktif untuk membantu memperkuat branding kota. Pemerintah dituntut untuk tahu bagamaina “cara menjual” dan “apa yang dijual” di daerahnya sehingga jargon “beautiful Malang” ataupun maskot Kota Malang tidak hanya menjadi slogan pelengkap belaka.

Beberapa Persoalan Lain

Selain berbagai persoalan diatas, ada beberapa persoalan lain yang dinilai masih sering terjadi di Kota Malang. Diantaranya adalah persoalan pelayanan publik yang seringkali masih menuai keluhan dari masyarakat. Layanan pengaduan SAMBAT online dinilai masih kurang maksimal dan lamban dalam merespon. Mahalnya biaya pendidikan juga masih menjado sorotan, hingga persoalan PPDB yang tiap tahun selalu menuai polemik di masyarakat. Kebijakan pemerintah daerah yang seringkali berbenturan dengan kepentingan masyarakat juga masih kerap terjadi, seperti persoalan “jalan satu arah” yang pernah menjadi polemik berkepanjangan. Penataan pedagang kaki lima (PKL) di beberapa tempat dinilai juga belum berjalan maksimal. Pemerintah daerah juga dituntut untuk lebih melindungi kawasan heritage sebagai salah satu simbol dan identitas kota. Terakhir, sepak terjang Walikota Malang yang masih terkesan “one man show” menjadi sorotan masyarakat agar lebih memberi ruang kepada wakilnya untuk berbagi peran sesuai tupoksinya.

Optimisme menyambut 2017

Periodesasi pemerintahan HM. Anton – Sutiaji sudah berjalan 3 tahun lebih. Masih ada waktu sekitar 1,5 tahun lagi untuk menyelesaikan berbagai target dan program yang belum terlaksana, sebelum dilaksanakannya pilkada 2018 nanti untuk memilih kepala daerah baru. Semoga disisa waktu yang ada, Pemkot Malang dapat meningkatkan kualitas pelayanan dan inovasi dalam membangun Kota Malang yang bermartabat sesuai dengan visi misi yang dicanangkan. Butuh partisipasi dari semua pihak untuk mensukseskan hal tersebut. Salam Satu Jiwa!

*Muhammad Anas Muttaqin MSi, Direktur Eksekutif HASTA KOMUNIKA Research & Consulting.

Apakah Covid-19 Memuara ke Malhamah?

Anwar Hudijono

Oleh: Anwar Hudijono

Kehidupan global pada saat ini sebenarnya sedang dilanda dua perang yang berskala global. Pertama, perang siber. Kedua, perang melawan virus Covid-19. Kedua perang ini sering kali saling berkaitan.

Misalnya, maraknya hoax, propaganda, misinformasi sebagai variable perang siber yang mengkait persoalan Covid-19. Masuknya perang siber ini membuat perang Covid-19 menjadi kian membahana layaknya api disiram bensin.

Biar gak terlalu ruwet, bahasan kali ini saya batasi soal perang lawan Covid-19. Tidak ada satu pun negara di dunia yang tidak berperang melawan virus asal Wuhan, China ini. Kalau saja terlihat nyata, perang ini sangat mengerikan.

Betapa tidak, dalam waktu sekitar setahun, 114 juta orang di dunia terinfeksi Covid-19. Lebih 2,6 juta orang meninggal. Di Indonesia saja yang meninggal ada 36.325 orang. Total yang terinfeksi 1.341.314 orang. Yang sembuh 1.151.915 orang.

Di masa perang melawan Covid-19 ini juga terjadi sub-sub perang. Di antaranya, kubu pro teori konspirasi versus virus itu nyata. Di pro teori konspirasi pun terdapat pelbagai kubu yang saling bertabrakan.

Di kubu pro virus itu nyata juga terjadi perang antara mazhab ekonomi versus mazhab kesehatan. Keduanya juga sangat sulit kompromi. Mazhab ekonomi yang bersumber pada falsafah maferialisme selalu mendulukan bagaimana ekonomi tetap tumbuh dengan selamat. Terkadang terkesan mengabaikan keselamatan rakyat. Bahkan dana keselamatan seperti Bantuan Sosial (Bansos) ditilep. Mereka ini ibarat doyan makan bangkai saudaranya.

