Selalu Berani Mencoba, Wiwik Sukses Usaha Kuliner Mie dan Kerajinan

Wiwik saat ditemui MVoice (anja)
Wiwik saat ditemui MVoice (anja)

MALANGVOICE – Jangan takut mencoba, teruslah berusaha. Itulah motto hidup Wiwik Susanti. Sejak muda Wiwik tidak takut gagal dan selalu mencoba hal-hal baru. Saat ini, wanita kelahiran Malang 1977 sukses menggeluti usaha kuliner dan kerajinan beromzet puluhan juta.

Sejak remaja, Wiwik selalu berusaha mandiri. Uang kuliah dan uang kos dia dapat dari jeri payahnya bekerja sebagai kasir di restoran waktu itu.

Mulai dari berjualan baju, nugget, tas pernah dilakoninya. Barulah setelah menikah, Wiwik dan suaminya memberanikan membuka usaha kuliner bakso dan mie ayam.

“Lagipula saya sekeluarga memang doyan mie,” tukas alumni Universitas Merdeka Malang ini.

Perjuangan membuka warung mie ayam juga tidak gampang. Ia tekun belajar cara memasak mie ayam kepada pedagang mie ayam di kawasan Jakarta waktu itu.

Kini Wiwik yang juga ketua komunitas peduli kanker Malang ini punya warung mie ayam sendiri dan sukses memanjakan lidah masyarakat pecinta mie.

Selain itu, Wiwik sedang tekun menggeluti bidang kerajinan Floating Cup. Kerajinannya menarik dan banjir orderan. Dalam sebulan Wiwik mengantongi omzet Rp 30 Juta-an

Mbois, Gadis Cantik Kota Batu ini Diundang Presiden…

Lintang Pandu Pratiwi (istimewa)

MALANGVOICE – Pada hari ulang tahunnya, 21 Agustus mendatang, Lintang Pandu Pratiwi dapat kado istimewa tak terduga. Gadis cantik Kota Batu ini diundang Presiden Joko Widodo.

Lintang terpilih sebagai ikon berprestasi dalam Festival Prestasi Indonesia, yang digelar Unit Kerja Presiden (UKP) Pembinaan Ideologi Pancasila. Total ada 72 orang terpilih yang bakal mendapatkan penghargaan langsung dari Presiden Joko Widodo bertempat di Jakarta Convention Center (JCC), DKI Jakarta. Sesuai dengan angka Kemerdekaan RI, 72 ikon berprestasi itu dipilih karena berperan aktif dalam melakukan praktik terbaik di bidangnya masing-masing.

Khususnya mengutamakan Pancasila dalam sendi-sendi kehidupan. Dari 72 ikon terpilih, ada nama tak asing di telinga, seperti Alan Budi Kusuma (atlet bulu tangkis), Joey Alexander (pianist muda) dan Garin Nugroho (sutradara).

“Awalnya tidak menyangka, mendapat undangan lewat email dan dihubungi UKP untuk konfirmasi kehadiran,” kata Lintang ditemui MVoice di kediamannya Perum Gading Emas Regency No.20 Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Rabu (16/8).

Dara berparas cantik ini memang getol di dunia ilustrasi dan tulis menulis. Sekitar tiga tahun terakhir ini, Lintang aktif memproduksi buku bacaan khususnya anak-anak. Tepatnya picture book atau buku bacaan bergambar. Total ada sekitar 40 buku telah lahir dari tangan emasnya. Luar biasanya, mayoritas diterbitkan di luar negeri. Antara lain USA, Spanyol dan Jepang.

“Paling banyak klien di USA. Salah satunya jadi ilustrator buku karya Deanna K. Klingel berjudul Walker Hound of Park Avenue,” kata pertama dari dua bersaudara pasangan Widayati Sri Wulandari-Mudjab Wijaya ini.

Penerbit lainnya yang memanfaatkan jasa ilustrasinya diantaranya, buku berjudul Sally terbitan PDMI Publishing, The Water Lilly Fairy terbitan Brandylane Publisher, Walker Hound of Parknue dari penerbit Progressive Rising Phoenix Press, dan buku Dancing Lilly serta Tisha dari penerbit Bookerbear Publishing. Kemudian ada pula ilustrasi di Jewel and the Jujube dari penerbit Kindle Press dan di buku Honey and the Bee dari penerbit Galway Press. Seluruh penerbit itu berkantor di Amerika Serikat.

