Jumat Depan, Wisata di BNS Bernuansa Horor

Suasana BNS sebagai wisata malam (fathul)

MALANGVOICE – Tak mau ketinggalan dengan wisata lain, Batu Night Spectacular (BNS) juga bakal membawa suasana horor pada wisata malamnya, dalam rangka perayaan Halloween.

Agendanya, mulai Jumat (30/10) hingga Minggu (1/11) mendatang, wisata malam paling akbar se Indonesia itu akan mendatangkan zombie-zombie ke berbagai wahana, untuk uji nyali pengunjung.

Bagian Media Sosial BNS, Afrizal, mengatakan, perayaan Halloween sudah terkenal di luar negeri. BNS ingin mengadopsinya karena di dalamnya bisa ditampilkan berbagai kreativitas untuk menghibur pengunjung BNS.

“Memang konsepnya hantu-hantu, jadi ini tantangan kami juga agar bisa mengubah sesuatu yang biasa jadi menyeramkan. Apalagi BNS kan wisata malam, jadi bisa uji nyali,” kata Afrizal.

Ia menambahkan, kru yang menangani Halloween sudah dibentuk tinggal mencari tallent untuk diberi make-up. Berbagai macam hantu bakal ditampilkan sehingga tidak monoton.

“Kami akan sebarkan hantu jadi-jadian ini ke seluruh wahana BNS, namun tetap dengan konsep fun. Jadi jangan sampai memberikan ketakutan berlebihan pada pengunjung,” imbuh Afrizal, sapaan akrabnya.

Bila ada pengunjung bernyali lebih, sambung pria lucu ini, ia menyarankan mencoba salah satu wahana BNS yang memang khusus berisi hantu, yakni Rumah Hantu. Dijamin pengunjung bisa menjerit sepuasnya.

“Halloween bukan soal hantu saja. Jadi kami akan ubah beberapa setingan di sini supaya menambah suasana horornya,” tandas Afrizal.

Omzet Jualan Bunga Kering Ternyata Gak Main-Main…

Muhammad Ihsan, menjual bunga kering di Jalan Brantas. (fathul)

MALANGVOICE – Kota Batu terkenal dengan bunga segar atau bunga hidup yang dijual di pinggir jalan. Tapi Muhammad Ihsan malah berjualan bunga dan tanaman yang terbuat dari plastik.

Sudah sembilan tahun ini dia melakoni bisnis itu. Pertama kali berjualan di Jatim Park I pada 2006 hingga 2014. Namun karena berbagai alasan, Ihsan akhirnya memilih berjualan di Jalan Brantas, sudah satu tahun terakhir ini.

Lokasi kios tanaman imitasi milik Ihsan memang strategis, di pertigaan Jalan Brantas dan Jalan Bromo, hingga setiap orang yang hendak ke Selecta atau ke Alun-alun dari arah Jalan Sudirman, pasti bisa melihat langsung dagangan miliknya.

Karena itu, beberapa bulan terakhir pembeli yang datang kebanyakan dari luar daerah, alias para wisatawan yang tengah berkunjung ke Kota Batu. “Dulu, tiga bulan pertama, yang beli full warga sekitar,” ungkap pria asli Batu itu.

Di kiosnya dia menjual berbagai bunga kering yang ia rangkai sendiri, meski bahannya beli ke Surabaya, seperti bunga plastik melati, bunga entung, gambas, dan tanaman ‘daun ganja’. Tak hanya bunga, ia juga menjual pot keramik, pot dari triplek, dan pot gerabah.

Untuk melati imitasi, Ihsan menjualnya seharga Rp 7.000, bunga gambas Rp 10.000, bunga entung Rp 7.000, tanaman daun ganja Rp 7.000 aneka pilihan, dan tanaman buah-buahan Rp 10.000.

Sementara pot bunga gerabah ia jual Rp 50 ribu sama dengan pot dari triplek hasil tangannya sendiri. Pot dari pasiran Rp 75 ribu sampai Rp 175 ribu tergantung bentuk dan ornamennya, dan pot keramik ia bisa jual hingga Rp 200 ribu.

