ASLI Malang, Tempat Siapa Saja yang Peduli dengan Malang

Beberapa pengurus ASLI Malang (anja)

MALANGVOICE – Kemajuan Kota Malang bisa terwujud bukan hanya karena pemimpinnya, tapi juga karena adanya semangat dan kepedulian masyarakat untuk ikut mewujudkannya, melalui partisipasi di berbagai bidang.

Komunitas Peduli Malang atau biasa di sebut ASLI Malang yang dibentuk pada 15 Juni 2014, merupakan salah satu wujud kepedulian warga Malang untuk berperan aktif di masyarakat, dan membuat Malang lebih maju.

“Kami memandang Malang sebagai tempat yang punya nilai historis tinggi dan banyak kelebihan yang bisa dikabarkan kepada publik,” kata Arief Garage, ketua ASLI Malang, kepada Mvoice.

Untuk keanggotaan, ASLI Malang tidak ada standar khusus. Siapapun yang peduli dan ingin memajukan Malang boleh bergabung. Tidak hanya anak muda, tapi juga orang dewasa. ASLI Malang tidak mengenal agama, profesi atau jabatan anggotanya, baik itu dari PNS, dosen, mahasiswa, karyawan, beragama Islam, Kristen, Budha, asal luar kota, luar Jawa, dan sebagainya.

“Selama dia (anggota) berdomisili di Malang, meski bukan orang asli Malang, bisa menjadi anggota komunitas ini,” tambahnya.

Saat ini terhitung sudah lebih dari 30.000 anggota. Mereka semua terhubung dalam grup Facebook Komunitas Peduli Malang sebagai salah satu portal komunikasi.

Aktivitas ASLI Malang saat ini meliputi kegiatan-kegiatan peduli lingkungan, sosial, dan budaya. Tak menutup kemungkinan komunitas ini akan melakukan kegiatan di bidang ekonomi dan pendidikan.

Berkumpulnya Semua Pasukan Gerilya di Malang Selatan dan Semeru Selatan

Rapat Pimpinan Divisi, para Komandan Brigade dan Batalyon se-Jawa TImur di Batu (1950)
Rapat Pimpinan Divisi, para Komandan Brigade dan Batalyon se-Jawa TImur di Batu (1950)

MALANGVOICE – Diberlakukannya Garis Van Mook berakibat otomatis terkurungnya pasukan RI dalam satu kawasan. Wilayah Malang Selatan dan Semeru Selatan menjadi tujuan berbagai pasukan untuk berhijrah dari daerah-daerah kantong di wilayah Karesidenan Malang dan Besuki. Hutan yang lebat, tanah berbukit dan penuh lereng, serta ceruk-ceruk curam menjadi kawasan yang strategis untuk perjuangan bergerilya.

Pasukan Belanda pun melakukan berbagai strategi, seperti memperkuat daerah Sumber Urip, menyerang Turen dan Sedayu dari arah Bululawang, menyerang Talok dari arah Tumpang, mempertahankan Poncokusumo untuk pangkalan operasi menyerbu Dampit, serta memperkuat garis pertahanan Talok-Sedayu-Gondanglegi-Kepanjen-Wlingi sebagai garis utama untuk mengurung pasukan RI ke daerah pantai selatan. Musuh juga memperkuat garis pertahanan Poncokusumo-Wajak-Dampit-Sumber Urip dan Lumajang-Ampelgading-Dampit untuk menguasai Semeru Selatan.

Namun, semua itu jauh dari kenyataan, karena pasukan RI selalu mendahukui melakukan Wingate Action, menyerang untuk merebut kembali ke daerah-daerah itu. Koordinasi yang baik dari segenap unsur termasuk rakyat di Malang Selatan dan Semeru Selatan, secara umum mampu menggagalkan pemerintah bentukan Belanda (RECOMBA) yang tidak pernah menjadi kenyataan.

Dalam mematuhi perintah akibat penjanjian Renville itu pun, pasukan HIzbullah yang dipimpin Kyai Ilyas pun harus ditarik ke daerah kantong dan berangkat menuju Malang Selatan. Terdiri dari Seksi Anaz Zaini dan Azis Masyhuri, dari desa Pagon mereka berjalan kaki melintasi Gunung Semeru menuju Dampit, kemudian bergabung dengan pasukan TNI dan bersama-sama menuju tempat hijrah dengan naik truk-truk yang telah disediakan. Pasukan Kyai Ilyas akhirnya bermarkas di daerah Pronojiwo.

Pasukan Kyai Ilyas telah melakukan berbagai perlawanan terhadap pasukan Belanda. Dengan bantuan Kompi Soekartijo mereka menyerbu pos-pos musuh di sekitar pasar Yosowilangun. Mereka juga menyerang markas Belanda yang ada di pabrik gula dan pabrik beras di Kencong.

Pada tahun 1947 tatkala keluar Dekrit Presiden mengenai pembubaran badan kelaskaran untuk digabung menjadi satu dalam TNI, pasukan Kyai Ilyas pun dijadikan satu kompi di bawah komandan Kapten Ilyas dan masuk dalam jajaran Batalyon IV. Peresmian Hizbullah melebur dalam TNI tersebut dilakukan di lapangan Sedayu, Turen pada 11 Desember 1949. Mereka masuk dalam pelatihan pasukan selama satu bulan di Depot Batalyon Sumberpucung di bawah komandan Nailun Haman.

