Arif Perjuangkan Dana Hibah untuk Poltekom

Ketua DPRD Kota Malang, Arif Wicaksono (deny)

MALANGVOICE – Ketua DPRD Kota Malang, Arif Wicaksono, mendukung langkah Pemkot Malang yang akan mengucurkan dana hibah kepada Politeknik Kota Malang (Poltekom).

Dana hibah itu rencananya dikucurkan pada 2016, dikuatkan surat edaran perubahan yang diterbitkan Kemendagri dan Kemekeu.

“Kemarin ada surat edaran yang mempermudah penyaluran dana hibah. Jadi tidak melalui Kemenkumham,” kata Arif Wicaksono, siang ini.

Dana hibah itu, tambah Arif, nantinya langsung diterima Direktur Poltekom, bisa juga dilewatkan SKPD terkait, dalam hal ini Dinas Pendidikan. Saat ini pihak dewan terus mendorong Pemkot Malang merancang dana hibah.

“Kami akan hearing dengan pihak terkait, yakni Pemkot untuk membahas berapa besar dana yang akan dikeluarkan. Kalau bisa Rp 2 miliar atau hingga Rp 2,5 miliar,” kata politisi PDI Perjuangan ini.

Pembahasan dana hibah untuk 2016 sudah melewati tahapan RAPBD, dan Arif masih mengkomunikasikan dan konsultasi mengenai hal itu.

“Nah, biasanya anggaran harus dibahas pada kebijakan umum anggaran sementara dan prioritas plafon anggaran sementara (KUAPPAS), baru RAPDB. Ini masih kami konsultasikan apakah bisa dianggarkan tanpa KUAPPAS,” tuturnya.

Ia sangat menyayangkan apabila Poltekom harus tutup. Perjuangan Direktur Isnandar, sangat perlu diapresiasi. “Isnandar sangat getol memperjuangkan Poltekom sampai seperti ini. Ini perlu diapresiasi dan DPRD pasti mendukung Poltekom,” tutupnya.

Dukung Warga, PMII Unisma Desak Perwali Satu Arah Dicabut

Aktivis PMII Unisma saat demo di depan Balai Kota Malang, beberapa waktu lalu. (Muhammad Choirul)

MALANGVOICE – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Universitas Islam Malang (Unisma) mendesak Pemkot Malang segera mencabut Perwali No 35 Tahun 2013 terkait jalur satu arah di lingkar Universitas Brawijaya (UB).

Ketua PMII Rayon Unisma, Amran Umar, menilai, tak ada alasan lagi bagi Wali Kota Malang, HM Anton, untuk tidak mencabut Perwali itu. Menurutnya, selama jalan lingkar UB diterapkan dua arah, terbukti tidak ada masalah baik kemacetan ataupun aspek ekonomi.

“Pakar dan DPRD juga meminta Perwali satu arah dicabut, jadi bagaimana pun Perwali itu harus dicabut,” tambahnya.

Ia menegaskan, PMII Rayon Unisma tetap mendukung aspirasi warga Kelurahan Penanggungan. Ia mengaku siap mengerahkan massa jika nantinya warga ingin kembali turun jalan.

“Kami mendukung sepenuhnya upaya warga sekitar dan kami akan bersama-sama menuntut Pemkot mencabut Perwali. Dalam waktu dekat kami akan diskusi dengan Mas Ferry Al Kahfi (juru bicara warga Penanggungan) terkait masalah ini,” tandasnya.

Hadiri Wisuda Stikes Maharani, Anton Ingatkan Tantangan MEA

Wali Kota Malang, HM Anton, menghadiri wisuda Stikes Maharani Malang. (choirul)

MALANGVOICE – Wali Kota Malang, HM Anton, meminta Stikes Maharani Malang berpartisipasi aktif menyiapkan tenaga ahli menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Hal itu ditekankan saat menghadiri Wisuda Angkatan ke-6 Stikes Maharani, di Hall Atrium Hotel Aria Malang, hari ini.

Menurutnya, dengan program studi profesi ners S1 Ilmu Keperawatan dan D3 Kebidanan, serta jumlah mahasiswa 524 dengan rata-rata penerimaan mahasiswa sekitar 115 per tahun, Stikes Maharani harus mampu menjawab tantangan era MEA.

