Berkumpulnya Semua Pasukan Gerilya di Malang Selatan dan Semeru Selatan

Rapat Pimpinan Divisi, para Komandan Brigade dan Batalyon se-Jawa TImur di Batu (1950)
Rapat Pimpinan Divisi, para Komandan Brigade dan Batalyon se-Jawa TImur di Batu (1950)

MALANGVOICE – Diberlakukannya Garis Van Mook berakibat otomatis terkurungnya pasukan RI dalam satu kawasan. Wilayah Malang Selatan dan Semeru Selatan menjadi tujuan berbagai pasukan untuk berhijrah dari daerah-daerah kantong di wilayah Karesidenan Malang dan Besuki. Hutan yang lebat, tanah berbukit dan penuh lereng, serta ceruk-ceruk curam menjadi kawasan yang strategis untuk perjuangan bergerilya.

Pasukan Belanda pun melakukan berbagai strategi, seperti memperkuat daerah Sumber Urip, menyerang Turen dan Sedayu dari arah Bululawang, menyerang Talok dari arah Tumpang, mempertahankan Poncokusumo untuk pangkalan operasi menyerbu Dampit, serta memperkuat garis pertahanan Talok-Sedayu-Gondanglegi-Kepanjen-Wlingi sebagai garis utama untuk mengurung pasukan RI ke daerah pantai selatan. Musuh juga memperkuat garis pertahanan Poncokusumo-Wajak-Dampit-Sumber Urip dan Lumajang-Ampelgading-Dampit untuk menguasai Semeru Selatan.

Namun, semua itu jauh dari kenyataan, karena pasukan RI selalu mendahukui melakukan Wingate Action, menyerang untuk merebut kembali ke daerah-daerah itu. Koordinasi yang baik dari segenap unsur termasuk rakyat di Malang Selatan dan Semeru Selatan, secara umum mampu menggagalkan pemerintah bentukan Belanda (RECOMBA) yang tidak pernah menjadi kenyataan.

Dalam mematuhi perintah akibat penjanjian Renville itu pun, pasukan HIzbullah yang dipimpin Kyai Ilyas pun harus ditarik ke daerah kantong dan berangkat menuju Malang Selatan. Terdiri dari Seksi Anaz Zaini dan Azis Masyhuri, dari desa Pagon mereka berjalan kaki melintasi Gunung Semeru menuju Dampit, kemudian bergabung dengan pasukan TNI dan bersama-sama menuju tempat hijrah dengan naik truk-truk yang telah disediakan. Pasukan Kyai Ilyas akhirnya bermarkas di daerah Pronojiwo.

Pasukan Kyai Ilyas telah melakukan berbagai perlawanan terhadap pasukan Belanda. Dengan bantuan Kompi Soekartijo mereka menyerbu pos-pos musuh di sekitar pasar Yosowilangun. Mereka juga menyerang markas Belanda yang ada di pabrik gula dan pabrik beras di Kencong.

Pada tahun 1947 tatkala keluar Dekrit Presiden mengenai pembubaran badan kelaskaran untuk digabung menjadi satu dalam TNI, pasukan Kyai Ilyas pun dijadikan satu kompi di bawah komandan Kapten Ilyas dan masuk dalam jajaran Batalyon IV. Peresmian Hizbullah melebur dalam TNI tersebut dilakukan di lapangan Sedayu, Turen pada 11 Desember 1949. Mereka masuk dalam pelatihan pasukan selama satu bulan di Depot Batalyon Sumberpucung di bawah komandan Nailun Haman.

Di masa Perang Kemerdekaan II, atas persetujuan dari Komandan Batalyon IV Samsul Islam, pasukan Kapten Ilyas diperbolehkan kembali untuk bergerilya di daerah Lumajang. Mereka menyusuri pantai selatan, berjalan kaki beberapa hari dari Dampit menuju Lumajang. Ketika sampai di Tempursari, ternyata belum lama terjadi peetempuran hebat antara pasukan RI dan musuh. Masih banyak mayat-mayat berserakan, baik jasad pasukan RI maupun serdadu Belanda. Ini menjadikan Tempursari yang sebelumnya tertutup menjadi terbuka bagi lalu lintas gerilya dan para pengungsi dari jurusan Malang ke Lumajang, Jember dan wilayah lainnya.

Di tahun 1949, terjadi pertempuran hebat, serangan dilakukan oleh pasukan Belanda yang dipimpin langsung komandan mereka dari KST Korp Spesiale yang terkenal hebat dan kejam. Mereka menyerang dari Gladak Perak-Kali Lengkong-Merakan. Sementara posisi pasukan Soekartijo Seksi III Abd. Muchni membayangi di atas Gunung Sawur-Penanggal dan Poncosono. Lebih dari 3 jam pertempuran, banyak korban dari pasukan Cakra yang membantu Belanda, diangkut dengan truk-truk. Kuda-kuda yang mereka gunakan berhamburan.

