Rumput Ilalang Disulap Jadi Tokoh Pewayangan

Begog Asmoro mengajarkan cara membuat wayang suket. (Muhammad Choirul / MalangVoice)

MALANGVOICE – Tak perlu mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk membuat karya bernilai kesenian tinggi. Begog Asmoro, mampu menyulap seikat rumput ilalang menjadi tokoh-tokoh pewayangan.

Keahlian terampil itu ia bagikan dalam work shop wayang suket, di Pelataran Gedung Dewan Kesenian Malang (DKM), Minggu (30/8) sore. Dengan telaten kepada peserta work shop, Begog menunjukkan cara merangkai helai demi helai rumput hingga berbentuk wayang.

Pria kelahiran 1958 ini mengaku, ingin mengenalkan pada pemuda zaman sekarang, bahwa dari sesuatu yang sederhana bisa tercipta karya luar biasa.

“Ini mainan saya waktu kecil, sekarang bisa buat hiburan dan berkesenian,” kata Begog, di sela aktivitasnya membagi ilmu.

Ia prihatin dengan generasi saat ini, yang seolah-olah abai pada kesenian tradisional khas Nusantara. “Bukan hanya suket, godhong (daun) juga bisa jadi tokoh wayang. Sekarang ini seolah-olah semua itu tidak ada, tak banyak yang peduli,” papar seniman asli Mergosono itu.

Work shop wayang suket ini merupakan rangkaian kegiatan Pameran Komik Ngaji Wayang Teguh, 29-31 Agustus 2015, yang dimotori DKM untuk mengenang komikus legendaris, Teguh Santosa (1942-2000).

Selain work shop, di tempat yang sama juga digelar pameran wayang karya Teguh Santosa. Putra kandung Teguh Santosa, Dhany Valiandra menjelaskan, pameran kali ini memang dikhususkan untuk karya Teguh berupa wayang.

“Ini preview untuk pameran besar komik karya bapak, yang sekaligus digelar Teguh Santosa Award tahun depan,” tandasnya.

Wayang yang dipamerkan mengekspose sosok Dewa Ruci yang berbentuk wayang karya Teguh Santosa pada 1984 silam. Dhany menilai, tokoh Dewa Ruci dimunculkan karena sosok itu bersifat universal.

“Selain pada kisah Mahabarata, Dewa Ruci juga punya karakter kuat di Jawa,” pungkasnya.-

‘Nanotech Kathasi’ Tingkatkan Berat Buah Hingga 100 Persen

Mahasiswa FP UB penemu pupuk Nanotech Kathasi, Agung Wicaksono. (Humas UB for MalangVoice)

MALANGVOICE – Mahasiswa Fakultas Pertanian (FP) Universitas Brawijaya (UB), Agung Wicaksono berhasil menemukan pupuk nano organik yang mampu meningkatkan berat buah hingga 100 persen.

Penemuan pupuk yang diberi nama ‘Nanotech Kathasi’ itu, saat ini mendapat dukungan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) untuk penelitihan lanjutan.

Agung menjelaskan, karyanya ini terbuat dari limbah pertanian tanaman legum yang kaya nutrisi karena mengandung nitrogen. Tanaman itu, termasuk kelompok tanaman yang tergolong mempunyai unsur hara tinggi, antara lain kacang-kacangan, turi, dan kedelai.

“Kalau limbah pertanian, yang kami gunakan contohnya kulit kacang, seresah turi, dan bintik kedelai yang mengandung nitrogen tinggi,” kata Agung, Jumat (4/9).

Dijelaskan, ukuran pupuk yang dipartikelkan sebesar 10-9 membuat karyanya lebih efektif masuk ke dalam stomata daun yang berukuran 10-6.

“Karena ukuran pupuk yang dipartikelkan lebih kecil dibanding stomata, maka unsur hara yang dibawa pupuk bisa mudah masuk ke dalam stomata tanaman,” paparnya.

