Alhamdulillah…Kloter 55 Kota Malang Mulai Jalankan Ibadah Umrah

Salah satu jemaah Kloter 55 Kota Malang, ketika berada di Masjidil Haram, Mekkah.(istimewa)

MALANGVOICE – Calon Jemaah Haji (CJH) Kloter 55 Kota Malang, alhamdulillah tiba dengan selamat di Mekkah, Arab Saudi, waktu setempat.

Hari kedua, mereka lantas melangsungkan ibadah umrah. Kondisi jemaah dalam kondisi sehat dan siap menjalankan aktivitas selama di tanah suci.

“Hari ini kami akan melakukan ibadah umrah. Sekarang kami sudah berada di Masjidil Haram, berdekatan dengan bukit Safa dan Marwah,” kata salah satu jemaah, Sinal Abidin, melalui pesan WhatsApp, kepada MVoice.

Mbois! Mahasiswa UB Ini Ciptakan Aromaterapi Dari Minyak Jelantah

Mijel dan aneka aroma (anja)

MALANGVOICE – Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Brawijaya (UB), menciptakan aromaterapi dari limbah memasak.

Mijel merupakan aromaterapi berbahan dasar minyak jelantah yang berhasil menyabet medali perak Pimnas (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) 2016 kategori presentasi Program Kreativitas Mahasiswa-Kewirausahaan. Mahasiswa Penemu Mijel Alam ialah Silvia Estrianti (19), Arulia Zani (19) dan Nurul Hidayat (19).

Arulia mengatakan, limbah bekas penggorengan atau jelantah sayang jika tidak dimanfaatkan. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Malang tahun 2012, di kota dalam sehari ada 820 liter minyak bekas penggorengan minyak yang tidak terpakai. Jika dibuang, justru akan mencemari lingkungan.

Arulia menunjukkan mijel (anja)
Arulia menunjukkan mijel (anja)

Mijel dan aneka aroma (anja)
Mijel dan aneka aroma (anja)
“Sayang saja jika tidak dimanfaatkan dan mengubah sampah ini bisa menghasilkan sesuatu yang berguna sebagai wewangian,” katanya kepada MVoice

Membuat aroma terapi dengan minyak jelantah cukup rumit. Pertama, minyak jelantah harus dimurnikan terlebih dahulu dan dinetralisasi dengan ampas tebu. Selanjutnya, minyak dicampur dengan jelly dan dicetak menyerupai biji kopi. Selanjutnya ditambahkan berbagai aroma, seperti kopi, cokelat, dan vanili. Aroma itu, menurutnya, bisa mengurangi stress.

“Cobain kopi aromaterapi deh. Ini bisa meredakan stres. Namanya relaksan Mijel Alam dan harganya Rp 9.000 untuk isi 80 gram,” katanya

Menurut dia, sejak bulan Maret hingga Agustus 2016, telah terjual sekitar 2.300 lebih unit. Menurutnya, arometherapy ini banyak diminati terutama kalangan mahasiswa.

“Kami menjual secara online Instagram. Konsumen kami kebanyakan mahasiswa. Menggunakan aromaterapi ini akan membantu menghemat ruang bahkan lebih. Istimewanya, bahan tidak mengandung unsur kimia,” tutupnya.

”Media Online Sudah Menjadi Kebutuhan Warga”

‘’Media online kini menjadi kebutuhan akan informasi yang cepat dan hangat bagi publik. Pada era kemajuan teknologi dan informasi, kehadiran media online kini sudah menjadi kebutuhan warga. MalangVoice harus mampu menghadirkan informasi yang akurat, aktual, hangat serta menjadi bahan kontrol sebagaimana umumnya peran media dalam dunia demokrasi.  Saya  berharap beberapa investigasi kasus juga menjadi topik hangat yang dibahas di media ini.”

Raisa, dari Voice Over Pemerintahan hingga Produk Kecantikan

Raisa Amalia
Raisa Amalia

MALANGVOICE- Di dunia entertainment dan broadcasting Malang Raya, nama Raisa Amalia sudah cukup dikenal. Kodew satu ini, selain dikenal sebagai MC (master of ceremony), juga penyiar di salah satu stasiun radio kegemaran anak muda.

Tak hanya itu, mahasiswa semester akhir di UB ini juga kerap dipercaya menjadi voice over (VO) alias pengisi suara di beberapa produk, mulai company profile Pemkab Pasuruan, beberapa pemerintah daerah di Kalimantan, penyedia jasa wisata hingga produk kecantikan.

