Meriahnya Genderang Musik Patrol Garuda Putih…

MALANGVOICE – Meriahnya musik Band Patrol selalu menarik perhatian pengunjung baik itu saat Car Free Day, Festival, dan acara kesenian lainnya.

Beraksi di CFD (anja)
Beraksi di CFD (anja)

Adalah Komunitas Garuda Putih (KGP), band patrol asal Sumberejo, Malang, yang selalu memikat. Bermula dari Iseng pada 2009 lalu, GKP kini memiliki 25 anggota aktif yang mahir bermain alat musik patrol.

“Kalau di kampung, aktivitas muda-mudi seperti Karangtaruna itu sudah umum. Disini kami ingin menciptakan kegiatan yang berbeda,” terang Markus Toysuta, Penanggung Jawab GKP kepada Mvoice.

Untuk program peremajaan, anggota KGP baik senior dan junior rutin berlatih setiap hari Rabu malam. Tiap anggota diajari untuk bermain lebih dari 2 instrumen musik patrol.

“Ini ada instrumen seperti gamelan, gong, genung, dung-dung, kendang dan rebana. Semua member harus bisa memainkan beberapa untuk antisipasi kalau pemain instrument satu tidak datang. Yang paling susah dipelajari itu dung-dung,” tambahnya

memainkan dung-dung (anja)
memainkan dung-dung (anja)

Selain itu, KGP banyak menoreh prestasi antara lain pada tahun 2015 lalu menjadi juara 2 pada kategori kekompakan dan dekorasi.

Masalah jam terbang, KGP sering diundang untuk mengisi acara-acara festival. Contohnya, Januari depan, KGP akan tampil di Jogja.

“Sebelumnya kita pernah tampil di Surabaya, kami diundang Ibu Risma,” tutupnya.

Easy Rider, Klub Motor Bernuansa Sosial

Easy Rider
Easy Rider

MALANGVOICE – Sopan santun di jalan dan tertib aturan lalu lintas, seperti itulah gambaran klub motor Easy Rider. Namanya memang belum terlalu dikenal, karena baru lahir pertengahan 2015 lalu.

Klub yang beranggotakan 30 orang itu jauh dari kesan arogan di jalan saat konvoi maupun touring, sesuai slogan ‘Respect to Others’. Justru yang lebih menonjol adalah sifat sosial dan kepeduliannya pada masyarakat.

Easy Rider
Easy Rider

Easy Rider tidak memandang jenis motor, agama, suku, pekerjaan ataupun ras. Klub itu memang ditujukan untuk aksi sosial dan solidaritas. Mereka mengutamakan sistem kekeluargaan dan saling menghormati satu dengan lainnya.

Setiap Jumat malam, Easy Rider rutin berkumpul di suatu tempat secara berpindah-pindah dengan dikoordinatori Yoga Adhinata. Tak hanya berkumpul saja, bahkan tiap bulan Easy Riding selalu melakukan kegiatan peduli sosial.

Salah satu anggota Easy Riding, Isman Hakim, menjelaskan, kegiatan sosial itu menyasar panti asusan, pondok pesantren, dan pemukiman kumuh.

“Kami rutin kunjungi tempat itu dan berbagi sedikit rezeki pada sesama,” katanya pada MVoice.

Isman menambahkan, dari sedekah itu merupakan hal luar biasa karena bisa meringankan beban sesama. Karenanya, ke depan Easy Rider bisa diikuti lebih banyak anggota sehingga lebih banyak orang lain yang sedikit terbantu.

“Ini adalah komitmen kami. Semoga bisa terus berlanjut,” harapnya.

Atasi Kericuhan Hingga Jinakkan Bom, Raimas Sabhara Polres Batu Siap!

Tim Raimas di depan Polresta Batu (anja)
Tim Raimas di depan Polresta Batu (anja)

MAlALANGVOICE – Satuan Sabhara punya kewajiban mengamankan dan mengendalikan massa ketika ada unjuk rasa atau kericuhan. Tim Pengurai Massa (Raimas) dibentuk Polresta Batu untuk menjalankan tugas itu.

