Prinsip No Complain, No Accident

Eddy Wahyono, Ketua HDCI Malang

MALANGVOICE – Masih ingat peristiwa seorang pengendara sepeda menghentikan arak-arakkan Harley Davidson di Yogyakarta? Peristiwa ini sempat menjadi perbincangan hangat masyarakat Indonesia.

Berkaca dari peristiwa itu, Ketua terpilih HDCI Malang, Eddy Wahyono mengatakan, sebenarnya terjadi kesalahpahaman terkait insiden itu sehingga menimbulnan kesan miring pada publik.

Padahal, sesuai dengan arahan nasional HDCI mengedepankan prinsip no complain, no Accident yang melekat pada semua anggota HDCI termasuk di Malang.

“Kita kedepankan prinsip no complain no accident, dimana adanya patwal bagian dari usaha kami menjaga ketertiban lalu lintas,” kata Eddy, Minggu (30/8) malam.

Dijelaskan, kendaraan Harley Davidson sendiri memiliki mesin setara mobil yakni 1800 cc. Dimana jika tidak ada pengawalan, maka ditakutkan akan membahayakan para anggota sendiri dan masyarakat.

“Perlu dicatat pula, kami tidak setiap hari keluar menggunakan harley, hanya momen tertentu saja,” tandasnya.

Ia juga menambahkan, selama ini berbagai kegiatan sosial HDCI yang bermanfaat bagi publik juga kurang terekspos dengan baik. Sehingga masyarakat tidak mendapat info utuh mengenai HDCI.-

Rumput Ilalang Disulap Jadi Tokoh Pewayangan

Begog Asmoro mengajarkan cara membuat wayang suket. (Muhammad Choirul / MalangVoice)

MALANGVOICE – Tak perlu mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk membuat karya bernilai kesenian tinggi. Begog Asmoro, mampu menyulap seikat rumput ilalang menjadi tokoh-tokoh pewayangan.

Keahlian terampil itu ia bagikan dalam work shop wayang suket, di Pelataran Gedung Dewan Kesenian Malang (DKM), Minggu (30/8) sore. Dengan telaten kepada peserta work shop, Begog menunjukkan cara merangkai helai demi helai rumput hingga berbentuk wayang.

Pria kelahiran 1958 ini mengaku, ingin mengenalkan pada pemuda zaman sekarang, bahwa dari sesuatu yang sederhana bisa tercipta karya luar biasa.

“Ini mainan saya waktu kecil, sekarang bisa buat hiburan dan berkesenian,” kata Begog, di sela aktivitasnya membagi ilmu.

Ia prihatin dengan generasi saat ini, yang seolah-olah abai pada kesenian tradisional khas Nusantara. “Bukan hanya suket, godhong (daun) juga bisa jadi tokoh wayang. Sekarang ini seolah-olah semua itu tidak ada, tak banyak yang peduli,” papar seniman asli Mergosono itu.

Work shop wayang suket ini merupakan rangkaian kegiatan Pameran Komik Ngaji Wayang Teguh, 29-31 Agustus 2015, yang dimotori DKM untuk mengenang komikus legendaris, Teguh Santosa (1942-2000).

Selain work shop, di tempat yang sama juga digelar pameran wayang karya Teguh Santosa. Putra kandung Teguh Santosa, Dhany Valiandra menjelaskan, pameran kali ini memang dikhususkan untuk karya Teguh berupa wayang.

“Ini preview untuk pameran besar komik karya bapak, yang sekaligus digelar Teguh Santosa Award tahun depan,” tandasnya.

Wayang yang dipamerkan mengekspose sosok Dewa Ruci yang berbentuk wayang karya Teguh Santosa pada 1984 silam. Dhany menilai, tokoh Dewa Ruci dimunculkan karena sosok itu bersifat universal.

“Selain pada kisah Mahabarata, Dewa Ruci juga punya karakter kuat di Jawa,” pungkasnya.-

Karena Tidak Ada Lagi Yang Mengantar Sekolah

Deny Ardiansyah (kanan) ditemani kakaknya saat di rumahnya. (fathul/malangvoice).

MALANGVOICE – Deny Ardiansyah (14) sebenarnya ingin sekali dapat melanjutkan sekolah setinggi-tingginya. Namun apalah daya, sakit polio yang dideritanya sejak bayi menghambat cita-cita tulusnya.

Hingga ia lulus Sekolah Dasar Negeri 02 Tulungrejo, Bumiaji, Kota Batu, Deny tidak pernah patah semangat. Ia hampir tidak pernah absen kecuali sakitnya kambuh, atau harus berobat ke luar kota.

