28 November 2022
28 November 2022
21.6 C
Malang
ad space

Gugurnya Bunga Bangsa, Sang Pemberani Hamid Rusdi

Dari kiri: Hamid Rusdi, Wachman, Tjokro Hadi
Dari kiri: Hamid Rusdi, Wachman, Tjokro Hadi

MALANGVOICE – Mayor Hamid Rusdi adalah pemimpin yang disegani dan ditaati oleh anak buahnya. Dia ditakuti dan seorang pemberani, sering muncul di Kota Malang yang saat itu dikuasai pasukan Belanda dengan meriam-meriam yang siap ditembakkan di seluruh penjuru kota.

Mayor Hamid Rusdi melakukan perjalanan keliling untuk mengkonsolidasikan perjuangan dengan jalan mendatangi sektor-sektor seperti di Malang Barat pimpinan Kapten Abdul Manan dan Malang Selatan pimpinah Kapten Mochlas Rowie. Sebenanya, Mayor Hamid Rusdi pada saat terbentuknya sektor-sektor tersebut mendapatkan tugas sebagai Komandan MG-I (Markas GerilyaI) yang terdiri dari tujuh perwira dan enam orang pengawal, berkedudukan di Nongkojajar. Namun, keadaan memaksa beliau untuk sementara waktu tetap bertempat di Sumber Suko bersama wakilnya, Kapten Wachman. Bersama Kompi Sabar Sutopo, beliau melakukan penyusupan ke daerah pendudukan ketika Belanda menyerang dengan pesawat-pesawat tempurnya ke markas komando di Turen.

Dari desa Sumber Suko, Mayor Hamid Rusdi kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke Nongkojajar dan menyempatkan diri untuk menuju dukuh Sekar Putih, Wonokoyo melalui desa Telogowaru, karena istrinya tinggal di salah satu rumah pondokan di desa itu. Rencananya, setelah bertemu istrinya, perjalanan akan berlanjut ke Nongkojajar. Tapi Tuhan berkehendak lain.

Beliau menjumpai istrinya sambil tetap berjaga membawa senjata kesenangannya sebuah pistol Vickers isi 12 peluru. Setelah pertemuan itu, sebelum pergi beliau berpesan agar istrinya segera meninggalkan daerah tersebut. Sudah kebiasaan, saat pamit beliau tidak pernah memberi tahu ke mana akan pergi. Lebih-lebih pada saat genting. Ini dimaksudkan agar tempat-tempat persembunyiannya sukar dilacak oleh pihak Belanda.

Sehari sebelumnya Hamid Rusdi dan pasukannya sudah berada di atas puncak Gunung Buring ketika pasukan Belanda menggencarkan patroli di wilayah Tajinan. Sebenarnya, Komandan Sektor I Tajinan dan CODM (Coordinator Operasi Daerah Militer) Serma Tjokro Hadi, juga Komandan Seksi II dan III Kusno Hadiwinoto, sudah mengingatkan bahwa keadaan di bawah sangat gawat, sebaiknya Hamid Rusdi menunda perjalanannya.

Hari itu, 7 Maret 1949, pasukan Belanda dengan kekuatan lebih dari dua peleton berjalan kaki meringsek hendak melakukan penyergapan. Penunjuk jalannya adalah mata-mata Belanda, oleh sebab itu tempat kedudukan Mayor Hamid Rusdi dapat diendus. Menurut kabar, Belanda sudah berangkat dari Tajinan sejak pukul 12 siang, mempergunakan pasukan KNIL.

Malam itu Mayor Hamid Rusdi berada di salah satu rumah penduduk. Di situ ada Pak Moesmari pemilik rumah dan Yoenoes menantunya, istri Moesmari Mbok Ngasirah, serta anaknya bernama Roekayah yang sedang hamil. Ajudan Hamid Rusdi, Letnan Ismail Etfendi dan adiknya, Abdul Razak yang mendampingi beliau masuk ke desa Wonokoyo, malam itu tidak ikut menginap di rumah tersebut.

Malam begitu pekat, sekitar pukul sebelas malam, pasukan Belanda menyergap saat semua penghuni rumah sedang tidur. Pak Moesmari membukakan pintu, tak berdaya di bawah todongan senjata, disusul pasukan yang lain dengan segera menuju kamar Mayor Hamid Rusdi. Dengan tindakan yang serba cepat, ketiga laki-laki dalam rumah tersebut diikat dan segera dibawa pergi. Kedua perempuan dibiarkan tinggal, tak ada pembicaraan yang terdengar kemana mereka bertiga akan dibawa pergi.

Keesokan harinya, Kopda Soekarman dan sebagian Kompi Sabar Soetopo melaporkan kejadian ini kepada Kapten Wachman yang kemudian memerintahkan untuk menyisir tempat kejadian. Tak lama setelah menelusuri jalanan kampung hingga sampai di dekat sungai Kali Sari, mereka mendapati jenazah Mayor Hamid Rusdi tergeletak di sekitar jembatan Sekar Putih Wonokoyo, gugur dengan tubuh penuh luka ditembaki pasukan Belanda. Tak jauh, ditemukan pula jenazah Letnan Ismail Effendi, Abdul Razak, Moesmari, dan Yoenoes. Dini hari yang sama, pasukan Belanda juga menangkap kamituwo Sumbersuko, tetapi jenazahnya tidak ditemukan.