Ada total 14 anggota tim Raimas Shabara Polresta Batu. Mereka ialah Bripda Khuhku Darmawan, Bripda Diky Putra S, Bripda Ujik, Bripda Kurnia Adi Marendra, Bripda Dwi Anantyo, Bripda Katridho Risky Putra, Bripda Aan Irianto, dan Bripda Adam Fahradiba.

Mereka tergolong muda usia 20-22 tahun. Semuanya direkrut langsung Kapolresta Batu, Akbp Leonardus Simarmata. Demikian meski harus mengorbankan masa muda, Bripda Khuhku mengatakan selama bertugas dan ketika turun lapangan, mereka tak main-main menjalankan tugas. Segala bentuk resiko harus siap ditanggung.

“Kami harus siap menjalankan tugas selama 24 jam. Tugas kami itu untuk mengamankan kegiatan yang berpotensi terjadinya kerusuhan. Seperti demo, penertiban massa. Kami dibekali ilmu bagaimana bersenjata, bela diri, serta Penjinak Bom (Jibom),” kata Khuhku.

Tim Raimas bersama Kasat Sabhara, dan Komandan Regu. (Anja)
Tim Raimas bersama Kasat Sabhara, dan Komandan Regu. (Anja)

Tak hanya itu, mereka juga siap diterjunkan ketika ada kegiatan pengawalan pejabat tinggi, serta kejadian Bencana.

Meski beberapa kali harus mengorbankan waktu bersama keluarga di rumah. Khukhu mengaku tidak mempermasalahkannya. Keluarganya pun mendukung kewajibannya sebagai Raimas.

“Hari raya atau libur besar kami harus siaga. Tidak sempat berkumpul keluarga. Tapi tim Raimas bagi saya sudah bagaikan keluarga sendiri,” kata dia.

Tak jarang mereka mendapat cemooh dari masyarakat. Kasat Sabhara Polres Kota Batu, AKP Muh Lutfi menambahkan, tim Raimas Sabhara ini tak hanya dilatih kekuatan fisik, juga dilatih mental. Karena tak jarang ketika berada di lapangan, mereka juga harus meredam emosi.

“Mentalnya harus terlatih. Semisal mendapat pukulan dari massa, mereka ini tidak asal membalas, tetapi bagaimana mereka bisa mengendalikan massa dan menghentikan dengam tangan kosong. Bukan malah membuat ricuh,” kata Lutfi.

Raimas Sabhara Polres Kota Batu ini merupakan generasi ke 3. Dan terus akan regenerasi ke generasi selanjutnya.

Dokter Effah Afiyati, Demi Dampingi Jemaah Kloter 55, Rela Tinggalkan Keluarga

Effah Afiyati (kerudung ungu) bersama tim medis di tanah suci, Mekkah, Arab Saudi.

MALANGVOICE – Sebagian jemaah haji Indonesia telah selesai menjalankan ibadah haji di tanah suci, Mekkah, Arab Saudi. Rombongan jemaah haji kloter 55 Malang baru bertolak ke Tanah Air pertengahan bulan ini.

Tidak banyak yang tahu aktivitas, peran dan sumbangsih petugas kesehatan yang mendampingi selama jemaah haji berada di tanah suci.

Malangvoice.com mendapat kiriman khusus dari jemaah haji asal Malang, Sinal Abidin. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemkot Batu ini berbagi kisah terkait peran penting dokter kloter, Effah Afiyati, selama di tanah suci.

Dokter kelahiran 6 Januari 1981 ini sudah kali kedua mendampingi jemaah haji di tanah suci. Pertama pada 2014, ia diberi tugas untuk mengawal jemaah haji Kabupaten Mojokerto.

Kedua, warga Malang ini ditugaskan mendampingi langsung rombongan jemaah haji kloter 55 Malang.

