Cinta Indonesia, Alasan Eka Tertarik Jadi Putri Duta Anti Narkoba

Putri duta anti narkoba Kabupaten Malang, Eka Fahrun Nisak Ramadhani. (istimewa)

MALANGVOICE – Eka Fahrun Nisak Ramadhani, dinobatkan sebagai putri duta anti narkoba Badan Narkotika Nasional Kabupaten Malang, beberapa waktu lalu.

Ia berhasil menyisihkan 130 orang peserta lain. Sedangkan putra duta anti narkoba disandang M Renaldi Bagus Wijayanto, siswa MAN Gondanglegi.

Perempuan kelahiran Malang 06 Desember 2000 lalu ini mengaku tertarik menjadi duta anti narkoba lantaran memiliki misi kemanusiaan. Terlebih, menyangkut hidup masyarakat banyak.

Berlatar belakang sebagai organisatoris sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), Eka tak terlalu sulit untuk bersosialisasi dengan teman sebayanya.

Siswi kelas XI SMAN 1 Kepanjen tersebut pun bersyukur dinobatkan sebagai duta anti narkoba. Selain peduli terhadap sesama, Eka mengaku mencintai Indonesia.

Putri duta anti narkoba Kabupaten Malang, Eka Fahrun Nisak Ramadhani. (istimewa)

“Seusia saya banyak yang terjerat narkoba. Saya tidak ingin teman-teman dan pelajar di Kabupaten Malang terjebak hal serupa,” aku putri sulung pasangan Kariono dan Anis Sulistiyoningsih ini.

Baginya, narkoba sangat berbahaya. Sasaran barang haram tersebut pun menyerang generasi muda Indonesia. Lantas bagaimana Indonesia di masa mendatang jika pemudanya telah terjangkit narkoba?

“Padahal, kami digadang-gadang sebagai penerus bangsa. Harapan masyarakat luas,” ungkap perempuan yang hobi berenang itu.

Langkah awal menyuarakan stop narkoba, katanya, akan dimulai dari diri sendiri. Sehingga nantinya bisa mengajak dan memberi contoh pelajar lain.

Mensosialisasikan bahaya narkoba membutuhkan keuletan dan kesabaran. Tidak hanya dilakukan di sekitar sekolah, tetapi juga di lingkungan masyarakat.

Meski demikian, perempuan yang aktif di Karang Taruna di desanya ini mengaku belum terlalu luas memahami kompleksitas soal narkoba. Eka butuh belajar lebih banyak agar wawasannya akan narkoba mumpuni.

“Saya harapkan ada bimbingan dari BNN. Terpenting, sebelum mengajak orang lain, saya harus bebas dari barang haram itu,” paparnya.

Ke depan, Eka berharap Indonesia bebas narkoba dan masyarakatnya hidup sehat tanpa narkoba. Sekaligus bersama-sama memberantas peredaran narkoba.

“Ini akan jadi pengalaman baru bagi saya dan teman-teman. Semakin banyak yang mensosialisasikan, saya yakin suatu saat Indonesia terbebas dari narkoba,” pungkasnya.


Reporter: Miski
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yuliani Eka Indriastuti

Nabila Rahma, Sukses Mengolah Banner Bekas Jadi Tas Cantik

Nabila Rahma menunjukkan salah satu produknya (anja)
Nabila Rahma menunjukkan salah satu produknya (anja)

MALANGVOICE – Ide menarik mengolah limbah barang bekas datang dari mahasiswi jurusan Ilmu Politik Universitas Brawijaya. Nabila Rahma, mahasiswi angkatan 2013, berhasil mengolah sampah dari banner menjadi peluang usaha yang menjanjikan, yaitu kerajinan tas/fashion.

Menurut Nabila, banner bekas sama seperti plastik lainnya, susah diurai sehingga cenderung mencemari lingkungan. Selain itu, sampah banner kebanyakan tidak dimanfaatkan dan dibuang begitu saja.

“Padahal bahan banner itu kuat dan kaku. Lalu muncul ide untuk mengolah banner jadi bahan tas,” katanya.