Alumnus Desain Komunikasi Visual Universitas Negeri Malang ini juga pernah masuk 10 besar pemuda inspiratif versi Media Indonesia. Terpilihnya dia tidak lain karena konsistensinya di dunia bacaan anak-anak.

“Saya pilih buku bacaan anak karena ada pesan moral untuk membentuk karakter sejak dini. Buka yang saya buat juga bisa dibaca orang dewasa karena ada nilai moral dan makna kehidupan yangsangat berharga,” ujar penyuka bunga ini.

Dijadwalkan, selama tiga hari, Lintang mengikuti serangkaian acara dan dialog interaktif. Alumnus SMKN 4 Malang ini mengaku deg-degan dan tak sabar bertemu langsung Presiden RI ke-7.

“Sampai sekarang masih belum menyangka apalagi undangannya mendadak,” pungkasnya.


Reporter: Aziz Ramadani
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yunus Zakaria

Lewat Wayang Suket, Mbah Jo Lestarikan Seni yang Mulai Punah

Mbah Jo (anja)
Mbah Jo (anja)

MALANGVOICE – Salah satu jenis wayang yang unik adalah wayang ‘suket’. ‘Suket’ adalah bahasa jawa untuk rumput. Jadi bahan utama wayang suket adalah rumput kering, jerami dan alang-alang. Karena wayang ini terbuat dari rumput, tentu saja cepat rusak dan tidak awet.

Di Malang, seniman yang ulet membuat wayang suket dan masih eksis adalah Syamsul Subakri atau akrab disapa Mbah Jo.

Awal mula Mbah Jo membuat wayang suket adalah karena rasa iba melihat perkembangan wayang yang mulai punah.

Wayang suket merupakan bentuk peringatan seribu hari meninggalnya seseorang sebagai persembahan terakhirnya yang memiliki pesan di dalamnya. Yaitu mengajarkan bahwa hidup itu hanya sekali dan kita tidak boleh menyianyiakannya dengan hal atau perbuatan yang merugikan.

Menurut Mbah Jo, proses pembuatannya wayang suket ini berbeda. Wayang suket ini dibuat dengan memakai 6 helai rumput Mendong dengan panjang tertentu yang kemudian dibentuk menyerupai figure.

Menurutnya semua anggota tubuh dari wayang suket memiliki makna. Selain itu, urutan bagian tubuh yang mana dulu yang harus dibuat juga memiliki makna tersendiri, sehingga tidak bisa sembarangan.

Ia menyampaikan, bagian tubuh yang harus dibuat terlebih dahulu yaitu bagian hidung. Kenapa harus dibuat dulu karena hidung berfungsi untuk bernafas.

Alan, Tekuni Dunia Latte Art Karena Cinta Kopi

Alan membuat latte art (istimewa)
Alan membuat latte art (istimewa)

Alan membuat latte art (istimewa)MALANGVOICE – Selain mesin espresso dan kopi, barista adalah ‘jiwa’ dari sebuah kedai kopi atau coffee shop. Mereka adalah faktor penting yang menjadi ‘wajah’ bagi sebuah kedai kopi. Mereka adalah orang-orang keren di balik mesin espresso, yang membuat para kostumernya bahagia bahkan sebelum cangkir kopi mendarat di bibir.

Ialah Maulana Fazri, mahasiswa Jurusan Informatika Universitas Muhammadiyah yang sudah setahun ini menekuni profesi Barista di DW Coffee. Sebagai barista, Alan, akrab ia disapa, sangat tertarik tak hanya dengan kopi, namun juga latte art, yaitu seni menggambar di kopi.

“Saya tahu latte art dari setahun lalu. Akhirnya saya sering buka youtube untuk mencari referensi dan mulai belajar dari situ. Ternyata latte art itu asyik. Nah, saya juga prefer kerja di coffee shop,” kata Alan kepada MVoice.

Alan membuat latte art (istimewa)Dalam perjalanannya menguasai latte art, ia menemukan banyak rintangan mengingat latte art itu sendiri memiliki pattern yang lumayan rumit jika barista itu kurang latihan dan tidak memahami karakter kopi. Ia harus memahami 3 pattern dasar latte art yaitu rosetta, heart, dan tulip.

“Kalau paham 3 pattern itu, kita bisa improvisasi ke pattern-pattern lain. Pattern-pattern yang aneh pun asalnya ya dari 3 pattern ini,” kata dia.

Ia mengakui, meski sudah sering berlatih mencontoh proses dari referensi di Youtube, kegagalan masih sering terjadi.

