Gara-Gara Ini, iPhone 8 Bisa Dibanderol Puluhan Hingga Ratusan Juta

iPhone berlapiskan emas (Goldgenie.com)
iPhone berlapiskan emas (Goldgenie.com)

MALANGVOICE – Tak puas dengan desain iPhone 8 yang biasa. Kini pelanggan bisa menikmati versi desain lain yang lebih mewah, dan pastinya, super mahal. IPhone 8 bakal hadir dengan versi elegan berlapis emas dan berlian.

Adalah Goldgenie yang merupakan aktor di balik pembuatan iPhone 8 dengan kelir emas 24 karat tersebut. Tak cuma itu, untuk semakin menebalkan kesan mewah ponsel tersebut bisa ditambahkan dengan berlian.

Seperti MVoice rangkum dari situs Mashable, Jumat (8/9), perusahaan yang berbasis di London, Inggris, ini juga menawarkan casing ponsel yang bisa diselimuti emas solid 18 karat.

Diumumkan oleh Goldgenie, iPhone 8 berlapis emas itu sudah bisa pre-order. Soal harga, Goldgenie belum bisa membeberkan karena harus menunggu pengumuman resmi iPhone 8 yang baru diluncurkan Apple pada 12 September 2017.

Sebelumnya, Goldgenie juga pernah menghadirkan iPhone 7 dan 7 Plus dalam balutan emas. Ketika itu, harga termurah dari iPhone 7 mencapai USD 3.258 atau Rp 43,5 juta.

Sedangkan versi paling mahalnya, iPhone 7 Plus 256 GB, yang berlapis emas dan bertahtakan berlian, dibanderol Goldgenie dengan harga USD 19.573 atau sekitar Rp 261 juta.(Der/Ak)

Kira-kira berapa harga iPhone 8 berlapis emas nanti?

Sasar Mahasiswa, DSC|X Berikan Edukasi Kewirausahaan

Roadshow kewirausahaan DSC|X.
Roadshow kewirausahaan DSC|X. (Istimewa)

MALANGVOICE – Program kompetisi kewirausahaan Diplomat Success Challenge (DSC|X) 2019 kembali digelar, kali ini Malang menjadi tuan rumah untuk mengulik bagaimana cara berbisnis tersebut. Roadshow diadakan di Ngalup.co, sebuah Coworking Space pada 23 Mei lalu.

Roadshow yang mengusung kompetisi kewirausahaan ini memang menyasar kepada kalangan mahasiswa, sebab beberapa tahun terakhir, kewirausahaan menjadi salah satu bidang ilmu yang diajarkan di perguruan tinggi, dengan harapan agar ke depannya mahasiswa mampu menciptakan lapangan kerja mereka sendiri.

Perwakilan DSC|X, Edric Chandra mengatakan, jika kolaborasi dengan perguruan tinggi ini memang langkah yang tepat untuk mendorong munculnya antusiasme wirausaha di kalangan generasi milenial.

“Pendidikan dan kewirausahaan adalah satu sinergi yang memberikan manfaat satu sama lain. Pengembangan kewirausahaan di kalangan mahasiswa dapat meningkatkan kesadaran dan juga menumbuhkan motivasi untuk memulai dan mengelola usaha yang dapat menjadi sumber penghasilan mereka,” ujarnya.

Tak hanya itu, selain memahami cara berwirausaha, mahasiswa juga harus memahami potensi yang ada di diri mereka, terlebih potensi mereka harus terus mendapatkan dorongan.

“Potensi-potensi yang dimiliki anak bangsa beragam, jika mendapatkan wadah yang tepat maka potensi-potensi tersebut dapat menunjang keberhasilan wirausaha di Indonesia. Salah satunya adalah kecakapan berkomunikasi,” papar Mentor Nasional DSC|X, Pangeran Siahaan.

