Malang Pausephone Community Kampanye Diet Gadget di CFD

Pausephone community beraksi di CFD (anja)

Malang Pausephone Community Kampanye Diet Gadget di CFD

MALANGVOICE – Dalam rangka mengkampanyekan gerakan diet gadget. Komunitas Pausephone Malang (KPM) menggelar The MP3 Experiment, di Car Free Day, pagi ini.

“Selain kampanye diet gadget, kami juga ingin mengenalkan komunitas kami yang tergolong masih baru. Kami bukan komunitas anti gadget, tapi kami ajak masyarakat mengurangi penggunaan gadget yang tak perlu,” kata Pandu, ketua, saat ditemui MVoice, beberapa menit lalu.

MP3 Experiment merupakan konsep anyar, satu-satunya, dan pertama kali di Kota Malang. Pertama, peserta harus mendownload MP3 yang sudah disiapkan panitia.

Pada jam dan waktu yang sudah ditentukan, mereka bersama-sama memutar MP3 tersebut dan harus didengarkan dengan headset.

Dalam MP3 akan terdengar perintah yang harus dilakukan peserta. Semisal suara perintah mengatakan ‘angkat tangan dan lambaikan’, maka peserta akan melakukannya bersama-sama.

“Antusias peserta lumayan tinggi,” kata Pandu.

Setelah acara ini, masyarakat diharapkan lebih sadar penggunaan gadget yang bertanggung jawab dan tidak berlebihan.

BNN Kota Malang

Mengenal Aqil, Anak dengan Disleksia namun Pelukis Kreatif

Aqil berbakat dalam senirupa. (Istimewa)

MALANGVOICE – Selama gelaran Gebyar Reuni Akbar Gema Silaturahim Lintas Angkatan ‘Agitma Bersinergi untuk Negeri’ panitia telah menyiapkan marchandise menarik berupa tas.

Menariknya, tas berwarna abu-abu itu dihiasi ornamen lukisan warna-warni betuliskan ‘Bring Green is Cool’. Ternyata, gambar tersebut adalah buatan bocah berprestasi, Aqqilurachman Prabowo. Aqil, begitu dia akrab disapa, merupakan putra dari Amalia Prabowo.

“Iya lukisan Aqil membawa pesan Go Green. Maksutnya sebagai ajakan bagi seluruh alumni untuk mencintai alam dan segala isinya,” kata salah seorang panitia reuni akbar, Tousa A saat dihubungi MVoice.

Tas souvenir dengan lukisan Aqil. (Istimewa)

Aqil menderita dyslexia sejak kecil. Dyslexia adalah gangguan pada kemampuan membaca dan menulis. Tak hanya mengalami gangguan dalam berbahasa, Aqil juga kesulitan menghitung serta mengingat ruang dan waktu. Aqil memang menonjol di seni rupa. Seringkali gambarnya sarat akan makna. Tapi ternyata, menggambar adalah terapinya untuk Disleksia.

Gangguan itu membuat Aqil kesulitan untuk membaca dengan benar, dan hal itu turut berpengaruh kepada kosakata yang diingatnya.

“Kalau baca tulisan ‘sendok’ dia akan bacanya ‘nesdok’, dia nggak akan tahu sampai kapanpun bahwa itu sendok,” tambah Amalia.

Mengidap disleksia berat yang menjadikannya semi-autis tidak membuat Aqil kesulitan berkomunikasi dengan teman-temannya.

Amalia bercerita dengan terapinya di alam dan menggambar, Aqil semakin percaya diri untuk mengajak teman-temannya ke alam. Bahkan Aqil bisa berkata, “Makanya main ke hutan biar bisa gambar kayak saya,” celotehnya.


Reporter: Anja Arowana
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yuliani Eka Indriastuti
BNN Kota Malang

Amerika Juga Punya Sambal Ikonik dan Hits, Kisahnya Menginspirasi

Sambal Sriracha. (Anja a)
Sambal Sriracha. (Anja a)

MALANGVOICE – Sukses memang datang bagi mereka yang tekun usaha pantang menyerah. Kisah sukses ini datang dari Amerika Serikat. Jikalau orang Indonesia suka makan pedas dengan tambahan sambal? Lalu bagaimana dengan orang Amerika?

Ternyata orang Amerika juga suka pedas. Mereka punya merek sambal favorit nan ikonik. Pembuatnya? Ternyata bukan warga negara asli Amerika, melainkan dari Vietnam. Kisahnya inspiratif untuk disimak.