“Aku hobi dan punya passion di bidang entertaintment dan broadcasting. Jadi aku tekuni saja, eh malah jadi hobi yang dibayar. Sebenarnya nggak nyambung sih sama kuliahku,” jelas mahasiswa jurusan Teknologi Hasil Pertanian (THP) UB ini.

Sebagai entertainment, MC dan juga VO tallent, tentu saja kesibukan perempuan 25 tahun ini maha hebat.

Selama satu minggu dia memiliki jadwal MC hingga empat kali, dengan durasi maksimal empat jam. Sementara jadwal siarannya seminggu dua kali.

“Makanya stamina harus dijaga. Keteraturan pola makan dan pola istirahat itu penting dijaga,” jelas music director Elfara FM ini.

Dulur Never Ends, Dampingi Anak Kurang Mampu untuk Belajar

Komunitas DNE (ist)
Komunitas DNE (ist)

MALANGVOICE – Pendidikan merupakan hak siapa saja. Dan aktivitas belajar pun bisa dilakukan kapan saja, dimana saja, dan dengan siapa saja.

Mungkin hal itu tepat untuk mendeskripsikan aktivitas komunitas Dulur Never Ending (DNE). Sebuah komunitas pemuda yang berawal dari ikatan batin ‘seduluran’ dari alumni organisasi Kepanduan Grafika (PANGRAF) SMK 4 Malang.

Mulai awal 2008 dan dari tahun ke tahun rutin mengadakan baksos ke panti asuhan, dan tujuan lain untuk saling menjaga tali silaturahmi.

Nama DNE muncul antara tahun 2010-2011. Hal itu karena anggota DNE menyadari ternyata gerakan mereka luas dan tak membatasi siapa saja untuk gabung dalam misi sosial.

Rian salah satu anggota dan ketua DNE saat ini, mengatakan, kegiatan utama komunitas adalah melakukan pendampingan belajar anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Kebanyakan orangtua anak-anak itu adalah pemulung. DNE datang sebagai penolong agar semangat belajar anak-anak tidak pupus di tengah jalan.

Hebat, Putri Petani asal Ponorogo Ini Wisudawan Terbaik UM

Agrery Ayu Nadiarenita SPd, wisudawan terbaik UM (Tika)
Agrery Ayu Nadiarenita SPd, wisudawan terbaik UM (Tika)

MALANGVOICE – Senyum senantiasa terurau dari wajah Agrery Ayu Nadiarenita SPd. Pasalnya, lulusan program sarjana Bimbingan dan Konseling UM ini menjadi wisudawan terbaik dalam wisuda yang akan digelar besok, Sabtu (4/3).

Agrery berhasil menyelesaikan studinya di Fakultas Pendidikan hanya dalam waktu 3,5 tahun alias tujuh semester.

Indeks prestasi kumulatif (IPK) yang berhasil dia raih juga mencengangkan, dari 791 wisudawan, dia berhasil mendapatkan IPK 3,93.

Istimewanya lagi, anak tunggal dari pasangan Moch Takin dan Endang Reni Pertamawati ini berasal dari keluarga petani.

“Bapak petani, ibu guru BK. Sebetulnya mengambil jurusan BK itu karena terinspirasi dengan ibu,” kata dia saat ditemui usai gladi bersih wisuda, di Graha Cakrawala UM, Jumat (4/3).

Agrery yang juga lulusan SMAN 1 Ponorogo jurusan IPA ini bercerita, judul skripsinya adalah Pengembangan Paket Bimbingan Perencanaan Studi Lanjut dengan Model Kreatif Problem Solving Bagi Siswa SMA. Tempat yang dia jadikan lokasi penelitian adalah SMAN 9 Malang.

“Jadi saya melakukan penelitian ke siswa SMA. Meneliti bagaimana mereka menyelesaikan masalah jika keinginannya tidak sesuai,” kata perempuan kelahiran 22 tahun lalu ini.

Dia menjelaskan, biasanya, remaja cenderung untuk menentukan hanya satu pilihan. Jika tidak sesuai dengan pilihannya, akan berputus asa.

“Misalnya ingin mengambil pendidikan dokter, jika tidak diterima jatuhnya malah putus asa. Padahal, banyak yang masih bisa dipilih. Makanya harus kreatif dalam memecahkan masalah,” tandas dia.

