Paro Smoothies, Minuman Sehat yang Kini Ngetrend

Paro Smoothies (istimewa)

MALANGVOICE – Tren gaya hidup sehat mulai membudaya. Dulu orang minum soda terlihat keren dan gaya. Saat ini siapa saja justru memilih minuman sehat semisal smoothie, minuman dengan struktur lebih pekat daripada jus.

Adalah Paro Smoothies, usaha minuman sehat yang digawangi 3 mahasiswa Universitas Brawijaya yaitu Mifta Rozi, Mifta zaini, dan Apic Cahyo. Bisnis yang dimulai sejak Agustus 2015 ini diawali keinginan kembali ke pola hidup sehat.

Meski demikian, ketiganya mengaku harus belajar cara membuat smoothies yang enak.

“Kita banyak melakukan coba-coba. Meskipun smoothies sudah lebih dulu beredar di luar negeri, smoothies yang disajikan Paro berusaha disesuaikan dengan lidah masyarakat Indonesia,” kata Apic, Marketing Paro Smoothies kepada Moice.

Paro smoothies dibuat murni dengan buah dan sayur, ditawarkan dengan 3 varian antara lain strange mango, pina ambon, dan green light. Semuanya di banderol Rp15.000/botol ukuran 250ML.

Demikian, Paro lemah di masa simpan karena memang dibuat tanpa bahan pengawet.

“Masa simpan produk kami hanya 1 hari dalam kondisi netral (suhu ruangan) dan 1,5 hari dalam kondisi dingin. Jadi penjualannya masih melayani dalam kota saja dengan sistem free delivery minimal pembelian dua produk,” terang Apic.

Paro Smoothies dijual melalui media online seperti instagram yaitu @Paro_smoothies

Penghancuran Pos Belanda Tegal Weru, Penyerbuan Sengkaling Hi­­­­­ngga Wingate Action Pertama ke Kota Malang

Dari kiri: Komandan Kompi Yusuf Abu Bakar, Kapten Soemitro memimpin parade upacara militer di Malang (1950), Kapten Sulam Samsun.

MALANGVOICE – Pos Belanda di Tegal Weru menjadi pos penting bagi mereka untuk memantau gelagat GRK yang akan memasuki Kota Malang. Oleh karenanya suaru keharusan strategis untuk menghancurkan pos tersebut agar terbuka lebar jalan masuk bagi pasukan GRK untuk melalukan wingate action.

Konsilidasi pasukan dilakukan di rumah Carik Tekung. Diputuskan serangan akan dilakukan pukul 03.00 dini hari dan dilakukan dari jurusan utara menuju selatan melalui sungai kecil. Serangan dipersiapkan dengan matang, senjata-senjata berat MG dan 12.7 dibawa serta. Pasukan yang bergerak adalah Kompi Yusuf Abubakar dengan penyerang dari peleton Sunjoto, Komandan Regu I Sersan Ngadisan, dan Komandan Regu II Kopral Pagang. Peleton Gondo diposisikan di jalan antara Tegal Weru-Sengkaling dan menjadi penghadang apabila pasukan Belanda mengerahkan bala bantuan dari daerah Sengkaling. Regu I Sersan Ngadisan sudah siap dengan persenjataan granat gombyok, tapi karena datang terlalu awal, jadinya cukup lama menanti untuk memulai serangan. Anjing Belanda menggongong, mengendus persembunyian mereka.

Pukul 03.00 serangan dimulai. Dalam pertempuran yang cukup dahsyat, pasukan Belanda yang berjumlah satu regu, tak seorang pun yang hidup. Selanjutnya, langkah strategis menghindari bala bantuan musuh, pasukan GRK segera bergerak mundur ke daerah Baran Kerinci dan berlanjut ke Petung Sewu. Paginya, setelah sukses melakukan penghancuran pos Tegal Weru, pasukan GRK, Batalyon Abdul Manan makan nasi gule kambing, setelah sekian lamanya tidak pernah makan enak. Terdengar kabar bahwa pasukan Belanda bertindak membabi buta di daerah Baran Kerinci, tapi GRK sudah jauh melanjutkan perjalanan.

