Kretek Tradisional Budaya Leluhur, Ridwan: Kretek Linting Bukan Buatan Mesin

Ridwan Hisjam

MALANGVOICE – Ketua Panitia Kerja RUU Kebudayaan, Ridwan Hisjam, memperjelas makna kretek tradisional sebagaimana dalam draf pasal.

Politisi Partai Gokar itu menegaskan, yang dimaksud dengan kretek tradisional adalah kretek linting yang diolah dengan tangan.

Dijelaskan, proses linting kretek itu, sudah menjadi tradisi dan kebudayaan masyarakat khususnya yang ada di desa.

“Siapa yang berani membantah nenek moyang kita tidak nglinting kretek, sampai saat ini terjadi, bahkan saya tahu sejak kecil mbah-mbah saya juga nglinting,” ucap Ridwam Hisjam kepada MVoice, Sabtu (25/9).

Lebih lanjut, Ia menambahkan, keberadaan kretek linting ini sangat berkaitan dengan pertarungan industri di bidang rokok, yang berimbas pada nasib petani tembakau.

“Kretek tradisional ini mulai hilang tergerus pola bisnis, akibatnya petani tembakau hancur. Padahal di Jawa Timur petani tembakau sangat banyak,” bebernya.

Ridwan juga membedakan antara kretek tradisional dengan rokok mesin. “Kretek tradisional jelas berbeda dengan rokok mesin,” tandasnya.-

Ridwan: Tidak Ada Fraksi Menolak Kretek Tradisional

Ketua Panitia Kerja RUU Kebudayaan, Ridwan Hisjam

MALANGVOICE – Kemunculan pasal mengenai kretek tradisional di Rancangan Undang-Undang (RUU) Kebudayaan, menjadi kontroversi. Tak hanya di masyarakat umum, namun pro kontra layak atau tidaknya kretek tradisional masuk sebagai produk kebudayaan nasional juga terjadi pro kontra di kalangan anggota DPR RI.

Salah satu yang menentang adanya pasal kretek tradisional, yakni mantan Menteri Kominfo sekaligus politisi PKS, Tifatul Sembiring yang menganggap pasal itu harus dihilangkan.

Menanggapi hal ini, Ketua Panitia Kerja (Panja) RUU Kebudayaan, Ridwan Hisjam mengatakan, apa yang diungkapkan Tifatul bisa jadi merupakan ungkapan pribadi.

Alasannya, setelah RUU dilempar ke Bandan legislasi dan ada koreksi, terjadi penambahan dan pengurangan bab serta pasal yang dilakukan rapat mini fraksi. “Pada waktu tanggapan fraksi itu, tidak ada penolakan soal pasal kretek,” kata Ridwan, Sabtu (26/5).

Yang ditolak, lanjut politisi Partai Golkar itu adalah mengenai dewan kebudayaan oleh Fraksi PDI Perjuangan dam PKB. “Alasan mereka menolak adalah karena tidak ingin ada badan baru, kalau kretek tradisional tidak ada yang menolak,” tandasnya.

Draft RUU Kebudayaan, Pasal Kretek Jadi Kontroversi

Ketua Panitia Kerja RUU Kebudayaan, Ridwan Hisjam

MALANGVOICE – Rancangan Undang-Undang (RUU) Kebudayaan yang saat ini sedang dibahas di DPR-RI, berisi hal penting mengenai pengakuan dan perlindungan terhadap budaya nasional warisan leluhur.

Salah satu yang kini menjadi kontroversi dalam pembahasan RUU ini, adalah masuknya kretek tradisional menjadi salah satu warisan budaya yang harus dipertahankan dan dijaga negara.

Pasal ini, menimbulkan pro dan kontra karena beberapa pihak menilai, kretek sama halnya dengan rokok yang membahayakan kesehatan dan harusnya tidak dimasukkan sebagai warisan budaya.

Ketua Panitia Kerja RUU Kebudayaan, Ridwan Hisjam menegaskan, pada saat pembahasan di Panja Komisi X DOR RI, pasal mengenai kretek tradisional tidak ada. ”Pasal mengenai kretek tradisional itu semula tidak ada,” kata Ridwan, Hisjam, Sabtu (26/9).

Ia menjabarkan, awalnya pada saat pembahasan di Panja RUU memiliki 7 bab dan 95 pasal. Usai dibahas di Panja, RUU lalu dilempar ke Badan Legislasi, dari sinilah terdapat koreksi draft yang disusun Panja, dimana ada pengurangan satu bab dan satu pasal serta ada penambahan empat pasal, sehingga RUU menjadi 6 bab dan 100 pasal. ”Dari sinilah pasal mengenai kretek nasional muncul,” ungkap Politisi Partai Golkar itu.

