Tertantang Daerah Wisata, Wikacell Sasar Kota Apel

Launching cabang pertama Wikacell di Lippo Plaza Batu, Sabtu (25/11). (Aziz Ramadani/MVoice)
Launching cabang pertama Wikacell di Lippo Plaza Batu, Sabtu (25/11). (Aziz Ramadani/MVoice)

MALANGVOICE – Wikacell resmi buka cabang pertamanya di Kota Batu, tepatnya di Lippo Plaza Batu, Sabtu (25/11). Grand launching digelar berbarengan dengan ulang tahun ke-6 Lippo Plaza Batu.

Owner Wikacell, Alfian Wika Cahyono, mengatakan, dipilihnya Kota Batu dengan harapan dapat memenuhi kebutuhan, handphone, gadget dan laptop berkualitas premium. Sehingga masyarakat Kota Batu tidak perlu lagi jauh ke Kota Malang.

“Apalagi Kota Batu sebagai kota wisata diharapkan semakin menambahkan jumlah kunjungan wisatawan,” kata Wika.

Wikacell, lanjut dia, menyediakan berbagai kebutuhan gadget seperti ponsel pintar ternama seperti Apple, Samsung, Lenovo, Asus, Oppo, Vivo, LG, Xiaomi dan masih banyak lagi.

“Kami juga menyediakan produk aksesori berkelas, ditambah juga menyediakan drone dan aksesori premium lainnya,” bebernya.

Wika menambahkan, Wikacell Lippo Plaza Batu hadir dengan konsep futuristik baik dari segi desain maupun layanan. Yakni menghadirkan sentuhan live display untuk memberikan pengalaman berbeda saat berbelanja.

“Kami ingin menghadirkan konsep display tanpa etalase. Semua bisa dicoba langsung,” tutupnya.(Der/Aka)

Warga Berbondong-bondong Jual Emas Jelang Masuk Ajaran Baru

Jual beli Emas perhiasan di salah satu toko emas Pasar Besar Malang. (Lisdya Shelly)
Jual beli Emas perhiasan di salah satu toko emas Pasar Besar Malang. (Lisdya Shelly)

MALANGVOICE – Usai Lebaran Idul Fitri 2018 dan sepekan menjelang tahun ajaran baru sekolah, sejumlah toko perhiasan di Pasar Besar Kota Malang diserbu warga.

Saat ditemui MVoice, Minggu (8/7) di salah satu toko emas, Bulan Purnama terlihat sejumlah warga mengaku terpaksa menjual emas perhiasan lantaran terdesak biaya sekolah anak-anaknya. Meski begitu, tak sedikit warga mengeluh disebabkan kerugian sepuluh persen dari harga beli.

Salah satunya yakni Linda (30), ia mengaku rela jika perhiasannya dijual. “Ya, terpaksa saya menjual kalung karena untuk anak saya masuk Sekolah Dasar (SD). Daripada anak saya tidak sekolah, jadi saya rela rugi sepuluh persen,” ujarnya kepada MVoice.

Sementara itu, staff toko emas Bulan Purnama, Zaenal mengatakan jika saat ini kenaikan penjualan meningkat 50 persen dibanding hari biasanya.

“Kalau menjelang Idul Fitri itu banyak yang beli kalau sekarang itu banyak yang menjual,” ujar Zaenal.

Sekadar diketahui, harga emas dunia saat ini berkisar 580 ribu rupiah per gram, sementara untuk kandungan emas 40 persen seharga 200 hingga 300 ribu rupiah per gram.

Lebih lanjut, menurut Zaenal, meningkatnya warga yang menjual perhiasan emas ini diperkirakan akan berlangsung hingga beberapa hari kedepan.

“Biasanya berlangsung hinga hari pertama atau kedua masuk sekolah,” pungkasnya.(Der/Aka)

Disbudpar Kota Malang Gandeng Pelaku Ekonomi Kreatif

Heri Sunarko saat mengisi acara pembinaan dan pelayanan pelaku ekraf kota Malang. (Lisdya/MVoice)
Heri Sunarko saat mengisi acara pembinaan dan pelayanan pelaku ekraf kota Malang. (Lisdya/MVoice)

MALANGVOICE – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang menggandeng Ekonomi Kreatif (Ekraf) untuk menciptakan kolaborasi ekosistem positif di Kota Malang.

