Ono Gaf, The King of Steel Asli Malang

Ono Gaf dan Kura-kura
Ono Gaf dan Kura-kura (anja)

MALANGVOICE – Ono Gaf merupakan seniman asli Kota Malang yang memanfaatkan logam, besi, dan baja bekas, menjadi patung baja bernilai seni tinggi.

Dari kecil Ono tinggal di lingkungan yang penuh dengan barang logam bekas. Umur 7 tahun ia sudah bisa membuat karya sederhana dari logam.

Untuk mendapatkan besi-besi itu, dia mencarinya di pasar loak.

Buaya“Saya kumpulkan sedikit demi sedikit. Lama-lama rumah saya penuh tumpukan besi bekas. Ada besi dari motor, truk, dan kereta. Tidak langsung borong banyak ya, soalnya tidak semua besi bisa dipakai,” katanya kepada MVoice.

Di luar negeri, Ono Gaf dikenal juga dengan sebutan King of Steel atau raja baja. Sebutan itu disandangnya, karena karya seni milik Ono sudah go internasional hingga Australia, Amerika, Korea Selatan dan New Zeland.

Karya Ono yang paling terkenal dan terbesar adalah patung besi kura-kura, dengan berat 10 ton setinggi 3 meter.

Pada kesempatan lain Ono juga sering memberi seminar, ikut pameran seni, dan melukis. Karya-karya Ono banyak di pamerkan di ICC (International Culture Center) di Pandaan dan beberapa galeri di luar negeri.

Patung karya Ono juga dipajang di sejumlah destinasi wisata, seperti Selecta, Jatim Park, dan beberapa kota lain.

Mama Muda Cantik ini Raup Untung dari Kokedama

MALANGVOICE– Kata siapa bertani itu kolot. Di tangan kreatif Lily Indayani (32), beberapa jenis tanaman dan bunga mendatangkan untung tinggi.

Lily memanfaatkan teknik kokedama. Yakni cara mengemas tanaman dengan bahan sabut atau serat dari buah kelapa. Dibentuk menyerupai bola. Teknik ini asalnya dari Jepang. Dia kembangkan lagi sedemikian rupa. Dari asalnya media lumut diganti serat kelapa.

“Ide awalnya itu dari orderan souvenir untuk pernikahan. Tujuannya bagaimana tamu undangan yang bawa tidak repot. Misal tanahnya tumpah,” kata Lily ditemui MVoice di kebun sekaligus kantornya di Jalan Pattimura No.141 Kota Batu, Minggu (12/8).

Tak disangka kemudian banyak yang tertarik dengan inovasi tersebut. Sekitar tahun 2017 lalu, mulai diproduksi massal. Tanaman yang dikemas pun jenis tertentu. Terlebih tanaman yang mudah perawatannya. Kebanyakan untuk tanaman kaktus. Tapi juga bisa tanaman indoor yang lainnya seperti calathea, kadaka, bromelia, sansevieria, aglaonema, montera, dan sebagainya.

“Sebelumnya ya penelitian dulu tanaman apa yang cocok (dengan teknik kokedama). Cenderungnya yang akar serabut,” jelas ibu satu anak ini.

Lily menambahkan, inovasi kokedama miliknya pun mendapat respon positif dari warga Italia. Persisnya saat alumnus Pertanian Universitas Brawijaya ini menempuh studi di Universitas Della Calabria Italy.

Sebab, menggunakan teknik ini, tanaman hias selain indah juga bersih. Cocok ditempatkan di dalam ruangan. Perawatan juga sangat mudah, cukup disiram dan diberi pupuk secara berkala.

“Jadi waktu itu ajukan proposal dari penelitian kokedama. Untuk konsep pesta komunitas pilot,” kenangnya.

Selain itu, lanjut dia, media ini cocok untuk urban garden yang berada di perkotaan, karena tidak membutuhkan lahan luas dan perawatan yang mudah. Produknya kini mencapai pasar nasional. Mulai Bali, NTB, Papua dan Kalimantan. Dalam sepekan saja, pihaknya memproduksi kokedama minimal 100 buah. Harga bervariasi tergantung jenis tanaman. Yakni mulai Rp 35 ribu sampai Rp 350 ribu.(Der/Aka)

”Mari Berkarya untuk Malang Raya”

“Media online merupakan kebutuhan masyarakat, MVoice sekarang telah ikut meramaikan media online di Malang Raya. Mari kita berkarya dengan berbuat yang terbaik untuk masyarakat Malang Raya dan sekitarnya. Soal kecepatan, akurasi berita, dan independensi, saya yakin MVoice akan jadi yang terbaik.”