Agung mengaku, penggunaan Nano Katashi sudah diterapkan pada tanaman ubi jalar. Hasilnya, berat ubi jalar menjadi 8-12 kilogram lebih besar jika dibanding pemakaian pupuk anorganik biasa yang hanya mencapai empat kilogram.

Keunggulan lain dari Nanotech Katashi adalah efisiensi biaya operasional. “Selain itu, juga bisa mengoptimalkan kegunaan limbah pertanian, dan lebih praktis karena pupuk bisa dengan mudah masuk ke dalam stomata tanaman sehingga tidak ada yang terbuang,” tandasnya.

Penemuan Nanotech Katashi sempat mengantarkannya meraih medali emas pada kompetisi 2nd Korea Creative Invention Contest (CIC), pertengahan Agustus 2015 lalu di Korea Selatan dan penghargaan spesial dari Asian Invention Association (AIA).

“Saya bangga, semoga bisa bermanfaat bagi orang banyak,” harapnya.-

Mbois! Mahasiswa ITN Ciptakan Beton Kuat Manfaatkan Limbah Fly Ash

Tim ITN saat penobatan sebagai juara. (Istimewa)

MALANGVOICE – Mahasiswa Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang punya cara kreatif mengolah limbah pembakaran batu bara.

Tiga mahasiswa, yakni Jandsem Madi, Raynhard Ghunu dan Bagus Dwi Wibowo mengolahnya menjadi beton. Berkat ide mereka, ITN meraih juara 3 Lomba Kuat Tekan Beton (LKTB) di Surabaya, 5 Mei lalu.

Sesuai tema kompetisi, Smart Green and Optima Your Green Concrete, tim harus menemukan bahan pengganti semen yang lebih ramah lingkungan. Tim ITN menggunakan limbah pembakaran batu bara (fly ash) sebagai pengganti semen. Hal ini karena fly ash banyak dihasilkan dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) sebagai limbah. Beton yang dibuat dari fly ash ini diracik dengan komposisi kompleks dan tepat.

“Beton yang bagus itu dilihat dari kuat tekannya, biaya pembuatan, dan seberapa banyak penggunaan semennya,” kata Jandsem Madi kepada Mvoice.

Dia menjelaskan, jika biasanya, untuk satu kubik beton semen yang digunakan 400 kg. Maka saat lomba menyiapkan bahan semen hanya 200 kg saja.

“Tim dituntut untuk mengurangi penggunaan semennya,” tukasnya.

Ternyata, tak hanya membawa pulang piala, ITN juga terpilih sebagai Best University pada kompetisi tersebut, menyisihkan 50 perguruan tinggi pesaingnya. Dengan begitu, tim ITN berharap penggunaan material ramah lingkungan semakin banyak diterapkan dalam pembangunan di Indonesia. (Der/Ery)

”Media Penyeimbang Legislatif”

“Masyarakat haus akan berita, media online merupakan media masa depan dan sesuai dengan kemajuan teknologi.  MVoice ke depan bisa menjadi media partner dan penyeimbang legislatif dan eksekutif di Malang Raya. Agar supaya program kerja pemerintah dapat diketahui langsung masyarakat. Welcome MalangVoice, sukses selalu. Sajikan berita yang membawa dampak positif bagi masyarakat.’’

Sukses Berbisnis Tas Rajut, Perempuan Ini Buka Kursus Rajut Gratis

Kursus Rajut
Kursus Rajut (istimewa)

MALANGVOICE – Pengerajin tas rajut dan zipper, Imas Titi Rahmawati, berhasil mendulang rupiah karena hasil kreativitasnya berhasil menarik minat pasar.

Dengan bantuan ayah, ibu, dan kedua adiknya, produk-produk tas rajut dan tas zipper Imas bisa terjual hingga ke seluruh wilayah Jawa, Aceh, Papua, hingga Kalimantan.

 Kursus Rajut
Kursus Rajut (istimewa)

Tak berhenti disitu, Imas bersama ibunya, Titin Tantinah dan adiknya, Tiwi Setyorini, berinisiatif untuk memberikan kursus merajut gratis di rumahnya yang berlokasi di Jalan KH Malik Dalam Perum City View B8, Malang.