Dalam perjuangan di wilayah Brigade IV terdapat juga sebuah kompi beranggotakan orang-orang yang berasal dari Irian (Kompi Irian). Dikomandani oleh Letda Koromath pada masa gencatan senjata dan Agresi Militer Belanda II mereka bertempat di Turen. Mereka turut berjuang membela RI. Setelah pengakuan kedaulatan, mereka ikut serta masuk ke Malang. Ketika berlangsung operasi Trikora untuk pembebasan Irian jaya, mereka memiliki peran penting dalam keberhasilan operasi tersebut. Disamping Kompi Irian, di kesatuan Brigade IV ikut juga berjuang Batalyon 524 Jokotole yang terdiri dari pemuda-pemuda Madura dari Pamekasan yang berjuang di Tuban. Dalam perjalanan perjuangan kemudian, mereka bergerilya sampai wilayah Kediri, lalu setelah pengakuan kedaulatan mereka berkedudukan di Pasuruan.

Pada Perang Kemerdekaan II kebutuhan logistik sudah teratasi oleh Kecamatan Ampelgading yang menghasilkan bahan-bahan makanan memadai, karena di masa gerilya itu para pimpinan pasukan RI dan sipil di sana telah membentuk daerah perkebunan menjadi desa-desa darurat yang lengkap dengan kepala desa, struktur pemerintahan desa, dan batas-batas wilayahnya.

Kebersamaan ini pun yang mendorong terarahnya serangan serentak terhadap tangsi-tangsi Belanda. Waktu itu, diperoleh berita bahwa operasi dahsyat akan dilakukan oleh pasukan Belanda baret merah dan baret hijau. Mereka akan menembak mati setiap orang yang melewati lereng selatan gunung Semeru sampai ke Dampit.(idur)

Di Balik Dahsyatnya Pertempuran Surabaya 10 November 1945

Mobil Brigadir Mallaby yang hancur di Surabaya (kiri). Bung Tomo menggelorakan semangat perjuangan (kanan).

MALANGVOICE – Awal September 1945, situasi di Jawa Timur cukup bergelora. Berbagai insiden terjadi dan seluruh rakyat siap siaga menunggu segala kemungkinan yang terjadi. Pasukan Sekutu mulai merambah Jawa Timur, terutama melalui Tanjung Perak untuk menyerbu Surabaya. Kondisi semakin memanas ketika rakyat dan BKR setempat bereaksi karena ternyata pasukan Sekutu bersekongkol dengan interniran Belanda.

Di wilayah lain di Jawa Timur, beberapa BKR seperti BKR Malang dan Madiun sudah menguasai beberara perbentengan (yinci-yinci) di daerah pegunungan Malang dan Madiun. Residen-residen (syucookang) yang ada terdiri dari pensiunan perwira tinggi Jepang, kecuali Bojonegoro dengan Residen Suryo dan Karesidenan Malang dengan Residen Mr. Singgih. Namun beberapa hari setelah kemerdekaan Mr. Singgih hilang secara misterius. Situasi pengambilalihan pemerintahan daerah menjadi terganggu karena yang menggantikan beliau adalah wakil orang Jepang.

Pertempuran hebat 10 November 1945 sebenarnya adalah rangkain dari peristiwa yang berawal di hari kedua kedatangan Brigade 49 Divisi India Ke-23 Tentara Sekutu (AFNEI) yang mendarat di Surabaya 25 Oktober 1945 dan dipimpin Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby. Pemerintah dan rakyat Indonesia menyambut dengan tangan terbuka. Namun, 27 Oktober 1945 mereka menyerbu penjara untuk membebaskan para perwira Sekutu dan pegawai RAPWI (Relief of Allied Prisoners of War and Interness) yang ditawan oleh pasukan RI. Akibatnya pos-pos Sekutu di Surabaya diserang oleh rakyat prabaya. Pemimpin-pemimpin Indonesia memerintahkan gencatan senjata, tapi pihak Sekutu ternyata tidak menghormati gencatan senjata, hingga Brigadir Jenderal Mallaby tewas dalam insiden yang belum terungkap jelas.

Sehari sebelumnya, 9 November 1945, tanpa berunding dulu dengan pemimpin Indonesia, pimpinan tentara Sekutu di Surabaya mengeluarkan ultimatum, padahal sudah terjadi kesepakatan yang membuahkan Contact Comitte Panitia Penghubung antara Sekutu dan Pemerintah RI. Pihak Sekutu mengultimatum dengan perintah agar pimpinan dan rakyat yang bersenjata harus melapor, menyerahkan senjata dan mengangkat tangan di atas kepala, dengan batas waktu sampai pukul 06.00 WIB tanggal 10 November 1945.

Rakyat melawan, pecahlah pertempuran Kota Surabaya. Paasukan sekutu berkekuatan hampir sepuluh hingga lima belas ribu orang, lebih dari satu divisi invantri, Divisi India ke-5 dan sisa Brigade Mallaby. Mereka didukung oleh meriam-meriam kapal penjelajah Sussex, kapal perusak, dan pesawat-pesawat Mosquito dan Thunderbold. RAF (Angkatan Udara Inggris). Pertempuran tidak seimbang ini ternyata berlangsung hingga awal Desember 1945.

Dalam pertempuran dahsyat ini, telibat pula bantuan pasukan dari semua penjuru tanah air, khususnya pasukan-pasukan dari Jawa Timur. Dari wilayah Karesidenan Malang, Probolinggo, Bondowoso, Pasuruan, Lumajang dan Malang bergantian diberangkatakan secara bergelombang. Pasukan yang telah cukup lama di garis depan kembali ke markas-markas komando untuk digantikan yang lain. Mereka kembali dan berbagi pengalaman untuk membangkitkan semangat perjuangan.