“Di Youtube kelihatan mudah, ternyata waktu dicoba ya susah. Supaya pintar membuat latte art itu harus belajar terus menerus. Tahu sendiri karena gambarnya di kopi, kalau salah sekali ya tidak bisa dihapus alias one shoot one pour. Tapi, untungnya bisa di improvisasi,” kata pria yang mengidolakan Ben Morrow, Latte Artist asal Australia ini.

Alan juga berterima kasih pada orangtua yang selalu mendukungnya, begitupula dengan teman-teman kerjanya di DW Coffee Shop.

“Selain cari pengalaman, hasil kerja saya bisa untuk biaya kuliah. Owner dari DW shop juga selalu support dan dukung saya mengikuti lomba-lomba latte art. Untuk nambah pengalaman dan jam terbang juga,” kata pria yang juga akrab disapa Keceng ini.

Beberapa perlombaan latte art sudah ia ikuti. Meski belum bisa memenangkan lomba, Alan mengaku banyak belajar dari para latte artist lain.

“Belum pernah menang mbak, tapi disitu akhirnya bisa ketemu dengan barista lain dari banyak kota,” katanya.

Kedepan, ia berharap bisa membuka usaha kedai kopi sendiri. Namun ia yakin untuk mencapai itu, ia harus banyak paham soal kopi, manajemen dan pengelolaan pasar yang baik.

“Kepikiran buat kafe, tapi saya masih harus banyak belajar produk kopi yang bagus itu gimana, manajemennya dan target pasarnya juga,” tutupnya.

Alan membuat latte art (istimewa)

Nabila Rahma, Sukses Mengolah Banner Bekas Jadi Tas Cantik

Nabila Rahma menunjukkan salah satu produknya (anja)
Nabila Rahma menunjukkan salah satu produknya (anja)

MALANGVOICE – Ide menarik mengolah limbah barang bekas datang dari mahasiswi jurusan Ilmu Politik Universitas Brawijaya. Nabila Rahma, mahasiswi angkatan 2013, berhasil mengolah sampah dari banner menjadi peluang usaha yang menjanjikan, yaitu kerajinan tas/fashion.

Menurut Nabila, banner bekas sama seperti plastik lainnya, susah diurai sehingga cenderung mencemari lingkungan. Selain itu, sampah banner kebanyakan tidak dimanfaatkan dan dibuang begitu saja.

“Padahal bahan banner itu kuat dan kaku. Lalu muncul ide untuk mengolah banner jadi bahan tas,” katanya.

Nabila kemudian mulai membuat aneka jenis tas berbahan banner. Pengerjaan satu buah tas bisa memakan waktu 1-2 jam tergantug tingkat kesulitan. Dalam 1 minggu, Nabila bisa membuat 10-30 tas.

Bahan baku dia dapatkan dari membeli banner bekas di toko loak. Nabila juga butuh benang khusus untuk menjahit banner.

Meski baru direalisasikan sejak 2016 lalu, Nabila kini punya 2 pegawai untuk membantunya. Satu tas bisa ia banderol Rp 65 ribu hingga Rp 200 ribu. Nabila mempromosikannya lewat sosial media.

Mbois Puol… Pria ini Ubah Sampah Botol Plastik Jadi Mainan Apik

Taufiq Saleh Saguanto (35), sedang memamerkan diecast dari botol plastik minuman bekas. (deny)
Taufiq Saleh Saguanto (35), sedang memamerkan diecast dari botol plastik minuman bekas. (deny)

MALANGVOICE – Siapa sangka, botol bekas plastik yang dibuang di jalan atau tempat sampah bisa berubah menjadi barang berharga. Seperti yang dilakukan M Taufiq Saleh Saguanto (35).

Bapak tiga anak yang tinggal di Perum Alam Dieng Residence, A-1, Pisang Candi, Blimbing, Kota Malang, itu bisa mengubah botol plastik bekas menjadi mainan baru.

Model diecast atau mainan miniatur berbahan plastik itu kini semakin diseriusi Taufiq Saguanto. Berbagai macam model mainan seperti becak, helikopter, sepeda motor hingga robot, sudah berhasil ia ciptakan. Padahal Taufiq sendiri berbasic pengusaha konveksi.

Kepada MVoice Ia menceritakan, awal ide itu muncul tidak sengaja. Berdasar pada kepedulian terhadap lingkungan dan dampak pencemaran botol plastik yang sangat merugikan. Daur ulang botol plastik dirasa tidak maksimal, berbeda dengan bahan lain.

