Meski Temuan dan Pengobatan Tergolong Baik, Rantai Penularan TBC Perlu Diwaspadai

MALANGVOICE– Penanganan penyakit tubeculosis menjadi pekerjaan rumah serius. Dinkes Kota Batu menunjukkan data temuan penyakit menular ini 48,77 persen pada Oktober 2025 dengan inisiasi pengobatan mencapai 86,40 persen. Meski capaian penemuan dan pengobatan kasus TBC di Kota Batu tergolong baik, kewaspadaan tetap harus dijaga.

Langkah konkret dan terukur perlu dilakukan untuk mempercepat penanggulangan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis di paru. Pemkot Batu juga didorong agar segera memiliki Rencana Aksi Daerah (RAD) dan SK Tim Percepatan penanggulangan TBC. Hal ini menindaklanjuti TP2TBC Provinsi Jawa Timur yang menargetkan eliminasi TBC tahun 2030 dengan penurunan insidensi hingga 80 persen dan kematian hingga 90 persen secara nasional.

Polres Batu Award 2025: Rayakan Sinergisitas dan Prestasi Warga Batu

Kepala Dinkes Kota Batu, Aditya Prasaja menuturkan, tantangan terbesar saat ini bukan hanya pada penemuan kasus, tetapi memastikan pasien mau dan mampu menjalani pengobatan hingga tuntas. Pengobatan TBC membutuhkan waktu minimal enam bulan. Jika terputus di tengah jalan, risiko menjadi TBC resisten obat (RO) sangat besar. Apalagi penyakit ini tidak kasat mata, tapi potensi penularannya cukup besar.

“Kalau putus pengobatan, obat yang sama tidak akan mempan. Pasien bisa menjadi TBC RO, pengobatannya lebih lama dan regimen obatnya jauh lebih berat. Penularan penyakit ini Dari kontak erat, orang-orang di sekitarnya seharusnya juga dilakukan pemeriksaan,” terang Aditya saat puncak peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-61 mengusung tema ‘Generasi Sehat, Masa Depan Hebat’.

Berbagai metode skrining telah dilakukan, mulai dari tes tuberkulin, pemeriksaan dahak hingga rontgen. Namun, stigma di masyarakat masih menjadi penghambat. Padahal, semakin cepat TBC ditemukan, semakin besar peluang sembuh dan semakin kecil risiko penularan.

Sementara itu, Wali Kota Batu Nurochman menegaskan, bahwa peringatan HKN harus menjadi penguat komitmen bersama. Ia mengajak seluruh pihak untuk terus bersinergi, berkolaborasi, dan berinovasi dalam memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.

“Kesehatan adalah fondasi. Dengan kolaborasi yang kuat, kita bisa melayani masyarakat dengan lebih baik,” ujar Cak Nur.

Ia menilai penyerahan peralatan standar bagi kader Posyandu merupakan langkah strategis. Dengan dukungan sarana yang memadai, kualitas layanan kesehatan dasar di tingkat kelurahan dan desa diharapkan semakin meningkat.

“Harapannya, pelayanan kepada masyarakat bisa lebih bagus lagi dan merata,” katanya.

Terkait TBC, Cak Nur menegaskan bahwa penanggulangannya menjadi komitmen pemerintah daerah. Tim relawan telah dibentuk untuk memperkuat upaya edukasi dan pendampingan pasien. Namun, stigma sosial masih menjadi tantangan besar.

“TBC masih sering dianggap tabu atau aib. Ini yang membuat pengobatan menjadi sulit. Padahal, kunci keberhasilan penanggulangan TBC adalah kolaborasi lintas sektor,” tegasnya.

Melalui sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, relawan dan masyarakat, Pemkot Batu menargetkan penurunan angka kejadian TBC, peningkatan kesadaran masyarakat, perluasan akses pengobatan, serta peningkatan kualitas hidup penderita TBC.

“Kolaborasi lintas sektor sangat penting. Mari bersama-sama meningkatkan kesadaran, pencegahan, dan pengobatan TBC di Kota Batu,” pungkasnya.(der)

Berita Terkini

Arikel Terkait