30 November 2022
30 November 2022
22.2 C
Malang
ad space

Solitude; Puisi – puisi Vito Prasetyo

Tali-Tali Rapuh

Kini merekat sudah tali-tali rapuh
saat persimpangan mencari jalan
dan segala dusta terus mengiringinya
kepergian untuk mencari alam lain
saat wajah itu bersimbah airmata
Dedaunan luruh
Tanah pun kering
Kamar-kamar lirih menyimpan makna
di antara para penunggu jiwa
melihat bayang wajah sudah tak berwujud

Kini semua ingin menerka makna
yang ditinggalkan, saat hidup masih merepih mimpi
– dan anak-anak itu
berlalu-lalang menghitung bakti
semua buta akan catatan Tuhan
karena disana tercatat penuh misteri
Tali-tali rapuh itu
sudah teramat usang mengukur waktu
selain bersiap untuk menyulam dengan temali baru
agar bayangan itu tersenyum penuh makna
walaupun harus menerobos ruang waktu
dan hanya singgah pada mimpi-mimpi anak-anak itu

(2017)

Sisa Catatan Perang

Pagi buta – rerumputan diam
desing peluru telah tertidur
Di ujung kaki langit timur
merah membara masih membakar
tangisan masih menyayat
diantara jasad bergelimpangan
penuh darah, penuh luka
jiwa pun menangisi jasad-jasad itu
deru napas tercekam bersembunyi diantara puing kota

Perang tak pernah membuat manusia puas
Ingin rasanya kutikam malam
agar orang-orang tertidur pulas
membasahi mimpi mereka dengan kabut malam
dan sinar siang biarlah mengembara di belahan lain

Tercabik mimpi – kemana damai ini pergi
bagai petir menyambar, merobek jiwa tenang
sesungguhnya siapa yang pantas disebut pahlawan
sementara manusia masih saja menelanjangi diri
dengan keserakahan dan kemurkaannya

Ingin kubangkitkan kembali beberapa jasad
dan bertanya kepada mereka
tetapi mataku tak sanggup membaca ghaib
terlalu banyak kekotoran melekat di pelupuk
jarak waktuku pun terlalu jauh
tak mampu membentangkan catatan sejarah
mungkin sebagian catatan itu telah terhapus
sebaiknya kita bisa menahan diri
untuk tidak tergesa-gesa memutarnya (catatan itu)
sebelum doa-doa tersampaikan buat mereka

(2017)

Aksara Diam di Parangtritis

Pantai Parangtritis telah marah padaku
tatkala kucumbu bibir pantai
segala penat kutumpahkan
dekil tubuhku hanyut tersapu ombak
bahkan kusemburkan airnya
untuk melukis sebuah wajah
// Nyai Roro Kidul atau Nyai Blorong
angin menabrak pikiranku
senyum itu berubah murka
karena aku memang jalang
hanya menulis satu bait di sandarannya
sementara gelombang ombak
membawa sejuta aksara diam

(2017)

Aksara yang Tertinggal

Saat dahaga tertelan ludah
seperti gerimis tanpa jejak
Langkahku hampa tanpa gerakmu
senantiasa menyentuh jemari
mengharap nalar mulai terpadu hidup

Seperti burung berkicau
hinggap di telapak daun
disitu makna alam terjalin
menyentuh ujung nalar kita
dan kita bangkit mengukir makna aksara

Sekian lama pikiran telah terpendam
mungkin,
menanti napas dalam hidup baru
tapi rindu telah menusuk jiwa
menikam dengan goresan tinta
Lalu, esok kita bentangkan semua aksara
menata dalam makna yang belum usai
hingga berbuah menjadi buah tulisan penuh makna

Malang – 2017

Sepasang Merpati

Aku jatuh kedalam jurang
bebatuan menghantam tubuhku
sepasang merpati datang menghampiri
sayap-sayapnya patah
merepih pada pepohonan tumbang
mataku lirih menatap tubuh merpati
merpati itu menangis melihat jasadku

(2017)

Solitude

Ibu, di langit masih tersisa sebuah sajak
belum sempat kutulis untukmu
aku yakin Tuhan masih menjaga sajak itu
walau mungkin ada beberapa bait
yang tidak diinginkan Tuhan untuk kuberikan untukmu
saat ini masih terpasung kelambu suci
tertidur dalam kesendiriannya dan diam

