MALANGVOICE– Pertumbuhan ekonomi Kota Batu sedikit mengalami kontraksi di tahun 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batu menyajikan angka pertumbuhan ekonomi menyentuh pada angka 4,85 persen, menurun dibandingkan tahun 2024 lalu yang mencetak 5,04 persen. Meski mengalami perlambatan, laju pertumbuhan ekonomi masih berada di jalur positif.
Tertahannya laju perekonomian di tingkat daerah turut dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah pusat yang mengetatkan kucuran anggaran publik. Wali Kota Batu, Nurochman menyatakan, capaian pertumbuhan ekonomi masih tergolong positif meski mengalami hambatan imbas tantangan tantangan eksternal.
“Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Kota Batu mencapai 4,85 persen. Meski terdampak kebijakan efisiensi anggaran nasional, pertumbuhan ekonomi tetap terjaga berkat ketahanan sektor unggulan daerah,” ungkap Cak Nur, sapaan Nurochman.
Ia menjelaskan, sektor pariwisata beserta jasa pendukungnya masih menjadi salah satu penggerak utama ekonomi Kota Batu. Aktivitas ekonomi yang tetap berjalan stabil di sektor tersebut turut menopang kinerja ekonomi daerah sepanjang tahun 2025.
Secara nominal, produk domestik regional bruto (PDRB) Kota Batu atas dasar harga berlaku (ADHB) menembus Rp23,68 triliun. Sementara itu, PDRB atas dasar harga konstan (ADHK) 2010 tercatat sebesar Rp14,25 triliun.
Kepala BPS Kota Batu, Herlina Prasetyowati Sambodo menyatakan, perlambatan tersebut tidak mencerminkan pelemahan signifikan. Sebaliknya, aktivitas ekonomi daerah masih bergerak stabil dengan mayoritas sektor usaha mencatatkan pertumbuhan.
“Ekonomi Kota Batu tetap tumbuh 4,85 persen. Hampir seluruh lapangan usaha masih menunjukkan kinerja positif, kecuali sektor pertambangan dan penggalian yang mengalami kontraksi,” ujarnya.
Dari sisi produksi, sektor industri pengolahan menjadi bintang pertumbuhan dengan lonjakan mencapai 9,65 persen. Tak jauh di bawahnya, sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 9,16 persen, disusul jasa perusahaan sebesar 8,91 persen.
Sejumlah sektor lain juga mencatat kinerja solid. Jasa lainnya tumbuh 6,41 persen, sedangkan jasa kesehatan dan kegiatan sosial meningkat 6,17 persen. Tren ini menunjukkan struktur ekonomi Kota Batu semakin beragam dan tidak lagi bertumpu pada satu sektor saja.
“Pertumbuhan di berbagai sektor ini menandakan aktivitas ekonomi Kota Batu semakin berkembang dan variatif,” terang Herlina.
Meski demikian, struktur ekonomi Kota Batu masih didominasi sektor perdagangan besar dan eceran, termasuk reparasi mobil dan sepeda motor. Sektor ini menyumbang 18,69 persen terhadap total PDRB.
Kontributor besar lainnya datang dari jasa lainnya sebesar 16,68 persen, sektor pertanian, kehutanan dan perikanan 14,10 persen, konstruksi 12,58 persen, serta penyediaan akomodasi dan makan minum 10,52 persen. Jika digabungkan, lima sektor utama tersebut menopang sekitar 72,58 persen perekonomian Kota Batu.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama. Kontribusinya mencapai 66,26 persen terhadap total PDRB. Sementara itu, komponen dengan pertumbuhan tertinggi berasal dari konsumsi lembaga non-profit yang melayani rumah tangga (LNPRT) sebesar 6,50 persen.
Menurut Herlina, kuatnya konsumsi rumah tangga menjadi sinyal bahwa daya beli masyarakat relatif terjaga dan tetap menjadi penggerak utama ekonomi daerah.
“Konsumsi rumah tangga masih mendominasi. Ini menunjukkan aktivitas ekonomi masyarakat tetap kuat dalam mendorong pertumbuhan,” pungkasnya.(der)