Travel Agent Tiga Negara Kagumi Dua Museum di Batu

Agen Travel dari Cina, India, dan Taiwan saat menerima penjelasan dari tour guide Museum Angkut (fathul)

MALANGVOICE – Museum Angkut dan Museum Tubuh, Kota Batu, menjadi magnet luar biasa bagi 19 agen travel dan tour operator dari tiga negara yang dibawa Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI, malam ini.

Orang-orang dari Cina, India, dan Taiwan ini keasyikan mengagumi berbagai macam koleksi kendaraan di Museum Angkut. Tak lupa, beberapa kendaraan antik ini dijadikan sebagai objek foto sendiri maupun bersama-sama.

Managing Director Taj Travels and Holidays Kerala-India, Rashid Mundeth, kagum dengan koleksi kendaraan milik Museum Angkut karena sebagian besar keluaran tahun 1900-an namun masih ada.

Ia tidak menyangka bisa menemuinya di sini karena selama ini ia pikir kendaraan model itu hanya ada di Hollywood. “Saya sangat bahagia bisa menyentuhnya di sini, ini pengalaman yang bagus,” kata Rashid kepada MVoice.

Hal yang sama juga ia rasakan saat masuk Museum Tubuh. Ia melihat benda-benda menyerupai organ tubuh di museum ini sangat riil. Rashid menjadi tahu dan faham bagaimana susunan tubuh manusia beserta fungsinya.

“Di India tidak ada, selama ini saya membawa wisatawan kami ke Bali. Dan kini saya bisa membawa ke sini juga, bukan sekadar wisata, tapi ada nuansa sejarahnya juga,” tandas Rashid.

Hal yang sama dikatakan General Manager Relaxing Holiday International Travel Beijing-Cina, Sun Tao. Menurutnya, kendaraan yang dikoleksi museum angkut sangat luar biasa. Banyak kendaraan yang sudah tidak diproduksi tapi bisa ditemui di sana.

“Interesting, sangat menarik. Baik Museum Tubuh maupun Museum Angkut bagus. Kita bisa ambil foto banyak dengan kendaraan-kendaraan antik yang tidak bisa kita temui di negara kami,” tutur pria asal Cina ini.

Ia memberi saran, bila ingin menggaet wisatawan dari daratan Cina, kedua museum ini harus memiliki penerjemah mumpuni dalam Bahasa Inggris maupun Bahasa Cina. Karena tanpa penjelasan memadai, wisatawan tidak akan mengerti sebenarnya.

Sementara itu, General Manager Taiwan Learning Trip LTD, Tammy Chien, menyebutkan kedua museum ini sangat bagus untuk media pembelajaran. Anak-anak dan siswa sekolah sangat cocok di ajak ke sana.

“Wahananya sangat bagus, di Museum Tubuh tadi kita bisa mengetahui simulasi kerja organ tubuh sehingga sangat nyata. Sementara di Museum Angkut, kendaraannya juga sangat menarik. Sayangnya waktu kami terbatas,” kata Tammy.

Karena koleksi Museum Angkut banyak yang antik, ia nanti akan mengajak wisatawan muda dari Taiwan ke sini sesuai dengan hobinya. Tidak akan rugi melewatkan wisata di kedua museum di ini.

Hari Pers Nasional 2016 Promosikan Wisata Halal

MALANGVOICE – Salah satu upaya pemerintah mengejar target kunjungan 20 juta wisatawan mancanegara pada 2019, antara lain dengan mempromosikan konsep wisata halal di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB.)

Berkaitan dengan itu, penyelenggaraan Hari Pers Nasional (HPN) 2016 di Provinsi NTB dinilai tepat, dalam rangka ikut mempromosikan wisata halal di daerah itu.

Begitu disampikan Menteri Pariwisata Arif Yahya, saat bertemu pimpinan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan Panitia HPN 2016, di kantornya, Gedung Sapta Pesona, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, hari ini.

