Festival Kerontjong Nang Kajoetangan Bangkitkan Geliat Wisata Kampung Tematik

Festival Kerontjong Nang Kajoetangan. (Istimewa)

MALANGVOICE – Festival Kerontjong Nang Kajoetangan menjadi bukti geliat kebangkitan wisata kampung tematik di Kota Malang.

Digelar secara virtual pada Jumat (15/10), festival dibuka dengan tembang keroncong kemayoran, alunan nada lawas nan epik menyatu apik dengan lansekap sekitar rumah tertua di Kampung Kajoetangan yang menjadi stage utama festival kali ini. 

Wali Kota Malang, Sutiaji sangat mendukung gelaran ini.

“Aktivasi event secara kreatif di Kampung Heritage Kajoetangan inshaallaah turut membangkitkan optimisme wisata kita segera pulih”, ujar Wali Kota yang gemar menulis tersebut.

Virtual Event Festival Kerontjong nang Kajoetangan adalah bagian dari 27 event Kampung Tematik di seluruh Kota Malang sepanjang tahun 2021 yang diinisasi kolaborasi Pemerintah Kota (Pemkot) Malang melalui Dinas Pemuda, Pariwisata dan Olahraga (Disporapar) bersama Forum Komunikasi Kelompok Sadar Wisata (Forkom Pokdarwis), Pokdarwis Kajoetangan, Karang taruna, masyarakat setempat dan sejumlah komunitas.

“Jadi rangkaian kegiatan virtual ini adalah komitmen kita, insan pariwisata Kota Malang, untuk beradaptasi dan bangkit di tengah pandemi”, demikian ungkap Kepala Dinas Pemuda, Pariwisata dan Olahraga (Disporapar), Ida Ayu Made Wahyuni.

Secara terbatas, festival turut dihadiri langsung perwakilan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), termasuk meninjau kesiapan protokol kesehatan dan spot-spot unggulan di Kampung Heritage Kajoetangan.

Gelaran event kerontjong kajoetangan memang disinergikan dengan proses assesment Kota Malang sebagai salah satu peserta program Smart City dari Kementerian Kominfo yang mengambil tema pariwisata.

Tidak hanya menampilkan tembang-tembang keroncong kenangan, festival juga diperkaya dengan dialog santai terkait perkembangan keroncong di Kota Malang dan penyerahan buku Sejarah Keroncong Indonesia oleh Ketua Museum Musik Indonesia (MMI), Hengki Herwanto.

“Konsepnya memang jadul, termasuk ada kelompok keroncong sepuh” tambah Mila Kurniawati, ketua Pokdarwis Kajoetangan Heritage.

Terkait persiapan event, diakui Mila waktu persiapan relatif singkat.  Pun demikian Pokdarwis bersyukur bahwa event yang disiarkan melalui kanal youtube Inspire Media TV dapat berjalan lancar dan mampu mewarnai penguatan salah satu dari lima pilar wisata Heritage yang ditawarkan Kampung Kajoetangan.

“Kita juga sedang proses pengajuan QR Code pedulilindungi dan SOP Prokes. Harapannya tentu pandemi segera berakhir dan wisatawan kembali bisa berkunjung,” ujarnya.(der)

Mahasiswa Polinema Olah Limbah Kulit Jeruk Jadi Teh, Bantu Tangkal Covid-19

Orentea, produk mahasiswa Polinema. (Istimewa)

MALANGVOICE – Mahasiswa Politeknik Negeri Malang (Polinema) berhasil membuat inovasi mengolah limbah kulit jeruk peras menjadi produk bermanfaat. Produk itu diberi nama Orentea.

Berawal dari banyaknya limbah kulit jeruk dari para pedagang es yang berjualan di kawasan Pasar Besar Kota Malang dan Alun-Alun Kota Batu, mahasiswa itu melakukan riset dan mengolah limbah dengan baik.

Dibimbing Dra. Anik Kusmintarti, M.M., lima mahasiswa yang terdiri dari Prasasti Valentina Gustama (D-III Teknik Kimia), Rizki Bagus Maulana (D-III Teknik Kimia), Nanda Ristina Putri (D-III Teknik Kimia), Fadilah Aurelia Arifin (D-IV Akuntansi Manajemen), dan Alvindha Wahyu (D-III Teknik Telekomunikasi) melakukan inovasi melalui Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Kewirausahaan.

