Wisata ke Goa Pinus, Ada Rumah Honai Papua Lho!

Wisata di Goa Pinus (anja)
Wisata di Goa Pinus (anja)

MALANGVOICE – Berwisata ke Goa Pinus Kecamatan Bumiaji Batu, Anda akan menemukan rumah Honai, rumah khas Papua.

Rumah Honai ini menjadi spot foto andalan dan terbaru destinasi wisata Goa Pinus. Mengangkat tema ‘Kembali ke alam’, salah seorang pengurus dan perwakilan masyarakat, Muslimin, mengatakan akan terus menambah spot-spot foto menarik.

“Masyarakat dan Perhutani, Lembaga Masyarakat Desa Hutan mulai serius menggarap lokasi wisata ini. Saat ini ada 5 unit rumah Honai ditmbah 1 aula,” kata dia.

Tiket masuk Goa Pinus cukup murah, hanya Rp 5 ribu saja. Pengunjung bisa puas berfoto di spot-spot menarik sambil menikmati pemandangan.

Salah seorang wisatawan asal Jakarta, Siska Widiyanti kagum dengan pemandangan di Goa Pinus.

“Aduh Batu memang enak ya. Sejuk banyak tempat wisata, dan enggak macet,” kata dia.

BNN Kota Malang

Akhir Pekan Liburan ke Kediri, Ada Destinasi Surganya Wanita di Dhoho

Jalan Dhoho. (kedirisupport)

MALANGVOICE – Bagi kebanyakan perempuan, berwisata dan belanja adalah satu paket. Di Kediri, ada tempat yang cocok bagi kaum hawa menghabiskan waktu. Jalan Dhoho namanya.

MVoice merangkum alasan Dhoho bisa disebut sebagai ramah perempuan, berikut penjelasannya.

Belanja Produk Fesyen dengan Beragam Harga dan Merek Sepuasnya

Ada berbagai produk fesyen yang ditawarkan toko-toko di kawasan Dhoho, seperti pakaian, sepatu, aksesori, bahkan makeup.

Kualitas barang di Jalan Dhoho bervariasi; ada yang asli, bermerek, atau kw. Harganya pun beragam. Nah, Anda tinggal belanja menyesuaikan kebutuhan dan bujet. Oh ya, kawasan ini bisa dibilang Malioboro-nya Kediri, lo!

Tidak hanya produk fesyen dan riasan, Anda juga bisa menemukan buku, kebutuhan rumah tangga, sampai kebutuhan sehari-hari. Lengkap deh!

Mencicip Nasi Pecel Pincuk dengan Rasa Maknyus

Saatnya mengisi perut setelah lelah belanja! Kawasan Jalan Dhoho dipenuhi berbagai kafe dan tempat makan. Cukup pilih saja mana tempat yang paling cocok untuk beristirahat dan bersantai.
Yang tak boleh ketinggalan jika datang ke sini adalah mencicip kelezatan nasi pecel pincuk. Kuliner ini adalah salah satu kuliner khas Kediri yang sangat populer di kawasan Dhoho.

Jangan lewatkan minta sambal tumpang pada penjualnya, ya. Sambal tumpang ini merupakan olahan fermentasi tempe yang bakal membuat makanan lebih maknyus! Pecel ini dihidangkan dengan daun pisang yang dibentuk pincuk.

Mencari Penginapan Mudah Tanpa Harus Repot Keliling Kota

Tidak perlu panik jika Anda belum mendapat hotel untuk menginap. Kawasan Dhoho dipadati hotel dari berbagai kelas. Mulai kelas melati sampai berbintang, semua ada.

Mau lebih gampang, manfaatkan saja aplikasi Airy untuk mencari hotel di Kediri. Cara pesan kamarnya mudah, pilihan hotelnya banyak, harganya terjangkau pula. Belum lagi fasilitasnya lengkap dengan berbagai promo! Sempurna, kan?

Bosan Berdiam di Hotel? Saatnya Main ke Mal!

Perempuan biasanya mudah bosan dan butuh hiburan. Nah, Anda bisa mampir ke mal atau pusat perbelanjaan sekitar Jalan Dhoho. Ada Dhoho Plaza I, Dhoho Plaza II, Borobudur, dan Ramayana. Anda bisa jalan-jalan, makan, menonton film, dan tentunya belanja lagi!