Nabila kemudian mulai membuat aneka jenis tas berbahan banner. Pengerjaan satu buah tas bisa memakan waktu 1-2 jam tergantug tingkat kesulitan. Dalam 1 minggu, Nabila bisa membuat 10-30 tas.

Bahan baku dia dapatkan dari membeli banner bekas di toko loak. Nabila juga butuh benang khusus untuk menjahit banner.

Meski baru direalisasikan sejak 2016 lalu, Nabila kini punya 2 pegawai untuk membantunya. Satu tas bisa ia banderol Rp 65 ribu hingga Rp 200 ribu. Nabila mempromosikannya lewat sosial media.

Sarah Salsabila, Entrepreneur Cantik yang Hobi Traveling

Sarah Salsabila (anja)
Sarah Salsabila (anja)

MALANGVOICE – Cantik, ramah, mandiri, suka traveling. Itulah empat kata yang pas untuk menggambarkan Sarah Salsabila, mahasiswa semester 8 jurusan Hubungan Internasional, Universitas Brawijaya.

Sejak usia 18 tahun, Sarah selalu ingin mandiri, pakai uang sendiri dan tidak menggantungkan diri pada orangtua. Sarah memulai usaha pertamanya melalui online shop pakaian.

Dari situlah, Sarah belajar mengatur keuangannya. hingga akhirnya ketika semua modal terkumpul, Sarah membuka usaha kuliner Cotton Ink.

Meski sempat keteteran membagi waktu kuliah dan nongkrong bersama teman-temannya, Sarah bekerja keras hingga akhirnya bisa membuka beberapa kafe. Ada kafe Satai Chan, Q Labs, dan ada satu kafe di Bali.

Gadis kelahiran 1996 ini mandiri dalam hal apapun. Bahkan biaya kuliahnya hingga semua modal usaha berasal dari keringatnya sendiri.

“Saya jarang tidur. Tapi kunci suksesnya hanya berdoa dan nurut sama ibu,” kata gadis yang pernah menyandang Miss Floral 2013 ini.

Di sela-sela kesibukannya, Sarah sempatkan traveling ke luar negeri. Beberapa negara sudah dia sambangi mulai dari Singapura, Cina, Paris, dan Belanda.

Pengalaman menarik, dia pernah berkenalan dengan pria Jepang di Cina dan berteman baik hingga sekarang.

“Waktu di Cina itu pernah, sama dia seluruh makanan aku dibayarin semua sampai selesai liburan. Kita berteman sampai sekarang,” kata puteri salah satu anggota DPRD Batu ini.

Gerilya Rakyat Kota (GRK) Arek-arek Malang Sangat Ditakuti oleh Belanda

Sersan Mayor Ngasino, Salah seorang pimpinan GRK (Gerilya Rakyat Kota) Malang. 1949
Sersan Mayor Ngasino, Salah seorang pimpinan GRK (Gerilya Rakyat Kota) Malang. 1949

Gerilya Rakyat Kota (GRK) bukanlah sebuah kelompok yang tetap, melainkan terdiri dari beberapa kesatuan, yakni Kesatuan Mayor Hamid Rusdi, Kesatuan Mayor Abdul Manan, dan kesatuan dari Batalyon Samsul Islam Pasuruan yang ikut serta membantu gerilya di Kota Malang.

Mereka terus bergerak dan mengandalkan kekuatan kelompok. Serangan umum yang dilakukan sangat ditakuti oleh pasukan Belanda. GRK melakukan serangan umum seperti penjara di alun-alun, membunuh orang-orang Belanda yang kebetulan ada di pasar atau yang sedang berpatroli, hingga penghancuran jembatan Kendalpayak dan jembatan Kedung Kandang-Buring. Berbagai teror dilakukan kepada pihak musuh, agar mereka tidak merasa tenteram menduduki Kota Malang.

Arek-arek Malang ini diakui berani dan tak pernah surut semangatnya untuk merebut kembali Malang dari tangan penjajah. Dalam satu suatu serangan di daerah Klampok-Gading-Klaseman (dearah pekuburan), tidak sedikit pasukan Belanda yang terbunuh ketika GRK anggota pasukan Hamid Rusdi menyerang pasukan Belanda dengan menggunakan senjata berat.