Dia adalah David Tran. Selama lima tahun setelah jatuhnya Saigon, dia memasukkan saus cabai buatannya ke stoples makanan bayi kaca tua dan mengantarkannya melalui sepeda. Pada tahun 1979, dia menaiki kapal barang Taiwan yang disebut Huey Fong dan berhasil masuk ke Amerika Serikat sebagai pengungsi.

Segera setelah itu, Tran bekerja di luar gedung seluas 5.000 kaki persegi di Pecinan Los Angeles, Tran mulai membuat saus dengan merek yang dipinjam dari kapal yang membawanya. Tran’s Huey Fong menghasilkan Pepper Sa-te, Sambal Oelek, Cabe Bawang Putih, Sambal Badjak, dan ramuan yang akan menjadi bahan sambal ikonik, Sriracha Hot Sauce.

Sambal Sriracha. (Anja a)
Sambal Sriracha. (Anja a)

Dia melukis logo ayam jantan yang sekarang terkenal itu di sisi van Chevrolet biru dan melaju sejauh San Diego dan San Francisco mengantarkan ciptaannya ke restoran Asia. Sausnya menjadi populer karena cerita mulut ke mulut.

Public Office Affairs Staff Konsulat Jenderal Amerika, Christine Getzler kepada MVoice, mengatakan, kesuksesan Tran terekam baik dalam film dokumenter baru-baru ini.

“Tahun 2014, Tran menjual lebih dari $ 100 juta satu tahun senilai saus. Sudah berpuluh-puluh tahun sejak dia menaikkan harga grosir ciptaannya. Saya juga salah satu penggemar sambal ini. Harganya murah juga,” kata Christine.

Srircha dibanderol Rp 65 ribu perbotol. David Tran mengaku tak pernah mengiklankan produknya, atau mempatenkan nama sambalnya. Banyak fans terinspirasi untuk membuat sambal Sriracha dengan varian rasa yang lain. Sriracha memiliki rasa yang asam dan sedikit manis dengan rasa pedas yang cukup. Sambal ini sering digunakan dalam kuliner sehari-hari mulai dari mie, pizza burger, dan banyak lainnya.

“Kisah Tran sangat inspiratif. Meski dia imigran, tapi dia sukses di Amerika. Sambalnya sudah menjadi bagian dari budaya Amerika,” tutup Christine.
(Der/Ery)

BNN Kota Malang

Bripda Lintang yang Juga Piawai sebagai Pengadil Lapangan

Bripda Lintang Swasti Ayyufa Putri.(Miski)

MALANGVOICE – Bripda Lintang Swasti Ayyufa Putri, punya bakat unik dan terbilang langka dibanding teman-teman angkatannya.

Perempuan kelahiran 24 Maret 1994 ini mulai bergabung korp coklat tahun 2016. Selain disibukkan dengan kegiatan dinas, ia dikenal piawai sebagai pengadil lapangan alias wasit.

“Sejak kecil saya hobi main sepak bola. Karena di Malang belum ada klub sepak bola wanita, makanya saya milih jadi wasit, supaya tetap berada di lapangan,” kata dia, saat berbincang dengan MVoice, Kamis (1/9), sore.

Ketertarikannnya sebagai pengadil lapangan didapat saat perempuan asli Karangploso, Kabupaten Malang ini, mengikuti latihan PBB di Lemjiantek.

Pelatih, lanjut dia, menawarkan siapa yang mau jadi wasit dan ia pun menyatakan bersedia, sehingga mengikuti latihan rutin satu minggu dua kali.

Bripda1Kini, Lintang tergabung sebagai anggota asosiasi wasit Askot Kota Batu. Alumnus SMAN 1 Batu ini sedang menyiapkan diri untuk mendapatkan Lisensi C bidang wasit.

Hobinya itu mendapat dukungan dari teman-temannya dan segenap personel di lingkungan Polres Batu.

“Kalau dibolehkan sama atasan, saya mau ambil lisensi C. Selama ini tidak bisa memimpin pertandingan resmi, karena belum memiliki lisensi, hanya memimpin pertandingan antarkampung dan instansi,” bebernya.

Kendati begitu, Lintang tetap memprioritaskan pekerjaannya sebagai Polwan. Hobinya dilakukan manakala jadwal dinas di Polres Batu senggang dan tidak padat.