Tim Orentea. (Istimewa)

Prasasti Valentina Gustama, mengatakan, timnya melakukan studi literatur dan menemukan hasil riset dari UI dan IPB yang menyatakan kandungan senyawa hesperidin, yaitu flavonoid pada kulit jeruk ternyata mampu meningkatkan imunitas dan menangkal pertumbuhan betacoronavirus termasuk Sars-CoV-2 penyebab Covid-19.

“Selain itu, banyak senyawa lain pada kulit jeruk yang sangat bermanfaat bagi tubuh seperti polifenol, bioflavonoid, dan juga vitamin C yang tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan buahnya. Hal ini mendorong kami untuk memanfaatkan limbah kulit jeruk untuk menjadi produk olahan yang bermanfaat bagi masyarakat dan mengatasi permasalahan lingkungan,” ungkap Ketua Tim, Prasasti Valentina Gustama.

“Untuk menjaga kandungan nutrisinya, kami menggunakan alat food dehydrator. Kami juga menambahkan daun mint lokal kering untuk menambah cita rasa dan memperkaya manfaat serta memunculkan efek relaksasi,” kata mahasiswa yang akrab dipanggil Valent ini.

Orentea sangat bermanfaat di masa pandemi karena dapat meningkatkan imunitas tubuh dan meredakan stress.

Anik Kusmintarti, mengatakan kegiatan ini menjadi media pembelajaran bagi mahasiswa untuk meningkatkan kompetensi wirausaha mahasiswa, meliputi keterampilan kewirausahaan, keterampilan teknikal, dan keterampilan manajemen dengan merealisasikan ide menjadi bisnis riil.

Selain produksi, tim ini juga fokus pada pemasaran produk melalui e-commerce dan media sosial. Saat ini orentea dalam tahap survey izin PIRT Dinas Kesehatan, halal MUI, dan hak merek pada Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI).

“Orentea dijual dengan harga 20 ribu rupiah per kotak. Pada bulan Juli penjualan orentea sudah lebih dari 400 kemasan untuk wilayah Jawa Timur, Kalimantan Nusa Tenggara, Sumatera dan sudah dikirim keluar negeri,” tutup Valent.(der)

Manfaatkan Ekosistem Digital Bantu Kembangkan Kuliner Indonesia Timur, Se’i Sapi Kana

Head Marketing Se'i Sapi Kana Yogyakarta. (Istimewa)

MALANGVOICE – Kuliner Se’i merupakan makanan khas asal Kupang, NTT. Karena kepopulerannya, se’i banyak dijumpai di beberapa tempat termasuk di Jawa.

Olahan se’i yang menggunakan daging babi, kini juga banyak diubah menggunakan daging sapi. Salah satu pionir menggunakan daging sapi adalah Se’i Sapi Kana.

Saat pertama kali diluncurkan di Yogyakarta tahun 2019 lalu, Se’i Sapi Kana terus mempopulerkan masakan khas Indonesia Timur ini dengan menyediakan berbagai macam variasi menu.

Dari menu sambal, mereka mempertahankan sambal asli dari Indonesia Timur, Sambal Lu’at sebagai menu andalannya dan juga menyediakan varian lain seperti rica-rica, lada hitam, sambal hijau dan sambal matah. Variasi menu ini tidak disangka sangat digemari dan diterima oleh masyarakat yang lebih luas dan berkontribusi atas popularitas Se’i Sapi Kana secara umum.

Lebih lanjut, perjalanan membawa Se’i ke industri kuliner Indonesia juga didukung dengan kehadiran bisnis dan peluang di ranah digital.

Andra Lesmana, selaku founder dari Sei Sapi Kana menyatakan, misi untuk mempopulerkan hidangan Se’i di seluruh nusantara telah berhasil dengan dukungan dari ekosistem digital yang mumpuni.

“Kita sebagai pelaku usaha diharapkan untuk bisa fokus dengan menganalisis tren secara akurat dan menerapkan pembaruan untuk pasar, yaitu bagaimana kami menerapkan strategi baru untuk melayani masyarakat yang harus berkegiatan di rumah misalnya. Selain itu pelaku usaha juga harus mempunyai mental yang luar biasa karena selain fokus yang membedakan kita dengan pengusaha yang lain adalah mental,” katanya dalam rilis yang diterima MVoice.

Banyubiru, selaku Head of Marketing dan RnD dari Se’i Sapi Kana menyatakan, pengembangan bisnis banyak menggunakan media sosial sebagai alat promosi.

