Prinsip No Complain, No Accident

Eddy Wahyono, Ketua HDCI Malang

MALANGVOICE – Masih ingat peristiwa seorang pengendara sepeda menghentikan arak-arakkan Harley Davidson di Yogyakarta? Peristiwa ini sempat menjadi perbincangan hangat masyarakat Indonesia.

Berkaca dari peristiwa itu, Ketua terpilih HDCI Malang, Eddy Wahyono mengatakan, sebenarnya terjadi kesalahpahaman terkait insiden itu sehingga menimbulnan kesan miring pada publik.

Padahal, sesuai dengan arahan nasional HDCI mengedepankan prinsip no complain, no Accident yang melekat pada semua anggota HDCI termasuk di Malang.

“Kita kedepankan prinsip no complain no accident, dimana adanya patwal bagian dari usaha kami menjaga ketertiban lalu lintas,” kata Eddy, Minggu (30/8) malam.

Dijelaskan, kendaraan Harley Davidson sendiri memiliki mesin setara mobil yakni 1800 cc. Dimana jika tidak ada pengawalan, maka ditakutkan akan membahayakan para anggota sendiri dan masyarakat.

“Perlu dicatat pula, kami tidak setiap hari keluar menggunakan harley, hanya momen tertentu saja,” tandasnya.

Ia juga menambahkan, selama ini berbagai kegiatan sosial HDCI yang bermanfaat bagi publik juga kurang terekspos dengan baik. Sehingga masyarakat tidak mendapat info utuh mengenai HDCI.-

BNN Kota Malang

Halalbihalal, Momen Kebersamaan dan Kekompakan HDCI Malang

Halalbihalal HDCI Malang. (istimewa)

MALANGVOICE – Harley Davidson Club Indonesia (HDCI) Malang menggelar halalbihalal bersama seluruh anggota dan keluarga, Senin (25/6) malam.

Momen guyub dan rukun terlihat dari semua yang hadir di Taman Indie Resto, termasuk para pelindung dan pembina dari jajaran Kapolres dan Dandim se-Malang Raya.

Sebagai wadah pecinta motor gede, acara ini dikatakan Ketua Harian HDCI Malang, Pratikno Gautama, sebagai langkah untuk mempererat silaturahmi dan kebersamaan.

“Ini salah satu bentuk kebersamaaan kami, apalagi ini masih momen Idul Fitri di Bulan Syawal,” katanya.

Pratikno Gautama menambahkan, diharap dengan acara ini bisa menambah kekompakan sesama anggota.

“Kegiatan sosial bisa ditingkatkan daripada tahun lalu. Kami juga akan terus sosialisasikan bagaimana berkendara dengan santun di jalan, no complaint no accident,” harapnya. (Der/Ulm)

BNN Kota Malang

Terkesan Kepemimpin Menteri Susi, Anja Persembahkan Karikatur

Susi terima lukisan dari Rektor.

MALANGVOICE – Menjadi kebanggan tersendiri bagi mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang yang sekaligus ilustrator dan reporter malangvoice.com, Anja Arowana Episcia Liviana, saat dimintai almamaternya melukiskan soso Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti.

Anja yang sedari awal memang mengidolakan Susi, tentu senang bukan kepalang, karena karyanya bisa diberikan kepada Susi saat gelar wisuda ke -83 Periode 1 UMM, hari ini.

Choirul Tanjung juga dapat cinderamata
“Wah senang dan bangga, karya saya bisa dibawa sama bu Susi. Terima kasih juga kepada UMM sudah pesen lukisan di saya,” kata dia sembari senyum lebar.

Di atas panggung, sang menteri yang dikenal nyentrik namun berani itu langsung kaget melihat lukisan dirinya terpampang. “Wow… hahaha,” tukas Susi sembari tertawa.

Sejak awal Anja memang sudah lama gemar melukis. Terhitung sejak 2013. Namun sempat vakum pada 2016 karena kesibukannya sebagai reporter. Pada akhir 2016, dia kembali getol melukis. Lukisannya memakai media cat air di atas kertas. Namun baru kali ini, dia bisa melukis untuk menteri.