EH Kampanye Diet Kantong Plastik di SMPN 15 Malang

siswa membuat tempat sampah
siswa membuat tempat sampah (anja)

MALANGVOICE – Earth Hour (EH) Kota Malang kembali mengadakan aksi. Kali ini di SMP Negeri 15 Malang, atau biasa disebut program School Campaign.

School Campaign merupakan aksi rutin dari Earth Hour Malang untuk mengajak pelajar di Kota Malang peduli dengan lingkungan dan dapat menularkan gaya hidup hijau di lingkungan sekitarnya masing-masing.

Aksi yang dilakukan pagi, hari ini, mengajak semua murid kelas 7, sebanyak 9 kelas. Aksi ini merupakan aksi ketiga yang dilakukan EH Malang, setelah sebelumnya dilakukan di SD Negeri Tanjungrejo 5 Malang dan di SMA Brawijaya Smart School Malang.

Kali ini, aksi mengangkat tema tentang sampah dan Kampanye Beli Yang Baik. Materi sampah dimulai dengan penjelasan jenis-jenis sampah, dan disambung dengan bahaya sampah plastik dan kebijakan kantong plastik berbayar.

Diharapkan,  peserta mengerti tujuan dari dibuatnya kebijakan plastik berbayar tersebut.

siswa membuat tempat sampah (anja)Sedangkan materi Beli Yang Baik merupakan kampanye yang dicanangkan oleh WWF Indonesia kepada seluruh masyarakat Indonesia agar dapat menjadi konsumen yang baik dalam memilih suatu produk yang akan dibeli.

Karena masih banyak produk di pasaran yang tidak ramah lingkungan dan membahayakan ekosistem dalam produksinya.

“Kita adalah apa yang kita beli, dan apa yang kita beli adalah apa yang kita dukung. Jadilah konsumen yang cerdas dan bijak dalam memilih suatu produk,” kata Luh Putu Premayoni, kepada MVoice.

Kegiatan dilanjutkan dengan aksi lapangan membuat tempat sampah dari botol plastik bekas berukuran 1,5 liter, dan tas kain dari baju bekas.

Luh berhadap siswa bisa mempraktekkan perilaku recycle yang sederhana di lingkungan sekitarnya masing-masing.

“Jadi kita disini tidak hanya materi-materi aja, namun juga ada praktek langsung,” ucapnya.

Aksi lapangan ini kemudian dilombakan dan bagi kelas pemenang mendapatkan goodiebag sebagai upaya memulai diet kantong plastik dan berpindah menggunakan re-usable bag dalam aktivitas belanja sehari-hari.

Dulu Hobi Beli, Kini Mahasiswi Ini Sukses Usaha Aksesoris Handmade

Yannata sedang membuat gelang (anja)

MALANGVOICE – Kaum hawa memang tak pernah lepas dari yang namanya aksesoris, baik untuk pelengkap berpakaian atau sekadar hiasan. Alhasil, toko aksesoris tak pernah sepi pengunjung.

Aneka gelang karya Yannata (istimewa)
Aneka gelang karya Yannata (istimewa)

Sama halnya dengan Yannata Teti Auwinda, mahasiswi jurusan manajemen SDM, STIE Indonesia. Dulu ia sering pergi ke toko aksesoris untuk mengantarkan keponakannya.

“Saya pingin beli gelang, tapi selalu gak nemu yang modelnya sesuai keinginan,” kata Yannata kepada Mvoice.

Karena alasan itu, dia mulai belajar membuat gelang handmade melalui situs Youtube. Gelang yang ia buat menggunakan bahan rantai, logam-logam gantungan (charm) dari alloy, pita, tali kulit, mutiara imitasi dan sebagainya. Semuanya tersusun menjadi gelang cantik nan menarik.

Yannata (istimewa)
Yannata (istimewa)

Kini, gelang buatannya dijual secara online, dan cukup menarik minat pembeli.

“Gelang-gelang ini bisa dipesan sesuai keinginan. Pelanggan bisa pesan custom dengan model charm dan size yang berbeda-beda,” imbuh gadis kelahiran Malang ini.