Hadir dalam pertemuan itu, Ketua Umum PWI, Margiono, didampingi anggota Dewan Penasihat PWI, Sofyan Lubis, pengurus PWI Kiki Iswara, Muhamad Ihsan dan Agus Yuli serta Rita Sri Hastuti. Dari unsur panitia HPN, hadir Ketua Panitia, Teguh Santosa, bersama panitia lainnya, Dar Edi Yoga dan Christiana Chelsie Chan.

“Untuk mendorong peningkatan kunjungan wisman, kita harus manfaatkan potensi turisme di setiap objek wisata. Pemerintah Provinsi NTB berupaya memperkenalkan NTB sebagai objek halal tourism, ini harus kita dukung. HPN bisa melambungkannya,” ujar Arif Yahya, seperti dikutip dari Forum Pimpinan Media Digital Indonesia (FPMDI).

Masih menurut Arif Yahya, potensi wisata bahari di NTB juga sangat besar. Kebijakan bebas visa yang baru-baru ini diumumkan pemerintah, sambungnya, diharapkan menarik perhatian kapal-kapal pesiar singgah di kepulauan Indonesia, khususnya di NTB.

Menyambut pernyataan Arif Yahya, Ketua Umum PWI yang juga Penanggung Jawab HPN 2016, menambahkan, pihaknya tengah merancang program bersama antara komponen pers dan Kementerian Pariwisata untuk meningkatkan kesadaran wisata di kalangan jurnalis dan pengelola redaksi.

“Target kunjungan wisman ke Indonesia juga menjadi tanggung jawab pers Indonesia. Mengabarkan keindahan negeri kita kepada dunia adalah tugas dan tanggung jawab kami secara moral,” demikian Margiono.

Tristar Institute Buka Kelas Memasak di Batu

Siswa Tristar Institut saat memasak di ruang kelas. (istimewa)

MALANGVOICE – Konsep Batu sebagai kota wisata menarik Tristar Institute untuk membuka kelas memasak di Hotel Putri Bulan, Jalan Bukit Berbunga, Kota Batu.

Sejak akhir Oktober, Tristar mulai pamer memasak di ruangan paling depan hotel itu. Dengan tembok kaca, tamu hotel bisa melihat aktivitas kelas memasak para siswa Tristar Institute.

“Kami membuka cabang di Kota Batu karena melihat potensi wisatanya luar biasa. Apalagi di sini banyak hotel yang bisa menjadi sasaran tempat kerja para lulusan,” ungkap Penanggung Jawab Tristar Institute, Yuda Agustian.

Tristar sudah memiliki enam cabang, yakni tiga di Surabaya, di Mojokerto, BSD Tangerang, dan Kota Batu cabang terbaru. Untuk di Kota Batu, dikatakan Yuda, meniru konsep sekolah kuliner di Swiss.

“Di Swiss itu sekolah kulinernya ada di pegunungan, jadi tenang dan jauh dari keramaian. Siswa yang belajar memasak akhirnya konsentrasi dan berhasil,” tambahnya.

Pengajar lulusan Tristar ingin mewujudkan visi-misi Dinas Pendidikan dan Dinas Tenaga Kerja Kota Batu. Selain mendidik siswa terampil memasak, sekaligus mengantarkan siswa meraih peluang kerja yang baik.

“Kalau di sini pendidikan profesional memasak jenjang 1 sampai 2 tahun. Kalau mau jenjang D3 atau S1, Tristar juga menyediakannya di Mojokerto dan Surabaya. Sehingga lengkap semua pendidikan di sini,” imbuh lelaki asli Batu ini.

Meski baru dibuka, Tristar Institute sudah banyak diminati. Kepala Dinas Pendidikan dan Kepala Disnaker Kota Batu sudah berkunjung dan mendukung kehadiran Tristar Institute, sebagai sekolah memasak.

