Sukses Berbisnis Tas Rajut, Perempuan Ini Buka Kursus Rajut Gratis

Kursus Rajut
Kursus Rajut (istimewa)

MALANGVOICE – Pengerajin tas rajut dan zipper, Imas Titi Rahmawati, berhasil mendulang rupiah karena hasil kreativitasnya berhasil menarik minat pasar.

Dengan bantuan ayah, ibu, dan kedua adiknya, produk-produk tas rajut dan tas zipper Imas bisa terjual hingga ke seluruh wilayah Jawa, Aceh, Papua, hingga Kalimantan.

 Kursus Rajut
Kursus Rajut (istimewa)

Tak berhenti disitu, Imas bersama ibunya, Titin Tantinah dan adiknya, Tiwi Setyorini, berinisiatif untuk memberikan kursus merajut gratis di rumahnya yang berlokasi di Jalan KH Malik Dalam Perum City View B8, Malang.

“Untuk kelasnya sudah kita buka sejak 2 bulan lalu. Alhamdulillah, pesertanya sangat antusias dan semakin hari semakin banyak,” kata Imas yang juga alumni SMK 3 Malang ini kepada MVoice.

Ia menambahkan, antusias masyarakat sekitar semakin menginspirasinya untuk membuat wisata rajut di Malang Timur .

“Saya sangat mengharapkan dukungan serta sponsor agar mimpi dan harapan kami jadi kenyataan,” tutupnya.

Mengintip Kampung Sinau di Pinggiran Kota Malang

Kampung Sinau dalam berbagai kegiatan yang dilakukan.(Ist)

MALANGVOICE – Anak-anak terlihat serius mendengarkan pelajaran bahasa Indonesia yang dipandu seorang pengajar. Suasana mendung tak menyurutkan antusias anak-anak mulai taman kanak-kanak hingga sekolah dasar.

Dengan telaten dan ulet, volunteer yang juga Ketua Kampung Sinau ini mengajari anak-anak. Dibantu beberapa mahasiswa/i dari berbagai kampus ternama di Malang. Di antaranya Universitas Brawijaya (UB), Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), hingga Universitas Machung.

Dia tidak lain adalah M Syamsu rofiqi Ahsan Aka. Ia diberi tanggung jawab mengelola Kampung Sinau yang didirikan sahabatnya, Toha Mansur Al Badawi, pada 2015 silam. Kampung Sinau sendiri berada di Kelurahan Cemorokandang, Kecamatan Kedung Kandang, Kota Malang. Tepatnya di RT 04 RW 04.

Kampung Sinau dalam berbagai kegiatan yang dilakukan.(Ist)

Selain tempat belajar bagi anak-anak TK sampai SMA. Juga tersedia perpustakaan yang satu kompleks dengan musala. Untuk perpustakaan sendiri bisa diakses semua kalangan masyarakat.

“Tidak hanya anak sekolah, tapi warga juga dipersilakan. Terbuka selama 24 jam,” kara Ricky Shu sapaan akrabnya.

Jumlah buku yang tersedia pun beranekaragam. Namun, kata Ricky, warga sekitar lebih suka membaca buku-buku seputar Agronomi.

Dalam waktu dekat, Kampung Sinau akan mendirikan perpustakaan di RT 03 RW 04. Tujuannya tidak lain supaya masyarakat nantinya gemar membaca dan mendekatkan perpustakaan ke masyarakat. Perpustakaan yang didirikan Kampung Sinau tergabung dalam Forum Komunikasi Taman Baca Malang.

Bisnis Jamu Mengkudu, Shoffie Hasilkan Omzet Puluhan Juta Rupiah

Shoffie sukses menjalankan bisnisnya. (Istimewa)
Shoffie sukses menjalankan bisnisnya. (Istimewa)

MALANGVOICE – Shoffie Bunga Navandia, atau yang akrab disapa Shoffie mahasiswa Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini mencetuskan ide brilian dengan memproduksi jamu tradisional yang berkhasiat membantu penyembuhan berbagai macam penyakit. Berkat idenya, usahanya sukses sampai beromzet puluhan juta rupiah.