“Rata-rata saya rangkai sendiri mas, jadi beli bahan ke Surabaya lalu saya padukan warna, saya lem, hingga jadi beberapa pilihan supaya pembeli bisa memilih,” sambungnya.

Di Bulan Suro (Muharram) seperti ini, ia menambahkan, biasanya penjualan menurun, karena jarang ada pengunjung. Namun di hari-hari normal rata-rata omzet penjualan mencapai Rp 500 ribu setiap harinya.

“Kalau sehari dua hari nggak laku sama sekali ya pernah, tapi sekali waktu pas lagi rame banget, pernah dapat Rp 5 juta sehari,” tukasnya bangga.-

Warta 12 Tawarkan Pilihan Hidup di Galeri Raos

Predator Oktober karya Gembyak (fathul)

MALANGVOICE – Empat belas perupa tergabung komunitas Warta 12 menggelar pameran lukisan dan seni instalasi di Galeri Raos, Jalan Panglima Sudirman, Kota Batu.

Ada 25 lukisan dan 2 instalasi yang dipamerkan dengan tema “Which Way” atau ”Jalan yang Mana”. Para perupa ini ingin menunjukkan berbagai jalan kesenian yang bisa dipilih, sebagai cermin sebuah kehidupan.

Ke 14 seninan ini adalah Anthony Wibowo, Agoes D Soe, Antonius S, Andi Harisman, Bondan Wahjoedi, BR Andre, Didik Mintadi, Esther, Feny Rochbein, Gembyak, Lilik Indrawati, Sandy, Sayekti Pribadiningtyas, dan St Rubi. Mereka memajang karyanya sampai malam ini.

Ora Er Labora karya Esther (fathul)
Ora Er Labora karya Esther (fathul)

Dua karya instalasi yang dipamerkan merupakan karya seniman terkenal asli Malang, Karyono Gembyak, yakni Salib Kehidupan dan Predator Oktober. Sedangkan 25 lukisan lain, terdiri aliran realis dan absurd mewakili 13 perupa lainnya.

Karyono Gembyak, saat ditemui MVoice, mengatakan, di Indonesia jalan berkehidupan terdiri dari berbagai pilihan. Mulai dari berbuat kejahatan hingga melakukan kebaikan-kebaikan.

Menurut pencipta Tentara Geni Pelajar (TGP) di Stadiun Gajayana ini, semua pilihan manusia sesuai dengan keyakinan. Sebagai seniman, ia dan kawan-kawannya menunjukkan jalan-jalan yang telah dan akan dipilih, meskipun kadang menjadi bumerang bagi kehidupan orang lain.

Dalam karya Predator Oktober, misalnya, Gembyak ingin menunjukkan bahwa beberapa orang memilih menjadi orang jahat pada saat Oktober 1965. Ia tidak menyalahkan salah satu kubu, namun semua orang yang memilih jalan kekerasan itu salah.

Sedangkan dalam instalasi Salib Kehidupan, sambung Gembyak, ia menambahkan gambar-gambar pewayangan yang sedang gembira. Ia ingin membeberkan, jika jalan salib yang dulu dilakukan dengan penuh derita, kini malah sebaliknya.

“Kalau dulu dalam menegakkan kebenaran, Yesus harus merasakan perihnya jalan salib. Namun kini, orang bersuka cita. Menemukan jalan salib sudah berbeda, sekarang orang penuh suka cita,” katanya resah.

Beberapa lukisan yang bisa dinikmati pengunjung seperti lukisan berjudul Puncak Keemasan karya Agus D Soe yang menggambarkan pengrajin batik sedang merampungkan dan memandangi karya megahnya.

Kemudian lukisan Sayekti Pribadiningtyas berjudul Temptation, melukis beberapa kuntum mawar merah yang memancarkan keteduhan. Ditambah lukisan seorang perempuan membawa alat musik yang juga meneduhkan, berjudul Saat Teduh karya Esther.