Kadang aku bertanya tanpa pernah ada jawabannya
Solitude,
sebuah kata hanya untuk mengingkari diri
tentang sebuah cinta tulus telah terputus waktu
ketika Ibu mengasuhku dalam dekapannya
hingga ia harus mengembalikan pada Sang Ilahi
sementara jalanku masih tersandung dan belum sempurna

Kini, aku merasa seperti seorang diri
tetapi mungkin ibuku pun, seorang diri disana
catatan tentang dirinya berserakan dalam hidupku
ada yang belum sempat kurajut dalam mimpi
waktu pun terus beranjak meninggalkan jejak napas
dan dalam napas itu
aku menulis tentang sisa kerinduan
tak pernah terungkap saat masih bersama Ibu
kususun dalam bait-bait fajar
tapi tak akan mungkin pernah terbaca oleh ibuku
hingga nanti, Tuhan-lah yang membacakan untuknya(Ibu)

(2017)

Sajak untuk Penyair

Lembayung merangkak pelan
batas cakrawala menengadah langit
ada larik pelangi tertulis
disitu ada bait sajak menangis
kala senja mulai menghampiri
merobek garis putih awan

// W.S. Rendra duduk membaca puisi

sepasang camar menulis garis di angkasa
mengitari pusara diam

Ombak merepih pantai
butiran pasir menghanyutkan cinta
bercerita tentang gemuruh negeri
tersimpan catatan-catatan suci
Ada petir menyambar, gamelan tertabuh
sayup-sayup senandung sajak memecah
lewat gulungan ombak, menembus waktu
tempayan siang dan bejana malam terkuak
sekian abad telah terbelenggu

// Kanjeng – Sunan Kalijaga, Sunan Muria menulis titah aksara

anak-cucu mengiris ombak
memakunya dengan benang kusut

Mereka” itu telah terbaring
diam hening tanpa suara
pada sudut-sudut malam, mungkin bangkit
masuk kedalam jiwa-jiwa “kita”
mengapa kita harus mengunci pintu malam?

– Di Sebuah Pusara –
(2017)

Saat Waktu Berbicara

disini, di penghentian akhir
engkau menyapaku
garis hitam bergulung pilu, menyiksa ragamu
bagai ombak menyapu laut
biduk kita rebah, tertelan ikan-ikan lapar
elang pun mengepakkan sayap mengirim isyarat
akankah sebuah waktu menjemput kematian
saat aku, engkau atau siapa saja
masih terpaku menatap langit!?

(2017)

*VITO PRASETYO, dilahirkan di Makassar(Ujung Pandang), 24 Februari 1964 — Agama: Islam — Bertempat tinggal di Malang – Pernah kuliah di IKIP Makassar, Bergiat di penulisan sastra sejak 1983, dan peminat Budaya. Sedang mempersiapkan Buku Kumpulan Puisi “Biarkanlah Langit Berbicara” (2016 – 2017) &
Buku Kumpulan Puisi “Sajak Kematian” (2017)

Taksa Sebuah Nama; Puisi-puisi Astrajingga Asmasubrata

Ilustrasi. (Anja Aronawa)

YERUSALEM KITA

: kepada pemeluk agama

Yerusalem kita
Selalu semacam khazanah
Yang suwung, diruwat
Dan dirawat dengan darah

Serta air mata yang mengalir
Sepanjang Gaza — kehancuran
Yang purna, memuat takdir
Jauh sebelum adanya sabda

Sebuah kitab, atau semacam
Buku panduan perang
Yang damai dan sentosa —
Di dalamnya duka bersukacita

Lantaran maut adalah surga
Bagi Yerusalem kita, atau
Barangkali, inilah fakta bahwa
Semesta mewariskan iman

Kepada yang tak percaya:
Samsara, Yerusalem kita!

