Sepi Pembeli Akibat Harga Cabai Rawit Masih Meroket

cabai rawit di pasar. (Toski D)

MALANGVOICE – Akibat harga cabai rawit tak kunjung turun, pembeli pun sepi di Pasar Besar Kota Batu. Ditambah lagi daya beli masyarakat saat pandemi Covid-19 ini melemah, lengkap sudah keluhan penjual cabai rawit.

Hal itu diungkapkan oleh salah satu penjual cabai rawit, Sulastri. Ia menduga kenaikan ini mengakibatkan harga cabai rawit sulit kembali normal lantaran kenaikannya yang terus stabil.

Pada harga normal cabai rawit dibandrol pada angka Rp 40 ribu hingga Rp 50 ribu per kilogram. Selama dua minggu ini harga cabai rawit naik dua kali lipat, yakni Rp 90 ribu.

“Naiknya harga ini mungkin karena pasokannya kurang akibat cuaca ekstrem. Hujan yang terus-terusan setiap hari ini akibatkan cabai cepat busuk sehingga tidak layak dijual,” jelasnya, Minggu (27/02/2021).

Ia menerangkan cuaca ekstrem ini membuat stok cabai dari petani menjadi semakin sedikit. Akibatnya permintaan dan persediaan tidak seimbang.

Sulastri menambahkan hujan yang setiap hari turun ini membuat petani cabai harus melakukan perawatan ekstra. Usaha itu pun tak membuat kualitas cabai sebagus ketika cuaca cerah.

“Ya usahanya sih kayak penyemprotan. Biasanya seminggu sekali. Kalau sekarang bisa dilakukan per dua hari sekali,” terangnya.

Ia melanjutkan, jika usaha ini tidak dilakukan, cabai tidak akan tahan, bahkan batangnya bisa membusuk. Jika sudah busuk, petani tidak bisa berbuat hal lain, selain pasrah.

“Cuaca seperti ini pasti membawa dampak. Kalau musim panen tidak segera diambil, juga resiko cabai busuk lebih besar,” ucapnya.

Dampak ekonomi yang dirasakan Sulastri cukup besar. Dari yang biasanya dalam sehari bisa menjual hingga 10 kilogram cabai rawit. Sekarang dia rata-rata hanya bisa menjual 1 kilogran setiap harinya.

“Semoga bisa normal kembali. Itu adalah doa sebagian besar pedagang seperti saya,” harapnya.(end)

article bottom ad