“Dari karya-karya ini, kami ingin menggambarkan kalau pilihan hidup itu tidak saklek, ada jalan-jalan yang harus kita lewati, dan semua itu kondisional,” tandasnya.-

Soal Wisata Malam, BNS Langganan Para Artis

Pintu masuk ke wahana baru BNS. (fathul)

MALANGVOICE – Batu Night Spectaculer (BNS) merupakan salah satu destinasi wisata malam di Batu. Tempat ini sering dikunjungi artis papan atas dan wisatawan mancanegara.

Saking seringnya artis berdatangan, Marketing BNS, Syahreal, bahkan sudah lupa siapa saja artis yang pernah ke sana. Ia hanya menyebutkan beberapa artis yang diingatnya.

Sebut saja Nikita Willy, Manohara, Arumi Bachsin, Arifin Putra, Lukman Hakim, Andika Pratama, Komeng, Adul, hingga Ahmad Dhani sekeluarga. Bahkan, mantan pimpinan KPK, Abraham Samad, pernah mampir pula.

“Wah sudah berapa artis ya? nggak menghitung mas. Sejak kemunculan BNS tahun 2008, puluhan artis sudah ke sini,” kata lelaki yang akrab di panggil Real ini saat ditanya nama-nama artis.

Ia menceritakan, pada awal pembukaan BNS, pihaknya sudah melakukan kerja sama dengan salah satu televisi nasional untuk menyiarkan acara “Jalan-jalannya” di BNS. Karena itu, wisata malam seluas 3,5 hektar ini sering menjadi jujugan artis.

“Kalau artis lain masih antre beli tiket, biasa-biasa saja. Beda sama Ahmad Dhani, ia langsung masuk saja ke BNS untuk melihat-lihat, berasa BNS ini milik keluarga sendiri kali ya,” tambah Real sembari tertawa.

Bukan hanya artis. BNS juga sudah menjadi kunjungan wajib beberapa wisatawan mancanegara. Beberapa negara seperti Amerika, Belanda, Inggris, Perancis, atau negara-negara Asean sudah menjadi langganan.

“Dari Sabang sampai Merauke sudah pernah ke sini, sepertinya dari seluruh benua juga sudah. Kami juga tidak mencatat detil mereka dari mana saja,” tandasnya.-

Bebek Bumbu Lima, Menu Khas Hotel Horison

Sous Chef, Luthfi Munandar, menunjukkan menu andalannya. (fathul)

MALANGVOICE – Ada masakan khas di Hotel Horison Kota Batu yang siap membuat konsumen kecanduan.

Salah satu menu andalannya adalah Bebek Bumbu Lima, yang dimasak menggunakan rempah-rempah khas Indonesia, makanan tersebut bisa menjadi salah satu tujuan wisata kuliner saat menginap di sana.

Sous Chef Hotel Horison, Luthfi Munandar, mengatakan, kualitas rasa masakan bebek itu tidak diragukan karena menggunakan lima bumbu rahasia sehingga kaya akan rasa. Ia jamin, makanan ini tidak bisa didapatkan di tempat lain.

Sous Chef, Luthfi Munandar, menunjukkan menu andalannya-

“Sebenarnya makanan ini adalah hasil mix atau campuran masakan chinese dan Indonesia. Daging bebeknya empuk, dipadukan dengan sambal rempah hasil racikan kami sendiri,” kata chef lulusan dua sekolah masak di Yogyakarta ini.

Bekerja selama 10 tahun sebagai koki, membuatnya mengerti keinginan pecinta kuliner. Karena itu, pria asal Klaten ini sering berinovasi dengan membuat makanan yang pas di lidah.

“Dalam penyajiannya, kami sediakan pula lalapan pok coi atau lebih dikenal dengan sawi sendok. Sehingga selain nikmat, juga menyehatkan,” tambah lelaki yang ternyata bercita-cita jadi jurnalis itu.

Ia menambahkan, selain sajian bebek, Hotel Horison juga menyediakan pilihan makanan lainnya, yakni Nasi Goreng Kampung. Ia sangat yakin, nasi goreng kampung sebagai makanan asli Indonesia juga dapat menarik minat konsumen.