“HRD Hotel Purnama juga sudah melihat-lihat ke sini, katanya tertarik menggunakan jasa koki didikan kami. Termasuk guru-guru SMK se Kota Batu juga menunjukkan antusiasmenya,” tandas Yuda.

Untuk saat ini, 30 siswa yang belajar memasak di Tristar Institute Kota Batu merupakan pindahan dari Surabaya. Ke depan, Tristar akan mulai membuka kelas untuk lulusan SMA/SMK Batu sebanyak 150 orang.-

Label Baru KWB Percantik Alun-alun Kota Batu

Tulisan 'Kota Wisata Batu' menandai wajah baru Alun-alun. (fathul)

MALANGVOICE – Alun-Alun Kota Batu dipercantik dengan dipasangnya tulisan ‘Kota Wisata Batu’ di pojok timur. Tulisan ini tampak jelas dari arah Jalan Diponegoro, karena dibuat dengan huruf kapital ukuran besar, dan warna putih dan merah mencolok.

Di depan tulisan, ada lingkaran bakal air mancur. Ikon tulisan baru itu pun menjadi ajang foto selfie dan foto bareng pengunjung.

Pengunjung harus bersabar, karena wahana lain masih dalam perbaikan. Seperti sebelah utara tulisan, lokasi bermain anak sudah rapi tersusun. Meskipun di sekitar masih dipasangi tali agar tidak dimasuki pengunjung, karena belum siap digunakan.

Salah satu pengunjung yang ditemui MVoice, Fitri Nabila, mengaku senang karena ada tulisan baru itu. Hobi selfie di tempat-tempat yang bagus jadi terpuaskan.

“Minggu kemarin ke hutan kota batu (Jalan Sultan Agung -red) tapi kurang ramai. Terus hari ini muter-muter ke alun-alun ternyata ada tulisan ini,” kata mahasiswi asli Jember ini.

Fitri mengatakan sering ke Alun-Alun Kota Batu saat weekend bila tidak ada acara di Malang. “Ya datang sama teman-teman, kadang ngajakin yang pengen coba ketan juga,” imbuhnya.

Alun-alun Kota Batu memang sedang dipugar secara keseluruhan. Menghabiskan dana sebesar Rp 3,4 miliar, alun-alun ini bakal selesai di pertengahan Desember.

Jual Coklat Kata-Kata Unik, Larisnya Luar Biasa…

Kholimatus Sakdiyah menunjukkan coklat unik jualannya. (fathul)

MALANGVOICE – Usaha coklat sebagai oleh-oleh khas Kota Batu ternyata sangat menjanjikan. Seperti dirasakan Kholimatus Sakdiyah, asisten Toko Langgeng, Jalan Diponegoro, yang menyediakan aneka makanan dari coklat.

Ia sudah 8 tahun buka usaha oleh-oleh khas Batu, tetapi jual oleh-oleh dari bahan coklat baru ia jalani 1 tahun ini. ”Ambil dari suplier, lumayan untuk mendongkrak volume penjualan,” ungkap perempuan yang akrab dipanggil Kholim ini.

Ada dua macam coklat yang ia jual, pertama Chocopel asli Kota Batu, dan Cokodot asli Garut. Keduanya laku keras karena selain rasanya enak, bungkusnya juga memikat dengan kata-kata aneh, unik, dan romantis.

Untuk coklat apel, pembeli dapat memilih beberapa varian seperti dark chocolate, milk cookies, chocolate green tea, dan chocolate with oreo. Semuanya memiliki tagline “say it with chocolate”.

Harga jual untuk dark chocolate Rp 27 ribu, chocolate milk cookies Rp 23 ribu, dark chocolate oreo Rp 16 ribu, dan chocolate green tea, Rp 14 ribu. ”Semuanya ada rasa apelnya,” papar Kholim.

Berbagai kalimat menarik menghiasi coklat, antara lain Pilihlah Aku Jadi Coklatmu, Coklat Itu Manis Kayak Kamu, Di Dekatmu Hatiku Meleleh Kayak Coklat, dan kalimat aneh; Seng Mangan Cokelat Iki Senep.