Beli oleh-oleh untuk keluarga di rumah
Selesai liburan, perempuan biasanya memikirkan masalah oleh-oleh. Nah, Jalan Dhoho ini merupakan salah satu pusat untuk membeli oleh-oleh di Kediri.
Jadi, tidak hanya belanja baju saja, Anda juga bisa membawa pulang aneka buah tangan khas Kediri, seperti stik tahu, keripik bekicot, gethuk pisang, tahu kuning, atau cokelat tempe.

Selesai liburan ke Kediri, Anda bisa melanjutkan liburan ke Blitar. Di sini juga banyak tempat wisata yang seru kok. Hotel di Blitar juga banyak; jadi jangan takut kalau tidak dapat tempat menginap. Selamat berlibur!
(Der/Ulm)

BNN Kota Malang

Lebih Instagrammable, Yuk Foto Ala Noni Belanda di Kusuma Agrowisata

Foto-foto kumpulan dari pengunjung. (Instagram Kusuma Agrowisata)
Foto-foto kumpulan dari pengunjung. (Instagram Kusuma Agrowisata)

MALANGVOICE – Meski Malang Raya sering turun hujan beberapa hari terakhir, jangan urungkan niatmu untuk berlibur di luar ruangan saat weekend nanti. Tak ada salahnya kamu mencoba berwisata mencoba beragam spot foto menarik, seperti yang ditawarkan oleh Kusuma Agrowisata Batu.

Kusuma Agrowisata menyiapkan aneka spot menarik tematik. Ada spot foto berbentuk bunga matahari tinggi nan lebar menjuntai ke udara bakal menyambut wisatawan yang ingin membuat feed instagram lebih keren. Ditambah pemandangan alam disekitar, pengunjung bisa dengan leluasa melihat keindahan alam di Kota Batu.

Selain itu, pengunjung bisa menyewa aneka kostum khas Belanda atau kostum pedesaan mulai dari harga Rp 15 ribu- Rp 25 ribu /orang. Kostum ini akan lebih memercantik sesi foto pengunjung. Di Kusuma Agrowisata terdapat spot bangunan kincir angin khas Belanda dan gubuk-gubuk khas persawahan di pedesaan.

Sementara itu, Marketing Marketing Kusuma Agrowisata Kota Batu, Hanna Febri Nikita menyatakan spot foto tersebut memang sengaja dihadirkan menjelang libur akhir tahun untuk menyambut wisatawan yang berlibur.

“Biasanya libur akhir tahun, wisatawan itu membeludak. Kita ingin menyuguhkan nuansa yang baru, jadi mereka kesini tidak sekedar mampir tapi memang benar – benar berkesan nantinya,” ucapnya.

Salah satu wisatawan, Intan Nurmawaddah, mengaku senang bisa berfoto ria dengan temannya. Meski belum pernah ke Belanda, setidaknya spot foto di Kusuma Agrowisata bisa menjadi alternatif baru menarik dan unik.

“Bagus sih, saya sewa kostum sama teman-teman. Foto disini enaknya sore atau pagi gitu, soalnya sejuk suasananya, jadi pas banget,” kata wanita asal Kota Mojokerto ini.(Hmz/Aka)

BNN Kota Malang

Wow… Ada Pantai Ngudel di Kabupaten Malang Lho…

Pantai Ngudel, Desa Sindurejo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang (Tika)
Pantai Ngudel, Desa Sindurejo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang (Tika)

MALANGVOICE – Berbicara pesona wisata alam di Kabupaten Malang, terutama lantainya, seolah tidak pernah habis.

Pesonanya, jangan ditanya, sudah pasti indah dengan paduan pasir putih, deburan ombak dan laut yang berwarna biru menenangkan.

Salah satunya adalah Pantai Ngudel, yang berlokasi di Desa Sindurejo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang.

Namanya cukup unik, Ngudel yang terinspirasi dari kata udel alias pusar. Pengelola wisata, Sukiyanto menjelaskan, nama ini terinspirasi karena batu besar yang ada di tengah laut. Batu itu, menyembul ditengah dengan diapit oleh dua bukit besar.

