Masjid Dikerubung Kelelawar, UB Ajari Warga Membuat Alat Pengusir Kelelawar

Warga menguji coba alat (ist)

MALANGVOICE – Dosen dan mahasiswa Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT-UB) memberikan pelatihan perakitan solar cell dan piranti elektronik kepada perwakilan karang taruna, remaja masjid, dan warga di lingkungan Masjid Al-Ghozali, Kelurahan Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.

“Awalnya kita menawarkan pelatihan teknik perakitan solar cell dan piranti elektronik pendukung. Ternyata mereka juga curhat butuh solusi mengatasi gangguan kelelawar di lingkungan masjid. Akhirnya kami juga memberikan pelatihan pembuatan perangkat elektronik pengusir kelelawar,” kata dosen penanggung jawab kegiatan, Eka Maulana ST dalam rilis yang diterima MVoice beberapa menit lalu.

Kontroller (ist)
Kontroller (ist)
Pelatihan yang dihadiri oleh sekitar 30 peserta tersebut berlangsung pada 30-31 Juli 2016. Selain Eka, mahasiswa yang terlibat antara lain Hasan, Doni Darmawan Putra, Muhammad Fatahillah, Amrizal Karim Amrulloh, Muhammad Ilham Akbar, Muslichin, Mahfudz, dan Muhammad Arsil Khaji.

Eka menuturkan, prinsip kerja perangkat pengusir kelelawar sangat sederhana. Yakni menggunakan frekuensi ultrasonik yang dipancarkan melalui transduser untuk menganggu sistem komunikasi dan navigasi kelelawar.

“Pada prinsipnya semua makhluk hidup baik manusia, tumbuhan, maupun bakteri dan sejenisnya peka terhadap frekuesi tertentu,” jelas alumnus Universitas Miyazaki Jepang tersebut.

Warga sangat berterima kasih (ist)
Warga sangat berterima kasih (ist)
Frekuensi tersebut dapat dibangkitkan pada nilai tertentu untuk proses berkomunikasi atau berinteraksi antara makhluk hidup seperti memanggil, mengusir, atau bahkan untuk membantu pertumbuhan. Sementara, kelelawar mengeluarkan pulsa gelombang ultrasonik dengan frekuensi sekitar 30-50 kHz untuk sistem komunikasi dan navigasi.

“Melalui sinyal dengan frekuensi tertentu yang dipancarkan perangkat elektronik, kelelawar akan merasa terganggu dan diharapkan akan pergi serta tidak membuat kerusuhan,” bebernya.

Proses perakitan perangkat pengusir kelelawar juga tidak memakan waktu yang lama. Hanya saja untuk masyarakat awam dibutuhkan proses untuk mempelajari dan membuat pemrograman pada komponen mikrokontroller.

Komponen mikrokontroller ini digunakan untuk membangkitkan sekaligus mengukur frekuensi yang dihasilkan perangkat. Bahasapemrograman yang digunakan adalah bahasa C.

Pada perangkat pengusir kelelawar yang terpasang di Masjid Al-Ghozali, sumber dayanya dibangkitkan menggunakan solar cell dengan daya keluaran 50 Watt. Solar cell ini terhubung dengan solar controller regulator, untuk kemudian disimpan ke dalam baterai dan mensuplai perangkat.

“Target awal solar cell hanya digunakan untuk menghidupi perangkat pengusir kelelawar. Tapi ke depan diharapkan bisa digunakan untuk cadangan listrik perangkat elektronik masjid seperti amplifier (pengeras suara) dan lampu untuk penerangan,” tambah dosen asli Blitar itu.

Pembuatan perangkat pengusir kelelawar di Masjid Al-Ghozali menghabiskan biaya kurang lebih Rp. 100.000 selain komponen baterai dan solar cell. Jangkauan perangkat sejauh 5-10 meter. Eka mengaku siap memberikan pelatihan serupa di tempat lain bila memang dibutuhkan oleh masyarakat.