Kegiatan ini merupakan yang pertama kali dilakukan Disbudpar Kota Malang, yang diselenggarakan di Hotel Atria Malang, Kamis (8/2).

Menurut Kabid Pengembangan Produk dan Promosi Pariwisata Disbudpar Kota Malang, Heri Sunarko, kegiatan yang dihadiri 110 pelaku ekraf ini terdiri dari subsetor, yakni animasi, film, seni pertunjukan, kuliner dan fashion.

“Mereka ini kami satukan salah satunya mendapatkan sosialisasi Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) langsung dari Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) pusat,” ujar Heri.

Di sisi lain, Disbudpar Kota Malang memfasilitasi HAKI untuk 50 orang, dan mendapatkan HAKI free dari Bekraf pusat yang terpilih dari Disbudpar Kota Malang.

“Mereka terpilih sejak Indonesian Creative City (ICC), yang waktu itu Malang sebagai tuan rumah, ini yang kemudian kami saring, nah mereka yang mendisplay barangnya keluar, dengan adanya HAKI ini mereka tidak perlu waswas brandnya diambil orang,” pungkasnya.(Der/Ery)

Dusun Brau Suplai Lima Ribu Ton Susu Segar ke Bali

Patung sapi yang diletakkan di sepanjang jalan di Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kota Batu (Foto: Ayun/MVoice).
Patung sapi yang diletakkan di sepanjang jalan di Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kota Batu (Foto: Ayun/MVoice).

MALANGVOICE – Potensi susu segar memang menjadi penghasilan terbesar warga Dusun Brau, Kota Batu. Tingginya permintaan susu dari luar daerah membuat desa wisata sapi perah ini terus mengembangkan ternak yang berada di sana.

Selain menyuplai kebutuhan susu di Kota Batu, Desa tersebut ternyata telah mengekspor susu yang dihasilkan dari sapi yang tergabung di koperasi desa setempat.

Hal mengejutkan dari desa yang letaknya terpencil tersebut rupanya masih langgeng menjadi penyuplai susu segar untuk pabrik Keju di Bali.

Ketua Koperasi Margo Makmur Mandiri Brau Muhammad Munir mengatakan, sejak dibangunnya Koperasi tersebut, produksi sapi di Dusun Brau terus meningkat. Dari data diketahui jumlah total warga yang tinggal di sana sebanyak 450 jiwa. Sedangkan untuk jumlah sapi perah yang dipelihara warga sebanyak 900 ekor.

“Ya, yang produktif untuk penghasil susu hanya 600 ekor saja.

“Dan, kami bisa mengirim sekitar lima ton perminggu ke Bali untuk diolah menjadi keju,” sambungnya.

Dari 600 ekor susu tersebut ia memastikan perhari mampu memproduksi tiga ribu liter perhari. Itu hanya untuk stok di kemitraan yang berada di Kota Batu saja.

Lebih lanjut Munir mengatakan, ketelatenan dalam merawat sapi tidak mudah. Selain menjaga sapi agar tidak stress, asupan gizi untuk makanan sapi juga diperhatikan betul olehnya.

Oleh sebab itu, tak heran jika banyak para pelajar hingga mahasiswa datang ke peternakannya hanya untuk melakukan penelitian dan edukasi.

“Harus berhati-hati, karena jika sapi tersebut sudah stress maka sedikit produksi air susunya. Selain itu makanan yang pas juga diperlukan, kami bikin sendiri untuk pakannya,” tandasnya.(Hmz/Aka)

Sharing And Caring Bersama Apartemen Taman Melati Malang

Acara Sharing and Caring apartemen Taman Melati Malang. (deny)

MALANGVOICE – Tak terasa Ramadan akan berakhir. Di bulan suci ini, umat Muslim masih banyak yang tak ingin ketinggalan berlomba melakukan kebaikan, salah satunya kegiatan “Sharing & Caring” bersama apartemen Taman Melati Malang.

Dengan mengundang puluhan anak panti asuhan Al Salman, mereka diajak berbuka bersama serta berbagi kebahagiaan dengan diberi santunan dan bingkisan Hari Raya Idul Fitri di lokasi proyek pembangunan Taman Melati, Jalan MT Haryono 19, Dinoyo. Hal itu sebagai wujud kepedulian kepada anak-anak kurang beruntung di Kota Malang.