Dia mengaku menghabiskan waktu dua minggu untuk melukis Susi di atas kertas A2. Susi ia lukis dalam posisi naik di atas bebek air dengan background gedung kuliah bersama UMM.

“Bu Susi kan orangnya ceria, makanya saya gambar naik bebek air di danau UMM sambil melambaikan tangan. Ada masukan juga dari pihak kampus untuk memberi background kampus UMM. Makanya pilih lah GKB, bebek air, dan danau ini, karena memang ikonik, ” tukas dia.

Anja mengidolakan ketegasan Susi dan gaya ceplas-ceplosnya. Dia bermimpi, suatu saat bisa mengikuti jejak Susi menjadi pengusaha sukses.

“Orangnya memang tegas dan ceplas-ceplos,” kata Anja yang sebenarnya juga ceplas-ceplos.

Bukan hanya lukisan untuk Susi, Anja juga membuat lukisan kedua untuk Chaerul Tanjung yang juga datang di gelaran wisuda itu. Dia pun kaget dan tertawa melihat wajahnya terpampang dalam bentuk karikatur.

BNN Kota Malang

Sering Menang Kontes, Honda Life Kuno Ditawar Rp 100 Juta

Aditya dan mobil Life kesayangannya. (deny/malangvoice)

MALANGVOICE – Jambore nasional (Jamnas) penggemar mobil Honda Life di Malang, sekaligus sebagai ajang pamer bagi pemilik mobil produk tahun 1970an itu.

Salah satu peserta jambore, Aditya Fanda, warga Jalan Danau Sentani, Sawojajar, Kota Malang ini, punya cerita soal mobil ikuran mini tersebut.

Honda Life2Dibeli seharga Rp 5 juta di Sidoarjo, mobil kuno itu disulap jadi mobil klasik dan elegan. Hasilnya t sudah beberapa trophy direbut dari beberapa ajang kontes.

Aditya, mengaku yang paling diingat adalah saat memenangi kontes HIN 2014 & 2015 dengan kategori best retro. ”Dua tahun berturut-turut menang, seneng sekali, yang lain banyak trophy macem-macem saya lupa,” katanya.

Kemenangan saat kontes HIN 2015 awal silam, Aditya mengaku hanya menambah gerobak di belakang mobil selain dirombak habis. Seperti cat asli berwarna hijau diganti putih, velg, full audio, dan beberapa part dibikin sendiri seperti grill, rak atas, dan lampu dashboard yang didatangkan dari Jepang.

Gerobak itu diambil dari potongan body mobil bekas yang ia beli. Kemudan didesain mirip bak mandi, “Matching trailer itu yang buat menang HIN Best Retro, awal tahun ini. Tahun 2014 juga menang tapi gak pakai gerobak itu,” jelas pria 29 tahun itu.

Hasil modifikasi itu diakui Aditya bisa menghabiskan puluhan juta rupiah, tapi ia tak ingin berhenti berkreasi. Sampai akhirnya muncul godaan lain, mobil kesayangan Aditya itu ditawar ratusan juta, peminatnya ingin menukar Honda Brio keluaran baru seharga kurang lebih 100 juta itu dengan Honda Life keluaran tahun 73 yang dulu dibeli seharga Rp 5 juta. Namun, ia menolak dan mengatakan mobilnya tidak untuk dijual.

Honda Life3“Sampai kapanpun dan berapapun si penawar tidak akan saya kasih, karena kisah mobil ini dan perjuangan saya tidak terbeli,” tegasnya.

Saat ini mobil Aditya mengikuti komunitas Honda Life Club Indonesia chapter Malang, dengan komunitas itu ia berharap bisa menemukan ide lain dalam bermodif. “Saya sering dapet ilmu dari orang-orang, mereka saling bantu di sini ngeshare spare part langka untuk bahan modif,” harapnya.-

BNN Kota Malang

Bridget Johnson: Bahasa Indonesia Lebih Mudah dari Spanyol Lho…

Bridget terlihat ceria (anja)

MALANGVOICE – Bagi penutur asing, belajar Bahasa Indonesia ternyata jauh lebih mudah. Bridget Johnson (20), mahasiswa asing yang mendapat beasiswa CLS (Critical Language Scholarship) kerjasama UM dan American Council, lumayan fasih berbahasa Indonesia saat diwawancarai MVoice.