Mereka juga bergerak cepat menyita KTP masyarakat yang diterbitkan oleh Belanda. Hanya dalam waktu sehari semalam dapat dikumpulkan sejumlah hampir 10.000 KTP dari daerah Gadang, Mergosono, Janti, Kedungkandang, Kebalen, Sumber Soka, Telogo Waru, Wonokoyo, dan Kendalpayak. KTP terbitan Belanda itu pun lalu dibakar. Strategi ini dilakukan untuk menggagalkan upaya Belanda dalam mengidentifikasi mana penduduk sipil dan mana pasukan gerilya. Ditambah lagi, atas inisiatif arek-arek Kidul Dalem, digunakan bahasa ‘walikan’ untuk mengelabuhi musuh dalam kegiatan pengiriman sandi dan surat menyurat.

GRK tersebar di beberapa wilayah Kota Malang. Di utara, Blimbing dipimpin oleh Suyudi Raharno, biasa disebut ‘Klowor”. Di daerah Kasin-Sukun dikuasai kelompok Sunari. Di barat kota, dengan pos di Klampok Kasri dipimpin Heru. Di timur kota, dengan markas di Kebalen-Kedungkandang dipimpin oleh Kholil, dibantu beberapa anggota CPM dan hisbulah. Nama-nama lain yang termasuk dalam GRK antara lain:Kusno, Seokirman, Nasir, Tahal. Tahal bahkan pernah mengalami luka berat, semasa Perang Kemerdekaan I, tangan kanan Tahal diamputasi. Namun, ini tak menyurutkan semangat juangnya di GRK.

GRK pun berkembang menjadi kekuatan permanen dan semakin ditakuti musuh. Berbagai penculikan dan pembunuhan dilakukan terhadap kaki tangan musuh yang sering membocorkan informasi yang justru sebagian besar adalah bangsa sendiri yang menusuk dari belakang. GRK (Gerilya Rakyat Kota) Arek-arek Malang tersohor dalam penggunaan senjata Granat Gombyok, granat buatan sendiri dengan pelempar dari serat nanas.(Idur)

Komunitas Akar Tuli Malang: Rumah Bagi Penyandang Tuli, Akrabkan Masyarakat dengan Bahasa Isyarat

Komunitas Akar Tuli Malang menjadi rumah bagi penyandang tuli. Mereka berjuang menyebarluaskan bahasa isyarat.(istimewa)

MALANGVOICE – Beberapa orangpemuda menikmati secangkir kopi di sebuah warung kopi di Kota Malang. Sesekali gadget di tangannya dimainkan serta tak luput berswafoto bersama. Deru kendaraan di jalan seakan tak dihiraukan. Di sisi lain, barista sedang meracik kopi untuk disajikan ke pelanggannya.

Sembari menunggu pesanan datang, sekelompok orang datang menghampiri. Sebagian sibuk memarkir kendaraan di tempat parkir. Mereka tidak lain adalah pengurus Komunitas Akar Tuli Malang. Ya, mereka adalah penyandang Tuli, tapi tak pernah malu atas keterbatasannya.

Satu persatu mereka bersalaman dan memilih tempat duduk. Yoga Dirgantara, Angelius Wahyu Utomo, Nur Syamsan Fajrina, Hufani Septaviasari Irnanto, Evangelia Sukmadatu Dewantari Putri, Maulana Aditya, dan Alif Maulana Agung Pribadi. Sesekali canda tawa pecah saat wartawan Malangvoice.com mencoba belajar bahasa isyarat, tapi tak kunjung bisa karena belum terbiasa.

Humas Akar Tuli Malang, Hufani Septaviasari Irnanto, memulai pembicaraan sembari menjadi penerjemah untuk memudahkan komunikasi dengan pengurus Akar Tuli. Komunitas Akar Tuli didirikan karena belum ada komunitas bagi penyandang Tuli di Kota Malang. Fani sendiri sesekali menggunakan alat bantu dengar untuk memudahkan berinteraksi.