Enam pasal tambahan itu antara lain, adanya ketentuan mengenai kretek tradisional, olah raga tradisional, permainan tradisional hingga pengobatan tradisional yang keberadannya dilindungi negara.-

Lima Kucing Dikebiri, Sisanya Menunggu Adopsi

drh. David Cahaya bersama tim mengkastrasi atau mengebiri kucing liar. (deny/malangvoice)

MALANGVOICE – Lima kucing liar di Pasar Tawangmangu, Kota Malang berhasil dikastrasi oleh drh. David Cahaya Putra dibantu Perkumpulan Kucing Domestik Indonesia (PKDI) Chapter Malang, Sabtu (26/9).

Ada 23 anggota tim yang tergabung mencari kucing di dalam pasar mulai pagi. Setelah itu, tim dokter mulai mengoperasi kucing jantan itu agar tidak bisa bereproduksi.

Operasi kastrasi atau pengebirian itu, menurut humas PKDI Chapter Malang, Fitri Yulischi, merupakan bentuk perlindungan terhadap kucing. “Jika populasi mereka terlalu banyak, maka dianggap hama dan bisa dibunuh orang,” jelasnya.

Selain kucing jantan dewasa, PKDI Chapter Malang juga mengambil kucing anakan yang terlantar. Nantinya, kucing anakan itu akan disimpan dan dipelihara sebelum dilepas ke adopter.

“Kami akan pelihara sampai dewasa baru akan di posting di grup facebook agar bisa diadopsi,” katanya.

Untuk program berikutnya, kata koordinator PKDI Chapter Malang, Mirtha, menargetkan Pasar Karang Ploso dan rumah sakit karena di tempat tersebut banyak sekali kucing liar.

“Sering lihat banyak kasus disiksa, banyak pelapor kekerasan terhadap kucing, akhirnya kami survey ada dua tempat yakni rumah sakit sama pasar,” singkatnya.-

KPU Deklarasikan Gerakan Tolak Golput

Ilustrasi (Kpu Kabupaten Malang)

MALANGVOICE- Selain gencar melakukan sosialisasi di elemen masyarakat, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Malang, juga mendeklarasikan gerakan tolak golput.

Gerakan tersebut akan di deklarasikan bersamaan deklarasi pemilu damai, 10 Oktober mendatang.

Komisioner KPU, Abdul Kholiq, mengatakan, gerakan ini untuk meminimalkan golput dan mengangkat partisipasi pemilih. “Pada Pileg lalu tingkat pemilih 72 persen, kami harap di Pilbup meningkat,” katanya.

Dikatakan, sosialisasi tanpa adanya gerakan tolak golput diyakini kurang maksimal. Karenanya, harus seimbang antara sosialisasi dan gerakan ini.

Nantinya, semua perangkat penyelenggara Pilbup diminta untuk meneruskan deklarasi sampai tingkat desa.

“Butuh dukungan semua pihak, khususnya penyelenggara di tingkat kota hingga desa,” paparnya.-

Yudo Nugroho Jabat Kapolres Malang

Kapolres Malang , AKBP Yudo Nugroho Sugianto disambut upacara pedang pora.

MALANGVOICE- Serah terima jabatan (Sertijab) orang nomor satu dijajaran Polres Malang, berlangsung lancar dan khidmat, Sabtu (26/9) pagi ini.

Kapolres Sampang AKBP Yudo Nugroho Sugianto, S.I.K menggantikan AKBP Aris Haryanto.S.I.K.,M.Hum, sebagai Kapolres Malang. Sedangkan Aris Haryanto dipromosikan sebagai Kabag Dalpes Ro SDM Polda Jatim.

Aris Haryanto menjabat Kapolres Malang sejak 21 Oktober 2014 hingga 22 September 2015.

Selama menjabat orang nomor satu di Polres Malang, beberapa kasus berhasil ditangani secara tuntas. Seperti kasus pembunuhan anak istri di Jabung, memberantas pelaku perampokan dan penangkapan tersangka narkoba yang melibatkan oknum BNN.

Mantan Kepala Detasemen A Satbrimob Polda Jatim dan Mantan Kepala Detasemen A Satbrimob Polda Kepulauan Bangka Belitung itu, tiba di Mapolres sekitar pukul 08.15 WIB, didampingi sang istri.-

Di MVoice Building, Ridwan Kupas Tuntas Budaya Tradisional

Ridwan Hisjam

MALANGVOICE – Kehadiran Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Ridwan Hisjam ke MVoice Building di Jalan Danau Kerinci, Sawojajar, Kota Malang, Jum’at (25/9) malam, tidak hanya sekedar bersilaturahim dengan awak redaksi media online ini. Saat berdialog dengan awak redaksi, Ridwan Hisjam banyak bercerita tentang segala hal yang terkait dengan bidangnya di Komisi X DPR RI.