Dengan logat bule yang kental dan pengucapan ‘R’ ala Cinta Laura, Bridget ternyata pede-pede saja saat diajak komunikasi Bahasa Indonesia. Malah ia lebih senang jika ada yang mengajaknya ngobrol.

“Which one? Mau Bahasa Inggris apa Indonesia?” tantangnya saat hendak diwawancarai MVoice, beberapa menit lalu.

Bridget termotivasi belajar Bahasa Indonesia karena ia sadar bahwa Indonesia negara dengan penduduk padat. Belum lagi Indonesia terkenal dengan aneka ragam budaya, bahasa, seni dan mayoritas banyak yang beragama Islam.

“Sebelumnya saya tinggal di Cirebon satu tahun pada 2013 lalu. Saya tinggal sama keluarga Indonesia. Makanya saya sekarang bisa bicara Bahasa Indonesia. Saya juga tahu sedikit budaya seperti apa. Banyak ya,” kata perempuan berambut pirang ini.

Jauh-jauh terbang dari Universitas Wisconsin, Amerika, Bridget ingin menambah pengalaman sebanyak mungkin selama di Indonesia.

“Karena mengambil jurusan ilmu politik, sehingga saya banyak belajar soal aspek negara. Kemampuan bahasa itu penting juga,” katanya.

Di Amerika, lanjutnya, ada kelas Bahasa Indonesia namun tidak banyak. Masih kalah dengan bahasa Spanyol, Tagalog, Cina dan Arab. Menurutnya, Bahasa Indonesia paling mudah dipelajari.

“Tidak ada perubahan bentuk kata kerja. Tidak ada pembeda kata kerja feminin dan maskulin. Lebih mudah pokoknya,” katanya.

Ia juga mengatakan, ketika kembali ke Amerika, ia akan berbagi cerita tentang pengalamannya di Indonesia khususnya Malang kepada keluarga dan teman-temannya. Yang ia rasakan, Malang sejuk dan nyaman.

“Malang itu sejuk, makanannya murah. Saya pingin belajar masak di sini pokoknya,” katanya

BNN Kota Malang

Mbois! Karnaval Desa Jombok Ngantang Ajang Perkenalkan Budaya

Kemeriahan Karnival (istimewa)

MALANGVOICE – Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) 21 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ikut berpatisipasi dalam Karnaval Warga di Dusun Ngembul, Desa Jombok Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang, siang ini.

Karnaval kecil yang diikuti oleh 20 peserta ini menampilkan banyak kreasi dan budaya. Mulai dari budaya tradisional seperti Kuda Lumping hingga yang modern seperti Club Aerobic warga sekitar.

Tak hanya orang dewasa saja, namun banyak anak-anak yang ikut meramaikan. Para siswa Play Group Tunas Bangsa Desa Jombok dan santri dari TPQ Miftahkul Ulum juga ikut memeriahkan kegiatan ini. Sejatinya, Karnaval ini adalah agenda tahunan dari Dusun Ngembul.

“Biasanya, warga mengadakan ini dalam memperingati bulan Besar menurut penanggalan Jawa,” ujar Kepala Dusun Ngembul, Yanto.

Yanto menambahkan, semua konsep berasal dari musyawarah warga Dusun Ngembul.

“Dibantu Linmas dan Karang Taruna daerah sini, acara ini selalu ramai. Bahkan ada peserta dari Jombang turut berpartisipasi,” imbuhnya

Antusias warga Dusun Ngembul dan sekitarnya sangat tinggi. Terbukti sejak pukul 10.00 WIB, warga sudah menunggu d pinggir jalan, rute dari karnaval meski terik matahari menyengat.

“Meski rutenya dekat dan pesertanya sedikit, antusias warga tidak pernah surut,” imbuhnya.