Project Manager Property Taman Melati Malang, Idhom Bachtiar turun langsung memipin kegiatan sosial itu didampingi lurah serta ketua RT/RW setempat.

Idhom berharap kegiatan ini bisa bermanfaat dan terus dilanjutkan sebagai wujud tanggung jawab mengayomi warga di lingkup Kelurahan Dinoyo, Kota Malang.

“Kami manfaatkan momen Ramadan tahun ini dengan berbagi kebahagiaan dan semoga bermanfaat. Kami juga ingin kulonuwun pada warga sekitar,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, sebuah balon udara raksasa diterbangkan sebagai simbol letak di mana apartemen Taman Melati akan dibangun. Hal itu juga bertujuan bagi calon penghuni dan investor untuk memudahkan serta menantau perkembangan pembangunan yang dilakukan PT Adhi Persada Properti, yang merupakan anak perusahaan BUMN, PT Adhi Karya.

Penerbangan itu dilakukan bersama seluruh jajaran direksi PT Adhi Persada Properti sebagai penutup serangkaian acara. “Kami beri bukti serius pada perkembangan proyek apartemen ini sebagai hunian eksklusif, khususnya para pelajar di Kota Malang,” tandasnya.

Berkat Zugos Karya Mahasiswa UB, Tingkat Kekeruhan Air Limbah Rumah Tangga Berkurang

Tim mahasiswa penemu Zugos. (istimewa)
Tim mahasiswa penemu Zugos. (istimewa)

MALANGVOICE – Empat mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (UB) Malang membuat alat penyaring limbah berdesain zig-zag. Alat yang diberi nama Zugos atau Zig-zag Ultra Grey Water dengan metode Organic Sand Filter (O-sandfil) tersebut berhasil menurunkan pH dan kekeruhan air limbah rumah tangga.

Mereka yang berperan dalam inovasi ini yaitu Siska Rahmadani, Ayu Khurotul Aini Amalia, Dwi Laksana Aji Putra, dan Yayang Saputra, didampingi Dosen Pembimbing Dr Eng Tri Budi Prayogo ST MT. Inspirasi pembuatan Zugos tak lepas dari keprihatinan terhadap air limbah rumah tangga yang langsung dibuang tanpa melalui penyaringan terlebih dahulu.

Kondisi ini diperparah dengan banyaknya rumah bertingkat. “Pada awalnya limbah bukan masalah besar, namun akibat pertumbuhan penduduk yang pesat maka terjadilah peningkatan limbah cair rumah tangga,” kata Ayu. Tingkat limbah pada sungai- sungai di Indonesia yang mencapai 70-75 persen inilah yang mendorong mereka menciptakan sebuah alat penyaring air limbah rumah tangga, khususnya untuk rumah bertingkat.

Zugos sendiri terdiri dari kotak penampungan yang berisi serbuk biji kelor yang merupakan filter pertama dalam penyaringan. Setelah kotak terdapat pipa yang didesain secara zig-zag. Di dalam pipa tersebut terdapat filter pasir, zeolit, arang, dan ijuk. Kemiringan dari pipa zig-zag kurang lebih 30 derajat kemiringan dengan panjang dua meter dan diameter tiga inchi. Air limbah dari kamar mandi yang tersaring setidaknya dapat digunakan menyiram tanaman.

“Serbuk biji kelor belum banyak dimanfaatkan di Indonesia. Kami memilih serbuk biji kelor karena mengandung zat – zat yang dapat menurunkan pH serta dapat menurunkan tingkat kekeruhan. Kedepannya kami berharap bisa mengembangkan alat ini agar lebih baik lagi dalam pengolahan air limbah menjadi air bersih,” papar dia.


Reporter: Anja Arowana
Editor: Muhammad Choirul Anwar
Publisher: Yunus Zakaria

Mimpi Besar Ibu Rumah Tangga Ubah Pola Hidup Kota Batu Untuk Mencintai Lingkungan

Gung Endah dengan EE di tangannya dan jurigen berisi fermentasi EE dibelakangnya. (Aan)

MALANGVOICE – Langkah Malangvoice.com disambut ramah di kediaman Gung Endah. Rumah yang asri dengan hiasan banyak tanaman serta bau wangi dari semerbak bunga itu bertempat di Perumahan Puri Safira, Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo Kota Batu.