Di masa Perang Kemerdekaan II, atas persetujuan dari Komandan Batalyon IV Samsul Islam, pasukan Kapten Ilyas diperbolehkan kembali untuk bergerilya di daerah Lumajang. Mereka menyusuri pantai selatan, berjalan kaki beberapa hari dari Dampit menuju Lumajang. Ketika sampai di Tempursari, ternyata belum lama terjadi peetempuran hebat antara pasukan RI dan musuh. Masih banyak mayat-mayat berserakan, baik jasad pasukan RI maupun serdadu Belanda. Ini menjadikan Tempursari yang sebelumnya tertutup menjadi terbuka bagi lalu lintas gerilya dan para pengungsi dari jurusan Malang ke Lumajang, Jember dan wilayah lainnya.

Di tahun 1949, terjadi pertempuran hebat, serangan dilakukan oleh pasukan Belanda yang dipimpin langsung komandan mereka dari KST Korp Spesiale yang terkenal hebat dan kejam. Mereka menyerang dari Gladak Perak-Kali Lengkong-Merakan. Sementara posisi pasukan Soekartijo Seksi III Abd. Muchni membayangi di atas Gunung Sawur-Penanggal dan Poncosono. Lebih dari 3 jam pertempuran, banyak korban dari pasukan Cakra yang membantu Belanda, diangkut dengan truk-truk. Kuda-kuda yang mereka gunakan berhamburan.

Dalam perjuangan di wilayah Brigade IV terdapat juga sebuah kompi beranggotakan orang-orang yang berasal dari Irian (Kompi Irian). Dikomandani oleh Letda Koromath pada masa gencatan senjata dan Agresi Militer Belanda II mereka bertempat di Turen. Mereka turut berjuang membela RI. Setelah pengakuan kedaulatan, mereka ikut serta masuk ke Malang. Ketika berlangsung operasi Trikora untuk pembebasan Irian jaya, mereka memiliki peran penting dalam keberhasilan operasi tersebut. Disamping Kompi Irian, di kesatuan Brigade IV ikut juga berjuang Batalyon 524 Jokotole yang terdiri dari pemuda-pemuda Madura dari Pamekasan yang berjuang di Tuban. Dalam perjalanan perjuangan kemudian, mereka bergerilya sampai wilayah Kediri, lalu setelah pengakuan kedaulatan mereka berkedudukan di Pasuruan.

Pada Perang Kemerdekaan II kebutuhan logistik sudah teratasi oleh Kecamatan Ampelgading yang menghasilkan bahan-bahan makanan memadai, karena di masa gerilya itu para pimpinan pasukan RI dan sipil di sana telah membentuk daerah perkebunan menjadi desa-desa darurat yang lengkap dengan kepala desa, struktur pemerintahan desa, dan batas-batas wilayahnya.

Kebersamaan ini pun yang mendorong terarahnya serangan serentak terhadap tangsi-tangsi Belanda. Waktu itu, diperoleh berita bahwa operasi dahsyat akan dilakukan oleh pasukan Belanda baret merah dan baret hijau. Mereka akan menembak mati setiap orang yang melewati lereng selatan gunung Semeru sampai ke Dampit.(idur)

Kreatif, Ini Aksesoris Resin dan Bunga Kering Karya Mahasiswa UB

Karya Basra Masra. (Anja a)
Karya Basra Masra. (Anja a)

MALANGVOICE – Salah satu aksesoris fashion yang tidak boleh terlewat pastinya kalung, cincin ataupun gelang. Nah, dua mahasiswa Seni Rupa Universitas Brawijaya (UB) mengusung ide menarik menciptakan aksesoris handmade memanfaatkan resin dan bunga kering. Karya mereka begitu unik, sehingga setiap orang akan memiliki kalung yang berbeda.

Mereka adalah Angelica Merici M U dan Bhagas Artha Bangun. Keduanya sudah menggeluti bisnis aksesoris handmade ini sejak setahun lalu. Menurut Angelica, karya handmade berbahan resin memiliki banyak peluang di Malang. Angelica dan Bhagas mencoba menggabungkan bunga kering dan resin. Hasilnya, menjadi karya gantungan kalung, cincin bahkan gelang yang unik dan menarik. Bunga kering itu seolah berada di dalam kaca.

“Resin memiliki hasil seperti kaca namun kekuatannya seperti plastik. Jadi tidak mudah pecah,” imbuh Bhagas.

Untuk proses pembuatan, bisa menghabiskan waktu 4 hari sampai 1 pekan. Proses pengeringan bunga memakai teknik oshibana. Bunga yang digunakan pun tidak sembarangan.

“Bunga warna merah biasanya tidak bisa, karena warnanya pasti luntur kalau terkena resin. Resin cair sifatnya panas,” tambah Bhagas.

Selanjutnya bunga diletakkan di cetakan kemudian disiram dengan resin. Lalu tunggu hingga kering. Dalam satu kali pembuatan, Angelica dan Bhagas membuat 10-20 produk sekaligus. Saat ini produk mereka dijual dari teman ke teman, di sosial media, dan juga pameran-pameran kerajinan. Satu pendant bisa dijual mulai dari Rp 50 ribu- Rp 100 ribu. Karya Angelica dan Bhagas bisa dijumpai di akun instagram @brasamrasa.(Der/Ak)

Serangan Kepanjen dan Penembakan Membabi Buta di Jambuwer

Persiapan pasukan TNI (gerilya) masuk Kota Malang (1949)
Persiapan pasukan TNI (gerilya) masuk Kota Malang (1949)

Hari pertama, 12 Juli 1947 Brigade Infanteri Belanda KNIL berhasil menerobos Porong dan melakukan gerakan ofensif menuju selatan, yakni Gempol, Pandaan, Lawang, dan Malang. Mereka bergerak dengan hati-hati hingga 11 hari kemudian baru sampai di daerah Lawang. Sembari bergerak ke selatan, perlawanan dilakukan oleh Resimen 38 Hamid Rusdi, P3 (Pasukan Polisi Perjuangan), pasukan pelajar, dan pasukan lainnya. Rintangan-rintangan dibuat di jalan raya antara Lawang-Malang, pohon-pohon ditebang, jebakan tank, dan ranjau darat.