“Kami menjalankan strategi tersebut untuk tujuan pemasaran dan periklanan. Selain media sosial, Se’i Sapi Kana juga terus memanfaatkan peluang yang diberikan oleh platform digital yang menawarkan layanan pesan-antar online seperti GrabFood untuk menjangkau khalayak yang lebih luas. Alhasil sekarang konsumen kami dapat menikmati kelezatan Se’i Sapi Kana hanya dengan beberapa kali klik saja di aplikasi GrabFood,” imbuhnya.

Terbukti dari kehadiran Se’i Sapi Kana di platform digital menghasilkan awareness atau kesadaran pasar yang lebih baik, dan juga mendorong penjualan dine-in.

Dari segi awareness pasar, dua atau tiga tahun lalu, Se’i Sapi adalah menu yang cukup sulit ditemukan di kalangan masyarakat Indonesia. Eksposur dari GrabFood telah membantu Se’i Sapi Kana dalam mempopulerkan makanan ini di kalangan pengguna Grab. Kini masyarakat bisa menikmati hidangan ini di 100 gerai di kota-kota seperti Yogyakarta, Jakarta, Semarang, Malang, Bali dan kota lainnya di seluruh Indonesia.

Ketika Se’i Sapi Kana mencapai puncak popularitasnya, sulit untuk mengelola permintaan yang masuk untuk layanan dine-in. GrabFood berperan dalam menyokong operasional Se’i Sapi Kana. Kini, proporsi pesanan dine-in dan GrabFood di Se’i Sapi Kana seimbang, bahkan kadang-kadang lebih mengarah ke GrabFood dengan perbandingan 60:40.

Dalam perjalanannya, Se’i Sapi Kana juga bekerja sama dengan Account Manager GrabFood untuk mengembangkan menu dan paket yang sesuai dengan permintaan konsumen dan promosi menarik.

Banyu juga menjelaskan bagaimana dukungan dari GrabFood juga telah mempengaruhi strategi bisnis dan meningkatkan layanan dine-in Se’i Sapi Kana,

“Bagi kami, hal yang perlu diperhatikan adalah menciptakan keseimbangan antara promosi yang tersedia di platform pengantaran online seperti GrabFood dan yang tersedia di gerai offline. Kami menemukan bahwa kehadiran kami di platform online memang mendorong konsumen untuk ke toko offline kami,” jelasnya.

Meskipun telah mencapai titik kesuksesan perkembangan bisnisnya, Se’i Sapi Kana tidak mudah puas dengan pencapaian tersebut dan terus menunjukan kegigihannya dalam mempelajari wawasan bisnis baru.

Melalui webinar GrabAcademy dari GrabFood, Se’i Sapi Kana mendapatkan kesempatan untuk bisa berbagi tentang perjalanan bisnisnya dengan sesama pelaku UMKM lainnya.

Hadi Koe, Head of Marketing GrabFood juga menekankan bagaimana Grab menciptakan ekosistem digital yang kondusif untuk membantu pelaku UMKM mengembangkan bisnisnya di ranah digital.

“Hrapannya, program ini dapat membantu mitra merchant mengembangkan menu baru untuk memanjakan konsumen. Lewat inisiatif dan dukungan ini, GrabFood selalu berusaha untuk memberdayakan para mitra merchant dan menjadi platform terbaik bagi pelaku UMKM. Se’i Sapi Kana adalah salah satu mitra merchant kami yang mampu memanfaatkan inovasi berbasis teknologi yang telah kami rancang dan kami harap untuk terus bisa membawa semangat ini ke lebih banyak pelaku UMKM di platform kami,” tandasnya.(der)

Jembatan ala Eropa, Kentalkan Suasana Kayutangan Heritage

Jembatan Kayutangan Heritage. (Istimewa)

MALANGVOICE – Suasana Berbeda terlihat di Kawasan Kampung Kayutangan Heritage, Kota Malang. Gambaran kampung yang sebelumnya kumuh, kini menjadi cukup menarik dan elegan.

Terlihat cukup banyak perubahan mulai dari jalan poros di pintu masuk utama, di setiap sudut kampung cukup banyak rumah-rumah dengan arsitektur zaman dulu.

Lebih menariknya lagi, terdapat satu jembatan yang ada di bantaran Sungai Sukun, memiliki desain ala Eropa dengan beberapa coretan gambar rumah di tembok dan lampu hias sebagai pendukung nuansa heritage.

