Timur Priyono, Ciptakan Lagu Cerita Tentang Malang

Musisi Asal Malang, Timur Priyono. (hamzah)

MALANGVOICE – Musisi asal Malang, Timur Priyono, namanya menjadi tersohor di belantika industri musik di tanah air.

Dia mengawali karir bermusik bersama Trio Prima, sekitar tahun 1978. Lagu ciptaannya mewarnai musik Indonesia mulai era 80-an, hingga saat ini.

Beberapa hits hasil kreasinya seperti ‘Baru Lima Menit’ dan ‘Yang Penting Hepi’ dibawakan Djamal Mirdad, sempat menjadi top chart musik Indonesia. Bahkan, lagu ‘Yang Penting Hepi,’ diminta diaransir ulang oleh penyanyi Maia Estianti dan menjadi hits, beberapa waktu lalu.

Ditemui MVoice, di Galeri Malang Bernyanyi (GMB), Senin (12/10) malam, pria yang akrab disapa Priyono itu mengatakan, awal mula mengenal musik saat ia masih sangat belia.

Perhatiannya yang cukup mendalam dalam dunia seni itu, membuat sang ibu membelikannya gitar dari seorang pengamen yang kebetulan sedang menyanyi di rumahnya.

“Saya memang dari awal terobsesi pada gitar dan akhirnya ibu saya membelikannya dari pengamen yang kebetulan lewat rumah saya,” ungkap Priyono.

Kreatifitasnya bermain musik dari waktu ke waktu akhirnya mengantarkan Priyono merangsek kepada industri. Diawali aksi panggung bersama ‘Trio Prima’ di Taman Remaja Surabaya, kala itu Priyono sudah percaya diri tampil dengan lagu ciptaan sendiri.

Walhasil, tiga lagu berjudul ‘Wayang’, ‘Petani’ dan ‘Ki Hajar Dewantoro’ mendapat sambutan hangat dari masyarakat Surabaya. “Awal saya mencipta lagu terinspirasi musisi Leo Kristi dan jadilah tiga lagu itu,” tandasnya.

Usahanya terus meningkatkan kemampuan bermusik akhirnya mencapai jalan terang saat ia memutuskan pergi ke Jakarta, 1 Januari 1983. Di sana ia bertemu sesama musisi asal Malang yang sudah terkenal yakni Antok Baret dan Edi Kusworo.

“Dari sinilah perjalanan saya di Jakarta masuk ke dapur industri dimulai, karena ada bimbingan dari Edi Kusworo yang juga guru saya,” bebernya.

Upaya membawa master lagu ke perusahaan besar seperti Musika, mengantarkan Priyono berkenalan dengan Djamal Mirdad, Dorce Gamalama, hingga Cici Paramida. Tak hanya itu, band yang digawanginya, ‘Dapur 1961’ cukup mewarnai dunia musik dengan karya 13 album musiknya.

“Proyek baru yang akan hadir bersama Ayu Azhari dengan lagu berjudul ‘Hidup Ini Indah’ dan satu lagi berjudul ‘Kawin Silang’ yang sedang saya siapkan,” kata Priyono.

Kepiawaiannya meramu nada dan lirik tak membuatnya lupa akan tanah kelahirannya di Kota Malang, sebab dalam waktu dekat Priyono mengaku akan membuat lagu khusus yang menceritakan tentang Malang.-

Wawan Saktiawan, Sang ‘Penjual Ludah’ Profesional…

Wawan Saktiawan alias Amir Gunawan. (fathul)

MALANGVOICE – Stand Up Commedy sangat dikenal di Indonesia, saat ini. Beberapa komikus dilahirkan oleh komunitas stand up commedy yang ada di Malang, salah satunya adalah Wawan Saktiawan (28).

Alumni Universitas Brawijaya ini sudah melanglang ke beberapa kota besar sejak menjadi komikus tahun 2011 lalu, seperti Surabaya, Sidoarjo, Palangkaraya, Kupang, dan Malang Raya. Ia selalu menyiapkan diri dengan joke-joke segar supaya materinya tetap update.

