Penting, Label Distribusi untuk Industri Musik

Diskusi (anja)

MALANGVOICE – Label Distribusi merupakan sektor penting dalam industri musik tanah air. Menurut Vokalis Arema Voice, Wahyu GV, Kota Malang kaya dengan band-band baru kreatif yang produktif, tapi belum ditopang dengan kemampuan memasarkan karya mereka.

“Bikin album musik itu mudah. Yang susah itu memasarkan. Disaat industri musik tanah air tidak bisa diandalkan alias mati suri, ini lho pentingnya keberadaan label musik untuk mengantarkan karya mereka sampai ke telinga konsumen,” kata Wahyu, saat ditemui MVoice, beberapa menit lalu, di Cafe Story miliknya.

Wahyu juga menyarankan dan memotivasi para musisi di Kota Malang untuk terus menjaga komunikasi dengan label-label lokal dan memanfaatkan media.

“Mestinya kita harus saling mengenal, sehinga kebersamaan kita mampu menghasilkan solusi. Yang penting kamu punya konsep musik, genre apapun, yang penting kamu bisa berkarya bagus,” tambahnya.

Dia juga menambahkan, media juga salah satu faktor mutlak untuk pemasaran musik.

“Media itu motivasi terbesar. Memasarkan musik saat ini lebih gampang daripada memasarkan musik 10 tahun lalu. Sosial media seperti Youtube dan lain-lain harus dimanfaatkan,” tuturnya.

“Semoga MVoice Jadi yang Terdepan”

“Semoga MVoice menjadi salah satu media online yang memiliki reputasi akurat dalam pemberitaan. Selain itu, semoga selalu menjadi yang terdepan dalam memberikan informasi bagi masyarakat Malang Raya”

Merasa Hidupmu Susah? Tengok Pasangan Tuna Netra Ini!

Pasangan difabel penjual lauk dan buah (Tika)
Pasangan difabel penjual lauk dan buah (Tika)

MALANGVOICE – Jumat (10/2) siang di kawasan Merjosari, tampak sepasang suami istri menyeruak di tengah kemacetan.

Berjalan dengan mendorong gerobak dagangan mereka, sesekali langkahnya menyimpang ke kanan dan harus diperingkatkan oleh pengendara motor dengan klaksonnya.

Usai menyimpang ke kanan, langkah pasangan suami istri ini kembali ke sisi jalan sebelah kiri.

Sepintas terlihat seperti pedagang asongan dengan gerobak pada umumnya. Namun tahukah Anda, kedua orang ini adalah tuna netra. Ya, mereka sudah kehilangan penglihatan.

Meski dalam kondisi keterbatasan fisik, Cuplik (47) dan suaminya, Sandi (50) setiap pagi sekitar pukul 10.00 mereka menyusuri jalan di sekitar Dinoyo, Merjosari hingga kawasan Universitas Brawijaya untuk menjajakan dagangannya.

Dagangannya adalah aneka lauk, buah-buahan dan kue lainnya. Berdasarkan cerita Cuplik kepada MVoice, sudah empat tahun mereka menjadi pedagang asongan dengan mendorong gerobak.

“Dulu kami tukang pijat tapi karena tidak kuat harus ditarget setoran, uang yang kami dapatkan tidak cukup akhirnya kami jualan,” kata dia sembari melayani pesanan MVoice.

Warga Dinoyo Gang VI ini bercerita, setiap hari mereka harus menyusuri jalan berkilo-kiko meter untuk berjualan.

Mereka sudah akrab dengan klakson kendaraan bermotor, rute yang ditempuh dan setiap jengkal jalanan yang harus dilalui.

“Takut tertabrak ya ada Mbak, tapi kami selalu jalan di pinggir kiri. Kalau daerah sini saya sudah hafal, karena dulu waktu kecil juga bermain dengan anak-anak normal,” kata perempuan dengan mata kanan buta total dan mata kiri bisa melihat walau sangat remang.

