MALANGVOICE– Tradisi mudik memiliki korelasi erat dengan aktivitas pulang kampung berkumpul dengan keluarga untuk merayakan Idulfitri. Pada momen ini, jutaan orang berbondong-bondong dari kota-kota besar kembali ke asal tanah kelahirannya. Mereka berniat melepas rindu dan menghidupkan ikatan emosional yang sebelumnya terputus karena terpisah jarak lantaran mengadu nasib di perantauan.
Aktivitas mudik menciptakan fenomena yang kompleks berdampak luas baik dari segi ekonomi maupun sosial. Lantaran menimbulkan arus migrasi terbesar seiring dengan pergerakan massal kaum urban. Sehingga pemerintah turut turun tangan menyiapkan skema manajemen arus mudik mulai dari aspek keamanan dan kenyamanan hingga kesiapan infrastruktur transportasi dan efisiensi beragam moda transportasi.
Mudik kian mengakar masif dan mendarah daging bagi masyarakat seiring dengan pesatnya pertumbuhan di kota-kota besar. Sepintas aktivitas mudik disamakan dengan perjalanan pulang kampung. Meski begitu ada perbedaan, karena pulang kampung bersifat individual dan bisa kapan saja. Sementara mudik dilakukan saat merayakan hari raya keagamaan seperti Idulfitri dan bersifat massal. Mudik bukan hanya sekadar perjalanan pulang kampung, tetapi juga memiliki nilai budaya dan sosial yang sangat dalam
Bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan spiritual dan emosional. Tradisi turun temurun ini memiliki makna spiritual dan emosional. Mengandung simbol kepulangan, refleksi diri dan introspeksi. Momen dimana seseorang kembali ke akar untuk menenangkan diri, memperbarui semangat, dan mengisi kembali energi mental. Setelah menjalani rutinitas yang mungkin melelahkan di perantauan. Bagi banyak orang, mudik menjadi momen untuk menemukan kembali makna dan tujuan hidup.
Mungkin tak banyak yang menyadari jika tradisi mudik berlangsung sejak lama dan memiliki lintasan sejarah panjang. Maknanya pun berkembang seiring waktu. Secara etimologi istilah mudik memiliki akar bahasa dan corak kultural yang beragam. Salah satu teori menyebutkan istilah mudik berasal dari serapan bahasa Melayu yaitu ‘udik’ atau berarti hulu atau ujung.
Dalam konteks masyarakat Melayu yang tinggal di sepanjang sungai, ‘mudik’ berarti perjalanan dari hilir ke hulu sungai, kembali ke kampung halaman mereka. Sebab, pada masyarakat Melayu yang tinggal di hulu sungai pada masa lampau sering bepergian ke hilir sungai menggunakan perahu atau biduk. Setelah selesai urusannya, maka kembali pulang ke hulu pada sore harinya.
“Berasal dari bahasa Melayu, udik. Konteksnya pergi ke muara dan kemudian pulang kampung. Saat orang mulai merantau karena ada pertumbuhan di kota, kata mudik mulai dikenal dan dipertahankan hingga sekarang saat mereka kembali ke kampungnya,” kata Antropolog UGM, Prof Heddy Shri Ahimsa-Putra dilansir dari ugm.ac.id.
Pada zaman dahulu, ketika urbanisasi belum marak, banyak wilayah di Jakarta yang memiliki nama dengan akhiran “udik” atau “ilir,” yang kemudian berubah seiring perkembangan zaman. Di era Batavia, hasil bumi dari daerah sekitar kota dibawa ke pusat kota melalui jalur sungai. Petani dan pedagang yang berasal dari wilayah hulu sungai akan bolak-balik ke kota untuk menjual hasil bumi mereka. Dari sinilah istilah “milir mudik” muncul, yang berarti perjalanan pergi-pulang antara kota dan desa.
Selain teori tersebut, ada juga pendapat yang menyatakan bahwa kata “mudik” berasal dari bahasa Jawa, yaitu “mulih disik,” yang berarti “pulang dulu.” Meskipun teori ini belum dapat dipastikan kebenarannya, istilah ini cukup populer di kalangan masyarakat Jawa.
istilah mudik mulai dikenal luas di era tahun 1970-an, setelah pada masa orde baru melakukan pembangunan pusat pertumbuhan di kota besar. Lebih dari 80% pendatang yang bekerja di kota-kota perantauan hanya mendapatkan libur panjang saat Lebaran, sehingga mereka memanfaatkan kesempatan ini untuk pulang kampung.
Akar sejarah tradisi pulang kampung dapat ditelusuri hingga zaman kerajaan Majapahit dan Mataram Islam. Pada masa itu, para pejabat kerajaan yang bertugas di daerah memiliki kebiasaan untuk kembali ke pusat kerajaan pada waktu-waktu tertentu. Tradisi ini menunjukkan adanya sistem pemerintahan yang terstruktur dan hubungan yang kuat antara pusat dan daerah. Meskipun pada masa kerajaan tradisi ini mungkin belum disebut ‘mudik’ dan lebih bersifat rutinitas administrasi pemerintahan, esensi kepulangan ke kampung halaman sudah ada sejak saat itu.
Perkembangan signifikan tradisi mudik terjadi pada masa transisi antara tahun 1960-an hingga 1980-an. Periode ini ditandai dengan urbanisasi massal akibat pembangunan yang terpusat di kota-kota besar. Banyak orang merantau dan mencari pekerjaan di kota, sehingga Lebaran menjadi momen penting untuk kembali ke kampung halaman.
“Jadi, istilah ini mulai berkembang dan menjadi sesuatu yang sangat masif pada tahun 1960-an, 1970-an, 1980-an, seiring dengan masifnya urbanisasi,” ujar Dosen Departemen Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR), Moordiati.(der)