Naskah Hitam; Puisi-puisi Achmad Fathoni

Bom Waktu

Suara menjadi batu
Mulutnya membusuk
Tak dipakai bertahun tahun
Tubuhnya lemas tak kunjung subur

Di tengah tengah ranjau ia terbujur kaku
Sekali bersuara, di tendang keluar gedung

BNN Kota Malang

Telah ia lihat, barisan kata kata berisi emas
Seharusnya ia pulang dan menceritakannya.
Sayangnya, ia terperangkap ranjau jahanam. Meteor-meteor bisa saja menghancurkannya dalam sekejap

Dari tahun-tahun yang mengurungnya
Suara adalah bom waktu yang melekat di punggungnya
Yang selalu aktif dan mampu menjadikannya terkapar mati.

Naskah Hitam

Matanya
Tatapan matanya membeku
Seorang aktor mati di panggung yang kosong

Kepalanya tergantung
Tak ada belati, tali goni menerkam lehernya

Matanya
Matanya melotot keluar
Dan mati. Kabar itu gempar.

Tubuhnya kurus
Waktu evakuasi telat satu jam
Kotorannya keluar hitam
Air mata. Air mata.
Ia mengeluarkan air mata. Hitam.
Air matanya hitam.

Seorang aktor telah matpanggung menjadi sepi
Deretan sepi itu menguar
Menjadi pertunjukan pertunjukan amal

Seorang aktor telah pergi
Meninggalkan sutradaranya sendiri.
Malam itu. Di luar hitam
Udaranya hitam semuanya menjadi hitam
Oleh naskah hitam
Dibaca sutradara
untuk aktor yang mati
Di panggung pertunjukan yang sepi.

Dahaga Mahasiswa

Dahaga menggerogoti setiap leher mahasiswa
Kaum yang selalu suci di mata kelompoknya sendiri
Anehnya, mereka saling berhubungan dengki
Saling senggol duduk di muka kursi

Apa yang mereka perebutkan?
Spon kursi yang empuk itu atau lantainya yang tinggi
Kata mereka, ini adalah tradisi
Yang perlu di jaga sampai mati

Dulu, ceritanya tak seperti itu
Mahasiswa amburadul di jalan tak saling senggol
Katanya, dulu itu revolusi

Dahaga mana yang tak menggerogoti leher mahasiswa
Katanya, sumpah mereka itu suci
Sumpah yang mana?

Bergotong royong saja butuh situasi
Berbagi saja butuh dana subsidi
Yang mana katamu itu suci
Coba tengok ke dahimu sendiri

Pokoknya aksi. Pokoknya aksi.
Sekarang, aksi tanpa subsidi penunggang kuda, ya tak akan jadi

Sajak Kehilangan

Jauh jam menunjuk angka kehilangan
Detik detik dihitung tak menemukan ujung

Saku celana seorang sarjana bolong
Koin-koin berjatuhan
Telinga sarjana lain mendengar

Saling tatap. Saling tatap.

Angka dihitung mundur
Itu koin siapa. Itu milik siapa.

Perebutan koin terjadi.
Perebutan harga diri dimulai
Adu mulut.
Mata melotot. Tangan mengepal mengeras

Ini milik siapa?

Semua orang diam, sarjana itu melonglong.
Keadaan semakin mencekam
Koin itu hilang. Koin itu hilang.
Semua hilang. Kesadaran hilang.
Tuhan dan cinta kasihnya hilang.

Sajak Pertanyaan

Ini seragamku Tuhan.
Setelah kubayar lunas pembayaran untuk gedung rektor yang baru itu.

Bolehkan aku bertanya Tuhan?
Berapa banyak uang yang dihabiskan untuk membangun gedung rektor yang baru itu?

Tuhan, kenapa gedung rektor selalu lebih megah ketimbang gedung kuliah?
Lihat atap-atapnya itu, indah bukan? ada pelanginya.

Tuhan, kenapa parkir mobil lebih luas ketimbang tamannya?

Maaf Tuhan, harus bertanya banyak. Rektor sedang sibuk.

*Achmad Fathoni, lahir di Bojonegoro dan saat ini berdomisili di Malang. Pegiat Pelangi Sastra Malang.