Resimen 38 Malang Kompi Sochifudin adalah kompi pertama yang diberangkatkan ke front pertempuran Surabaya dan Kompi Untung dari Resimen Bondowoso. Dari Probolinggo Kompi Oesadi yang merupakan pasukan inti mantan Heiho dan Peta. Dalam pertempuran Surabaya kompi ini kehilangan komandannya. Gelombang selanjutnya, arek-arek Probolinggo diberangkatkan ke front Surabaya, yang terdiri dari BKR dan lascar-laskar yang berasak dari BPRI, Pesindo, Hisbullah, Sabilillah, dan lain-lain serta kumpulan pemuda yang tergabung dalam satuan bersenjata. Pasukan Lumajang yang ikut bertempur di front Surabaya tidak hanya dari BKR_TKR saja tetapi juga melibatkan badan-badan perjuangan dan kelaskaran yang ada.

Selanjutnya dari Malang, pasukan Kompi III Batalyon III dipimpin Mayor drh. Soewondho dan komandan kompi Kapten Mohamad Bakri. Telah gugur dan hilang beberapa prajuritnya di daerah Ngagel termasuk komandan peleton Letnan Juari yang kemudian digantikan Letda Imam Soepardi dan berkonsolidasi di Kecamatan Porong dan bertugas di daerah pertahanan pantai di Bangil.

Di Malang pun, secara spontan dibentuk pasukan-pasukan Polri untuk ikut bertempur di Surabaya dan banyak pelajar-pelajar SMTP dan SMTA ikut menggabungkan diri. Mereka ikut bertempur mati-matian, kemudian bernaung di bawah Kompol II Moh. Yasin, serta mundur dan membuat benteng pertahanan di daerah Buduran dan Krian.

Panglima Divisi Untung Suropati, Mayjen Imam Soedjai menghimpun dan membawa serta Alim Ulama Karesidenan Malang ke front Surabaya dan membuahkan dampak psikologis yang memperkuat semangat perjuangan.

Di front pertempuran dahsyat Surabaya, gugur beribu-ribu pejuang RI sebagai pahlawan bangsa, di antaranya tidak dikenal jati dirinya dan dikebumikan sebagai pahlawan tak dikenal. (idur)

Mbois Puol… Pria ini Ubah Sampah Botol Plastik Jadi Mainan Apik

Taufiq Saleh Saguanto (35), sedang memamerkan diecast dari botol plastik minuman bekas. (deny)
Taufiq Saleh Saguanto (35), sedang memamerkan diecast dari botol plastik minuman bekas. (deny)

MALANGVOICE – Siapa sangka, botol bekas plastik yang dibuang di jalan atau tempat sampah bisa berubah menjadi barang berharga. Seperti yang dilakukan M Taufiq Saleh Saguanto (35).

Bapak tiga anak yang tinggal di Perum Alam Dieng Residence, A-1, Pisang Candi, Blimbing, Kota Malang, itu bisa mengubah botol plastik bekas menjadi mainan baru.

Model diecast atau mainan miniatur berbahan plastik itu kini semakin diseriusi Taufiq Saguanto. Berbagai macam model mainan seperti becak, helikopter, sepeda motor hingga robot, sudah berhasil ia ciptakan. Padahal Taufiq sendiri berbasic pengusaha konveksi.

Kepada MVoice Ia menceritakan, awal ide itu muncul tidak sengaja. Berdasar pada kepedulian terhadap lingkungan dan dampak pencemaran botol plastik yang sangat merugikan. Daur ulang botol plastik dirasa tidak maksimal, berbeda dengan bahan lain.

Karena itu, akhir 2015 silam, ia mencoba mengumpulkan barang bekas yang tak terpakai, mulai dari mainan anaknya hingga sampah botol. Seketika itu ia memilah barang yang masih bisa digunakan, hingga ia bentuk menjadi sebuah miniatur lokomotif.

“Waktu itu tidak sengaja saja, lha kok ternyata bisa. Akhirnya jadi sampai sekarang,” katanya, Kamis (25/8).

Setelah itu, banyak model diecast yang ia kembangkan dan mulai rumit. Ia mengaku, satu model bisa menghabiskan waktu dua sampai empat jam tergantung kesulitan. Karena kebutuhan, bahannya pun tak hanya botol minum saja. Ia bisa menggunakan botol sampo, bedak, botol oli hingga setrika rusak.

Seperti membuat model klasik, Taufiq hanya perlu satu buah botol bekas untuk jadi body, ditopang plastik bekas pengait pakaian sebagai chasis. Di bagian roda, empat dasar botol dipotong dan semua ditempel menggunakan lem tembak.

Untuk warna, Taufiq sengaja hanya melapisi dengan cat hitam, alasannya kalau dijual, warnanya bisa diubah sesuai keinginan.

“Jadi harus hapal karakter botol, nanti jadi desain mengikuti,” katanya sambil menunjukkan ruang kerja di lantai dua rumahnya.