Seminggu lebih pasukan Belanda berada di Lawang. Mengira bahwa Kota Malang akan dipertahakan mati-matian oleh Divisi Untung Suropati dan lainnya, Belanda mendatangkan bala bantuan Brigade Marine yang sebelum itu berhasil melakukan pendaratan amphibi di pantai Pasir Putih Situbondo. Mereka juga melakukan pengintaian dengan sejumlah pesawat tempur, melayang-layang dari utara dan menjatuhkan bom-bom di stasiun-stasiun kereta api, juga mengebom kendaran-kendaran sepanjang jalan raya Malang-Surabaya. Mereka memasuki kota didahului dengan tank-tank dan lapangan terbang Bugis menjadi sasaran utama. Pasukan Belanda dipimpin oleh Jenderal Mayor Baay, dari Blimbing mereka menembakkan mortar-mortir ke pusat.

Belanda meringsek masuk Kota Malang dan mendudukinya pada 31 Juli 1947, menggunakan senjata-senjata dan kendaraan berat. Ledakan-ledakan mortir hingar bingar di sudut-sudut kota. Tanpa kesulitan mereka memasuki Kota Malang yang telah dikosongkan oleh pasukan kita dan dinyatakan sebagai kota terbuka, karena pasukan kita telah membumihanguskan beberapa obyek vital, termasuk membumihanguskan wilayah Blimbing. Pasukan lain yang masih berada di kota adalah TRIP Batalyon 5000 Malang yang dikomandani Soesanto. Pertempuran yang begitu cepat membuat para anggota TRIP berlindung di parit-parit di tepi lapangan pacuan kuda (Simpang Balapan, jalan Ijen sekarang). Soesanto dan banyak dari mereka terbunuh, jenazah mereka dikubur dalam satu lubang besar tak jauh dari markas TRIP di Jl. Salak. Mereka dikubur oleh sekelompok tawanan Belanda dan ditandai dengan empat buah batang pisang yang ditanam di pojok makam.

Ketika Kota Malang jatuh, tidak ada yang secara formal memimpin pasukan untuk melawan pendudukan Belanda, namun dengan taktis kekuatan pasukan kita dipindahkan ke Wagir. Rakyat Kota Malang panik dan mencari tempat-tempat perlindungan, serta menjauhi jalan-jalan besar. Salah satu tempat pengungsian penduduk adalah di sebuah gedung di Jalan Panderman. Kota yang patriotik telah jatuh ke tangah musuh, kota yang di dinding gedung-gedung besarnya penuh dengan semboyan perjuangan (antara lain tulisan ‘Indonesia for the Indonesians’, ‘freedom of any nation’ yang tertampang di wilayah Alun-alun kulon), telah diduduki Belanda.

Pasukan Hamid Rusdi pun menyebar ke beberapa wilayah. Resimen 38 menyusun pertahanan di wilayah Bululawang dan dari sini terus berupaya untuk merebut kembali Kota Malang.

Saat itu hari Sabtu hujan lebat, berakibat hubungan telepon ke pos-pos terputus. Di markas hanya ada Mayor Wiyono, karena yang lain sedang wingate action ke Lumajang. Pasukan Syamsuri Mertoyoso hanya tinggal satu seksi. Sekitar jam 12 malam ada informasi dari Krebet dan Pakisaji bahwa pasukan Belanda melewati garis status quo. Dari Sedayu Mayor Wiyono menuju Kepanjen dan menyaksikan sendiri pelanggaran pasukan Belanda. Lalu terdengar tembakan dari arah Pakisaji. Sisa pasukan dikirim untuk menghadapi musuh agar kembali ke garis status quo.

Daerah Peniwen juga tak luput diincar musuh, karena Depo Batalyon Brigade IV ada di sana. Belanda menyerang Kepanjen dan sebagian Lahor (Karangkates). Di masa gencatan senjata, terjadi peristiwa yang memalukan Belanda hingga terkenal di luar negeri, yakni saat penembakan membabi buta yang dilakukan pasukan Belanda yang masuk daerah Jambuwer. Mereka menembaki orang-orang yang sedang dirawat di gedung sekolah yang difungsikan sebagai tempat darurat pengobatan. Banyak yang gugur. Mereka juga menembaki siapa saja termasuk orang-orang di jalan-jalan. Kasus peristiwa penembakan yang tak bertanggung jawab ini pernah dilaporkan ke PBB. (idur)

Mbois Puol… Pria ini Ubah Sampah Botol Plastik Jadi Mainan Apik

Taufiq Saleh Saguanto (35), sedang memamerkan diecast dari botol plastik minuman bekas. (deny)
Taufiq Saleh Saguanto (35), sedang memamerkan diecast dari botol plastik minuman bekas. (deny)

MALANGVOICE – Siapa sangka, botol bekas plastik yang dibuang di jalan atau tempat sampah bisa berubah menjadi barang berharga. Seperti yang dilakukan M Taufiq Saleh Saguanto (35).

Bapak tiga anak yang tinggal di Perum Alam Dieng Residence, A-1, Pisang Candi, Blimbing, Kota Malang, itu bisa mengubah botol plastik bekas menjadi mainan baru.

