Perempuan Itu; Puisi-puisi Ana Widiawati

Article top ad

Puisi-Puisimu

Aku adalah puisimu-puisimu

yang patah

dan kau

penyair yang lelah

pasrah

Demi Tanah Terpijak

Demi tanah terpijak

semoga kami tidak tergagap menatap sajak-sajak

yang direnggut dari pucuk gunung itu dengan congkak

semoga kami tetap berdiri pada segaris kalimat perlawanan yang tegak

bersama kecemasan-kecamasan nurani

yang menggigil

melihat tuan menghamba pada gumpalan materi

sementara kami terus menghidupi meja makan dengan padi

yang tertanam di pangkuan bumi

membasuh lelah dengan air yang seharusnya aman dalam dekapan ibu pertiwi

O, tuan, tanah kami

mau sedalam apa tuan mengoyaknya?

demi emas-emas yang menumbuhkan cemas

Tuan, maukah meruang bersama suara-suara kami?

yang berserakan kehilangan naungan

terpinggirkan

tuan, sebelum semua tenggelam dan kelam

sebelum senja menandakan peniadaan

sebelum esok adalah pungkasnya harapan

sebelum tanah kami kehilangan napas-napas kehidupan

mau sampai kapan tuan membungkam?

mau sampai kapan menyumpal telinga dengan kemewahan-kemewahan?

semoga tuan sadar

selama ini tuan hanya memuja bokong dunia yang fana

mengejar uang dan segala keriuhannya

ah, gila!

*Menjaga ingatan tentang Gunung Tumpang Pitu beserta pertambangan emasnya dan tanah kelahiranku yang dikoyak-koyak tuan berkuasa. Semoga perlawanan tidak mati dan tetap abadi.

Malang, 16 November 2017

Surat-Surat

Surat-surat yang membusuk di bawah bantal

meneteskan kata-kata

aku menyaksikannya dengan sesak

sementara di luar jendela

purnama mengabarkan waktu tetap bergulir apa adanya

ada ingatan yang merindukan kawan

sengatan-sengatan rasa ketika sepasang dekapan

menggenggam kerut-kerut lelahku

sebelum aku terbenam

surat-surat itu membusuk bersama malam-malam lengang

dan aku membisik pelan

aku ingin pulang

Kita dan Hujan

Telah diamini dan direstui oleh semesta dan kita

kenangan akan selalu dikabarkan ulang oleh hujan

yang datang di bulan Juni seperti sabda Sapardi,

seperti hujan bulan Juli ketika pertama kali aku menamatkan sebait puisi,

seperti anomali ketika hujan datang di bulan-bulan kering dan gersang,

atau seperti hujan di bulan ini,

yang tiba-tiba, deras, dan keras

Hujan akan menyeduh ingatan

dan kita terjebak dalam nostalgia berkepanjangan

dikoyak-dikoyak rindu atau sesal

dan kita tidak pernah mendebat mengapa kehadirannya bersanding dengan kemuraman

kita hanya merasa terbebaskan

menyesap habis-habisan kenangan tanpa adanya penggugat

dan kita merasa aman

sebab hujan tidak akan mengabarkan kenangan ini pada cuping-cuping telinga

dari balik jendela

dari rumah-rumah

atau pada orang-orang berlarian mencari peneduh dan kehangatan

kenangan ini seutuhnya adalah kita

dan hujan tidak akan mengkhianati

ia tahu pada siapa harus membagi

ketika ia jatuh dan membumi

Malang, 5 November 2017

Perempuan Itu

Perempuan itu,

kutemukan sedang menepi dalam semangkuk sup di meja makan malamku

sebelum akhirnya beku

menyisakan remah-remah waktu

dan aku

meruang bersama kegaduhan dan detak-detak yang berantakan

kala perempuan itu melompat dan menyusup ke lembaran koran

berserakan

lalu meneduh di bawah pigura lama dengan foto tanpa gurat rasa

mengembalikan sebagian masa yang sempat tenggelam dan kelam

aku terkapar

kemudian dengan sederhana

dan cara paling terduga

perempuan itu jatuh dalam sebaris kata

yang kupungut dengan lelah dan putus asa

Perempuan itu,

adalah rindu dan sendu

semu

suka berlalu

mengguratku dengan sembilu

biru

Malang, 26 November 2017

* Ana Widiawati lahir di Banyuwangi 21 tahun silam. Bermukim di Malang dan sedang menempuh pendidikan di jurusan Hubungan Internasional Universitas Brawijaya. Masih aktif di Lembaga Pers Mahasiswa Perspektif (LPM Perspektif). Karya-karya cerpen dan puisinya pernah nangkring di Solo Pos, Radar Banyuwangi, dan buku-buku antologi.