Lulusan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) jurusan Manajemen itu, mengaku pernah ada yang membeli produknya dengan harga Rp 500 ribu. Saat itu ia hanya iseng memasang foto di akun Instagram dan Facebook. Lantas, sejak dua bulan terakhir ia semakin rajin pamer di media sosial.

Harapannya, kata pencipta merek Hot Bottles itu, dengan kreasinya bisa memancing ide kreatif lain untuk mengurangi sampah plastik yang merugikan. Ia tak akan menolak bila ada yang mau belajar memanfaatkan sampah plastik bekas.

“Impian saya itu, sedikit kampanye stop botol plastik dan Malang punya museum sampah. Semua hasil kreativitas seniman dipajang di sana,” harapnya.

Kini, ia sedang mengerjakan karya luar biasa, membentuk botol plastik menjadi robot raksasa mirip Iron Man setinggi 2 meter. Model itu menghabiskan ratusan botol selama empat hari pengerjaan. “Kalau yang itu masih lama, karena saya kerja sendiri,” tutupnya.

Ketiga anak Taufiq, sekarang ikut membantu kerja sang Abi, sapaannya di rumah. Setiap pulang sekolah, atau bermain selalu membawa sampah botol plastik bekas dari jalan. Mereka tak ada rasa minder atau gengsi. “Semuanya saya ajarkan untuk peduli lingkungan dengan cara lain. Semua pasti ada hasilnya di masa mendatang,” imbuhnya.

“Intinya, kalau kita mau pasti bisa. Jadi kreatif atau pengusaha tak perlu biaya besar. Hal semacam itu, pasti banyak orang lain bisa tapi tetap perlu perhatian serius dari pemerintah daerah,” tutupnya.

 

 

Serangan Dampit-Wonokoyo, Pertempuran Terbesar di Wilayah Semeru Selatan

Pasukan Untung Suropati 18 (PUS 18) yang tak terlupakan (1949)
Pasukan Untung Suropati 18 (PUS 18) yang tak terlupakan (1949)

MALANGVOICE – Atas pengarahan dari Komandan CMK Malang, Mayor Wiyono, pasukan PGI (Pasukan Gerilya Istimewa) dengan semangat yang kembali menyala, dikonsolidasikan dan disusun kembali dengan kekuatan seksi-seksi menjadi Pasukan Untung Suropati 18 (PUS 18) dengan Komandan Sukardi (N. Sugiyama) berpangkat Kapten. Seksi I dipimpin oleh Umar (T. Maekawa), Seksi II dipimpin Peltu Jupri, dan Seksi III dikomandani Letnan Arti Jawak. Mereka menjadi pasukan terotorial di bawah komando militer daerah Malang dengan wilayah operasi Semeru Selatan.

Sementara itu, didorong ambisinya menduduki Kota Dampit, pasukan Belanda memperkuat intensitas patroli, melakukan provokasi dan teror terhadap penduduk untuk menurunkan semangat juang rakyat. Mereka membentuk pasukan khusus IVG yang melakukan tugas spionase. Dengan aktivitas tinggi mereka memperbaiki jembatan dan jalan-jalan yang dihancurkan oleh pasukan gerilya.

PUS 18 (Pasukan Untung Suropati 18) bergerak dari Wonikitri menuju Gunung Kelop yang ditetapkan sebagai pangkalan persiapan (Februari 1949) dan dibuatlah perbentengan di sana. Stelling dilakukan dan dikirim satu regu penyelidik ke jurusan Sumber Kembar. Berdasarkan informasi yang didapat, Regu Keiki Kanjue (senapan mesin ringan) dan regu senapan dari Seksi I dan Seksi II bergerak turun menuju Sumber Kembar lalu meringsek masuk ke Kota Dampit.

Di pertigaan jalan besar dekat pasar, dilakukan penembakan terhadap musuh dan menewaskan dua serdadu Belanda. Terjadi pertempuran sengit ketika pasukan Belanda yang lain keluar dari pasar dan mereka juga segera mendapat bantuan dari Pamotan. Pasukan PUS 18 terpaksa mundur sementara musuh terus mengejar dengan persenjataan berat. Tak terduga, dua juuki dan tekidanto dari atas Gunung Kelop membantu menembaki pasukan Belanda yang kemudian bergerak mundur. Dalam pertempuran 40 menit itu, gugur dua prajurit PUS 18 dan tewas 25 serdadu Belanda.

Beberapa hari kemudian PUS 18 menguasai Sedayu dan Banjarpatoman. Didapatkan informasi bahwa pasukan Belanda sedang bergerak menuju Ngelak dan Amadanom. Pasukan gerilya segera mendaki Gunung Pandan Asri dan mengadakan stelling di saat musuh mendekati ujung kampung Banjarpatoman. Ternyata pasukan Belanda bermaksud mengurung dari balik bukit dan memancing dengan melepaskan tembakan-tembakan. PUS 18 sengaja berdiam diri untuk merahasiakan posisi dan menghemat persediaan amunisi. Menurut informasi, pasukan Belanda berkekuatan satu setengah kompi bersenjata juuki, pistol mitralyur, dan dikuti pasukan genie dan telegrafi, serta tentara Cakra yang ditarik dari Bali.

