Antisipisasi Lonjakan Kasus DBD di Kota Batu saat Peralihan Musim

Kader Jumantik memantau penampungan air di rumah warga. Upaya ini untuk mencegah perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti pembawa virus dengue yang mengakibatkan demam berdarah (instagram Puskesmas Bumiaji/Malangvoice)

MALANGVOICE– Kasus demam berdarah (DB) di Kota Batu lalu pada tahun 2022 lalu cukup tinggi.

Dinkes Kota Batu pun gencar melalukan berbagai upaya pencegahan untuk menekan lonjakan kasus DB pada tahun ini. Terlebih saat ini menginjak peralihan ke musim kemarau.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Batu, dr Susana Indahwati mengatakan, meskipun saat ini memasuki awal kemarau, namun terkadang masih disertai hujan yang menciptakan genangan air. Hal ini bisa memicu berkembangbiaknya nyamuk yang dapat menyebabkan penularan penyakit seperti demam berdarah atau demam chikungunya.

“Masyarakat harus waspada dan menghindari genangan air, menggunakan kelambu atau insektisida untuk melindungi diri dari gigitan nyamuk, dan memastikan area sekitar rumah bebas dari tempat pembiakan nyamuk,” ujar Susana.

Baca juga:
Kecelakaan di Pakis, Dua Pengendara Motor Tewas

Tim KSM Buktikan Toyota Agya Mampu Bersaing di Ajang Balap

Kuatkan Kekompakan, Komunitas Honda Malang Kopdar Rutin di MPM Riders Café

646 Bacaleg di Kabupaten Malang Ajukan Perbaikan Dokumen ke KPU

Dalam catatan Dinkes Kota Batu bahwa angka penderita demam berdarah di tahun lalu cukup tinggi di kota ini. Tercatat penderita mulai Demam Dengue (DD), Demam Berdarah Dengue (DBD), dan Dengue Syok Syndrome (DSS) di tahun 2022 lalu mencapai 416 kasus. Rinciannya, DBD 155 kasus, DSS 7 kasus, dan DD 254 kasus. Dan dari jumlah tersebut 2 penderita di antaranya meninggal dunia (MD).

Dan di tahun ini dinkes berupaya meminimalisir kasus DBD dengan meningkatkan koordinasi dengan Contact Person Rumah Sakit (RS). Dengan demikian data kasus DBD maupun DD dan DSS dapat segera disampaikan ke Dinas Kesehatan untuk selanjutkan dilakukan PE sebagai upaya memutus rantai penyebaran kasus.

“Selain itu juga terus diupayakan peningkatkan kewaspadaan masyarakat dan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Kemudian Puskesmas secara berkala juga melakukan pemantauan jentik bersama kader jumantik di tiap desa/ Kelurahan se-Kota Batu,” jelas Susana.

Dengan upaya tersebut angka kasus demam berdarah sudah mulai menurun. Mulai awal 2023 hingga kini jumlah DBD hanya tercatat 56 kasus, DSS 1 kasus, dan DD 41 kasus. Adapun sebaran kasus DBD paling tinggi ada di Kecamatan Batu dengan 28 kasus, kemudian Kecamatan Junrejo 20 kasus, dan Kecamatan Bumiaji 8 kasus.

Meskipun sudah menurun, namun kewaspadaan juga harus ditingkatkan menyusul cuaca tak stabil. Karena di awal musim kemarau yang panas ini sering disertai hujan secara tiba- tiba yang bisa menyebabkan infeksi saluran pernapasan.

“Musim kemarau dapat menyebabkan peningkatan debu dan partikel yang mengambang di udara. Hal ini dapat memicu iritasi saluran pernapasan dan meningkatkan risiko infeksi seperti bronkitis, dan pneumonia,” jelas Susana.(der)