Mbois Puol… Pria ini Ubah Sampah Botol Plastik Jadi Mainan Apik

Taufiq Saleh Saguanto (35), sedang memamerkan diecast dari botol plastik minuman bekas. (deny)
Taufiq Saleh Saguanto (35), sedang memamerkan diecast dari botol plastik minuman bekas. (deny)

MALANGVOICE – Siapa sangka, botol bekas plastik yang dibuang di jalan atau tempat sampah bisa berubah menjadi barang berharga. Seperti yang dilakukan M Taufiq Saleh Saguanto (35).

Bapak tiga anak yang tinggal di Perum Alam Dieng Residence, A-1, Pisang Candi, Blimbing, Kota Malang, itu bisa mengubah botol plastik bekas menjadi mainan baru.

Model diecast atau mainan miniatur berbahan plastik itu kini semakin diseriusi Taufiq Saguanto. Berbagai macam model mainan seperti becak, helikopter, sepeda motor hingga robot, sudah berhasil ia ciptakan. Padahal Taufiq sendiri berbasic pengusaha konveksi.

Kepada MVoice Ia menceritakan, awal ide itu muncul tidak sengaja. Berdasar pada kepedulian terhadap lingkungan dan dampak pencemaran botol plastik yang sangat merugikan. Daur ulang botol plastik dirasa tidak maksimal, berbeda dengan bahan lain.

Karena itu, akhir 2015 silam, ia mencoba mengumpulkan barang bekas yang tak terpakai, mulai dari mainan anaknya hingga sampah botol. Seketika itu ia memilah barang yang masih bisa digunakan, hingga ia bentuk menjadi sebuah miniatur lokomotif.

“Waktu itu tidak sengaja saja, lha kok ternyata bisa. Akhirnya jadi sampai sekarang,” katanya, Kamis (25/8).

Setelah itu, banyak model diecast yang ia kembangkan dan mulai rumit. Ia mengaku, satu model bisa menghabiskan waktu dua sampai empat jam tergantung kesulitan. Karena kebutuhan, bahannya pun tak hanya botol minum saja. Ia bisa menggunakan botol sampo, bedak, botol oli hingga setrika rusak.

Seperti membuat model klasik, Taufiq hanya perlu satu buah botol bekas untuk jadi body, ditopang plastik bekas pengait pakaian sebagai chasis. Di bagian roda, empat dasar botol dipotong dan semua ditempel menggunakan lem tembak.

Untuk warna, Taufiq sengaja hanya melapisi dengan cat hitam, alasannya kalau dijual, warnanya bisa diubah sesuai keinginan.

“Jadi harus hapal karakter botol, nanti jadi desain mengikuti,” katanya sambil menunjukkan ruang kerja di lantai dua rumahnya.

Lulusan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) jurusan Manajemen itu, mengaku pernah ada yang membeli produknya dengan harga Rp 500 ribu. Saat itu ia hanya iseng memasang foto di akun Instagram dan Facebook. Lantas, sejak dua bulan terakhir ia semakin rajin pamer di media sosial.

Harapannya, kata pencipta merek Hot Bottles itu, dengan kreasinya bisa memancing ide kreatif lain untuk mengurangi sampah plastik yang merugikan. Ia tak akan menolak bila ada yang mau belajar memanfaatkan sampah plastik bekas.

“Impian saya itu, sedikit kampanye stop botol plastik dan Malang punya museum sampah. Semua hasil kreativitas seniman dipajang di sana,” harapnya.

Kini, ia sedang mengerjakan karya luar biasa, membentuk botol plastik menjadi robot raksasa mirip Iron Man setinggi 2 meter. Model itu menghabiskan ratusan botol selama empat hari pengerjaan. “Kalau yang itu masih lama, karena saya kerja sendiri,” tutupnya.