Prajurit beserta masyarakat Wonokoyo merasa sangat sedih ditinggalkan komandannya yang gagah berani dan berjiwa kesatria. Telah gugur bunga bangsa yang tak pernah padam nyali dan semangatnya untuk merebut kembali Kota Malang. Sejak saat itu, daerah basis gerilya dan pusat Komando Batalyon I dipindahkan ke desa Madyopuro dan berkedudukan di Cemoro Kandang dengan pasukan inti satu kompi di bawah pimpinan Kapten Djoeri.

Setelah pasukan Belanda meninggalkan Malang, 15 Mei 1950 jenazah Mayor Hamid Rusdi dipindahkan ke Makam Pahlawan Suropati. (idur)­

4 Langkah Menjaga Ikan Cupang Tidak Kuncup di Musim Hujan

Ikan Cupang yang lagi tren, (MG2).

MALANGVOICE – Ikan cupang kini kembali banyak diminati masyarakat, dengan perpaduan jenis maupun corak warna yang semakin beragam.

Namun dalam perawatan ikan cupang ini bisa dibilang juga tidak mudah. Apalagi di musim penghujan dengan cuaca yang dingin, membuat ikan cupang mudah terkena penyakit, salah satunya kuncup.

Kuncup sendiri merupakan penyakit ikan cupang yang sering kali terjadi dan jika tidak segera ditangani resiko terparah bakal mati.

Berikut Beberapa Tips untuk mengantisipasi ikan cupang agar tidak sakit di musim penghujan menurut salah satu penghobi ikan cupang di Kota Malang, Rifky Edgar, Jumat (19/3).

1. Harus rutin mengganti air dalam akuarium/soliter, minimal ganti tiga hari sekali atau seminggu dua kali. Untuk jenis air bisa menggunakan air sumur atau PDAM.

Namun jika menggunakan air PDAM perlu diendapkan terlebih dahulu selama satu hari sembari diberi garam sesuai dengan ukuran akuarium/soliter.

“Sebelum dilakukan penggantian air lebih baik lagi juga diberi garam dan obat biru (nama akrab obat) biar tidak sakit. Dan dikasih daun ketapang berfungsi untuk menetralkan PH air,” terangnya.

Cupang yang sedang kuncup, (MG2).

2. Menjaga pola makan ikan cupang peliharaan, jangan terlalu banyak. Minimal satu hari sekali dengan porsi secukupnya.

“Karena jika kebanyakan makan, ikan akan kembung, atau sembelit. Dari situ akan menyebabkan penyakit sisik nanas dan dropship, kemungkinan 98 persen ikan mati,” tuturnya.

3. Sering buka pembatas antara ikan satu dengan yang lainnya, guna mempertahankan gerakannya supaya terus aktif dan lincah.

“Kalau bisa sehari dua kali dengan durasi sekitar 20-30 menitan. Biar ikan bisa lebih agresif, mekrok, nah dari situ bisa menjaga kekuatan dari ekor, sirip dan kesehatannya,” imbuhnya.

4. Jika memiliki waktu bisa disempatkan untuk menjemur ikan cupang sekitar 10 menit untuk menangani suhu air tetap stabil dan tidak terlalu dingin.(end)

Pasukan Hamid Rusdi Menumpas Anasir-anasir PKI di Malang Selatan

Dari kiri:Kapten Suyono (Yono Gaplek) Komandan Kompi, Abdul Syarif (Komandan Batalyon, Slamet Hardjooetomo (Komandan Seksi-2)

MALANGVOICE – Situasi yang terjadi di lini-waktu sepanjang perang kemerdekaan nampaknya dimanfaatkan oleh Belanda untuk kembali melakukan Agresi Militer II. Suhu politik meningkat saat terjadinya Peristiwa Madiun 1948 (Madiun Affair), kemudian Tan Malaka dengan ‘Kawi Pact” di daerah Malang Selatan, belum lagi FDR-nya Amir Syarifuddin, serta gerakan anasir-anasir pemberontakan PKI Madiun di Donomulyo (Malang Selatan) dan di wilayah lainnya. Padahal di Jawa Timur sebagian pasukan RI bertugas di daerah status-quo dan sedang melaksanakan konsolidasi seusai Agresi Belanda I.

Pemerintah RI segera bertindak dengan cepat menjadikan Jawa Timur sebagai daerah istimewa dengan mengangkat Kolonel Soengkono sebagai gubernur militer. Saat itu Panglima Besar Jenderal Soedirman sedang sakit, sehingga untuk menumpas pemberontakan-pemberontakan dikomando oleh A.H. Nasution sebagai Panglima Merkas Besar Komando Djawa.