Adapun mazhab kesehatan berpinsip, keselamatan rakyat adalah jiwa negara. Maka mencegah berbiaknya virus harus nomor satu. Mencegah terinfeksi apalagi sampai mati adalah nomor wahid.

Perang melawan Covid-19 di banyak belahan dunia saat ini pada babak vaksinasi. Apakah vaksinasi akan menjadi penentu kemenangan? Tidak ada yang berani menjamin. WHO menggunakan standar ganda. Vaksinasi penting tapi tidak berani menjamin pandemi selesai. Vaksinasi itu hanya istilahnya ikhtiar dengan kalkulasi ilmiah. Petinggi WHO khawatir akan menjadi endemik.

Yang banter gembar-gembor vaksin manjur bin efektif itu baru sebatas kalangan produsen vaksin beserta sales promotion, infleenser, buzzer plus makelarnya. Juga orang yang nggludung semprong. Ikut-ikutan. Komunitas kemeruh. Gak perlu ada fakta untuk menebar kesimpulan. Di sini batas optimisme dan misi dagang menjadi bias.

Lebih ganas dan mematikan

Kita harus terima kasih kepada sains yang telah menemukan vaksin. Itu kata Bill Gates, orang tajir di dunia. Kendati demikian Gates memprediksi di masa depan akan nada virus yang lebih ganas, lebih cepat penyebarannya dan lebih mematikan dibanding Covid-19. Virus itu bisa jadi hasil mutasi dari Covid-19.

Akan ada bioterorisme. Penggunaan virus mematikan hasil rekayasa genetika yang dipergunakan untuk melakukan teror. Bisa dilakukan oleh negara, organisasi, maupun perseorangan. Ini tidak main-main.

Ada lagi yang tak kalah gawat bagi kehidupan global. Yaitu perubahan iklim yang akan menjadi ancaman terbesar yang dihadapi manusia modern. Peringatan itu disampaikan David Attenborough, pemerhati alam asal Inggris. Ia menyampaikan itu di sidang PBB, Selasa (23/2).

Para peminat teori konspirasi berpandangan, salah satu faktor yang memantik ancaman perubahan iklim ini adalah ulah manusia. Dilakukan secara by design, terencana untuk merusak ekologi, mengurangi populasi penduduk dunia, bisnis, kekuasaan.

Dari pandangan-pandangan tersebut, pandemi globlal Covid-19 ini seolah hanya semacam hujan gerimis menuju hujan lebat dan akhirnya badai. Jika perang melawan Covid-19 ini masih dianggap kecil, apakah dunia sedang menuju perang yang kian besar dan semakin besar. Da ujung akhirnya malhamah?

Akhir zaman

Malhamah. Apakah itu malhamah? Dan tahukah Anda apa itu malhamah? Yaitu perang superbesar, mahadahsyat. Rasulullah Muhammad menggambarkan kedahsyatannya bahwa dari setiap 100 tentara yang terlibat perang, hanya hidup satu orang. Lainnya tewas.

Ada juga yang menyebut malhamah kubro. Mungkin ini gaya bahasa superlatif. Biar semakin seru. Kosa kata kubro memang lagi ngetrend. Apa-apa kubro. Istighotsah kubro. Mauludan kubro. Megengan kubro.

Sampai-sampai orang Amerika ikut-ikutan. Membuat film berjudul Kubro dengan bintangnya aktor laga keren, Silvester Stallone. Cuma karena orang Amerika susah mengucapkan kata Kubro, lantas judul filmnya diganti Cobra.

Malhamah adalah bahasa nubuwat akhir jaman. Terjadi menjelang Hari Kiamat. Hari Penghakiman. Para pelaku perang memperebutkan gunung emas di sungai Efrat. Bagi yang berpikir harfiah (tekstual), akan muncul gunung emas di sungai daerah yang alirannya melintasi beberapa negara seperti Turki, Irak. Lantas manusia berdatangan untuk memperebutkan dengan saling membunuh.