Ketika akan memberikan uang kembalian, Cuplik juga terlihat kesusahan. Dia bertanya kepada pembeli berapa uang yang mereka berikan, dan harus dikembalikan berapa.

“Mbak, uangnya samean berapa? Kembaliannya berapa?” tanya dia kepada MVoice.

Cuplik harus melihat dengan jarak sangat dekat untuk mencari uang kembalian. Sementara suaminya yang sudah kehilangan penglihatan sejak lahir, berdiri dengan sabar menanti istrinya menyelesaikan urusan.

“Mbak, apa uang ini Rp 5 ribu? Tolong samean hitung ya,” pinta dia sembari mengangsurkan sejumlah uang koin yang sudah diselotip rapi.

Cuplik mengaku selalu melakukan hal ini jika akan memberikan uang kembalian ke pembeli. Tidak ada kekhawatiran darinya akan ditipu oleh orang lain.

“Enggak Mbak, saya memang nggak bisa melihat tapi saya percaya saja,” kata dia.

Cuplik mengaku setiap hari yang berbelanja ke pasar setiap pukul 03.00 adalah ibunya.

“Dagangan ini punya ibu saya. Dijual subuh, kalau tidak habis baru saya yang keliling sama suami,” kata dia ramah.

Mbois! lewat Uru-Uru SMKN 3 Batu Sabet Juara Film Pendek Nasional

Hanny Aulia Ningtyas dan Nadia Bunga menunjukkan piala Juara I Lomba Film Pendek, Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N). (Aziz Ramadani/MVoice)
Hanny Aulia Ningtyas dan Nadia Bunga menunjukkan piala Juara I Lomba Film Pendek, Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N). (Aziz Ramadani/MVoice)

MALANGVOICE – SMKN 3 Batu kembali menambah koleksi piala film pendek di Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) 2018 tingkat SMK. Karya berjudul Uru-Uru sukses mengantarkan prestasi membanggakan tersebut.

Tim terdiri 7 siswa kelas XII jurusan Broadcasting itu sukses menyisihkan 26 sekolah peserta lain. Adalah Hanny Aulia Ningtyas sebagai produser, Nadia Bunga sebagai sutradara, Fitra Kurniawan sebagai cameraman, Allisya Damayanti sebagai penata artistik, Kevin Dio Achmad sebagai penata suara, Rio Reza Setyawan sebagai lightman, dan Nurrohmat Adi sebagai editor. Lomba diadakan di GOR Harapan Banda Aceh, Juli lalu.

Film berdurasi 9 menit 59 detik itu angkat budaya Uru-Uru atau timang-timang. Gagasannya berangkat dari kegelisahan mereka sekaligus kerinduan terhadap budaya yang dialami semasa kecil.

“Namun saat ini budaya itu luntur. Kebanyakan anak-anak ketika merengek justru malah diberi gadget,” kata Hanny.

“Ini ide bersama kami. Kami merasa merindukan masa itu. Dan saat ini juga sudah jarang terlihat, bahkan hampir hilang di masyarakat,” imbuhnya.

Film ini menceritakan tentang tokoh utama bernama Rara berusia 7 tahun. Yang sejak kecil tinggal bersama neneknya. Saat itu pula Rara ditimang-timang disertai tembang Jawa berjudul Dandang Gulo. Namun, setelah sang nenek meninggal dunia, Rara kembali ke rumah dan tinggal bersama mamanya.

“Nah, mamanya Rara ini selalu sibuk dengan pekerjaannya dan jarang menghiraukan si Rara. Tentu Rara merasa kesepian dan teringat dengan kenangan bersama neneknya,” sambung Hanny.

Beruntunglah, Rara dititipi buku aksara Jawa oleh mediang neneknya. Rara mulai termotivasi mempelajari bahasa Jawa dan berkonsultasi dengan gurunya. Hari demi hari Rara akhirnya belajar dan bisa mengenal aksara Jawa dan tembang-tembang Jawa yang mengandung pesan moral.