Salah satu topik yang dibahasnya masalah budaya. Terkait masalah budaya, politisi Partai Golkar ini menjelaskan dengan rinci mengenai Rancangan Undang-undang (RUU) Kebudayaan yang kini masih digodok di DPR RI.

Sebagai Panitia Kerja (Panja) RUU Kebudayaan, Ridwan mengatakan, selama hampir delapan tahun RUU tersebut tidak pernah disinggung anggota DPR RI periode sebelumnya. “Jadi sejak tahun 2007, RUU ini tidak disentuh, akhirnya saya berani melakukan pembahasan dengan anggota di Komisi X,” kata Ridwan.

Sebagai negara yang memiliki banyak kebudayaan nasional, Ridwan menegaskan, dengan hadirnya undang-undang ini nantinya bisa sebagai landasan hukum perlindungan budaya warisan leluhur. “Termasuk olah raga tradisional, permainan tradisional dan kretek nasional masuk dalam pembahasan RUU ini,” tandasnya.-

Kunjungi MVoice, Ridwan Hisjam Kagumi Tagline “Asli, Gak Ngawur”

MALANGVOICE – Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Ridwan Hisjam, Jum’at (25/9) malam mengunjungi MVoice Building di Jalan Danau Kerinci VII, Sawojajar, Kota Malang.

Kedatangan Ridwan disambut hangat seluruh jajaran redaksi dari Pimpinan Redaksi, Ahmad Rizal hingga seluruh reporter Malangvoice.com.

Politisi Partai Golkar ini, mengagumi tagline yang dibawa online ini yakni ‘Asli, Gak Ngawur’ yang dianggapnya sangat kental aroma Malang. “Kalimat itu adalah bentuk kreatifitas di Malangvoice.com,” ucap Ridwan.

Ia berharap kehadiram Malangvoice.com sebagai media online bisa menyajikan berita yang aktual dan mampu mengedukasi publik Malang Raya.

“Keberadaan media online saat ini sudah menjadi kebutuhan warga akan informasi,” tandasnya.-

Begini Tahapan Relokasi Pedagang Pasar Blimbing

MALANGVOICE – Dinas Pasar Kota Malang dan Pedagang Pasar Blimbing sudah mulai terbuka soal relokasi ke tempat penampungan sementara di Stadion Blimbing, Jalan Tenaga.

Kepala Dinas Pasar Kota Malang, Wahyu Setianto mengatakan akan ada beberapa tahapan proses relokasi pedagang. Pertama yang dilakukan yakni dinas akan memberikan sosialisasi terkait mekanisme pengambilan nomor pada para sub koordinator pedagang. ”Kita akan sosialisasi dulu soal mekanisme pengambilan nomor pada pedagang,” kata Wahyu, Jum’at (25/9).

Setelah itu, para sub koordinator yang bertanggung jawab akan memberikan penjelasan langsung pada para pedagang. “Nantinya akan diatur, kapan pedagang sayur, kapan pedagang daging, ikan jadi nggak bisa berbarengan,” tutur Wahyu.

Soal keinginan pedagang, ia mengungkapkan hal itu akan dilakukan sambil berjalan. “Tahap ini nanti diselesaikan, sambil pembahasan tujuh poin tuntutan pedagang dilakukan,” ungkapnya.

Mantan Kepala Satpol PP Kota Malang itu juga mengimbau kepada pedagang agar segera mengambil nomor kios.-

Iwan Kuswardi Pimpin DPC Peradi Malang Versi Juniver

Ketua DPC Peradi Malang versi Juniver Girsang, Iwan Kuswardi. (Muhammad Choirul / MalangVoice)

MALANGVOICE – Iwan Kuswardi akhirnya terpilih sebagai Ketua DPC Peradi Malang versi Juniver Girsang, dalam konsolidasi anggota di Hotel Atria, Jumat (25/9) sore.

Iwan Kuswardi, sebelumnya menjabat Wakil Ketua DPC Peradi Malang yang diketuai Gunadi Handoko. Namun, Iwan dipecat, karena dianggap tidak sevisi dengan kubu Gunadi yang condong ke DPN Peradi versi Fauzi Yusuf Hasibuan.

“Kami memilih Pak Iwan karena dedikasinya sudah terbukti. Selama ini, dia figur yang dikenal bijak dan tidak arogan,” kata Suhendro Priyadi, salah satu inisiator terbentuknya kepengurusan baru ini.

Ia menambahkan, dalam forum ini hanya dipilih ketua. Selanjutnya, untuk pemilihan nama-nama pengurus akan dibicarakan di forum lain.

“Yang jelas hari ini kami semua sudah sevisi untuk menjatuhkan pilihan mengakui DPN versi Juniver. Menurut kami memang dia yang sah karena terpilihnya aklamasi dalam Munas di Makassar, dan tidak ada deadlock,” tandasnya.-

Komunitas