“Jadi batu di tengah itu seperti udel, maka dari itu namanya Ngudel,” kata dia.

Akses menuju Pantai Ngudel ini cukup mudah. Bisa dilalui dengan kendaraan roda dua dan empat.

Lokasinya masih satu garis pantai dengan Balekambang. Wisatawan bisa menuju Ngudel dengan menempuh Jalur Lintas Selatan (JLS).

Sepanjang jalan terdapat penunjuk arah untuk pantai Ngudel. Jalanan sudah beraspal hotmix, sehingga memanjakan perjalanan. Pengunjung bisa menyaksikan kebun dan sawah penduduk di kiri dan kanan jalan.

Akses jalan yang mudah serta pemandangan yang menakjubkan merupakan keunggulan pantai ini.

Begitu sampai di kawasan pantai, gugusan pohon cemara udang yang hijau sangat memanjakan mata segera menyambut wisatawan.

Belum lagi deburan ombak yang tidak pernah putus, pecah begitu menghantam gugusan batu di pinggir pantai. Membuat atmosfer menyenangkan segera tercipta.

Apalagi lagi kondisinya yang masih sepi, membuat pantai yang banyak didatangi pencari ikan ini seolah venue pribadi.

“Saya belum pernah ke Ngudel. Tempat ini recomended sekali. Tidak rugi ke sini, jalannya bagus dan pantainya juga masih bersih. Sayang belum banyak pedagang makanan,” beber salah satu pengunjung, Herdy (35) yang datang bersama keluarganya.

BNN Kota Malang

Tradisi Unik di Bandung yang Masih Ada

Adat Nuras Cai. (masyarakatsejarahkendan.blogspot.com)

MALANGVOICE – Perkembangan zaman mengubah kehidupan masyarakat di segala lini. Imbasnya, banyak tradisi leluhur yang tidak berlanjut karena dianggap merepotkan, kuno, hingga lantaran tak sesuai dengan nilai-nilai yang dianut.

Meski teknologi sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat, beberapa tradisi unik masih dilestarikan di Bandung. Bahkan, kaum muda pun turut berpartisipasi dalam menjaga kekayaan budaya bangsa ini.

Apa saja 3 tradisi unik yang masih dilakukan di Bandung? Mari simak bersama.

Tradisi Perang Tomat

Warga Kampung Cikareumbi, Desa Cikidang, Lembang, Bandung Barat memperingati datangnya bulan Muharam dengan meriah. Mereka menggelar rangkaian acara sepanjang tiga hari berturut-turut.

Pada hari pertama dan kedua warga melakukan kegiatan ngaruat bumi dan pantun ruat. Baru pada hari ketiga, kegiatan rempug tarung adu tomat atau Perang Tomat dilakukan, sekaligus menjadi acara puncak rangkaian kegiatan tersebut.

Tradisi ini berawal dari keengganan pedagang menjual tomat-tomat yang dihargai sangat murah akibat pasokan berlebih. Lalu, muncul ide untuk memanfaatkan tomat tersebut. Dua kelompok saling berhadapan dan bersiap dengan baju pangsi hitam, topeng, dan tameng dari anyaman bambu. Saat tanda dibunyikan, kedua kelompok saling melemparkan tomat ke arah lawan.

Filosofi perang tomat ini adalah sebagai ajang membuang sifat buruk dalam diri seseorang. Biasanya, perang tomat berlangsung selama 30 menit. Usai perang berakhir, warga yang tadi saling berlawanan berkumpul dan menari dengan iringan musik tradisional Sunda. Uniknya lagi, sisa-sisa tomat yang bertumpahan di jalan tidak dibiarkan begitu saja, tetapi dibersihkan dan dimanfaatkan kembali sebagai kompos.

Peringatan Wuku dan Mapag Taun Kampung Adat Cikondang

Bulan Muharam juga menjadi bulan istimewa bagi warga Kampung Adat Cikondang, Desa Lamajang, Pangalengan, Bandung. Tradisi peringatan Wuku dan Mapag Taun ini telah berlangsung selama empat abad.