Karena itu, akhir 2015 silam, ia mencoba mengumpulkan barang bekas yang tak terpakai, mulai dari mainan anaknya hingga sampah botol. Seketika itu ia memilah barang yang masih bisa digunakan, hingga ia bentuk menjadi sebuah miniatur lokomotif.

“Waktu itu tidak sengaja saja, lha kok ternyata bisa. Akhirnya jadi sampai sekarang,” katanya, Kamis (25/8).

Setelah itu, banyak model diecast yang ia kembangkan dan mulai rumit. Ia mengaku, satu model bisa menghabiskan waktu dua sampai empat jam tergantung kesulitan. Karena kebutuhan, bahannya pun tak hanya botol minum saja. Ia bisa menggunakan botol sampo, bedak, botol oli hingga setrika rusak.

Seperti membuat model klasik, Taufiq hanya perlu satu buah botol bekas untuk jadi body, ditopang plastik bekas pengait pakaian sebagai chasis. Di bagian roda, empat dasar botol dipotong dan semua ditempel menggunakan lem tembak.

Untuk warna, Taufiq sengaja hanya melapisi dengan cat hitam, alasannya kalau dijual, warnanya bisa diubah sesuai keinginan.

“Jadi harus hapal karakter botol, nanti jadi desain mengikuti,” katanya sambil menunjukkan ruang kerja di lantai dua rumahnya.

Lulusan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) jurusan Manajemen itu, mengaku pernah ada yang membeli produknya dengan harga Rp 500 ribu. Saat itu ia hanya iseng memasang foto di akun Instagram dan Facebook. Lantas, sejak dua bulan terakhir ia semakin rajin pamer di media sosial.

Harapannya, kata pencipta merek Hot Bottles itu, dengan kreasinya bisa memancing ide kreatif lain untuk mengurangi sampah plastik yang merugikan. Ia tak akan menolak bila ada yang mau belajar memanfaatkan sampah plastik bekas.

“Impian saya itu, sedikit kampanye stop botol plastik dan Malang punya museum sampah. Semua hasil kreativitas seniman dipajang di sana,” harapnya.

Kini, ia sedang mengerjakan karya luar biasa, membentuk botol plastik menjadi robot raksasa mirip Iron Man setinggi 2 meter. Model itu menghabiskan ratusan botol selama empat hari pengerjaan. “Kalau yang itu masih lama, karena saya kerja sendiri,” tutupnya.

Ketiga anak Taufiq, sekarang ikut membantu kerja sang Abi, sapaannya di rumah. Setiap pulang sekolah, atau bermain selalu membawa sampah botol plastik bekas dari jalan. Mereka tak ada rasa minder atau gengsi. “Semuanya saya ajarkan untuk peduli lingkungan dengan cara lain. Semua pasti ada hasilnya di masa mendatang,” imbuhnya.

“Intinya, kalau kita mau pasti bisa. Jadi kreatif atau pengusaha tak perlu biaya besar. Hal semacam itu, pasti banyak orang lain bisa tapi tetap perlu perhatian serius dari pemerintah daerah,” tutupnya.

 

 

Hebat, Putri Petani asal Ponorogo Ini Wisudawan Terbaik UM

Agrery Ayu Nadiarenita SPd, wisudawan terbaik UM (Tika)
Agrery Ayu Nadiarenita SPd, wisudawan terbaik UM (Tika)

MALANGVOICE – Senyum senantiasa terurau dari wajah Agrery Ayu Nadiarenita SPd. Pasalnya, lulusan program sarjana Bimbingan dan Konseling UM ini menjadi wisudawan terbaik dalam wisuda yang akan digelar besok, Sabtu (4/3).

Agrery berhasil menyelesaikan studinya di Fakultas Pendidikan hanya dalam waktu 3,5 tahun alias tujuh semester.

Indeks prestasi kumulatif (IPK) yang berhasil dia raih juga mencengangkan, dari 791 wisudawan, dia berhasil mendapatkan IPK 3,93.

Istimewanya lagi, anak tunggal dari pasangan Moch Takin dan Endang Reni Pertamawati ini berasal dari keluarga petani.

“Bapak petani, ibu guru BK. Sebetulnya mengambil jurusan BK itu karena terinspirasi dengan ibu,” kata dia saat ditemui usai gladi bersih wisuda, di Graha Cakrawala UM, Jumat (4/3).