Sutradara Uru-Uru, Nadia Bunga menambahkan, proses pembuatan film ini memakan enam bulan lamanya. Selama proses pembuatan film ini beberapa kendala juga dialami. Seperti mencocokkan pemeran dengan perannya hingga soal lokasi syuting.

“Tetapi secara keseluruhan kendala teknis bisa kami atasi” tutupnya.(Hmz/Aka)

Netra, si Cantik yang Jago Menembak

Netra Sakanti Putri, Juara Danden Matra 2 Cup I kelas Lady Shooter (Tika)
Netra Sakanti Putri, Juara Danden Matra 2 Cup I kelas Lady Shooter (Tika)

MALANGVOICE – Cantik, menarik, berambut panjang dan jago menembak. Itulah sepintas gambaran dari Netra Sakanti Putri.

Peserta kejuaraan menembak level 2 nasional, Danden Matra 2 Cup I ini cukup mencuri perhatian.

Pasalnya, ketika bertanding di lapangan tembak Brotherhood Nagapasa Denmatra 2 Paskhas, Singosari, Kabupaten Malang, ia mengenakan kostum serba merah muda.

Mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Bahkan, senapan api yang digunakan memiliki rangka pink.

Bukan hanya itu saja, dua tembakan dia lepaskan dan keduanya tepat sasaran. Tidak heran jika dia menjadi pemenang kelas Lady Shooter di perlombaan kategori profesional IPSC ini (International Practical Shooting Confederation) ini.

Ternyata menjadi jawara di kelas Lady Shooter ini bukan yang pertama bagi perempuan asal Jakarta ini.

“Di Bali Lady Shooter saya dapat juara I,” ceritanya kepada MVoice, usai menembak.

Pengusaha konveksi ini mengisahkan, dia aktif di tembak reaksi ini sudah empat tahun.

“Saya gabung di Eagle shooting Club,” kata dia.

Bagi dia, join di kegiatan menembak adalah tantangan dan pengalaman baru. Walaupun Netra pernah mendapatkan pengalaman tidak mengenakkan.

“Saat kejuaraan di Surabaya, saya pernah didiskualifikasi, karena ada peraturan yang katanya saya langgar tapi saya nggak tahu dan terus bermain. Tapi dengan begitu jadi semakin terpacu,” tandas dia.

Jadi Wisudawan Tertua di UB, Kakek 71 Tahun Masih Ingin Kuliah Lagi

Mochammad Istiadjid Edi Santoso tersenyum setelah diwisuda. (istimewa)

MALANGVOICE – Menuntut ilmu tidak mengenal batas usia. Kalimat itulah yang paling cocok menggambarkan semangat Prof Dr Dr dr Mochammad Istiadjid Edi Santoso, yang dinobatkan sebagai wisudawan tertua di Universitas Brawijaya (UB) Malang.

Meski usia menginjak 71 tahun, namun semangat belajar Edi bisa diadu dengan mahasiswa UB lainnya yang diwisuda pada Sabtu (30/9). Hal ini terbukti dari banyaknya gelar yang dia peroleh. Terhitung ada sembilan gelar yang dia sandang di bidang ilmu kedokteran dan ilmu hukum.

Dijelaskannya bahwa mendapat banyak gelar bukanlah tujuan utama dalam hidupnya. Tujuan utamanya adalah belajar demi mendapatkan ilmu dan wawasan yang selama ini diminatinya.

Menurutnya belajar itu menyenangkan dan tidak ada yang sulit asalkan bisa dijalani dengan ikhlas dan disiplin. Hobi belajar ternyata sudah dimilikinya sejak duduk di bangku sekolah rakyat atau Sekolah Dasar.