“Untuk kelasnya sudah kita buka sejak 2 bulan lalu. Alhamdulillah, pesertanya sangat antusias dan semakin hari semakin banyak,” kata Imas yang juga alumni SMK 3 Malang ini kepada MVoice.

Ia menambahkan, antusias masyarakat sekitar semakin menginspirasinya untuk membuat wisata rajut di Malang Timur .

“Saya sangat mengharapkan dukungan serta sponsor agar mimpi dan harapan kami jadi kenyataan,” tutupnya.

Devyan, Polisi Berotot Peringkat Nasional

Bripda Devyan Wildan Arif (Tika)

MALANGVOICE – Nama Bripda Devyan Wildan Arif di kalangan warga Polres Malang cukup terkenal.

Anggota Provost ini baru-baru ini menyabet peringkat VII dalam even Men of Steel Body 2016, di Semarang, 21 Agustus lalu.

Kontes ini melombakan kebugaran dan keindahan bentuk dan otot tubuh. Lajang 24 tahun ini berhasil menyisihkan 300 peserta se- Jawa dan Bali untuk kategori Men Fitness.

“Tingkat yang saya ikuti body muscle. Peserta yang polisi hanya saya. Yang lainnya mahasiswa, karyawan bahkan body trainer,” jelas dia saat ditemui MVoice di ruang kerjanya.

Devyan bercerita, sejak 2014 dia sudah mencintai dunia fitnes, saat baru saja lulus dari pendidikan polisi.

Dia mengaku, berat badannya kala itu hanya 51 kilogram. Berbeda dengan sekarang, setelah menggeluti dunia body building selama dua tahun, berat badannya mencapai 70 kilogram.

“Orang baru keluar dari pendidikan itu kan badannya kurus-kurus. Kemudian ada senior mengajak untuk ikutan fitness, katanya bisa membentuk badan. Saya ikut dan akhirnya ketagihan,” jelas alumnus SMK Telkom Malang ini.

Menjaga berat badannya dan bentuk tubuh, dia rutin fitness di Bhayangkara Fitness, Kepanjen dan juga lari pagi di Stadion Kanjuruhan.

“Seminggu saya latihan angkat beban sebanyak empat hingga lima kali. Kalau untuk melatih otot saya lakukan dengan latihan kardio. Bisa dengan bersepeda, renang dan lari dua kali dalam seminggu,” jelas selebgram dengan 1.500-an followers ini.

Hari-hari Devyan dihabiskan untuk olahraga, bekerja dan kuliah S1 jurusan hukum di Universitas Wisnuwardhana.

Bahkan dia mengaku tidak memiliki waktu luang untuk sekadar jalan-jalan.

“Saya nggak ada waktu buat ngluyur. Kalau ada waktu luang mending digunakan untuk istirahat saja,” tandas dia.

Ingin Berkontribusi, Begini Pengakuan Gadis Cantik ‘Relawan Nebeng Ngalam’ Ini

Gita Nur Pratiwi rela menjadi relawan untuk membantu masyarakat Kota Malang. (Gita for MVoice)
Gita Nur Pratiwi rela menjadi relawan untuk membantu masyarakat Kota Malang. (Gita for MVoice)

MALANGVOICE – Mogoknya angkot sejak Senin (6/3) lalu membuat warga berbondong-bondong menjadi ‘Relawan Nebeng Ngalam’. Kepedulian kepada pengguna jasa angkutan umum yang terlantar, juga ditunjukkan Gita Nur Pratiwi.

Berbekal Toyota Agya dengan nomor polisi W 617 A, dia bersedia mendaftar sebagai relawan. Bersama seorang temannya, Arief Ashari, Gita mendaftar ke posko relawan di Digital Lounge, kemarin (8/3), dan langsung mulai menjalankan aksinya.

“Tidak sendirian, tapi ajak teman karena aku bukan asli Malang, biar enggak nyasar di jalan,” ungkap gadis cantik asal Gresik ini.