“Saya beritahu suatu rahasia, kalau nasi goreng di suatu tempat enak, maka makanan lainnya pasti enak. Karena masak nasi goreng itu ada komponen yang tak bisa ditiru, seperti bumbu dan besaran api, harus terukur,” paparnya bersemangat.

Pecinta masakan Indonesia ini juga beralasan, tidak afdhol jika di restoran Indonesia malah tidak menyajikan masakan Indonesia. “Masakan chinese atau western itu penunjang saja. Jadi masakan nomor satu tetap Indonesia,” tutupnya.-

Sewakan Skuter di Pasar Parkiran, Hasilnya Lumayan Juga…

Khoriul Anam saat menunggu persewaan skuter miliknya di Pasar Parkiran (fathul)

MALANGVOICE – Ada berbagai macam usaha  di Pasar Parkiran, Jalan Sultan Agung, Kota Batu. Salah satunya  persewaan skuter yang berada di stan paling depan pasar.

Khoirul Anam, pemilik lapak persewaan itu mengaku sudah membuka usahanya sejak awal diresmikan Pasar Parkiran. Awal-awalnya sepi karena pasar tersebut belum terkenal. Tapi saat ini, usahanya sudah bisa diandalkan.

“Meski pun nggak ramai-ramai banget, tapi lumayan mas buat menyambung hidup. Dari pada kerja yang gak jelas,” kata Khoirul saat MVoice berkunjung ke lapaknya, malam ini.

Ia bercerita kalau lapak sewaannya hanya berukuran 4×3 meter. Beruntung  masih ada sisa lahan bisa untuk bermain skuter.

Khoirul memiliki 8 skuter yang disewakan Rp 7.000 sekali main selama 20 menit. Area bermainnya juga terbatas, tidak bisa digunakan di luar tempat yang telah disediakan.

“Kalau lagi liburan biasanya banyak yang sewa. Paling enggak dari sore sampai malam ada 40 anak yang sewa. Kalau begitu terus ya lumayan mas,” ucap lelaki asli Pendem, Kecamatan Junrejo ini sambil tertawa.-

Pasar Parkiran, Wisata Malam Murah Meriah di Batu

Tulisan Pasar Parkiran di pintu masuk

MALANGVOICE – Pasar Parkiran di Jalan Sultan Agung bisa menjadi salah satu alternatif wisata malam di Kota Batu. Selain menyediakan beberapa wahana permainan, tersedia pula berbagai macam kuliner untuk memanjakan lidah pecinta makanan.

Pasar ini hanya buka pukul 17.00 WIB sampai 24.00 WIB. Aneka bunga lampion bisa ditemui di sini. Meski tidak selengkap Batu Night Spectaculer (BNS), di Pasar Parkiran punya prestasinya sendiri sebagai wisata alternatif malam murah meriah.

Di dalam Pasar Parkiran, pengunjung bisa menikmati beberapa wahana seperti Rumah Kaca. Ada pula 3D Art foto 3 dimensi, ada pula wahana Happy Bus alias roda gila.

Sementara ratusan pedagang juga menjajakan jualannya di stand-stand yang telah disediakan, baik makanan dan minuman, pakaian dengan segala jenis dan aksesorisnya, maupun mainan.

Marketing Pasar Parkiran, Zainal Ahong, mengaku pengunjung ke Pasar Parkiran membeludak tiap akhir pekan dan liburan. Masuk ke sini pun, warga hanya perlu membayar karcis parkir sebesar Rp 2.000. Selebihnya gratis jika hanya jalan-jalan.

Marketing Pasar Parkiran Zainal Ahong
Marketing Pasar Parkiran Zainal Ahong

“Kalau siang kan mereka bekerja. Kalau pas liburan, siangnya mungkin ke tempat-tempat jauh, nah malam melepas lelah sini,” tebak Zainal saat ngobrol dengan MVoice, malam ini.

Dikatakan, Pasar Parkiran tidak hanya menyediakan barang-barang jualan. Di lokasi pasar, tersedia juga rumah baca gratis yang representatif. Disediakan pula free wifi, musala, dan toilet sehingga pengunjung akan kerasan dan nyaman.