Komunitas Akar Tuli berdiri 13 September 2013 lalu. Lima orang menjadi pioner berdirinya komunitas ini. Yakni Nur Syamsan Fajrina, Dina Amalia Fahima, Fikri Muhandis, Muria Najhiul Ulum, dan Safitri Safira. Mereka didampingi seorang voulentir, Vida Riahta, dari Pusat Studi Layanan Disabilitas (PSLD) Universitas Brawijaya.

“Semula, karena teman-teman Tuli sedikit. Makanya dibuatlah komunitas untuk tempat kumpul. Ternyata di Kota Malang teman-teman Tuli cukup banyak,” katanya, dua pekan lalu.

Akar Tuli lantas menjadi wadah bagi penyandang Tuli. Tidak hanya kalangan mahasiswa, juga masyarakat umum. Teman-teman Tuli lebih menemukan jati diri dan merasa dihargai ketika berada di komunitas. Mereka bisa berinteraksi dan mencurahkan isi hatinya antar sesama.

“Awal, memang tidak langsung akrab. Tapi lambat laun mereka mencair. Ya, kayak saudara sendiri,” ujarnya.

Penyandang Tuli tidak hanya dari wilayah Malang. Ada pula dari Jawa Barat dan luar jawa yang menempuh studi di Malang. Bahasa isyarat yang digunakan pun tak semuanya sama, sehingga butuh waktu untuk penyesuaian. Mereka juga sering meluangkan waktu untuk berkumpul dan saling bercerita. Bisa di dalam kampus maupun di taman-taman kota. Yang ikut komunitas juga dari berbagai kalangan, baik karyawan perusahaan, pelajar, dan mahasiswa.

Istilah Tunarungu dianggap berlebihan. Mereka lebih senang dipanggil sebagai Tuli. Alasannya, Tunarungu mengindikasikan orang sakit.”Kami tidak sakit, kami senang dibilang Tuli,” ungkap dia.

Sering Diperlakukan Diskriminasi

Penyandang Tuli masih saja diperlakukan secara diskriminasi. Mereka dipandang sebelah mata di masyarakat umum. Kehadiran mereka dinilai langka dan kerap diolok-olok. Masih banyak masyarakat yang enggan berinteraksi dengan penyandang Tuli. Selain tidak bisa berbicara, mereka juga tidak paham bahasa isyarat.

Mayoritas penyandang Tuli mengalami masa lalu yang kurang bagus. Baik di sekolah maupun di lingkungannya, mereka tidak luput dari bully teman-teman sebayanya. Sebagian bahkan putus asa dan tak mau sekolah. Obrolan tersebut menjadi pembahasan setiap kali ada mahasiswa baru yang Tuli. Curhatan mereka hampir semuanya merata.

“Padahal, kami ini juga mahluk sosial, ciptaan tuhan. Kami sama dengan manusia lain,” ungkap Fani.

Penyandang Tuli mengeluhkan akses publik yang belum ramah disabilitas. Salah satunya di perguruan tinggi. Penyandang Tuli di Universitas Brawijaya terbilang beruntung, karena ada voulentir yang mendampinginya setiap kali mengikuti perkualiahan. Dengan mudah penyandang Tuli memahami materi di dalam kelas.

“Dulu, pemandangan di dalam kelas dianggap aneh. Tapi lambat laun, diterima setelah dijelaskan. Dosen dan mahasiswa lain mengerti jika ada temannya yang Tuli,” beber perempuan yang dulu pernah mendapat perlakukan diskriminasi.

Sosialisasikan Bahasa Isyarat ke Masyarakat

Bahasa isyarat belum sepenuhnya dipahami masyarakat. Sehingga penyandang Tuli dipandang sebelah mata. Namun, perlakuan tersebut tidak direspon balik. Penyandang Tuli justru berusaha keras mensosialisasikan bahasa isyarat di masyarakat agar diterima.