Bagi yang mau berpikir di luar metode harfiah, gunung emas itu adalah simbol kemegahan duniawi. Simbolik materi, ekonomi. Gunung emas adalah sumber minyak yang menjadi potensi kawasan itu. Artinya memperebutkan aset ekonomi yang berasal dari eksplorasi minyak di kawasan itu. Ketika ekonomi minyak dari kawasan itu sudah menjadi ekonomi global maka lokasi malhamah tidak hanya di situ tetapi juga akan bersifat global. Yang terlibat juga kekuatan-kekuatan global.

Gambaran dari 100 tentara hanya selamat satu, menurut tafsiran eskatolog Islam, Syekh Imran Hossein, berarti yang akan terjadi perang yang menggunakan senjata pemusnah massal. Misalnya, bom nuklir, senjata biologi, senjata kimia.

Kini negara-negara yang berseteru, pendelik-pendelikan, panas-panasan adalah pemilik senjata pemusnah massal. Mereka kini terus mengembangkan daya penghancurnya. Negara-negara itu misalnya, Amerika Serikat, Israel, Rusia, China, Inggris, Perancis, Korea Utara.

Amargedon

Rasulullah dengan tegas menyatakan, umat Islam tidak boleh ikut-ikutan terjun ke malhamah. Mati dalam perang memperebutkan kekayaan dan kemegahan duniawi itu akan sia-sia. Bukan mati syahid, tapi mati sangit.

Pertanyaannya apakah malhamah belum terjadi? Bukankah ada perang-perang besar sejak jaman Rasulullah. Perang Dunia I jumlah tentara yang tewas sekitar 11 juta orang dan sipil 13 juta. Perang Dunia II jumlah tentara tewas hampir 25 juta, sipil hampir 2 juta.

Umumnya para ekskalolog menyatakan akan terjadi Perang Dunia III. Itulah yang disebut malhamah. Eskatolog Barat dan nubuwat alkitabiah menyebut amargedon. Meski sama-sama perang mahadahsyat tapi secara substatif tidak sama antara malhamah dan amargedon.

Malhamah perang sesama kaum fasik untuk memperebutkan materi, kemegahan duniawi. Amergedon adalah perang kekuatan Tuhan melawan kekuatan kekuatan setan (lucifer).

Yang dinubuwatkan dalm Islam seperti amargedon adalah perang yang antara Al-Masih ad- Dajjal (Dajjal) melawan Nabi Isa. Perang ini satu paket dengan perang Yakjuj dan Makjuj melawan Imam Mahdi.

Apakah Covid-19 ini akan memuara kepada malhamah atau amargedon layaknya hujan gerimis yang akan terus menjadi deras, badai dan banjir? Rabbi a’lam (Tuhan lebih tahu).

“Dalam perang besar ini, hanya mereka yang mendapat perlindungan Tuhan yang selamat,” kata Resi Byasa kepada Maharaja Destarasta tentang Perang Baratayudha.

Yang pasti, dalam sutuasi kehidupan yang tidak menentu ini, salah satu kuncinya adalah mengikuti petunjuk Quran Surah Ali Imran (3) ayat 200: “Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu. Dan tetap bersiap-siagalah dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”
Allahu a’lam bis-shawab

Anwar Hudijono
kolumnis tinggal di Sidoarjo

Ade d’Kross, dari Malang Sampai ke Bulan

Frontman d'Kross Ade Herawanto membentangkan syal Arema. (istimewa)

Oleh: Damarhuda

Kota Malang kehilangan satu magnitnya, Ir Ade Herawanto, atau dikenal Ade D’kross, yang Kamis (25/3) lalu tertangkap Polresta Malang, kasus narkoba.