Gung Endah (56) adalah Mentor Eco Enzym (EE) di berbagai kota dan provinsi di Indonesia. Ia juga melayani permintaan beberapa kelompok pecinta lingkungan untuk sosialisasi EE secara virtual dengan gratis.

EE adalah larutan serba guna, hasil penelitan selama 30 tahun seorang akademisi dari Thailand Dr. Rosukon Poompanvong. Larutan ini merupakan campuran bahan sampah organik yang difermentasi selama tiga bulan.

Gung dengan antusiaa menjelaskan manfaat EE antara lain menurunkan bau tak sedap pada sampah organik, pembersih air, dan handsanitizer alami. Biaa juga untuk penyembuh luka bakar dan gores, bahan mencuci lantai, pengganti sabun dan sampo, dan masih banyak lagi.

Saat ini ia fokus menggunakan EE untuk membenahi pengolahan sampah di Kota Batu. Ia menggerakkan 500 lebih orang di Kota Batu untuk mengelola sampah sejak dari rumah.

“Kalau semua orang di Kota Batu tergerak untuk mengolah sampah organik dari rumah, di TPST 3R atau TPA Tlekung bisa tidak ada sampah organik sama sekali. Jadi mereka bisa fokus untuk daur ulang sampah anorganik saja,” jelas Nenek bercucu dua yang mempunyai semangat remaja itu.

Ia berhasil menggerakkan 500 lebih orang itu sejak September tahun 2020. Jumlah orang yang ia gerakkan terus bertambah di Kota Batu. Perlahan tapi pasti mimpi Gung untuk mengolah sampah di Kota Batu sejak dari rumah menggunakan EE bisa menjadi pergerakan masif.

Gung melakukan perjuangannya semata-mata karena rasa cintanya terhadap lingkungan. Ia sering mendanai sendiri pergerakannya untuk kelestarian lingkungan.

Perjuangannya ini terwarisi dari ayahnya yang seorang veteran 1945 dari Lumajang. Perjuangan ayahnya untuk kebaikan bersama hingga berani mengorbanakan segalanya tertanam dalam lubuk hatinya.

Bahkan, perempuan kelahiran 10 Oktober 1964 itu telah bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu untuk menyemprot EE di TPA Tlekung dua kali. Penyemprotan itu terbukti menurunkan kadar amonia dan metana dari sampah.

“Metana ini merupakan zat yang sangat berbahaya bagi ozon di Bumi. Jika kadarnya tidak dikelola akan menjadi polusi udara yang menyebabkan pemanasan global,” tegas perempuan beranak dua kelahiran Desa Ampelgading, Kabupaten Malang itu.

Kabid Kebersihan dan Pertamanan DLH Kota Batu, Imron Suyudi melontarkan secara lisan untuk menjalin kerja sama dengan Gung. Hal inilah yang diinginkan Gung supaya Pemkot Batu lebih serius untuk menggunakan EE.

Perjuangan Gung pun telah menular kepada binaannya. Kelompok relawan binaannya secara mandiri menyemprot TPS dan TPST di desanya masing-masing. Tepatnya di Desa Sumberejo, Kecamatan Batu, Kota Batu dan Desa Dadaprejo, Kecamatan Junrejo Kota Batu.

Tidak hanya di Kota Batu, berkat kegigihannya mengajarkan pembuatan EE dan pemaparan kebermanfaatannya RS Husada Utama, Kota Surabaya memanfaatkan EE untuk berbagai hal. Misalnya, mendaur ulang sampah organik rumas sakir untuk dijadikan EE, lalu hasil EEnya dibuat membersihkan lantai, piring, dan berbagai macam kegunaan lainnya.

Perempuan yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga itu bermimpi dapat mempengaruhi petinggi-petinggi Kota Batu untuk menggunakam EE di berbagai sektor. Seperti di sektor Perhotelan, Restoran, Wisata, Rumah Sakit hingga Perkantoran.

“Jadi nanti Kota Batu bisa mempunyai branding baru, yaitu Kota Eco Enzym, yaitu seluruh pengolahan sampah dan kebersihannya menggunakan Eco Enzym. Jadi bisa dinilai sebagai kota yang ramah lingkungan,” paparnya dengan mata berbinar-binar.

Ia memiliki tujuan utama yang sederhana, yakni masyarakat Kota Batu memiliki kesadaran untuk mencintai lingkungan. Usahanya ini bukan sekedar mimpi di siang bolong, namun ia terus gigih berjuang memperkenalkan EE ke setiap kalangan.