Ditemui MVoice di rumahnya, Dusun Junggo RT 01- RW 09 Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Jumat (28/7), Deny tampak ceria. Berkaos merah dan celana pendek abu-abu, Deny harus digendong kakaknya, Bagas Hariansyah untuk ke ruang tamu.

“Sebenarnya baru kelas 6 awal pas sunatan itu Deny tidak bisa jalan total. Sebelumnya sudah sakit namun bisa jalan sendiri, ke mana-mana sendiri,” kata tantenya Deny, Hartini (61).

Hartini mulai bercerita, ketika selesai khitan Deny jarang bergerak sehingga kakinya kaku. Mulai saat itulah Deny kesulitan menggerakkan kakinya, apalagi menopang tubuhnya.

Ketika sekolah, Deny selalu diantar oleh tantenya. Namun usia yang semakin bertambah, tante kedua Deny sudah tidak kuat karena menderita sakit punggung. Maka dari itu, Deny rencananya tidak akan melanjutkan sekolah lagi.

“Bukan karena tidak ada dana, malas, atau lainnya. Deny rencananya tidak sekolah lagi karena tidak ada yang nganter mas. Kita ingin juga agar Deny bisa sekolah tinggi,” tambah Hartati.

Di rumah tersebut, Deny tinggal bersama kakaknya yang saat ini Kelas XII di SMK Putik Kiswaran. Bagas ini juga yang mengangkat, memandikan, dan memakaian pakaian kepada Deny saat ke sekolah.

Sebelumnya, mereka berdua tinggal bersama neneknya. Namun, tidak ada yang abadi di dunia ini, nenek Deny meninggal 8 bulan lalu.
Sekarang, Deny tinggal serumah dengan Bagas. Sementara Hartati tinggal di rumah lain berjarak tiga langkah dari tempat tinggak Deny dan Bagas.

“Tidak tahu sekarang harus bagaimana, memang tidak ada yang mengantar. Kalau kakaknya keluar ya Deny sendirian saja di rumah,” lanjut Hartati.

Deny sendiri saat diajak ngobrol oleh MVoice menjawab dengan lancar. Saat ini kesibukannya hanya merawat burung kenari. Ia juga bingung bagaimana mau melanjutkan sekolah kalau tidak ada yang mengantar.

“Sudah lama merawat kenari, tapi belum sampai jualan. Cuma buat senang-senang saja,” tutup Deny.-

Suka Benahi Taman Anton pun Dijuluki Wagiman

Wali Kota Anton

MALANGVOICE – Sukses mempercantik wajah kota dengan berbagai pembangunan taman, Wali Kota Malang HM Anton kini mendapat julukan baru yakni Wagiman.

Kata Wagiman sendiri merupakan kependekan dari kalimat Wali Kota Gila Taman yang diberikan salah seorang warga saat Anton meresmikan Taman Kunang-kunang di Jalan Jakarta.
Tentunya, sebutan itu mengingatkan ketika Kota Malang dipimpin Kol (purn) Suyitno, pada 13 tahun silam. Suyitno pada waktu itu getol memperindah taman kota dan dijuluki Wagiman.

Ditemui MVoice, usai acara Kirab Budaya dan Pawai Kendaraan di Balai Kota Malang, suami Hj. Farida Dewi Suryani itu menegaskan, mempercantik taman adalah upaya mengembalikan Malang sebagai destinasi pariwisata di Jawa Timur.

Selama ini, keberadaan taman kurang mendapat sentuhan sehingga perlu upaya pemerintah dalam memperbaiki kondisi tersebut.

“Pada prinsipnya Kota Malang adalah kota wisata, karenanya membangun taman adalah bagian untuk meningkatkan hal itu,” kata Anton, Rabu (19/8) sore.

Selain mengibarkan kembali panji sebagai kota wisata, Anton juga menegaskan, jika penambahan ruang terbuka hijau (RTH) dan penyediaan ruang yang layak dari upaya mempercantik taman adalah bagian dari misi pemerintahan pada masanya.

“Semua kota di Indonesia ini sedang berbenah, nah Kota Malang berbenah dengan mempercantik lagi semua taman yang selama ini tidak tersentuh,” beber dia.

Catatan MVoice menyebut, beberapa tempat seperti Taman Merbabu, Alun-alun Merdeka, Taman Kunang-kunang berhasil disulap menjadi taman yang representatif dan banyak dikunjungi khalayak.

Sehingga, Anton sangat tidak keberatan dan justru bangga mendapat julukan sang ‘Wali Kota Gila Taman’, lantaran upayanya selama ini disambut hangat masyarakat dari berbagai penjuru.

“Tidak hanya masyarakat Kota Malang saja, namun semua wisatawan yang datang ke Kota Malang sangat senang dengan keberadaan taman yang ada saat ini,” imbuhnya.