Ketiga anak Taufiq, sekarang ikut membantu kerja sang Abi, sapaannya di rumah. Setiap pulang sekolah, atau bermain selalu membawa sampah botol plastik bekas dari jalan. Mereka tak ada rasa minder atau gengsi. “Semuanya saya ajarkan untuk peduli lingkungan dengan cara lain. Semua pasti ada hasilnya di masa mendatang,” imbuhnya.

“Intinya, kalau kita mau pasti bisa. Jadi kreatif atau pengusaha tak perlu biaya besar. Hal semacam itu, pasti banyak orang lain bisa tapi tetap perlu perhatian serius dari pemerintah daerah,” tutupnya.

 

 

36 Tahun Kodew Satu Ini Selalu Gunakan Angkutan Massal

Rucima Achmad MPd
Rucima Achmad MPd

MALANGVOICE-Di zaman yang menuntut mobilitas yang tinggi seperti saat ini, tak sedikit yang beralih menggunakan kendaraaan pribadi, apalagi harganya yang relatif terjangkau dan fleksibel.

Tapi tidak dengan guru biologi SMAN 2 Kota Malang yang juga pembina ekstra kurikuler (ekskul) Karya Ilmiah Remaja (KIR) ini, Rucima Achmad MPd.
Sudah sejak 1980-an dia tidak pernah menggunakan angkutan pribadi lagi, dan lebih memilih angkutan massal. Lha kok bisa?

“Ya, karena saya cinta lingkungan, jadi saya memilih tidak menggunakan motor sejak kuliah di Bandung pada 1980-an,” tuturnya.

Kenapa? Menurutnya, dengan menggunakan angkutan massal, berarti telah ikut membantu mengurangi polusi. Karena angkutan massal bisa mengangkut lebih banyak orang.

Menurutnya, jika semua orang menggunakan angkutan massal, pasti tingkat polusi bisa ditekan.

“Kalau ngajar ke SMAN 2 Malang saya juga naik mikrolet atau taksi dari rumah saya di Tidar,” jelas aktivis lingkungan ini.

Meriahkan Hari Ibu, MC Asal Malang Gelar Duta Daster

Salah satu peserta Duta Daster (Kiri), Bee Hilda Yulis, penggagas Duta Daster 2016 (Kanan)

MALANGVOICE – Ada-ada saja ide dari salah satu master of ceremony (MC) asal Kota Malang ini, Bee Hilda Yulis.

Mengikuti trend kekinian ‘Mahmud (mamah muda) Challange’, dia juga menggelar lomba serupa.

Mahmud challange ini adalah trend yang tengah happening di media sosial. Ibu-ibu muda membandingkan foto mereka yang menggunakan daster dan tanpa riasan dengan foto yang full make up. Tentu saja perbedaan keduanya sangat mencolok.

Biasanya, diberi tulisan ‘jangan remehkan perempuan berdaster, karena jika sudah dandan kelar hidup elo’.

Agar lebih fleksibel, perempuan yang akrab disapa Bee ini membuat lomba online dari Facebook.

Responnya sungguh luar biasa, digelar sejak 5 Desember hingga hari ini, sudah ratusan pesertanya. Bahkan juga diikuti oleh warga Manokwari, Papua dan beberapa wilayah lain.

Rencananya, penyerahan hadiah Duta Daster 2016 ini dilaksanakan di MVoice Building, Kamis (22/12).

“Selain mengikuti trend kekinian, kami sebagai perempuan ingin menunjukkan bahwa wanita berdaster itu tidak selamanya terlihat kumal. Kami tetap bisa berkarya dengan cara masing-masing,” kata dia.

Lomba online yang digelar gratis ini memiliki peraturan, para peserta harus menuai like sebanyak-banyaknya. Foto yang dipasang juga harus menunjukkan perbedaan yang mencolok antara berdaster dan sesudah berdandan.

“Like juga banyak, ada peserta yang sampai ribuan yang menyukai postingan foto mereka,” imbuh ibu beranak satu ini.