Selain itu, roadshow yang diadakan di Kota Malang ini, DSC|X juga mengunjungi dan berbagi pengetahuan tentang wirausaha dengan para mahasiswa di sejumlah perguruan tinggi baik swasta maupun negeri.(Hmz/Aka)

Ekonomi Indonesia Turun, Terutama Dalam Sektor ini

Staff Khusus Presiden Bidang Ekonomi, Ahmad Erani Yustika saat memberi sambutan dalam acara Seminar Kampus di UB Malang. (Lisdya)

MALANGVOICE – Selama 56 tahun terakhir perekonomian Indonesia menurun drastis terutama dalam kontribusi sektor pertanian.

Dari data Kementrian Keuangan (Kemenkeu) mencatat angka kontribusi sektor pertanian di tahun 2018 sebesar 13 persen. Sedangkan pada tahun 1962 mencapai 56,3 persen, angka ini sangat jauh dari yang telah ditargetkan.

Staff Khusus Presiden Bidang Ekonomi, Ahmad Erani Yustika mengatakan, lambatnya transformasi ekonomi pertanian menjadi salah satu faktor penyebab rendahnya daya serap tersebut.

“Sangat berjalan lambat ekonomi kita,” kata Erani Yustika saat memberi sambutan pada seminar kampus di Universitas Brawijaya (UB) Malang, Kamis (13/9).

Ternyata daya serap tenaga kerja untuk sektor pertanian berkisar diantara 38 persen hingga 40 persen. Seharusnya, daya serap tenaga kerja yang tinggi tersebut mampu mendongkrak kontribusi pertumbuhan ekonomi.

“Kalau daya serap tenaga kerja tinggi, seharusnya kontribusi ekonomi juga tinggi,” tegasnya.

Dikatakannya, ketidakseimbangan tersebut terjadi karena para petani ataupun pengusaha melakukan penjualan pertanian tanpa diolah.

“Mereka menjual bahan mentah, jadi hasilnya kecil. Coba lihat, mahal mana kelapa sawit atau minyaknya yang sudah diolah?,” katanya seraya mencontohkan.

Dia menyarankan agar percepatan transformasi ekonomi dibarengi dengan peningkatan SDA di setiap daerah. Jika nantinya dua hal ini dijalankan bersama, maka kontribusi sektor pertanian akan semakin meningkat. (Hmz/Ulm)

Empat Mahasiswa Sulap Kardus jadi Furnitur Cantik

Arief saat memperkenalkan produknya. (Lisdya)

MALANGVOICE – Berawal dari tugas kuliah, empat mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) sulap kardus jadi wadah cantik.

Tak hanya itu, mereka juga menyulap kardus menjadi kursi dan dinamakan Dus Duk Duk. Mereka adalah Odi Anggara, yang bertanggungjawab di produksi, Angger Wiranata di bagian pemasaran, Arief Susanto pada keuangan, dan Indra yang menangani grafis.

“Dus Duk Duk ini merupakan furnitur alternatif berbahan dasar kardus, karena kardus sendiri mudah dicari. Jenis furniturnya sendiri beragam, sesuai dengan permintaan dari calon pembeli kami,” jelas Arief kepada MVoice usai pameran di Universitas Brawijaya (UB) beberapa waktu lalu.

Arief mengatakan, usai menyelesaikan tugas kuliah tersebut lantas pada tahun 2013 mereka mengembangkan karyanya menjadi bisnis baru. Hasilnya ternyata cukup memuaskan.

Meski terbuat dari kardus, kekuatan kursi itu sudah diuji coba. Kursi tersebut mampu menyokong beban tubuh hingga ratusan kilogram.

“Kursi kecil ini bisa menampung 200 kilogram, kalau yang besar bisa mencapai 400 kilogram,” katanya.

Guna menarik minat pasar, Dus Duk Duk ini juga menerima special order. Seperti, tambahan karikatur pada furnitur yang dipesan, corak dan warna yang berbeda atau tambahan sentuhan batik.