Dara 20 tahun tersebut mengatakan bahwa idenya untuk membuat jamu muncul sekitar lima tahun lalu. Saat itu, ia harus menghadapi kenyataan bahwa ayahnya mengidap penyakit liver stadium C.

“Saya bingung harus bagaimana. Biaya berobatnya mahal sekali,” ujar Shoffie.

Saat Shoffie mulai ‘galau’ dengan biaya pengobatan sang ayah, salah satu kawan sang ayah dari Korea datang menjenguk dan membawakan jamu tradisional untuk dikonsumsi setiap hari. Tak disangka, setelah meminum jamu tersebut, lambat laun, penyakit ayahnya membaik. Sayangnya, Shoffie tak punya cukup uang untuk terus membeli jamu berbahan dasar mengkudu tersebut. Ia pun berinisiatif untuk membuat sendiri jamu dengan bahan yang sama.

“Jadi awalnya saya buat untuk dikonsumsi ayah saya yang sedang sakit waktu itu, tidak ada pikiran sama sekali untuk menjualnya ke masyarakat,” urainya kepada MVoice.

Jamu yang diproduksi Shoffie adalah jamu tradisional yang terbuat dari 100% fermentasi buah mengkudu tanpa campuran apapun. Buahnya juga dipilih melalui proses seleksi.

“Harus benar-benar dipilih kualitas terbaik,” tambahnya.

Setelah dibersihkan dengan baik, mengkudu kemudian diproses untuk diambil airnya. Sari buah mengkudu tersebut lalu difermentasi selama 6-12 bulan. Usai masa fermentasi, jamu mengkudu kemudian akan dikemas dalam botol ukuran 500 ml. Setiap botol dihargai Rp 65 ribu. Selain menjual eceran per botol, Shoffie juga menyediakan paket hemat yang berisi enam botol pada setiap paketnya. Setiap paket dibandrol dengan harga Rp 350 ribu.

“Kalau paketan lebih hemat. Satu paket hanya 350.000 rupiah,” tambahnya

Mencari pasokan mengkudu dengan jumlah yang banyak diakui Shoffie bukan hal yang mudah. Jika awalnya hanya mencari dari satu daerah ke daerah yang lain, kini Shoffie sudah memiliki lahan khusus untuk menanam mengkudu. Ia bahkan bekerja sama dengan pemerintah desa dan kelurahan untuk ikut serta mengajak masyarakat menanam pekarangan rumah.

”Lumayan bisa bantu para tetangga. Mereka saya kasih bibit, nanti kalau sudah panen saya beli Rp 2.000 per kg nya,” tambahnya.

Bukan bisnis namanya jika tidak ada rintangan menghadang. Meskipun sudah mematenkan merek dagangnya, kesulitanpun juga pernah dialami Shoffie dalam menjankan bisnisnya yang sudah dimulai sejak tahun 2014 ini. Ia belum mendapat izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) meski telah mendapatkan Perizinan Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP).

“Saya juga sudah mengantongi hasil uji laboratorium. Tapi masih belum terdaftar di BPOM, ada beberapa syarat yang perlu ditambahkan misalnya masalah lahan produksi. Saat ini saya masih produksi di rumah,” katanya.

Jamu pace ini juga sudah banyak dipesan konsumen dari berbagai daerah mulai Gresik, Jakarta hingga Palembang. Tak tanggung-tanggung, omzet yang didapatnya mencapai puluhan juta pada setiap periode pengemasan.

“Sekali pengiriman untuk proses fermentasi, ada enam ember. Setiap ember berisi sepuluh liter sari mengkudu,” pungkasnya.(Der/Aka)

Yon Gondrong, Kera Ngalam di Balik One Man Band Indonesia

Dia mampu memainkan 15 alat musik lho (ist)
Dia mampu memainkan 15 alat musik lho (ist)

MALANGVOICE – Musik band biasanya dimainkan lebih dari satu orang. Namun kali ini beda dengan One Man Band Indonesia. Ya, band ini dimainkan oleh satu orang saja.