Selama di tanah suci, Effah tidak bertugas sendirian. Ia dibantu tiga orang tenaga medis dalam kloter 55.

“Sudah kali kedua saya ikut tim medis kloter haji,” kata Effah, melalui pesan WhatsApp, beberapa menit lalu.

Perempuan yang bekerja di salah satu rumah sakit swasta Kota Malang, ini menceritakan suka dukanya selama masuk dalam bagian tim medis kloter haji.

Alumnus Fakultas Kedokteran Unej itu mengaku harus meninggalkan suami dan anak semata wayang berusia lima tahun. Ia pun rindu suasana kebersamaan dengan keluarga, karena lebih 40 hari meninggalkan rumah.

Meski demikian, istri Prasetiya Wibisana ini mengaku siap apabila diberi kesempatan mengawal jemaah haji ke tanah suci.

“Saya ingin mengabdikan diri untuk ketiga kalinya mendampingi dan memantau langsung kesehatan jemaah haji. Semoga diberi jalan dan dimudahkan,” ungkapnya ramah.

Sementara, ia merasa senang bisa bertugas mendampingi jemaah haji ke tanah suci.

“Saya senang dan bahagia, karena bisa bertugas untuk jemaah tamu Allah,” papar ibu dari Annoradiba Kayyisa Wibisana itu.

Serangan Kepanjen dan Penembakan Membabi Buta di Jambuwer

Persiapan pasukan TNI (gerilya) masuk Kota Malang (1949)
Persiapan pasukan TNI (gerilya) masuk Kota Malang (1949)

Hari pertama, 12 Juli 1947 Brigade Infanteri Belanda KNIL berhasil menerobos Porong dan melakukan gerakan ofensif menuju selatan, yakni Gempol, Pandaan, Lawang, dan Malang. Mereka bergerak dengan hati-hati hingga 11 hari kemudian baru sampai di daerah Lawang. Sembari bergerak ke selatan, perlawanan dilakukan oleh Resimen 38 Hamid Rusdi, P3 (Pasukan Polisi Perjuangan), pasukan pelajar, dan pasukan lainnya. Rintangan-rintangan dibuat di jalan raya antara Lawang-Malang, pohon-pohon ditebang, jebakan tank, dan ranjau darat.

Seminggu lebih pasukan Belanda berada di Lawang. Mengira bahwa Kota Malang akan dipertahakan mati-matian oleh Divisi Untung Suropati dan lainnya, Belanda mendatangkan bala bantuan Brigade Marine yang sebelum itu berhasil melakukan pendaratan amphibi di pantai Pasir Putih Situbondo. Mereka juga melakukan pengintaian dengan sejumlah pesawat tempur, melayang-layang dari utara dan menjatuhkan bom-bom di stasiun-stasiun kereta api, juga mengebom kendaran-kendaran sepanjang jalan raya Malang-Surabaya. Mereka memasuki kota didahului dengan tank-tank dan lapangan terbang Bugis menjadi sasaran utama. Pasukan Belanda dipimpin oleh Jenderal Mayor Baay, dari Blimbing mereka menembakkan mortar-mortir ke pusat.

Belanda meringsek masuk Kota Malang dan mendudukinya pada 31 Juli 1947, menggunakan senjata-senjata dan kendaraan berat. Ledakan-ledakan mortir hingar bingar di sudut-sudut kota. Tanpa kesulitan mereka memasuki Kota Malang yang telah dikosongkan oleh pasukan kita dan dinyatakan sebagai kota terbuka, karena pasukan kita telah membumihanguskan beberapa obyek vital, termasuk membumihanguskan wilayah Blimbing. Pasukan lain yang masih berada di kota adalah TRIP Batalyon 5000 Malang yang dikomandani Soesanto. Pertempuran yang begitu cepat membuat para anggota TRIP berlindung di parit-parit di tepi lapangan pacuan kuda (Simpang Balapan, jalan Ijen sekarang). Soesanto dan banyak dari mereka terbunuh, jenazah mereka dikubur dalam satu lubang besar tak jauh dari markas TRIP di Jl. Salak. Mereka dikubur oleh sekelompok tawanan Belanda dan ditandai dengan empat buah batang pisang yang ditanam di pojok makam.

