Smart City Jadi Media Revolusi Mental Petani

Asisten Administrasi dan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat Kota Batu Endang Triningsih memberikan arahan kick off meeting Smart City tahap I, di Balai Kota Among Tani, Selasa (25/7). (Aziz Ramadani)

MALANGVOICE – Proyek Smart City jadi kendaraan Pemkot Batu untuk revolusi mental petani. Tepatnya, agar petani mau berubah dari semula mengandalkan bahan kimia atau pestisida menuju pertanian organik.

Rupanya alasan inilah yang membuat Pemkot Batu ngotot segera merealisasi proyek di tahap I ini digelontor APBD Rp 2,9 miliar. Padahal sejak diusulkan awal 2016 silam, sudah berkali-kali terhambat. Salah satunya akibat selalu gagal dalam proses lelang. Bahkan Wali Kota Batu Eddy Rumpoko sempat geram dan memerintahkan untuk membatalkan program tersebut.

Baca juga: Tak Ingin Bermasalah, Program Smart City Harus Berpayung Hukum

Asisten Administrasi dan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat Kota Batu, Endang Triningsih mengatakan, program berbasis pemanfaatan perkembangan teknologi harus fokus pada pertanian organik. Misinya pun harus fokus, yakni mendidik masyarakat khususnya petani, untuk berubah dari memanfaatkan bahan kimia ke organik. Bahwa produk pertanian Kota Batu haruslah memiliki daya jual yang bermutu tinggi. “Apalagi organik yang kualitas baik dan bernilai jual tinggi pastinya manfaat untuk kesejahteraan masyarakat,” kata Endang.

BNN Kota Malang

Meskipun, lanjut Endang, akan membutuhkan waktu lama untuk merubah ketergantungan petani akan bahan kimia. Namun, pihaknya optimis program yang digagas Wali Kota Batu Eddy Rumpoko dapat mengangkat potensi pertanian Kota Batu yang berdaya saing serta berkualitas tinggi. Manfaat jangka panjangnya pun agar lingkungan pertanian sehat.

“Jadi memang susah untuk merubah, sedikit memaksa. Butuh waktu lama dan terus menerus. Tapi inilah revolusi mental menuju pertanian sehat,” urai mantan Inspektur Kota Batu ini.

Perlu diketahui, Smart City tahap I ini menelan APBD senilai Rp 2,9 miliar. Smart City telah terpasang dengan total 50 workstation. Yakni 24 desa/kelurahan, 3 kecamatan dan 23 OPD. Program ini berbasis e-government yang memudahkan komunikasi dan koordinasi internal pemerintahan. Smart city juga diarahkan utamanya pelayanan masyarakat petani. Yakni menjembatani petani langsung dengan pembeli. Sehingga mata rantai tengkulak yang merugikan petani terputus.


Reporter: Aziz Ramadani
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yuliani Eka Indriastuti