Agrery yang juga lulusan SMAN 1 Ponorogo jurusan IPA ini bercerita, judul skripsinya adalah Pengembangan Paket Bimbingan Perencanaan Studi Lanjut dengan Model Kreatif Problem Solving Bagi Siswa SMA. Tempat yang dia jadikan lokasi penelitian adalah SMAN 9 Malang.

“Jadi saya melakukan penelitian ke siswa SMA. Meneliti bagaimana mereka menyelesaikan masalah jika keinginannya tidak sesuai,” kata perempuan kelahiran 22 tahun lalu ini.

Dia menjelaskan, biasanya, remaja cenderung untuk menentukan hanya satu pilihan. Jika tidak sesuai dengan pilihannya, akan berputus asa.

“Misalnya ingin mengambil pendidikan dokter, jika tidak diterima jatuhnya malah putus asa. Padahal, banyak yang masih bisa dipilih. Makanya harus kreatif dalam memecahkan masalah,” tandas dia.

VIDEO: Usaha Pengrajin Kayu Mantan Narapidana

MALANGVOICE – Sempat merasakan tinggal di lapas Lowokwaru karena kasus narkoba, namun Mario Bennet tak putus asa.

Berbekal keahlian bimbingan di dalam penjara, ia kemudian membuat kerajinan sendiri setelah keluar lapas.

Setelah menjalani proses hukum, usaha ini berkembang semakin luas hingga saat ini. Berbagai macam kerajinan seperti kacamata, jam tangan, lampu belajar, dan berbagai macam kerajinan lainnya yang berbahan dasar dari kayu dan bambu. Workshop yang beralamat di jalan Kemantren 1 No. 12, Bandungrejosari, Sukun, Kota Malang ini juga memanfaatkan teman temannya sebagai karyawan.(Der/Aka)

Aksi Kompi Sumeru dan TRIP di Wingate Action Karanglo, Singosari, dan Lawang Repotkan Belanda

Sersan Ginkel (KL), Mayor Budiono, dan Mayor Abdul Manan. Kontak awal setelah gencatan senjata (Agustus1949). (Istimewa)
Sersan Ginkel (KL), Mayor Budiono, dan Mayor Abdul Manan. Kontak awal setelah gencatan senjata (Agustus1949). (Istimewa)

MALANGVOICE – Sesudah Perjanjian Renville, gencatan senjata tercapai. Namun, disadari sebagaimana di daerah-daerah lainnya, Belanda tidak jarang melakukan pelanggaran. Perjanjian Renville menjadikan wilayah RI semakin sempit dan dikurung daerah-daerah pendudukan Belanda.

Pada 19 Desember 1948, pukul 06.00 pagi Belanda melakukan Agresi Militer II. Hampir seluruh kota di Jawa berhasil dikuasai, termasuk Malang, yang semenjak Agresi Militer I sudah diduduki Belanda, dengan garis demarkasi ditentukan dari Pakisaji.

Belanda semakin meningkatkan patrolinya dengan pasukan berlapis baja di jalan raya Malang-Batu, Karanglo, dan Malang-Lawang yang menjadi jalur utama logistik dan mobilitas pasukannya.

Saat itu, penduduk semakin menyatu dengan pasukan RI. Hampir semua desa sudah menjadi daerah kekuasaan pasukan negeri, kecuali jalan raya. Pemerintahan sipil bentukan Belanda, Recomba (Regering’s Comtabiliteit Bestuur Ambtenaar) sudah nyaris lumpuh. Untuk itu pemantapan penguasaan wilayah yang telah dikuasai harus dibina dengan membentuk pemerintah darurat. Diangkatlah Soewartono sebagai Camat Karangploso, dan M. Rifai sebagai Camat SIngosari, dan Lawang masih dalam proses.

Pada Maret 1949, Belanda mengadakan patroli dan operasi besar-besaran di Karanglo dan Singosari. Pagi buta mereka mengadakan operasi pembersihan serentak dengan pasukan lapis baja dan bantuan pesawat pengintai. Pengepungan dari berbagai jurusan, tembakan membabi-buta, dan penduduk yang tertangkap dikumpulkan dan diinterogasi. Namun, karena gotong royong yang kuat antara penduduk dan pasukan gerilya RI, berita pengepungan ini sudah diketahui secara beranting, dan operasi pasukan Belanda dianggap kurang berhasil.