Keikutsertaannya sebagai relawan tak lepas dari keinginan berkontribusi. Sebagai mahasiswa pendatang, Gita ingin memberikan manfaat kepada kota tempat dia menempuh pendidikan.

Gita Nur Pratiwi (kiri) tengah mengantar para pelajar Kota Malang. (Gita for MVoice)
Gita Nur Pratiwi (kiri) tengah mengantar para pelajar Kota Malang. (Gita for MVoice)

Ia tidak ingin sekadar mengeluh menghadapi berbagai dinamika sosial yang terkaji akhir-akhir ini di bhumi Arema. “Daripada cuma mengeluh mengahadapi yang terjadi sekarang, lebih baik kontribusi konkret seperti ini,” ucapnya.

Menurut mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya ini, kebaikan harus dimulai dari diri sendiri. Dia yakin, tindakan sekecil apapun, dampaknya bisa amat besar bagi orang-orang di sekitar.

Melalui kegiatan ini, lanjut Gita, secara tidak langsung relawan juga memberikan pendidikan karakter. “Bisa jadi memotivasi adik-adik kita, yakni siswa yang diberi tumpangan. Melalui yang dicontohkan ini ada pendidikan karakter, the world full of good people if you can’t find one, be one,” tandasnya.

Dengan berbagai pertimbangan itu, Gita mengaku tidak takut menghadapi risiko negatif, mengingat dirinya seorang perempuan. Sebab niatnya tulus, hanya untuk membantu sesama.

Sebaliknya, dia cukup terenyuh dengan banyaknya jumlah relawan. “Sumpah saya salut sama warga Malang. Mau tua, mau muda, mereka punya semangat besar untuk berbagi sesama,” pungkasnya.

Tunaikan Nazar, Aremania Ini Jalan Kaki hingga 20 Kilometer

Joko Wicaksono, jalan kaki 20 kilometer karena Arema FC memenangkan Piala Presiden (Tika)
Joko Wicaksono, jalan kaki 20 kilometer karena Arema FC memenangkan Piala Presiden (Tika)

MALANGVOICE – Aksi yang dilakukan Joko Wicaksono (42), warga Kasin, Kota Malang ini tergolong unik.

Pasalnya, demi menunaikan nazarnya, dia berjalan kaki dari Stadion Kanjuruhan, Kepanjen menuju kantor Arema di kawasan Stasiun Kota Baru. Jarak rute yang dia tempuh sekitar 20 kilometer.

Aremania korwil Kasin ini berjalan dengan membawa atribut klub sepakbola kebanggaannya serta poster dengan tulisan ‘Uklam Nazar Nenjap-Ngalam’.

Dia ditemani beberapa rekannya, Sodiq Kasin, Agus Purwosari, Arif korwil Bantaran, Gogon dari Samaan, Yuli Budiono, Sam Ali dari Kepanjen, Sam Muji Celaket dan Awang korwil Kanjuruhan​. Selain itu, juga dikawal oleh mobil kesehatan.

Kepada MVoice, Joko bercerita, dia melakukan aksi jalan kaki karena menuaikan nazar. Pasalnya, Arema berhasil membawa pulang Piala Presiden yang diperebutkan di Stadion Pakansari, Bogor, belum lama ini.

“Ini nazar karena Arema menang. Sebenarnya sudah lama, sejak dua tahun lalu,” kata dia saat dijumpai di kawasan Mojosari, Kepanjen, Kabupaten Malang.

Sebelum melaksanakan nazar jalan kaki, tukang parkir ini sudah mempersiapkan fisik. Mulai dari rajin minum jamu, terapi hingga istirahat yang cukup.

“Persiapannya semingguan, mendadak ini persiapannya,” imbuh dia.

Sementara itu, Aremania korwil Ijen Nirwana, Hartoyo, mengaku apresiasi dengan langkah Joko.

“Salut sekali, dulu pernah ada Aremania korwil Sukorejo yang berjalan dari Sukorejo ke Kepanjen,” tegas dia.