Sebagai Polwan, bukan berarti ruang gerak untuk mengembangkan bakat dan prestasi terbatas. Ia ingin membuktikan bahwa melalui bakatnya dapat mengharumkan kesatuannya.

“Cita-cita sejak kecil memang jadi Polwan. Saya mensyukuri pekerjaan saya. Saya ingin berprestasi,” paparnya sembari tersenyum.

Paling berkesan, tambah dia, saat mengikuti tes masuk, ia langsung diterima. Sedangkan teman-teman di sekolahnya harus ikut di tahun berikutnya. Ia masuk rangking 12 dari 215 orang yang ikut seleksi Polwan di Jatim.

“Banyak sukanya sih mas. Masih baru, jadi saya menikmati pekerjaan sekarang. Apalagi rekan-rekan di kesatuan banyak membantu dan memotivasi saya,” tandas dia.

BNN Kota Malang

‘’MVoice Harus Jadi Mitra Polri’’

Kapolres Malang Kota, AKBP Singgamata

“Tentu harus jadi mitra Polri dalam rangka memelihara kamtibmas, itu harapan saya. Sebagai salah satu pilar demokrasi, media massa. termasuk MVoice harus berperan sebagaimana fungsinya.  MVoice mampu menyajikan informasi faktual dan obyektif.  Berita-beritanya harus konstruktif, serta harus memiliki nilai edukasi, bukan provokasi. Saya berharap rekan-rekan bisa bersama Polri berjalan beriringan untuk menciptakan Kota Malang aman dan kondusif.”

BNN Kota Malang

Begini Cara Yansen Kamto ‘KIBAR’-kan Potensi Pemuda Indonesia

Yansen Kamto (anja)
Yansen Kamto (anja)

MALANGVOICE – Optimis, ceplas-ceplos, smart. Mungkin begitulah cara tepat mendiskripsikan Yansen Kamto, CEO sekaligus founder KIBAR Kreasi Indonesia.

KIBAR dibangun berdasarkan visi akan potensi Indonesia yang begitu besar dengan memanfaatkan dan mengembangkan potensi tersebut lewat teknologi.

Hebatnya, KIBAR merupakan satu-satunya perusahaan konsultan IT yg tergabung dalam Google Developer Groups (GDG) di Indonesia yang saat ini memiliki kantor di daerah Menteng, Jakarta Pusat.

Sebelumnya, perusahaan ini terlibat dalam berbagai kegiatan yang Google adakan di Indonesia, antara lain GDG DevFest pada 2011, Stanford Summit, Google Business Group, Blogger Nusantara, Women Wired Weekend, GeekFest, dan berbagai program Google lainnya.

KIBAR dahulunya hanya berkantor di sebuah foodcourt. Pada awal KIBAR bediri, Yansen hanya memiliki empat pegawai dan berkantor di foodcourt.

Kemudian Yansen mencoba menginspirasi mereka dengan menceritakan mimpi-mimpi KIBAR kepada para pegawai tersebut. Tapi hanya satu saja yang bertahan. Yang lain menilai mimpi-mimpi Yansen itu ketinggian.

Bicara tentang Yansen Kamto, pria asal Pontianak ini punya visi besar membangun Indonesia. Hanya saja, pola pikir mereka terkadang salah. Sebenarnya Indonesia tidak membutuhkan orang-orang hebat melainkan jiwa-jiwa yang memiliki hati untuk membantu permasalahan bangsa.

“Kalau bekerja hanya untuk diri sendiri itu namanya egois. Pikirkan bangsa bangsa dan bangsa,” tandasnya.

Kini Yansen sedang ‘repot’ dengan program Gerakan Nasional 1000 Startup Digital. Melalui program ini, Yansen yakin pemuda Indonesia mampu memberi solusi dan mensejahterakan bangsa dan menciptakan banyak lapangan kerja.

BNN Kota Malang

Unik, Biskuit Berbahan Tempe dan Bekatul Karya Mahasiswa Tembus Internasional

Tim penemu biskuit tempe. (Istimewa)
Tim penemu biskuit tempe. (Istimewa)

MALANGVOICE – Biskuit biasanya dibuat dengan tepung terigu dan tepung gandum. Namun tidak bagi sekelompok mahasiswa Universitas Brawijaya (UB), mereka menciptakan biskuit berbahan tempe disebut Yuki atau Yummy Cookie

Mereka adalah Ngesti Ekaning Asih, Af’idatul Lutfita Shofiatur Rizka, Susi Wardani, Nur Afida Nuzula dan Lusia Kartika Ratri. Kelimanya mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian angkatan 2015. Tak hanya tempe, biskuit ini juga terdiri dari campuran tepung ganyong, dan bekatul.