Untuk memperkecil nyali musuh dan mempersempit ruang gerak mereka, pasukan RI sering melakukan penyerangan ‘hit and run’ dengan kelompok-kelompok kecil. Menjelang subuh mereka menyerang pos-pos Belanda di daerah Karangploso, Pendem, dan Singosari. Juga penyerangan terhadap konvoi pasukan Belanda di sepanjang jalan Malang-Lawang dari atas bukit Mondoroko-Watugede, dan Songsong.

Dalam operasi besar yang dilakukan, gugur tiga pahlawan, yakni Komandan Regu Kopral Sumedi, Pratu Mochib yang tertembak di desa Tegalgondo Karangploso, dan Sersan I Madasih yang tertangkap dan ditembak di Ngroto, Pujon. Dari kesatuan lain, regu Heri Sugondo juga tertangkap.

Pada saat Wingate Action Kepala Staf Batalyon III memerintahkan Letnan Satu Soeyono untuk membantu Kompi Sumeru dalam memantapkan penyelenggaraan pemerintahan sipil di daerah Karangploso, Singosari, dan Lawang, serta memperkuat daya tahan perang gerilya di wilayah tersebut.

Diangkatnya Sersan Mayor Paimin, yang dikenal dengan Komandan ‘Stroot troep’ menjadi Komandan Seksi III, semakin meningkatkan serangan dan penghadangan terhadap pasukan Belanda. Seksi Suwandi yang bermarkas sementara di Dengkol, Singosari Timur, giat melaksanakan sabotase, seperti memutus kabel telepon, merusak jalan kereta api, bahkan membakar pasar Singosari. Pos-pos Belanda di Singosari pun tidak pernah tenang dari gangguan Seksi Suwandi. Nyaris setiap hari dilakukan penghadangan di jalan raya Malang-Surabaya, dan tidak jarang menewaskan beberapa dari konvoi pasukan Belanda. Pasukan “O” yang berkedudukan di desa Lang-Lang juga aktif membantu pasukan Kompi Sumeru dalam penyerangan dan penghadangan.

Anggota TRIP yang tergabung dalam Kompi Sumeru membantu penggalangan masyarakat dengan membuat dan menempelkan poster-poster di tempat strategis untuk membangkitan semangat rakyat melawan Belanda. Anggota TRIP mengusahakan cap dan stempel pemerintah darurat RI, baik untuk kecamatan maupun desa-desa, yang secara sembunyi-sembunyi dipesan dari Toko Buku ARC Salim, dalam rangka memperkuat legalitas pemerintah darurat RI dan melenyapkan pemerintah bentukan Belanda (Recomba).

Ketika penguasaan daerah telah cukup mantap, Kondan Sektor dipindahkan ke kampung Jeruk. Mendeg. Markas Seksi Suwandi bergeser ke Desa Ngepoh. Wilayah Kecamatan Karangploso, Singosari dan bagian timur Kecamatan Lawang dikuasai oleh Batalyon Abdul Manan, sementara Belanda hanya menguasai kota kecamatan dan jalan raya Malang-Surabaya.(idur)

Raisa, dari Voice Over Pemerintahan hingga Produk Kecantikan

Raisa Amalia
Raisa Amalia

MALANGVOICE- Di dunia entertainment dan broadcasting Malang Raya, nama Raisa Amalia sudah cukup dikenal. Kodew satu ini, selain dikenal sebagai MC (master of ceremony), juga penyiar di salah satu stasiun radio kegemaran anak muda.

Tak hanya itu, mahasiswa semester akhir di UB ini juga kerap dipercaya menjadi voice over (VO) alias pengisi suara di beberapa produk, mulai company profile Pemkab Pasuruan, beberapa pemerintah daerah di Kalimantan, penyedia jasa wisata hingga produk kecantikan.

“Aku hobi dan punya passion di bidang entertaintment dan broadcasting. Jadi aku tekuni saja, eh malah jadi hobi yang dibayar. Sebenarnya nggak nyambung sih sama kuliahku,” jelas mahasiswa jurusan Teknologi Hasil Pertanian (THP) UB ini.

Sebagai entertainment, MC dan juga VO tallent, tentu saja kesibukan perempuan 25 tahun ini maha hebat.

Selama satu minggu dia memiliki jadwal MC hingga empat kali, dengan durasi maksimal empat jam. Sementara jadwal siarannya seminggu dua kali.

“Makanya stamina harus dijaga. Keteraturan pola makan dan pola istirahat itu penting dijaga,” jelas music director Elfara FM ini.

Komunitas