Aneka gelang karya Yannata (istimewa)
Aneka gelang karya Yannata (istimewa)

Saat ini, Yannata sedang fokus memperluas pasarnya dan belajar membuat handmade aksesoris lain, seperti kalu, anting, dan gelang kaki.

“Suatu saat saya ingin punya toko aksesoris besar dan menjual karya-karya ini sebagai souvenir juga, dijual di dalam dan luar negeri,” katanya, sembari sibuk menyusun gelang.

Jurnal Dosen FT UB Raih Penghargaan Internasional

Rudy Yuwono (kanan) saat kegiatan teropong Gerhana (istimewa).

MALANGVOICE – Jurnal ilmiah Dosen Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT-UB), Rudy Yuwono, berhasil meraih Penghargaan Publikasi Ilmiah Internasional (PPII) dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) tahun 2016.

PPII adalah bentuk penganugerahan kepada periset atau kelompok periset yang telah berhasil mempublikasikan karya ilmiahnya di jurnal internasional yang terindeks lembaga professional.

Hebatnya, dosen pakar di bidang radar dan navigasi ini memperoleh penghargaan dari dua artikel ilmiah sekaligus. Yakni Design of Circular Path Microstrip Antenna with Egg Slot for 2.4 GHz Ultra-Wideband Radio Frequency Identification (UWB RFID) Tag Applications yang terindeks di jurnal internasional Applied Mechanics and Materials dan Design of Rugby Ball Patch Microstrip Antenna with Circle Slot for Ultra Wideband yang terindeks di jurnal Advanced Science Letters.

Selain dua artikel ilmiah dari dosen asli Tulungagung ini, terdapat 473 artikel ilmiah lainnya dari para peneliti seluruh Indonesia. Penghargaan yang diberikan berupa dana penelitian setinggi-tingginya 100 juta rupiah.

Persyaratan pendanaan riset PPII cukup ketat. Diantaranya, artikel ilmiah harus telah diterbitkan di jurnal internasional terindeks Scopus atau Thomson Reuters (berstatus published) dalam periode waktu lima tahun terakhir dan artikel ilmiah yang diusulkan ditulis dalam bahasa PBB (Inggris, Perancis, Spanyol, Cina, atau Arab).

Kemudian, terdapat kriteria penilaian PPII yang diatur berdasarkan nilai PPII seperti peringkat/mutu jurnal yang menerbitkan artikel ilmiah (terindeks Scopus atau Thomson Reuters) dan terdaftar dalam lembaga pemeringkat jurnal dunia (SCImago).

Lebih lanjut, Impact Factor jurnal serta jumlah sitasi artikel ilmiah (berdasarkan Scopus atau Thomson Reuters) juga dinilai dengan detail.

“Ini merupakan buah kerja keras selama selama rentang waktu 2011 hingga 2016. Perjuangannya berupa terus menulis dan menulis,” tutur Rudy saat ditemui di ruang kerjanya, hari ini.

Lebih lanjut, dosen yang mengampu mata kuliah Antena dan Propagasi ini menjelaskan bahwa semua peneliti bisa mendapatkan kesempatan memperoleh penghargaan lebih dari yang ia dapatkan. Tentu harus dibarengi dengan keinginan meneliti dan terus meneliti.

Rudy berharap jurnal yang telah ia susun bermanfaat untuk pengembangan ilmu elektro telekomunikasi khususnya di bidang Ultra Wideband Antenna.

Ketika Penyandang Disabilitas Semangat Mandiri Berkarya

Anika Dyah Erviani, Komunitas Shining Tuli Kota Batu (STB).
Anika Dyah Erviani, Komunitas Shining Tuli Kota Batu (STB).

MALANGVOICE – Penyandang disabilitas memang memiliki keterbatasan dalam hal fisik dan mental. Tapi semangat untuk mengarungi kehidupan bisa tidak terbatas.

Pemberdayaan bagi penyandang disabilitas pun banyak dilakukan agar mereka bisa mandiri di tengah keterbatasannya.

Anika Dyah Erviani (26) melalui Komunitas Shining Tuli Kota Batu (STB) berupaya agar belasan anggotanya punya keterampilan yang bisa menghasilkan.

Sejak lahir, gadis yang memiliki hobi membaca ini sudah tak bisa mendengar alias tuli. Oleh teman-teman sesama penyandang disabilitas tunarungu, Anika didapuk menjadi Ketua Shining Tuli Kota Batu (STB) sejak tahun 2017.

