01 December 2022
01 December 2022
21.3 C
Malang
ad space

Festival Kampoeng Dokar #2, Bangkit Menuju Kampung Bermartabat

Persiapan Festival Kampoeng Dokar di Dusun Banjar Tengah, Sumbersekar, Dau, Kabupaten Malang. (Istimewa)
Persiapan Festival Kampoeng Dokar di Dusun Banjar Tengah, Sumbersekar, Dau, Kabupaten Malang. (Istimewa)

MALANGVOICE – Akhir pekan adalah waktu yang tepat menghabiskan waktu bersama orang-orang terdekat. Plesiran menggunakan dokar, atau bersantai sambil menikmati kuliner tradisi plus hiburan panggung budaya dalam suasana asli perkampungan menjadi alternatif mengisi akhir pekan.

Semua itu menjadi susunan Festival Kampung Dokar #2, mulai 27-29 Oktober 2017 ini. Lokasi ajang ini bertempat di Dusun Banjar Tengah, Desa Sumbersekar, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.

Koordinator Bidang Acara Festival Kampoeng Dokar #2, Wahyu Panca Saputra, mengatakan, tak cuma sajian ala festival tempo dulu yang biasa ditemui. Perhelatan ini adalah wujud nyata semangat muda-mudi setempat untuk menjadikan kampungnya sebagai ruang kreatif.

“Ruang sekaligus rumah yang hidup,” tandasnya. Berdasar sejarah, sebutan Kampoeng Dokar ini sejak lama memang dipergunakan sebagai stasioner transportasi yang ditarik kuda. Dokar dikenal juga dengan istilah andong atau delman.

“Secara geografis, Kampoeng Dokar berada di kawasan strategis, perbatasan Kabupaten Malang dan Kota Batu yang sejuk. Meski tergolong sub-urban, tapi masyarakat yang sebagian besar bermata pencaharian petani, peternak, dan wiraswasta ini masih menjaga entitas kampung mereka,” paparnya.

Festival ini merupakan bentuk hari raya kebudayaan warga Banjar Tengah. Di antara suara kecil warga yang menyangsikan, Gotong royong , antusiasme warga, dan kolaborasi lintas komunitas menjadi kekuatan tersendiri.

Hal ini sudah terlihat sejak gelaran Dokar Berbunyi pada 30 Agustus 2017 lalu. Di gelaran tersebut, untuk kali pertama tersaji kolaborasi Tarian Jaran Kepang, Reog Ponorogo dengan iringan Trance Music Arrington De Dionyso dan gerak dinamis video mapping Etnicholic Project. Warga larut dan bersemangat hingga dini hari.

Festival Kampung Dokar #2 mengusung tema ‘Ojo Kepaten Obor’. “Capaian atau ikatan yang sudah terwujud sejak dulu di masyarakat jangan sampai terputus. Selama tiga hari ada banyak penyaji dalam panggung budaya dengan desain artistik,” pungkasnya.(Coi/Aka)

Hari Ini Jembatan Kaca Diresmikan

Jembatan kaca Ngalam Indonesia. (Anja Arowana)

MALANGVOICE – Jembatan kaca yang menghubungkan dua kampung tematik di Kota Malang, Jawa Timur, yaitu Kampung Wisata Jodipan (KWJ) di Kelurahan Jodipan dan Kampung Tridi di Kelurahan Kesatrian diresmikan, Senin (9/10). Jembatan yang disebut jembatan kaca Ngalam Indonesia ini berdiri di atas Sungai Brantas ini sekaligus menjadi jembatan kaca pertama di Indonesia.

Jembatan didominasi warna kuning emas, dengan panjang 25 meter dan lebar 1,25 meter sehingga bisa digunakan dua jalur atau dua orang yang berjalan berpapasan. Diestimasikan, jembatan dapat menampung sekitar 50 orang dan menanggung beban 250 kilogram.

KWJ dan kampung Tridi terletak berseberangan dan dipisahkan aliran sungai Brantas. Sebelum jembatan dibangun, wisatawan yang ingin menikmati kedua sisi kampung harus menaiki puluhan anak tangga dan memutar lewat Jembatan Brantas. Munculnya Jembatan Kaca menjadi fasilitas baru bagi warga sekaligus alternatif bagi pengunjung. Diharapkan, selain mempermudah akses, kekerabatan antar kampung pun kian rekat untuk mempercantik Kota Malang.