Tak perlu khawatir, terkait masalah harga ternyata cukup aman di kantong. Arief mangatakan untuk harga pernak-pernik kecil hanya dibandrol seharga Rp 75 ribu hingga ratusan ribu. Sedangkan untuk kursi dibandrol mulai harga Rp 400 ribu hingga jutaan rupiah. (Hmz/Ulm)

Gandeng Tempo Institute, Bekraf Malang Ajarkan Jejaring Komunitas dan Storytelling

Koordinator Program Kombet Kreatif, Taty Apriliana saat memberi sambutan. (Lisdya)

MALANGVOICE – Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) bekerja sama dengan Tempo Institute menggelar workshop pendampingan komunitas kreatif bekraf di Rumah MCF, Senin (24/9).

Program ini bertujuan untuk mempererat jejaring komunitas kreatif di tingkat kota dan kabupaten. Di Malang Raya sendiri, potensi paling kuat di bidang kuliner dan kerajinan serta pariwisata.

Potensi inilah yang membuat para generasi milenial untuk mengembangkan Ekonomi Kreatif (Ekraf). Namun, dengan banyaknya potensi di Malang, para penggerak Ekraf seharusnya mampu berkolaborasi dengan banyak jejaring komunitas untuk meningkatkan produk.

“Dibandingkan dengan kota lain, justru Malang ini paling bagus untuk potensi Ekraf-nya. Hanya saja halangannya yaitu di jejaring komunitas, kalau sedikit jaringannya ya pastinya itu nggak akan bisa menjual,” ujar Koordinator Program Kombet Kreatif, Taty Apriliana.

Untuk menaikan produk Ekraf, dikatakan Taty, dalam workshop yang diikuti oleh 40 peserta dari berbagai bidang ini juga dikenalkan storytelling.

“Banyak mereka yang belum mengerti storytelling. Contohnya saja mereka tidak bisa menjual produk mereka karena terbatasnya jejaring,” pungkasnya.

Program storytelling ini diharapkan Taty mampu mengubah para pelaku Ekraf untuk bisa menulis produknya sehingga dapat naik kelas. (Der/ulm)

Teresa Teng di Google Doodle Hari ini, Siapakah Dia?

Karikatur Teresa Teng di laman utama Google hari ini. (Google)
Karikatur Teresa Teng di laman utama Google hari ini. (Google)

MALANGVOICE – Saat membuka laman utama pencarian Google hari ini, Senin (29/1), Anda akan melihat gambar seorang wanita cantik tengah bernyanyi dengan latar belakang sinar bulan.

Dia adalah Teresa Teng yang dikenal sebagai seorang penyanyi legendaris asal Taiwan. Dalam Google Doodle tersebut, wanita kelahiran 29 Januari 1953 ini tampil mengenakan gaun putih dan ikat kepala bunga sambil menggenggam mikrofon dan tersenyum.

Selain dikenal sebagai penyanyi, sosoknya juga dikenal luas di seluruh Asia Timur, termasuk Jepang, selama kurang lebih 30 tahun.

Teresa Teng populer berkat lagu-lagunya yang merakyat dan bernada balada romantis. Salah satu lagunya yang sangat terkenal berjudul Hé Rì Jūn Zài Lái atau dalam bahasa Indonesia memiliki arti Kapankah Kau Akan Kembali.

Selain lagu berbahasa Mandarin, wanita yang juga dikenal dengan nama Deng Li-jun ini bahkan pernah merekam lagu dalam bahasa Hokkien, Kanton, Jepang, Inggris, dan bahkan Indonesia.

Dikutip pada laman Taipics, gaya menyanyi Teresa Teng menyampaikan kesederhanaan dan ketulusan. Yeh Yueh-Yu, seorang profesor Teori Kebudayaan di Universitas Southern California mengatakan, “Suaranya yang sangat manis membuatnya menjadi begitu terkenal.”

Teresa Teng juga memiliki suara yang sempurna untuk lagu-lagu folk dan balada, dan dia berhasil menambahkan lagu folk tradisional ke dalam komposisi bergaya Barat.