Tujuannya tidak lain supaya penyandang Tuli bisa berkomunikasi dengan masyarakat umum. Semakin banyak masyarakat yang fasih menggunakan bahasa isyarat, semakin baik pula dampak terhadap penyandang Tuli.

Komunitas Akar Tuli beberapa kali turun ke masyarakat, mensosialisasikan bahasa isyarat ketika Car Free Day (CFD) di Jalan Ijen, Kota Malang. Aksi sosialisasi di CFD cukup unik, salah seorang dari mereka memerankan sebagai pantomin yang identik dengan gerakan isyarat. Masuk ke komunitas-komunitas dan Unit Kegiatan Mahasiswa. Selain itu, mereka siap mengajari masyarakat yang ingin belajar bahasa isyarat.

Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) yang distandarkan di Indonesia dinilai terlalu ribet dan kurang praktis. Pemandangan ini bisa dilihat di TVRI, televisi milik pemerintah yang menyediakan penerjemah bagi penyandang Tuli.

Penyandang Tuli lebih nyaman menggunakan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo). Selain lebih mudah, juga praktis dan cepat dipahami. Bisindo sendiri lebih menjelaskan huruf yang ingin diucapkan penyandang Tuli.

“Bahasa isyarat lebih pada intinya, menyampaikan apa yang diinginkan langsung pada intinya. Tidak suka bertele-tele, seperti sms gaul gitu,” jelas Fani melanjutkan cerita.

Adanya alat bantu dengar tidak lantas diterima semua penyandang Tuli. Selain harganya yang cukup mahal, juga tidak terbiasa. Penyandang Tuli terbiasa kesunyian sejak lahir, sehingga kaget ketika memakai alat bantu dengar. Ada pula yang menggunakan alat bantu dengar, tapi tidak berfungsi maksimal lantaran intensitas pendengarannya kategori parah.

“Bagi teman-teman, alat bantu dengar berisik. Sukanya kesunyian,” ungkapnya.

Terbatas Secara Fisik, Ukir Prestasi

Kendati dengan kondisi yang terbatas dan kerap mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari orang lain. Penyandang Tuli juga patut diacungi jempol. Mereka mampu menorehkan prestasi cemerlang, baik skala regional, nasional hingga internasional.

Penyandang tuli punya bakat yang tak kalah dengan masyarakat umum. Meski tidak bisa berbicara dan tidak bisa mendengar, mereka bisa mengekpresikan bakatnya. Meliputi puisi bahasa isyarat, pantomin, dan teatrikal.

Anggota Komunitas Akar Tuli, Yoga Dirgantara, berhasil menembus kancah internasional. Ia menjadi wakil Indonesia dalam kontes Miss & Mister Deaf International 2014 lalu di Inggris. Meski gagal keluar sebagai yang terbaik, Yoga, merasa bangga bisa mengharumkan nama baik Indonesia. Selain Yoga, anggota Akar Tuli lainnya, Octaviany Wulansari menjadi kandidat Deaf World 2011 lalu di Ceko.

Kontes tahunan ini terbagi tiga kategori, pertama Miss & Mister Deaf International (fokus sosial), Miss & Mister Deaf World (modeling), dan Miss & Mister Deaf Star (unjuk bakat).

“Kami juga punya cita-cita sama untuk mengharumkan nama baik Indonesia,” ungkap pria yang bekerja di sebuah pabrik rokok di Kota Malang.

Yoga dipercaya atasannya untuk menjadi penerjemah bagi penyandang Tuli yang bekerja di perusahaan. Ia merasa beruntung karena di tempat kerjanya, ia bisa diterima dengan senang hati dan belum mendapat perlakuan diskriminasi. ”Selain bahasa isyarat, teman-teman di tempat kerja bisa pakai oral saat berinteraksi dengan yang lain,” akunya.

Ia berharap mendapat tempat yang sama di masyarakat. Perlakuan diskriminasi terhadap penyandang disabilitas tidak terjadi lagi dikemudian hari.