(dusunmaja, 2017)

 

 

ZURIAH

Tak ada amsal
Dalam gejolak-sepi itu
Selain sejumlah cuma
Perihal gairah yang padam

Satu-dua luka lebam
Masa silam, dan kaudapati
Dirimu pasi menyimak
Bayangan seorang perempuan

Yang juga semacam kecam
Segala yang terlepas
Akan kembali tergenggam
Sebagai nyala sepasang mata

Yang kaulihat seperti sabda
Terakhir, sebelum gejolak-sepi itu
Menggetarkan dawai mimpimu
Serupa nada-nada kosong

Dari segenap hirap dan ratap
Saat kausingkap kelir kenangan
Dan segalanya tampak lain
Dalam masgul mungkin, barangkali

Lantaran ini bukan percintaan
Tapi sebuah tikam!

(dusunmaja, 2017)

 

 

DEJA VU

: buat acep zamzam noor

ia pun gusar;
menyusur samudera
siang yang matang
— matahari jalang? —
perahu diterjang gelombang
angin asin menampar wajah
“duhai penempuh batin
apa yang tersembunyi
dari seketika, selain
decak terpana
sunyi yang mungkin?”
— ngungun –
di samudera lain
kata demi kata menukik
ke balik tirta
sajak pun beriak-riak
penuh oleh kesumat
— atau laknat? —
meliuk di lengkung teluk
kalbu begitu kutuk
karam
ke dalam diri!

(dusunmaja, 2017)

 

 

SYAIR-SYAIR PESISIR

1.
kau dan aku kini landai pantai
debur itu dipacu deru angin
di bawahnya terumbu menari-nari
ikan menghindari bentangan jaring
kau dan aku kini gejolak lautan
dilayari tongkang para nelayan
mendaras hidup dengan menerjang
gelombang yang menyimpan harapan
kau dan aku kini batuan karang
teguh digempur air pasang
tak pernah menolak kedatangan
atau kepergian semisal kenangan

2.
kisah kita kini apatah hati penuh kasih
jika dilingkup cinta dan rindu yang ngungun
seperti serpihan bayang rembulan dibantun
debur demi debur yang bertabur buih
kisah kita kini sebuah tongkang tua
yang tergopoh mengangkut nasib baik
menuju dermaga yang sabar menunggu
seperti hati ibu untuk tualang anak-anaknya
kisah kita kini disadari tinggal kenangan
tergagap seperti camar digusah air pasang
setelahnya udara berbau garam mengasinkan
pikiran dan perasaan dengan sepi yang usang

(dusunmaja, 2017)

 

 

SAJEN RAYA

nasib masih semacam taman bunga
sejumlah wangi kesunyian menyeruak
dan di tengahnya beriak sebuah telaga
memantulkan rona wajah kami yang lain

bertahun-tahun tak pernah jera tunaikan
hasrat menghidupi diri dengan kerja
sebagai titah yang telah digariskan tuhan
kami cuma diminta tak henti berupaya

tiada guna berlama-lama merutuki takdir
sebab ketika azan pertama berkumandang
segala yang berwatak kesedihan memudar
seperti pengakuan daun sebelum ranggas

dan selagi angin hari depan berembus pelan
kami petik kenanga, kantil, serta cempaka
untuk ditabur di telaga sebagai sajen raya
agar kami semakin mengenali wajah asing ini

(dusunmaja, 2017)

 

 

TAKSA SEBUAH NAMA

malam ini jadi lain
lampu di beranda
tiba-tiba padam
langit pun kelam
seperti kenangan
akan punggung
yang menjauh
lalu menghilang
di tikungan
riuh cengkerik dan
gemerisik daun garing
dimainkan angin
seperti bisik tertahan
sebelum lambaikan tangan
yang membikin
malam ini semakin lain
dalam ingatan
pada segelas kopi
yang mendingin
tinggal ampas
pemandangan kosong
di beranda
meninggalkan taksa
di gerowong dada
yang mungkin
sebuah duka?

(dusunmaja, 2017)

 

 

SUMUR TUA SEBUAH KENANGAN

kita dipertemukan sebuah sumur tua
tak ada kata-kata terucap sebagai sapa
cuma kerekan tali timba dan jatuhan air
menimbulkan bunyi yang melingsir sunyi

sebagai siapa kita di sumur tua itu:
jejaka yang ragu mengajak berbicara atau
dara yang malu menampakkan wajahnya
barangkali cinta semacam dahaga terberkati?