“Dulu ikut kontes stand up di Liga Komunitas Kompas TV. Sayangnya TV ini nggak nasional, jadinya saya nggak terkenal. Beda sama ikut di Metro TV,” ujar Wawan, memberi alasan kenapa ia tidak seterkenal komikus lainnya.

Ia pun menyebutkan beberapa temannya yang sudah lebih dulu bergabung di Komunitas Stand Up Commedy Indo Malang, Jalan Jakarta, Malang, dan sudah terkenal, seperti Arie Kriting, Abdur, Regi Hasibuan, dan Dani Aditya seorang komikus difabel.

Di komunitasnya, lanjut pria bernama asli Amir Gunawan ini, para komik diajari dasar-dasar menjadi komedian yang diberikan secara reguler. Anggota komunitas juga dianjurkan membuat materi lucu setiap hari dan tidak menggantungkannya pada mood personal.

“Ide materi lucu bisa didapat di mana saja, misalnya kami melihat ada angkutan, atau kereta api, melihat mahasiswa, orang pacaran, itu semua bisa jadi materi lucu kok kalau kita ubah cara pandang yang biasa,” jelas Wawan.

Usai pemberian materi, seminggu sekali diadakan open mic untyk mengasah mental komikus di depan audience. Tidak lupa, workshop stand up commedy pun sering dilakukan dengan mengundang komikus senior ataupun mereka yang sudah populer lebih dulu.

“Open mic biasanya di Kafe Loughboratorium, di Jalan Jakarta. Nah, di sini kita menguji materi, apakah sudah lucu? Kalau lucu ya penontonnya pasti ketawa. Itu aja cara mengetahuinya,” sambung Wawan.

Dari seluruh penampilan yang pernah ia lakukan, lanjutnya, berdiri di panggung mahasiswa baru Universitas Brawijaya adalah yang paling berkesan. Di hadapan 5000-an mahasiswa, Wawan merasa sudah menjadi komik besar. “Apalagi saat mereka tertawa, itu keren,” tukasnya.

Dikatakan, menjadi komikus merupakan pilihan hidupnya. Wawan sering melogikakan pekerjaannya ini sebagai “dodolan idu” alias jualan ludah. Sebagai komik profesional, stand up commedy sudah bisa menjadi ladang mencari uang karena jasanya dihargai mahal.

“Kalau kita bisa membuat materi bagus, pasti job juga semakin bagus,” tandas mahasiswa Teknologi Industri Pertanian ini.-

Pimpin KNPI, Abud Ingin Kembalikan Spirit Cinta Tanah Air

Ketua KNPI Kota Malang terpilih, Hutama Budi Hindrarta, bersama pengurus OKP. (Miski)

MALANGVOICE- Menakhodai organisasi semacam Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) bukanlah hal mudah. Hal itu diakui Hutama Budi Hindrarta, yang terpilih sebagai ketua. Ia bersyukur dipercaya mampu mengayomi dan mengakomodir Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) yang ada di bawah naungan KNPI.

Lulusan Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (UB) itu berjanji segera melakukan konsolidasi dengan para pengurus OKP, sebagai langkah awal menentukan arah organisasi ke depannya.

“Cukup banyak organisasi dengan latar belakang dan fokus berbeda, maka konsolidasi menjadi penting, guna menyamakan persepsi,” katanya, saat berbicang dengan MVoice.

Sebagai wadah organisasi, ia berharap KNPI tidak kalah dengan OKP yang dinaungi saat ini. Sebab itu ia bertekad menghadirkan KNPI sebagai rumah yang teduh dan diminati organisasi kepemudaan.

“Untuk itu tentu harus punya nilai tawar lebih, sehingga mendapat tempat yang semestinya. Jika tidak, maka hanya akan menjadi OKP kesekian, karena OKP sudah memiliki pangsa dan kegiatan masing-masing,” tutur pria berkacamata ini.

Mantan Ketua BEM Fakultas Hukum UB ini, menilai, mengawal proses pembangunan di daerah sangat penting. Sudah semestinya, sebagai organisasi yang diayomi negara mampu memberi imbal balik, berupa program kerja sinergi dengan pemerintah, serta menjalin relasi dengan stake holder.