Suatu siang Kapten Soemitro mendapatkan undangan lewat kurir, 2 orang pandu, untuk rapat di Kota Malang, di Taman Siswa (depan RS Lavalette). Padahal di belakang sekolah Taman Siswa ternyata markas pasukan Belanda. Untung tidak terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Dalam rapat itu, ada kelompok yang berjanji membantu apabila pasukan akan mengadakan serangan ke kota Malang, yakni dengan demo pemogokan buruh, pemutusan aliran listrik dan aliran air minum.

Setelah penyerangan Tegal Weru, akses ke Kota Malang lebih leluasa. Serangan pertama terhadap Kota Malang pun dilakukan pada 31 Januari 1949. Kompi Yusuf dan Kompi Kusnadi (Kompi Alap-alap) mengawali dengan penyerbuan dan penghancuran pos Belanda di Sengkaling, serta menghasilkan kemenangan besar dan pasukan bias memasuki kota sampai siang hari. Dalam penyerangan ini gugur seorang prajurit bernama Moestari. Ternyata, kelompok yang berjanji membantu untuk pemutusan aliran listrik dan lain-lain cuma omong kosong dan diduga kuat ‘antek’ yang bekerja untuk kepentingan Belanda. Namun, GRK terus bergerak untuk menghancurkan kekuatan jaringan mata-mata yang begitu kuat saat itu.

Dalam situasi yang dianggap cukup aman, anggota GRK sudah berani berkeliaran di alam Kota Malang pada siang hari dengan penyamaran, menggunakan sarung dan peci, bersepeda seperti rakyat lainnya.

Maret 1949 GRK merencanakan serangan kedua. Mayor Hamid Rusdi memberikan mandat kepada Kapten Soemitro untuk memimpin penyerangan kali ini, dan berjalan dengan baik, serta memberikan kemenangan psikologis massa, semangat perjuangan yang semakin membara. Peran Peltu CPM Ngasino sungguh luar biasa pada penyerbuan kali ini. Kemenangan moril yang memotivasi rakyat untuk tidak putus asa dalam perjuangan meraih apa yang diimpikan bersama.

Usai serangan kedua ini, Kapten Soemitro diangkat sebagai Komandan Kota Malang oleh Mayor Hamid Rusdi. (idur)

Awas, Gamers Ingress Kuasai Kota Malang!

Penghobi Ingress (istimewa)

MALANGVOICE – Ada banyak komunitas gamers Android eksis di Malang. Namun ada satu komunitas gamers unik yang ketika bermain game selalu berkelompok dari lokasi satu ke lokasi lain.

Adalah Komunitas Malang Ingress Resistance, komunitas gamers yang tumbuh pesat sejak 2013 lalu, karena hobi yang sama, bermain Ingress.

“Ingress merupakan game smartphone multiplayer bergenre alternate reality, teknologi game yang menggabungkan benda di dunia maya dengan dunia nyata,” kata Fandim Prasetyo, pemain Ingress, kepada MVoice.

Tampilan game (istimewa)
Tampilan game (istimewa)

Untuk memainkan game itu, pemain harus berpindah-pindah atau beinteraksi dengan lingkungan/tempat tertentu guna menguasai/merebut wilayah yang menjadi portal.

“Awalnya kita harus memilih sisi agen Enlightened (dalam map warna hijau) atau The Resistance (biru). Kalau Enlightened itu diumpamakan sebagai alien,” kata Fandim.

Saat ini, Komunitas Malang Ingress Resistance beranggotakan 124 orang pemain Ingress aktif.

“Karena game ini, kita bisa kumpul dengan agen lain, bukan hanya di Malang dan Batu. Bahkan orang Surabaya maen ke Malang juga,” tambahnya.