Mestinya, 1 April ini, kota Malang merayakan ke-107 Hari Jadinya yang bertema “Peduli dan Berbagi”, tapi bagi Ade D’kross yang juga Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Pemkot Malang ini, ia sedang menunggu kepedulian Kota Malang.

Bahkan seandainya Arema atau Aremania mengirim tim pengacara untuk membantu advokasi Ade Kross agar bisa direhabilitasi saja atau diringankan kelak hukumannya, itu pun masih tak sebanding bagi pengorbanan Ade D’kross untuk Arema, Aremania dan Malang.

Ade lah yang jadi pelopor lahirnya band suporter di tanah air, D’kross Band, yang didedikasikan bagi Arema dan Aremania.

Ade dan D’kross ini yang kemudian menginspirasi saya dan temen-temen musisi di Surabaya, Royke, Reky, Mugix Power Metal dan Hendrix Sanada Andromedha, lantas mendirikan Arek Band, untuk bonek.

Sebagai ASN Pemkot Malang, kemampuan merangkul Aremania, membuat ia “begitu penting” bagi dua Walikota Malang sebelumnya, Peni Suparto dan Abah Anton. Untuk Walikota Malang sekarang, Drs.H. Sutiaji, ia sedang dipinang atau ia yang sedang meminangnya.

Beberapa tahun lagi, Ade D’kross akan pensiun dari ASN dan santer terdengar, ia bakal nyalon Cawali atau Cawawali 2024, sebelum kasus narkoba menghentikan mimpinya.

Datanglah ke kota Malang, siapa yang tak kenal Ade D’kross? Ia kawan bagi ASN, insan pers dan pengusaha, ia publik figur bagi Aremania, ia pun dermawan bagi sahabat-sahabatnya yang kesulitan ekonomi.

Sosoknya yang energik, penuh spirit, humoris, cerdik dan cerdas membaca peta kariernya, membuat ia melejit bagai sebuah meteor di kota Malang.

Tapi meteor kecil itu sedang jatuh dan ia sekarang digelandang ke Polda Jatim.

Kahlil Gibran berkata, “Orang kuat bukan ia yang selalu menang, tapi ia tetap tegar ketika jatuh.”

Saya mengenal Ade, saat sama-sama menghabiskan masa SMA di lingkungan “SMA Tugu” kota Malang, ia di SMA 3 dan saya di SMA 4 , beda satu tingkat, tapi kami sering bersama.

Saat ia masih jadi Kasi di Dinas Kimpraswil Pemkot Malang, ia sudah cerdik menilai, misalnya ia bilang akan ada anggota DPR RI di Jakarta yang akan pulang ke Malang dan nyalon Walikota.

Ade ngajak saya membuatkan buku biografi sosok tadi, kelak orang pun tahu, tokoh itu adalah Peni Suparto dan kita pun tahu, 10 tahun atau dua periode kepemimpinan Walikota Peni Suparto, Ade menjadi orang dekatnya dan kariernya terus melejit seperti meteor di langit.

Saat Ade ingin mendirikan band Dkross, kami bertemu lagi di rumah saya, Istana Bedali Agung, Lawang, Kab Malang.

Ada sebuah lagu yang saya ciptakan sama Robi, anak Malang, yang tahun 1996 ketemu di Gank Potlot Jakarta, markas Slank. Waktu malam hari di Potlot bersama Robi, saya ingat masa SMA di Tugu Malang dulu, bila sampai malam hari menikmati “Alimi” atau “Drum”, kami melihat bulan di langit seperti bertengger di pucuk Tugu Malang atau bulan mengintip di rerimbunan Splendid Iin. Malang begitu dekat ke bulan!

Kami lantas ingat band Rolling Stone “You Gotta Move”, atau The Police yang bikin “Walking On the Moon”. Lagu ini bicara bulan, dan kalau lagi kubam rasanya kita seperti sedang berjalan di bulan.

Nah, Robi sambil genjrengan, saya tulis lirik “Dari Malang sampai ke Bulan.” Sama-sama bercerita tentang bulan di langit, dari pandangan sang pemimpi yang sempoyongan, mulut bau minuman yang merindukan pulang.