Sementara itu, pengurus Masjid Al-Ghozali, Erfan, mengatakan kotoran kelelawar di daerahnya sangat menganggu kebersihan masjid.

“Dari laporan takmir, sejak alat dipasang sudah tidak ada lagi kelelawar yang masuk ke dalam masjid,” imbuhnya.

Tiga Aplikasi Edit Foto Wajib Unduh

Tampilan Snapseed pada iOS
Tampilan Snapseed pada iOS (Fia)

MALANGVOICE – Seiring semakin gaharnya performa kamera ponsel, aplikasi bawaan untuk editing foto juga semakin beragam. Bahkan, tidak sedikit komunitas-komunitas fotografi yang mengkhususkan diri pada fotografi ponsel. Dirangkum dari Komunitas Fotografi Ponsel Indonesia (Foponsi). Ini dia beberapa aplikasi jawara untuk membantu Anda menghasilkan foto maksimal hanya melalui ponsel.

Snapseed
Aplikasi besutan Google ini mendominasi setiap foto yang diunggah Foponsi. Ya, aplikasi gratis yang tersedia di playstore dan Apple Store ini memang memberikan banyak keistimewaan dalam hal editing foto. Dalam aplikasi ini, pemilik ponsel memungkinkan untuk mengatur warna, menambah brightness dan kontras hingga saturasi hanya pada bagian yang diinginkan. Kemampuan ini memungkinkan Snapseed mampu membirukan warna langit dengan menambah kontras tanpa harus merubah warna tanah.

PicsArt
PicsArt Photo Studio menjadi aplikasi kedua yang cukup banyak dimunculkan pada keterangan foto anggota Foponsi. Aplikasi yang hanya tersedia di operating system berbasis Android ini akan memanjakan para pecinta efek dan filter sebab fitur dan efek gratis yang disediakan cukup banyak. Kemampuan picsArt yang terhitung istimewa adalah cropping gambar, mengatur transparasi dan menggabungkan gambar. Jika Anda pernah melihat foto bergaya Instagram on hand yang tengah marak beberapa waktu lalu, maka itulah hasil dari keistimewaan performa PicsArt.

PicSay Pro
PicSay Pro termasuk aplikasi editing foto yang ringan dan user friendly. Seperti pada fitur editing lain, aplikasi ini juga mampu mengatur kontras warna, brightness, exposure dan lainnya termasuk memberi efek insert picture untuk penggabungan gambar dan pop color jika ingin menghasilkan kombinasi gambar warna dengan hitam putih pada satu frame.
Yang cukup menarik dari aplikasi ini adalah disediakannya stiker teks yang memungkinkan penggunanya menambahkan tulisan-tulisan lucu ala komik pada gambar yang diedit.

Matakota, Aplikasi Medsos Paling Dibutuhkan Masyarakat Saat Ini

MALANGVOICE – Aplikasi android yang memungkinkan respon cepat untuk mengatasi kasus di masyarakat, kini bisa diunduh di Playstore. Aplikasi itu diberi nama Matakota.

Tony Susanto, sang founder, menuturkan, aplikasi cerdas itu sudah digarap sejak November 2016, dan memiliki 6 fitur unggulan, meliputi laporan lalu lintas, bencana, kriminal, kebakaran, sosial, dan perlindungan anak.

Matakota juga memiliki fitur utama, yakni panic button. Fitur utama ini berfungsi untuk mendapatkan respon cepat dari masyarakat sekitar maupun instansi terkait yang dekat dengan lokasi kejadian.

Tetapi panic button ini tidak bisa sembarang orang menggunakannya. Data user harus terverifikasi terlebih dulu dari NIK (Nomor Induk Kependudukan) di Dispendukcapil (Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil), untuk menghindari fake user (pungguna iseng).

“Sehingga user yang belum terverifikasi tidak akan bisa menekan tombol panic button. Meski begitu tetap bisa mengakses Matakota untuk sekedar mendapat share info,” tutur Mobile App Developer Matakota, Gita Hanandika.