Lanjut dia, meskipun digelar gratis namun lomba ini banjir hadiah. Mulai dari voucher travel hingga aneka produk dari sponsor.

“Banyak yang ngasih hadiah. Hadiah dari luar kota kami kirimkan ke kota mereka,” tegas dia.

Amerika Juga Punya Sambal Ikonik dan Hits, Kisahnya Menginspirasi

Sambal Sriracha. (Anja a)
Sambal Sriracha. (Anja a)

MALANGVOICE – Sukses memang datang bagi mereka yang tekun usaha pantang menyerah. Kisah sukses ini datang dari Amerika Serikat. Jikalau orang Indonesia suka makan pedas dengan tambahan sambal? Lalu bagaimana dengan orang Amerika?

Ternyata orang Amerika juga suka pedas. Mereka punya merek sambal favorit nan ikonik. Pembuatnya? Ternyata bukan warga negara asli Amerika, melainkan dari Vietnam. Kisahnya inspiratif untuk disimak.

Dia adalah David Tran. Selama lima tahun setelah jatuhnya Saigon, dia memasukkan saus cabai buatannya ke stoples makanan bayi kaca tua dan mengantarkannya melalui sepeda. Pada tahun 1979, dia menaiki kapal barang Taiwan yang disebut Huey Fong dan berhasil masuk ke Amerika Serikat sebagai pengungsi.

Segera setelah itu, Tran bekerja di luar gedung seluas 5.000 kaki persegi di Pecinan Los Angeles, Tran mulai membuat saus dengan merek yang dipinjam dari kapal yang membawanya. Tran’s Huey Fong menghasilkan Pepper Sa-te, Sambal Oelek, Cabe Bawang Putih, Sambal Badjak, dan ramuan yang akan menjadi bahan sambal ikonik, Sriracha Hot Sauce.

Sambal Sriracha. (Anja a)
Sambal Sriracha. (Anja a)

Dia melukis logo ayam jantan yang sekarang terkenal itu di sisi van Chevrolet biru dan melaju sejauh San Diego dan San Francisco mengantarkan ciptaannya ke restoran Asia. Sausnya menjadi populer karena cerita mulut ke mulut.

Public Office Affairs Staff Konsulat Jenderal Amerika, Christine Getzler kepada MVoice, mengatakan, kesuksesan Tran terekam baik dalam film dokumenter baru-baru ini.

“Tahun 2014, Tran menjual lebih dari $ 100 juta satu tahun senilai saus. Sudah berpuluh-puluh tahun sejak dia menaikkan harga grosir ciptaannya. Saya juga salah satu penggemar sambal ini. Harganya murah juga,” kata Christine.

Srircha dibanderol Rp 65 ribu perbotol. David Tran mengaku tak pernah mengiklankan produknya, atau mempatenkan nama sambalnya. Banyak fans terinspirasi untuk membuat sambal Sriracha dengan varian rasa yang lain. Sriracha memiliki rasa yang asam dan sedikit manis dengan rasa pedas yang cukup. Sambal ini sering digunakan dalam kuliner sehari-hari mulai dari mie, pizza burger, dan banyak lainnya.

“Kisah Tran sangat inspiratif. Meski dia imigran, tapi dia sukses di Amerika. Sambalnya sudah menjadi bagian dari budaya Amerika,” tutup Christine.
(Der/Ery)

Dikemas Mirip Kantung Darah, Usaha Minuman Ini Beromzet Puluhan Juta

Jessi Jee (anja)

MALANGVOICE – Minuman nyeleneh semakin laris manis karena kemasan dan tampilan unik menambah kesan atau sensasi tersendiri bagi konsumen. Misalnya saja aneka susu dari Milks Lab, bisnis minuman yang digawangi Jessi Jee.

Produk Milks Lab (istimewa)
Produk Milks Lab (istimewa)
Menurutnya, jaman sekarang, remaja suka narsis dan mencari sensasi kuliner yang berbeda.