Pada pukul 08.00 pagi di saat pasukan Belanda masuk dalam jarak tembak, PUS 18 menembak dengan serentak dan pertempuran pun berlangsung hampir 3 jam. Persenjataan yang minim dan persediaan amunisi yang menipis menyebabkan PUS 18 menghentikan serangan. Pasukan Belanda menghentikan tembakan pula karena mengira pasukan gerilya bergerak mundur. Siangnya, mereka mengangkut mayat-mayat dan korban yang terluka, bergerak melalui Amadanom, melewati lembah sungai menuju Dampit.

Esok harinya, pasukan Belanda mendatangkan bala bantuan untuk menghancurkan sarang gerilya di Banjarpatoman. Dengan mendatangkan pesawat tempur, mereka segera meratakan wilayah pertempuran di seputar bukit Pandan Asri. Namun, PUS 18 menduga hal itu dan telah meninggalkan wilayah tersebut.

Pertempuran Wonokoyo boleh disebut sebagai pertempuran terbesar di wilayah Semeru Selatan. Akibat tewasnya komandan mereka di awal pertempuran menjadikan pasukan Belanda kebingungan. Belum lagi terbunuhnya tiga opsir dan 30 orang lebih terluka. Di pihak PUS 18, gugur 3 prajurit dan 3 penduduk sipil. Dari pertempuran itu, PUS 18 berhasil memperoleh rampasan pistol mitralyur, Karaben beserta 300 butir pelurunya, tempat peluru lengkap dan 3 mortier.

Untuk merebut kembali Kota Dampit, Markas Gerilya (MG) III/SMK Malang merencanakan penyerangan terhadap Kota Dampit pada 27 Juli 1949. Pukul 05.45 tembakan pertama dilakukan dengan tekidanto untuk komando dimulainya serangan. Tetapi tembakan mortier yang dilakukan tidak berhasil, pasukan senjata ringan pun bergerak hingga jarak dua ratus meter dari markas pasukan Belanda. Pukul 08.30 pagi seluruh pasukan gerilya mundur dan berkumpul di Gadung Sari lalu bergerak ke Ampel Gading.

Belanda bermaksud mengerahkan bala bantuan dari Sedayu tetapi terkendala berbagai rintangan jalan yang dilakukan oleh pasukan Macan Putih Talok. Di pihak Belanda jatuh korban 24 tewas dan luka-luka. Pasukan gerilya juga berhasil menembak Surateman yang ditengarai sebagai mata-mata musuh.(idur)

Pasukan Gerilya Istimewa (PGI) dalam Penyerbuan Pajaran, Tumpang, dan Jebakan Ranjau antara Wajak-Turen

Konvoi serdadu Belanda di Jawa (kiri). Serdadu Belanda melakukan rasia terhadap rakyat (kanan).
Konvoi serdadu Belanda di Jawa (kiri). Serdadu Belanda melakukan rasia terhadap rakyat (kanan).

MALANGVOICE – Berdasarkan perundingan dengan Abdul Rachman (Tatsuo Ichiki) penasehat TKR di Yogyakarta, Juli 1948, Kolonel Sungkono menginstruksikan kepada semua anggota kesatuan di bawah pimpinannya untuk mengumpulkan orang-orang Jepang, yang sedang berada di kesatuannya masing-masing di Jawa Timur untuk ditarik dan dijadikan satu kesatuan dengan tujuan bersama melawan Belanda. Tidak lama terkumpul 28 orang Jepang di Wlingi Blitar.

Di Wlingi, atas inisiatif Arif (T. Yoshizumi) dan Abdul Rachman (Tatsuo Ichiki) dibentuklah Pasukan Gerilya Istimewa (PGI) yang dikomandani oleh Brigade Surachmad. Di sini, pasukan berlatih militer dan strategi gerilya secara mandiri dan mengusahakan makanan sendiri. Pada Agustus 1948, persiapan telah mantap, pasukan disebar, Komandan (WK) dengan 17 pasukan PGI menuju Dampit. Harsono (T. Tanimoto) dengan anggota 11 orang bertugas menuju Kediri.

Di Dampit mereka memasuki perkebunan dan menggunakan bekas kantor perkebunan Kartodol sebagai tempat untuk antara lain: merencanakan penyerangan pos-pos Belanda, membuat barang dan bahan perang rahasia untuk kepentingan sabotase, menyusun jaringan informasi, dan membentuk gerilya rakyat. Dalam perkembangannya, PGI ini kemudian mendapatkan tambahan 2 (dua) regu dari Brigade XIII.

Pada 30 Agustus 1948, pukul 24.00, PGI bersiap menyerbu pos Belanda di Pajaran yang memilik kekuatan satu seksi dan menempati gudang padi yang dipagari kawat berduri. Waktu itu kampung Pajaran suasananya terang penuh lampu minyak di kanan-kiri jalan karena sedang memeriahkan perayaan ulang tahun Ratu Belanda. Keadaan ini sangat menguntungkan PGI untuk menyerang. Kode ledakan dua bulu granat di atas pos Belanda member isyarat dimulainya penyerangan. Begitu gencarnya serangan, tetapi dari dalam pos tidak ada perlawanan sama sekali. Ketika terdengar tembakan dari arah depan pos, penyerangan dihentikan karena diduga ada pasukan bantuan Belanda yang baru datang dari pos Wajak. Esoknya diperoleh informasi, ternyata perlawanan Belanda malam itu bukan pasukan bantuan dari Wajak, tetapi tentara Belanda sejumlah 10 orang yang kebetulan baru pulang dari undangan Kepala Desa dalam rangka selamatan perayaan hari besar Belanda. Saat PGI menyerang, mereka tidak berani kembali ke pos yang sudah hancur dan hanya berjaga-jaga di halaman rumah Kepala Desa. Mereka juga tidak mengetahui siapa yang melakukan serangan.

