Kalapas Malang Christo Toar Tancap Gas, Luncurkan “Bulan Membangun SDM” Benahi Internal

MALANGVOICE – Gaya kepemimpinan baru mulai terasa di Lapas Kelas I Malang. Kepala Lapas (Kalapas) Christo Victor Nixon Toar langsung tancap gas melakukan pembenahan internal sejak awal menjabat.

Langkah cepat itu diwujudkan melalui program bertajuk “Bulan Membangun SDM” yang akan dimulai pada 1 Mei 2026 dan menyasar seluruh petugas lapas.

“Setiap pemimpin memiliki cara dan perlakuan yang berbeda, dan saya akan menerapkan pendekatan yang berbeda pula,” ujar Christo, Rabu (22/4/) malam.

Petugas Lapas Malang Gagalkan Penyelundupan Wafer ‘Rasa’ Sabu

Program tersebut, kata dia, bukan muncul tiba-tiba. Sejak pertama masuk ke Lapas Malang, Christo sudah memetakan berbagai persoalan yang perlu dibenahi, sekaligus melanjutkan langkah perbaikan dari pejabat sebelumnya.

Salah satu sorotan utamanya adalah kualitas sumber daya manusia (SDM). Ia menilai, banyak persoalan di dalam lapas berakar dari minimnya pembekalan bagi petugas baru.

“Kurangnya ilmu saat petugas pertama kali masuk,” tegasnya.

Karena itu, ia menekankan pentingnya pelatihan disiplin dan pemahaman tugas, sebagaimana diterapkan di berbagai instansi lain. Menurutnya, penguatan SDM menjadi fondasi utama sebelum melangkah ke pembenahan yang lebih luas.

Tak hanya itu, Christo juga menaruh perhatian besar pada penguatan Standar Operasional Prosedur (SOP). Terutama dalam hal pengawasan terhadap tamu maupun petugas yang keluar masuk lapas.

“HP dan narkoba itu musuh utama. Pelaksanaan SOP harus dikuatkan lagi,” tandasnya.

Pengalaman memimpin Lapas Karawang selama dua tahun lima bulan menjadi bekal berharga bagi Christo. Ia mengaku sempat menghadapi resistensi besar saat mencoba mengubah budaya kerja di sana.

Namun, perlahan pola pikir petugas berhasil diubah. Dari yang sebelumnya ingin dilayani, menjadi petugas yang benar-benar melayani masyarakat tanpa biaya.

Semangat perubahan itu kini ia bawa ke Malang lewat slogan #AyoBerubah dan #SorryGueBeda.

Tak hanya pengalaman di lapas, latar belakangnya di Ombudsman RI pada 2017–2020 juga ikut membentuk karakter kepemimpinannya, terutama dalam hal pelayanan publik dan pencegahan praktik korupsi.

“Saya banyak belajar di Ombudsman terkait pelayanan,” ujarnya.

Meski fokus pada pembenahan internal, Christo memastikan hak-hak warga binaan tetap menjadi perhatian utama. Namun, ia juga menegaskan tidak akan mentoleransi pelanggaran.

“Jika warga binaan tidak bisa dibina di Lapas Malang, saya tidak ragu untuk ‘melayarkan’ atau memindahkan mereka ke lapas lain,” tegasnya.

Ia juga menggarisbawahi pentingnya integritas dalam menjalankan tugas. Menurutnya, melayani bukan berarti menuruti semua keinginan, apalagi jika melanggar aturan.

Penyelundupan ponsel, misalnya, tetap dikategorikan sebagai pelanggaran serius. Christo mengakui praktik tersebut kemungkinan masih ada, namun ia berkomitmen untuk terus memberantas peredaran HP ilegal dan narkoba di dalam lapas.

Di sisi lain, tantangan besar juga datang dari keterbatasan jumlah personel. Berdasarkan data per Rabu (22/4/2026) pagi, hanya ada sekitar 15 petugas yang harus mengawasi 2.414 warga binaan.

Meski demikian, ia optimistis pembenahan tetap bisa berjalan melalui kolaborasi dengan seluruh jajaran pejabat di lapas.

“Fokus awal tetap internal lapas. SDM-nya dulu kita kuatkan,” pungkas pria asli Manado tersebut sambil tersenyum.(der)

Berita Terkini

Arikel Terkait