Kecepatan gerak oleh Combat Inteligence dilakukan untuk menangkal upaya-upaya penyebaran pengkhianatan. Di daerah Kepanjen, atas perintah Mayor Soedjanudji, Pranowo Hadiwidjojo dan pasukannya berhasil menangkap kurir dari Madiun yang akan menyampaikan pesan surat berasal dari pimpinan PKI Yogyakarta yang tertuju pada badan perjuangan tertentu di daerah Malang Selatan.

Dalam menyebarluaskan ideologinya, PKI tidak hanya mempengaruhi rakyat setempat, tapi disertai konsolidasi kekuatan militer. Di Donomulyo didirikan sebuah batalyon khusus pertahanan yang dipimpin oleh Tjokro Bagong yang disebut Batalyon Dji’in. Mereka juga melakukan intimidasi, sabotase, dan penyiksaan, seperti yang dialami oleh Hardjo Prajitno sinder persil Kali Telo yang sempat dikubur hidup-hidup, tetapi sempat diselamatkan.

Untuk melaksanakan tugas penumpasan ini, Brigade IV berkedudukan di Sedayu dibawah pimpinan Letkol Abdoel Rifai. Mobat I yang dipimpin Mayor Hamid Rusdi dari Turen menuju Bantur dan berjalan kaki ke Sumbermanjing Kulon. Dari siini, berangkat Seksi-2 Slamet Hardjoeoetomo dan Seksi-3 Tjokro Hadi dan berhasil merebut Donomulyo. Dibantu Kompi Depo Kapten Nailun Hamam yang kemudian datang, mereka melakukan pembersihan di Donomulyo, Kalitelo, Tumpakrejo, dan Telogosari. Seksi-3 bertugas melakukan pembersihan di desa-desa gunung Malang, Jolosutro dan sekitarnya.

Di saat yang sama, Kompi I Sulam Samsun dikirim ke Cepu untuk membantu pasukan lainnya dalam Peristiwa Madiun dan bertugas menguasai instalasi-instalasi minyak di Cepu. Kompi 2 Sabar Soetopo melakukan penumpasan di sekitar Turen-Dampit. Kompi Depo Kapten Nailun bergerak dari Wonosari, Pagak,Tumpakrejo diperkuat Kompi Polisi (MB Polisi).

Gejolak di Donomulyo pada akhirnya dapat ditumpas oleh kesatuan-kesatuan dari Hamid Rusdi dan Wachman, dan pasukan dari Kompi Suyono. Mereka digrebeg sewaktu mengadakan rapat massa di persil Kali Telo dipimpin Tjokro Bagong yang bertujuan mempersiapkan penyambutan terhadap rencana kudeta di Madiun. Batalyon Dji’in berhasil dilucuti oleh Mayor Hamid Rusdi. Tjokro Bagong tertangkap di di daerah hutan Jolosutro, lalu dibawa ke Talangagung dan dipindahkan ke Turen, sementara anasir PKI lainnya melarikan diri ke Blitar Selatan.

Operasi di Donomulyo berjalan lancar berkat bantuan masyarakat. Pemeriksaan terhadap penduduk dilakukan di daerah basis PKI. Orang-orang PKI yang dianggap kelas ringan dibawa ke tempat tahanan di Suwaru,Gondanglegi, dan yang dianggap kelas berat dan membahayakan bangsa di tahan di daerah Petung Ombo, persil kopi di daerah Dampit.

Tugas penumpasan anasir-anasir PKI di Malang Selatan telah ditunaikan. Cobaan dan tantangan belum selesai. Pasukan RI kembali berkonsolidasi, menyatukan kembali semangat dan memusatkan perhatian untuk kembali menghadapi pasukan Belanda. (idur)

Kreatif, Ini Aksesoris Resin dan Bunga Kering Karya Mahasiswa UB

Karya Basra Masra. (Anja a)
Karya Basra Masra. (Anja a)

MALANGVOICE – Salah satu aksesoris fashion yang tidak boleh terlewat pastinya kalung, cincin ataupun gelang. Nah, dua mahasiswa Seni Rupa Universitas Brawijaya (UB) mengusung ide menarik menciptakan aksesoris handmade memanfaatkan resin dan bunga kering. Karya mereka begitu unik, sehingga setiap orang akan memiliki kalung yang berbeda.

Mereka adalah Angelica Merici M U dan Bhagas Artha Bangun. Keduanya sudah menggeluti bisnis aksesoris handmade ini sejak setahun lalu. Menurut Angelica, karya handmade berbahan resin memiliki banyak peluang di Malang. Angelica dan Bhagas mencoba menggabungkan bunga kering dan resin. Hasilnya, menjadi karya gantungan kalung, cincin bahkan gelang yang unik dan menarik. Bunga kering itu seolah berada di dalam kaca.

“Resin memiliki hasil seperti kaca namun kekuatannya seperti plastik. Jadi tidak mudah pecah,” imbuh Bhagas.

Untuk proses pembuatan, bisa menghabiskan waktu 4 hari sampai 1 pekan. Proses pengeringan bunga memakai teknik oshibana. Bunga yang digunakan pun tidak sembarangan.