(dusunmaja, 2017)

 

 

SIMPANG

sebentar yang lalu
kau datang kemudian pulang;
di tubuhku bersarang pelukan
yang telah mendingin
saat bayangmu menghilang
dalam pandangan di jauh malam
dan kata-kata yang kupunya
melesap senyap ke inti gelap

aku pun mengingat
kali pertama kita berjumpa:
lidahku kelu pada sayu matamu
dan kesiur angin penghujan
meningkahi reranting kersen
hingga sinar lampu jalan berkedip
seperti bintang jatuh
kau dan aku kompak menunduk
seolah sedang merapal doa

tapi sepulangmu
aku menyaru seorang bocah
terjangkit pilek dan demam
tubuhku gemetar
dari mulutku keluar gumaman
(yang mungkin terdengar
semacam geraman?)
dan pelukan telah mendingin itu
malih menjadi sebutir embun
selalu ragu bertahan di pucuk rumpun

(dusunmaja, 2017)

 

 

PADA MULANYA ADALAH TANYA

: buat gilang perdana

“Apa yang tersembunyi di balik seketika?”
Tiba-tiba selembar kertas bertanya
Pada sebuah pena
Dalam genggaman penyair kita;
Kata-kata datang dan pergi
Seperti kerinduan tak bertuan
Dan waktu menorehkan jejak biru
“Permisi, tak ada suatu apa di situ!”
Sekarang segalanya menjadi gamang:
Sajak adalah kehendak yang setia
Pada sejumlah duga dan hanya
Sajak menyimpan gelap
Yang menghindar dari cahaya
Setiap kali mata penyair kita terpejam
Bayang-bayang memanjang
Setelahnya lengang mengambang
Dan selembar kertas lainnya ikut bertanya
Pada pena lainnya
“Kapan saat yang tepat untuk berhenti?”

(dusunmaja, 2017)

*Astrajingga Asmasubrata, kelahiran Cirebon tahun 1990. Bekerja sebagai tukang cat melamik – duko – politur di Jakarta Timur. Penggerak Malam Puisi Jakarta. Buku puisi yang telah terbit adalah Ritus Khayali. Sedang menyelesaikan buku puisi terbarunya yang berjudul M I R Y A M.

Ekstase; Sajak-Sajak Sengat Ibrahim

Mythology Kang Ching Wie
-Kepada I Dewa Made Mustika

sang kesatria sri jayapangus bersabda
dari punggung gunung batur, menguar suaranya
menembus riuh bunyi semesta, melubangi dada:

“duhai dewi lihatlah langit jingga
alangkah warnanya mekar penuh pesona
aku melihat wajahmu lebih mempesona
sudikah kiranya engkau menyebutkan nama?”

entah pertemuan itu sebuah rencana dewa
atau memang nasib memanggil kita
pada mulanya adalah bahasa mata
pada akhirnya sebuah petaka
dalam mengakhiri cerita.

sri jaya, apakah setiap cerita membutuhkan celaka?
apakah setiap yang punya denyut mengenal sia-sia?
benarkah setiap laku hidup menyimpan tindak salah?
tidakkah dewa-dewa memiliki perasaan bersalah?

di punggung gunung batur, kita menuai cerita
dari pura ke pura kita semai hakikat rasa
maka terpujilah setiap cerita
seluruh asa menguar bebunga.

sri jaya, kita telah membangun istana
di kelilingi berbenteng-benteng menara
sebagai upacara menolak datangnya mara bahaya
setiap sudutnya pria-pria kekar berdiri menjaga.

alangkah malang kita, musuh datang secara tiba-tiba
mereka muncul dengan buas melalui perut kita
ngelabui, mengajari kita menjadi manusia rakus
menindas, memeras bahkan merampas harta rakyat.

dari sinilah segalanya dimulai
dan alangkah tolol kita terlambat kembali ke asal
serupa air sungai mengalir ke hilir ke selir muara
hulu ditinggal menuju laut kemudian benua.

Cabean, Yogyakarta 2017

 

Ekstase

izinkan aku menjadi doa
melindungimu secara tiba-tiba.

bila mataku rabun
aku tak mau melihatmu melalui kaca mata
sebab Yang Sempurna selalu sebatas rencana.

aku ingin hidup di luar jam kerja
menitipkan segala pada yang tak bermula.

bila aku tak tahu apa-apa
maka aku lebih senang memilih tertawa
karna aku sangat ingin hidup tanpa tergoda.

aku suka berjalan tanpa melihat apa-apa
atau tidak dilihat siapa-siapa.

seperti sajak cinta
yang tak pernah tahu tercipta kepada siapa
tapi pembaca merasa ia tercipta untuk dirinya.