Cokodot dari Garut juga menjadi andalan. Jenisnya hanya satu, tapi bungkusnya saja yang berbeda. Harganya sama semua yakni Rp 32 ribu. “Coklat ini kadang lebih laris karena kata-katanya,” jelas Kholim.

Kata-kata menghiasi bungkus Cokodot ini seperti Cokelat Enteng Jodoh, Cokelat Cegah Alay, Cokelat Rasa Sayang, Cokelat Gawat Darurat, dan Cokelat Sarjana Panjang Nganggur.

“Setiap hari tetap saja ada yang beli, rata-rata remaja, atau wisatawan yang tertarik dengan rasa dan kata-katanya,” tandas Kholim.-

Jualan Akik di BTC Batu Masih Marak

Yusron Masruri di lapak jualannya, di BTC Kota Batu. (fathul)

MALANGVOICE – Batu akik masih saja diburu sebagian orang. Kalangan pedagang di Batu Trade Center (BTC) Kota Batu sendiri, mereka tak peduli banyak pesaing, toh masing-masing punya cara dan optimisme menggaet pembeli.

Pedagang di lapak Petualang Gemstone, Yusron Masruri, misalnya, bersama lima anggota komunitas penggemar batu akik Sengkaling Gemstone, hingga kini masih asyik berjualan dalam Pasar Rakyat Akbar 2015.

“Sebenarnya semua yang dijual temen-temen itu laku mas. Cuman biasanya sehari dapat Rp 5 juta, sekarang dapat Rp 2 juta saja. Lalu bilangnya nggak laku. Kalau saya enggak, karena pasti ada saja yang beli,” kata Yusron, salah satu pedagang batu akik.

Dia menjual segala macam batu, baik batu akik, permata, hingga sintesis. Ia juga selalu memberi saran jujur agar pembeli tidak bingung memilih. Karenanya, harga yang ia tawarkan selalu sesuai kantong pengunjung.

“Saya jual batu ini mulai harga belasan ribu hingga puluhan juta. Jadi pengunjung yang ke sini banyak pilihan, dan pasti pulang bawa hasil,” jelas Yusron sambil menunjukkan beberapa koleksinya.

Batu-batu sintesis yang ia jual memang berkilau dan terlihat seperti permata asli, padahal harganya hanya Rp 15 ribu. Sementara batu akik asli berbagai daerah, mulai Banten, Sumatera, Sulawesi, hingga Bacan, ia jual mulai ratusan ribu rupiah.

“Koleksi saya banyak mas, capek kalau disuruh menyebut satu persatu. Misalnya Batu Turmalin dari Brazil, ada Virruz dari Persia. Pokoknya batu dari Indonesia, Asia, sampai Afrika, saya punya,” tambahnya pamer.

Batu akik paling mahal yang saat ini dibawanya seharga Rp 50 juta, berjenis Yaman dari Kalimantan, dan satu lagi batu akik yang didalamnya bertuliskan ‘Muhammad’ dalam bahasa arab. Tapi ia enggan menunjukkan batu jenis Raflesia dari Lampung itu, dan hanya menunjukkan dari foto di hapenya.

“Sebelum dari sini saya sudah pameran di Surabaya, seperti Jatim Expo, Ramayana, lalu Malang di Bakorwil, di Dinoyo, pernah ke Probolinggo, Jember dan sekarang Batu. Saya jual mulai akik bakalan, akik jadi, emban juga,” tandasnya.-

Bakso Gopal, Langganan Karyawan Pemkot Batu…

Adi Setiawan, penjual bakso Gopal di Pemkot Batu. (fathul)

MALANGVOICE – Setiap kali ada kegiatan di Pemkot Batu, hampir selalu tersedia hidangan bakso. Tentunya undangan yang hadir bertanya, buatan siapakah bakso itu?