“Begitu kran MEA berlaku efektif, dipastikan tenaga asing membanjiri Indonesia,” kata orang nomor satu di Kota Malang itu.

Dengan kondisi itu, Indonesia, khususnya Kota Malang, harus siap bersaing. “Kalau ini tidak diantisipasi, kita hanya akan jadi penonton, termasuk persaingan kerja di bidang kesehatan,” tegasnya.

Ia menambahkan, kualitas tenaga medis mutlak diperlukan untuk menambah daya saing.

Sementara itu, Ketua Panitia Wisuda, Arman Hardjito, mengatakan, pihaknya terus melaksanakan perbaikan untuk memunculkan lulusan berkompeten.

“Dalam rangka mengantisipasi tuntutan global, ke depan Stikes Maharani akan membuka jurusan Ilmu Teknologi Kesehatan,” tandasnya.

BEM: Surat Pernyataan Tidak Menuntut Sesuai SK Rektor

Ketua BEM FIK Fahmi Nurirawan (deny)

MALANGVOICE – Menanggapi kekhawatiran orangtua mahasiswa karena surat edaran pernyataan tidak akan menuntut terkait resiko atau musibah selama kegiatan Character Building Mahasiswa baru Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) 2015, akhirnya dijelaskan Ketua BEM FIK, Fahmi Nurirawan. Menurutnya, surat edaran itu berdasar SK dari Rektor Tahun 2014.

“Di situ tertulis, harus menyertakan surat izin untuk orang tua, dan pernyataan itu bagi mahasiswa,” jelasnya saat ditemui MVoice, sore tadi.

Dikatakan juga, seluruh kegiatan di Coban Rondo, mulai Sabtu, (24/10), bakal diperhatikan dan dijaga penuh. Surat pernyataan itu, kata Fahmi, merupakan upaya pencegahan di luar kegiatan apabila terjadi sesuatu, karena dalam kegiatan selalu dikawal dosen pembimbing, serta dibantu polisi dan TNI.

“Misalnya ada mahasiswa yang waktunya tidur malah mabuk-mabukan, akhirnya pas balik tenda pingsan. Itu kan bukan wilayah kami, atau mereka dijemput temannya di sana saat di luar jam kegiatan. Pokoknya selama kegiatan kami bertanggung jawab penuh,” jelasnya.

Sementara itu, ia menambahkan, bagi mahasiswa yang tidak mengikuti Character Building, tidak masalah, asal mempunyai alasan jelas dan diwajibkan mengikuti tahun depan. “Nah, bagi adik-adik yang nakal itu biasanya tanpa alasan, sesuai rapat dengan Dekanat, mereka tidak bisa mengajukan beasiswa,” jelasnya.

Dijadwalkan, seluruh peserta berjumlah 474 orang, berangkat dari kampus Sabtu pagi pukul 04.00 WIB, menggunakan 12 bus. Saat ini peserta berkumpul di kampus, mengumpulkan barang yang dibawa terlebih dahulu, menggunakan truk.

Orangtua Mahasiswa FIK UM Pertanyakan Edaran Surat Penyataan

Bukti surat pernyataan yang ditujukan orangtua (deny)

MALANGVOICE – Orangtua mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Universitas Negeri Malang (UM) dipusingkan dengan surat edaran dari kampus yang mengharuskan membuat surat pernyataan tidak menuntut terkait resiko atau musibah selama kegiatan Character Building Mahasiswa baru FIK 2015.

Dari informasi yang didapat dari salah satu orangtua, surat itu sudah dua kali diedarkan untuk ditandatangani. Surat itu juga menyatakan, orang tua tidak akan menuntut kerugian atau biaya apapun.

Orangtua yang tidak mau disebut identitasnya itu merasa khawatir, pasalnya banyak kejadian saat kegiatan di luar kampus, terakhir peristiwa yang menewaskan 2 mahasiswa UINSA Surabaya.

“Saya dan orangtua lain khawatir, terlebih ada materai. Ini juga tak jelas siapa yang menyelenggarakan kegiatan,” katanya, saat ditemui MVoice, sore tadi.