“Setiap malam di sini juga ada live music. Berbagai grup band maupun solo pernah kami undang. Termasuk beberapa komunitas musik lain datang dari mahasiswa. Kami wellcome saja,” tambah lelaki yang akrab di sapa Ahong ini.

Sejak diresmikan Agustus 2015 lalu, memang pengunjung terus bertambah. Itupun kata Ahong, pemasaran pasar belum maksimal. Kalau iklan sudah dimaksimalkan, maka dimungkinkan pengunjung bisa datang dua kali lipat.

Setiap malam liburan, pengunjung pasar yang terletak di parkiran B1 Jatim Park ini kurang lebih 500 orang. Dari data hitung parkir sepeda motor, setiap malam dikeluarkan 200-an karcis. Sedangkan kunjungan rombongan menggunakan mobil sebanyak 100 unit.

“Kalau sudah penuh, parkiran bisa nyampek ke lokasi parkirnya Jatim Park wilayah B2. Kalau hari biasa ya cukup di sini,” sambungnya.

Live music disediakan di Pasar Parkiran
Live music disediakan di Pasar Parkiran

Bahkan seratusan pedagang kaki lima yang diberikan lapak di dalam, dimaksudkan untuk mewadahi mereka dalam satu wilayah wisata. Dengan demikian, PKL tidak akan berceceran di Kota Batu. Kata Ahong, hal ini sangat didukung oleh Pemkot Batu.

“Dulu kami sediakan 200 lapak, jadi ada 200-an pedagang. Tapi lama kelamaan mereka keluar dan ketemulah bagusnya memang cuma 100 lapak. Sisanya buat kursi-kursi makan di depan live music,” tandasnya.-

Cafe Mayo, Citarasa Istimewa Harga Mahasiswa

MALANGVOICE – Semakin banyak dan berkembang bisnis cafe di Malang, tidak menyulitkan warga mencari cafe yang asik untuk didatangi.

Seperti, Mayo, cafe di Jalan Jalan Puncak Borobudur, Ruko Center Point 8-B, adalah tempat cocok bagi yang suka nongkrong dan berwisata kuliner.

IMG-20151011-WA0002

Dengan pelayanan ramah dan profesional, pengunjung disodori pelbagai menu makanan dan minuman yang dijamin memanjakan lidah. Seperti Crepes Chicken Mushrooms, dan Crepes Sosis Spinach’s, keduanya menggunakan mayones lembut dan ditutup dengan roti tipis renyah.

IMG-20151005-WA0046

Sebagai cafe yang membidik kalangan mahasiswa dan pelajar, Mayo juga menyiapkan makanan istimewa tapi murah, yakni Chicken Gordon Bleu. Paduan ayam empuk dibalut roti dan kentang yang dihaluskan terpisah kemudian ditambah bayam dengan bumbu khas menambah cita rasa makanan Perancis itu.

IMG-20151011-WA0004

 

Menurut pemilik Mayo, Reza Dwi D, (23), ia memulai bisnis itu karena hobi kuliner. Bersama ibu, Untari Jarwati, (52), kemudian membangun Mayo pada akhir 2012 silam. “Daripada keliling cari makanan lain, mending bikin sendiri. Ibu juga bisa melampiaskan hobi masak di sini,” kata mahasiswa tingkat akhir di PTN Kota Malang.

IMG-20151011-WA0005-1

Hal itu terbukti, satu menu racikan sendiri adalah Marinara, semacam spaghetti yang dibuat menyesuaikan lidah jawa dan Itali menggunakan resep keluarga, dengan kombinasi seafood dan pengunjung bisa memilih level kepedasan sendiri.

Reza menambahkan, cafe yang memiliki konsep minimalis itu juga mempunyai menu andalan ice cream, ia menggunakan alat pencetak cone atau kerupuk ice cream sendiri, alhasil rasa berbeda dengan cone pada umumnya.

IMG_20151005_185113-1

Cafe yang buka pukul 11.00 – 22.00 WIB itu memiliki fasilitas untuk pengunjung, ada Wifi, Nobar tiap weekend dan akustik. Di lantai dua, juga terdapat ruang bersantai keluarga yang luas, bisa juga dipesan untuk acara khusus.