Model diecast atau mainan miniatur berbahan plastik itu kini semakin diseriusi Taufiq Saguanto. Berbagai macam model mainan seperti becak, helikopter, sepeda motor hingga robot, sudah berhasil ia ciptakan. Padahal Taufiq sendiri berbasic pengusaha konveksi.

Kepada MVoice Ia menceritakan, awal ide itu muncul tidak sengaja. Berdasar pada kepedulian terhadap lingkungan dan dampak pencemaran botol plastik yang sangat merugikan. Daur ulang botol plastik dirasa tidak maksimal, berbeda dengan bahan lain.

Karena itu, akhir 2015 silam, ia mencoba mengumpulkan barang bekas yang tak terpakai, mulai dari mainan anaknya hingga sampah botol. Seketika itu ia memilah barang yang masih bisa digunakan, hingga ia bentuk menjadi sebuah miniatur lokomotif.

“Waktu itu tidak sengaja saja, lha kok ternyata bisa. Akhirnya jadi sampai sekarang,” katanya, Kamis (25/8).

Setelah itu, banyak model diecast yang ia kembangkan dan mulai rumit. Ia mengaku, satu model bisa menghabiskan waktu dua sampai empat jam tergantung kesulitan. Karena kebutuhan, bahannya pun tak hanya botol minum saja. Ia bisa menggunakan botol sampo, bedak, botol oli hingga setrika rusak.

Seperti membuat model klasik, Taufiq hanya perlu satu buah botol bekas untuk jadi body, ditopang plastik bekas pengait pakaian sebagai chasis. Di bagian roda, empat dasar botol dipotong dan semua ditempel menggunakan lem tembak.

Untuk warna, Taufiq sengaja hanya melapisi dengan cat hitam, alasannya kalau dijual, warnanya bisa diubah sesuai keinginan.

“Jadi harus hapal karakter botol, nanti jadi desain mengikuti,” katanya sambil menunjukkan ruang kerja di lantai dua rumahnya.

Lulusan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) jurusan Manajemen itu, mengaku pernah ada yang membeli produknya dengan harga Rp 500 ribu. Saat itu ia hanya iseng memasang foto di akun Instagram dan Facebook. Lantas, sejak dua bulan terakhir ia semakin rajin pamer di media sosial.

Harapannya, kata pencipta merek Hot Bottles itu, dengan kreasinya bisa memancing ide kreatif lain untuk mengurangi sampah plastik yang merugikan. Ia tak akan menolak bila ada yang mau belajar memanfaatkan sampah plastik bekas.

“Impian saya itu, sedikit kampanye stop botol plastik dan Malang punya museum sampah. Semua hasil kreativitas seniman dipajang di sana,” harapnya.

Kini, ia sedang mengerjakan karya luar biasa, membentuk botol plastik menjadi robot raksasa mirip Iron Man setinggi 2 meter. Model itu menghabiskan ratusan botol selama empat hari pengerjaan. “Kalau yang itu masih lama, karena saya kerja sendiri,” tutupnya.

Ketiga anak Taufiq, sekarang ikut membantu kerja sang Abi, sapaannya di rumah. Setiap pulang sekolah, atau bermain selalu membawa sampah botol plastik bekas dari jalan. Mereka tak ada rasa minder atau gengsi. “Semuanya saya ajarkan untuk peduli lingkungan dengan cara lain. Semua pasti ada hasilnya di masa mendatang,” imbuhnya.

“Intinya, kalau kita mau pasti bisa. Jadi kreatif atau pengusaha tak perlu biaya besar. Hal semacam itu, pasti banyak orang lain bisa tapi tetap perlu perhatian serius dari pemerintah daerah,” tutupnya.

 

 

Berkali-Kali Gagal Wirausaha, Kini Soim Sukses Usaha Nasi Bakar

Warung Lodji
Warung Lodji

MALANGVOICE – Berkali-kali gagal membangun usaha, tidak memupuskan semangat Soim Karamah untuk berwirausaha.

Pria asli Malang ini saat ini sukses berjualan nasi bakar bebek kelapa di sentra kuliner Sriwijaya. Sebelumnya, Soim berwirausaha di bidang garmen dan kerajinan. Tapi bisnisnya tidak berhasil.

Aneka menu Lodji
Aneka menu Lodji

“Karena daya beli masyarakat tidak setiap hari beli garmen atau kerajinan,” katanya.

Barulah dia melihat peluang kuliner yang menjanjikan. Menurutnya, makan adalah kebutuhan sehari-hari masyarakat. Tinggal menyesuaikan selera saja. Dari berbagai macam menu kuliner yang pernah dia jajal, ternyata menu nasi bakar paling diminati.

Soim
Soim

“Nasi bakar ini bahannya nasi uduk yang dibungkus daun pisang lalu dibakar. Tidak ada isiannya, tapi rasanya gurih. Lalu lauknya aneka bakaran seperti bebek bakar, ayam bakar, tempe bakar, dan banyak lainnya,” kata sarjana pertanian alumni Universitas Brawijaya ini.

Saat ini, nasi bakar Lodji (nama warungnya) paling diburu masyarakat pecinta kuliner. Dalam sebulan, omzet kotor Soim mencapai 30 juta

Ini Dia, Studio Animasi Asli Malang…

Agus Setiawan dan Logo Copycat

MALANGVOICE – Industri animasi mulai dilirik Pemerintah Kota Malang. Benih-benih animator muda pun bermunculan, berlomba menghasilkan karya animasi populer. Untuk itu banyak pemuda di Malang mulai mendirikan studio animasi sendiri.