Mbois! Bikers Brotherhood & Walikota Batu Bagi Takjil Gratis

Bikers brotherhood (ist)

MALANGVOICE – Demi mewujudkan rasa syukur pada Ramadan, Bikers Brotherhood Chapter East Java membagikan takjil gratis kepada kaum dhuafa dan fakir miskin di Kota Batu.

Ceria berbagi takjil (ist)
Ceria berbagi takjil (ist)
“Acara ini sekaligus memperkenalkan dan mengembangkan Bikers Brotherhood di Kota Malang,” kata salah satu anggota Bikers Brotherhood, Bogie, saat dihubungi MVoice beberapa menit lalu.

Ia menambahkan kegiatan yang digelar akhir pekan lalu itu merupakan bentuk social responsibility dan persaudaraan pecinta motor.

“Ini tanggung jawab sosial kami juga. Ke depan kita juga adakan kegiatan Bikers Brotherhood Social Responsibility for Nature, for Education dan for Culture. Rencananya untuk For Culture kita akan kembangkan budaya topengan Malang,” katanya.

Bersama Eddy Rumpoko (ist)
Bersama Eddy Rumpoko (ist)

Lebih lanjut, kegiatan bagi takjil yang diadakan di Alun-alun Kota Batu ini mengundang 200 kaum dhuafa. Meski sempat menimbulkan macet, Bogie mengatakan hal itu bisa diatasi karena sudah berkoordinasi dengan Kapolsek.

Setelah berbagi takjil di Alun-Alun, Bikers Brotherhood berangkat ke Masjid Al Muttaqin di dusun Pager Gunung, Desa Gunung Sari, Kecamatan Bumiaji, Batu.

Di sana, bersama Walikota Batu, Eddy Rumpoko dan Dandim Kabupaten Malang, Letkol Inf Riksani Gumay ikut hadir menyambut warga desa Gunung Sari.

Di Masjid Desa Gunung Sari (ist)
Di Masjid Desa Gunung Sari (ist)

Bikers Brotherhood merupakab klub motor berbasis persaudaraan yang tidak membeda-bedakan merk motor, jabatan dan latar belakang anggota. Berdiri sejak tahun 1988 di Bandung, klub ini beranggotakan sedikitnya 100 orang khusus chapter East Java.

Hero dan Rivo, Dua Jawara Tinju Dunia yang Tetap Sederhana

Hero Tito dan Rivo Rengkung, dua petinju kebanggaan bhumi Arema. (ist)
Hero Tito dan Rivo Rengkung, dua petinju kebanggaan bhumi Arema. (ist)

MALANGVOICE – Menyandang gelar juara dunia bukan jaminan seorang petinju profesional bakal hidup bergelimang harta. Ironisnya, tak sedikit penyandang status kampiun di atas ring harus melakoni kerja ekstra untuk menjaga dapur keluarga tetap mengepul. Hal itu juga dialami dua juara dunia kebanggaan Kota Malang, Hero Tito dan Rivo Rengkung.

Dengan seragam atasan putih dengan paduan celana hitam, sosok pria bertubuh gempal itu nyaris tak ada bedanya dengan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang sedang berdinas pada hari Rabu. Sesekali ia menyunggingkan senyum ramah dari balik kemudi mobil berplat merah, membuyarkan asumsi ‘predator’ yang disematkan saat sedang berjibaku di atas ring.

Dia lah Hero Tito, yang terlahir dengan nama asli Heru Purwanto. Sudah beberapa bulan ini, pria 30 tahun itu bertugas sebagai tenaga bantu Non-ASN di Badan Pelayanan Pajak Daerah (BP2D) Kota Malang.

Kesan tersebut tentu bertolak belakang dengan aksi garangnya saat menumbangkan petinju Thailand, Thongcai Kunram dalam partai yang berlangsung di Lospalos Gymnasium, Timor Leste pada November tahun lalu.

Berkat kemenangan itulah, kini bapak dua anak itu menyandang status sebagai juara kelas ringan versi World Professional Boxing Federation (WPBF).