“Bunga warna merah biasanya tidak bisa, karena warnanya pasti luntur kalau terkena resin. Resin cair sifatnya panas,” tambah Bhagas.

Selanjutnya bunga diletakkan di cetakan kemudian disiram dengan resin. Lalu tunggu hingga kering. Dalam satu kali pembuatan, Angelica dan Bhagas membuat 10-20 produk sekaligus. Saat ini produk mereka dijual dari teman ke teman, di sosial media, dan juga pameran-pameran kerajinan. Satu pendant bisa dijual mulai dari Rp 50 ribu- Rp 100 ribu. Karya Angelica dan Bhagas bisa dijumpai di akun instagram @brasamrasa.(Der/Ak)

Cinta Indonesia, Alasan Eka Tertarik Jadi Putri Duta Anti Narkoba

Putri duta anti narkoba Kabupaten Malang, Eka Fahrun Nisak Ramadhani. (istimewa)

MALANGVOICE – Eka Fahrun Nisak Ramadhani, dinobatkan sebagai putri duta anti narkoba Badan Narkotika Nasional Kabupaten Malang, beberapa waktu lalu.

Ia berhasil menyisihkan 130 orang peserta lain. Sedangkan putra duta anti narkoba disandang M Renaldi Bagus Wijayanto, siswa MAN Gondanglegi.

Perempuan kelahiran Malang 06 Desember 2000 lalu ini mengaku tertarik menjadi duta anti narkoba lantaran memiliki misi kemanusiaan. Terlebih, menyangkut hidup masyarakat banyak.

Berlatar belakang sebagai organisatoris sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), Eka tak terlalu sulit untuk bersosialisasi dengan teman sebayanya.

Siswi kelas XI SMAN 1 Kepanjen tersebut pun bersyukur dinobatkan sebagai duta anti narkoba. Selain peduli terhadap sesama, Eka mengaku mencintai Indonesia.

Putri duta anti narkoba Kabupaten Malang, Eka Fahrun Nisak Ramadhani. (istimewa)

“Seusia saya banyak yang terjerat narkoba. Saya tidak ingin teman-teman dan pelajar di Kabupaten Malang terjebak hal serupa,” aku putri sulung pasangan Kariono dan Anis Sulistiyoningsih ini.

Baginya, narkoba sangat berbahaya. Sasaran barang haram tersebut pun menyerang generasi muda Indonesia. Lantas bagaimana Indonesia di masa mendatang jika pemudanya telah terjangkit narkoba?

“Padahal, kami digadang-gadang sebagai penerus bangsa. Harapan masyarakat luas,” ungkap perempuan yang hobi berenang itu.

Langkah awal menyuarakan stop narkoba, katanya, akan dimulai dari diri sendiri. Sehingga nantinya bisa mengajak dan memberi contoh pelajar lain.

Mensosialisasikan bahaya narkoba membutuhkan keuletan dan kesabaran. Tidak hanya dilakukan di sekitar sekolah, tetapi juga di lingkungan masyarakat.

Meski demikian, perempuan yang aktif di Karang Taruna di desanya ini mengaku belum terlalu luas memahami kompleksitas soal narkoba. Eka butuh belajar lebih banyak agar wawasannya akan narkoba mumpuni.

“Saya harapkan ada bimbingan dari BNN. Terpenting, sebelum mengajak orang lain, saya harus bebas dari barang haram itu,” paparnya.

Ke depan, Eka berharap Indonesia bebas narkoba dan masyarakatnya hidup sehat tanpa narkoba. Sekaligus bersama-sama memberantas peredaran narkoba.

“Ini akan jadi pengalaman baru bagi saya dan teman-teman. Semakin banyak yang mensosialisasikan, saya yakin suatu saat Indonesia terbebas dari narkoba,” pungkasnya.


Reporter: Miski
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yuliani Eka Indriastuti

Mengenang Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (P­­eta)

Prajurit Peta sedang berlatih dengan bayonet terhunus (totsu geki).

MALANGVOICE – Memperhatikan sikap para pemimpin pemerintah pendudukan militer Jepang saat itu, para pemimpin Indonesia merumuskan gagasan-gagasan tentang pembentukan tentara nasional atau pasukan sukarela. Di saat Jepang mengerakkan pasukannya ke timur di wilayah Lautan Pasifik, ditengarai akan terjadi kekosongan pasukan dalam sistem pertahanan di wilayah Pulau Jawa dan Pulau Sumatra.

Mereka pun menyampaikan surat usulan kepada pemerintah pendudukan militer Jepang di Indonesia melalui Gatot Mangkupradja setelah mendapat persetujuan dari pemimpin golongan Islam (KH Mas Mansoer dkk.), golongan priyayi (Ki Ageng Suryo Mataram), seinenden (Mr. Soepangkat dan Sadarjoen), serta R. Soedirman. Moh. Hatta pun mengemukakan dukungannya dalam pidato di lapangan Ikada (3/11/1943).