“Meskipun waktu kecil saya nakal sekali suka nyuri tebu dan main di sungai tapi saya selalu berprestasi di sekolah karena saya tidak pernah meninggalkan waktu belajar,” kata gubes UB tersebut.

Ketekunannya dalam belajar ternyata membuahkan hasil, ketika dia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) dia meraih predikat pertama siswa terbaik tingkat kabupaten.

Selepas dari SMA dia ternyata diterima di perguruan tinggi ternama, antara lain Teknik Elektro ITB, FT ITS, FK UGM, dan FK Undip.Diantara banyak tawaran dia akhirnya menjatuhkan pilihan di FK UGM karena menurut dia lokasinya paling dekat dengan rumah di Klaten.

Selesai menempuh pendidikan di FK UGM pada tahun 1971. Di tahun 1980, kakek yang sudah mempunyai tiga cucu tersebut mengambil spesialisasi ilmu penyakit saraf atau neurologi.

Pada tahun 1984 hingga 1987 mengambil sesialisasi ilmu bedah saraf. Tidak puas sampai disitu pada tahun 2004, Istiadjid lulus dari doktor Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga pasca sarjana dan dua tahun kemudian meraih gelar Guru besar dari UB dengan bidang bedah saraf.

Pada saat pensiun di usia 70 tahun, dekan FK masih memberdayakannya untuk mengajar bidang filsafat (bioetika) dan ilmu hukum kedokteran atau kesehatan.

“Di sela sela kesibukkan saya mengajar saya menyempatkan untuk mengambil kuliah lagi di bidang magister ilmu hukum Unmer pada tahun 2008 dan mengambil gelar sarjana ilmu hukim dari Universitas Wisnu Wardhana pada tahun 2013. Saat itu kedua universitas tersebutlah yang mempunyai program ekstension,” katanya.

Lintas jurusan yang dia ambil bukanlah tanpa alasan. Prof Istiadjid mengatakan bahwa standar kompetensi seorang dokter ada tujuh area diantaranya etika moral medikolegal atau hukum kesehatan profesionalisme dan keselamatan pasien atau patient safety.

“Oleh karena itu saya ambil hukum. Makanya disertasi saya judulnya pertanggungjawaban perdata malpraktik dokter,” katanya.

Saat ini dia ingin ada anak-anaknya yang bisa mewarisi semangatnya dalam belajar. Dia berharap anak laki-lakinya yang nomer dua bisa melanjutkan kuliah hingga program doktor.

“Saya juga masih ingin belajar dan kuliah lagi jika fisik dan pikiran saya masih mendukung saya ingin kuliah filsafat. Bioetika itu cabang dari ilmu filsafat,” kata kakek yang mempunyai moto hidup life long learning ini.(Der/Yei)

‘’Jaga Independensi dan Loyal ke Publik’’

‘’Berita yang disajikan lebih berpihak kepada publik serta menjunjung tinggi martabat pers. Sebagai media baru sepatutnya menjaga loyalitas kepada public.  Independensi dan mematuhi kode etik jurnalistik mutlak dilakukan semua media. Agar supaya, masyarakat menerima informasi yang proporaional dan berimbang. Keunggulan media online adalah kecepatan menyajikan berita, tetapi tetap mengacu pada pedoman media siber.”

 

Dikemas Mirip Kantung Darah, Usaha Minuman Ini Beromzet Puluhan Juta

Jessi Jee (anja)

MALANGVOICE – Minuman nyeleneh semakin laris manis karena kemasan dan tampilan unik menambah kesan atau sensasi tersendiri bagi konsumen. Misalnya saja aneka susu dari Milks Lab, bisnis minuman yang digawangi Jessi Jee.

Produk Milks Lab (istimewa)
Produk Milks Lab (istimewa)
Menurutnya, jaman sekarang, remaja suka narsis dan mencari sensasi kuliner yang berbeda.