Namun, tak ada yang berbeda dari keseharian pria asal Banjarejo, Pakis itu. Sehari-harinya, dia tetap menjalankan tugas sebagai staf di instansi pemerintahan tersebut di sela padatnya intensitas latihan yang harus dijalani.

“Jadi harus pandai mengatur waktu antara kerja sebagai staf dan berlatih. Bahkan saya bisa latihan juga di halaman belakang kantor. Beruntung pimpinan sangat memahami,” tutur Hero ramah.

Tercatat sejak tahun 2010 silam, Hero sudah menyabet gelar juara kelas bulu 57,1 kg versi Komisi Tinju Indonesia (KTI). Di tahun-tahun berikutnya, rentetan prestasi terus mengiringi kiprahnya. Mulai dari partai nasional, sampai tingkat Asia sudah dilakoninya sehingga kemudian mengantarnya ke tangga juara dunia.

Meski kariernya di atas ring terus meroket, namun bayang-bayang ketidakjelasan nasib sempat menghantui suami Siti Nurul itu. Putra bungsu Misran ini khawatir masa depannya gelap begitu gantung sarung tinju di kemudian hari. Keinginan untuk hengkang keluar Malang pun sering terlintas dalam benaknya.

Buah kesabaran Hero akhirnya berbuah manis. Begitu dia resmi menyandang predikat sebagai juara dunia, Walikota Malang HM Anton memenuhi janjinya untuk mempekerjakan pria kelahiran 27 September 1986 ini di lingkungan Pemkot Malang. Kendati demikian dia harus tetap bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan lain.

Namanya juga atlet profesional, Hero pun tak boleh telat untuk memenuhi kebutuhan latihan dan vitamin. Kadang kala, dia harus mengeluarkan kocek pribadi. Mengandalkan bantuan dari sasana saja tentu tidak cukup. Meski d’Kross Boxing Camp (BC) tak kurang-kurang memperhatikannya, namun gajinya jelas tak sebanding dengan kebutuhan rumah tangga dan biaya sekolah sang buah hati yang kini duduk di bangku Sekolah Dasar.

Sebagai petinju profesional, bayaran yang diterima Hero setiap kali tanding tak tentu. Sedangkan interval pertandingan juga tak bisa dipastikan. Kadang dua bulan sekali, bisa juga empat bulan sekali baru kembali naik ring. Sementara gaji sebagai tenaga bantu Non-ASN juga tak lebih dari Rp 2 juta per bulan.

Kondisi itulah yang dulu pernah membuatnya berpikir untuk menerima pinangan dari luar negeri. Ayah dari Tasya Azahra itu mengungkapkan pernah ditawari promotor asal Australia untuk hijrah membela sasana di Negeri Kanguru.

“Menggiurkan sih. Tapi, kalau saya berangkat kesana, apa menjamin kehidupan saya lebih baik saat kembali ke Malang nanti,” gumamnya.

Karena berasal dari keluarga petani dan kebetulan tempat tinggalnya masih di kawasan pedesaan, Hero juga sering menjual panen sayur mayur dan buah-buahan yang dia tanam di ladang dan tegalan samping rumahnya.

“Lumayan hasilnya untuk tambah-tambah isi dompet, meski tidak banyak,” ucapnya lirih.
Secara kualitas, Hero memang diakui sebagai ‘permata’ dalam belantika olahraga adu bogem Tanah Air. Pemilik d’Kross BC, Ir H Ade Herawanto MT, mengakui ketangguhan jagoannya itu.

Pesona Hero di atas ring sudah memikat Sam Ade d’Kross, sejak petinju berambut cepak itu berkiprah di level amatir.
Kepala BP2D Kota Malang yang notabene juga atasan Hero di kantor itu kepincut dengan gaya bertanding Hero yang menghibur.