Terkondisi oleh hal tersebut, Wakil Kepala Staf Umum Markas Besar Komando Kawasan Selatan Mayor Jenderal Inada Masazumi mengusulkan agar Jepang membentuk pasukan pribumi atau boei giyugun yang kemudian dikenal dengan Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (Peta). Ini didasarkan pada pembentukan pasukan yang sudah berhasil seperti di Birma (Myanmar) dengan nama BIA (Burma Indipendence Army) yang dipimpin Aung San, dan di Malaya dikomandani Mohan Singh dengan nama INA (Indian National Army).

Pada Agustus 1944, perwira tamatan kursus kyoikutai Angkatan Pertama di tugaskan ke daidan-daidan bagian selatan Pulau Jawa. Angkatan Kedua disebar ke bagian utara Pulau Jawa, seperti Pekalongan, Cirebon, Banten, Semarang, Pati, Surabaya, dan Bojonegoro. Dilaksanakan juga pendidikan lainnya, seperti peralatan (heiki), keuangan (keiri), dan kesehatan (eisei). Selama Desember 1943 hingga Agustus 1944, pendidikan perwira Peta telah membentuk 55 daidan di Pulau Jawa. Daidan-daidan ini dibawah komando Panglima Tentara XVI Letnan Jenderal Harada Kumakichi. Komandan Pasukan (boetaicho) di Jawa Barat Mayor Jenderal Mabuchi Hayao, di Jawa Tengah Mayor Jenderal Nakamura Junji, di Jawa Timur Mayor Jenderal Iwabe Shigeo. Selanjutnya di bawahnya, komandan-komandan batalyon tentara regular Jepang (daitaicho).

Dalam perkembangannya, urusan tentara Peta diembankan kepada staf khusus Boei Giyugun Shidobu yang beranggotakan Kapten Yamazaki Hajime, tiga orang shodancho yaitu Kemal Idris, Daan Mogot, dan Zulkifli Lubis. Dari sipil, Ichiki Tatsuo, dan 3 orang Indonesia: Haji Agoes Salim, Sutan Perang Boestami, dan Otto Iskandardinata.

Di Karesidenan Malang, untuk membantu kelancaran fungsi Peta, para anggotanya diupayakan berasal dari berbagai golongan dari warga setempat. Perwira-perwira Peta yang menjadi komandan batalyon (daidancho) dipilih dari tokoh-tokoh setempat atau orang-orang terkemuka di daerah itu. Komandan kompi (chudancho) biasanya dipilih dari kalangan guru, komandan peleton (shodancho) diambil dari kalangan pelajar (SLTP/SLTA), serta komandan regu (budancho) direkrut dari pemuda-pemuda SD. Melalui tahapan proses pendidikan/ pelatihan, di Karesidenan terbentuk 5 daidan: Dai I Daidan Malang (Gondanglegi), Dai II Daidan Lumajang Pasirian, Dai III Daidan Lumajang, Dai IV Daidan Malang Kota, Dai V Daidan Probolinggo.

Dai I Daidan Malang (Gondanglegi)

Daidancho : Iskandar Soelaiman
Fukan : Soemarto (shodancho)
Eisei : dr. Ibnoe Mahoen (chudancho)
Keiri : Hendro Soewarno (shodancho)
Heiki : Soekardi (shodancho)
Sabar Sutopo (shodancho)

Dai I Chudan : Hamid Rusdi (chudancho)
Dai I Shodan : Ibnoe Soetopo (shodancho)
Dai II Shodan : Soediri Doemadi (shodancho)
Dai III Shodan : Abdoel Moekti (shodancho)

Dai I Chudan : Hamid Rusdi (chudancho)
Dai I Shodan : Ibnoe Soetopo (shodancho)
Dai II Shodan : Soediri Doemadi (shodancho)
Dai II Shodan : Soediri Doemadi (shodancho)

Dai II Chudan : Abdoel Manan (chudancho)
Dai I Shodan : Moeljono (shodancho)
Dai II Shodan : Soemeroe (shodancho)
Dai II Shodan : Soedarsono (shodancho)

Dai III Chudan : Harsono (chudancho)
Dai I Shodan : Moetakat Hoerip (shodancho)
Dai II Shodan : Ridwan Naim (shodancho)
Dai II Shodan : Soepardji (shodancho)

Dai IV Chudan : A. Masdoeki (chudancho)
Dai I Shodan : Singgih (shodancho)
Dai II Shodan : Umar Said (shodancho)
Dai II Shodan : Soepardji (shodancho)
Hombu Chudan : A. Masdoeki (chudancho)

Budancho: Soekarmen, Sarwono, Moenadji, Asnan Gozali, Soejoto, Bedjo, Soeprapto, Soeprantio, Koeswari, Rifai, Kasirin, Koesen, Achmad, Drajat, Slamet, G. Soentoro, Koesnadi, Soelaiman.