Adalah Agus (Suga) Setyawan, mahasiswa jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Negeri Malang, yang merintis studio animasi dan sudah menghasilkan karya-karya luar biasa. Hebatnya, studionya mulai diakui kalangan pemerintahan di Malang sebagai industri kreatif Malang, sejak 2012 lalu.

studio copycat
studio copycat

Kecintaannya pada animasi memotivasinya mendirikan studio bernama Copycat Studio, di Jalan Sumberejo C5, Kompleks Perumahan YPPI, Kota Batu, yang menawarkan jasa pembuatan animasi untuk iklan, motion graphic, sculpting, komik, visual effect, dan sebagainya.

Meski personel terbatas, ia tak kkhawatir. Biasanya ia berbagi pengerjaan proyek besar ke studio lain.

“Kami sering bekerja sama dengan studio animasi lain di Malang. Kami juga biasa bagi tugas dan mengembangkan satu sama lain. Studio animasi lain juga melakukan hal yang sama. Soalnya proyek besar biasanya butuh tenaga lebih banyak dan waktu lebih lama,” jelasnya.

Ditemui oleh MVoice, beberapa waktu lalu, ia bercerita, pengalaman dan bekal ilmu animasi ia dapatkan dari sekolah, magang, dan pelatihan. Pada 2007, alumni SMKN 4 Grafika Malang ini pernah magang bersama 9 siswa lain selama 6 bulan di studio animasi Fonsel, Malaysia.

Di situ ia pernah ditugasi sebagai background artist, key animator, dan storyboard artist. Setelah lulus sekolah, sebenarnya ia ingin langsung bekerja saja, tapi ia memilih menerima tawaran beasiswa unggulan 4 tahun penuh dari Universitas Negeri Malang.

Selanjutnya, di bangku perkuliahan ia memperdalam ilmu animasi dan menemukan banyak teman yang sama-sama tertarik dengan animasi. Selain itu, ia pernah juga mengikuti pelatihan di Bali yang diadakan Calabash Studio California dan beberapa pelatihan lain.

Karena pengalaman yang baik, Agus dipercaya Disperindag Kota Malang untuk menjadi narasumber pelatihan animasi pada Agustus 2015 lalu. Sejak saat itu ia dipercaya mengembangkan forum animasi di Kota Malang.

Ia berharap industri animasi di Malang semakin berkembang dan bersaing dengan animator dari kota lain. “Animator di Malang ini keren-keren. Bisa dibilang kita pantas bersaing dengan animator dari kota-kota besar lho. Karya animator di kota ini kualitasnya sudah baik. ” tambahnya.

Serangan Dampit-Wonokoyo, Pertempuran Terbesar di Wilayah Semeru Selatan

Pasukan Untung Suropati 18 (PUS 18) yang tak terlupakan (1949)
Pasukan Untung Suropati 18 (PUS 18) yang tak terlupakan (1949)

MALANGVOICE – Atas pengarahan dari Komandan CMK Malang, Mayor Wiyono, pasukan PGI (Pasukan Gerilya Istimewa) dengan semangat yang kembali menyala, dikonsolidasikan dan disusun kembali dengan kekuatan seksi-seksi menjadi Pasukan Untung Suropati 18 (PUS 18) dengan Komandan Sukardi (N. Sugiyama) berpangkat Kapten. Seksi I dipimpin oleh Umar (T. Maekawa), Seksi II dipimpin Peltu Jupri, dan Seksi III dikomandani Letnan Arti Jawak. Mereka menjadi pasukan terotorial di bawah komando militer daerah Malang dengan wilayah operasi Semeru Selatan.

Sementara itu, didorong ambisinya menduduki Kota Dampit, pasukan Belanda memperkuat intensitas patroli, melakukan provokasi dan teror terhadap penduduk untuk menurunkan semangat juang rakyat. Mereka membentuk pasukan khusus IVG yang melakukan tugas spionase. Dengan aktivitas tinggi mereka memperbaiki jembatan dan jalan-jalan yang dihancurkan oleh pasukan gerilya.

PUS 18 (Pasukan Untung Suropati 18) bergerak dari Wonikitri menuju Gunung Kelop yang ditetapkan sebagai pangkalan persiapan (Februari 1949) dan dibuatlah perbentengan di sana. Stelling dilakukan dan dikirim satu regu penyelidik ke jurusan Sumber Kembar. Berdasarkan informasi yang didapat, Regu Keiki Kanjue (senapan mesin ringan) dan regu senapan dari Seksi I dan Seksi II bergerak turun menuju Sumber Kembar lalu meringsek masuk ke Kota Dampit.

Di pertigaan jalan besar dekat pasar, dilakukan penembakan terhadap musuh dan menewaskan dua serdadu Belanda. Terjadi pertempuran sengit ketika pasukan Belanda yang lain keluar dari pasar dan mereka juga segera mendapat bantuan dari Pamotan. Pasukan PUS 18 terpaksa mundur sementara musuh terus mengejar dengan persenjataan berat. Tak terduga, dua juuki dan tekidanto dari atas Gunung Kelop membantu menembaki pasukan Belanda yang kemudian bergerak mundur. Dalam pertempuran 40 menit itu, gugur dua prajurit PUS 18 dan tewas 25 serdadu Belanda.

Beberapa hari kemudian PUS 18 menguasai Sedayu dan Banjarpatoman. Didapatkan informasi bahwa pasukan Belanda sedang bergerak menuju Ngelak dan Amadanom. Pasukan gerilya segera mendaki Gunung Pandan Asri dan mengadakan stelling di saat musuh mendekati ujung kampung Banjarpatoman. Ternyata pasukan Belanda bermaksud mengurung dari balik bukit dan memancing dengan melepaskan tembakan-tembakan. PUS 18 sengaja berdiam diri untuk merahasiakan posisi dan menghemat persediaan amunisi. Menurut informasi, pasukan Belanda berkekuatan satu setengah kompi bersenjata juuki, pistol mitralyur, dan dikuti pasukan genie dan telegrafi, serta tentara Cakra yang ditarik dari Bali.

