Demi Perdamaian, Pasutri Asal Bululawang Gowes ke Sembilan Negara

Hakam Mabruri dan R Islamiah, sepeda tandem keliling dunia
Hakam Mabruri dan R Islamiah, sepeda tandem keliling dunia

MALANGVOICE – Pasangan suami istri (pasutri) asal Desa Gading, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, Hakam Mabruri dan R Islamiah, hari ini akan melakukan perjalanan panjang.

Perjalanan yang berangkat hari ini akan menempuh jarak ribuan kilometer. Uniknya, perjalanan ini dilakukan dengan cara bersepeda tandem.

Jarak ribuan kilometer ini merupakan perjalanan pasutri ini dari Indonesia hingga ke Kota Kairo, Mesir, Afrika ini merupakan misi perdamaian, yang mereka namakan Holly Journey Cycling Trip.

“Perjalanan ini saya niati sebagai ziarah ke tempat suci lintas agama untuk menebar pesan perdamaian,” kata dia.

Perjalanan epik kayuh pedal sepeda tandem bertajuk ini, lanjut dia, akan melintasi sembilan negara. Mulai dari Malaysia, Thailand, Nepal, India, Arab Saudi, Yordania, Palestina, Israel dan Mesir.

Setidaknya, butuh waktu hingga setahun untuk mewujudkan impian menjadi pasuri Indonesia pertama yang keliling dunia dengan bersepeda tandem.

Selama di Jawa, lanjut dia, mereka akan ziarah ke makam Walisongo di Surabaya, Gresik, Lamongan, Tuban, Kudus dan Cirebon.

Sedangkan selama di negara tanpa pantai, Nepal, mereka bakal ziarah ke situs kelahiran Budha Sidharta Gautama di Kota Lumbini.

Bergeser ke negara tetangga Nepal,India, mereka akan singgah di situs tempat Sang Budha moksa di Kota Khusinagar.

Selain itu, mereka juga mengunjungi bangunan yang menjadi bukti cinta Mughal Shah Jahan kepada istrinya, Arjumand Banu Begum, yakni Taj Mahal.

“Kami juga mengunjungi situs tempat kelahiran Khrisna di Kota Mathura. Setelah itu ke Kota Yamuna melintasi Vrindafan untuk singgah di situs tempat tumbuh Khrisna, dewa umat Hindu,” imbuh dia.

Perjalanan ke India juga akan mengunjungi Kurusetra, tempat yang dikisahkan sebagai medan perang Mahabarata.

“Kami juga akan ngalab berkah makam Nabi Muhammad SAW di Masjidil Nabawi di Kota Madinah dan menunaikan ibadah umrah di Makkah,” lanjut laki-laki berambut gondrong ini.

Perjalanan diteruskan ke laut mati di Yordania untuk menyaksikan sisa-sisa azab Allah SWT kepada kaum Sodom.

Mereka juga akan ke Kota Wadi Mousa yang dianggap makam Nabi Harun dan ke kota yang hilang, Petra.

Rencananya, Israel juga akan mereka kunjungi. Hakam dan istrinya akan mengunjungi danau Galilea di Tiberias dan holyland bagi pemeluk agama Samawi di Yerusalem.

Lanjut ke Mesir, Hakam akan masuk melalui Nuwebea menuju Gurun Sinai untuk mengunjungi masjid dan gereja tua di atas puncak gunungnya.

“Semoga ikhtiar kami menziarahi situs bersejarah suci bagi berbagai agama dapat menjadi berkah untuk perdamaian dunia,” harap laki-laki yang baru saja mendapatkan beasiswa dari Universitas Raden Rahmat (Unira), Kepanjen.

Persiapan gowes jarak jauh ini telah dilakukan Hakam setahun terakhir. Mereka sudah menaklukkan rute Malang menuju Lombok serta Malang menuju Toraja dan dilanjutkan ke Malaysia.

“Kami selama dua bulan terakhir ini telah melahap berbagai rute di Jawa Timur,” tandas dia.

GekVec, Camilan Kulit Ayam Wuenak…

Stand GekVec (anja)

MALANGVOICE – Minat pada camilan kulit ayam memang meningkat, karena renyah nan lezatnya. Peluang ini pun memotivasi Bagus Saputro, mahasiswa Teknik Sipil UMM, untuk memulai bisnis cemilan kulit ayam ‘GekVec Chicken Piece’, sejak November 2014 silam.