Selain itu, lantaran berlantai kaca, warga dan pengunjung diajak menikmati pemandangan dasar sungai dari atas jembatan. Kaca yang transparan memiliki sensasi tersendiri layaknya Jembatan Kaca di Zhangjiajie Cina. Kini, jembatan kaca menjadi spot foto baru bagi netizen yang kerap mengunggah foto-foto menariknya di media sosial.

Mahasiswa UMM memainkan peran penting di balik berdirinya jembatan kaca ini. Hal itu berawal dari KWJ yang merupakan inisiasi delapan mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM yang tergabung dalam kelompok praktikum Public Relations (PR) Guys Pro. Lahirnya KWJ menjadi inspirasi bagi berdirinya Kampung Tridi yang berada di seberang sungai.Sejak diresmikan September 2016, kedua kampung itu selalu padat pengunjung.

Sementara jembatan kaca merupakan hasil desain dua mahasiswa Teknik Sipil UMM, yaitu Mahatma Aji dan Khoriul di bawah binaan dosen mereka, Ir Lukito Prasetyo. Hal itu lantaran pengalaman mereka sebagai Juara Umum Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia Tahun 2015. Untuk pembangunan, mereka difasilitasi oleh Indana, pemilik produk Mix One.

Menurut Lukito, jembatan ini tidak hanya memiliki fungsi penghubung semata, tapi juga memiliki nilai estetika. Oleh sebab itu, dari sekian desain yang dipamerkan pada Walikota Malang, terpilihlah model jembatan gantung dengan tambahan kaca sebagai material pijakannya. “Agar pada malam hari, pijakan jembatan yang terbuat dari kaca dapat memperlihatkan lampu-lampu yang indah,” tutur Lukito.

Setelah disetujui berbagai pihak, jembatan itu akhirnya dikerjakan dengan membutuhkan waktu lima bulan, yaitu sejak 8 Mei hingga 7 Oktober 2017. Vice President Indana Steven menjelaskan, tak sedikit biaya dihabiskan untuk pembuatan jembatan kaca. Lebih-lebih, kata Steven, ada sekitar enam ton cat tersalurkan untuk memperindah KWJ dan Kampung Tridi.

“Indana sebagai perusahaan cat asal Malang, akan terus membantu pembangunan di Kota Malang. Wujud kepedulian sosial ini sebagai bentuk terima kasih kami pada warga,” ujarnya.

Sebelumnya, Indana telah banyak menyelesaikan program CSR. Sebut saja Kampung Hijau Decofresh, Kampung Warna-warni (KWJ), Kampung Tridi, Kampung Putih, dan mural flyover Arjosari. Saat ini, Indana juga tengah mengerjakan Kampung Arema yang posisinya berada tepat di sebelah barat Kampung KWJ dan Kampung Tridi. Berbeda dengan konsep sebelumnya, Kampung Arema identik warna biru di tiap-tiap dinding dan atapnya.(Der/Yei)

Lahir Bulan Agustus Gratis Masuk Pantai Balekambang

Pantai Balekambang dan Jembatan Panjang. (Deny Rahmawan)

MALANGVOICE – Agustus merupakan bulan spesial bagi Indonesia. Betapa tidak, di bulan ini rakyat Indonesia merayakan pesta kemerdekaan ke 72.

Untuk memeriahkan HUT RI, PD Jasa Yasa memberlakukan promo khusus. Setiap warga yang lahir pada bulan Agustus, digratiskan masuk ke Pantai Balekambang.

“Syaratnya cukup tunjukkan KTP asli. Kalau benar lahir pada Agustus ya gratis,” kata Direktur Usaha PD Jasa Yasa, Faiz Wildan, saat dihubungi MVoice, Selasa (8/8).

PD Jasa Yasa selaku pengelola beberapa pantai di Kabupaten Malang akan terus mempromosikan pantai agar banyak dikunjungi. Hingga saat ini pengunjung di Pantai Balekambang bisa mencapai ratusan ribu dari awal tahun.