Nuswantara Artnival 2015 Tampilkan Atraksi Budaya Semua Provinsi

Ketua Yayasan Svaraseni Nusantara, Rachmatika Maharani (kanan). (Muhammad Choirul)

MALANGVOICE – Berawal dari keinginan melestarikan kebudayaan Nusantara, Yayasan Svaraseni Nusantara menggagas kegiatan bertajuk Nuswantara Artnival 2015.

Acara dijadwalkan berlangsung 27 – 29 November 2015, di Lapangan Agrokusuma Wisata, Batu, mengambil tema ‘Suara Semesta’.

Ketua Yayasan, Rachmatika Maharani, mengatakan, ajang kali ini melibatkan partisipasi seluruh provinsi di Indonesia, berkumpul, bertukar informasi, dan memperkenalkan berbagai produk budaya setempat.

“Rencananya ini jadi agenda tahunan. Tema Suara Semesta bermakna suara keindahan yang dihasilkan inspirasi semesra sebagai produk budaya dan identitas daerah, khususnya masyarakat tradisional,” kata Maharani, sapaan akrabnya.

Dikatakannya, Nuswantara Artnival berusaha memunculkan kembali kesenian tradisional kuno yang jarang dipublikasikan pada khalayak umum.

Selain menampilkan pertunjukan seni tradisional dari berbagai daerah, acara ini menyajikan pameran seni rupa instalasi, parade film Nusantara, sarasehan dan workshop, serta pertunjukkan lain yang menarik diikuti.

“Ini wadah apresiasi dan informasi bagi masyarakat luas berupa pertunjukan, merujuk pada pendataan dan pendokumentasian sebagai arsip kesenian tradisional original,” papar wanita berparas jelita itu.-

Libur Akhir Pekan, Nikmati Segarnya Air Sumber Maron

Pengunjung di Sumber Maron.(miski)

MALANGVOICE – Menikmati hari libur bersama keluarga dan kerabat, tidak perlu merogoh biaya tinggi. Sumber Maron di Desa Karangsuko, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang, salah satunya destinasi yang layak dikunjungi.

Wisata pemandian dengan aliran air alami dari sumber, bisa dinikmati semua kalangan. Mulai anak-anak, remaja hingga orang tua.
Sumber Maron2
Selain menikmati dinginnya air sumber, pengunjung bisa menikmati sensasi derasnya air yang terhubung langsung ke sungai. Ada pula flying fox bagi pecinta adrenalin.

Sederet warung milik warga sekitar pun hisa memanjakan lidah wisatawan. Mulai camilan ringan hingga masakan khas warga sekitar.

Di hari libur, lebih 2000 pengunjung memadati wisata yang juga dimanfaatkan untuk pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH).

Salah satu penjaga keamanan, Paisan, mengakui banyaknya pengunjung tidak hanya datang dari warga sekitar Malang Raya. Ada juga wisatawan dari Surabaya, Jember, dan Bandung.

“Pengunjung terpikat dengan airnya yang jernih dan dingin. Ditambah beberapa wahana lainnya,” kata dia kepada MVoice.

Sumber Maron mulai dibuka untuk wisata air sejak tahun 2011. Pengunjung ditarik tiket Rp 2000 ribu per orang. Namun, karena ada masalah di tingkat desa, akhirnya sebulan terakhir digratiskan.

Dinamakan Sumber Maron, menurut Paisan, cerita turun temurun dari seorang petualang melintas di sekitar sini di zaman penjajahan. Merasa haus, ia lantas mendatangi warga untuk meminta air.

“Masih ada kaitannya dengan Sumber Sirah. Di sekitar air sumber yang mengalir terdapat semacam kendi, separuh terpendam di tanah separuh lainnya berada di luar,” ceritanya.

Sempat warga berinisiatif memindah kendi tersebut ketika pembangunan pipa PLTMH. Namun, justru pecah dan warga kesurupan. ”Saat itu warga sepakat kendinya dibiarkan, masih ada mistisnya mas,” lanjut ia bercerita.-

Komunitas