Keinginan meringankan beban orang tua membuat Boges, demikian ia akrab disapa, memberanikan diri membuka bisnis makanan sendiri.

Saat ini Gekvec telah sukses membuka 6 cabang di wilayah Malang. Boges telah bekerja sama dengan even-even besar di kampus UMM dan UB.

Dengan tingginya permintaan, sebagai mahasiswa, Boges kadang merasa ‘keteteran’ dengan bisnisnya.

“Ada satu orang yang saya tugaskan untuk mengawasi dan mengontrol tiap stan kalo saya tidak sempat,” ujarnya.

Melalui MVoice, mahasiswa yang gemar bermain basket ini berpesan kepada pemuda lain untuk berani berwirausaha.

“Jangan patah semangat untuk menggapai sebuah impian. Kejarlah sampai terwujud. Jika gagal, coba lagi dan coba terus, sampai gagal itu bosan menghampiri kita,” pesannya.

Hebat… Mahasiswa Fakultas Teknik UB Juara LKTI di IPB

mahasiswa tim juara FT UB (istimewa)

MALANGVOICE – Tim gabungan mahasiswa Jurusan Teknik Mesin dan Elektro Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT-UB) meraih Juara I Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) tingkat universitas, Agrivolution.

Kompetisi bertema Engineering Applications in Precision Farming for National Agriculture Optimalization itu diselenggarakan Departemen Teknik Mesin dan Biosistem Institut Pertanian Bogor (IPB), 17-18 September 2016.

Pada kompetisi yang menjadi bagian dari Mechanical and Biosystem Fair (MBF) ini, panitia menetapkan 10 finalis dari 50 abstrak.

Tim dari UB terdiri dari Dwiki Ananda Putra (Ketua Tim-Teknik Mesin), Fauzan Rahmat Shiddiq (Teknik Mesin), Alfian Khairi (Teknik Elektro), dan dibimbing dosen Dr Eng Nurkholis Hamidi ST MEng. Mereka membawakan karya tulis dengan judul Desain Mesin Pengering dengan Sistem Chiller Berbasis Teknologi Ultrasonik.

“Kami mendesain mesin yang berfungsi mengeringkan buah-buahan atau tumbuhan herbal dengan sistem pendinginan dan gelombang ultrasonik yang nantinya akan menjadikannya olahan pangan serbuk,” kata Dwiki.

Dwiki menjelaskan, konsep mesin ini digunakan untuk menghasilkan makanan kering dengan kualitas tinggi yang dapat menjaga sifat dan kualitas makanan. Karena itu mesin ini cocok digunakan sebagai proses awal produksi makanan serbuk seperti obat-obatan herbal, tepung buah, dan minuman serbuk.

Anggota tim lainnya Fauzan menambahkan, tim telah melakukan berbagai inovasi berdasarkan pengalaman tim ketika mengikuti kompetisi-kompetisi sebelumnya.

“Kita sekarang lebih memperhatikan detail desain kami, seperti pompa vakumnya dan sistem pendinginannya berdasarkan masukan dari lomba-lomba yang sebelumnya,” ujarnya.

Anggota yang mendesain bagian kelistrikan Alfian Khairi, memaparkan keunggulan mesin ini dibandingkan mesin pengeringan lain seperti freeze dryer adalah lebih cepat, lebih hemat, hasil pengeringan lebih merata, dan lebih hemat energi.

“Alat ini sekarang masuk dalam tahap pembuatan prototype,” jelas mahasiswa Jurusan Teknik elektro tersebut.

Pengacauan Gerombolan Malik cs. Memanfaatkan Kondisi Buruk Seusai Perang Kemerdekaan (1)

Mereka yang ikut andil dalam penumpasan Gerombolan Malik cs. Dari kiri:Letda Soekarmen. Komandan Batalyon 512/30 Brigade IV Kapten Soemitro, dan Lettu Pamoedji.

Setelah tercapainya persetujuan gencatan senjata dan pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat pada 27 Desember 1949, situasi belumlah tenang, Perang Kemerdekaan telah usai, namun tugas selanjutnya adalah mengatasi persoalan dan membina ketenteraman masyarakat.

Bermunculan gerombolan-gerombolan yang mulai meresahkan masyarakat. Mereka memiliki banyak pengikut di kalangan masyarakat. Tidak terbatas pada pancurian, perampokan, penodongan, penculikan, pembunuhan, dan pengacauan masyarakat, perlawanan terhadap aparat penegak hukum di daerah juga digencarkan.