Terlepas dari itu semua, lanjut pria yang biasa disapa Abud itu, menggelorakan kembali cinta Tanah Air di kalangan pemuda akan menjadi prioritas selama ia menahkodai KNPI Malang.

Abud bahkan bertekad merangkul semua organisasi kepemudaan yang belum tergabung di bawah KNPI. “Cinta Tanah Air, sesuai cita-cita pendiri bangsa, pemuda harus mengerti fungsi dan tanggung jawabnya,” jelas pria yang kini menempuh Magister Kenotariatan UB itu.

Belum lagi awal 2016 nanti sudah diberlakukan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), tentu menjadi tantangan bagi para pemuda, apakah bisa survive atau sebaliknya. “Saya kira masih banyak pemuda yang belum mengerti dan paham dampaknya. Nah, melalui KNPI kita sadarkan kembali,” tuturnya.-

Aliya Diza, Multitalenta Kalem asal Sisir dengan Segudang Prestasi

Aliya Diza R A didampingi Kepsek SDN 1 Sisir, Asmulik. (fathul)

MALANGVOICE – Aliya Diza Rihhadatul Aisy (10), dianugerahi beragam talenta. Siswi SDN 1 Sisir, Kota Batu, itu baru saja merebut juara 1 Lomba Bercerita.

Dia pernah beberapa kali merebut juara tingkat Provinsi Jawa Timur. Waktu masih Taman Kanak-Kanak, gelar juara lomba mewarnai tingkat Malang Raya juga ia sandang. Tahun lalu ia mendapat predikat juara harapan 1 lomba multitalenta bidang seni tingkat Jawa Timur, dan Juara harapan 1 lomba membatik tingkat Jatim.

“Saya biasa belajar membatik di luar sekolah dan ikut berbagai kegiatan, seperti teater, seni lukis, dan seni vokal,” kata putri pasangan Dita Lelana Febrianto dan Fatimatur Zuhroh ini.

Pada Lomba Bercerita, dia membawakan lakon ‘Legenda Songgoriti”. Dengan gaya khas pendongeng, penampilannya yang ekspresif benar-benar memukau dewan juri.

Saat puluhan siswa lain menggunakan salam dengan cara biasa, Aliya juga bersalam sambil bersimpuh menggunakan bahasa Jawa kromo inggil. Cengkoknya pun terdengar natural dan merdu.

‘Legenda Songgoriti” yang diceritakan Aliya, mengungkap bagaimana air pemandian di sana menjadi panas. Dulu, air di sana konon dingin. Kemudian, karena sering digunakan mencuci keris oleh Mpu Supo, akhirnya menjadi panas. Begitu ceritanya.

Setelah juara di Batu, kini dia bersiap mengikuti lomba cerita tingkat Jawa Timur. Aliya yang bercita-cita menjadi guru Matematika itu mengaku sudah biasa, sehingga tidak akan grogi. Apalagi pihak sekolah dan orang tuanya selalu mendukung, sehingga jalan menuju juara makin terbuka.

“Saya juga punya cita-cita menjadi desainer batik, karena batik itu bagus, budaya asli Indonesia. Sekarang belajar terus supaya bisa berhasil,” harap siswi yang juga sering juara kelas itu.

Kepala Sekolah SDN 1 Sisir, Asmulik, mengakui talenta Aliya. Dikatakannya, Aliya siswa kelas IV sangat tanggap, kreatif, dan tekun belajar. “Anaknya kalem begitu, tapi prestasinya banyak. Siswa seperti ini akan kami bina terus hingga tercapai cita-citanya,” kata Asmulik.-

Kone Tertarik Jadi Jurnalis Televisi

Lancine Kone berbincang dengan jurnalis senior ANTV, Hendro Sumardiko, terkait operasional kamera. (Muhammad Choirul)

MALANGVOICE – Pemain asing Arema, Lancine Kone, memiliki hasrat menjadi jurnalis televisi. Keinginan itu ditunjukkan di sela sesi latihan di Stadion Gajayana, kemarin sore.

