Ini Dia Mobil Listrik Canggih Buatan Polinema

Mobil Isecp karya mahasiswa Polinema (Deny/malangvoice)

MALANGVOICE – Mahasiswa Politeknik Negeri Malang (Polinema) berhasil menciptakan mobil listrik yang dinamai Isecp atau Intelegent Sempu Electricars Polinema, dan mulai diperkenalkan bertepatan dengan peringatan Proklamasi Kemerdekaan, Senin, (17/8).

Mobil mini itu merupakan hasil karya Teknik Otomotif Elektronik D4, dengan penyempurnaan teknologi yang lebih baik dari mobil istrik sebelumnya.

“Ada pengereman otomatis, wiper yang bisa menyesuaikan banyaknya air, dan masih banyak invovasi lagi,” kata salah satu pembuat Isecp, Afa Arifin.

Isecp, kata dia, bisa menempuh jarak 30 km dari pengisian 3 jam. “Kalau dibilang irit, jelas jauh lebih irit,” ujarnya.

Bersama Ditektur Polinema, Tundung Subali, perkenalan mobil listrik itu ditandai dengan menotong pita dan didemokan dengan mengelilingi kampus.

Proses pembuatan Isecp memakan waktu 6 bulan, dengan biaya mencpai Rp 60 juta. “Uangnya dari mahasiswa sendiri,” tandasnya bangga.

SDA Batu Wakili 40 Persen Jawa Timur

MALANGVOICE – Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) harus diajarkan di sekolah-sekolah di Kota Batu, karena wilayah itu mewakili 40 persen Sumber Daya Alam yang ada di Jawa Timur.

Pengawas Dinas Pendidikan Kota Batu, Sukistono, menegaskan, jika tidak dimulai sejak dini, bisa saja perilaku pengrusakan alam dan lingkungan hidup bakal terjadi.

“Ini urgen, kita mewakili 40% sumber daya alam di Jatim lho. Jangan sampai potensi ini dirusak tangan jahil hanya karena ketidaktahuannya. Makanya PLH ini urgen,” jelas Sukistono kepada MVoice, Minggu (16/8).

Menurutnya, PLH nantinya dirancang sebagai suatu pembiasaan kepada siswa didik. Yang diajarkan seputar peningkatan kesadaran siswa tentang lingkungan, plus isu permasalahan lingkungan itu sendiri.

“Kami sudah merumuskan dengan tim teknis dari Universitas Brawijaya. Jadi pengelolaan kalau ada pencemaran, konservasi sumber daya alam, itu kita ajarkan semuanya,”tambahnya.

Dengan fahamnya siswa terkait PLH ini, Sukistono berharap siswa di Batu menjadi tuan di tanahnya sendiri, yang dengan arif dan bijaksana memanfaatkan dan mengelola lingkungan untuk kebaikan hidup bersama.

Disdik Belum Tindak Lanjuti Pendidikan HAM

Kadisdik Batu, Mistin.

MALANGVOICE – Rencana Omah Munir memasukkan pendidikan Hak Asasi Manusia (HAM) di lingkungan sekolah Kota Batu, kemungkinan akan tersendat.

Ini karena Dinas Pendidikan Kota Batu baru sebatas menyampaikan permintaan Omah Munir ke SMP Negeri 1 Batu, namun belum ditindaklanjuti lebih jauh.

“Kita belum koordinasi lebih lanjut soal permintaan itu. Jadi sifatnya masih berupa permintaan ke SMP 1,” kata Kadisdik Kota Batu, Mistin, kepada MVoice, Sabtu (15/8) pagi.

Padahal sesuai rencana, Omah Munir hendak melaunching modul Pendidikan HAM tersebut pada minggu ke empat Agustus ini. Jika betul permintaan masuk ke sekolah belum beres, maka bisa dipastikan gagal launching.

Mistin sendiri saat disinggung mengenai apakah modul ini dapat masuk ke kurikulum mata pelajaran PKN, juga tidak memberikan jawaban yang memuaskan. “Itu kita belum tahu, saya belum pelajari,” jawabnya singkat.