Selain itu, game yang tersedia pada operational sistem (OS) Android dan IOS (Iphone) sering mengadakan beberapa even yang menarik.

“Serunya, kami adakan even rutin seperti IFS (Ingress First Saturday). Even yang menggabungkan agen enlightened dan the resistance untuk tempur pada satu lokasi tertentu,” tutup Fandim.

Mencicipi Sajian Ketan ‘Legenda’ yang Tak Lekang Waktu di Kota Batu

Kedai pos ketan legenda yang berada di di Jalan Kartini, Kelurahan Sisir, Kota Batu (Ayun/MVoice)
Kedai pos ketan legenda yang berada di di Jalan Kartini, Kelurahan Sisir, Kota Batu (Ayun/MVoice)

MALANGVOICE – Kota Batu memang punya segudang pesona. Saat berkunjung ke kota ini, ada banyak tempat wisata menarik yang bisa kamu eksplor. Mulai dari wisata alam, wisata buatan hingga wisata pertanian.

Tak hanya itu saja, tempat wisata kuliner dengan cita rasa lezat yang melegenda pun juga bisa kamu coba saat berkunjung ke kota yang mendapat julukan de Kleine Swizterland.

Bicara soal kuliner legenda di Batu, tentu tak lepas dari hidangan yang satu ini. Nah, Pos Ketan yang melegenda ini berada di Jalan Kartini, Kelurahan Sisir, Kota Batu.

Berdiri sejak tahun 1967, Pos Ketan Legenda kini memiliki puluhan varian toping. Mulai dari rasa original yang terdiri dari parutan kelapa, bubuk kedelai dan gula jawa, rasa keju susu, hingga rasa duren yang disajikan bersama buah duren asli.

Khotiul Jannah, pengunjung asal Pasuruan mengungkapkan belum ke Kota Batu jika belum mencicipi legitnya sajian ketan di kota dingin ini.

“Tekstur ketannya memang begitu pulen dan terasa meleleh di dalam mulut. Ini menjadi alasan saya kuliner ke Kota Batu. Karena ketan di sini beda dengan lainnya. Meski dibiarkan seharian teksturnya tak keras,” ujarnya.

Sugeng Hadi generasi kedua penerus bisnis Pos Ketan Legenda mengatakan usaha ketan ini pertama kali dirintis oleh neneknya, Siami.

“Resep itu seperti yang dijual oleh nenek sejak 57 tahun silam, hingga ketan kini identik dengan Kota Batu,” ungkapnya saat diwawancarai MVoice.

Pos Ketan Legenda juga mampu menjaga konsistensi rasa sejak 1967. Menurut Sugeng tak ada kiat khusus untuk memasak ketan.

“Paling penting pilih ketan yang berkualitas baik. Kami pilih ketan dari Thailand yang kualitasnya paling baik. Ini lebih mudah diolah dan awet daripada ketan lokal,” imbuhnya.

Untuk penambahan legenda pada nama Pos Ketan diberikan lantaran ketan ini memang melegenda di kalangan pelanggan setia. Warung ketan telah hadir sejak 52 tahun lalu dan masih ramai hingga saat ini.

Pos Ketan Legenda juga dikenal dengan waktu operasional panjang yakni sejak pukul 16.00-03.00 WIB.

Sementara, Plt. Kepala Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu, Imam Suryono mengatakan kuliner merupakan aset andalan untuk menjual dan meningkatkan perekonomian di suatu daerah.

“Banyak daerah dikenal karena kulinernya. Kuliner memberikan pula manfaat ekonomi secara langsung bagi masyarakat,” tuturnya.

Nah, untuk mencicipi kenikmatan ketan legendaris ini, kamu cukup merogoh kocek sebesar Rp 6 ribu hingga Rp 16 ribu saja tergantung dengan varian rasa dan topping yang ingin dipilih.