Selain tak bisa mendengar, dia juga tak bisa bicara. Oleh karena itu, bahasa isyarat merupakan sarana komunikasi utamanya. Sarana lain, ia berkomunikasi lewat tulisan.

Dia lantas bercerita tentang komunitas STB dengan bahasa isyarat dan diperkuat dengan tulisan di kertas.

”Saya bergabung dengan komunitas ini setelah diajak diskusi oleh Edi (ketua komunitas Shining Tuli Kota Batu periode 2015–2017) tentang program pengembangan komunitasnya tahun 2015,” tulisnya saat ditemui MVoice di Dau Residence, Desa Sumbersekar, Kabupaten Malang.

Ia belajar banyak hal bersama anggota lain. Dia juga sering mengajak teman-teman sesama penyandang tunarungu belajar Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) di setiap kegiatan yang diadakan komunitasnya. Mereka saling menyemati satu sama lain untuk tetap percaya diri dan tidak minder.

Ia menambahkan, dalam komunitas itu tidak belajar bahasa isyarat semata. Mereka juga melakukan berbagai kegiatan positif lainnya. Mulai diskusi disabilitas, latihan menari, dan beragam keterampilan lainnya. Salah satunya adalah membuat batik.

”Sebagian kreasi batik teman-teman sudah dibeli oleh Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko,” tambah Alumnus IKIP PGRI Jember itu.

Tak hanya itu, kain batik anggota komunitas juga diapresiasi Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), putra mantan Presiden ke 4 RI Susilo Bambang Yudhoyono.

”Bukan hanya untuk Bapak Agus saja (batiknya), tapi malah juga Bapak SBY sendiri,” tulisnya dalam secarik kertas sambil menunjukkan foto ketika Agus Hadi Yudhoyono berkunjung ke Kota Batu.

Menurut dia, keterampilan teman-temannya membantik dilatih salah seorang anggota komunitas yang kebetulan sudah piawai dalam hal membuat. Sehingga, mereka mampu belajar dari sesama penyandang tunarungu.

”Teman-teman jadi tambah semangat belajar. Karena karyanya diapresiasi para tokoh,” tambahnya.

Dengan bahasa isyarat, dia juga mengungkapkan rasa senangnya karena Dewanti Rumpoko juga punya kepedulian lebih ke penyandang disabilitas.

Kemudian ia memperlihatkan video Dewanti di Instagram yang sedang memakai bahasa isyarat di telepon genggamnya.

Diketahui, kumunitas ini juga sering diundang dalam acara yang diadakan Pemkot Batu. Mereka juga sempat dipertemukan dengan Miss Deaf Word 2011 pada November 2017 lalu.(Hmz/Aka)

Renungkan Makna Hari Ibu, IMM Aufklarung Gelar Treatikal

Malam peringataan pergerakan perempuan (anja)
Malam peringataan pergerakan perempuan (anja)

MALANGVOICE – Momentum hari ibu atau hari pergerakan perempuan pada 22 Desember menjadi momentum perenungan dimana makna hari ibu mulai bergeser di era modern saat ini.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Aufklarung Universitas Muhammadiyah Malang malam ini mengajak seluruh kaum perempuan dan semua mahasiswa merenungkan kembali nilai-nilai perjuangan lahirnya hari ibu sehingga bukan sekedar peringatan seremonial tanpa perjuangan perempuan itu sendiri.

IMM Komisariat Aufklarung, Imawati, menggelar pertunjukan treatikal, live music, dan membaca puisi di samping gapura pintu masuk UMM kampus 3.

 Penanggung Jawab, Reny/ kanan (anja)
Penanggung Jawab, Reny/ kanan (anja)
“Kami ingin mengenalkan sejarah hari pergerakan perempuan yang sekarang lebih dikenal dengan hari ibu ke masyarakat luas,” kata Penanggung Jawab, Reny Novia, kepada MVoice.

Dijelaskan, dalam sejarahnya, makna hari ibu adalah semangat pergerakan para perempuan terdahulu untuk andil dalam menyuarakan hak-haknya serta melepaskan diri dari ketidakadilan dan diskriminatif terhadap kaumnya.

“Perempuan masa kini kuat, apresiasi terus semangat kaum perempuan Indonesia,” teriak salah seorang penonton.