Biasanya, warga mulai melakukan persiapan sejak tanggal 1-14 Muharam, seperti menumbuk beras dan memasak hidangan tradisional. Sehari jelang tanggal 15 Muharam, keturunan langsung leluhur Kampung Adat Cikondang akan membersihkan benda pusaka, seperti pisau, keris, dan tombak. Tepat pada tanggal 15 Muharam, upacara pemanjatan doa dan syukur kepada Allah SWT pun dilakukan.

Peringatan ini memang bertujuan untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT atas kenikmatan yang diperoleh selama satu tahun terakhir. Selain itu, tradisi ini juga menjadi waktu berkumpul keturunan Mama Sepuh atau warga adat. Belakangan, peringatan Wuku dan Mapag Taun juga menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke Kampung Adat Cikondang.

Upacara Adat Nuras Cai

Warga Kampung Nenggeng, Desa Citaman, Nagreg, Bandung masih melaksanakan upacara adat Nuras Cai. Tradisi ini merupakan wujud ungkapan syukur kepada Sang Pencipta dengan cara merawat alam sekitar, terutama mata air yang menjadi sumber kehidupan. Dalam upacara ini, warga bergotong royong membersihkan mata air dan salurannya supaya air mengalir dengan baik.

Tradisi Nuras Cai telah lama menjadi kearifan lokal masyarakat setempat sebagai upaya pemeliharaan sumber air. Tradisi ini juga tidak bisa dilepaskan dari keberadaan Kerajaan Kendan pada abad ke-4 yang sekarang masuk wilayah Kampung Nenggeng. Oleh karena itu, pemerintah setempat juga mendorong berdirinya desa wisata di kawasan ini agar dapat menarik minat wisatawan untuk berkunjung menikmati tradisi warisan leluhur.

Anda tertarik untuk melihat langsung tradisi unik di atas? Jangan ragu, segera pesan tiket pesawat Citilink.

Bagi Anda yang baru kali pertama memesan lewat aplikasi, segala transaksi di Airy bebas dari penipuan dan terjamin keamanannya. Selain itu, jika Anda mengalami kendala, tersedia fitur refund dan reschedule agar perjalanan lebih fleksibel. Plus, Airy menawarkan layanan khusus bagi Anda yang melakukan perjalanan bisnis.(Der/Aka)

BNN Kota Malang

Serunya Berlibur di “Lumbung Stroberi” Kota Batu

Wisatawan saat asik memetik stroberi di Lumbung Stroberi, Desa Pandanrejo, Kota Batu (Ayun/MVoice)
Wisatawan saat asik memetik stroberi di Lumbung Stroberi, Desa Pandanrejo, Kota Batu (Ayun/MVoice)

MALANGVOICE – Memetik Stroberi di hamparan kebun adalah salah satu kegiatan berkebun sekaligus bertamasya yang mengasyikan.

Kota Batu memang tak pernah habis menawarkan beragam tempat wisata alam yang menarik. Satu di antaranya yakni Wisata Petik Stroberi di Lumbung Stroberi Desa Pandanrejo, Kota Batu.

Di sentra perkebunan stroberi terbesar di wilayah Kota Batu ini, pengunjung layaknya pemilik kebun sebab mereka bisa menikmati sensasi petik buah stroberi sepuasnya. Disuguhkan juga keindahan serta kesejukkan gunung Welirang dan Arjuna.

Penanggung Jawab Lumbung Stroberi, Edy Purwanto mengatakan selain dipergunakan sebagai wisata petik stroberi di sana juga banyak makanan olahan stroberi seperti sari stroberi, stick stroberi hingga selai stroberi.

“Tidak melulu di sini untuk petik Stroberi saja. Tapi bisa untuk workshop, reuni, dan acara ulang tahun. Sudah di sediakan gazebo untuk acara tersebut,” ujarya saat ditemui MVoice, Selasa (23/7)

“Dan dalam waktu dekat ini bakal ada penambahan fasilitas yakni homestay,” sambungnya.

Hal menarik wisata petik buah stroberi di Desa Pandanrejo dapat di lakukan setiap hari termasuk malam hari. Ini karena pada bulan Juli dan Agustus Stroberi pada masa panen raya buah musiman.