Perubahan ini, setelah adanya pelaksanaan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU), yang dikerjakan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

“Pembangunan Jembatan ala Eropa ini terealisasi tujuh bulan lalu, saat pelaksanaan program Kotaku. Lalu pak wali pun sempat survey kesini dan akhirnya mulailah dibangun jembatan ini. Baru sekitar sebulan yang lalu jembatan ini akhirnya selesai dikerjakan,” ujar Wakil Ketua Manajemen Kampung Kayutangan Heritage, Herman, Ahad (30/5).

Setelah, jembatan ala Eropa ini selesai dikerjakan, warga pun terdorong untuk mulai menata dan menginovasi. Seperti, rencana pembuatan kapal kecil di sungai hingga pembuatan dam, sebagai penunjang wisata di kawasan itu.

“Jadi saat ditutup kan airnya naik, nanti barulah kapal kita taruh dan wisatawan bisa bersantai diatas kapal itu,” tuturnya.

Selain itu, untuk gambaran atau lukisan yang ada di tembok itu nantinya akan dilanjutkan oleh pihak ketiga sebagai penanggung jawab sekaligus pengerjaan.

“Lukisannya sendiri nanti akan dibikin nuansa heritage zaman dulu ya. Biar kesannya lebih dalam lagi. Itu di semua tembok yang masih kosong,” tambahnya.

Lebih lanjut, Herman Mengatakan, akan ada pemberian ornamen mulai dari, bunga-bunga hingga papan petunjuk sebagai pelengkap.

“Ini nanti dari pihak ketiga yang membantu. Keinginan kita bisa menambah bunga-bunga di pintu masuk, terus lampu juga dan kemudian membikin tempat loket hingga papan petunjuk,” kata dia.

Herman menambahkan, akan membuat manajemen kuliner, saat kawasan Kampung Kayutangan Heritage yang saat ini ditutup karena pandemi covid-19 kembali dibuka.

Sebagai upaya antisipasi, agar suasana jembatan yang sudah bagus dan bersih tidak kembali terlihat kumuh.

“Jualan didalam rumah, tidak boleh dijalanan jembatan ini. Nanti akan kita data dan kita buatkan plakat yang seragam dan pastinya tetap berkonsep heritage. Setelah itu, nantinya disepanjang aliran sungai ini akan kita bersihkan semua dibantu oleh pihak ketiga agar lebih indah lagi,” tandasnya.(der)

Solusi Makan Praktis, Enak, dan Sehat, Frozen Box Malang Semakin Diminati

Olahan makanan produk Frozen Box Malang. (deny rahmawan)

MALANGVOICE – Malang dikenal dengan banyak sekali produk kuliner. Mulai jajanan pasar hingga makanan restoran atau siap saji. Di masa pandemi Covid-19 saat ini, banyak usaha kuliner menciptakan inovasi agar bisa tetap survive, salah satunya makanan frozen food.

Ya, salah satu olahan makanan beku milik Frozen Box contohnya. Berawal dari ide membuat makanan agar bisa bertahan lama, ternyata digemari banyak orang.

Gurame bumbu kuning Frozen Box Malang. (deny rahmawan)

Tim marketing Frozen Box, Riza Alfianto, mengatakan, produknya ini bisa tahan selama enam bulan di dalam freezer dan praktis langsung dimasak.

“Selama pandemi kami mencoba mengolah bahan sendiri dan memasarkan ke teman-teman, alhamdulillah ternyata diterima dengan baik. Kemudian kami coba terjunkan ke pasar dan hasilnya bagus,” kata Riza di kantor ruko Jalan Wilis Kavling 4, Kelurahan Gadingkasri, Kecamatan Klojen, Kota Malang,

Riza mengatakan, selama Ramadan ini penjualannya meningkat drastis. Disebutkan seperti olahan gurame selama April bisa terjual 300 bugkus, lele bumbu kuning 150 bungkus, dan lele fillet bisa mencapai 200 bungkus.

“Yang paling banyak permintaan ini ada lele fillet dengan harga 35 ribu rupiah per 250 gram. Pesananya mencapai 200 bungkus di awal bulan ini, karena kami ada bonus tepung bumbu biar pembeli lebih mudah untuk mengolah,” jelasnya. Hal itu belum ditambah olahan lain seperti ayam fillet dan sayap.