Legitnya ketan Kota Batu menjadi destinasi kuliner yang sayang jika dilewatkan saat berada di kota dingin ini.(Der/Aka)

Pengacauan Gerombolan Malik cs.Memanfaatkan Kondisi Buruk Seusai Perang Kemerdekaan (2)

Terminal Sawahan (1940)

Gerakan Malik cs. makin hari makin meresahkan masyarakat. Dalam bulan Februari 1951 saja, mereka telah melakukan pengacauan-pengacauan seperti telah disebutkan, Malik cs. berlanjut melakukan penyerbuan kedua kalinya ke pabrik tenun Kasri, pembunuhan seorang anggota Polisi Pandaan, belum lagi perampokan rumah gadai di Warungdowo, penyerbuan pos Polisi MBK Kasri Pandaan, penyerangan kembali markas Batalyon 34, menghasut buruh pabrik di Bromo untuk melakukan pemogokan, perampokan bus di Ngerong, serta di wilayah Pasuruan tercatat peristiwa delapan kali perampokan.

Dalam menjalankan aksinya, mereka juga melakukan cegatan-cegatan terhadap transportasi masyarakat. Di bulan April 1951 mereka melakukan pencegatan dan perampokan bus-bus antarkota, seperti:

1. mencegat bus Arjuno pada di daerah Mlaten, Gempol dan menculik anak seorang penumpang;

2. merampok bus HT jurusan Pasuruan-Surabaya di Cangkring Malang Bangil, setelah dirampok bus dibiarkan pergi tapi ditembaki dari belakang, kondektur bus terluka parah saat dibawa ke rumah sakit Pasuruan;

3. tiga orang anggota mereka bersenjata merampok sebuah bus Surabaya-Malang;

4. bersenjatan sten dan karaben, di desa Jetak mereka menghentikan bus Arjuno yang berangkat dari Malang menuju Surabaya.

Saat itu tindakan tegas belum dilakukan, mengingat di masa awal 1950-an segala sesuatu harus dicermati dalam melihat gejala-gejala dan peristiwa yang terjadi. Laporan-laporan yang masuk secara intensif diselidiki dan diobservasi, termasuk salah satunya gerakan Malik cs, tersebut.

Namun, berdasarkan pengolahan infomasi, kekejaman dan tindakan keji lainnya dapat diduga berasal dari pelaku yang sama, yakni Malik dan jaringannya. Masih di bulan April 1951 tercatat ulah Malik cs. antara lain

1. perampokan terhadap Rumah Sakit JIwa Porong, Lawang;

2. penembakan gudang Geni Pionir di Sumberwaras, Lawang;

3. seratus orang bersenjata bren, sten, karaben menyerbu pos Polisi di daerah Pasrepan, Pasuruan. Mereka menjarah senjata, sejumlah sepatu dinas, beberapa stel pakaian dinas dan topi dinas, serta meninggalkan surat ancaman;

4. menembaki panser-wagen yang sedang berpatroli di daerah Sumberwaras;

5. menyerang markas di daerah Karangsono, Lawang dan terjadi tembak menembak tapi tidak jatuh korban;

Dalam rapat gelap yang diadakan Malik cs. diketahui mereka sedang membentuk susunan komando, pimpinan, dan staf serta melakukan pembagian daerah operasi. Di setiap kecamatan dibentuk Komando Daerah dan disebut CD (Comando Daerah).

Selain itu terdapat regu Gangster yang bersenjata 3 pucuk pistol, terdiri dari 3 orang personel tetap dan 5 orang personel bantuan. Persenjataan mereka diperoleh dari hasil serangan terhadap pos-pos Polisi, sebagian lagi hasil curian dari markas Belanda. Perlengkapan lainnya didapat dari hasil perampokan dan bantuan dari CD-CD.

Gerakan mereka pada awalnya selalu mengarah pada tokoh-tokoh yang kurang disukai masyakakat. Menculik dan membunuh tokoh tersebut untuk tebar pesona seolah-olah dilakukan untuk membela kepentingan orang banyak. Di sinilah kesempatan untuk menarik dan menambah jumlah pengikut-pengikut.. Di desa Baujeng dan Bangil gerakan Polisi menemukan pamflet-pamflet mereka yang ditempelkan di tempat-tempat tertentu.