Pemain asal Pantai Gading ini menghampiri jurnalis senior ANTV, Hendro Sumardiko, ketika Hendro hendak mengabadikan latihan terakhir sebelum Arema berangkat ke Solo, pagi tadi.

Kone sempat mengotak-atik sejumlah fitur yang terdapat pada kamera milik Hendro. “Ini untuk zoom ya? Komposisi dan kombinasi gambar yang baik itu diambil seperti apa?” celetuk Kone.

Obrolan santai terkait operasional kamera berlangsung, Hendro merespon celetukan Kone. “Nanti belajar dulu sama saya kalau ingin tahu bagaimana mengoperasikan kamera dan teknik reportase,” sahut Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Korda Malang Raya itu.

Kepada MVoice, Kone tak menampik keinginannya menjadi jurnalis televisi. Menurutnya, profesi itu bisa jadi alternatif dan bisa dijalankan siapa saja. “Kalau sudah tidak main bola, saya ingin jadi jurnalis televisi,” papar mantan pemain Persisam Putra Samarinda itu.

Suharyanto, Melukis ‘Jokowi Punya Nazar’ dengan Zikir

Gus Thoriq Ziyad Bin Darwis bersama Suharyanto, pelukis 'Jokowi Punya Nazar'. (miski)

MALANGVOICE – Sebuah lukisan berjudul ‘Jokowi Punya Nazar’ menjadi perhatian tokoh santri yang menghadiri Resolusi Hari Santri Indonesia, di Universitas Raden Rahmad, Kepanjen, hari ini.

Lukisan berukuran besar itu hasil goresan tangan Suharyanto, seniman asal Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, yang akan diberikan kepada Presiden RI, Joko Widodo.

Tema lukisan menggambarkan Jokowi dikelilingi para santri menyerahkan nota kesepahaman kepada pengasuh Pondok Pesantren Babus Salam, Pagelaran, Gus Thoriq Ziyad Bin Darwis. Gambaran itu menggambarkan bukti kesepakatan, jika Jokowi terpilih menjadi presiden akan menetapkan Hari Santri Nasional.
SP
Surat Pernyataan itu bertuliskan “Dengan ini saya Joko Widodo sebagai calon Presiden Negara Republik Indonesia periode 2014-2018, menyatakan, jika nanti Allah mentakdirkan saya (Joko Widodo) terpilih sebagai Presiden Negara Republik Indonesia yang akan dilaksanakan pada pemilihan (Pilpres) tanggal 09-Juli-2014, maka saya (Joko Widodo) siap untuk memperjuangkan serta menetapkan 1 Muharrom sebagai Hari Santri Nasional yang menjadi salah satu hari resmi Negara Republik Indonesia. Demikian pernyataan ini saya buat dengan penuh kesadaran dan tanpa ada unsur pemaksaan dari pihak manapun. Malang, 27-Juni-2014 Calon Presiden Republik Indonesia, ditandatangani”

Suharyanto merupakan warga RT 14/RW 14, Dusun Krajan, Desa Bantur, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang. Pria 49 tahun itu awalnya menolak permintaan Gus Thoriq untuk melukis. Selain karena takut tidak bisa menyelesaikan tepat waktu, dia juga banyak orderan melukis.
“Waktu ditawari melukis Jokowi, saya lebih fokus menghasilkan lukisan bertema alam,” kata Suharyanto.

Setelah dirayu beberapa kali, akhirnya ia luluh dan mengiyakan. Alasannya, sudah kenal lama dengan Gus Thoriq, dan tema lukisan ada kaitannya dengan memperjuangkan Hari Santri.
“Saya diberi waktu satu bulan menyelesaikan lukisan ini, Alhamdulillah berkat restu Allah SWT karyanya bisa selesai. Meskipun tidak maksimal,” tuturnya.

Selama mengerjakan lukisan, Suharyanto diminta istiqomah dan mengikuti beberapa arahan dari Gus Thoriq. Semisal, sebelum melukis mengambil wudhu dan dilanjutkan dengan baca doa serta zikir. Hal itu dilakukannya setiap hari selama satu bulan. Ia rela mengorbankan orderan melukis hanya ingin fokus menyelesaikan lukisan Jokowi.