Agar user bisa mendapat respon cepat dari instansi terkait, Matakota juga menciptakan dashboard yang bisa digunakan instansi terkait, seperti pemerintah kota/kabupaten, Kepolisian, rumah sakit, Tim SAR, pemadam kebakaran dan lembaga lainnya, secara gratis, untuk memantau langsung tiap kejadian. Sehingga petugas terkait secara cepat dan tepat memberi pertolongan pada korban.

Matakota juga berfungsi sebagai media untuk menyampaikan infromasi publik dari instansi pemerintahan secara langsung kepada masyarakat (user). “Kami menyediakan space khusus untuk instansi pemerintah maupun lembaga yang ingin menyampaikan pengumuman langsung ke masyarakat luas. Agar pengumuman mudah diserap masyarakat luas,” timpal Afietadi Kurniawan, Digital Marketing Matakota yang akrab disapa Mamak.

Saat ini Matakota juga bekerjasama dengan LPAI (Lembaga Perlindungan Anak Indonesia) dalam hal child protection (perlindungan anak), untuk mencegah adanya kekerasan terhadap anak yang saat ini marak diberitakan. Sehingga, jika ada laporan kekerasan terhadap anak akan ditindaklanjuti LPAI.

“Dengan adanya kerjasama operator aplikasi Matakota bersama LPAI, kita dapat memberdayakan dan melibatkan peran serta masyarakat luas dalam gerakan nasional perlindungan anak di Indonesia,” tutur Ketua LPAI, Seto Mulyadi.

Inovasi Matakota tak hanya itu. Fitur unggulan lain yang membuat setiap masyarakat wajib menginstall aplikasi Matakota adalah fitur ‘Lost & Found’, yang berfungsi sebagai pelacak barang yang hilang berdasarkan community, yang membutuhkan bluetooth dan GPS (Global Positioning System) untuk menemukan barang itu.

Menurut Arwani, Mobile App Developer Matakota lainnya, fitur ‘Lost & Found’ ini membutuhkan sebuah IoT (Internet of Things) yang disebut ‘beacon’. Akan tetapi IoT ini masih dalam tahap pengembangan lebih lanjut. Belum diproduksi secara massal.

Electrive, Kontrol Alat Elektronik di Rumah Kini Bisa Lewat Aplikasi

Aplikasi mempunyai fitur jadwal
Aplikasi mempunyai fitur jadwal

MALANGVOICE – Selalu kerepotan jika harus mematikan atau menyalakan manual lampu dan berbagai alat elektronik satu- persatu di rumah? Dengan Electronic Creative (Electrive) kini mematikan peralatan elektronik bisa otomatis dikendalikan dari aplikasi smartphone berbasis Android.

Taupik menunjukkan aplikasi
Taupik menunjukkan aplikasi

Elektrive merupakan karya technopreneur lima mahasiswa Politeknik Negeri Bandung, yaitu Taupik Ismail, Tezar Pramesta, Muhammad Kosim, Jeanita Hendrawan, dan Firhan.

Ide mereka bermula dari pengalaman Taupik yang rumahnya pernah kemalingan saat Taupik pergi mudik lebaran. Menurut dugaan, Maling itu tahu kondisi rumah sedang kosong karena lampu rumah terus menerus menyala selama tiga hari berturut-turut.

“Berarti kan kelihatan banget kalo rumah saya sedang kosong ya,” katanya.

Sehingga dengan Elektrive, si pemilik rumah bisa mengontrol nyala lampu dari jarak jauh bakan ketika mereka di luar kota dan luar negeri sekalipun.

Taupik menambahkan, alatnya juga memudahkan mereka dengan keterbatasan fisik atau disabilitas untuk mengontrol alat elektronik di rumah.

Cara kerja Electrive sederhana dan mudah diterapkan. Sebuah alat, yaitu Electric Vol disambungkan dengan berbagai macam elektronik. Bisa disambungkan 3, 4 dan maksimal 12 channel alat elektronik. Misalnya di lampu, kipas, televisi dan AC.