Sebelum ada perintah penumpasan terhadap gerombolan-gerombolan pengacau, pada 14 November 1950 sebenarnya telah dikeluarkan pengumuman oleh Menteri Pertahanan, yang intinya berisi pesan persuasif untuk memberi kesempatan kepada anggota-anggota gerombolan bersenjata yang masih memiliki cinta kepada tanah air dan bangsa untuk menyerahkan diri dan kembali ke masyarakat, serta hidup rukun dan damai. Hasilnya, tidak ada respon sebagaimana diharapkan. (Bersambung/Idur)

Usung Ide Preneursland, Millatul Hanifiyyah Terbang ke Amerika

Milla mahasiswa UMM (ist)
Milla mahasiswa UMM (ist)

MALANGVOICE – Ide kreatif Millatul Hanifiyyah, mahasiswi program studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mendapat apresiasi luar biasa dari para social-preneurs Amerika Serikat.

Gagasan Mila tentang pengembangan wirausaha berbasis edukasi warga lokal di kota Malang dan kota Batu, Jawa Timur, membuatnya diundang mempresentasikan karyanya bersama para pemuda dari 45 negara lainnya.

Di AS, Mila akan terlibat dalam The Global Engagement Summit (GES) yang akan berlangsung selama satu pekan, yaitu pada 9-16 April 2017.

GES merupakan pertemuan internasional yang memiliki misi connecting student changemakers to maximize social impact, yaitu menghubungkan para mahasiswa pelopor perubahan dalam memaksimalkan dampak sosial.

Lantaran fokus pada topik-topik perubahan sosial, maka sebelum GES dimulai, semua calon peserta wajib menyetorkan ide yang cemerlang dalam merubah masyarakat yang ada di sekitar mereka.

Milla saat di Amerika Serikat (ist)
Milla saat di Amerika Serikat (ist)

Di forum tersebut, Mila akan mempresentasikan rencananya dalam membangun dan mengembangkan wirausahawan di Kota Malang dan Kota Batu. Dalam proposalnya, Mila merencanakan akan mengedukasi mahasiswa dan warga lokal Kota Batu tentang wirausaha.

“Nama project yang akan saya presentasikan di AS adalah ‘preneursland’,” jelas mahasiswa semester IV itu.

Planners Lands merupakan wadah yang disediakan untuk mengembangkan, membangun serta tempat berbagi ide dan tips tentang berwirausaha.

Tidak hanya mahasiswa saja yang menjadi target dari konsep preneursland ini, tapi penduduk lokal Kota Batu juga menjadi bagian dari program. Bahkan Mila sudah melakukan koordinasi dengan pemerintah Kota Batu terkait pemberdayaan penduduk lokal yang termasuk dalam Usaha Kecil dan Menengah (UKM).

“Saya sudah berkoordinasi dengan Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kota Batu,” ungkap Milla.

Diskoperindag Kota Batu merespon positif niat baik Mila untuk memberdayakan penduduk lokal Kota Batu. Lebih konkritnya, setelah kembali dari AS nanti, Milla akan membentuk sebuah tim untuk merealisasikan program yang dipresentasikan di Northwestern University itu.

Di Amerika, tidak hanya presentasi karya saja. Namun, setiap peserta juga diberikan bekal untuk merealisasikan rencananya di negara masing-masing. Ada juga konferensi, seminar, dan juga mentoring yang diberikan agar perencanaannya dapat lebih matang.