Masyarakat ikut memeriahkan acara (istimewa)
Masyarakat ikut memeriahkan acara (istimewa)

Koordinator Desa KKN 21 UMM, Wahyu Dwi Saputro, juga menyebutkan, dengan adanya kegiatan seperti ini, harapannya bisa melestarikan budaya daerah.

“Peserta KKN 21 ini kan tidak hanya dari daerah Jawa. Ada yang dari Kalimantan, Sumatera dan Nusa Tenggara. Jadi dengan partisipasi dari KKN 21 juga untuk mengenalkan budaya penduduk lokal,” ucapnya.

Selain sebagai ajang perkenalan budaya, ikutnya peserta KKN 21 UMM juga untuk pengabdian kepada masyarakat.

“Ya kami para peserta juga senang bisa turut andil dalam kegiatan warga, bisa mengenal lebih jauh mengenai budaya disini, juga bisa mengerti keadaan sosial,” imbuh Antoni, salah satu peserta KKN

BNN Kota Malang

Suangar! Mahasiswa Unikama Kembangkan Alat Deteksi Tanah Mengadung Emas

Achmad ketika ditemui MVoice. (Anja Arowana)

MALANGVOICE – Apa jadinya jika keberadaan mineral emas dalam tanah bisa dideteksi dengan monitoring via gadget smartphone Android? Salah seorang lulusan terbaik Univeritas Kanjuruhan Malang (Unikama) mengembangkan sebuah alat yang kedepannya bisa digunakan untuk mendeteksi kandungan mineral seperti emas, perak, dan lain sebagainya.

Dialah Achmad Cholirul Rohman, membuat sistem pendukung keputusan penentuan letak lahan pertanian, pertambangan, dan perindustrian dalam metode smarter. Achmad memanfaatkan teknologi satelit UAD taksonomi Amerika.

“Penelitian ini adalah penggabungan gadget dengan website dan memanfaatkan satelit. Gadget mengambil data dari satelit untuk menentukan letak lahan yang kita injak saat ini,” paparnya saat ditemui MVoice.

Dengan begitu, titik kordinat latitude dan longitude bisa diketahui. Setelah mengetahui koordinat lahan, aplikasi tersebut akan membaca PH, kandungan tanah dan mineral seperti emas dan perak sampai 20 cm ke dalam tanah.

“Memang masih dangkal namun sudah berguna untuk lahan pertanian atau perkebunan. Sehingga lahan kosong bisa termanfaatkan dengan baik, setidaknya jadi tahu kalau musim tertentu, tanah tersebut paling cocok ditanam apa. Jadi lebih meningkatkan perekonomian warga,” ujar pria kalem hobi mengaji ini.

Bekerja sama dengan Perhutani dia menerapkan aplikasi tersebut di Desa Genengan, Pakisaji, Kabupaten Malang untuk meningkatkan perekonomian masyarakat dengan memanfaatkan lahan kosong.

Untuk deteksi emas, Achmad sedang melakukan penelitian lebih lanjut agar alatnya mampu mendeteksi kandungan tanah hingga kedalaman berkilo-kilo meter.

“Setidaknya harus bisa mendeteksi hingga 1000 meter kalau mau deteksi emas. Dan perlu electron khusus yang lebih besar. Akan saya lanjutkan penelitiannya setelah lulus dengan dana hibah penelitian,” katanya optimistis.(Der/Yei)

BNN Kota Malang

Timur Priyono, Ciptakan Lagu Cerita Tentang Malang

Musisi Asal Malang, Timur Priyono. (hamzah)

MALANGVOICE – Musisi asal Malang, Timur Priyono, namanya menjadi tersohor di belantika industri musik di tanah air.

Dia mengawali karir bermusik bersama Trio Prima, sekitar tahun 1978. Lagu ciptaannya mewarnai musik Indonesia mulai era 80-an, hingga saat ini.

Beberapa hits hasil kreasinya seperti ‘Baru Lima Menit’ dan ‘Yang Penting Hepi’ dibawakan Djamal Mirdad, sempat menjadi top chart musik Indonesia. Bahkan, lagu ‘Yang Penting Hepi,’ diminta diaransir ulang oleh penyanyi Maia Estianti dan menjadi hits, beberapa waktu lalu.