Ketika Kota Malang jatuh, tidak ada yang secara formal memimpin pasukan untuk melawan pendudukan Belanda, namun dengan taktis kekuatan pasukan kita dipindahkan ke Wagir. Rakyat Kota Malang panik dan mencari tempat-tempat perlindungan, serta menjauhi jalan-jalan besar. Salah satu tempat pengungsian penduduk adalah di sebuah gedung di Jalan Panderman. Kota yang patriotik telah jatuh ke tangah musuh, kota yang di dinding gedung-gedung besarnya penuh dengan semboyan perjuangan (antara lain tulisan ‘Indonesia for the Indonesians’, ‘freedom of any nation’ yang tertampang di wilayah Alun-alun kulon), telah diduduki Belanda.

Pasukan Hamid Rusdi pun menyebar ke beberapa wilayah. Resimen 38 menyusun pertahanan di wilayah Bululawang dan dari sini terus berupaya untuk merebut kembali Kota Malang.

Saat itu hari Sabtu hujan lebat, berakibat hubungan telepon ke pos-pos terputus. Di markas hanya ada Mayor Wiyono, karena yang lain sedang wingate action ke Lumajang. Pasukan Syamsuri Mertoyoso hanya tinggal satu seksi. Sekitar jam 12 malam ada informasi dari Krebet dan Pakisaji bahwa pasukan Belanda melewati garis status quo. Dari Sedayu Mayor Wiyono menuju Kepanjen dan menyaksikan sendiri pelanggaran pasukan Belanda. Lalu terdengar tembakan dari arah Pakisaji. Sisa pasukan dikirim untuk menghadapi musuh agar kembali ke garis status quo.

Daerah Peniwen juga tak luput diincar musuh, karena Depo Batalyon Brigade IV ada di sana. Belanda menyerang Kepanjen dan sebagian Lahor (Karangkates). Di masa gencatan senjata, terjadi peristiwa yang memalukan Belanda hingga terkenal di luar negeri, yakni saat penembakan membabi buta yang dilakukan pasukan Belanda yang masuk daerah Jambuwer. Mereka menembaki orang-orang yang sedang dirawat di gedung sekolah yang difungsikan sebagai tempat darurat pengobatan. Banyak yang gugur. Mereka juga menembaki siapa saja termasuk orang-orang di jalan-jalan. Kasus peristiwa penembakan yang tak bertanggung jawab ini pernah dilaporkan ke PBB. (idur)

Sedekah Habit, Ketika Sedekah Menjadi Lifestyle…

Volunteer Sedekah habit (anja)

MALANGVOICE – Tak harus menunggu kaya untuk bisa bersedekah. Itulah prinsip yang dipegang komunitas Sedekah Habit yang berdiri sejak Juli 2015.

Komunitas yang digawangi Mutiara Priza, alumnus Jurusan Akutansi UM itu berawal dari keisengannya bersama beberapa temannya untuk menyisihkan sebagian uang yang mereka miliki untuk membantu kaum dhuafa.

“Kita sering nongkrong mbak. Lama-lama mikir juga. Daripada duit habis buat nongkrong, mendingan buat sesuatu yang positif,” tutur Mutia, demikian ia akrab disapa.

Mutiara (anja)
Mutiara (anja)
Awalnya Mutia dan teman-temannya membuat arisan sedekah, mengumpulkan uang berapapun untuk kepentingan sedekah. Selanjutnya uang itu didonasikan ke orang-orang yang membutuhkan.

Seiring waktu, ternyata memberikan uang tunai dirasa kurang efektif. Akhirnya digunakan untuk membeli nasi kotak, lalu dibagi-bagikan. Dari situ banyak orang mulai tertarik dan banyak menitipkan uang serta pakaian bekas ke Mutia dkk untuk disedekahkan.