Sempat ia bertemu Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko untuk menarik minatnya menggunakan EE. Pada Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN), Dewanti pun melihat langsung penyemprotan EE di TPA Tlekung yang terbukti berhasil mengurangi bau tak sedap yang selama bertahun-tahun menjadi problematika tak berkesudahan di tempat itu.

Akhirnya Dewanti pun mengakuai kemutakhiran EE ini. Ia menyebut EE ini sebagai salah satu solusi untuk mengurangi volume sampah, mengurangi gas metana hingga mengurangi bau tak sedap.

Pengakuan Dewanti ini bagi Gung adalah peletakan batu pertama di istana perjuangannya memperkenalkan EE untuk memperbaiki lingkungan. Karena yang ia sasar adalah pola hidup masyarakat Kota Batu terhadap lingkungan.

Ia telah melakukan gerakan dengan Roadshow ke delapan desa di Kota Batu dalam satu hari pada waktu HPSN. Roadshow itu ia lakukan untuk mengenalkan EE dan manfaatnya juga memupuk kesadaran untuk mencintai lingkungan.

“Masyarakat Kota Batu jika tahu manfaat EE bisa mengubah pola hidupnya. Manfaatnya banyak sekali, kalau sudah mau bikin, bisa ketagihan sehingga mengubah pola hidupnya,” imbuh S1 Sosiologi UGM itu.

Maksud Gung adalah jika masyarakat ketagihan untuk membuat EE, mereka jadi lebih banyak memakan buah dan sayur karena limbah dari buah dan sayur merupakan bahan baku dari EE.

Perlu diketahui, pemanasan global akibat gas metana paling banyak dihasilkan dari peternakan. Jika pola hidup masyarakat Kota Batu lebih menyukai sayur dan buah-buahan, mereka tidak terlalu bergantung pada daging hasil peternakan.

Secara tidak sadar kepedulian terhadap lingkungan terbentuk karena kegemaran masyarakat Kota Batu membuat EE. Itulah mimpi dari Gung yang perlahan namun pasti akan ia capai dengan kegigihannya.

“Ya itu sudah terbukti mas, orang-orang yang suka bikin EE melihat sampah bukan sebagai bahan yang nggak berguna lagi namun jadi seperti melihat harta karun yang sayang jika tidak dimanfaatkan. Mereka bahkan mau keliling ke penjual buah dan toko-toko buah untuk meminta kulitnya” tandasnya.(end)

Aduh! Teknologi Face ID iPhone Rawan Disalahgunakan

sistem pengenalan wajah Iphone X (cnet.com)

MALANGVOICE – Apple baru saja mengenalkan metode biometrik baru di salah satu iPhone barunya, yakni sistem membuka proteksi smartphone dengan pengenalan wajah. Sayangnya, teknologi ini masih dipertanyakan keamanannya.

Teknologi itu diperkenalkan bersama dengan peluncuran iPhone X. Teknologi itu memanfaatkan sistem kamera depan untuk memindai dan mendaftarkan struktur wajah Anda untuk digunakan sebagai password. Teknologi ini bukan konsep baru. Kasus sebelumnya menunjukkan teknologi ini mudah ditipu.

Mantan kontraktor NSA Edward Snowden, mengkhawatirkan soal privasi pengguna. Seperti kebanyakan di komunitas teknologi, Snowden mengalihkan perhatiannya ke Face ID Apple, men-tweet review positif tentang keamanan biometrik secara umum.

Meski begitu, ia mencatat bahwa normalisasi pemindai wajah bisa rawan penyalahgunaan. Snowden, menurut informasi yang dirangkum MVoice dari Cnet, Kamis (15/9), tak segera menanggapi komentar lebih lanjut.

Pengenalan wajah yang digunakan sebagai bagian dari upaya pengawasan pemerintah telah lama menjadi perhatian pendukung privasi. Meskipun teknologinya bisa digunakan untuk mengidentifikasi tersangka teroris, American Civil Liberties Union khawatir bahwa sistem yang digunakan untuk tujuan pengawasan bisa menjadi semakin invasif seiring berjalannya waktu.

“Setelah terinstal, sistem surveilans semacam ini jarang terbatas pada tujuan awalnya,” tulis ACLU dalam Q&A mengenai masalah itu.