Ditemui MVoice, di Galeri Malang Bernyanyi (GMB), Senin (12/10) malam, pria yang akrab disapa Priyono itu mengatakan, awal mula mengenal musik saat ia masih sangat belia.

Perhatiannya yang cukup mendalam dalam dunia seni itu, membuat sang ibu membelikannya gitar dari seorang pengamen yang kebetulan sedang menyanyi di rumahnya.

“Saya memang dari awal terobsesi pada gitar dan akhirnya ibu saya membelikannya dari pengamen yang kebetulan lewat rumah saya,” ungkap Priyono.

Kreatifitasnya bermain musik dari waktu ke waktu akhirnya mengantarkan Priyono merangsek kepada industri. Diawali aksi panggung bersama ‘Trio Prima’ di Taman Remaja Surabaya, kala itu Priyono sudah percaya diri tampil dengan lagu ciptaan sendiri.

Walhasil, tiga lagu berjudul ‘Wayang’, ‘Petani’ dan ‘Ki Hajar Dewantoro’ mendapat sambutan hangat dari masyarakat Surabaya. “Awal saya mencipta lagu terinspirasi musisi Leo Kristi dan jadilah tiga lagu itu,” tandasnya.

Usahanya terus meningkatkan kemampuan bermusik akhirnya mencapai jalan terang saat ia memutuskan pergi ke Jakarta, 1 Januari 1983. Di sana ia bertemu sesama musisi asal Malang yang sudah terkenal yakni Antok Baret dan Edi Kusworo.

“Dari sinilah perjalanan saya di Jakarta masuk ke dapur industri dimulai, karena ada bimbingan dari Edi Kusworo yang juga guru saya,” bebernya.

Upaya membawa master lagu ke perusahaan besar seperti Musika, mengantarkan Priyono berkenalan dengan Djamal Mirdad, Dorce Gamalama, hingga Cici Paramida. Tak hanya itu, band yang digawanginya, ‘Dapur 1961’ cukup mewarnai dunia musik dengan karya 13 album musiknya.

“Proyek baru yang akan hadir bersama Ayu Azhari dengan lagu berjudul ‘Hidup Ini Indah’ dan satu lagi berjudul ‘Kawin Silang’ yang sedang saya siapkan,” kata Priyono.

Kepiawaiannya meramu nada dan lirik tak membuatnya lupa akan tanah kelahirannya di Kota Malang, sebab dalam waktu dekat Priyono mengaku akan membuat lagu khusus yang menceritakan tentang Malang.-

BNN Kota Malang

Poster ‘Keberagaman’ Siswa Kota Malang Siap Memenangkan FLS2N

Dhimas dan Karlina saat menunjukkan hasil karya posternya (fathul)

MALANGVOICE – Dua siswa SMAN 3 Kota Malang ini nampak serius menggerakkan kursor laptopnya ke sana kemari. Sesekali kali mereka bicara dan bercanda, selebihnya hanya fokus ke laptop untuk membuat sebuah desain poster.

Mereka adalah Dhimas Aji S (16) dan Karlina Khairunnisaa (15), siswa kelas X SMAN 3 Kota Malang yang ikut pemusatan latihan di Hotel Purnama Kota Batu untuk persiapan mengikuti Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat Jawa Timur.

Tema yang diambil keduanya sama, yakni tentang keberagaman di Indonesia. Merea tampak yakin bahwa tema itu akan mampu menarik perhatian dewan juri sehingga dapat menjuarai perlombaan antar siswa itu.

“Saya sekarang membuat gambar beberapa model perbedaan di Indonesia, tapi masih umum. Rencananya akan saya spesifikkan lagi tapi masih membayang-bayangkan bagaimana bagusnya,” kata Dhimas sembari menunjukkan karyanya.