Nama Sedekah Habit dipilih, karena keinginan komunitas untuk menjadikan sedekah sebagai lifestyle, kebiasaan, dan suatu kesadaran. Sedekah Habit kini aktif menyalurkan hasil penggalan dana untuk disedekahkan kepada kaum dhuafa dan panti asuhan.

“Sedekah itu tidak harus nunggu kaya, tak harus nunggu jadi sarjana lalu kerja. Disini, orang yang kemampuan ekonominya dibawah saja mau bersedekah,” sahut Mutia.

Untuk urusan laporan keuangan, Sedekah Habit sangat menjaga transparasi.

“Laporan keuangan keluar masuk kamu poskan di sosmed, di instagram. Jadi sekecil apapun nilainya pasti akan kami cantumkan. Untung dari jualan aksesoris pun akan di sedekahkan, 100 persen sedekah,” imbuh Mutia.

Sampai saat ini ada 80 sukarelawan yang bergabung ikut membantu. Mereka biasa menggalang dana 2 minggu sekali di Car Free Day, dan lokasi lain. Rencananya, Sedekah Habit akan dibuka juga di kota-kota lain.

Bagi yang berminat sedekah melalu Sedekah Habit. Hubungi CP: 083848338811 (Tyas)

Ofi Hidayat, Bangga Menjadi Alumni Ikom UMM

Ofi Hidayat (anja)

MALANGVOICE – Program Studi Komunikasi Universitas Muhammadiyah memasuki tahun ke- 30. Berbagai prestasi telah diukir. Fasilitas dan kualitas pembelajaran yang baik juga menjadi kesan tersendiri di benak alumninya. Salah satunya Ofi Hidayat, alumni Ikom UMM yang baru saja lulus tahun 2016 ini.

Mengambil fokus jurusan Public Relation, Ofi mengaku mendapatkan ilmu dan pengalaman yang luar biasa selama berkuliah di Ikom UMM.

“Saya masuk Ikom awalnya karena ingin menghindari matematika. Ternyata setelah saya masuk, saya terkesan dengan dosennya yang supel dan sangat akrab sama mahasiswanya. Kakak tingkat saya juga selalu menginspirasi. Saya betah,” katanya kepada MVoice saat ditemui di acara perayaan ulang tahun Ikom UMM, Commpilation 2016 di Taman Sengkaling beberapa menit lalu.

Belajar di Ikom UMM merupakan perjalanan panjang sekaligus pencarian jati diri bagi Ofi. Selama berkuliah, ia bersyukur bisa bertemu teman-teman yang positif dan berkesempatan mengikuti berbagai perlombaan public relation hingga mewakili ke tingkat provinsi.

“Ikom UMM itu keren karena selama belajar, kita tidak hanya dituntut ngerti teori atau akademis, tapi langsung terjun praktik lapangan. Jadi kebanyakan materi praktik itu sangat berguna setelah lulus,” kata pria asal NTB yang mempersiapkan studi S2 nya ini.

Meski kuliah di Ikom seru, menurutnya tak semua materi kuliah mudah. Ada saja mata kuliah yang membuatnya pusing tujuh keliling.

“Yang susah itu belajar teori dan paradigma. Karana Ikom sendiri berawal dari berbagai disiplin ilmu khususnya ilmu sosial,” kata pria penggemar olahraga basket dan futsal ini.

Ofi berharap, Ikom UMM di usia ke-30 nya menjadi penyemangat dan motivasi bagi adik-adik tingkatnya untuk terus optimis mengukir prestasi. Ikom UMM juga harus terbuka dengan konsep-konsep ilmu baru western dan nonbwestern sehingga ilmu Ikom di UMM semakin menguat dan berkembang.