Ialah Yon Gondrong (47) pria dibalik One Man Band. Pemilik nama lengkap Lestariono ini, sudah 6 tahun bermain 12 alat musik hanya dengan mengandalkan anggota tubuhnya. Alat musik itu di antaranya ada kick drum, Snear drum, gitar, ubel, harmonika, kazzo, pan flute, gitar.

Lelaki berambut panjang asal Wajak Kabupaten Malang ini memang memiliki basic pengamen, sehingga itu memainkan 12 alat musik sekaligus tak sulit bagi dia

Singkat cerita, dia terinspirasi dari salah seorang musisi saat dirinya pergi ke Jerman tahun 2008 lalu. Ia mengakui, bukan yang pertama di dunia, tetapi di Indonesia dia adalah orang pertama memainkan banyak alat musik sekaligus.

“Saya melihat ada one man band dari Jerman, tetapi dia hanya memainkan drum dan senar saja. Kalau dia bisa, mengapa saya tidak bisa. Apalagi saya memang sudah pernah menjadi pengamen,” katanya.

Barulah pada 2010 ia mulai turun ke jalanan dan memainkan 12 alat musik, dan menjadi One Man Band Indonesia. Demikian, bermusik bukanlah pekerjaan utamanya. Yon Gondrong sebenarnya berprofesi sebagai seorang Landscaper.

“Kerjaan utama saya ya tukang kebun,” kata dia.

Pria berambut gondrong ini sudah melanglang buana kemana-mana. Dia pernah tampil di Festival Basker di Singapura tahun 2016. Ia juga pernah ikut Indonesia Got Talent tahun 2014. Tahun 2015 nya ia ikut Asia Got Talent.

“Saya memang diundang kesitu, bukan untuk berkompetisi,” katanya.

Alat-alat yang ia pakai ia racik sedemikian lengkap tak membutuhkan banyak biaya. Alat-alat musik itu ia dapatkan dari alat musik yang pernah ia berikan kepada anaknya namun tak terpakai.

Ketika Yon tampil, ia harus berdiri dan berjalan-jalan di atas panggung. Sepatunya ia buat lubang untuk tali yang menghubungkan ke drum. Saat bermain drum ia harus menghentakkan kakinya. Bibirnya ia meniup terompet, kazo, harmonika, dan pan flute secara bergantian. Saat tampil, di sela ia membawakan lagu selalu ia bubuhkan humor.

Yon juga sudah menciptakan lagu. Sudah ada 10 lagu yang ia ciptakan. Satu lagu berjudul Sya La La, dipakai oleh band asal Malaysia, Khalifah.

Made By Noel, Padukan Daun Pandan dan Tissu

Lutfia (Anja)

MALANGVOICE – Membuat tas lukis dari bahan kain sepertinya sudah biasa. ‘Made by Noel’, online shop yang digawangi Lutfia, Firmaningtyas mengadirkan kerajinan tas anyaman daun pandan yang dipadukan dengan paper napkin (tissu) bergambar menjadi produk tas cantik dan unik.

Lutfia mengatakan, ia memiliki basic melukis dan membuat produk produk dengan menggunakan media lukis. Namun, waktunya semakin tersita karena setiap lukisan butuh waktu pengerjaan sangat lama.

Dompet & Tas (Anja)
Dompet & Tas (Anja)
“Saya makin tidak sempat soalnya saya juga sudah punya anak,” kata Lutfia kepada Mvoice.

Lalu, kakak ipar Lutfia yang berkuliah S3 di Belanda membawakan paper napkin bergambar ketika pulang ke Indonesia. Tahun 2014, Lutfia memulai melakukan banyak eksperimen untuk memadukan tas pandan yang ia beli dari pengerajin di Tasikmalaya dengan paper napkin bergambar dari Belanda.

