Solitude; Puisi – puisi Vito Prasetyo

Article top ad

Tali-Tali Rapuh

Kini merekat sudah tali-tali rapuh
saat persimpangan mencari jalan
dan segala dusta terus mengiringinya
kepergian untuk mencari alam lain
saat wajah itu bersimbah airmata
Dedaunan luruh
Tanah pun kering
Kamar-kamar lirih menyimpan makna
di antara para penunggu jiwa
melihat bayang wajah sudah tak berwujud

Kini semua ingin menerka makna
yang ditinggalkan, saat hidup masih merepih mimpi
– dan anak-anak itu
berlalu-lalang menghitung bakti
semua buta akan catatan Tuhan
karena disana tercatat penuh misteri
Tali-tali rapuh itu
sudah teramat usang mengukur waktu
selain bersiap untuk menyulam dengan temali baru
agar bayangan itu tersenyum penuh makna
walaupun harus menerobos ruang waktu
dan hanya singgah pada mimpi-mimpi anak-anak itu

(2017)

Sisa Catatan Perang

Pagi buta – rerumputan diam
desing peluru telah tertidur
Di ujung kaki langit timur
merah membara masih membakar
tangisan masih menyayat
diantara jasad bergelimpangan
penuh darah, penuh luka
jiwa pun menangisi jasad-jasad itu
deru napas tercekam bersembunyi diantara puing kota

Perang tak pernah membuat manusia puas
Ingin rasanya kutikam malam
agar orang-orang tertidur pulas
membasahi mimpi mereka dengan kabut malam
dan sinar siang biarlah mengembara di belahan lain

Tercabik mimpi – kemana damai ini pergi
bagai petir menyambar, merobek jiwa tenang
sesungguhnya siapa yang pantas disebut pahlawan
sementara manusia masih saja menelanjangi diri
dengan keserakahan dan kemurkaannya

Ingin kubangkitkan kembali beberapa jasad
dan bertanya kepada mereka
tetapi mataku tak sanggup membaca ghaib
terlalu banyak kekotoran melekat di pelupuk
jarak waktuku pun terlalu jauh
tak mampu membentangkan catatan sejarah
mungkin sebagian catatan itu telah terhapus
sebaiknya kita bisa menahan diri
untuk tidak tergesa-gesa memutarnya (catatan itu)
sebelum doa-doa tersampaikan buat mereka

(2017)

Aksara Diam di Parangtritis

Pantai Parangtritis telah marah padaku
tatkala kucumbu bibir pantai
segala penat kutumpahkan
dekil tubuhku hanyut tersapu ombak
bahkan kusemburkan airnya
untuk melukis sebuah wajah
// Nyai Roro Kidul atau Nyai Blorong
angin menabrak pikiranku
senyum itu berubah murka
karena aku memang jalang
hanya menulis satu bait di sandarannya
sementara gelombang ombak
membawa sejuta aksara diam

(2017)

Aksara yang Tertinggal

Saat dahaga tertelan ludah
seperti gerimis tanpa jejak
Langkahku hampa tanpa gerakmu
senantiasa menyentuh jemari
mengharap nalar mulai terpadu hidup

Seperti burung berkicau
hinggap di telapak daun
disitu makna alam terjalin
menyentuh ujung nalar kita
dan kita bangkit mengukir makna aksara

Sekian lama pikiran telah terpendam
mungkin,
menanti napas dalam hidup baru
tapi rindu telah menusuk jiwa
menikam dengan goresan tinta
Lalu, esok kita bentangkan semua aksara
menata dalam makna yang belum usai
hingga berbuah menjadi buah tulisan penuh makna

Malang – 2017

Sepasang Merpati

Aku jatuh kedalam jurang
bebatuan menghantam tubuhku
sepasang merpati datang menghampiri
sayap-sayapnya patah
merepih pada pepohonan tumbang
mataku lirih menatap tubuh merpati
merpati itu menangis melihat jasadku

(2017)

Solitude

Ibu, di langit masih tersisa sebuah sajak
belum sempat kutulis untukmu
aku yakin Tuhan masih menjaga sajak itu
walau mungkin ada beberapa bait
yang tidak diinginkan Tuhan untuk kuberikan untukmu
saat ini masih terpasung kelambu suci
tertidur dalam kesendiriannya dan diam

Kadang aku bertanya tanpa pernah ada jawabannya
Solitude,
sebuah kata hanya untuk mengingkari diri
tentang sebuah cinta tulus telah terputus waktu
ketika Ibu mengasuhku dalam dekapannya
hingga ia harus mengembalikan pada Sang Ilahi
sementara jalanku masih tersandung dan belum sempurna

Kini, aku merasa seperti seorang diri
tetapi mungkin ibuku pun, seorang diri disana
catatan tentang dirinya berserakan dalam hidupku
ada yang belum sempat kurajut dalam mimpi
waktu pun terus beranjak meninggalkan jejak napas
dan dalam napas itu
aku menulis tentang sisa kerinduan
tak pernah terungkap saat masih bersama Ibu
kususun dalam bait-bait fajar
tapi tak akan mungkin pernah terbaca oleh ibuku
hingga nanti, Tuhan-lah yang membacakan untuknya(Ibu)

(2017)

Sajak untuk Penyair

Lembayung merangkak pelan
batas cakrawala menengadah langit
ada larik pelangi tertulis
disitu ada bait sajak menangis
kala senja mulai menghampiri
merobek garis putih awan

// W.S. Rendra duduk membaca puisi

sepasang camar menulis garis di angkasa
mengitari pusara diam

Ombak merepih pantai
butiran pasir menghanyutkan cinta
bercerita tentang gemuruh negeri
tersimpan catatan-catatan suci
Ada petir menyambar, gamelan tertabuh
sayup-sayup senandung sajak memecah
lewat gulungan ombak, menembus waktu
tempayan siang dan bejana malam terkuak
sekian abad telah terbelenggu

// Kanjeng – Sunan Kalijaga, Sunan Muria menulis titah aksara

anak-cucu mengiris ombak
memakunya dengan benang kusut

Mereka” itu telah terbaring
diam hening tanpa suara
pada sudut-sudut malam, mungkin bangkit
masuk kedalam jiwa-jiwa “kita”
mengapa kita harus mengunci pintu malam?

– Di Sebuah Pusara –
(2017)

Saat Waktu Berbicara

disini, di penghentian akhir
engkau menyapaku
garis hitam bergulung pilu, menyiksa ragamu
bagai ombak menyapu laut
biduk kita rebah, tertelan ikan-ikan lapar
elang pun mengepakkan sayap mengirim isyarat
akankah sebuah waktu menjemput kematian
saat aku, engkau atau siapa saja
masih terpaku menatap langit!?

(2017)

*VITO PRASETYO, dilahirkan di Makassar(Ujung Pandang), 24 Februari 1964 — Agama: Islam — Bertempat tinggal di Malang – Pernah kuliah di IKIP Makassar, Bergiat di penulisan sastra sejak 1983, dan peminat Budaya. Sedang mempersiapkan Buku Kumpulan Puisi “Biarkanlah Langit Berbicara” (2016 – 2017) &
Buku Kumpulan Puisi “Sajak Kematian” (2017)