Posbindu Strategi Turunkan Angka Kasus Hipertensi di Kota Batu

Dinkes Kota Batu melakukan pemeriksaan kepada peserta didik sebagai langkah pencegahan menurunkan kasus hipertensi di Kota Batu. (MVoice/istimewa).

MALANGVOICE– Pemerintah memiliki tanggung jawab dalam memberikan pelayanan kesehatan yang prima bagi masyarakat. Hal ini berkaitan dengan pemenuhan hak dasar masyarakat untuk mendapatkan kehidupan yang layak. Untuk itu ditargetkan standar pelayanan minimal (SPM) bisa berjalan optimal.

Kabid Pencegahan, Pengendalian Penyakit dan Penanganan Bencana Dinas Kesehatan Kota Batu, dr Susana Indahwati menyatakan, adanya peningkatan pengidap hipertensi dan diabetes militus pada masyarakat Kota Batu berusia produktif 15-59 tahun. Hal itu didasarkan pada angka riset kesehatan dasar (Riskesdas) Juni 2023.

“Berdasarkan laporan bulanan SPM hipertensi puskesmas, total ada 20.375 penduduk Kota Batu yang mengalami hipertensi. Dari total 58.385 penduduk yang dilakukan deteksi dini penyakit tidak menular (PTM),” ujar Susan.

Baca juga:
Pertamina Tambah 1 Juta Stok Elpiji 3Kg, Beli Wajib Setor KTP

CuddleMe Raih Sertifikasi Halal, Mantapkan Produk Berkualitas

Antisipasi Kecelakaan, PT KAI Tutup Tiga Perlintasan Liar

Polresta Malang Kota Terima Penghargaan dari Polda Jatim

Kemudian berdasarkan hasil Riskesdas pada tahun 2018, sebanyak 43,7 persen penduduk usia produktif di Kota Batu mengalami hipertensi. Tingginya angka hipertensi itu disebabkan keterbatasan akses kesehatan pada usia produktif. Di samping penurunan perilaku sehat. Masyarakat usia produktif pada pagi sampai sore hari lebih banyak berada di tempat kerja dan sekolah. Sehingga tidak dapat berkunjung ke puskesmas atau layanan kesehatan lainnya, untuk memeriksakan kesehatannya.

Dengan adanya permasalahan tersebut, pihaknya membentuk Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu). Layanan itu dibentuk di tempat kerja dan sekolah. Dilakukan oleh kader warga sekolah atau tempat kerja tersebut.

“Kader telah kami latih untuk melakukan deteksi dini PTM seperti hipertensi dan diabetes. Dengan demikian, masyarakat usai produktif dapat memeriksakan kesehatannya secara rutin. Tanpa harus meninggalkan pekerjaan atau jam belajar di sekolah,” tuturnya.

Dia juga menjelaskan, untuk dapat meningkatkan capaian pelayanan kesehatan masyarakat usia produktif, maka diperlukan suatu inovasi. Dengan memanfaatkan jejaring kerja dan komunikasi efektif berupa pembentukan Posbindu di tempat kerja dan sekolah. Kedua tempat tersebut merupakan titik kumpul dari masyarakat usia produktif.

Lebih lanjut, hipertensi juga menjadi kasus paling banyak terjadi di tahun 2022. Ini banyak dipengaruhi oleh perilaku beresiko. Yakni konsumsi gula, garam dan minyak yang berlebih. Kemudian juga dipengaruhi kurangnya aktifitas fisik, kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol.

“Peningkatan penemuan kasus hipertensi di masyarakat tidak lepas dari peningkatan upaya deteksi dini penyakit tidak menular,” tutur dia.

Untuk menekan angka kasus tersebut dapat dimulai dengan melakukan pemeriksaan tekanan darah secara sederhana. Ini dapat dilakukan oleh kader kesehatan maupun masyarakat awam. Dengan catatan tetap perlu adanya pengawasan dari tenaga kesehatan.

Deteksi dini penyakit hipertensi dilakukan minimal satu kali dalam satu tahun. Jika ditemukan adanya peningkatan, maka setiap bulan harus dipantau dan dilakukan tatalaksana. Ini perlu dilakukan untuk mengendalikan tekanan darah agar tidak sampai menimbulkan komplikasi.

“Kuncinya ada pada kesadaran masyarakat untuk cek tekanan darah secara teratur, serta melakukan perubahan perilaku yang berisiko,” tegas Susan.

Di sisi lain, dia juga menjelaskan, faktor keturunan ikut berperan dalam kecenderungan seseorang mengalami hipertensi. Tetapi yang lebih berpengaruh adalah gaya hidup dan pengelolaan stres. Jadi seseorang dengan keturunan hipertensi, tidak selalu akan menjadi hipertensi jika bisa menjaga pola hidup baik dan mengelola stresnya.

“Begitu pula sebaliknya, orang tanpa keturunan hipertensi. Jika perilakunya berisiko, yakni konsumsi gula garam lemak berlebih, kurang aktifitas fisik, kebiasaan merokok dan alkohol, serta tidak mampu mengelola stres maka bisa mengalami hipertensi,” tandas Susan.(der)