Cabean, Yogyakarta 2017

 

Kereta Akhir Pekan I
Mengenang Kematian Ali Fikri

“adakah yang berpijak dalam waktu tanpa mengenal ibu?”

di hari sabtu
selalu ada yang meminta di tunggu
dari musim batu samapai musim tilu
kau memilih menjadi penunggang rindu.

besi-besi dingin tapi lupa cara menggigil
kursi-kursi gemetar isyarat maut memanggil.

dari satu kereta ke kereta lain
kau berjalan pada mungkin.

di luar kereta
pohon-pohon berjalan
gunung-gunung pada melambai
seolah mereka mengatakan selamat tinggal
pada kau yang suka menempuh perjalan jauh
dan senang melalaikan kepegalan tubuh.

di tubuh kereta
tiba-tiba segalanya pecah serupa kaca
seluruh suara menjelma doa
dan kau dikutuk pada semoga.

Cabean, Yogyakarta 2017

 

Kereta Akhir Pekan 2

di malam minggu
setelah kereta itu mengalami kecelakaan
saat orang-orang sibuk merayakan jadwal kencan.

mereka mengatakan selamat tinggal
seolah tak sadar kalau mereka sedang berjalan
berjalanan mencari muasal.

: bahwa mengutuhkan diri menjadi manusia
sejatinya harus merasakan tiada.

Cabean, Yogyakarta 2017

 

Simposium Kenangan

         “dalam benak segalannya menegenal mungkin”

sebuah sosok mengirim suara dalam mimpi
berkali-kali hadir dengan wajah sembunyi.

ia selalu datang tanpa sedikitpun bicara
saolah sengaja mencari sesuatu yang tak ada.

Cabean, Yogyakarta 2017

*Sengat Ibrahim, penulis muda kelahiran Sumenep Madura, 22 Mei 1997. Pemangku Adat Literasi & Taman Baca Masyarakat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY). Sekarang tinggal di Yogyakarta. Karya-karyanya pernah dimuat di koran; Medeia Indonesia, Republika, Suara Merdeka, Koran Tempo, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Merapi, Radar Surabaya, Banjarmasin Post, Harian Rakyat Sultra dan LiniFiksi.Com

Pemulung Kesedihan; Puisi-puisi Ferry Fansuri

Dibawah Kibaran Daster

Dalam kibaran daster itu
Kau melambai-melambai
Menggoda genit
Mengerlingkan kedipan nakal
Hipnotis diriku untuk datang
Menarik ke dalam bilik syahwatmu

Masih dalam kibaran dastermu
Memperlihatkan lekuk tubuhmu
Merayu untuk memasukinya
Menyeruak dengan berahi
Kau dekatkan bibirmu ke telinga ini

“Maukah kau kuperlihatkan surga dunia sebenarnya?”

Bersamaan daster itu jatuh lunglai tertiup angin

Surabaya, Juni 2017


Juru Bicara Bumi

Jam Weker, Tong sampah
Membisu diam
Burung gagak berkoar-koar
Tanpa makna
Dedaunan bergugur
Berserakan tak berarti
Mereka diam tercampakkan
Mulut mereka terkunci
Siapakah yang bisa memaknai mereka?
Hanya manusia bersyair yang memahami mereka
Itulah gunanya sorang penyair
Dia yang mengerti benda hidup dan mati
Kata-katanya adalah juru bicara planet ini

Pekanbaru, Mei 2017

Rapuh

Pada hari panjang yang lelah
Sepasang tangan merengkuh
Merangkul surga
Senja bertabur pelangi
Ia bagai pelacur tua murahan
Menertawakan saat kita telanjang
Terasa kejam tapi kau tetap kembali
Karena hanya dia menerima
Dirimu yang rapuh