“Jaman sekarang anak-anak dan muda mudi memburu tampilan kemasan. Kemasan minuman mulai aneh-aneh. Meski begitu, soal rasa kita juga tidak mau asal isi saja,” kata Jessi kepada MVoice.

Uniknya, Milks Lab mengemas susu dalam wadah yang mirip sekali dengan kantung darah. Cara minumnya pun lewat selang yang sudah tersedia pada kantung tersebut. Selain itu, ada juga minuman dikemas dalam botol susu bayi. Semuanya tersedia dalam 5 varian rasa yaitu greentea, taro, mocca, vanilla, dan coklat.

Belum genap 5 bulan, bisnis yang ia jalani sendirian ini sukses meraih omzet puluhan juta.

“Satu botolnya 15.000 an. Seminggu saya bisa menjual 1000 botol, belum lagi kalau ada event-event khusus. Sampai saat ini omzet kotornya ada sekitar 50 jutaan/bulan,” kata wanita yang tinggal di Jalan Terusan Titian VI/L9 ini.

Melalui sosial media, susu murni racikan Milks Lab dijual di Malang, Gresik, dan Surabaya saja karena produk tersebut tidak menggunakan bahan pengawet.

Peduli Sosial, Lawang Rescue Ajak Anak Punk Belajar Isyarat

Sejumlah anak punk mengikuti pelatihan bahasa isyarat. (Istimewa)

MALANGVOICE – Belasan anak-anak punk anggota Lawang Street Punk Minggu (13/8) berbaur dengan masyarakat lainnya mengikuti pelatihan bahasa isyarat Indonesia (Bisindo) di Agrowisata Petik Madu Lawang. Pelatihan yang diadakan Lawang Rescue ini bekerjasama dengan Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin), komunitas disabilitas Lingkar Sosial (LINKSOS) dan Forum Malang Inklusi (FOMI).

Pelatihan ini bertujuan menyebar bahasa isyarat serta mengapresiasi kepedulian warga punk terhadap lingkungan dan sosial. “Anak punk yang selama ini dianggap sampah oleh sebagian masyarakat sebenarnya sama seperti warga negara lainnya yang memiliki kepedulian terhadap sosial dan lingkungan,” kata Ketua Lawang Rescue, Cussy, yang selama ini mendampingi anak-anak jalanan atau dikenal sebutan punk dengan berbagai kegiatan sosial.

Menurut Cussy, pengembangan dan peningkatan sumber daya manusia anak-anak punk merupakan keterampilan dan bekal mereka agar bisa diterima masyarakat.

“Kami memiliki tim SAR untuk penanganan bencana alam, yang kedepan kami akan fokus membantu warga disabilitas ketika bencana, oleh karena itu pelajaran bahasa isyarat ini sangat penting untuk menghapus hambatan komunikasi dengan difabel utamanya tuli,” kata Cussy.

Forum Malang Inklusi (FOMI) sebagai wadah llntas organisasi penyandang disabilitas, sosial dan kemanusiaan di Malang Raya dalam kegiatan ini berperan menfasilitasi hubungan kerjasama antar pihak untuk mengkampanyekan hak-hak disabilitas termasuk aksesibilitas warga tuli. Mendukung sepenuhnya kegiatan Lawang Rescue dan lintas organisasi lainnya yang menaruh kepedulian terhadap masalah disabilitas.

Terkait tuli ketersediaan fasilitas isyarat memang masih minim dinikmati oleh penyandang disabilitas tuna rungu, seperti ketersediaan running tex di loket, bahasa isyarat di acara televisi juga sekolah inklusi. Hal ini mengakibatkan tuli mengalami hambatan komunikasi, ketinggalan informasi dan keterbelakangan sosial.

Belum lagi stigma atau pandangan negatif masyarakat yang sebagian menganggap tuli adalah aib. Mereka malu dan mengisolasi anggota keluarganya yang mengalami tuli dari pergaulan sosial.