Selain tahan lama, produk Frozen Food ini dibuat menggunakan bahan pilihan. Semua merupakan budidaya sendiri hasil kerja sama petani dengan sistim pakan organik. Kerja sama ini sekaligus membawa keuntungan bagi petani yang kehilangan pasokan selama pandemi.

“Jadi kami bisa klaim makanan ini sangat sehat tanpa bahan pengawet,” ujarnya.

Frozen Box mendatang akan melakukan ekspansi penjualan ke kota-kota besar. Penambahan menu juga akan dilakukan, seperti ikan dori, kakap, dan kerapu.

“Penjualan selama ini melalui reseller dan langsung melalui akun @feozenboxmalang serta banyak mitra yang tersebar di Malang. Selanjutnya semoga bisa merambah ke kota-kota besar karena tidak ada masalah soal pengiriman jarak jauh,” tandasnya.(der)

Rayakan Idulfitri di Hotel Tugu dengan Menyantap Kambing Panggang Suku Bedouin

Kambing Guling Bang Jamil yang dipanggang dengam baluran rempah. (Istimewa)

MALANGVOICE – Menyambut Idul Fitri 1442 H, Hotel Tugu Malang menyiapkan menu istimewa. Jika biasanya opor ayam, kali ini kuliner yang disiapkan lain dari yang lain.

Menghadirkan “Lamb and Ketupat Festivities”, Hotel Tugu menyajikan menu spesial ini mulai 11-31 Mei 2021 di Melati Restaurant yang juga melayani Catering & Hampers.

“Pastinya kami ingin berbagi aneka ragam masakan daging kambing lezat dan ketupat yang sudah menjadi makanan khas Idul Fitri,” kata Media Relation Hotel Tugu Malang, Budi Sesario Saputro.

Dalam keterangan tertulisnya kepada malangvoice.com, Kamis (6/5), Budi menambahkan, pihaknya menyiapkan menu spesial Kambing Panggang Suku Bedouin.

“Menu ini berupa kambing muda yang juicy lalu dipanggang dengan lapisan daun kurma di antara dua lempengan hot stone,” terangnya.

Ada lagi Kambing Guling Bang Jamil dengan daging kambing Australia yang dipanggang dengan baluran rempah istimewa racikan chef.

“Masih seputaran kuliner kambing, kami sediakan juga Ketupat Gulai Iga Kambing Muda. Menu ini sangat nikmat dengan gulai kambing, sate kambing, kerupuk ikan, kecap manis, sambal dan jeruk nipis,” ujarnya.

Bagi yang kurang berselera dengan menu daging kambing, sudah disiapkan Ketupat orem-orem Malang yang disajikan dengan orem–orem tempe khas Malang beserta udang goreng kering, sambal hijau dan peyek germut.

“Selain aneka ragam ketupat, Nasi Kuning Bebek Goreng bumbu Lengkuas juga menambah keragaman menu spesial Idul Fitri kali ini,” sambungnya.

Suasana Idul Fitri kali ini yang berbeda karena tak bisa mudik, justru dianggap peluang bagi Hotel Tugu Malang dengan tawaran paket bermalam ‘Eid Holiday Deal’ dan ‘Dreaming of  Vacation’.

Manjakan diri dengan pengalaman bermalam tak terlupakan, termasuk sarapan Idul Fitri nan mewah, jamuan Afternoon Tea, serta makan malam romantic untuk berdua atau menikmati BBQ bersama keluarga dan orang terkasih.

“Kami juga menyediakan pilihan aktivitas untuk mengisi waktu luang para tamu seperti merangkai bunga, bike tour, dan  private antique collection tour,” ujarnya.
 
Selain itu, Hotel Tugu Malang juga memberikan pilihan “Dine Anywhere You Desire” dengan ragam kuliner menggiurkan dari dua restoran.

Tidak main-main, dua restoran ini telah mengantongi awards best interior oleh Restaurant Guru, yaitu Melati Restaurant dan SaigonSan Restaurant.

Memiliki ragam venue tematik nan unik, tamu dapat memilih lokasi bersantap yang sesuai dengan mood dan preferensi sehingga terasa seperti di rumah sendiri. Mulai dari makan siang dinaungi pohon-pohon palem yang rindang, bersantai menikmati afternoon tea di SaigonSan Rooftop, hingga makan malam romantis di tepi kolam dengan lilin-lilin cantik.(end)