Ternyata, hasilnya sangat menarik. Ia mengakui, permintaan di Malang tidak setinggi permintaan di luar kota. Anehnya, orang Malang malah membeli produknya dari luar kota.

“Padahal orang luar kota itu belinya ke saya, tapi orang Malang tidak tahu kalau itu binya dari saya,” katanya tertawa.

Karena itulah, ia bertekat untuk mengenalkan produknya ke masyarakat Malang. Namun, ia terkendala dengan pasokan paper napkin.

“Paper napkin ini tidak dijual disini, mereka jualnya di Eropa saja. Ini saya belinya di Jerman nunggu 1-2 bulan sampai produknya datang,” tambahnya.

Selain tas pandan, Lutfia juga mengaplikasikan paper napkinnya ke botol, kaleng, kayu dan perabot lain. Dalam sebulan, ia bisa mengirim 1000-2000 produk dengan harga mulai Rp 35.000- Rp 350.000

Tertarik dengan tas Made by Noel? Mampir saja ke akun Instagramnya @madebynoel, atau mampir ke galerinya di Jalan Sumbersari II/93 Malang.

Lukisan Pensil Mahasiswa Ini Disukai Artis Dalam dan Luar Negeri

Digo Krisnayana

MALANGVOICE- Digo Krisnayana (21) sepintas tidak beda jauh dengan mahasiswa pada umumnya. Yang membuat mahasiswa UB ini lebih istimewa dibanding yang lain adalah kemampuannya melukis menggunakan pensil.

Lukisan Digo kebanyakan gambar wajah yang dibuat mirip seperti aslinya. Mulai dari kontur wajah hingga raut, dibuat mirip tanpa ada celah.

Lukisan pensil buatannya, Raisa
Lukisan pensil buatannya, Raisa

Kepada MVoice, mahasiswa FISIP ini bercerita, gambarnya juga disukai atau di-like artis-artis dalam dan luar negeri. Sebut saja Raisa, Afgan, Adele, Meghan Trainor, Teejay Marguez dan beberapa Putri Indonesia.

“Gambarku juga pernah direpost Tobey Marguire, pemeran Spiderman. Terus juga pernah direpost Ariadna Guidterez, Miss Colombia 2015,” paparnya kepada MVoice, siang ini.

Biasanya dia memasarkan produk lukisannya melalui instagram saja. Pelanggannya bisa dikatakan hampir di seluruh Indonesia.

Lukisan Nick Jonas karya Digo
Lukisan Nick Jonas karya Digo
“Kalau artis, mereka nggak pernah pesan, karena jangkauannya kan jauh. Tapi biasanya secara sukarela saya bikin lukisan mereka dan kirim melalui instagram. Baru kemudian mereka repost atau like,” bebernya.

Biasanya, dalam melukis mahasiswa angkatan 2012 ini menggunakan pensil jenis 2B, 6B, 7B dan 8B.

“Murni manual tanpa ada komputerisasi. Biasanya saya beri ornamen bunga, atau gelang emas atau parfum,” jelasnya.

Lewat Wayang Suket, Mbah Jo Lestarikan Seni yang Mulai Punah

Mbah Jo (anja)
Mbah Jo (anja)

MALANGVOICE – Salah satu jenis wayang yang unik adalah wayang ‘suket’. ‘Suket’ adalah bahasa jawa untuk rumput. Jadi bahan utama wayang suket adalah rumput kering, jerami dan alang-alang. Karena wayang ini terbuat dari rumput, tentu saja cepat rusak dan tidak awet.

Di Malang, seniman yang ulet membuat wayang suket dan masih eksis adalah Syamsul Subakri atau akrab disapa Mbah Jo.

Awal mula Mbah Jo membuat wayang suket adalah karena rasa iba melihat perkembangan wayang yang mulai punah.

Wayang suket merupakan bentuk peringatan seribu hari meninggalnya seseorang sebagai persembahan terakhirnya yang memiliki pesan di dalamnya. Yaitu mengajarkan bahwa hidup itu hanya sekali dan kita tidak boleh menyianyiakannya dengan hal atau perbuatan yang merugikan.