Gerakan tersebut kenyataannya terkoordinasi dengan baik dan tersebarlah kekacauan di beberapa wilayah seperti Malang, Sidoarjo, Mojokerto dan sekitarnya termasuk Bangil, Pasuruan, Porong, Purwosari, dan Pandaan. Selanjutnya diketahui gerakan gerombolan itu dipimpin oleh Abdul Malik yang populer dengan sebutan Malik dan ditengarai mantan anggota Batalyon 17 Kompi Ichdar,

KDM Malang menerima berbagai laporan dan oleh karenanya dikelarkan perintah bahwa segala potensi yang ada dikerahkan untuk menenteramkan keadaan dan mencegah berbagai aktivitas gerombolan pengacau. Begitu besar pengaruh Malik sehingga banyak aparatur pemerintah terlibat, seperti personel tentara, anggota polisi bahkan beberapa kepala desa yang memberikan bantuan langsung maupun tidak langsung.

Mereka tidak jarang melakukan rapat-rapat rahasia, salah satunya di kediamaan seorang Kamituwo, dipimpin sendiri oleh Malik dan Tajib (mantan anak buah malik sewaktu masih dalam kesatuan peleton Malik) sebagai langkah menambah pengikut.

Kondisi Negara dalam keadaan menderita secara fisik maupun moril seusai perang kemerdekaan, kondisi ekonomi dan sosial politik dalam kondisi carut marut, ternyata dimanfaatkan untuk mengail di air keruh oleh Malik cs.

Pengacauan dan kejahatan yang dilakukan Malik cs. Antara lain:

1. serangan beberapa kali terhadap markas Geni Pionir di Sumbersuko;

2. perampokan dan pembunuhan Kepala Desa Ampelsari;

3. penyerangan markas Batalyon 34 Kompi I pada akhir Desember 1950;

4. perampokan terhadap Camat Pandaan, akhir Januari 1951;

5. perampokan pabrik tenun Kasri, awak Februari 1951;

6. pembunuhan Asisten Wedono Djoko Mudji, Banyuayar, Gending Probolinggo;

7. penyerangan pos polisi Sukorejo;

8. perampasan dan perampokan mobil, antata lain milik pabrik gula Kebonagung;

9. menembaki Bengkel PD markas Batalyon 34 Lawang;

10. kembali menembaki Batalyon 34 Lawang pada Februari 1951, gugur Pratu Tjongklet dari Seksi III Kompi III

11. penyerangan pos polisi Pasuruan

12. perampokan rumah gadai di Bangil, awal Februari 1951

13. penyerbuan pos Polisi MBK KAsri Pandaan, Februari 1951, gugur tiga orang anggota MBK;

14. menyerang Kompi IV dari Batalyon 34, Februari 1951, gugur Sersan Ismail;

15. dan sederet daftar kejahatan lainnya di berbagai wilayah

Informasi tentang gerakan pengacauan Malik cs. Diperoleh dari anggota-anggota gerombolan yang tertangkap oleh pasukan Kompi I Batalyon 34 di Lawang dan Kompi VI kesatuan Mobile BrigadeJawa Timur di daerah Pandaan. Diketahui pula bahwa pada Januari 1951 Malik cs. telah mengadakan rapat di desa Kedungrejo untuk membentuk susunan komando beserta staf dan bagian-bagian dari gerakan pengacaun mereka.

Sementara di daerah Pasuruan juga telah diadakan rapat-rapat rahasia seperti di desa Tamansari Wonorejo yang dipimpin oleh Raup (asal CGI) bersama 25 anggota pasukan dari Seksi Klowor. Rapat tersebut juga dihadiri oleh 8 orang kepala desa. Hasil keputusan rapat antara lain, kepala desa yang diundang tetapi tidak hadir dianggap pro pemerintah dan wajib diberantas. (Bersambung/Idur)

Bajang, Pecinta Alam dan Pengrajin Miniatur Rumah Pohon dari Bumiaji

Bajang dan karya buatannya (anja)
Bajang dan karya buatannya (anja)

MALANGVOICE – Usia bukan halangan untuk pria ini terus kreatif berkarya. Ialah Samadi Bajang, pria usia 58 tahun, asal Bumiaji yang ulet membuat miniatur rumah dari kayu pohon bekas.