FT-UB Raih Peringkan ke-5 Shell Eco Marathon

Apatte
Apatte (anja)

MALANGVOICE – Kontingen mobil listrik Apatte 62 Brawijaya Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT-UB) berhasil meraih peringkat 5 dari 26 peserta pada kompetisi Shell Eco-Marathon (SEM) Asia 2016 kategori prototype jenis bahan bakar battery-electric di Manila, Filipina.

Hasil ini didapat setelah Tim Appatte 62 Brawijaya berhasil mendapatkan best result 248 km/kWh dari 3 kali percobaan pada hasil pengukuran untuk kendaraan (on-track result). Pencapaian ini meningkat dari tahun lalu dimana Tim Apatte 62 Brawijaya memperoleh hasil 205 km/Kwh di kategori yang sama.

“Dari hasil memang tidak sesuai perkiraan awal kami. tetapi meningkat dari pencapaian tahun lalu. Tim Thailand, Cina, dan Singapura tahun ini super kuat,” kata anggota tim Haryo Ridhonoto.

Di atas Tim Appatte 62 Brawijaya, berturut-turut dari peringkat 1-4 adalah Nakhon Si Thammarat Rajabhat University (NSTRU) Eco-Racing Thailand (507 km/kWh), Beijing Institute of Technology (BIT) Econopower Club China (442 km/kWh), Nanyang Technological University (NTU) Nanyang E Drive Singapore (425km/kWh), Institute of Technical Education (ITE) EcoTraveller Singapore (314km/kWh). Semua hasil tersebut didapatkan dari 5 kali percobaan.

Adapun di peringkat keenam adalah Qatar University GernasS dengan hasil terbaik 100km/kWh dari 5 kali percobaan.

Selain kelima tersebut, turut berpartisipasi dalam kategori ini yaitu Multimedia University Melaka Campus Malaysia, GIKI of Engineering Sciences and Technology Pakistan, Guangzhou College of South China University of Technology, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Institut Teknologi Brunei, King Saud University Arab Saudi, Indian Institute of Technology – Banaras Hindu University India, Pandit Deendayal Petroleum University India, Mindanao State University–Iligan Institute of Technology Philippines, dan Caledonian College of Engineering, Oman.

Tim Apatte 62 Brawijaya terdiri dari Saifullah, Sa’roni, Rafdhika Ramadhani, Haryo Ridhonoto M., Oktavianus, Muhammad Naufal Aditya Fahmi, Naufal Dary Yulian, Alfian Ringga Nugroho, Arel Manta Tarigan, M. Abiyyu Arib Surya, dan Muhammad Rughby.

Tim yang mengusung jargon “Pantang Kerja Sebelum Safety” didampingi oleh dua dosen pendamping, Dr Eng Eko Siswanto ST MT dan Dr Eng Denny Widhyanuriyawan ST MT.

21 Tahun Oesman Mengabdi untuk Persekam

Penggiat olahraga Kabupaten Malang, H Oesman (Tika)

MALANGVOICE – Fisik Oesman (93) sudah tidak sekuat dulu. Melakukan aktivitas sehari-hari saja, pensiunan TNI AD ini harus dibantu sanak saudaranya.

Bahkan, untuk mobilitasnya, kini Oesman harus dibantu kursi roda. Ya, sehari-hari memang dia habiskan di atas kursi roda.

Kondisi fisiknya memang sudah tidak seperti dulu. Dan, siapa sangka Oesman dulu merupakan sosok pejuang olahraga di Kabupaten Malang.

Tidak heran jika Oesman dianugerahi penghargaan oleh Pemkab Malang sebagai tokoh yang menggerakkan olahraga di Kabupaten Malang.

Seperti diceritakan anak tunggalnya, Endang Sulistyowati, sejak 1979, selepas dinas dari TNI AD, Oesman menjadi pembina Persekam Kabupaten Malang.

Kesibukan sebagai pembina klub sepakbola itu dilakoni Oesman hingga tahun 2000.

“Terhitung 21 tahun bapak menjadi pembina Persekam. Beliau itu orang yang sederhana, nggak pernah mengeluh. Semua diajukan sendiri,” jelas Endang.

Endang berkisah, saat ayahnya menjadi pembina, kerap blusukan ke desa-desa mencari bibit-bibit untuk dijadikan pemain sepak bola.