Menurut laporan dari pasukan Brigade XII yang ditugaskan untuk memeriksa hasil serangan, pos Belanda hancur lebur, tiga orang petugas jaga bersenjata 12.7 mm mati tertembak, dan di dalam pos/gudang padi 20 orang Belanda tewas akibat reruntuhan bagunan dan ledakan granat.

Di Tumpang, PGI kembali menyerang pos Belanda pada 3 Oktober 1948. Serangan gerilya ini dibantu rakyat dengan penyerangan intensif, menggunakan bahan peledak, dan aksi pembakaran-pembakaran. Hasilnya, terbakarnya asrama musuh dan tiga serdadu Belanda tewas. Moril rakyat pun kembali menguat.

Di pertengahan Desember 1948, Belanda mengawali penyerangan dengan menggunakan pesawat-pesawat tempur melintas Malang menuju ke selatan, menyerang Turen dan Sedayu. Ketika dipastikan Turen dan Sedayu sudah diduduki musuh, PGI pun menyusun kekuatan dipimpin oleh Subejo (Hayashi) dan Sobana (T. Sakai) dan merencanakan menghancurkan panser-panser Belanda. Mereka memasang ranjau di jalan antara Wajak dan Turen yang selalu dilewati pasukan Belanda, sedangkan pasukan senapan mesin diberangkatkan menuju lokasi pertahanan yang telah direncanakan. Didapat informasi, Belanda menambah pasukan dengan satu kompi serdadu bersenjata lengkap untuk menghancurkan PGI.

Sementara menunggu hasil ranjau yang dipasang, PGI dan pasukan bantuan lainnya bersiaga di rumah Asisten Wedono. Ketika ledakan pertama terdengar, ternyata mengenai seorang pemikul kelapa yang sedang lewat. Pukul 06.30 pagi terdengar ledakan kedua, seorang prajurit melaporkan bahwa ranjau berhasil mengenai sasaran, yakni panser Belanda dan truk pengiring di belakangnya. Sebanyak 16 orang serdadu Belanda tewas. Dari pos Turen, Belanda segera memberikan pertolongan sembari melakukan penembakan membabi buta di sekitar lokasi kejadian.­(dur)

Berkali-Kali Gagal Wirausaha, Kini Soim Sukses Usaha Nasi Bakar

Warung Lodji
Warung Lodji

MALANGVOICE – Berkali-kali gagal membangun usaha, tidak memupuskan semangat Soim Karamah untuk berwirausaha.

Pria asli Malang ini saat ini sukses berjualan nasi bakar bebek kelapa di sentra kuliner Sriwijaya. Sebelumnya, Soim berwirausaha di bidang garmen dan kerajinan. Tapi bisnisnya tidak berhasil.

Aneka menu Lodji
Aneka menu Lodji

“Karena daya beli masyarakat tidak setiap hari beli garmen atau kerajinan,” katanya.

Barulah dia melihat peluang kuliner yang menjanjikan. Menurutnya, makan adalah kebutuhan sehari-hari masyarakat. Tinggal menyesuaikan selera saja. Dari berbagai macam menu kuliner yang pernah dia jajal, ternyata menu nasi bakar paling diminati.

Soim
Soim

“Nasi bakar ini bahannya nasi uduk yang dibungkus daun pisang lalu dibakar. Tidak ada isiannya, tapi rasanya gurih. Lalu lauknya aneka bakaran seperti bebek bakar, ayam bakar, tempe bakar, dan banyak lainnya,” kata sarjana pertanian alumni Universitas Brawijaya ini.

Saat ini, nasi bakar Lodji (nama warungnya) paling diburu masyarakat pecinta kuliner. Dalam sebulan, omzet kotor Soim mencapai 30 juta

Prihatin Kondisi Lingkungan, Kelompok Punk Bersihkan Sungai di Lawang

Anak-anak punk membersihkan sungai di kawasan Lawang, Kabupaten Malang. (Muhammad Choirul)
Anak-anak punk membersihkan sungai di kawasan Lawang, Kabupaten Malang. (Muhammad Choirul)

MALANGVOICE – Ada pemandangan unik di beberapa desa kawasan Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Rabu (2/8). Sejumlah titik aliran sungai dikerubungi anak-anak punk.

Mereka tengah sibuk membersihkan sampah di sungai tersebut. Aktivitas itu mereka lakukan bukan karena menjalani hukuman, melainkan lahir dari kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan.

Adalah kelompok Lawang Street Crew dan Lawang Rescue yang menginisiasi kegiatan ini. Momentum kali ini bukan kali pertama, tetapi sudah menjadi kegiatan rutin untuk sambang kali di beberapa desa.