Teresa Teng meninggal dunia akibat serangan asma akut ketika sedang berlibur di Chiang Mai, Thailand, saat usia 42 tahun pada 8 Mei 1995.

Dia dimakamkan bak seorang pahlawan, dengan bendera Taiwan menyelimuti peti matinya. Bahkan Presiden Taiwan saat itu, Lee Teng-hui, menghadiri pemakamannya.

Teresa Teng dimakamkan di kaki gunung di Chin Pao San, sebuah kompleks pemakaman dekat Jinshan, Taipei, Taiwan. Di tempat peristirahatan terakhir itu juga berdiri sebuah patung sosoknya, sebagai tugu peringatan.(Der/Ery)

Pertumbuhan E-Commerce Diprediksi Meningkat Lima Tahun Mendatang

CO Founder dan CEO Investree, Adrian Gunadi dan beberapa pemateri saat menghadiri acara Wirausaha Muda Mandiri (WMM) di Universitas Brawijaya Malang, Sabtu (15/9). (Lisdya)

MALANGVOICE – Pertumbuhan e-commerce diprediksi akan meningkat sebesar 25 persen dalam lima tahun mendatang. Hal ini terlihat dari banyaknya pelaku ekonomi kreatif (ekraf) yang mulai menggunakan e-commerece.

CO Founder dan CEO Investree, Adrian Gunadi, mengatakan pertumbuhan e-commerce tersebut diperkirakan akan terjadi pada tahun 2023 karena lonjakan bonus demografi yang terjadi di Indonesia.

“E-commerce kita akan tumbuh 25 persen dalam lima tahun ke depan. Pertumbuhan yang melejit itu didukung dengan bonus demografi kita ditahun 2020 hingga 2030,” ujar Adrian Gunadi saat menjadi pemateri di Wirausaha Muda Mandiri (WMM) di Universitas Brawijaya Malang, Sabtu (15/9).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada tahun 2016, jumlah e-commerce di Indonesia mencapai 26,2 juta e-commerce. Angka tersebut meningkat 17 persen selama 10 tahun terakhir.

“Saat ini, teknologi sudah jadi daily life generasi milenial atau saya sebut dengan generasi one direction, seluruh aktivitas mereka selalu melalui teknologi. Nah hal ini juga menjadi potensi peningkatan e-commerce,” tambahnya.

Dikatakannya, program 1.000 startup yang dicanangkan pemerintah juga menjadi peluang tumbuhnya e-commerce di Indonesia. (Hmz/Ulm)

Inflasi Bulan Juni Turun, Kota Malang Paling Rendah di Jatim

Kepala BPS Kota Malang, Mohammad Sarjan usai menerangkan inflasi Kota Malang. (Lisdya Shelly)
Kepala BPS Kota Malang, Mohammad Sarjan usai menerangkan inflasi Kota Malang. (Lisdya Shelly)

MALANGVOICE – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang menyampaikan laporan inflasi bulan Juni 2018 sebesar 0,25 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan Mei 2018 sebesar 0,29 persen.

Selain itu, inflasi Juni Kota Malang juga paling rendah dibandingkan dengan beberapa kota di Jawa Timur.

“Biasanya di bulan Juni itu inflasi tinggi. Saya yakin ini semua keberhasilan dari TPID yang sudah berusaha untuk mengendalikan harga,” ujar Kepala BPS Kota Malang, Mohammad Sarjan kepada awak media, Senin (2/7).

Ditambahkan, inflasi kalender tahun 2018 paling rendah yakni bulan Juni dibandingkan dengan 8 tahun lalu yakni sebesar 0,68 persen.

Begitu juga dengan inflasi tahun ke tahun (year or year), dibandingkan dengan 8 tahun lalu, hingga bulan Juni ini terbilang rendah yakni sebesar 2,25 persen.

“Ada beberapa komoditas yang menyebabkan inflasi bulan Juni terkendali,” imbuhnya.

Beberapa komuditas itu antara lain, angkutan umum, keuangan, junkfood, rokok, kesehatan dan bahan makanan. “Sandang turun mengikuti harga emas serta perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar,” imbuhnya.