Sebagaimana yang telah diberitakan bahwa Omah Munir ingin memasukkan modul pendidikan HAM pada mata pelajaran PKN di SMPN 1 dan MTs Surya Buana. Direktur Eksekutif Omah Munir, Salmah Safitri mengaku sudah kerja sama dengan Disdik Kota Batu.-

Dewan Bakal Pertemukan Pemkot-Poltekom

Tri Yudiani Sekertaris Komisi D DPRD Kota Malang .

MALANGVOICE – Sekretaris Komisi D DPRD Kota Malang, Tri Yudiani mengatakan, pihaknya bakal mempertemukan Pemerintah Kota dan Politeknik Kota Malang (Poltekom) guna membahas nasib kampus itu ke depan.

Pertemuan nanti, kata dia, dilakukan guna membahas permasalahan usai badan pemeriksa keuangan (BPK) melarang aliran dana Poltekom di bawah Dinas Pendidikan.

“Kita coba pertemukan antara dua institusi ini agar ada jalan keluar bersama,” kata Tri Yudiani, Sabtu (15/8).

Wanita yang akrab disapa Yudis ini menjelaskan, permasalahan yang berkaitan dengan struktur kepengurusan yayasan harus segera tuntas dalam waktu singkat.

Informasi yang didapat Komisi D, bahwa pihak pengurus yayasan lama dengan pembinan mantan Wali Kota Malang, Peni Suparto, sudah sepakat menyerahkan yayasan itu. “Pihak yayasan lama sudah sepakat untuk menyerahkan yayasan itu,” timpalnya.

Tak kalah penting, masalah pendanaan Poltekom hingga akhir tahun ini juga akan dibahas pada pertemuan itu.

Alasannya, sejak ada temuan BPK, pihak Pemkot Malang sudah memutus aliran dana kepada Poltekom, bahkan dalam pembahasan diperubahan anggaran keuangan (PAK) dana itu dipangkas habis.

Akibatnya, sebanyak 63 karyawan dan dosen yang ada di sana belum menerima gaji sejak bulan Mei. “Kabar yang kami terima mereka hanya menerima gaji separuh saja,” tandasnya.

Ditanya perihal usulan dana hibah untuk pembiayaan Poltekom, politisi PDI Perjuangan ini mengaku hal itu sulit terealisasi lantaran aturan tidak memperbolehkan.

“Bisa nanti ada dana talangan atau bagaimana teknisnya kita akan bahas bersama,” pungkasnya.-

Peringati Hari Pramuka, MAN 3 Adakan Perak Linggarjali

MALANGVOICE – Peringati Hari Pramuka ke-54, MAN 3 Malang mengadakan Perak linggarjali (Perkemahan Akbar Lingkup Penggalang Regional se-Jawa Bali) mulai Jumat (14/8) hingga Minggu (16/8).

Acara tiap dua tahun sekali itu bertema ‘Amalkan dasa darma jadilah patriot bangsa’. Pramuka MAN 3 Malang (Mantsalisma) gudep 01007-01008 yang menjadi tuan rumah menyiapkan beberapa lomba bagi 10 SMP dan MTS se Jawa dan Bali.

Peserta tersebut berasal dsri 20 regu dari 10 pangkalan, di antaranya SMPN 1 Bangil, SMPN 1 Kediri, SMPN 2 Malang, SMPN 4 Malang, SMPN 5 Malang, SMPN 11 Malang, MTS NU Pakis, MTSn 1 Blitar, Mts Surya Buana dan MTS Wahid Hasyim Malang.

Ketua Pelaksana Perak Linggarjali, Bigy Nuuron Dana mengatakan, ada 10 lomba yang nantinya memperebutkan trophy bergilir dari Kemenag.

Lomba tersebut antara lain lomba smart even, sport competition, lomba kreasi formasi baris berbaris (LKFBB), malam aksi pandu (MAP), Putra & Putri PLJ, pioneering atau kreasi dari tongkat dan tali, keindahan bumi perkemahan, lintas medan, teknologi guna kreatif, dan lukis. Selain itu, ada hadiah uang pembinaan sebesar Rp 2 juta.-

Walikota Batu Sahkan Kurikulum Pendidikan Lingkungan Hidup

MALANGVOICE – Peraturan Walikota terkait Pendidikan Lingkungan Hidup untuk SD, SMP, dan SMA, sudah ditandatangani Walikota Batu, Eddy Rumpoko, Kamis (13/8).