Biasaya, lanjut Dhimas, ia mendapatkan ide saat bersantai sambil mendengarkan musik. Ketika muncul ide desain yang keren, ia langsung menuangkannya dalam laptop. “Saya mulai mendesain sejak SMP,” lanjut siswa asal Klojen ini.

Berbeda dengan Karlina, gadis tomboi ini lebih sering mendapat ide ketika suasana sepi. Paling sering ia menemukan moment ketika hendak tidur malam.

“Saya inginnya menggambar dalam satu tubuh seseorang, ada beberapa karakter atau ciri khas dan aksesoris yang menggambarkan kebudayaan seluruh bangsa di Indonesia,” ujar gadis yang tinggal di Lowokwaru itu.

Mengenai tantangan saat mengikuti perlombaan seperti itu, Karlina maupun Dhimas punya pengalaman yang sama. Yakni membagi waktu antara belajar membuat poster lomba, belajar mata pelajaran, atau menjadi panitia dalam berbagai event yang diselenggarakan sekolah.

“Kita bagi waktu pokoknya, karena tugas sekolah juga banyak. Apalagi kita juga termasuk aktif di sekolahan, sampai ekskul juga ikut,” sambung Karlina.

BNN Kota Malang

Hangatnya Tour Konser Silaturahmi d’Kross di Bali dan Lombok

d'Kross tour silaturahmi bersama Aremania Dewata di Bali. (Istimewa)
d'Kross tour silaturahmi bersama Aremania Dewata di Bali. (Istimewa)

MALANGVOICE – Band asal arek-arek Malang, d’Kross baru saja menuntaskan rangkaian konser tur silaturahmi ke Indonesia Tengah akhir pekan kemarin. Tak tanggung-tanggung, dua wilayah sekaligus disambangi d’Kross yang dikomandani langsung oleh sang frontman, Sam Ade.

Silaturahmi keluarga besar Arema di luar Malang sudah jadi tradisi Sam Ade, sapaan akrab Ir H Ade Herawanto MT kemanapun melanglang buana. Termasuk ketika berkesempatan menyapa nawak-nawak dan dulur Arema Dewata di Bali.

Ketika berkumpul di Mall Park Denpasar akhir pekan kemarin, kehadiran Sam Ade dan rombongan d’Kross sukses mencairkan suasana. Tak ada sekat. Nuansa kebersamaan dan seduluran sangat terasa.

Pria yang kesehariannya menjabat Kepala Badan Pelayanan Pajak Daerah (BP2D) Kota Malang itu bahkan tampil menghibur dengan bernyanyi bersama sahabatnya, Richard D’Gilis, penyanyi reggae terkemuka yang juga dari komunitas reggae Bali.

Richard D’Gilis yang terkenal dengan sederet lagu reggae, di antaranya ‘Good Day’ itu tak sekadar nyanyi tapi juga merasakan atmosfer persaudaraan.

Tak hanya itu, perwakilan pejabat Pemkab Badung, Ir Anak Agung Gede Agung Dalem MT juga hadir bersama istri dan anaknya. Salah satu pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) di Pemkab Badung itu merupakan sahabat Sam Ade sewaktu kuliah di UGM, Jogjakarta.

“Bertemu dengan Aremania di manapun sudah sering saya lakukan. Sewaktu ada kegiatan, baik itu kegiatan pribadi maupun keluarga saat Sabtu dan Minggu, saya sempatkan silaturahmi dengan siapa saja, terutama kantong Arema di Indonesia bahkan dunia,” ujar Sam Ade d’Kross yang dikenal sebagai tokoh Aremania.

Pejabat yang juga musisi itu memang punya prinsip menjaga seduluran. Menurut dia, setiap silaturahmi rasanya menyehatkan.

“Silaturahmi itu bahagia, awet muda. Tentu silaturahmi secara langsung, bukan di dunia maya maupun gadget,” seru penghobby olahraga ekstrem ini.

Saat memberikan sambutan di depan Aremania Dewata, Sam Ade titip pesan tentang pentingnya menjaga kebersamaan.

“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Ini penting bagi kita. Kita selalu santun di rantau, jaga seduluran,” pesannya.