Ketua tim, Ngesti Ekaning Asih mengatakan, menurut data yang mereka himpun dari Food and Agriculture Organization (FAO). Data tersebut menunjukkan sebanyak 124 juta manusia di dunia terancam kelaparan di sepanjang 2017.

“Data jumlah manusia sedunia yang terancam kelaparan menunjukkan kenaikan setiap tahunnya. Selain itu FAO juga memperkirakan bahwa terdapat 19.4 juta penduduk Indonesia menderita kekurangan gizi sepanjang 2014-2016,” katanya, (18/6).

Berawal dari situ, kelima mahasiswa jurusan Teknologi Hasil Pertanian ini kemudian mencari inovasi atas permasalahan tersebut. Mereka kemudian menemukan biskuit berbahan dasar tempe, bekatul dan tepung ganyong untuk mengatasi kelaparan dan malnutrisi.

“Kebetulan kami kuliah di Malang sehingga kami cukup akrab dengan olahan tempe asal Malang. Selain itu, tempe juga merupakan komoditas yang banyak dijumpai di daerah asal teman teman di Trenggalek, Nganjuk dan Blitar,” lanjut wanita asli Malang tersebut.

Di bawah bimbingan dosen UB, Wenny Bekti Sunarharum, kelima mahasiswa ini ingin mengolah bahan dasar tempe menjadi bahan pangan yang fungsional sekaligus sesuai tren masa kini. Sebab, pada umumnya tempe hanya disajikan dalam bentuk gorengan.

Biskuit tempe enak rasanya. (Istimewa)

“Kali ini tempe kami olah sebagai cookies dengan penambahan tepung ganyong dan bekatul untuk memperkaya nutrisinya. Sajian cookies ini selain bentuknya yang unik dan praktis, juga memperpanjang umur simpan dan tampilan packaging yang lebih menarik,” tuturnya.

Ngesti menjelaskan, proses pembuatan biskuit tempe ini relatif sederhana. Setelah tempe, bekatul dan ganyong mengalami proses pengeringan dan penepungan kemudian tinggal ditambah telur serta bahan lain. Adonan kemudian diolah seperti pembuatan cookies pada umumnya.

Selain itu, biskuit tempe diklaim aman bagi penderita autis. Sebab dalam pembuatannya, biskuit ini tidak menggunakan tepung terigu sama sekali sehingga bersifat non gluten. Makanan yang mengandung gluten sering kali dituding dapat memperberat gejala pada anak autisme.

“Selain mengoptimalkan pengolahan komoditas lokal, tempe, ganyong dan bekatul, inovasi kami ini juga bermanfaat bagi penderita autis dan malnutrisi serta terutama mengatasi wabah kelaparan dunia karena tinggi kandungan kalorinya,” pungkasnya.

Berkat biskuit ini, kelima mahasiswa ini berhak maju dalam final kompetisi pangan dunia, The International Union of Food Science and Technology (IUFoST) Product Development Competition 2018 di CIDCO Exhibition Centre, Mumbai, India, pada 23-27 Oktober 2018.

Kelima mahasiswa asal Indonesia ini berhasil menyisihkan tiga ribu kontestan lainnya dari 70 negara dalam kompetisi tersebut. Mereka pun maju sebagai finalis bersama delapan tim, yakni dari China, Amerika Serikat, Brazil, India, Uganda, Kenya, United Kingdom dan Perancis.

Sebagai informasi, IUFoST Product Development Competition 2018 adalah kompetisi ilmiah dua tahunan tingkat dunia di bidang pengembangan produk pangan. IUFoST dididirikan sejak 1962 dan memiliki motto Food Science Fighting Hunger. (Der/Ery)

BNN Kota Malang

Nopriadi, Dosen Teknik Nuklir yang Sukses Jadi Penulis Buku Pengembangan Diri

Nopriadi dan bukunya (anja)
Nopriadi dan bukunya (anja)

MALANGVOICE – Kegemarannya membaca buku sejak semester satu saat berkuliah menarik minat pria ini menjadi penulis buku pengembangan diri yang sukses.

Ialah Nopriadi PHd, seorang pria kelahiran 1973, dan saat ini berprofesi sebagai dosen teknik Nuklir dan Fisika di Universitas Gajah Mada ini menerbitkan buku pertamanya tahun 2013. Buku pertamanya dijual terbatas hanya via online, dengan judul “The Model”.