Adalah Adi Setiawan, si penjual bakso yang menjadi langganan Pemkot. Pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan Pemkot Batu memang sudah tak asing dengan bakso Gopal milik Adi Setiawan. Sehari-hari, ia memang mangkal di depan kantor Humas, melayani pembeli.

Tak salah jika ia sering dipercaya melayani tamu Pemkot. ”Sudah sering diborong, yang saya ingat ya empat kali. Karena mereka sudah kenal saya, jadinya tidak jauh-jauh beli, langsung borong saja,” tukas Adi bangga.

Selain di Pemkot, Adi mengaku berjualan keliling kantor, seperti Kantor Dindik, Badan Penanaman Modal, atau sekolah-sekolah di Kota Batu.

“Kalau lagi diborong ya senang, jam 1 siang sudah bisa pulang, karena sudah habis. Bisa istirahat agak lama. Biasanya kan habis pas magrib, keliling lagi,” sambung lelaki asli Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang ini.

Soal nama “Bakso Gopal”, Adi menjawab, Gopal merupakan akronim dari “Golek Pangan Lancar”. Itu adalah doa dari dirinya agar usahanya laris dan pulang membawa hasil.-

Mencari Berkah di Musim Angin Kencang…

Layang-layang yang dijual Agus di Jalan Ir Sukarno. (fathul)

MALANGVOICE – Beberapa minggu ini angin bertiup cukup kencang di kawasan Kota Batu. Bila sebagian orang menganggap menakutkan, bagi Agus Sudarmanto itu justru berkah.

Pria asli Beji, Kecamatan Junrejo, ini pun memanfaatkan angin kencang dengan berjualan layang-layang. Ia sendiri yang membuat dan merangkai layang-layang dari kain palas.

“Setiap satu meter kain bisa saya buat 3 layang-layang kecil, kalau yang besar bisa satu atau dua saja,” jelas Agus kepada MVoice di lokasi jualannya, Jalan Ir Sukarno, Kota Batu.

Satu layang-layang kecil ia jual seharga Rp 30 ribu, sedangkan yang besar Rp 80 ribu. Jenisnya memang hanya ada dua, namun ia membuat motif dan karakter hingga 25 buah supaya pembeli punya pilihan.

“Biasanya saya jualan saat tiga musim, musim angin, musim lebaran, dan musim liburan. Kalau musim angin begini tidak tentu, kadang Oktober, kadang November. Pokoknya ada angin, saya jualan,” tambahnya.

Ia membuat layang-layang antara bulan Februari sampai Mei. Lalu menjualnya perlahan-lahan di tiga musim itu. “Kalau jualan kali ini sisa lebaran kemarin, mau buat lagi sekalian nunggu Februari,” ungkapnya.

Bila musim liburan, Agus bisa menjual hingga 30 layang-layang per hari. Namun musim angin bukan waktunya libur, maksimal ia mampu menjual hingga 10 buah saja.-

Kemarau Panjang, Sumber Air Gemulo Tetap Mengalir Deras

Warga mandi bersama di aliran sumber air Gemulo. (fathul)

MALANGVOICE – Sumber Air Gemulo, Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, tidak terpengaruh kemarau panjang tahun ini. Airnya tetap mengalir deras di sepanjang sungai.

Warga sekitar memanfaatkan aliran air dari Sumber Gemulo untuk kehidupan sehari-hari, mulai mandi, mencuci, hingga memasak. Bahkan, beberapa hotel dan usaha rumahan memanfaatkan air ini juga.

Hal itu terlihat dari beberapa pipa besar yang ada di pinggir sungai terbentang dari sumber air Gemulo. Pipa-pipa ini saling silang, sebagian menuju Desa Songgokerto, sebagian tertanam dalam tanah.

Di pusat sumber mata air, telah dibangun satu altar layaknya tempat pemujaan. Ada tiga patung bersila, satu kolam kecil depan patung, tempat bunga setaman, plus tempat dupa dengan beberapa batangnya berserak terbakar.