Andhika Gilang, Sulap Tanaman Kaktus Jadi Bisnis Menarik

Andhika, Himahtuh, Riza
Andhika, Himahtuh, Riza (Anja)

MALANGVOICE – Kaktus hias mungkin hal lazim di dunia bisnis bunga. Tapi kaktus mini berbentuk lucu masih jarang ditemukan di pasaran. Ya, tanaman berduri itu di tangan Andhika Gilang, Himahtuh Rianingtias, dan Riza Fatkhaurrossidi disulap menjadi tanaman hias yang lucu berwarna warni.

Ide membisniskan kaktus mini ini berawal ketika Andhika berkunjung ke Selecta untuk membeli bunga. Di sana, ia melihat beberapa tanaman kaktus.
“Teman saya lalu cerita, kalau dia pernah beli kaktus lewat online. Dari situ saya kepikiran ide bisnis ini,” katanya pria yang tinggal di Jl Klampok Kasri 2D 219 Malang ini.

Tak ingin menjual produk biasa, Andhika dan dua temannya pun mulai belajar mendesain kaktus agar bisa tampil unik. Desain yang lucu ternyata mampu menarik minat konsumen, tak hanya pencinta tanaman tetapi juga orang awam. Melalui toko online Drosopila Floris, tiga serangkai ini memasarkan kaktus-kaktus unik ke berbagai daerah.

Menurut Andhika, prospek berjualan kaktus di Malang cukup menjanjikan karena belum banyak orang berjualan kaktus sekaligus sebagai gerakan mendukung go green.

“Supaya orang-orang makin cinta sama tanaman. Apalagi kaktus kan jenis tanaman yang mudah sekali perawatannya,” kata dia.
Dengan tampilan kaktus yang unik berbeda dari kaktus biasa, Andhika dan kawan-kawan mampu meraih omzet kotor hingga 40 persen dari hasil penjualan.
“Untuk selanjutnya semoga bisa 50 persen, karena sudah menanam langsung, tidak lagi second hand,” tambahnya.

Melihat prospek bisnis yang menggiurkan, Andhika pun berencana mengembangkan bisnis dengan membangun gudang kaktus sendiri.
“Rencananya memperbanyak varian kaktus dan desain kaktus yang lucu-lucu juga,” kata Andhika semangat.

Cinta Bus, Pria Ini Sukses Berbisnis Miniatur Bus

Bus Damri Replika Miniatur Bus
Bus Damri Replika Miniatur Bus

MALANGVOICE – Hobi tidak selalu harus menghabiskan uang, sebaliknya hobi yang dimiliki warga Batu ini malah menghasilkan rejeki dan kini menjadi mata pencahariannya.

Ialah Mohammad Irfan warga Jalan Arjuno 36 Kota Batu hobi membuat replika atau miniatur armada transportasi darat.

Irfan mengaku sudah menggemari bus sejak tahun 80’an semasa Sekolah Menengah Atas. Kecintaanya terhadap bus membuatnya serius menekuni usahanya saat ini. Sejak kecil dia menekuni hobinya, namun dengan perangkat dan bahan seadanya.

Interior bus buatan Irfan
Interior bus buatan Irfan

Saking cintanya, Irfan bahkan sampai paham detail dari masing masing tipe bus dari berbagai jenis dan merek.

“Karena biasanya kalau penggemar itu bisa sampai paham tentang lekuk bodi dari bus, susunan bangku, lampu, kaca dan sebagainya. Mesin juga rata-rata paham jadi kurang lebih yang dibuat di sini mencapai 80 persen, kemiripannya dengan yang aslinya.“ ujar Irfan.

Dalam membuat replika Irfan membuat dengan Skala 1: 40, 1: 12 dan sebagainya. Satu buah replika bus jenis Antar Kota Dalam Provinsi bisa dihargai senilai Rp1.3 jiya dan berlangsung kelipatannya tergantung ukuran dan tingkat kerumitan dari bus tersebut.

Detail interior bis penting karena untuk tiap bus juga beda. Umumnya peminat suka yang tahun 2000-an kebawah karena selain klasik sudah tidak ada yang produksi lagi.

“Biasanya yang suka itu komunita pencinta bus. Mereka mengabadikan momen atau kenangan mereka saat naik bus Antar Kota Dalam Provinsi,“ tutupnya,