“Tetapi kami warga masyarakat Pandanrejo ingin membuat buah musiman ini menjadi buah sepanjang masa yang dapat selalu dinikmati kesegaran setiap saat,” ungkapnya.

Sementara, Ninil Rima warga asal Wagir Kabupaten Malang mengatakan sengaja kesini untuk berlibur menikmati sejuknya Kota Batu. Dan mengajak buah hatinya untuk memetik langsung ke kebunnya.

“Sekalian liburan. Karena anak saya suka dengan buah ini. Di rumah juga menanamnya, ya cuma satu hingga tiga pohon saja” ungkapnya.

Perlu diketahui, selain bisa membawa stroberi pengunjung juga bisa membeli bibit buah stroberi dalam polibag yang banyak dijual oleh masyarakat setempat.

Bagi wisatawan yang ingin menyantap stroberi segar langsung dari kebunnya dapat berkunjung langsung ke Desa Pandanrejo dan bisa menghubungi Pokdarwis yang ada.

Jika bingung, langsung saja datang ke kantor Kecamatan Bumiaji, pegawai kecamatan sudah terlatih untuk memberikan informasi terkait wisata di Pandanrejo. Dan pengunjung hanya perlu merogoh kocek Rp 15 ribu untuk menikmatinya

Plt Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Imam Suryono, menjelaskan, beberapa destinasi tersebut akan terus dikembangkan untuk diikutkan sebagai wakil Kota Batu di ajang Anugerah Wisata Jawa Timur 2019.

Apalagi, pada tahun sebelumnya Kecamatan Bumiaji telah meraih juara ketiga kategori daya tarik wisata budaya dalam Anugerah Wisata Jawa Timur 2018.

“Khusus untuk Lumbung Stroberi atau petik stroberi wisatawan bisa menikmati wisata edukasi. Mulai dari proses penanaman, panen, dan juga pengolahan produk,” ujarnya.
.(Hmz/Aka)

BNN Kota Malang

Ayo Belajar Panah di Gunung Banyak

Lokasi wisata panahan (anja)
Lokasi wisata panahan (anja)

MALANGVOICE – Kawasan wisata Gunung Banyak di Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Jawa Timur, menjadi destinasi bersama teman maupun keluarga.

Pengelola menyajikan wahana wisata baru yaitu panahan atau archery. Wahana baru ini melengkapi wahana yang sudah lama ada dan paling tersohor, yakni paralayang. Lokasi keduanya pun tidak berjauhan. Lokasi panahan berada sedikit dibawah lokasi paralayang.

Instruktur panahan, Wawan Kristiawan mengatakan, pihaknya ingin memberikan fasilitas baru yang belum ada di kawasan wisata lain. Pengelola memilih panahan.

Salah seorang pengunjung (anja)
Salah seorang pengunjung (anja)

Wawan mengatakan, pengunjung bisa belajar memanah menggunakan panah tradisional. Panah tradisional lebih nyaman dipakai dan cocok untuk pemula

Dengan membayar Rp 10.000 saja, Anda bisa dapat tujuh kali tembakan plus pelajaran pertama.

Ternyata panahan cukup diminati, dalam sehari saja bisa ada 100 pengunjung mampir karena penasaran sensasi memanah.

Salah satu pengunjung yang sempat mencoba wahana baru ini, Agnes Pratiwi, mengatakan panahan merupakan olahraga yang seru. Dia penasaran ingin tahu bagaimana cara memanah.

“Biar kayak di film-film Hunger Games, yang tokoh utamanya kan pintar memanah ya. Keren gitu. Eh, ternyata susah,” kata dia

BNN Kota Malang

Asyik, Bulan Depan Coban Talun Punya Seribu Ayunan Lho…!

Coban Talun dan pagupon (anja)
Coban Talun dan pagupon (anja)

MALANGVOICE – Wisata Alam Coban Talun, Batu, ternyata menyuguhkan pesona yang luar biasa. Pengunjung dapat menikmati berbagai pemandangan yang menakjubkan dan fotogenic sehingga sangat pas buat penyuka traveling dan foto selfie.