Lagu itu kemudian saya kasihkan Ade. Dan album perdana D’kross, kita tahu, lagu “Malang ke Bulan” meledak dan masih dinyanyikan hingga sekarang.

Tapi meteor itu sedang jatuh. Banyak yang meramalkan karier Ade bakal hancur. Tapi saya bilang tidak, usai menjalani hukumannya kelak, Ade selalu punya jalan kebenarannya sendiri, walaupun juga ia banyak musuhnya, termasuk spekulasi dugaan ia dijebak dalam kasus narkoba yang menjeratnya, tapi tak ada yang bisa merampas kecemerlangan sang meteor kecil ini, yang cerdas dan lincah, cerdik dan cendikia, yang agamis sekaligus juga “srontong” khas arek Malang, “damai oke ribut oke.”

Ade mungkin lagi jatuh, tapi InshaAllah, kelak ia akan mengorbit lagi, dari Malang akan kembali mencapai bulan, dari cara yang lain.

Tahes selalu ya Sam Ade, ndang utem Jes !

*) Damarhuda wa alias Catur,
alumni SMA 4 Malang’88/Kepala Biro Jatim JPNN.com

Hardiknas Ditengah Covid-19, Masa Depan Anak Bangsa Untuk Sejarah

Setiap tanggal 2 Mei bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Keberadaan Hari Pendidikan Nasional pun tidak terlepas dari sosok pejuang pendidikan di zaman kolonial yaitu Ki Hadjar Dewantara. Hari pendidikan nasional merupakan hari nasional yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia untuk memperingati hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara yang juga merupakan sosok pendiri lembaga pendidikan Taman Siswa.

Ki Hadjar Dewantara adalah pahlawan Indonesia, beliau juga berperan penting dalam kemajuan pendidikan di Indonesia. Ia mendirikan perguruan Taman Siswa yang menjadi tempat bagi penduduk pribumi biasa untuk menikmati pendidikan yang sama dengan orang-orang dari kasta yang lebih tinggi. Hal tersebut dikarenakan pada masa penjajahan Belanda, pendidikan adalah hal yang sangat langka dan hanya untuk orang terpandang (keluarga priyayi) dan orang asli Belanda yang diperbolehkan untuk mendapat pendidikan.

Dia juga terkenal dengan tulisannya yang menyebabkan Dia sering terlibat dalam masalah dengan Belanda. Hal tersebut karena tulisan-tulisan Ki Hadjar Dewantara yang tajam dan ditujukan untuk mengkritik pihak Belanda. Tulisannya yang terkenal adalah Als Ik Eens Nerderlander yang berarti Seandainnya Saya Orang Belanda. Dia pun pernah diasingkan ke Pulau Bangka oleh pihak Belanda. Namun akhirnya Ki Hadjar Dewantara mendapatkan bantuan dari Cipo Mangoenkoesumo dan Douwesc Dekker yang meminta pemerintahan agar Ia dipindahkan ke Belanda. Setelah beliau kembali ke tanah air Indonesia, beliau mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa pada tanggal 3 Juli 1922. Lembaga ini kemudian menjadi tolak ukur dari awal konsep pendidikan nasional Indonesia.

Ditengah susahnya akses pendidikan, para pelajar Indonesia sanggat sunguh-sungguh belajar, walaupun tahurahan nyawa sekalipun. Mereka siap berjuang untuk mencari ilmu dan mencerdaskan masyarakat yang belum beruntung mengakses pendidikan. Namun apa kabar pendidikan saat ini?