Selain itu, PD Jasa Yasa juga merenovasi Pantai Jembatan Panjang. Pantai itu bersebelahan dengan Pantai Balekambang. Jembatan sepanjang kurang lebih 150 meter ini sudah rampung, hanya tinggal 90 persen.

“Nanti kurang dipasang lampu saja. Kalau di sana sengaja tidak dicat, beda dengan jembatan di Balekambang,” tandasnya.

Ia berharap, adanya program itu bisa memancing wisatawan lokal maupun mancanegara untuk menikmati pemandangan pantai yang indah.


Reporter: Deny Rahmawan
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yuliani Eka Indriastuti

Ingin Pesta Jeruk Sepuasnya? Yuk ke Balitjestro Batu!

Pengunjung memetik jeruk di kebun Balitjestro, Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Selasa (11/7). (Aziz Ramadani)

MALANGVOICE – Anda ingin makan jeruk sepuasnya? buruan datang ke Balai Penelitian Jeruk dan Tanaman Buah Subtropika Desa Tlekung Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Hanya dengan membayar tiket masuk Rp 25 ribu, Anda bisa makan jeruk sepuasnya dan membawa pulang 2 kg per tiket.

Baiq Dina, Peneliti Pemuliaan Balitjestro Kota Batu mengatakan, event tahunan yang dibuka sejak Senin (10/7) lalu sudah ramai diserbu pengunjung. Total 350 tiket terjual habis. Kebun jeruk di blok 1 seluas 1 hektar bahkan buahnya hampir habis. “Kami rencananya buka tiga blok.

Event akan kami tutup jika sudah habis buahnya dan khusus anak SD ke bawah kami bebaskan tiket,” kata Dina ditemui MVoice beberapa saat lalu.

Dina menambahkan kegiatan kali ini bertajuk wisata dan edukasi petik jeruk. Sesuai tema tersebut, pihaknya mengharapkan interaksi dengan pengunjung tentang varietas dan diseminasi teknologi jeruk.

“Buah yang kami edukasikan yakni jeruk keprok satsuma dan jeruk manis pacitan. Kami juga ingin mengajak masyarakat ikut serta mengembangkan varietas unggulan dengan cara uji rasa varietas baru yakni Topazindo Agrihorti dan Keprok RGL,” tandasnya.

Salah seorang pengunjung asal Surabaya, Andreas mengungkapkan kesan senangnya terhadap event ini. Sebab, pengetahuan dan wawasan tentang jeruk semakin luas.

“Saya suka dengan terobosan ini terutama tentang ilmu pembibitannya,” pungkasnya.


Reporter: Aziz Ramadani
Editor: Muhammad Choirul Anwar
Publisher: Yuliani Eka Indriastuti

Ayunan Warna-Warni Coban Talun Siap Manjakan Wisatawan

Wahana baru 1.000 ayunan wana wisata Coban Talun, Dusun Wonorejo, Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji, siap menyambut wisatawan libur lebaran. (ist)

MALANGVOICE – Menyambut kunjungan wisata libur Lebaran atau Idul Fitri 1438 Hijriyah, beberapa tempat wisata telah siap 100 persen. Wana Wisata Coban Talun Dusun Wonorejo, Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji ini misalnya.

Pengelola wisata yang dinaungi KPH Perhutani Malang ini menambah wahana baru, yakni wahana 1.000 Ayunan dan Goa Jepang.

Wahana 1.000 Ayunan berada tak jauh dari lokasi air terjun atau Coban Talun. Sesuai namanya, pengelola memasang ayunan. Jumlahnya memang belum sampai 1.000. Namun, dari penampilannya, cukup memanjakan bagi pecinta foto. Sebab, selain menyuguhkan pemandangan pepohonan pinus, warna-warni ayunannya sangat menarik perhatian. ”Ayunan ini sebelummya sudah ada tapi tidak terawat. Sekarang kami perbaiki dengan konsep baru,” kata Koordinator Wisata Coban Talun, Samsul Huda.