“Mentoringnya dilakukan secara empat mata dengan para ahli. Ini merupakan bagian yang saya tunggu-tunggu, yaitu langsung mendapat arahan dari para expert di bidang socialpreneur,” imbuhnya

Dwiyana Anella, si Petualang dari Profauna Malang

Dwiyana Anella, Si Suporter Cantik Profauna Malang ditemui MVoice (anja)
Dwiyana Anella, Si Suporter Cantik Profauna Malang ditemui MVoice (anja)

MALANGVOICE – Seorang mahasiswi Pascasarjana Sosiologi Pertanian Universitas Brawijaya semester 3 ini hobi berpetualang. Kesukaannya pada dunia petualangan dan jelajah tempat baru, mendasari Dwiyana Anella bergabung dan akhirnya betah di Komunitas Profauna Malang.

Nella, akrab dia disapa, sudah menjadi suporter Profauna sejak semester 4 waktu dia berkuliah S1 di Fakultas Pertanian UB. Kala itu, sahabat baiknya mengajak dia bergabung. Temannya yang merupakan anggota Profauna selama 2 tahun itu menceritakan berbagai pengalaman menarik selama menjadi volunteer Profauna. Nella semakin tertarik dan akhirnya bergabung.

Di luar ekspektasinya, ternyata Profauna bukan komunitas sembarangan. Banyak aktivitas sukarela yang membuatnya semakin betah. Seperti menjadi volunter di tour beberapa daerah di Indonesia, kampanye, dan aneka edukasi untuk masyarakat.

“Tahun 2014 lalu saya ikut tour ke Jawa Tengah. Disana, kami kampange sekaligus pemberdayaan masyarakat dan lingkungan,” kata perempuan berparas ayu ini.

Dia banyak belajar bagaimana caranya bersinggungan dengan masyarakat. Dia juga banyak menemukan teman dan pastinya pengalaman baru dan berkesan.

Sehari-hari, Nella selalu mempromosikan dan bercerita soal aktivitasnya di Profauna kepada teman-temannya. Menurutnya, itu contoh paling kecil untuk bisa memberdayakan dan memberikan pemahaman menjaga kelestarian fauna di Indonesia

Gugurnya Bunga Bangsa, Sang Pemberani Hamid Rusdi

Dari kiri: Hamid Rusdi, Wachman, Tjokro Hadi
Dari kiri: Hamid Rusdi, Wachman, Tjokro Hadi

MALANGVOICE – Mayor Hamid Rusdi adalah pemimpin yang disegani dan ditaati oleh anak buahnya. Dia ditakuti dan seorang pemberani, sering muncul di Kota Malang yang saat itu dikuasai pasukan Belanda dengan meriam-meriam yang siap ditembakkan di seluruh penjuru kota.

Mayor Hamid Rusdi melakukan perjalanan keliling untuk mengkonsolidasikan perjuangan dengan jalan mendatangi sektor-sektor seperti di Malang Barat pimpinan Kapten Abdul Manan dan Malang Selatan pimpinah Kapten Mochlas Rowie. Sebenanya, Mayor Hamid Rusdi pada saat terbentuknya sektor-sektor tersebut mendapatkan tugas sebagai Komandan MG-I (Markas GerilyaI) yang terdiri dari tujuh perwira dan enam orang pengawal, berkedudukan di Nongkojajar. Namun, keadaan memaksa beliau untuk sementara waktu tetap bertempat di Sumber Suko bersama wakilnya, Kapten Wachman. Bersama Kompi Sabar Sutopo, beliau melakukan penyusupan ke daerah pendudukan ketika Belanda menyerang dengan pesawat-pesawat tempurnya ke markas komando di Turen.

Dari desa Sumber Suko, Mayor Hamid Rusdi kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke Nongkojajar dan menyempatkan diri untuk menuju dukuh Sekar Putih, Wonokoyo melalui desa Telogowaru, karena istrinya tinggal di salah satu rumah pondokan di desa itu. Rencananya, setelah bertemu istrinya, perjalanan akan berlanjut ke Nongkojajar. Tapi Tuhan berkehendak lain.