Pelayanan yang berbeda pada warga negara yang mengalami tuli dan perlakuan masyarakat ini mestinya tak boleh terjadi, atas dasar hak azasi manusia dan amanah UU RI no 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Terkait aksesibilitas atau kemudahan bagi penyandang disabilitas dalam menggunakan fasilitas umum pun telah diatur dalam Permen PU Nomor 30 Tahun 2006.

Upaya menghapus stigma dan diskriminasi pun terus menerus dilakukan terutama oleh para penggiat komunitas tuli. Di Malang Raya lintas komunitas tuli Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin), Aksi Arek Tuli (Akar Tuli) dan Shining Tuli Kota Batu, memanfaatkan momen Car Free Day (CFD) untuk pelatihan bahasa isyarat gratis bagi masyarakat yang berminat.

Yang menggembirakan animo masyarakat untuk peduli terhadap warga tuli juga meningkat, hal ini ditandai dengan adanya beberapa kelas bahasa isyarat yang dikelola secara gratis di beberapa tempat. Seperti di Lawang Kabupaten Malang, Lingkar Sosial (LINKSOS) bekerjasama dengan lintas komunitas tuli membuat kelas bahasa isyarat secara rutin setiap bulannya secara gratis.

Kemudian di Sumbermanjing Kulon tepatnya di SD Muhamadiyah 10, kelas bahasa isyarat dibuka oleh Program 1000 Sepatu untuk Anak Indonesia bersama Gerkatin Malang selama satu bulan setiap hari Sabtu. Kelas ini diikuti oleh dua anak siswa tuli bersama orangtuanya, guru kelas, anggota komite dan kepala sekolah. Serta pelatihan bahasa isyarat Lawang Rescue bersama Lawang Street Punk yang kedepan berlanjut membangun kerjasama untuk pengurangan resiko bencana bagi penyandang disabilitas.


Reporter: Muhammad Choirul Anwar
Editor: Muhammad Choirul Anwar
Publisher: Yuliani Eka Indriastuti

Tugas Akhir Lukisan Mahasiswa Ini Diinspirasi Kasus Munir

lukisan Munir by Erwin (anja)

MALANGVOICE – Erwin Saputra (22), mahasiswa prodi Seni Rupa Murni Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB) Malang, memamerkan karya untuk tugas akhir studinya.

Menariknya, sejumlah lukisan yang dipajang hingga pada 29-31 Juli menggambarkan sosok pejuang HAM. Ada Marsinah, Wiji Thukul dan Munir.

“Mereka menjadi inspirasi lukisan-lukisan saya,” jelas mahasiswa semester delapan ini.

Karena itu, tugas akhirnya diberi judul ‘Kasus Pelanggaran HAM yang Belum Terselesaikan sebagai Ide Penciptaan Karya Seni Lukis’.

Munir2Menurut dia, hingga kini kasus mereka belum terungkap, bagai benang kusut. Benang kusut itu ia jadikan inspirasi metode pelukisannya, menggunakan dominasi warna hitam dan putih. Goresan-goresan putih itu kemudian tersusun menjadi wajah pejuang HAM itu.

Di lukisan itu ada tangan hitam menutup mulut, hidung dan sebagian kecil mata aktivis HAM itu. Di bagian kiri bawah ada potongan tangan warna merah, seperti memegang seutas benang.

Muni3Jika benang itu terus ditarik, maka akan terhubung dengan wajah Munir. Wajah itu dibuat seperti rangkaian benang yang ruwet.

“Ada tangan dengan warna merah itu jadi lambang perlu ada keberanian, harus ada yang mengurai,” jelas mahasiswa Bidikmisi ini.

Menurut dia, sebagai perupa, dia prihatin dengan hal itu. Dengan tugas akhir ini, dia mungkin bisa mengingatkan orang dan negara, bahwa ada kisah yang belum terselesaikan.

Komunitas