Bahkan, pada tahun mendatang, Anton sudah memiliki ancang-ancang mempercantik taman di sepanjang Jalan Raya Langsep hingga kawasan Jalan Dieng dengan menggunakan porsi dana cprporate social responsibility (CSR) perusahaan.

“Masalah CSR, sebenarnya hampir seluruh kepala daerah ini berburu itu, nah kami Pemkot Malang yang sudah dipercaya tidak mengapresiasi itu, yang penting tidak ada main-main di dalamnya,” tegas Anton.

Karenanya, ia berharap masyarakat mendukung langkah pemerintah dalam membangun kota sehingga misi menjadi kota bermartabat bisa terealisasi dengan baik.

“Kota lain justru mencontoh kita, kalau mereka mau membangun taman pasti rujukannya Kota Malang,” pungkasnya.-

Bermodal Lembaran Daun, Terdengar Irama Lagu Perjuangan

Cak Kandar menunjukkan kemampuannya ngamen menggunakan daun. (Muhammad Choirul / MalangVoice)

MALANGVOICE – Aksi Drs Soekandar untuk menyongsong peringatan HUT ke-70 Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, cukup unik. Seniman yang lebih akrab disapa Cak Kandar, itu mengamen menggunakan sarana daun.

Ia mampu menyulap sehelai daun menjadi alat musik yang mengeluarkan nada indah. Alumnus Jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Malang (UM) itu, sejak beberapa hari terakhir mengitari jalanan Kota Malang, melantunkan nada-nada sejumlah lagu nasional.

“Selain mengenalkan bahwa daun bisa jadi alat musik, motivasi saya juga mengingatkan masyarakat pada lagu-lagu nasional yang mulai terlupakan,” kata Cak Kandar kepada MVoice di sela aktivitasnya saat mengamen, di Taman Trunojoyo, Sabtu (15/8) siang.

Lagu-lagu seperti Dari Sabang Sampai Merauke, Halo-halo Bandung, hingga Gebyar-gebyar karya almarhum Gombloh, dengan apik ia bawakan. Seniman yang sehari-hari juga melukis dan membatik ini tak pusing dengan penghasilan yang didapat dengan mengamen.

“Sehari bisa dapat Rp 200 ribu dari ngamen, tapi motivasi saya bukan ekonomi, lebih untuk apresiasi seni. Saya tidak malu ngamen, tidak peduli orang bilang apa,” imbuhnya.

Aktivitas ngamen melantunkan lagu-lagu nasional ini khusus dilakukan pada momen peringatan HUT ke-70 Kemerdekaan Indonesia. Jika hari-hari biasa, ia juga sering mengamen, namun membawakan lagu-lagu yang sesuai dengan suasana saat itu.

“Saat ngamen, saya tidak hanya pentas terus pergi setelah dikasih uang. Saya juga ngobrol-ngobrol, banyak berkenalan dengan orang. Lagu-lagu kalau hari biasa ya menyesuaikan, khusus seminggu ini saya ngamen pakai lagu nasional,” pungkasnya.-

Agoes Soerjanto Konsolidasi Ke Tingkat Bawah

Ketua PD XIII GM FKPPI Jatim Ir Agoes Soerjanto. (nunung/malangvoice)

MALANGVOICE. – Ponco Sutowo akhirnya ditetapkan sebagai Ketua Umum Keluarga Besar Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan TNI dan Polri (FKPPI) sejak 11 Agustus 2015 baru lalu.

Keputusan langsung dari Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo tersebut setelah FKPPI dan Generasi Muda (GM) FKPPI melebur menjadi Keluarga Besar FKPPI.

Seperti diketahui hasil Munas Maret 2015 di Magelang, tidak ada lagi GM FKPPI atau Ormas-Ormas FKPPI lainnya.
“Sejak 11 Agustus lalu sebgai kader bangsa Keluarga Besar FKPPI harus menjadi penjuru dan memberikan contoh secara nasional, mulai penyelenggaraan munas, musda, muscab sampai ke ranting,” jelas Ketua PD XIII GM FKPPI Jatim Ir Agoes Soerjanto.

Dikatakan, pemilihan pengurus Keluarga Besar FKPPI tidak mengenal footing. Pemilihan harus secara musyawarah dan mufakat sesuai dengan Sila ke 4 Pancasila. “Sila ke 4 inilah sejatinya Bangsa Indonesia itu,” terangnya.

Sebagai Ketua PD XIII GM FKPPI Jatim selama 4 tahun, mulai hari ini Kamis, 13 Agustus 2015 Agoes Soerjanto langsung melakukan konsolidasi ke bawah.-

Kaya Imajinasi dan Meluap-luap

Lintang Pandu Pratiwi saat bercerita didampingi ayahnya, Mujab Wijaya. (Fathul/MalangVoice).