“Fasilitas sudah lengkap, semua alat di kampus ada, jadi kemauan belajar harus meningkat. Ingat, meski begitu mahasiswa tetap tidak boleh melupakan attitude dan etika,” tandas Ofi.

BEM Fisipol UMM Dukung Gerakan Moral Matikan TV saat Maghrib-Isya’

Faiz (tengah/istimewa)

MALANGVOICE – Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fisipol Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Faiz Mirwan Hamid, berpendapat, gerakan moral mematikan TV untuk sholat dan mengaji yang diserukan Wali Kota Malang, HM Anton, beberapa waktu lalu, sangat baik karena memiliki nilai budi pekerti luhur orang Indonesia yang agamis dan toleran terhadap umat beragama.

“Kami menilai, masyarakat juga sangat mengharapkan Pemerintah Kota Malang melihat aspek substansi dari gerakan moral, tersebut bukan hanya menjadi program pencitraan yang berkonotasi kepentingan politik semata,” kata Faiz dalam rilis yang diterima MVoice.

Lebih lanjut imbauan itu jangan hanya sekadar dilihat dari aspek agamis saja, tetapi menyentuh aspek pendidikan, karena masyarakat menginginkan pendidikan menjadi perhatian Pemkot Malang.

Faiz menambahkan, masih banyak masyarakat kecil belum mendapatkan akses pendidikan. Misalnya, masih banyak pengamen dan anak jalanan berusia produktif setiap hari di persimpangan jalan.

Mereka seharusnya bersekolah dan pengalaman baru. Namun karena suatu keadaan tertentu, mereka lebih memilih berada di jalanan. Dalam konteks itulah, BEM FISIPOL UMM berharap Pemkot Malang memberikan akses pendidikan kepada anak jalanan.

“Kami mendukung langkah Wali Kota Malang mewujudkan Kota Malang selalu menjadi kiblat kota pendidikan, kota agamis, dan bermartabat,” ucap Faiz.

Menurutnya, dengan mematikan TV menjelang Magrib sampai Isya, akan memberikan peluang untuk belajar, sholat berjamaah dan mengaji. Sedang bagi non muslim, mereka bisa beribadah juga sesuai agama masing-masing.

“Ini sebuah gerakan moral pada anak didik yang bermanfaat,” katanya.

”Mari Berkarya untuk Malang Raya”

“Media online merupakan kebutuhan masyarakat, MVoice sekarang telah ikut meramaikan media online di Malang Raya. Mari kita berkarya dengan berbuat yang terbaik untuk masyarakat Malang Raya dan sekitarnya. Soal kecepatan, akurasi berita, dan independensi, saya yakin MVoice akan jadi yang terbaik.”

Suharyanto, Melukis ‘Jokowi Punya Nazar’ dengan Zikir

Gus Thoriq Ziyad Bin Darwis bersama Suharyanto, pelukis 'Jokowi Punya Nazar'. (miski)

MALANGVOICE – Sebuah lukisan berjudul ‘Jokowi Punya Nazar’ menjadi perhatian tokoh santri yang menghadiri Resolusi Hari Santri Indonesia, di Universitas Raden Rahmad, Kepanjen, hari ini.

Lukisan berukuran besar itu hasil goresan tangan Suharyanto, seniman asal Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, yang akan diberikan kepada Presiden RI, Joko Widodo.

Tema lukisan menggambarkan Jokowi dikelilingi para santri menyerahkan nota kesepahaman kepada pengasuh Pondok Pesantren Babus Salam, Pagelaran, Gus Thoriq Ziyad Bin Darwis. Gambaran itu menggambarkan bukti kesepakatan, jika Jokowi terpilih menjadi presiden akan menetapkan Hari Santri Nasional.
SP
Surat Pernyataan itu bertuliskan “Dengan ini saya Joko Widodo sebagai calon Presiden Negara Republik Indonesia periode 2014-2018, menyatakan, jika nanti Allah mentakdirkan saya (Joko Widodo) terpilih sebagai Presiden Negara Republik Indonesia yang akan dilaksanakan pada pemilihan (Pilpres) tanggal 09-Juli-2014, maka saya (Joko Widodo) siap untuk memperjuangkan serta menetapkan 1 Muharrom sebagai Hari Santri Nasional yang menjadi salah satu hari resmi Negara Republik Indonesia. Demikian pernyataan ini saya buat dengan penuh kesadaran dan tanpa ada unsur pemaksaan dari pihak manapun. Malang, 27-Juni-2014 Calon Presiden Republik Indonesia, ditandatangani”