Bajang, begitu dia akrab disapa, mulai mencoba-coba membuat miniatur rumah awal Januari 2017. Rumah-rumah mini itu dia buat dari bahan dasar kayu bekas, ranting, dan akar-akar pohon. Bahan-bahan itu membuat karya Samadi terlihat unik dan punya nilai seni.

Bajang tidak asal membuat miniatur rumah pohon. Segala aspek, mulai ukuran, jenis pohon, bentuk bangunan rumahnya ia harus samakan ketika akan membuat rumah pohon di hutan. Ya, cita-cita Samadi adalah mewujudkan miniatur rumah pohonnya ke rumah pohon sungguhan.

“Tidak hanya rumah pohon, buat arena camping, outbond. Iseng-iseng cari di internet, kenapa kok gak coba buat miniatur saja dulu buat contoh. Dari situ langsung cari bahan buat miniatur rumah pohon,” kata Bajang,” Bajang bercerita.

Rumah pohon itu, lanjut dia, rencananya akan didirikan di jalur pendakian gunung Arjuna, desa Tegal Sari. Memang Bajang dari dulu gemar mendaki. Bahkan diusianya tak lagi muda, pria ini masih sanggup menaklukkan gunung-gunung aktif di Jawa Timur.

Ia mengatakan, luas hutan yang akan ia jadikan sebagai arena camping, rumah pohon itu sekitar 2 hektar. Terlebih dahulu ia harus mengurus izin dari Perhutani.

“Menyesuaikan keadaan hutannya. Miniatur yang saya buat sendiri ini ialah miniatur yang memang cocok untuk dibangun di hutan. Seperti rumah pohon menyerupai pondok. Karena tidak banyak bangunan,” tutur buruh tani yang juga sebagai sesepuh pendiri komunitas Pecinta Alam Cansabalas ini.

Namun sayang, banyak anak muda menolak membantu dirinya membuat kerajinan yang ia buat itu. Alasannya, banyak di antara mereka yang mengaku tidak kreatif dan tidak telaten.

“Dari pada mereka nganggur tidak jelas saya ajak untuk buat kerajinan ini. Meskipun hanya sekedar menghaluskan kayu saja mereka katanya tidak telaten,” kata Bajang.

Padahal, lanjutnya, niat Bajang baik untuk memberikan hasil tambahan kepada anak-anak muda di sekitar kediamannya.

Hasil kerajinan Bajang sudah dibeli oleh beberapa orang. Ia memberikan harga sesuai kerumitan rumah pohon yang ia buat. Karyanya ia jual Rp 30-200 ribu.

Terkesan Kepemimpin Menteri Susi, Anja Persembahkan Karikatur

Susi terima lukisan dari Rektor.

MALANGVOICE – Menjadi kebanggan tersendiri bagi mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang yang sekaligus ilustrator dan reporter malangvoice.com, Anja Arowana Episcia Liviana, saat dimintai almamaternya melukiskan soso Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti.

Anja yang sedari awal memang mengidolakan Susi, tentu senang bukan kepalang, karena karyanya bisa diberikan kepada Susi saat gelar wisuda ke -83 Periode 1 UMM, hari ini.

Choirul Tanjung juga dapat cinderamata
“Wah senang dan bangga, karya saya bisa dibawa sama bu Susi. Terima kasih juga kepada UMM sudah pesen lukisan di saya,” kata dia sembari senyum lebar.

Di atas panggung, sang menteri yang dikenal nyentrik namun berani itu langsung kaget melihat lukisan dirinya terpampang. “Wow… hahaha,” tukas Susi sembari tertawa.

Sejak awal Anja memang sudah lama gemar melukis. Terhitung sejak 2013. Namun sempat vakum pada 2016 karena kesibukannya sebagai reporter. Pada akhir 2016, dia kembali getol melukis. Lukisannya memakai media cat air di atas kertas. Namun baru kali ini, dia bisa melukis untuk menteri.

Dia mengaku menghabiskan waktu dua minggu untuk melukis Susi di atas kertas A2. Susi ia lukis dalam posisi naik di atas bebek air dengan background gedung kuliah bersama UMM.

“Bu Susi kan orangnya ceria, makanya saya gambar naik bebek air di danau UMM sambil melambaikan tangan. Ada masukan juga dari pihak kampus untuk memberi background kampus UMM. Makanya pilih lah GKB, bebek air, dan danau ini, karena memang ikonik, ” tukas dia.