Menurut dia, jadwal pemberangkatan besok pukul 04.00 WIB, menuju Coban Rondo, Kota Batu, hingga Senin (26/10), serta diharuskan membawa perlengkapan seperti topi proyek, senter, dan sepatu karet. “Pernyataan itu sifatnya wajib, apabila tidak ditandatangai, konon mahasiswa akan dipersulit pengambilan ijazahnya,” ungkapnya.

Hingga berita ini ditulis, belum ada penjelasan dari pihak fakultas dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UM terkait pernyataan itu.

Giliran Guru PAUD Dilatih Materi K-13

Guru PAUD saat workshop. (deny)

MALANGVOICE – Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Malang, mempersiapkan pembelajaran berbasis Kurikulum 2013 atau K-13 dengan melakukan pelatihan. Kali ini, ratusan guru bidang PAUD, KB, dan TK, mengikuti workshop.

Kepala Bidang PNFI Dindik Kota Malang Drs. Didi Hidayat, mengatakan, pelatihan untuk meningkatkan kualitas PAUD, KB, dan TK dan mewujudkan masyarakat cerdas, ceria dan sehat menuju Kota Malang bermartabat.

Didi mengharapkan agar peserta bisa membiaskan ataupun menularkan materi pelajaran yang didapatkan kepada pendidik lainnya.

“Ini untuk memudahkan serta menjamin mutu dan standar minimal proses pembelajaran yang ada pada jenjang PAUD, KB dan TK karena dalam waktu dekat akan dilaksanakan akreditasi,” katanya.

Pelatihan dilaksanakan seminggu mengacu pada Permendiknas No. 137 tahun 2014 tentang standar nasional PAUD. Jenjang pendidikan tingkat PAUD dan TK pun diharuskan menjalankan Kurikulum 2013 (Kurtilas) dalam proses pembelajarannya.

Nara sumber yang dihadirkan dalam workshop dari lembaga PAUD, KB atau TK antara lain, Sadia Mawar dari PAUD Al Ghoniya, Mike Supraptiwi PAUD terpadu Anak Saleh, Sri Agustin Mulyani TKNP V dan Henny Sosesian dari pengawas TK.-

UM Rancang Strategi Pengembangan Keprofesian Guru

Wakil Rektor IV UM, I Wayan Dasna. (deny)

MALANGVOICE – Dalam rangka Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) guru yang diprakarsai USAID Prioritas, Universitas Negeri Malang (UM), memaparkan rencana strategis program itu ke depan.

Pemaparan perencanaan disampaikan Wakil Rektor IV UM, I Wayan Dasna dan mengatakan UM selaku Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan (LPTK) beberapa sekolah mitra kota/kabupaten di Jatim, memiliki sumber daya kompeten menyelenggarakan dan mendukung PKB.

“Anggaran keprofesian guru itu butuh dana besar dan sumber daya mumpuni,” kata Wayan, saat workshop di Malang, sore tadi.

Dijelaskan Wayan, berdasarkan data Uji Kompetensi Guru (UKG) sebagian besar guru belum dapat mencapai skor memuaskan, karena itu masih banyak guru yang perlu dilatih agar lebih kompeten.

Sementara itu, spesialis Pemerintahan dan Manajemen USAID Prioritas Jatim, M Adri Budi, menyatakan, keterlibatan UM dalam kegiatan PKB yang dikembangkan bertujuan untuk menjembatani kerja sama perguruan tinggi dengan masyarakat melalui dinas pendidikan setempat.

Dengan begitu pengembangan keprofesian guru lebih terarah dan sesuai dengan kebutuhan kabupaten/kota. “Saat ini mereka masih menghitung berapa guru yang dilatih kemudian merancang dana yang dianggarkan di APBD lewat Dinas Pendidikan setempat,” katanya.-

Ratusan Guru Dilatih Lestarikan Bahasa Jawa

Ratusan guru Mapel Bahasa Daerah mengikuti program pelatihan. (deny)

MALANGVOICE – Sedikitnya 100 guru Bahasa Daerah SMA/SMK dilatih melestarikan bahasa, sebagai implementasi Kurikulum 13, di Hotel Kartika Graha, hari ini.