Menurut Mbah Jo, proses pembuatannya wayang suket ini berbeda. Wayang suket ini dibuat dengan memakai 6 helai rumput Mendong dengan panjang tertentu yang kemudian dibentuk menyerupai figure.

Menurutnya semua anggota tubuh dari wayang suket memiliki makna. Selain itu, urutan bagian tubuh yang mana dulu yang harus dibuat juga memiliki makna tersendiri, sehingga tidak bisa sembarangan.

Ia menyampaikan, bagian tubuh yang harus dibuat terlebih dahulu yaitu bagian hidung. Kenapa harus dibuat dulu karena hidung berfungsi untuk bernafas.

Warga Donomulyo Sulap Limbah Kayu Jadi Lampu Hias Menawan

Nanang Setyawan (istimewa)

MALANGVOICE – Limbah kayu hanyut ternyata bisa dimanfaatkan sebagai bahan kerajinan pendulang rupiah. Seorang warga Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, Nanang Setyawan, kreatif membuat kerajinan lampu hias unik berbahan sampah-sampah kayu yang hanyut di bibir Pantai Jonggring.

Nanang mengawali bisnisnya didasari keinginannya membuat lampu untuk hiasan kamarnya, setahun lalu. Ternyata banyak orang tertaris dan seorang teman bahkan membeli lampu buatannyanya.

Lampu hias limbah kayu (istimewa)
Lampu hias limbah kayu (istimewa)

Ia pun memutuskan untuk memulai bisnis kerajinan lampu hias limbah kayu hanyut bernama Canthink_Lamp.

“Prospek di Malang juga cukup bagus, berhubung mulai banyak perumahan baru. Jadi kebutuhan hiasan rumah seperti lampu juga lumayan diminati,” katanya kepada MVoice.

Dikatakan, selama ini ia belajar sendiri cara membuat lampu hias. Ia juga bekerja sendiri. Biasanya ia mencari kayu hanyut di pantai waktu sore hari.

“Kebetulan rumah saya dekat dengan pantai yang masih perawan. Saya pilih kayu yang kuat-kuat saja dan bagus bentuknya,” tambahnya.

Variasi lampu yang ia buat bermacam-macam antara lain lampu meja, lampu lantai, dan lampu gantung. Satu lampu dibanderol Rp 125.000- Rp 500.000 tergantung tingkat kesulitan.

Karena keunikannya, lampu buatan Nanang pernah dikirim hingga ke Jakarta, Bali, Maluku dan Riau. Dalam sebulan, ia bisa meraup omzet Rp 4 juta.

“Karena saya masih bekerja sendiri, saya sedang butuh tim. Semoga saya bisa segera punya galeri di Malang,” tutupnya.

Bagi yang berminat dengan lampu buatan nanang, bisa mengunjungi media sosial Instagram username @canthink_lamp.

Cinta Bus, Pria Ini Sukses Berbisnis Miniatur Bus

Bus Damri Replika Miniatur Bus
Bus Damri Replika Miniatur Bus

MALANGVOICE – Hobi tidak selalu harus menghabiskan uang, sebaliknya hobi yang dimiliki warga Batu ini malah menghasilkan rejeki dan kini menjadi mata pencahariannya.

Ialah Mohammad Irfan warga Jalan Arjuno 36 Kota Batu hobi membuat replika atau miniatur armada transportasi darat.

Irfan mengaku sudah menggemari bus sejak tahun 80’an semasa Sekolah Menengah Atas. Kecintaanya terhadap bus membuatnya serius menekuni usahanya saat ini. Sejak kecil dia menekuni hobinya, namun dengan perangkat dan bahan seadanya.

Interior bus buatan Irfan
Interior bus buatan Irfan

Saking cintanya, Irfan bahkan sampai paham detail dari masing masing tipe bus dari berbagai jenis dan merek.