Lawang Street Crew sendiri merupakan perkumpulan anak-anak punk di kawasan Lawang. “Ini merupakan bentuk perlawanan dan pemberontakan kami terhadap budaya masyarakat yang masih belum sadar betapa sangat tidak baiknya perilaku membuang sampah sembarangan, terutama di sungai,” kata Cussy, salah seorang penggagas kegiatan ini.

Tidak hanya bersih sungai, mereka juga membuat peta aliran sungai dan pengamatan penyempitan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang suatu saat bisa mengakibatkan banjir dan erosi. Selama ini, masyarakat menganggap punk hanya sebagai perkumpulan yang meresahkan.

“Image ini perlahan akan dijawab dengan bentuk-bentuk kegiatan positif seperti baksos (bakti sosial) dan berkesenian, terutama jaran kepang,” tandasnya.

Selain itu, mereka juga mengikuti pelatihan SAR dan belajar bahasa isyarat. Dalam hal ini, Lawang Rescue lebih banyak membantu dalam bidang teknis dan advokasi serta pengembangan pribadi.

“Ini mengingat potensi tiap personal punk begitu beragam, sehingga semua harus digali untuk dikembangkan,” pungkasnya.


Reporter: Muhammad Choirul Anwar
Editor: Muhammad Choirul Anwar
Publisher: Yunus Zakaria

Gerilya Rakyat Kota (GRK) Arek-arek Malang Sangat Ditakuti oleh Belanda

Sersan Mayor Ngasino, Salah seorang pimpinan GRK (Gerilya Rakyat Kota) Malang. 1949
Sersan Mayor Ngasino, Salah seorang pimpinan GRK (Gerilya Rakyat Kota) Malang. 1949

Gerilya Rakyat Kota (GRK) bukanlah sebuah kelompok yang tetap, melainkan terdiri dari beberapa kesatuan, yakni Kesatuan Mayor Hamid Rusdi, Kesatuan Mayor Abdul Manan, dan kesatuan dari Batalyon Samsul Islam Pasuruan yang ikut serta membantu gerilya di Kota Malang.

Mereka terus bergerak dan mengandalkan kekuatan kelompok. Serangan umum yang dilakukan sangat ditakuti oleh pasukan Belanda. GRK melakukan serangan umum seperti penjara di alun-alun, membunuh orang-orang Belanda yang kebetulan ada di pasar atau yang sedang berpatroli, hingga penghancuran jembatan Kendalpayak dan jembatan Kedung Kandang-Buring. Berbagai teror dilakukan kepada pihak musuh, agar mereka tidak merasa tenteram menduduki Kota Malang.

Arek-arek Malang ini diakui berani dan tak pernah surut semangatnya untuk merebut kembali Malang dari tangan penjajah. Dalam satu suatu serangan di daerah Klampok-Gading-Klaseman (dearah pekuburan), tidak sedikit pasukan Belanda yang terbunuh ketika GRK anggota pasukan Hamid Rusdi menyerang pasukan Belanda dengan menggunakan senjata berat.

Mereka juga bergerak cepat menyita KTP masyarakat yang diterbitkan oleh Belanda. Hanya dalam waktu sehari semalam dapat dikumpulkan sejumlah hampir 10.000 KTP dari daerah Gadang, Mergosono, Janti, Kedungkandang, Kebalen, Sumber Soka, Telogo Waru, Wonokoyo, dan Kendalpayak. KTP terbitan Belanda itu pun lalu dibakar. Strategi ini dilakukan untuk menggagalkan upaya Belanda dalam mengidentifikasi mana penduduk sipil dan mana pasukan gerilya. Ditambah lagi, atas inisiatif arek-arek Kidul Dalem, digunakan bahasa ‘walikan’ untuk mengelabuhi musuh dalam kegiatan pengiriman sandi dan surat menyurat.

GRK tersebar di beberapa wilayah Kota Malang. Di utara, Blimbing dipimpin oleh Suyudi Raharno, biasa disebut ‘Klowor”. Di daerah Kasin-Sukun dikuasai kelompok Sunari. Di barat kota, dengan pos di Klampok Kasri dipimpin Heru. Di timur kota, dengan markas di Kebalen-Kedungkandang dipimpin oleh Kholil, dibantu beberapa anggota CPM dan hisbulah. Nama-nama lain yang termasuk dalam GRK antara lain:Kusno, Seokirman, Nasir, Tahal. Tahal bahkan pernah mengalami luka berat, semasa Perang Kemerdekaan I, tangan kanan Tahal diamputasi. Namun, ini tak menyurutkan semangat juangnya di GRK.

GRK pun berkembang menjadi kekuatan permanen dan semakin ditakuti musuh. Berbagai penculikan dan pembunuhan dilakukan terhadap kaki tangan musuh yang sering membocorkan informasi yang justru sebagian besar adalah bangsa sendiri yang menusuk dari belakang. GRK (Gerilya Rakyat Kota) Arek-arek Malang tersohor dalam penggunaan senjata Granat Gombyok, granat buatan sendiri dengan pelempar dari serat nanas.(Idur)

Ini Dia, Studio Animasi Asli Malang…

Agus Setiawan dan Logo Copycat

MALANGVOICE – Industri animasi mulai dilirik Pemerintah Kota Malang. Benih-benih animator muda pun bermunculan, berlomba menghasilkan karya animasi populer. Untuk itu banyak pemuda di Malang mulai mendirikan studio animasi sendiri.