Pengawas Dinas Pendidikan Kota Batu, Sukistono, kepada MVoice, mengatakan, dengan ditandatanganinya Perwali, dalam waktu dekat akan ada pelatihan kepada guru yang akan dijadikan mentor.

“Mekanismenya, nanti akan siapkan mentor sebelum masuk ke KKG-MGMP (Kelompok Kerja Guru-Musyawarah Guru Mata Pelajaran),” jelas Sukistono.

Guru-guru yang akan dilibatkan menjadi mentor adalah yang memiliki sense di bidang lingkungan hidup. Maka dari itu, tidak semua guru menjadi mentor, tapi pilihan Diknas.

Sementara untuk pelatih terdiri dari tim yang merancang kurikulum PLH sejak 2003 dan tim teknis dari Universitas Brawijaya.

“Kurikulum PLH ini berpola kurikulum 2013 dengan pendekatan scientific,” tegas tim pengembang kurikulum PLH ini.

Soal masuknya kurikulum PLH, lanjut Sukistono, di tingkat SD dan SMP akan dijadikan muatan lokal (mulok) wajib bagi seluruh sekolah se Kota Batu. Sementara untuk tingkat SMA akan dijadikan sebagai kegiatan ekstrakurikuler.

“Bentuk riil kurikulum itu adalah pengenalan sumber daya alam dan eksplorasi, makanan sehat, penyakit dan penularannya, makanan tanpa zat adiktif, air dan lain-lain,” tutup Sukistono.

Kementrian PPPA Kunjungi SMPN 19 Malang

Sekertaris Kemen PPPA, Wahyu Utomo, di halaman SMPN 19 Malang. (deny/malangvoice)

MALANGVOICE – Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) mengunjungi SMPN 19 Malang, melihat sekolah ramah anak perwakilan dari SMP.

Enam rombongan disambut tarian dan aksi musik dari para siswa. Sekertaris KPPPA, Wahyu Utomo, mengatakan, sekolah ramah siswa harus bisa membuat siswa bebas dalam berkreasi dan berekspresi.

“Seperti ditunjukkan tadi, para siswa bebas berekspresi, ini termasuk indikator sekolah ramah siswa,” ungkapnya kepada wartawan, (13/8).

Ia menambahkan, sekolah harus membuat anak merasa nyaman, sehingga tidak membosankan. “Jika kebanyakan PR dan tugas, anak juga jadi terbebani. Intinya sekolah itu harus jadi tempat yang nyaman kepada anak,” lanjutnya.

Wahyu juga berpesan agar kekerasan tidak terjadi di sekolah, bebas narkoba serta jauh dari pornografi.

“Sekolah ramah anak juga harus dilengkapi taman bermain, Pesan kami dua hal itu, terhindar narkoba dan pornografi, di sekolah guru harus mendampingi siswanya, karena pronografi sangat membahayakan,” tuturnya.

Guru di Batu Tagih Rapel dan Gaji ke-14

Para guru mengikuti Halal Bi Halal PGRI Cabang Batu. (Fathul/MalangVoice).

MALANGVOICE – Rapel gaji guru yang belum cair, menjadi pertanyaan Ketua PGRI Cabang Batu, Yudho Swintoro kepada Kadisdik Kota Batu, Mistin.

Para guru menyampaikan keluhan tersebut di acara Halal Bi Halal PGRI Cabang Batu, Kamis (13/8) pagi di Graha Bina Praja Bima Sakti, Batu.

“Mumpung ada Kepala Dinas Pendidikan, saya ingin sampaikan unek-unek teman-teman guru ingin menanyakan kapan kiranya gaji guru dibayarkan,” tanya Yudho Swintoro disambut tawa ratusan guru yang hadir.

Ketua II PGRI Kota Batu, Imam Gozali, M.Pd, dalam sambutannya juga menanyakan gaji guru ke 14 ke kepala dinas. “Saya juga dibisiki oleh teman-teman. Kami berdoa semoga ada gaji ke-14 di Batu, dan semoga segera cair,” katanya dan disambut tepuk tangan.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, Mistin menegaskan bahwa tidak ada gaji ke 14. Gaji tersebut hanyalah isu. “Gaji ke 13 sudah kok, kalau gaji 14 itu tidak pernah ada lho,” jelas Mistin.