Dai IV Daidan Malang Kota

Daidancho : Imam Soedjai
Fukan : Soekardani (shodancho)
Eisei : dr. Muhamad Imam (chudancho)
Keiri : Achmad Soegiantoro (shodancho)
Heiki : Soehardi (shodancho)
Hifuku : Soesilo (shodancho)
Renraku gakari : Widjojo Soejono (shodancho)
Darsi gakari : Pandoe Soejono (shodancho)
Shudosi : Hariman (shodancho)
Honbu : Soebroto (shodancho)

Dai I Chudan : Sochifudin (chudancho)
Dai I Shodan : A. Manab Rasmosingo (shodancho)
Dai II Shodan : D. Soekardi (shodancho)
Dai III Shodan : Moh. Hidayat (shodancho)

Dai II Chudan : M. Mochlas Rowie (chudancho)
Dai I Shodan : A. Manab Rasmosingo (shodancho)
Dai II Shodan : D. Soekardi (shodancho)
Dai III Shodan : Moh. Hidayat (shodancho)

Dai III Chudan : Sulam Samsun (chudancho)
Dai I Shodan : Soejono (shodancho)
Dai II Shodan : Soekarjadi (shodancho)
Dai III Shodan : Soeprapto (shodancho)

Dai IV Chudan : Moch. Bakri (chudancho)
Dai I Shodan : Imam Hambali (shodancho)
Dai II Shodan : Aboe Amar (shodancho)
Dai III Shodan : Soebowo (shodancho)

Berlangsungnya proses pelaksanaan penyerahan kekuasaan dari Jepang kepada pihak Sekutu, dalam rapat gun-shireikan dibahas penjaminan keamananan Jepang di daerah wewenang Tentara Keenam Belas. Kesatuan-kesatuan seperti Peta dan Heiho dianggap berpoteni besar untuk bermasalah terutama dengan meletusnya pemberontakan Peta di Blitar. Pada 18 Agustus 1945 dikeluarkan perintah untuk membubarkan daidan-daidan Peta. Esok harinya, Panglima terakhir Tentara Keenam Belas di Jawa Letnan Jenderal Nagano Yuichiro menyampaikan pidato perpisahan kepada semua anggota Peta. Mereka diberi pesangon 6 bulan gaji serta pembagian bahan makanan dan bahan pakaian. (idur/Perjuangan Total Brigade IV pada Perang Kemerdekaan di Karesidenan Malang, 1997).

Berkumpulnya Semua Pasukan Gerilya di Malang Selatan dan Semeru Selatan

Rapat Pimpinan Divisi, para Komandan Brigade dan Batalyon se-Jawa TImur di Batu (1950)
Rapat Pimpinan Divisi, para Komandan Brigade dan Batalyon se-Jawa TImur di Batu (1950)

MALANGVOICE – Diberlakukannya Garis Van Mook berakibat otomatis terkurungnya pasukan RI dalam satu kawasan. Wilayah Malang Selatan dan Semeru Selatan menjadi tujuan berbagai pasukan untuk berhijrah dari daerah-daerah kantong di wilayah Karesidenan Malang dan Besuki. Hutan yang lebat, tanah berbukit dan penuh lereng, serta ceruk-ceruk curam menjadi kawasan yang strategis untuk perjuangan bergerilya.

Pasukan Belanda pun melakukan berbagai strategi, seperti memperkuat daerah Sumber Urip, menyerang Turen dan Sedayu dari arah Bululawang, menyerang Talok dari arah Tumpang, mempertahankan Poncokusumo untuk pangkalan operasi menyerbu Dampit, serta memperkuat garis pertahanan Talok-Sedayu-Gondanglegi-Kepanjen-Wlingi sebagai garis utama untuk mengurung pasukan RI ke daerah pantai selatan. Musuh juga memperkuat garis pertahanan Poncokusumo-Wajak-Dampit-Sumber Urip dan Lumajang-Ampelgading-Dampit untuk menguasai Semeru Selatan.

Namun, semua itu jauh dari kenyataan, karena pasukan RI selalu mendahukui melakukan Wingate Action, menyerang untuk merebut kembali ke daerah-daerah itu. Koordinasi yang baik dari segenap unsur termasuk rakyat di Malang Selatan dan Semeru Selatan, secara umum mampu menggagalkan pemerintah bentukan Belanda (RECOMBA) yang tidak pernah menjadi kenyataan.

Dalam mematuhi perintah akibat penjanjian Renville itu pun, pasukan HIzbullah yang dipimpin Kyai Ilyas pun harus ditarik ke daerah kantong dan berangkat menuju Malang Selatan. Terdiri dari Seksi Anaz Zaini dan Azis Masyhuri, dari desa Pagon mereka berjalan kaki melintasi Gunung Semeru menuju Dampit, kemudian bergabung dengan pasukan TNI dan bersama-sama menuju tempat hijrah dengan naik truk-truk yang telah disediakan. Pasukan Kyai Ilyas akhirnya bermarkas di daerah Pronojiwo.

Pasukan Kyai Ilyas telah melakukan berbagai perlawanan terhadap pasukan Belanda. Dengan bantuan Kompi Soekartijo mereka menyerbu pos-pos musuh di sekitar pasar Yosowilangun. Mereka juga menyerang markas Belanda yang ada di pabrik gula dan pabrik beras di Kencong.