“Blusukan sendiri naik motor ke desa-desa. Walaupun usia lanjut tapi bapak ini nggak punya penyakit hanya kondisi fisiknya saja menurun. Pola hidupnya juga sehat,” imbuh warga Kota Batu ini.

Stray Cat Defender, Penolong Kucing Terlantar

Kegiatan SCD. (istimewa)
Kegiatan SCD. (istimewa)

MALANGVOICE – Perkembangbiakan kucing di tengah kota yang tak terkendali memaksa hewan berbulu ini kadang tersisihkan. Manusia yang tak ingin keberadaannya kadang memperlakukan kucing semena-mena, mengusir bahkan menyakitinya.

Tak jarang banyak kasus kematian kucing liar di perkampungan sering terjadi. Atau bahkan tertabrak di jalanan.

Beruntung, di Kota Malang terdapat Stray Cat Defender (SCD). Komunitas yang lebih mempedulikan kucing segala jenis yang mengalami masalah dengan memberikan aksi pembelaan hak hidup pada kucing sakit dan terlantar. SCD dibentuk pada 8 Agustus 2015 lalu, bertepatan dengan International Cat Day.

SCD prakarsai tiga orang atas dasar banyaknya kucing yang sakit dan terlantar serta maraknya animal abuse di Indonesia, khususnya Kota Malang.

Sejak pertama terbentuk hingga sekarang, SCD memiliki 12 anggota yang disebut skuat. Mereka kebanyakan berusia 20-28 tahun dan didominasi mahasiswa. Penanggung jawab SCD, Suci Cisika Putri, mengaku tidak terhitung jumlah kasus yang ditangani terhadap masalah kucing.

“Dari semua kasus itu ada yang selamat dan tidak. Serta ada pula yang sudah diadopsi atau dirilis kembali ke alam liar,” katanya pada MVoice.

Cisi sapaan akrabnya menjelaskan, beberapa kasus kucing yang pernah ditangani SCD antara lain, mengalami sakit parah seperti cancer, tumor, patah kaki, eyeball prolapse, pyometra, dan lain-lain.

SCD juga menangani kucing yang mengalami kasus animal abuse. Beberapa di antaranya yaitu Rambo yang perutnya diikat tali dan digantungi botol body lotion hingga berbulan-bulan. Selain itu Lucas, yang di dalam tubuhnya terdapat peluru hingga meninggal, namun sempat bertahan sekitar tiga bulan.

“Kucing didapat dari mana saja, khusus area Kota Malang. Kucing di’rescue’ jika tim menemukan kasus secara langsung atau menurut laporan dari orang-orang,” jelas Cisi.

Kucing yang direscue apabila sudah sembuh akan dicarikan adopter. Kucing yang disteril melalui program TNR (Trap-Neuter/Spay-Release) akan dilepas kembali di tempat asalnya atau tempat aman, karena tidak mungkin semua bisa ditampung. Program TNR bertujuan untuk mengendalikan populasi kucing di lingkungan sekitar.

Saat ini kucing yang dikeep si shelter berjumlah 24 ekor. Menariknya, SCD tidak mau memberikan lokasi shelter secara gambalng, pasalnya, menurut Cisi, hal itu bisa berdampak pada kelangsungan SCD.

“Kami pernah diusir karena tetangga tidak berkenan adanya banyak kucing. Selain itu bisa mencegah masyarakat membuang kucing di tempat kami,” paparnya.

Untuk menangani kasus over populasi, salah satu cara yang paling ampuh ialah sterilisasi yang dilakukan oleh dokter hewan dan memiliki banyak manfaat. Tidak disarankan untuk suntik KB karena sangat berbahaya bagi kucing. Selain itu, saat ini marak terjadi “breeding”, terutama kucing ras non domestic seperti Persia, Angora, dan sebagainya.

Alasan orang mengembangbiakkan kucing beragam, mulai dari keingingan orang untuk punya kitten yang lucu hingga untuk alasan ekonomi. “Jauh lebih baik kita mengadopsi dari jalan atau shelter daripada membeli. Untuk itu kami tak hentinya mengkampanyekan “adopt don’t buy!” tegasnya.

Selama ini, SCD tidak sendirian. Mereka ditolong para dermawan yang rutin memberikan donasi. Selain itu, lanjut Cisi, dana berasal dari swadaya tim dan usaha mandiri. “Kami menjual produk kreatif serta barang second yang layak pakai. Hasilnya digunakan untuk aktivitas rescue serta operasional tim,” ia menambahkan.