Reporter: Miski
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yunus Zakaria

Prihatin Kondisi Lingkungan, Kelompok Punk Bersihkan Sungai di Lawang

Anak-anak punk membersihkan sungai di kawasan Lawang, Kabupaten Malang. (Muhammad Choirul)
Anak-anak punk membersihkan sungai di kawasan Lawang, Kabupaten Malang. (Muhammad Choirul)

MALANGVOICE – Ada pemandangan unik di beberapa desa kawasan Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Rabu (2/8). Sejumlah titik aliran sungai dikerubungi anak-anak punk.

Mereka tengah sibuk membersihkan sampah di sungai tersebut. Aktivitas itu mereka lakukan bukan karena menjalani hukuman, melainkan lahir dari kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan.

Adalah kelompok Lawang Street Crew dan Lawang Rescue yang menginisiasi kegiatan ini. Momentum kali ini bukan kali pertama, tetapi sudah menjadi kegiatan rutin untuk sambang kali di beberapa desa.

Lawang Street Crew sendiri merupakan perkumpulan anak-anak punk di kawasan Lawang. “Ini merupakan bentuk perlawanan dan pemberontakan kami terhadap budaya masyarakat yang masih belum sadar betapa sangat tidak baiknya perilaku membuang sampah sembarangan, terutama di sungai,” kata Cussy, salah seorang penggagas kegiatan ini.

Tidak hanya bersih sungai, mereka juga membuat peta aliran sungai dan pengamatan penyempitan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang suatu saat bisa mengakibatkan banjir dan erosi. Selama ini, masyarakat menganggap punk hanya sebagai perkumpulan yang meresahkan.

“Image ini perlahan akan dijawab dengan bentuk-bentuk kegiatan positif seperti baksos (bakti sosial) dan berkesenian, terutama jaran kepang,” tandasnya.

Selain itu, mereka juga mengikuti pelatihan SAR dan belajar bahasa isyarat. Dalam hal ini, Lawang Rescue lebih banyak membantu dalam bidang teknis dan advokasi serta pengembangan pribadi.

“Ini mengingat potensi tiap personal punk begitu beragam, sehingga semua harus digali untuk dikembangkan,” pungkasnya.


Reporter: Muhammad Choirul Anwar
Editor: Muhammad Choirul Anwar
Publisher: Yunus Zakaria

Dua Kali Gagal SBMPTN, Ida Kini Keenakan Jadi Dosen

Ida Wahyuni SKom MKom, dosen muda yang sempat bercita-cita sebagai model (Tika)

MALANGVOICE – Sosok dosen muda yang satu ini cantik dengan lesung pipi di sebelah kanan. Perangainya halus, dengan senyum manis yang khas. Dia adalah Ida Wahyuni SKom MKom, dosen muda yang mengajar di STMIK Asia, Kota Malang.

Saat berbincang dengan MVoice, Ida bercerita sudah sejak tahun 2014 menjadi dosen. Awalnya dia tidak menyangka jika menjadi salah satu pengajar kampus di kawasan Suhat itu.

“Usai lulus kuliah saya diminta jadi dosen oleh kampus, karena waktu itu lulusan terbaik,” kata Ida sembari tersenyum.

Diminta menjadi dosen, sudah barang tentu dia harus mengantongi ijazah S2. Hal ini yang membuat perempuan 25 tahun ini kuliah magister ilmu komputer di UB.

Perempuan asal Kediri ini menjelaskan, dosen sebenarnya bukan cita-cita masa remajanya.

Saat remaja, dia ingin menjadi dokter. Ida memutuskan untuk mengikuti Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) yang saat itu masih bernama Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dengan pilihan kedokteran Unair, Surabaya.

Tidak beruntung, dia gagal dalam tes itu. Mencoba peruntungan di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) juga tidak berhasil.

Akhirnya dia memutuskan mendaftar di STMIK Asia di saat yang mepet dengan penutupan penerimaan mahasiswa baru.

“Jadi saya daftar, seminggu kemudian ikut ospek. Daftar SBMPTN dan STAN juga gagal,” cerita dia.

Ida kembali mencoba peruntungannya di SNMPTN tahun 2011. Waktu itu dia memilih jurusan gizi. Dewi fortuna kembali tidak berpihak kepadanya. Dia gagal lagi dalam tes ini.