“Menurut saya, Hero adalah petinju amatir terbaik di Malang saat itu. Dia itu seniman tinju. Sayangnya, dia sering ‘diperjual-belikan’ dari satu sasana ke sasana lain. Akhirnya saya kontrak Hero dari Cak Waris (pemilik Extra Joss BC Jakarta) pada tahun 2008,” ungkap Ade yang kala itu masih mengelola Sasana Gajayana.

Sejak Hero menunjukkan bakat luar biasanya yang berujung pada serentetan gelar bergengsi, sudah beberapa kali Ade dikontak oleh sejumlah promotor nasional yang tertarik merekrut Hero. Diantaranya berasal dari Jakarta, Semarang hingga Australia. Namun, Ade yang juga dikenal sebagai tokoh musik dan Aremania enggan melepas.

Padahal, penghobi olahraga ekstrem ini sadar bahwa angaran yang dibutuhkan untuk membina petinju, mengelola sasana dan menjadi promotor tidaklah sedikit. Bahkan tidak semua orang mampu dan mau mengurusi olahraga tinju.

Sesuai janjinya, Ketua Komisi Tinju Profesional Indonesia (KTPI) Malang Raya ini akan mundur dari dunia tinju jika sudah berhasil mengantar petinju Malang merengkuh gelar juara dunia. Akhirnya cita-cita pecinta musik rock yang juga hobby nge-trail ini kesampaian. Meski Ade mengakui belum tega jika langsung lepas tangan, karena belum ada regenerasi kepengurusan.

Tak jauh berbeda, jalan terjal dan berliku juga dilalui Rivo Rengkung. Memulai perjuangan sebagai petinju amatir sejak masih usia belia, pria bernama asli Rivly itu juga merasakan pahit getir dalam meniti karier.

Di bawah gemblengan sang ayah angkat, Yongky Liu, Rivo muda menjelma jadi petinju profesional yang mulai diperhitungkan di era 2000’an. Berangkat dari Manado, petinju asal Tomohon itu mengorbit cepat sebagai petarung beringas dari wilayah Timur Tanah Air.

Hingga kemudian menjadi juara dunia kelas ringan yunior versi WPBF pun, nyatanya Rivo harus tetap melakoni kerja sampingan untuk menyambung hidup. Mulai sebagai pelatih tinju, kick boxing hingga bertarung di kejuaraan Mix Martial Arts (MMA) dilakoninya.

Sama halnya Hero, tentu saja penghasilan Rivo dari kerja sampingan tersebut tak selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan latihan dan vitamin, di samping kewajiban utama memenuhi kebutuhan keluarganya yang berdomisili di Salatiga, Jawa Tengah.

Saat memutuskan hijrah ke Malang pun, pria kelahiran 1 Juni 1984 itu pun dengan berat hati meninggalkan istri, Tuty Herawati dan sang buah hati, Liony Putri Alicia yang kini duduk di bangku kelas IX SMP.

“Tentu saja rasanya berat di hati, tapi perjuangan ini demi penghidupan yang lebih baik bagi keluarga kami,” seru Rivo mantap.

Jangan bayangkan seorang juara dunia berangkat dengan mendapatkan pengawalan ekstra atau naik mobil mewah, karena Rivo menempuh perjalanan dari Salatiga ke Malang hanya dengan menunggangi sepeda motor seorang diri.

Begitu sampai di Malang pun, petinju 32 tahun itu juga belum tahu dimana akan tinggal karena mess di Sasana d’Kross BC sedang direnovasi.

“Sementara saya menumpang di rumah Hero dulu sampai kamar di mess sudah selesai direnov,” lugasnya.

Maka, jangan bandingkan kisah dua petinju juara dunia bernama Hero Tito dan Rivo Rengkung dengan cerita manis dari lapangan bola. Jika pemain sepakbola biasa masih bisa membeli mobil, seorang juara tinju internasional nyatanya masih butuh kerja sampingan untuk sekadar menyekolahkan anak. Bahkan sampai saat ini, Hero dan keluarga kecilnya masih tinggal di rumah orangtuanya di Banjarejo, sementara Rivo numpang tinggal di rumah tersebut.

Komunitas