Selain wisata air terjun dan wahana yang ada sekarang, pengelola Coban Talun, Samsul, mengatakan akan menambah wahana baru lain, yaitu Seribu Ayunan.

Seperti namanya, pengelola akan memasang ayunan yang terbuat dari kayu dan tali tambang sejumlah seribu buah.

Samsul mengatakan, ayunan itu akan ditempatkan di jalan menuju air terjun. Menariknya semua ayunan itu akan di cat warna-warni.

“Mulai dari warna kuning muda sampai cokelat ada. 1000 ayunan itu kita warnai semua,” kata dia,

Dengan memberdayakan warga sekitar, ayunan itu kini dalam proses pembuatan.

“Kira-kira masih 30 persen sih, tapi masih sebulan lagi perkiraan saya baru bisa selesai,” tukas dia.

Jika Seribu Ayunan terpasang, Coban Talun dipastikan bakal padat wisatawan. Dalam sehari saja, Coban Talun dikunjungi 500-1000 orang.

BNN Kota Malang

Di Apache Camp, Rasakan Menginap Ala Indian

Apache Camp (ist)
Apache Camp (ist)

MALANGVOICE – Apakah Anda berencana berlibur dengan berkemah menikmati suasana alam? Apache Camp bisa jadi pilihan pas. Disini, Anda bisa merasakan menginap bak suku Indian di tenda-tenda berbentuk kerucut.

Apache camp terletak di kawasan wisata air terjun Coban Talun, tepatnya di Wonorejo, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Batu, Jawa Timur. Untuk menuju lokasi memakan waktu sekitar 30 menit perjalanan dari pusat kota Batu.

Pengunjung biasanya berselfie (ist)
Pengunjung biasanya berselfie (ist)

Untuk tiket masuknya, Anda cukup bayar Rp7.500 saja. Tapi untuk merasakan bermalam di Apache camp ala-ala rumah suku Indian, Anda harus merogoh kocek sebesar Rp 500.000 per malamnya. Pengelola sudah menyiapkan 10 kamar. Rencananya akan ditambah 6 kamar lagi.

Jika tidak ingin menginap, Anda tetap bisa selfie asyik di taman bunga sekitar camp.

BNN Kota Malang

Mbois, Ada Kapel dan Mushola di Puncak Gunung Sinai

MALANGVOICE – Gunung Sinai di Semenanjung Sinai dan Mesir, merupakan gunung gersang bebatuan dengan ketinggian 2.285 meter dari permukaan laut, pada bagian pegunungan di selatan Mesir, yang merupakan tempat penting yang wajib dikunjungi bila berkunjung ke Mesir, karena di puncak gunung ini Nabi Musa menerima 10 Perintah Allah, melalui beberapa kali pertemuan.

Untuk mendaki ke puncak Gunung Sinai dapat dilalui dengan berjalan kaki dari Biara St Chatarina sejauh sekitar 9 kilometer atau dengan menunggang Unta dengan tarif 30 USD sekali jalan, seperti yang dilakukan Redaksi Malangvoice bersama rombongan peziarah asal Indonesia pimpinan Arijanto dan Romo Pamungkas Pr, beberapa waktu lalu.

Pendakian ke Puncak Gunung Sinai dilakukan pada dini hari agar terhindar dari panas terik padang gurun dan juga ketika tiba di puncak gunung dapat menyaksikan matahari terbit serta menikmati panorama pegunungan yang indah di pagi hari.

Untuk melakukan pendakian dini hari tentu harus melengkapi diri dengan pakaian dingin, seperti jaket, sarung tangan, penutup kepala, minuman dan makanan ringan.

Dalam perjalanan dari bawah hingga puncak gunung dengan menunggang Unta di malam hari harus ekstra waspada menjaga keseimbangan dengan berpegangan pada tempat duduk di punggung Unta karena melewati jalan setapak yang tidak mulus penuh bebatuan serta jurang yang cukup dalam di sisi kiri atau kanan.

Pemandangan pada malam hari ketika rombongan menuju puncak gunung diterangi cahaya bulan yang sedang bersinar penuh sehingga membuat pemandangan sekitar gunung terlihat sangat luar biasa sehingga perjalanan sekitar 8 kilometer hingga pemberhentian terakhir dengan Unta menjadi tidak terasa.