Anja mengidolakan ketegasan Susi dan gaya ceplas-ceplosnya. Dia bermimpi, suatu saat bisa mengikuti jejak Susi menjadi pengusaha sukses.

“Orangnya memang tegas dan ceplas-ceplos,” kata Anja yang sebenarnya juga ceplas-ceplos.

Bukan hanya lukisan untuk Susi, Anja juga membuat lukisan kedua untuk Chaerul Tanjung yang juga datang di gelaran wisuda itu. Dia pun kaget dan tertawa melihat wajahnya terpampang dalam bentuk karikatur.

Pausephone Community, Ajak Masyarakat Kurangi Aktivitas Gadget

Kegiatan Pausephone Community (istimewa)
Kegiatan Pausephone Community (istimewa)

MALANGVOICE – Saat ini masyarakat tidak bisa lepas akan gadget seperti smartphone atau tablet. Selain sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan komunikasi dan mencari informasi, gadget sudah menjadi bagian dari gaya hidup yang sulit dipisahkan.

Kurangi Pakai Gadget (istimewa)
Kurangi Pakai Gadget (istimewa)

Namun, saat ini, takaran dalam memanfaatkan gadget dinilai terlalu berlebihan sehingga berkesan merugikan bahkan menjadi hambatan dalam interaksi sosial sebenarnya.

Hal itu mendasari Pandu Wicaksono mendirikan Pausephone Community, komunitas bagi masyarakat yang ingin mengikuti terapi kecanduan gadget/smartphone pada 23 September lalu.

Demikian, masih banyak orang belum memahami konsep komunitas ini sehingga masyarakat ragu untuk bergabung.

“Banyak yang salah paham dikiranya kami anti gadget. Kami bukan komunitas anti gadget, melainkan komunitas tempat untuk membantu orang-orang agar bisa mengurangi penggunaan smartphon sehari-sehari dan lebih bijak menggunakannya,” papar Pandu kepada MVoice.

Pausephone Community (istimewa)
Pausephone Community (istimewa)

Pandu menambahkan, ide mendirikan komunitas ini muncul dari rasa empatinya ketika melihat kejadian aneh gegara gadget.

“Contoh, pernah ada kecelakaan, tapi orang-orang sibuk ngefoto korbannya lalu dishare ke sosial media daripada nolongin. Lha ini nyawa lho, mbok ya ditolong dulu baru mainan gadget,” tandas Pandu yang juga aktif di komunitas Tabrak Warna ini.

Untuk itu, komunitas ini mengajak anggotanya mengikuti terapi gadget pada pertemuan setiap minggunya.

“Anggota membawa hape dan menghidupkan ringtone ke volume paling keras. Kalau ada pemberitahuan pesan baru dari Line, Wa, Facebook, mereka tidak boleh membukanya selama 1 jam. Tapi kalau telepon penting boleh diangkat,” kata Pandu.

Terapi itu, kata Pandu, mengajak anggota untuk membiasakan mereka tidak memegang gadget jika tidak terlalu penting. Jadi mereka tahu kapan harus menggunakan smartphone dan kapan tidak.

Selain terapi gadget, Pausephone Community juga selalu mengajak anggotanya berbagi ilmu apapun yang mereka punya. Jadi setiap pertemuan akan diisi oleh materi-materi yang bervariasi dan tidak membosankan.

Pandu berharap, komunitas ini bisa semakin memberikan kesadaran masyarakat agar lebih bijak menggunakan gadget.

Catatan Peristiwa Desember, Perang Kemerdekaan di Karesidenan Malang (1)

Peta gerakan Kompi Gagak Lodra.

Pada 19 Desember 1948, Belanda mulai mengadakan Agresi Militer II dengan lebih rapi. Dini hari, pasukan Belanda sudah menempati posisi di belakang garis pertahanan pasukan RI di sekitar Ngantang. Mereka bertujuan untuk menguasai pusat pembangkit listrik Mendalan (sentral listrik terbesar di Jawa Timur, terletak di pinggir Sungai Konto di perbatasan Karesidenan Kediri dan Malang). Rakyat berbergerak melaporkan hal ini kepada Kapten Sumeru yang kemudian diteruskan kepada Komandan Batalyon di Pujon. Pukul 10.00 pagi serdadu Belanda sudah melintas menuju ke Gunung Kelet, Desa Bian, Bendosari , dan Bakir. Mereka berhasil menutup aliran air yang mengalir ke turbin hingga listrik pun padam.