Ia juga menjelaskan, bahwa gaji rapel akan dibayarkan dan tidak akan ada penundaan. Penambahan gaji rapel tersebut, kata Mistin, baru ada bulan Agustus sehingga tidak bisa langsung ditagih.-

Eco Ink, Tinta Ramah Lingkungan Karya Mahasiswa UB

Regina dan Wahyu bersama temuannya, Eco Ink (wahyu regina for malangvoice)

MALANGVOICE – Mahasiswa Fakultas Teknik Kimia (TK UB) berhasil membuat tinta yang diberi nama Eco Ink. Tinta ini diklaim sangat ramah lingkungan karena terbuat dari daur ulang daun kering.

Penciptanya adalah Regina Yolanda Sukoco dan M Wahyu Muharyanto. Keduanya juga telah memenangkan medali perunggu dalam ajang International Young Investors Award, akhir Mei lalu di Universitas Jakarta.

Regina menceritakan kepada MVoice awal mula terciptanya Eco Ink tersebut. “Awalnya saya dan Wahyu ingin menciptakab sesuatu yang bermanfaat dari limbah daun yang ada di kampus. Setiap hari saja daun itu terbuang sia-sia, akhirnya muncul ide tersebut,” paparnya.

Daun kering tersebut, dikarbonisasi pembakaran tanpa oksigen kemudian muncul bubuk karbon. Bubuk karbon tersebut dicampur dengan beberapa bahan kimia hingga menjadi tinta.

“Selulosa dalam daun yang jadi karbon merupakam bahan dasar yang digunakan sebagai tinta,” ujarnya.

Selama ini, mereka memakai laboratorium sains Teknik Kimia UB untuk membuat tinta. Dengan alat karbonisator bisa mengubah 20 gram dedaunan kering menjadi 6 gram bubuk karbon sebagai bahan baku tinta.

“Prosesnya butuh waktu 2 jam untuk mendapat bubuk karbonnya,” jelas wanita asli Malang ini.

Dirinya mengaku belum terpikirkan untuk menjual eco ink karena dirasa belum sempurna dan harus melalui banyak percobaan da experiment.

Wanita berusia 20 tahun tersebut ingin mengeplementasikan tinta buatannya untuk tinta printer dan white board.

“Kami sedang berusaha memperbaiki tekstur agar serupa dengan tinta printer. Soalnya tekstur eco ink masih seperti minyak, kalau printer cair sekali,” ungkapnya.

Dia juga menceritakan dari penemuannya berhasil mendapatkan reward dari kampus biru. “Kami dapat reward prestasi, karena ini masih libur nanti diproses rewardnya,” ujarnya dengan ketawa.-

Kades di Batu Diminta Perhatikan Lembaga TK

Foto : Wali Kota Batu, Eddy Rumpoko melambaikan tangan ke muridvTK yang sedang mengikuti pawai kemerdekaan. (Fathul/MalangVoice).

MALANGVOICE – Masih banyaknya lembaga Taman Kanak Kanak (TK) yang belum memiliki gedung sendiri di pelosok Batu, mendapatkan perhatian dari Wali Kota Batu Eddy Rumpoko.

Eddy Rumpoko meminta kepada kepala desa dan camat, apabila ada daerahnya belum memiliki lembaga TK yang representatif agar memperhatikannya.

“Sejak dini harusnya disiapkan oleh kepala desa dan camat. Buat gedung yang baik, kalau masih sewa harusnya ada tanah kas desa buat membangun lembaga TK,” kata wali kota yang biasa dipanggil ER itu.

ER juga sangat mengapresiasi pawai murid TK yang diikuti oleh 98 lembaga. Ia mengaku kaget jika peminatnya amat besar.

“Salah satu aspek Kota Layak Anak itu dukungan dari pendidik dan lembaga sekolah untuk aktif dalam pembangunan kota. Dan pawai ini juga mengukuhkan bahwa kota kita adalah layak anak,” tutur ER.

Mengenai penghargaan Kota Batu sebagai Kota Layak Anak, Wali Kota ER mengatakan bahwa itu adalah apresiasi dari pemerintah pusat, padahal Kota Batu masih mempersiapkannya.-

Komunitas