Pada pukul 08.00 pagi di saat pasukan Belanda masuk dalam jarak tembak, PUS 18 menembak dengan serentak dan pertempuran pun berlangsung hampir 3 jam. Persenjataan yang minim dan persediaan amunisi yang menipis menyebabkan PUS 18 menghentikan serangan. Pasukan Belanda menghentikan tembakan pula karena mengira pasukan gerilya bergerak mundur. Siangnya, mereka mengangkut mayat-mayat dan korban yang terluka, bergerak melalui Amadanom, melewati lembah sungai menuju Dampit.

Esok harinya, pasukan Belanda mendatangkan bala bantuan untuk menghancurkan sarang gerilya di Banjarpatoman. Dengan mendatangkan pesawat tempur, mereka segera meratakan wilayah pertempuran di seputar bukit Pandan Asri. Namun, PUS 18 menduga hal itu dan telah meninggalkan wilayah tersebut.

Pertempuran Wonokoyo boleh disebut sebagai pertempuran terbesar di wilayah Semeru Selatan. Akibat tewasnya komandan mereka di awal pertempuran menjadikan pasukan Belanda kebingungan. Belum lagi terbunuhnya tiga opsir dan 30 orang lebih terluka. Di pihak PUS 18, gugur 3 prajurit dan 3 penduduk sipil. Dari pertempuran itu, PUS 18 berhasil memperoleh rampasan pistol mitralyur, Karaben beserta 300 butir pelurunya, tempat peluru lengkap dan 3 mortier.

Untuk merebut kembali Kota Dampit, Markas Gerilya (MG) III/SMK Malang merencanakan penyerangan terhadap Kota Dampit pada 27 Juli 1949. Pukul 05.45 tembakan pertama dilakukan dengan tekidanto untuk komando dimulainya serangan. Tetapi tembakan mortier yang dilakukan tidak berhasil, pasukan senjata ringan pun bergerak hingga jarak dua ratus meter dari markas pasukan Belanda. Pukul 08.30 pagi seluruh pasukan gerilya mundur dan berkumpul di Gadung Sari lalu bergerak ke Ampel Gading.

Belanda bermaksud mengerahkan bala bantuan dari Sedayu tetapi terkendala berbagai rintangan jalan yang dilakukan oleh pasukan Macan Putih Talok. Di pihak Belanda jatuh korban 24 tewas dan luka-luka. Pasukan gerilya juga berhasil menembak Surateman yang ditengarai sebagai mata-mata musuh.(idur)

Pasukan Gerilya Istimewa (PGI) dalam Penyerbuan Pajaran, Tumpang, dan Jebakan Ranjau antara Wajak-Turen

Konvoi serdadu Belanda di Jawa (kiri). Serdadu Belanda melakukan rasia terhadap rakyat (kanan).
Konvoi serdadu Belanda di Jawa (kiri). Serdadu Belanda melakukan rasia terhadap rakyat (kanan).

MALANGVOICE – Berdasarkan perundingan dengan Abdul Rachman (Tatsuo Ichiki) penasehat TKR di Yogyakarta, Juli 1948, Kolonel Sungkono menginstruksikan kepada semua anggota kesatuan di bawah pimpinannya untuk mengumpulkan orang-orang Jepang, yang sedang berada di kesatuannya masing-masing di Jawa Timur untuk ditarik dan dijadikan satu kesatuan dengan tujuan bersama melawan Belanda. Tidak lama terkumpul 28 orang Jepang di Wlingi Blitar.

Di Wlingi, atas inisiatif Arif (T. Yoshizumi) dan Abdul Rachman (Tatsuo Ichiki) dibentuklah Pasukan Gerilya Istimewa (PGI) yang dikomandani oleh Brigade Surachmad. Di sini, pasukan berlatih militer dan strategi gerilya secara mandiri dan mengusahakan makanan sendiri. Pada Agustus 1948, persiapan telah mantap, pasukan disebar, Komandan (WK) dengan 17 pasukan PGI menuju Dampit. Harsono (T. Tanimoto) dengan anggota 11 orang bertugas menuju Kediri.

Di Dampit mereka memasuki perkebunan dan menggunakan bekas kantor perkebunan Kartodol sebagai tempat untuk antara lain: merencanakan penyerangan pos-pos Belanda, membuat barang dan bahan perang rahasia untuk kepentingan sabotase, menyusun jaringan informasi, dan membentuk gerilya rakyat. Dalam perkembangannya, PGI ini kemudian mendapatkan tambahan 2 (dua) regu dari Brigade XIII.

Pada 30 Agustus 1948, pukul 24.00, PGI bersiap menyerbu pos Belanda di Pajaran yang memilik kekuatan satu seksi dan menempati gudang padi yang dipagari kawat berduri. Waktu itu kampung Pajaran suasananya terang penuh lampu minyak di kanan-kiri jalan karena sedang memeriahkan perayaan ulang tahun Ratu Belanda. Keadaan ini sangat menguntungkan PGI untuk menyerang. Kode ledakan dua bulu granat di atas pos Belanda member isyarat dimulainya penyerangan. Begitu gencarnya serangan, tetapi dari dalam pos tidak ada perlawanan sama sekali. Ketika terdengar tembakan dari arah depan pos, penyerangan dihentikan karena diduga ada pasukan bantuan Belanda yang baru datang dari pos Wajak. Esoknya diperoleh informasi, ternyata perlawanan Belanda malam itu bukan pasukan bantuan dari Wajak, tetapi tentara Belanda sejumlah 10 orang yang kebetulan baru pulang dari undangan Kepala Desa dalam rangka selamatan perayaan hari besar Belanda. Saat PGI menyerang, mereka tidak berani kembali ke pos yang sudah hancur dan hanya berjaga-jaga di halaman rumah Kepala Desa. Mereka juga tidak mengetahui siapa yang melakukan serangan.