Sementara itu, di sepanjang Bululawang-Wajak, seksi-seksi yang mengadakan pertahanan diserang dengan hebat oleh Belanda. Komandan kompi dan pasukan cadangan RI yang berposisi di Garotan pun segera bersiap untuk bergerilya. Mereka segera bergerak cepat dan harus segera menduduki daerah dekat perbatasan (status quo) sebelum pasukan Belanda istirahat dan berkonsolidasi. Sejak pagi, pertempuran terjadi di mana-mana. DI sepanjang garis pertahanan Wajak dan Turen, pasukan kita terus bertempur menghambat musuh, agar ada kesempatan untuk memindahkan amunisi dan perbekalan masuk ke daerah gerilya dan hutan. Ketika daerah Wajak sulit dipertahankan, semua pasukan RI diperintahkan bergerak memasuki daerah perbatasan, garis status quo di hutan Wonosari. Pukul 7 pagi, pasukan patrol Belanda berkekuatan 2 regu bersenjata lengkap yang berasal dari pos Poncokusumo, dijadikan bulan-bulanan dan dihabisi oleh Seksi Sarim di jalanan Pandansari.

Di Tempursari pun terjadi pertempuran hebat untuk menghadang masuknya pasukan Belanda ke daerah itu. Musuh pun gagal memasuki Tempursari, karena jembatan kali Tempursari dirusak oleh pasukan RI dan menghambat gerakan mereka.

Pada 19 Desember 1948 pula, di pagi hari sekitar pukul 4.30 pagi, di Lodoyo Blitar terjadi pertempuran antara pasukan TRIP menghadapi serbuan Belanda. Ada beberapa korban dari kedua belah pihak.

Bersamaan dengan dimulainya Agresi Militer II, seluruh pasukan Divisi VII Untung Suropati pun, termasuk pasukan dari wilayah Karesidenan Malang mengadakan berbagai penyusupan ke daerah-daerah kantong.

Pada hari yang sama, Belanda dengan pasukan lintas udara menyerang ibukota RI, Yogyakarta. Lapangan terbang Maguwo dikuasai dan tidak lama seluruh Kota Yogyakarta jatuh. Para pemimpin ditangkap, yakni Presiden Soekarno, Wakil Presiden Moh. Hatta, Sutan Syahrir,. H, Agus Salim, Mr. A.K. Pringgodigdo. Mr. Assat dan Komodor Suryadarma. Mereka diasingkan ke Prapat dan Bangka. Sidang Kabinet yang sempat diadakan hari itu memberikan mandat melalui radio gram kepada Mr. Sjafrudin Prawiranegara yang kebetulan sedang berada di Sumatra, untuk membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia.

Pada 20 Desember 1948, Kompi Gagak Lodra dipimpin Sabar Sutopo bergerak melakukan gerilya ke wilayah Bambang Kecamatan Wajak dan Garotan. Sementara Seksi Soetomo ditugaskan bertahan di Wajak Utara untuk menghadang pasukan Belanda yang ditengarai akan memasuki Garotan dan sekitarnya.

Brigade IV dengan semua kesatuan di bawahnya diperintahkan untuk menitikberatkan pertahanan pada Kota Malang, Bangil, Pasuruan, Turen, dan Lumajang. Namun, kondisi pertahanan pasukan Mayor Hamid Rusdi di Turen sudah tidak memungkinkan karena kurangnya lengkapnya persenjataan, maka dilakukan penyusupan ke daerah pendudukan Belanda di daerah Malang Timur dengan berbagai pertempuran gerilya malam hari, dilakukan pada saat yang tepat dan mempergunakan pasukan infantri. (Bersambung/Idur)

Sanusi, Ubah Limbah Jadi Miniatur

Anwar Sanusi menunjukkan buah karyanya di rumah tempat produksi, Desa Pesanggrahan, Kota Batu. (Aziz Ramadani)

MALANGVOICE – Sosok pria berkaos warna hitam tampak sibuk berkutat dengan kayu dan kuasnya saat ditemui di rumah beralamat RT 03/RW 05 Dusun Srebet, Desa Pesanggrahan Kecamatan Batu, Rabu sore (13/9). Beberapa kayu yang sudah dipotong presisi lantas diolah menjadi sebuah miniatur. Di antaranya, becak, pesawat, perahu pinisi dan jam ornamen ukiran.