“Kami sangat senang karena bisa berkomunikasi dengan sesama Arek Malang,” sambut Ketua Umum Arema Dewata, Harry Dawir.

Selain Dawir, ada juga sang wakil ketua Sam Anto, sekretarisnya Sam Dodik dan Sam Irul yang menyambut d’Kross di Bali.

Aremania Dewata lanjut Dawir, beraktivitas sesuai visi. Yakni sosial, olahraga dan keagamaan. Untuk kegiatan sesuai visi sosial, lanjut pria asal Jodipan ini, di antaranya membantu anggota yang sakit hingga membantu mengurus anggota yang meninggal dunia.

“Kami juga punya ambulans. Gratis untuk anggota yang membutuhkan,” kata pria 59 tahun ini. Sedangkan untuk kegiatan agama di antaranya menggelar istighotsah bersama.

Sayang, kebersamaan itu tak cukup lama. Karena d’Kross sudah ditunggu rekan-rekan lainnya di Gili Trawangan keesokan harinya.

Hari berganti, rombongan d’Kross bergeser menyeberang ke Gili Trawangan, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Arek Malang dan sejumlah tokoh terkemuka NTB sudah menanti.

Benar saja, kehadiran d’Kross disambut antusias Arema Lombok, anggota komunitas Gili Feature, sejumlah tokoh hingga turis mancanegara. Apalagi Sam Ade d’Kross datang bersama sahabatnya, Richard D’Gilis yang ikut serta.

Tokoh-tokoh yang ikut menyambut Sam Ade d‘Kross di antaranya tokoh masyarakat Gili Trawangan, Haji Malik, Baso yang akrab disapa Pak Bro, Haji Saro dan tokoh-tokoh pemuda setempat dari Komunitas Gili Feature. Di antaranya Weis, Rudi, Tole dan lainnya.

Rombongan juga disambut pembina d’Kross yang juga menjabat Kabinda NTB, Wahyudi. Sam Yudi, sapaan akrab Wahyudi bersama jajarannya lebih dulu menyeberang dari Mataram ke Pulau Gili Trawangan. Ia sekaligus mewakili Arema Lombok.

“Tujuan kami ke sini sama dengan silaturahmi di Bali. Menjalin persaudaraan. Kami senang karena disambut dengan sangat baik,” kata Sam Ade d’Kross.

Alumni SMAN 3 Malang ini mengapresiasi penyambutan mereka yang dikemas penuh kehangatan. Apalagi hadir juga tokoh masyarakat setempat, Haji Malik yang punya ribuan tanaman trembesi.

Sekretaris Komunitas Gili Feature, Bramanti Fauzal Nasution mengatakan, komunitas yang dibentuk itu diketuai Rangga Hessa. Mereka konsentrasi pada lingkungan hidup, pendidikan dan kebudayaan.

“Anggota komunitas tidak hanya seniman, tapi juga pengusaha, guru dan profesi lain yang tinggal disini,” terangnya.

Untuk gerakan lingkungan di antaranya melakukan bersih – bersih pantai, upaya perlindungan penyu hingga tanam pohon kelapa.

Kehadiran d’Kross di Gili Trawangan mengundang perhatian wisatwan asing. Mereka terkagum-kagum. Salah satunya disampaikan Roxanne, vlogger asal Australia.

“d’Kross adalah band yang hebat. Mereka semua adalah musisi yang baik dengan sikap positif. Saya sangat menikmati jamming bersama mereka di Gili Trawangan,” kata Roxanne.

Dia sangat terkesan dengan penampilan d’Kross di Gili Trawangan, bahkan senang bisa ngejam bareng.

“Mereka telah bercerita banyak tentang kota asal mereka, Malang. sebagai seorang vlogger perjalanan, saya berharap bisa segera berkunjung ke sana,” ungkapnya antusias.

Begitulah perjalanan d’Kross di Bali dan Lombok. Hangat dan bersahabat. Berkesan dan sulit dilupakan. Namun satu yang pasti, misi menyambung silaturahmi dan melantunkan kabar perdamaian seantero negeri sukses dijabani.(Der/Aka)

BNN Kota Malang