“Jaman sekarang anak-anak dan muda mudi memburu tampilan kemasan. Kemasan minuman mulai aneh-aneh. Meski begitu, soal rasa kita juga tidak mau asal isi saja,” kata Jessi kepada MVoice.

Uniknya, Milks Lab mengemas susu dalam wadah yang mirip sekali dengan kantung darah. Cara minumnya pun lewat selang yang sudah tersedia pada kantung tersebut. Selain itu, ada juga minuman dikemas dalam botol susu bayi. Semuanya tersedia dalam 5 varian rasa yaitu greentea, taro, mocca, vanilla, dan coklat.

Belum genap 5 bulan, bisnis yang ia jalani sendirian ini sukses meraih omzet puluhan juta.

“Satu botolnya 15.000 an. Seminggu saya bisa menjual 1000 botol, belum lagi kalau ada event-event khusus. Sampai saat ini omzet kotornya ada sekitar 50 jutaan/bulan,” kata wanita yang tinggal di Jalan Terusan Titian VI/L9 ini.

Melalui sosial media, susu murni racikan Milks Lab dijual di Malang, Gresik, dan Surabaya saja karena produk tersebut tidak menggunakan bahan pengawet.

Budi Doremi Bawa Misi Tingkatkan Minat Baca

Budi Doremi, Penyanyi Solo. (deny/malangvoice)

MALANGVOICE – Penyanyi solo Budi Doremi memanfaatkan kunjungannya ke Kota Malang bukan hanya sekedar melantunkan lagu dan memetik gitar, ada misi lain yang akan dia kerjakan.

Pelantun lagu Doremi yang sangat terkenal itu ingin menumbuhkan minat baca di Indonesia yang dirasa sangat kurang.

“Dari survey yang saya terima, dibanding orang Amrik yang bisa habiskan 10 buku setahun, kita orang Indonesia belum tentu,” katanya kepada MVoice, Minggu (30/8), setelah jadi bintang tamu Radio Stage, di Malang.

Karenanya, dalam kunjungannya ke Kota Malang ini ia berencana akan mengunjungi Perpustakaan Kota Malang, Senin (31/8) hari ini untuk mengajak masyarakat Kota Malang memunculkan minat baca.

Pria bernama asli Syahbudin Syukur ini mengungkapkan cara agar nantinya bisa menambah orang ingin membaca adalah dengan bercerita.

“Saya akan bercerita apa saja, tentang orang tua, nenek, beberapa sejarah yang tidak diajarkan di sekolah, itu saja. Karena dengan bercerita orang akan semakin ingin tahu akhirnya membaca,” papar pria 30 tahun.

Alasannya, kata dia, bahwa orang Indonesia dari dulu memang suka bertutur dan dituturi. “Jika dipaksa membaca pun akan sia-sia, maka dari itu bercerita saja, karena kita sukanya diceritain kan,” timpalnya.-

Malang Pausephone Community Kampanye Diet Gadget di CFD

Pausephone community beraksi di CFD (anja)

Malang Pausephone Community Kampanye Diet Gadget di CFD

MALANGVOICE – Dalam rangka mengkampanyekan gerakan diet gadget. Komunitas Pausephone Malang (KPM) menggelar The MP3 Experiment, di Car Free Day, pagi ini.

“Selain kampanye diet gadget, kami juga ingin mengenalkan komunitas kami yang tergolong masih baru. Kami bukan komunitas anti gadget, tapi kami ajak masyarakat mengurangi penggunaan gadget yang tak perlu,” kata Pandu, ketua, saat ditemui MVoice, beberapa menit lalu.

MP3 Experiment merupakan konsep anyar, satu-satunya, dan pertama kali di Kota Malang. Pertama, peserta harus mendownload MP3 yang sudah disiapkan panitia.

Pada jam dan waktu yang sudah ditentukan, mereka bersama-sama memutar MP3 tersebut dan harus didengarkan dengan headset.