Sedangkan komoditas penyumbang inflasi antara lain, angkutan udara, daging ayam, daging ayam ras, angkutan antar kota, tiket KA, tahu mentah, nasi dan lauk, travel, ayam goreng, dan daging ayam kampung.

Sementara komoditas penghambat inflasi yakni telur ayam ras, bawang merah dan putih, emas perhiasan, cabai merah, tomat sayur, kentang, mujair, tongkol, serta minyak goreng.

“Meski beberapa harga komuditas menurun tapi perlu diingatkan, ada kenaikan BBM. Oleh sebab itu TPID dan masyarakat harus menyikapi dengan tenang, agar inflasi bulan Juli terkendali,” pungkasnya.(Der/Ak)

Menteri BUMN: Permodalan Jadi Kunci Utama Masalah Usaha

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno. (Lisdya)

MALANGVOICE – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno menjelaskan hingga saat ini permasalahan bagi pelaku bisnis tak lain yakni permodalan.

Menurutnya, masalah permodalan bisa menjadi tantangan besar dan menjadi penghalang untuk pelaku usaha naik kelas.

“Saya rasa banyak tantangannya, tapi yang paling utama adalah masalah permodalan,” ujar Rini Soemarno saat ditemui di Universitas Brawijaya Malang, Sabtu (15/9).

Kendati demikian, pemerintah hingga saat ini terus berupaya untuk menjamin modal bagi wirausahawan muda yang ingin memulai bisnisnya.

“Kami (pemerintah) akan mengupayakan pemberian modal, sehingga kami jaga usahanya agar bisa berkembang,” terangnya.

Sementara itu, pada era pemerintahan Presiden Joko Widodo saat ini tengah mengedepankan pelaku usaha atau enterpreneurship lebih maju untuk usahanya. Sehingga, pada tahun 2020 nanti capaian 1.000 start up bisa terpenuhi.

Guna mendukung program nasional 1.000 start up, pemeritah telah menggelontorkan dana sebesar 6,7 juta dolar AS atau setara dengan Rp. 92,6 miliar.(Hmz/Aka)

Kurangi Rasio Gini Kota Malang, Ini Saran Anggota DPR RI

Anggota Komisi XI DPR RI, Andreas Eddy Susetyo. (Lisdya)

MALANGVOICE – Anggota Komisi XI DPR RI, Andreas Eddy Susetyo mengatakan di tahun 2018, rasio gini di Kota Malang meningkat hingga 0,42 persen. Maka, untuk mengurangi angka rasio gini tersebut perlu adanya peningkatan UMKM naik kelas.

Dikatakannya, rasio gini yang melebar di Kota Malang ditunjang oleh sektor jasa meliputi pendidikan, usaha rumah kos, dan warung makan yang cepat berkembang sehingga menyalip sektor UMKM.

“Untuk itu kita harus benar-benar mengedepankan agar UMKM ini naik kelas,” katanya.

Dia mengatakan untuk mengakhiri permasalahan ini yakni dengan menjadikan inklusivitas sebagai kunci untuk mengembangkan UMKM, hanya saja untuk mencapai itu datanya harus benar.

“Data UMKM yang benar harus betul-betul menjadi perhatian. Dengan data yang benar, maka UMKM akan naik kelas, dari mikro menjadi kecil, kecil menjadi menengah, dan menengah menjadi besar,” tegasnya.

Andreas menambahkan, agar UMKM naik kelas perlu adanya lembaga jasa keuangan yang menopang, seperti jaminan kredit UMKM dari pemerintah daerah untuk disalurkan berupa pinjaman modal ke UMKM lewat bank dengan skema channeling.

“Harus ada pendanaan seperti itu, dana yang dipinjam juga harus benar-benar dimanfaatkan. Jangan sampai keuntungannya dihabiskan untuk membayar cicilan,” pungkasnya. (Hmz/Ulm)

Komunitas