Selanjutnya, melalui sebuah aplikasi yang didesain khusus, si pemilik rumah bisa mengkontrol nyala atau mati hanya melalui tombol ON OFF di aplikasi tersebut. Perintah itu disambungkan melalui sinyal SMS dengan sinyal minimal 2G. Alat ini tidak bisa digunakan di daerah tanpa sinyal.

Selain itu, Electrive dilengkapi dengan sensor gerak. Jadi alat ini bisa melacak gerakan dirumah ketika semua penghuni rumah sedang pergi dan melaporkannya di aplikasi.

Selain itu mematikan lampu rumah bisa dijadwal pada jam-jam tertentu. Fitur ini paling cocok ketika pemilik rumah berpergian jauh dan berhari-hari.

“Selain tombol ON OFF di aplikasi, perintahnya juga bisa dengan suara. Jadi memudahkan mereka yang punya keterbatasan fisik. Tinggal perintahkan saya ‘Matikan lampunya’,” kata Taupik sambil memperagakan alatnya.

Electrive mendapat respon baik dari masyarakat setelah Taupik dan timnya menggelar sosialisasi ke masyarakat sekitar. Masyarakat sebelumnya beranggapan alat ciptaan mereka tidak bermanfaat.

“Tapi kini mereka tau manfaatnya. Misalnya ketika mereka mau pergi dan buru-buru tapi lupa mematikan lampu. Akan lebih mudah kalau pakai ini. Terus rumah juga tidak jadi target maling,” tutup Taupik.

Gantangan Burung, Aplikasi Online untuk Lomba Kicau Burung

Steve menunjukkan aplikasinya
Steve menunjukkan aplikasinya

MALANGVOICE – Teknologi semakin berkembang. Permainan atau perlombaan yang biasa dilakukan tatap muka dengan lawan tanding kini bisa dipermudah lewat aplikasi online.

Gantangan Burung Online, adalah aplikasi berbasis Android dimana lomba kicau burung bisa diakses dengan mudah. Mulai dari proses lomba hingga penjurian semua dilakukan via online. Pemilik burung tidak perlu jauh-jauh membawa burung ke lokasi perlombaan.

Pemilik project, Steve Stanley, menceritakan, selama ini kendala yang dialami para pemilik burung adalah jarak dan biaya. Untuk mengikuti perlombaan misalnya, mereka harus membawa burung mereka ke lokasi menempuh jarak belasan kilo. Kadang perjalanan jauh juga mempengaruhi peforma kicau burung.

“Kadang burungnya sudah dilatih di rumah, eh lha kok pas penjurian burungnya diam,” kata Steve.

Tampilan aplikasi dan Banyak pilihan level yang bisa diikuti
Tampilan aplikasi dan Banyak pilihan level yang bisa diikuti

Cara kerja aplikasi ini mudah, peserta harus login terlebih dahulu ke aplikasi. Mendaftarkan jenis burung, identitas dan sebagainya.

Lalu peserta memilih jenis lomba dan level lomba kicau. Di aplikasi tersebut banyak sekali pilihan range lomba dan jadwal lomba. Barulah peserta mengirimkan video burung saat berkicau dan performa terbaik mereka ke aplikasi melalui fitur upload.

Kemudan, juri yang sudah mempunyai rating dan berkompeten bisa memberikan vote. Sesuai tenggat waktu yang ditentukan, peserta akan menerima notifikasi score mereka. Pemenang akan mendapatkan koin. Koin itu bisa ditukarkan dengan gems, atau bisa dipakai untuk mendaftarkan lomba gantangan lain.

“Jadi untuk mendaftar lomba gantangan burung online, peserta bisa membeli koin virtual di Indomart,” tambahnya.

Kelebihan lainnya, peserta di Malang sekalipun bisa mengikuti lomba di luar kota.

“Hemat biaya dan waktu. Dan video kicauan burung yang diupload pasti dalam performa terbaik. Makanya, sangat kompetitif!” Tukasnya.