Pada tahun 1947 tatkala keluar Dekrit Presiden mengenai pembubaran badan kelaskaran untuk digabung menjadi satu dalam TNI, pasukan Kyai Ilyas pun dijadikan satu kompi di bawah komandan Kapten Ilyas dan masuk dalam jajaran Batalyon IV. Peresmian Hizbullah melebur dalam TNI tersebut dilakukan di lapangan Sedayu, Turen pada 11 Desember 1949. Mereka masuk dalam pelatihan pasukan selama satu bulan di Depot Batalyon Sumberpucung di bawah komandan Nailun Haman.

Di masa Perang Kemerdekaan II, atas persetujuan dari Komandan Batalyon IV Samsul Islam, pasukan Kapten Ilyas diperbolehkan kembali untuk bergerilya di daerah Lumajang. Mereka menyusuri pantai selatan, berjalan kaki beberapa hari dari Dampit menuju Lumajang. Ketika sampai di Tempursari, ternyata belum lama terjadi peetempuran hebat antara pasukan RI dan musuh. Masih banyak mayat-mayat berserakan, baik jasad pasukan RI maupun serdadu Belanda. Ini menjadikan Tempursari yang sebelumnya tertutup menjadi terbuka bagi lalu lintas gerilya dan para pengungsi dari jurusan Malang ke Lumajang, Jember dan wilayah lainnya.

Di tahun 1949, terjadi pertempuran hebat, serangan dilakukan oleh pasukan Belanda yang dipimpin langsung komandan mereka dari KST Korp Spesiale yang terkenal hebat dan kejam. Mereka menyerang dari Gladak Perak-Kali Lengkong-Merakan. Sementara posisi pasukan Soekartijo Seksi III Abd. Muchni membayangi di atas Gunung Sawur-Penanggal dan Poncosono. Lebih dari 3 jam pertempuran, banyak korban dari pasukan Cakra yang membantu Belanda, diangkut dengan truk-truk. Kuda-kuda yang mereka gunakan berhamburan.

Dalam perjuangan di wilayah Brigade IV terdapat juga sebuah kompi beranggotakan orang-orang yang berasal dari Irian (Kompi Irian). Dikomandani oleh Letda Koromath pada masa gencatan senjata dan Agresi Militer Belanda II mereka bertempat di Turen. Mereka turut berjuang membela RI. Setelah pengakuan kedaulatan, mereka ikut serta masuk ke Malang. Ketika berlangsung operasi Trikora untuk pembebasan Irian jaya, mereka memiliki peran penting dalam keberhasilan operasi tersebut. Disamping Kompi Irian, di kesatuan Brigade IV ikut juga berjuang Batalyon 524 Jokotole yang terdiri dari pemuda-pemuda Madura dari Pamekasan yang berjuang di Tuban. Dalam perjalanan perjuangan kemudian, mereka bergerilya sampai wilayah Kediri, lalu setelah pengakuan kedaulatan mereka berkedudukan di Pasuruan.

Pada Perang Kemerdekaan II kebutuhan logistik sudah teratasi oleh Kecamatan Ampelgading yang menghasilkan bahan-bahan makanan memadai, karena di masa gerilya itu para pimpinan pasukan RI dan sipil di sana telah membentuk daerah perkebunan menjadi desa-desa darurat yang lengkap dengan kepala desa, struktur pemerintahan desa, dan batas-batas wilayahnya.

Kebersamaan ini pun yang mendorong terarahnya serangan serentak terhadap tangsi-tangsi Belanda. Waktu itu, diperoleh berita bahwa operasi dahsyat akan dilakukan oleh pasukan Belanda baret merah dan baret hijau. Mereka akan menembak mati setiap orang yang melewati lereng selatan gunung Semeru sampai ke Dampit.(idur)

ASLI Malang, Tempat Siapa Saja yang Peduli dengan Malang

Beberapa pengurus ASLI Malang (anja)

MALANGVOICE – Kemajuan Kota Malang bisa terwujud bukan hanya karena pemimpinnya, tapi juga karena adanya semangat dan kepedulian masyarakat untuk ikut mewujudkannya, melalui partisipasi di berbagai bidang.

Komunitas Peduli Malang atau biasa di sebut ASLI Malang yang dibentuk pada 15 Juni 2014, merupakan salah satu wujud kepedulian warga Malang untuk berperan aktif di masyarakat, dan membuat Malang lebih maju.

“Kami memandang Malang sebagai tempat yang punya nilai historis tinggi dan banyak kelebihan yang bisa dikabarkan kepada publik,” kata Arief Garage, ketua ASLI Malang, kepada Mvoice.

Untuk keanggotaan, ASLI Malang tidak ada standar khusus. Siapapun yang peduli dan ingin memajukan Malang boleh bergabung. Tidak hanya anak muda, tapi juga orang dewasa. ASLI Malang tidak mengenal agama, profesi atau jabatan anggotanya, baik itu dari PNS, dosen, mahasiswa, karyawan, beragama Islam, Kristen, Budha, asal luar kota, luar Jawa, dan sebagainya.