Pria ramah dan murah senyum ini adalah Anwar Sanusi. Pria akrab disapa Sanusi memulai usaha kerajinan tangan atau handycraft sejak 2012 silam. Usahanya patut diacungi jempol, karena bahan dasarnya memanfaatkan limbah kayu dan bambu. Khusus bambu dia dapatkan dari pekarangnnya sendiri.

“Inspirasi awalnya ya prihatin banyak limbah kayu hasil mebel terbuang percuma. Daripada dibakar saya olah lagi,” kata Sanusi.

Pada percobaan pertama, lanjut pria kelahiran 11 Agustus 1984, memproduksi 20 karya. Miniatur pertamanya adalah perahu pinisi. Tidak ada kesulitan berarti yang dihadapi. Sebab, Sanusi memang telah memiliki dasar seni. Dia juga konsultasikan kepada teman seniman.

“Pernah lama jadi pelukis sejak 2005. Sebelum buat miniatur ya didesain dengan sketsa dulu,” urainya.

Tak disangka, lanjut Sanusi, produknya cepat laku. Padahal dalam tempat penjual souvenir ada produk serupa buatan asal Yogyakarta. Harganya pun sama dipatok mulai Rp 10 ribu per miniatur.

“Ada evaluasi juga memang. Karena masih manual. Mempengaruhi kehalusan tampilan. Sekarang sudah pakai mesin,” tutur anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Kini dari buah ketelatenannya, dalam sehari mampu memproduksi 50 karya miniatur. Pemasarannya pun bertambah, yakni di Wana Wisata Coba Talun dan Plaza Batu. Omzet yang dikantonginya setiap bulan Rp 3 juta – Rp 4 juta. Produk lain pun, seperti jam ukir, dikembangkan dengan harga mulai Rp 200 ribu sesuai tingkat kerumitannya.

Namun yang paling menarik, Sanusi enggan memanfaatkan media sosial dan kemudahan teknologi guna melebarkan pemasaran. Dia mengaku ingin fokus memenuhi kebutuhan lokal Kota Batu.

“Saya fakus pemasaran di Kota Batu saja ,” katanya.(Der/Yei)

Bar-Rampal, Generasi Menolak Lemah!

Bar-Rampal di Wallclimbing area UB

MALANGVOICE – Sehat itu mahal. Kenyataan itu sangat terasa, saat kita harus menebus obat di rumah sakit. Nah, selagi bisa, sebaiknya lakukan pola hidup sehat.

Hal itulah yang melatarbelakangi dibentuknya sebuah kelompok street workout atau olahraga jalanan bertajuk Bar-Rampal, pada 2010 lalu.

Anggota Bar Rampal sedang latihan
Anggota Bar Rampal sedang latihan
‘Bar’ adalah media latihan sederhana berupa rangkaian besi panjang, sedangkan Rampal nama salah satu lapangan yang begitu terkenal di Kota Malang, tempat pertama kali melakukan street workout.

“Teman-teman Bar-Rampal sebelumnya terinspirasi oleh video Bar-Tendas di Youtube, salah satu grup street workout yang mendunia saat itu,” kata Hari Setya Putra, anggota senior sekaligus pelatih di Bar-Rampal.

Bar-Rampal yang digawangi oleh Daniel Safar, Teguh Adi, Arief. Mulai tahun 2013, street workout mulai diminati secara masif. Namun, hal tersebut menjadi kendala karena Bar-Rampal tidak tidak mempunyai cukup ruang bagi anggotanya saat itu.

“Akhirnya kami pindah tempat di area wall climbing Universitas Brawijaya. Bersama Himapala, kita iuran dan membuat Bar latihan sendiri,” kata pria alumni Hukum Brawijaya ini.

Bermotto “Generasi Menolak Lemah”, Bar-Rampal berolahraga setiap hari Senin, Rabu, dan Sabtu pukul 4 sore. Anggotanya tercatat aktif 30 orang. Tapi masyarakat umum sangat dibolehkan bergabung.

“Kami ingin memberikan fasilitas khususnya warga Kota Malang untuk hidup sehat, punya tubuh ideal dan ini gratis,” tambah Hari.

Selain itu, aktivitas street workout semakin terbantu sejak Street Workout Indonesia (SWID) didirikan pada 4 November 2014. SWID membantu komunikasi antar pelaku street workout di beberapa daerah di Indonesia. Akhirnya kegiatan ini pun semakin diminati.

Komunitas