“Udah gagal dua kali akhirnya saya mikir ditekuni saja di kampus ini pasti ada hikmahnya,” kata dia.

Optimisme Ida ini membawa dampak baik bagi kehidupan masa depannya. Perempuan berjilbab ini ditetapkan sebagai lulusan terbaik dan kini sudah menjadi dosen tetap di kampus tempatnya menimba ilmu.

“Semua pasti ada hikmahnya ya yang penting di mana saja kita berada selalu lakukan yang terbaik,” tandas dia.

Sering Menang Kontes, Honda Life Kuno Ditawar Rp 100 Juta

Aditya dan mobil Life kesayangannya. (deny/malangvoice)

MALANGVOICE – Jambore nasional (Jamnas) penggemar mobil Honda Life di Malang, sekaligus sebagai ajang pamer bagi pemilik mobil produk tahun 1970an itu.

Salah satu peserta jambore, Aditya Fanda, warga Jalan Danau Sentani, Sawojajar, Kota Malang ini, punya cerita soal mobil ikuran mini tersebut.

Honda Life2Dibeli seharga Rp 5 juta di Sidoarjo, mobil kuno itu disulap jadi mobil klasik dan elegan. Hasilnya t sudah beberapa trophy direbut dari beberapa ajang kontes.

Aditya, mengaku yang paling diingat adalah saat memenangi kontes HIN 2014 & 2015 dengan kategori best retro. ”Dua tahun berturut-turut menang, seneng sekali, yang lain banyak trophy macem-macem saya lupa,” katanya.

Kemenangan saat kontes HIN 2015 awal silam, Aditya mengaku hanya menambah gerobak di belakang mobil selain dirombak habis. Seperti cat asli berwarna hijau diganti putih, velg, full audio, dan beberapa part dibikin sendiri seperti grill, rak atas, dan lampu dashboard yang didatangkan dari Jepang.

Gerobak itu diambil dari potongan body mobil bekas yang ia beli. Kemudan didesain mirip bak mandi, “Matching trailer itu yang buat menang HIN Best Retro, awal tahun ini. Tahun 2014 juga menang tapi gak pakai gerobak itu,” jelas pria 29 tahun itu.

Hasil modifikasi itu diakui Aditya bisa menghabiskan puluhan juta rupiah, tapi ia tak ingin berhenti berkreasi. Sampai akhirnya muncul godaan lain, mobil kesayangan Aditya itu ditawar ratusan juta, peminatnya ingin menukar Honda Brio keluaran baru seharga kurang lebih 100 juta itu dengan Honda Life keluaran tahun 73 yang dulu dibeli seharga Rp 5 juta. Namun, ia menolak dan mengatakan mobilnya tidak untuk dijual.

Honda Life3“Sampai kapanpun dan berapapun si penawar tidak akan saya kasih, karena kisah mobil ini dan perjuangan saya tidak terbeli,” tegasnya.

Saat ini mobil Aditya mengikuti komunitas Honda Life Club Indonesia chapter Malang, dengan komunitas itu ia berharap bisa menemukan ide lain dalam bermodif. “Saya sering dapet ilmu dari orang-orang, mereka saling bantu di sini ngeshare spare part langka untuk bahan modif,” harapnya.-

Paperquilling, Kerajinan Unik Melinting Kertas

Contoh produk Wellden (istimewa)

MALANGVOICE – Paperquilling atau kerajinan melinting kertas memang tidak sepopuler scrapbook. Namun, peminat paperquilling terlihat semakin meningkat dan menjadi peluang bisnis yang menarik.

Wellden! Gift and Souvenir misalnya, meski baru beberapa bulan beroperasi sebagai toko souvenir dan kado unik berbasis online, produk paperquilling Wellden menarik banyak pelanggan.

Contoh produk Wellden 2Menurut Kun, owner ‘Wellden! Gift and Souvenir’pertama kali ia mempromosikan karyanya di sosial media, pesanan banyak berdatangan.