Berbeda dengan karya yang dikerjakan tanpa diiringi zikir, seperti lukisan Nyi Roro Kidul, terbukti sampai sekarang belum juga rampung.

Dikatakan, dengan melihat lukisan setidaknya Presiden Jokowi selalu ingat akan janjinya setiap tanggal 1 Muharram ditetapkan sebagai hari Santri.

“Profesi saya sebagai seniman, saya melayani sesuai permintaan. Sebab, seniman cinta damai dan tidak berpolitik,” ungkap bapak tiga orang anak itu.

Diceritakan, melukis terinspirasi dari pamannya. Sejak duduk bangku SD, ia menekuni seni melukis. Ia belajar secara otodidak bertahun-tahun, sampai bisa mengikuti pameran, jambore dan sebagainya.

“Saya tidak pernah menjajakan karya di tengah jalan, karena berkarya mengikuti naluri. Setiap hari ada satu dua lukisan dihasilkan,” ungkap suami dari Meta Krisdiana itu.

Hobi melukis ia tularkan kepada anaknya yang kuliah jurusan seni di Universitas Negeri Malang (UM). Suharyanto juga mendirikan galeri ‘Nur Galeri Pantai Selatan’ di rumahnya. Ia membuka diri bagi siapa pun yang ingin belajar melukis.

“Dulu ada keinginan bisa tampil dalam pameran internasional, karena disibukkan dengan banyaknya orderan. Saya percayakan ke anak saya supaya menghasilkan karya bisa tembus mancanegara,” harapnya.

Sementara itu penggagas Hari Santri Nasional, Gus Thoriq Ziyad Bin Darwis, menilai lukisan hasil karya Suharyanto tersebut lebih baik daripada lukisan Monalisa.
“Kalau ditanya harganya, saya nilai lukisan ini lebih mahal dari lukisan Monalisa. Karena menyangkut negara,” ungkapnya.

Lukisan itu merupakan hibah dari Suharyanto kepada Resolusi Hari Santri. “Alhamdulillah Pak Suharyanto tidak minta bayaran sama sekali. Ini bentuk dukungannya dalam mewujudkan hari Santri,” tutupnya.

Sering Menang Kontes, Honda Life Kuno Ditawar Rp 100 Juta

Aditya dan mobil Life kesayangannya. (deny/malangvoice)

MALANGVOICE – Jambore nasional (Jamnas) penggemar mobil Honda Life di Malang, sekaligus sebagai ajang pamer bagi pemilik mobil produk tahun 1970an itu.

Salah satu peserta jambore, Aditya Fanda, warga Jalan Danau Sentani, Sawojajar, Kota Malang ini, punya cerita soal mobil ikuran mini tersebut.

Honda Life2Dibeli seharga Rp 5 juta di Sidoarjo, mobil kuno itu disulap jadi mobil klasik dan elegan. Hasilnya t sudah beberapa trophy direbut dari beberapa ajang kontes.

Aditya, mengaku yang paling diingat adalah saat memenangi kontes HIN 2014 & 2015 dengan kategori best retro. ”Dua tahun berturut-turut menang, seneng sekali, yang lain banyak trophy macem-macem saya lupa,” katanya.

Kemenangan saat kontes HIN 2015 awal silam, Aditya mengaku hanya menambah gerobak di belakang mobil selain dirombak habis. Seperti cat asli berwarna hijau diganti putih, velg, full audio, dan beberapa part dibikin sendiri seperti grill, rak atas, dan lampu dashboard yang didatangkan dari Jepang.

Gerobak itu diambil dari potongan body mobil bekas yang ia beli. Kemudan didesain mirip bak mandi, “Matching trailer itu yang buat menang HIN Best Retro, awal tahun ini. Tahun 2014 juga menang tapi gak pakai gerobak itu,” jelas pria 29 tahun itu.