Dalam MP3 akan terdengar perintah yang harus dilakukan peserta. Semisal suara perintah mengatakan ‘angkat tangan dan lambaikan’, maka peserta akan melakukannya bersama-sama.

“Antusias peserta lumayan tinggi,” kata Pandu.

Setelah acara ini, masyarakat diharapkan lebih sadar penggunaan gadget yang bertanggung jawab dan tidak berlebihan.

Mbois! Pria Ini Manfaatkan Modifikasi Tong Bekas untuk Jual Kopi Keliling

MALANGVOICE – Pemandangan tak biasa menghiasi pelataran Masjid Brigjen Soegiono Balai Kota Among Tani, Jumat (3/8).

Ada sebuah tong yang dimodifikasi menyerupai gelas berwarna kuning mejeng. Persis di sampingnya ada pria mengenakan setelan surjan warna hitam dan memakai blangkon warna serupa. Namanya Husni Thamrin (50) penjual kopi keliling.

Tong bertuliskan Kopi Racik Gardu (gagasan riil dunia usaha) Wong Batu lantas jadi jujukan kaum Adam yang baru saja menunaikan ibadah. Husni lantas meracik kopi di tong yang juga terdapat kompor gas tersebut.

Kopi bubuk yang disediakannya pun beragam. Mayoritas kopi lokal Malang Raya. Ada kopi Sidodadi Dampit hingga Ngantang Kabupaten Malang.

Ya, warga Kelurahan Ngaglik, Kota Batu ini mengaku sudah lama berjualan kopi keliling. Persisnya 2014 silam. Namun dengan media tong yang dimodifikasinya sendiri ini baru dimulai tidak lebih dari sepekan lalu.

“Sempat vakum dan cari kerja lain. Pernah coba forex (bisnis trading atau saham online) hingga poker online,” kata pria akrab disapa Husni ini.

Sejak berhenti berjualan kopi keliling, berbagai cobaan dialami. Pernah merantau hingga Ibukota Jakarta, namun tak mudah mendapatkan pekerjaan. Hingga akhirnya, memutuskan kembali berjualan kopi keliling.

“Banyak teman yang meminta saya buat berjualan ini lagi. Saya jadi termotivasi untuk bangkit dan bersemangat lagi,” kenang alumnus SMAN 3 Malang ini.

Dipilih tong, sebagai media berjualan diakuinya juga ide dadakan. Gagasannya tiba-tiba saja muncul setelah merenung. Gelas lantas jadi inspirasi untuk mendesain gerobak berbahan tong tersebut.

Di gerobak tong ada berbagai alat, termasuk grinder (alat penggiling biji kopi secara manual). Tujuannya juga ingin mengedukasi pembeli. Paling unik juga saat berkeliling, Husni memanfaatkan lonceng guna menarik perhatian.

“Jadi lonceng ini ada dua unsur. Sakral dan mistis,” kelakar Husni.

“Lonceng ini agar timbul harmonisasi irama saja. Tidak sering saya pakai, takut orang terganggu karena terlalu ramai,” imbuhnya.

Husni menjelaskan, waktu berangkat berjualan tak menentu. Kadang pagi, kadang siang hari. Lalu pulang paling malam pukul 22.00 WIB.

Segelas kopi yang ia jual kisaran harga Rp 5 ribu. Tidak hanya kopi, ada wedang jahe, kopi susu, susu panas, wedang pokak, dan lainnya.

Husni biasanya keliling sekitar Alun-alun Kota Batu, beberapa tempat wisata hingga Balai Kota Among Tani. Saat mampir di kantor terpadu Pemkot Batu tersebut tak jarang beberapa kepala OPD jadi langganannya. Termasuk Wakil Wali Kota Batu, Punjul Santoso.