Seharusnya Indonesia sudan mandiri dalam Pendidikan sebagai tonggak dan fondasi utama negara. Kenyataanya Pendidikan hanyalah dijadikan sebagai alat komersialisasi untuk mengambil keuntungan. Uang sekolah mahal, dana riset banyak yang dikorupsi, rendahnya angka melek huruf, rendahnya minat baca, adalah contoh pendidikan Indonesia yang sedang tidak baik-baik saja. Seiring hal tersebut, nama suci Pendidikan sering kali tercemar dengan adanya praktik-praktik tidak senonoh yang dipertunjukkan oleh kaum pendidik maupun pelajar itu sendiri. Praktek nepotisme, mencontek, tindakan indisipliner, dan segala bentuk sifat amoral masih menimpa pendidikan Indonesia saat ini. Seharusnya pendidikan menjadi wadah pertama pembangunan karakter baik tenaga pendidikan maupun pelajar itu sendiri.

Sudah sepatutnya kita sebagai anak bangsa merasa malu dengan kondisi Pendidikan Indonesia saat ini yang sudah hampir berada di tatanan krisis, bahkan stadium empat, dimana harus ada penanganan khusus untuk menyelamatkannya. Pengaruh besar yang mengobrak-abrik pendidikan adalah pengaruh internal yang ditandai dengan ketidaksiapan pelajar dalam menanggapi perubahan yang semestinya tidak mereka saksikan. Sebagai contoh pengarun internal yang secara positif memudahkan pelajar dalam mengakses informasi, justru dijadikan sebagai media yang tidak seharusnya digunakan. Situs-situs tak layak tonton menjadi racun bagi pelajar saat ini. Game-game yang menguras waktu dan uang mengajarkan keborosan dan kesia-siaan akan waktu yang seharusnya dijadikan sebagai ajang upgrade diri. Miris, dirasakan ketika pelajar-pelajar lebih memilih boros dari pada menuntut ilmu di kelas. Lalu ini salah siapa?

Tahun 2020 Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memilih tema Hardiknas 2020 yaitu “Belajar Dari Covid-19” hal tersebut membuat kita kembali melihat situasi negara Indonesia yang sekarang tengah dilanda oleh pandemik virus cerona yang mematikan, yang membuat segala aktivutas kita terhambah bahkan sulit untuk dilakukan.

Pada tahun-tahun sebelumya kita dapat memperingati hari pendidikan nasional dengan berbagai kegiatan baik itu di sekolah maupun di perguruan tinggi lainnya dengan mengadakan upacara bendera. Namun hal yang berbeda pula dengan tahun ini, hari pendidikan di tahun 2020 kita hanya dapat memperingatinnya dari rumah saja. Meskipun begitu tidaklah mengurangi makna dari hari pendidikan tersebut.

Bumi yang penuh dengan kecemasan dan Indonesia yang masih terus berusaha berjuang untuk mengatasi wabah Virus corona ini, membawa kita sebagai pelajar ataupun mahasiswa untuk tidak selalu mengeluh dalam menjalankan tugas kita. Apa lagi di tengah maraknya Covid-19 ini yang membuat kita sangat sulit untuk belajar secara langsung atau tatap muka. Meskipun hal tersebut menjadi hanbatan besar bagi kaum pelajar saat ini, tetapi kita haruslah tetap dituntut kreatif dalam menempuh pendidikan di masa wabah virus corona ini.

Tidak hanya menjadi kaum pelajar yang melakukan aktivitasnya sepanjang hari dengan rebahan saja, namun ada banyak hal yang dapat kita lakukan agar menjadi pelajar yang bermanfaat bagi negara dan bangsa ini. Sebagai contoh nyata yang dapat kita lakukan ditengah Covid-19 ini adalah belajar dari rumah dan patuhui physical distanting dari pemerintah. Serta bisa melakukan aktivitas berkarya sesuai hobi dan talentanya masing-masing. Akhir Kata, “sebuah cahaya tidak akan bisa menerangi kegelapan, apabila tidak ada manusia yang cerdas dan tekun belajar untuk memposisikan cahaya tersebut ditempat yang gelap untuk menjadi terang”. Selamat Hari Pendidikan Nasional!

*) Eulrasia Kristi, Mahasiswa Semester 4 Jurusan Ilmu Komunikasi (Konsentrasi Jurnalistik) Unnivesitas Tribhuwana Tunggadewi Malang