“Karena biasanya kalau penggemar itu bisa sampai paham tentang lekuk bodi dari bus, susunan bangku, lampu, kaca dan sebagainya. Mesin juga rata-rata paham jadi kurang lebih yang dibuat di sini mencapai 80 persen, kemiripannya dengan yang aslinya.“ ujar Irfan.

Dalam membuat replika Irfan membuat dengan Skala 1: 40, 1: 12 dan sebagainya. Satu buah replika bus jenis Antar Kota Dalam Provinsi bisa dihargai senilai Rp1.3 jiya dan berlangsung kelipatannya tergantung ukuran dan tingkat kerumitan dari bus tersebut.

Detail interior bis penting karena untuk tiap bus juga beda. Umumnya peminat suka yang tahun 2000-an kebawah karena selain klasik sudah tidak ada yang produksi lagi.

“Biasanya yang suka itu komunita pencinta bus. Mereka mengabadikan momen atau kenangan mereka saat naik bus Antar Kota Dalam Provinsi,“ tutupnya,

Mengenal Sosok Unik Bupati Batang, Yoyok Riyo Sudibyo

Yoyok (dua dari kanan) (anja)

MALANGVOICE – Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini pernah terpilih sebagai penerima Bung Hatta Anti-Corruption Award 2015. Jika Risma telah banyak dikenal publik dengan sepak terjangnya, tidak demikian dengan Bupati Batang, Jawa Tengah, periode 2012-2017, Yoyok Riyo Sudibyo.

Bersama Risma, Yoyok Riyo Sudibyo pun dianugerahi penghargaan yang sama. Pria kelahiran 23 April 1972 asal Bandar, Batang, ini lulusan Akademi Militer 1994 dan Sekolah Lanjutan Perwira 2004.

Saat memutuskan berhenti dari dinas militer dengan pangkat terakhir mayor untuk kemudian beralih ke dagang dan memberanikan diri mengikuti Pilkada Batang 2012 membuat orang tuanya kaget.

“Maklum, karena sekian puluh tahun saya jadi TNI. Saya lulusan Akademi Militer 1994. Tugas terakhir saya di Badan Intelijen Negara, Satgas di Papua. Saya mundur waktu itu karena ada dunia lain di tempat saya (lalu) saya dagang. Kemudian ada beberapa orang bilang kalau kamu mau maju, kakimu jangan di dua tempat, satu tempat pilih yang sama, akhirnya saya milih dagang,” kata Yoyok.

Menjadi Bupati ternyata ia akui lebih sulit daripada menjalankan operasi militer.

Yoyok meyakini, seorang kepala daerah harus menguasai tata kelola pemerintahan dan keuangan, birokrasi, dan mendapat kepercayaan masyarakat.

“Masa pemerintahan tahun pertama masih awur-awuran. Ya saya enggak ada modal,” tambahnya.

Modal yang dimaksud Yoyok yaitu modal ilmu untuk membuat Batang maju. Namun hal itu dijalaninya dengan terus belajar.

Dalam mengelola pemerintah, Yoyok menerapkan keterbukaan. Dia membuka rumah dinasnya selama 24 jam bagi masyarakat.

“Masyarakat selalu saya posisikan sebagai pemegang kekuasaan tertinggi. Rakyat selalu saya libatkan dalam kesuksesan program di Batang,” kata Yoyok lagi.

Pria humoris dan gemar menyanyi ini menerapkan transparansi anggaran dan pembangunan. Yoyok juga membentuk Unit Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik (UPKP2) Kabupaten Batang pada 2013.

Menurut Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran pada 2013, Pemkab Batang merupakan daerah dengan urutan terendah dalam penyimpangan anggaran se-Jateng. Kemudian pria yang juga seorang pengusaha ini juga berhasil mengantarkan Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Batang meraih Investment Award 2013 dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Berkat semua pencapaiannya, Yoyok berhasil menerima Bung Hatta Anti-Corruption Award 2015.

“Penghargaan itu ujian bagi saya. Jabatan saya tinggal setahun dua bulan. Cukup sekali menjadi bupati,” begitu tandas Yoyok.