“Saya menulis buku genre pengembangan diri spiritual ideologis untuk meraih sukses peradaban,” katanya saat ditemui MVoice.

Menurutnya, buku karyanya mampu menjawab kelemahan dan kekurangan buku pengembangan diri yang ada saat ini.

“Buku pengembangan diri baik lokal maupun internasional mampu mencetak orang yang sukses pribadi. Padahal yang namanya jaman ini butuh orang-orang yang sukses dan kontributif untuk sosial, politik, ekonomi dan peradaban. Jadi bukan soal mencetak orang yang peduli sama dirinya sendiri, itu namanya egois,” katanya.

Dalam bukunya, dia menjelaskan ada tiga bagian utama. Yang pertama adalah bagaimana menjalan konsep ‘tuning’ atau mengubah diri seseorang yang dikemas ringan dan mudah dimengerti.

“Sebenarnya banyak konsep dan teorinya. Namun ini saya sederhanakan jadi satu, yaitu ‘tuning’ ini,” katanya lagi.

Bagian kedua lebih menjabarkan soal siapa yang harus dijadikan role model atau panutan hidup. Dalam bukunya, Nopriadi memilih Muhammad sebagai sosok panutan dan tokoh pengembangan diri.

“Role model dalam buku ini adalah sosok yang sempurna dan kalau kita lihat secara rasional, Muhammad yang memang ternyata seorang nabi ini mampu mencetak tokoh-tokoh dan orang-orang pengembangan diri yang hebat pula kan,” paparnya optimis.

Barulah bagian ketiga adalah soal the model atau mau menjadi apa. Dia menambahkan, buku utamanya diturunkan menjadi buku pengembangan diri untuk parenting, leadership dan bisnis. Jadi semua orang bisa dan akan mudah memahami konsep pengembangan diri yang dia kemas sedemikian rupa itu.

“Ini adalah ilmu Islam yang dikemas dalam konsep pengembangan diri. Saya melihat nilai Islam dan pengembangan diri bisa digabungkan,” tutupnya.

BNN Kota Malang

Bertahan dengan ‘Boso Jowo’ di Tengah Terpaan Globalisasi

Minardi saat nge-MC (anja)
Minardi saat nge-MC (anja)

MALANGVOICE – Di saat Bahasa Jawa hampir ‘menghilang’ di era globalisasi, ternyata masih ada orang di luar sana yang punya kesadaran dan tanggung jawab melestarikannya. Bahkan menggunakan Bahasa Jawa sebagai pundi-pundi rejekinya.

Dialah Agus Minardi. Pria yang kesehariannya bekerja sebagai security dan resepsionis di Universitas Brawijaya ini juga dikenal sebagai MC (naster of ceremony) Boso Jowo profesional.

Sejak kecil bapak dua anak ini memang menyukai seni tradisional bernuansa Jawa, seperti pertunjukan wayang kulit, ketoprak, campur sari dan karawitan.

“Sejak kecil saya sering diajak bapak saya nonton ketoprak. Waktu itu ketoprak Siswo Budoyo. Kok lama-lama jadi seneng. Apalagi kalo modern, ada campur sarinya,” katanya, saat ditemui MVoice di Gedung Rektorat UB.

Minaedi awalnya hanya bekerja sebagai guru honorer mata pelajaran di beberapa sekolah. Ia sempat berpindah-pindah sekolah selama 18 tahun, dari 1990 hingga 2008. Pertama ia menjadi guru olahraga di SD Sumbersari 4. Selanjutnya pindah ke SDN Merjosari 5, dan terakhir di SDN Tanjung Sekar 1.

“Kadang saya ngajar komputer dan radio juga,” tukas pria kelahiran Malang pada 1970 ini.

Setelah merasa cukup mencari pengalaman menjadi guru, barulah ia mencoba menggeluti bidang MC Boso Jowo khusus mantenan (pernikahan), dengan mengikuti pelatihan/kursus di Radio RRI dan dilatih budayawan dan MC senior di RRI, mbah Karno.

Keseharian Minardi (anja)
Keseharian Minardi (anja)

“Dari kecil memang sudah didorong sama bapak saya untuk bisa nge-MC. Waktu kecil pernah jadi MC Agustusan,” tambahnya tertawa malu.