Ternyata, Tanaman Liar Juga Bisa Jadi Puding

Puding dari sirih air
Puding dari sirih air

Puding dari sirih airMALANGVOICE-Tanaman liar jangan keburu dimusnahkan, karena bisa saja dimanfaatkan. Bahkan bisa disulap menjadi kudapan yang tidak hanya lezat namun juga sehat.

Contohnya tanaman liar sirih air yang memiliki bentuk kecil. Tanaman ini bisa dibuat menjadi campuran puding. Tidak hanya kaya serat melainkan kaya manfaat.

Caranya, daun sirih air diambil sekitar satu genggaman tangan. Kemudian dicuci bersih dan diblander. Setelah menjadi sari daun sirih air, direbus bersama menggunakan bubuk agar-agar.

Juga dicampurkan dengan susu kental manis dan sedikit gula. Puding daun sirih air ini inovasi dari ekskul Karya Ilmiah Remaja SMAN 2 Malang.

“Cara memasaknya sama seperti puding pada umumnya. Kemudian dicetak menggunakan cetakan,” jelas guru pembina, Rucima Achmad MPd kepada MalangVoice.

Dia menjelaskan, manfaat daun sirih air ini bermanfaat untuk menurunkan tekanan darah tinggi, kolesterol dan melancarkan peredaran darah. “Banyak manfaatnya. Bahkan sudah dibuat ekstraknya,” tandasnya.

Wow! Karena Alat Ini, Minyak Jelantah Jadi Layak Pakai

Alat penyaring minyak (ist)

MALANGVOICE – Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT-UB), gabungan mahasiswa dari Jurusan Teknik Mesin dan Jurusan Teknik Kimia menciptakan alat yang berguna untuk menyaring minyak jelantah menjadi minyak layak pakai yang mereka sebut Zuvier Purify Oil Filter.

Tim terdiri dari Indra Barani (Teknik Mesin), Sofia Afifah A. (Teknik Kimia), Yuyun Drupadi A.A. (Teknik Kimia), Mohammad Rizal Fauzi (Teknik Kimia), Linggar Gara Putra S. (Teknik Mesin), dan Neila Nabilah (Teknik Kimia) serta dibimbing oleh dosen Ir. Bambang Poerwadi MS.

Dalam proses pengerjaan alat, tim dibagi menjadi dua grup. Tim dari Teknik Kimia melakukan riset untuk mengubah minyak jelantah menjadi minyak layak pakai. Sedangkan tim dari Teknik Mesin bertugas mendesain alat, membuat otomatisasi alat, pengkodean alat, dan konsep alat.

Tim saat menerima medali (ist)
Tim saat menerima medali (ist)
“Kami analisa adsorbent apa yang dapat menyerap kadar lemak jenuh yang terkandung dalam minyak jelantah hingga minyak hasil penyaringan bisa dipakai kembali,” kata Sofia, saat dihubungi MVoice.

Sofia melanjutkan, hasil riset tim ini telah diuji coba di Laboratorium Pengujian Mutu dan Keamanan Pangan Fakultas Teknologi Pertanian UB dan menunjukkan hasil yang memuaskan dan memenuhi standar SNI.

“Kami juga menganalisa bahan-bahan apa saja yang layak dan tidak menimbulkan bahaya jika di gunakan,” imbuhnya.

Prinsip kerja alat Zuvier Purify Oil Filter terdiri dari tiga mekanisme. Yaitu pemanasan, pengadukan, dan terakhir penyaringan.

Ketiga inti proses tersebut digabungkan menjadi 6 bagian dimana setiap bagian ditempatkan pada setiap wadah yang berbeda.

Pada proses penyaringan yang terdapat pada filter pertama, minyak jelantah akan disaring dari kotoran dari hasil penggorengan yang berupa padatan. Setelah tersaring, pompa vakum akan menyala agar minyak dari filter ke-1 mengalir ke dalam filter ke-2.