“Nama usaha saya ini ada kepanjanganya (akronim). Kopi artinya Ketika Otak Perlu Inspirasi. Racik adalah (Rasakan Adanya Cakrawala Imajinasi Kedepan), Wong Mbatu (Waktu Orang Anggap Gila Membuat Batin Anda Timbul Upaya), dan Gardu (Gagasan Riil Dunia Usaha),” tutup Husni.(Der/Aka)

Lima Remaja Putri Harumkan Nama Kota Malang

Ica, Ayin dan Kisti, siswa berprestasi Kota Malang. (deny/malangvoice)

MALANGVOICE – Lima siswa SMPN 4 Kota Malang mengukir prestasi dalam Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat SMP yang diadakan Kemendikbud, 2014 silam.

Lima siswi dari SMPN 4 yakni, Arin Novita, Natalia Charisty Nuzulullaita, Yuanita Dwi Damayanti dan Fina Nuri Islami. Mereka berhasil mengharumkan nama Kota Malang mewakili Jawa Timur menjadi juara 1 seni tari pada Juli lalu saat masih duduk di kelas 8.

Kelima siswi itu saat ini sedang menempuh pendidikan menengah di SMAN 7 Kota Malang kelas 10. Saat ditemui MVoice, Kamis (17/9) sore, Ailisa menceritakan perjuangan menempuh juara tidak mudah.

Bersama pembimbing tari Selfia Rengga Arbella dan pelatih Cahyo Sandhi Dea, mereka berlatih keras tanpa kenal waktu. “Dari jam 06.00 sampai jam 01.00 dini hari kami latihan terus, hampir setiap hari,” aku gadis yang akrab dipanggil Ica.

Dari kerja dan latihan keras, mereka menciptakan tari yang dinamai ‘Ngabuling’ atau Ngarak Tebu Bukak Giling. Tarian diciptakan sesuai tema FLS2N, Pesta Rakyat. Dari tarian itu, mereka merenovasi sedikit demi sedikit saat lomba tingkat kota hingga provinsi.

Akhirnya tiba saat tingkat nasional tarian mereka dipilih jadi yang terbaik mengalahkan beberapa peserta dari kota besar di Indonesia.

Mencatat prestasi hal yang tidak mudah dirasakan lima remaja berusia 15 tahun itu. Pasalnya, banyak tudingan miring perihal prestasi yang disumbangkan itu. Arin mengatakan, setelah berhasil menjuarai kompetisi tuduhan demi tuduhan sering diterima.

“Ada yang bilang kami main dukun dan jampi-jampi juri, padahal kami kerja keras,” curhat Ayin, panggilan akrabnya.

Menanggapi tudingan miring itu mereka santai saja. Bahkan, pada akhir kelulusan SMP lima sahabat karib itu ditunjuk pihak sekolah menjadi Duta Seni Pelajar (DSP) se-Jawa Bali dan Lampung, Juli 2015.

Pengalaman menjadi duta sangat dinikmati, terlebih oleh Kisti panggilan akrab Natalia Charisty Nuzulullaita. Ia mengaku senang mewakili Jawa untuk mengenalkan kebudayaan Jawa Timur di tempat lain. “Kami mampir dari hotel berkelas dan difasilitasi penuh, intinya jalan-jalan sambil promosi,” ungkapnya.

Kesuksesan mereka tak lepas dari dukungan kedua orangtua. Suport yang diberikan jadi peletus semangat. Itu semua mereka lakukan juga untuk kebahagiaan orangtua. Hasil jerih payah hingga tak mengenal waktu luang berupa uang pembinaan waktu itu senilai Rp 25 juta diberikan kepada orangtua dan sisanya ditabung.