Hasil modifikasi itu diakui Aditya bisa menghabiskan puluhan juta rupiah, tapi ia tak ingin berhenti berkreasi. Sampai akhirnya muncul godaan lain, mobil kesayangan Aditya itu ditawar ratusan juta, peminatnya ingin menukar Honda Brio keluaran baru seharga kurang lebih 100 juta itu dengan Honda Life keluaran tahun 73 yang dulu dibeli seharga Rp 5 juta. Namun, ia menolak dan mengatakan mobilnya tidak untuk dijual.

Honda Life3“Sampai kapanpun dan berapapun si penawar tidak akan saya kasih, karena kisah mobil ini dan perjuangan saya tidak terbeli,” tegasnya.

Saat ini mobil Aditya mengikuti komunitas Honda Life Club Indonesia chapter Malang, dengan komunitas itu ia berharap bisa menemukan ide lain dalam bermodif. “Saya sering dapet ilmu dari orang-orang, mereka saling bantu di sini ngeshare spare part langka untuk bahan modif,” harapnya.-

Sinyo Jual Lukisan, Sebarkan Gagasan Berseni ke Masyarakat

Riyanto dengan lukisan berjudul ""Predator: Berburu atau Diburu". (Fathul/malangvoice)

MALANGVOICE – Memiliki ideologi dalam berkesenian itu harus, tetapi ikut pasar modern agar hidup berkesenian tetap jalan juga perlu. Paling tidak hal inilah yang tengah dilakukan seorang pelukis seperti Riyanto (39).

Ditemui MVoice di Galeri Raos, Riyanto tampak sibuk memperhatikan temannya yang sedang memoles kanvas. Di antara sekian banyak lukisan yang terpajang, beberapa adalah titipan dari teman-temannya sesama pelukis.

Riyanto bercerita jika ia baru menekuni bidang lukis tahun 2010 lalu. Untuk ukuran seniman, kata lelaki yang menggunakan nama lukis “Sinyo” ini, 5 tahun adalah usia yang sangat muda. Dengan rendah hati ia mengatakan bila lukisannya belum sempurna.

“Dulu tahun 2010 saya menjadi perwakilan Kota Batu untuk ikut workshop seni lukis oleh Kemenpora. Nah, sejak itu saya menjadi serius karena sudah mendapatkan bekal,” ujar Riyanto kepada MVoice.

Belasan karyanya ini hingga sekarang masih dipajang untuk dijual di luar Galeri Raos, Jalan Panglima Sudirman, Kota Batu mulai harga Rp 500 ribu. Memilih memajang lukisan di luar galeri, kata Riyanto, supaya masyarakat umum bisa melihat dan tidak takut untuk masuk galeri.

Karena berdasarkan pengalaman Riyanto, berjualan di dalam galeri memberikan kesan eksklusif. Ia ingin menyebarkan lukisan miliknya sehingga ia harus berani berjualan di pinggir jalan, tanpa mengabaikan kualitas lukisan yang dijualnya.

Namun, dari sekian banyak lukisan itu ada satu yang sangat spesial bagi dirinya. Yaitu lukisan berjudul “Predator: Berburu atau Diburu” yang bermakna hidup harus selalu mencari, namun tetap dalam aturan-aturan, karena tidak ada kebebasan yang melampaui batas.

Karya tersebut memang tampak berbeda dengan karya lainnya. Dengan goresan seperti surrealisme atau absurd, Riyanto menyebutnya sebagai seni lukis murni. Murni, karena lukisan tersebut tebentuk dari imajinasi murni, dari pemikiran yang mendalam, bukan mencontoh sesuatu yang telah ada.

Baginya, lukisan seperti itu tidak ada bandingan harga. Namun bagi orang-orang tertentu, lukisan tersebut akan dilepaskan karena nilainya, bukan karena nominal uang. Karena dengan karya murni inilah, lanjut Sinyo, seorang pelukis seperti dirinya melakukan kritik sosial.

“Karya murni begini biasanya menunjukkan gaya dan kepribadian pelukisnya. Istilahnya kalau pelukis bisa bilang karya itu “aku banget”. Jadi kita menyampaikan pesan dan bersosialisasi dengan sekitar lewat karya tersebut. Makanya sangat berbeda dengan karya lainnya,” tambahnya.