Face ID Apple menyusul penggunaan fitur serupa dari Samsung di Galaxy Note 7. Selain itu, Microsoft juga menggunakan pengenalan wajah sebagai kata sandi pada perangkat Windows 10.(Der/Yei)

Inovatif! Buah Tidak Cepat Busuk Hanya dengan Stiker Mungil Ini

Stixfresh adalah stiker memperlambat pembusukan buah. (Mashable)

MALANGVOICE – Bagi Anda pecinta buah-buahan ataupun pedagang buah, menyimpan buah agar tak cepat busuk menjadi tantangan tersendiri. Anda perlu tahu, bahwa sebuah perusahaan di Malaysia nernama Stixfresh menciptakan sebuah stiker yang bisa mencegah pembusukan buah. Bahkan buah bisa bertahan segar hingga 14 hari lebih lama.

Menurut informasi yang dilansir dari laman Mashable, Selasa (18/12) caranya hanya dengan menempelkan stiker kecil pada kulit buah. Buah seperti apel, pisang, alpukat dan berbagai jenis jeruk sudah diuji cobakan diaplikasikan stiker ini.

Bukan hanya segar lebih lama, ternyata stiker ini mampu membuat buah tetap manis, berair, dab daging buah matang. Hal ini bisa terjadi karena stiker ini mengandung lilin lebah dan natrium klorida.

Ternyata dua zat ini dilaporkan mengurangi proses pematangan dengan menghalangi Ethylene, hormon pematangan yang ditemukan dalam buah-buahan. Proses ini juga mencegah jamur berkembang pada buah-buahan.

Saat ini, stiker Stixfresh hanya tersedia di Malaysia dan Amerika Serikat. Dalam waktu dekat, Stixfresh akan memasarkan stiker ini ke seluruh wilayah Asia.(Hmz/Aka)

Balita Bebas Karies dengan Rical, Pasta Gigi Ekstrak Ikan Lemuru Karya Mahasiswa

Tim Rical menunjukkan produk odol andalannya. (Anja a)
Tim Rical menunjukkan produk odol andalannya. (Anja a)

MALANGVOICE – Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) menemukan solusi masalah karies gigi pada anak-anak melalui suatu produk inovatif. Adalah Rical (Rich Calcium), sebuah pasta gigi yang berasal dari ekstrak ikan lemuru (Sardinella Lemuru)

Rical diciptakan Ulfa Gita Anjeli (IK ‘15), Putu Ayu Weda Astuti (IK ‘15), Mela Dita Maharani (IK ‘15), Agus Wahyudi (IK ‘16). Ulfa beranggapan babwa karies merupakan salah satu penyakit gigi yang umum diderita balita.

“Berdasarkan Departemen Kesehatan RI tahun 2010, penderita karies gigi di Indonesia memiliki prevalensi sebesar 50–70 persen, dengan penderita terbesar adalah golongan balita. Karies masih dianggap penyakit gigi balita yang biasa bagi masyarakat,” kata dia.

Padahal, lanjut dia, karies tidak boleh diremehkan. Bila dibiarkan akan menyebabkan karies mencapai pulpa gigi, menimbulkan rasa sakit dan bengkak.

“Apabila kondisi karies sangat parah sehingga dilakukan pencabutan gigi susu sebelum waktunya maka dapat menyebabkan bergesernya ruang bagi gigi tetap dan dapat menimbulkan malposisi gigi tetap,” imbuhnya.

Dia menandaskan pula, pemicu karies gigi adalah pertumbuhan bakteri Sterptococcus mutans dari makanan yang terlalu banyak mengandung glukosa dan kurangnya kalsium yang menyebabkan gigi menjadi mudah rapuh.

Dengan kandungan kaya kalsium, Rical memperbaiki gigi karies dan menguatkan gigi. Daun teh yang memiliki kandungan antibakteri yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri penyebab karies Sterptococcus mutans. Terlebih Rical tidak mengandung bahan pengawet dan bahan kimia berbahaya yang aman bagi balita bahkan aman jika tertelan.

Pasta gigi Rical tersedia dengan beberapa varian rasa dari perisa buah alami seperti anggur, jeruk, dan stroberi yang disukai oleh balita dan anak-anak. Produk ini juga dilengkapi dengan kemasan yang menarik yaitu berupa animasi gambar biota laut, sekaligus sebagai sarana edukasi bagi anak-anak.(Der/Aka)