Pada filter ke-2 terjadi proses pemanasan hingga suhu minyak mencapai 150°C. Gunanya untuk menghilangkan air, karena pada suhu 100°C air akan berubah fasa.

Pada filter ke-2 terdapat sensor suhu berupa termokopel. Dari sensor inilah kondisi dalam filter dapat terkontrol. Setelah suhu mencapai 150°C, pompa vakum akan menyala kembali untuk mengalirkan minyak dari filter ke-2 menuju filter ke-3.

Kemudian, selenoid (valve otomatis) akan terbuka atau tertutup secara otomatis sebagaimana program yang telah di buat berdasarkan sensor suhu. Lalu pada filter ke-3, 4, dan 5 terdapat proses pemanasan dan pengadukan selama 1 jam dengan suhu 150°C.

Delay setiap proses diatur selama 2 detik dan vakum akan bekerja selama 2 menit, pada filter ke-3 terdapat zeolit yang berfungsi untuk menghilangkan kadar lemak jenuh.

Lebih lanjut, pada filter ke-4 terdapat arang aktif yang berfungsi sebagai bahan yang dapat mengurangi kadar logam pada minyak jenuh. Dan pada filter ke-5 terdapat bentonit sebagai permurni minyak dari segi warna.

Pada filter ke-3, 4, dan 5 semua proses sama, hanya saja berbeda bahan yang ada di dalamnya, lalu filter ke-6 adalah hasil produk yang disaring kembali agar minyak yang dihasilkan benar benar bersih dari padatan.

Alat ini berhasil meraih penghargaan berupa Gold Medals pada kompetisi internasional The 3rd International Young Inventors Award (IYIA), yang diselenggarakan oleh Indonesian Invention and Innovation Promotion Association (INNOPA) di Surabaya Convention Hall, 6-8 September 2016.

Botol Pintar Uno, Minum Airnya… Alarm pun Mati

Botol Pintar Uno, Minum Airnya... Alarm pun Mati
Botol Pintar Uno, Minum Airnya... Alarm pun Mati

MALANGVOICE – Alarm yang digagas siswa SMK Telkom Malang ini cukup unik. Jika selama mematikan alarm harus dengan tombol snooze atau dismiss, ciptaan mereka cukup mewajibkan si pemilik meminum air.

Adalah botol pintar Uno, botol minum cerdas pengingat minum yang digagas Shella Yolanda, Ilma Nur Hidayati, Risfan Dimas. Ide itu berasal dari pengalaman mereka sehari-sehari yang dituntut bangun pagi karena gerbang sekolah harus ditutup pukul 06.15 WIB.

“Selama ini orang-orang suka mematikan alarm, tapi malah tidur lagi. Nah kalau dengan botol Uno, mereka harus meminum airnya sampai habis, barulah alarmnya bisa mati. Selain itu, minum air saat bangun tidur kan lebih sehat,” kata Shella kepada MVoice.

Di dalam botol Uno terdapat micro-controller, buzzer alarm dan sensor pendeteksi tekanan. Sensor itu akan mendeteksi kosong atau tidaknya botol. Jika switch masih mendeteksi ada air dalam botol, maka buzzer akan tetap menyala. Volume alarm botol Uno sebanyak 250 ml atau setara segelas air.

Sementara Risfan menambahkan, botol Uno masih merupakan gagasan. Mereka belum memiliki dana untuk merealisasikannya. Namun, saking originalnya gagasan ini, akhirnya menjuarai Ma Chung Innovation Contest 2016.

“Kalau prototype sudah terealisasi, kami ingin mengambangkan botol ini supaya memiliki fitur pembaca kandungan air. Jadi misalnya botol diisi jus jeruk, nanti jumlah vitamin C nya bisa terbaca,” kata Risfan optimis.

Mbois! Mahasiswa Ini Ciptakan Koyo Tebu Bagi Penderita Diabetes

Mahasiswa dan koyo diabetes (anja)

MALANGVOICE – Patch atau koyo biasanya umum digunakan untuk meringankan capek, pegal linu pada otot dan persendian. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya berhasil membuat koyo khusus penderita diabetes, atau koyo SOAD dari kandungan sakarin tanaman tebu.