Karya lukisan lain yang dimiliki pria berambut gondrong ini, ada yang melukiskan pemandangan alam, ikan-ikan di dalam kolam, gambar bunga beserta vasnya di meja, dan beberapa variasi lukisan yang disebut Riyanto sebagai pengalaman sehari-hari manusia.

“Kalau karya murni dari pemikiran dan kreativitas pelukis, kalau karya lain bisa meniru dari alam, foto, atau lingkungan sekitar. Gunanya ya untuk pajangan di rumah biar lebih artistik,” tandasnya.-

Pulang Kampung, Bogie Prasetyo Beri Coaching Clinic Ngedrum

Bogie Prasetyo

MALANGVOICE – Drummer ternama Indonesia, Bogie Prasetyo, Minggu (20/9) siang menggelar coaching clinic di Galeri Malang Bernyanyi, Jalan Griya Shanta Malang.

Kepada para peserta coaching clinic, pria yang akrab disapa Bogel ini bermain drum merupakan pilihan musisi untuk mengekspresikan karyanya. “Drum, gitar dan vokalis adalah sama, semua berasal dari hati, baru kita bermain,” kata Bogel.

Dalam sesi ini, selain mengenalkan bagian drum, Bogel juga memperagakan aksi kehebatannya bermain drum di depan peserta.

“Malang juga menghasilkan musisi yang bagus sehingga menghasilkan musisi yang legend,” tandasnya.

Bogie Prasetyo sendiri merupakan drumer kenamaan yang namanya tenar hingga dunia internasional. Sempat nge-jam bareng vokalis The Police, Sting, karir bermusik Bogie malang melintang di dunia musik tanah air.

Musisi kelahiran Kota Malang ini, juga sempat menjadi drumer vokalis Jazz ternama Andien dan juga sering tampil di Java Jazz Festival.-

Dulu Pegawai, Kini Pemilik Kedai Kopi

Parnia Ramadhani

MALANGVOICE – Mengawali karir sebagai waitres di salah satu kedai kopi di Kota Malang, lalu mimpi membangun usaha sendiri di bidang itu, kini bisa impian itu benar-benar diwujudkan Parnia Ramadhani.

Bermodal pengalaman yang kuat dan kecintaannya akan kopi, membuat dara cantik yang akrab disapa Nia itu membangun usaha yang diberi label Chutnea House, Cloths and Keudekupi, di kawasan Jalan Brigjen Slamet Riyadi, Kota Malang.

Bagi dara cantik kelahiran Jakarta, 30 tahun silam, kopi merupakan sumber inspirasi, dimana para peracik kopi handal yang mampu memadukan rasa pahit kopi hingga menjadi minuman khas, harus memiliki kemampuan dan pengalaman di bidang itu.

“Awalnya saya waitres di sebuah kedai kopi, dari situ akhirnya saya belajar seluk beluk dunia kopi,” kata Nia, beberpa saat lalu.

Awalnya dia mempelajari dunia racik kopi secara manual dengan mengamati cara pembuatan kopi secara langsung maupun belajar dari media sosial. Pengetahunnya akan kopi ternyata menimbulkan sikap idealis yang kini mulai dipraktikan di kedai miliknya.

“Saat ini saya cukup idealis dengan warung kopi yang saya dirikan. Saya ingin orang datang ke warung kopi ya menikmati kopi, namun selama ini itu yang belum terjadi,” tandasnya.

Namun diakuinya, sikap idealis seperti itu lambat laun akan mulai luluh tatkala ia berguru pada keinginan customer yang datang mengunjugi kedai kopinya. “Sampai detik ini saya masih berguru pada customer, apa yang diinginkan, menu apa, masukan apa soal kopi, dan aku kira itu sangat penting,” beber dia.

Ditanya perihal kopi sendiri, pemilik nama beken Chutnea Lubis ini mengaku jika sehari saja tidak minum kopi, maka ada yang salah dengan hari-nya. “Kalau sehari gak minum kopi, otak buntu dan pusing,” seloroh Nia.

Komunitas