Tiket masuk, lanjut Samsul, dipatok Rp 5.000 per pengunjung. Wahana ini diakuinya sudah dibuka seminggu sebelum libur lebaran. Tercatat sudah ada 300 pengunjung yang mencoba wahana baru tersebut. ”Saat hari libur jumlahnya (kunjungan) terus meningkat,” urainya.

Samsul menambahkan, untuk wahana Goa Jepang, pengunjung harus menempuh perjalanan sejauh 500 meter. Namun, tidak perlu khawatir, karena pihaknya sudah memperbaiki akses jalan. Sepanjang perjalanan, pengunjung akan disuguhkan hamparan hijau persawahan yang indah.

”Goa ini sudah ada dan diketahui warga sekitar. Sesuai namanya, di zaman peperangan, goa ini kabarnya dimanfaatkan tentara Jepang untuk bersembunyi,” pungkasnya.

Ayo Belajar Panah di Gunung Banyak

Lokasi wisata panahan (anja)
Lokasi wisata panahan (anja)

MALANGVOICE – Kawasan wisata Gunung Banyak di Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Jawa Timur, menjadi destinasi bersama teman maupun keluarga.

Pengelola menyajikan wahana wisata baru yaitu panahan atau archery. Wahana baru ini melengkapi wahana yang sudah lama ada dan paling tersohor, yakni paralayang. Lokasi keduanya pun tidak berjauhan. Lokasi panahan berada sedikit dibawah lokasi paralayang.

Instruktur panahan, Wawan Kristiawan mengatakan, pihaknya ingin memberikan fasilitas baru yang belum ada di kawasan wisata lain. Pengelola memilih panahan.

Salah seorang pengunjung (anja)
Salah seorang pengunjung (anja)

Wawan mengatakan, pengunjung bisa belajar memanah menggunakan panah tradisional. Panah tradisional lebih nyaman dipakai dan cocok untuk pemula

Dengan membayar Rp 10.000 saja, Anda bisa dapat tujuh kali tembakan plus pelajaran pertama.

Ternyata panahan cukup diminati, dalam sehari saja bisa ada 100 pengunjung mampir karena penasaran sensasi memanah.

Salah satu pengunjung yang sempat mencoba wahana baru ini, Agnes Pratiwi, mengatakan panahan merupakan olahraga yang seru. Dia penasaran ingin tahu bagaimana cara memanah.

“Biar kayak di film-film Hunger Games, yang tokoh utamanya kan pintar memanah ya. Keren gitu. Eh, ternyata susah,” kata dia

Wisata ke Goa Pinus, Ada Rumah Honai Papua Lho!

Wisata di Goa Pinus (anja)
Wisata di Goa Pinus (anja)

MALANGVOICE – Berwisata ke Goa Pinus Kecamatan Bumiaji Batu, Anda akan menemukan rumah Honai, rumah khas Papua.

Rumah Honai ini menjadi spot foto andalan dan terbaru destinasi wisata Goa Pinus. Mengangkat tema ‘Kembali ke alam’, salah seorang pengurus dan perwakilan masyarakat, Muslimin, mengatakan akan terus menambah spot-spot foto menarik.

“Masyarakat dan Perhutani, Lembaga Masyarakat Desa Hutan mulai serius menggarap lokasi wisata ini. Saat ini ada 5 unit rumah Honai ditmbah 1 aula,” kata dia.

Tiket masuk Goa Pinus cukup murah, hanya Rp 5 ribu saja. Pengunjung bisa puas berfoto di spot-spot menarik sambil menikmati pemandangan.

Salah seorang wisatawan asal Jakarta, Siska Widiyanti kagum dengan pemandangan di Goa Pinus.

“Aduh Batu memang enak ya. Sejuk banyak tempat wisata, dan enggak macet,” kata dia.

Mbois, Ada Kapel dan Mushola di Puncak Gunung Sinai

MALANGVOICE – Gunung Sinai di Semenanjung Sinai dan Mesir, merupakan gunung gersang bebatuan dengan ketinggian 2.285 meter dari permukaan laut, pada bagian pegunungan di selatan Mesir, yang merupakan tempat penting yang wajib dikunjungi bila berkunjung ke Mesir, karena di puncak gunung ini Nabi Musa menerima 10 Perintah Allah, melalui beberapa kali pertemuan.