Dari perhentian terakhir, rombongan peziarah melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki menyusuri tangga batu alami yang terjal sehingga dibutuhkan ekstra tenaga disertai pengaturan nafas agar dapat menapakai bebatuan dengan cadas yang tajam menuju puncak Gunung Sinai.

Rasa letih ketika mendaki sekitar 750 anak tangga Gunung Sinai menjadi sirna ketika rombongan berhasil tiba di puncak gunung tempat Nabi Musa mendapatkan wahyu dari Allah.

Ucapan syukur terucap dari seluruh peziarah ketika melihat kebesaran Tuhan atas karyanya dengan sinar matahari yang menerangi bukit-bukit disekitar Gunung Sinai. Diantara para peziarah ada yang menitikkan air mata bahagia ketika Romo Pamungkas memimpin doa bersama.

“Sungguh ini adalah anugerah yang luar biasa dapat mencapai puncak Gunung Sinai,” ungkap Adi Satyawan.

Hal yang sama juga disampaikan Hadi Oyon Karyono yang telah dua kali mendaki Gunung Sinai.

Di puncak Gunung Sinai ada hal yang unik dan mengagumkan dimana dua bangunan ibadah didirikan berdampingan di tempat yang suci ini, yakni Kapel Koptik atau gereja kecil dengan lukisan Nabi Musa serta Mushola dengan Alquran di dalamnya.

Kisah Nabi Musa yang merupakan nabi bangsa Israel terdapat dalam Alkitab Ibrani dan Alkitab Perjanjian Lama agama Kristen serta di Alquran, dimana Musa ditugaskan untuk membawa Bani Israil (Israel) keluar dari Mesir. Namanya disebutkan sebanyak 873 kali dalam 803 ayat dalam 31 buku di Alkitab Terjemahan Baru dan 136 kali di Al-Quran.

Musa adalah anak Amram bin Kehat bin Lewi, anak Yakub bin Ishak. Ia diangkat menjadi nabi sekitar tahun 1450 SM. Ia memiliki 2 orang anak (Gersom dan Eliezer) dari istrinya, Zipora. Ia wafat di Tanah Tih (Gunung Nebo) sekitar sebulan sebelum bangsa Israel memasuki tanah Kanaan setelah 40 tahun mengembara di padang gurun sesudah keluar dari Mesir.

Musa adalah seseorang yang diutus oleh Allah untuk pergi membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir, dan menuntun mereka pada tanah perjanjian yang dijanjikan Allah kepada Abraham, yaitu tanah Kanaan.

Musa harus melewati berbagai macam rintangan sebelum akhirnya benar-benar menerima mandat sebagai orang yang diutus Allah untuk membebaskan bangsa Israel, misalnya saat dia hampir dibunuh ketika masih bayi, dikejar-kejar prajurit Firaun, sampai harus menjalani hidup sebagai gembala di tanah Midian selama 40 tahun.

Itu semua diizinkan Tuhan untuk membentuk karakternya, sampai akhirnya Malaikat Tuhan menampakkan diri kepadanya dalam peristiwa semak duri yang menyala, tetapi tidak dimakan api

Ketika Musa sudah menerima mandat untuk membebaskan bangsa Israel, kuasa Tuhan mulai menyertai Musa, ditandai dengan adanya mujizat-mujizat yang diadakan Tuhan melalui Musa, baik ketika masa pembebasan Israel dengan tulah-tulah, maupun ketika masa perjalanan bangsa Israel ke Kanaan.

Akhirnya Musa tidak sampai memimpin bangsa Israel masuk ke tanah Kanaan, oleh karena kesalahan perkataan Musa di Mara yang disebabkan betapa pahit hati Musa menghadapi orang Israel.

Musa hanya mengantarkan orang Israel sampai ke tepi timur sungai Yordan, sebelum menyeberang ke tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan tersebut. Musa akhirnya digantikan abdinya yang setia yaitu, Yosua bin Nun, yang akhirnya berhasil memimpin bangsa Israel masuk dan menduduki tanah Kanaan.

BNN Kota Malang