MALANGVOICE – Tidak banyak yang tahu bahwa salah satu warga di Kota Batu punya talenta yang patut diapresiasi.

Adalah Lintang Pandu Pratiwi (22) yang telah menelurkan tiga karya apik terkait dongeng nusantara. Bahkan kini, tiga bukunya juga sedang dalam proses cetak oleh salah satu penerbit mayor di Indonesia.

Salah satu karya yang dibawa ke hadapan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yambise, dan Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawangsa berjudul ‘Kumpulan Kisah Klasik Indonesia.’

Buku itu juga yang mendapatkan apresiasi dari Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait dan Psikolog Anak Setto Mulyadi.

“Senang sekali mendapatkan support dari beliau-beliau. Ini akan menambahkan semangat saya untuk berkarya lebih baik lagi,” ucap Lintang saat MVoice berkunjung ke rumahnya di Gading Mas Regency Kav 20, RT 24/RW 4, Kajang Lor, Mojorejo, Junrejo, Batu.

Perempuan cantik kelahiran 1992 ini memiliki imajinasi yang kaya dan meluap-luap. Ia tidak berhenti bergerak saat ngobrol dengan MVoice ketika menceritakan prestasinya di waktu lampau.

Judul buku anak yang telah diterbitkannya berjudul Kumpulan Kisah Klasik Indonesia, Princess Muslimah, Dongeng Klasik Indonesia Si Leungli. Sementara yang masih dalam proses penerbitan adalah Nyanyian Putri Air, Jalan Suka Hati Penuh Taman, dan Story Book Papua.

Selain pintar membuat cerita, Lintang juga pandai menggambar sehingga berkali-kali mendapatkan juara di tingkat Provinsi hingga pameran tingkat nasional.

“Saya pernah juara 2 menggambar tingkat Provinsi Jateng, juga finalis di Yayasan Seni Rupa Indonesia sehingga bosa ikut pameran di Galeri Nasional,”cerita gadis kelahiran Wonosobo ini.

Salah satu buku Lintang yang berjudul Story Book Papua saat ini sedang proses penerbitan oleh sebuah yayasan yang concern di bidang pendidikan di Papua kerja sama dengan donatur dari Australian Aid Program dan World Vision.

“Sebenarnya terbitan buku saya sejak 2014, jadi baru tahun kemarin. Saya memang berinisiatif mengirimkan gambar dan contoh cerita ke Gramdia dan Elexmedia, ternyata diterima,” kenang lulusan Jurusan Desain Komunikasi Visual, UM tersebut.

Kini ia sudah mulai menemukan bentuk dan metode sendiri hingga bisa membuat dongeng 100 halaman dalam waktu 1 bulan. Padahal sebelumnya, ia membutuhkan waktu selama 3 bulan.

Ia mengakui bahwa kemampuannya menggambar dan menulis cerita sedikit banyak adalah turunan dari orang tuanya, Mujab Wijaya, yang hobi menulis. Bahkan bukan hanya Lintang, adiknya, Galuh Pandu Pratiwi juga punya jiwa seni namun lebih ke realis daripada ke dongeng.

“Dulu dinding kamar mereka berdua penuh coretan, kami turut bangga punya anak seperti mereka,”tambah ibu Lintang, Widayati Sri Wulandari

Ke depan, Lintang berharap dapat semakin aktif dan kreatif dalam berkarya. Cita-citanya adalah ingin menulis kisah anak-anak dari seluruh penjuru negeri Indonesia yang kaya budaya. Ia yakin, suatu saat nanti pasti bisa.-

“Semoga MVoice Jadi yang Terdepan”

“Semoga MVoice menjadi salah satu media online yang memiliki reputasi akurat dalam pemberitaan. Selain itu, semoga selalu menjadi yang terdepan dalam memberikan informasi bagi masyarakat Malang Raya”

“Semoga Berandil Bangun Prestasi Olahraga Tanah Air”

Oei A Kiat

“Dengan adanya MVoice, harapannya bisa bersaing dan menyajikan berita untuk mengajak masyarakat agar cinta kegiatan olahraga. Semoga turut berandil membangun prestasi olahraga di tanah air agar dapat bersaing dengan negara-negara lain di dunia. Semoga media baru MVoice ini bisa mengangkat berita positif untuk gairah olahraga.”

”Berilah Kontribusi Positif Bagi Masyarakat”

“Malang Voice jadilah media sebagai corong pemberitaan masyarakat dengan memberikan hal kontribusi positif, membangun dan berimbang. Media online juga bagus bisa diakses dimana saja, kapan saja, dan murah dibanding media cetak pada umumnya, sayangnya belum semua saudara kita memiliki sarana teknologi seperti itu”

Komunitas