Tak berhenti di situ. Seiring perkembangan usia, impian untuk menjadi wakil Indonesia dalam ajang Internasional terus dikejar. Ayin, berharap ke depan bisa mengunjungi India untuk melatih skill tari bersama empat rekannya. “Sekalian belajar, di sana mengenalkan budaya Indonesia,” tutupnya. –

Taufik, Wartawan Inspiratif Sukses Berwirausaha

Taufik di kandang kambing miliknya (anja)
Taufik di kandang kambing miliknya (anja)

MALANGVOICE – Kesuksesan hanya bisa diraih mereka yang bekerja keras, berjuang, ulet dan bertawakal. Itulah prinsip Mokhammad Taufik. Pria yang kesehariannya berprofesi sebagai wartawan media Bhirawa sejak 1996 ini, sukses berbisnis hewan ternak kambing dan sapi. Tak tanggung-tanggung 100-200 ekor kambing laku terjual setiap tahunnya.

Taufik (47) merupakan putra kedua dari enam bersaudara pasangan Trimo dan Sutinah. Kedua orangtua yang berprofesi sebagai buruh tani, tidak menghentikan semangat Taufik untuk mengampu pendidikan hingga bangku perkuliahan.

Tahun 1995, pria asli Bojonegoro ini mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Wisnuwardhana, Malang.

“Saat itu saya merantau ke Malang. Di Malang saya tidak kenal siapa-siapa. Tapi saya bertekad kuliah dengan biaya sendiri,” katanya.

Barulah oleh temannya, Taufik dikenalkan dengan Zainur Rahmat. Bagi Taufik, Zainur adalah sosok bapak pertamanya di Malang. Taufik kemudian membantu Zainur mengawasi kuli bangunan selama tiga bulan. Berpenghasilan hanya Rp 200 ribu, Taufik menggunakannya sebagai modal membeli gerobak sayur.

Dengan biaya sendiri hasil berjualan sayur, Taufik berhasil menyelesaikan kuliah tahun 2000. Saat itu, Taufik sudah berprofesi sebagai wartawan.

Barulah pada tahun 2006, Taufik seperti menemukan minat di bidang lain yaitu berdagang kambing. Taufik tertarik dengan bisnis ini dan belajar cara dagang dan seluk beluk kambing bersama Agus, kenalannya.

“Pak Agus ini berbisnis kambing. Lalu saya diajak. Ya saya ikut sekalian belajar dan ikut bermain di situ cara bisnisnya. Apalagi saya juga ada latar belakang berdagang dari remaja,” tukas pria yang juga bisnis sampingan soto dan mie ceker di Velodrome Sawojajar ini.

Satu per satu, Taufik membeli kambing dengan modal hasil tabungannya. Pertama ia membeli kambing dan menitipkannya ke seorang warga di Gunung Kawi.

“Ada orang yang memang saya prasahi merawat kambing-kambing itu. Jadi sistemnya bagi hasil,” katanya.

Karena terlalu jauh, akhirnya Taufik memindahkan kandang ke Kecamatan Jabung Kabupaten Malang. Saat ini, ada 10 lebih kandang tersebar di desa dan dusun yang berbeda-berbeda. Ada 10-20 ekor kambing tiap kandang dengan tiga atau lebih pengurus kandang.

“Kalau ada waktu luang, saya menghabiskannya untuk melihat kambing-kambing ini. Keliling desa ke desa melihat kandang,” katanya.

Kambing yang biasa dia jual adalah segala macam jenis kambing, terutama kambing peranakan etawa (PE) karena prospeknya paling menguntungkan.

Taufik biasa melayani permintaan untuk aqiqah dan qurban. 1 ekor kambing bisa ia jual Rp 1 juta- Rp 3 juta tergantung usia kambing. Selain kambing, Taufik juga menyediakan sapi, namun tidak dalam jumlah banyak. Biasanya, mendekati Idul Qurban, Taufik akan menjual kambing-kambing terbaiknya di Velodrom, Sawojajar.

Taufik berpesan jangan mengharapkan apa yang akan diberikan orang lain kepada kita, namun berbuatlah baik dan memberilah kepada orang lain. Yang terpenting hidup sederhana dan selalu bersyukur, karena masih ada orang yang nasibnya tidak seberuntung sesamanya.