Baju Koko Ditanggalkan Tionghoa, Dilestarikan Masyarakat Muslim

MALANGVOICE– Baju koko, ditanggalkan kalangan Tionghoa, namun dilestarikan masyarakat Muslim Indonesia. Busana ini kerap disamakan dengan baju takwa yang dikaitkan dengan identitas keislaman. Pandangan semacam itu begitu mengakar dan masif di masyarakat hingga kiwari.

Kalangan Muslim seolah menjadikan baju koko sebagai seragam resmi dalam menjalankan ritual keagamaan. Bahkan menjadi barang dagangan yang begitu laris seiring banyaknya permintaan masyarakat di momen Ramadan hingga perayaan Idulfitri.

Meski dikaitkan dengan identitas keislaman, nyatanya baju koko diperkenalkan di Nusantara oleh kalangan Tionghoa sejak abad 20-an. Mereka mengenakan baju yang disebut tui-kim berasal dari bahasa Hokkien. Pria Tionghoa menggunakan busana tui-kim dipadukan dengan celana longgar semata kaki untuk kegiatan sehari-hari.

Sat Reskrim Polres Batu Gagalkan Peredaran Upal Rp14,9 Juta

Dalam perkembangannya, kemudian dimodifikasi hingga akhirnya dijuluki baju koko yang sampai masa kini diyakini sebagai identitas keislaman. Perubahan istilah dari tui-kim berganti sebutan menjadi baju koko, lantaran pemakainya adalah engkoh-engkoh, panggilan untuk pria Tionghoa. Lambat laun berganti nama dan marak disebut baju engkoh-engkoh.

Dalam novel karya Remy Sylado, yang berjudul ‘Novel Pangeran Diponegoro: Menuju Sosok Khilafah’ yang diterbitkan pada 2008 itu, Remy menjelaskan asal muasal penyebutan baju koko dari baju shi-jui yang mirip piama dan dipakai oleh orang Cina.

“Baju logro bahan sutra putih yang biasanya disebut shi-jui. Karena yang memakainya dipanggil engkoh-engkoh, maka baju ini pun disebut baju engkoh-engkoh. Dieja bahasa Indonesia sekarang menjadi baju koko,” demikian bagian dari tulisan novel karya Remy.

Dalam bukunya, Islam yang Disalahpahami: Menepis Prasangka, Mengikis Kekeliruan (2018), cendekiawan Muslim, M Quraish Shihab menyebut baju koko yang dianggap baju pria Muslim ternyata berasal dari kalangan Tionghoa. Memang ada kemiripan antara baju koko yang dipakai orang Islam Indonesia dengan yang dipakai sebagian orang Tionghoa non Muslim.

Keduanya sama-sama berbahan kain tipis dan tidak memiliki kerah. Dari sini terjadilah adaptasi dan adopsi hingga dipakai masyarakat lokal, khususnya para tokoh agama Islam di Indonesia. Pakaian yang tergolong sopan ini, memenuhi syarat untuk melakukan ritual Islam.

Sejarawan JJ Rizal menyebut, pakaian tui-kim menginspirasi suku-suku bangsa di Nusantara dalam pembuatan busana. Seperti pakaian adat pria Kepulaun Riau, baju Teluk Belanga. “Jadi, modifikasi tui-khim ada kaitannya dengan Islam di tanah Melayu. Baju koko sendiri saya rasa itu diadopsi dari masyarakat Tionghoa, karena ada konsep tanpa kancing, atau paling banter bungsel pala capung,” kata Rizal mengutip Historia.id.

Masa kejayaan baju tui-khim sendiri mulai meredup sejak berdirinya Tiong Hoa Hwe Koan (THHK) atau Perhimpunan Tionghoa di Hindia Belanda pada 1900. Menurut pengamat budaya Tionghoa peranakan, David Kwa, banyak kaum Tionghoa yang menanggalkan tui-khim berganti busana bergaya Eropa, terutama setelah mengajukan gelijkstelling (persamaan hak dengan warga Eropa).

Baju koko terkadang suka disamakan dengan “baju takwa”, padahal berbeda. “Baju takwa” tidak diadopsi dari pakaian thui-kim, tapi hasil modifikasi dari baju tradisional Jawa, yaitu Surjan. Salah satu pakaian adat Jawa yang khusus dipakai pria sehari-hari. Pakaian jenis ini bisa dipakai untuk menghadiri upacara-upacara resmi adat Jawa dengan dilengkapi blangkon dan bebetan.

“Surjan berasal dari kata Su dan ja, yaitu nglungsur wonten jaja (meluncur melalui dada), sehingga bentuk depan dan belakang panjang,” tulis AM. Hidayati dalam Album Pakaian Tradisional Yogyakarta.

Baju surjan dimodifikasi menjadi baju takwa oleh Sunan Kalijaga. Dari sembilan wali, hanya dia yang pakaiannya beda. Menurut Achmad Chodjim, Sunan Kalijaga tidak menggunakan jubah dan sorban. Tapi merancang sendiri bajunya yang disebut “baju takwa”. Yaitu, baju jas model Jawa dengan kerah tegak dan lengan panjang.

“Sunan menciptakan baju yang disebut ‘baju takwa’. Surjan Jawa yang semula lengan baju pendek, diganti dengan lengan panjang. Dengan kreasi semacam inilah Sunan mengajarkan Islam tanpa menimbulkan konflik di masyarakat,” tulis Achmad Chodjim dalam Sunan Kalijaga: Mistik dan Makrifat.

Namanya saja “baju takwa” pasti disimbolisasikan dengan hal-hal yang berkaitan dengan Islam. Menurut M. Jandra dalam Perangkat/Alat-alat dan Pakaian serta Makna Simbolis Upacara Keagamaan di Lingkungan Keraton Yogyakarta, baju takwa pada lehernya terdapat tiga kancing yang melambangkan Iman, Ikhsan dan Islam.

Tiga kancing yang terdapat pada bahu kanan dan bahu kiri melambangkan dua kalimat sahadat. Enam kancing yang terdapat pada kedua lengan kiri dan kanan melambangkan rukun Iman. Dan lima kancing depan melambangkan rukun Islam.(der)

spot_img

Berita Terkini

Arikel Terkait