Seorang warga, Dimanto, saat ditemui MVoice, ia sedang mengganti dupa lama dengan yang baru. Katanya ia rutin melakukan itu. “Ya nyalain aja mas, gak ada niat apa-apa. Kalau mau nyalain ya nyalain aja,” ungkapnya.

Warga yang memanfaatkan sumber air Gemulo, kata Diman, dari tiga desa, yaitu Bulukerto, Sidomulyo, dan Bumiaji. Hingga saat ini warga tidak merasa kekurangan air meskipun kemarau panjang masih berlangsung.
sumber air Gemulo

Meski demikian, sudah ada beberapa imbauan dari perangkat desa agar warganya menghemat penggunaan air. Apalagi di beberapa daerah lain sudah banyak yang mulai kekeringan sehingga air disuplai dari tangki.

“Kami bersama warga ikut bersama-sama menjaga kelestarian sumber. Pepohonan juga dilarang ditebang. Kemarin ada festival oleh warga juga dalam rangka mengingatkan supaya tetap melestarikan sumber mata air,” imbuh Dimanto.

Disinggung soal ritual khusus untuk menjaga mata air tetap lancar dengan sesaji atau semacamnya, Diman merasa bukan wilayahnya, karena ada juru kunci tersendiri. Ia sendiri bersama warga memang rutin menyalakan dupa di sana karena bebas.

“Kalau saya begini tidak ada ritual khusus, ya sekali-kali datang saja. Pokoknya kalau pohonnya masih ada, air juga akan terus ada,” tandasnya.

Milad Aisyiah Batu, Foto Kemanusiaan Dipamerkan di Galeri Raos

Pengunjung menikmati hasil karya foto di Galeri Raos. (fathul)

MALANGVOICE – Galeri Raos, Jalan Jenderal Sudirman, Batu, kembali ramai. Ratusan karya fotografi bertemakan “Kemanusiaan dan Lingkungan” dipamerkan mulai Jumat malam hingga Minggu, hari ini.

Selain dipamerkan, foto cantik dan indah juga dilombakan dalam rangka Milad ke 87 Nasyiatul Aisyiah, salah satu sayap organisasi Muhammadiyah yang beranggotakan para muslimah.

Panitia acara, Aisha Amini, mengatakan karya foto dari 158 sekolah se Kota Batu, dipamerkan untuk tujuan artistik dan penghargaan. Apalagi hasil karyanya cukup memikat sehingga perlu ditunjukkan ke masyarakat umum.

“Kami ingin peserta dan pengunjung yang menikmati karya foto ini bisa lebih menghargai kemanusiaan dan lingkungan, serta peduli untuk menjaganya sebagai generasi masa depan,” jelas Aisha kepada MVoice.

Penjurian foto terbaik akan dinilai oleh tim fotografer yang ahli di bidangnya. Selain itu, akan dicari kategori foto terfavorit pilihan pengunjung. Kupon sudah disediakan di pintu masuk galeri agar pengunjung bisa menuliskan pilihan foto paling bagus.

“Ini hanyalah salah satu agenda kami dalam rangka ulang tahun. Nanti bakalan ada lomba cipta menu, nasyiah award, dan talk show yang diadakan pada hari puncak tanggal 8 November,” tambah Aisha.

Beberapa foto yang dipajang di Galeri Raos ini banyak memotret manusia yang sedang bekerja mencari nafkah, serta kondisi alam di Kota Batu yang menakjubkan. Pengunjung pun menikmati hasil karya itu.

“Lomba ini sudah kami umumkan satu bulan yang lalu ke sekolah-sekolah. Kategorinya ada dua, Child usia 10-13 tahun, dan Teen usia 13-18 tahun. Kami ingin mereka memupuk kecintaannya pada kemanusiaan dan lingkungan sesuai tema,” harap Aisha.-

Komunitas