“Saat itu langsung ada 6 pesanan dari teman-teman saya di BBM. Akhirnya terus berlanjut setelah saya posting foto-foto lain di Line, Facebook dan Instagram,” katanya kepada MVoice.

Menurutnya kerajinan paperquilling sangat cocok untuk dipakai sebagai hadiah ulang tahun, pernikahan, kelahiran, dan mahar. Motifnya juga bermacam-macam antara lain bentuk teardrop, petal, loose curl, S curl dan sebagainya.

“Penempatan motif juga ada di dalam tulisan/letter dan di sekeliling tulisan/letter,” tambahnya.

Untuk proses pembuatan, Kun sengaja membeli bahan baku dan memilih kertas lembaran yang ia potong-potong sendiri. Selain lebih hemat, ia jadi leluasa menyesuaikan ukuran.

Contoh produk Wellden 3Di Wellden, pelanggan bisa memesan kustom ukuran paperquilling. Ada ukuran 30 x 40 dan 30 x 30, dimasukkan dalam frame 3D. Motif dan tema juga bisa disesuaikan dengan keinginan pelanggan atau disesuaikan dengan karakter penerima hadiah.

Paperquilling Wellden dibanderol Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu. Sebulan, Wellden bisa mendapat omzet kotor Rp 3 juta – Rp 5 juta.

Demikian, Kun merasa terkendala karena orang Indonesia masih belum banyak yang bisa mengapresiasi kreatifitas dan ide.

“Banyak yang ngerasa itu terlalu mahal. Mereka hitungnya dari harga bahan. Mungkin mereka berpikir saya buatnya tinggal bilang kun fayakun. Ini produk handmade yang memakan waktu dan pikiran,” tutupnya.

Produk papaerquilling Wellden bisa ditemui di Instagram @wellden_gift

Khadijah Azzahra, Berkibar sebagai Desainer di Usia Belia

Khadijah Azzahra Amira, Pemilik Kokha Butik yang masih belia (fia)

MALANGVOICE – Saat teman-teman seusianya sibuk belajar dan memanfaatkan waktunya untuk nongkrong di cafe-cafe ternama, Khadijah Azzahra memilih memanfaatkan waktu luang diantara kuliah untuk berbelanja kebutuhan kain bersama ibunya di Surabaya diantaranya panasnya angkutan umum menuju ibukota provinsi itu.

Pengorbanannya tersebut membuahkan hasil. Kini ia sukses menjadi make up artist sekaligus wedding gown designer spesialis untuk hijab. Belia yang kini berusia 19 tahun itu pun tetap menjalankan kewajiban sebagai mahasiswi Ilmu Pemerintahan di Universitas Brawijaya.

Ditemui MVoice, dara yang akrab disapa Ra ini menceritakan. Awalnya ia terjun di berbagai kompetisi model mulai dari skala lokal hingga nasional. Bakat modeling tersebut kemudian dikembangkan dengan mulai membuat busana-busana pengantin. Di sela-sela waktu belajar saat SMA, Ra rajin googling mencari inspirasi desain busana.

“Saya sering ke Surabaya, beli bahan kain sama umi (ibu). Karena kakak nggak bisa mengantar, jadi kami naik bus. Beli kain gelondongan karena memang untuk gaun pengantin butuh kain banyak banget,” celoteh anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Selera desain Ra pun diakui teman-temannya sesama model. Awalnya, pelangannya adalah teman dekat, lambat laun, pelanggannya pun makin meluas, bahkan menyentuh para pejabat. Salah satu pejabat yang memakai gaun rancangannya adalah Dina Handoko, istri Wakapolres Tarakan.

“Harganya Rp 6 juta. Mahal memang, karena bahan yang dipakai juga mahal,” imbuh dia.

Kini, Ra pun makin mantab mengibarkan bisnisnya. Secara kontinyu, juara Putri Kartini dan Putri Jilbab Indonesia itu mulai berani menampilkan ciri khas di setiap desain yang ditampilkannya.

“Ada kain khusus yang belum ada di Malang. Saya ingin menekankan desain, jadi ketika orang lihat langsung tahu kalau itu desain saya,” tukas dia.