Surabaya, Juni 2017

Mereka Ingin Aku Menjadi Rembulan

Gemuruh badai menggelepar
Hantu-hantu bodoh berkelebatan
Melewati malam dengan pedih
Bersenadung pilu
Memekakkan gendang telinga
Kepak-kepak sayap merpati
Terluka tertusuk nyeri
Manusia-manusia itu berlari
Mengejar mimpi semu
Mereka meminta berubah menjadi matahari
Memohon menjelma bagikan rembulan
Gaduh negara ini membara
Membakar kota asing itu
Tanpa sisa tertiup raib
Jejak tersapu angin mamiri
Tertelan lenyap dalam perut bumi
Ada petir dijantung ini
Ingin menyalak keluar

Akan kutunjukkan siapa diriku yang sebenarnya

Surabaya, Juni 2017


Pemulung Kesedihan

Apakah itu kebahagian?
Kau tak dapat merasakannnya
Semua tak sama dan semu
Tiap zaman memiliki kadar bahagianya sendiri-sendiri
Perihal itu bisa kau temukan itu dipojok kota itu
Berserakan tercecer
Kita adalah pemulung kesedihan
Memunguti sisa-sisa kejayaan
Menampung airmata kesepian
Menyimpan duka lara
Menyemai benih pedih
Sudahlah
Jangan kau ceritakan gelisah itu lagi
Diam dan mati kau disana

Surabaya, Juni 2017

Amnesia

Kulupakan itu semua
Layaknya amnesia
Tidak ada kebencian, marah atau sendu senda itu
Tanpa balas dendam, iri dengki atau muntahan emosi
Sudah lupakan saja apa yang terjadi
Tak ada guna jua bagiku
Biarpun itu disana
Lebur jadi satu
Kosong
Hampa
Lenyap tak berbekas ditelan bumi


Dumai, Mei 2017


Bersiul di tengah badai

Sesungguhnya ujian adalah waktu
Dalam tiap malam kuterus memohon padaMu
Untuk kau kuatkan pundak ini
Bukan kau ringankan bebanku
Karena sekarang dan esok
Gemuruh ombak tetap nyata
Biarkan aku bersiul di tengah badai itu

Dumai, Mei 2017


*Ferry Fansuri, lahir di Surabaya, alumnus Fakultas Sastra jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Karya tunggalnya yang telah terbit adalah “Aku Melahirkan Suamiku” Leutikaprio (2017). Tulisannya tersebar di berbagai media massa.

Rak Buku dari Plastik; Puisi-puisi Tjak S. Parlan

Ilustrasi. (Anja Aronawa)

Tempat yang Terlalu Sempit untuk Bersedih

“Sudah bukan saatnya
kita berumah di kamar,” kataku.

Aku tahu, itu bukan perihal yang ingin kau dengar.
Kamu juga tahu, itu jenis pembicaraan yang paling sering
ingin kuhindari. Tapi hari ini, drama itu telah dimulai.

Buku-buku itu selalu menyita banyak waktu dan tempat.
Sementara, anak kita butuh lapangan bola, langit
cerah yang luas juga burung-burung origami
yang beterbangan di dalam rumah.

Tapi rumah adalah jarak, yang hanya bisa
ditempuh dengan cita-cita. Rumah bukan hari ini
—ia adalah sesuatu yang sering kita sebut
dengan mata berkunang-kunang sebagai nanti.

“Aku harus mulai memikirkan
tempat kerja di luar,” kataku.

Untuk ke sekian kali, kamu mendengar yang
seperti ini. Tapi mungkin benar, bahwa
masih banyak hal di luar yang menunggu didengar.
Sementara di kamar, kita belum kelar mengurusi
rasa lapar.

Tapi aku—juga kamu— tak akan menggigil,
oleh kering-dinginnya angin yang diembuskan
dari masa paceklik. Ini mungkin pancaroba, tak ada
waktu untuk merasa paling jatuh dan sia-sia.

Aku bahkan mulai ragu, bawa kita masih bisa bersedih
di tempat yang terlalu sempit untuk bersedih ini.

Pagesangan, 7 Mei 2017

 

Februari

Februari terdampar di bandar-bandar kecil,
seperti para kekasih yang rindu
dan tak kunjung bertemu.

Februari adalah pertemuan di sebuah rel kereta
yang lurus menjauh dalam lambaian tangan
di belakang rumahmu.

Februari adalah sebuah tikungan
yang memaksamu membunyikan bel sepeda
dan menoleh sedikit pada kenangan.

Februari adalah hujan yang tahan lama,
yang membuatmu menjadi kekasih sekaleng bir
dan kaca jendela.