Suharyanto merupakan warga RT 14/RW 14, Dusun Krajan, Desa Bantur, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang. Pria 49 tahun itu awalnya menolak permintaan Gus Thoriq untuk melukis. Selain karena takut tidak bisa menyelesaikan tepat waktu, dia juga banyak orderan melukis.
“Waktu ditawari melukis Jokowi, saya lebih fokus menghasilkan lukisan bertema alam,” kata Suharyanto.

Setelah dirayu beberapa kali, akhirnya ia luluh dan mengiyakan. Alasannya, sudah kenal lama dengan Gus Thoriq, dan tema lukisan ada kaitannya dengan memperjuangkan Hari Santri.
“Saya diberi waktu satu bulan menyelesaikan lukisan ini, Alhamdulillah berkat restu Allah SWT karyanya bisa selesai. Meskipun tidak maksimal,” tuturnya.

Selama mengerjakan lukisan, Suharyanto diminta istiqomah dan mengikuti beberapa arahan dari Gus Thoriq. Semisal, sebelum melukis mengambil wudhu dan dilanjutkan dengan baca doa serta zikir. Hal itu dilakukannya setiap hari selama satu bulan. Ia rela mengorbankan orderan melukis hanya ingin fokus menyelesaikan lukisan Jokowi.

Berbeda dengan karya yang dikerjakan tanpa diiringi zikir, seperti lukisan Nyi Roro Kidul, terbukti sampai sekarang belum juga rampung.

Dikatakan, dengan melihat lukisan setidaknya Presiden Jokowi selalu ingat akan janjinya setiap tanggal 1 Muharram ditetapkan sebagai hari Santri.

“Profesi saya sebagai seniman, saya melayani sesuai permintaan. Sebab, seniman cinta damai dan tidak berpolitik,” ungkap bapak tiga orang anak itu.

Diceritakan, melukis terinspirasi dari pamannya. Sejak duduk bangku SD, ia menekuni seni melukis. Ia belajar secara otodidak bertahun-tahun, sampai bisa mengikuti pameran, jambore dan sebagainya.

“Saya tidak pernah menjajakan karya di tengah jalan, karena berkarya mengikuti naluri. Setiap hari ada satu dua lukisan dihasilkan,” ungkap suami dari Meta Krisdiana itu.

Hobi melukis ia tularkan kepada anaknya yang kuliah jurusan seni di Universitas Negeri Malang (UM). Suharyanto juga mendirikan galeri ‘Nur Galeri Pantai Selatan’ di rumahnya. Ia membuka diri bagi siapa pun yang ingin belajar melukis.

“Dulu ada keinginan bisa tampil dalam pameran internasional, karena disibukkan dengan banyaknya orderan. Saya percayakan ke anak saya supaya menghasilkan karya bisa tembus mancanegara,” harapnya.

Sementara itu penggagas Hari Santri Nasional, Gus Thoriq Ziyad Bin Darwis, menilai lukisan hasil karya Suharyanto tersebut lebih baik daripada lukisan Monalisa.
“Kalau ditanya harganya, saya nilai lukisan ini lebih mahal dari lukisan Monalisa. Karena menyangkut negara,” ungkapnya.

Lukisan itu merupakan hibah dari Suharyanto kepada Resolusi Hari Santri. “Alhamdulillah Pak Suharyanto tidak minta bayaran sama sekali. Ini bentuk dukungannya dalam mewujudkan hari Santri,” tutupnya.