Beliau menjumpai istrinya sambil tetap berjaga membawa senjata kesenangannya sebuah pistol Vickers isi 12 peluru. Setelah pertemuan itu, sebelum pergi beliau berpesan agar istrinya segera meninggalkan daerah tersebut. Sudah kebiasaan, saat pamit beliau tidak pernah memberi tahu ke mana akan pergi. Lebih-lebih pada saat genting. Ini dimaksudkan agar tempat-tempat persembunyiannya sukar dilacak oleh pihak Belanda.

Sehari sebelumnya Hamid Rusdi dan pasukannya sudah berada di atas puncak Gunung Buring ketika pasukan Belanda menggencarkan patroli di wilayah Tajinan. Sebenarnya, Komandan Sektor I Tajinan dan CODM (Coordinator Operasi Daerah Militer) Serma Tjokro Hadi, juga Komandan Seksi II dan III Kusno Hadiwinoto, sudah mengingatkan bahwa keadaan di bawah sangat gawat, sebaiknya Hamid Rusdi menunda perjalanannya.

Hari itu, 7 Maret 1949, pasukan Belanda dengan kekuatan lebih dari dua peleton berjalan kaki meringsek hendak melakukan penyergapan. Penunjuk jalannya adalah mata-mata Belanda, oleh sebab itu tempat kedudukan Mayor Hamid Rusdi dapat diendus. Menurut kabar, Belanda sudah berangkat dari Tajinan sejak pukul 12 siang, mempergunakan pasukan KNIL.

Malam itu Mayor Hamid Rusdi berada di salah satu rumah penduduk. Di situ ada Pak Moesmari pemilik rumah dan Yoenoes menantunya, istri Moesmari Mbok Ngasirah, serta anaknya bernama Roekayah yang sedang hamil. Ajudan Hamid Rusdi, Letnan Ismail Etfendi dan adiknya, Abdul Razak yang mendampingi beliau masuk ke desa Wonokoyo, malam itu tidak ikut menginap di rumah tersebut.

Malam begitu pekat, sekitar pukul sebelas malam, pasukan Belanda menyergap saat semua penghuni rumah sedang tidur. Pak Moesmari membukakan pintu, tak berdaya di bawah todongan senjata, disusul pasukan yang lain dengan segera menuju kamar Mayor Hamid Rusdi. Dengan tindakan yang serba cepat, ketiga laki-laki dalam rumah tersebut diikat dan segera dibawa pergi. Kedua perempuan dibiarkan tinggal, tak ada pembicaraan yang terdengar kemana mereka bertiga akan dibawa pergi.

Keesokan harinya, Kopda Soekarman dan sebagian Kompi Sabar Soetopo melaporkan kejadian ini kepada Kapten Wachman yang kemudian memerintahkan untuk menyisir tempat kejadian. Tak lama setelah menelusuri jalanan kampung hingga sampai di dekat sungai Kali Sari, mereka mendapati jenazah Mayor Hamid Rusdi tergeletak di sekitar jembatan Sekar Putih Wonokoyo, gugur dengan tubuh penuh luka ditembaki pasukan Belanda. Tak jauh, ditemukan pula jenazah Letnan Ismail Effendi, Abdul Razak, Moesmari, dan Yoenoes. Dini hari yang sama, pasukan Belanda juga menangkap kamituwo Sumbersuko, tetapi jenazahnya tidak ditemukan.

Prajurit beserta masyarakat Wonokoyo merasa sangat sedih ditinggalkan komandannya yang gagah berani dan berjiwa kesatria. Telah gugur bunga bangsa yang tak pernah padam nyali dan semangatnya untuk merebut kembali Kota Malang. Sejak saat itu, daerah basis gerilya dan pusat Komando Batalyon I dipindahkan ke desa Madyopuro dan berkedudukan di Cemoro Kandang dengan pasukan inti satu kompi di bawah pimpinan Kapten Djoeri.

Setelah pasukan Belanda meninggalkan Malang, 15 Mei 1950 jenazah Mayor Hamid Rusdi dipindahkan ke Makam Pahlawan Suropati. (idur)­