Februari adalah rhinitis akut— atau semua itu—
yang menjauhkanmu dari segala cium.

Februari adalah penyamun yang tersesat di rumahmu
saat kau tertidur, dan menjarah
semua mainan anakmu.

Februari adalah kalender tua basah
yang lupa kau buang seluruh tanggal merah
di tempat sampah.

Februari adalah rencana-rencana
yang tergelincir di jalanan hujan
yang kerap terhapus para pejalan.

Pagesangan, 18 Pebruari 2017

 

Tengah Malam

Kita tersudut di tengah malam,
ketika itu. Anak kita sakit, dan sepenuhnya kita lupa
cara bercinta. Kita lupa mencatat
panggilan-panggilan darurat: panggilan taksi,
rekening pribadi, telepon rumah tetangga,
nomor kontak kawan dekat.

Kita lupa membalas SMS selamat ulang tahun itu.

Saat kau melangkah ke dapur, aku tahu
ada kalanya kita tak bisa mengandalkan bawang merah—
yang kerap membuat mata teduhmu berair dan membawa-bawa
aroma pasar ke dalam kamar—
atau paracetamol yang membeku di kotak obat: penghalau demam
bagi pemegang kartu BPJS itu.

Tapi kita tak punya kartu. Kecuali alamat sementara, kita tak punya
apa-apa yang penting untuk dicatatkan pada negara. Negara
tak butuh apa-apa dari kita—
negara adalah rezim yang paling mandiri.

Kita tersudut di tengah malam,
ketika itu. Anak kita yang bertahan dan lelah menangis,
tertidur dalam kantung matamu yang hangat
dan berat.

Lalu pukul empat dini hari, sebuah SMS masuk—
pesan pendek yang selama berbulan-bulan aku sembunyikan,
baik darimu, dari puisi, dari keadaan.

“Tak bisa tidur, Bung? Tak kau terima saja tawaran itu?

Aku terbayang ruang ICU, kantor polisi, jeruji besi,
kue ulang tahun, mobil mainan, sebuah brosur rumah bersubsidi.
Aku menatapmu, aku menatap ‘kekasih’ kecil kita
yang tertidur. Aku membalas sebuah pesan:

“Aku ikut. Aku jalankan.”

Sebelum tertidur, aku menghapus SMS itu darimu,
dari puisi, dari keadaan.

Pagesangan, 17 Pebruari 2017

 

Rak Buku dari Plastik

Rak buku dari plastik itu, terbebani
oleh janji para penyair yang ingin
menerbitkan buku:

oleh hasutan yang kerap diembuskan
dari sebuah toko buku
yang hening.

 

Bantal

Tak ada satu pun tempat yang pernah
disinggahi mimpi di sini.
Hanya sisa keramas:
helai-helai waktu yang tanggal
setiap pagi.

 

Hari Libur

Besok hari libur. Hari tenang
bagi sebuah keluarga sederhana.

Keluarga sederhana itu membeli sebuah koran
hari Minggu dan mulai membacanya:
(1) tak ada yang perlu dikhawatirkan
perihal kegaduhan itu, (2) musim kawin para
pemimpin, musim pemilihan rakyat jelata,
(3) kapan terakhir kali kamu piknik?

Menjelang siang, ketika orang-orang baru pulang
dari gereja, keluarga sederhana itu bertandang
ke museum kota.

“Di sini,” kata seorang penjaga, “tanda tangan
di buku tamu ini. Apa lagi yang bisa kami tawarkan?”

Keluarga sederhana itu menggeleng.
“Tak ada,” katanya, “kami hanya ingin menjenguk
sejarah yang lamban.”

Pagesangan, 19 Pebruari 2017

 

*Tjak S. Parlan, lahir di Banyuwangi, 10 November 1975, kini bermukim di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Cerpen dan puisinya telah dikabarkan di sejumlah media, antara lain Koran Tempo, Media Indonesia, Femina, Lampung Post, Republika, Haluan Padang, Padang Ekspres, Pikiran Rakyat, Sinar Harapan, Sumut Pos, Bali Post dan lain-lain. Diundang menghadiri Temu Sastrawan Indonesia IV (Ternate, Oktober 2011) dan Jambi International Poet Gathering (Jambi, Desember 2012).