Menurut laporan dari pasukan Brigade XII yang ditugaskan untuk memeriksa hasil serangan, pos Belanda hancur lebur, tiga orang petugas jaga bersenjata 12.7 mm mati tertembak, dan di dalam pos/gudang padi 20 orang Belanda tewas akibat reruntuhan bagunan dan ledakan granat.

Di Tumpang, PGI kembali menyerang pos Belanda pada 3 Oktober 1948. Serangan gerilya ini dibantu rakyat dengan penyerangan intensif, menggunakan bahan peledak, dan aksi pembakaran-pembakaran. Hasilnya, terbakarnya asrama musuh dan tiga serdadu Belanda tewas. Moril rakyat pun kembali menguat.

Di pertengahan Desember 1948, Belanda mengawali penyerangan dengan menggunakan pesawat-pesawat tempur melintas Malang menuju ke selatan, menyerang Turen dan Sedayu. Ketika dipastikan Turen dan Sedayu sudah diduduki musuh, PGI pun menyusun kekuatan dipimpin oleh Subejo (Hayashi) dan Sobana (T. Sakai) dan merencanakan menghancurkan panser-panser Belanda. Mereka memasang ranjau di jalan antara Wajak dan Turen yang selalu dilewati pasukan Belanda, sedangkan pasukan senapan mesin diberangkatkan menuju lokasi pertahanan yang telah direncanakan. Didapat informasi, Belanda menambah pasukan dengan satu kompi serdadu bersenjata lengkap untuk menghancurkan PGI.

Sementara menunggu hasil ranjau yang dipasang, PGI dan pasukan bantuan lainnya bersiaga di rumah Asisten Wedono. Ketika ledakan pertama terdengar, ternyata mengenai seorang pemikul kelapa yang sedang lewat. Pukul 06.30 pagi terdengar ledakan kedua, seorang prajurit melaporkan bahwa ranjau berhasil mengenai sasaran, yakni panser Belanda dan truk pengiring di belakangnya. Sebanyak 16 orang serdadu Belanda tewas. Dari pos Turen, Belanda segera memberikan pertolongan sembari melakukan penembakan membabi buta di sekitar lokasi kejadian.­(dur)

Mengenang Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (P­­eta)

Prajurit Peta sedang berlatih dengan bayonet terhunus (totsu geki).

MALANGVOICE – Memperhatikan sikap para pemimpin pemerintah pendudukan militer Jepang saat itu, para pemimpin Indonesia merumuskan gagasan-gagasan tentang pembentukan tentara nasional atau pasukan sukarela. Di saat Jepang mengerakkan pasukannya ke timur di wilayah Lautan Pasifik, ditengarai akan terjadi kekosongan pasukan dalam sistem pertahanan di wilayah Pulau Jawa dan Pulau Sumatra.

Mereka pun menyampaikan surat usulan kepada pemerintah pendudukan militer Jepang di Indonesia melalui Gatot Mangkupradja setelah mendapat persetujuan dari pemimpin golongan Islam (KH Mas Mansoer dkk.), golongan priyayi (Ki Ageng Suryo Mataram), seinenden (Mr. Soepangkat dan Sadarjoen), serta R. Soedirman. Moh. Hatta pun mengemukakan dukungannya dalam pidato di lapangan Ikada (3/11/1943).

Terkondisi oleh hal tersebut, Wakil Kepala Staf Umum Markas Besar Komando Kawasan Selatan Mayor Jenderal Inada Masazumi mengusulkan agar Jepang membentuk pasukan pribumi atau boei giyugun yang kemudian dikenal dengan Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (Peta). Ini didasarkan pada pembentukan pasukan yang sudah berhasil seperti di Birma (Myanmar) dengan nama BIA (Burma Indipendence Army) yang dipimpin Aung San, dan di Malaya dikomandani Mohan Singh dengan nama INA (Indian National Army).

Pada Agustus 1944, perwira tamatan kursus kyoikutai Angkatan Pertama di tugaskan ke daidan-daidan bagian selatan Pulau Jawa. Angkatan Kedua disebar ke bagian utara Pulau Jawa, seperti Pekalongan, Cirebon, Banten, Semarang, Pati, Surabaya, dan Bojonegoro. Dilaksanakan juga pendidikan lainnya, seperti peralatan (heiki), keuangan (keiri), dan kesehatan (eisei). Selama Desember 1943 hingga Agustus 1944, pendidikan perwira Peta telah membentuk 55 daidan di Pulau Jawa. Daidan-daidan ini dibawah komando Panglima Tentara XVI Letnan Jenderal Harada Kumakichi. Komandan Pasukan (boetaicho) di Jawa Barat Mayor Jenderal Mabuchi Hayao, di Jawa Tengah Mayor Jenderal Nakamura Junji, di Jawa Timur Mayor Jenderal Iwabe Shigeo. Selanjutnya di bawahnya, komandan-komandan batalyon tentara regular Jepang (daitaicho).