Untuk mendaki ke puncak Gunung Sinai dapat dilalui dengan berjalan kaki dari Biara St Chatarina sejauh sekitar 9 kilometer atau dengan menunggang Unta dengan tarif 30 USD sekali jalan, seperti yang dilakukan Redaksi Malangvoice bersama rombongan peziarah asal Indonesia pimpinan Arijanto dan Romo Pamungkas Pr, beberapa waktu lalu.

Pendakian ke Puncak Gunung Sinai dilakukan pada dini hari agar terhindar dari panas terik padang gurun dan juga ketika tiba di puncak gunung dapat menyaksikan matahari terbit serta menikmati panorama pegunungan yang indah di pagi hari.

Untuk melakukan pendakian dini hari tentu harus melengkapi diri dengan pakaian dingin, seperti jaket, sarung tangan, penutup kepala, minuman dan makanan ringan.

Dalam perjalanan dari bawah hingga puncak gunung dengan menunggang Unta di malam hari harus ekstra waspada menjaga keseimbangan dengan berpegangan pada tempat duduk di punggung Unta karena melewati jalan setapak yang tidak mulus penuh bebatuan serta jurang yang cukup dalam di sisi kiri atau kanan.

Pemandangan pada malam hari ketika rombongan menuju puncak gunung diterangi cahaya bulan yang sedang bersinar penuh sehingga membuat pemandangan sekitar gunung terlihat sangat luar biasa sehingga perjalanan sekitar 8 kilometer hingga pemberhentian terakhir dengan Unta menjadi tidak terasa.

Dari perhentian terakhir, rombongan peziarah melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki menyusuri tangga batu alami yang terjal sehingga dibutuhkan ekstra tenaga disertai pengaturan nafas agar dapat menapakai bebatuan dengan cadas yang tajam menuju puncak Gunung Sinai.

Rasa letih ketika mendaki sekitar 750 anak tangga Gunung Sinai menjadi sirna ketika rombongan berhasil tiba di puncak gunung tempat Nabi Musa mendapatkan wahyu dari Allah.

Ucapan syukur terucap dari seluruh peziarah ketika melihat kebesaran Tuhan atas karyanya dengan sinar matahari yang menerangi bukit-bukit disekitar Gunung Sinai. Diantara para peziarah ada yang menitikkan air mata bahagia ketika Romo Pamungkas memimpin doa bersama.

“Sungguh ini adalah anugerah yang luar biasa dapat mencapai puncak Gunung Sinai,” ungkap Adi Satyawan.

Hal yang sama juga disampaikan Hadi Oyon Karyono yang telah dua kali mendaki Gunung Sinai.

Di puncak Gunung Sinai ada hal yang unik dan mengagumkan dimana dua bangunan ibadah didirikan berdampingan di tempat yang suci ini, yakni Kapel Koptik atau gereja kecil dengan lukisan Nabi Musa serta Mushola dengan Alquran di dalamnya.

Kisah Nabi Musa yang merupakan nabi bangsa Israel terdapat dalam Alkitab Ibrani dan Alkitab Perjanjian Lama agama Kristen serta di Alquran, dimana Musa ditugaskan untuk membawa Bani Israil (Israel) keluar dari Mesir. Namanya disebutkan sebanyak 873 kali dalam 803 ayat dalam 31 buku di Alkitab Terjemahan Baru dan 136 kali di Al-Quran.

Musa adalah anak Amram bin Kehat bin Lewi, anak Yakub bin Ishak. Ia diangkat menjadi nabi sekitar tahun 1450 SM. Ia memiliki 2 orang anak (Gersom dan Eliezer) dari istrinya, Zipora. Ia wafat di Tanah Tih (Gunung Nebo) sekitar sebulan sebelum bangsa Israel memasuki tanah Kanaan setelah 40 tahun mengembara di padang gurun sesudah keluar dari Mesir.

Musa adalah seseorang yang diutus oleh Allah untuk pergi membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir, dan menuntun mereka pada tanah perjanjian yang dijanjikan Allah kepada Abraham, yaitu tanah Kanaan.