Pelatihan digelar Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Malang. Salah satu nara sumber, Supriyono, mengatakan, Bahasa Jawa saat ini memiliki tantangan luar biasa baik dari internal maupun eksternal. Terlebih, saat ini Bahasa Jawa mulai langka di perkotaan.

“Jarang sekali orang tua, remaja terutama anak-anak yang berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa sesuai dengan kaidah, aturan serta tingkatan bahasa yang ada,” kata Kepsek SMAN 7 Malang itu.

Kepala Dindik, Zubaidah, menyebut Kota Malang dikenal sebagai pelestari sejarah dan ingin menguatkan segi bahasa. Ia mencontohkan, di negara lain sangat mencintai budaya mereka sendiri. Sedangkan, di sini budaya semakin degradasi karena perubahan pola pikir dan perilaku.

“Karena itu saya setuju adanya program ini. Guru bisa bersemangat dan memotivasi anak didik belajar Bahasa Daerah,” jelasnya.

Bahasa Jawa, dikatakan Zubaidah, bisa mempengaruhi tindakan anak karena sopan dan santun. Selama ini ia menilai ucapan anak, terutama remaja terdengar kasar apalagi kepada orang tua.

Karena itu, Dindik sangat serius membahas pelatihan Bahasa Jawa dengan mendatangkan nara sumber berkompeten. “Saya akan anggarkan di APBD untuk program ini untuk membekali guru Bahasa Jawa. Kementerian Pendidikan juga diminta memberi bea siswa pada guru,” tutupnya.

Program pelatihan digelar selama tiga hari hingga 24 Oktober menghadirkan beberapa nara sumber, seperti Gunawan Dwiyono dari SMKN 11, Tri Suharsono dari SMAN 10, dan Suwardono guru SMAN 7.

Kuliah Pakai Sarung, Unisma Target Pecahkan Rekor MURI

Mahasiswa Unisma mengikuti perkuliahan memakai sarung. (deny)

MALANGVOICE – Memakai kain sarung dalam kegiatan perkuliahan di Universitas Islam Malang (Unisma) ternyata mendapat perhatian dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Sejak pagi, tim juri mengelilingi kampus melihat penampilan mahasiswa dan dosen memakai sarung.

Penilaian tim juri nantinya akan memutuskan Unisma apakah layak mendapat rekor pemakaian sarung terbanyak saat mengikuti kuliah. Rektor Unisma, Maskuri, berharap penilaian bisa terwujud karena peran aktif seluruh civitas kampus memakai sarung.

“Tidak hanya mahasiswa dan dosen saja, para OB dan petugas keamanan juga pakai sarung,” katanya.

Maskuri menambahkan, memakai seragam kain sarung di Hari Santri Nasional akan diagendakan setiap tahun. “Meski hanya simbol, tapi menggunakan sarung sekaligus melestarikan budaya santri dan mengikis stigma negatif di kalangan santri,” lanjutnya.

Hari Santri Nasional, Mahasiswa Unisma Kuliah Pakai Sarung

Mahasiswa Unisma saat upacara Hari Santri Nasional, hari ini. (deny)

MALANGVOICE – Universitas Islam Malang (Unisma) punya cara sendiri memperingati Hari Santri Nasional, hari ini. Para mahasiswa, rektor, dosen dan seluruh civitas akademi, mengikuti upacara dengan memakai seragam kain sarung dan berkopiah di halaman kampus.

Memakai kain sarung tidak hanya pada saat upacara saja, mahasiswa dan dosen yang mengikuti perkuliahan juga diwajibkan berseragam santri sampai selesai kuliah pukul 21.00 WIB.

Rektor Unisma, Maskuri, berharap pemakaian pakaian santri bisa meningkatkan etos kerja dan identitas santri semakin kuat dan terjaga. “Pengembangan kultur NU yang kuat dan mampu menciptakan identitas Unisma secara global,” katanya.

Selain memperingati Hari Santri Nasional, Unisma juga membuka lustrum ke 35. Maskuri menambahkan, ke depan Unisma mampu mewujudkan lembaga pendidikan yang unggul dengan tema ‘Perkuat Kelembagaan Guna Mewujudkan Unisma Sebagai Perguruan Tinggi Unggul dan Berkarakter’.

Komunitas