Adalah Agus (Suga) Setyawan, mahasiswa jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Negeri Malang, yang merintis studio animasi dan sudah menghasilkan karya-karya luar biasa. Hebatnya, studionya mulai diakui kalangan pemerintahan di Malang sebagai industri kreatif Malang, sejak 2012 lalu.

studio copycat
studio copycat

Kecintaannya pada animasi memotivasinya mendirikan studio bernama Copycat Studio, di Jalan Sumberejo C5, Kompleks Perumahan YPPI, Kota Batu, yang menawarkan jasa pembuatan animasi untuk iklan, motion graphic, sculpting, komik, visual effect, dan sebagainya.

Meski personel terbatas, ia tak kkhawatir. Biasanya ia berbagi pengerjaan proyek besar ke studio lain.

“Kami sering bekerja sama dengan studio animasi lain di Malang. Kami juga biasa bagi tugas dan mengembangkan satu sama lain. Studio animasi lain juga melakukan hal yang sama. Soalnya proyek besar biasanya butuh tenaga lebih banyak dan waktu lebih lama,” jelasnya.

Ditemui oleh MVoice, beberapa waktu lalu, ia bercerita, pengalaman dan bekal ilmu animasi ia dapatkan dari sekolah, magang, dan pelatihan. Pada 2007, alumni SMKN 4 Grafika Malang ini pernah magang bersama 9 siswa lain selama 6 bulan di studio animasi Fonsel, Malaysia.

Di situ ia pernah ditugasi sebagai background artist, key animator, dan storyboard artist. Setelah lulus sekolah, sebenarnya ia ingin langsung bekerja saja, tapi ia memilih menerima tawaran beasiswa unggulan 4 tahun penuh dari Universitas Negeri Malang.

Selanjutnya, di bangku perkuliahan ia memperdalam ilmu animasi dan menemukan banyak teman yang sama-sama tertarik dengan animasi. Selain itu, ia pernah juga mengikuti pelatihan di Bali yang diadakan Calabash Studio California dan beberapa pelatihan lain.

Karena pengalaman yang baik, Agus dipercaya Disperindag Kota Malang untuk menjadi narasumber pelatihan animasi pada Agustus 2015 lalu. Sejak saat itu ia dipercaya mengembangkan forum animasi di Kota Malang.

Ia berharap industri animasi di Malang semakin berkembang dan bersaing dengan animator dari kota lain. “Animator di Malang ini keren-keren. Bisa dibilang kita pantas bersaing dengan animator dari kota-kota besar lho. Karya animator di kota ini kualitasnya sudah baik. ” tambahnya.

Dua Kali Gagal SBMPTN, Ida Kini Keenakan Jadi Dosen

Ida Wahyuni SKom MKom, dosen muda yang sempat bercita-cita sebagai model (Tika)

MALANGVOICE – Sosok dosen muda yang satu ini cantik dengan lesung pipi di sebelah kanan. Perangainya halus, dengan senyum manis yang khas. Dia adalah Ida Wahyuni SKom MKom, dosen muda yang mengajar di STMIK Asia, Kota Malang.

Saat berbincang dengan MVoice, Ida bercerita sudah sejak tahun 2014 menjadi dosen. Awalnya dia tidak menyangka jika menjadi salah satu pengajar kampus di kawasan Suhat itu.

“Usai lulus kuliah saya diminta jadi dosen oleh kampus, karena waktu itu lulusan terbaik,” kata Ida sembari tersenyum.

Diminta menjadi dosen, sudah barang tentu dia harus mengantongi ijazah S2. Hal ini yang membuat perempuan 25 tahun ini kuliah magister ilmu komputer di UB.

Perempuan asal Kediri ini menjelaskan, dosen sebenarnya bukan cita-cita masa remajanya.

Saat remaja, dia ingin menjadi dokter. Ida memutuskan untuk mengikuti Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) yang saat itu masih bernama Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dengan pilihan kedokteran Unair, Surabaya.

Tidak beruntung, dia gagal dalam tes itu. Mencoba peruntungan di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) juga tidak berhasil.

Akhirnya dia memutuskan mendaftar di STMIK Asia di saat yang mepet dengan penutupan penerimaan mahasiswa baru.

“Jadi saya daftar, seminggu kemudian ikut ospek. Daftar SBMPTN dan STAN juga gagal,” cerita dia.

Ida kembali mencoba peruntungannya di SNMPTN tahun 2011. Waktu itu dia memilih jurusan gizi. Dewi fortuna kembali tidak berpihak kepadanya. Dia gagal lagi dalam tes ini.

“Udah gagal dua kali akhirnya saya mikir ditekuni saja di kampus ini pasti ada hikmahnya,” kata dia.

Optimisme Ida ini membawa dampak baik bagi kehidupan masa depannya. Perempuan berjilbab ini ditetapkan sebagai lulusan terbaik dan kini sudah menjadi dosen tetap di kampus tempatnya menimba ilmu.

“Semua pasti ada hikmahnya ya yang penting di mana saja kita berada selalu lakukan yang terbaik,” tandas dia.

Komunitas