“Selama dia (anggota) berdomisili di Malang, meski bukan orang asli Malang, bisa menjadi anggota komunitas ini,” tambahnya.

Saat ini terhitung sudah lebih dari 30.000 anggota. Mereka semua terhubung dalam grup Facebook Komunitas Peduli Malang sebagai salah satu portal komunikasi.

Aktivitas ASLI Malang saat ini meliputi kegiatan-kegiatan peduli lingkungan, sosial, dan budaya. Tak menutup kemungkinan komunitas ini akan melakukan kegiatan di bidang ekonomi dan pendidikan.

Berkali-Kali Gagal Wirausaha, Kini Soim Sukses Usaha Nasi Bakar

Warung Lodji
Warung Lodji

MALANGVOICE – Berkali-kali gagal membangun usaha, tidak memupuskan semangat Soim Karamah untuk berwirausaha.

Pria asli Malang ini saat ini sukses berjualan nasi bakar bebek kelapa di sentra kuliner Sriwijaya. Sebelumnya, Soim berwirausaha di bidang garmen dan kerajinan. Tapi bisnisnya tidak berhasil.

Aneka menu Lodji
Aneka menu Lodji

“Karena daya beli masyarakat tidak setiap hari beli garmen atau kerajinan,” katanya.

Barulah dia melihat peluang kuliner yang menjanjikan. Menurutnya, makan adalah kebutuhan sehari-hari masyarakat. Tinggal menyesuaikan selera saja. Dari berbagai macam menu kuliner yang pernah dia jajal, ternyata menu nasi bakar paling diminati.

Soim
Soim

“Nasi bakar ini bahannya nasi uduk yang dibungkus daun pisang lalu dibakar. Tidak ada isiannya, tapi rasanya gurih. Lalu lauknya aneka bakaran seperti bebek bakar, ayam bakar, tempe bakar, dan banyak lainnya,” kata sarjana pertanian alumni Universitas Brawijaya ini.

Saat ini, nasi bakar Lodji (nama warungnya) paling diburu masyarakat pecinta kuliner. Dalam sebulan, omzet kotor Soim mencapai 30 juta

Ini Dia, Studio Animasi Asli Malang…

Agus Setiawan dan Logo Copycat

MALANGVOICE – Industri animasi mulai dilirik Pemerintah Kota Malang. Benih-benih animator muda pun bermunculan, berlomba menghasilkan karya animasi populer. Untuk itu banyak pemuda di Malang mulai mendirikan studio animasi sendiri.

Adalah Agus (Suga) Setyawan, mahasiswa jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Negeri Malang, yang merintis studio animasi dan sudah menghasilkan karya-karya luar biasa. Hebatnya, studionya mulai diakui kalangan pemerintahan di Malang sebagai industri kreatif Malang, sejak 2012 lalu.

studio copycat
studio copycat

Kecintaannya pada animasi memotivasinya mendirikan studio bernama Copycat Studio, di Jalan Sumberejo C5, Kompleks Perumahan YPPI, Kota Batu, yang menawarkan jasa pembuatan animasi untuk iklan, motion graphic, sculpting, komik, visual effect, dan sebagainya.

Meski personel terbatas, ia tak kkhawatir. Biasanya ia berbagi pengerjaan proyek besar ke studio lain.

“Kami sering bekerja sama dengan studio animasi lain di Malang. Kami juga biasa bagi tugas dan mengembangkan satu sama lain. Studio animasi lain juga melakukan hal yang sama. Soalnya proyek besar biasanya butuh tenaga lebih banyak dan waktu lebih lama,” jelasnya.

Ditemui oleh MVoice, beberapa waktu lalu, ia bercerita, pengalaman dan bekal ilmu animasi ia dapatkan dari sekolah, magang, dan pelatihan. Pada 2007, alumni SMKN 4 Grafika Malang ini pernah magang bersama 9 siswa lain selama 6 bulan di studio animasi Fonsel, Malaysia.

Di situ ia pernah ditugasi sebagai background artist, key animator, dan storyboard artist. Setelah lulus sekolah, sebenarnya ia ingin langsung bekerja saja, tapi ia memilih menerima tawaran beasiswa unggulan 4 tahun penuh dari Universitas Negeri Malang.

Selanjutnya, di bangku perkuliahan ia memperdalam ilmu animasi dan menemukan banyak teman yang sama-sama tertarik dengan animasi. Selain itu, ia pernah juga mengikuti pelatihan di Bali yang diadakan Calabash Studio California dan beberapa pelatihan lain.

Karena pengalaman yang baik, Agus dipercaya Disperindag Kota Malang untuk menjadi narasumber pelatihan animasi pada Agustus 2015 lalu. Sejak saat itu ia dipercaya mengembangkan forum animasi di Kota Malang.

Ia berharap industri animasi di Malang semakin berkembang dan bersaing dengan animator dari kota lain. “Animator di Malang ini keren-keren. Bisa dibilang kita pantas bersaing dengan animator dari kota-kota besar lho. Karya animator di kota ini kualitasnya sudah baik. ” tambahnya.