Dalam perkembangannya, urusan tentara Peta diembankan kepada staf khusus Boei Giyugun Shidobu yang beranggotakan Kapten Yamazaki Hajime, tiga orang shodancho yaitu Kemal Idris, Daan Mogot, dan Zulkifli Lubis. Dari sipil, Ichiki Tatsuo, dan 3 orang Indonesia: Haji Agoes Salim, Sutan Perang Boestami, dan Otto Iskandardinata.

Di Karesidenan Malang, untuk membantu kelancaran fungsi Peta, para anggotanya diupayakan berasal dari berbagai golongan dari warga setempat. Perwira-perwira Peta yang menjadi komandan batalyon (daidancho) dipilih dari tokoh-tokoh setempat atau orang-orang terkemuka di daerah itu. Komandan kompi (chudancho) biasanya dipilih dari kalangan guru, komandan peleton (shodancho) diambil dari kalangan pelajar (SLTP/SLTA), serta komandan regu (budancho) direkrut dari pemuda-pemuda SD. Melalui tahapan proses pendidikan/ pelatihan, di Karesidenan terbentuk 5 daidan: Dai I Daidan Malang (Gondanglegi), Dai II Daidan Lumajang Pasirian, Dai III Daidan Lumajang, Dai IV Daidan Malang Kota, Dai V Daidan Probolinggo.

Dai I Daidan Malang (Gondanglegi)

Daidancho : Iskandar Soelaiman
Fukan : Soemarto (shodancho)
Eisei : dr. Ibnoe Mahoen (chudancho)
Keiri : Hendro Soewarno (shodancho)
Heiki : Soekardi (shodancho)
Sabar Sutopo (shodancho)

Dai I Chudan : Hamid Rusdi (chudancho)
Dai I Shodan : Ibnoe Soetopo (shodancho)
Dai II Shodan : Soediri Doemadi (shodancho)
Dai III Shodan : Abdoel Moekti (shodancho)

Dai I Chudan : Hamid Rusdi (chudancho)
Dai I Shodan : Ibnoe Soetopo (shodancho)
Dai II Shodan : Soediri Doemadi (shodancho)
Dai II Shodan : Soediri Doemadi (shodancho)

Dai II Chudan : Abdoel Manan (chudancho)
Dai I Shodan : Moeljono (shodancho)
Dai II Shodan : Soemeroe (shodancho)
Dai II Shodan : Soedarsono (shodancho)

Dai III Chudan : Harsono (chudancho)
Dai I Shodan : Moetakat Hoerip (shodancho)
Dai II Shodan : Ridwan Naim (shodancho)
Dai II Shodan : Soepardji (shodancho)

Dai IV Chudan : A. Masdoeki (chudancho)
Dai I Shodan : Singgih (shodancho)
Dai II Shodan : Umar Said (shodancho)
Dai II Shodan : Soepardji (shodancho)
Hombu Chudan : A. Masdoeki (chudancho)

Budancho: Soekarmen, Sarwono, Moenadji, Asnan Gozali, Soejoto, Bedjo, Soeprapto, Soeprantio, Koeswari, Rifai, Kasirin, Koesen, Achmad, Drajat, Slamet, G. Soentoro, Koesnadi, Soelaiman.

Dai IV Daidan Malang Kota

Daidancho : Imam Soedjai
Fukan : Soekardani (shodancho)
Eisei : dr. Muhamad Imam (chudancho)
Keiri : Achmad Soegiantoro (shodancho)
Heiki : Soehardi (shodancho)
Hifuku : Soesilo (shodancho)
Renraku gakari : Widjojo Soejono (shodancho)
Darsi gakari : Pandoe Soejono (shodancho)
Shudosi : Hariman (shodancho)
Honbu : Soebroto (shodancho)

Dai I Chudan : Sochifudin (chudancho)
Dai I Shodan : A. Manab Rasmosingo (shodancho)
Dai II Shodan : D. Soekardi (shodancho)
Dai III Shodan : Moh. Hidayat (shodancho)

Dai II Chudan : M. Mochlas Rowie (chudancho)
Dai I Shodan : A. Manab Rasmosingo (shodancho)
Dai II Shodan : D. Soekardi (shodancho)
Dai III Shodan : Moh. Hidayat (shodancho)

Dai III Chudan : Sulam Samsun (chudancho)
Dai I Shodan : Soejono (shodancho)
Dai II Shodan : Soekarjadi (shodancho)
Dai III Shodan : Soeprapto (shodancho)

Dai IV Chudan : Moch. Bakri (chudancho)
Dai I Shodan : Imam Hambali (shodancho)
Dai II Shodan : Aboe Amar (shodancho)
Dai III Shodan : Soebowo (shodancho)

Berlangsungnya proses pelaksanaan penyerahan kekuasaan dari Jepang kepada pihak Sekutu, dalam rapat gun-shireikan dibahas penjaminan keamananan Jepang di daerah wewenang Tentara Keenam Belas. Kesatuan-kesatuan seperti Peta dan Heiho dianggap berpoteni besar untuk bermasalah terutama dengan meletusnya pemberontakan Peta di Blitar. Pada 18 Agustus 1945 dikeluarkan perintah untuk membubarkan daidan-daidan Peta. Esok harinya, Panglima terakhir Tentara Keenam Belas di Jawa Letnan Jenderal Nagano Yuichiro menyampaikan pidato perpisahan kepada semua anggota Peta. Mereka diberi pesangon 6 bulan gaji serta pembagian bahan makanan dan bahan pakaian. (idur/Perjuangan Total Brigade IV pada Perang Kemerdekaan di Karesidenan Malang, 1997).