SCD berharap penyiksaan pada hewan lucu ini bisa berkurang. Sehingga penyelamatan juga berkurang. Beberapa kasus yang sering dialami soal kucing berpemilik ialah minimnya pengetahuan owner soal merawat kucing hingga kucingnya sakit bahkan terlantar, serta kucing yang dibiarkan beranak-pinak hingga owner kewalahan.

“Rescue adalah program jangka pendek. Sementara sterilisasi dan edukasi adalah program jangka panjang. Bumi bukan milik manusia saja. Adil dan berbagilah dengan makhluk hidup lain,” pesannya.(Der/Aka)

Debut, Dya Libas Peraih Enam Emas PON

Lifter Kota Malang peraih emas bagi Jatim, Acchedya Jagaddhita. (Muhammad Choirul)

MALANGVOICE – Lifter muda Kota Malang, Acchedya Jagaddhita, memulai debutnya di PON XIX/2016 Jawa Barat (Jabar) bersama kontingen Jawa Timur (Jatim) dengan hasil positif. Dya, sapaan akrabnya, langsung menyabet satu emas di kelas 58 kg perorangan putri.

Yang istimewa, gadis berusia 19 tahun ini mampu mengalahkan lifter kawakan, Fatmawati. Peraih enam emas dari tujuh kali keikutsertaan di PON itu harus rela hanya mendapat medali perak pada ajang kali ini.

Wartawan MVoice, Muhammad Choirul, yang bertugas langsung meliput helatan PON di Jabar, berhasil mewawancarai Dya.

Berikut hasil wawancara dengan Acchedya Jagaddhita:

Ini kan PON pertama yang kamu ikuti, sempat gerogi nggak sih?
Acchedya Jagaddhita: Gerogi ya pasti, Mas. Kan masih baru pertama ikut PON, dan lawannya rata-rata sudah lagganan bermain di PON.

Cara mengatasi gerogi, apa yang kamu lakukan?
Acchedya Jagaddhita: Banyak-banyak berdoa dan berdzikir saja, ini sangat penting untuk mental dan kepercayaan diri saya.

Awalnya sempat nyangka bisa dapat emas?
Acchedya Jagaddhita: Enggak nyangka sama sekali, apalagi ada lifter senior yang sudah pernah tujuh kali ikut PON, dan dapat enam medali emas. Tapi pelatih membuat saya tenang, meminta saya melakukan yang terbaik, dan terus total dalam setiap latihan.

Nah, soal latihan nih. Selain ini PON pertama kamu, lawan yang dihadapi kan kebanyakan sudah berpengalaman, sejauh apa sih kamu mempersiapkan diri selama ini?
Acchedya Jagaddhita: Persiapannya dua kali lebih keras dari sebelumnya. Saya juga teratur menjaga kondisi agar nggak sakit, karena kan beban latihan juga ditambah, lebih diberatkan porsinya.

Dari penampilan di PON ini, sempat ada kesulitan nggak yang mengganggu konsentrasimu?
Acchedya Jagaddhita: Nggak ada kesulitan yang terlalu serius sih mas, cuma khawatir aja, itu tadi, karena lawannya sudah 6 kali dapat emas PON. Tapi Alhamdulillah ini rezeki buat saya, rasanya senang sekali dan harus banyak bersyukur.

Terakhir nih, motivasi apa yang bikin kamu tetap semangat latihan meskipun tahu lawannya amat berat?
Acchedya Jagaddhita: Yang paling membuat saya bersemangat adalah motivasi orang tua. Ayah dan ibu saya selalu mendukung dan merestui karier saya sebagai lifter, jadi saya selalu termotivasi untuk menang.

Biodata Atlet
Nama : Acchedya Jagaddhita
Tempat/tanggal lahir : Jambi, 12 Mei 1997
Orang tua : Junaidi dan Supeni
Alamat rumah : Jalan Teluk Cendrawasih RT 007 RW 003, Kelurahan Arjosari, Kecamatan Blimbing, Kota Malang
Hobi : Bersepeda
Prestasi :
Tiga emas Porprov Jatim 2011di Tulungagung
– Perunggu Popnas 2011 di Riau
– Emas Popnas 2013 di Jakarta
– Ranking ke-4 Youth Olympic 2014
– Emas PON 2016 di Jabar

Komunitas