Musa harus melewati berbagai macam rintangan sebelum akhirnya benar-benar menerima mandat sebagai orang yang diutus Allah untuk membebaskan bangsa Israel, misalnya saat dia hampir dibunuh ketika masih bayi, dikejar-kejar prajurit Firaun, sampai harus menjalani hidup sebagai gembala di tanah Midian selama 40 tahun.

Itu semua diizinkan Tuhan untuk membentuk karakternya, sampai akhirnya Malaikat Tuhan menampakkan diri kepadanya dalam peristiwa semak duri yang menyala, tetapi tidak dimakan api

Ketika Musa sudah menerima mandat untuk membebaskan bangsa Israel, kuasa Tuhan mulai menyertai Musa, ditandai dengan adanya mujizat-mujizat yang diadakan Tuhan melalui Musa, baik ketika masa pembebasan Israel dengan tulah-tulah, maupun ketika masa perjalanan bangsa Israel ke Kanaan.

Akhirnya Musa tidak sampai memimpin bangsa Israel masuk ke tanah Kanaan, oleh karena kesalahan perkataan Musa di Mara yang disebabkan betapa pahit hati Musa menghadapi orang Israel.

Musa hanya mengantarkan orang Israel sampai ke tepi timur sungai Yordan, sebelum menyeberang ke tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan tersebut. Musa akhirnya digantikan abdinya yang setia yaitu, Yosua bin Nun, yang akhirnya berhasil memimpin bangsa Israel masuk dan menduduki tanah Kanaan.

Di Apache Camp, Rasakan Menginap Ala Indian

Apache Camp (ist)
Apache Camp (ist)

MALANGVOICE – Apakah Anda berencana berlibur dengan berkemah menikmati suasana alam? Apache Camp bisa jadi pilihan pas. Disini, Anda bisa merasakan menginap bak suku Indian di tenda-tenda berbentuk kerucut.

Apache camp terletak di kawasan wisata air terjun Coban Talun, tepatnya di Wonorejo, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Batu, Jawa Timur. Untuk menuju lokasi memakan waktu sekitar 30 menit perjalanan dari pusat kota Batu.

Pengunjung biasanya berselfie (ist)
Pengunjung biasanya berselfie (ist)

Untuk tiket masuknya, Anda cukup bayar Rp7.500 saja. Tapi untuk merasakan bermalam di Apache camp ala-ala rumah suku Indian, Anda harus merogoh kocek sebesar Rp 500.000 per malamnya. Pengelola sudah menyiapkan 10 kamar. Rencananya akan ditambah 6 kamar lagi.

Jika tidak ingin menginap, Anda tetap bisa selfie asyik di taman bunga sekitar camp.

Asyik, Bulan Depan Coban Talun Punya Seribu Ayunan Lho…!

Coban Talun dan pagupon (anja)
Coban Talun dan pagupon (anja)

MALANGVOICE – Wisata Alam Coban Talun, Batu, ternyata menyuguhkan pesona yang luar biasa. Pengunjung dapat menikmati berbagai pemandangan yang menakjubkan dan fotogenic sehingga sangat pas buat penyuka traveling dan foto selfie.

Selain wisata air terjun dan wahana yang ada sekarang, pengelola Coban Talun, Samsul, mengatakan akan menambah wahana baru lain, yaitu Seribu Ayunan.

Seperti namanya, pengelola akan memasang ayunan yang terbuat dari kayu dan tali tambang sejumlah seribu buah.

Samsul mengatakan, ayunan itu akan ditempatkan di jalan menuju air terjun. Menariknya semua ayunan itu akan di cat warna-warni.

“Mulai dari warna kuning muda sampai cokelat ada. 1000 ayunan itu kita warnai semua,” kata dia,

Dengan memberdayakan warga sekitar, ayunan itu kini dalam proses pembuatan.

“Kira-kira masih 30 persen sih, tapi masih sebulan lagi perkiraan saya baru bisa selesai,” tukas dia.

Jika Seribu Ayunan terpasang, Coban Talun dipastikan bakal padat wisatawan. Dalam sehari saja, Coban Talun dikunjungi 500-1000 orang.