Mahasiswa kreatif tersebut ialah Mustaqim Prayogi, Akbar Roozaaq Mugni, Mufidatul Ilmi Kurniawati dan Hamidah. Dengan bimbingan Dahlia permatasari MSi Apt, mahasiswa itu memanfaatkan kandungan sakarin yang banyak tergantung dalam akar tebu dan efektif menurunkan kadar gula penderita diabetes.

koyo (anja)
koyo (anja)
Menurut Hamidah, penemuan mereka dilatarbelakangi oleh permasalahan yang dihadapi penderita diabetes selama masa pengobatan dan perawatan.

“Penderita diabetes tidak bisa sembuh total. Obatnya ada dua macam yaitu suntik atau minum obat setiap hari. Kendalanya kalau suntik insulin kan sakit. Sedangkan pasien juga sering lupa minum obatnya. Makanya kami ciptakan koyo ini,” katanya Hamidah kepada MVoice.

Kemudian sakarin itu diekstrak menggunakan nano teknologi pitosom untuk membentuk bahan dasar koyo yang bisa diserap membran tubuh dengan mudah.

“Membran kan sifatnya suka menyerap air dan lemak. Koyo ini sudah kita formulasikan supaya bisa cocok dengan sifat membran tubuh,” katanya.

Dengan pemakaian koyo di perut, dan lipatan-lipatan tubuh, si pasien tidak perlu terlalu sering minum obat. Namun, untuk saat ini, temuan mahasiswa ini masih dalam uji mutu dan keamanan. Koyo SOAD juga berhasil lolos seleksi masuk ke PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) 2016 di IPB, Bogor.

Rencananya, penelitian ini akan terus dilanjutkan sampai bisa digunakan oleh masyarakat umum.

Manfaatkan Batu Zeolit, Karya Mahasiswa UB Ini Mampu Serap Gas Amonia

Tim pencipta Salifa (ist)

MALANGVOICE- Batu zeolit tak hanya bermanfaat untuk membantu proses pemurnian air, tapi juga bisa untuk menyerap gas amonia.

Hal itu dibuktikan sekelompok mahasiswa UB, Khairul Anwar (Teknik Komputer 2014) dan Miftahul Rizki Purwonegoro (Informatika 2014), serta tiga mahasiswa FKH, Dian Agustiar (Kedokteran Hewan 2013), Dicky Yoga Prasetia (Kedokteran Hewan 2013) dan Hana Razanah (Kedokteran Hewan 2013).

 Komponen alat Salifa
Komponen alat Salifa

Mereka membuat alat yang dinamakan Salifa (Stop Amonia dan Limbah Feses). Manfaat utamanya untuk menyedot gas amonia di kandang ayam.

Komponen yang dipakai adalah sensor, kipas exhaust dan mikrokontroler serta zeolit aktif untuk menyerap amonia.

Alat dan bahan dirangkai sedemikian rupa dalam kandang, sehingga pertukaran udara dalam kandang dapat maksimal dan dapat mencegah pencemaran udara.

“Sensor yang dipasang pada Salifa secara otomatis akan mendeteksi keberadaan amonia. Berdasar data yang terdeteksi sensor dan dikirim ke mikrokontroler, akan diketahui kadar amonia dalam kandang,” tutur salah satu anggota, Khairul.

Dia juga menambahkan, jika kadar amonia menunjukkan angka lebih dari 2 ppm menurut standar SNI, kipas exhaust hidup secara otomatis dan udara dalam kandang akan tersedot keluar. Bagian belakang kipas sudah terdapat kerikil zeolit aktif yang berfungsi menyerap ammonia.

“Jadi udara yang keluar dari dalam kandang sudah tidak bau dan tidak menyebabkan pencemaran udara,” tegasnya.

Komunitas