Baginya, belajar bahasa Jawa susah-susah gampang. Ternyata banyak kosa kata baru yang belum ia mengerti. Namun ia pantang menyerah dan pada akhirnya memberanikan diri untuk terjun di dunia MC Boso Jowo sekaligus melestarikan bahasa Jawa.

“Kalau bukan kita siapa lagi!” kata dia, mantap.

Job pertamanya, menjadi MC Boso Jowo di kalangan keluarganya sendiri. Disitu, ia mendapat apresiasi yang luar biasa dari keluarga khususnya dari ayah.

“Mereka apresiasi sekali. Khususnya bapak saya sangat bangga. Seneng gitu kelihatannya, anaknya bisa nge-MC pakai bahasa Jawa,” lanjutnya.

Orangnya murah senyum dan ramah (anja)
Orangnya murah senyum dan ramah (anja)

Dari situ, Minardi kemudian direkomendasikan oleh keluarga ke para sahabat. Semakin lama, Minardi semakin terkenal dari mulut ke mulut. Banyak sekali yang meminta Minardi menjadi MC di acara hajatan khususnya hajatan yang bernuansa Jawa.

Saking banyaknya, kini Minardi hanya membatasi permintaan khusus hari Sabtu dan Minggu saja. Apalagi pekerjaan utama menjadi Security di UB menuntutnya untuk bisa membagi waktu.

“Ternyata masih banyak yang membutuhkan seorang MC Jowo. Alhamdulillah, ramai permintaan saat musim pernikahan. Saya berharap, di era Globalisasi ini tumbuh generasi muda yang berminat belajar bahasa Jawa. Kalau bisa ada anak muda yang punya skill MC Boso Jowo,” tutupnya.

BNN Kota Malang

Aji Prasetyo: Komik Itu Harus Mencerdaskan…

Aji Prasetyo

MALANGVOICE- Semua sudah tahu, Aji Prasetyo merupakan komikus asli Malang dengan prestasi segudang. Beberapa waktu lalu, tiga komiknya terseleksi untuk dipamerkan di Frankurt Book Fair, Jerman.

Pria gondrong berkacamata ini membuat komik bukan sebagai buka hiburan semata. Dia juga menyelipkan nilai-nilai yang bisa dipelajari masyarakat.

Komik pertamanya, ‘Hidup Itu Indah’ terjual habis 3.000 eksemplar di seluruh Indonesia pada cetakan pertama. Kontennya mengkritik kalangan fundamentalis, mengangkat kembali fenomena budaya, kehidupan, dan hal-hal yang dianggapnya salah dalam memahami sejarah.

Ditemui MVoice, ia menjelaskan, komiknya juga menceritakan alasan sebenarnya kenapa perang Diponegoro bisa meletus.

“Pelajaran sejarah di sekolah selama ini terkesan hanya untuk menghapal nama tokoh dan tanggal peristiwa saja. Itu yang membuat pelajaran sejarah membosankan dan terkesan tidak berguna,” katanya.

Sampul komik Hidup Itu Indah. (istimewa)
Sampul komik Hidup Itu Indah. (istimewa)

Padahal, sambung dia, sejarah itu penting untuk belajar, sebagai bekal menghadapi masa depan.

Ketua Lembaga Kajian Seni Budaya Universitas Islam Raden Rahmat Kepanjen ini menambahkan, pada buku pertama menjelaskan tentang intervensi asing yang berlebihan dalam mendominasi kebijakan politik, SDA yang dikeruk bangsa asing, penguasa yang hidup mewah dari menarik upeti ke rakyat yang kelaparan dan sebagainya.

Hal-hal seperti itulah yang menjadi penyebab meletusnya perang Diponegoro. “Lantas siapa yang berani menjamin bahwa hal itu tidak terjadi lagi saat ini? “Itulah, karena kita tidak pernah belajar dari sejarah,” kata dia.

Komik kedua, Teroris Visual, juga memiliki pesan-pesan yang hampir sama. Bagi Aji, sangatlah penting belajar dari leluhur, dimana mereka pernah mengatakan ‘tontonan kudu dadi tuntunan’.

“Artinya, seni harus punya muatan pencerdasan untuk pembacanya. Bukan sekedar hiburan,” sahutnya.

Lewat jalan seni, Aji ingin memperjuangkan bangsa ini agar semua elemen bangsa tidak terpengaruh niat dari pihak-pihak yang berusaha merusak tatanan di Indonesia.

BNN Kota Malang